Masjid Perak, Masjid Tertua Kedua di Kotagede

Masjid Perak, Kotagede

Selain Masjid Agung Kotagede, ada masjid tua lainnya yang berada di luar kompleks kraton Mataram Kotagede. Masjid ini adalah Masjid Perak.

Masjid ini mempunya cerita sejarah yang ndak kalah menarik untuk ditelusuri.

Latar belakang masyarakat Kotagede yang religius merupakan faktor utama mengapa masjid besar ini bisa berdiri.

Semangat “memberontak” pakem-pakem kraton yang kaku juga ikut melatarbelakangi pembangunan masjid ini.

Masjid Perak dapat ditemukan di Jalan Mandarakan, Prenggan, Kotagede. Masjid ini berada di dalam kompleks SMA Muhammadiyah.

Berawal pada tahun 1937, Kyai Amir dan H. Masyhudi beserta beberapa ulama membuat gagasan untuk membangun masjid baru.

Gagasan ini muncul karena daya tampung Masjid Gede yang sudah ndak mencukupi karena pertumbuhan umat Islam yang sangat pesat sejak tahun 1910 setelah berdirinya organisasi Muhammadiyah.

Selain secara fisik Masjid Gede yang ndak cukup untuk menampung jamaah sholat, khotbah Jumat ndak dapat terdengar dengan baik oleh para jamaah yang berada di luar masjid. Maklum, dulu kan ndak ada amplifier. 😀

Sekitar tahun 1926-1927, rupanya Muhammadiyah sudah mempersiapkan sebuah mimbar baru yang rencananya akan diletakkan di bagian tengah Masjid Gede untuk memudahkan jemaah mendengarkan khotbah.

Mimbar Masjid Perak

Namun rencana ini ditentang oleh para abdi dalem pengurus Masjid Gede.

Selain alasan tersebut, masalah birokrasi kraton yang bertele-tele ketika hendak menggunakan Masjid Gede untuk melakukan kegiatan juga menjadi latar belakang masyarakat ingin membangun masjid baru.

Pembangunan Masjid Perak pun dimulai awalnya tanpa organisasi resmi. Dengan kata lain, masjid ini dibangun oleh masyarakat Kotagede.

Warga kaya dan para pengusaha perak menyumbangkan harta dan uang. Sedangkan warga yang miskin menyumbangkan tenaga dan ketrampilan. Kaum wanita ikut berperan dalam pengumpulan dana.

Kyai Amir yang menjadi penggagas pun akhirnya didapuk menjadi ketua pengurus Masjid Perak.

Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1939 dan diresmikan pada tahun baru Hijriyah pada tahun 1940.

Jejak-jejak penanggalan ini dapat kita temui pada keempat tiang-tiang soko guru masjid yang menjadi ciri khas masjid-masjid tua di Jawa.

Pada soko guru timur-laut terdapat lempeng perak berukir angka “9-2-1940”. Pada soko guru sebelah barat-daya terdapat tulisan “1-1-1871 D”. Sedangkan pada soko guru sebelah tenggara dan barat-laut terdapat angka “1-1-1359 H”.

Mimbar yang awalnya hendak diletakkan di tengah-tengah Masjid Gede akhirnya diletakkan di masjid ini.

Inilah keunikan dari masjid ini. Mimbarnya dibuat terlebih dahulu jauh sebelum masjidnya berdiri. 😀

Penamaan Masjid Perak juga memiliki filosofi tersendiri. Selain karena sebagian besar penyumbang pembangunan masjid ini adalah para pengusaha perak, tetapi jaman itu perak sudah identik dengan Kotagede.

Konon kerajinan perak Kotagede sudah sangat termahsyur hingga ke Belanda dan Eropa sehingga perak menjadi suatu ikon dan identitas Kotagede.

Untuk mempertegas kesan perak, pada soko guru kayu berbentuk bulat ini dibebat dengan lempengan perak pada pangkalnya (bagian umpak).

Biasanya pada bagian ini pada masjid lainnya, lapisan yang digunakan adalah tembaga atau kuningan.

Selain itu, perak yang berwarna putih juga melambangkan kemurnian dan kesucian. Bisa juga berarti ketulusan dan keikhlasan manusia ketika menyerahkan diri kepada Sang Pencipta.

Jika kata “perak” ini dituliskan dengan huruf Arab, maka tulisannya berbunyi “firak”. Kata “firak” bila dilafalkan dalam Bahasa Jawa berbunyi “pirah” yang berarti “terpisah”.

Kata “terpisah” memiliki arti bahwa masjid ini terpisah dari kraton secara fisik dan juga bisa berarti mesjid yang bebas digunakan tanpa perlu melalui prosedur birokrasi.

Jika menelaah lebih jauh, makna “bebas” dari masjid ini juga bisa berarti membebaskan umat Islam dari kebodohan dan kejahiliyahan. Tsaahh.. :-j

Menjelajah lebih dalam, kami menemukan keunikan-keunikan yang ndak kami temukan di masjid-masjid lain.

Papan-papan tulis berwarna hitam yang penuh dengan tulisan tangan menggunakan kapur berisi doa-doa dan lirik lagu-lagu bernafaskan Islam menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan di masjid ini begitu kental.

Salah satunya, kami juga mendapati papan tulis yang berisi jadwal khotib Jumat yang ditulis dalam tulisan latin dan tulisan Arab. Mulai dari nama muadzin dan khotib hingga nama hari dan pasarannya!

Papan tulis berisi Jadwal Khotib Jumat

Bentuk atap limas bertumpuk masjid ini meniru Masjid Agung Demak yang menjadi ciri khas masjid tua Jawa selain penggunaan 4 buah soko guru di bagian tengah.

Namun sayang. Semenjak gempa 27 Mei 2006, masjid ini mengalami kerusakan yang cukup parah. Di beberapa sisi dan sudut nampak retakan-retakan yang besar dan membahayakan.

Namun ketika takmir masjid yang ada di sana kami tanyai, mereka mengaku belum memperbaiki masjid ini karena keterbatasan dana.

Mungkin ada dermawan yang hendak membantu? 😉

Update: Bangunan masjid ini sudah dirobohkan pada tanggal 15 Februari 2009. Sangat disayangkan. 🙁

39 thoughts on “Masjid Perak, Masjid Tertua Kedua di Kotagede”

  1. hmmm… saya ngga tahu kenapa kadang pemerintah lupa untuk merenovasi tempat2 yang penting dulu…

    tapi keknya bangunannya emang udah tua, jadinya rentan ya?

  2. Inilah keunikan dari masjid ini. Mimbarnya dibuat terlebih dahulu jauh sebelum masjidnya berdiri. 😀

    kebanyakan mesjid2 tua Indonesia dibangun seperti ini ..
    kalo ga mimbar nya dulu, ya kubahnya, atau ukiran sokoguru nya 😀

  3. sebenar yang seperti ini sangat menggambarkan budaya Indonesia. Saya koq malah nggak tertarik model mesjid yang kubah kubah dan menara mencomot budaya timur tengah.

  4. […] Namun ketika takmir masjid yang ada di sana kami tanyai, mereka mengaku belum memperbaiki masjid ini karena keterbatasan dana. […]

    *lapor camat kota gede*

  5. Zam.., sori rodo ra nyambung ki..
    Piye carane nggabung CahAndong?
    Kok ra ono form daftar ngono nang situs e?

    Terus milis e saiki mung nerimo invite tok.. Piye jal?

  6. aq kangen suasana kotagede sebelum gempa
    andai aq dapat mengunakan mesin waktu.
    😕 aq mau kembali ke jaman dahulu u/ menikmati karya anak kotagede yg udah hilang…
    tapi semua itu tinggal kenangan aja…

  7. Ngertiku, dulu SMA Muhammadiyah 4 yang berada di Kompleks Masjid Perak. Sekarang sudah gantian, to?

  8. Setuju mas, Yogyakarta memang menyimpan sejuta rahasia, kota yang dijuluki kota pelajar dan kebudayaan ini memiliki sejarah yang panjang dari setiap karyanya. Mulai dari candi prambanan peninggalan hindu-jawa, sampai mesjid Agung di alun-alun keraton. Pakem-pakem yang ada pada setiap motif batik jogja juga punya ceritanya sendiri. Atau gerabah kasongan yang sudah terkenal sampai mancanegara juga berada di jogjakarta. Atau hanya sekedar bersenda gurau bersama teman seperjuangan, sambil menikmati jalan-jalan yang ada. Nikmatilah senyum eksotis jogjakarta dalam segala kesederhanaannya. Salam kenal..

  9. assalaamu’alaikum,
    ada yang tau ngga? Masjid Kotagede boleh dipinjem buat akad nikah ngga ya?
    Kalau bisa, gimana prosedurnya and apa yang mesti disiapkan?
    Thanxs for the info yah…
    Makasih

  10. ^:)^ thx info na . . klo yg sejarah masjid mataram ada ga ?!buad tgaz nii o:-) . . 😉 thx

Comments are closed.