Jeng-Jeng Semarang

Jeng-Jeng Semarang

Menanggapi tantangan Fany di komen postingan awal saya, akhirnya tantangan tersebut bisa terlunasi Sabtu-Minggu (17-18 Februari 2007) lalu. ๐Ÿ˜€

Ini adalah kunjungan pertama saya ke Semarang, apalagi melakukan aktivitas bak seorang backpacker, beraktivitas nekad dengan semangat let it flow ala De MARKO, memberikan kesan tersendiri buat saya.

Terima kasih banyak buat temen-temen Loenpia yang telah menyambut kami dengan begitu ruarr biasa. Saya sangat terharu dan jadi merasa sedikit sungkan.. ๐Ÿ™‚

Kali ini kita akan menjelajah Taman Tabanas, Klenteng Sam Poo Kong, Lawang Sewu, Warung Mbah Jingkrak, dan Masjid Agung Jawa Tengah.

Update: Video rekaman Puting Beliung Jogja!

DE JOURNEY BEGINS

Rencana perjalanan saya ini sebenernya tercetus karena hasrat saya yang ingin mengunjungi ibukota Jawa Tengah yang seumur-umur belum pernah saya kunjungi itu. Setelah mencari waktu yang pas, ternyata ada respons dari temen-temen di Semarang. Beberapa rekan menyarankan saya untuk berkunjung ke Semarang pas Hari Raya Imlek. Ha ya sudah, berhubung saya pas sela dan ada waktu, ya ajakan itu saya sanggupi aja.

Awalnya saya berencana berangkat ke sana ndak rame-rame, paling cuma beberapa gelintir orang saja, mengingat ini adalah keinginan pribadi saya dan saya ndak pengen merepotkan banyak orang. Jadi mohon maaf buat temen-temen seperdolanan, kalo saya jalan-jalannya kok ndak woro-woro dulu.. ๐Ÿ™‚

Tetapi rencana berubah. Orang-orang yang sejak awal menyatakan akan ikut saya ke Semarang, malah membatalkan diri karena ada kepentingan lain (melotot ke arah Didit), tetapi di sisi lainnya justru ada yang menyatakan diri bergabung meski sejak awal tidak saya sangka sangat sulit untuk bergabung dengan tim, malah ikut (ngelirik Monik). :))

Oke, tanpa basa-basi, anggota tim Jeng-Jeng (JJ) kali ini adalah saya sendiri, Ridlo, Kailani, dan Monik. Awalnya saya pengen naek motor, tetapi karena si Ndoro Putri ini ndak boleh ikut kalo naek motor, akhirnya kami semua memutuskan untuk ngebis setelah melalui perdebatan alot. ๐Ÿ˜€

Tim JengJeng de Semarang di kosan Ridlo sebelum perjalanan

Perjalanan kali ini sempat diwarnai oleh hujan cukup lebat dan mengerikan. Rencana semula kami berangkat jam 2 siang terpaksa mundur untuk menunggu hujan reda. Setelah hujan reda sekitar pukul 3, kami pun berangkat. Motor dititipkan di kosannya Ridlo kemudian kami ngebis kecil ke Terminal Jombor, baru naek bis jurusan Semarang dari Jombor.

Akan tetapi, karena bis kecil yang ditunggu tidak segera lewat, kami pun memutuskan untuk jalan kaki saja ke Terminal Jombor yang jaraknya lumayan juga. Hehe, kesan backpacking-nya kerasa banget ketika kami menyusuri trotoar di bawah rintik-rintik gerimis sisa hujan siang tadi.

Tim JengJeng menuju Terminal Jombor

Setelah sholat Ashar, kami pun segera mencari bis ekonomi jurusan Semarang. Karena sama-sama kurang paham jalur bis Jogja-Semarang, kami malah terdampar di Magelang kemudian oper bis untuk melanjutkan perjalanan ke Semarang dari Magelang.

Perjalanan ke Semarang ini bener-bener lama, maklum, kan kelas ekonomi. ๐Ÿ˜€ Beberapa kali temen-temen Semarang mengontak kami sudah sampai mana. La karena belom pernah ke Semarang, ya jelas bingung kami ketika ditanya posisi kami. :)) Jadi maap kalo informasi yang kami berikan tidak valid.

WELCOME TO SEMARANG!

Singkat cerita sampailah kami di Semarang. Berkat koordinasi dari Fany dan Kang Wedhouz yang cukup membuat bingung kami, akhirnya diputuskan kami akan dijemput Kang Dendi di depan UNISULA setelah turun dari tol.

Kami pun didrop di rumahnya Fany. Di situ sudah menunggu rekan-rekan Loenpia, ada Budiyono, Kang Wedhouz, Pepeng, Huda, dan Kang Andhi. Di situ pula sudah tergelar berbagai jenis makanan kecil. Pokoke kayak ada Tahlilan gitu deh.. :))

Selain temen-temen Loenpia, sudah ada juga Bude Gita dan Bude Yutie yang datang dari Jepara langsung misuh-misuh karena saya ngasih tau kalo mo Semarang secara dadakan seperti ini. ๐Ÿ˜€ Maaf, bude..

berfoto di depan rumah Fany

Sambutan Loenpia.Net di rumah Fany

SEMARANG DI MALAM HARI

Setelah makan malam secara beringas, kami pun diajak jeng-jeng muter-muter Semarang yang ternyata sangat luas itu. Ya tentu saja kami mau, wong tujuan kami ke Semarang kan emang mau jeng-jeng! ๐Ÿ˜€

Malam itu kami diajak ke daerah Semarang atas, tepatnya di daerah Gombel, yaitu Taman Tabanas. Dari situ kita bisa melihat pemandangan eksotis kota Semarang di malam hari sambil bercengkrama dan gojek kere bersama kawan-kawan. Lebih mantab lagi kalo kita nyruput capuccino dan mbrakot jagung bakar.

Kota Semarang di malam hari dilihat dari Taman Tabanas

bercengkrama bersama rekan-rekan Loenpia.Net

Malam semakin larut, dan kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang dan istirahat. Monik nginep di rumah Fany, sedangkan para eblisรƒยขรขโ‚ฌลพร‚ยข menginap di rumah Budiyono. Konon, rumah Budiyono ini berada di Sunan Kuning, yang merupakan daerah wajib pakai kondom terkenal. ๐Ÿ˜€

Yang namanya eblisรƒยขรขโ‚ฌลพร‚ยข, pasti ndak puas kalo cuma jeng-jeng bentar terus tidur. Bersama Kang Dendi, kami diajak keliling bentar melewati kawasan Kota Lama yang banyak terdapat heritage alias bangunan tua peninggalan kolonial. Tempat ini cukup eksotis sebenarnya, akan tetapi sayang kurang terawat dengan baik.

Salah satu bangunan yang terkenal di daerah ini adalah Gereja Blenduk karena kubahnya yang besar dan disebut dengan blenduk. Gereja Blenduk bisa diliat di blog-nya Kang Wedhouz.

Kami pun meluncur ke Jalan Gajah Mada untuk nongkrong bareng bersama para Loenpians di Kucingan Pak Gik di daerah Pot Gandul Wotgandul (thanks, Mas Lowo). CMIIW ๐Ÿ˜€

Puas menikmati teh hangat dan makan nasi kucing di pinggir kali mampet dan bau dan dipenuhi sampah (asli, yang ndak familiar dengan jorok pasti akan muntah). :)) Tapi apakah ini memang ciri khas angkringan, eh kucingan ini? Yang pasti, saya sih nyantai saja.. ๐Ÿ˜€

Tapi kalo menurutku, akan lebih ngesoulรขโ€žยข lagi kalo tempatnya bersih, ada tikar buat lesehan, dan tidak di pinggir kali yang mampet dan bau, serta sampahnya tidak dibuang sembarangan seperti itu. Tapi walau seperti itu, kok tetep saja ramai ya? ๐Ÿ˜€

Skip. Akhirnya kami pun tiba di rumah Budiyono. Rumahnya luas, banyak kasur, dan berbagai fasilitas ada di sini. Tak heran tempat ini sering dijadikan base-camp para Loenpians. Belum lagi lokasi yang dekat dengan “tempat jajan”, bisa dijadikan nilai plus buat rumah ini. :))

Di sini, anak-anak ndak langsung tidur. Ada yang main PS, ada yang crita-crita, pokoke macem-macem. Karena saya ndak bisa main PS, saya milih tidur saja. La sudah nguantuk banget, je.. (:|

SUNAN KUNING DI PAGI HARI

Sebelumnya, saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2558 bagi yang merayakannya!

Ada pengalaman baru di rumah Budiyono ini. Di rumah ini, pertama kalinya saya merasakan kamar mandi “open source”. Lo kok bisa “open source”? La iya, wong kamar mandinya ini ndak ada pintunya! :))

Jadi, kita mandi sambil waspada kalo tiba-tiba ada gadis-gadis di SK ngelirik ke bawah dan menemukan saya lagi asyik indehoy singsat-singsot mandi. :))

Selesai mandi, saya ngajakin Kailani untuk jeng-jeng ke atas, tepatnya menjelajah kawasan Sunan Kuning yang tersohor itu. Banyak terdapat penginapan dan tempat karaoke di kawasan ini. Beberapa di antaranya cukup jelas memasang papan nama dengan merk salah satu kondom terkenal. Bahkan ada papan bertuliskan “Daerah Wajib Memakai Kondom”. :)) Sayang sekali saya ndak membawa kamera saat itu. ๐Ÿ˜›

Ada juga beberapa “bidadari” yang sedang keluar dari rumah dengan berpakaian “ala kadarnya” membuat kami sempat berpikir yang “iya-iya”. Untung saja wajah ganteng kami tertinggal di rumah Budiyono sehingga para “bidadari” itu ndak menawar kami. :)) Atau memang mereka lagi off duty, ya? ๐Ÿ˜€

KLENTENG SAM POO KONG

Perjalanan kami akhirnya dimulai. Target operasi pertama kami adalah Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng ini terletak di daerah Simongan, Semarang. Klenteng ini mempunyai nama lain Klenteng Sam Poo Thay Jin atau Gedong Batu.

Pintu Gerbang Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng ini dibangun untuk menghormati seorang utusan dari Dinasti Ming, yaitu seorang pelaut muslim bernama Laksamana Cheng Ho.

Ketika kami datang, lantunan musik Cina terdengar. Ternyata ada kesenian Ta Kwo Djwee. Di kawasan ini ada beberapa bangunan yang sedang dalam taraf pembangunan dan renovasi. Di tempat ini ada altar tempat sembahyang dan makam-makam Jawa. Bangunan ini merupakan bukti perpaduan kebudayaan Cina dan Islam.

di depan papan nama klenteng

Altar utama Klenteng Sam Poo Kong

Laksamana Cheng Ho wannabe

Kami pun banyak menghabiskan waktu di altar utama klenteng ini. Karena memang merupakan tempat ibadah, banyak sekali kaum etnis Cina yang melakukan sembahyang di klenteng ini.

Di belakang altar, kita akan menemukan sebuah dinding batu yang berisi cerita tentang kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Jawa. Di balik dinding ini terdapat sebuah gedung untuk tempat ibadah. Karena di dalam gedung sedang ada ritual sembahyang, maka kami ndak bisa melihat ke dalam gedung ini. Gedung inilah yang disebut dengan Goa Batu dan konon di tempat inilah pertama kali Laksamana Cheng Ho membuat markas.

Goa Batu yang berisi ukiran kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho

Di altar inilah kami banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto!

narsis di altar Sam Poo Kong

narsis di depan lonceng

narsis di depan altar

LAWANG SEWU

Petualangan “rohani” dilanjutkan. Kali ini kami menuju Lawang Sewu, salah satu bangunan heritage yang memiliki nuansa mistis sangat kental. Gedung ini terkenal akan keangkerannya, terbukti dengan pernah diadakan Uji Nyali di tempat ini di mana saat itu, penampakannya sangat terlihat dengan jelas.

Gedung Lawang Sewu

Lawang Sewu terletak di salah satu sudut persimpangan Tugu Muda. Begitu kami masuk, kami ditemani oleh 2 orang tour guide. Para tour guide inilah yang memandu kami menjelajahi gedung tua ini dan bercerita banyak hal tentang gedung ini.

Gedung ini dibangun pada jaman Belanda sekitar tahun 1903 dan selesai tanggal 1 Juli 1907. Awalnya gedung ini difungsikan sebagai kantor NIS, perusahaan kereta api milik Belanda.

Kemudian ketika Jepang datang ke Indonesia tahun 1942, gedung ini diambil alih untuk kemudian dijadikan salah satu markas militer Jepang. Di gedung ini pula terdapat penjara dan ruang penyiksaan hingga pembantaian rakyat.

Setelah kemerdekaan, gedung ini dipakai sebagai kantor administrasi Perusahaan Kereta Api Indonesia (PJKA), kemudian pernah juga dijadikan sebagai markas Komando Daerah Militer IV Diponegoro.

Di depan gedung ini, terdapat sumur sedalam 1 Km! Sumur ini masih dapat digunakan, dan konon bila kita tercebur ke dalam sumur ini, maka kita bisa nembus ke laut! ๐Ÿ˜ฎ Percaya atau tidak, itu sih kata pemandunya. ๐Ÿ˜€

Tempat sumur sedalam 1 Km

Sesuai namanya, gedung ini dinamakan Lawang Sewu karena banyaknya pintu di gedung ini. Tetapi apakah betul jumlahnya 1000 buah? Sang pemandu cuma tersenyum dan mengatakan kalo ada orang yang sudah mencoba menghitung jumlah pintu ini, tetapi hasilnya tidak tepat 1000, bisa 1001 tapi bisa juga 999. Kalo ndak percaya, sang pemandu mempersilakan untuk membuktikan sendiri. ๐Ÿ˜€

salah satu lorong di Lawang Sewu

Memasuki salah satu ruangan, saya langsung merasakan sesuatu yang beda. Dalam sekejap seluruh tubuh langsung merinding. Bulu-bulu di tangan dan tengkuk langsung berdiri. Saya mencoba menenangkan diri, tetapi hal ini terjadi 3 kali! :-SS Saya memang tidak bisa melihat, tetapi mungkin saja salah satu penunggu gedung ini ada di ruangan ini.

Kami pun dipandu untuk naik ke atas melalui tangga utama. Tangga ini terletak tepat di pintu masuk. Di sini kita bisa melihat sebuah dinding kaca kolase yang menggambarkan 2 orang gadis dan sebuah roda kereta api. Konon dua gadis yang terpampang di dinding kaca ini pada waktu-waktu tertentu bisa hilang, alias bergerak! :-S

Dinding kolase di tangga utama

Di samping dinding kolase ini, ada sebuah sudut yang secara sekilas merupakan lumut. Tetapi jika kita memperhatikan dengan seksama, kita akan menemukan sosok penampakan dari salah satu penghuni Lawang Sewu ini. Sosok ini berupa kepala tengkorak dan nona Belanda bernama Angel.

Salah satu penampakan di sudut Lawang Sewu

Angel ini adalah penguasa dari tempat ini. Dia adalah putri seorang Belanda penghuni gedung ini yang kemudian bunuh diri dengan cara terjun dari atas gedung ini karena cintanya kepada seorang Indonesia ditolak oleh orang tuanya. Begitu cerita yang berkembang. ๐Ÿ™‚

Kami pun akhirnya sampai di ruangan paling atas gedung ini. Ruangan yang luas menyerupai aula ini konon merupakan tempat pembantaian. Banyak sekali ditemukan kelelawar berterbangan di ruangan ini. Dari sini kita bisa melihat ke luar dari jendela-jendela sempit.

Ruang Pembantaian di bagian atas Lawang Sewu

pemandangan gedung dari jendela atas

Setelah itu, kami dipandu menuju ke salah satu sudut yang sangat eksotis, karenanya di sini sering digunakan untuk foto-foto pre-wedding. Di sini kita bisa melihat salah satu menara yang ada di depan.

Menara Lawang Sewu

Kami pun diajak ke balkon depan. Dari situ, kita bisa melihat pemandangan eksotis Tugu Muda di bawah.

Tugu Muda dari atas Lawang Sewu

narsis di atas Lawang Sewu

Sebenernya kami ingin menelusuri lebih jauh gedung ini. Apalagi saya penasaran dengan ruang penyiksaan bawah tanahnya itu. Konon, hawa-hawa mistis di ruang ini yang paling kental dan terasa. Tetapi karena memperhitungkan waktu dan cacing perut sudah mulai demo, kami pun segera meninggalkan tempat ini.

Sebelum pulang, tentu kami puaskan bernarsis ria dulu. ๐Ÿ˜€ Lain kali, saya akan kembali ke tempat ini, untuk menuntaskan penasaran saya akan ruang bawah tanah Lawang Sewu!

berfoto bersama juru kunci Lawang Sewu

narsis di belakang Lawang Sewu

sebuah PENAMPAKAN?

WARUNG MBAH JINGKRAK

Mbah Jingkrak?

Kami pun mencari makan siang di sebuah warung yang cukup unik, namanya Warung Mbah Jingkrak. Logonya cukup membuat ngakak, yaitu seorang nenek (mbah) yang lagi berjingkrak kegirangan. :))

Ruangannya cukup sempit bila dilihat dari jumlah pengunjungnya. Ruangan bertema Jawa sangat terasa. Para pelayan yang menggunakan baju batik, kursi dan meja yang terbuat dari kayu, menunjukkan kesan Jawa. Di bagian tembok terdapat berbagai ornamen, mulai dari kendi dan berbagai potongan kayu ditempelkan di tembok tersebut.

Warung ini sistemnya macam prasmanan, artinya kita dipersilakan mengambil sendiri lauk dan menu yang kita inginkan. Masakan yang ada berbagai macam, tetapi kebanyakan merupakan masakan-masakan khas Jawa.

Menu Warung Mbah Jingkrak

Nama-nama menu yang dipampangkan juga unik dan membuat senyum. Ada Daging Gendruwo, Pitik Rambut Setan, Sunduk Bolong, Sambel Iblis, Oseng Ati Boyo, Es Tobat, dan Es Insyaf.

Saya pun memesan makan nasi merah dengan gulai daun singkong plus sate telor puyuh. Tapi ternyata nasi merah yang disajikan tidak seperti nasi merah yang pernah saya makan. Tetapi secara rasa, masakannya enak. Penyajiannya pun unik, yaitu di atas piring yang dialasi daun pisang.

ini adalah menu yang dipesan Bude Gita, menu saya bukan yang ini

Karena penasaran, saya memesan Es Tobat, sedangkan Ridlo memesan Es Insyaf. Es Tobat adalah air kunir yang diberi santan dengan isi antara lain cincau, tape singkong, dan bubur mutiara. Sedangkan Es Insyaf mirip dengan Es Tobat, tetapi isinya hanya cincau dan kelapa muda.

Es Tobat Mbah Jingkrak

Es Insyaf Warung Mbah Jingkrak

Rasa dari kedua es ini menurut saya kurang nendang. Rasa manisnya menggantung. Saya kira pada awalnya warna coklat adalah warna dari juruh (air gula yang dicairkan) tetapi ternyata air kunirnya tidak dapat membangkitkan rasa manis karena kalah oleh santan. Setelah minum es ini, saya bener-bener TOBAT (kapok) memesan es ini lagi. :))

MASJID AGUNG JAWA TENGAH

Setelah kenyang, perjalanan pun dilanjutkan. Awalnya kami akan menuju ke Pagoda Watu Gong, tetapi mengingat waktu Tim Jeng-Jeng di Semarang hanya sampai jam 3 sore karena mengejar bis, akhirnya rencana ke Watu Gong dibatalkan dan diganti ke Masjid Agung Jawa Tengah.

Masjid Agung Jawa Tengah

Rencana awalnya kita mau naik ke menara masjid ini dan menikmati pemandangan Kota Semarang dari atas menara, tetapi karena saat itu full dan ramai, kami pun memutuskan untuk tidak jadi naik dan hanya sholat dan menikmati keindahan arsitektur masjid ini.

Masjid ini dibangun sejak 6 September 2002 dan selesai pada 14 November 2006. Masjid ini dibangun sebagai “tetenger” (peringatan) atas kembalinya tanah wakaf bondo Masjid Besar Kauman Semarang.

Keunikan masjid ini selain menaranya adalah adanya payung raksasa yang bisa membuka dan menutup secara elektronik. Saat kami ke sana, payung-payung ini sedang menutup sehingga bentuknya menjadi semacam “rudal”. Payung-payung ini berada pada “plasa” atau serambi masjid.

Menara dan Plasa Masjid Agung Jawa Tengah

Aneh sekali kenapa pada siang hari panas seperti ini payung-payung ini tidak dibuka. Akibatnya lantai marmer di plasa yang seharusnya suci justru menjadi sangat panas sehingga orang lebih memilih menggunakan sandal dan alas kaki ketika menginjak plasa ini.

Pada bagian timur plasa terdapat sebuah lengkungan yang bertuliskan asmaul husna. Di tengah-tengah lengkungan ini terdapat taman air mancur yang saat itu tidak muncul airnya. Tak jauh dari plasa, terdapat sebuah replika menara Masjid Kudus.

Menara Masjid Agung Jawa Tengah

Setelah sholat dan beristirahat, acara selanjutnya tentu saja adalah foto-foto!

di depan pintu Masjid Agung Jawa Tengah

di depan Masjid Agung Jawa Tengah

batas (manusia) suci?

END OF DE JOURNEY

Ada perjumpaan, tentu saja ada perpisahan. Tak terasa waktu yang ada telah berakhir. Kebersamaan ini harus diakhiri. Masih banyak tempat yang ingin dikunjungi, tapi apa jua waktu yang tidak dapat berkompromi.

Kami pun akhirnya harus pulang dan kembali ke Jogja. Terima kasih, kawan! Terima kasih Semarang! Kami akan kembali lagi!

KESAN-KESAN

Semarang ternyata sangat luas bila dibandingkan dengan Jogja. Semarang dibagi menjadi 2 daerah mengikuti kontur alamnya, yaitu Semarang Atas dan Semarang Bawah.

Walau sebagai ibukota Jawa Tengah, saya tidak menemukan unsur dan kesan “nJawani” di kota ini. Keberadaan gedung-gedung tua mengesankan Semarang seperti kota-kota di Eropa, terutama jika kita berkunjung ke Kota Lama.

Karena terletak di pinggir laut, Semarang menjadi kota perdagangan yang sibuk. Banyaknya pedagang dan pendatang terutama dari Cina, menjadikan Semarang menjadi kota perdagangan. Di beberapa daerah terdapat kantong-kantong pemukiman etnis Cina. Gedung-gedung tinggi yang mengapit jalanan sempit kota semakin menyiratkan kesan kota perdagangan itu.

Saya memperhatikan, di Semarang ini terdapat banyak sekali persimpangan yang lebih dari 4. Dan uniknya lagi, saya kok tidak menemukan zebra kros di setiap persimpangan lampu bangjo.

Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan Loenpia yang telah menyambut kami dengan begitu meriah. ^:)^

WELCOME HOME JOGJA DISAMBUT PUTING BELIUNG!

Dengan menggunakan bis eksekutif Nusantara (matur nuwun atas “sponsorship”-nya, Kang) kami meninggalkan Semarang pukul 3 sore. Perjalanan ke Jogja hanya memakan waktu 3 jam. Dan sekitar pukul 6 kami tiba di Jogja.

Saya mendapat berita bahwa jam 5 sore, Jogja diserang angin puting beliung. Angin ini memporak-porandakan Stasiun Kereta Api Lempuyangan dan sekitarnya. Saya yang kalo pulang ke kosan melewati jalur ini sempat kaget dan terjebak kemacetan.

Innalillahi wa inna ilaihi ro ji’uun.. Kenapa Jogja ditimpa bencana lagi seperti ini?

Saya mendapatkan gambar angin puting beliung yang menimpa Jogja itu. Gambar ini diambil sendiri oleh teman saya, Mas Darmawan dari sekitar Jalan Taman Siswa.

Bagi yang penasaran, silakan download dari sini (eksklusif, 3 MB, WMV). Foto-foto kiriman dia juga masuk ke Detik.

31 thoughts on “Jeng-Jeng Semarang”

  1. woii.. keren juga semarang. kapan2 kalo marko kesana di guide ya. *ngelirik mba loenpia yang lucu* . btw, sori ya. giliran marko ke wonogiri kalian ke semarang, *ngelirik PJ = aan ma beben* . aan berkata dengan sesumbar : marko touring klimaksnya ke mataram yuk , koje menyahut : oke deh, ntar urusan transport ma makan gw yang tanggung deh.

  2. le.. nduk… cah2 andong sing podo teko ke semarang wingi mben…
    MATUR SUWUN sampun sowan wonten ing papan semarang. nanging kulo sebagai bupati semarang nyuwun pangapunten, boten saged nemoni panjenengan sedoyo, amargi kulo saweg malem minggon in jogja.

  3. wuahhh,, laporane… LENGKAP DAB !!! ๐Ÿ˜€
    ojo bosen dolan2 semarang yo,,
    sorry bos, aku wingi kabur ndisit karo pepeng ,, mataku wes njendol je.. eheheh
    ralat sitik : kucingan pak Gik di Wotgandul bukan Pot Gandul

  4. HEH, kok fotoku dibilang penampakan? *injek2 Zam*

    Eh total potone kmrn ada 1 GB lho… wakakaka.. dasar banci2 foto.. ๐Ÿ˜€

  5. Wah.. jan komplit plit plit pake telor postingange. sip sip.
    Gimana Semarang? not bad juga kan? :d
    jangan kapok ya, sory kalo ada kekurangan2.. terutama kadang ngantuk. hehehe..

  6. sekedar tambahan… kalo pintu dr gedung Lawang Sewu hilang satu, yg repot para kernet angkot. Biasanya teriak Sewu..Sewu…Sewu, jadi 999…999…999..
    ๐Ÿ˜€ Capee dech…

  7. weks! kae gambar nang lorong kok ada iklan terselubung? iklan firefox ๐Ÿ˜›
    btw, pas di batas suci, sekilas rambut mbak gita kayak giring ๐Ÿ˜› heheheh *piss*

    eh, saya jg udah posting lowh! ๐Ÿ˜€

  8. Busyetttttttttt… kang, dowo eram to? bileng sampe`an le ku moco, wakaka, tapi mantrab. jos gandos .. kapan aku iso melu meneh yak? wingi ra iso je ๐Ÿ™ …

    nice nice …

  9. fiuuuh…. tragis yoh… di saat mlaku2 seneng2 ngono…. pas muleh kok disambut bencana…
    moga jogja tetep kuat dan cepet pulih…. ๐Ÿ™‚

  10. wah..aku yg asli smg malah kalah pengalaman ama turis yogja :D, baru tahu jg warung mbah jingkrak dari postingan ini (ndeso ya).
    btw salam kenal….enak ngebacanya sambil pringas pringsi je .

  11. wah saya jadi pengen ikutan tenan bung…..
    saluuuuuuuut buat cahandong dan loenpia.
    semoga tetap solid selamanya

    aku kemaren cuman dapat sms nya thok.. he.. he…

  12. Great!!!????
    tengkyu 4 visiting our lovely city….-SEMARANG-
    dukung SPA yo alias Semarang Pesona Asia
    matursuwun….

  13. makacih berat buat adik2 yg bikin blog ini, wah sebagai orang asli semarang yang sekarang terdampar di Banyuwangi..mungkin sampai pensiun..foto sampean bikin aku kangen kota semarang yang gegap gempita, umpel2an en masih tetep belum bersih juga…buat Pak Bupati ato Pak Walikota , pertahankan bangunan kuno itu, karena itulah satu2 nya kebanggaan arga semarang termasuk saya, kapan semarang bebas banjir..?, bebas sampah…? yg tentunya akan bebas penyakit….para petinggi semarang jangan sibuk amankan posisi saja…sampean dapat amanat jaga keindahan dan kemakmuran semarang lho…suwun

  14. iseng terinspirasi habis liat cerita dan foto yg noni belanda di blog ini, gw juga ambil foto di spot yang sama kemarin dan dapet hasil yg beda, yg nampak wajahnya lain…
    buat perbandingan, boleh ga gw ambil foto lo juga dan simpen di facebook gw? skrg sih cuma gw kasi link ke blog lo kalo ada yg mo liat foto nya

  15. Wah wah, tulisan ini berguna banget buat gue yang akan mengunjungi kota Semarang..
    Semoga mendapat exitement yang sama dengan yang mas alami … thanks udah share disini…

Comments are closed.