Jeng-Jeng Pangalengan

Jeng-Jeng Pangalengan

Jeng-jeng kali ini adalah jeng-jeng pertama saya setelah meninggalkan Jogja. Pangalengan, Bandung Selatan, menjadi destinasi saya untuk memenuhi janji saya berkunjung ke tempat Gita.

Jeng-jeng kali ini juga bisa dibilang istimewa, karena kali ini saya didampingi Master Suhu dari Legenda Tujuh Naga, Man Tao Tse, dan salah satu putri asuhnya yang cantik berjuluk Buanadara Penakluk Naga. :))

Sebenernya sudah lama saya ingin berkunjung ke Pangalengan. Namun baru kemarin itu keinginan saya terwujud. Awalnya hanya rasan-rasan ndak serius, eh la kok Mas Iman yang mendengar celotehan saya langsung nantangin, “Minggu depan ke Pangalengan, yuk?”

Ya sudah. Tawaran dari Mas Iman langsung kami sikat. Tim segera dibentuk dan agenda segera disusun.

Awalnya Sri Bagindi yang kebetulan lagi ada di Jakarta mo ikut, tapi ternyata dia ada urusan lain sehingga ndak jadi merapat. Akhirnya yang berangkat adalah Trio Tolol 2.0 yang terdiri atas saya, Didiet, dan Kang Gembul, Mas Iman, dan juga Sarah tentunya. ;))

Berangkat Sabtu pagi menjelang siang sekitar pukul 10 dan langsung meluncur ke tol Cikampek yang kemudian masuk Purbaleunyi dan keluar di gerbang tol M. Toha. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam.

Sampai di Banjaran, kami menunggu Gita yang lagi turun gunung. Kemudian kami disinggahkan ke guest house Citere yang pemandangannya cukup mantab.

Belum sempat menaruh pantat yang penat, Gita langsung ngajak kami koprol ke Danau Stoplast, sebuah danau mungil yang katanya dipake untuk syuting film Heart itu. Awalnya saya sempet ndak percaya karena mana mungkin danau semungil itu dipake untuk syuting, namun Gita meyakinkan saya dan akhirnya saya terpaksa mempercayainya. La saya kan belom pernah liat itu film. ๐Ÿ˜€

Setelah foto-foto, kami melanjutkan perjengjengan ke makam Karel Albert Rudolf Bosscha, di Cagar Alam Malabar. K.R.A. Bosscha, merupakan juragan perkebunan teh terbesar di Malabar. Bosscha sempat membangun 2 pabrik teh, yaitu Pabrik Teh Malabar dan Pabrik Teh Tanara. Selain itu, Bosscha juga dikenal sebagai penggagas observatorium Bosscha di Lembang dan Institut Teknologi Bandung.

Makam Bosscha

Bosscha meninggal pada tahun 1928 yang diduga akibat kecelakaan, yaitu jatuh dari kuda ketika mengontrol perkebunan tehnya. Sesuai wasiatnya, Bosscha ingin dimakamkan di tanah yang belum dijadikan kebun teh. Dan akhirnya di tempat inilah Bosscha dimakamkan, yang berdasarkan GB (Besluit van den Gouverneur-Generaal) tertanggal 7 Juli 1927, nomor 27 Staatsblad 99, tempat ini dijadikan cagar alam.

Di seputar kompleks makam ini, selain pohon teh juga dapat kita temukan berbagai tanaman lainnya. Berbagai macam bunga ada di sini. Mulai dari mawar putih hingga berbagai jenis anggrek.

Masih seputar Bosscha, kami pun menuju ke Wisma Malabar yang dulunya merupakan kantor administrasi perkebunan Malabar dan rumah tinggal Bosscha. Konon rumah Bosscha ini dibangun pada tahun 1894.

Jendela berbentuk kotak-kotak dengan warna kusam, tembok bagian bawah yang berhias batu, genteng tanah liat yang mulai menghitam, menunjukkan sosok renta bangunan yang masih nampak terawat itu. Sebuah tungku kayu di halaman semakin menambah kesan arsitektur Eropa.

Wisma Malabar

Wisma Malabar menjadi obyek terakhir kami di hari pertama sebelum kembali ke penginapan. Hawa dingin Pangalengan yang berada di ketinggian sekitar 1.500 meter ini membuat kami menyalakan tungku api di dalam bungalow. Suara gemertik kayu yang terbakar membuat suasana hangat yang tercipta menjadi begitu romantis. Apalagi ditemani secangkir teh hangat dan kekasih hati, rasanya begitu nikmat. ;))

Pagi benar kami bangun. Tujuan pertama kami di hari kedua adalah Bukit Nini, yang letaknya ndak jauh dari Wisma Malabar. Bukit Nini ini memang sering dijadikan lokasi tea walk.

Berjalan mendaki bukit di sela-sela pepohonan teh dan pohon Kina begitu menyenangkan. Apalagi bila kita sampai di puncak bukit, dari atas saung kita bisa melihat keindahan Danau Cileunca.

Ada cerita rakyat yang berkembang mengenai nama Bukit Nini ini. Konon di bukit ini terdapat sebuah istana yang ditinggali oleh seorang nini (nenek). Saat ada upacara menjelang menanam teh, si Nini ini biasanya turun dan menyamar menjadi seorang penari yang sangat cantik. Kemudian setelah acara selesai, si Nini ini meminta salah seorang penduduk untuk mengantarkannya pulang. Si penduduk yang beruntung tersebut akan dapat melihat istana di Bukit Nini ini dan menjadi kaya mendadak. Dari cerita inilah nama Bukit Nini diambil. ๐Ÿ™‚

Bukit Nini

Namun berhati-hatilah bila melakukan tea walk, karena di sela-sela pohon teh terdapat gerombolan ulat teh yang bila sudah menggigit akan sulit lepas. ๐Ÿ™‚

Dari Bukit Nini, kami pun turun menuju Danau Cileunca. Danau buatan seluas 1.400 hektar ini selain sebagai sumber air PLTA juga menawarkan berbagai paket wisata menarik. Salah satunya adalah paket rafting di sungai Palayangan.

Kami pun akhirnya mencoba paket rafting ini. Karena Pak Uju, sopirnya mbak Gita kenal dengan pengelola paket wisata ini, kami diberi harga khusus. Hatur nuhun, Pak! ๐Ÿ˜€

Sungai Palayangan sendiri merupakan sungai dengan jeram bertipe 3 hingga 4. Sebuah tipe sungai yang cukup menantang, terutama bagi pemula. Sejak awal kami turun, kami langsung disambut dengan jeram-jeram yang mempunyai nama-nama unik. Mulai dari jeram cinta, jeram gadis, dan sebagainya.

Selain memacu adrenalin, pemandangan sepanjang sungai begitu eksotis dan mantab. Di tengah-tengah rute kami pun berhenti sejenak untuk beristirahat dan menikmati keindahan alam yang ada.

Rafting di Sungai Palayangan

Akhirnya perjalanan kami selama 1,5 jam menunggang arus Palayangan usai sudah. Perahu karet diangkut ke sebuah land rover yang menunggu di garis finish. Menurut evaluasi dari pemandu kami, tim kami cukup kompak sebagai pemula, meskipun Kang Gembul ketika diberi aba-aba maju justru mendayung mundur. :))

Dalam perjalanan kembali ke Cileunca, saya naik di atas perahu karet yang diikat di atas land rover. Saya seperti berada di atas perahu terbang yang melayang di dataran antah berantah. Pemandangannya begitu eksotis dan mantab! Pengorbanan robeknya celana saya ketika berusaha naik ke atap mobil terbayar sudah! :))

Setelah Rafting

Usai rafting, awalnya kami hendak melanjutkan ke pemandian air panas Cibolang yang sudah diidam-idamkan Sarah, namun apa daya, pemandian begitu ramai pengunjung membuat kami semua langsung ilfil dan balik kanan. ๐Ÿ˜€

Perjengjengan kami hari itu pun akhirnya disudahi. Setelah mandi air panas di penginapan, kami pun segera packing untuk pulang.

Ah, namun perjengjengan kami kemarin itu kok rasanya masih belum memuaskan. Masih banyak tempat yang harus saya kunjungi lagi lain kali. ๐Ÿ˜€

Makasih Mas Iman, Sarah, Kang Gembul, Didiet, Mas Arief dan Pak Uju (sopir kami), dan tentunya Bude Gita! ๐Ÿ™‚

Selamat datang kembali, Jakarta laknat! :-<

71 thoughts on “Jeng-Jeng Pangalengan”

  1. kabut gairah membutakan hati meruntuhkan reputasi..

    hit me hit me animal wuakakakakakkaka

    @bal: maju dayungya bukan mundurrrr

  2. wah, ini benar2 mantab! sudah lama sy pengin ngrefting, ga pernah kesampaian.
    kapan balik jogja dab? tilik angkringan sing kabare digusur iku.

  3. Wah, asiknya…
    Weekend kemarin saya malah ngasih makan adrenalin, tereak-tereak naek tornado dan kicir-kicir.

  4. Wa.. lo gak sibuk”nya yah zam.. ternyata masi sempet refreshingg.. *iri* huehue.. btw mank ulet daon teh bisa gigit? ๐Ÿ˜€ gak terbalik tuh? haha…

  5. utk rafting harus bisa renang yah ?? aku ga iso renang je…

    wah, tiwok, asik juga ya^^
    CA mo bikin tiwok tandingan juga ah, ke Tembi, Wonosobo
    *sebar gosip :-“:-“

  6. wahhhh… permisi… permisi… mo nanya… yg telanjang dada itu Mas iman???

    Masyaoloh… perutnya… ๐Ÿ˜ฎ

    btw, mbok Venus… tragedi hilangnya mahkota itu apa sich mbok???

    *penasaran mode ON*

  7. tunggu berita dari kami,..!!!
    Ndoyok orisinil selalu yahut,. menyambut Sunrise di atas halimun Borobudur!!

    kecewa dengan Sang Maha Guru Ndoyok yang berganti aliran :-w !!

  8. @leksa
    Maha Guru-mu itu sekarang bergaji 5 juta/minggu. Ndoyoknya beda tho ya… :))

  9. ndoyoknya wong sugeh! ora ngesoul blas.. hedonis…

    masih terbayang2 lamat-lamat borobudur ditelan halimun, di sebuah pagi dari atas bukit menoreh…

    jiakakakakka!

  10. wahhh asik banget…dan celanamu yang robek itu..apa tidak memperlihatkan sisi yang ada di dalamnya? bagaimana duhai sultan ? ๐Ÿ˜›

  11. alamat alamat… bener kata anang… celana zam robek… bakal ada kejadian heboh nih….
    sssttttt… mau bikin ulah apa lagi si RS ituh… ๐Ÿ˜€
    jrit… sejak kapan kamu pakai keycode “uang”, apa ini gara2 jancuk arta ituh…

  12. Huwaaa… Curang! :((
    Nggak ngajak2 batagor iihh, padahal Pangalengan itu deket dengan daerah saya…

    Sigh… Jd pengen ktemu putri buanadara ituhh…

    hihi… ;))

    Ntar2 klo mo k bdg lagih bikin ANNOUNCEMENT yg gede2an dong…

    Biar rame!

  13. tambah narsis….aja Bos apa karena kena karmanya sendiri nihhhh
    tapi q ucapin slamet aja deuhhh…kapan mendirikan kasultanan baruuuuuu

  14. huaa.. berantakan apanya nih? btw kemarin di view pk firefox emang ancur.. huehehue.. coba visit” saya lagi dehh.. tu dah dibenerin.. kalo masi ruwet.. hix hix.. :((

  15. zaaaam! aku gak tau dirimu sekarang di jakarta. kerja di mana to? aku di jakarta looo… tiap tengah bulan. buset ya, celana kuning itu masih ada ๐Ÿ˜€

  16. Tak pernah saya browsing tentang Pangalengan. Kota Bandung dan Pangalengan menyimpan kenangan indah,pahit,dan paling ingin saya lupakan.. Namun juga ingin kembali menyelami masa-masa itu.
    Bandung, kampus ITB, Pangalengan, sejarah kolonial, adalah masa lalu yg menghantui saya. Namun tulisan anda membuat saya ingin kembali ke sana..
    Salam kenal
    Ashidik

  17. :d Uhhh cobain deh mandi pagi-pagi dipangalengan suegeeer banget serasa ………:o uhhhhhhh…!

  18. saya ucapkan tq, karenan telah mengekpos pangalengan, pangalengan adalah tempat lahir gw,dan gw lagi rilis web tentang indahnya kota pangalengan ada saran….

Comments are closed.