JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir

JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir (Ngupas Benhil)

Setelah sukses dengan Beringharjo Hunting Tour, JalanSutra kembali menggelar acara Ngupas Benhil (Ngubek Pasar Bendungan Hilir).

Selain menguak lokasi makan di dalam pasar, acara ini menjadi istimewa karena ada pembagian buku kuliner edisi ke-4yang ditulis oleh para dedengkot JS.

Hujan yang turun sejak dini hari sempat membuat saya agak bermalas-malasan. Sempat terpikir saya mo ndak dateng. Tapi mengingat acara ini bakal dihadiri para dedengkot dan senior JS yang sudah melegenda dan tersohor, rasanya saya akan sangat menyesal kalo saya ndak bersua dengan mereka.

Biasanya saya cuma bisa mengagumi kecerdasan lidah dan analisis mereka melalui tulisan, tentu mendengarkan cerita dari mereka secara langsung adalah pengalaman tersendiri.

Akhirnya setelah memaksakan diri, saya pun berangkat juga. Setelah naik busway dan turun di halte Bendungan Hilir, saya berjalan menuju ke pasar.

Saya datang agak terlambat. Rupanya para peserta yang berjumlah sekitar 20-an orang ini sudah berkumpul. Ndak sulit menemukan segerombolan rekan-rekan JS. Yah, kayak sekumpulan bloger yang pada kopdar di Monas itu. 😀

Pasar Benhil saat itu begitu bersih dan rapi. Usut punya usut, rupanya denger-denger Bang Foke mau sidak ke pasar tersebut. Lah? Sidak kok pake persiapan bebersih begini, sih? Mana unsur dadakannya?

Saya pun berkenalan dengan rekan-rekan JS yang sudah nongol di sana. Saya ketemu lagi sama Teh Cindy yg pernah saya jumpa juga ketika acara di Beringharjo. Makin ndut aja, dia. 😀

Saya ikut acara JS ini juga baru 2 kali. Pertama ya acara di Beringharjo pas saya masih di Jogja. Kedua ya Ngupas Benhill kemarin itu. JS sebenernya sering bikin acara, cuma karena lokasinya kebanyakan di Jakarta, saya agak kesulitan saat itu untuk ikutan.

Setelah berbincang dan berkenalan, acara pembagian tim pun dimulai. Skenarionya, tiap tim akan berlomba untuk mencari lokasi makan yang mantab. Kemudian lokasi dan makanan itu didata untuk kemudian dinilai. Tim yang paling banyak mendapat hasil buruan, itulah yang menang.

Tak lupa, setelah lokasi itu didatangi, diicipi, dijarah kelezatannya, tentu harus dibayar dan ditempeli stiker JS. Tim yang udah melihat stiker di lokasi tersebut ya harus mengalah dan mencari tempat lain. Saya bergabung sama Teh Euis, Mbak Iping, dan Mbak Ika. Serasa saya paling ganteng sendiri!

Kami langsung menusuk ke jantung pasar melalui pintu tengah. Jleb! Sebuah warung makan Padang Bopet Mini langsung kami jajah dengan semena-mena.

Ketupat Sayur plus Rendang pun segera kami sikat tanpa menunggu komando. Bubur Kampiun tak ketinggalan juga kami hajar untuk memeriahkan suasana.

Ketupat Sayur, Rendang, dan Bubur Kampiun

Ketupat Sayur ini biasa aja menurut saya. Cuma yang membuat istimewa adalah digunakannya daun pakis di dalamnya. Daun ini terasa kaku kriuk-kriuk. Di Ketupat Sayur lainnya, biasanya digunakan daun singkong.

Rendangnya pun unik. Dengan sendok, memotong itu daging alotnya minta ampun kayak sandal jepit baru. Ternyata ada teknik untuk mengiris daging dengan sendok.

Usahakan mengenai bagian yang sejajar uratnya, sehingga itu daging mudah terkelupas. Daging yang alot karena susah dipotong rupanya begitu empuk ketika berada di dalam mulut. So, don’t judge a rendang by its alotness, my friend!

Warna rendang yang menghitam menunjukkan usia rendang. Makin tua usianya, makin meresap bumbunya, makin dahsyat pula rasanya.

Bubur Kampiun pun mendapat giliran untuk dieksekusi. Perpaduan gurihnya bubur putih dengan manisnya sarikaya yang berwarna coklat dan guyuran gula merah membuat mulut terasa segar setelah diterjang santan dari Ketupat Sayur.

Potongan pisang dan aksesoris berupa ubi rebus yang dipotong bola tercelup gula merah juga ikut memeriahkan suasana. Sepintas, rasa bubur ini mirip-mirip Es Palu Butung yang tanpa es..

Puas mereguk kelezatan, tak lupa stiker yang sudah disiapkan ditempelkan dengan manis di warung si penjual. Hohoh!

Lanjut, kami menuju ke warung Gado-Gado Bu Bambang di tengah pasar. Buset, kami ketemu dengan tim lain yang digawangi Mbak Lidia Tanod, Mas Andrew Mulianto, Mas Teddy, dan Mas Adi Taroepratjeka.

Sontak Mas Adi tereak, “ooii.. yang doyan rujak cingur ke sini!!”. Dengan kalap saya pun lari-lari histeris nyerobot Rujak Cingur yang udah hampir habis dibantai Mas Adi.

Rasanya boleh dipoedjiken. Sambel petisnya kuentel dan dahsyat. Namun ada yang unik, saya menemukan potongan jambu air merah di sela-sela hitamnya sambel petis. Sesuatu yang ndak ditemukan di Rujak Cingur di Surabaya sono.. 😀

Bau harum Soto Sulung yang dibawa Teh Euis langsung ngawe-awe. Sebelum nyeruput soto, saya sempet ngicipi pula Gado-Gadonya Bu Bambang. Rupanya lidah saya masih terbuai oleh dahsyatnya sambel petis sehingga saya ndak bisa obyektif menilai rasa gado-gado ini.

Guyuran Soto Sulung Cak Abbas langsung menyadarkan lidah saya yang terbuai sambel petis. Seger-seger kecut langsung membuat saya merem-melek.

Saya merasa kuah ini terlalu kecut. Apakah ini karena perasan jeruk nipis yang terlalu banyak? Bisa jadi, wong kami ngicipi soto ini dengan cara seperti lagu dangdut, Semangkok Berempat! 😀

Kami pun berpisah dengan tim yang masih menikmati beberapa makanan di Warung Bu Bambang yang mereka untuk melanjutkan perburuan.

Ndak banyak yang kami temukan di dalam. Ke lantai atas pun sia-sia. Kami pun memutuskan keluar dan memepet pasar dari sayap. Deretan Warung Padang dengan rapi berbaris di sana. Buset, saya seperti merasa di Padang, melihat jejeran warung makan ini. :))

Ikan Bakar Sinar Surya yang ada di pojokan menjadi tujuan kami. Si penjual seolah-olah mengundang kami dengan asap pembakaran ikannya. Sepotong ikan bawal bakar yang malang segera kami bungkus dengan maksud untuk dicicipi di meeting point kami, RM. Meutia.

Atraksi Kopi Tarik Aceh

Kami merasa sudah pol-polan, walau kami cuma merasa hasil yang kami dapat ndak memenuhi harapan. Segera kaki kami langkahkan, menuju RM Meutia seperti yang dijanjikan. Eh, kok berima ya? ;))

Di RM Meutia saya dan Mas Adi tergoda untuk memesan kopi tarik setelah melihat pelayan membuat Kopi Tarik.

Atraksi pelayan tersebut menarik perhatian saya, selain pernak-pernik interior di dalam rumah makan ini begitu ciamik.

Rupanya dari atraksi inilah nama Kopi (juga Teh) Tarik berasal. Ketika membuatnya, air kopi dan susu dituang ke dalam sebuah wadah dengan cara seperti menarik tali.

Padahal isinya sih padahal ya cuma Kopi Aceh yang sudah disaring dan bebas ampas dengan susu. Sama kayak bikin Kopi Susu biasa. 😀

Hasil dari tarikan kopi ini menghasilkan buih-buih kecil di atas permukaan kopi. Warna Kopi Aceh yang hitam sontak berubah menjadi coklat tua. Baunya begitu menggoda untuk segera disruput.. =p~

Beberapa benda kuno nampak cantik nangkring di dinding berdampingan dengan kain-kain. Gramofon dan sempoa antik berada di meja kasir yang juga tak kalah unik. Tak lepas kamar mandi pun tersentuh nuansa etnik namun mewah. Saya pun duduk di atas sebuah lincak dari kayu ukiran sambil menunggu tim yang lain merapat. Cukup mengesankan!

Seluruh peserta pun akhirnya berkumpul lengkap. Di ruang atas kami bercengkrama sebentar sambil menunggu Mie Aceh terhidang. Begitu mi datang, langsung saja kami sikat tanpa banyak cakap. Eh, berima lagi! :))

Soal pegimana bentuk dan rasa Mie-nya, silakan buka Buku Kuliner Edisi 04 – Mie Enak di Jakarta pada halaman 15! 😀

Namun menurut saya, kuah Mi Aceh ini kurang garang. Rempahnya ndak seperti Mi Aceh yang dulu pernah saya cicipi di Jogja. Warna kuah yang merah menantang rupanya rempahnya tampil diam-diam.

Mie Aceh

Paling mantab memang memakan mi ini dalam keadaan panas ngepul-ngepul. Sedikit saja dingin, rasanya akan berubah drastis. Bagi yang suka, acar bawang merah bisa dimasukkan ke dalam kuah, lalu memakannya cepat-cepat.

Senang rasanya dapat berjumpa langsung dengan para penulis dan kontributor buku kuliner tersebut. Ada Mas Irvan Kartawiria, Mas Andrew Mulianto, Teh Cindy van Cereth Kompor, Mbak Grace Khoesuma, Mbak Lidia Tanod, Mas Adi Taroepratjeka, Mas Benny Tjandra, dan Capt. Gatot Purwoko.

Mendengar pengalaman dan cerita dari mereka tentang “susahnya” berburu makanan lalu menuliskan ke buku menjadi pengalaman tersendiri. Mereka tak segan berbagi cerita dan pengalaman kuliner mereka.

Namun ada hal yang ndak seperti ekspektasi saya. Ketika di Beringharjo, masing-masing tim mempresentasikan temuannya dan tim yang lain mengomentari dan bila perlu berdiskusi. Namun kemarin, acara yang saya harapkan saya bisa ngangsu kaweruh, menimba ilmu dari para dedengkot JS ini ndak terlaksana.

Bisa dimaklumi, karena makanan yg ditemukan ini hampir sama semua: Makanan Padang! :)) Berbeda memang dengan di Beringharjo yang banyak ragam dan warna.

Oiya, tim kami dinyatakan memenangi games, padahal kami merasa makanan kami ndak banyak yang kami catat. Rupanya penilaian dilakukan berdasarkan “urutan stiker” yang tertempel di warung yg kami temui. Karena kami banyak menempel stiker di tempat-tempat yang belum ada stiker dari tim lain, maka nilai kami yang paling tinggi.

Sebenernya ada tim lain yang lebih banyak jumlah makanannya, namun didiskualifikasi. Ya jelas, wong anggota timnya berisi panitia semua! 😀

Namun secara keseluruhan, acara ini bagus banget. Salut buat panitianya. Kalo ada acara lagi, jika waktu dan lokasinya pas, saya pasti datang! \:d/

La kalo ndak dateng, goodie bag yang dijanjikan sama Mbak Lidia ndak bakal saya dapat.. :-<

Postingan ini juga dipostingkan di milis JalanSutra sebagai laporan karena tim kami memenangkan games. 😉

41 thoughts on “JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir”

  1. haduuuuh =p~
    kayaknya itu mi aceh sama ketupat sayurnya enak =p~

    di sini susah euy cari ketupat sayur padang yg mantap. baru nemu satu deket rumahku 😀

  2. Kanda Zam yang baik budinya
    Senangnya kemarin kita bersua
    Jangan lupa rencana minggu depan
    Di Bogor kita ‘kan berjalan-jalan

    (rame rame woooyy, ngga duaan doang kok!)

  3. jadi teringat masa lalu. berburu di beringharjo dengan brutalnya.. sampai dikira turis dadakan sama mbok-mbok bakul.
    hahahahah..

  4. halah! dah smp pasar benhil juga? situ emang surga makanan, apalagi klo puasa mantabs! ^^v ada bazaar makanan.
    aku paling suka gado2 bu bambang, lebih enak tmptnya yg di gang sepakat sebelah RM sederhana. atau pecel lele cak abbas itu, sambelnya mantab pedesnya.
    ah…jadi rindu kos deket situ lagi 🙂

    siang kesana ah….sekalian jahit baju di lantai atasnya.

  5. huwaaaah… seperti kenyang betul jeng-jeng kali ini… =p~

    loh? kikod saya reksadana euy… 😮 belum punya… :d

  6. Haduuuh… mie acehnya sungguh menggoda 😡

    Kalo bubur kampin saya kurang suka. Rasanya mbinungi, terlalu banyak isinya…

  7. smakin dibaca semangkin daripada asyiik aja nih
    jadi berhasrat pingin nge add,boleh pun?
    matur nuwun sak derenge nek diperboleh pun
    salam kenal…
    🙂

  8. YAOLOHHHHHHHHHH… ASLI, SAYA JADI LAPARRRRRRRRRRR… :((

    kenapa laporan ini baca subuh2 yach, mo nyari dimana kalo pengen???… :((

    @chic… kikod saya KAYA dong, hahahha… (ngapain juga ngomongin kikod yah 🙂 )

  9. pak BONDAN kapan nieh mampir k Solo lagiiii…. d Solo banyak makanan yg JUARA en MAKNYUUUUSSSS lho !!!!!!:d/:d/
    tuambah ueuenaag ajjah !!!

  10. Benhill memang surganya makanan…dan enak-enak pula, saya berkantor persis dibelakang pasar Benhil selama 19 tahun sebelum pindah ke tempat lain. Selain di pasarnya, dijalanan kecil (bu Bambang), makanannya juga enak…makanan Jawa tapi cara menyuguhkannya seperti makanan Padang, pengunjung boleh mengambil sendiri lauk dan nasinya, nanti baru dihitung.

    Selesai makan biasanya jalan-jalan di pasa kaget yang terletak belakang gedung BRI I dan II, banyak bule berkeliaran…kadang menemukan barang yang menarik dan murah. Duhh jadi kangen lagi….

  11. ada lagi yang unik nih 😮 😮 …namanya Brownies Batik…katanya mau dijadiin oleh2 khas Solo…aku udah nyobain dan rasanya bener2 manteb 😛 😛 😛
    ..jauh sama brownies2 yang lain yang udah terkenal..
    coba aja lihat @kuebrowniesbatik.blogspot.com..
    or search aja di google…

Comments are closed.