Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan

Salah satu sudut Kampung Laweyan

Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu.

Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan.

Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya.

Konon Kampung Laweyan sudah ada sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Pajang.

Daerah Laweyan dulu banyak ditumbuhi pohon kapas dan merupakan sentra industri benang yang kemudian berkembang menjadi sentra industri kain tenun dan bahan pakaian.

Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian ini sering disebut dengan Lawe, sehingga daerah ini kemudian disebut dengan Laweyan.

Industri dan perdagangan di Laweyan semakin berkembang semenjak digunakannya Kali Kabangan sebagai jalur transportasi dari dan menuju Kerajaan Pajang.

Jembatan yang melintas di atas Kali Kabangan

Dari kampung ini pula, hidup seorang tokoh yang konon akan menurunkan raja-raja Mataram Islam.

Tokoh ini adalah Kyai Ageng Henis yang merupakan keturunan Brawijaya V yang kemudian mempunyai keturunan Ki Ageng Pemanahan yang mendirikan Kerajaan Mataram di Kotagede.

Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kerajaan Pajang, Kyai Ageng Henis pun kemudian masuk Islam.

Kyai Ageng Henis bersama Sunan Kalijaga kemudian menyebarkan agama Islam di kawasan Laweyan.

Seorang tokoh yang amat disegani saat itu atas pengaruh Kyai Ageng Henis akhirnya juga masuk Islam. Beliau adalah Kyai Ageng Beluk.

Setelah masuk Islam, Kyai Ageng Beluk kemudian mengubah sanggarnya menjadi sebuah masjid untuk menunjang dakwahnya.

Masjid ini lah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 Masehi.

Agama Islam pun menyebar dengan sangat pesat di Laweyan.

Masjid Laweyan

Batik sendiri awalnya diperkenalkan oleh Kyai Ageng Henis yang memang menyukai kesenian.

Selain menyebarkan agama, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat bagaimana cara membuat batik.

Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun berubah menjadi produsen batik.

Karena letaknya yang strategis, Laweyan pun menjadi salah satu kota perdagangan yang maju.

Sebagai kota perdagangan, dibangunlah sebuah bandar (pelabuhan) yang berada di sisi selatan kampung dan di sebelah timur masjid di pinggir Kali Kabangan. Namun peninggalan bandar ini sudah ndak dapat ditemukan lagi.

Ndak heran kalo di Laweyan banyak terdapat saudagar batik yang kaya.

Kehidupan masyarakat di Laweyan ini dapat kita lihat dari bentuk-bentuk bangunan yang ada.

Setiap rumah saudagar biasanya dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi. Tujuannya adalah saat itu demi alasan keamanan.

Namun walau setiap rumah dibatasi dengan tembok, antar rumah terdapat pintu yang menghubungkan rumah satu dengan yang lainnya sehingga silaturahmi tetap terjaga.

Konon di beberapa rumah juga terdapat lorong bawah tanah dan bunker yang berfungsi untuk mengungsi bila terjadi serangan.

Lorong di antara tembok-tembok tinggi di Laweyan

Sekilas, bentuk-bentuk bangunan rumah yang dikelilingi oleh tembok ini mengingatkan saya akan Kotagede.

Terang saja, tata kota Kotagede terinspirasi oleh tata kota di Laweyan karena Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan banyak menghabiskan masa kecilnya di kampung ini.

Bila melacak kembali, sebuah tugu yang ada di pusat kawasan ini dulunya adalah pasar. Namun pasar ini sudah ndak ditemukan lagi.

Panembahan Senopati semasa kecil tinggal di kawasan sebelah utara pasar. Rumah Panembahan Senopati ketika berada di Kotagede pun berada di sebelah utara pasar. Karena inilah ia dijuluki Raden Ngabehi Loring Pasar.

Ketika Kerajaan Mataram pindah ke desa Sala yang kemudian berubah nama menjadi Kraton Surakarta, Laweyan tetap merasa sebagai daerah merdeka yang ndak ingin tunduk kepada kraton.

Ini dikarenakan para saudagar merasa mereka sudah kaya dan mampu hidup tanpa perlu bergabung dengan daerah kekuasaan kraton.

Bisa jadi perlawanan ini juga dikarenakan kraton saat itu begitu dekat pihak Belanda, padahal para saudagar batik yang ada di kawasan ini semuanya adalah saudagar muslim bumiputra.

Sikap ini nampak dari bentuk-bentuk motif batik yang ndak mengikuti pakem-pakem motif seperti motif-motif batik kraton.

Ketika masa penjajahan Belanda, pada tahun 1905 muncullah organisasi Serikat Dagang Islam yang diprakarsai oleh K.H. Samanhudi, salah satu saudagar batik.

Tujuan didirikannya SDI saat itu sebenernya untuk menyatukan para saudagar batik muslim bumiputra yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di dalam kraton.

Rumah K.H. Samanhudi masih ada dan dapat kita temukan di kawasan ini.

Atas jasa-jasa dari K.H. Samanhudi, Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk K.H. Samanhudi yang sampai sekarang masih digunakan oleh cucu dan keturunan K.H. Samanhudi.

Rumah pemberian Presiden Soekarno kepada K.H. Samanhudi

Bentuk bangunan di kawasan tengah dan utara Laweyan kebanyakan membentuk “jalan mati”, di mana jalan ini terkesan sepi karena berada di antara tembok-tembok rumah yang saling membelakangi.

Sedangkan kawasan di daerah selatan yang dekat dengan Kali Kabangan rumahnya cenderung terbuka dan membentuk “jalan hidup” di mana pintu-pintu bagian depan rumah saling berhadap-hadapan sehingga memungkinkan interaksi.

Rumah-rumah di kawasan tengah dan utara didiami oleh para saudagar sedangkan berada di selatan didiami oleh para pekerja batik.

Dulu banyak sekali jalan-jalan yang melintang dari utara ke selatan menuju ke Kali Kabangan. Jalan ini dinamakan “jalan servis” yang berfungsi untuk membawa kain batik setengah jadi untuk dicuci di Kali Kabangan.

Jaman dulu air di kali ini begitu bersih sehingga masih layak digunakan untuk mencuci. Selain itu, bahan pewarna batik jaman dulu itu terbuat dari bahan alami sehingga ndak membahayakan alam.

Industri batik tulis dan cap di Laweyan sempat kolaps ketika masuknya batik-batik sablon.

Proses pembuatan batik yang lebih cepat dan massal membuat harga batik sablon menjadi murah. Tentu saja ini menghantam industri batik tulis dan cap yang ada di Laweyan.

Belum lagi ekspansi bisnis yang dilakukan oleh para pedagang Cina yang saat itu memang mencoba menguasai area Laweyan.

Selama hampir beberapa generasi pembatik di Laweyan gulung tikar. Bisnis batik di Laweyan yang dilakukan secara turun temurun pun terputus.

Para pemuda Laweyan justru banyak yang keluar dari area dan mencoba peruntungan di luar Laweyan. Bukan begitu, Kang Bal? ;))

Namun pada tahun 2000-an industri batik Laweyan pun kembali bangkit. Apalagi semenjak dibentuknya forum Kampung Batik Laweyan mencoba mengangkat kembali potensi wisata kampung cagar budaya ini.

Jika dulu para pengusaha batik hanya menjadi produsen dan suplier, kini mereka juga membuka showroom-showroom di rumahnya masing-masing.

Kita bisa berkeliling menyusuri lorong-lorong Laweyan dan blusukan masuk ke rumah-rumah saudagar batik untuk melihat dengan lebih dekat proses pembuatan batik.

Mengintip aktivitas pembatik di Laweyan

Waktu yang dianjurkan untuk melihat aktivitas di kampung ini adalah pagi hari. Mulai dari pembuatan, pencelupan, hingga penjemuran kain-kain batik dapat kita lihat hingga tengah hari.

56 thoughts on “Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan”

  1. :d/ yey kampung saya tuh..dan sekedar melengkapi

    1. Rumah disana besar-besar dan tinggi itu selain alasan keamanan juga alesan perut. Para juragan yang biasa disebut mbok mas’e solo ga mau kalo racikan batik atau corak batiknya diliat orang lain. Dalam satu rumah itu biasanya juga buat pabrik batik juga mulai dari proses nulis batik, nyanting, sampe nyetrika batik. Dan dihalaman belakang rumah biasanya buat kandang kuda. Masih ada loh sampe sekarang.

    2. Disebut Mbok mas’e karena dulu Juragan batik laweyan itu kaya-kaya. Konon dulu kalo balapan kuda dimangkunegaran, kuda milik raja solo pun kalah bagus.

    3. RALAT !! pemuda laweyan sampe hari ini masih banyak yang meneruskan usaha keluarga, tapi banyak pula yang ndlongop karena kebiasaan jadi anak juragan. Keluar dari daerah itu bukan karena gulung tikar tapi memang expansi usaha :))

    4. Benar, dulu disana ada bandar buat merapat perahu. Tidak jauh dari jembatan itu ada patilasan palenggahan joko tingkir, katanya dulu suka janjian sama nyi roro kidul.

    5. Sentra laweyan itu di jl.sidoluhur sekarang sudah jadi kampung batik

    6. Oh ya jalan sempit itu memang sengaja dibuat begitu, biar ndak ada maling. Dulu disana ada sistem keamanan baik. Bila ada maling masuk, satu kampung lampu dipadam kan. Maling yang hendak lari biasanya nabrak tembok sempit-sempit itu tau-tau klenger

    7. Ada yang terlupa zam, masjid makmoer dan langgar merdeka itu yang belum terphoto.

    Suwun ya Mas Brewok !!!

  2. @ Balibul:

    benar. memang setiap juragan batik mempunyai pola dan motif mereka masing-masing. keamanan di sini selain dari pihak Belanda juga dari para perampok
    ada sebutan “gelar” yang sengaja dibuat oleh masyarakat Laweyan untuk “menandingi” gelar-gelar dari kraton. ini memang salah satu bentuk “perlawanan” masyarakat Laweyan terhadap kraton. salah satu “gelar” ini adalah “mbok mase”.
    salah satu penyebab adalah falsafah orang Jawa yang berpikiran, “biar yang susah saya saja, anak keturunan saya dapet enaknya saja”. ini yang menyebabkan putra-putri juragan batik ndak bisa meneruskan usaha keluarga karena memang ndak terlatih untuk “bersusah-susah”.
    ya, ada petilasan itu juga.
    thanks informasinya
    menarik. makasih infonya
    hehe. belum sempet jeng-jeng ke sana

  3. moco tulisan di blog sampean enake bengi2 mas. Soale dowo2 & jero banget. :d

    Aku baru ngerti nek batik kuwi dikenalno pertama ambe’ Kyai Ageng Henis. Lha batik sing ning Negeri Jiran kuwi dikenalno sopo yo?

  4. hehhh cah elek Aku kenal putu-ne K. H. Samanhudi leeennnn…. Foto2mu Edisi iki elek2, Ra cetho Koyo Wonge!!! Ayo Jeng2 Aku nganggur!!!!

  5. @ Evan:

    percaya atau tidak, justru batik-batik Malaysia itu disuplai dari Indonesia. para produsen batik di Laweyan ini ada yang mengirimkan batiknya ke Malaysia.

    mereka (juragan batik ini) mengaku ndak khawatir soal klaim Malaysia karena Malaysia itu ndak punya sumber daya manusia yang bisa membatik, kecuali kalo para pembatik itu di-ekspor juga ke Malaysia.

    motif batik Malaysia juga ndak ada apa-apanya bila dibanding dengan motif batik Indonesia. motif mereka hanya kembang-kembang kecil di atas kain polos. kain ini pun diproduksi juga di Malaysia dan mereka cuma “ngasih label”.

    yang dipatenkan itu pun ya motif batik mereka yang ndak mutu itu. kalo pun mereka mengklaim motif batik itu punya mereka, kita masih punya banyak motif lain yang saya yakin di Malaysia ndak punya.

    sayang kita ini ndak pinter melakukan teknik marketing seperti yang dilakukan Malaysia.

    πŸ™‚

  6. weee ulasannya lengkap juga ya :D…

    ternyata ini ya kampung halaman kang bul. Jadi kangen sama kampung nyokap di siantar. btw, untuk kang mas zam..kapan2 coba deh maen2 ke siantar di sumatra utara sana, pasti betah πŸ˜€

  7. Nuwun sewu, kalau alamatnya Keluarga Mbah Setro Pawiro, itu saudagar Batik di zaman kolonial di Laweyan di jalan apa ya?

  8. mo nanya nih….
    saya membutuhkan pewarna batik … dimana saya bisa mendapatkannya …??
    dan berapa harganya? tlg dibales .. trima kasih sblumnya

  9. aku kangen di kampungku ini to….
    aku pernah tinggal di sidoluhur laweyan lama..
    salam buat kawan2ku laweyan group pendek. wedangan serta taman al muayyad
    imoet kualalumpur malaysia

  10. wah kalo liat tembok ky gitu…. para bomber suka banget tuh.. tuyul, hantu juga suka kan serem… kali si d’lloyd juga pacaran disana kali ya… dilorong yang gelap.. he…
    tapi suasana kolonial dan kesan konsentrasi camp pecinan kesannya beda banget. Juragan ndoro banget gitu loh.. Nah kalo tembok-temboknya dicanting motif sido mulyo, semen rante jadinya tak mengalami masa suram kali ya.. Tapi ruar biasa budaya kita Indonesia. Top markotop.

  11. harga batik di laweyan kisarannya berapa ya?
    dan batik yang bagus yang bagaimana? misal kualitas kainnya, atau kualitas batikan nya, dan lain lain. terimakasih atas informasinya.:-?

  12. Inget masa kecil ……. eyangku tinggal di daerah klaseman laweyan ini … sedangkan aku tinggal di daerah utara laweyan …. yaitu sondakan ….. orangtuaku pun juga salah satu pengrajin baik …. masa kecilku dikelilingi oleh pada pembatik an tukang cap yang bekerja di tempat oragtuaku ….. aku sendiri diajari cara membuat batik dari mulai membuat pola s/d kain jadi …..

    Henri
    Bogor
    htp://www.batiksaga.com

  13. jadii kangen sama solo,,,
    pengen pulang kesolo

    pengen jalan2 n merasakan suasana solo ,,,:((

    andaikan bisa detik ini juga pengen pulang kesolo,,,

    solo i luph u pull:x

  14. jadi inget juga sama tanah kelahiranku SRAGEN

    tenag2 sebelum lebaran aku pasti pulang kampung,,dan aku gak mau nyianyiain masa liburan 2 mingguku di sragen dan disolo,,pokoe harus
    jalan2,,,

    ada yang mau nganter gak yah????;;)8->

  15. Emang, sebagai wong Kotagede, aku juga ngerasain Laweyan punya ikatan batin dengan Kotagede. Tipologinya pun mirip.

  16. AQ nak Laweyan yang tepatnya tinggald bagian selatan kampoeng ni.
    Q salut sma yang bwat artikel ni…..
    kampoengQ jadi terkenal ga cma d solo dan sekitarnya dan dalam negeri saja.
    sekarang turis mancanegarapun banyak yang berdatangan….
    kampoeng batik laweyan sekarang rame lho…..
    pada buka showroom d rumah masing2 plus ada guide tournya juga. bagi tmend2 mampir donk…..

  17. Tambahan masjid laweyan thu konon ktanya masjid tertua d solo…dan skarang juga msih aktif
    nampan yang da d masjid thu juga perna(klo ga salah)soale aq cma di critain waktu masih nyantri TPAdmasjid Laweyan

  18. Tambahan masjid laweyan thu konon ktanya masjid tertua d solo…dan skarang juga msih aktif
    nampan yang da d masjid thu juga pernah d pake artis Agnes Monica(klo ga salah)soale aq cma di critain waktu masih nyantri TPA d masjid Laweyan

  19. adakah sebuah tesis penelitian yang membahas tentang laweyan berkaitan dengan kehidupan ekonominya plus religiusitas mereka?

  20. mohon informasi tentang kampung laweyan berkaitan dengan religiusitasnya, mungkinberupa tesis, skripsi, disertasi atau buku. matur nuwun

  21. Cilikan-ku, dek tahun 1965-1976-an mbiyen kae, omahe mbahku nang Sayangan Wetan no. 17 ( mBah Wiryowiatmo), juragan bathik.
    Aku yen Jum’atan mesti neng Masjid Laweyan, nek sholat tarwih neng masjid Makmur. Imame kyai …. sopo yo asmane aku lali. Yen ngimami sholat tarwih moco fathekah lan terus moco qur’an ( mushaf qur’an dicekel, yen ruku’ dikempit).

    Aku kangen solo. 45 tahun yang lalu……….

  22. Mengungjungi Laweyan, buatku, bukan cuma belanja batik. Tapi merasakan keramahan warga Solo. Ini pesona sosilogis yang bikin saya selalu pengin kembali ke sini…

Comments are closed.