Porsi Romusha Shoyu Ramen

Shoyu Ramen

Beberapa waktu yang lalu, Uthie ngiming-imingi saya mi Jepang alias Ramen.

Setelah kemecer dan menelan ludah, akhirnya kemarin itu saya berkesempatan mencicipinya bareng sama Cyapila, juragan JAV Koh Budiyono, dan temen-temen sok nJepang ID-Anime Jogja.

Yang istimewa, warung yang terletak di Jalan Kaliurang Km. 10-an ini ndak seperti restoran-restoran ala Jepang. Bahkan terkesan nJawani. ;))

Porsinya pun, luar biasa! Porsi romusha! :))

Ramen adalah hidangan mi kuah ala Jepang yang asalnya dari Cina. Selain Ramen, ada juga mi yang disebut dengan Soba. Namun Soba ini bentuknya mirip-mirip bihun.

Mi-nya sendiri menggunakan mi kuning, terbuat dari tepung yang memiliki kadar Gluten tinggi, sehingga mi menjadi lebih kenyal.

Ada beberapa jenis Ramen yang tersedia di warung ini, antara lain:

  • Shoyu Ramen. Terdiri dari mi Ramen dengan kuah Shoyu (kecap asin) dengan isi telur rebus, daging sapi asap, sayuran hijau, dan Yakinori (rumput laut kering) berwarna hitam.
  • Miso Ramen. Terdiri dari Ramen dengan kuah Miso (tauco Jepang) dengan isi daging sapi asap, beberapa sayuran, dan Yakinori berwarna coklat muda.
  • Shio Ramen. Terdiri dari Ramen dengan kuah Shio (garam) dengan isi daging sapi asap, beberapa sayuran, dan Yakinori berwarna jernih.
  • Ja-ja Men. Ramen disajikan kering dengan irisan timun, daging cincang, dan Yakinori. Kuah sup dihidangkan terpisah.
  • Gomoku Ramen. Terdiri dari Ramen dengan kuah Shio (garam) dengan isi daging sapi asap, beberapa sayuran, seafood (udang dan cumi), dan Yakinori.

Saya memesan Shoyu Ramen. =p~

Untuk melengkapi hidangan supaya terkesan nJepang, saya pun memesan Es Sencha, salah satu dari jenis teh teh hijau Jepang yang rasanya tawar.

Sencha, teh hijau Jepang

Setelah cukup lama menunggu, pesanan kami pun datang.

Busyet! 😮

Saya ndak membayangkan porsinya segede ini. Bayangkan, mangkoknya saja berdiameter sekitar 25 cm.

Saya pun mulai mencicipi kuahnya terlebih dahulu. Rasa kaldu ayam di lidah saya terasa kurang asin, meskipun menurut keterangan, menggunakan campuran kecap asin.

Rasa pedas yang dihasilkan berasal dari merica, sehingga pedas lebih terasa di kerongkongan daripada di lidah. Kuah berwarna kecoklatan dan berminyak karena pengaruh kecap dan bumbu lainnya.

Saya penasaran dengan yang namanya Yakinori. Onggokan berwarna hitam itu rasanya unik. Kenyal-kenyal lembut. Ada rasa-rasa seperti ikan yang muncul, ndak seperti rumput laut yang biasa saya makan yang tawar.

Giliran mi-nya yang saya coba. Mi kuning dengan diameter lebih besar daripada mi kuning biasa ini cukup kenyal.

Cara makannya pun ada caranya. Di Jepang, makan mi dikatakan sopan bila kita nyuruput itu mi sambil berbunyi “slurrp..”. La kalo di sini malah kebalikan. Pakde Ndobos lebih berpengalaman soal beginian. 😀

Daging asapnya empuk dan mudah dipotong. Bumbunya begitu meresap ke dalam daging. Serat-serat daging berwarna coklat muda nampak jelas terlihat.

Telur rebusnya juga sedikit “berasa”. Saya menduga telur ini direbus dengan air berbumbu, sehingga bumbu bisa masuk ke dalam telur.

Nah, kalo anda di Jogja, silakan ke Jalan Kaliurang Km. 10-an. Lokasi warung ini berada di seberang kebun buah naga. Nama warungnya adalah Caffe Gaul.

Caffe Gaul

Namun hati-hati, di tempat asalnya Jepang sono, Ramen ini menggunakan tulang babi untuk membuat kaldu, meski ada juga yang terbuat dari tulang ayam dan tulang sapi.

Dari beberapa makanan Jepang yang pernah saya coba, Ramen ini sangat cocok dengan lidah saya. Kalo makanan Jepang lainnya saya merasa aneh. Maklum, lidah Jawa, je.. ;))

Apalagi banyak makanan Jepang yang mentah dan berbahan dasar ikan laut. Saya alergi makanan laut! 🙁

Nah, bila anda seorang Romusha atau sekedar ingin membahagiakan naga di dalam perut anda, Ramen ini patut dicoba.

Total kerusakan yang ditimbulkan adalah Rp. 7.500,00 untuk Shoyu Ramen dan Rp. 2.000,00 untuk teh Sencha-nya.

61 thoughts on “Porsi Romusha Shoyu Ramen”

  1. bener kan? bener kan?
    aku aja ampe males pulang saking kenyangnya :))
    kae mesti deskripsinya nyontek di daptar menunya ;))

    sayang yah si yg ultah malah ngabur :-”
    yg bikin ga asik ituh, NAMA WARUNGNYA! nggilani tnaaannn :))

  2. Namun hati-hati, di tempat asalnya Jepang sono, Ramen ini menggunakan tulang babi untuk membuat kaldu, meski ada juga yang terbuat dari tulang ayam dan tulang sapi

    untung saya non muslim *siyul-siyul terkenang makan ramen di tokyo 😛 *

  3. Segitu gedenya Rp 7,500??? Wow murah banget!!! Aku suka ramen apalagi yang banyak bayemnya (namanya bayem atau bukan seh itu?) yah pokonya daunnya lembut2 gitu bentuknya kayak bayem. Kenapa makanan enak dan murah selalu jauh2?

  4. Aq lebih seneng lagi kmarin karna yg bayarin sang juragan JAV. Vote Budiyono for the next presiden. Btw, Zam, bsok gantian kmu yg bayarin yak…

  5. hm.. ternyata temen2 sayah dari onegai sudah menjamu kamu yah zam.. saya waktu ituh pengen ikutan tapi telat banget.. begitu datang k kontrakan si yoga (dkazuma) sudah pergi duluan..

    yah.. sudahlah… tapi saya berharap banget dilaen waktu bisa bareng ketemu teman andong dan mas budiyono

  6. Iyo mas emang akeh banget.. aku beli karena penasaran, tiap kali pulang kerja kok rame terus. Beli dibawa pulang kenyang banget dimakan bareng adikku…

  7. ak jg prnh coba tp nyang miso ramen
    pas pTma msuk mulut sumpah rasanya ky mo muntah, tauco’y itu lho…bau’y g nguatin..
    tp lama2 klo dRsain dg hati enak jg

    pkk’y buikin kTagihan:d

  8. aku pernah lewat sini,,,
    tapi slalu aja penuh,,jadi kadang males mo mampir,,,penuh gitu,,,

    tapi kata temen2ku enak kok

  9. sekarang udah bukan `caffe gaul` lagi namanya, tapi udah jadi `sapporo ramen`

    porsi ramennya ga sebanyak yang anda bayangkan kok 😛
    yang paling ku suka dari ramenya disini adalah irisan dagingnya yang bener2 empuk n lembut banget :P~

Comments are closed.