Sunrise Hunting di Puncak Suroloyo

Sunrise Hunting di Puncak Suroloyo

Ini adalah jengjeng wal ndoyok pertama saya di tahun 2008.

Kalo dulu saya pernah melakukan Sunset Hunting di Ratu Boko, kini giliran Sunrise Hunting yang saya lakukan.

Terdengar menyenangkan? ;))

Tentu saja! Apalagi demi mengejar sinar matahari pertama di awal tahun 2008, membutuhkan perjuangan yang cukup tolol berat. 😀

Seperti biasa, petualangan tolol tanpa rencana yang sering disebut dengan ndoyok ini terjadi begitu saja.

Berawal dari celetukan tolol Antobilang yang ingin merasakan sensasi beda dari sinar mentari pertama di tahun 2008, pas kumpul-kumpul bareng CahAndong pada malam pergantian tahun di Kafe Djambur.

Hoho, rupanya Anto punya bakat ndoyok juga! >:)

Dan ide tolol namun menyenangkan itu pun akhirnya terlaksana! Bersama Anto, Leksa, dan Gunawan, kami menuju Puncak Suroloyo malam-malam dengan motor demi melihat sunrise!

Doyoker Puncak Suroloyo

Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 2 dini hari. Meski belum pernah ke sana sebelumnya, kami melakukan aksi nekad hanya dengan bermodalkan secuil informasi rute.

Kami mengambil jalur Jalan Magelang – Pasar Muntilan – Kalibawang utuk menuju ke sana. Pada perempatan setelah Klenteng Hok An Kiong di Pasar Muntilan, kami berbelok ke kiri dan mengikuti jalan tersebut. Kemudian pada ujung pertigaan, kami berbelok ke kiri ke arah Wates / Sendang Sono dan masuk ke jalan raya Kalibawang.

Kami sempat kebablasan sekitar 4 km karena papan petunjuk yang ndak terlihat karena saking gelapnya. Hehe, dalam ndoyok, tersesat adalah fitur! Jadi, nikmati saja! :))

Untung saja ada seorang warga yang bisa kami temui untuk menunjukkan arah. Bayangkan, pukul 1 dini hari berjalan sendiri di hutan, ngapain itu orang ya? Jangan-jangan.. :-S

Dari jalan raya Kalibawang ini, menuju ke Puncak Suroloyo diperlukan perjuangan ekstra. Fisik dan kondisi kendaraan harus dalam kondisi prima karena jalan sempit dengan tanjakan sekitar 30°-45° plus kelokan tajam bangsat yang ndak terduga menuntut perhatian ekstra. Jarak dari jalan raya Kalibawang ke Puncak Suroloyo adalah sekitar 18 km.

Yang menegangkan dari perjalanan dini hari kami adalah kondisi jalan gelap, sepi, sedikit bergeronjal, dan sempit. Belum lagi rute naik-turun menyusuri tepian bukit yang bila ndak berhati-hati bisa tergelincir nyungsep ke jurang.

Mesin yang mengerang melenguh keenakan di posisi gigi perseneling 1 semakin membuat ketar-ketir. Untung saja Kaze sahabat saya itu sudah teruji ketangguhannya, meski saat itu motor tersebut dalam kondisi yang kurang fit.

Tuhan sepertinya masih mengasihani kami karena cuaca saat itu cukup cerah. Saya ndak bisa mbayangkan kalo misalnya hujan turun di tengah jalan ditambah motor kami mengalami masalah, entah ban bocor atau kehabisan bensin. :-S

Sekitar pukul 4 pagi kami sampai di Puncak Suroloyo. Puncak ini berupa gardu pandang yang untuk menuju ke sana kami harus menaiki anak tangga yang berjumlah sekitar 286 buah dengan sudut kemiringan yang sadis.

Begitu sampai di atas, rasanya perjuangan kami terbayar lunas dan ndak sia-sia. Pemandangan eksotis lampu kota Magelang di bawah begitu eksotis. Udara dingin langsung menusuk ketika kami tiba di puncak berketinggian sekitar 1.019 m di atas permukaan laut ini.

Pemandangan lampu kota Magelang di waktu malam

Ada 3 gardu pandang di kawasan ini, yaitu Suroloyo, Sariloyo, dan Kaendran. Namun yang paling terkenal dan paling tinggi adalah Puncak Suroloyo.

Secara administratif, Puncak Suroloyo terletak di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, DIY.

Di sebelah barat puncak Suroloyo ketika menuju ke Puncak Sariloyo di Tegal Kepanasan, kita akan menemukan tugu perbatasan propinsi Jawa Tengah dan DIY.

Lokasi gardu pandang ini rupanya cukup sempit. Ketika kami datang, ada serombongan anak muda yang mendirikan tenda dan berkemah di sana. Sayup-sayup terdengar azan Subuh dari bawah yang menggema karena terpantul dinding bukit.

Gardu pandang di Puncak Suroloyo

Karena minimnya air, kami pun melakukan sholat Subuh beralaskan jas hujan dengan sebelumnya bersuci dengan cara tayamum. Sungguh khusyuk rasanya karena suasana begitu hening dan syahdu. Inilah sholat Subuh pertamaku di tahun 2008!

Untuk menentukan arah kiblat, kami berpatokan pada terlihatnya Planet Venus (Bintang Fajar) di ufuk timur dan Planet Mars di ufuk barat karena rasi bintang sudah tidak terlihat seiring pagi yang menjelang.

Kedua planet ini terlihat seperti bintang namun memiliki sinar yang lebih terang. Planet Mars terlihat seperti bintang namun berwarna agak merah dan Planet Venus terlihat lebih kuning dan lebih terang daripada bintang biasa.

Menjelang sunrise, kami disuguhi pemandangan dan suasana yang luar biasa. Angin dingin kencang bertiup dari lembah ke bukit dan menyapu kabut dengan cepat.

Udara langsung menjadi semakin dingin dan terdengar suara bising menderu mengerikan akibat angin yang menerpa pepohonan bukit.

Untung saja ini hanyalah kabut. Saya ndak bisa membayangkan andai yang bergerak secepat ini adalah awan panas wedhus gembel seperti di Merapi itu. Hi, saya bergidik ngeri bercampur kedinginan.

Peristiwa ini langsung menyadarkan saya, betapa ndak berdayanya manusia ketika berhadapan dengan alam.

Manusia seringkali sombong dengan memperkosa alam. Ketika bencana terjadi, barulah manusia sadar dan sering menyalahkan alam. Padahal itu adalah ulahnya sendiri. Duh Gusti, ampuni dosa-dosa hamba-Mu ini. [-o<

Selain sarana tadabur alam, pemandangan ini ternyata mengasyikkan karena belum pernah kami lihat sebelumnya.

Dengan cepat kabut tersapu ke arah selatan dan perlahan Gunung Merapi, Merbabu, Sundoro, dan Sumbing muncul dari lautan kabut. Subhanallah! Luar biasa!

Kabut di Puncak Suroloyo

Semakin siang, pemandangan semakin nampak terlihat jelas. Sayang sekali, tebalnya kabut membuat kami ndak bisa melihat eksotisme mentari yang menyembul dari horison yang kami yakin begitu indah. Namun tak mengapa, pemandangan di atas sini cukup memuaskan kami.

Candi Borobudur pun nampak menyembul mungil di bawah menunjukkan betapa tingginya kami berada di atas. Kami agak kesulitan menemukan lokasi candi ini karena tebalnya kabut.

Borobudur nampak dari Puncak Suroloyo

Di sebelah utara kita akan melihat jelas gunung kembar Sumbing dan Sundoro. Di sebelah timur, Merapi dan Merbabu berdiri megah walau sedikit tertutup oleh bukit-bukit.

Pelangi yang muncul menghiasi puncak Sumbing yang saat itu tertutup awan putih tipis menambah syahdu suasana pagi kami. Wow, begitu indah dan dahsyat!

Belum lagi pemandangan eksotis bukit-bukit yang menyusun Barisan Bukit Menoreh ini membuat bukit ini layak dan sering disebut-sebut dalam cerita persilatan.

Berlama-lama di sini memang membuat kami enggan turun. Udara segar dan kicauan burung menambah suasana pagi kami bagai di surga. Kesempatan ini tentunya ndak kami sia-siakan demi mengambil gambar narsis. ;))

Narsis di Puncak Suroloyo

Konon puncak Suroloyo ini merupakan lokasi Raden Mas Rangsang alias Sultan Agung Hanyokrokusumo mencari wangsit sebelum berkuasa menjadi raja Mataram.

Mungkin karena inilah lokasi ini sering digunakan sebagai tempat melakukan ritual untuk mencari wangsit, terutama pada bulan Suro (Muharam).

Jika malam tahun baru Jawa 1 Suro tiba, bisa dipastikan tempat ini akan ramai karena adanya tradisi upacara jamasan pusaka desa setempat, pemberian Kraton Yogyakarta.

Pusaka tersebut adalah Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Kyai Manggolo Dewo yang disimpan oleh sesepuh Dusun Keceme.

Suasana mistis semakin terasa ketika kami menemukan sebuah arca Dewa Siwa yang berdiri di atas Nandini.

Arca yang merupakan pahatan baru (bukan peninggalan purbakala) ini mungkin digunakan untuk tempat sembahyang umat Hindu. Terbukti kami menemukan beberapa batang dupa menancap di sekitar arca ini.

Saya dan Arca Dewa Siwa

Menurut mitos yang beredar pula, Puncak Suroloyo merupakan pusat dari penjuru mata angin (kiblat pancering bumi) di Pulau Jawa. Puncak ini merupakan perpotongan dari garis imajiner bila ditarik dari utara-selatan dan barat-timur, alias perupakan titik pusatnya Pulau Jawa.

Puncak ini begitu indah dan layak dikunjungi, terutama bagi kita yang menyukai petualangan dan tantangan seru. Namun sayang, lokasi ini kurang dikelola dengan baik sehingga potensinya menjadi kurang tereksplorasi apalagi lokasinya cukup sulit untuk ditempuh.

Setelah puas menikmati eksotisme Puncak Suroloyo, kami pun pulang dengan kembali melahap jalanan laknat terkutuk itu yang ternyata pemandangannya cukup dahsyat juga. ;))

Sebelum pulang kami menyempatkan mampir ke kawasan wisata rohani umat Katholik, Sendang Sono. Tunggu postingan saya soal tempat ini. Silakan meluncur ke TKP. ;))

Kami memilih rute pulang yang berbeda dengan rute berangkat. Setelah sampai kembali di jalan raya Kalibawang, kami mengambil arah ke Wates menuju Sentolo kemudian berbelok ke jalan Godean dan kembali ke Yogyakarta. #:-S

Bila Anda ingin merasakan sensasi tersendiri untuk melihat sunrise, Puncak Suroloyo layak dijadikan pilihan. 🙂

Seperti biasa, Galeri Narsis saya bisa membuat Anda muntah-muntah. :))

Cerita perjalanan tolol dari doyoker trainee asuhan saya:

51 thoughts on “Sunrise Hunting di Puncak Suroloyo”

  1. aku pernah gak ya ke sana *lupa* yang jelas gak pernah jam 2 pagi 😀
    indah sekali yang mendengar azan shubuh di keheningan seperti itu -jadi kepingin-

  2. weksss….kalian lanjut kesana toh..saya padahal jam 1 udah teling2 mau nglanjutin acara, tapi kirain kalian udh pada bubar jalan 🙁

  3. Hmmm.. gak sia-sia ya.. *kagum ngeliat foto2nya.. bagusss-bagusss*
    hunting sunset udah biasa.. lha ini subuh2 hunting sunrise 🙂

  4. ah… lokasi wisata yg undiscovered..

    memang harusnya pas sunrise…
    kalo kesiangan berkabut,
    ngga bisa menikmati pemandangan dengan mantab,
    ntar gagal liat borobudur kayak saya, huikz.. :((

    btw, theme ijo, apikkk 😀

  5. Hhhhh, narsesnya itu loh. Pengen kesana, tp ogah kalo disuruh nanjak jam 2 pagi. Zam, maaf kayaknya aku lebih suka templatemu yg lama..hihihihi. ^^v

  6. @ Kang Hedi:

    halo, kang! sampeyan ndak baca dengan lengkap, ya? kan udah saya tulis, Puncak Suroloyo berada di ketinggian 1019 meter dpl. 🙂

    @ Rezco:

    saya juga mampir ke Sendang Sono kok, mas. 😀

  7. damn!!!

    pengen mrono jal,,
    tapi berhubung aku mbek temenku adalah petualang cewek yang masih tetap memikirkan kodrat kita,,yo gak mungkin tho..berangkat jam 2 pagi…fyewwwhh..

    digantung nang uwit po,,

    tapi tunggu saja,,postingan saya tentang suroloyo yang akan terpampang jelas di blog saya…hohoho,,,

    salut bro,,,

  8. weits,,,pelangi di sindoro sumbing????
    keren pasti,,sayangnya tidak kamu abadikan,,,

    aku wae buat nyari mana sindoro sumbing e susah kang,,,kabut e tebel banget,,,

    hemh,,,
    lagian kita naik tanpa persiapan,,hehehe,,,

    merasa bodoh pokoke…

  9. :d
    mass…mksh byk atas ptnjuk’y!!!
    berkat blog ini sya n tmn2 sya akhr’y bsa smpai jg k puncak suroloyo…
    kAMI jg m’lkukan “sunrise Hunting awal tahun di Puncak Suroloyo”…v beda’y mas tahun baru 2008…kami tahun baru 2009..!!!
    sungguh m’nakjub’kn pmndngan d sana…:)
    pukuk’y hr ini ga bkln trlupa’kn…
    karena prjlnn’y pun sngt menegangkan…sampai2 kami teresat d sebuah kuburan…hi.hi..seremmm!!!
    v akhr’y dg b’bkl sedikit panduan dr mass…kami akhr’y sampai d puncak suroloyo dg selamat…

    he.he..;)

  10. mas Jengjeng :d, salam kenal dulu ye. Ini pemandangan dari puncak Suroloyo nya apik tenan. Mo kesana jadinya di kunjungan ke Jogja berikutne. Susah gak kondisi jalannya kalo bawa mobil? Harus pake motor doang ya baru bisa?:d

  11. aku blom smpet2 ksini,,, tapi katanya tmpatnya masih bagus di gunung Nglanggeran gnung kdiul… kalo yg pernag datang ke ngalnggeran trus ke suroloyo,, akan terlihat biasa aja…

  12. Boleh tolong kasih penjelasan jalan menuju ke puncaknya ga, Bro???
    Kalo ada peta lebih baik lagi….
    Tolong kirim ke e-mail saya di ki85zz@yahoo.com.
    Terima kasih banget……

  13. Matur sembah nuwun sampon rawoh wonten gubuk kawulo,mugi2 pamiarso sanes saged kesengsem kaendahan suroloyo

Comments are closed.