Jeng-Jeng Singapura: Menyeberang Melalui Laut

di Merlion Park

Akhirnya saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya ke luar negeri. Memang ndeso banget saya ini. Lumayan lah, jadi paspor saya sekarang udah ada capnya. 😀

Buat orang katrok bin ndeso macam saya, Singapura itu negeri yang hebat. Yang saya kagumi dari negeri yang luasnya hampir sama kayak DKI Jakarta ini adalah keteraturan, kerapian, tertataan, dan sistem transportasi yang keren. Singapura juga pandai mengemas sesuatu, yang sebenernya biasa aja, bisa dijual dengan mahal.

Seperti biasa, tiada rencana sama sekali untuk mengunjungi negeri yang dulunya bernama Temasek ini. Sebelum berangkat ke Batam, saya memang sudah siap-siap bawa paspor, siapa tau bisa nyeberang ke Singapura karena jadwal trip yang mepet.

Dan akhirnya kami bisa menyeberang, tanpa persiapan matang, tanpa uang yang cukup, tanpa modal peta dan mau ke mana, tujuan kami cuma satu: menginjak-injak tanah negeri Singa!

Gara-gara malamnya nongkrong di angkringan di depan hotel bareng temen-temen Blogger Batam, kami bangun kesiangan. Sekitar jam 7 kami segera packing seadanya, kemudian diantar oleh sopir hotel, kami membeli tiket di agen perjalanan dan menukar uang di money changer yang banyak tersebar di daerah Nagoya.

Jam 8 kami sampai di Pelabuhan Batam Center dan segera check-in di counter Penguin, maskapai kapal asal Singapura yang akan kami tumpangi. Selain di agen, tiket juga bisa dibeli langsung ketika di pelabuhan. Harga tiketnya adalah SGD 17 (sekitar 110 ribu rupiah) untuk sekali jalan, bisa dibeli pake mata uang rupiah atau dollar Singapura.

Di Pelabuhan Batam Center memang banyak tersedia pilihan operator kapal, selain Penguin, operator Batam Fast juga sering dijadikan pilihan.

Untuk menyeberang ke Singapura dari Batam, bisa melalui beberapa pelabuhan. Selain Batam Center, kita bisa juga menuju Singapura dengan naik kapal cepat dari Harbour Bay, Sekupang, atau Waterfront City. Yang paling banyak pilihan operatornya sih, memang di Batam Center.

Prosedurnya sih nggak jauh beda seperti kita mo naik pesawat, kita check-in di counter sesuai operator/maskapai dengan menyerahkan tiket, paspor, kartu NPWP bila punya untuk fasilitas bebas fiskal, dan membayar pajak pelabuhan yang besarnya 7 dollar Singapura (sekitar 42 ribu rupiah). Selesai check-in, kita akan diberi boarding-pass dan dokumen exit permit (sebagai ijin untuk keluar Indonesia) dan entry permit (untuk ijin masuk ke Singapura).

Paspor, dokumen exit permit, dokumen entry permit, dan boarding-pass.

Setelah mendapat boarding-pass, kami harus menuju ke bagian fiskal, untuk mendapat tanda bebas fiskal (karena saya punya NPWP) dengan menunjukkan paspor dan kartu NPWP, kemudian boarding-pass kita akan mendapat tanda khusus yang menyatakan bebas fiskal ketika dipindai. Kartu boarding-pass ini berupa RF-ID (Radio Frequency Identification) card, di mana kartu ini menyimpan data dan informasi kita, yang diakses dengan sinyal radio berfrekuensi tertentu.

Setelah mendapat tanda bebas fiskal, kami menuju ke bagian imigrasi, bagian yang entah kenapa menurut saya adalah bagian yang paling menegangkan, karena di sini nasib kita seolah-olah diuji, boleh pergi atau tidak.

Setelah dokumen-dokumen saya diperiksa, paspor dicap, dan exit permit dicap dan disobek sebagai tanda keluar Indonesia (sobekan lainnya harus disimpan dan dikembalikan ketika datang ke Indonesia), urusan imigrasi selesai.

Rekan seperjalanan saya, Nila ternyata mendapat masalah. Paspornya 3 bulan lagi habis masa berlakunya. Ketika data paspor dimasukkan ke dalam sistem, paspornya tidak dikenal. Menurut keterangan petugas yang sok galak itu, untuk keluar negeri, minimal paspor habis masa berlakunya 6 bulan lagi. Saya yang lolos karena tidak bermasalah, akhirnya jadi ikut deg-degan karena ini.

Nila kemudian digiring ke ruangan khusus. Di dalam sana, dia diinterogasi oleh petugas tentang maksud dan tujuannya keluar negeri. Saya duduk harap-harap cemas di luar sembari menunggu. Akhirnya, “jdok! jdok!”, paspor dicap dan Nila diijinkan keluar, dengan catatan “resiko ditanggung sendiri”. Menurut petugas imigrasi, Nila boleh masuk ke Singapura atau tidak, tergantung oleh petugas imigrasi Singapura, itu pun ngomongnya dengan gaya masih sok galak.

Urusan imigrasi selesai, kami akhirnya naik ke kapal. Kami melewati semacam mesin boarding, dengan menempelkan boarding-pass ke mesin, dan data nama secara otomatis akan tercatat sebagai penumpang di kapal. Boarding-pass ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal.

Perjalanan dari Batam ke Singapura memakan waktu kurang lebih 45 menit. Di Singapura, pelabuhan akhir dari Batam adalah di HarbourFront, yang juga menjadi pelabuah kapal pesiar (cruise ship) besar serta pintu gerbang menuju Sentosa Island (yang cuma selemparan kolor dari HarbourFront).

Kapal cepat milik operator Penguin

Kapal Penguin termasuk jenis ferri cepat yang memiliki daya tampung sekitar 50 orang. Di Pelabuhan Marina, Ancol, jakarta, yang melayani rute ke resort-resort mewah di Kepulauan Seribu, ukurannya lebih kecil, meski bentuknya mirip-mirip. Beberapa ferri yang saya lihat bersliweran di sini berjenis Catamaran di mana memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibanding dengan versi yang saya tumpangi ini.

Kursinya cukup nyaman dan di dalam terdapat pendingin udara. Bila ingin menikmati angin laut, pindah lah ke bagian buritan, di sana terdapat ruang terbuka berkanopi sehingga angin bisa langsung menerpa wajah.

Pemandangan di laut adalah kapal-kapal besar, kapal tangker, dan ferri yang berkeliaran di seputar Selat Malaka. Selat ini memang merupakan salah satu laut tersibuk di dunia, karena posisinya yang sangat strategis. Pantas saja sejak jaman dulu hingga sekarang, selat ini diperebutkan oleh banyak negara.

Papan petunjuk dalam berbagai bahasa

Setelah tertidur karena keenakan digoyang-goyang ombak, kami pun tiba di HarbourFront, Singapura. Turun dari kapal, papan-papan peringatan berukuran besar bertuliskan dilarang membawa rokok, senjata, dan narkotika beserta ancaman hukuman langsung menyambut.

Papan-papan ini sangat miskin kata-kata penjelasan, namun bisa langsung dimengerti, tunjep poin, karena berupa gambar dan bentuk hukuman yang akan diberikan. Kondisi papan dan penempatannya pun tersebar di mana-mana, dan posisinya bisa dengan mudah dilihat. Contohnya ada di sini dan di situ.

Begitu masuk ke terminal pelabuhan, kami langsung menghadap ke counter imigrasi! Kami pun langsung deg-degan lagi, namun tetap berusaha menenangkan diri. Si Nila sudah menyusun berbagai rencana dan argumen kalo misalnya dia ditanya sebab paspor dan ijin masuk, seperti apa yang dibilang petugas imigrasi di Indonesia.

Dan, tibalah giliran kami. Saya dilayani oleh petugas perempuan berparas India, begitu melihat paspor hijau saya, si petugas menyapa dengan ramah namun terbersit nada tegas, dalam bahasa Melayu, sambil tangannya cekatan memeriksa dan memindai dokumen-dokumen saya.

“Pernah ke Singapura sebelumnya?”
“Belum”
“Pulang balik atau menginap?”
“Pulang balik..”
“Sayang sekali, Anda seharusnya menginap di Singapura..”
Saya cuma senyum-senyum..

Jdok! Jdok! Paspor saya pun dicap untuk yang kedua kalinya. Entry permit dan paspor dikembalikan kepada saya dan dia bilang sambil tersenyum, “Selamat datang di Singapura!”.

Saya melirik ke arah Nila yang ada di counter imigrasi sebelah, yang melayani seorang pemuda. Tak berapa lama, Nila selesai dan dengan wajah sumringah mendekati saya. “Petugasnya baik banget!! Beda ama petugas imigrasi Indonesia!”, sungut Nila antara gembira sambil dongkol. Gembira karena diloloskan oleh petugas imigrasi Singapura dan dongkol dengan sikap petugas imigrasi Indonesia.

Menurut Nila, petugas imigrasi Singapura tidak terlalu mempermasalahkan soal masa berlaku paspor, selama masih berlaku, mereka menerima. Namun si petugas tersebut menyarankan agar segera mengurus pergantian paspor (di Indonesia, sekarang tidak ada istilah perpanjangan paspor, namun penggantian paspor). Alasannya bukan karena bernada “menyalahkan” seperti yang dipaparkan oleh petugas imigrasi Indonesia, namun lebih ke semacam “saran”.

“Anda harus segera mengurus paspor Anda, supaya Anda bisa datang ke sini lagi”, begitu kira-kira ucapan si mas-mas petugas imigrasi yang ditirukan oleh Nila. Benar-benar suatu pelayanan yang beda banget dengan pelayanan di Indonesia.

Kami pun turun dari bagian imigrasi dengan perasaan bahagia yang tertahan. Sebenernya pengen melonjak-lonjak, namun kami tahan.

Yang pertama kali saya lakukan, menyesuaikan zona waktu di arloji dengan menambahkan satu jam. Ya, meski posisi Singapura lebih ke barat daripada Jakarta, zona waktu Singapura lebih dulu satu jam dari Jakarta.

Kami pun menuju ke counter Penguin, untuk memesan waktu keberangkatan pulang. Kami di Batam sudah membeli tiket pulang-pergi, sehingga ketika di Singapura, kami cukup membooking dan sekalian check-in. Setelah melalui prosedur yang hampir sama ketika di Batam (bedanya, kami membayar pajak pelabuhan sebesar SGD 6), kami mendapat boarding-pass.

Selesai memesan tiket pulang kami pun turun ke hall pelabuhan. Kami sempat bingung mau ke mana karena kondisi pelabuhan tak ubahnya semacam mall. Kami bingung hendak ke mana, mau naik apa, dan mau ngapain..

Buat saya, yang penting ini: Maaakk!! Anakmu ini sudah menginjak-injak tanah negeri Singa!!

27 thoughts on “Jeng-Jeng Singapura: Menyeberang Melalui Laut”

  1. beruntunglah nila bisa njamah singapur dg paspor tinggal 3 bulan lagi. dan juga masih beruntung imigrasi batam sok sokan, karena biasanya paspor 3 bulan pasti lewat dr batam, tapi sampe singapur akan mental balik ke batam.
    pernah juga saya masuk ke ruangan karantina di sing, ntah krn apa, yg saya duga cuma krn saat itu saya memakai celana doreng serta berjenggot :).

    oiya itu sekupang ya dab, bukan sikupang 🙂

  2. wah2 udah nyampe ke negeri orang neh ya mas.. dulu masih suka duduk di SIC eh sekarang udah bisa duduk didepan “SINGA” Pura..

    ^^V

    Selamat mas atas pengalaman barunya..

  3. mas Hedi..di imigrasi Batam, bagian keberangkatan, ndak ada petugas perempuan, laki semua..lagi pula, biasanya kalau yang ramah sama cewek bukannya cowok ya.. 😀

  4. hehe saya prnh sekolah di singapore thn 1994-1996 .. hingga saya ke spore thn 2009, itu negara tetep enak utk refreshing. malaysia aja kalah deh utk jalan2 mah. tetep spore is the best buat asia tenggara.

  5. @Hedi: Mas, di Stuttgart dan Tel Aviv, yang galak malah petugas perempuan. Di Stuttgart, semua yang lewati petugas perempuan itu, pasti digeledah. Di Israel, amit-amit deh. Kita senyum, dia melengos. Sementara beberapa waktu lalu saat sampai di Bandara Soekarno Hatta, petugas imigrasi yang perempuan ramah sekali. Senyum dan membalas sapa. Beda dengan yang lelaki.

    Apakah ini artinya, semua petugas imigrasi Indonesia yang lelaki tidak pernah belajar senyum waktu pendidikan mereka dahulu?

    Hehe

  6. oom zam, perhatiin lautnya enggak? laut di batam keruh dan berbau amis. tapi laut di Singapore kok jernih, biru dan indah. Padahal masih satu laut. kayaknya pake bahan kimia apaa gitu. Soalnya bau lalut yang khas-nya ilang oom. btw, jadi ingin deh ke sananya mampir blogger batam 🙂

  7. ndak di kampus, ndak di imigrasi, petugas pelayanan publik selalu bertampang judes. warisan zaman belanda kali ya? 😀

    btw kalo misalnya masih ngekos bisa gak ngurus2 NPWP gitu kang?

  8. hehehe ak jg punya pengalamn krg menyenangkan dgn petugas imigrasi di Jakarta, bukan galak tp pertanyaannya tuh ‘nyelekit’ mau kemana? tanyanya, ak jwb: shanghai Pak. Mau apa? sy jwb lg: liburan, dia tanya lg, apa gak kurang jauh?!! jeder!! wuasem tenan bathinku.. syukurnya smpe di imigrasi shanghai, meskipun antrinya puanjang, pelayanan cepat dan ramah plus saat nunggu paspor di stempel ada permen gratis yg bs di ambil, enak to?

    trs ak juga ada pengalaman dgn petugas imigrasi S’pore, kebiasan org kt kan sk ‘shortcut’ yah apalagi tmpt yg di jangkau bs di lihat dan cmn 5 meter, saat itu mau nukerin kupon pajak GST.. ak nyelonong aja eh..eh..eh.. ternyata itu pintu masuk imigrasi dan jeder! mbaknya yg manis petugas imigrasi marah2 deh.. sini stempel paspor dulu asal nyolong aja lo, bhs org jakartenye gt kalee ye hehehe.. ya udah smbl trs tersenyum meskipun keqi ak minta maaf deh sm dia, meskipun galak untungnya wajahnya enak di lihat xixixixi…

  9. pengalaman gue masuk imigrasi malaysia lancar2 aja, lalu dilanjut masuk imigrasi s’pore sempat deg2 an ketika petugasnya bilang” silahkan ambil paspor you di ruang sana”. Wah ada apa ini, soalnya lainnya paspor langsung dikasihkan. Di ruang khusus gue cuma disuruh duduk doang, boro2 ditanya. waktu gue tanya”ada apa”, petugasnya diem seribu bahasa. kira2 15 menitan baru paspor gue dikasihkan, lagi2 petugasnya diem tanpa komentar. Setelah gue tanya ke orang2 “katanya sih nge-check data gue mirip teroris nkali? ….he…he…he”

  10. oya di S’pore biar kata belum pernah kesono, jalan2 ke mana aja gak mungkin kesasar. resepnya cuma satu : bawa peta wisata yg bisa diperoleh dimana aja, hotel atau mall, lalu naik aja MRT (kereta bawah tanah), di setiap stasiun atau didalam gerbongnya sudah terpampang tempat yang dituju. nggak usah kawatir ketemu tampang2 preman kayak di jakarta, di S’pore nggak ada tuhhh….

  11. saya pernah punya pengalaman mirip BRO GEBLEK dan BRO EKO M. Kayaknya kalau mau masuk SIN dari Malaysia emang lebih ketat. Mungkin karena diberita sering dikaitkan “teroris” kita banyak yang dari malaysia kali ya hehehe. Jadi kita kena getahnya.

    Saya juga pake celana loreng ijo dan punya janggut (biar gaul tadinya). Pas masuk counter imigrasi singapur, passport saya gak langsung dicap, tapi disuruh diambil di office nya kata petugas. Masuk office saya disuruh duduk nunggu sekitar 15-20 menitan. Trus ditanya2 kamu berapa orang ke singapur, pake travel tidak, nginep dimana di singapor nya. Dijawab aja seadanya. Trus disuruh masuk keruangan sidik jari, jempol kiri dan kanan disidik jari lagi, nunggu 5 menit, passport dikasih dan beres. Sampai sekarang tidak jelas alesan kenapa saya disuruh ngambil passport di officenya dia.

    Emang selain saya, banyak juga bule dan yang lain ditahan dulu di office imigrasi itu. Malah ada satu rombongan bule disuruh masuk semua entah karena apa. Ada juga cewek bule yang hampir nangis ditahan lama sekali dan ditinggal oleh rombongan bis nya. Sampe saya beres tuh cewe bule belom diproses, dibiarin aja gitu.

    Beda sama imigrasi di SIngapur ke Batam, lebih ramah dan tidak bertele tele.

    Pertanyaan besar saya, kita ini kan semua tinggal di PLANET YANG SAMA (SATU BUMI), RAS SAMA MANUSIA, kenapa kita memasang batas – batas ya….. kita sendiri yang satu ras meperlakukan sesama manusia tidak manusiawi, apalagi sama mahluk lain. Manusia emang aneh. Bener kata film God Must Be tired of Us, Tuhan sudah cape ngelihat kelakuan kita hehehehe

  12. … menurut saya petugas imigrasi kan kerjanya “jaga pintu gerbang negara” jadi yaaa harus detail or kdg galak kali yaaa….

Comments are closed.