Candi Ijo, Letaknya Paling Tinggi di Jogja

Candi Ijo, Terletak Paling Tinggi di Jogja

Menuju ke arah selatan dari Petilasan Ratu Boko, kita akan menemukan kompleks candi yang unik. Konon candi ini merupakan candi yang letaknya paling tinggi bila dibandingkan dengan candi-candi lain di Jogja.

Candi Ijo, dinamakan demikian karena candi ini merupakan markas Kolor Ijo terletak di Gumuk Ijo atau Bukit Hijau yang memang eksotis pemandangannya.

Setelah dilanda kepenatan yang amat sangat, berkunjunglah saya bersama doyoker trainee #1 yang merangkap guide saya ke sana untuk sekedar menenangkan pikiran. 🙂

Candi Ijo, terletak di Desa Gumuk Ijo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Berada di atas bukit berketinggian ± 410 meter dpl menjadikannya candi dengan letak paling tinggi se-Jogja.

Yang namanya di atas bukit, tentu pemandangannya ndak perlu diragukan lagi. Selain pemandangan alam yang hijau menyegarkan, kita dapat pula melihat landasan bandara Adisucipto di sebelah barat.

Pesawat yang hendak landing dan take off pun dapat terlihat dari atas bukit ini. Sayangnya kami ndak membawa binocular saat itu, sehingga pemandangan pesawat Adam Air (teridentifikasi dari warna oranye-nya) yang hendak take off hanya kami lihat sayup-sayup. 😀

Untuk menuju kompleks ini, jalan yang kami lalui cukup terjal. Walau jalannya sudah diaspal mulus, namun tanjakan curam, kelokan tajam, serta jalan sempit membuat kita harus ekstra waspada.

Kami melewati bukit kapur. Bukit-bukit ini dipotong oleh para penambang batu kapur yang kemudian batu-batu kapur ini sering digunakan untuk bahan ukiran atau bahan bangunan.

Posisi candi yang terletak di pinggir jalan membuat candi ini mudah ditemukan. Sebenernya kompleks candi ini ada 11 teras yang harus dilalui, namun kami langsung menuju ke teras kesebelas dengan menggunakan motor.

Ada 3 buah candi perwara dan sebuah candi utama di teras paling atas (teras kesebelas) yang merupakan teras paling suci.

Candi Ijo pada teras kesebelas

Dari bentuknya sekilas dapat ditebak bahwa candi ini merupakan candi dengan latar belakang agama Hindu. Dari bentuk ukirannya pula, candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9.

Candi utama menghadap ke barat sedangkan ketiga candi perwara yang berada di depan candi utama menghadap ke timur.

Tiga Candi Perwara di teras kesebelas

Atap candi perwara ini bebentuk permata ratna bertingkat 3 sedangkan yang di tengah beratap 4 tingkat. Bentuknya mengingatkan saya pada Candi Gedong Songo.

Saya pun mengamati candi perwara paling selatan terlebih dahulu. Hiasan Kala-Makara di pintu seolah-olah menjadi hiasan wajib di setiap candi yang saya temui.

Sekeliling dinding candi, terdapat relung-relung dangkal yang ditengarai berisi relief. Di dalam candi perwara ini, saya menemukan Lingga namun tanpa Yoni Yoni namun tanpa Lingga. Thanks Fahmi atas koreksinya. 😀

Maaf, gambar belum dikoreksi. Maklum, fakir benwit. Tapi pasti akan saya koreksi. Gambar sudah dikoreksi. 😉

Yoni pada Candi Perwara Selatan

Pada candi perwara yang berada di tengah, dinding sekelilingnya berisi ukir-ukiran bunga yang seperti “terbalik”, yaitu bunga tumbuh ke bawah, bukannya ke atas.

Ukiran pada dinding Candi Perwara Tengah

Di dalam candi perwara tengah ini seharusnya ditemukan arca Nandini, arca sapi betina tunggangan Dewa Siwa. Nandini juga merupakan lambang kekayaan dan merupakan hewan yang tak kenal rasa takut.

Ternyata arca Nandini ini dipindahkan letaknya. Arca Nandini ini dapat kita temukan pada pos di sebelah selatan candi utama.

Arca Nandini pada Candi Perwara Tengah

Pada candi perwara ketiga yang terletak paling utara, saya menemukan sebuah lubang besar. Awalnya saya mengira ini adalah lubang bekas penempatan Lingga, namun setelah melihat jendela ventilasi pada dinding, perkiraan saya ini rasanya kurang tepat.

Menurut informasi, ternyata lubang ini adalah Homa, yang berfungsi untuk pembakaran. Diperkirakan candi perwara ini digunakan untuk ritual pengorbanan dengan membakar sesaji.

Lubang Homa pada Candi Perwara Utara

Lubang-lubang ventilasi pada dinding berbentuk segi empat ketupat seperti pada lubang-lubang pada stupa Candi Borobudur, namun ada ukir-ukirannya.

Lubang-lubang ini tentu berfungsi untuk mengeluarkan asap akibat pembakaran yang dilakukan pada Homa.

Ketika saya akan masuk ke dalam candi utama, petugas melarang saya. Rupanya saat itu ada ritual sembahyang yang dilakukan oleh sepasang muda-mudi beragama Hindu. Dari informasi petugas, candi ini memang sering digunakan untuk ritual ibadah, terutama umat Hindu.

Saat kami ke sana, candi ini juga sedang dibersihkan. Para petugas dari Dinas Purbakala membersihkan lumut-lumut yang tumbuh di badan candi. Bahkan para petugas ini menggunakan tangga untuk membersihkan lumut di bagian atap candi.

Lumut memang dapat merusak batu-batuan candi. Sayang banget bila warisan budaya seperti ini lapuk tanpa ada perawatan.

Candi Utama pada teras kesebelas

Saya pun berkeliling mengamati bagian luar candi utama. Tiap dinding pada candi ini terdapat masing-masing 3 relung yang ditengarai berisi arca Agastya, Ganesha, dan Dewi Durga. Namun semua arca ini ndak saya temukan.

Di pintu masuk, saya menemukan hiasan Kala ganda. Maksudnya ada 2 buah hiasan Kala di atas pintu utama. Di samping pintu utama terdapat relung yang saya tengarai berisi arca Mahakala dan Nadiswara. *sotoy* 😀

Setelah ritual ibadah selesai, kami pun dipersilakan masuk ke dalam candi utama. Bau harum dupa langsung menusuk. Ya iya lah, wong habis dipake beribadah! 😀

Di dalam candi utama terdapat Lingga dan Yoni berukuran besar. Lingga Yoni ini berukuran sekitar 1 x 1 x 1 meter dan tinggi Yoni Lingga sekitar ½ meteran.

Lingga-Yoni pada Candi Utama

Pada bagian cerat, terdapat hiasan kepala ular menyunggi kura-kura yang mirip banget dengan hiasan Lingga Yoni pada Candi Sambisari.

Ukiran kepala ular dan kura-kura ini menggambarkan dasar dari pembentukan dunia menurut cerita kuno yang beredar di kawasan Asia Tenggara.

Hiasan Ular-Kura pada Lingga

Lingga dan Yoni ini juga digunakan untuk menyucikan air yang digunakan untuk beribadah umat Hindu pada jaman dulu. Caranya dengan menuangkan air pada Yoni Lingga yang kemudian air yang mengalir melalui Yoni Lingga akan tertampung pada Lingga Yoni dan kemudian air ini ditampung melalui cerat.

Pada dinding bagian dalam candi, masing-masing terdapat relung yang diapit ukiran dewa-dewi yang terbang dengan membawa semacam cawan menuju ke arah relung.

Arca Dewa-Dewi membawa nampan

Ada lagi keunikan yang saya temukan di candi ini. Saya menemukan ukiran berbentuk seperti Kala yang terletak pada bahu tangga candi. Ukiran ini dapat ditemukan pada tangga masuk candi perwara maupun candi utama.

Hiasan mirip Kala pada tangga

Di candi lain, hiasan semacam ini ndak saya temukan. Wajah Kala-nya pun sedikit berbeda dengan kala yang biasa saya liat di atas pintu-pintu candi itu.

Kehadiran 2 buah candi perwara dengan masing-masing fungsinya ditengarai merupakan penghormatan kepada Trimurti, walau dari Lingga dan Yoni yang ada menunjukkan candi ini bersifat Hindu Siwaistis.

Candi perwara paling utara yang memiliki Homa merupakan cerminan dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta yang juga dikenal sebagai Dewa Api. Kemudian adanya Lingga-Yoni serta arca Nandini merupakan cerminan dari Dewa Wisnu sang Dewa Pemelihara, serta Dewa Siwa sang Dewa Penghancur.

Puas berkeliling di teras teratas, saya pun tertarik menyusuri teras-teras di bawahnya. Konon ada 17 bangunan pada kompleks candi ini.

Teras kesepuluh merupakan semacam selasar dengan tembok pagar batu mengelilingi teras kesebelas. Ada sebuah tangga menghubungkan teras kesepuluh dengan teras kesembilan.

Pada teras kesembilan dan kedelapan kita dapat menemukan puing-puing candi. Kondisinya begitu memprihatinkan. Batu-batu berserakan di sana-sini.

Puing-puing candi di teras kesembilan

Saya menemukan pohon Jambu Monyet di sini. Sayang banget, buah Jambu Monyet yang matang ada di atas semua dan susah dijangkau. Dapet sebuah, rasanya? Asem, sepet, dan getahnya bikin gatal! :))

Menurut informasi, di puing-puing candi pada teras kedelapan ini lah ditemukan 2 buah prasasti batu.

Prasasti pertama setinggi 1 meter yang bertuliskan Guywan yang berarti “pertapaan”. Ada lagi prasasti setinggi 14 cm dan tebal 9 cm yang berisi 16 baris kutukan berbunyi, “om sarwwawinasa, sarwwawinasa”. Namun ketika kami ke sana, kami ndak melihat prasasti ini.

Puing-puing candi lainnya dapat ditemukan pada teras kelima, keempat, dan teras pertama. Sedangkan teras lainya berupa tanah lapang kosong yang berundak.

Mohon maaf kepada doyoker trainee #2 yang ndak diajak karena baru wisuda (selamat, ya!) dan kepada doyoker wannabe yang kami ndak tau nomor kontak sampeyan. 😀

44 thoughts on “Candi Ijo, Letaknya Paling Tinggi di Jogja”

  1. arca sapi betina tunggangan Dewa Siwa terakhir liat di trocadero dot kom [portal jual2 barang tribal]…nembus 3 milyar…!!!!!

    kalo ga kuat ngambilnya,ntar tak bantu zam..!!!

  2. candi ijo emang indahhhh……..tapi sayang waktu itu aku berharap bisa liat pesawat yang take off tapi cuaca panaaaassss sekaleeee…..jadi!gak liat dehhh

  3. zam….gak naek sepeda lagi tuh ke atas???????untuk memacu adrenalin menyiksa kekuatan paha, betis, pinggang, dan bahkan mengancam masa depan…kaya yang kamu lakukan wkt ke ratu bokong….eeeeehhh ratu boko????perjalananmu waktu itu kayanya asyiiik sekali tapi sayang pengorbananmu tak berbalas…….

  4. @ fahmi:
    anda benar, seharusnya Yoni tanpa Lingga. terima kasih koreksinya. akan saya update nanti. 😀

    @ didut & ekowanz:
    bertanya kepada penjaga candi atau penduduk sekitar adalah cara untuk mendapatkan informasi yang paling mudah. selain itu saya memang melakukan riset kecil untuk mencari referensinya. 😀

  5. @ Zahra:
    kok kita ndak ketemu, ya? jangan-jangan ente yang beribadah di candi itu kemarin? 😀

    sayang sekali. pas saya ke sana, saya liat pesawat sedang landing dan take off. cuma karena terlalu jauh, peristiwa tersebut ndak dapat saya saksikan dengan jelas. 🙂

    Ratu Boko belum terjelajah semua. mungkin suatu saat nanti akan saya jelajah semua kali, ya? 😀

  6. mungkin nggak ya, kalo ukiran bunga terbalik itu ada arti tersendiri…soale saya belum pernah nemu yang kayak gini.

    btw, salam kenal ya mas zam…

  7. emang dari “penampakan sekilas”, gimana cara mbedain candi Hindu ma Budha?

    wah, mas.. utk rencana jangka panjang, sesok nek kowe wafat minta dicandikan aja mas.. :). Candi matriphe

  8. baru sadar akuw..
    di photo pertama ada yang salah sepertinya,.. 😕

    ga original photonya tuh…
    photonya di sotosop yah, Zam.. 😕

  9. @ Huda:

    secara sekilas bisa dilihat dari struktur bangunannya. candi Hindu bentuknya lebih ramping dan cenderung meruncing, sedangkan candi Budha cenderung menggembung dan besar.

    candi Hindu juga lebih banyak menggunakan arca sedangkan candi Budha lebih banyak menggunakan ukiran relief.

    ini sih menurut pengamatan saya lo ya, tapi tetep harus melihat beberapa parameter lainnya.

  10. wa…..kereen ney orang. muter muter gaweannee. sampek candi ijo pu sudah menapakinya…padahal aku beloms ebagai tiyang aseli djogja. Sips sips bang zam….. nanti akan menjadi next tour di jogja….
    klo kesepian butuh teman trip candi siap menemani (ih ih ada yang cemburu tuch…kyaaaaaa)
    Mendukung jeng jeng..untuk Indonesia….

  11. kayaknya belum pernah denger istilah arca nandini, setauku yang ada arca nandi. ato mungkin waktu dijelasin di kuliah aku nya yang kebanyakan tidur?

  12. budaya harus kita lestarikan, banyak cara untuk kita partisipasi yuk lestarikan candi ijo dengan buat kaos sketsa candi ijo dijamin Limited edition dah…. FB,E-mail,Frendster:(put_roday@plasa.com)

  13. hahayyyyy… q sempet kesana buat hunting sunset,, tempate emang kereeeen bgt.. tapi pas maghrib aq diusir satpamnya disuruh pulang… la pas maghrib itu sunsetnya pas bagus2nya… asal kita gak berbuat macam2 kan gpp pak satpam!!!

  14. hai, salam kenal! maaf saya cuman ngsih sedikit info tentang dewa siwa bukanlah dewa penghancur tapi dewa siwa adalah dewa pelebur yang maksudnya adalah dewa iswa berfungsi sebagai dewa yang memperbaiki kondisi alam dimana jika dialam ini terjadi kondisi yang tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya maka disanalah dewa siwa berfunsi untuk memperbaikinya maka dwa siwa bukan menghancurkan tapi meleburkan apa yang tidak sesua dengan alamnya. serta saya mau menjelaskan juga bahwa candi yang didepan pintu masuk itu bukan kala tetapi itu itu adalah gambaran penunggu hutan atau alam pegunungan disebut dengan bhoma! oche makasihya!

Comments are closed.