Nuansa Alam Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo

Hari Rabu, 3 Oktober lalu, saya ngeluyur lagi ke candi. Seperti biasa, petualangan tolol saya kali ini tetep masih tanpa rencana, lebih tepatnya karena tersesat. :))

Petualangan diawali setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya di Semarang. Biasanya saya ke Semarang bareng sama majikan saya, sehingga habis kerja ndak bakal bisa keluyuran.

Untungnya hari itu saya sendirian. Niatan untuk jeng-jeng setelah urusan kerjaan usai pun membara di dada. Sepeda motor pun saya pilih sebagai tunggangan dan rekan berpetualang.

Sejak dari Jogja, niat awalnya sih mo ke Bandungan. Tapi apa lacur, sampai di Bandungan saya ndak menemukan obyek yang menarik.

Dasar nasib, mata saya ndak sengaja melihat papan petunjuk ke arah Candi Gedong Songo. Hasrat sok-arkeolog saya pun terusik, dimulailah pendoyokan saya hari itu! >:)

Kompleks wisata Candi Gedong Songo terletak sekitar 1.200 meter DPL di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Jika dari Bandungan, ambil arah ke barat sejauh kurang lebih 15 km.

Jalan menuju obyek ini sangat terjal dan berkelok. Tapi kita akan diganjar oleh pemandangan mantab dan keren kota Ambarawa dan Rawa Pening dari atas. Jika cuaca cukup cerah, gunung kembar Sindoro dan Sumbing pun akan terlihat.

Jangan sekali-kali menuju ke tempat wisata ini jika kendaraan ndak dalam kondisi fit. Tanjakan sebesar 30ร‚ยฐ-40ร‚ยฐ akan menghajar mesin. Belom lagi tikungan tajam dan berkelok membuat mesin harus bekerja ekstra.

Bahkan ketika saya turun dengan kondisi gigi netral dan mesin sengaja saya matikan untuk menghemat bensin, dalam beberapa detik speedometer menunjukkan angka 60 km/jam dan terus bertambah jika saya ndak ngerem.

Kata “Gedong Songo” berasal dari bahasa Jawa “Gedong” yang berarti bangunan dan “Songo” yang berarti sembilan. Dulunya, nama kompleks candi ini disebut “Gedong Pitu” alias Gedong Tujuh, karena saat pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jendral Raffles tahun 1740, ada 7 candi. Kemudian ditemukan lagi 2 bangunan candi sehingga disebut dengan “Gedong Songo”.

Meski namanya Gedong Songo, namun cuma 5 candi saja yang masih berdiri kokoh. Empat candi lainnya cuma tertinggal puing. Semua candi ini terletak menyebar di beberapa bukit ke atas, dengan urutan candi nomor satu berada di paling bawah, kemudian berurutan hingga ke atas.

Selain candi, di kompleks obyek wisata ini terdapat taman bermain dengan berbagai fasilitas pemainan, hutan pinus yang nyaman untuk berekreasi dengan keluarga, ladang-ladang sayuran milik penduduk sekitar, serta bumi perkemahan. Tak jarang pula, pendakian ke puncak Gunung Ungaran juga dimulai dari kompleks ini.

Dengan tiket masuk seharga 2.600 rupiah dan ongkos parkir motor 1.000 rupiah, kita bisa menikmati berbagai keindahan di lokasi ini sepuasnya.

Begitu masuk gerbang, jalanan menanjak langsung menyambut. Weleh, cukup ngos-ngosan juga, padahal candinya aja belum terlihat.

Untuk menuju ke candi, kita dapat mengikuti jalan setapak yang sudah disemen. Ada 2 jalur, lewat barat atau lewat utara. Bila ingin mengikuti urutan candi, ambillah jalan ke utara alias naik. Saya pun mengambil jalur yang ke utara.

Belum sampai ke candi yang pertama, kita akan ditawari menunggang kuda untuk melahap jalan menanjak terkutuk itu. Ongkos sewanya sekitar 50.000 rupiah, tapi bisa lebih murah jika kita pandai menawar.

Saya memilih untuk berjalan kaki. La saya ndak punya cukup uang, je! Saya juga lupa kalo saya sedang puasa, mana hari itu saya ndak sahur karena kesiangan. Waduh mak, haus banget! :banghead

CANDI GEDONG SATU

Candi Gedong Satu

Sampai juga saya di candi pertama. Candi ini hanya terdiri atas sebuah candi saja. Tetapi ditengarai ada candi perwara, dengan melihat puing-puing di sekitar candi ini.

Bentuk atap candinya terdiri atas 3 tingkat. Masing-masing tingkat dihiasi oleh segitiga-segitiga dengan ukiran yang cantik. Yang unik, di dalam candi pertama ini, kita dapat menemukan Yoni namun tanpa Lingga.

Ndak ada arca satu pun di candi ini. Setiap sisi candi hanya terdapat relung-relung kosong. Kondisi bangunan candi pun cukup memprihatinkan karena banyak batuan yang rapuh dan rusak.

Perjalanan pun saya teruskan ke candi kedua. Jalanan panjang menanjak begitu menyiksa betis dan paha saya yang jarang terlatih ini. Beberapa kali saya harus berhenti untuk istirahat sejenak, menghirup nafas panjang, sambil mencium harum pinus dan menikmati pemandangan.

Tak terasa tubuh pun mulai berkeringat. Dari kejauhan, keempat candi lainnya pun mulai terlihat. Masing-masing berdiri di bukit-bukit yang berbeda. Perjalanan masih panjang, bung! #:-S

CANDI GEDONG DUA

Candi Gedong Dua

Setelah melalui perjuangan panjang, tiba juga saya di candi kedua. Candi kedua ini juga terdiri atas sebuah candi saja. Namun kita juga dapat menemukan puing-puing yang ditengarai merupakan candi perwara. Candi ini kondisinya yang paling baik di antara candi-candi lainnya.

Atapnya tersusun atas 4 tingkat, dengan stupa di tiap ujungnya dan hiasan Antefix di tengah-tengah sisinya. Antefix adalah ukiran seorang dewa dalam posisi bersila yang berada di dalam segitiga berukiran pot dengan sulur-sulur daunnya.

Hiasan Antefix pada Candi Gedong kedua

Dari candi kedua, untuk menuju candi ketiga jaraknya sangat dekat. Tanjakannya cukup terjal namun pendek, sehingga ndak begitu menyiksa kaki. #:-S

CANDI GEDONG TIGA

Candi Gedong Tiga

Ada 3 bangunan candi di kompleks candi ketiga ini. Sebuah candi perwara di samping candi utama dan sebuah bangunan semacam ruang penyimpan di depan candi utama.

Atap candi utama terdiri atas 4 tingkat dengan hiasan stupa dan Antefix, atap candi perwara teridiri atas 3 tingkat dengan hiasa stupa dan Antefix, serta bangunan di depan candi utama yang beratap stupa berderet 3 buah.

Candi utama pada kompleks ini satu-satunya candi yang menggunakan hiasan Makara pada tangga pintu masuknya. Selain itu arca-arcanya masih lengkap mengisi tiap relung pada tiap sisinya.

Arca Mahakala dan Nadiswara

Di pintu masuk candi utama, kita dapat menemukan arca Mahakala dan Nadiswara. Kemudian di sisi utara, timur, dan barat masing masing berisi arca Dewi Durga Mahesasuramardhani, Ganesha, dan Agastya.

Arca Dewi Durga - Ganesha - Agastya

Eits, bentar, bentar. ๐Ÿ˜• Masih ingat dengan pola seperti ini?

Yak, benar! Susunannya sama persis dengan susunan arca pada Candi Sambisari di Jogja! ๐Ÿ˜‰

Namun pada candi perwara, arca-arca ini tidak ditemukan dan hanya tersisa relung-relungnya saja.

Di sini, saya sempat terpikir untuk mengakhiri penjelajahan saya karena melihat candi keempat dan kelima dipisahkan oleh sebuah lembah di seberang sana. Melihatnya saja sudah terbayang capeknya.

Tapi tunggu dulu, bau apa ini? :-& Saya pun menengok ke arah lembah yang memisahkan bukit tempat candi ketiga dan keempat berada.

MATA AIR PANAS

Sumber Mata Air Panas Berbelerang

Alamakjang! Ternyata ada sumber mata air panas di lembah tersebut dan bau busuk menyengat itu adalah bau belerang dari mata air panas ini!

Saya pun penasaran dan menuruni bukit menuju ke lembah. Bau belerang semakin menyengat. Konon mata air ini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.

Sayangnya saya ndak membawa baju ganti, soalnya siapa tau setelah saya mandi di mata air tersebut, wajah saya bisa jadi ganteng? :>

Mata air panas di Gedong Songo ini konon adalah mata air terpanas di antara 3 mata air panas lain di Gunung Ungaran ini. Suhu uap dan air pada mata air ini mencapai 80ร‚ยฐ-an Celcius, sedangkan 2 mata air panas lainnya sekitar 40ร‚ยฐ-an Celcius.

Ada cerita di balik mata air panas ini. Konon mata air ini dijaga oleh makhluk bernama Nyai Gayatri, arwah perempuan asal Pulau Dewata. Nyai Gayatri adalah salah satu dayang dari Raja Sima. Setelah meninggal, arwah Nyai Gayatri mendiami mata air ini.

Nyai Gayatri adalah seseorang yang gemar menolong sesama. Sampai meninggal pun, Nyai Gayatri masih suka menolong. Salah satunya adalah dengan membantu menyembuhkan penyakit bagi orang yang mandi di mata air ini.

Yah, namanya juga cerita rakyat. Boleh percaya boleh tidak, tapi saya percaya kalo kekuatan penyembuhan terletak pada kandungan belerang di dalam air panas ini. ๐Ÿ™‚

Begitu sampai di lembah tempat mata air panas berada, jalan setapak menuju ke candi keempat begitu menggoda.

Sial, ndak tahan dengan godaan, saya pun menapakkan kaki kembali, mendaki jalan setapak menuju candi keempat! :))

CANDI GEDONG EMPAT

Candi Gedong Empat

Candi keempat ini mempunyai keunikan tersendiri. Ditengarai ada 8 candi perwara yang mengelilingi candi utama. Ini bisa dilihat dari puing-puing yang berformasi 2 candi di samping kanan-kiri, sebuah di belakang, dan 3 buah di depan candi utama.

Atap candi utama terdiri atas 4 tingkat, di mana masing-masing tingkat terdapat hiasan stupa. Pada dinding candi utama di sebelah selatan, terdapat sebuah arca yang ndak jelas arca siapa.

Di antara candi keempat dan kelima, terdapat tanah lapang luas yang sering digunakan untuk mendirikan tenda. Saya menemukan sisa-sisa pembakaran api unggun di sekitar lapangan ini.

CANDI GEDONG LIMA

Candi Gedong Lima

Melalui lapangan yang terbentang di antara candi keempat dan kelima yang cukup landai, sampailah kita di candi terakhir.

Kampret! Saya menemukan sepasang sejoli yang sedang asyik masyuk pacaran di candi ini. Begitu ke-gap oleh saya, mereka langsung kaget dan buru-buru membetulkan celana posisi mereka seolah-olah ndak terjadi apa-apa. X(

Jirut! Mbok kalo pacaran tu jangan di candi, to ya! Kan ada tempat lain, toh di seputaran ini kan ada taman yang bisa dipake buat pacaran. Bikin pengen aja, tau ndak!

Candi, selain tempat wisata budaya, merupakan tempat suci bagi agama Hindu atau Budha. Jadi, hormati, donk! Saya yang bukan umat Hindu atau Budha aja emosi kalo liat tempat suci begini dipake maksiat, apalagi di bulan puasa! Mana muka cowoknya jelek, padahal ceweknya lumayan manis.

Untung mereka langsung pergi setelah saya datang. Mungkin mereka jijik malu ama saya. Apalagi saya langsung masang tampang ndak suka sama cowoknya ke arah mereka. :-l

Halah, malah ngomongin orang pacaran. :))

Bentuk candi kelima ini mirip dengan candi keempat. Atap 4 tingkat dengan hiasan stupa, serta puing-puing candi perwara di sekitar candi utama.

Ada yang unik di salah satu puing candi perwara. Ada bagian yang tersusun lucu, tapi setelah diamati, bagian tersebut adalah bagian dinding candi. Walau terlihat cuma seonggok gitu, bagian ini cukup kokoh berdiri.

Akhirnya, selesai sudah penjelajahan candi saya. Yang saya bingung, gimana cara mbaliknya? Mo mbalik lewat jalan tadi? ๐Ÿ˜ฎ

We e e. Ternyata ada jalan menurun yang cukup curam dari candi kelima ini. #:-S

Saya pun menuruni jalan terjal ini hingga setengah berlari karena saking kuatnya gaya W cos α mendorong tubuh saya. :))

Sepanjang jalan ini, kita akan melewati ladang-ladang milik penduduk sekitar yang ditanami berbagai macam sayuran dan bunga selain hutan pinus, sehingga selama melewati jalan setapak ini pemandangannya begitu elok.

Saya baru menyadari, bahwa semua candi ini memiliki pola yang sama, yaitu semuanya menghadap ke barat!

CERITA RAKYAT

Ada cerita rakyat yang menyelimuti kompleks candi bercorak Hindu ini. Konon Gunung Ungaran tempat candi ini berada dibawa oleh Hanoman, anak dewa berwujud kera putih ini, untuk menimbun Dasamuka.

Dalam cerita Ramayana, Dasamuka yang ndak bisa mati ini menculik Dewi Sinta, istri Rama. Dalam perang merebut Dewi Sinta dari tangan Dasamuka, Dasamuka ndak bisa mati walau berbagai senjata sudah menghujam tubuhnya. Hanoman pun kemudian mengangkat sebuah gunung untuk menimbun tubuh Dasamuka.

Masyarakat sekitar percaya, jika mendengar suara desis atau bergejolak, itu adalah suara Dasamuka. Padahal sebenernya suara-suara itu muncul akibat aktivitas vulkanik yang aktif.

Ada lagi cerita soal Raja Sima. Raja Sima, merupakan raja yang pernah berkuasa di tanah Jawa. Konon ketika Raja Sima menemui masalah, dia selalu merenung dan menemukan solusinya di kompleks candi ini.

Menurut informasi yang saya peroleh, konon di kawasan candi yang bersuhu sekitar 20ร‚ยฐ Celcius ini ternyata memiliki kekuatan bio energi terbaik di Asia. Bahkan bio energi di kompleks ini lebih baik dari Pegunungan Tibet atau pegunungan di Asia lainnya.

Soal kebenarannya, saya sendiri ndak ngecek. Tapi memang, berada di kawasan ini sangat mengasyikkan apalagi sambil pacaran.

Berlibur ke tempat ini, selain menambah wawasan budaya juga mampu memberi kesegaran karena panorama dan hawa sejuk yang ada.

Menilik sejarah, candi ini ndak ada yang tau secara pasti siapa yang membangun. Tetapi melihat dari bentuk arsitekturnya, diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-9 oleh Wangsa Syailendra, walau ada versi lain yang menyebutkan dibangun oleh Raja Sanjaya.

Menurut fungsinya, diperkirakan candi ini digunakan selain untuk pemujaan juga digunakan untuk pemakaman.

Candi Gedong Songo, selain memberikan wawasan budaya, keindahan alamnya bisa menjadi alternatif lokasi wisata anda. ๐Ÿ˜‰

45 thoughts on “Nuansa Alam Candi Gedong Songo”

  1. >:) wakakaka..k…. kudune pasangan sing pacaran kwi ojo digropyo. tapi intip aja… sapa tau bisa direkam adegan *.3gp nya… kan lumayan kalo diupload di kaskus.. sedot juraga..n.. :d/ . syipz… informasi padat jelas dan merayap… nice info bro ^^v

  2. ๐Ÿ˜• Setelah saya baca, saya menyimpulkan kalau anda jalan-jalan ke candi cuma buat nyari orang pacaran, toh? Orang pacaran sih jangan dicari di candi. Cari aja di kuburan, hehehe..

  3. bener tuh, emang paling asyik pacaran di candi ato museum, selain ongkos nya murah buat yg pacaran kere, juga sepi. Daripada musti ke bioskop 2 orang bisa 50rb jee ;))

    saya tuh paling suka dengan bentuk nya Agastya , menarik!

    keren zam, kebayang cape nanjaknya hihi

  4. Edyan! lengkap tenan!
    aku sing wong semarang wae malah ga mudeng tentang candi gedong songo..

    Taunya cuma tempat jeng-jeng yang bikin motor masuk bengkel…

  5. ngikut mbilung: templateu wis bers durung kui?reinvigorate blm berfungsi, smilies yang ‘dancing’ keluarnya cuma mringis :((

  6. Candi gedong songo, mungkin dulu request-nya 10 candi tapi berhubung bandung bondowoso dapet proyek 1000 candi di prambanan yang ke 10 belum sempat di buat karena dana juga terbatas.

    Atau jangan2 sampeyan mau jadi arca yang ke-10 kisanak?

  7. wah seneng nya perjalanannya..saya juga pernah kesana loh mas..asik tenan..trus cempluk juga nginep di bandungan..subhanallah bisa nge lihat semarang dari atas, indah banget..:)

  8. Mas Zam,perkenalkan,sy Vinna di Jkt,salut euy sm jengjeng-nya yg b’mutu soal para candi itu,btw,awal november bsk,sy ada rncana ambil cuti sminggu u/ wisata candi di Yogya,mungkin b’minat jengjeng brg?

  9. eh q boleh ambil sebagian gambar candi gedung songonya gak..soalnya q ge butuh bangeeet nech….boleh ya:)

  10. candi songo ๐Ÿ˜€ kangen,
    kuat juga yah sampe candi ke 5, terahir kesana ga jauh2 banget…
    capek, naik2 terus ๐Ÿ˜€ hehehehe

    coba sate kelinci?

  11. Mas Zam….salut deh. Saya juga sudah tersirep oleh candi-candi. Tapi ternyata Anda lebih karatan lagi kadarnya. Btw…sudah menentukan menikah dengan candi yang mana? :d

  12. Mas Zam…pencnta wanita tho ..? e..salah .pencinta alam ;)),ak yo seneng ning gon adem2 ngono kui …sesok tahun baru reb ning gedong songo sopo reti weruh wong ge benerke celono:wee,reb gowo cam nggo ngisi blonge Mas Zam ….:pisang

  13. wahhh…bagus sekali artikelnya mas.Tapi akan lebih bagus lagi kalo photo2 panorama di sekitar candi juga ditampilkan,misalnya pemandangan gunung Sumbing dan Rawa Pening yang tampak indah dari kejauhan.Saat ini saya sedang ada di luar negeri dan saya paling senang memperkenalkan aset wisata Indonesia kepada orang2 asing di sini.Jadi bisa buat tambahan untuk promosi wisata saya.Makasih banyak mas….saya tunggu artikel wisatanya yang lain.Selamat melanjutkan petualangan wisata….

  14. mas, ke candi buat survei orang pacaran ya?:d
    hahaha
    nech da yogya masi banyak candi lagi loh
    klo pemandangan alam juga banyak yang bagus.
    coba aja ke puncak suroloyo.
    hahaha^^v

  15. Saya kesana pas hamil 2,5 bulan. Kebetulan waktu itu ada rekrutmen MT di UNDIP dan trainee di beberapa SMK. Trus di-entertain ke Gedong Songo.

    Weleh-weleh, salut saya kalo njenengan niat jalan kakinya. Saya mah pilih naik kuda, hahaha. :pisang
    *Dasar emak-emak nekat, hamil juga

    Hasil futuna bagus, euy. Saya dulu pas banyak kabut sih ya.

  16. tempate emang keren,,,, dari awal kukira candi emang ada 9,, ternyata cuma 5,, 4 yg laen udah runtuh tapi masih bisa dilihat bekas2nya….

  17. aku baru tau kalo candi gedong 9 ada sumber mata air panasnya, kereeeeennnnnn bgt bisa buat penghilang rasa capek, thanks yah

  18. woow…panoramanya gunung yang bagus ditunjang juga dengan potensi keindahan candi…it’s so really wonderful…

  19. hahahahahahahaha,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
    scolq bsog camping di candi gedong songo . .
    huhuhuhuhuhuhuhu ,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,,,

  20. asyik juga mendaki gunung sambil menikmati bangunan kuno..
    coba kamu sampe candi ke-9..bener2 asyik tuh..
    kalo kamu ngambil jalan kedua (jalan pulang) pasti akan lebih cepat sampai di candi ke-9

  21. Besok mau ke sana, tp kalo baca ceritanya kayaknya bakalan capek bgt deh,, hedeeeuuww… -_-

  22. hai…
    thanks banget yah infonya, walopun aku udah pernah ke candi ini (waktu masih SD) dulu, tapi rasanya kurang afdol kalo udah setua ini aku belum kesana lagi. so, weekend ini aku harus kesana lagi. mungkin bekal yg harus dibawa sendal jepit, ma air mineral yg banyak kali yah biar gak capek. hehehehe
    thx yah mas bro

    -maela-

Comments are closed.