Museum Bahari: Sejarah Maritim dan Titik 0 Km Jakarta

Museum Bahari

Ada sebuah pertanyaan menarik yang pernah saya dengar, “Di manakah letak titik nol kilometer Jakarta?”. Aha! Pada jeng-jeng saya kali ini, saya mendapatkan wawasan baru mengenai titik nol kilometer Jakarta!

Museum Bahari, selain menyimpan cerita sejarah perkembangan maritim dan kelautan Indonesia, rupanya mempunyai cerita lain yang menarik untuk diulik. Bersama Pelabuhan Sunda Kelapa, kawasan ini menjadi titik awal sejarah lahirnya Jakarta.

Panas yang menyengat ndak menyurutkan niat saya untuk mengunjungi museum yang terletak di tepi muara Kali Ciliwung, tepatnya di Jalan Pasar Ikan No 1, Sunda Kelapa, Jakarta Utara.

Saya langsung terpukau dengan Menara Syahbandar (Uitkijk Post) yang dibangun pada tahun 1839, yang didirikan di bekas bastion (benteng) Culemborg yang merupakan tembok kota Batavia, ketika menjejakkan kaki di kawasan ini.

Menara setinggi 18 meter, dengan panjang 10 meter dan lebar 6 meter ini ternyata miring! Menurut pengukuran yang dilakukan pada tahun 2001, menara ini memang miring dengan sudut kemiringan 2°15’54” ke arah selatan dan 0°15’58” ke arah barat.

Menara Syahbandar

Di sekitar menara terdapat 3 bangunan lain, yaitu sebuah gedung yang dulunya dipakai untuk kantor urusan perdagangan, bangunan yang difungsikan sebagai gudang tepat di depan menara, dan bangunan di samping menara yang dulunya digunakan untuk urusan pabean.

Saya masuk ke dalam. Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah kita bisa menjelajah museum. Kita bisa membelinya di Menara Syahbandar kemudian tiketnya bisa ditunjukkan ketika kita hendak memasuki bangunan utama museum.

Memasuki menara, tepat di bawah tangga terdapat sebuah prasasti bertulisan Cina. Tulisan ini bila diartikan berbunyi, “Tempat ini adalah kantor pengukuran dan penimbangan serta di sinilah titik nol Batavia”. Aha! Inilah jawaban pertanyaan mengenai di manakah titik nol kilometer Batavia!

Namun sekarang titik nol kilometer Jakarta dihitung dari Tugu Monas. Di seputaran fly-over Cawang, juga terdapat titik nol juga, namun titik ini digunakan untuk mengukur kilometer jalan tol.

Dengan melalui anak tangga, saya naik ke atas. Ada 3 ruangan yang ada di dalam menara. Sebuah ruangan di lantai dasar, sebuah ruangan di bagian tengah, dan sebuah ruangan lagi di bagian atas. Di bagian bawah lantai dasar, terdapat ruangan yang dulunya digunakan sebagai penjara.

Dari atas bangunan yang pernah menjadi bangunan tertinggi pada abad ke-18 ini, kita bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Barisan perahu-perahu phinisi nampak rapi berderet di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kafe Galangan VOC yang memang dulunya merupakan galangan kapal juga nampak dengan jelas.

Ada sebuah tangga kecil yang mengarah ke luar. Saya penasaran dan mencoba menaikinya untuk menuju ke teras di atas atap ini. Entah kenapa ketika berada di atas sini, saya yang biasanya tidak bermasalah dengan ketinggian, tiba-tiba merasa ketakutan. Mungkin karena ruang yang sempit plus kondisi bangunan yang miring, membuat saya merasa ndak aman.

Di halaman, terdapat sebuah tugu peresmian museum ini. Museum ini diresmikan oleh gubernur Ali Sadikin pada tanggal 7 Juli 1977. Bila dicermati, angka tanggal ini cukup unik, bisa dibaca sebagai 7-7-77!

Pada tugu ini juga terdapat tulisan P126, yang merupakan titik meridian (pertemuan garis bujur dan garis lintang) Kota Jakarta. Selain itu, tugu ini juga didirikan tepat pada ketinggian 0 meter dari permukaan laut.

Dari Menara Syahbandar, saya menuju ke bangunan utama museum. Bau amis dan busuk langsung menyengat. Maklum saja, museum ini terletak persis di samping Pasar Ikan. Saya harus membiasakan diri dengan bau ini, setidaknya selama berada di kawasan museum.

Bangunan utama museum ini dulunya merupakan gudang VOC untuk menyimpan berbagai komoditi. Mulai dari rempah-rempah, pakaian, hingga benda-benda berharga. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan untuk gudang penyimpanan senjata. Gedung ini juga pernah dipakai PLN dan PTT setelah Indonesia merdeka sebagai gudang penyimpanan.

Bangunan yang dibangun pada tahun 1652 dan mengalami beberapa kali pemugaran hingga tahun 1759 ini terdiri dari 2 bagian, Westzijdsche Pakhuizen di sebelah barat dan Oostzijdsche Pakhuizen di sebelah timur Kali Ciliwung. Gedung bagian timur tidak dipakai sedangkan gedung barat inilah yang kini dipakai sebagai Museum Bahari.

Gedung barat dan gedung timur

Gedung barat ini terdiri atas 2 blok, barat dan timur. Terdapat perbedaan mencolok antara blok barat dan timur. Gedung blok sebelah barat sudah direnovasi dan tampak lebih bagus, sedangkan blok gedung timur belum mendapat renovasi. Semoga saja renovasi ini bisa segera selesai dan bangunan museum menjadi lebih terawat.

Benteng yang mengelilingi gedung ini nampak kokoh walau terlihat renta. Begitu masuk bangunan, saya langsung menjelajah isi museum yang berada di dalam gedung bagian timur. Saya menjelajah sesuai urutan, dari depan kemudian ke atas dan berpindah ke gedung di bagian barat.

Ruangan pertama berisi berbagai panel yang bertuliskan sejarah pelayaran dan perkapalan di Nusantara, kedatangan VOC karena rempah, perkembangan pelabuhan, dan sebagainya. Selain panel-panel, dipamerkan juga berbagai miniatur kapal-kapal yang ada di seluruh penjuru nusantara.

Sebuah sirip kendali kapal dari kayu yang sangat panjang dan miniatur perahu Phinisi Nusantara, perahu tradisional Bugis, menarik perhatian saya di ruangan ini.

Miniatur Kapal Phinisi Nusantara

Melanjutkan ke ruangan berikutnya, masih memamerkan berbagai koleksi miniatur perahu-perahu dan kapal-kapal tradisional. Berbagai jenis kapal tradisional dari penjuru nusantara ada di sini. Ada perahu cadik dari Papua, miniatur perahu Phinisi dari Sulawesi, miniatur perahu Mayang dari Indramayu, miniatur perahu Londe dari Sulawesi, dan lain sebagainya.

Yang menarik perhatian saya di ruangan ini adalah adanya replika dari relief yang ada di Candi Borobudur. Relief ini menggambarkan kejayaan bahari pada masa Budha pada abad ke-8 M yang saat itu berpusat di Kerajaan Sriwijaya.

Dalam relief digambarkan sebuah perahu bercadik yang memiliki 2 tiang layar dengan konstruksi 3 kaki (tripod). Perahu ini pernah berlayar menyusuri Jalur Kayu Manis (The Cinnamon Route) sejauh kurang lebih 11.000 mil laut.

Bahkan sebuah perjalanan napak tilas untuk menyusuri rute ini pernah dilakukan pada tahun 2003 oleh putera-putera terbaik Indonesia. Dengan merekonstruksi perahu seperti yang tergambar pada relief Candi Borobudur, 10 orang pemberani ini mengarungi samudera dari Jakarta menuju Ghana, Afrika.

Replika relief Candi Borobudur

Update info dari Mawi Wijna, perahu yang digunakan napak tilas ini berada di Museum Candi Borobudur.

Ruangan berikutnya, selain masih berisi replika perahu juga berisi berbagai perabotan membuat perahu dan kapal kayu. Ada kerangka kayu perahu yang besar, sebuah batang pohon utuh yang dijadikan sebuah perahu, hingga alat-alat pertukangan.

Naik ke atas, di lantai dua saya memasuki ruangan yang memamerkan berbagai peralatan navigasi. Mulai dari miniatur berbagai macam bentuk mercusuar, pelampung rambu-rambu laut, rumah kompas, dan berbagai alat keperluan navigasi lainnya.

Sebuah replika ruang kemudi kapal menarik perhatian saya. Sebuah rumah kompas besar berada di depan kemudi dan di sampingnya terdapat pengendali kecepatan. Sewaktu saya mencoba menarik batang pengendali kecepatan, saya kaget karena ternyata alat tersebut berbunyi dengan nyaring, “ting! ting! ting!”.

Miniatur kemudi kapal

Selanjutnya saya memasuki ruang biota laut. Seperti namanya, ruangan ini memamerkan beberapa contoh organisme laut. Beberapa merupakan hewan yang diawetkan.

Dari ruangan ini saya memasuki ruangan yang memamerkan berbagai alat untuk menangkap ikan. Mulai dari jala, joran, dan belat bambu. Yang menarik perhatian saya adalah belat bambu.

Belat bambu adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu, memiliki sistem pintu masuk searah. Ikan hanya bisa masuk ke dalam tapi tidak bisa keluar. Belat bambu ini dipasang menghadap ke hulu, sehingga ikan yang terbawa arus ke hilir akan masuk dengan mudah.

Belat Bambu

Di antara beberapa ruangan terdapat ruang perpindahan di mana terdapat tangga dan terpasang foto-foto yang berhubungan dengan sejarah maritim. Saya tersenyum geli melihat foto jadul yang menggambarkan proses “pelantikan” alias perpeloncoan terhadap awak kapal yang baru melintasi garis katulistiwa untuk pertama kalinya. Mereka didandani dengan berbagai atribut yang lucu dan dilantik dalam suatu upacara yang khidmat dan konyol. Ternyata jaman dulu proses plonco itu sudah ada!

Dari ruangan ini saya pun turun dan berpindah ke gedung barat. Di bagian gedung yang sebagian masih kosong karena tahap renovasi, dipamerkan perahu-perahu besar. Perahu-perahu ini memang didatangkan dari berbagai penjuru nusantara.

Salah satu yang membuat saya takjub adalah sebuah perahu bercadik dari Papua yang terbuat dari sebatang pohon utuh yang dilubangi tengahnya. Perahu ini dibawa ke Jakarta pada tahun 1980 dengan cara dilayarkan dan dikemudikan oleh 15 orang secara bergantian sehingga totalnya ada 30 awak. Ketika 15 orang mendayung, 15 orang lainnya beristirahat. Perjalanan mereka dikawal oleh 2 kapal TNI AL dan helikopter selama 3 bulan.

Ukiran perahu ini juga menarik untuk dicermati, dengan relief menggambarkan rangkaian cerita kehidupan sehari-hari masyarakat Papua dan tak lupa hiasan kepala burung Cendrawasih terpasang di ujung-ujungnya. Warna-warna yang digunakan juga berasal dari alam. Warna hitam diperoleh dari tinta cumi-cumi sedangkan warna-warna lain diperoleh dari akar-akar dan dedaunan. Untuk perawatan perahu ini pun, harus dilakukan oleh orang Papua, dengan menggunakan semacam ritual adat.

Perahu cadik Papua

Ruangan perahu ini menjadi ruangan terakhir yang saya kunjungi. Berada di halaman di antara dua gedung, saya merasa ndak berada di Jakarta. Bentuk-bentuk arsitektur Eropa yang kental sangat terasa dengan memandang jendela-jendela kayu dengan teralis-teralis besi di dalamnya. Ndak heran kalo pemotretan pre-wedding juga kerap dilakukan di tempat ini.

Namun sayang, bau busuk yang menyengat dan hawa-hawa pliket laut begitu mengurangi kenyamanan. Belum lagi hawa panas yang tak mampu diusir oleh kipas angin yang terpasang di atap.

38 thoughts on “Museum Bahari: Sejarah Maritim dan Titik 0 Km Jakarta”

  1. Apa disana juga ada replikanya perahu bercadik yg ada di relief candi Borobudur mas? Setiap saya mau kesana, banjir melulu.

    Eiya, klo motret flash-nya diaktifin dunk, biar nggak hanya pose noraknya yang keliatan tapi mukanya mas Zam juga keliatan, hehehe.

  2. @ mawi wijna:
    tidak ada, cuma ada replika reliefnya di Candi Borobudur saja.

    Museum Bahari yang letaknya memang mepet laut dan berada di muara Kali Ciliwung memang menjadi daerah langganan banjir.

    untuk flash, saya memang kurang suka menggunakan flash. juga memang bermaksud untuk nutupi wajah saya di foto demi mengurangi “ketidaknyamanan” pembaca. percayalah. hehehe..

  3. zam, nek jalan2 gini lagi ajak’en itu tjahaju. dian doyan yg model gini2 ini. lagian kalian bisa saling gantian moto soale podo2 narsis:D

  4. Wahh Zam, pengin juga jalan-jalan begini..dulu si sulung yang suka ngajaki
    Kupikir titik nol itu di Monas…hehehe…payah banget ya…

  5. goooood.. sebenere diriku kalau ke musium cuman tertarik 80%, kalau tertarik 120% ya ke alam.
    :d/
    eh, kalau di pelabuhan sunda kelapa ada kapal-kapal yang bagus jika untuk foto-foto..meybe next time kesono nyok, deket pasar ikan ๐Ÿ˜‰

  6. howaaaah hari minggu kemaren saya juga jeng-jeng kesana ik… Meseum tour! cuma ya itu panasnya ga nahan… kurang pohon hijau nampaknya di sana..[-(

  7. @ Haris:

    kalo dugaan saya, karena menara ini dan seputaran Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pintu masuk ke Batavia. jadi titik nol kilometer Batavia dihitung dari sini. Batavia dulu tidak terlalu luas, hanya sampai seputaran Harmoni.

    cerita historisnya sangat sedikit yang membahas masalah ini, mas. bila ada yang bisa menambahkan, saya sangat berterima kasih. ๐Ÿ™‚

  8. Wah… keren juga… jadi pengen berkunjung kesana juga ๐Ÿ™‚ btw, emang museumnya sepi gitu ya?? eh tp udah jadi ciri khas museum2 di Indonesia sih, kebanyakan sepi… hehehe… :d

  9. jadi ingat titik 0 km jogja nih.
    ngeri juga tuh menaranya kok miring 2ยฐ15?54? ke arah selatan dan 0ยฐ15?58? ke arah barat, lumayan tuh, udah itu lumayan tinggi (18m?
    kenapa nggak di perbaiki sebelum terjadi sesuatu?
    semuanya kayaknya serba 0, sampai2 tinggi tugu peresmiannya 0 dpl.
    ternyata dari jeng – jeng ini saya juga baru tahu kalo ada ploncoan dari jaman dulu.

  10. Saya baru mau jalan2 ke museum bahari nie, bawa anak2 dapat tugas bikin LKS membuat pertanyaan tuk anak2 tuk diisi disana. berhubung saya belum pernah kesana, ada ide ga pertanyaan apa saja yang bisa saya bikin?
    kirim ke FB ku ya cari aja emailnya: ratihhandayani54@yahoo.com

Comments are closed.