Museum Taman Prasasti, Bekas Makam Tertua Batavia

Museum Taman Prasasti

Berkunjung ke Museum Taman Prasasti, yang terletak di Jl. Tanah Abang 1 No. 1, Jakarta Pusat, rupanya mampu melemparkan saya ke suasana yang sangat berbeda. Museum yang dulunya memang merupakan areal pemakaman kuno pada masa Batavia ini memang memberikan nuansa sepi, sejuk, dan tenang, terutama di tengah hiruk-pikuknya Jakarta.

Suasana angker, kumuh, mengerikan, kotor, langsung sirna begitu menjejakkan kaki ke areal yang luasnya sekitar 1,3 hektar ini. Memang kesan menakutkan masih sedikit terasa karena berbagai bentuk batu nisan yang berada di lokasi ini.

Menuju ke tempat ini sangatlah mudah. Dengan menggunakan TransJakarta, saya turun di halte Monumen Nasional, tepat di depan gedung Museum Nasional (Museum Gajah).

Dari sini, saya berjalan sedikit ke arah utara, menuju ke sebuah jalan kecil di antara gedung Museum Nasional dan Gedung Depkominfo (Jl. Museum) ke arah barat, kemudian menyeberangi Kali Krukut menuju ke utara hingga menemukan Jl. Tanah Abang 1. Jika ogah repot, kita bisa naek ojek dari pertigaan dekat Depkominfo.

Suasana di sekitar sini sangat rapi dan bersih. Trotoar yang cukup lebar membuat saya lebih memilih berjalan kaki menikmati suasana.

Sebelum masuk areal museum, kita akan disambut oleh sebuah bangunan bergaya Doria yang dibangun pada tahun 1844 sebagai gerbang masuk. Di dalam bangunan ini terdapat ruangan di sayap kanan-kiri yang berfungsi untuk menyemayamkan jenazah.

Gerbang Museum Taman Prasasti

Di salah satu ruang bekas ruang penyemayaman jenazah inilah kita bisa membeli tiket untuk masuk ke museum ini. Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah, kita bisa menjelajah setiap sudut area museum.

Seperti pada museum-museum lainnya di Jakarta, museum yang pengelolaannya berada dalam satu manajemen dengan pengelola Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) ini beroperasi setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore. Museum ini juga tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.

Makam kuno (Kerkhof Laan) ini awalnya bernama Kebon Jahe Kober, yang didirikan pada tanggal 28 September 1795. Saat itu kondisi Batavia sangat padat dan tidak sehat sehingga banyak warga yang terkena penyakit dan meninggal. Pemakaman di depan gereja pun tidak sanggup menampung sehingga pemkot Batavia kemudian mencari lahan di luar kota Batavia yang berada di sebelah selatan.

Areal makam ini dulunya sangat luas, mencapai sekitar 5,9 hektar. Posisinya yang dekat dengan Kali Krukut membuat posisi makam ini sangat strategis. Kali Krukut pada masa itu bahkan digunakan sebagai moda transportasi untuk mengangkut jenazah dan rombongan pengantar dengan menggunakan perahu.

Museum Taman Prasasti diresmikan pada tanggal 9 Juli 1977 oleh gubernur saat itu, Ali Sadikin, setelah selama 2 tahun jenazah-jenazah yang ada di makam ini direlokasi pada tahun 1975-1977. Sejak Agustus 2003, pengelolaan museum yang terletak persis di sebelah kantor Walikota Jakarta Pusat ini, bergabung dengan manajemen Museum Sejarah Jakarta.

Begitu masuk, kita akan mendapati beberapa pilar-pilar yang di tiap sisinya terdapat prasasti nisan. Gubernur Ali Sadikin yang saat itu mempunyai ide untuk menata prasasti-prasasti tersebut ke dalam pilar-pilar sehingga lebih rapi dan tertata, namun rupanya pemerintah Belanda tidak menyetujui ide ini, sehingga terkesan pembangunan pilar-pilar ini belum rampung.

Pilar-pilar prasasti

Meskipun di sini saya menyebutnya makam, namun semua jenazah yang ada di sini sudah dipindahkan. Ada yang dikembalikan ke keluarganya di negeri Belanda, sebagian dipindahkan ke pemakaman Menteng Pulo, dan beberapa dimakamkan di pemakaman umum lain semacam Tanah Kusir.

Kompleks makam ini terbagi atas 10 blok yang mengikuti kontur parit dan menyimpan hampir 1.500 koleksi. Bila bingung hendak ke mana, ikuti saja jalur semen yang mengelilingi kompleks ini. Sesekali keluar jalur untuk mengeksplorasi dan melihat-lihat nisan juga tak mengapa.

Nisan-nisan yang terdapat di sini beraneka rupa bentuk dan bahannya. Dari angka tahun yang tertulis di nisan, rata-rata berangka tahun wafat 1800-1900-an. Yang dimakamkan di sini pun beragam, awalnya hanya diperuntukkan oleh kaum bangsawan dan pejabat VOC/Batavia, namun seiring waktu masyarakat umum pun diterima, tentunya dengan membayar sejumlah tertentu.

Contoh Heraldik

Informasi dari batu nisan dan prasasti yang ada inilah kita bisa mengetahui komposisi penduduk Batavia pada saat itu. Dari bahasa yang tertulis di nisan, kita juga akan mendapati bangsa-bangsa yang ada. Bentuk-bentuk hiasan menunjukkan pola arsitektur yang berkembang saat itu, mulai dari arsitektur klasik, neo-gothic, dan Hindu-Jawa.

Logo Heraldik yang terpampang di nisan menunjukkan garis keturunan keluarga. Ada keturunan keluarga Cornelis Breekpot (militer), Jonatan Michielsz (saudagar Portugis, mardjiker), Cornelis Lindius (agamawan gereja), Juffrow Sara Pedel (saudagar), Catharina van Doorn (anggota dewan Hindia-Belanda), dan Jacques de Bollan (anggota dewan kota Batavia).

Logo Heraldik adalah semacam lambang status sosial, yang diberikan kepada suatu keluarga karena memiliki jasa-jasa tertentu. Logo ini biasanya dipasang di foto seseorang yang menunjukkan identitas keluarganya.

Tiap-tiap logo memiliki berbagai macam informasi yang disimbolkan dalam gambat-gambar penyusunnya. Biasanya simbol-simbol ini berisi falsafah hidup, semboyan, dan ajaran kebaikan.

Saya berniat untuk berjalan dengan mengikuti jalur ke arah kiri. Belum saya melangkah, pandangan mata saya tertahan pada sebuah dinding dengan prasasti di tengah dan ada hiasan tengkorak yang tertancap pedang. Inilah prasasti Pieter Erbelrveld, seorang campuran Jerman dan Thailand yang membenci orang-orang Belanda.

Monumen Pieter Erberveld

Pieter Erberveld begitu membenci pemerintah Batavia yang sewenang-wenang. Beberapa kali Pieter Erbelverd melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan dibantu oleh Raden Kartadriya. Belanda menuduh Erbelverd hendak melakukan pemberontakan dan melakukan pembantaian terhadap etnis Belanda.

Ketika tertangkap, Erberveld diganjar hukuman yang sangat kejam. Tangan dan kakinya diikatkan ke 4 ekor kuda kemudian ditarik ke 4 arah yang berbeda. Tentu saja badannya robek dan berhamburan di jalan. Lokasi tempat eksekusi Erberveld yang terletak di tepi Jacatra-weg ini kini dikenal dengan Jalan (Kampung) Pecah Kulit, yang sekarang menjadi Jalan Pangeran Jayakarta.

Kepala Erberveld ini kemudian ditusuk dengan pedang dan dijadikan monumen sebagai peringatan kepada warga agar tidak melawan Belanda. Sebuah prasasti sepanjang sekitar 8 meter pun dibuat yang berisi peringatan dalam bahasa Belanda dan Jawa untuk tidak mendirikan bangunan atau menanam tumbuhan di sekitar monumen.

Prasasti yang terletak di Kampung Pecah Kulit ini kemudian dipindahkan ke Museum Taman Prasasti. Namun tengkorak dan pedang di prasasti ini tentu hanya replika. ๐Ÿ˜€

Nissan H.F. Roll

Tak jauh saya melangkah dari prasasti Erberveld, saya menemukan nisan makam H.F. Roll, si pendiri STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), sekolah tinggi kedokteran untuk kaum pribumi. Nisannya dapat dengan mudah dikenali dari bentuk buku terbuka yang menjadi hiasan nisan.

Roll adalah seorang dokter Belanda yang berpikiran maju. Dia mengusulkan pendidikan kedokteran pribumi harus sama dengan pendidikan dokter di Belanda. Roll pun sempat menjadi direktur STOVIA, di mana pergerakan Budi Utomo lahir di sana.

Ndak jauh dari nissan H.F. Roll, ada sebuah bangunan mungil yang kini berfungsi sebagai gudang. Di bangunan itu dulunya ditemukan mumi dari keluarga keluarga A.J.W. Van Delben. Mumi itu sekarang entah berada di mana.

Rumah Van Delben

Sebuah kereta yang terpajang tak jauh dari situ menarik perhatian saya. Rupanya itu adalah kereta jenazah yang pernah dipakai untuk mengangkut jenazah dari pelabuhan Kali Krukut ke pemakaman Kebon Jahe Kober.

Seperti yang saya ceritakan di awal, jenazah dibawa dari kota Batavia ke pemakaman dengan menggunakan perahu yang melalui Kali Krukut, kemudian jenazah dibawa ke pemakaman dengan menggunakan kereta kuda ini. Jumlah kuda yang menarik kereta menunjukkan status sosial si jenazah.

Dulu terdapat lonceng perunggu yang terpasang pada tiang besi setinggi 4 meter yang berada di pelabuhan, yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari makam. Ketika jenazah tiba di pelabuhan, lonceng ini akan dibunyikan sebagai tanda jenazah telah tiba.

Kereta jenazah tua

Masih di blok yang sama, saya melihat batu nisan Olivia Mariamne Raffles, istri pertama Thomas Stamford Raffless saat masih menjabat jadi Gubernur Letnan Jawa ketika pemerintahan Inggris. Olivia begitu mencintai dunia tanaman dan dia lah yang mencetuskan ide pembangunan Kebun Raya Bogor. Saat Olivia meninggal pada usia 43 tahun, dibuatlah sebuah monumen di Kebun Raya Bogor yang dipersembahkan untuk Olivia Raffles.

Nisan Olivia Mariamne Raffless

Masih di sekitar situ, ada sebuah nisan yang unik menurut saya, berada tepat di bawah sebuah pohon. Hanya sebuah tulisan yang ada di batu nisan yang berbunyi, Kapiten Jas. Siapakah dia?

Kapiten Jas adalah sebuah legenda. Diduga nama ini berhubungan dengan Jassen Kerk, sebuah gereja Portugis di luar kota lama. Pada abad ke-17, karena kondisi Batavia yang tidak sehat, banyak warga meninggal dan dimakamkan di halaman gereja ini. Tanah pemakaman di halaman gereja inilah yang disebut dengan “tanah Kapiten Jas”.

Lantas, siapakah yang dimakamkan di sana? Entah lah, namun menurut salah seorang penjaga museum, jasad yang ada di situ ketika direlokasi mengalami hambatan, yaitu peti matinya terlilit akar pohon yang tumbuh di sampingnya.

Nisan Kapiten Jas

Mengikuti jalur yang ada, saya pun berkeliling. Batu nisan berbagai bentuk rupanya menarik perhatian serombongan anak SMA untuk berfoto-foto. Dengan menggunakan kostum ala vintage, mereka berpose di atas nisan atau berlatar belakang suasana makam.

Memang di beberapa tempat terdapat hiasan-hiasan berupa malaikat, manusia bersayap, wanita cantik, dan sebagainya. Ada juga bentuk-bentuk bangunan dengan arsitektur yang indah. Ndak heran banyak syuting, pemotretan pre-wedding yang mengambil lokasi ini.

Di beberapa sudut tersedia bangku-bangku taman. Sesuai dengan namanya, Museum Taman Prasasti ini memang layak dijadikan taman tempat berekreasi. Sembari duduk-duduk menikmati keteduhan suasana karena di sini tumbuh berbagai jenis pohon yang rindang.

Nisan Soe Hok Gie

Rupanya tidak hanya tokoh-tokoh Belanda saja yang dimakamkan di sini. Di luar jalur semen, saya melihat nisan Soe Hok Gie, tokoh pergerakan mahasiswa era tahun 1967-1969, yang meninggal menghirup gas beracun di Gunung Semeru.

Selain Soe Hok Gie, ada juga nisan Miss Riboet. Miss Riboet adalah penyanyi dan penari terkenal dari kelompok seni Orion Junior yang didirikan oleh suaminya, Tio Tek Djien, pada tahun 1925. Selain menari, Miss Riboet piawai memainkan pedang.

Karir Miss Riboet makin terkenal ketika dia memainkan peran sebagai perampok wanita dalam lakon berjudul Juanita de Vega karya Antoimette de Zema. Namun karir kelompok seni ini berakhir pada tahun 1934 ketika dua orang penulis naskah mereka, Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, pindah ke kelompok sandiwara asal Surabaya yang menjadi saingan berat Orion. Miss Riboet meninggal di Jakarta pada tahun 1965.

Nisan Miss Riboet

Melanjutkan penelusuran saya, berbagai tokoh pun saya lihat nisannya. Ada nisan Dr. J.L. Andries Brandes, seorang arkeolog yang menguasai sastra Jawa kuno. Sejarah Indonesia banyak sekali yang dia ungkap, mulai dari Kitab Pararaton, naskah raja-raja Tumapel hingga Majapahit.

Batu nisannya unik. Sekilas bentuknya seperti lingga, dengan ukiran antefix seperti yang dapat ditemukan pada hiasan beberapa candi di Jogja.

Nisan Dr. J.L. Andries Brandes

Masih banyak tokoh-tokoh lain yang nisannya berada di museum ini. Ada nisan Adami Caroli Claessens, seorang pastur Katholik yang datang ke Hindia Belanda pada tahun 1847. Salah satu jasa Claessens adalah membangun kembali Gereja Katedral yang roboh pada tahun 1890.

Ada juga nisan J.H.R. Kohler, seorang panglima tinggi militer Batavia yang gugur ketika melakukan ekspedisi ke Aceh. Kohler gugur karena salah sasaran, seharusnya menyerang Kerajaan Aceh, namun justru menyerang sebuah masjid. Masyarakat pun melakukan perlawanan dan Kohler tewas tertembak di dada pada tahun 1879.

Ketika hendak mengakhiri kunjungan, saya tertarik dengan sebuah bangunan di sebelah selatan gerbang masuk. Sebuah aula yang tertutup rapat mengusik rasa penasaran saya. Ketika saya bertanya kepada penjaga museum, dia malah mengajak saya masuk ke dalam melalui jendela karena pintu utamanya rusak.

Rupanya aula ini tempat menyimpan peti jenazah proklamator kita, Bung Karno dan Bung Hatta. Peti bung Hatta di sebelah utara (kiri) dan peti Bung Karno di sebelah selatan (kanan).

Si penjaga pun mengijinkan saya melihat isi peti. “Semua masih asli”, kata penjaga itu. Saya melihat isi peti yang mulai lapuk kain dan bantalan di dalamnya karena dimakan usia.

Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta

Mengunjungi Museum Taman Prasasti dapat menjadi wisata alternatif. Selain menikmati kesejukan udara dan kicauan burung yang hinggap di sela-sela pepohonannya yang rindang, kita juga bisa mengenal berbagai tokoh yang hidup di masa silam.

Yang menarik, makam Kebon Jahe Kober (1795) bahkan bisa dibilang salah satu makam tertua di dunia. Lebih tua dari Fort Cannin Park (1926) di Singapura, Gore Hill Cemetery (1868) di Sidney, La Chaise Cemetery (1803) di Paris, Mount Auburn Cemetery (1831) di Cambridge yang diklaim sebagai makam modern pertama di dunia, atau Arlington National Cemetery (1864) di Washington DC.

66 thoughts on “Museum Taman Prasasti, Bekas Makam Tertua Batavia”

  1. Liputannya menarik, Mas Zam!
    Apalagi wisata makam-makam kuno seperti itu pasti mampu membawa kita kembali pada bentuk-bentuk berestetika seni di jaman saat makam dibuat.

    Wah saya malah baru tahu kalau di Sydney ada makam yang setua itu, besok kalau sempat kubalas posting liputanku di makam itu ๐Ÿ™‚

    Salam kenal:)

  2. busyet, bisa detil begitu, ya?
    aku penasaran opo sambil nggowo catetan ngono, mas bro?:-?
    eh, kapan ke museum tekstil, ajak-ajak yak! aku pengen membatik lagi, kemarin gagal ๐Ÿ™

  3. Mantabs! :top
    sebetulnya dari tempat saya duduk ini tinggal sekali koprol, tapi kok males tenan yo…. *alasan*

    pernah liat juga liputannya di elsinta TV

  4. dulu saya pernah minta ditunjukin nisannya soe hok gie & miss riboet sama penjaganya dan dijawab tidak tahu :o. dasar pns dodol :))

  5. wah, ngeri juga tempatnya, mas!
    katanya bernuansa mistis lagi, sampai2 tempat beli tiketnya pun bekas tempat penyemayan jenash.
    dari posting ini saya lebih mengetahui begitu kejamnya Belanda dulu sampai2 warganya sendiri Pieter Erberveld di jatuhi hukuman yangbegitu kejam!

  6. :d
    wah menarik sekali perjalanan sampeyan ke museum taman prasasti itu mas. dari situ sebenarnya kita bisa mengikuti sejarah perjalanan bangsa kita, termasuk mengetahui siapa2 saja yang berperan penting dalam sejarah bangsa kita….
    salut bro….
    eh saya tertarik dengan si Pieter Erbelverd. dimana saya bisa dapat reverensinya yah? tq….

  7. @ Mas Anjas Wijanarko:
    ada banya versi cerita soal Pieter Erberveld, namun yang lengkap bisa dibaca di De Nerderlandsch Oostindische Compagnie in de Achtiende eeuw karya Prof. Godee Molsbergen

    moga mencerahakan! kalo saya sih dapat ceritanya dari internet dan milis rekan-rekan komunitas pecinta sejarah. ๐Ÿ™‚

  8. lebih seru lagi klo malem-malem berkunjungnya gegege…kamu moto-moto gitu udah ijin belom sama yg nempati makam? ijin pake bahasa londo tuh ;)) aku wis pernah liat liputannya di elshinta tv, seru juga tuh, tapii sahaya penakut gan nyerah aja deh ^^v

  9. Liputannya bagus, membuat kita membayangkan masa lalu, dan seperti apakah kita nanti?
    Yang jaga museum apa nggak serem ya, biarpun siang? Kayaknya kalau lihat gambarnya, walau siang tetap serem dan gelap.

    BTw, kalau makam yang di kebun Raya Bogor itu makam siapa ya? Seingatku ada kaitan dengan Rafles.

  10. @ Bu Edratna:
    yang di Kebun Raya Bogor adalah monumen yang dipersembahkan untuk Olivia Mariamne Raffles. di museum ini sudah tidak terdapat jenazah karena sudah direlokasi semua sebelum museum dibuka. ๐Ÿ™‚

  11. wooow mantaph kang postingane….waktu ku baca dengan seksama kayak baca buku sejarah aja bahkan lebih joss lagi soale ada gambar2nya…

    SALUUT…SALUUT…:d

  12. Panjang tuenan. Aku pernah ke situ dan mendapati diriku terbuai angin sepoi-sepoi. Di situ enaknya emang tidur, hehhee…

    Ngelihat rusa ndak?

  13. Hallo salam kenal, saya penggemar museum jg nih. Wah keren ulasannya Mas. Saya sempat ke Museum Prasasti juga, tapi tidak mendapatkan informasi sedetail ini. Apa dibantu pemandu / cari info sendiri nih ? Ditunggu postingan2 berikutnya.

  14. woow,, it was very interesting to visit Taman Prasasti museum…

    I really happy if I spend my time or mu holyday to go to the museum,, than I must go to the plece which has crowded and many laughing…
    Exactly,, I haven’t visit it..
    But after I read ur article,, I decided to visit the museum…
    It can be my best experience,,, to spend my time around the grave… :d

    I must try it…
    …Thanks for ur inspirations…^^v

  15. zam, klo jeng-jeng di jkt lagi ajak2 dunk. drpd aku luntang-luntung sendirian *ga ada yg motoin, hekeke*
    next trip: pengen ke gedung arsip nasional nih.

  16. Postingan yang amat menarik dan informatif. Ada satu koreksi tentang prasasti Pieter Erberveld. Yang benar prasasti aslinya saat ini ditempatkan di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah). Sedangkan yang ada di Taman Prasasti ini hanyalah replikanya.

  17. @ arild:

    terima kasih informasinya. semua prasasti Peter Erberveld, baik yang ada di Museum Sejarah Jakarta dan Museum Taman Prasasti adalah replika karena yang aslinya sudah hancur. ๐Ÿ™‚

  18. saya pernah k museum prasasti bersama rombongan museum katdral jakarta untuk melihat perjalanan iman katolik pada masa pemerintahan Hinda Belanda saat itu d sana ada makam para Uskup Belanda dan pastor Belanda yang telah berjasah mendirikan Gereja Katdral jakarta,dan panti asuhan Vincensius,perjalanan iman yang panjang,karena dulunya orang beriaman Hanya orangx2 Belanda en orang Eropa saat itu,orang pribumi,cina,en india masih belum beriman katolik

  19. keadaan keterbalikan ada di Surabaya…
    Makam sejenis yang dikenal dengan nama Makam Peneleh ini tak terawat dan terbengkalai.. padahal makam ini juga bernilai sejarah tinggi.. what we gonna do ???

  20. erberveld ini keknya masuk dalam kisah “Rahasia Meede” karangan ES ITO deh, kang…

    mengerikan sekali. dibunuh dengan cara kejam begitu… salah dia sendiri juga sih sebenernya..
    hehe..

  21. Lengkap dan menarik. Saya juga jadi tertantang untuk mendokumentasikan makam peneleh disurabaya, yg tidak terawat dan berisi org2 terkenal juga.
    Ngomong2 pendokumentasiannya di taman prasasti harus pakai izin dan biaya tidak? Mohon pencerahannya

  22. terima kasih atas ulasannya. besok rencananya saya akan pergi ke museum ini, makanya saya googling dulu, supaya tau arah dan tujuan. hoho,,

  23. Museum ini keren … ๐Ÿ˜ก
    Sy sudah kemari minggu lalu, patung malaikat nya cantik2 buat foto2 deh ma ponakan. Disana
    ada patung cewek lg nangis meratap tengkurap segedhe beneran! Ngga difoto ya Mas. Pas disana ada rombongan lain lg foto2 jg tuh, pake fotografer.
    Great posting, rinci ya tulisannya …^^v

  24. nice blog Mas.. :)4 jempol deh.. baru kepikiran menjelajah museum ini sambil motret, eh ada yang bikin liputan di blog..
    content nya bener-bener bikin pengen dan informatif banget..

  25. Saya sih sudah pernah kesana, tapi kok kondisinya sekarang sudah tidak seperti di foto (makin tidak terawat/rusak……)

  26. baru aja ntn trans 7 acara masih dunia lain.. uji nyali di museum ini. wah horor jg ne.. tp jd penasaran pgn kesana. pdhl srg lewat tnh abang, tp kok ga kliatan ya. lokasinya dmana si tepatnya?

  27. untuk foto2 di museum ini perlu byr biaya tambahan kah? karena sempet baca2 di website laen ada biaya tambahannya. saya ingin konfirmasi aja karena saya anti pungutan liar. terimakasih ๐Ÿ™‚

  28. nggak ada pungutan lain. kecuali kalo memang niat utk bikin foto prewedding dsb. kalo cuma kunjungan biasa, gak perlu ada pungutan. saya cuma ngasih โ€œuang lelahโ€ ke pemandu yang telah menemani saya.

  29. Wahhh.. artikelnya keren.
    Bisa nembah2 pengetahuan wat jalan2 d sekitar jakarta *maklum anak daerah yang barusan merantau k ibukota.
    Thx buat infonya mas.. Lam kenal!!!

  30. mas zam..
    keren banget yah tempatnya…
    info nya detail banget lagi.. keren..keren..
    pengen liat2 juga,,tempatnya unik,, tp agak seyem kayanya ya ;(
    emang kl foto prewed di situ,, bayar berapa mas ?

  31. wah aku baru kemaren berkesempatan jalan2 kesana, setelah acara JKTFlickr di RRI Pro 2, 105.0 FM. Karena dari atas gedung tempat siaran jadinya tertarik dech berkunjung ke museum prasasti

  32. Kenapa banyak orang Indonesia selalu beranggapan mengunjungi musium itu sesuatu yang mengerikan? Pengalaman pada orang berbeda atau setiap kali ngajak temen2x bwt ke musium, pasti jawaban pertamanya “Angker ah!”~ Nggak heran banyak orang2x Indonesia yang nggak mau ngunjungin musium.

    Padahal musium menyimpan banyak kesan berarti, k’lo ngunjungin musium serasa kita kembali ke masa lampau~

    Gw suka banget, n dari kecil selalu penasaran sama yang namanya musium.

    Mmmm~ Gw pengin banget ke sini! Suasananya OK banget!

  33. seru juga ne museum….NOT BAD’….. w kira ne museum angker’n’serem aabiis tp gk tau nya… biasa aja shi gk serem-serem bgt(wat yg punya nyali gede)wkwkwkwkwkwkwk

  34. Liputannya ahoy banget, jadi tahu banyak yang kelewat waktu kesana dulu. Trims.
    Btw, dulu seingat saya peti yang di pamerkan cuma milik Bung Hatta, apakah baru ditambahkan?

  35. Taman Prasasti tidak hanya “melemparkan ke suasana yang berbeda” saja kang, tapi juga telah melemparmu ke 4 besar hasil pencarian Google untuk kata kunci “museum prasasti” :))
    BTW, itu tulisan yang di prasastinya Pieter Eberveld itu artinya adalah:

    “Untuk mengenang sang pengkhianat Pieter Eberveld, orang tidak boleh diatas tanah ini membangun gedung, tinggal, meletakkan batu atau menanam sesuatu. Batavia, 14 April 1722”

    Pieter dihukum mati baru pada tanggal 22 April 1722, sehingga prasasti itu dibuat 8 hari sebelum Pieter dieksekusi.

    Salam,
    @ukmekgnac

  36. Pengen bgt kesitu kayaknya asik…
    xk bgt sm hal2 yg berbau misteri,klo di KOTU nyari kuburan tua kya gtu ga da….hehehehe…

  37. saya teringet dulu….tahun 1977-1978 saat saya masih SD kelas 2-3, saya suka bermain sepeda depan gerbang makam.

  38. Penasaran bgt ma museum taman prasasti,jadi pengen ke taman prasasti..serem sii./apalg aq bz liat dunia lain ..

  39. @dini lestari
    menurut saya pribadi sch taman prasati tu klo siang ga serem tp sejuk dgn pepohonan yg besar & rindang.

Comments are closed.