Langgar Dhuwur Boharen, Kotagede

Langgar Dhuwur tampak belakang

Masyarakat Kotagede yang religius tercermin dari kehidupan sehari-hari mereka.

Nafas-nafas religi yang begitu kuat ini bisa dimaklumi karena Kotagede merupakan salah satu basis organisasi Muhammadiyah sejak dulu.

Masyarakat Jawa jaman dulu yang terkenal memegang teguh tradisi dan ajaran Kejawen yang banyak bernuansa klenik, di Kotagede justru banyak ditinggalkan dan banyak memegang nilai-nilai keagamaan.

Selain terlihat dari kehidupan sehari-hari, kereligiusan itu bahkan bisa terlihat dari corak dan fungsi beberapa bangunan tua yang ada di sini.

Banyaknya masjid, mushola, dan langgar yang berada di kawasan ini merupakan perkembangan yang cukup pesat. Konon dulu, masjid dan tempat ibadah seperti ini amat sangat sedikit.

Masjid hanya ada di lingkungan kraton yang tentunya kapasitasnya ndak mencukupi untuk menampung jamaah.

Maka kemunculan masjid, mushola, dan langgar kecil di seputaran kawasan ini tentu menjadi solusi untuk mengatasi ketidakmampuan Masjid Gede menampung jamaah.

Tentunya menelusuri keberadaan masjid, mushola, atau langgar tua di kawasan ini akan sangat menyenangkan.

Salah satu yang kami temukan adalah keberadaan Langgar Dhuwur yang berumur sangat tua dan langka.

Langgar Dhuwur sendiri merupakan bentuk bangunan yang ndak lazim terutama di dalam arsitektur rumah Jawa.

Langgar ini terdiri atas konstruksi kayu yang berada di atas bangunan tembok. Biasanya letak langgar ini berada di pekarangan rumah sebelah depan sisi barat.

Penempatan depan-barat rumah utama ini mempunyai maksud tertentu. Bagian depan dianggap merupakan bagian yang suci dan terhormat. Sedangkan barat tentunya menyesuaikan dengan arah kiblat.

Peletakkan langgar berada di atas (dhuwur dalam Bahasa Jawa) juga mempunyai maksud untuk meninggikan proses ibadah manusia kepada Tuhan Yang Maha Tinggi.

Keberadaan Langgar Dhuwur macam ini dulu cukup banyak. Pemilik Langgar Dhuwur ini biasanya orang-orang dari kalangan tertentu karena tentu saja ndak semua orang mampu membangun langgar ini.

Langgar Dhuwur tampak depan

Biasanya satu langgar ini digunakan oleh masyarakat satu kampung. Yah, digunakan bersama gitu deh.

Letak langgar-langgar ini melingkari Kraton dan Masjid Agung Mataram Kotagede.

Formasi ini konon kemudian diaplikasikan pada formasi masjid-masjid “pathok negara” yang mengelilingi Kraton dan Masjid Agung Yogyakarta.

Namun dari banyaknya langar-langgar ini hanya satu Langgar Dhuwur yang berhasil kami temukan. Itu pun saya dan Didit harus mengerahkan seluruh kemampuan ndoyok kami.

Dengan berbekal secuil informasi, kami pun mulai menyisir dan menjelajah tiap jengkal daerah di Kotagede.

Menyusuri lorong-lorong sempit bak labirin, dengan tetep istiqomah dan kaffah, akhirnya kami menemukan langgar ini di Kampung Boharen, Kotagede.

Terima kasih kepada warga Kotagede nan ramah yang dengan senang hati menawarkan bantuan begitu melihat tampang kami yang kebingungan karena tersesat.

La bayangkan, belum sempet kami bertanya, mereka malah bertanya duluan, “mau ke mana, mas?” atau “cari siapa, mas?”. :top

Kampung Boharen sendiri konon dulu merupakan tempat tinggal salah satu ulama terkenal bernama Kyai Buchari.

Nama Boharen muncul karena lidah orang Jawa yang agak melintir ketika menyebut “Buchari” menjadi “Bohari”. Nah, nama kampung pun berubah menjadi Boharen.

Langgar Dhuwur yang kami temukan berada di dalam perkarangan rumah keluarga Charis Zubair yang juga merupakan kantor sekretariat Pusat Studi Dokumentasi dan Pengembangan Budaya (PUSDOK) Kotagede.

Namun sayang, ketika kami ke sana, rumah tersebut sepi karena menurut tetangganya, Pak Charis sedang tidak di rumah, sehingga kami ndak bisa masuk ke dalam.

Melihat keadaan langgar ini, kami sangat takjub sekaligus prihatin. Kesan “angker” pun sempat terbersit karena mungkin kondisi fisik dari bangunan yang kurang terawat.

Alhamdulillah-nya lagi, langgar ini masih berdiri kokoh dan ndak roboh karena gempa 27 Mei dua tahun lalu.

Semoga saja peninggalan semacam ini masih dapat terawat dengan baik. 🙂

24 comments

  1. Masyarakat Jawa jaman dulu yang terkenal memegang teguh tradisi dan ajaran Kejawen yang banyak bernuansa klenik, di Kotagede justru banyak ditinggalkan dan banyak memegang nilai-nilai keagamaan.

    Hmm… Klo di bantul sekarang kyk gmana ya??
    Dah lama banget gak ksana… 🙁

  2. @ karmin:
    Sate Klathak ada di Pasar Imogiri. menyusuri Jalan Imogiri Timur ke selatan, sampai pasar. bukanya malam hari sampai tengah malam.

    kalo menurutku, ndak enak. la wong cuma daging kambing terus dibumbuni garam sama air bawang putih thok, terus dibakar.

    cuma uniknya satenya ditusuk pake ruji sepeda. penggunaan ruji ini konon untuk menghantarkan panas ke dalam serat-serat daging, sehingga walau ndak sampai gosong, itu daging bisa matang.

    tapi ya itu, rasanya hambar, asin, ndak jelas.. 😀

    biasanya dimakan bersama tongseng. Nek tongseng-nya menurutku ya kurang nendang. 😀

    oiya, ini porsi sate mahal pol. seporsi 7 rebu, dan seporsi itu isinya cuma 2 batang sate thok!

    nek ke Jogja saya anter, wis.. 😀

    eh, ini mbahas soal Kotagede, loh! 😉

    @ puty:
    untuk makanan silakan baca postingan sebelah. 😉

  3. belum bertanya udah di tanya duluan mau kemana atau cari siapa?
    hm… itu sih belum tentu ramah… bisa aja mereka pada curiga ;))

  4. bangunan model begini sudah hampir jarang dijumpai lagi, awakmu bener2 pancene niat ndoyok blusukkan kampung2, tak dongakno ndang duwe sponsor ben iso blusukkan nang pelosok indonesia ^^v

  5. wuichhh..
    bangunannya unik sekali y..
    seharusnya kudu dirawat lagi n bisa dijadikan bangunan kuno bersejarah ntar tuch

  6. zam, nang laweyan ono kui..langgar merdeka jadul bgt, karo mesjid makmur

    nek nang kauman kui yo ono langgar sememen..

    oh iya zam, knp kamu ga posting makam raja2 jawa juga sekalian…opo leluhur jawa.kan akeh iku nang jogja n solo

  7. Tapi jika anda ke Kotagede khususnya ke Makam Panembahan Senopati pada malam Jumat Kliwon atau Malam Selasa Kliwon, nanti banyak orang berziarah ke makam sambil aneh2x, ada yg bakar kemenyan ada yang mandi di sendang dll, tapi jika ini merupakan keyakinan mereka apa salahnya kita sedikit toleransi membiarkan mereka ‘beribadah’ seperti itu.

  8. Saya penasaran mau kemari, tapi berhubung kemarin mau hujan jadi ndak sempet blusukan lebih mendalam. Persisnya lokasi dimana ya Mas? Dari pasar ke arah mana?

Comments are closed.