Awal Perjalanan Akhir

Tak kusangka, setelah kemarin (Rabu) mengantarkan almarhum ayahanda Mbak Lucy, hari ini kemarin (Kamis), kami akan mengantarkan ayahanda dari salah satu sesepuh dan penasehat kami, Mas Is, ke tempat peristirahatan terakhir. Innalillahi wa inna illaihi rooji’uun..

Berawal dari sebuah pesan SMS dari Mas Is tadi malam:

Innalillahi wa innaillahi rajiun, telah berpulang ke rahmatullah ayahanda tercinta kami pd hari rabu 14022007 akan dimakamkan kamis dr ISWINARDI

Sent: 14-Feb-2007 22:48:59

Saya pun tersentak. Padahal baru siang tadi saya, Didit, Adi, dan Mas Boy menjenguk beliau di Rumah Sakit Umum Daerah Wirosaban, tak disangka akan beliau akan dipanggil sedemikian cepat.

Saya masih teringat ketika kami berempat dan Mas Is bercengkrama di koridor rumah sakit. Menggodai mahasiswi kedokteran UGM yang kebetulan lagi ko-as di sana. Ngerasani suster-suster yang wira-wiri bak pragawati lewat di depan kami, hingga ngerasani seorang fotografer carimukaâ„¢.. 🙂

Mas Is sempat pula becerita tentang penyakit ayahandanya. Menurut Mas Is, ayahandanya overdosis obat semacam multivitamin atau penghilang pegel-pegel yang tidak diketahui unsur-unsurnya (pil seragam, kalo Mas Boy bilang).

Mengerikan sekali kalo melihat peredaran obat-obatan ini. Obat-obatan macam ini dijual dengan bebas, di warung-warung kelontong, di warung-warung makan, dan harganya sangat murah. Satu plastik isinya ada berbagai macam obat beraneka ragam dan warna. Tiap khasiat obat ini, tentu lain pula komposisinya. Dan menurut pemakainya, obat ini bener-bener mujarab, sehingga banyak orang yang merasa “ketagihan” dan “tergantung” dengan obat-obatan ini.

Sesaat setelah membaca kabar ini, saya langsung nelpon Mas Is untuk mengucapkan belasungkawa. Suaranya terdengar parau, Mas Is pun sepertinya tidak mendengar ucapan saya. Saya maklum, mungkin pikirannya sedang kacau. Saya pun segera mem-forward SMS yang saya terima dari Mas Is ke rekan-rekan seperdolanan yang saya punyai nomer ponselnya.

Peristiwa ini membuat saya termenung. Betapa kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, bahkan nanti. Kematian itu bisa datang dengan tiba-tiba, tak terduga, meskipun kita bersembunyi di balik tembok yang tinggi dengan penjagaan ekstra ketat. Kalau memang sudah tiba saatnya, malaikat maut akan datang menjemput.

Saya bergidik ngeri. Mengingat banyak sekali dosa dan perbuatan maksiat yang telah saya lakukan. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk ber-istighfar. Mengingat kematian akan membuat kita tersadar, bahwa kita sangat dekat dengan kematian itu.

Saya pernah dengar ceramah (tumben pernah denger ceramah) yang membahas tentang mati. Mati itu merupakan awal dari perjalanan kita di kehidupan berikutnya, sedangkan mati juga merupakan akhir dari perjalanan hidup kita sebelumnya. Bila perbuatan kita baik di kehidupan sebelum mati, niscaya mati merupakan taman surga yang indah untuk menunggu datangnya hari pembalasan, tetapi sebaliknya bisa menjadi lubang-lubang siksa neraka bila amalan kita buruk.

Waduh.. Kok malah ceramah kek begini yah?

Semoga arwah ayahanda Mbak Lucy maupun Mas Is diterima di sisi-Nya, amal perbuatan almarhum diterima, diampuni dosa-dosa almarhum, dan di lapangkan kuburnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan. Amin-amin ya robbal alamiin..

Assalamu’alaikum ya ahlal qubur, wainna insya Allah bikum lahiqun (salam sejahtera bagimu wahai penghuni kubur, dan insya Allah kami akan menyusul kamu). 🙂

Update: Barusan dapet SMS dari Didit yang mengabarkan kalo ayahanda dari dosen saya, Pak Jazi Eko Istiyanto, meninggal dunia dan akan dimakamkan hari (Jumat) ini.

Sepertinya saya akan berkunjung lagi ke “gerbang perjalanan” itu lagi.. 🙁 Kok bisa berturut-turut gini, sih? :-/

11 thoughts on “Awal Perjalanan Akhir”

  1. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…
    turut berduka cita. Semoga kematiannya bisa jadi awal yang indah untuk kehidupan selanjutnya. Dan semoga jadi akhir yang indah juga untuk akhir kehidupan sebelumnya.

    Kalau inget mati… merinding banget…

Comments are closed.