Jeng-Jeng Sawarna

Di Pantai Lagun Pari

Jawa Barat bagian selatan dan Banten masih menyimpan banyak pesona. Lokasinya yang cukup sulit dijangkau karena prasarana yang kurang, membuat alam dan pemandangannya seperti tak pernah terjamah. A hidden paradise.

Salah satunya adalah pantai-pantai di kawasan Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, yang menjadi salah satu favorit para surfer asing sejak tahun 2005, karena karakteristik pantainya curam dan memiliki ombak besar. Bahkan para bule ini betah tinggal hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan karena penasaran dengan ombak di pantai ini, tentunya selain karena kawasan ini masih sangat sepi.

Tanpa rencana, kami pun berangkat ke Sawarna. Berbekal informasi minim dari teman yang pernah ke sana, kami pun “napak tilas” mengikuti rutenya (yang belakangan kami ketahui bahwa rute ini untuk masokis-traveler – pelancong yang doyan menyiksa dirinya sendiri demi mencapai tujuan), melahap jalur Jakarta-Serang-Malingping-Bayah-Sawarna yang memakan waktu hingga 9 jam!

Padahal jalur ke Sawarna bisa ditempuh dengan menumpang kendaraan umum ke Pelabuhan Ratu (biasanya ke Bogor dulu, kemudian naik bus MGI ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi), kemudian dilanjut naik Elf atau angkot lain ke Bayah atau langsung ke Sawarna.

Namun meski kami tersiksa karena selama 4 jam berdesak-desakan di dalam Elf yang melahap jalan rusak parah dari Terminal Pakupatan, Serang, Banten menuju Malingping, kami merasa enjoy saja. Bahkan kami sempat sesumbar, kalo ke Sawarna ndak melewati rute Malingping, belum ke Sawarna (dengan tujuan agar pelancong lain merasakan penderitaan kami, heheh).

Kami berangkat dari Slipi Jaya, menumpang bus jurusan Merak dan turun di Terminal Pakupatan, Serang, Banten. Perjalanan sekitar 2 jam hingga ke Serang dengan ongkos 18 rebu untuk bus AC. Dari Terminal Pakupatan, kami naik Elf ke Malingping, yang kampretnya itu Elf banyak ngetem dan mematok harga lebih mahal, yang seharusnya 20 ribu menjadi 30 ribu rupiah.

Jalanan rusak dimulai di sekitar Saketi, Pandeglang, Banten, dan terus berlanjut hingga Malingping. Menurut cerita orang-orang, dana pembangunan jalan banyak dikorupsi, sehingga pantas saja jalannya ancur begitu.

Di beberapa ruas, memang ada perbaikan, yaitu dengan membangun jalanan beton. Namun lagi-lagi menurut informasi, yang membangun jalan tersebut adalah pihak swasta yang memang berkepentingan untuk memudahkan akses ke lokasi penambangan emas. Pandeglang memang salah satu daerah penghasil emas di Banten.

Di dalam angkot

Begitu turun di Pasar Malingping, kami harus berganti angkot ke Bayah (ongkosnya sekitar 10-15 ribu per orang), dan dari Bayah disambung naik ojek dengan ongkos sekitar 20 ribu per orang. Namun begitu turun dari Elf, kami langsung ditawari carter angkot dengan harga 150 ribu dan diantar sampai Sawarna.

Setelah dipikir-pikir, ongkos nyarter angkot ndak jauh beda dengan ngeteng, akhirnya kami menyarter angkot tersebut. Dari Pasar Malingping menuju Bayah, jalannya bagus dengan aspal mulus, Beda banget dengan rute Serang-Malingping, terutama di kawasan Kab. Pandeglang, Banten, yang rusak parah.

Perjalanan dari Malingping ke Sawarna memakan waktu sekitar 2 jam. Perjalanan kami pun bukannya tanpa hambatan, di tengah-tengah tanjakan berkelok dan sempit, selepas Terminal Bayah dan mulai masuk daerah Ciantir yang masih berupa hutan, angkot yang kami tumpangi bermasalah. Karena hujan mengguyur, entah gimana ceritanya mesin kemasukan air sehingga beberapa kali mobil harus berhenti untuk mengeringkan air. Masih untung kami tidak diminta turun dan membantu mendorong mobil.

Meski begitu, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan tiada dua. Menyusuri jalan di yang tepat berada di pinggir tebing yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, memberikan pemandangan luar biasa.

Setelah mengalami perjalanan yang cukup mendebarkan, karena angkot yang gak beres jalan di tengah hutan pada saat hujan, kami pun tiba di Desa Wisata Ciantir, Kampung Cikaung, Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, tujuan kami akan menginap. Desa ini memang kerap menjadi lokasi menginap karena selain lokasinya yang sangat dekat dengan pantai, juga suasana pedesaan yang ramah kepada wisatawan.

Jembatan gantung menuju Sawarna

Sebelum masuk ke desa, kami harus melewati jembatan gantung yang sekilas sangat tidak meyakinkan. Jembatan ini melintasi Sungai Sawarna, yang menjadi asal nama dari desa ini. Di mulut jembatan, kami dimintai ongkos retribusi sebesar 2 ribu rupiah per orang.

Setelah berjalan sekitar 500 meter dari jembatan gantung kami menuju ke Widi’s Homestay yang dimiliki oleh Pak Ade (081911282912). Pak Ade memang sangat terkenal di Sawarna. Banyak para pejalan dan backpacker yang menginap di tempatnya. Dengan memanfaatkan rumahnya dan rumah saudara-saudaranya, Pak Ade menampung tamu-tamu dan melayaninya dengan baik.

Dengan konsep sesuai namanya, homestay, tamu menginap di kamar-kamar yang disediakan, plus disediakan makan pagi-siang-malam yang dilakukan swalayan di ruang makan. Ingin kopi, teh, disediakan air panas dan silakan bikin sendiri. Kalo masih pengen sesuatu yang lain, Indomie Rebus Telur misalnya, tinggal pesan ke warung kelontong di depan rumah yang dikelola oleh puteri Pak Ade.

Ongkos menginapnya cukup mahal, 60 ribu per orang. Kami cukup beruntung, karena saat kami datang, tamu sedang banyak. Kami masih mendapat tempat dan kami satu rumah dengan para bule surfer. Beberapa rombongan yang datang bahkan mendapat tempat yang lokasinya agak jauh dari pantai.

Pemandangan sawah di sepanjang jalan desa

Makin sore, hujan makin menderas. Untung kami sudah sampai di penginapan yang hangat, setelah sebelumnya sempat menikmati suasana sunset di Pantai Ciantir yang menjadi favorit para surfer. Bercengkrama menikmati suasana sepi pedesaan memang menjadi suasana yang “mahal” bagi “orang kota”.

Senja di Pantai Ciantir yang mendung

Kami bercengkrama dengan Pak Ade pada malam hari. Pak Ade dan istrinya begitu total melayani tamu, mempersiapkan kebutuhan tamu, hingga menemani ngobrol. Dari Pak Ade, kami mendengar cerita tentang asal-usul nama Sawarna.

Saya mengira nama “sawarna” berasal dari kata “satu warna”, namun ternyata bukan itu. Memang banyak versi cerita yang mendasari asal-usul nama Sawarna, salah satunya adalah ketika seseorang bernama Suwarna Dwipa dan anak buahnya yang menemukan daerah ini setelah berlayar dan terdampar di pantai.

Suwarna pun kemudian membuka hutan dan tinggal di kawasan pantai. Kapalnya yang hancur ditinggalkan dan konon dari layar kapal yang ditinggalkan di pantai karena hancur terkena badai hingga terdampar, terbentuklah karang yang disebut dengan Karang Layar. Karang Layar adalah landmark dari pantai Tanjung Layar, yang kalo digambar di peta, berada di ujung selatan garis pantai.

Nah, suatu ketika, putera Suwarna Dwipa ini sedang asyik main-main di sungai, tenggelam dan terbawa arus sungai. Sungai yang menenggelamkan putera Suwarna Dwipa ini adalah sungai yang dilintasi oleh jembatan gantung yang berada di pintu masuk desa. Sungai ini kemudian disebut dengan sungai Sawarna, yang berasal dari nama Suwarna, dan akhirnya menjadi nama desa.

Pagi-pagi sekali kami bangun. Posisi pantai yang menghadap ke barat jelas tak memungkinkan kami mendapat sunrise. Kami cuma bisa menikmati pemandangan kehidupan pedesaan di pagi hari: orang-orang pergi ke sawah yang terletak berdampingan dengan pasir pantai, ke ladang kelapa yang banyak berdiri berjajar di sepanjang pantai, ditambah para bule bersliweran mengusung papan surfing.

Setelah berburu sunrise, berjalan-jalan sebentar, menikmati nasi uduk bikinan istri Pak Ade, kami memulai tracking. Dengan dipandu oleh Mas Yudha, putera Pak Ade, kami akan diajak menyusuri Gua Lalay, trekking mendaki Bukit Cimonyet, berenang-renang di Pantai Lagun Pari, menyusuri pantai hingga ke Tanjung Layar, sebelum kembali ke penginapan.

Sunrise hunter

Rute tersebut dipilih mengingat ketika siang, air laut akan surut, sehingga kita bisa berjalan di atas karang pantai dan bisa bermain-main di sekitar Pantai Tanjung Karang.

Mas Yudha sendiri adalah seorang surfer. Sejak usia 18 tahun, dia belajar surfing secara otodidak. Di kawasan Sawarna, Mas Yudha termasuk salah satu surver senior dan trainer. Bahkan dia sudah dikontrak oleh Billabong, salah satu brand yang memproduksi peralatan surfing, untuk jadi salah satu peselancarnya. Foto Mas Yudha yang sedang menaiki ombak dengan papan seluncur juga disablon pada dinding mug untuk suvenir.

Tujuan pertama kami adalah Goa Lalay. Untuk menuju ke sini, kami berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,5 Km. Goa Lalay merupakan salah satu dari 28 goa yang ada di Sawarna. Menurut cerita Pak Ade, goa ini pernah coba ditelusuri oleh mahasiswa dari Mapala UI, namun setelah 2 hari, belum ditemukan juga ujungnya.

Di dalam Goa Lalay

Disebut dengan Goa Lalay karena di goa ini banyak ditemukan kelelawar (lalay, dalam Bahasa Sunda). Sebuah penamaan yang sangat sederhana. Goa ini bila dilihat dari segi geologis, termasuk dalam tipe goa yang biasa ditemukan. Terbentuk dari bebatuan dan tanah yang terlarut oleh air yang kemudian air mengalir membentuk sungai bawah tanah.

Memasuki Goa Lalay, kami harus bertelanjang kaki. Selain karena licin, lumpur halus hasil endapan tanah yang membentuk goa setebal hingga paha membuat penelusuran goa menjadi sedikit terhambat. Dengan menggunakan penerangan lampu petromaks, kami mengikuti Mas Yudha agar tidak tersesat di dalam goa.

Tanjakan Cimonyet

Sekitar 500 meter dari mulut goa, kami sampai di salah satu chamber alias “ruangan” di dalam goa. Menurut Mas Yudha, yang sudah ditemukan ada 7 chamber, dan kami baru masuk ke chamber pertama.

Hamparan stalaktit dan stalagmit yang masih aktif menjadi pemandangan yang menyenangkan. Di beberapa sudut tercium bau kotoran kelelawar yang sangat tidak menyenangkan.

Keluar dari goa, kami diminta ongkos retribusi masuk sebesar 2.500 rupiah per orang oleh karang taruna desa. Padahal ketika kami datang, tidak ada seorang pun yang jaga, tiba-tiba aja mereka nongol gitu.

Kami meneruskan perjalanan dengan meniti pematang sawah, menyeberangi sungai, mendaki bukit, menuruni lembah. Kami sampai di sebuah tanjakan sempit dan terjal dengan air mengalir di jalurnya, sehingga tanjakan ini sekilas mirip air terjun mini. Tanjakan ini disebut dengan Tanjakan Cimonyet, merupakan jalur yang harus dilalui untuk menuju Bukit Cimonyet.

Dahulu di hutan ini memang banyak terdapat monyet, sehingga dinamakan Bukit Cimonyet. Namun candaan kami, nama Cimonyet cocok disematkan karena ketika mendaki ke bukit dan menuruni bukit ini, kami harus mengumpat, “monyet!”, akibat terjalnya medan dan licinnya turunan hingga beberapa kali kami jatuh terpeleset.

Setelah melahap tanjakan dan turunan Bukit Cimonyet yang curam, plus badan bau karena beberapa kali terjerembab ke dalam lumpur licin dan basah, kami pun akhirnya sampai ke Pantai Lagun Pari. Di sekitar pantai ini, terdapat banyak rumah-rumah dan gubuk tempat membuat gula kelapa.

Gula kelapa dibuat dengan mengambil nira yang berasal dari air sadapan tongkol bunga kelapa (manggar). Para petani memanjat pohon kelapa, menyadap air dari bunga kelapa yang sudah cukup umur dan menyimpannya dalam wadah bambu. Nira kemudian dibersihkan dari kotoran dan disaring, kemudian direbus hingga nira mengental. Setelah nira mengental dan berwarna kecoklatan, nira pekat dan cair ini kemudian dicetak menggunakan batok-batok kelapa atau cincin-cincin bambu.

Sayang sekali, ketika kami tiba di tempat produksi gula kelapa ini, kegiatan pembuatan sudah selesai. Kami cuma melihat para pekerja yang sedang beristirahat.

Begitu melihat air laut dan ombak, kami langsung kalap. Apalagi badan kotor akibat lumpur bau, menyebabkan kami ingin segera mandi-mandi di laut.

Byur!! Ombak setinggi 1 meter langsung menerjang badan. Ombak di Pantai Lagun Pari yang berbentuk teluk ini memang besar dan tinggi. Namun meski begitu, bermain-main air di pantai ini bisa dibilang aman karena permukaan pantainya landai. Berbeda dengan pantai Ciantir yang permukaan pantainya curam.

Ombak besar Pantai Lagun Pari

Lelah bermain-main air, kami pun mentas. Sembari beristirahat, kami ditawari kelapa muda. Yang istimewa, kelapa ini langsung dipetik dari pohonnya. Tentu sensasinya berbeda, menikmati air kelapa dan makan daging kelapa yang baru saja dipetik dari pohon. Untuk sebutir kelapa muda segar langsung petik dari pohon, kami cukup merogoh kocek 5 ribu rupiah per buah. Sangat murah!

Matahari mulai terik ketika kami menyusuri pantai. Air laut telah surut, membuka tabir-tabir karang yang berundak. Karang-karang berundak yang menyerupai tangga sepanjang pantai ini kemudian diberi nama Karang Teraje (d bahasa Sunda, teraje berarti tangga).

Beberapa kali saya melihat ikan-ikan terjebak dalam lubang-lubang karang, yang oleh penduduk setempat dapat dengan mudah diambil dan diburu. Di kejauhan, ombak-ombak besar datang menghantam bibir karang, sehingga terciptalah cipratan karang yang dahsyat.

Ombak besar Karang Teraje

Lepas dari Karang Teraje, kami sampai di sebuah “tikungan”. Sebuah “panggung” besar nampak berdiri megah menjorok ke laut. Karang Palistir adalah nama “panggung” megah ini. Dari atas karang muncul cucuran-cucuran air yang mengalir ke bawah, air ini berasal dari sisa ombak yang terjebak dalam lipatan-lipatan batunya.

Dan itu dia! Landmark megah Karang Layar mulai nampak. Karang setinggi sekitar 4 meter ini menjadi tujuan akhir dari trekking kami. Matahari sudah mencapai atas kepala, sehingga kami tidak berlama-lama bermain di Pantai Tanjung Layar ini.

di Pantai Tanjung Layar

Kami kembali ke penginapan lagi-lagi dengan trekking. Melewati perkebunan kelapa yang berjajar rapi, melihat gerombolan kambing dan kerbau gembalaan penduduk, kami pulang. Rasa capek baru terasa ketika menyusuri jalan tanah setapak. Pantas saja, rute trekking kami bisa dibilang cukup jauh, sekitar 6 km!

Untuk mengetahui rute trekking kami, silakan liat di peta berikut.

Setelah mandi-mandi dan berkemas, kami pun pulang menggunakan mobil carteran seharga 750 ribu yang akan mengantar kami sampai Jakarta melalui rute Sukabumi. Bila dihitung-hitung, carter mobil memang lebih murah karena untuk ngeteng dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu dilanjut ke Bogor kemudian ke Jakarta, selain ongkosnya hampir sama, waktu tempuh juga lebih lama.

Ongkos dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu sekitar 25 ribu, plus bus dari Pelabuhan Ratu ke Bogor adalah 25-35 rebu, kemudian bus dari Bogor ke Jakarta sekitar 12 rebu. Bila carter, per orang cuma keluar biaya 100 rebuan, plus bebas macet di Sukabumi karena sopir kami tau rute alternatif untuk menghindari macet.

Kami sampai di Jakarta lebih cepat, cuma makan waktu 5 jam bila dibandingkan ketika berangkat yang memakan waktu hingga 9 jam.

Baca juga:

32 thoughts on “Jeng-Jeng Sawarna”

  1. Masih agak bingung dengan Tanjung Layar, awalnya saya pikir Kang Zam salah tulis..karena setau saya tanjung layar itu bersebelahan dengan Pulau Peucang , Ujung Kulon
    tapi setelah googling, ternyata memang ada 2 termasuk yang di Sawarna, apakah ini daerah yang sama ya?

  2. beda lokasi. meski sama-sama masuk dalam wilayah Kab. Lebak, Banten, Tanjung Layar di Pulau Peucang, Ujung Kulon, dan di Sawarna itu berbeda.

  3. coba pantai2 lainnya yang sederetan sawarna…
    kayak bayah dan cihara… hmmm jangan lupa juga ke polo manuh… tapi sekalian ke tengah karangnya…
    mantaaaab…

  4. Biar perjalanan jauh dan capek, melihat indahnya pemandangan seperti terlihat dalam foto..pasti kelelahan itu hilang.
    Thanks infonya..sangat menarik untuk dikunjungi

  5. mas zam, salam kenal
    aku minggu lalu baru sempet ke sawarna sama 4 orang perempuan. Backpacker wanna be lho. Hehe. Bener kata mas zam, aku plek ikut apa yang ditulis di blog ini. Malingping memang kejam.

  6. bro, gw berniat touring (Bikers) ke sawarna sama temen 2x gw, insya Allah tgl 7 & 8 desember 2010, kita blm ada yang pernah kesana ! kiranya kalo rute naek motor enakkan lewat jalan yang mana yah ? trus apa harus lewatin jembatan itu ????kira kira ada access jalan motor ngga yah menuju ke pantai-pantai nya ??? -mohon balasannya yah- thanks !!!

  7. Alhamdulillah.. Semoga cerita ini menjadi aspirasi pemerintah daerah setempat untuk mempertahankan cagar alam dan cagar budaya.. Amein!

  8. Pantai Sawarna memang cukup indah sekali,sekedar info buat anda yg akan berkunjung ke pantai sawarna,anda bisa menggunakan jasa ‘ Bayah Maliba travel ‘,Maliba travel adalah travel regular,melayani penjemputan dan antar sampai Pantai Sawarna,maliba travel melayani penumpang perorangan, beroperasi setiap hari,untuk info lebih lengkapnya bisa menghubungi 021-55700332 atau 0252-401311,kunjungi juga http://bayahmalibatravel.blogspot.com.

  9. Mau tanya mas matriphe, perjalanan dari sukabumi ke sawarna itu kalau lewat pelabuhan ratu kira-kira memungkinkan ga kalo ditempuh tengah malam?

    Apa ada angkot dari sukabumi ke pelabuhan ratu di tengah malam? terus waktu tempuh kira-kira berapa lama? soalnay saya mau backpacking kesana tapi berangkat dari jakartanya malam.

    thanks

Comments are closed.