Solo Nostalgia

Solo Nostalgia

Ah, lagi-lagi saya tidak bisa menahan hasrat jeng-jeng saya.

Jeng-jeng kali ini sedikit beda, bukan keluyuran ke tempat-tempat eksotis, tetapi cuma perjalanan saya pulang kampung ke Solo. Tapi kenapa dituliskan di sini, karena saya mendapatkan nuansa nostalgia selama dalam perjalanan saya pulang ini.

Kalo biasanya saya pulang ke Solo naek motor, kemarin itu saya pulang sambil mengenang masa-masa lalu saya, karena sudah lama banget saya ndak pulang menggunakan jasa kereta Prambanan Ekspres (Prameks). Apalagi semenjak peluncuran Prameks edisi KRDE pada tanggal 1 Maret setahun yang lalu, saya belom pernah mencobanya. 😀

Selain perjalanan saya menikmati suasana Prameks, kita akan mencoba menu kuliner dari Warung Jahe Gepuk Pak No. =p~

DE JOURNEY BEGINS

Jumat (2 Maret 2007) itu, mendung masih menggantung. Hujan gerimis cukup deras sempat mengguyur sore harinya. Saya pada saat itu tidak ada kegiatan apa-apa selain cuma bengong di kosan, akhirnya saya malah terlelap sore itu (harusnya saya ngerjain TAâ„¢ ya?). :-??

Menjelang Maghrib, saya terbangun. Entah kenapa saya kok tiba-tiba pengen banget pulang, entah eblisâ„¢ mana yang membisiki saya. Dan saya kok pengen banget pulang naek kereta. Padahal selama ini saya lebih milih naek motor karena bisa pulang sewaktu-waktu, beda kalo naik kereta yang harus patuh pada jadwal. 😀

Baiklah, seingat saya jadwal kereta Prameks terakhir dari Jogja adalah jam 7-an malam. Ha ya sudah, sebelum berangkat saya pun menyempatkan diri sholat Maghrib dulu.

Sebenernya saya ingin melakukan jeng-jeng kali ini dengan lagak bak seorang backpacker. Tapi apa daya, karena di kosan ndak ada orang yang bisa dimintai tolong nganterin ke Lempuyangan, akhirnya saya mancal motor ke stasiun yang sempet porak poranda disapu puting susu beliung itu.

Jam setengah 7 saya berangkat dan dari kejauhan terlihat Prameks sudah tiba di Lempuyangan. Saya mempercepat motor saya dan setelah menitipkan motor di parkiran stasiun, saya pun menuju loket untuk membeli tiket seharga 7.000 rupiah.

Setelah masuk peron, loh kok? Prameks-nya udah ndak ada! Heheh.. Ternyata Prameks yang saya liat tadi baru saja masuk stasiun dari Solo dan kini menuju Stasiun Tugu.

Sembari menunggu, saya pun memperhatikan setiap sudut stasiun yang lebih tua 15 tahun dari Stasiun Tugu atau Stasiun Besar Yogyakarta ini. Atap-atap stasiun yang sempat hilang akibat disapu angin kemarin sudah diperbaiki. Orang yang hendak naek Prameks ndak begitu banyak, apalagi hari itu bukan hari Sabtu atau Minggu.

La pas saya lagi asyik-asyik menikmati suasana, saya dikejutkan oleh seorang gadis manis yang menyapa saya. Saya sempat kaget dan berpikir lama, siapakah gadis manis ini? Jangan-jangan dia salah orang atau jangan-jangan dia mengira saya kuli panggul stasiun yang kemudian mau disewa untuk melayani hasratnya membawakan barang-barangnya? 😕

Oo.. Ternyata dia anak Kassmadji Gama, adik kelas saya dulu pas di SMA yang sekarang ngaku kuliah di Psikologi UGM angkatan 2003. Hehe, kenal sama psikocluk itu ndak, ya? :))

Dan cewek yang ngaku bernama Yaya ini ternyata mulutnya ndak semanis wajahnya. La kenapa bisa? Ha ya bisa. Masak begitu ketemu, pertanyaan yang pertama keluar dari bibirnya, “sudah LULUS, mas?” Jampuutt!!! ~X(

Kalo saja dia itu cowok, sudah tak suwek-suwek cangkém-è terus tak lempar ke atas rel biar dilindas kereta.. x( Untung saja dia cewek, jadinya ya saya perkosa dia cuma tersenyum pahit menanggapi pertanyaannya.

Obrolan panas menjurus saru kami pun terpaksa terhenti ketika ada pengumuman bahwa kereta Prambanan Ekspress akan masuk jalur 2. Kami dan beberapa orang lainnya segera mempersiapkan diri berdiri di kanan-kiri jalur 2.

Tak lama kemudian, kereta berwarna kuning ini berhenti dan pintu berpenggerak hidrolik pun terbuka. Ces.. Ces.. Begitulah bunyi ketika pintu terbuka. Para penumpang pun segera naik dan mencari tempat duduk.

PRAMBANAN EKSPRES, KERETA NOSTALGIA

KRDE Prambanan Ekspres

Setelah mendapat tempat duduk, saya pun memperhatikan bagian dalam kereta ini. Ternyata banyak sekali perbedaan pada kereta KRDE ini daripada kereta Prameks lama yang berjenis KRD.

KRD Prameks lama

Kesan pertama saya setelah memasuki kereta adalah kereta ini terlihat lebih luas. Ternyata ini disebabkan karena tempat duduk yang ada di dalam kereta ini adalah berderet menyamping, sejajar dengan kereta. Kalau kereta Prameks yang dulu, tempat duduknya masih menghadap depan-belakang.

suasana di dalam gerbong Prameks

Gerbong ini juga lebih panjang daripada gerbong lama. Dilihat dari papan informasi yang tertera di dalam gerbong, setiap gerbong mampu menampung 70 orang penumpang, sedangkan gerbong lama seingat saya cuma 60 orang. Itu kalo biasa lo, tapi biasanya banyak juga orang yang berdiri di dalam, apalagi kalo pas akhir pekan, bisa 120-an orang di dalamnya.

Tempat duduk kereta ini juga berbeda. Kalo di gerbong lama tempat duduknya empuk karena ada busanya, tapi di kereta ini tempat duduknya keras karena terbuat dari bahan semacam plastik fiber. Di sepanjang lorong terdapat cincin-cincin tempat bepegangan bagi penumpang yang berdiri sebanyak 48 buah. Di bagian tengah atap ada kipas angin yang mengatur sirkulasi udara.

Dalam satu rangkaian kereta terdiri dari 5 gerbong. Kereta ini tidak memiliki lokomotif, tetapi pada bagian ujung-ujungnya terdapat gerbong tempat masinis menjalankan kereta yang juga menjadi satu dengan gerbong penumpang. Jadi kereta ini dapat berjalan pulang-pergi tanpa perlu membolak-balik lokomotif.

Kereta ini konon pengontrolannya menggunakan komputer. Karena itu pula, kereta ini dilengkapi dengan sistem pembatas kecepatan. Sehingga kereta ini jika melebihi kecepatan tertentu, otomatis sistem akan mengembalikan kecepatan pada kecepatan yang aman. Konon kereta jenis ini adalah kereta pertama kali yang dioperasikan di Indonesia.

Kereta KRDE ini adalah merupakan hasil modifikasi yang dilakukan oleh PT. INKA (Industri Kereta Api), sedangkan kereta Prameks yang lama adalah kereta bekas yang dibeli dari Jepang. Kereta ini menggunakan mesin diesel buatan Cummins dan alternator buatan Toshiba. Bodinya menggunakan bodi KRL Belgien Nederland-Holland Electric. Sistem suspensinya menggunakan bolsterless bogie sehingga mampu meredam guncangan dengan mantab.

Kereta ini sungguh nyaman. Suaranya halus dan guncangannya sangat kecil. Pokoke wenak tenan, apalagi kalo di depan kita adalah cewek manis.. Wah, bener-bener posisi wenak.. >:)

Uniknya lagi, di kereta ini ada petugas yang menawarkan makanan dan minuman. Dengan menggunakan kereta dorong, petugas berseragam ini menawarkan berbagai makanan kecil, tisu, air mineral, dan sebagainya. Dengan berseragam biru-biru bertuliskan PRESTIS yang merupakan kepanjangan dari Prameks Ekstra Service, mereka ini mondar-mandir sepanjang lorong sambil memukul besi kereta dorong. Ting.. Ting..

Prameks Ekstra Service

Kereta ini hanya berhenti pada Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, Stasiun Klaten, Stasiun Solo Purwosari, Stasiun Solo Balapan, dan Stasiun Solo Jebres. Karena kereta yang saya tumpangi ini adalah kereta terakhir, maka pemberhentian hanya sampai di Stasiun Solo Balapan untuk kemudian dipakai pada esok harinya.

Kalo dulu, Prameks masih sering berhenti di stasiun-stasiun kecil untuk menunggu kereta lain dari arah berlawanan yang akan lewat, kini Prameks bisa langsung melaju tanpa henti karena adanya proyek rel jalur ganda yang menghubungkan Jogja-Solo.

Saya pun mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali saya naik Prameks. 😕 Kira-kira sih pada awal-awal kuliah saya masih sering naek Prameks, jadi mungkin sekitar 3-4 tahun yang lalu saya terakhir kali naik Prameks.

Dulu kalo pas di kereta, ketemu teman SMA rasanya seneng banget karena bisa diajak ngobrol dan nanya-nanya kabar. Kalo sekarang, saya malah berharap tidak ketemu temen-temen SMA saya.. [-O< Malu, euy.. Belum lulus!! :((

Tak terasa, 45 menit sudah berlalu. Prameks pun memasuki Stasiun Purwosari. Saya pun turun di sini. Setelah turun kereta, saya pun tidak keluar melalui pintu keluar stasiun, tetapi saya justru menyusuri rel menuju ke barat, karena di sana saya ingin menikmati kehangatan wedang jahe.. =p~

HANGATNYA JAHE GEPUK

Rasa capek menggelayut di badan karena selama di kereta saya ndak melakukan aktivitas apa pun kecuali cuma duduk. Apalagi tubuh yang sempat terguyur gerimis di Jogja tadi membuat badan terasa dingin.

Warung Jahe Gepuk Pak No Purwosari

Tak jauh dari stasiun, ada warung wedang yang ramai, namanya Warung Wedang Jahe Gepuk Pak No. Saya pun menyusuri rel-rel mati ini ke arah barat. Saya menemukan sisa-sisa rel yang konon dulu merupakan jalur Solo-Semarang. Tetapi kini rel-rel di pinggir Jalan Slamet Riyadi ini sudah tidak dimanfaatkan lagi dan jalur Solo-Semarang dilewatkan Purwodadi.

Begitu sampai di warung ini, kesan merakyat langsung terasa. Ada warung HIK yang menyediakan berbagai macam gorengan, tikar yang digelar untuk lesehan, dan dingklik-dingklik tertata rapi menunjang kita untuk menikmati malam.

hidangan yang ada di Warung Pak No

Saya pun disapa ramah oleh sang ibu empunya warung. Saya pun bertanya menu spesial warung ini apa, dan beliau menjawab, “Susu Jahe, mas.. Dijamin manteb!”.

Weh, saya pun tergoda. =p~ Saya memesan satu dan segera mencomot seekor puyuh goreng yang sudah ngawe-awe sejak tadi. Menu puyuh ini sangat istimewa, karena selama saya di Jogja, saya belum menemukan angkringan yang menyediakan menu ini kecuali warung HIK di Solo.

Susu Jahe dan Puyuh Goreng

Karena saking laparnya, saya lupa kalo menu puyuh ini lebih mantab kalo sebelumnya dibakar dulu di atas bara.. Ah, tapi tak mengapa lah.. :))

Daging burung puyuh ini secara keseluruhan lebih alot daripada daging ayam. Cara memakannya pun harus hati-hati, karena ukuran burung yang kecil, tulang-tulangnya juga kecil, sehingga kemungkinan tulang nylilit di gigi dan menusuk gusi juga besar. :)) Pokoknya sampeyan musti ngerasain sendiri! :))

Warung ini berdiri sejak Oktober 1999. Mulai buka dari jam 4 sore sampai tengah malam. Hampir setiap malam warung ini rame, apalagi kalo pas malam minggu. Dulu setahu saya ada yang jual jagung bakar juga di sekitar warung ini, tapi pas saya datang berkunjung, penjual jagung bakar ini tidak ada.

Sang ibu penjualnya pun enak diajak ngobrol. Selama berjualan, ia dibantu oleh suami dan putri-putri (ingat, putri-putri) serta beberapa tetangganya. Sang ibu ini lalu bercerita tentang resep wedang jahenya yang memang berasa nendang di tenggorokan dan hangat di badan ini.

Jahe di warung ini memang mantab. Pedas jahenya benar-benar terasa. Suhu wedangnya juga pas, tidak terlalu panas namun tidak pula terlalu dingin. Rasa manis susu murni berpadu dengan pedasnya jahe membangkitkan rasa tersendiri. Sluurrpp.. Ah.. =p~

Jahe warung ini juga istimewa cara mengolahnya. Sebelumnya, jahe disikat terlebih dahulu hingga bersih. Kemudian jahe dijemur di bawah terik matahari supaya kering. Kemudian setelah kering, jahe dipanggang. Cara memanggangnya juga unik, jahe dimasukkan ke dalam kolong anglo sehingga jahe tidak gosong.

Setelah benar-benar kering, jahe dikupas dan kemudian dihancurkan atau dimemarkan. Kalo orang Jawa bilang, di-gepuk. Nah, jahe yang sudah hancur ini kemudian diseduh dengan air panas. Hasilnya, sari-sari jahe yang sudah kering tadi akan larut semua ke dalam air panas. Minuman ini yang dinamakan Wedang Jahe Gepuk.

Untuk menghasilkan rasa jahe yang mantab, kita bisa menambahkan gula jawa (gula merah). Tetapi bila tidak ada, pakai gula biasa pun bisa. Cuma, ya rasanya ndak semantab wedang yang menggunakan gula jawa.

Karena saya memesan susu jahe, maka jahe gepuk tadi dilarutkan dalam susu murni yang panas. Rasanya, wuih.. =p~ Rasa manis susu bercampur jahe yang hangat membuat badan menjadi rileks. Bener-bener nikmat kalo disruput pas hujan-hujan bersama kekasih.. X) Halah..

Belum puas, si ibunya menawarkan nasi kucingnya. Nasi kucing ini lauknya ada bermacam-macam, mulai dari oseng-oseng, sambel bandeng, sambel gérèh (ikan asin), hingga nasi goreng. Semua nasi dan lauknya ini adalah bikinan ibu itu. Si ibu pun menjamin bahwa semua yang ada di warungnya adalah halal.

“Dulu pernah kita jual daging babi, mas.. Tapi ada orang yang komplain, terus dia bilang lebih baik ndak usah jualan yang begituan lagi. Sekarang saya ndak mau jualan daging babi lagi, mas. Sarèn juga ndak, apalagi iwak jamu.. Pokoke dijamin semuanya halal..”, begitu sang ibu bercerita.

Sang ibu lalu meneruskan ceritanya, “di sini yang sering dicari adalah Wedang Kencéng, mas.. Kebanyakan yang nyari itu orang-orang Cina. Kencéng artinya kencang, menurut orang-orang Cina yang sering memesan wedang ini, minuman ini dipercaya bisa mengencangkan otot-otot sehingga kita bisa nampak lebih muda. Oalah, tak kirain yang kenceng apaan.. :))

Wedang Kenceng

Wedang Kenceng adalah jahe yang dilarutkan dalam air tape ketan. Air tape ketan yang rasanya manis-manis gimana itu dicampur dengan jahe? Wah, saya jadi penasaran bagaimana rasanya. Saya pun akhirnya tak bisa menahan diri untuk mencobanya. Setelah menikmati kehangatan Susu Jahe, kini saatnya mencoba Wedang Kenceng! =p~

Weh, ternyata rasanya mantab juga! Rasa pedas jahe bercampur dengan manisnya tape memberikan rasa yang khas dan unik. Rasa dari wedang ini lebih segar dan ringan daripada susu jahe. Ketan yang mengendap di dasar gelas pun bisa kita makan.

Saya pun mencoba nasi oseng-osengnya. Saya memang tidak suka sambal. Jadi saya mencoba oseng-osengnya saja. Oseng-oseng ini berisi tahu dan tempe, rasanya enak. Apalagi ditambah lauk sate telor puyuh.. Weh.. =p~

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Setelah kenyang dan puas menikmati hidangan rakyat tersebut, saya pun memutuskan pulang. Tetapi sayang sekali, bis kota sudah tidak ada. La padahal jarak dari Purwosari ke rumah saya kira-kira 2,5 km. Akhirnya saya pun memutuskan untuk berjalan kaki. Itung-itung olah raga.. :((

NOSTALGIA SEKOLAH

Dengan menyusuri jalan Slamet Riyadi bak seorang backpacker, saya pun menikmati suasana kota. Ketika melewati depan mall Solo Square, ingatan saya langsung terlempar ke masa lalu.

Solo Square

Dulu, kawasan Solo Square merupakan tanah lapang yang tidak terawat. Dulu pas masih SD, kami sering melakukan kegiatan olah raga di situ. Tetapi kini, lapangan itu sudah berubah menjadi simbol kapitalis dan konsumtif.

Tak jauh dari Solo Square adalah SD Negeri Kleco 2. Di SD inilah saya dulu bersekolah. Kondisinya tidak banyak berubah. Kenangan masa SD saya pun langsung merasuk ke otak. Saya sempat berhenti sejenak untuk mengingat-ingat masa-masa SD saya dulu sambil memandang bangunan sekolah itu. Tak terasa saya bisa tersenyum-senyum sendirian.

Saya lalu menyusuri jalan yang dulu saya lewati ketika pergi dan pulang sekolah ketika SD. Menyusuri jalan-jalan sempit membelah pemukiman penduduk. Warung kelontong Barokah di dekat sekolah yang dulu menjadi penyelamat ketika lupa membawah bahan untuk hasta karya, rumah sobat lama saya Handoko yang rumahnya paling dekat dengan sekolah, jalan-jalan dan gang-gang itu, semuanya nampak tak banyak berubah.

Saya pun berencana menuju ke SMP Negeri 2, SMP saya dulu. Tetapi akhirnya niatan ini saya urungkan mengingat jalan di sekitar SMP ini dulu terkenal rawan. Apalagi jam-jam segini, biasanya ada orang mabuk-mabukan di sekitar situ. Entahlah kalo sekarang.

Saya pun teringat akan suatu kejadian yang cukup mengerikan. Pernah saya melihat peristiwa bunuh diri ketika melewati jalan menuju SMP ini. Sang korban meninggal dengan cara gantung diri di sebuah pohon. Saya saat itu melihat dengan jelas ketika mayat diturunkan dari pohon. Hi.. :-SS

Langkah kaki ini terus berjalan. Tak terasa sekitar 45 menit saya pun sampai di rumah. 😀 Ternyata waktu tempuh saya berjalan kaki sama dengan waktu tempuh Jogja-Solo menggunakan Prameks. :))

Ketika saya tiba di rumah, pintu sudah dikunci. Setelah mengetuk pintu, bapak saya kaget ketika membuka pintu. Setelah dipersilakan masuk, saya diberondong berbagai pertanyaan. 😀 Biasa lah, kekhawatiran ortu kepada anaknya. 😀

Dan malam itu saya pun tidur dengan nyenyak sekali karena kecapekan. |-)

48 thoughts on “Solo Nostalgia”

  1. mat mat…
    gw jadi kangen solo nehg
    eh eh ternyata lo SMP 2 juga tho
    wah seniorku no…
    😀
    aku mbiyen kelas 3F
    kenal arum ora boz 😀
    si cewe mantaph jaya raya merdeka keturunan kraton solo

  2. jengjeng trooosssss….masih ada beberapa trip lagi, PAngrango, Ambarawa, lombok, dan Bali…hehhe ngeces pasti.

  3. keretanya kayak KRL jabotabek ya.. yg eksekutif.

    waaaa puyuh goreng… *ngiler*. sudah bertahun2 gak merasakan… hiks

  4. zam, mbok yo nyoba sekali dua kali pake pulang solo naik becak, piye? ben luwih kerasa jeng-jeng kowe sing mancal….
    eh zam, KeyCode kuwi kowe duwe script ra? suwun.

  5. waw waw woooow. hehehhee.. akhirnya c dudul ini pulang kampung juga. orang2 rumah pasti merindumu juga sebaliknya. hehehe.. welcome home ~ 😛

    wadoooh. ni banyak banget yah kalimat2 yang disensor.. >:) … moga2 gak fakta. >:)

    hmmmm..
    dari dolo ampe skarang pengen banget bisa naek kereta yang kursinya nyamping begitu. kek di anime-anime gitu kan.. pulang pergi sekolah naik kereta begituan. nampak kewl. hehehehe…

  6. lha.. jadi kamu tuh orang solo ya.. hihihi… solo kota asal ortu saya, yg paling mengesan itu naek bis tingkat… ;)) maen di balekambang… liat wayang orang di sriwedari… sekatenan di alun2… lari-lari pagi di manahan… liat pasar burung… ;))

    *yahya yang mana? yang putih pake kacamata bukan… ? hihihi… berasa kenal…

  7. ah Prameks, kenang2an pas mau nonton Harry Potter di Jogja. saya paling takut naik kereta habis kereta yang saya tumpangi besoknya terbalik. tapi demi Harpot….. saya dulu naik kereta Prameks lama. sekarang kok penampilan dalamnya kayak baswei yah.

    btw, kalau aku muncul mendadak gitu di rumah, zam, pertanyaan pertama ibuku pasti: “duit habis ya?” 😀 lah, nelpon ke rumah aja, pertanyaan paranoidnya yang pertama pasti itu. jadi males nelpon ke rumah.

    nanya nih, tu foto pertama siapa yang moto-in kalo kau jalan sendirian? hiiiiiii….

  8. Lah, kamu di kreta ya motret2 gitu Zam?
    ngak digebuki orang?
    wong dulu motret mbakyu bakul satu aja kamu dikejar2 minta dikawinin.
    hehehe.. :d

  9. wadooooh zam zam…
    mbok ndang diurus TA-ne disik…
    bar kuwi le jeng-jeng sak pecahe ndase rapopo!!!
    *priatin tenan aku*

  10. busyet deh… lengkap dab… lumayan juga kl km ngelamar jadi jurnalis spesialis jalan2. asal jangan ngelamar si miwako… ha..ha.. :))

  11. walah2…. jik kelingan sing bunuh diri mbiyen to zam? aku jik kelingan karo klas 3B, sing amburadul lan nyenengkeh…. 🙂 kelingan kw sing pecicilan koyo ngono, kelingan si zam suka ngintipin dibalik “……” si ibu bahasa indonesia (Bu S*******i) :D, kelingan p’nah pnya band yang ga mutu 🙁 , kelingan zam nulis surat cintanya pake diketik komputer *halahhalah…. 😛 (TOPSECRET), kelingan si zam suka memberi nama2 julukan ma Bp2 dan ibu2 SMP 2 t’cinta. BTW that’s nice moments 🙂 gmana ya kabarnya yang laen…..?????

  12. wah yen moco tulisanmu dadi pengin balik solo mas,arep nguntal opo2 ono tur murah ra koyo ning jkt wis larang tur ra enak rasane…:)

  13. Boleh tau ga alamat rumah makan HIK Solo ya ga..jawab pake email ya..pengen banget cobain burung puyuh gorengnya dan susu jahe trus harganya berapa ya
    Boleh minta tolong dijawab ke email ku ga?

    Thanks

  14. nyamleng deh, kemecer tenan. eh aku duwe usaha puyuh jantan potong hasl silangan puyuh lokal dg perancis lho, mau aku suplai ? aku ada gudang dijakarta. bisa dikirim dlm bentuk frozzen.

  15. wah koyoke iso gawe reperensi gawe tgl 25-27 juni sesuk nang solo q,..xixixixixixi
    wisata kuliner emperane sing wes kebayang ueeeenak pastine…
    ditunggu kapan iso backpackeran iki,..
    kabar2 kasih inpone nggeh,..
    suwun
    good luck

Comments are closed.