Rabbit-Proof Fence: Perjalanan Menuju Kebebasan

Rabbit-Proof Fence

Sabtu, 24 Januari 2009, lalu saya nonton Film Rabbit-Proof Fence pada acara Australian Film Festival & Art Exhibition yang bertema “Dreaming Stories – Australian Indigenous Cultural Festival” dalam rangka merayakan Australia Day 2009 di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta.

Film produksi tahun 2002 yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini sangat berkesan dan sarat dengan pesan moral tentang pembebasan dari “penyeragaman” budaya, selain menghibur tentu saja.

Kisah ini diambil dari buku “Follow the Rabbit-Proof Fence” yang ditulis oleh Doris Pilkington Garimara, yang menceritakan perjalanan Molly Craig membebaskan diri dari aturan pemerintah Australia tahun 1931 di mana anak-anak “campuran” Aborigin dan “kulit putih” harus dipisahkan dari keluarga Aboriginnya.

Molly Craig, Daisy Burungu, dan Gracie Fields, tiga anak perempuan campuran dari Jigalong ini harus berjuang untuk melarikan diri dari Moore River, sebuah penampungan bagi anak-anak campuran untuk dididik mengikuti budaya kulit putih, untuk kembali ke tempat asalnya.

Aturan pemisahan ini rupanya mempunyai suatu niatan yang sangat jahat, yaitu pemusnahan ras dengan cara yang sangat halus, dengan cara mengajarkan budaya kulit putih dan perkawinan antara anak campuran dengan orang kulit putih yang pada akhirnya secara genetik ras Aborigin ini akan musnah.

Molly menggendong Daisy

Suasana penampungan dan pendidikan Moore River yang terletak di utara Perth ini rupanya membuat Molly dan kedua saudarinya melarikan diri dari penampungan. Namun rupanya pelarian tidak semudah yang dibayangkan karena mereka harus menghindari seorang pelacak jejak yang handal bernama Moodo yang akan mengembalikan para pelarian ini untuk kemudian mendapatkan hukuman yang sangat berat.

Dengan naluri berburu yang hebat, Molly berhasil membuat Moodo kesulitan untuk menemukan jejak mereka. Jarak 2.400 km yang harus ditempuh ketiganya tidak menyurutkan semangat mereka untuk kembali ke tanah kelahiran mereka. A.O. Neville, pejabat yang mengemban aturan ini, pun menjadi sangat kelimpungan dan frustasi menemukan ketiga anak perempuan yang melarikan diri.

Dengan mengikuti Rabbit-Proof Fence atau pagar penghalang kelinci, ketiganya berjalan kaki menuju Jigalong, yang terletak di sebelah utara Australia barat. Pagar kelinci adalah pagar kawat yang dibuat membentang di Australia barat yang bertujuan untuk menghalau kelinci dan binatang pengerat lain yang sangat merugikan. Pagar sepanjang lebih dari 2000 mil ini dibangun tahun 1901 hingga 1907.

Molly dan Daisy di samping Rabbit-Proof Fence

Kisah pelarian inilah yang diangkat oleh sutradara Phillip Noyce. Berbagai intrik mulai dari masalah yang dihadapi oleh ketiga anak perempuan hingga kefrustasian A.O. Neville digambarkan dengan detail. Berbagai penghargaan pun sempat dimenangkan oleh film ini.

Perjalanan ribuan kilometer ini rupanya tidak hanya sekedar perjalanan fisik. Ada pesan yang bisa ditangkap, yaitu keinginan untuk membebaskan diri dari penghapusan ras, penyeragaman budaya, dan perjuangan yang sangat hebat.

Sebuah film yang sangat menyentuh, menghibur, dan memberikan pengetahuan sejarah tentang Australia yang kita jarang mengetahui.

Gambar dan poster diambil dari IMDb (Internet Movie Database)

23 thoughts on “Rabbit-Proof Fence: Perjalanan Menuju Kebebasan”

  1. Apa ini film petualangan mas zam yang kemaren malem2 di atas prahu itu? :d

    Btw, ini film indie?
    Jadi penasaran..

    Kapan2 kalo nonton film, ajak aku dunk?!^^v

  2. coba tonton film ttg perjalanan menuju silk road atau jalan sutra itu zam, lebih touching *menurutku*

  3. wahhh… sayang gak bisa ditonton di bioskop yahh

    tapi ada juga khan crita ttg australia versi film hollywood, yang main “Nicole Kidman”… gak tau apa beredar juga disini atau enggak. Judulnya “Australia”… 🙂

    Anyway, apa khabar?… maap baru mampir… baru abis sakit soalnya. Coklat aku dah meleleh kali yahhh, hahaha…Tak tunggu undangannya yahhh 🙂

  4. Menonton film ini… mengingatkan saya mengenai kondisi Papua… memang kami tidak mengalami pemisahan secara kasar spt dalam film ini… namun sebagai bagian dari negara ini… kami tidak bisa merasakan apa yang seharusnya kami nikmati sbg bagian dari bangsa ini… dimana-mana, hampir semua org menganggap kami aneh, bodoh, kampungan, berkulit hitam gosong, berambut keriting aneh… yah diskriminasi yg dilakukan secara sangat halus…
    semoga film ini di tonton oleh kita semua, bkn utk menghina org Aussie saja, tp bgmn dengan perlakuan kita kpd masyarakat sebangsa kita???

    I never feel that I’m part of this country!!!

Comments are closed.