Tradisi Bakda Kupat dan Makna Ketupat

Kupat

Lebaran selalu identik dengan ketupat. Seolah-olah kalo Lebaran tanpa makan ketupat belum Lebaran rasanya, walau ndak ada aturan soal hidangan Lebaran harus ketupat. πŸ˜€

Ndak banyak yang tau kenapa ketupat identik dengan Lebaran. Padahal bisa saja ketupat diganti lontong, nasi, sagu, singkong, roti, atau apa pun. Ternyata memang ada makna filosofis tersendiri di balik ketupat, lo. πŸ˜‰

Seperti yang saya bilang tadi, biasanya ketika Lebaran, hidangan utamanya adalah ketupat. Tapi pada masyarakat Jawa, ketupat biasanya dinikmati seminggu setelah hari raya Idul Fitri.

Kok bisa? Ya, inilah yang namanya tradisi Bakda Kupat (Lebaran Ketupat) yang sering juga disebut Bakda Cilik (Lebaran Kecil). πŸ™‚

TRADISI BAKDA KUPAT (BAKDA CILIK)

Kata bakda berasal dari bahasa Arab ba’da yang artinya “setelah”. Kalimat “ba’da Ashar” berarti sesudah Ashar.

Nah, kata “bakda” di sini merujuk pada hari raya Idul Fitri, yang maksudnya berhari raya setelah sebulan penuh berpuasa. Kemudian kata “bakda” ini menjadi luas maknanya yang berarti “hari raya”.

Ada juga yang menyebut riyaya yang berasal dari kata “hari” dan “raya”, yang kemudian digabung jadi kata “riyaya”.

Wealah, gayaku ini kek ahli bahasa saja. :))

Kembali ke Bakda Kupat. Tradisi ini tentu ada asal usulnya. Kalo asal ndak boleh usul, tapi kalo usul ndak boleh asal. Halah, kek semboyan acara tivi saja. :))

Dalam Islam, ndak ada itu yang namanya hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi, Bakda Kupat jelas hanya tradisi Jawa saja.

Yang namanya Islam di Jawa, ndak luput sama yang namanya asimilasi kebudayaan Hindu dan Islam yang dilakukan sama para Wali Songo.

Dulu, Bakda Kupat merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa sebagai sarana berkirim doa kepada arwah anak kecil yang sudah meninggal. Anak kecil dalam bahasa Jawa adalah “bocah cilik”, sehingga tradisi ini disebut dengan Bakda Cilik.

Setelah ajaran Islam masuk, tradisi ini ndak dihilangkan, tapi dijadikan sarana dakwah dengan memasukkan ajaran-ajaran Islam.

Bakda Cilik pun berubah fungsi menjadi “hari raya kecil” setelah melakukan puasa Syawal selama 6 hari. Setelah merayakan Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal, masyarakat Jawa kemudian dibiasakan dengan berpuasa sunnah Syawal selama 6 hari. Kemudian setelah rangkaian puasa Syawal usai, diakhiri dengan “lebaran kedua” yang disebut dengan Bakda Cilik atau Bakda Kupat itu tadi.

Ini pula kenapa Bakda Kupat disebut juga dengan Bakda Cilik atau “hari raya kecil” karena hari raya ini diadakan setelah “berpuasa kecil” selama seminggu bila dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri yang dilakukan setelah puasa selama sebulan.

Namun tradisi Bakda Kupat ini sendiri makin lama makin ditinggalkan. Ndak hanya tradisi Bakda Kupat saja yang banyak ditinggalkan, tapi kebiasaan berpuasa Syawal pun kini juga jarang dilakukan. La kalo saya sih, puasa Syawal-nya ndak ikut, tapi Bakda Kupat-nya ikut. :))

Sanak famili saya yang di Gresik setahu saya masih melakukan tradisi ini. Setelah berpuasa selama seminggu, pakde, bude, paman, bibi, dan nenek mengakhiri rangkaian puasa Syawal dengan bakda walau ndak selalu pake ketupat. πŸ˜€

FILOSOFI KETUPAT

Lalu yang jadi pertanyaan kemudian, kenapa menggunakan ketupat?

Ketupat memiliki makna tersendiri. Bungkus ketupat dibuat dari janur kuning yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk segi empat.

Janur kuning merupakan lambang dari penolak bala. Pada Kraton Surakarta, ada sepotong kain panjang yang disebut Samir yang merupakan aksesoris wajib yang harus dikenakan. Samir kuning tersebut dipercaya sebagai penolak bala. Nah, janur kuning inilah kemudian yang dianggap sebagai Samir penolak bala.

Dulu, selongsong ketupat itu dibuat sendiri. Tangan-tangan terampil wanita bekerja dengan cekatan merangkai helai-helai janur. Di kala pembuatan selongsong ini biasanya suasana begitu ramai. Inilah yang membuat suasana menjelang Lebaran begitu meriah.

Kalo kini sih, cukup membeli saja di pasar yang biasanya dijual per ikat berisi 10 selongsong atau selusin selongsong. :))

Bentuk segi empat merupakan wujud dari prinsip “kiblat papat lima pancer”, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Tuhan.

UPDATE. Terima kasih Bung Zaenal! πŸ˜‰

Secara harfiah, “kiblat papat lima pancer” bermakna “empat arah mata angin dan satu pusat”. Kalo dijelantrahkan bisa bermakna macam-macam. Salah satu maknanya adalah makna filosofi keseimbangan alam.

Kita tahu ada 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang.

Begitu juga dengan manusia. Ke mana pun manusia ini pergi (ke penjuru mata angin) tentu dia tak lepas dari yang namanya pusat, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, supaya manusia tetap “seimbang” hendaklah selalu ingat kepada Tuhan, pusat dari segalanya.

Itulah kira-kira hasil otak-atik gathuk yang saya tangkap dari filosofi “kiblat papat lima pancer” ini. πŸ˜€

Kemudian beras yang menjadi isi dari ketupat menjadi lambang dari kemakmuran. Diharapkan setelah hari raya, kita akan selalu dilimpahi dengan kemakmuran.

Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga dengan ketupat kita diharapkan mengakui kesalahan kita dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut.

Ada lagi tradisi unik yang kini sudah sangat jarang ditemukan. Selain simbol maaf, ada yang percaya kalo ketupat dapat menolak bala.

Caranya dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah. Biasanya ketupat digantung bersamaan dengan pisang. Ketupat ini digantungkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai kering hingga Lebaran tahun berikutnya.

Tapi tradisi menggantungkan ketupat yang kental nuansa mistisnya ini kini sudah sangat jarang ditemukan.

Percaya atau tidak, tapi itulah filosofi dan tradisi yang saya ketahui dari cerita orang-orang tua. πŸ™‚

HIDANGAN LEBARAN SELALU KETUPAT?

Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya juga.

Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut dengan santen yang mempunya makna “pangapunten” alias memohon maaf.

Saking dekatnya kupat dengan santen ini, ada pantun yang sering dipake pada kata-kata ucapan Idul Fitri:

Mangan kupat nganggo santen.
Menawi lepat, nyuwun pangapunten.
(Makan ketupat pakai santan.
Bila ada kesalahan mohon dimaafkan.)

Biasanya hidangan ketupat dan opor ini ndak hanya dinikmati bersama keluarga. Hidangan ketupat ini juga dijadikan hantaran kepada tetangga-tetangga sebagai simbol permohonan maaf dan silaturahmi.

Tapi sekali lagi, tradisi saling menghantarkan hidangan ketupat ini kini juga sudah pudar.

Mungkin ada tradisi, filosofi, atau makanan khas Lebaran lainnya? Saya yakin, tiap daerah pasti mempunyai tradisi dan makanan yang khas ketika Lebaran tiba.

Silakan berbagi cerita melalui komentar. πŸ™‚

35 thoughts on “Tradisi Bakda Kupat dan Makna Ketupat”

  1. wah iya ya, udah lama gak merayakan hari raya ketupat…tapi kayaknya di beberapa daerah di indonesia juga ada yg namanya lebaran syawal atau lebaran kecil seperti yg dilakukan di jawa…tapi aku lupa di daerah mana…hehehe….

  2. kalau di rumah saya pake lontong, tapi lontongnya panjang gituh, mungkin maksutnya dengan ‘panjangnya’ lontong bisa menyambung silahturahmi….*ngarang wee..* ;))

  3. Orang jawa emang sangat kental dg filosofi, seakan setiap kata ataupun istilah memiliki makna terpendam. Memang bagus, tapi yg dsayangkan adalah filosofi yg sebenarnya hanya mitos benara dipercaya dan jatuhnya ke arah syirik, menurut saya inilah weak point orang jawa ..

    *pala abis kejedot, jd ngomong aneh gt.:p*

  4. :top heubattt e’ zam kmu bisa tau sejarah ketupat ituh…..
    trus ketupat buat ia mana dunx???? :d *telattt yaaa zam*

  5. hmmmm.. sekarang baru ngeh kenapa 1 minggu SETELAH lebaran. ternyata maksudnya setelah NYAWAL toh. πŸ˜•

    trus… lucu juga ya tradisi menggantung ketupat sampai lebaran selanjutnya?? emangnya gak bau tuh.. euheuheuhueueuu.. (pantesan aja sekarang tradisi ini ilank. abisnya bau sih.. *sotoy* )

  6. cempluk juga udah merasakan ketupat ma opor pas hari pertama lebaran..hehehe..:x abis ke sby y mas ?? selamat datang di sby..cempluk gak tau info nya ding, jadi gak bisa nemenin pas di sby,,:(

  7. @ mysyam:

    kalo saya sih lebih mengambil makna filosofisnya, syam dan saya cuma menganggap ini sebagai tradisi yang unik saja.

    tentu ini tak lepas dari pengaruh asimilasi kebudayaan Hindu dan Islam yang dilakukan para Wali Songo dan memang disayangkan, masyarakat Jawa lebih banyak melakukan ritualnya daripada makna filosofinya. πŸ™‚

    thanks for de comment! πŸ˜‰

  8. zaM.. km bukan oyek [sebutan org arap] lupa aku ..km nyebut org turunan pakistan ya…waktu itu.. hmm tp bukan pakis wetan kan??[nama daerah di surabaya] heuheuehu..

    lebaran kupatan aku maem lepet.. nyam nyam..
    :d/ [menikmati libur panjang yg segera berakir hiks]

  9. hehe,, berasa bukan orang jawa,, kok aku rareti blas masalah bakda cilik… tapi kalo yg nggantung kupat itu dulu pas kecil pernah liat sih… tapi dimana ya :-/ lupa

    btw, seiring dengan perkembangan jaman, dan pengaruh globalisasi,,, parikane saiki wes ganti

    mangan kupat nganggo bakmi
    menawi lepat, please forgive me
    πŸ˜›

  10. iya betul, malah disurabaya satu minggu setelah idul fitri ada yang takbiran, weleh baru tau aku.

    mo tanya Zam, kok β€œkiblat papat lima pancer”, bisa bermakna ” ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Tuhan” logikane piye???

  11. @ signal:

    makasih pertanyaannya. saya lupa menjelaskan soal ini. saya tambahkan di postingan.

    kalo soal takbiran seminggu setelah Lebaran di Surabaya, saya ndak tau. selama saya di Surabaya, belum pernah dengar tentang kejadian ini. setau saya takbiran cuma berkumandang pas malam Idul Fitri saja, habis itu ya ndak ada takbiran lagi. πŸ™‚

  12. Untuk setiap bug yang hadir dalam setiap kompilasi,untuk setiap khilaf tanpa breakpoint,mari kita tangkap eksepsi kesalahan kita dengan saling memaafkan, minal aidzin walfaidzin…SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1428 H

  13. hehehe..cie..cie..cie yang kopdaran di Surabaya.
    Aku mendengar pesonamu lewat Mbak Dena. Auuuu…*melolong
    oh iya, kupat itu biasaaaaa….iwak’e sing luar biasa. Opor ayam ..Auuuuuuuu *melolong

  14. wah di sini udah gak ada ba’da kupat… πŸ™
    soalnya yg tua2 udah meninggal, dulu kan biasanya yg tua2 yg masakin, skrg yg muda2 males hahaha cuma pas lebarannya doank

  15. kalo di blog ada pemilihan si jago makanan, maka saya akan langsung milih kamu mas sebagai pemenangnya.
    Ampun deh..ampe filosofis ketupat segala tau euy. 8-|

  16. di Jepara namanya LOMBAN, biasanya diadakan di pantai bandengan, ada semacam ritual khusus lalu dilanjutkan dengan pementasan dangdut dengan mendatangkan artis ibukota. padat pokoknya, penuh dengan orang, biasanya mereka datang dari semarang, kudus, demak, dan jepara

  17. Di Kabupaten Jepara, acara kupatan dogelar satu minggu setelah lebaran Idul Fitri. Pada saat itu pula merupakan puncak pesta syawalan bagi amsyarakat Jepara. Kegiatan diawali dengan ritual keagamaan di tempat pelelangan ikan (jobokuto) kemudian beberapa sesaji yang tertata rapi di dalam replika kapal mini didalamnya juga dimasukkan kepala kebau.

    Kalo boleh saya mau nanya, di beberpa daerah khususny di jawa tengah selalu menggunakan kepala kerbau sebagai simbol sesaji, apa maknannya? terima kasih.

  18. Ya bener pa lgi Buat orang jva hrus tetep melestarikannya n always keep it… and also Javanis people KUDU SAGET NDAMEL KETUPAT KRANTEN ECO(Bungah+Bingug) SANGET…….!!!!!!!!

  19. KUPAT sebetulnya sanepo dari LAKU SING PAPAT…yaitu Lebar,Lebur,Luber dan Labur laku ini didapat bagi mereka yang menjalankan puasa dengan ikhlas dan sungguh2 sehingga bisa mendapatkan JANUR( Sejatining NUR )…..

  20. Ketupat bukannya falsafah dari Sunan Bonang??? Janur yang berarti jatining nur = sebenarnya cahaya.
    Kupat Laku kang papat = Empat tahap
    1. lebar = selesai
    2. luber = memberikan
    3. lebur = hancur
    4. labur = menghias
    jadi setelah puasa (lebar) hendaknya kita bisa meluberkan (menyedekahkan) apa yang telah diberikan Allah kepada kita, agar bisa lebur(hancur) kesalahan-kesalahan kita, dan kemudian kita melabur kesalahan dengan perbuatan yang saleh (baik)

Comments are closed.