Jeng-Jeng Bareng Miwako

Jeng-Jeng Bareng Miwako

Baru saja saya berniat bener-bener bertaubat demi TAโ„ข, tapi dasar eblis yang terkutuk kok ya dengan tiba-tiba datang untuk menggoda iman kembali. ~X(

La bayangkan saja, Bu Guru saya di dunia per-jeng-jeng-an saja bisa tergoda untuk men-jeng-jeng-i Tasikmalaya, sebagai muridnya, kok rasanya ndak etis kalo saya ndak ikutan tergoda. >:)

Apalagi pada jeng-jeng kali ini ada seorang tamu spesial dari negeri matahari terbit, Jepang, seorang gadis cantik bernama Miwako Nishikawa. ๐Ÿ˜ก

Dalam perjalanan kali ini, kita akan menjelajah Pantai Pandansari di malam hari dan Taman Sari.

DE JOURNEY BEGINS

Seperti biasa, kisah per-jeng-jengan kali ini sama sekali tidak direncanakan, bahkan terpikirkan pun tidak. Bermula dari chattingan saya dengan Fany, saya mengetahui bahwa ternyata Kang Dendi sedang melakukan invasi ke Jogja bersama 20 ribu trilyun pasukan. :))

Weh, dengan penuh sigap saya segera menghubungi Kang Dendi. La gimana, kita-kita di Jogja ini pengen mengadakan pertahanan dengan membawa 40 ribu trilyun pasukan, je. :))

Ternyata Kang Dendi sedang berada di Borobudur bersama Miwako. Woo.. Ya sudah. Saya pikir, itu acaranya Kang Dendi yang ndak bisa diganggu. ๐Ÿ˜€

LEMPUYANGAN AFTER DISASTER

Karena ndak mau ngganggu, saya pun akhirnya berniat menuntaskan misi saya untuk melihat keadaan daerah Lempuyangan yang terkena angin puting beliung kemarin itu. Bersama Monik dan Tupic, kami pun mengembara ke Lempuyangan dengan berjalan kaki dari rumah Tupic yang memang tak jauh dari lokasi kejadian.

Walau sempat porak poranda disapu angin hingga bablas, keadaan di daerah yang terkena musibah telah berangsur-angsur pulih. Banyak sekali posko-posko bantuan yang didirikan di daerah tersebut.

Tetapi saya cukup menyayangkan, kenapa posko-posko yang didirikan oleh berbagai organisasi, mulai dari pemerintah, militer, organisasi keagamaan, partai politik, hingga pendukung klub sepak bola itu tidak bergabung jadi satu saja ya? Masak di satu daerah ada banyak sekali posko dengan mengusung berbagai bendera kelompok atau golongannya sedangkan di sisi lainnya, ada daerah di mana tidak ada posko, padahal daerah tersebut cukup parah kerusakannya.

Ah sudahlah, saya ini kan cuma bisa omong doank. Niat mereka mungkin baik dan sudah mau turun tangan membantu daripada saya yang cuma cangkeman thok ini. La justru karena sudah banyak bantuan itu, saya malah bingung mo bantu ngapain.. ๐Ÿ˜€

Oke, beginilah gambaran beberapa kondisi rekoveri yang ada di sekitar Stasiun Lempuyangan yang sempat diambil oleh tim.

Pohon beringin di Jl. KPB Suprapto yang tumbang sudah dibersihkan

masyarakat membersihkan pohon yang melintang di depan Stasiun Lempuyangan

tenda posko salah satu partai politik di depan Stasiun Lempuyangan

Nah, pas kita lagi di Lempuyangan inilah, tiba-tiba Kang Dendi nelpon dan ngajakin kita orang ketemuan di Malioboro. Ha ya sudah, karena pengen menyambut Kang Dendi dan penasaran sama Miwako-san, akhirnya kami pun setuju untuk ketemu di Malioboro.

PANDANSARI DI MALAM HARI

Setelah kita ketemuan, Kang Dendi menanyakan, kira-kira tempat mana di Jogja yang asyik buat jeng-jeng. Mengingat sore itu hujan mengguyur kota, kami sempet bingung mau mengajak ke mana.

Setelah berpikir dengan menggunakan dengkul yang sudah diluruskan berulang kali, akhirnya muncul ide gila. Saya mengusulkan untuk ke Pantai Pandansari, pantai yang ada mercusuarnya itu. Kang Dendi menyanggupi, dan akhirnya motor kami parkirkan di Malioboro Mall dan dengan menumpang mobilnya Kang Dendi, kami berlima segera meluncur ke Pandansari sore itu juga!

Untuk lebih jelas tentang Pantai Pandansari ini, saya pernah menuliskannya di blognya anak jeng-jeng berikut ini.

Sayang sekali, kami ke pantai ini pas cuacanya mendung. Padahal kalo cerah langitnya, kita bisa melihat hamparan bintang di angkasa. Uniknya, kita bisa menemukan banyak bintang jatuh jika kita melihat langit dari pantai ini. Tetapi sebagai gantinya, kami bisa melihat banyak kilatan cahaya petir di lautan lepas sana.. :-S Dan kami pun cukup berpuas-puas menikmati kesunyian dan suara deburan ombak serta semilir angin darat dari puncak mercusuar ini..

di depan pintu masuk mercusuar

di depan tangga mercusuar

di depan lampu mercusuar yang menyala

Wee.. La kok pas sedang asyik-asyiknya menikmati suasana dari atas menara, Bunda Unai menelpon dan mengabarkan kalo ada seorang blogger dari Padang datang. Waduuh.. Sori banget Bun, kita ndak sempet ngabarin kalo ada tamu, akhirnya kami janjian kalo besoknya kita akan ketemuan dan kopdaran sekalian di Taman Sari.

Setelah puas, kami pun meluncur kembali ke Jogja untuk memuaskan cacing perut yang sudah kelaparan. Kami pun meluncur ke Jl. Mayjend Sutoyo untuk mampir di Warung Bakmi Jawa “TANDING” Pak Tjawan, yang merupakan langganannya si Monik.

menunggu makan malam

Kami semua memesan mi rebus kecuali Monik yang memesan mi goreng. Ada yang unik ketika saya memperhatikan Miwako makan mi. Ternyata, di Jepang itu kalo makan mi, ketika kita menyruput mi, kita harus mengeluarkan bunyi, “slluurrrpp…”.. Soal ini, silakan tanya Pakde Mbilung kalo ndak percaya. ๐Ÿ˜€

Ada lagi kebiasaan si Miwa yang saya perhatikan, yaitu dia selalu memesan teh hangat tawar. Cara dia minum pun unik, kalo kita memegang gelas dengan menggunakan satu tangan, si Miwa ini menggunakan dua tangan. Satu tangan memegang gelas, sedangkan yang satunya menopang gelas. Sungguh unik. ๐Ÿ™‚

Setelah makan malam, kami pun mengantarkan Miwa menginap di rumahnya Mbak Amma, sedangkan Kang Dendi menginap di kosan saya.. ๐Ÿ˜€

TAMAN SARI KOLAM RAJA

Agenda hari ini adalah mengunjungi Taman Sari, sebuah tempat di mana dahulu kala dipakai untuk mandi dan berwisata keluarga raja. Saya sangat penasaran dengan tempat ini, karena konon tempat ini sangat indah dan mampu membuat kita serasa terlempar ke masa lalu.

Sebelum berangkat, kami pun sarapan dulu di warung soto di depan Stasiun Tugu yang terkenal itu. Sebagai pelengkap lauk, soto ini menyediakan sate jeroan. Saya pun mencoba menawarkan si Miwa untuk mencoba sate ini, tetapi ternyata si Miwa kurang begitu suka dengan jeroan. Maklum, kalo di Jepang, jeroan itu kan dibuang, bukannya dimakan. ๐Ÿ˜€

sarapan di warung soto depan Stasiun Tugu

Soto Ayam depan Stasiun Tugu

Setelah kenyang, kami pun meluncur ke Taman Sari. Kami masuk dari sisi utara, melewati kawasan penduduk. Kompleks Taman Sari ini terdiri dari 4 buah obyek, yaitu Pasar Ngasem, Masjid Bawah Tanah, Lorong Bawah Tanah, dan Kolam (Umbul) Binangun Taman Sari itu sendiri.

menuju Taman Sari melalui pemukima penduduk

di depan pintu gerbang utara Taman Sari

Luas kawasan ini sekitar 12 hektar. Dulu kawasan ini merupakan kolam buatan, ada sebuah bangunan yang berdiri di atas kolam ini yang bernama Pesanggrahan yang berfungsi sebagai tempat istirahat raja setelah dia lelah berkeliling kolam dengan menggunakan perahu. Sekarang kolam ini telah berubah menjadi kawasan pemukiman penduduk.

Uniknya, semua bangunan di kawasan ini didirikan tanpa menggunakan kerangka besi maupun semen. Sayangnya, setelah gempa 27 Mei 2006 lalu, beberapa bangunan ini ikut rusak dan bebrapa di antaranya belum selesai direnovasi.

Situs Pesanggrahan yang rusak

Dari atas Pesanggrahan, bila kita melihat ke selatan, kita akan menjumpai bangunan yang merupakan ventilasi dari Lorong Bawah Tanah. Jadi bisa dibayangkan kalo rumah-rumah yang ada di sekitarnya dulu itu adalah kolam yang luas!

bekas kolam yang menjadi perkampungan. INZET: ventilasi Lorong Bawah Tanah

Masjid Bawah Tanah

Menuju ke barat, kita akan menemukan Masjid Bawah Tanah. Masjid ini dulu juga terkena gempa, kemudian setelah direnovasi, masjid ini diberi rangka-rangka besi, karena arsitek sekarang tidak memungkinkan membuat suatu lengkungan tanpa rangka besi. Pertanyaan saya kemudian, kenapa orang jaman dulu bisa, ya? Apalagi semua bangunan dibangun tanpa semen. ๐Ÿ˜•

lorong menuju Masjid Bawah Tanah

Keunikan dari masjid ini adalah, bentuknya melingkar dengan di tengahnya terdapat semacam kolam yang merupakan mata air untuk mengambil air wudlu. Di atas kolam tempat wudlu ini terdapat 3 buah anak tangga untuk menuju ke lantai atas.

bekas kolam mata air untuk wudlu

di atas tangga bekas kolam mata air

Jamaah wanita menggunakan lantai bawah sedangkan lantai atas digunakan oleh jemaah pria. Tempat imamnya pun ada 2, yaitu untuk wanita sendiri sedangkan untuk pria sendiri. Ini disebabkan karena agama Islam di kerajaan ini masih belum sempurna, karena masih terpengaruh Hindu.

Keunikannya lagi, karena jaman dulu tidak ada pengeras suara, sang imam akan menepukkan tangannya sebagai aba-aba setiap gerakan sholat. Saya pun mencoba menepukkan tangan saya, dan benar saja, suara tepukan tangan saya langsung menggema di seluruh penjuru ruangan melingkar mirip donat ini.

Di sudut lain, kita akan menemukan sebuah lorong yang sudah ditutup. Menurut mitos, lorong ini tembus ke Laut Selatan, tetapi sebenarnya lorong ini menghubungkan Masjid Bawah Tanah ke bagian selatan kolam buatan, bukannya ke Laut Selatan! Gile aja kalo bisa sampe ke Laut Selatan. ๐Ÿ˜€ Lorong ini digunakan untuk keluar jika tiba-tiba ada serangan musuh.

lorong untuk melarikan diri ke selatan kolam

Lorong Bawah Tanah

Puas menikmati Masjid Bawah Tanah, kami lalu menuju ke Lorong Bawah Tanah. Lorong ini digunakan oleh para abdi dalem untuk wira-wiri mempersiapkan kebutuhan sang raja. Dari atas, kita hanya bisa melihat bangunan-bangunan ventilasinya saja.

Keunikan dari bangunan di Taman Sari ini adalah, setiap pintu memang dibikin rendah. Bukan berarti orang jaman dulu itu pendek-pendek, tetapi memang secara filosofi, orang Jawa dituntut untuk selalu merendah, yaitu disimbolkan dengan merunduk. Sehingga untuk memasuki setiap ruangan di kawasan ini, kita dituntut untuk selalu merunduk, tentunya agar kita cukup melewati pintunya. ๐Ÿ˜€

Lorong Bawah Tanah

Umbul Binangun Taman Sari

Inilah dia puncak dari seluruh kawasan ini, yaitu Umbul Binangun Taman Sari! Tempat inilah yang paling bagus dan paling indah!

Untuk memasuki kawasan ini, kita ditarik tiket masuk sebesar 2.500 rupiah per orang dan per kamera 2.000 rupiah.

di depan gerbang Umbul Binangun

Begitu memasuki gerbang, kita akan mendapati empat buah bangunan yang dipakai para putri kraton untuk beristirahat setelah mandi di kolam. Kawasan ini disebut dengan Bangunan Empat.

Bangunan Empat

Di sebelah kanan pintu gerbang bagian dalam, kita akan menemukan pohon Jeruk Kingkit. Buah ini getahnya digunakan untuk mengkilapkan kuku. Semacam qutex gitu, tapi ini alami.

Mbak Amma mengoleskan getah Jeruk Kingkit ke kuku Miwako

Setelah masuk lebih ke dalam lagi, kita sampai ke kolam utama!! \:d/

kolam utama dengan menara tempat raja

Ada 3 buah kolam di tempat ini. Pertama adalah kolam utama. Kolam ini digunakan oleh para putri dan gadis-gadis untuk mandi. Di sebelah selatan kolam utama terdapat bangunan yang digunakan raja untuk melihat para gadis-gadis ini mandi. Jika sang raja tertarik dengan salah satu gadis yang sedang mandi di kolam ini, maka dia akan memilih si gadis tersebut dari atas dengan melemparkan bunga.

kolam untuk anak kecil

Di sebelah utara kolam utama ini, ada kolam yang dikhususkan untuk mandi anak-anak. Di sebelah utara kolam anak-anak ini adalah ruang ganti.

Di sebelah selatan dari bangunan yang digunakan raja untuk memilih gadis tadi, ada sebuah kolam lagi yang ukurannya lebih kecil. Kolam ini khusus digunakan oleh raja untuk mandi bersama permaisuri atau gadis yang dipilihnya tadi dari kolam utama.

kolam khusus untuk raja

Wah, enak juga ya jadi raja di jaman dulu. Bisa milih gadis yang dia suka tanpa takut diprotes dan ditentang oleh para aktivis perempuan.. :))

Ruangan yang memisahkan kolam utama dan kolam raja berisi ruang ganti untuk raja dan ruang istirahat. Di tengah-tengahnya terdapat tangga untuk menuju atas. Dari atas sinilah sang raja bisa melihat gadis-gadis di kolam utama.

berada di ruang istirahat raja

dari sinilah raja bisa memilih gadis dengan melemparkan bunga

'sang raja' hendak berganti pakaian

Kami pun akhirnya menuju ke ruangan paling akhir. Di sini terdapat sebuah gerbang di mana raja masuk ke areal Taman Sari. Dari gerbang sebelah barat ini, raja bisa memilih apakah dia akan berwisata dengan menggunakan perahu mengelilingi laut buatan, mandi bersama para gadis di Umbul Binangun, atau sekedar refreshing di kebon yang berada di sekitar Umbul Binangun.

Di sini dulu terdapat sebuah bangunan berbentuk segi delapan. Ruangan ini dipakai sebagai ruang persinggahan sementara raja. Fungsinya sama dengan Bangunan Empat di gerbang sebelah timur yang digunakan para gadis dan putri untuk beristirahat. Tetapi kini bangunan tersebut sudah tidak ada dan berganti menjadi taman.

pintu gerbang sebelah barat tempat raja masuk Taman Sari

Di sini juga terdapat toko suvenir yang menjual lukisan batik. Kita pun bisa melihat aktivitas para pemuda di sini yang sedang membuat batik. Bedanya batik ini dengan batik Solo atau Pekalongan, batik ini berfungsi hanya sebagai hiasan saja, bukan sebagai bahan pakaian.

Batik, berasal dari kata “banyak titik”. Memang, dalam membuat batik ini, gambar dibuat dengan menyusun titik-titik dengan menggunakan canting (tempat melukis yang berisi malam). Harga karya seni ini dinilai bukan dari luasnya permukaan lukisan, tetapi dari kerumitan gambarnya.

seorang pengrajin sedang membuat batik

Ada juga istilah lain untuk menyebut batik, yaitu dari Bahasa Jawa yang berarti, “bathinรจ mung sethithik” alias untungnya cuma sedikit. ๐Ÿ˜€ Mungkin karena harganya yang mahal kali, mas.. :))

Di toko suvenir ini, Miwako membeli sebuah lukisan batik kecil berukuran sekitar 25 x 25 cm seharga 120 ribu plus bingkainya. ๐Ÿ™‚ Sebuah harga yang mahal? Entahlah. Saya kurang begitu mengerti karya seni, je.. ๐Ÿ˜€

Setelah membeli suvenir, kami pun pulang dengan melewati perkampungan lagi dan menyusuri bagian belakang Pasar Burung Ngasem. Awalnya rekan-rekan lainnya berencana menyusul kami, tetapi karena kami sudah menunggu lama, kami pun memutuskan untuk keluar saja dari Taman Sari. Rencana bertemu dengan Bunda Unai pun ndak jadi karena ndak ada kabar sama sekali dari Bunda Unai.

Begitu kami keluar dari Taman Sari, si Tupic, Kailani, Monik, dan Nadira datang. Yaah.. Kalian semua telat! ๐Ÿ˜€

Akhirnya kami pun menyusun rencana jeng-jeng selanjutnya di rumahnya Mbak Amma karena siang itu adalah hari Jumat, sehingga waktu kami terbatas karena Miwako dan Kang Dendi juga akan kembali ke Semarang sorenya.

MURAH DI SINI, MAHAL DI JEPANG

Tahukah kamu buah yang mahal di Jepang? Tak lain dan tak bukan adalah buah MANGGA, PISANG, dan PEPAYA!! :-O Setidaknya begitulah yang dikatakan oleh Miwako.

Ketika kami menjelajah Taman Sari, banyak sekali pohon buah-buahan yang ada di situ. Dia kaget dan terkagum-kagum melihat pohon pepaya dan pisang.

Dia kemudian bercerita betapa susahnya dia mencari sebuah pepaya, pisang, atau mangga. Katanya, harga sebuah mangga bisa mencapai ¥ 500 atau sekitar 40.000 rupiah per butir! ๐Ÿ˜ฎ Itu pun dijualnya hanya di department store tertentu saja. Dan tidak setiap hari ada. Wah, wah..

Ice Juice Bu Rinie

Mengingat pernyataan Miwako tersebut, saya lalu teringat pada tempat jus favorit para eblisโ„ข. Ya, tak lain dan tak bukan adalah Es Jus Bu Rinie di kawasan Taman Siswa!

Saya ingin Miwako merasakan jus buah yang mahal di Jepang tersebut. Kalo di Jepang sana dia harus bersusah payah untuk mendapatkan buah mangganya, maka kalo di sini, dengan harga 2.000 rupiah saja, dia bisa minum jus buah “mahal” itu sak bajeg-รจ. ๐Ÿ˜€

Tentu saja, Miwako memesan Jus Mangga, di mana satu porsinya dibagi bersama Mbak Amma. La gimana kalo ndak dibagi, itu porsinya bener-bener nggak kira-kira! Satu porsi itu sama dengan seplastik ukuran 2 kilo hampir penuh. Kang Dendi saja sampe gedeg-gedeg melihat porsi Jus Nangka yang kami pesan. :))

seginilah satu porsi jus yang dibagi 2 orang. INZET: lihatlah ukuran porsinya!

Balada Jus dan Miwako

MALIOBORO DAN VREDEBURG

Setelah kenyang menikmati kesegaran Bu Rinie, eh maksudnya es jusnya Bu Rinie, kami pun segera meluncur ke Malioboro. Karena saat itu tiba waktunya Jumatan, kami para cowok pun Jumatan di Masjid Malioboro, di kawasan DPRD Propinsi DIY sedangkan para cewek dibiarkan jeng-jeng belanja-belanja di kawasan Malioboro.

Selesai Jumatan dan yang cewek sudah puas jeng-jeng dan Miwako sudah beli oleh-oleh, kami pun berjalan menyusuri Malioboro menuju Benteng Vredeburg. Nah, sebelum sampai di Benteng, kita foto-foto dulu di depan Pasar beringharjo. ๐Ÿ˜€

berpose di depan Pasar Beringharjo

Di Benteng Vredeburg, kami pun ber-ta’aruf dan mengenal lebih jauh sosok Miwako Nishikawa ini. Dengan bahasa English grothal-grathul ala kadarnya dan dicampur dengan gerak tubuh bahasa Tarzan, kami pun mencoba berkomunikasi dan berinteraksi dengan cewek asal Fukuoka ini.

ngobrol dengan Miwako di depan Benteng Vredeburg

Soal ngobrol-ngobrol ini, silakan nanya ke Kailani. Dia pandai sekali nggedebus sama si Miwako. Walau bahasa Inggrisnya nyampur-nyampur sama Jawa-Lampung medok, tapi lumayan lah ada yang ngajakin ngobrol. Yang penting you know what I mean, toh? La saya ini kan ndak begitu pinter kalo nggedebus apalagi kalo sama orang asing.. ๐Ÿ˜€

MIWAKO NISHIKAWA

Miwako Nishikawa di Taman Sari

Gadis Jepang ini hampir lulus (bulan depan, katanya) dari Universitas Kyushu, ngambil jurusan International Relationship. Dia ke Indonesia tujuannya adalah VACATION! ๐Ÿ˜ฎ

Edan saja. Jeng-jeng-nya ke Jogja! ๐Ÿ˜€ Memang, sebelumnya dia sudah tinggal cukup lama di Semarang. Dan tujuan dia ke Jogja awalnya sih pengen liat Borobudur itu.

Ketika ditanya alasannya kenapa milih Indonesia, dia bilang karena kebudayaan negara-negara Asia Tenggara yang ramah. Dan di Indonesia, dia pun cuma mengunjungi Semarang dan Jogja. Sedangkan Jakarta cuma dipakai untuk transit.

Kami pun banyak bercakap-cakap (halah, bahasanya) tentang berbagai hal. Kebanyakan sih tentang kebudayaan masing-masing negara. Ternyata eh ternyata, si Miwa ini juga suka sama Do As Infinity! ๐Ÿ˜€ Dia paling suka lagu Yesterday and Today. ๐Ÿ˜€

Terus, tahukah kamu kenapa orang Jepang kalo difoto selalu mengacungkan dua jari? :)>- Banyak orang mengira itu adalah lambang V dari kata victory. Bukan, itu sebenarnya melambangkan angka 2. Kok bisa?

Sebelum difoto, mereka selalu bilang, “ichi ta ichi wa..” dan sesaat sebelum dijepret, mereka berteriak “Nii…” sambil mengacungkan 2 jari :)>- dan merenges.. ๐Ÿ˜€

Kata “ichi-ta-ichi-wa” kira-kira berarti “ichi = satu” “ta = ditambah” “ichi = satu” “wa = sama dengan..” lalu yang difoto pun menjawab, “Nii = dua” sambil ngacungkan 2 jari. :)>-

Lalu kenapa, “Nii..”. Ya karena ketika kita mengucapkannya, kita akan merenges. Macam kalo orang kumpeni bilang, “say cheese..”. Begitulah kira-kira..

Ichi ta Ichi wa..Niiย

SAYONARA MIWAKO

Seperti biasa, di setiap pertemuan tentu ada perpisahan. Tak terasa waktu Miwako untuk jeng-jeng telah usai. Dia harus kembali ke Semarang dan akan kembali ke Jepang hari Senin lusa.

Sebelumnya, tentu kami habiskan dengan berfoto bersama dan minta tanda tangan serta menuliskan nama kami masing-masing dalam huruf kanji. Dan ternyata, nama saya itu yang paling susah dikonversi ke huruf kanji. Bahkan si Miwako harus membuka kamus untuk mencari huruf yang tepat! ๐Ÿ˜€

Miwako menuliskan nama kami dalam huruf kanji

Arigatou, Miwako! Jangan lupakan kami. Kalo ada waktu, main-mainlah lagi ke Jogja. Atau tunggu kami di Fukuoka. :))

Sayonara.. :-h :-*

Baca juga:

47 thoughts on “Jeng-Jeng Bareng Miwako”

  1. EDYAN!!!!!
    liputannya mantab banget, Zam
    wah wah wah..
    aku kupipes ya!!
    heueuhe.. becanda
    eh foto2ku yang ditayangkan kok nggak bagus semua..
    mosok aku keliatan gendut terus !
    btw.. thanks atas inepan dan bagi2 ilmunya yah..

    ARIGATOU!!
    *bisanya itu thok*

  2. Huehuehuee…
    ada untungnya kan ceting denganku, makanya sering2 ceting denganku untuk mengetahui berita2 terbaru.. *halah opo to..*

    wah poto2ne ning taman sari gak jauh beda sama punyaku.. yo mesti ya.. ๐Ÿ˜›

  3. heheh.. bisa aje lo zam.. klo dah ada cewe cakep yg baru aja.. lupa udah ma TA nya….
    loh kok kailani ngikut toh.. huu.. kampret.. kemaren pura pura sakit dia bolos kerja… dasar!!!

  4. pinter luw naro photo miwako di paling awal (yang disampingnya kalo nggak ada lebih bagus)
    nyong ke sini cuma pengen tau soal miwako aja
    penasaran pas liat di rss reader ๐Ÿ˜€

    seperti biasa, laporan pandangan mata yang sangat ruar biasa!

    salam buat miwako + amma yap ๐Ÿ™‚

  5. hasil interview saya :

    So Miwa, what do you think about them (CahAndong) ?
    CahAndong? Oh, they really like to get pictures. They’re taking pictures like crazy!

    wakakaka.. :))

  6. # tukang nggedeblues Says:
    February 24th, 2007 at 6:01 pm

    mblayang terus, kapan luluse?

    nang kupingku yo mak JLEB! je Kang rasane!!

    ๐Ÿ™

    heheheh…ahirnya andong jadi touris guide ๐Ÿ˜€
    selamat atas kepercayaannya!! <:-P

  7. wedian..komplit tenan liputane le…lha wingi kae ra sidho mergane tamuku bapak2, wedine nek karo kowe kowe encoke malih kambuh…aku mung ngejak mubeng mubeng cedak kraton ae…meri jane aku le…cewek jepang huayu tenan…deweke jurusane podo aku…hehehe..international relation..mung bedho nasib ae yo..hiks

  8. jeng-jeng wae… pantesan wingi ra melu mangan2 sepuasnya nganti wetenge njeblug….
    ketoke leh mu jeng-jeng kurang lengkap kui, mosok jeng-jeng karo turis ra ngajak kangmas Alexgator… !!! ra ono seng ndongeng2 coro enggres logat Transtool !!

  9. kelihatannya mantabzz lagi postingannya…sebenernya tgl 1 maret ini ada lagi cewek jepang yg mo ke jogja, temennya Miwako juga, semoga bisa ketemu cah andong ๐Ÿ˜€

  10. Wah… ternyata ini toh yang jalan-jalan sama turis jepang. hohoh. *aduh maap baru sempet blogwalking. huhuh. n_n seru yah… btw nisa baru tau kalau orang jepang ga suka jerohan. padahal ikan aja mereka suka makan mentah kan. n_n … menarik juga info yang tanda ‘victory’ pas mo di foto ituh. ternyata itu toh alasannya… ichi ta ichi wa niiiii.. ^_^v ckrekk…

  11. weh… kok cuma segini aja postingan lu? kurang banyak gechรขโ€žยข……. komen ama postingannya panjangna hampir sama jem ๐Ÿ˜€ harusnya si miwa ikutan komen jg di sini tapi pake bhs jepang biar qt ga bs baca ๐Ÿ˜€

  12. Wooo iki murite gita tooo? Eblis pisan nuuu..he..he.. Banci poto juga ya..salam kenal.
    Aduh, ra sido salam kenal. Ki kod ku monyet jeeeee

  13. :D~~~

    eits jangan salah itu sama jus nya lho zam .. bukan si .. ehm .. ๐Ÿ˜›

    btw, miwako itu nulis nama “zamroni” make kanji kan? ente nanya g itu artinya apa ??? kan harusnya katakana tuh … nah, kalo di tulis make kanji .. pasti jadi ada artinya (sotoy mode:on)

Comments are closed.