Masjid Hidayatullah, Perpaduan 4 Arsitektur

Masjid Hidayatullah

Di antara gedung-gedung pencakar langit Jakarta, rupanya ada sebuah masjid tua yang seolah-olah tenggelam di antara kaki-kaki gedung-gedung itu.

Terletak di pusat kota, rupanya ndak banyak orang yang tau tentang keberadaan masjid yang memadukan corak Cina, Betawi, Hindu, dan Arab ini.

Sore itu saya langsung tercengang ketika melihat siluet potongan atap berarsitektur Cina, terselip di antara kaki-kaki bangunan pencakar langit, di kawasan Karet Semanggi, Setia Budi, Jakarta Pusat.

Begitu mendekat, bangunan yang awalnya saya kira sebuah klenteng ini semakin mengagetkan saya. Rupanya bangunan beratap 3 susun ini adalah sebuah masjid!

Siapa menyangka, terjepit di antara Plaza Semanggi dan Gedung Sampoerna, tersembullah sebuah cagar budaya yang bernilai sejarah tinggi.

Masjid Hidayatullah, begitu nama masjid yang telah berdiri selama kurang lebih 250 tahun ini. Bahkan masjid ini menjadi saksi bisu perjuangan merebut kemerdekaan.

Masjid ini didirikan pada tahun 1747. Berawal dari seorang pengusaha Cina mualaf bernama Muhammad Yusuf yang mewakafkan tanah seluas 3.000 meter persegi kepada masyarakat Betawi, yang kemudian digunakan untuk mendirikan masjid ini.

Yang membuat geregetan, masjid ini hampir digusur pada tahun 1993. Padahal seharusnya masjid ini dijadikan cagar budaya untuk warisan anak-cucu!

Menurut historis, masjid ini dulunya digunakan oleh para pejuang Betawi untuk melakukan pertemuan menentukan strategi melawan Belanda. Selain itu, masjid ini kerap digunakan untuk melakukan pengiriman senjata ke Karawang dan Cikampek.

H. Saidi, merupakan salah satu pejuang Betawi dan aktivis masjid yang pernah tertangkap Belanda dan dibuang ke Digul. Setelah menjalani hukuman, beliau pun kembali ke masjid ini dan mengabdi hingga akhir hayatnya.

Makam H. Saidi dan para pejuang Betawi yang pernah menjadi saksi sejarah ini dimakamkan di sekitar halaman masjid. Rata-rata tahun yang tertera pada batu nisan memang sekitar tahun 50-60-an.

Pembangunan masjid ini rupanya melibatkan berbagai etnis dan suku bangsa yang tercermin dari bentuk arsitekturnya yang sangat menawan.

Arsitektur Cina langsung dapat dilihat dari bentuk atapnya. Bentuk atap prisma bersusun 3 ini begitu kental sekali budaya Cinanya. Seperti yang saya bilang, awalnya saya sempat mengira bangunan ini adalah klenteng! :))

Arsitektur Betawi langsung terasa ketika kita melihat jendela dan pintu masuknya. Jendela berupa teralis kayu yang ditutup oleh tirai separo tinggi di bagian dalam, dengan daun jendela berkisi terbuka ke samping kiri-kanan, dapat kita jumpai pula di rumah-rumah tradisional Betawi.

Pintu yang lebar dan ukiran bunga mawar yang berada di atas 8 tiang penyangga juga menjadi ciri arsitektur Betawi yang bisa kita temukan.

Arsitektur Hindu dapat kita lihat dari 2 buah menara yang berada di depan pintu masjid. Sekilas saya seperti berada di Taman Sari ketika melihat menara ini.

Menara Masjid Hidayatullah

Sedangkan arsitektur Arab, jelas dapat kita temukan dari pernak-pernik yang ada di bagian dalam masjid. Salah satunya dapat dilihat dari hiasan kaligrafi di atas dinding bagian mihrab. Mihrab-nya pun sangat kental nuansa Arabnya.

Suasana di dalam masjid ini begitu menyejukkan. Selepas Maghrib, para jamaah larut dalam kekhusyukan dzikir yang dipimpin oleh imam. Saya hampir mengalami disorientasi lokasi dan merasa berada di Masjid Ampel semasa saya kecil.

Meskipun kecil, namun rupanya masjid yang pernah dipugar sebanyak 2 kali ini cukup lega. Padahal kala itu shaf berjumlah 4 baris.

Suasana di dalam masjid

Selepas dzikir, saya pun keluar melihat ke halaman. Sebuah pohon kurma tumbuh di areal makam yang berada di halaman masjid. Makam yang disusun sedemikian rupa, ditutupi dengan rumput yang terawat, membuat saya sempat mengira gundukan tanah beruput hijau ini adalah taman.

Meski tua, namun masjid ini masih aktif digunakan untuk berbagai aktivitas kegiatan. Senja itu, saya menemukan banyak sekali sopir taksi Blue Bird yang singgah untuk sholat.

Ah, berada di masjid ini membawa saya seolah ndak berada di Jakarta..

50 thoughts on “Masjid Hidayatullah, Perpaduan 4 Arsitektur”

  1. Ah Kanda ini buat ‘ku terpana
    Tak sangka dirimu soleh juga
    Tak cuma restoran kau hinggapi
    Ternyata mesjid pun engkau datangi

  2. eh zam, selain masjid ampel apa kamu juga pernah singgah di masjid rahmat? 2 masjid ini punya kaitan sejarah lho.

  3. ah nonadita sudah berkata
    tak sanggup berkomen apa-apa
    salut ama situ yang tetep jeng-jeng
    walaupun tinggal di kota yg streng

    *komen berima lg mode 😛 *

  4. yang di belakang sampoerna strategic square ya…? bukankah sebrangnya ada klenteng ya? CMIIW

    sering lewat tp blm pernah mampir, itu jalan alternatif kalo daerah benhil pamerpaha 🙂 mayan muncul2 dah di sebelah plasa semanggi.

  5. waduh.., tau gene pas saya kemaren sedang terperangkap di plaza semanggi di hari jumat, bisa numpang jumatan di sini. bukannya di masjid dadakan ala plaza semanggi yang dibuat di parkiran paling atas.

  6. Saya sempat harus ke Sampoerna Strategic Square setiap siang selama dua bulan, dan tiap kali ke sana, pasti masjid satu ini mencuri perhatian saya. Esp karena atapnya itu yang chinese banget. Dulu saya cuma penasaran, kenapa bisa begitu ya, pasti ada ceritanya nih. Nah, hari ini terjawab sudah rasa penasaran saya, makasih ya ^^

    Btw, “Saya hampir mengalami disorientasi lokasi dan merasa berada di Masjid Ampel semasa saya kecil.” :d
    Saya jadi inget kejadian Arai dan ‘aaaamiiiiin’-nya waktu ada di Masjid di Austria sono. ^^ Ternyata hal seperti itu, disorientasi lokasi, bener-bener bisa terjadi, ya!

    Oh ya, agak jauh ke arah timur ada Klenteng yang menarik juga, lho *ngarep liputannya* 🙂

  7. Subhanallah…….terharu sy mbacanya mas….
    betapa sejarah bangsa ini bisa diwakili oleh Bangunan tua ini……

    oiya mas…mas seorang Arsitek ya ??? (pengen tanya aja..hehe)

  8. Terima Kasih atas kunjungan dan komentar Anda. Saya sangat senang Anda mau mampir di blog ini.

    Maaf bila saya belum bisa berkunjung balik atau sekedar berkomentar ke blog Anda.

    Semoga Anda berkenan untuk berkunjung ke blog ini lagi lain kali.

    hehe..usil aja

  9. ancen apik mesjid e.. sering buat persinggahan para tunkang taxi , ngrumpi pulak..

    didalam halaman masjid itu ada MAKAM.. sudah tua tapi karana makamnya [tanah dibalut rumput] rapi kaya di tanah kusir tanpa nisan ga keliatan angker……….

  10. @ Alex:

    mas alex berekspektasi terlalu tinggi
    saya hanya jelata yang kurang kerjaan
    saya hanya kebetulan suka soal hal remeh temeh begini
    sering sok tau, dangkal, dan menjengkelkan..

    🙂

  11. oh…jangan merendah gitu donk mas, mas sangat berbakat dalam hal ini…suer.. Senang berkenalan dengan mas Zam. 🙂
    thanks ya udah mo mampir d komen di blogku

    oiya mas sy link ya (minta ijin)

  12. wah…wah…wah…
    kok fotonya mas jeng gak ada????
    tp siip mas jeng. info yang bagus selain rumah makan … :d

  13. bingung masjid mana yg dmaksud..tp pas baca paragraf terakhir”sopir blue bird”baru ngeh..hahaha
    dulu pas ngelaju naek motor jakarta-bogor,srg mampir sholat disini..heranny aq nda merhatiin masjidny cm liat banyak supir taksi sholat dsana..sisan mampir..

  14. *mbrebes mili*
    nek direnungkan, masjid Hidayatullah itu memang sebuah oase kedamaian hati ditengah hiruk pikuknya jakarta yoh. seakan ada seujung surga di kerasnya dentuman hawa duniawi yang diwakili gedung-gedung pencakar langit.
    aahh.. nikmatnya beristirahat setelah lelah bekerja di masjid indah nan syahdu..

  15. Wahh..kayana masjidna jadi penyejuk di tengah hingar bingar ibukota, ngingetin biar jangan terlalu ngoyo di dunia..[-x

  16. alhamdulillah..msh ad masjid sejarah di antara gedung pencakar langit daerah jkt menjadi saksi bisu..btw tq 4 ur share

  17. Saya bersyukur di tengah2 Kota Metropolitan Jakarta masih ada Masjid yang bersejarah. Di Jalan Jendral Sudirman Karet Semanggi, yang mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan Allah SWT. semoga Masjid Hidayatullah dapat memberkati Warga Jakarta Khususnya, dan umat Islam dimana saja pada umumnya.=d> ok,khusyu bnar ya……..

Comments are closed.