Candi Banyunibo, Candi Sebatang Kara

Candi Banyunibo, Candi Budha Sebatang Kara

Melanjutkan petualangan candi sebelumnya, semoga ndak pada bosen, ya. πŸ˜€ Kali ini saya mo cerita soal dolan saya ke Candi Banyunibo.

Ndak banyak yang tahu soal keberadaan candi ini. Lokasinya yang terpencil, akses jalan yang rusak, membuat candi eksotis ini kurang dikenal. Padahal candi Budha ini masih berdiri megah dan reliefnya masih banyak yang utuh.

Kali ini tim petualangan selain Didit dan saya, ketambahan lagi seorang wartawan kagetanΓ’β€žΒ’ berjuluk Bung Annots yang bukan pabrik roti itu. :))

Candi Banyunibo terletak sekitar 2 km sebelah tenggara petilasan Ratu Boko, tepatnya di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Untuk mencapainya cukup mudah sebenernya.

Dari Jalan Raya Jogja-Solo, ketika sampai di pertigaan Prambanan, berbelok ke selatan sekitar 2 km ke arah Piyungan. Kemudian berbelok pada plang petunjuk ke arah petilasan Ratu Boko. Ikuti saja petunjuk ke arah Candi Ratu Boko tersebut sampai mentok perempatan.

Ketika sampai di perempatan, akan ada petunjuk jika belok kiri ke arah Boko, maka ambil jalan lurus. Setelah itu akan ada petunjuk ke arah Candi Barong dan Candi Banyunibo. Ambil arah kanan jika ingin ke Candi Banyunibo. πŸ˜€

Kondisi situs ini juga hampir sama dengan situs-situs yang saya kunjungi sebelumnya. Memprihatinkan. Pemandu yang kami harapkan juga ndak ada, membuat kami hanya bisa menikmati kondisi fisik bangunannya saja. :-<

Banyunibo sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Jawa "banyu" dan "nibo" yang berarti "air yang menetes". Entah kenapa candi ini disebut seperti itu, tapi kalo menurut pengamatan dan analisis ngawur saya, bentuk atap candi yang terdiri dari sebuah stupa ini mirip-mirip dengan bentuk air ketika menetes dan terpercik ke samping. :))

Dari puing-puing di sekitar, diperkirakan ada 6 buah candi perwara (candi pendamping) berbentuk stupa di sekeliling candi utama di sebelah selatan dan timur. Candi utama menghadap ke barat dan terletak di antara ladang tebu dan persawahan. Inilah sebabnya candi ini dijuluki "si sebatang kara Banyunibo" karena letaknya yang terpencil dan terpisah dari kompleks candi-candi lainnya.

Terdiri dari 3 susunan seperti biasa, kaki, badan, dan atap. Bagian kaki yang tingginya sekitar 2,5 m ini dihiasi relief ornamen sulur-sulur yang keluar dari pot. Kemudian antara kaki candi dan badan candi pada sisi selatan, timur, dan utara terdapat Jaladwara (saluran air) berbentuk Makara dengan hiasan Kala di atasnya tepat di tengah-tengah. Untuk berekeliling badan candi, terdapat selasar mengelilingi badan candi.

Jaladwara bermotif Makara dengan Kala di atasnya

Seperti biasa, di tangga masuk kita akan menemukan Makara. Pada bagian depan pintu, terdapat 2 jendela tepat di samping pintu dan 2 relief patung dewa di sebelah kanan-kiri jendela. Ada 2 hiasan Kala di atas pintu masuk.

Pada lorong pintu, kita akan menjumpai 2 buah relief pada kanan-kiri dinding lorong. Pada dinding sebelah kiri (utara) kita akan menemukan relief seorang wanita yang dikelilingi oleh banyak anak kecil, beberapa di antaranya digambarkan sedang naik pohon.

Kalo menurut analisis tanpa dasar saya, relief ini menggambarkan soal kesuburan yang dilambangkan dengan banyaknya anak dan pohon. Mungkinkah wanita dalam relief tersebut adalah Dewi Hariti, yang merupakan Dewi Kesuburan dalam agama Budha? πŸ˜•

Relief di lorong pintu masuk sebelah kiri (utara)

Sedangkan pada sebelah kanan dinding (selatan), alias di depan relief Dewi Hariti, terdapat relief seorang pria dengan sebuah kantong di sisinya serta seekor burung terbang di atasnya. Kalo menurut saya, relief ini menggambarkan kekayaan.

Mungkinkah ini relief Dewa Kurawa, Dewa Kekayaan pada agama Budha? Ataukah justru ini relief Vaisaravana, suami dari Dewi Hariti? Yang pasti ini bukan Arman Maulana suaminya Dewi Gita! Tapi sekali lagi, ini menurut analisis ngawur saya, lo! :))

Masuk ke dalam ruangan, di sudut sebelah tenggara dekat jendela, ada relief seorang pria yang sedang duduk di bawah payung yang dipegang pengawalnya. Diduga pria ini, yang melihat potongannya merupakan seorang biksu, tokoh yang dihormati di candi ini.

Relief di lorong pintu masuk sebelah kanan (selatan) dan tenggara ruangan dalam

Ruangan candi berukuran sekitar 10 x 10 m dengan 8 jendela (sebagian jendela tertutup) dan ada 3 buah relung dangkal pada sisi utara, timur, dan selatan. Pada relung sisi timur, terdapat semacam ukiran tapi ndak jelas ukiran apa itu.

Melalui selasar, kita bisa menikmati relief-relief penghias dinding candi. Pada dinding terdapat relief-relief Bodhisatva berdiri gagah membawa tongkat. Pada bagian atas jendela bagian luar, terdapat relief Bodhisatva sedang duduk bersila dengan posisi tangan ke atas membawa bunga di bawah Kala.

Gana, makhluk kerdil dari kahyangan

Saya menemukan Gana, makhluk kerdil dari kahyangan yang dapat ditemukan pada bagian atap Candi Kalasan, menyokong hiasan Kala pada relung sisi selatan pada bagian depan.

Atap candi sangat polos. Hanya terdiri atas sebuah stupa pada bagian tengah yang berada di atas bentuk daun bunga padma. Batas antara atap dan badan hanya dipisahkan oleh ukiran ornamen sulur-sulur bunga.

Secara bentuk, candi ini bisa dibilang cukup kokoh dan utuh. Mengingat kondisi candi ini dalam keadaan runtuh ketika pertama kali ditemukan. Candi ini pun mulai digali dan diteliti pada tahun 1940-an.

Di sebelah utara candi, terdapat tembok batu sepanjang 65 m membujur dari barat ke timur. Reruntuhan candi perwara berupa stupa diperkirakan berdiameter sekitar 5 m. Di halaman candi juga ditemukan beberapa patung berbentuk lembu.

Candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-9. Dan tentu saja, dari bentuk stupa dan relief-reliefnya, candi ini merupakan candi Budha. Candi utama bila dilihat sekilas berbentuk kubus dengan panjang, lebar, dan tinggi sekitar 15 m.

Candi Banyunibo. Suasana senjanya begitu eksotis. Tempatnya yang terpencil merupakan lokasi yang cocok untuk berpacaran mencari inspirasi dan ketenangan. πŸ™‚

Suasana senja di Candi Banyunibo

21 thoughts on “Candi Banyunibo, Candi Sebatang Kara”

  1. wadooh. analisismu itu coba dicari tau dulu.. πŸ˜› kalau salah gimana.. XD.. tapi memang sepertinya kamu seharusnya jadi mahasiswa arkeologi kemarin yah zam.. πŸ˜› kamu tampak antusias sampai blog pun isinya beginian. πŸ˜›

    hmm. sayang fotonya kurang jelas jadi gak keliatan anak naek pohonnya… (siapa tau anak naik pohon itu menghadap ke leptop di samping banyak buku-buku rujukan.. πŸ˜› ) (*lw pikir ngerjain TA!)

  2. ini toh laporan hasil perjalanan “tiga laki-laki” kapan ya kita bisa jeng-jeng bareng hostnya “tiga wanita”-nya TV 7 *mimpi kali yeee*

  3. disana warganya gak ngenakin… gak ramah,,, la wong mau parkir motor aja dibikin susah,, harusnya pengelola candi menyiapkan tmpat parkir plus penjaganya

Comments are closed.