Tradisi-Tradisi Acara Sekaten

Prosesi Kondur Gangsa

Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta.

Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten.

Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga (kalo di Solo adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) pada tanggal 5 bulan Mulud, seminggu sebelum Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Mulud Tahun Jawa.

Sekitar pukul 23.00, gamelan kraton dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, di Bangsal Sri Manganti lalu disinggahkan di Bangsal Ponconiti yang kemudian dengan pengawalan para prajurit kraton, dibawa ke halaman Masjid Agung.

Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di Pagongan Lor (utara) sedangkan Kyai Naga Wilaga diletakkan di Pagongan Kidul (selatan) halaman Masjid Agung. Prosesi ini disebut dengan upacara Mios Gangsa.

Selama sepekan, gamelan ini dibunyikan setiap hari, kecuali pada hari Kamis malam dan hari Jumat. Karena prosesi Mios Gangsa pada Sekaten tahun ini jatuh pada hari Kamis, maka gamelan ini ndak dibunyikan hari itu.

Gending-gending yang dimainkan memiliki nuansa magis yang kental. Menggunakan laras pelog namun berbeda dengan pelog biasa, gamelan ini dibunyikan dengan cara yang berbeda.

Seperangkat gamelan ini hanya terdiri atas bonang, saron, dan gong. Ndak seperti seperangkat gamelan lengkap lainnya.

Kalo menilik sejarah, tradisi ini diawali oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan gamelan ini sebagai media dakwah. Untuk menarik perhatian masyarakat, Sunan Kalijaga memainkan gamelan ini dan ketika warga sudah berkumpul, Sunan Kalijaga memberikan pengajian.

Selama Sekaten berlangsung, memang di Masjid Gede setiap hari diadakan pengajian di sela-sela tabuhan gamelan.

Di sekitar halaman masjid banyak dijumpai para penjual kinang, telor merah, pecut, dan nasi gurih. Ada tradisi unik yang mendasari kenapa banyaknya penjual benda-benda ini.

Penjual Kinang

Masyarakat percaya jika kita mendengar gamelan ini ditabuh, kemudian kita nginang (mengunyah daun sirih, gambir, tembakau, dan kapur) maka dipercaya kita akan awet muda dan mendapat berkah.

Ada kepercayaan kalo setelah nginang bibir dan gigi kita tidak berwarna merah, berarti kita sering bohong.

Selain tradisi nginang, ada tradisi membeli dan makan sega gurih (nasi gurih alias nasi uduk).

Tradisi ini adalah simbol bahwa kita mensyukuri apa-apa yang sudah kita dapatkan. Dengan makan nasi yang sudah diberi bumbu, diharapkan kehidupan kita akan semakin nikmat, seperti rasa nasi yang kita makan.

Ada pula tradisi membeli endog abang alias telur merah. Telur ini adalah telur rebus biasa yang kulitnya diberi warna merah. Telur ini kemudian ditusuk dengan menggunakan tusuk sate yang kemudian dihias.

Kalo di Solo, namanya endog amal, yaitu telor asin. Endog amal maksudnya agar kita menjadi orang yang suka beramal.

Telur adalah cikal bakal kehidupan. Sedangkan warna merah artinya keberuntungan, rejeki, berkah, dan keberanian.

Jadi diharapkan dengan memakan telur ini, kita bisa kembali lahir menjadi seseorang yang berjiwa bersih, pemberani, dan penuh keberkahan.

Sedangkan tusuk sate melambangkan bahwa kita semua memiliki poros kehidupan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Pecut juga banyak dijual di tempat ini. Pecut adalah alat yang digunakan untuk menggiring ternak agar berjalan pada jalan yang benar. Nah, makna membeli pecut di tempat ini adalah diharapkan kita bisa menggiring nafsu kita supaya berjalan ke jalan yang benar.

Sebelum upacara pengembalian gamelan ini ke Bangsal Sri Manganti dilaksanakan, di dalam serambi Masjid Agung diadakan acara pembacaan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Jawa.

Pembacaan riwayat ini dihadiri oleh Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwana X beserta keluarga dan abdi dalem.

Sekitar pukul 22.30, pembacaan riwayat Nabi selesai. Para pasukan bersiap, dan Ngarso Dalem pun berjalan keluar masjid untuk kembali ke kraton dengan diiringi para prajurit Wirabraja, yang sering disebut dengan pasukan lombok abang karena seragamnya mirip lombok ini, sebagai cucuk lampah.

Setelah Ngarsa Dalem kembali, gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pun kemudian diangkat dan kemudian dikembalikan. Prosesi pengembalian ini disebut dengan Kondur Gangsa.

Besok pagi, puncak perayaan Maulid Nabi akan berlangsung, yaitu Grebeg Sekaten, yang dilakukan di halaman Masjid Agung juga.

Baca juga: Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten.

21 thoughts on “Tradisi-Tradisi Acara Sekaten

  1. Aku prihatin melihat pelaksanaan acara ini (dan sasultanan pada umumnya) yang nampak serabutan. Coba lihat itu jaritnya abdi dalem, kenapa tidak seragam?

    Sri Sultan ini bisnisnya banyak, tapi upacara kasultanannya selevel gerebeg maulud kok terlihat kurang modal gitu ya?

  2. momon, jaritnya abdi dalem yang bermacam2 itu bukan karena tidak seragam, tapi ingin menunjukkan keanekaragaman motif gitu *ngarang.com*

    :0)

  3. Ada kepercayaan kalo setelah nginang bibir dan gigi kita tidak berwarna merah, berarti kita sering bohong.

    * bisa jadi lie detector di Polisi, sekaligus melestarikan budaya

  4. mas zam…lam kenal… numpang komen… btw mas, yg di pagongan utara yg nagawilaga mas… selatan baru yg gunturmadu…mau tau sejarahnya gamelan lagi… boleh mampir ke tempat saya… di postingan “Gamelan Sekaten” ;)

  5. @ meika hazim:

    Hwaa!!! Matur suwun sanget, mbak! Saya jadi tau sejarah lengkapnya. Terima kasih koreksinya. :)

    Blog anda juga sangat membantu. Makasih banget. :)

    Salam kenal juga!

  6. hallo!;)
    aku pengen nanya!!^^v
    apasih kegiatan upacara sekaten di yogyakarta?:-?
    dan dilaksanakan tanggal berapa bulan apa?:-?
    maklum bukan orang jawa:”>
    maksih atas pemberi tahuan kalian!!!:d

    assalamualaikum.wr.wrb:-w

    i love you:x:x:x

  7. tx ya ats informna…. quw jadi bsa ngerjain tgazzzz….. sneng de…..:d/
    luph you….

  8. salam, Saya telah ambil dua gambar dari blog ini untuk penyiaran di majalah saya di Malaysia. Terima kasih Tuan empunya blog.

    Ummu Hani

Comments are closed.