Museum Bank Mandiri, Potret Perbankan Masa Lalu

Lobi Museum Bank Mandiri

Rasa penasaran saya terhadap bangunan berarsitektur Indische dengan gaya Nieuw-Zakelijk yang terletak di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) tertuntaskan sudah.

Museum Bank Mandiri, nama gedung itu benar-benar membuat saya puas dan merasakan nuansa berbeda dari museum-museum yang saya kunjungi sebelumnya.

Saya termasuk orang yang suka dengan museum, bangunan tua, heritage, dan sesuatu yang menyimpan cerita sejarah.

Berkunjung ke kawasan Kota Tua Jakarta menjadi aktivitas di akhir pekan bila saya bingung hendak jeng-jeng ke mana. Kawasan itu menjadi semacam surga buat saya, selain karena banyaknya bangunan tua peninggalan Belanda, juga banyak museum!

Saya akhirnya memutuskan mengunjungi Museum Bank Mandiri, yang beralamat di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat.

Akses menuju tempat ini sangat mudah, hanya dengan mengandalkan busway, saya turun di halte Stasiun Kota, masuk ke terowongan dan mengambil arah Pasar Pagi.

Museum ini buka setiap hari kecuali hari Senin (hari libur bagi seluruh museum) dan hari libur nasional, mulai pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore.

Begitu masuk, saya langsung terpesona dengan isi dari museum. Kesan wingit, sepi, berdebu, seketika langsung sirna. Suasana yang adem, bersih, dan terawat adalah kesan yang saya tangkap ketika memasuki museum ini.

Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah, bahkan bila kita mempunyai Kartu Mandiri kita bisa gratis masuk, bebas berfoto-foto, membuat saya merasa ini adalah lokasi yang sangat menyenangkan!

Saya jadi teringat dengan museum Ulen Sentalu di Jogja, yang menarik harga mahal bila ingin melihat isi museum itu. Ternyata museum yang bagus dan keren itu ndak harus mahal!

Setelah urusan administrasi selesai, yaitu cuma menulis buku tamu dan menitipkan tas, saya dengan kalap langsung masuk menjelajah isi musem.

Gedung ini memiliki bentuk arsitektur yang sederhana, yang dirancang oleh 3 orang arsitek asal Belanda, yaitu J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits, dan C. Van de Linde.

Bangunan yang dulu beralamat di Stasionsplein 1, Binnen Nieuwpoortstraat, ini digunakan sebagai kantor Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM), kongsi dagang Belanda yang menggantikan VOC.

Memasuki lantai satu, saya seperti terlempar ke jaman kolonial. Sinyo dan Noni Belanda terlihat wara-wiri melakukan transaksi. Suara-suara mesin hitung yang klak-klik terdengar dari penjuru ruangan.

Ah, namun rupanya itu semua hanya dalam imajinasi saya ketika melihat rekonstruksi ruang Kasir Tjina.

Ruang Kasir Tjina

Berbagai benda dan tata letak di ruang ini pun hampir sama dengan bila kita masuk ke bank biasa. Yang membedakan hanya usia dan bentuk benda-benda tersebut.

Saya terpana melihat sebuah mesin hitung kuno yang berbentuk seperti mesin ketik bermerk Oliver. Belum selesai kekaguman saya, berbagai benda-benda lainnya hampir membuat saya pingsan karena kagum!

Sebuah buku yang diberi nama “Buku Besar (Grootboek)” rupanya ukurannya benar-benar besar! Buku setebal 1503 lembar dengan ukuran panjang dan lebar hampir setengah meter dengan tebal hampir 20 cm ini digunakan untuk mencatat laporan keuangan NHM yang berisi soal hasil kebun dan komoditi pada tahun 1935-1936!

Turun ke lantai bawah membuat saya semakin takjub. Rupanya ruangan ini digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga yang disebut dengan Kluis atau Khasanah (vault / strong room). Ruangan ini berukuran 924 m2 dan terbagi atas 3 ruangan.

Untuk memasuki ruangan ini, kita harus melewati sebuah pintu yang terbuat dari baja berwarna hijau setebal 10 cm dengan berat 5 ton yang langsung dibawa dari Amsterdam. Sistem pengaman pintu ini menggunakan sistem waktu dan kombinasi angka. Sebuah teknologi hebat di masa itu! =D>

Saya membayangkan, bila dulu hendak merampok bank ini, kita ndak perlu membobol pintu, namun dengan membobol temboknya! :))

Dari pintu utama ini, terdapat ruangan yang penuh dengan teralis. Sekilas ruangan ini memang mirip penjara. Rupanya tempat ini digunakan untuk menyimpan berbagai surat berharga, yang disebut dengan Efecteen Kluis.

Ruang kedua atau ruang tengah berisi berbagai jenis Brandkast segede kulkas. Brankas-brankas baja ini digunakan untuk menyimpan uang dan emas (Kast Kluis).

Ruangan ketiga merupakan ruang penyimpan Safe Deposit Box (SDB) yang digunakan untuk menyimpan benda-benda berharga lain semacam perhiasan. Dari ketiga ruang di dalam Kluis ini, hanya ruang penyimpan SDB yang kala itu bisa dimasuki oleh nasabah penyewa SDB.

Ruang Safe Deposit Box

Uniknya, bila diperhatikan, semua brankas dan peti penyimpanan ini tidak ada yang diletakkan mepet ke tembok. Selalu saja ada ruangan di antara lemari dan tembok. Rupanya ini merupakan salah satu sistem keamanan yang diterapkan pada masa itu.

Saya menemukan sebuah lift kuno di bagian belakang. Desain interior lift yang jadul banget, dengan pintu kaca membuat saya penasaran untuk mencoba. Meski kuno, namun mesin lift ini sudah menggunakan mesin modern. 😉

Saya pun mencoba naik ke lantai 2. Di sini terdapat ruang penyimpanan berbagai benda pendukung aktivitas perbankan, mulai dari perkembangan teknologi informasi hingga sistem keamanan bank!

Di ruang perkembangan teknologi informasi, saya melihat komputer-komputer server jaman dulu yang segede gaban. Printer-printer yang lebih mirip mesin fotokopi, hingga media penyimpan data nasabah yang masih berupa pita magnetik! Buset!

Di ruang yang menyimpan benda-benda sistem keamanan bank juga lucu. Saya menemukan berbagai pakaian seragam satpam lengkap dengan tanda kepangkatannya hingga senjata-senjata yang digunakan. Saya melihat shuriken dan paku lempar yang dimasukkan ke dalam kategori senjata satpam selain pentungan!

Dari ruang-ruang penyimpan ini, saya menuju ke bagian depan. Sebuah ruang rapat yang begitu bagus mengingatkan saya pada ruang rapat pada film-film mafia. Pantas saja, beberapa bahan terutama ubin menggunakan bahan mozaik keramik bercampur kaca, yang merupakan material impor dari Vinencia, Italia.

Kaca Patri

Ketika hendak turun ke bawah menggunakan tangga, saya terkesima begitu melihat kaca patri di depan tangga. Inilah bagian yang hampir selalu ada di bangunan-bangunan bercorak Indische. Lokasinya pun, selalu di depan tangga utama.

Corak-corak kaca patri ini menggambarkan 4 musim di Belanda dan seorang nakhoda yang mendarat di Banten tahun 1596, Cornelis de Houtman.

Begitu turun ke lantai 1, saya menuju ke toko suvenir yang berada di sayap selatan. Di ruang sebelahnya lagi, saya menemukan berbagai mesin-mesin ATM jaman dulu.

Kebelet pipis, saya menuju ke toilet. Menarik, di depan pintu masuk toilet, terdapat sebuah papan keterangan yang menyatakan bahwa toilet itu dulu merupakan toilet khusus untuk para Inlander!

Bentuk toilet ini sengaja dipertahankan sesuai dengan aslinya, namun diberi sekat-sekat dari kayu untuk memisahkan toliet pria dan wanita. Pispotnya pun sudah berubah, mungkin karena pispot asli sudah rusak dimakan jaman.

Menjelajah museum yang dikelola oleh Bank Mandiri ini ndak ada habisnya. Saya ketika menulis postingan ini merasa ada beberapa bagian yang belum terkunjungi.

Bila njenengan datang ke sini, cobalah anda berkeliling museum. Menyusuri setiap lorong dan ruangan-ruangannya, kita akan menemukan hal-hal menarik, meski sebenernya ruang itu bukanlah bagian dari museum. ;))

Pokoke ini museum lajak dikoendjoengi, teroetama oentoek rekreasi keloearga.. :top

53 thoughts on “Museum Bank Mandiri, Potret Perbankan Masa Lalu”

  1. weh tumben postingane dowoooo…..

    musium di indonesia msh terbatas utk hal2 sejarah ya. coba ada musium utk hal yg konyol2, misal ttg tutup botol, ttg stiker, bahkan ttg sex :d

    *lg kepengen menjelajah musium2 di jogja*

  2. ga mampir sekalian di museum Bank Indonesia….? kan deket2 situ juga Jl. Pintu Besar Utara No.3, bagus juga loh…. *promosi* 🙂

  3. ullen sentalu wis larang, ra oleh poto-poto meneh ;))

    pengen ke Jakarta, nengok kota tuanya 🙁
    termasuk jelajah museum juga.

  4. @ mbak Evi:
    tunggu tulisan saya soal Museum Bank Indonesia! 😀

    @ Mutia:
    emang keren.. buat foto-foto pre-wedding juga keren kok, Mut! hihihihi..

    ajak masQu, eh mas-mu, doms ah! ;))

  5. hohoho.. Kota Tua… Sering lewat, tapi keinginan buat mampir belum pernah kesampaian.. ada aja halangannya.
    Eh sekali-kali bisa kesana, buat photo prewed, boro-boro bisa liat-liat… yang ada udah capek duluan :d

  6. hmm 🙂
    kalau melihat deskripsi yang sebagus itu, agak kaget juga masih ada museum di indonesia yang kayak gitu.
    *sering2nya aku tau museum sepi dan ga terawat.

    btw, kok keycode njuk ‘sukubunga’

  7. wah..langsung masuk must visit list neh..daripada nongkrongin mall2 yang sama sekali ga visitor friendly..secara mo liat2 barangnya aja pake diliatin dulu penampakan kita dari atas sampe bawah..nyebahi../:)

  8. uda perna ke sono waktu bareng komunitas historia, tapi karena berombongan jadinya terikat jadwal. makanya belum puas muter-muternya menikmati museumnya. kapan-kapan ke sana lagi ah…

    uda perna ke museum BI belum, Zam? Yang di sebelahnya itu.. Coba deh. Keren banget loh!! Dijamin BEDA ama museum-museum laen di Indonesia huehehhe…

  9. Siapa lagi yg mau melestarikan Wisata dan Budaya kalau bukan kita-kita putra/putri bangsa (btw, kita punya negara kan?)

    .::he509x::.

  10. hahahahaha sekarang sultan bener-bener sudah menjadi borjuis… bukan hanya keycode yang berubah tapi juga sasaran wisatanya….
    😀

    asyem mbiyen reksadana saiki uang keycodeku

  11. wah… keren bisa jebol brankas…

    *btw keycodenya “sugih” pas ama temanya*

    kebetulan kali ya…

    asal ojo nyugih… :d

  12. berarti semakin tua usia sesuatu, Zam semakin menyukainya. Kalau begitu Zam lebih menyukai nenek-nenek daripada gadis muda. begitoe? :d

  13. wah penulisannya mantap….
    saya sendiri sudah 2 kali ke sana, yang 1 di malam hari dan yang 1 lagi di siang hari, dan saya lebih suka suasana malam di museum ini, lebih terasa kunonya
    :d

  14. Hai salam kenal ya. Aku tertarik nih dengan blognya terutama tentang Musem Bank Mandiri ini. Aku boleh link ya. Thanks, Kiki

  15. Salam Kenal,
    Wah gedungnya Museum Bank Mandiri ini yang di depam Stasiun Beos bekas Bank Exim dulu ya. Interior gedung masih asli dan bagus sekali. Harus ke sana minggu ini. Trims informasinya.
    Salam

  16. orang-rang yang ada di sana sangat kreatif & mudah untuk berkerja sama
    Maju turus dan terus berjarya 😉

  17. kafenya buka terus dong kalau perlu sampai mala, apala gi kalau malam minggu asik buat nongkrong sama teman – teman:d/

  18. ih suer keren bgt siapa yg buat sebagus nie salutttttttt:clapda de ga bisa komentar apa apa lg:ups

  19. saya bener bener belo pnah menginjakan kaki saya ke museum ini.
    asli kereeeeen banget :d/

    ni akn gw gunakan buat bahan storyboard,tugas kampus.

    MANTAAAAAAPP !

  20. :)Meski blm pernah ke sono aku turut bangga dgn adanya museum ini.Dari sini dpt dketahui sejarah perekonomian Indonesia sejak masa Hindia Belanda.Hal yg patut dktahui orang2 muda skrg.

    iberahim (Tanjung Tabalong, Indonesia)

  21. Thanks ya, atas informasinya yg lenglap dan foto2nya yg menarik. Bagus lho, reviewnya. Insya Allah berkat ulasan spt ini, museum bisa jadi tempat favorit keluarga…

Comments are closed.