Candi Barong, Memuja Dewi Kesuburan

Candi Barong, Memohon Kesuburan dari Dewi Sri

Kerinduan saya akan candi kembali terobati. Beberapa hari ini saya ndak bisa konsen kerja karena pikiran ini selalu terbayang-bayang akan batu candi. :))

Hari Ahad (11/11) kemarin, saya dan rekan ndoyok saya kembali berpetualang ke Candi Barong untuk beribadah setelah lama vakum keluyuran.

Petualangan tolol kali ini sedikit beda, karena bisa dibilang petualangan kami kemarin merupakan training dan diklat kepada para doyoker trainee sekaligus memperkenalkan kegiatan ndoyok kepada seorang tamu. :))

Para doyoker trainee itu adalah Annots dan Cyapila, sedangkan tamu kami hari itu adalah seorang mahasiswi tersesat bernama Tika yang ndak kebangetan Ika. 😀

Perjalanan dimulai pukul 9 pagi. Cuaca yang mendung-cerah cukup mendukung karena medan yang akan kami kunjungi cukup “memprihatinkan”.

Ada 2 jalur sebenernya untuk menuju ke Candi Barong. Jalur pertama melalui sebelah utara yang memungkinkan kendaraan sampai ke bagian belakang candi. Tetapi kami ndak menempuh jalur itu karena jaraknya lebih jauh.

Kami menempuh jalur yang cukup berat namun cukup gampang ditempuh. Dari pertigaan Prambanan, ambil jalur ke selatan, ke arah situs Petilasan Ratu Boko. Kemudian akan ada papan petunjuk ke arah Candi Banyunibo.

Jika ke Candi Banyunibo belok ke kanan (selatan), untuk ke Candi Barong kita mengambil jalan lurus kemudian belok ke kiri. Letak Candi Barong ada di sebelah timur Candi Banyunibo tapi berada di atas bukit. Bila melalui jalur ini, kendaraan ndak dapat sampai ke lokasi candi di atas.

Kami terkejut ketika ada petunjuk menuju ke arah Candi Barong malah nyasar ke halaman rumah penduduk. Oleh si empunya rumah, kami diberitahu bahwa memang sering orang kesasar ke rumahnya ketika hendak menuju ke Candi Barong.

Untungnya bapak pemilik rumah tersebut mempersilakan kami memarkir kendaraan di halaman rumahnya. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Candi Barong dengan berjalan kaki, menyusuri jalan setapak nan licin.

Jalan mendaki menuju candi ini cukup mantab sebagai ajang berolah raga. Selain itu pemandangan eksotis hamparan sawah, rumput, dan ilalang menghijau di sekitar candi begitu menyejukkan.

Candi Barong terletak lereng Pegunungan Boko. Berada di ketinggian ±200 meter dpl, di Desa Candisari, Bokoharjo, Prambanan, Sleman.

Disebut Candi Barong karena hiasan Kala pada candi ini berbentuk seperti kepala Barong di Bali itu.

Hiasan kepala Barong pada Kala

Candi Barong tersusun atas 3 tingkat. Tingkat pertama merupakan dasar dari seluruh bangunan candi berupa tanah datar. Tingkat kedua berupa pelataran yang ditengarai dulu berdiri bangunan yang menggunakan unsur kayu selain unsur batu. Tingkat ketiga ini adalah tingkat yang paling suci, di mana terdapat 2 buah candi utama dan sebuah gerbang.

Untuk menuju ke sana, kita harus melalui 3 tangga yang berada di bagian barat. Kompleks candi berada di atas fondasi batu berbentuk talud yang membentuk pelataran.

Talud fondasi bangunan candi

Pelataran kedua ini berukuran sekitar 12 x 8 meter. Pada pelataran ditemukan puing-puing batu sisa bangunan. Ditengarai di pelataran ini dulu merupakan kompleks bangunan pendukung candi.

Dari petak-petak dan sisa-sisa batu, diperkirakan merupakan bangunan semacam tempat tinggal atau pendopo.

Pelataran candi tingkat kedua

Candi Barong berada pada tingkat ketiga. Sebelum masuk ke kompleks candi, ada sebuah gapura berhias motif Kala-Makara yang harus dilewati. Ditengarai di sekeliling candi ini terdapat pagar namun pagar ini telah roboh dan hanya tersisa sedikit di sisi gerbang sebelah utara.

Dua candi utama dan gerbang

Ada 2 buah candi utama yang posisinya “kurang simetris” karena candi ini cenderung menjorok ke selatan.

Sekilas kedua candi ini nampak sama, namun ada beberapa perbedaan yang bisa kita temukan.

Candi pertama yang berada di sebelah utara (di depan gerbang pintu masuk) berukuran sedikit lebih kecil. Motif ukiran dan arca yang ada pada candi ini pun sedikit berbeda.

Candi ini ndak memiliki ruangan. Hanya terdapat 4 relung berhias Kala-Makara di keempat sisinya. Arca yang ada pada candi ini pun sudah hilang atau mungkin sudah diamankan.

Menurut referensi yang saya baca, pada candi ini ditemukan arca Dewi Sri sang dewi kesuburan, istri dari Dewa Wisnu. Selain itu ditemukan juga hiasan kerang bersayap (Sankha) yang merupakan simbol dari Dewa Wisnu.

Candi pertama, yang berada persis di depan gerbang candi merupakan candi untuk menghormati Dewa Wisnu, sedangkan candi di sampingnya merupakan candi untuk menghormati Dewi Sri.

Dari ciri-ciri ini, dapat diidentifikasikan bahwa Candi Barong merupakan candi Hindu. Dari bentuk bangunannya, candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9.

Ditemukannya arca Dewi Sri menjadi tanda bahwa candi ini ditengarai merupakan candi pemujaan terhadap Dewi Sri untuk memohon kesuburan. Apalagi lokasi candi ini berada di atas bukit yang tanahnya relatif kurang subur.

Candi utama di bagian tengah

Bangunan candi sendiri berupa lantai, badan, dan atap candi. Kaki candi berupa alas persegi bersusun tingkat. Kita dapat menemukan ukiran bermotif berlian dan sulur di bagian ini. Antara kaki dan badan dipisahkan dengan selasar dengan hiasan segitiga.

Badan candi terdapat relung Kala-Makara dengan hiasan sulur di dindingnya. Pada bagian bawah relung, kita menemukan hiasan makhluk kerdil bernama Ghana yang diapit ukiran pot.

Badan dan atap candi dipisahkan hiasan berupa segitiga, seperti pada pemisah badan dan kaki candi. Bagian atap terdiri atas 3 tingkat berbentuk permata ratna.

Kondisi bangunan candi masih sangat baik dan utuh. Motif ukiran dan relief masih dapat dilihat dengan jelas. Hanya saja, arca-arca yang seharusnya mengisi relung-relung candi ndak dapat kita temukan.

Bentuk keseluruhan kompleks candi juga menarik, karena ada bagian-bagian yang tidak simetris namun di sisi lain ada bagian yang sangat simetris. Nah, bingung kan? ;))

Tak jauh dari kompleks Candi Barong, di sebelah utara kami menemukan puing-puing batu. Ketika kami menuju ke sana, kami ndak menemukan petunjuk apapun mengenai puing-puing batu tersebut. Kemungkinan ini adalah sisa-sisa batu penyusun Candi Barong yang belum dapat disusun kembali.

Selain kompleks candi yang menjadi daya tarik, lokasinya yang berada di atas bukit memberikan pemandangan mantab dan menyenangkan. 🙂

Namun sayang, lokasi yang terpencil dan sulit dijangkau membuat potensi wisata ini menjadi tak terurus dan tersisih.

58 thoughts on “Candi Barong, Memuja Dewi Kesuburan”

  1. zam, disini ada lingga/yoni nggak?
    kenapa ya hampir di semua situs candi/arca selalu ada bangunan lingga/yoni? apa ada pesan tertentu? ato sbg syarat konstruksi candi? seperti rumah tinggal harus ada kamar tidur, ruang tamu, dan toilet gitu? sekedar penasaran aja.

  2. Motif ukiran dan relief masih dapat dilihat dengan jelas.

    Sayang tidak ada foto-foto reliefnya…. biasanya relief itu bisa bercerita tentang kegiatan atau aktifitas warga sekitar pada waktu itu. BTW ulasannya kumplit banget lho.. thanks for sharing Zam 😀

  3. @ Fahmi:
    Lingga dan Yoni merupakan simbol dari dewa yang dipuja/dihormati di suatu candi. ndak semua candi punya Lingga dan Yoni.

    dari penelusuran saya sejauh ini, Lingga dan Yoni saya temukan di candi bercorak Hindu Siwaistis macam Candi Sambisari, Candi Kedulan, dan Gedong Songo.

    Lingga dan Yoni adalah simbol dari alat kelamin manusia, Lingga adalah alat kelamin pria, Yoni adalah alat kelamin perempuan.

    @ Totoks:
    relief di candi-candi ndak selalu menggambarkan cerita. kebanyakan hanya merupakan hiasan, atau figur dari dewa yang dipuja di candi tersebut.

    dari beberapa candi yang saya telusuri, hampir semua punya motif yang sama, yatu sulur-sulur bunga, entah itu candi Budha atau Hindu.

    memang, candi Hindu dari pengamatan saya lebih minim relief, daripada candi Budha.

    untuk foto, ada beberapa foto relief di posting candi saya sebelumnya. hampir semua relief mirip, kok. 🙂

  4. lho toilet umum jaman batunya mana??? Kok ndak ada? 😕

    Betewe, dari acara diklat TUTUP TAHUN kemaren saya lulus tanpa koreksito ya? :-“

  5. @leksa
    saya mau ngajak orang lain kalo acarane enak, kalo acarane pake semacam plonco mosok saya ajak2 situ [-(

    Eh Zam, dari acara kemaren ada satu lagi yang perlu ditambahkan di tagline blog ini, blog peduli UKM ( inget mbak-mbak yang jualan beli dawet pake baju hitam kemaren 😡 )

  6. menarik…

    eh kalo ak ke jogja, jadi tour guide yahhh 😀 rasanya candi yg pernah ak datengin standar candi borobudur dan prambanan, ya walo dua2nya emg cantik seh 😀

    ehm sama candi songo 😛

  7. :-w gak da acara icip-icip yah pak?
    gak seru hehehe,..

    btw, nih jakal kapan idup lampu yah? siyal,.jadi ngemper lema2 di SIC 8-|

  8. dunia ini memang aneh… susah-susah sekolah di teknik elektro malah jadi arkeolog … hakekeke…
    udah pernah meliput candi gebang?

  9. liat poto pelatarannya jadi pengin maen bal-balan zam… luas gitu ma tanahnya keliatan empuk ya, sepp.. kuwi kanggo nggocek bal tapi kayaknya klo ujan jadi becek 😕

  10. itu pelatarannya seperti kompleks sebuah perkampungan deh ,,,tapi ga mungkin yah , biasanya candi dibangun di komplek peribadatan sendiri yah?

  11. @ Raffael:
    referensi sejarah tentang candi ini memang minim dan agak susah, sehingga saya kurang tau sejarah pembangunan candi ini secara mendetil. 🙂

    @ [ew]:
    pelataran itu alasnya berupa batu, kang. kalo mo sepak bola ya bisa, tapi futsal. 😀

    @ iks:
    dari puing-puing yang ada di pelataran, kemungkinan merupakan pendopo untuk tempat duduk dan berkumpul ketika memanjatkan doa. kalo untuk perkampungan sangat kecil kemungkinannya.

  12. Namun sayang, lokasi yang terpencil dan sulit dijangkau membuat potensi wisata ini menjadi tak terurus dan tersisih

    lha mesti terakhire kok gini terus zam!, kayak jengjengmu dipantai yang bener-bener nggak kalah sama Bali itu, wah pantai itu muntap zam!.

    sesekali mereka itu perlu di selenthik zam !!! :banghead

  13. masih jauh dari prambanan ngga?
    aku rencanannya desember ntar mau jalan2 ke jogja,
    tapi masih ndak tau mau kemana aja..
    pengennya ke prambanan, borobudur, kraton…
    tapi waktunya cuman sehari thok… heu heu heu…
    (ko kayanya ngga mungkin ya 🙁 )

  14. Makasi yee..infonya uda gua copy buat bekal bikin paper..
    Hexhexhex..
    ^^v

    Tp klo dosennya ga ngasi gua nilai A, brrti lo tggl nunggu ajal loe..
    😕

    Cuihh!!
    :-w

  15. wuiiihhh….kueren buanget sayang di sini gak ada candi ( bangka )
    ku copy paste yah buat tontonan d rumah …..he..he…:d:)

  16. kok gambarna gx ada penjelasannya men saya lebih baik lw ada penjelasanny6a biar anax 2 pelajar kayak saya bisa dapet ilmu dea

  17. Thank you so much for this information. It has greatly helped me with my school project.

Comments are closed.