Jeng-Jeng Jakarta

Hello Jakarta!

Sebenernya sudah lama saya mo posting ini, tapi kemarin masih kerepotan dan belum bisa berhubungan dengan dunia internet, maka baru sekarang saya sempat posting. Biar basi yang penting posting! :p

Hari Jumat-Sabtu (7-8/12) lalu saya berkesempatan jeng-jeng ke Jakarta. Kesempatan ini merupakan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Jakarta. Huehehe, maklum wong ndeso! ๐Ÿ˜€

Banyak pengalaman yang saya dapat selama 2 hari di ibukota ini, baik yang menyenangkan maupun yang mbikin emosi. Saya menikmatinya, menikmati kebangsatan dan kelaknatan kota yang katanya megapolitan ini.

Sekali lagi blog membuktikan kekuatan magisnya, ndak hanya trend sesat atau cuma wadah narsis aja, blog ternyata mampu menjalin persaudaraan.

Temen-temen blogger, yang belum pernah saya temui sebelumnya, bener-bener membantu saya dalam mengarungi kehidupan di kota kejam ini.

Makasih buat temen-temen blogger, terutama BHI atas sambutan dan kerepotan yang ditimbulkan akibat kedatangan saya ke Jakarta. ^:)^

Saya ke Jakarta karena ada suatu keperluan, tapi bukan saya namanya kalo kesempatan macam ini ndak dipake buat jeng-jeng. ;))

Saya sama sekali ndak punya gambaran mo ngapain di Jakarta. Saya bahkan buta sama sekali dengan yang namanya Jakarta.

Awalnya saya berniat untuk ndoyok bin nggelandang, atau istilah lain yang lebih keren, sok backpacking-an. Pokoke waton berangkat, soal ntar nginep di mana, mo ngapain, dipikir belakangan.

Namun karena berbagai pertimbangan, akhirnya metode pendoyokan yang biasa saya terapkan itu akhirnya saya rubah. Saya pun membeli peta Jakarta untuk orientasi medan. Peta Busway TransJakarta pun saya download lalu saya print sebagai bekal.

Wis pokoke nggaya banget dan yak-yak-o. :))

Soal tempat menginap selama saya di Jakarta, saya ditawari tempat menginap di Istana Wapres BHI di kawasan Kebon Kacang oleh Kang Ipul berkat bantuan Kang Bagonk.

Beruntung, apalagi lokasi Istana BHI memang ndak jauh dari tempat saya menyelesaikan keperluan, di jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, tepatnya sekitaran Patung Tani.

Berangkat dari Jogja naek kereta Senja Utama Jogja hari Kamis (6/12) malem. Gara-gara ada kerjaan yang kudu diberesin, saya ndak sempet packing sebelumnya. Ditambah hujan yang mengguyur sejak siang membuat saya hampir ketinggalan kereta karena datang mepet setelah diantar Annots ke stasiun.

Kurangnya persiapan plus kebiasaan saya kalo jeng-jeng tanpa rencana, membuat beberapa hal penting lupa dilakukan. Peta Jakarta dan peta busway TransJakarta yang saya persiapkan justru ndak saya bawa. :))

JAKARTA MENYAMBUT

Sampai di Jakarta pagi Subuh. Karena saya buta sama sekali sama Jakarta dan moda transportasinya, rencananya saya akan dijemput ajudan pak Wapres BHI, Kang Iqbal di stasiun Pasar Senen.

Begitu tiba di Jakarta, saya langsung menjadi korban kejahilan sang ajudan. Namun kejahilan dari Kang Balibul ini menjadi “sambutan” yang sangat berkesan! :))

Ceritanya gini, rencananya Kang Balibul akan menjemput saya pake motor. Turun dari kereta, saya langsung dicecar dengan tawaran tukang ojek maupun tukang bajaj. Tentu saya menolak dengan pasang tampang sok galak, cuek, dan jumawa. Maksudnya sih biar ndak diganggu gitu. :->

Saya pun menunggu jemputan di halte depan stasiun. SMS dari Kang Balibul bilang kalo dia baru aja bangun. Ya udah, saya pikir agak lama.

Karena badan capek dan mata ngantuk berat karena ndak bisa tidur nyenyak di kereta, pikiran saya saat itu pengen segera dijemput dan segera beristirahat.

Mak jegagik ada orang yang tiba-tiba duduk di samping saya. Tanpa melihat mukanya, saya cuekin aja tu orang.

Tiba-tiba dia nawarin saya rokok. Saya pun menolak dengan sok cuek. First lesson: jangan percaya dan mudah menerima tawaran orang yang tak dikenal.

Tak berapa lama ni orang nanya-nanya sok akrab, “mo ke mana, mas?”. Second lesson: waspada dengan orang yang sok kenal dan sok akrab.

“Oh, mo pulang..”, jawab saya cuek sambil pura-pura mainan HP biar ndak disuruh mbayar dan berharap jemputan segera datang.

“Udah, naik taksi aja yuk..”, tawar orang di samping saya tadi. Anjrit! Sopir taksi gelap nyari mangsa nih, pikir saya.

“Ndak, saya nunggu jemputan, kok..”, tolak saya dengan nada sok tegas berharap ni sopir taksi gelap enyah.

“Dijemput ma siapa, mas?”, tanya ni orang lagi. Jamput!

“Dijemput kakak saya!”, jawab saya sambil mikir rese banget sih ni orang.

Ndak berapa lama, tu orang bilang, “la ini kakakmu di sini..”, sambil nunjuk Kang Ipul yang duduk di sampingnya lalu ketawa nguakak. =))

Jamput! Asyu! Bajirut! Pokoke semua nama hewan langsung meluncur ketika tau orang yang nanya-nanya saya tadi itu Kang Balibul! :banghead

Kang Balibul semakin nguakak penuh kemenangan! Huasyu.. :))

NDOYOK JAKARTA

Didit, kawan sependoyokan saya ternyata nyusul juga ke Jakarta karena ada keperluan yang hampir sama, namun beda lokasi. Ya sudah, sekalian saja dia ditransitkan ke Kebon Kacang.

Abis Jumatan, hujan deres turun. Sial, padahal saya mo orientasi medan dulu. Tapi untung hujan tak lama, sekitar pukul 14.00 saya keluar dari Kebon Kacang lalu berjalan kaki menuju Patung Tani.

Jalan kaki? Iya, jalan kaki. Sebenernya saya sudah dikasih ancer-ancer dan mode transportasi yang digunakan untuk sampai ke sana, tapi melihat trotoar yang begitu lebar dan bagus banget, membuat kaki ini tergoda untuk menapakkan kaki di atasnya. :))

Trotoar di sini rupanya cukup nyaman, lebar, dan sepi. Mungkin karena ndak ada yang mo jalan kaki kali, ya? ๐Ÿ˜€

Setelah urusan selesai, saya pun kansenan sama Didit untuk ketemu di Masjid Wali Songo di kawasan Kwitang. Dari situ kami lalu ke Plaza Atrium dengan berjalan kaki lagi. :))

Kita orang ke Plaza Atrium karena Didit mo beli baju ma celana dalam buat bekal nginep. Dia emang ndak ada rencana nginep sebelumnya, jadi dia ndak bawa pakaian ganti sama sekali.

Berhubung saya jarang masuk mol, saya bingung plongah-plongoh saat masuk sana. Wis, pokoke malu-maluin banget lah! Makanya, lain kali jangan ajak saya ke mol, ya! :))

Dari Senen, kami kembali ke Kebon Kacang naik busway. Yeah, ini adalah pertama kalinya saya naik busway! :))

Dari Koridor 2 kami pindah ke Koridor 1 di Halte Harmoni lalu turun di Halte Sarinah. Sebelumnya kami ngontak Tupic dulu untuk ketemuan di Halte Sarinah.

Di Halte Sarinah, kami nguakak-ngakak kek orang gila dan diliatin orang sehalte. Yo ben! :))

KUMPUL BUNDERAN HOTEL INDONESIA

Setelah itu kami kembali ke Istana Wapres dan ketemu sama Luthfi penguasa Istana Bogor. Setelah berbasi-basi sejenak, kami pun meluncur ke lokasi konferensi Kasultanan BHI di emperan depan Plaza Indonesia.

Saya kira warga BHI itu ngumpulnya di emperan kolam tengah bunderan yang ada patung Selamat Datang-nya itu je. Ternyata di emperan depan Plaza Indonesia. :))

Di sana, kami nguakak-nguakak, gojek kere, guyon goblok, pokoke menyenangkan. Ketemu orang-orang hebat ber-casing mlarat berjiwa ningrat yang mampu menghilangkan penat. Pokoke dahsyat!

Sejak pertama tiba di Jakarta, saya sudah stres. Bawaannya pengen misah-misuh, emosi, gara-gara liat kesemrawutan kota dan tingkah laku masyarakatnya yang biacilak tenan. Hajinguk, kutho opo iki?! :-w

Tapi setelah ketemu temen-temen BHI, rasanya saya menemukan kembali hawa-hawa bersahabat. Suasana akrab yang meneduhkan..

Warga BHI kumpul

Saya sendiri ndak ingat semua yang dateng malam itu. Ada Pak Presiden dan Pak Wapres, Kang Balibul, Gus Pitik, Kang Endiks, Kang Mikow, Pakde Zumux, Kang Hedi, Kang Kw, Mitha, Mbak Vivink, Luthfi, Kang Yudhi, ama Pito. Bahkan Ndoro Kakung, Kang Enda, sama Paman Tyo pun datang.

Matur nuwun, kawan-kawan. Di sini saya menemukan sisi Jakarta yang menyenangkan. Hayah! :))

Selain ngobrol-ngobrol, ada kejadian luar biasa yang baru pertama kali terjadi di BHI. Satpol PP tiba-tiba datang, menciduk orang-orang marjinal yang kebetulan beristirahat melepas lelah di sana dengan sadisnya.

Mereka diangkut ke mobil tanpa ampun. Orang-orang kumuh itu hanya bisa berteriak dan meronta. Hati saya pedih, melihatnya saja saya tak tega. Sekali lagi hati ini mengumpat dalam hati, tak berperikemanusiaan!! x(

Suasana cukup tegang dan mencekam. Saya yang bertampang kere dan lusuh ini jelas kethar-kethir, takut keciduk juga. :-S

Malam semakin larut dan akhirnya kumpul-kumpul BHI itu bubar. Saya, Didit, Tupic, Luthfi, tidur di Istana Presiden BHI yang juga berada di Kebon Kacang, ndak jauh dari Istana Wapres. (:|

JENG-JENG JAKARTA TUA

Jujur, saya ndak suka Jakarta. Menurut saya ndak ada yang menarik di Jakarta, selain museum dan bangunan-bangunan tuanya!

Ya, saya suka bangunan tua, heritage, dan sebangsanya! :X

Sabtu siang, saya dan Didit berencana ke Museum Fatahillah yang terletak di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Kawasan ini mirip dengan Kawasan Kota Lama di Semarang, namun gedung-gedung di sini masih “lebih terawat” daripada yang di Semarang, meskipun sama-sama terkesan terbengkalai.

Dari Halte Sarinah, kami langsung menuju Stasiun Jakarta Kota pake busway Koridor 1. Setelah turun di Stasiun Jakarta Kota, berjalan sedikit ke utara, kita pun sampai di Taman Fatahillah, Kawasan Kota Tua.

Di kawasan ini setidaknya ada 5 buah museum, antara lain Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta).

Saat itu Museum Fatahillah sedang direnovasi, sehingga bilah-bilah bambu yang menempel di dinding terlihat sedikit mengganggu (kegiatan berfoto-foto narsis). :-<

Museum Sejarah Jakarta

Museum Fatahillah sendiri berisi benda-benda peninggalan dan cerita-cerita sejarah Jakarta mulai dari jaman pra-sejarah hingga masa kini.

Gedungnya sendiri dibangun pada tahun 1707 yang dulunya digunakan sebagai gedung balaikota (Stadhuis) Batavia. Kemudian gedung ini diresmikan sebagai museum pada tanggal 30 Maret 1974 oleh gubernur Jakarta saat itu, Bapak Ali Sadikin.

Yang unik, batu pertama pembangunan museum ini dilakukan oleh Petronella Wilhelmina van Hoorn pada tangal 25 Januari 1707 yang kala itu berusia 8 tahun. Wilhelmina sendiri merupakan putri dari Gubernur Jendral Hindia Belanda saat itu, Van Hoorn.

Di depan museum kita dapat menemukan batu-batu dari halaman depan istana The Dam Armsterdam yang merupakan bagian dari proyek “Moving the World – De Dam 2004” yang merupakan kerjasama antara 8 kota lainnya di dunia, yaitu Jakarta, Antwerpen, Oslo, Copenhagen, Kairo, Athena, Casablanca, dan Ankara.

Batu dari 8 kota di depan Museum Sejarah Jakarta

Di dalam museum terdapat benda-benda peninggalan mulai dari jaman pra-sejarah, peninggalan kerajaan Tarumanegara, hingga peninggalan VOC yang berupa mebel-mebel antik.

Saya baru tau bentuknya Prasasti Kebon Kacang Kopi, Prasasti Ciaruteum, Prasasti Tugu, dan sebagainya yang dulu selalu saya cuekin pas pelajaran Sejarah. Tentu prasasti-prasasti ini hanya replikanya saja. ๐Ÿ˜€

Di halaman belakang, kita dapat menemukan patung Hermes yang menurut mitologi Yunani merupakan Dewa Keberuntungan.

Patung yang terbuat dari logam ini dulu berada di Jembatan Harmoni, lalu kemudian demi keamanan dipindahkan ke museum ini dan di Jembatan Harmoni dibuatkan replikanya.

Patung Hermes

Selain Patung Hermes, kita dapat pula melihat meriam Si Jagur yang terkenal itu. Dulu meriam ini berada di depan gedung museum, lalu pada tanggal 22 November 2002 pada bulan Ramadhan setelah sholat Tarawih, meriam ini dipindahkan ke halaman belakang museum.

Meriam ini sangat terkenal dengan mitos kesuburannya. Jadi ada mitos yang beredar bahwa meriam ini mampu memberikan kesuburan karena bagian punggung meriam yang ada moncong berupa tangan mengepal dengan ibu jari dijepit jari telunjuk dan jari tengah. ;))

Meriam Si Jagur

Pada bagian punggung meriam terdapat tulisan “ex me ipsa renata sum” yang artinya kurang lebih “dari diriku sendiri aku lahir kembali“. Konon meriam ini dibuat dengan cara melebur 16 buah meriam kecil-kecil.

Meriam ini dibuat oleh M.T. Bocarro di Macao yang kemudian dibawa ke Malaka untuk memperkuat benteng Portugis. Tahun 1641, Malaka jatuh ke tangan VOC dan meriam ini dibawa ke Batavia.

Di sini kita juga melihat penjara-penjara yang berada di bawah gedung. Penjara ini berbentuk setengah lingkaran yang kita harus membungkuk bila memasukinya. Di dalamnya terdapat bola-bola besi yang digunakan untuk mengikat kaki para tahanan.

Dulu, ruangan-ruangan ini digunakan untuk menampung sekitar 80-an orang tahanan. Ada 5 buah ruang penjara yang masih utuh sampe sekarang.

Selesai menjelajah Museum Sejarah Jakarta, kami pun keluar. Kami saat itu ingin melanjutkan ke Museum Wayang yang letaknya tak jauh dari Museum Sejarah Jakarta ini, namun apa daya museum telah tutup karena waktu menunjukkan pukul 15.00.

Kami pun berjalan keliling-keliling menikmati arsitektur Kota Tua ini sambil nyeruput Es Potong! :))

Jeng-jeng di Kota Tua

Foto-foto narsis saya lainnya ada di Galeri Foto Multiply saya. ๐Ÿ˜€

NDOYOK JAKARTA JILID DUA

Sebenernya kami pengen menjelajah museum-museum lainnya, namun apa daya waktunya yang ndak ada, membuat kami mengurungkan niat. Padahal kami yakin, banyak hal menarik yang akan kami temukan di museum-museum ini.

Kami pun pulang menumpang busway. Kami pun mampir dulu ke stasiun Pasar Senen untuk membeli tiket kereta Fajar Utama Yogyakarta buat saya pulang ke Jogja.

Dari stasiun Pasar Senen, terbersit ide tolol namun terdengar menyenangkan. Daripada kami sumpek, emosi, dan umpel-umpelan di busway, kami memilih berjalan kaki dari Pasar Senen ke Sarinah Thamrin! :))

Pas nyampe di jalan Merdeka Selatan, kembali muncul ide tolol untuk ke Monas demi melihat Lingga dan Yoni raksasa. Tapi untung lah, pikiran jernih kembali menguasai kami kembali sehingga niatan tolol itu akhirnya urung. ;))

Nikmatnya berjalan kaki, kami bisa menemukan hal-hal yang unik-unik. Ndak sengaja mata kami melihat gerbang bertuliskan: Pusat Jajanan Sabang, yang terletak di Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat.

Namun sayang, kami ndak sempet ngicip-icip di sana meski kami menyusuri jalan tersebut dan cuma bisa nelan ludah. La harga makanan di Jakarta ini mahalnya minta ampun!

TERIMA KASIH DAN MAAF

Saya mo ngucapin terima kasih buat berbagai pihak yang telah bersedia saya repoti, antara lain Kang Ipul, Kang Balibul, dan Kang Bahtiar atas tempat menginap dan cerita serta petuah-petuah njenengan.

Juga buat Kang Hedi dan Kang Kw, bayangan saya sebelum ketemu njenengan-njenengan itu beda banget loh. Ternyata njenengan lebih dari yang saya bayangkan! ;))

Juga buat Didit dan Tupic, rekan sependoyokan saya, pokoke ndoyok everywhere! Hidup ndoyok! :rock

Maaf juga buat Simbok yang sempet misuh-misuh gara-gara ndak saya kasih tau. Maaf, mbok, saya ndak mau ngerepoti njenengan. Tapi saya janji kalo ada waktu, saya bakalan main ke rumah njenengan. ๐Ÿ˜‰

Buat Ria karena ternyata kita ndak bisa ketemuan, maapken saya karena hari Sabtu itu saya masih di Kota Tua, je. Mungkin lain kali ya, kita ketemuan. ๐Ÿ˜€

Buat temen-temen De Marko, Adi yang saya ndak jadi nginep di tempat ente karena Bekasi ke Menteng itu jauh, kawan! :))

Juga buat Ridho yang udah nungguin di tempat Jono karena nungguin kaos. Sori, Dho! Lebih baik ente ngontak Kang Ipul langsung. ๐Ÿ˜€

Tak lupa kepada semua pihak yang ndak bisa saya sebutkan satu persatu. Matur nuwun! ๐Ÿ˜‰

Mungkin lain kali kereblog kuper karena jarang blogwalking macam saya ini datang lagi, njenengan-njenengan ndak keberatan, kan? ;))

57 thoughts on “Jeng-Jeng Jakarta”

  1. pertama, jkt mungkin ga enak, tp selalu ada hikmah tersembunyi tho…
    kedua, opone sing beda?…musti ngebayangi sing elek2 arek iki ๐Ÿ˜›
    ketiga, awakmu ki top tenan ternyata, lha pini sepuh sampek teko je ๐Ÿ˜€

  2. Waaaah aku dadi kangen kowe, cerewet mu ki loh…jian pool.
    mangan nang sabang sikile diunggah ke, ojo ngisin2i wong solo kowe.

    Podo-podo ya zam, sorry loh ora ngejak nang taman lawang.

  3. Ben ae ndeso mas.. seng penting ora ngisin2i..

    emang tinggal di Indonesia udah berapa lama to? kok baru kali ini ke ibukota?

  4. weh bau apa ini?
    wah ternyata bau postingan basi! :))
    eh tapi kota tuane keren dab! mantabs lah!
    masih tidak pengen ke jkt kah?

  5. Zam, “penderitaanmu” masih kurang tuh. Itu mah cuma dua hari. Kalau mau mencicipi Jkt mestinya sempat ngalamin, berangkat kerja jam setengah enam pagi, umpel2an naik metromini, ganti metromini 2x, trus naik ojek lagih. Jangan lupa hati2 dengan dompetnya. Udah gitu, macetnya poll, dan ampe kantor telat deh… itu baru namanya ke Jkt. Begono…. :d

    Tapi memang, hanya temanlah yang mampu membuat Jkt memiliki ruang2 yang masih manusiawi untuk dihuni ๐Ÿ™‚

  6. Pantes minggu kmaren bunderan HI macet banget, ternyata gara2 si Zam dateng ke Jkt bikin heboh satu ibukota :-w Kok sbetar banget cuma dua hari, ga sempet minta tanda tangan artis blog deh nih he he

    Jangan kapok datang ke Jakarta Zam, walaupun semrawut dan orang2nya mungkin kurang bersahabat tapi banyak cewe2 cantiknya ga ada yang ngalahin ha ha ha

  7. Wah.. itu foto siapa ya.. gantengnya rek.. Abis jumpa fans ya di Jakarta? hehe..

    Pa kabar mas-e? Maaf nih aku baru ada waktu blogwalking lageee.. kemarin2 pabaliut waktu, maklum dah kerja, so ga sempet buka2 blog.. hehe..

    Take care yoo..

  8. Suatu hari saya didatangi sopir taksi gelap. Saya iyakan saja. Sopir tembak itu adalah serdadu yang cari tambahan. “Pangkat sampeyan apa?” tanya saya. “Kolonel, Mas.” Saya bilang bikin ayam goreng saja, kayak Kolonel KFC. Dia bilang, “Ndak bisa, Mas. Nama saya Colonel Seven.” Pantesan garing basi, kata saya.

  9. jakartaโ„ข….
    ……………………
    ………………………
    hufff
    jancuk, kutho opooooo iki pating klarah-njebabah-gak karuan
    *menghela nafas panjang…ngelus dodo*
    …………………………..
    …………………………………….
    …………………………………………

  10. sening – sarinah = jalan kaki ?

    betul ….. !!!

    jadi banyak yang di dapat ๐Ÿ™‚

    matur nuwun atas sowannya di cangkru’an bhi, broo ๐Ÿ™‚

  11. ngeri dab, saiki wis go nasional, dilit ngkas keliling indo, trus go internasional, wah.. mantep dab !!

    Btw jakarta ncen ngunu, mulakno ra sah bercita2 makaryo neng jakarta..
    Teteup, jogja never ending asia

  12. atmosfer yang berbeda akan dapat ditemukan ketika bahkan saat kita baru menginjakkan kaki di station. begitu terburu-burunya jakarta, sangat kencang terasa bahkan saat turun dari kereta.
    santainya orang jogja dan kesederhanaannya sangat terasa saat kita turun di station tugu. monggo dennn…
    benar teman ?

  13. kok pengalamannya mirip? sampe di stasiun senen… jalan2 ke mol.. naek busway…
    bedanya dulu aku interpiu di sudirman dan lagi puasa.. jadi pengalaman saurnya di senen.. panas2 jalan kaki
    :d

  14. Mas sadurunge kenalke jenengku adhi.

    aku arep takon, opo isih podo kumpul2 opo ora yo?
    piye sih yen arep melu gabung. posisiku ning jakarta barat, yen isih podo kumpul2 biasane sesasi ping piro? trus pendak dino opo?

    sak derengipun maturnuwun.

    adhi

Comments are closed.