Candi Kalasan, Candi Budha Tertua di Jogja

Candi Kalasan, Candi Budha Tertua di Jogja

Sudah lama sekali saya ndak pulang kampung ke Solo. Sabtu kemarin, dengan niat ingsun saya pun bertekad untuk pulang ke Solo. Apalagi rasanya sudah cukup lama saya ndak jeng-jeng serta otak sudah cukup suntuk dengan beban kerja yang makin menggila, membuat saya ingin refreshing sejenak.

Berhubung saya lagi seneng-senengnya mengagumi kemegahan kebudayaan masa lalu, perjeng-jengan saya kali ini masih ndak jauh-jauh dari tema itu. Sasaran saya kali ini adalah Candi Kalasan, yang terletak kurang lebih 50 meter di tepi Jalan Jogja-Solo, sekitar 14 km dari Jogja.

Awalnya saya mengajak rekanrekan sepertololan saya itu, tetapi ternyata mereka ndak bisa gabung karena berbagai alasan. Saya pun mencoba mengajak saudari saya yang denger-denger lagi nganggur, eh ternyata dia juga sudah mempunyai janji di malam minggu itu. Selamat berjuang, saudariku! πŸ˜‰

Apa boleh buat, perjeng-jengan kali ini saya lakoni sendiri. Berbekal kamera digital pinjaman dari Adi, saya pun meluncur selepas Ashar. Tak lama, sekitar 15 menit saya pun tiba di lokasi. Suasana yang sepi membuat saya langsung takjub terhadap tempat ini.

Saya pun disambut ramah oleh Mas Fajar, penjaga sekaligus pemandu saya saat itu. Dari buku tamu, perkiraan saya kalo candi ini kurang diminati ternyata salah. Sebelum saya, ada kunjungan dari sebuah sekolah menengah baru saja usai. Dari arsip buku tamu, turis-turis dari Amerika maupun Jepang juga pernah mampir ke sini.

Lingkungan yang bersih dan tampak terawat semakin menguatkan alasan bahwa candi yang terletak di Desa Kalibening, Kecamatan Kalasan, Sleman, yang pernah mengalami renovasi 3 kali ini termasuk salah satu tujuan wisata selain Candi Prambanan atau Istana Ratu Boko. Apalagi biaya yang dipungut sangat murah, tidak ada tarif khusus, hanya seikhlasnya pengunjung membayar saja.

Setelah urusan administrasi selesai, saya kemudian diajak berkeliling. “Candi ini sangat istimewa, mas”, Mas Fajar membuka ceritanya sore itu. Candi Kalasan ini ditengarai sebagai candi Budha tertua yang ada di DIY dan sekitarnya. Candi ini dibangun pada abad ke-7 sekitar tahun 778 M oleh Rakai Panangkaran dari Wangsa Sanjaya Dinasti Mataram Kuno.

Uniknya, Rakai Panangkaran ini adalah raja beragama Hindu sedangkan candi ini bercorak agama Budha. Candi ini dibangun untuk menghormati Dewi Tara, yang konon menurut cerita yang berkembang, adalah seorang wanita yang sangat cantik pada saat itu.

Ah, saya jadi teringat kisah pembangunan Taj Mahal yang dibangun oleh Shah Jahan untuk dipersembahkan kepada istrinya, Mumtaz Mahal. Ini mengingatkan saya bahwa tahta, harta, dan wanita merupakan unsur-unsur yang tidak terpisahkan dalam kehidupan. Seseorang yang berkuasa, mau mengeluarkan harta (dan apa saja) demi wanita.. πŸ˜• *sotoy*

Halah.. :-j Lanjut..

Selain usianya yang tua, keunikan lain candi ini adalah pada bangunan candi itu sendiri. Candi ini merupakan satu-satunya candi yang menggunakan lapisan semacam semen putih yang disebut Bajralepa pada beberapa bagian dindingnya. Bajralepa inilah yang membuat candi ini seolah-olah berwarna putih bila dibandingkan dengan candi yang dicuci dengan Surf lainnya.

Ukiran-ukiran yang ada pada candi ini juga yang paling halus dan paling indah bila dibandingkan dengan ukiran-ukiran di candi-candi lainnya. Ornamen-ornamen rumit dan halus berupa sulur-sulur pohon yang keluar dari pot banyak ditemukan di sekeliling candi.

Di tiap sisi terdapat relung-relung yang kosong. Seharusnya di relung-relung tersebut terdapat patung-patung dewa dengan posisi berdiri sambil membawa bunga teratai. Bisa jadi pencuri aset-aset negara *lirik Pepeng* telah “mengamankan” patung-patung ini.

Selain relung-relung, di setiap sisi dapat kita temui hiasan berupa kepala Kala. Bagian badan dan atap candi dipisahkan oleh relief-relief Gana dan di atas Gana terdapat relief patung Budha.

Bangunan candi berdiri di atas alas batu berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi 45 meter. Bangunan candi terdiri dari sebuah ruangan utama dan 3 ruangan pendukung. Tetapi ruangan pendukung yang kita temukan hanya ada 2 yaitu pada sisi utara dan selatan candi saja karena ruangan di sisi barat telah rusak.

Pintu masuk utama candi berada di sebelah timur dan untuk memasukinya kita perlu sedikit bersusah payah untuk naik ke atas. Ditengarai ada sebuah tangga di depan pintu masuk yang berhubungan dengan hiasan berupa Makara.

Seorang budayawan yang pernah berkunjung ke candi ini mengibaratkan pintu candi ini sebagai pintu surga, karena untuk mencapainya diperlukan usaha, sehingga manusia harus berusaha bila ingin mencapai surga. Konon, pintu candi ini bila ditarik garis akan langsung berhadapan dengan pintu gerbang Kraton Ratu Boko yang tepat berada di sebelah timur candi.

Memasuki ruang utama, kita akan menemukan semacam altar yang di tengah-tengahnya dulu terdapat patung setinggi 6 meter yang terbuat dari perunggu. Tetapi demi alasan keamanan, patung perunggu ini disimpan di Museum Gajah, Jakarta. Nah, keberadaan patung perunggu ini juga menjadi keunikan dari candi ini bila dibandingkan dengan candi lain. Saya juga menemukan beberapa ukiran berupa kepala gajah di sekitar altar ini.

Bila kita mendongak ke atas ketika berada di dalam ruang utama, kita akan menemukan semacam lorong berbentuk heksagonal seperti cerobong yang menjulang ke langit. Diperkirakan atap candi ini berbentuk stupa besar, tetapi karena stupa ini rusak maka atap candi ini berlubang di bagian atasnya.

Ah, sayang sekali batere kamera yang saya pake ini habis, sehingga saya tidak dapat mengambil foto-foto narsis saya bagian-bagian candi ini. Beginilah nasib sok-jurnalis gadungan yang gak modal sama sekali. :-<

Menurut Mas Fajar, candi ini masih aktif dipakai umat Budha ketika merayakan hari-hari besar keagamaan. Terakhir candi ini digunakan pada Hari Raya Waisak beberapa waktu yang lalu.

Secara keseluruhan, Candi Kalasan mempunyai beberapa keistimewaan. Kalo boleh disimpulkan, keistimewaan itu antara lain:

  1. Merupakan candi Budha tertua di DIY dan sekitarnya
  2. Menggunakan Bajralepa di bagian sisi dindingnya
  3. Ukirannya sangat halus bila dibandingkan dengan candi lain
  4. Terdapat patung yang terbuat dari perunggu, walau patung tersebut berada di tempat lain
  5. Lokasinya yang sangat strategis, di pinggir jalan Jogja-Solo, dan relatif dekat dari Candi Prambanan
  6. Candi ini masih aktif dipakai sebagai tempat ibadah umat Budha

Sebenernya, tak jauh dari Candi Kalasan, ada Candi Sari yang jaraknya hanya sekitar 500 meter di sebelah timur-laut dari Candi Kalasan. Tapi saya belum sempet menjelajah ke sana.

Mungkin lain kali?

55 thoughts on “Candi Kalasan, Candi Budha Tertua di Jogja”

  1. kowe mbayar piro sidane?
    hihihihihiihi
    ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak ikhlas gak

  2. “Beginilah nasib sok-jurnalis gadungan yang gak modal sama sekali. :-<"

    naaah…! itu NYADAR !! hihihihi…
    Masa fotonya cuma satu!

    Patung perunggunya ada di museum gajah yah? *bersiap membuat rencana kopdar museum ke sana*

  3. sekali2 ojo dadi raja kandang… njajal jeng-jeng metu soko wilayah kekuasaan… budal jeng-jeng neng irian…

    kuwi baru seru zam… hihihi..

  4. Buat pepeng :
    Hoi!! Opo hubunganne nglempar aku ke yogya. Klo naksir bilang aja! Hu….
    *Kang zam tangkap akuuuuuuuu* gubraakkkkkkk, jatuh nubruk tong sampah. karna zam nangkepnya ga pinter. he……..

  5. mas zam…
    berbakat banget sih jadi jurnalis :p
    Btw, foto2nya kurang atuh…

    *eh iya..menanggapi komenmu yg bhs jawa itu,
    mo nanya donk mas.
    Kok bidadari dibedakin?
    angel dibedakno
    ;))*

  6. sokorr koe Peng..makane ne’ menjual aset negara kui traktiran, sebagai penutup mulut biar ngga pada melaporkan kamu!!
    betewe..betewe pengen juga nih main ke candi, nyari inspirasi…

  7. Bisa jadi pencuri aset-aset negara *lirik Pepeng* telah β€œmengamankan” patung-patung ini.

    waaakakakakakak
    :))

    modyar koe kang! jenegmu disebut!!

  8. Kalo perginya gak pake sepeda, laporannya jadi lengkap gini ya mas? Hehehe…
    Boleh request tempat ‘liputan’ nggak? Gimana kalo ke Ullen Sentalu di kaliurang atas? Kayaknya bakal seru, saya sendiri sih belum sempat ke sana, karena belum dapet libur. Blognya nyebelin! bikin tambah kangen Jogja…

  9. Di tiap sisi terdapat relung-relung yang kosong. Seharusnya di relung-relung tersebut terdapat patung-patung dewa dengan posisi berdiri sambil membawa bunga teratai…

    nah itu dia, kenapa sampeyan g jadi patung dewanya aja sekalian lepas baju gitu terus dijepret, biasanya kan sampeyan punya ide cemerlang kayak gitu :d –bercanda lho mas :p

  10. aku membayangkan diriimu jadi raja di candi ini. kerjaannya melihat para embok emban mandi. Lalu dirimu dikutuk jadi kutil… *wah ngeri banget ya

  11. mas zam..ga bisa nonton pelem2 korea karena sibuk ngurusin pra lulus ya?
    ayoo nonton drama korea lagi.
    ai jg baru sekarang nih mulai nonton lagi :p

    *padahal udah mau ujian*

  12. hehe.. wisata candi yo… btw kulinernya mana? di dekat lokasi, ada ayam kalasan mbok sabar …. ayamnya empuk… enak tenan…

  13. Waduh….jadi pengen balik ke Yogya neh…dah lama ga balik neh mas….soalnya lagi terdampar di Pidie, Aceh

    Salam Kenal ya….

  14. ini adalah postingan kesekiankalimu yg gak pake photo dirimu Zam.

    walah, :)) si Nisa nang ndi2 nkok nyebar ‘blog menstruasi’ toh :-j =))

  15. aku belum pernah ke candi kalasan ooooi padahal rumahku di daerah muntilan, ga jauh – jauh amat cing:d:clap:injek

Comments are closed.