Jeng-Jeng Green Canyon & Pangandaran

Menuju Green Canyon

Berkunjung ke Green Canyon merupakan salah satu wishlist saya tahun lalu yang baru kesampaian. Pesonanya sudah lama terdengar dan saya telah membuktikannya. Green Canyon, sebuah bagian dari Sungai Cijulang di Ciamis, Jawa Barat, yang diapit oleh tebing dengan air berwarna hijau toska ini memang eksotis.

Pangandaran, yang juga berada di Ciamis, juga tak boleh terlewatkan. Hamparan pantai berpasir putih yang memiliki garis pantai barat dan garis pantai timur ini cukup menawan terutama ketika sunset dan sunrise. Boleh dibilang Pangandaran menjadi basis jika kita ingin mengunjungi berbagai obyek wisata lain di sekitarnya.

Perjalanan melelahkan untuk menuju ke sana yang memakan waktu kurang lebih 8-9 jam dari Jakarta terbayar lunas. Dan seperti biasa, tanpa rencana, hanya bermodalkan beberapa lembar pakaian dan logistik seadanya yang tersimpan di dalam backpack, saya pun ndoyok ke sana.

Ada beberapa rute yang bisa ditempuh untuk mencapai Green Canyon. Seperti yang saya bilang, Pangandaran menjadi basis sebelum menuju ke Green Canyon. Untuk menuju ke Pangandaran bisa langsung dari Jakarta atau dari Bandung.

Saya menggunakan bus Perkasa Jaya tujuan Pangandaran yang berangkat dari terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Macet yang amat parah di akhir pekan membuat saya hampir tertinggal bus terakhir yang berangkat sekitar pukul 9 malam ini.

Sebenernya ada bus AC dengan rute yang sama, namun bus ini sudah berangkat sejam sebelumnya. Bus yang saya tumpangi ini berkelas ekonomi non-AC dengan tarif 55 ribu rupiah.

Awalnya saya khawatir jika bus ini akan berhenti di tengah jalan untuk mengangkut penumpang sehingga waktu tempuh semakin lama, namun karena bus ini langsung masuk tol menuju Bandung membuat kekhawatiran saya sirna. Penumpang yang tidak begitu penuh karena perjalanan di malam hari membuat perjalanan cukup nyaman.

Saya berangkat pada Jumat malam hari karena ingin menghemat waktu serta penginapan. Niatnya sih mau tidur di bus sehingga paginya siap untuk jeng-jeng namun apa daya, desain kursi bus ekonomi ini membuat badan saya pegel-pegel dan ndak bisa tidur! :-w

Sampai di Pangandaran pagi sekitar pukul 6. Begitu turun dari bus, saya langsung ditawari jasa ojek. Karena hari masih sangat pagi untuk meneruskan perjalanan ke Green Canyon, saya pun memutuskan untuk mencari penginapan di sekitar kawasan wisata Pantai Pangandaran.

Dengan menyewa ojek yang cukup mahal, 30 ribu rupiah, saya berkeliling mencari penginapan yang cocok. Mulai dari yang bentuknya mirip kamar kos-kosan mahasiswa yang umpel-umpelan hingga hotel mewah dan bungalow pun ada. Harganya pun bervariatif, mulai dari 100 rebu per malam hingga yang bertarif jutaan. Karena masih pagi, saya bisa lebih leluasa survei dan berkeliling untuk bertanya dari satu penginapan ke penginapan lainnya.

Saya menginap di Hotel Sunset, dengan tarif 300 rebu (kelasnya menengah), dengan fasilitas yang mirip dengan hotel berbintang 3 lah. Fasilitasnya selain AC, TV, breakfast, dan yang penting kasur empuk dan air panas! Apalagi view dari kamar lumayan bagus dan jarak ke pantai cuma sekali salto. Bila dibandingkan dengan fasilitasnya dan lokasinya, tarifnya masih masuk akal menurut saya. Apalagi saya kan mau liburan dan bermanja-manja diri. Hehehe.

Backpacking bukan berarti harus “kere” dan menyiksa diri dengan meminimalisir pengeluaran seirit mungkin, namun bila mampu, boleh lah merasakan “kemewahan” demi kenyamanan. Selama budget dan kemampuan finansial masih masuk, menurutku sih tiada masalah. Hehehe.

Maksud hati cuma menaruh backpack, bebersih diri, dan beristirahat sejenak, tapi karena tidak bisa tidur selama di perjalanan membuat saya terlelap di hotel. Badan yang segar sehabis mandi air hangat yang pasrah di dalam pelukan kasur empuk dan buaian AC membuat saya bangun kesiangan! :banghead

Sehabis dhuhur dan mencari makan di warung makan Holiday yang menyediakan berbagai menu masakan dengan harga yang wajar yang tak jauh dari hotel, saya berangkat ke Green Canyon.

Ada beberapa cara untuk sampai Green Canyon. Dari terminal Pangandaran, kita bisa naik bus kecil ke arah Terminal Cijulang. Dari terminal Cijulang, kita bisa naik ojek lagi hingga sampai ke Dermaga Ciseureuh.

Saya sekali lagi mengandalkan ojek. Dengan tarif sekitar 60 ribu, si tukang ojek akan mengantarkan saya dari hotel hingga ke dermaga, menunggu saya selama berada di Green Canyon, kemudian mengantarkan saya ke obyek wisata Pantai Batu Hiu, dan mengantarkan saya kembali ke hotel.

Jarak dari Pangandaran ke Dermaga Ciseureuh yang terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, sekitar 30 km. Waktu tempuh dengan menggunakan ojek sekitar 30 menit. Dari dermaga ini, kita harus menyewa perahu untuk sampai ke Green Canyon.

Dermaga Ciseureuh dibangun sekitar tahun 1993. Sebelumnya para penyedia jasa perahu bekerja sendiri-sendiri dalam menawarkan perahunya. Dengan adanya dermaga ini, para penyedia jasa perahu bisa diatur dan menjadi lebih tertib.

Di Dermaga Ciseureuh

Ongkos sewa perahu 75 ribu per perahu dengan maksimal jumlah penumpang 5 orang. Cukup mahal bila kita menyewa untuk sendiri dan tentunya menjadi lebih murah bila kita berombongan.

Perjalanan dari dermaga ke Green Canyon yang berjarak sekitar 3 km ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dengan perahu motor. Kita akan ditemani seorang juru mesin dan seorang guide.

Kami berjalan menuju hulu, menyusuri Sungai Cijulang dengan air berwarna hijau keruh. Menurut guide saya, warna air akan menjadi hijau jernih pada musim kemarau.

Di sepanjang sungai, bila beruntung kita bisa melihat beberapa ekor biawak yang terlihat nemplok di pepohonan. Kedalaman sungai ini menurut guide bisa mencapai 7 meter. Sedangkan di Green Canyon sendiri bisa sampai 4 meter.

Mulut Green Canyon

Kami pun akhirnya tiba di mulut Green Canyon. Mulutnya berbentuk seperti goa, namun di bagian lainnya “atap” goanya tidak ada alias tebing terbuka.

Bagian atap goa yang menghubungkan kedua tebing inilah yang disebut dengan Cukang Taneuh, yang berarti “jembatan tanah”. Jembatan ini menghubungkan Desa Batukaras dan Desa Kertajaya.

Sampai di sana rupanya sudah banyak perahu yang sedang menambatkan diri. Perahu ndak dapat masuk lebih ke dalam lagi karena terhadang batuan besar di mulut gua. Bila ingin masuk ke dalam lagi harus berenang dengan menggunakan pelampung. Hampir semua perahu kosong karena para penumpangnya sedang masuk menjelajah lebih ke dalam.

Bila ingin dipandu menyusuri gua oleh guide, ada biaya tambahan yang bisa didiskusikan dengan si guide. Biayanya bisa mencapai harga sekali sewa perahu, karena guide menghitung berdasarkan waktu kita menjelajah gua sekitar 45 menit hingga 1 jam.

Nanggung bila cuma sampai di mulut gua, saya pun menyepakati harga agar bisa menjelajah lebih dalam. Si guide pun meminjamkan pelampung yang harus dikenakan dan si juru mesin akan berada di atas perahu sambil menjaga barang-barang. Kamera kemudian saya bungkus plastik dan saya titipkan ke guide agar saya bisa berfoto-foto di dalam.

Saya pun langsung nyemplung ke dalam air. Hati-hati, karena arus yang cukup deras, kita bisa terseret. Belum lagi batu-batuan di dasar membuat kaki bisa terluka bila tidak berhati-hati.

Karena Green Canyon itu strukturnya seperti gua, kita bisa melihat stalagtit dan stalagmit yang begitu indah. Ada bagian di dalam gua di mana tetes-tetes air yang jatuh dari stalagtit begitu deras dan berbentuk seperti air hujan yang disebut dengan air terjun Palatar karena letaknya berada di depan mulut gua.

Green Canyon

Pemandangan stalagtit dan stalagmit yang eksotis, ditambah percikan air yang menetes, dan cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam melewati tebing tak beratap memberikan pemandangan yang cantik.

Karena saya datang di saat musim hujan, air masih begitu deras. Guide saya selalu menunjukkan ke arah mana saya harus berenang agar ndak terseret arus dengan meminta saya mengikutinya. Lincah sekali dia, berenang dengan satu tangan di mana salah satu tangannya berada di atas membawa kamera agar tidak tercelup air.

Ketika beristirahat sejenak, saya melihat beberapa orang nampak duduk di atas sebuah batu besar. Kemudian mereka meloncat dari atas batu yang tingginya sekitar 4 meter dan nyemplung ke air. Melihatnya, saya ingin mencoba. Guide saya menyarankan saya mencobanya ketika hendak pulang karena perjalanan menelusuri gua masih panjang.

Ada sebuah bagian di mana air cukup deras, sehingga kami harus meniti pada dinding tebing. Dengan berpegangan pada celah-celah batu, mengingatkan saya pada olah raga panjat tebing yang bertumpu pada kekuatan jari. Bila tidak berhati-hati, kita juga bisa terluka karena beberapa permukaan batu yang tajam.

Setelah petualangan menyusuri gua yang cukup melelahkan, sampai lah kami di satu titik di mana kami harus berhenti. Selain medan yang lebih sulit karena batuan licin dan berlumut, kami tidak bisa berlama-lama di dalam gua.

Di Kolam Putri

Namun sebelum pulang, guide mengajak saya menuju sebuah kolam di atas tebing di mana airnya berasal dari tetes-tetes air yang tertampung di dalam cekungan. Cekungan ini sering disebut dengan Kolam Putri.

Untuk menuju ke sana, kami harus memanjat tebing setinggi sekitar 5 meter. Bebatuan yang licin sempat membuat saya beberapa kali terpeleset namun untungnya saya masih bisa berpegangan pada batu. Dan begitu sampai di atas, benar saja, sebuah kolam berisi air nampak pasrah untuk dicemplungi.

Saya sangat menikmati nyemplung di kolam ini, selain airnya yang jernih dan segar pemandangan dari atas sini lebih mantab!

Puas berendam di Kolam Putri, kami pun kembali ke perahu. Saya menikmati mengapung dengan telentang dan membiarkan badan terseret arus sembari menikmati pemandangan di atap gua. Bener-bener indah!

Guide pun mengingatkan saya apakah saya jadi mencoba meloncat dari atas Batu Payung, yang tadi sempet saya pengeni tadi. Tentu saja saya mau dan guide menunjukkan jalan agar sampai di atas batu tersebut.

Disebut Batu Payung karena bentuknya setengah lingkaran seperti payung, padahal kalo diamat-amati ndak berbentuk seperti payung, loh. Heheheh.

Di atas Batu Payung sebelum meloncat

Saya yang awalnya pede abis langsung sedikit ciut nyali. Njrit! Ternyata kalo dari atas, pemandangannya sedikit menyeramkan. Apalagi permukaan batu yang bulat menyulitkan saya menentukan titik tolakan.

Dengan mengumpulkan nyali yang tadi sempat mengkerut, saya pun ambil ancang-ancang dan setelah melangkah 3-4 langkah setengah berlari saya lantas meloncat ke dalam air.

Hup! Waktu seperti terasa berhenti selama 2 detik sebelum badan nyemplung ke air. Adrenalin langsung mengalir deras ketika saya “melayang”!

Byur!! Blup blup blup! Saya pun berusaha mencari udara. Begitu kepala saya nongol di permukaan, rupanya saya berada cukup jauh dari Batu Payung karena terseret arus.

Penasaran, saya pun ingin mencobanya sekali lagi. Dengan susah payah, saya berenang melawan arus untuk kembali ke Batu Payung, segera naik ke atas, dan kembali merasakan adrenalin yang menjalar di sekujur tubuh.

Meloncat dari Batu Payung menutup perjalanan saya mengeksplorasi Green Canyon. Kami pun kembali ke perahu untuk kembali ke dermaga. Saya menikmati angin yang berdesir serta sengatan matahari untuk mengeringkan badan yang basah. Ah, nikmatnya!

Di atas perahu di sungai Cijulang

Dari Green Canyon, saya kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Karena saya cuma bawa selembar kaos cadangan, dengan berbasah-basah saya kembali ke hotel menggunakan ojek yang tadi menunggu saya. Di perjalanan, saya berharap celana saya bisa kering karena tersapu angin.

Seperti janji si tukang ojek, saya diantarkan ke Pantai Batu Hiu yang terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, sekitar 15 km dari Pangandaran.

Sekitar 15 menit, saya telah sampai di pantai tersebut. Disebut Pantai Batu Hiu karena ada sebuah batu di tengah laut yang katanya mirip dengan hiu. Saya kira karena ada kepala hiu yang lagi mangap yang menjadi gerbang masuk. Hehehe.

Gerbang masuk Pantai Batu Hiu

Pantai pasir putih menjadi pesona dari pantai ini. Namun saya penasaran dengan batu berbentuk hiu yang didengung-dengungkan orang. Saya pun menyusuri jalan setapak menuju bukit yang banyak ditumbuhi pohon Pandan Wong yang besar-besar.

Dari atas bukit ini memang pemandangannya sangat elok. Kita bisa duduk-duduk di atas rumput hijau yang seolah-olah menjadi permadani di bukit ini.

Selain pemandangan alamnya yang ciamik, pantai ini rupanya juga menjadi lokasi ziarah bagi orang yang ingin menjadi sinden atau penabuh gamelan terkenal. Konon kepercayaan ini berasal dari sebuah cerita rakyat.

Beberapa anjing kampung nampak berkeliaran ke sana kemari, namun jangan khawatir, anjing-anjing ini cukup ramah, kok. Bila berbaik hati, berikan beberapa makanan ke anjing-anjing ini, asal bukan makanan berbahan coklat karena coklat bisa membunuh anjing. ๐Ÿ˜€

Di ujung, saya melihat sebuah batu yang berada di tengah lautan. Setelah bertanya kepada penjual makanan yang juga banyak tersebar di sepanjang jalan setapak, rupanya benar kalo batu itulah yang dimaksud dengan Batu Hiu. Padahal kalo menurut saya, ndak ada mirip-miripnya sama hiu. Hihihihi.

Di Pantai Batu Hiu

Menikmati pemandangan yang cantik di pantai ini mengingatkan saya akan sebuah tembang dari Doel Sumbang yang berjudul Bulan di Atas Batu Hiu.

Bulan nu ngagantung di atas Batu Hiu
Tinggal sapasi sesa purnama kamari
Ikrar janji, sahidup samati
Moal khianat, insya Allah moal pegat..

Woh, malah nyanyi! Dan kok ya pas banget, di atas langit bulan nampak nongol separo, tinggal sapasi sesa purnama kamari.. Hihihi.

Saya sampai di hotel menjelang mentari terbenam. Nanggung, sebelum bebersih diri dan karena pakaian sudah lumayan kering, saya menghabiskan waktu menikmati sunset di Pantai Pangandaran di sisi barat.

Nampak perahu-perahu wisata yang bisa disewa untuk berkeliling laut atau mengantarkan penumpang ke Cagar Alam Pananjung mulai mendarat. Laut yang bentar lagi pasang membuat aktivitas wisata berkurang. Melihat aktivitas awak perahu meminggirkan perahunya menjadi pemandangan menarik.

Penjaja kuda mulai menggiring kudanya pulang dan penyewaan papan selancar mini mulai mengemasi papan selancarnya. Nampak beberapa orang tengah mengendarai ATV (All-Terrain Vehicle) yang banyak disewakan di sepanjang pantai. Beberapa pasangan nampak asyik bersepeda menggunakan sepeda tandem yang juga bisa disewa.

Sunset di Pangandaran

Puas menikmati sunset, saya kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Saya ingin berkunjung ke Pasar Ikan yang berada di pantai timur untuk sekedar melihat-lihat.

Di Pasar Ikan, kita bisa langsung membeli hasil laut yang masih segar. Menariknya, di rumah makan yang ada di seputaran Pasar Ikan menjual menunya dengan cara berbeda.

Calon konsumen dipersilakan memilih sendiri menu makan malam mereka, apakah udang, cumi, kerang, atau kepiting. Menu ini dijual dalam satuan kilo, dengan pembelian minimal setengah kilo. Harga yang dibayar per kilo tersebut sudah termasuk ongkos memasak.

Dari hotel, saya menaiki becak yang banyak dijajakan. Dengan ongkos 20 ribu rupiah, saya bisa berkeliling dari hotel menuju pasar ikan dan kembali lagi ke hotel. Suasana malam di pantai ini rupanya ndak begitu ramai padahal malam itu malam minggu, walau nampak satu-dua pasangan muda-mudi sedang memadu kasih.

Sehabis berkeliling, malam itu saya terlelap karena capek yang tiada terkira. Meskipun begitu, kesenangan yang saya dapatkan siang tadi masih membekas.

Paginya, setelah check-out dari hotel, saya memanggul backpack lagi untuk kembali ke Jakarta dengan lebih dulu mampir ke Bandung. Untuk ke Bandung, saya naik bus Budiman yang berangkat setiap jam dari Terminal Pangandaran menuju Terminal Cicaheum, Bandung.

Untungnya saya dapat bus AC dengan tarif 35 ribu rupiah. Rencananya dari Bandung saya kembali ke Jakarta menggunakan kereta api. Namun apa lacur, tiket kereta api sudah ludes terjual ketika saya nyampe di Stasiun Bandung. Damn! Saya lupa kalo ini awal pekan!

Plan B, saya segera menuju Terminal Leuwi Panjang untuk naik bus tujuan Jakarta. Saya sempat berlari-lari mengejar bus Damri jurusan Dago-Leuwi Panjang ketika bus terjebak macet walau akhirnya bus itu lolos juga. Terpaksa lah saya naik angkot dengan oper 2 kali untuk sampai di Leuwi Panjang. #:-S

Dari Terminal Leuwi Panjang, saya naik bus AC Prima Jasa tujuan Terminal Lebak Bulus, Jakarta. Ongkos bus ini 50 ribu rupiah. Tempat duduk yang lebih nyaman di bus ini membuat saya bisa beristirahat.

Meskipun capek, saya puas telah memenuhi salah satu wishlist saya. Semoga saya bisa memenuhi wishlist saya yang lainnya!

99 thoughts on “Jeng-Jeng Green Canyon & Pangandaran”

  1. Wah menyenangkan jalan-jalannya.
    Ada Green Canyon juga kupikir dimana lha jebul masih ada di Jawa Barat.

    Saya bentar lagi mau jengjeng juga ke Melbourne, smoga bisa nulis sedetail dan sebagus sampeyan.

    Jeng Jeng Tutttt..:)

  2. kok isine fotomu kabeh, gak ketok green canyon e karo batu Hiu ne :-w

  3. yay! Pangandaran!!! :rock

    kangennyaaaaa… dulu waktu nini masih ada, tiap kali mudik ke Banjar, Pangandaran adalah agenda berkunjung lebaran hari ke tiga… mwahahahahahaha… sampe bosen! tiap tahun ke sana muluuuuu…

    ih kangen sama tempat ini! asli! ^^

  4. foto jembatan tanahnya gak ada yah? penasaran ๐Ÿ˜€ iya sering liat di tivi juga soal green canyon, tapi masih belum tertarik kesana, diitung-itung mahal juga yah ongkosnya :”>

  5. @ iks:

    jembatan ini cuma atap gua yang menghubungkan kedua tebing. ada di foto ketiga (di depan, di mulut gua). ๐Ÿ™‚

  6. sapertinya seru, hehe…

    aku baru sekali ke green canyon. waktu itu tuh, beberapa hari sebelum terjadinya tsunami di pangandaran itu. rupanya tempatnya masih bagus ya. jadi pengen liat ke sana lagi…

  7. setiap kali baca postingan mas Zam jadi selalu menghayal … kapan lagi ya bisa keliling menikmati negeri elok tercinta ini … jadi teringat waktu esempe dulu sering ikut kakak avonturir ke kota-kota terpencil …

  8. ๐Ÿ™‚ akhirnya ada juga info disini, sudah lama banget saya ingin ke Green Canyon ini, semoga minggu depan terkabul.

    *mengumpulkan tenaga*

  9. Aku iri iri iri se-iri-irinya. Dulu aku segitu lama tinggal di Bandung malah gak sempat maen kesitu…

    *masukin daftar backpack*

  10. waaaaaaaa!!!! jadi pingin ke Green Canyon lagi! Yang dulu saya kesana langitnya mendung en airnya coklat-butek (maklum musim ujan)! Tapi mesti ngumpulin duit juga, mahal banget klo mo wisata ke Pangandaran. Maklum, obyek wisata andalan di Kab. Ciamis sih, he3.

  11. Fotonya keren2 mas ๐Ÿ™‚ T.O.P

    Tapi satu PR lagi nih, Mas harusnya nyoba bodyrafting di GreenCanyon, berenang sktr 2km, finishnya di mulut gua itu. Sensasinya sungguh luarrrr biasssaaaaa,,,

    Kalo rombongan biayanya ga terlalu mahal, bahkan lebih murah dari mas sewa perahu+guide, malah ga nyampe separuhnya. Yang mas liat itu baru seperberapanya GreenCanyon (hanya bagian yg dikomersilkan).

    ^^v

  12. green canyon emang gak kalah dari grand canyon, ya! anyway, selamat buat awardnya (baru liat) hehehe ๐Ÿ™‚

  13. :)aku baru mau kesini… dibln mei ini kan ada harpitnas tuch tgl 22.. untungnya cuti ku di approved boss.. alhamdulillah.. ini wishlist ku dr thn 1994 (kasian yah blm2 kesampean jg)mksh sdh ksh info selengkap ini.. sgt berguna buat sy & smga bisa berguna buat bagpacker yg lainnya..
    INDONESIA… alam mu tak terkalahkan dg keindahan DUNIA

  14. wah, mantab juga tuh, mas.
    saya kira tadi wisata arum jeram :d
    tapi di sana lumayan mahal juga, ya.
    kalau tempat asal saya gratis kok.
    :d

  15. Saya iri deh, melihatmu bisa berjalan-jalan menikmati wisata alam di Indonesia. Wisata alam di Indonesia memang aduhai.

    Syukurlah, tulisanmu yang detail, menggambarkan tempat indah itu, membuat hati ini terobati.

  16. ya ya… meskipun crita sampeyan sudah cukup komplit, tapi kpn2 saya tetep pengen ke situ
    *utk sekedar menikmati green canyon tanpa terkontaminasi poto sampeyan mas*
    :d:d

  17. Kesampaian gak yah??masalahna maw berangkat sendiri ada yang bilang awas kesambet….kalo kesambet cowok…kalo yg laen???
    ada yg maw berangkat??ikutan donkkk

  18. info yg lengkap bgt. thank’s for sharing. minggu depan mau coba. anyway, kalo backpacker sendirian aman gak ya? (dengan track yg sama)

  19. bus dari jakarta banyak kok, gunakan PO Budiman mungkin kan lebih baik … hehehe

    dari dulu kaga kesampain neh ke green canyon … ntar deh dijadwalin kesana

  20. wah, enak banget baca ceritamu aku memang ingin kesana tujuannya sih hunting foto lanscape, tapi kok pake berenang segala ya untuk kedalam goa apa tidak ada jalan lain mas Jeng-jeng, anyway terimakasih paling tidak mungkin masih dapet motret sunset dan sungai dan tebingnya ya.

    goodluck.

  21. keren bgt degh…. kami jg ada plan ksna awal thn depan… kykna itu msk musim ujan yah…

    btw klo gak bs renang rugi dong yah… ๐Ÿ™

  22. Salam menal Mas…
    Saya wanda dari jakarta, bisa tolong info hotel yang ada di sekitar sana ga, saya rencana backpaker sepulang kerja dengan teman2. saya berangkan Jum’at 6 Nov 09. tolong ifo segera ya.

    Salam oNe

  23. wahhh pengen banget ke green canyon
    kalo langsung ke green canyonnya bisa ga?
    tanpa harus nginep di pangandaran?

  24. numpang tanya Mas Zam, untuk musim hujan seperti sekarang ini apakah airnya sejernih yg ada di jepretan mas zam,karena gw sm temen2 mgkn akan ke green canyon tgl 27 besok,mohon infonya. ThnX

  25. bener-bener backpacker sejati…krn ga setengah2…alias ga ngirit..ga mikirin dana… manteeeeppp..bro..

  26. akhir nya… aku smp juga kesana.. tmptnya indaaaahhhhh bgt,,, dijamin gak nyesel.. apalagi panorama nya gak membosankan.

    saat berada diatas perahu dan melintas diatas sungai… asyikkkkkk beneeerrrr,, hilang dech stress krn kerjaan, aku naik perahu nya lbh jauh lg.sengaja aku sewa perahu nya dr arah pangandaran. bisa lihat hutan tembakau.. wahhh buat foto2 keren bgt !!!!

    makasih yahhh sudah mau berbagi informasi

  27. wah asyik banget perjalananmu…
    Bs buat reff untuk ngajak anggota majlis taklim yang mo penutupan pengajian juli besok 2010 besok, selama tiga hari dua malam.
    saya mo mampir ke situ panjalu dulu br ke green canyon.
    Syukur bs dibantu petunjuk nya buat nentuan biayanya yang semurahmungkin. Maklum jamaah masjid he he he …

  28. huaamm enak nya , jadi pengen kesana itu bener klo ga bisa berenang masih bisa ngelilingin GC ?

  29. mas..mas.. (lupa mau kasih tau) akhirnya bulan kemarin aku nyampe juga di green canyon..
    kereeeeeennnnn..

  30. wew enk bgt impian w tuh kesana

    mauuuuuuuu

    kira2 butuh budget brp ya klo untuk backpaack ppgn bgt dh

    dh w catet lg tuh alamat yang udh di beberin

  31. Membaca Cerita perjalanan Mas ke objek wisata Green Canyon serasa saya berada di sana di manjakan dengan keindahan air hijau yang mengalir ke dalam goa pemandangan alam yang indah sekelilingnya membuat saya pengen ke sanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!
    Green Canyon Wow..sungguh luar biasa keindahannya……….

  32. maaf mas, saya mau tanya transportasi yang bisa di gunakan dari pangandaran menuju dermaga ciseureuh selain ojek apa? dan juga objek wisata lain yang dapat di kunjungi dan jalur untuk mencapainya gmn? dan budget keseluruhan kira” abis berapa?maksih banyak ya mas. balesnya ke email saya aja.makasih ya mas..

  33. tanya ya…
    kira2 total biaya yang dikeluarkan berapa? trus saya masih bingung masalah guide n penginapan…tolong dibales..

    tengkyu

  34. kira-kira estimasi biaya dari surabya berapa ya mas? apakah ada hotel di daerh sana yang lebih murah? maklum mahasiswa :”>

  35. Mas….Aq n suami pengen bgt tuwh kesana…bulan madu gethu maksudna…tapi nyari2 lewat travel mesti minimal 12 org atau lebih…wah..repot2….ribet ngajakin temen2nya…Mohon info dunk selengkap2nya..biar bisa kesana…n nikmatin travelingnya…Thx (klo masnya orang baik balez ke email aq ya..) hehehe maksa…. =)

  36. sebenernya tanpa travel agent sih bisa kok. semua bisa dilakukan secara mandiri, tentunya dengan sedikit repot. semua info yang saya tau ada di postingan ini. silakan datang ke hotel, kemudian korek informasi dari orang hotel. ๐Ÿ™‚

    selamat berbulan madu.

  37. walau liburan yang singkat tapi menyenangkan bangeeeeettttt……

    ehmmmmmmmmm jadi pengeeeeeeeeeeeennnnnn…..

  38. wah. makasih ya mas sharingnya, kebetulan saya juga mau kesana awal desember ini, minta info rate makanannya disana berapa? di pangandarannya ada alfamart / indomert ga? terus kalo ada penginapan yang mura lagi donk! saya mau backpackeran sendiri, kalo ada yang mau ikutan boleh. biar bisa sharing biayanya! he..he..he.

  39. wedddeh
    blog’y gokil
    bgi2 tips dong
    da rncna jg nie buat kesna
    kra2 wktu pling pas kapan ya dan tips2 yg lain??
    mohon dibantu

  40. punya ide gila buat solo backpacker ke pangandaran. tapi belum tau medannya.

    mo tanya,untuk guidenya apa udah tersedia disana? trus tarifnya sekitar berapa ya?? apa perlu ngasih tips??(hehehe…kebanyakan ya pertanyaannya)
    makasih sebelumnya

  41. Thanks Mas Zam! info & cerita yg menarik… menginspirasi… rencana mo duo backpacker ma temen februari nanti…

  42. mas zam.. aku besok mau ke sana lho… thanks infonya ya! berguna banget.. tapi btw fotonya lucu ๐Ÿ™‚

    -aya adiknya mbak fame-

  43. Mau tanya kalau dari jakarta ke pangandaran, apa hanya dari terminal kampung rambutan atau ada yang lain? Trus jadualnya jam berapa aja gan?

  44. infromatif… dan menggugah semangat yang telah lama pudar tuk berkunjung kesana !..makasih yaaa!

  45. Salam kenal mas, smw ptualangan yg mas share, saya suka bngt” apalagi emg hoby saya pcinta alam…..klo ad rncana k daerah Majalengka, mampir sini mas, g ush byr tmpt, lmyn bwt ngirit..hehehe” add emailku y mas. trims”

  46. Tu lokasi green canyon deket banget dr rumah gue, aq sering banget maen k situ. kalo ada yng mau ke situ aku bs antar di jamin murah meriah dehh tnpa biaya yg mahal.

  47. duuuuuuuhhhhhh jd pgenn cpett2 ksnaaa….green canyon tu slah satu tujuan liburan gw yang sampe sekarang blm terwujud niiiiieeee………coz tmn2 gw blm pada ada waktuuuuuu….oiiiiaaaa kira2 klo weekend rame gax disana?truz klo berangkat sabtu minggu balik cpek gax yah?waaaaah pasti menyenangkan yaaa kesana

  48. Terimakasih infonya yang sangat lengkap! Sepertinya saya akan pake persis nih :)
    Begitu banyak laporan perjalanan yang membosankan, biasanya lewat tak terbaca. Yours is an exception. Langsung lengganan!

Comments are closed.