Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten

Abdi Dalem membawa Gunungan Jaler

Acara Sekaten yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW diakhiri dengan acara Grebeg Maulud.

Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan.

Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau sering disebut dengan Grebeg Sekaten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Menilik sejarah, kata “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh.

Gunungan pun memiliki makna filosofi tertentu. Gunungan yang berisi hasil bumi (sayur dan buah) dan jajanan (rengginang) ini merupakan simbol dari kemakmuran yang kemudian dibagikan kepada rakyat.

Pada upacara grebeg ini, gunungan yang digunakan bernama Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (perempuan), serta Gepak dan Pawuhan.

Gunungan ini dibawa oleh para abdi dalem yang menggunakan pakaian dan peci berwarna merah marun dan berkain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengah lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa menggunakan alas kaki alias nyeker.

Gunungan diberangkatkan dari Kori Kamandungan dengan diiringi tembakan salvo dan dikawal sepuluh bregada prajurit kraton sekitar pukul 10 siang.

Dari Kamandungan, gunungan dibawa melintasi Sitihinggil lalu menuju Pagelaran di alun-alun utara untuk diletakkan di halaman Masjid Gedhe dengan melewati pintu regol.

Saat berangkat dari kraton, barisan terdepan adalah prajurit Wirabraja yang sering disebut dengan prajurit lombok abang karena pakaiannya yang khas berwarna merah-merah dan bertopi Kudhup Turi berbentuk seperti lombok.

Sebagai catatan, prajurit Wirabraja memang mempunyai tugas sebagai “cucuking laku”, alias pasukan garda terdepan di setiap upacara kraton.

Kemudian ketika acara serah terima gunungan di halaman Masjid Gedhe, prajurit yang mengawal adalah prajurit Bugis yang berseragam hitam-hitam dengan topinya yang khas serta prajurit Surakarsa yang berpakaian putih-putih.

Prajurit Surakarsa dan Bugis

Setelah gunungan diserahkan kepada penghulu Masjid Gede untuk kemudian didoakan oleh penghulu tersebut, gunungan pun dibagikan.

Namun belum selesai doa diucapkan, gunungan pun sontak direbut oleh masyarakat yang datang dari seluruh penjuru Jogja. Yang memprihatinkan, banyak sekali nenek-nenek yang ikut berebut gunungan.

Memang ada kepercayaan dari masyarakat bahwa barangsiapa yang mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapat berkah.

Masyarakat berebut Gunungan Jaler

Filosofi berebut atau “ngrayah” ini menggambarkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan, manusia harus “ngrayah” atau berusaha untuk mengambilnya.

Bahkan beberapa warga masih terlihat mengais sisa-sisa yang ada. Seorang mbah-mbah yang berasal dari Bantul mengatakan bahwa potongan kacang panjang yang didapatnya akan dia simpan untuk mendatangkan keamanan dan ketentraman di rumahnya.

Seorang pemuda yang hanya mendapatkan bambu-bambu sisa rangka gunungan berkata akan menyimpan bambu tersebut dalam gerobak mi ayamnya dengan tujuan untuk penglaris.

Acara rebutan gunungan inilah yang biasanya menjadi daya tarik para wisatawan, baik domestik maupun asing.

Di sekitar, banyak wartawan dari media elektronik maupun para fotografer dengan kamera berlensa pralon bertebaran. :))

Fred, seorang turis asal Austalia yang saya tanya nampak antusias dan berkata, “it’s amazing! it’s beyond of my expectation..”, sambil menenteng kamera videonya.

Duh, saya ngiler sama bule cewek di sebelahnya yang pakaiannya.. =p~

Dengan berakhirnya acara Grebeg Maulud ini, usai sudah acara perayaan Maulud Nabi Muhammad yang diwujudkan dalam acara Sekaten.

Baca juga: Tradisi-Tradisi Acara Sekaten

28 thoughts on “Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten”

  1. eh kok ra ono fotone gunungan lanang dan gunungan wedok ?? bedone opo, jal ?? kl gunngan lanang disarungi yo ??? :-”

    itu mitos penglarisan, berlaku juga dalam hal melamar pekerjaan dan jodoh ??? hahahaha :d

  2. Kangen banget bisa ikut nyaksiin tradisi di kampung halaman macam gini.. OK. lanjut dengan reportase berikutnya doong! ๐Ÿ™‚

    Salam kangen dari afrika barat!

  3. @ Memed:

    Matur nuwun pertanyaannya.

    Gunungan Jaler terdiri atas hasil bumi (sayur-mayur) berbentuk menjulang seperti terlihat pada gambar.

    Sedangkan Gunungan Estri berbentuk seperti bunga, terdiri atas jajanan renggingang.

    ๐Ÿ™‚

  4. Katrok amat sih… Kamu ini napa enggak ikutan rayahan gunungan aja, lha kok malah poto-poto… Berarti enggak dapet isinya gunungan dong.

  5. ada inform ttg telur merah tag??????? klo bsa jga ttg skaten yang laen dund…..^^v

    tlg yaw….

    luph you…..:x:x:x

  6. Untuk acara Grebeg, yang paling besar dan menarik sebagai wisata budaya itu grebeg apa? Beda Grebeg Mulud, Grebeg Syawal dan Grebeg Besar apa? Tolong jelasin, biar saya gak bingung.
    Karena 2 tahun ini saya nguber untuk mengkoleksi foto budaya Jawa. Dan saya bingung grebeg mana yang paling bagus.

  7. kemaren aku dateng di grebeg mulud yang di solo. sayang ga bisa bebas lari ke sana kemari ngambil gambar. soale bawa buntut tiga yang udah gelisah aja kepanasan dan kegencet2…

  8. Informasi perihal Grebeg Maulud ini sangat berharga bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh khasanah tradisi budaya Jawa.
    Bagi saya bahan informasi ini sangat menarik bermanfaat. Tapi yang tidak kalah menarik pula adalah bagian akhir tulisan yang mengatakan: ‘Duh, saya ngiler sama bule cewek di sebelahnya yang pakaiannya..’

  9. padahal saya wong solo tapi tulisan grebeg maulud aja masih nanya sama yang punya warnet hiks..:”>

  10. Kalo Gunungan di Jogja itu pakai lambang Gula Kelapa gak (merah-putih)? kalo di Solo kan Gunungannya ada lambang merah-putih (bendera mataram) nya, kalo di Jogja gmn?

Comments are closed.