Bloger Days Penggoda Iman

Bloger Days

Bloger Days di Jakarta kemarin berlangsung beda. Ndak, saya ndak ngomongin soal acara Blogger Day yang digagas British Council itu, namun Bloger Days versi saya. ๐Ÿ˜€

Empat hari tiga malam saya terdampar di kota laknat Jakarta semakin meneguhkan anggapan saya bahwa di Jakarta itu banyak penggoda iman.. ;))

Hari pertama, saya menginjakkan kaki di stasiun Pasar Senen Subuh hari. Geliat kehidupan kota pun sudah mulai terasa. Beda dengan di Jogja yang jam segini masih tidur molor memeluk guling.. |-)

Tujuan pertama saya adalah kediaman petinggi BI di bilangan Sarinah Thamrin. Jam 5 lewat 15 menit, bus Transjakarta koridor 2 berwarna biru berhenti di halte Pasar Senen. “Wah, rame juga ya?”, gumam saya dalam hati.

Singkat kata, setelah berjejal-jejal di halte transit Harmoni dan berebut tempat di dalam bus koridor 1, sampailah saya di kediaman Mas Ipul. ๐Ÿ˜€

Siang itu, agenda saya kurang begitu menarik. Berkunjung ke sebuah kantor di kawasan Kebon Jeruk, mengharuskan saya menikmati rute P.77 bus Mayasari Bakti.

Dasar ndeso, saya barulah tau yang namanya Jembatan Semanggi, Jembatan Slipi, dan Gedung Sirkus Rakyat itu. :))

Saya pun sempat merasakan yang namanya macetnya Jakarta, berjuang berebut bis di gerbang tol Kebon Jeruk-Tomang, melakukan hal-hal bodoh ala warga Jakarta seperti menyeberang jalan seenak udel kuda, dan sebagainya.

Malamnya, saya merasakan kuliner Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang terkenal itu. Menikmati Nasi Goreng Kebon Sirih, jelas lebih afdol kalo langsung dari asalnya, Gang Kebon Sirih I Jakarta Pusat.

Hari kedua saya pun ndak jauh beda dengan hari pertama. Merasakan ganasnya Jakarta yang sedikit demi sedikit saya toleransi, walau dalam hati tetap saja mengumpat, “ASUUU… Kutho opo iki?!!”

Jumat malam tentunya menjadi malam sakral. Ya, berkumpul di landmark baru Jakarta, Bunderan HI, menjadi ajang yang saya tunggu jika sedang sial terdampar di Jakarta.

Malam itu saya ketemu bloger-bloger kondang. Tentu saja saking banyaknya, saya sendiri ndak hafal dengan nama-nama mereka. Namun yang berkesan buat saya adalah Mas Jay yang ternyata orangnya asyik juga. ;))

Bisa dipastikan acara Juminten di Jogja sedikit berkurang formasinya karena Tika sama Momon juga hadir di BHI. Namun menurut rekan-rekan di Kasultanan, acara Juminten kemarin justru bertabur tomat segar. Aseng.. :-w

Lelah bergojek kere di pelataran Plaza Indonesia, saya dan beberapa rekan diangkut ke apartemennya Mas Iman di kawasan Rasuna Said.

Sampai di sana pun rupanya ndak bisa langsung tidur. Maklum wong ndeso, jadi agak kaget kalo tidur di apartemen. :))

Sabtu pagi sampe siang, dihabiskan dengan leyeh-leyeh. La maklum, cuaca Jakarta hari itu puanas kayak kena bocoran neraka. Di apartemen, AC yang disetel begitu dingin membuat nyaman berleyeh-leyeh di kasur empuk. ;))

Mas Iman pun ngajakin ke kawasan Kota Tua sorenya. Asem, godaan ini membuat saya goyah. Rencana pulang ke Jogja malamnya terpaksa ditunda besok pagi karena Mas Iman mengajak saya untuk makan malam bersama Sarah di restoran Dapur Babah. >:)

Duh, godaan yang ndak bisa ditolak! #-o

Di Kota Tua, saya bertemu lagi dengan Mas Jay yang rupanya juga lagi hunting foto. Selepas berhunting foto, kami pun menuju Kafe Batavia, sebuah kafe eksotis bernuansa Eropa tempo dulu yang berada di sisi utara Taman Fatahillah.

Sayangnya, di resto ini ndak diperkenankan mengambil gambar. :-<

Dari Kafe Batavia, kami pun meluncur ke Jalan Veteran I, menuju retoran Dapur Babah. Dari 3 rumah makan grup Hotel Tugu ini, Dapur Babah di kawasan ini bisa dibilang merupakan restoran kelas elit.

Restoran bernuansa Cina yang kental namun dipadukan dengan nuansa Jawa begitu eksotis. Aroma terapi dari wewangian yang dibakar dan remang-remang cahaya lilin memberikan kesan romantis sedikit mistis.

Meja-meja kayu, hiasan keramik, patung-patung, dan lukisan yang dipasang di dinding semakin memperkuat kesan asimilasi Cina-Jawa-nya. Para pelayannya pun tak kalah ciamik penampilannya. Kesannya seperti berada di negara antah berantah.

Namun sayang, nuansa ini justru rusak karena lagu yang diputar justru lagu-lagu populer jaman sekarang. Andai saja lagu-lagu Cina jadul atau lagu ber-genre bosanova yang diputar, tentu akan semakin serasi dengan konsep resto ini.

Namun beda dengan saya. Ruangan seperti ini justru memberikan kesan singup. Suasana makan pun menjadi sedikit kurang greget.

Lagi-lagi, kami dilarang mengambil gambar di dalam resto ini. :-<

Rencana pulang ke Jogja saya akhirnya tertunda lagi. Mas Iman menggoda saya dengan menawarkan paket jeng-jeng ke Museum Nasional (Museum Gajah).

Argghh!!! ~X( Kenapa godaanmu begitu kuat, Mas! :banghead

Museum Nasional (Museum Gajah)

Minggu siang kami habiskan di museum yang begitu luas ini. Favorit saya, tentu saja ruang luar yang menyimpan arca-arca dan batu-batu candi.

Demi keamanan, lagi-lagi kami dilarang mengambil gambar di dalam museum ini. :-<

Sayang sekali saya belum sempet menikmati seluruh ruangan yang ada di museum ini. Suasana yang rame semakin membuat saya ilfill untuk menikmati tour de museum ini.

Namun sisi positifnya, banyak anak-anak yang dibawa keluarganya untuk berwisata di sini. Mengenalkan kebudayaan dan sejarah kepada anak-anak di usia dini tentu menjadi modal yang bagus, daripada dibawa ke mall dan pusat perbelanjaan.

Dari Museum Nasional, Mas Iman mengajak kami bernostalgia dengan mencicipi Mi Gondagdia yang legendaris itu.

Mas Iman bercerita, sejak jaman dia sekolah, dia hampir tiap hari makan di sini. Bahkan bapak tua penjaga kasir itu merupakan putra dari pemilik restoran ini. Dulunya, bapak tua tersebut berada di depan panci, yang bertanggung jawab atas kelezatan mi-nya.

Restoran sederhana seperti inilah yang saya suka. Walau tetep mahal harganya, suasana sederhana dan kerakyatan semacam ini yang membuat kenikmatan makan bertambah.

Saya pun membuktikan cerita legenda kedahsyatan Mi Gondangdia ini. Mi-nya bener-bener kenyal, ulet, namun empuk. Mi yang konon bikinan sendiri ini memiliki kadar gluten yang pas, membuat mi begitu liat namun mudah dipotong dengan gigi ketika berada di mulut.

Namun sayang, saya ndak membawa kamera saya. Saya minder setelah Mas Iman berkata kalo Canon, merk kamera saya, adalah merk untuk mesin fotokopi, bukannya merk kamera. Asem.. :))

Dari kawasan Gondangdia, kami segera meluncur ke Pacific Place, lokasi diadakannya Blogger Day besutan British Council itu.

Rupanya di sana berkumpullah para bloger kondang yang selama ini cuma saya temui di ranah maya di Warung Podjok. "Ah, ini sih bukan warung", batin saya.. ๐Ÿ˜•

Sebuah template perkenalan pun spontan tercetus ketika bersalaman dengan mereka-mereka ini.

"Halo, saya Zam.." *salaman* "Oh, ini si Anu pemilik blog Itu ya? Wah, blognya bagus banget loh. Saya suka bacanya, meskipun saya ndak pernah komen" *muka sok kenal dan sok akrab* ;))

Dengan berbagai cara, akhirnya saya bisa menyusup dan duduk di antara para bidadari, Sarah dan Chika. >:)

Serasa jadi orang tertampan sedunia, dab! b-)

Serasa orang tertampan sedunia!

Mas Iman awalnya kembali meluncurkan godaannya lagi. Namun akhirnya godaan tersebut ndak mempan karena saya memutuskan untuk pulang ke Jogja malam itu juga.

Lain kali aja ya, Mas! ;))

Matur nuwun buat semuanya! Maap kalo nama-nama njenengan semua ndak kesebut di postingan ini. ๐Ÿ˜€

57 thoughts on “Bloger Days Penggoda Iman”

  1. aduh…itu foto kayaknya bakal jadi fenomenal. ๐Ÿ˜€ zam diantara bidadari-bidadari blog =))
    btw kopdar kemaren banyak fotonya ga? saya cuma dapet dikit.. ๐Ÿ˜

    btw eniwei busway, kapan mau ke monas ngeliat air mancur joged? lain kali kopdar di monas aja yuukk.. ๐Ÿ˜€

  2. Wah, sultan dikelilingi dayang-dayangnya… ^:)^

    Hmmm.. jadi selama di Jakarta iman Anda digoda oleh mas Iman yah.. ๐Ÿ˜•

  3. wealaaaaaaaah, yang ngglendoti ya kok tetep ke tika, huh … sangat kedaerahan
    oh ya zam, ria telpon kemaren, takon kopi yang belum dibayar kui

  4. kesimpulannya, akhirnya kamu tergoda ndak dengan kota berjuluk JAKARTA itu?

    *siap2 kalo sewaktu2 sultan menghendaki mobilisasi pemindahan ibukota ndoyokarta hadiningrat ke jakarta beserta staffnya* -halah-

  5. weleh … elu yang orang jogja … udah ketempat-tempat itu .. gw yang mondar-mandir melulu gak pernah tuh zam ๐Ÿ˜› :-w apalagi foto yang terakhir … gak bakalan bisa kaya’nya tuh ๐Ÿ˜‰

  6. huasyeng, pas kowe ng BHI jumat bengi iku, aku malah diajaki nggolek ‘kambing’ ng puntjak. kambing gak didapat, kesempatan ketemu tikamon+zam di BHI pun lenyap.. sigh

  7. Zam, itu kok emoticonya bengkak bengkak yah di post conten ? emang sengaja yah ? ehehehe…. duuh jadi pengen nih…

    Bah…. ini key code nya asu…. wuekekeke

  8. Jambu. Nggak ada yang bilang kalau Sarah… Eh, Sultan Ndoyokarto juga hadir Waroeng Podjok. Sama Tika dan Momon sudah ketemu di Blogger Day. Kalau tahu masih ada tamu dari Ndoyokarto yang lain, saya pasti akan mbagekke tamu dengan sepantasnya.

  9. ya… ya… bener mas, Canon itu merk printer, bukan kamera! :-”
    btw, aduuhh ada fotonya didit itu yah? jadi kangen ๐Ÿ™

  10. kayak didit lemu yang melet.. *(orang yg markojakers sering ngubungin tp ga pnah di tanggepin)*. halo chika.. ๐Ÿ˜›

Comments are closed.