Candi Sari, Tempat Tinggal Pendeta Budha

Candi Sari, Candi Tempat Tinggal Pendeta Budha

Melanjutkan petualangan candi yang tertunda saat kunjungan ke Candi Kalasan beberapa waktu yang lalu, kali ini saya ditemani Dipto mengunjungi Candi Sari, candi yang terletak sekitar 500 meter di timur-laut Candi Kalasan.

Tidak hanya Candi Sari, kami pun sempat meninjau (halah, bahasanya) kompleks Candi Kedulan yang merupakan candi yang baru saja ditemukan dan sedang dalam proses penggalian.

Penasaran dengan perjalanan saya? Simak terus petualangan saya kali ini. Halah, bahasanya kek host acara traveling.. :))

Tidak seperti Candi Kalasan, Candi Sari terletak agak ke dalam, sehingga tidak terlihat dari pinggir jalan raya Jogja-Solo. Untuk mencapai ke sana tidaklah susah, di samping sebuah masjid berasitektur mirip gedung Kremlin di Rusia dan Rumah Makan Ayam Bakar Kalasan “Mbok Berek”, ada gang kecil ke utara. Ikuti jalan tersebut dan kita pun sampai di kompleks Candi Sari.

Candi yang terletak di Desa Bendan, Kelurahan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman ini diperkirakan masih satu kawasan dengan Candi Kalasan. Hal ini ditunjukkan oleh faktor jarak yang relatif dekat, penggunaan bajralepa, dan kemiripan corak relief-reliefnya. Pun candi ini diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan Candi Kalasan.

Sayang sekali ketika kami berkunjung, tidak ada pemandu yang menemani kami. Kondisi kompleks ini juga sangat memprihatinkan, padahal seharusnya candi cagar budaya yang pemeliharaannya merupakan tanggung jawab Dinas Purbakala ini bisa dijadikan potensi wisata alternatif. Akhirnya kami pun hanya bisa menikmati keindahan fisik bangunan candi sambil mereka-reka bagaimanakah candi seindah ini bisa dibangun.

Candi ini menghadap ke timur, sama dengan arah Candi Kalasan. Di sekitar candi terdapat batu-batuan bagian candi yang tidak dapat disusun kembali. Beberapa bagian candi bahkan diganti batunya karena tidak ditemukannya batuan penyusunnya. “Sebagian hilang, sebagian dijadikan pondasi bangunan oleh penduduk sekitar, mas”, ujar penjaga kompleks ini.

Batu bagian candi yang tidak dapat disusun kembali

Secara fisik, candi ini berbentuk balok dengan panjang dan tinggi 17 meter dan lebar 10 meter. Bangunan candi terdiri atas 3 bagian, bagian kaki, tubuh, dan atap.

Bagian kaki berupa batu-batuan yang disusun karena diperkirakan pada bagian kaki ini banyak batu-batuan yang hilang. Sekilas, saya membayangkan ada semacam jalan memanjang di depan pintu candi dengan hiasan Makara (hiasan kepala ular) di kanan-kirinya. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bekas jalan memanjang di depan pintu candi.

Badan candi terdiri dari 3 bagian. Pintu masuk berada di tengah dan di kanan kiri berupa jendela berbentuk bujur sangkar. Diperkirakan candi ini terdiri atas 2 tingkat, karena ditemukan semacam pemisah di tengah-tengahnya. Pintu masuk candi dihiasi hiasan Kala pada bagian atas dan pada bagian bawah terdapat ukiran gajah.

Kami pun masuk ke dalam candi. Ada 3 ruang berukuran sekitar 3×5 meter. Di ruang tengah, di kanan dan kiri dinding terdapat relung yang kosong. Diperkirakan di relung-relung tersebut terdapat patung Budha namun kini telah hilang.

Lubang-lubang bekas kayu penyangga

Bila kita mendongak ke atas, kita akan menemukan celah-celah semacam dudukan kayu. Diperkirakan candi ini juga menggunakan kayu sebagai unsur penyusunnya. Hal ini dibuktikan dengan celah-celah dudukan pada bagian atas yang diperkirakan merupakan lantai atas bangunan yang terbuat dari balok-balok kayu yang disusun berjajar.

Selain digunakan sebagai penyusun lantai atas, kayu diperkirakan juga digunakan sebagai penyangga karena ditemukan beberapa lubang tempat dudukan kayu. Di beberapa jendela juga terdapat lubang-lubang di bagian atas dan bawah yang diperkirakan menggunakan kayu sebagai jerujinya.

Ruangan-ruangan inilah yang ditengarai digunakan sebagai tempat tinggal (asrama) para pendeta Budha (biksu). Selain tempat tinggal, konon candi ini digunakan sebagai tempat menimba ilmu dan meditasi dan jika akan beribadah para biksu menuju ke Candi Kalasan.

Kami pun keluar dan mengamati sisi luar bangunan. Di tiap sisi, terdapat sepasang relief Bodhisatva dan Dewi Tara (masih ingat dengan Candi Kalasan?) di kanan kiri jendela berbentuk bujur sangkar, di atas dan bawah. Jumlah total relief arca ini ada 36 buah, masing-masing berjumlah 8 arca di sisi timur, selatan, dan utara, sedangkan pada sisi barat (belakang candi) terdapat 12 arca.

Arca-arca ini digambarkan dengan posisi berdiri dengan membawa bunga teratai dengan sikap lemah gemulai yang disebut dengan sikap tribangga. Ekspresi wajah arca-arca ini sangat tenang dan pakaian yang dikenakan sederhana, mencerminkan sikap hidup Budha yang sederhana.

Ada pahatan lain selain arca yang menghiasi kanan-kiri jendela. Sepasang makhluk berwujud setengah manusia dan setengah burung ini disebut dengan Kinara-Kinari. Ukiran-ukiran berupa sulur-sulur bunga yang keluar dari pot juga kami temukan di dinding candi ini terutama di bagian barat. Ukiran sulur-sulur ini sama dengan ukiran yang ada di Candi Kalasan.

Relief arca pada Candi Sari

Atap candi terdiri atas 9 buah stupa dengan masing-masing berjumlah 3 buah berderet di atas ruangan. Hiasan berupa Kalamakara juga dapat kita temukan di bagian atap.

Terdapat lubang bekas pancuran yang disebut dengan Jaladwara berupa raksasa duduk di atas ular yang mana mulut ular tersebut tempat air mengalir keluar. Untuk membedakan antara bagian badan dengan atap candi, terdapat hiasan berupa segitiga berukir.

Secara keseluruhan, bangunan candi yang ditemukan pada tahun 1929 ini unik. Berbentuk ramping persegi panjang ditunjang dengan banyaknya ukiran dan penggunaan Bajralepa, membuat candi ini tampak indah, sesuai dengan arti namanya, Candi Sari yang berarti candi yang indah. 🙂

Saya berdecak kagum dan berpikir, bagaimanakah orang jaman dulu itu membuatnya. Bayangkan saja, batu-batu kali segede gaban kek gitu bisa dipotong, disusun, dan dipahat sedemikian rupa.

Setiap detil dan susunan bangunannya bener-bener diperhitungkan dengan baik. Bayangkan saja, tanpa menggunakan rangka besi maupun semen, bangunan candi ini disusun laksana puzzle mainan anak-anak Lego sehingga dapat berdiri kokoh. Belum lagi ukir-ukirannya yang sungguh halus dan tidak mengganggu kekuatan dinding candi.

Ah, rasanya bangga sekali dengan kebudayaan kita sendiri. Bangsa kita sebenernya mempunyai kebudayaan dan nilai seni yang tinggi. Hanya saja kita sering melupakan kebudayaan kita dan lebih mendewa-dewakan kebudayaan bangsa lain.

Bila dirunut, dengan metode kesoktauan saya, sebuah candi agar bisa berdiri itu melibatkan banyak unsur. Untuk mendirikan candi tentu dipilih lokasi dengan struktur tanah yang baik, di sini unsur geodesi/geografi terlibat. Soal struktur bangunan, teknik sipil berperan. Arsitektur dan ukirannya, tentu arsitek dan seniman berkolaborasi di bagian ini. Soal filosofi dan keagamaan, jelas ini latar belakang didirikannya candi, bukan?

Ada lagi teori ngawur saya yang patut dipertanyakan. Candi selalu berdiri di dekat sungai, baik sungai yang masih aktif atau sungai purba. Ini dikarenakan sungai merupakan sumber air yang dalam arti lain menjadi sumber kehidupan.

Kalo melihat sejarah masa lampau (halah, sotoy) kebudayaan dunia juga berkembang di tepi sungai, bukan? Sebut saja Kebudayaan Mesopotamia, Kebudayaan Sungai Nil, Kebudayaan Sungai Gangga, dan apalagi saya ndak hafal. 😀

Hai yang ahli sejarah, anak arkeologi, mohon pencerahannya, donk! Kalo saya salah, mohon ijo-ijonya koreksinya. ^:)^

CANDI KEDULAN

Puas menikmati Candi Sari, kami pun kembali ke Jogja. Kebetulan kami mendapat informasi tentang Candi Kedulan, candi yang masih dalam proses penggalian itu.

Karuan saja, dengan gaya bak Indiana Jones, bermodalkan secuil informasi posisi, sambil menuju ke arah Jogja, kami pun meluncur untuk melacak lokasi candi tersebut. Dan kami pun berhasil menemukannya pertama kali. Makan-makan! \:d/

Lokasi candi berada di tengah-tengah sawah. Tapi karena hari sudah sore, kami tidak dapat melihat proses penggalian tersebut. Candi tersebut memang baru ditemukan batu-batunya saja dan sedang disusun kembali.

Candi Kedulan, candi yang sedang dalam proses penggalian

Mungkin lain kali kami akan menelusuri Candi Kedulan ini?

Ikuti penelusuran saya ke Candi Kedulan di posting selanjutnya. 😀

39 thoughts on “Candi Sari, Tempat Tinggal Pendeta Budha”

  1. ah.. tumben 10 besar di sini :d/

    semua kehidupan saling kait dan setara, semua menderita..
    raihlah pencerahan maka terang itu akan begitu agungnya..

    *buddha mode : on*

  2. Wah, cah iki jeng-jeng trus ya. enake. aku yo seneng jeng-jeng, tapi sejak tinggal di Jkt (dg semena-mena), aku kehilangan teman2 dan objek2 untuk jeng-jeng. Zam, kapan2 aku mau loh diajak, tapi nebeng ya… 😛

  3. eh, btw..kok nama candi yg pertama itu..kayak nama saya sih?
    wah..mestinya saya dapet royalti nih..

    PEMJABAKAN…!!!

    *geleng2 kepala*

  4. zam, detail banget km jelasin, cocok jadi guide km. btw aku ad DVD H2-nya, kl mau ambil di kantor.. tapi sekarang lagi di pinjem m anak Gamatechno

  5. emang bagus,,
    tapi sayangnya kurang terawat. .
    pengunjungnya juga nggak banyak. bahkan bisa dibilang sepi..
    so,,

    ayo lestarikan!! :d/

Comments are closed.