JengJeng dan JalanJalan di Solo

Zam JengJeng dan Ina JalanJalan

Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya.

Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu?

Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa.

“Halo, ini bener Zam? Saya Ina dari Majalah JalanJalan, temennya Gita Aprikot. Kira-kira kamu bisa bantu saya?”

Rupanya Ina membutuhkan beberapa informasi mengenai Solo yang akan dia tulis di majalahnya edisi mendatang.

“Wah, kebetulan”, pikir saya. Sudah lama saya ndak keluyuran di Solo karena ndak ada temen jalan. Saya pun menawarkan diri untuk menemani kalo dia bener datang ke Solo.

Selama 3 hari 2 malam, saya dan Ina melakukan penjelajahan di Solo. Yang membuat saya sedikit malu, rupanya cukup banyak tempat menarik yang ada di Solo yang ndak saya ketahui.

Ternyata cukup menyenangkan juga bertemu dengan wartawan traveling macam Ina. Saya mendapat banyak sekali cerita dan pengalaman dia ketika ia berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia dan dunia.

Saya langsung iri dengan kerjaan dia yang isinya ngeluyur ke tempat-tempat macam itu. Pengeeen!!! =p~

Laksana kopdar bloger pertama kali, saya langsung bisa akrab sama dia. Orangnya yang rame dan doyan bercerita membuat saya merasa nyaman dan “klik” jalan bareng dia.

Selain itu, Ina juga bukan tipe traveler pemilih. Saya ajak ndoyok pun dia setuju. What a nice travelmate! 😉

Saya banyak sekali mendapat pengetahuan, informasi, serta tips-tips dari Ina tentang traveling. Mulai dari yang nggembel (backpacking) hingga yang level mid-to-top traveling.

Kebetulan tugas dia di Solo adalah mengupas beberapa tempat yang termasuk level mid-to-top traveling destination. Ini adalah ranah yang belum pernah saya coba karena tentunya keterbatasan finansial. :))

Namun di luar tugas peliputan, dia justru mengajak saya untuk ndoyok. Hoho.. You got a right person, Na! 😉

Ina rencananya datang bersama fotografernya, seorang Belanda yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, Jan Dekker. Namun tiba-tiba fotografernya ndak bisa datang karena sakit.

Saya pun diminta sama Ina untuk jadi fotografernya selama liputan. Wah! Suatu kehormatan.

Maka jadilah saya menjadi fotografer sok-tau dan banyak nggaya karena memang saya ndak bakat jadi fotografer. Bakat saya kan sebenernya fotomodel! b-)

Lucunya, biasanya fotografer kan pake kamera SLR gitu, dengan segudang peralatan mulai dari tripod hingga lampu-lampu, la modal saya cuma kamera poket pinjaman. :))

Ndak tau deh apakah foto-foto hasil jepretan saya itu layak cetak di majalah yang mengusung tema “travel in style” dan “style in travel” itu. ;))

Our first destination adalah sebuah resto dan guesthouse yang sangat cantik bernama Roemahkoe, yang terletak di Jl. Dr. Rajiman 501, Laweyan, Solo.

Bangunan ini dibangun paa tahun 1938 bergaya “art deco” yang dulunya milik seorang saudagar batik.

Terang saja, dari belakang bangunan ini, ada sebuah pintu tembus ke Kampung Batik Laweyan.

Arsitektur Jawa yang berpadu Eropa begitu memukau saya yang suka melihat bangunan-bangunan tua.

Belum lagi interiornya yang khas Jawa berpadu dengan foto-foto jadul jaman Belanda.

Di restonya, saya bertugas memfoto dan mencicipi beberapa menu unggulan dari resto ini. Hohoho! >:)

Roemahkoe

Salah satu menu yang diunggulkan di resto ini adalah Lodoh Pindang yang konon merupakan makanan favorit Sri Sultan Pakubuwana X.

Untuk minuman, Pak Bondan Winarno pas acara Wisata Kuliner pernah mencoba Es Cemol yang jahenya berasa sangat nendang!

Tapi maafken, beberapa foto ndak bisa saya share di sini. 😀

Habis dari Roemahkoe, Ina ngajakin ke kebun binatang. Motor Kaze pun saya arahkan ke Taman Satwa Taru Jurug yang berada di pinggir kali Bengawan Solo.

Hohoh.. Terakhir kali saya ke sini, kalo ndak salah pas TK. Sepertinya menarik juga menengok kerabat kondisi satwa di kebun binatang ini.

Setelah berputar dan melihat-lihat koleksi satwa di kebun binatang yang pengelolaannya kini dipegang pihak swasta ini, saya miris dan sedih.

Lepaskan saja semua binatang ini dan kembalikan ke habitatnya! X(

Saya sedikit emosi, sedih, dan hanya bisa mengelus dada melihat kondisi satwa yang mengenaskan.

Awas Binatang Buas

Malamnya saya mengajak Ina untuk mencicipi hidangan khas Solo, Nasi Liwet, di kawasan Keprabon.

Melalui Ina yang melakukan interview terhadap si penjual, saya baru tau kalo penjual Nasi Liwet di kawasan ini rupanya masih satu keluarga, keluarga Bu Wongso.

Pantes saja banyak warung yang menggunakan merk “Nasi Liwet Bu Wongso Lemu”. :))

Dan uniknya, para penjual Nasi Liwet ini berasal dari daerah Baki, Sukoharjo. ;))

Warung Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Keprabon

Tujuan kami esok harinya adalah ke Museum Batik Kuno Danar Hadi. Saya sendiri baru tau kalo ada museum ini ya dari si Ina.

Padahal museum ini bener-bener keren dan patoet dipoedjiken!

Museum ini menyimpan berbagai kain batik kuno koleksi Bapak Santoso Dullah, pemilik Danar Hadi.

Melihat-lihat koleksi batik dan mendengar penjelasan Asisten Manager museum ini, Bu Asti, semakin menguatkan bahwa batik sebenernya berawal dari Jawa.

Bahkan batik Pekalongan, batik Madura, hingga batik-batik Sumatra, semuanya berakar dari batik yang ada di Jawa, terutama dari masa kerajaan Pajang dan Mataram.

Batik rupanya juga menyerap berbagai kebudayaan yang masuk di masanya yang kemudian tertuang di dalam motifnya.

Ada motif Jawa Hokokai yang mendapat pengaruh Jepang, ada batik yang terpengaruh gaya Eropa, India, Cina, dan Arab.

Selain dari motif, daerah asal batik juga dapat dilihat dari warna yang mendominasi.

Warna coklat merupakan warna khas kraton, warna biru adalah warna batik khas daerah pesisir utara yang terpengaruh warna laut, warna merah yang terpengaruh kebudayaan Cina, dan lain-lain.

Ada juga motif batik pagi-sore di mana satu kain bisa dipakai 2 kali dengan motif berbeda. Juga batik yang untuk mewarnainya harus dibawa ke 3 tempat.

Segala hal mengenai batik sangat lengkap di museum ini.

Membuat batik tulis

Selain itu, pengunjung juga bisa melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis dan batik cap yang ada di lingkungan pabrik batik Danar Hadi.

Museum ini terletak di Jl. Slamet Riyadi, berada di seberang hotel Novotel Solo di samping Toko Sami Luwes. 😀

Selama di dalam museum, pengunjung dilarang mengambil gambar. Tapi ketika di pabrik, pengunjung diperbolehkan mengambil gambar.

Tapi karena saat itu saya “bertugas” maka saya pun boleh jeprat-jepret mengambil gambar suasana museum. ;))

Berlanjut perjalanan kami menelusuri segala hal tentang batik, kami pun menuju ke Kampung Batik Laweyan.

Secara umum, kampung batik ini rupanya lebih dulu ada jauh sebelum Kraton Surakarta ada.

Motif batik dari kampung ini lebih bervariatif dan cenderung mengikuti pasar daripada motif batik kraton yang mempunyai makna filosofi dan pakem-pakem tertentu.

Tata kota kampung dan bentuk bangunan di wilayah ini ini pun mengingatkan saya pada tata kota dan bangunan di Kotagede yang rupanya mempunyai alur sejarah yang saling bertautan.

Selain Laweyan, ada sebuah kampung batik lain di Solo, yaitu Kampung Batik Kauman yang lebih condong ke pemenuhan kebutuhan kraton.

Salah satu sudut di Kampung Batik Laweyan

Untuk Kampung Batik Laweyan ini, insya Allah akan sudah saya tulis di postingan terpisah. 😉

Agenda hari berikutnya, kami mengunjungi Kraton Kasunana Surakarta dan Istana Mangkunegaran.

Di Kraton Kasunanan, ndak banyak yang membuat saya tertarik.

Apalagi bapak abdi dalem yang menjadi guide kami saat itu menurut perasaan si Ina, kemungkinan dia naksir saya! 😮

Oh mai gat! Tidaaakkk!!! :-SS

Ina malah semakin menjadi dengan menggoda saya karena itu bapak dengan agresifnya menyerang saya. Kadal njengking, kecoak bunting!!

Istana Mangkunegaran menjadi pengalaman terbaru saya. Jujur, selama saya besar dan tinggal di Solo, saya belum pernah mengunjungi tempat ini. :”>

Mangkunegara berpangkat setara adipati dari Kraton Kasunanan. Di Jogja, jabatan ini setara dengan Pakualam.

Mangkunegara sendiri lebih berfungsi semacam panglima perang, sehingga pantas saja kalo di sekitar istana ini ada banyak lapangan yang memang diperuntukkan untuk latihan berperang.

Bangunan istana ini menurut saya lebih bagus dan lebih terawat. Apalagi beberapa hari sebelumnya kraton ini mengadakan upacara Wilujengan Jumenengan KGPAA Mangkunegara IX ke-20.

Bersama Pak Budi sang guide, kami diajak berkeliling ke beberapa ruang di Istana Mangkunegaran ini.

di Istana Mangkunegaran

Di suatu ruangan kami melihat sebuah benda anti-selingkuh yang dipasang pada alat kelamin pria dan wanita yang kemudian dikunci dengan ritual khusus.

Bentuk pengaman untuk pria ini seperti kondom namun terbuat dari emas dan berujung terbuka mirip kelopak bunga tapi tajam.

Sedangkan pengaman untuk wanita berbentuk lempeng emas berbentuk V berukir yang ada lubang khusus untuk keluarnya air kencing. ;))

Maaf banget karena selama di ruangan ini, pengunjung ndak diperbolehkan mengambil gambar. ;))

Setelah lelah mengelilingi Mangkunegaran, kami pun menikmati hidangan khas Solo lainnya, Sate Kere!

Penjual Sate Kere di Mangkunegaran

Sate kere adalah sate yang bahannya terdiri atas tempe gembus, tempe bacem, jeroan, kikil, dengan bumbu kacang, kecap, dan cabe yang puedes. 😀

Yang unik, kami menikmati sate ini masih di dalam kawasan Istana Mangkunegaran.

Kami bertemu dengan sepasang suami-istri orang asing yang merupakan traveler.

Awalnya mereka hendak memesan sate seperti yang kami makan dan dari situlah obrolan pun berkembang.

Sang wanita yang kami sangka awalnya orang Indonesia rupanya berasal dari Filipina. :))

Saya cuma ndomblong mendengarkan si Ina sama ini cewek Filipina ketika saling bercerita tentang pengalaman traveling mereka masing-masing. =p~

Melihat pasangan ini saya jadi iri dan pengen. Betapa bahagianya mereka bisa traveling dan ndoyok ke berbagai tempat di dunia bersama.

Yang saya pikirkan, mereka ini dapet duit dari mana? Lalu gimana dengan kerjaan mereka? Hampir setiap kehidupannya mereka menghabiskan waktu di berbagai tempat menarik.

Sedangkan saya? Mburuh sampai njengking pun pendapatan selalu habis buat menyambung hidup dan mbayar utang.

Duh Gusti, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini.. [-o<

Berkenalan dengan orang seperti Ina dan pasangan traveler itu, membuat saya malu.

Pengalaman perjalanan saya ini ndak ada apa-apanya dibanding mereka. Petualangan saya yang ndak mutu ini sepertinya kok ndak layak dibanggakan.

Ah, saya sendiri pun tersadar. Sebagai amateur traveler, rasanya saya masih perlu menimba banyak pengalaman dan menentukan jati diri traveling saya.

Mengenal wartawan seperti Ina, membuat saya mengerti bagaimana cara mencari informasi tentang tempat-tempat yang layak liput atau ndak.

Selain itu, berbagai cerita di belakang layar acara petualangan yang muncul di tivi itu rupanya sangat menarik.

Maklum saja, Ina juga mengenal beberapa host acara traveling di beberapa acara tivi. Kadang para presenter itu harus berakting di depan kamera ketika harus membawakan acara.

Ina pernah bercerita, saat pembuatan suatu acara traveling, si presenter disyuting dengan menceburkan diri ke dalam laut ketika meliput keindahan bawah laut padahal itu presenter sama sekali ndak bisa berenang! :))

Mendengar ceritanya saja semakin membuat saya ngiri. :banghead

Duh Gusti, apakah saya harus berpindah jalur dari kerjaan mburuh saya ini ke dunia yang sama sekali buta bagi saya itu? [-o<

Selain itu, saya juga merasakan betapa susahnya jadi fotografer. Pantes saja si Didit yang biasanya jadi fotografer saya itu kadang misuh-misuh karena ndak bisa ikut bernarsis ria. :))

Ah, namun saya yakin. Setiap orang pasti punya jalur rejekinya masing-masing. 😉

Makasih banget, Ina Hapsari, atas semua cerita dan pengalaman serta pengaruh jahat travelingmu yang telah elo tularkan. >:)

It’s nice to have a travel mate like you! 😉

I hope I’ll go to the destination you’ve recommended soon! 8->

53 thoughts on “JengJeng dan JalanJalan di Solo”

  1. eh soal kebun binatang, sepertinya tarif masuk kebun binatang harus dimahalkan deh, biar satwa2 itu dapat perawatan yang istimewa, dan kalo bisa gaji pegawainya juga dinaikkan, biar ga ikut makan rumputnya menjangan, dagingnya macan, dan pisangnya monyet.. 🙁

    an pemerintah pun sucks! lebih senang memelihara hewan buas di senayan….

  2. yang perlu dipertanyakan selama 3 hari 2 malam sama Ina, kamu diajak ngereview hotel mana Zam? *digaplok Zam pake batu candi*

    btw, kalo kopdar sama cewek, kok kamu ndak kabar2i saya? *injek2 zam*

  3. wah mas brewok, bagus bener postingannya.. ya ikut doain yang baik aja buat kelanjutan sama mbak nya itu dan masa depan ndoyok itu.

    saya tunggu postingan kampung saya itu, kampung laweyan

    hidup brewok !!

  4. heeeeehhhhh… ndoyoker!!!! knapa ak ko ga diajak…. solo kan wilayahku!!! [-( pengangguran ki…. itung2 ksi kerjaan ke ak. btw kampoeng batik laweyan tu yang ngurusi dosen favoritku tau ga, pak Alpha Febela. n aku jg prnah disuruh nguli siteplan tu kampoeng u/ pengembangannya ke depan tapi cman jalanny aja si….. zam…ak juga mau punya profesi ky mbk Ina itu :d^^v

  5. :x:x:x

    solo emang tok cer..mas pas di kandang binatang buas kok cempluk gak lihat hewan nya ?? atao jangan jangan lagi keluar ke kamar mandi..:d

  6. Bentuk pengaman untuk pria ini seperti kondom namun terbuat dari emas dan berujung terbuka mirip kelopak bunga tapi tajam.

    Sedangkan pengaman untuk wanita berbentuk lempeng emas berbentuk V berukir yang ada lubang khusus untuk keluarnya air kencing

    –>bah benda antiselingkuh apa pulak 😛

  7. Favoritku juga foto yang ketiga :d ternyata ada abdi dalem yang hombreng juga ya? Gpp Zam, setidaknya msh ada yg tertarik… *kabur*

  8. modiaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!! ono sek arep sebar-sebar undangan ik. horeee!!!
    mangan-mangaaaaaann!!
    btw, ron. apa bedanya sate kere di mangkunegaran dgn sate kere di beringharjo. tell me..

  9. @ eudea:

    Sate Kere Solo itu terdiri atas tempe gembus, jeroan, tempe bacem, dan kikil. beda sama Sate Kere Jogja yang isinya hanya jeroan. 😀

    bumbunya juga beda. Sate Kere Solo menggunakan bumbu sambel kacang encer. 😀

  10. @roni
    ron..ron.. sepertinya ini pernah kita bahas. kenapa sate kere solo berbeda dari jogja ? mana yang lebih dulu ada ? kalo sate kere solo yg duluan ada, kenapa sampe di jogja tempe gembus, tempe bacem dan kikilnya hilang ? apakah digrogoti sama kurirnya ?
    atokah jika sate kere jogja yang duluan ada, kenapa sampai solo terus jadi lebih kaya dengan tempe gembus, tempe bacem dan kikil ? apakah kurir pembawa sate itu kreatip sehingga berani memberikan sentuhan khusus pada salah satu masterpiece ini ?
    piye hayo ?

  11. next time kalo ke solo, coba mampir makan di ilalang resto, alamatnya di jalan raya solo baru 20, sukoharjo. spesialnya iga dan udang bakar, enak tuenan.. and murah lho..tastenya itu beda ma lain tempat, tanpa vetsin lagi (g bikin tenggorokan gue gatal, karena gue sensi ma vetsin bisa ampe radang n kepala cekot-cekot) dari luar emang keliatan rada gelap tapi dalamnya luas, nyaman and ada tamannya juga(ngga dinyana)..cobain aja, ntar ketagihan..!
    awalnya sig karena nyasar makanya gue bisa makan di sana, habis tempatnya belum lama buka jadi belum banyak yang tau. tapi ngga nyesel, ok coy!:((

  12. weleh gambarnya salah.. harusnya ketawa, sori salah pilih yang nangis haha..atau emang gue nangis ya lantaran kangen banget ma iganya, di jakarta aja ngga ada yang kaya gt, apalagi di surabaya kotaku hik hik.. sapa punya modal, join ma aku beli franchisenya ye..sapa tau dijual hehe..^^v

  13. Betul ya kata teman2 kalo makanan ini enak2 :
    gudeg adem ayem di jl. slamet riayadi

    ayam goreng widuran di jl. widuran

    timlo sastro di belakang pasar besar
    serabi jl notosuman…

Comments are closed.