<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Asal Muasal &amp; Sejarah</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/asal-muasal-sejarah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Danau Purba Borobudur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 23:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi & Ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Elo]]></category>
		<category><![CDATA[National Geographic Indonenesia]]></category>
		<category><![CDATA[NGI]]></category>
		<category><![CDATA[Progo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp menulis di dalam bukunya yang berjudul Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha. Bersama teman-teman dari forum National [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/sutikno.jpg" alt="" title="Ir. Sutarto, M.T. menjelaskan batuan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1445" /></p>
<p>Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama <em>W.O.J Nieuwenkamp</em> menulis di dalam bukunya yang berjudul <em>Fiet Borobudur Meer</em> (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.</p>
<p><span id="more-1444"></span>Bersama teman-teman dari <a href="http://forum.nationalgeographic.co.id/" title="Forum national Geographic Indonesia" target="_blank">forum National Geographic Indonesia</a> regional Yogyakarta, saya berkesempatan menelusuri jejak-jejak danau purba di sekitar Borobudur, yang membuat saya seolah-olah sedang kuliah lapangan!</p>
<p>Saya mendengar pernyataan ini langsung dari Ir. Helmy Murwanto, M.Sc.,  Ir. Sutarto, M.T., dan Dr. Sutanto, tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta yang telah melakukan penelitian terhadap materi-materi tanah di sekitar Borobudur sejak tahun 1996 hingga sekarang untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp.</p>
<p>Hipotesa danau purba Nieuwenkamp dianggap sebuah mitos oleh <em>Van Erp</em>,  pemimpin tim pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911 dari Belanda. Menurut Van Erp, hipotesa ini ngawur karena  tidak didukung bukti-bukti kuat seperti prasasti tentang adanya danau di kawasan itu.</p>
<p>Hipotesa Nieuwenkamp ini lah yang membuat Pak Helmy yang orang Muntilan, Magelang, ini bersama kawan-kawannya tertarik meneliti materi endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo, dan Sungai Elo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/helmy-lempung-hitam.jpg" alt="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" title="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1446" /></p>
<p>Sampel lempung hitam yang sekilas bentuknya seperti arang basah ini kemudian diteliti dengan analisis radio karbon C-14. Ternyata lempung hitam ini banyak mengandung serbuk sari (<em>pollen</em>) dari tanaman komunitas rawa atau danau, antara lain <em>Commelina</em>, <em>Cyperaceae</em>, <em>Nymphaea stellata</em>, dan <em>Hydrocharis</em>, juga fosil kayu. Dalam bahasa populer, flora ini adalah tanaman teratai, rumput air, dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu. Dari analisis ini pula diketahui ternyata endapan lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun.</p>
<p>Pada tahun 2001, Pak Helmy dan tim melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C-14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. Maka dari hasil ini bisa disimpulkan kalo danau ini sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu (zaman <em>Plistosen</em>), dan berakhir di sekitar akhir abad ke-10 hingga abad ke-13.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/sutanto.jpg" alt="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" title="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1448" /></p>
<p>Candi Borobudur konon dibangun di atas daratan (bukit) yang terbentuk karena timbunan endapan-endapan material vulkanik dari beberapa gunung di sekitarnya, yang terbawa oleh sungai-sungai yang bermuara ke danau ini, antara lain Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro.</p>
<p>Sungai-sungai yang ada sekarang di sekitar Borobudur dulunya bermuara di danau purba ini. Namun seiring terbendungnya aliran-aliran sungai oleh material vulkanik, akhirnya danau ini mengering dan membuat sungai-sungai yang dulunya bemuara di danau ini mencari jalurnya sendiri hingga sekarang mengarah ke Laut Selatan.</p>
<p>Namun ada teori lain yang mengatakan bahwa danau ini sudah mengering jauh sebelum Borobudur dibangun, yaitu sebelum abad ke-8. Bahkan diperkirakan di lingkungan tersebut sudah terdapat pemukiman penduduk ketika Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra dengan arsitek Gunadharma ini.</p>
<p>Hal ini bisa ditengarai dari pemakaman umum di beberapa desa di sekitar Borobudur yang berumur sebelum tahun 1300. Nisan makam kuno terbuat dari kayu jati relatif tipis, bukan dari batu. Teori ini dikemukakan oleh budayawan Aris Sutomo, penulis buku <em>Temples of Java</em>.</p>
<p>Yang menarik, ada dugaan lain bahwa awalnya danau ini bagian dari laut yaitu terbentuk dari laut yang terjebak, karena ditemukannya beberapa sumur yang airnya asin di di Desa Candirejo, Sigug, dan Ngasinan. Selain itu, bebatuan karang di Bukit Menoreh di sebelah selatan Borobudur ditengarai sebagai karang laut zaman dahulu.</p>
<p>Bila Van Erp mempertanyakan bukti-bukti prasasti, tim Helmy menggunakan prasasti toponim (asal mula penamaan) nama daerah di sekitar Borobudur, yang berkaitan dengan lingkungan air. Misalnya nama desa Bumi Segoro  di sebelah barat daya Borobudur, yang mana &#8220;bumi&#8221; berarti daratan dan &#8220;segoro&#8221; berarti laut atau danau. Juga ada desa bernama Sabrang Rowo (menyeberang rawa/danau) di sebelah selatan Borobudur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/lapisan-tanah.jpg" alt="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" title="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1451" /></p>
<p>Penelitian tim dari UPN ini bertujuan untuk mencari tahu sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai dari awal terbentuknya danau, yaitu dugaan air laut yang terjebak hingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa, dan rawa menjadi dataran, menggunakan analisis lapisan tanah dan batuan.</p>
<p>Selain tim peneliti dari UPN ini, penelitian serupa untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp juga dilakukan pernah oleh seorang ahli geologi bernama <em>Van Bemmelen</em> pada tahun 1949.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul <em>The Geology of Indonesia</em> (Geologi Indonesia), Van Bemmelen menyebutkan di daerah Magelang bagian selatan dulu pernah terbentuk danau yang terbentuk oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M (meski beberapa ahli mempertanyakan catatan tahun letusan Merapi tahun 1006 M ini).</p>
<p>Letusan ini mengakibatkan sebagian puncak Merapi longsor ke arah barat daya, kemudian tertahan oleh Bukit Menoreh bagian timur yang berada di selatan daerah Borobudur. Akibatnya, material longsoran tersebut membendung aliran Kali Progo di timur Borobudur, sehingga terbentuklah genangan yang luas di dataran Magelang bagian selatan. Setelah berabad-abad, sumbatan yang membendung Kali Progo hilang oleh proses erosi, akhirnya danau mengering.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/peserta.jpg" alt="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" title="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1449" /></p>
<p>Nah, bila memang benar di sekeliling Borobudur saat itu terdapat danau atau rawa, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah batu-batu ini dibentuk dan bagaimana batu-batu ini dibawa ke bukit Borobudur untuk disusun menjadi candi. Apakah batu dibawa dalam bentuk utuh atau sudah berbentuk potongan-potongan balok batu?</p>
<p>Bila batuan dibawa dalam bentuk balok-balok itu, di manakah bengkel pemotongan batu ini? Bila memang dilakukan di tempat lain, di mana kah letak pemotongan batu ini? Bila batu dibawa dalam bentuk utuh kemudian dibentuk di bukit Borobudur, di mana kah &#8220;sampah&#8221; batu bekas ukiran dibuang?</p>
<p>Borobudur rupanya mempunyai sejarah dan pesona yang sampai sekarang masih menjadi misteri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Panjang Guinness Si Bir Hitam</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/sejarah-panjang-guinness-si-bir-hitam.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/sejarah-panjang-guinness-si-bir-hitam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 17:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[bir]]></category>
		<category><![CDATA[Dublin]]></category>
		<category><![CDATA[Guinness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1300</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kaum muslim, bir merupakan salah satu minuman yang diharamkan. Namun ndak dapat dipungkiri, di lain sisi, bir juga menjadi bagian dari budaya dan gaya hidup manusia yang mempunyai sejarah panjang. Saya bukan peminum bir, namun saya tertarik dengan proses pembuatan dan sejarah panjang yang melatari sebuah bir menjadi salah satu minuman yang populer hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/guinness-beer.jpg" alt="Bir hitam Guinness" title="Bir hitam Guinness" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1299" /></p>
<p>Bagi kaum muslim, bir merupakan salah satu minuman yang diharamkan. Namun ndak dapat dipungkiri, di lain sisi, bir juga menjadi bagian dari budaya dan gaya hidup manusia yang mempunyai sejarah panjang.</p>
<p>Saya bukan peminum bir, namun saya tertarik dengan proses pembuatan dan sejarah panjang yang melatari sebuah bir menjadi salah satu minuman yang populer hingga sekarang.</p>
<p>Apalagi bir ini banyak sekali ragam dan jenis, sehingga saya pun mencoba menelusuri kisah Guinness, salah satu produsen bir yang <a href="http://g250years.com/" title="250 Remarkable Years Guinness" target="_blank">berhasil berjaya selama 250 tahun</a>.</p>
<p><span id="more-1300"></span>Konon bir sudah dikenal lama, bahkan prasasti tanah liat di Mesopotamia dan Mesir menjelaskan dengan rinci resep pembuatan bir pada tahun 4.300 sebelum masehi. Bir juga telah dikenal dan dibuat oleh bangsa Cina kuno, Syiria, dan suku Inka.</p>
<p><strong>Pembuatan dan Jenis-Jenis Bir</strong></p>
<p>Bir biasanya terbuat dari air fermentasi biji-bijian. Biasanya terbuat dari biji Barley (<em>Hordeum vulgare</em>), yang bentuknya seperti gandum, yang direndam di dalam air hingga berkecambah. Setelah berkecambah, proses ini dihentikan dengan cara dijemur atau dipanggang. Biji kering inilah yang disebut dengan &#8220;malt&#8221;.</p>
<p>Cita rasa bir ditentukan oleh bahan-bahan malt ini. Setiap daerah biasanya mempunyai bir dengan cita rasa khas daerahnya, tergantung dari biji apa yang digunakan dan bagaimana cara mengolah <em>malt</em> ini.</p>
<p><em>Malt</em> ini kemudian direbus dalam air dan diberi ragi agar terjadi proses fermentasi yang mengubah karbohidrat (gula) menjadi alkohol. Jika proses ini salah, maka alkohol yang dihasilkan bisa beracun.</p>
<p>Nah, alkohol yang dihasilkan pada minuman fermentasi adalah jenis <em>ethanol</em> (C<sub>2</sub>H<sub>5</sub>OH), sedangkan alkohol yang beracun dan sering dipakai di dunia medis untuk sterilisasi adalah <em>methanol</em> (CH<sub>3</sub>OH).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/fermentasi-bir.jpg" alt="Tabung fermentasi bir" title="Tabung fermentasi bir" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1302" /></p>
<p>Untuk menambah rasa dan mengimbangi rasa manis <em>malt</em>, ditambahkan bahan-bahan lain. Biasanya yang sering digunakan adalah buah atau bunga Hop yang akan memberikan rasa pahit sebelum larutan <em>malt</em> masuk ke proses fermentasi.</p>
<p>Tanaman Hop (<em>Humulus lupulus</em>) merupakan salah satu spesies dari genus <em>Humulus</em> keluarga <em>Cannabaceae</em>. Nah, tanaman Hop ini berbeda dengan ganja (<em>Cannabis sativa</em>) meski ganja merupakan salah satu species dari genus <em>Cannabis</em> yang merupakan famili <em>Cannabaceae</em> juga loh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ragi yang digunakan dalam pembuatan bir menentukan jenis bir. Ada beberap jenis bir, namun beberapa yang populer antara lain <em>Ale</em>, <em>Lager</em>, <em>Pilsener</em>, dan bir hitam.</p>
<p>Ragi <em>Saccharomyces cerevisiae</em> digunakan dalam proses pembuatan bir jenis <em>Ale</em>, sedangkan bir jenis <em>Lager</em> menggunakan ragi <em>Saccharomyces uvarum</em>, <em>Saccharomyces pastorianus</em>, atau <em>Saccharomyces carlsbergensis</em>.</p>
<p>Bir jenis <em>Pilsener</em> sebenernya merupakan varian dari bir <em>Lager</em>, namun metodenya sedikit berbeda. Metode ini ditemukan pertama kali di Pilsen, yang sekarang masuk ke dalam wilayah Republik Czech.</p>
<p>Bir hitam merupakan varian dari <em>Ale</em> yang menggunakan jenis <em>malt</em> yang berwarna gelap yang terjadi akibat proses pemanggangan ketika pengeringannya.</p>
<p><strong>Guinness, Produsen Bir Hitam Tersohor</strong></p>
<p>Bir hitam tercatat pertama kali dibuat pada tahun 1730-an di London, Inggris. Bir hitam kemudian menjadi populer di daratan Britania Raya dan Irlandia.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/arthur-guinness.jpg" alt="Arthur Guinness" title="Arthur Guinness" width="200" height="245" class="alignright strip size-full wp-image-1311" /></p>
<p><a title="The Story of Arthur Guinness" href="http://www2.guinness.com/bh-id/Pages/thestory.aspx" target="_blank">Arthur Guinness</a>, seorang Irlandia memulai usaha <em>brewery</em> (pembuatan bir) dengan bermodalkan uang £ 100 pada tahun 1755 di kota kelahirannya, Leixlip.</p>
<p>Empat tahun kemudian, pada tahun 1759, Arthur Guinness menyewa sebuah pabrik pembuatan bir di St. James&#8217;s Gate, Dublin, Irlandia, untuk jangka waktu 9.000 tahun dengan uang muka £ 100 dan biaya sewa £ 45 per tahun yang sudah termasuk biaya penggunaan air, salah satu bahan utama pembuatan bir.</p>
<p>Dari pabrik pembuatan bir seluas sekitar 1,6 hektar ini lah Guinness pertama kali memproduksi bir jenis <em>Ale</em> dan <em>Porter</em>. Pabrik ini kemudian berganti nama menjadi St. Jame&#8217;s Brewery dan sekarang lebih dikenal dengan dengan nama House of Guinness.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1301" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/st-james-street-brewery.jpg" alt="St. James Street Brewery, Dublin" width="350" height="263" /></p>
<p><em>Porter</em> sendiri merupakan sebutan untuk bir berwarna hitam yang terbuat dari <em>malted Barley</em> yang berwarna gelap. Minuman jenis ini pada saat itu sering dikonsumsi oleh para porter (buruh pengangkut barang) di London, sehingga minuman ini sering disebut dengan minuman &#8220;porter&#8221;.</p>
<p>Dari istilah &#8220;porter&#8221; ini kemudian muncullah istilah &#8220;stout&#8221; yang kurang lebih artinya sama, yaitu bir hitam. Nama &#8220;stout&#8221; digunakan untuk bir hitam yang rasanya cenderung lebih kuat.</p>
<p>Ceritanya sih, berawal dari sebutan untuk porter yang kuat, sehingga disebut dengan &#8220;extra porter&#8221;, &#8220;double porter&#8221;, atau &#8220;stout porter&#8221;. Kemudian nama &#8220;stout porter&#8221; lebih sering dipakai dan lama-lama menjadi &#8220;stout&#8221; saja.</p>
<p>Sejak tahun 1799, Arthur Guinness menghentikan produksi bir jenis <em>Ale</em> dan lebih berkonsentrasi pada pembuatan bir jenis <em>Porter</em> yang semakin populer. Pada tahun 1840-an, Guinness memakai sebutan &#8220;stout&#8221; untuk bir produksinya yang berasa lebih kuat.</p>
<p><strong>Ciri Khas Bir Guinness</strong></p>
<p>Bir hitam &#8220;Stout&#8221; Guinness dibuat seperti bir hitam biasa, yaitu <em>malted Barley</em> dan bunga Hop yang dilarutkan di dalam air kemudian diberi ragi agar terjadi proses fermentasi. Namun pada bir Guinness ada beberapa keistimewaan.</p>
<p>Barley yang digunakan Guinness berkadar serat tinggi. Setelah berkecambah, Barley dikeringkan dengan cara dibakar dengan cara tradisional sehingga memberikan warna rubi gelap sehingga seperti warna hitam dan cita rasa khas Guinness.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/guinness-is-good-for-you1.jpg" alt="Poster iklan &quot;Guinness is Good for You&quot; tahun 1920-an" title="Poster iklan &quot;Guinness is Good for You&quot; tahun 1920-an" width="199" height="300" class="alignright strip size-full wp-image-1304" /></p>
<p>Campuran Barley ini juga ditambahkan kuntum bunga Hops betina dengan jumlah yang lebih banyak daripada pada bir lain sehingga memberikan rasa dan aroma yang lebih kuat.</p>
<p>Penambahan bunga Hops ini selain untuk menyeimbangkan rasa manis, juga berfungsi sebagai pengawet alami.</p>
<p>Guinness juga dikenal sebagai &#8220;meal in a glass&#8221; karena kandungan kalorinya yang rendah, sekitar 198 Kkal, lebih rendah dari jumlah kalori susu skim atau jus jeruk pada takaran yang sama. </p>
<p>Karena kandungan rendah kalori inilah, Guinness sempat terkenal dengan semboyan &#8220;Guinness is Good for You&#8221; pada tahun 1920-an.</p>
<p><strong>Penampilan dan Penyajian</strong></p>
<p>Selain cita rasa, Guinness memperhatikan betul cara penyajian dan penampilan bir hitamnya. Penyajian bir dalam gelas <em>pint</em> berwarna hitam pekat dengan busa di bagian atas yang creamy dan bertahan lama adalah ciri khas Guinnes.</p>
<p>Gelas <em>pint</em> berbentuk seperti bunga tulip membuat genggaman gelas begitu mantab. Gelas bersih akan menampilkan warna bir yang begitu cantik terutama pada proses terbentuknya busa.</p>
<p>Busa berwarna putih creamy yang terbentuk perlahan yang merupakan hasil karbonasi nitrogen dan karbondioksida membuat busa ini bertahan lama, tidak seperti busa pada bir lain yang akan hilang dalam beberapa saat.</p>
<p>Busa merupakan ciri khas Guinness sejak dulu. Ketika menuangkannya ke dalam gelas pun diperlukan teknik tertentu agar busanya tampil cantik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/penampilan-guinness.jpg" alt="Penampilan bir Guinness" title="Penampilan bir Guinness" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1305" /></p>
<p>Caranya dengan memiringkan gelas sebesar 45&deg;, kemudian mengisinya dengan bir hingga hampir &#190; tinggi gelas dan ketika hampir mencapai &#190; tinggi gelas lalu gelas ditegakkan. Biarkan busanya terbentuk dengan sempurna, baru setelah itu ditambahkan lagi hingga busa nyempil-nyempil di permukaan gelas.</p>
<p>Untuk caranya bisa dilihat di video berikut ini:</p>
<p><object width="480" height="295"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/kbZJPPFHv4c&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/kbZJPPFHv4c&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;rel=0" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="295"></embed></object></p>
<p>Tradisi khas penuangan Guinness lainnya adalah ketika busa terbentuk. Karena proses terbentuknya busa ini cukup lama dan cantik, pecinta Guinness harus menunggu hingga busa terbentuk sempurna sebelum diminum.</p>
<p>Warna coklat yang berubah menghitam bergerak merambat dari bagian dasar gelas menuju ke atas yang terjadi dari reaksi nitrogen sebelum berubah menjadi busa putih menjadi pertunjukkan tersendiri. Ini lah ciri lain penyajian bir Guinness yang ndak ada di bir lainnya.</p>
<p>Kebiasaan menunggu dan mengamati proses terbentuknya busa bir ini memunculkan istilah populer di antara pecinta Guinness, &#8220;Good things come to those who wait&#8221;.</p>
<p><strong>Perkembangan Kemasan Guinness</strong></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/kaleng-guinness.jpg" alt="Kaleng berpelampung Guinness" title="Kaleng berpelampung Guinness" width="200" height="316" class="alignright strip size-full wp-image-1310" /></p>
<p>Tahun 1834, Guinness dipasarkan dalam botol ketika pajak kemasan berbahan kaca dihapuskan. Sebelumnya, Guinness dipasarkan dalam gentong-gentong dalam ukuran barel.</p>
<p>Tahun 1959, Guinness akhirnya dijual dalam bentuk <em>draught</em>, yaitu tabung-tabung besar (<em>keg</em> atau <em>cask</em>) dengan kran-kran khusus bertekanan yang biasa ada di bar-bar. Seorang bartender akan menuangkan bir ke dalam gelas dari <em>draught</em>.</p>
<p><em>Draught</em> ini pun mengalami berbagai perkembangan, terutama dalam teknologi penuangan bir ke dalam gelas.</p>
<p>Tahun 1988, Guinness mulai dikemas menggunakan kaleng. Yang membedakan kaleng bir Guinness dengan yang lainnya adalah digunakannya sebuah pelampung yang berfungsi menjaga tekanan di dalam kaleng agar ketika dituang ke dalam gelas dapat menghasilkan reaksi yang sama ketika bir dituangkan dari <em>draught</em>.</p>
<p>Teknologi ini sudah dipatenkan dan bahkan pada tahun 1991, teknologi ini mendapatkan penghargaan dari Ratu Inggris.</p>
<p>Tahun 1999, teknologi pelampung yang digunakan pada kaleng diterapkan juga di dalam botol. Pelampung berbentuk roket ini juga difungsikan untuk menjaga tekanan agar ketika dituang, bir memberikan efek yang sama seperti ketika dituang dari <em>draught</em>.</p>
<p><strong>Dublin dan Brand Guinness</strong></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/logo-guinness.jpg" alt="Logo Guinness" title="Logo Guinness" width="200" height="267" class="alignleft strip size-full wp-image-1306" /></p>
<p>Guinness begitu identik dengan Irlandia. Maklum aja, logo Guinness menggunakan gambar harpa dari Brian Boru yang juga merupakan simbol dari negara Irlandia.</p>
<p>Bedanya, logo harpa Guinness ini dicerminkan (flip vertikal) dari simbol negara Irlandia.</p>
<p>Logo yang bernama The Harp ini mulai diperkenalkan pada tahun 1862 dan terdaftar sebagai merek dagang pada tahun 1876.</p>
<p>Selain logo, Guinness juga begitu dekat dengan tradisi masyarakat Irlandia. Guinness seolah-olah menjadi minuman yang wajib ada di setiap perayaan.</p>
<p>Sejak dulu, Guinness telah memberikan kontribusi terhadap dunia industri Dublin dengan memberikan upah yang layak dan kesejahteraan kepada pegawainya.</p>
<p>Melalui bisnis <em>brewery</em> yang dirintis Guinness, Dublin kini berkembang menjadi salah satu kota industri yang diperhitungkan duina. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/trambule-dab.jpg" alt="Tulisan di poster: BEER helping ugly people having sex since 1862!" title="Tulisan di poster: BEER helping ugly people having sex since 1862!" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1307" /></p>
<p>Sejarah panjang Guinness tak lepas juga dari sejarah panjang Dublin. Kota yang hampir tak tersentuh perang dunia kedua ini memiliki banyak bangunan kuno dan bersejarah.</p>
<p>Salah satunya adalah pabrik mereka di St. Jame&#8217;s Gate yang meski mesin-mesin mereka menggunakan mesin-mesin modern, arsitektur dan bentuk bangunannya tidak berubah.</p>
<p>Hawa yang sejuk, suasana tenang, juga menjadi suasana sehari-hari di Dublin. Ndak heran kalo untuk menikmati bir saja, masyarakat Dublin masih mempertahankan tradisi &#8220;Good things come to those who wait&#8221;.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/drunk.gif' alt='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' class='wp-smiley' width='58' height='30' title='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' /></p>
<p>Nah, dalam <a href="http://g250years.com/" title="250 Remarkable Years Guinness" target="_blank">perayaan ulang tahun ke-250 tahunnya ini</a>, Guinness memberikan kesempatan buat kita yang ingin merasakan suasana di Dublin, sambil menikmati suasana tradisi perayaan ala masyarakat Irlandia.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/blog-badge_200.jpg" alt="blog-badge_200" title="blog-badge_200" width="200" height="130" class="alignleft strip size-full wp-image-1308" /></p>
<p>Kita ndak harus mengkonsumsi bir untuk mendapatkan <a href="http://www2.guinness.com/bh-ID/Pages/250-BlogCompetition.aspx" title="250-Blog Competition" target="_blank">kesempatan ini</a>. Cukup dengan <a href="http://www2.guinness.com/bh-ID/Pages/250-BlogMechanism.aspx" title="Mekanisme Blog Competition" target="_blank">kepiawaian menulis blog</a> atau <a href="http://www2.guinness.com/bh-ID/Pages/250-Mechanism.aspx" title="Mekanisme Photo Competition" target="_blank">kemampuan memotret</a>, kita bisa mendapat kesempatan meraih tiket terbang ke Dublin.</p>
<p>Kalo misalnya saya yang dapet dan terbang ke Dublin, saya pasti akan berfoto-foto di depan gerbang St. Jame&#8217;s Gate yang terkenal itu!</p>
<p>Trambule, dab! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/drunk.gif' alt='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' class='wp-smiley' width='58' height='30' title='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' /></p>
<p><small>Gambar diambil dari Google</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/sejarah-panjang-guinness-si-bir-hitam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tradisi-Tradisi Acara Sekaten</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 12:35:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/19/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta. Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten. Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/kondur-gangsa1.jpg" alt="Prosesi Kondur Gangsa" title="Prosesi Kondur Gangsa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1187" /></p>
<p>Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta. </p>
<p>Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten.</p>
<p><span id="more-654"></span>Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga (kalo di Solo adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) pada tanggal 5 bulan Mulud, seminggu sebelum Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Mulud Tahun Jawa.</p>
<p>Sekitar pukul 23.00, gamelan kraton dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, di Bangsal Sri Manganti lalu disinggahkan di Bangsal Ponconiti yang kemudian dengan pengawalan para prajurit kraton, dibawa ke halaman Masjid Agung.</p>
<p>Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di Pagongan Lor (utara) sedangkan Kyai Naga Wilaga diletakkan di Pagongan Kidul (selatan) halaman Masjid Agung. Prosesi ini disebut dengan upacara Mios Gangsa.</p>
<p>Selama sepekan, gamelan ini dibunyikan setiap hari, kecuali pada hari Kamis malam dan hari Jumat. Karena prosesi Mios Gangsa pada Sekaten tahun ini jatuh pada hari Kamis, maka gamelan ini ndak dibunyikan hari itu.</p>
<p>Gending-gending yang dimainkan memiliki nuansa magis yang kental. Menggunakan laras pelog namun berbeda dengan pelog biasa, gamelan ini dibunyikan dengan cara yang berbeda.</p>
<p>Seperangkat gamelan ini hanya terdiri atas bonang, saron, dan gong. Ndak seperti seperangkat gamelan lengkap lainnya.</p>
<p>Kalo menilik sejarah, tradisi ini diawali oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan gamelan ini sebagai media dakwah. Untuk menarik perhatian masyarakat, Sunan Kalijaga memainkan gamelan ini dan ketika warga sudah berkumpul, Sunan Kalijaga memberikan pengajian.</p>
<p>Selama Sekaten berlangsung, memang di Masjid Gede setiap hari diadakan pengajian di sela-sela tabuhan gamelan.</p>
<p>Di sekitar halaman masjid banyak dijumpai para penjual kinang, telor merah, pecut, dan nasi gurih. Ada tradisi unik yang mendasari kenapa banyaknya penjual benda-benda ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/penjual-kinang.jpg' alt='Penjual Kinang' /></p>
<p>Masyarakat percaya jika kita mendengar gamelan ini ditabuh, kemudian kita <em>nginang</em> (mengunyah daun sirih, gambir, tembakau, dan kapur) maka dipercaya kita akan awet muda dan mendapat berkah.</p>
<p>Ada kepercayaan kalo setelah nginang bibir dan gigi kita tidak berwarna merah, berarti kita sering bohong.</p>
<p>Selain tradisi nginang, ada tradisi membeli dan makan <em>sega gurih</em> (nasi gurih alias nasi uduk).</p>
<p>Tradisi ini adalah simbol bahwa kita mensyukuri apa-apa yang sudah kita dapatkan. Dengan makan nasi yang sudah diberi bumbu, diharapkan kehidupan kita akan semakin nikmat, seperti rasa nasi yang kita makan.</p>
<p>Ada pula tradisi membeli <em>endog abang</em> alias telur merah. Telur ini adalah telur rebus biasa yang kulitnya diberi warna merah. Telur ini kemudian ditusuk dengan menggunakan tusuk sate yang kemudian dihias.</p>
<p>Kalo di Solo, namanya <em>endog amal</em>, yaitu telor asin. Endog amal maksudnya agar kita menjadi orang yang suka beramal.</p>
<p>Telur adalah cikal bakal kehidupan. Sedangkan warna merah artinya keberuntungan, rejeki, berkah, dan keberanian.</p>
<p>Jadi diharapkan dengan memakan telur ini, kita bisa kembali lahir menjadi seseorang yang berjiwa bersih, pemberani, dan penuh keberkahan.</p>
<p>Sedangkan tusuk sate melambangkan bahwa kita semua memiliki poros kehidupan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Pecut juga banyak dijual di tempat ini. Pecut adalah alat yang digunakan untuk menggiring ternak agar berjalan pada jalan yang benar. Nah, makna membeli pecut di tempat ini adalah diharapkan kita bisa menggiring nafsu kita supaya berjalan ke jalan yang benar.</p>
<p>Sebelum upacara pengembalian gamelan ini ke Bangsal Sri Manganti dilaksanakan, di dalam serambi Masjid Agung diadakan acara pembacaan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Jawa.</p>
<p>Pembacaan riwayat ini dihadiri oleh Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwana X beserta keluarga dan abdi dalem.</p>
<p>Sekitar pukul 22.30, pembacaan riwayat Nabi selesai. Para pasukan bersiap, dan Ngarso Dalem pun berjalan keluar masjid untuk kembali ke kraton dengan diiringi para prajurit Wirabraja, yang sering disebut dengan pasukan lombok abang karena seragamnya mirip lombok ini, sebagai cucuk lampah.</p>
<p>Setelah Ngarsa Dalem kembali, gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pun kemudian diangkat dan kemudian dikembalikan. Prosesi pengembalian ini disebut dengan Kondur Gangsa.</p>
<p>Besok pagi, puncak perayaan Maulid Nabi akan berlangsung, yaitu Grebeg Sekaten, yang dilakukan di halaman Masjid Agung juga.</p>
<p>Baca juga: <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html" title="Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten">Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Potehi, Wayang Cina yang Berakulturasi</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 04:26:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/10/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html</guid>
		<description><![CDATA[Suara tabuhan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu bertalu-talu menggaung di lorong jalan Kampung Ketandan. Harmoni suaranya mengundang para penonton untuk berkumpul di depan sebuah kotak berbentuk seperti gerobak penjual rokok yang berwarna merah. Pagelaran Wayang Potehi (Po Tay Hie) akan segera dimulai. Penonton pun berkumpul untuk menyaksikan cerita apa yang akan ditampilkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/wayang-potehi1.jpg" alt="Wayang Potehi" title="Wayang Potehi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1197" /></p>
<p>Suara tabuhan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu bertalu-talu menggaung di lorong jalan Kampung Ketandan.</p>
<p>Harmoni suaranya mengundang para penonton untuk berkumpul di depan sebuah kotak berbentuk seperti gerobak penjual rokok yang berwarna merah.</p>
<p>Pagelaran Wayang Potehi (Po Tay Hie) akan segera dimulai. Penonton pun berkumpul untuk menyaksikan cerita apa yang akan ditampilkan malam itu.</p>
<p><span id="more-630"></span>Itulah salah satu sudut suasana yang tergambar di Pekan Budaya Tionghoa 2008 yang berlangsung di Kampung Ketandan, Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Yogyakarta, yang merupakan lokasi pertama perkembangan etnis Tionghoa di Jogja.</p>
<p>Acara ini merupakan acara tahunan yang mulai diadakan kembali sejak tahun 2006 setelah pada masa orde baru, kesenian macam begini dilarang.</p>
<p>Bersama <a href="http://wiki.cahandong.org/Antobilang" title="Antobilang" target="_blank">Anto</a>, <a href="http://wiki.cahandong.org/Leksa" title="Leksa" target="_blank">Leksa</a>, <a href="http://wiki.cahandong.org/Gunawan" title="Goen" target="_blank">Gunawan</a>, <a href="http://wiki.cahandong.org/Funkshit" title="Funkshit" target="_blank">Funkshit</a>, dan tamu dari Surabaya, si <a href="http://andibagus.com/" title="Cempluk" target="_blank">Cempluk</a>, kami mengunjungi acara yang selain berisi penampilan kesenian Cina, juga digelar bazar ini.</p>
<p>Acara yang digelar tiap malam pada tanggal 7-11 Februari 2008 mulai pukul 17.00 hingga 23.00 ini menampilkan berbagai kesenian macam Musik Pek Bum, Atraksi Naga Barongsai, Pameran Budaya Tionghoa, dan yang menarik buat saya adalah Wayang Po Tay Hie.</p>
<p>Wayang Po Tay Hie sendiri sebetulnya milik suku bangsa Hokkian. Wayang ini berasal dari distrik Quanzhou di Provinsi Fu Jian, yang kemudian dibawa oleh para imigran Cina ke Indonesia sekitar abad 16 hingga abad 19.</p>
<p>Makanya ndak semua etnis Cina di Indonesia mengenal wayang ini. Apalagi semenjak masa orde baru, kesenian Cina macam begini dilarang.</p>
<p>Wayang Po Tay He juga bisa menjadi simbol pembebasan. Meskipun dikekang, wayang ini terus berkembang dan akhirnya bisa bebas dimainkan.</p>
<p>Ini tak lepas dari asal mula wayang ini. Konon Wayang Po Te Hie dimainkan pertama kali ketika Dinasti Tiu Ong berkuasa sekitar 3.000 tahun yang lalu. </p>
<p>Ceritanya, kaisar saat itu ndak berperikemanusiaan dan ndak segan-segan menghukum mati warganya. Ada lima orang yang divonis mati, tapi salah seorang di antaranya sangat tabah dan mengajak keempat rekannya bergembira selama di dalam tahanan.</p>
<p>Mereka kemudian menggunakan tutup panci sebagai Kecer, bambu tangkai sepatu sebagai seruling, panci bekas berbunyi &#8220;tong&#8221;, yang kemudian dibunyikan bersama-sama, menghasilkan suara merdu.</p>
<p>&#8220;Si tabah&#8221; menggunakan kain bekas yang diikat berbentuk kepala dan ujung kain diikat sebagai badan lalu memainkannya sebagai wayang untuk menghibur diri mereka.</p>
<p>Kaisar Tiu Ong akhirnya membebaskan kelima orang itu setelah mendengar bunyi-bunyian merdu dan melihat penampilan wayang tersebut.</p>
<p>Sejak saat itu, kelima orang itu mendirikan paguyuban Wayang Po Tay Hie, yang diambil dari kata-kata &#8220;Po&#8221; berarti &#8220;kain&#8221;, &#8220;Tay&#8221; berarti &#8220;kantong&#8221;, dan &#8220;Hie&#8221; berarti wayang.</p>
<p>Wayang ini mirip dengan wayang golek yang ada di Indonesia, namun uniknya wayang ini memiliki kaki.</p>
<p>Biasanya cerita yang dibawakan menceritakan cerita klasik Cina yang populer, macam &#8220;Shi Jin Kwi&#8221; (menaklukkan Kerajaan See Liang Kok), &#8220;Poei Sie Giok&#8221; (yang membela suku bangsa dengan mengadu kemampuan di atas panggung Lui Tay), &#8220;Jhi Gu Nau Tong Tiauw&#8221; (dua siluman kerbau membuat huru-hara di Kerajaan Tay Tong Tiaw), &#8220;Kho Han Bun&#8221; (jatuh cinta pada siluman ular putih di Danau Si Hu), dan berbagai ajaran kebajikan sesuai ajaran Khong Hu Cu.</p>
<p>Cerita-cerita ini ketika sampai di Indonesia kemudian diterjemahkan dan diakulturasi. Beberapa nama tokohnya pun kemudian &#8220;disesuaikan&#8221; seperti misalnya cerita &#8220;Shi Jin Kwi&#8221; yang pernah dimainkan dalam bahasa Jawa oleh Ketoprak Cokro Ijo Yogyakarta.</p>
<p>Semua nama tokoh diubah ke dalam bahasa Jawa. Misalnya, Kerajaan &#8220;Tai Tong Tiaw&#8221; diubah menjadi &#8220;Kerajaan Tanjung Anom&#8221;, &#8220;Kaisar Li Sie Bin&#8221; menjadi &#8220;Prabu Li San Puro&#8221;, Jenderal Perang &#8220;Shi Jin Kwi&#8221; menjadi Jenderal &#8220;Joko Sudiro&#8221;, putra &#8220;Sie Teng San&#8221; menjadi &#8220;Sutrisno&#8221;, dan istrinya &#8220;Wan Lie Hwa&#8221; menjadi &#8220;Warianti&#8221;.</p>
<p>Malam itu cerita yang dimainkan adalah cerita &#8220;Shi Jin Kwi&#8221; tersebut. Alkisah, Kaisar Lie Sie Bin yang memerintah Kerajaan Tai Tong Tiaw menerima surat tantangan dari So Pu Tong, penguasa negeri tetangga See Liang Kok. Merasa terhina, Kaisar Lie pun murka. Dia mengirimkan pasukan dan perang hebat tak terhindarkan.</p>
<p>Uniknya, semua pemainnya merupakan etnis pribumi, alias orang Jawa. Dalangnya ada dua orang. Seorang memainkan wayang dengan menggunakan jari-jarinya dan seorang lagi bercerita menggunakan bahasa Cina yang kemudian disambung dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>&#8220;Crek.. Nong! Crek Crek.. Nong! Trok Tok Tok.. Creng.. Tong!&#8221;, begitulah suara musik yang muncul dari pukulan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/dalang-wayang-potehi.jpg' alt='Dalang Wayang Potehi' /></p>
<p>Pemain dan dalang wayang ini berada di dalam kotak berukuran sekitar 2&#215;2 meter. Tiga orang memainkan alat musik dan dua orang bermain sebagai dalang.</p>
<p>Cerita dimainkan selama kurang lebih 2 jam. Antusiasme penonton pun begitu besar. Tua-muda, Jawa-Cina, semua berbaur untuk menyaksikan wayang yang dulunya hanya dipakai untuk ritual ibadah ini.</p>
<p>Melihat ekspresi wajah anak-anak kecil yang menonton dengan antusias membuat saya tertarik. Bukan berarti saya pedofil, tapi melihat ekspresi mereka yang ndomblong membuat saya mengeluarkan kamera dan mengabadikan ekspresi wajahnya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/antusiasme-anak.jpg' alt='Ekspresi seorang anak yang menyaksikan wayang' class="alignright" /></p>
<p>Funkshit bilang kalo sejak saya jeprat-jepret anak itu, ibunya sudah ketar-ketir takut kalo anaknya bakal diganyang maniak pedofil! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_rotfl.gif' alt='&#61;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='30' height='18' title='&#61;&#41;&#41;' /></p>
<p>Walau kesenian ini merupakan kesenian Cina, namun justru yang memainkan dan melestarikannya malah orang-orang pribumi.</p>
<p>Inikah wujud akulturasi atau justru orang-orang keturunan Cina sudah enggan memainkan kebudayaannya?</p>
<p>Saya jadi teringat perkataan seorang reporter Trans7 ketika melakukan liputan di Klenteng Sam Poo Kong pas kami <a href="http://cahandong.org/2008/02/09/jeng-semawis.html" title="Jeng Semawis" target="_blank">ke Semarang</a> kemarin.</p>
<p>Sang reporter bilang kalo dia kesulitan menemukan etnis Tionghoa asli yang memainkan Barongsai. Semua pemain Barongsai yang dia temui justru berasal dari etnis Jawa.</p>
<p>Ke mana kah generasi muda Cina? Inikah wujud akulturasi atau &#8220;pembajakan budaya&#8221;? Entah lah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dontknow.gif' alt='&#58;&#45;&#63;&#63;' class='wp-smiley' width='40' height='18' title='&#58;&#45;&#63;&#63;' /></p>
<p>Yang penting menurut saya kesenian macam begini ini menarik dan layak dilestarikan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 07:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/24/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html</guid>
		<description><![CDATA[Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu. Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan. Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya. Konon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/lorong-laweyan1.jpg" alt="Salah satu sudut Kampung Laweyan" title="Salah satu sudut Kampung Laweyan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1202" /></p>
<p>Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu.</p>
<p>Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan.</p>
<p>Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya.</p>
<p><span id="more-606"></span>Konon Kampung Laweyan sudah ada sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Pajang.</p>
<p>Daerah Laweyan dulu banyak ditumbuhi pohon kapas dan merupakan sentra industri benang yang kemudian berkembang menjadi sentra industri kain tenun dan bahan pakaian.</p>
<p>Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian ini sering disebut dengan Lawe, sehingga daerah ini kemudian disebut dengan Laweyan.</p>
<p>Industri dan perdagangan di Laweyan semakin berkembang semenjak digunakannya <acronym title="orang-orang sekitar menyebut juga Kali Jenis">Kali Kabangan</acronym> sebagai jalur transportasi dari dan menuju Kerajaan Pajang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/jembatan-kabangan.jpg' alt='Jembatan yang melintas di atas Kali Kabangan' /></p>
<p>Dari kampung ini pula, hidup seorang tokoh yang konon akan menurunkan raja-raja Mataram Islam.</p>
<p>Tokoh ini adalah Kyai Ageng Henis yang merupakan keturunan Brawijaya V yang kemudian mempunyai keturunan Ki Ageng Pemanahan yang mendirikan Kerajaan Mataram di Kotagede.</p>
<p>Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kerajaan Pajang, Kyai Ageng Henis pun kemudian masuk Islam.</p>
<p>Kyai Ageng Henis bersama Sunan Kalijaga kemudian menyebarkan agama Islam di kawasan Laweyan.</p>
<p>Seorang tokoh yang amat disegani saat itu atas pengaruh Kyai Ageng Henis akhirnya juga masuk Islam. Beliau adalah Kyai Ageng Beluk.</p>
<p>Setelah masuk Islam, Kyai Ageng Beluk kemudian mengubah sanggarnya menjadi sebuah masjid untuk menunjang dakwahnya.</p>
<p>Masjid ini lah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 Masehi.</p>
<p>Agama Islam pun menyebar dengan sangat pesat di Laweyan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/masjid-laweyan.jpg' alt='Masjid Laweyan' /></p>
<p>Batik sendiri awalnya diperkenalkan oleh Kyai Ageng Henis yang memang menyukai kesenian.</p>
<p>Selain menyebarkan agama, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat bagaimana cara membuat batik.</p>
<p>Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun berubah menjadi produsen batik.</p>
<p>Karena letaknya yang strategis, Laweyan pun menjadi salah satu kota perdagangan yang maju.</p>
<p>Sebagai kota perdagangan, dibangunlah sebuah bandar (pelabuhan) yang berada di sisi selatan kampung dan di sebelah timur masjid di pinggir Kali Kabangan. Namun peninggalan bandar ini sudah ndak dapat ditemukan lagi.</p>
<p>Ndak heran kalo di Laweyan banyak terdapat saudagar batik yang kaya.</p>
<p>Kehidupan masyarakat di Laweyan ini dapat kita lihat dari bentuk-bentuk bangunan yang ada.</p>
<p>Setiap rumah saudagar biasanya dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi. Tujuannya adalah saat itu demi alasan keamanan.</p>
<p>Namun walau setiap rumah dibatasi dengan tembok, antar rumah terdapat pintu yang menghubungkan rumah satu dengan yang lainnya sehingga silaturahmi tetap terjaga.</p>
<p>Konon di beberapa rumah juga terdapat lorong bawah tanah dan bunker yang berfungsi untuk mengungsi bila terjadi serangan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/tembok-laweyan.jpg' alt='Lorong di antara tembok-tembok tinggi di Laweyan' /></p>
<p>Sekilas, bentuk-bentuk bangunan rumah yang dikelilingi oleh tembok ini mengingatkan saya akan Kotagede.</p>
<p>Terang saja, tata kota Kotagede terinspirasi oleh tata kota di Laweyan karena Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan banyak menghabiskan masa kecilnya di kampung ini.</p>
<p>Bila melacak kembali, sebuah tugu yang ada di pusat kawasan ini dulunya adalah pasar. Namun pasar ini sudah ndak ditemukan lagi.</p>
<p>Panembahan Senopati semasa kecil tinggal di kawasan sebelah utara pasar. Rumah Panembahan Senopati ketika berada di Kotagede pun berada di sebelah utara pasar. Karena inilah ia dijuluki Raden Ngabehi Loring Pasar.</p>
<p>Ketika Kerajaan Mataram pindah ke desa Sala yang kemudian berubah nama menjadi Kraton Surakarta, Laweyan tetap merasa sebagai daerah merdeka yang ndak ingin tunduk kepada kraton.</p>
<p>Ini dikarenakan para saudagar merasa mereka sudah kaya dan mampu hidup tanpa perlu bergabung dengan daerah kekuasaan kraton.</p>
<p>Bisa jadi perlawanan ini juga dikarenakan kraton saat itu begitu dekat pihak Belanda, padahal para saudagar batik yang ada di kawasan ini semuanya adalah saudagar muslim <acronym title="pribumi">bumiputra</acronym>.</p>
<p>Sikap ini nampak dari bentuk-bentuk motif batik yang ndak mengikuti pakem-pakem motif seperti motif-motif batik kraton.</p>
<p>Ketika masa penjajahan Belanda, pada tahun 1905 muncullah organisasi Serikat Dagang Islam yang diprakarsai oleh K.H. Samanhudi, salah satu saudagar batik.</p>
<p>Tujuan didirikannya SDI saat itu sebenernya untuk menyatukan para saudagar batik muslim bumiputra yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di dalam kraton.</p>
<p>Rumah K.H. Samanhudi masih ada dan dapat kita temukan di kawasan ini.</p>
<p>Atas jasa-jasa dari K.H. Samanhudi, Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk K.H. Samanhudi yang sampai sekarang masih digunakan oleh cucu dan keturunan K.H. Samanhudi.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/rumah-samanhudi.jpg' alt='Rumah pemberian Presiden Soekarno kepada K.H. Samanhudi' /></p>
<p>Bentuk bangunan di kawasan tengah dan utara Laweyan kebanyakan membentuk &#8220;jalan mati&#8221;, di mana jalan ini terkesan sepi karena berada di antara tembok-tembok rumah yang saling membelakangi.</p>
<p>Sedangkan kawasan di daerah selatan yang dekat dengan Kali Kabangan rumahnya cenderung terbuka dan membentuk &#8220;jalan hidup&#8221; di mana pintu-pintu bagian depan rumah saling berhadap-hadapan sehingga memungkinkan interaksi.</p>
<p>Rumah-rumah di kawasan tengah dan utara didiami oleh para saudagar sedangkan berada di selatan didiami oleh para pekerja batik.</p>
<p>Dulu banyak sekali jalan-jalan yang melintang dari utara ke selatan menuju ke Kali Kabangan. Jalan ini dinamakan &#8220;jalan servis&#8221; yang berfungsi untuk membawa kain batik setengah jadi untuk dicuci di Kali Kabangan.</p>
<p>Jaman dulu air di kali ini begitu bersih sehingga masih layak digunakan untuk mencuci. Selain itu, bahan pewarna batik jaman dulu itu terbuat dari bahan alami sehingga ndak membahayakan alam.</p>
<p>Industri batik tulis dan cap di Laweyan sempat kolaps ketika masuknya batik-batik sablon.</p>
<p>Proses pembuatan batik yang lebih cepat dan massal membuat harga batik sablon menjadi murah. Tentu saja ini menghantam industri batik tulis dan cap yang ada di Laweyan.</p>
<p>Belum lagi ekspansi bisnis yang dilakukan oleh para pedagang Cina yang saat itu memang mencoba menguasai area Laweyan.</p>
<p>Selama hampir beberapa generasi pembatik di Laweyan gulung tikar. Bisnis batik di Laweyan yang dilakukan secara turun temurun pun terputus.</p>
<p>Para pemuda Laweyan justru banyak yang keluar dari area dan mencoba peruntungan di luar Laweyan. Bukan begitu, <a href="http://colonelseven.wordpress.com/" title="Balibul" target="_blank">Kang Bal</a>? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun pada tahun 2000-an industri batik Laweyan pun kembali bangkit. Apalagi semenjak dibentuknya forum Kampung Batik Laweyan mencoba mengangkat kembali potensi wisata kampung cagar budaya ini.</p>
<p>Jika dulu para pengusaha batik hanya menjadi produsen dan suplier, kini mereka juga membuka showroom-showroom di rumahnya masing-masing.</p>
<p>Kita bisa berkeliling menyusuri lorong-lorong Laweyan dan blusukan masuk ke rumah-rumah saudagar batik untuk melihat dengan lebih dekat proses pembuatan batik.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/mengintip-pembatik.jpg' alt='Mengintip aktivitas pembatik di Laweyan' /></p>
<p>Waktu yang dianjurkan untuk melihat aktivitas di kampung ini adalah pagi hari. Mulai dari pembuatan, pencelupan, hingga penjemuran kain-kain batik dapat kita lihat hingga tengah hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Situs Watu Gilang, Tonggak Sejarah Mataram Islam</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/situs-watu-gilang-tonggak-sejarah-mataram-islam.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/situs-watu-gilang-tonggak-sejarah-mataram-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2008 08:10:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Gede]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/07/situs-watu-gilang-tonggak-sejarah-mataram-islam.html</guid>
		<description><![CDATA[Menyusuri Kotagede membawa kita seolah-olah terlempar ke masa lalu. Bangunan-bangunan tua yang bertebaran serta berbagai peninggalan kerajaan Mataram Islam menjadikan Kotagede layak untuk dijadikan obyek wisata budaya. Selain menyimpan berbagai heritage, Kotagede memiliki sejarah tersendiri. Konon Kotagede adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang kemudian berkembang menjadi Kraton Yogyakarta dan Surakarta. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/situs-batu-gilang1.jpg" alt="Situs Batugilang di Kotagede" title="Situs Batugilang di Kotagede" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1210" /></p>
<p>Menyusuri Kotagede membawa kita seolah-olah terlempar ke masa lalu. Bangunan-bangunan tua yang bertebaran serta berbagai peninggalan kerajaan Mataram Islam menjadikan Kotagede layak untuk dijadikan obyek wisata budaya.</p>
<p>Selain menyimpan berbagai heritage, Kotagede memiliki sejarah tersendiri. Konon Kotagede adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang kemudian berkembang menjadi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.</p>
<p>Kali ini saya bersama <a href="http://annots.wordpress.com/" title="Annots" target="_blank">Annots</a> dan <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> melakukan pendoyokan untuk menelusuri kembali jejak-jejak kerajaan Mataram Islam yang mungkin sudah terlupakan.</p>
<p><span id="more-554"></span>Ketika Ki Ageng Pemanahan berhasil mengalahkan <acronym title="pemberontak Kerajaan Pajang">Arya Penangsang</acronym> pada tahun 1558, <acronym title="raja Kerajaan Pajang">Sultan Hadiwijaya</acronym> menghadiahi sebuah tanah di daerah Hutan Mentaok, yang kini dikenal dengan kawasan Kotagede.</p>
<p>Ki Ageng Pemanahan membangun sebuah desa di hutan Mentaok yang kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan. Kerajaan ini kemudian semakin membesar dan menyaingi Kerajaan Pajang.</p>
<p>Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, <acronym title="putera Ki Ageng Pemanahan">Danang Sutawijaya</acronym> kemudian memberontak kepada Kerajaan Pajang dan mengangkat dirinya sebagai raja Mataram bergelar Panembahan Senopati.</p>
<p>Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede pun makin membesar dan menguasai daerah kekuasaan Kerajaan Pajang setelah jatuh akibat perang saudara.</p>
<p>Nah, Situs Watu Gilang menjadi saksi atas kejayaan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.</p>
<p>Situs ini bisa ditemukan dengan menyusuri jalan dari Pasar Gede ke arah selatan kurang lebih 500 meter, melewati Kompleks Makam dan Masjid Agung Kotagede hingga sampai pada sebuah bangunan yang berdiri di tengah jalan.</p>
<p>Bangunan ini juga dikelilingi pohon-pohon beringin dan sebuah pohon Mentaok rindang yang memberikan hawa sejuk. Di dalam bangunan inilah peninggalan bersejarah itu disimpan.</p>
<p>Ndak jauh dari bangunan ini, ada kompleks makam keluarga Hamengkubuwana VII, VIII, dan IX. Kompleks makam ini bernama Hasta Renggo.</p>
<p>Hasta berarti &#8220;delapan&#8221; sedangkan Renggo berarti &#8220;bangunan&#8221;. Artinya kompleks makam ini dibangun pada masa Hamengkubuwana VIII.</p>
<p>Kompleks situs Watu Gilang menyimpan peninggalan Kerajaan Mataram antara lain Watu Gilang, Watu Gatheng, dan Watu Genthong.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/cekungan-watu-gilang.jpg' alt='Cekungan pada Watu Gilang' class="alignright" /></p>
<p>Watu Gilang dipercaya merupakan batu singgasana Panembahan Senopati. </p>
<p>Watu Gilang berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 2 x 2 meter berwarna hitam.</p>
<p>Di atasnya terdapat pahatan-pahatan tulisan dalam <acronym title="yaitu Latin, Prancis, Belanda, dan Italia">beberapa bahasa</acronym> yang sudah ndak dapat terbaca lagi karena sudah terkikis.</p>
<p>Tulisan ini konon berisi tentang keluh kesah dan kepasrahan terhadap nasib. Istilah kerennya sih, curhat.</p>
<p>Konon di batu ini pula, Panembahan Senopati mendapat wangsit melalui <acronym title="bintang jatuh">Lintang Johar</acronym>.</p>
<p>Batu andesit hitam ini dibawa dari Hutan Lipuro yang kini dikenal dengan daerah Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY.</p>
<p>Di atas singgasana batu inilah Kerajaan Mataram digerakkan oleh Panembahan Senopati.</p>
<p>Pada sisi sebelah timur batu ini, terdapat cekungan. Cekungan ini konon muncul akibat dibenturkannya kepala Ki Ageng Mangir, musuh sekaligus menantu Panembahan Senopati, hingga tewas.</p>
<p>Ki Ageng Mangir sendiri merupakan musuh dari Panembahan Senopati. Untuk menaklukkannya, Panembahan Senopati melakukan taktik &#8220;Apus Krama&#8221; atas usulan dari Ki Juru Mertani.</p>
<p>Taktik &#8220;Apus Krama&#8221; ini adalah taktik dengan cara mengirimkan <acronym title="puteri Panembahan Senopati">Puteri Pembayun</acronym> menjadi penari tayub untuk memikat Ki Ageng Mangir.</p>
<p>Setelah Ki Ageng Mangir tertarik dan menikahi Puteri Pembayun, mau ndak mau dia harus menghadap ke mertuanya yang ndak lain adalah Panembahan Senopati.</p>
<p>Saat Ki Ageng Mangir sungkem inilah ia kemudian dibunuh oleh Panembahan Senopati dengan membenturkan kepalanya ke singgasana Watu Gilang hingga ia tewas seketika.</p>
<p>Makam Ki Ageng Mangir bisa ditemui di Kompleks Makam Kotagede yang memiliki keunikan tersendiri.</p>
<p>Makam Ki Ageng Mangir sebagian berada di dalam benteng makam, sedangkan sebagian lainnya berada di luar benteng. Ini terjadi karena Ki Ageng mangir yang dianggap musuh dalam selimut Kerajaan Mataram.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/watu-gatheng.jpg' alt='Watu Gatheng' class="alignleft" /></p>
<p>Peninggalan lainnya adalah Watu Gatheng. Ingat, bukan Watu Ganteng, batu yang bisa bikin ganteng bila dilemparkan ke muka orang jelek. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Batu Gatheng adalah  batu yang digunakan oleh <acronym title="putera Panembahan Senopati">Raden Ronggo</acronym> bermain lempar batu <strike>sembunyi tangan</strike> (bermain Gatheng).</p>
<p>Watu Gatheng sendiri merupakan hal yang cukup menakjubkan. Bayangkan saja, bola batu karsit berwarna kuning yang berat tersebut digunakan sebagai permainan Gatheng.</p>
<p>Permainan Gatheng sendiri dilakukan seperti kita bermain bola Bekel. Batu dilempar ke atas kemudian ditangkap kembali.</p>
<p>Ada 3 buah bola, sebuah berukuran agak kecil berdiameter 15 cm dan dua buah berukuran besar berdiameter 27 cm dan 31 cm.</p>
<p>Karena kesaktiannya inilah Raden Ronggo mampu menjadikan bola-bola batu ini sebagai mainan.</p>
<p>Bahkan ada mitos yang beredar, bila kita berhasil mengangkat batu ini maka keinginan kita akan terkabul.</p>
<p>Saya berhasil mengangkat batu ini meski cuma yang kecil dan berharap <strike>bisa jadi bintang sinetron</strike> mendapatkan kerjaan yang enak dengan gaji besar! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Ada versi cerita lain yang mengatakan bahwa Watu Gatheng adalah peluru meriam berukuran besar yang bernama Pancawura yang berada di Pagelaran Kraton Surakarta.</p>
<p>Konon meriam Pancawura ini dulu hendak dibawa ke Batavia untuk menyerang <acronym title="Vereenigde Oost Indische Compagnie">VOC</acronym> ketika Mataram dalam pemerintahan Sultan Agung, namun karena prasarana yang kurang akhirnya urung.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/watu-genthong.jpg' alt='Watu Genthong' class="alignright" /></p>
<p>Benda peninggalan terakhir yang ada di situs ini adalah Watu Genthong.</p>
<p>Watu Genthong terbuat dari batu andesit berbentuk seperti gentong padasan dengan diameter 57 cm yang digunakan oleh Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Giring, penasehat Panembahan Senopati, untuk mengambil air wudlu.</p>
<p>Konon Watu Genthong ini ndak perlu diisi air. Dengan menggunakan kesaktiannya, Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Giring hanya memegang dinding batu dan air pun akan muncul dengan sendirinya.</p>
<p>Ki Ageng Giring merupakan sahabat dari Ki Ageng Pemanahan. Awalnya yang mendapat wangsit untuk menjadi raja adalah Ki Ageng Giring namun ternyata pada perjalanannya justru Ki Ageng Pemanahan yang naik tahta menjadi raja.</p>
<p>Ki Ageng Giring akhirnya bisa menjadi raja pada keturunannya yang ketujuh. Keturunan ketujuh Ki Ageng Giring adalah Pangeran Puger yang kemudian menjadi Pakubuwana I.</p>
<p>Kompleks situs ini berada di kampung Kedathon yang dipercaya merupakan pusat dari kerajaan Mataram Islam. Sehingga bisa dibilang kalo situs ini adalah pusat dari Kerajaan Mataram Islam.</p>
<p>Awalnya situs ini berada pada ruang terbuka, namun untuk melindungi situs ini dibangunlah suatu bangunan yang melindungi situs ini pada tahun 1934 atas perintah Hamengkubuwana VIII.</p>
<p>Pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, ibukota Kerajaan Mataram dipindahkan dari Kotagede ke Kerta, sekitar 4 km sebelah selatan Kotagede.</p>
<p>Kemudian pada masa Amangkurat I, ibukota Kerajaan Mataram dipindahkan ke Pleret, ndak jauh dari ibukota lama di Kerta.</p>
<p>Daerah Kerta dan Pleret ini kini dikenal dengan daerah Pleret, Kabupaten Bantul, DIY.</p>
<p>Setelah pemberontakan Trunojoyo tahun 1674, Amangkurat II memindahkan kerajaan ke daerah Kartasura sehingga dikenal dengan Kerajaan Kartasura.</p>
<p>Pada masa pemerintahan Pakubuwana II, Kraton Katasura dipindahkan ke desa Sala dan terbentuklah Kraton Surakarta atas bantuan VOC.</p>
<p>VOC mengetahui kekuatan Mataram dapat mengancam keberadaannya hingga melalui politik <em>devide et impera</em>, VOC memecah Mataram melalui Perjanjian Giyanti tahun 1755.</p>
<p>Berdasarkan Perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram dibagi menjadi 2 yaitu Kraton Surakarta di bawah pimpinan Pakubuwana III dan Kraton Yogyakarta di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengkubuwana I.</p>
<p>Kedua kerajaan ini dirasa masih cukup kuat, sehingga VOC kembali memecah kedua kerajaan melalui Perjanjian Salatiga pada tahun 1757 yang hasilnya Kraton Surakarta memberikan sebagian wilayahnya kepada Mangkunegara sebagai adipati dan Kraton Yogyakarta memberikan sebagian wilayahnya kepada Pakualam sebagai adipati.</p>
<p>Menarik bukan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Hanya dengan mengunjungi satu situs cagar budaya saja kita bisa mengetahui sedikit sejarah yang sangat panjang.</p>
<p>Penelusuran sejarah kami ndak berhenti sampai di sini. Kami pun meneruskan perjalanan menyusuri tempat-tempat bersejarah lainnya di seputar Kotagede.</p>
<p>Sekian dulu pelajaran Sejarah hari ini. Jangan lupa, besok ulangan ya, anak-anak.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/situs-watu-gilang-tonggak-sejarah-mataram-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ndoyok</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/ndoyok.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/ndoyok.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 04:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[de marko]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[jadul]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/06/ndoyok.html</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa postingan, saya sering menyebutkan istilah &#8220;ndoyok&#8221;. Pun banyak juga yang bertanya tentang arti kata &#8220;ndoyok&#8221; itu tadi. Ndoyok sering disebut bersamaan dengan jeng-jeng. Walau artinya mirip-mirip, namun ada perbedaannya. Kata &#8220;ndoyok&#8221; bukan merupakan salah satu kata gaul ala Jogja. Maknanya hanya bersifat lokal-personal dan ndak semua orang ngerti artinya. Nah, kali ini saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/doyoker-perintis1.jpg" alt="Doyoker Perintis" title="Doyoker Perintis" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1211" /></p>
<p>Dalam beberapa postingan, saya sering menyebutkan istilah &#8220;ndoyok&#8221;. Pun banyak juga yang bertanya tentang arti kata &#8220;ndoyok&#8221; itu tadi.</p>
<p>Ndoyok sering disebut bersamaan dengan jeng-jeng. Walau artinya mirip-mirip, namun ada perbedaannya.</p>
<p>Kata &#8220;ndoyok&#8221; bukan merupakan salah satu <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/09/bahasa-walikan-jogja.html" title="Bahasa Walikan Jogja">kata gaul ala Jogja</a>. Maknanya hanya bersifat lokal-personal dan ndak semua orang ngerti artinya.</p>
<p>Nah, kali ini saya akan menjelaskan soal makna kata &#8220;ndoyok&#8221; dan asal-usulnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-470"></span>Ndoyok memang terinsipirasi dari nama pelawak besar, Sudarmaji alias &#8220;Doyok&#8221; yang biasa dipasangkan dengan Mubarok alias &#8220;Kadir&#8221; itu.</p>
<p>Masih ingat dengan film jadul Kadir-Doyok yang berjudul &#8220;Boleh Donk Untung Terus&#8221;? Itu tuh, film yang bercerita tentang usaha Kadir dan Doyok melarikan diri dari penjara yang akhirnya malah mbalik lagi ke penjara.</p>
<p>Di satu adegan, dalam usahanya melarikan diri, Doyok dan Kadir mengelabui penjaga dengan menyamar sebagai kuda zebra.</p>
<p>Adegan konyol ini sangat lucu menurut saya karena penggunaan kostum kuda zebra yang wagu dan tingkah polah &#8220;si zebra&#8221; yang begitu tololnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_rotfl.gif' alt='&#61;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='30' height='18' title='&#61;&#41;&#41;' /></p>
<p>Singkat cerita, setelah besusah payah menyamar sebagai zebra, Kadir dan Doyok akhirnya sukses mengelabui penjaga.</p>
<p>Merasa berhasil, mereka kemudian menumpang sebuah mobil box sayur dengan niat keluar menuju ke kota yang ternyata mobil itu justru mengantarkan sayur ke penjara. Dan dengan suksesnya mereka berdua kembali lagi ke penjara.</p>
<p>Masih ingat adegan itu? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Nah, adegan itulah yang menginspirasi munculnya kata &#8220;ndoyok&#8221; yang maksudnya meniru tingkah laku si Doyok (dan Kadir) itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kok bisa?</p>
<p>Bisa. Jadi begini ceritanya..</p>
<p>Pas Merapi meletus sekitar Juli 2006 lalu, kawasan wisata Bebeng diterjang material vulkanik. Peristiwa ini merenggut nyawa 2 orang relawan yang terperangkap dalam bunker.</p>
<p>Nah, waktu itu saya, <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a>, <a href="http://dipto-djatmiko.web.ugm.ac.id/" title="dipto" target="_blank">Dipto</a>, <a href="http://ismail85.web.ugm.ac.id/" title="tupic" target="_blank">Tupic</a>, dan <a href="http://hadihantara.web.ugm.ac.id/" title="Hadi" target="_blank">Hadi</a> berniat untuk melihat kawasan yang luluh lantak dihajar lava itu.</p>
<p>Ketika nyampe di depan loket retribusi, kami terkaget dan misuh-misuh. Jancuk, mahal banget tiketnya!</p>
<p>Akhirnya disusunlah suatu rencana agar kami bisa melewati pos pungutan retribusi tanpa membayar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Ide tolol meluncur dari Dipto yang terkenal sok tau, asal, waton, dan nekad. Dia mengusulkan untuk turun ke Kaliadem lalu menyusuri itu sungai untuk melewati pos penjagaan.</p>
<p>Rencana disetujui. Dengan bodohnya kami mengikuti ide tolol itu.</p>
<p>Motor diparkirkan, kemudian melihat sejenak ke arah jurang di mana Kaliadem merupakan salah satu jalur mengalirkan lava dari Merapi.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/kendaraan-tempur-doyoker.jpg' alt='Kendaraan tempur Doyoker' /></p>
<p>Kami pun akhirnya turun. Maksudnya sih mengikuti kontur sungai menuju ke arah hulu dan melewati pos retribusi.</p>
<p>Dengan penuh rasa ke-sok tau-an dan orientasi medan asal-asalan, kami pun nyasar! Goblok! Salahkan si Dipto!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/dam-kaliadem.jpg' alt='DAM Kaliadem' /></p>
<p>Setelah merasa sudah berhasil melewati pos retribusi, kami pun naik. Track terjal berbatu karena memang bukan jalan manusia memberikan eksotisme tersendiri. Eksotisme ndasmu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dengan bersusah payah akhirnya kami tiba kembali di jalan raya. Hore!! Berhasil! Berhasil! Sambil lompat-lompat gaya Dora.</p>
<p>Setelah merayakan &#8220;kemenangan&#8221; kami pun tersadar. Bukannya melewati pos, tapi kami justru mendekati pos! Guoblok! Pekok!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_rotfl.gif' alt='&#61;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='30' height='18' title='&#61;&#41;&#41;' /></p>
<p>Mirip-mirip si Doyok dan Kadir itu lah. Niatnya meloloskan diri, malah justru kembali ke bahaya. <em>Kuthuk marani sunduk</em>, istilah orang Jawa.</p>
<p>Untung saja kami ndak sekalian nyamar jadi kuda zebra. La bisa ndoyok-ngadir nanti jadinya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kami pun kembali ke tempat parkiran motor. Kembali berjalan kaki sambil misuh-misuh. Ya misuh-misuhi Dipto si pencetus ide maupun misuh-misuhi diri sendiri kenapa mengikuti si Dipto.</p>
<p>Sejak saat itulah kata &#8220;ndoyok&#8221; mulai populer. Kami pun memberi gelar Dipto sebagai bapak ndoyok Indonesia. Namanya pun menjadi Doyok Djatmiko. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Lalu, gimana akhirnya kelanjutan niat kami menuju Bebeng?</p>
<p>Jelas berhasil lah! Ternyata ada jalan desa yang bisa dilewati motor yang melewati pos retribusi.</p>
<p>Geblek! Kenapa ndak dari tadi? Ngapain juga susah-susah ndoyok? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun kami pun ketahuan kalo ngemplang retribusi di bagian parkiran. Ternyata tiket retribusi merupakan tiket parkir juga.</p>
<p>Beruntung, ada Hadi sang pahlawan. Calon lurah Harjobinangun itu pun turun tangan dan melobi tukang parkir yang ternyata tetangga sendiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/doyoker-bebeng.jpg' alt='Doyoker di Bebeng' /></p>
<p>Kawasan Bebeng sendiri kini saya kurang tau keadannya. Yang pasti material vulkanik itu masih ada.</p>
<p>Denger-denger pemkab Sleman menjadikan kawasan ini sebagai salah satu program Lava Tour.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/bunker-bebeng.jpg' alt='Di Bunker Kaliadem' /></p>
<p>Saya menuliskan ini untuk mengenang masa-masa jahiliyah kami. Masa-masa penuh ketololan yang menyenangkan.</p>
<p>Tupic, Didit, Dipto, Hadi, saya kangen bertindak tolol bareng-bareng kalian lagi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Hayah, malah menyek-menyek. Jadi intinya, kesimpulannya:</p>
<blockquote><p><strong>Ndoyok (kk):</strong> usaha-usaha dalam berpetualang ke tempat-tempat tertentu tanpa perencanaan, nekat, tanpa perhitungan, sok tau, dan sejenisnya. Intinya ngeluyur dengan tujuan ndak jelas dan asal berangkat tanpa persiapan matang.</p>
<p><strong>Doyoker (kb):</strong> adalah para pelaku kegiatan ndoyok. Seorang atau sekumpulan orang tolol yang melakukan aksi-aksi pendoyokan. Kata doyoker dicetuskan pertama kali oleh <a href="http://annots.wordpress.com/" title="Annots" target="_blank">Annots</a> ketika ndoyok ke <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/11/12/candi-barong-memuja-dewi-kesuburan.html" title="Candi Barong, Memuja Dewi Kesuburan">Candi Barong</a>.</p></blockquote>
<p>Lalu apa bedanya dengan &#8220;jeng-jeng&#8221;? Jeng-jeng lebih bersifat umum. Berasal bahasa Semarangan yang berarti jalan-jalan.</p>
<p>Jeng-jeng diucapkan dengan jÃ¨ng-jÃ¨ng, huruf &#8220;e&#8221; diucapkan seperti pada kata bunyi gitar, &#8220;jrÃ¨ng-jrÃ¨ng&#8221; bukan &#8220;jÃ©ng-jÃ©ng&#8221; yang berarti &#8220;ibu-ibu&#8221;.</p>
<p>Ndoyok dan jeng-jeng merupakan kegiatan yang saling terkait. Ndoyok sudah pasti jeng-jeng, namun jeng-jeng belum tentu ndoyok.</p>
<p>Ndoyok merupakan kegiatan yang cukup positif. Dengan ndoyok kita terlatih untuk mengantisispasi hal-hal yang ndak sesuai rencana. Ha ya jelas, wong ndak ada rencana. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dari ndoyok, kepekaan dan keluwesan kita serta kecepatan dalam mengambil keputusan sulit dengan cepat dan tepat (juga tolol) akan semakin meningkat.</p>
<p>&#8220;Ndak usah banyak cerewet&#8221;, &#8220;do first think later&#8221;, dan &#8220;tersesat adalah fitur&#8221; merupakan beberapa semboyan ketika ndoyok.</p>
<p>Ndoyok ndak harus dilakukan di tempat terbuka atau alam. Ndoyok juga bisa dilakukan di perkotaan, &#8220;urban ndoyok&#8221; namanya.</p>
<p>Saya pernah melakukan ndoyok di dalam mol dan ternyata kurang efektif. Mungkin saya harus lebih sering berpetualang ke mol dan menemukan teknik &#8220;mall doyoking&#8221; yang tepat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pengetahuan dalam membaca tanda-tanda alam, menentukan arah, mengetahui cara survival, ndak malu bertanya, merupakan beberapa kemampuan yang harus dimiliki doyoker namun ndak mutlak.</p>
<p>Modal utama sih hanya nekad, tubuh waras, ndak punya malu, dan suka tantangan (juga ketololan). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Bagi <acronym title="orang yang sedang belajar ndoyok">doyoker trainee</acronym>, percaya kepada doyoker senior yang membimbing merupakan langkah paling aman. Ingat, senior selalu benar, kawan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dari Kraton Ndoyokarto Hadiningrat, mari kita masyarakatkan ndoyok dan mendoyokkan masyarakat!</p>
<p>Semoga memberikan pencerahan. Selamat ndoyok! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/ndoyok.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengingat Kembali Sejarah Hari Ibu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/mengingat-kembali-sejarah-hari-ibu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/mengingat-kembali-sejarah-hari-ibu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 13:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/12/22/mengingat-kembali-sejarah-hari-ibu.html</guid>
		<description><![CDATA[Hari Ibu mengingatkan saya pada sebuah bangunan yang berkaitan erat dengan peringatan Hari Ibu ini, namun sering kita lupakan. Mungkin ndak banyak yang tau kalo ternyata Jogja punya peranan yang amat penting atas tercetusnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Nah, di Jogja ada sebuah bangunan yang menjadi monumen untuk mengingat peristiwa sejarah lahirnya Hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/mandala-bakti-wanitatama1.jpg" alt="Mandala Bakti Wanitatama" title="Mandala Bakti Wanitatama" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1217" /></p>
<p>Hari Ibu mengingatkan saya pada sebuah bangunan yang berkaitan erat dengan peringatan Hari Ibu ini, namun sering kita lupakan.</p>
<p>Mungkin ndak banyak yang tau kalo ternyata Jogja punya peranan yang amat penting atas tercetusnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.</p>
<p>Nah, di Jogja ada sebuah bangunan yang menjadi monumen untuk mengingat peristiwa sejarah lahirnya Hari Ibu.</p>
<p>Bangunan ini mungkin banyak yang ndak menyangka, karena seringnya bangunan ini digunakan untuk acara resepsi pernikahan dan pameran, kalo punya kisah sejarah tersendiri.</p>
<p>Bangunan ini adalah gedung Mandala Bhakti Wanitatama!</p>
<p><span id="more-512"></span>Tau ndak kenapa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu?</p>
<p>Ternyata Hari Ibu ini ada sejarahnya. Pada tahun 1928, bertepatan dengan tahun diadakannya Kongres Pemuda, organisasi-organisasi wanita saat itu ndak mau kalah. Mereka bikin kongres juga di Yogyakarta.</p>
<p>Pada tanggal 22-25 Desember 1928 kongres wanita pertama diadakan, yang kini dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia (<a href="http://www.kowani.or.id/" title="Kongres Wanita Indonesia" target="_blank">KOWANI</a>).</p>
<p>Saat itu ada 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra yang ikut serta. Mereka saat itu berkumpul untuk mempersatukan organisasi-organisasi wanita ke dalam satu wadah demi mencapai kesatuan gerak perjuangan untuk kemajuan wanita bersama dengan pria dalam mewujudkan Indonesia merdeka. Hayah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu ditetapkan pada Kongres Wanita ke-3 yang diadakan di Bandung pada tanggal 22 Desember 1938.</p>
<p>Penetapan tanggal ini bertujuan untuk menjaga semangat kebangkitan wanita Indonesia secara terorganisasi dan bergerak sejajar dengan kaum pria.</p>
<p>Mengingat pentingnya makna Hari Ibu tersebut, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit No. 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 Desember 1959 yang menetapkan Hari Ibu sebagai Hari Nasional namun sayangnya bukan hari libur. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Pada kongres yang diadakan di Bandung pada tahun 1952, Ibu Sri Mangunsarkoro mengusulkan untuk dibangun sebuah monumen untuk memperingati kongres pertama tersebut.</p>
<p>Pada tanggal 20 Mei 1956 dibangunlah Balai Srikandi yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh menteri wanita pertama di Indonesia, Maria Ulfah.</p>
<p>Kemudian seluruh kompleks bangunan pun dibangun dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Suharto menjadi kompleks gedung Mandala Bhakti Wanitatama pada tanggal 22 Desember 1983.</p>
<p>Ada beberapa bangunan pada kompleks ini. Museum terletak pada salah satu bagian dari Balai Srikandi. Kemudian di sekelilingnya terdapat bangunan yang sering digunakan untuk acara resepsi dan pameran, yaitu Balai Shinta, Kunthi, dan Utari. Ada pula kompleks wisma penginapan Wisma Sembodro dan Wisma Arimbi serta perpustakaan.</p>
<p>Museum yang terletak di Balai Srikandi menyimpan berbagai koleksi benda-benda yang digunakan saat kongres waktu itu serta diorama.</p>
<p>Nah, setelah tau sejarahnya, maka persepsi kita soal Hari Ibu selama ini mungkin berubah.</p>
<p>Bila kita memperingati Hari Ibu dengan cara memanjakan ibu kita, memberikan hadiah kepada ibu kita, rasanya kok ndak pas sama semangat dan latar belakang sejarahnya, ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selamat Hari Ibu, wahai perempuan Indonesia! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sunglas.gif' alt='&#98;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#98;&#45;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/mengingat-kembali-sejarah-hari-ibu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tradisi Bakda Kupat dan Makna Ketupat</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-bakda-kupat-dan-makna-ketupat.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-bakda-kupat-dan-makna-ketupat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 09:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[ketupat]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/20/tradisi-bakda-kupat-dan-makna-ketupat.html</guid>
		<description><![CDATA[Lebaran selalu identik dengan ketupat. Seolah-olah kalo Lebaran tanpa makan ketupat belum Lebaran rasanya, walau ndak ada aturan soal hidangan Lebaran harus ketupat. Ndak banyak yang tau kenapa ketupat identik dengan Lebaran. Padahal bisa saja ketupat diganti lontong, nasi, sagu, singkong, roti, atau apa pun. Ternyata memang ada makna filosofis tersendiri di balik ketupat, lo. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/kupat1.jpg" alt="Kupat" title="Kupat" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1263" /></p>
<p>Lebaran selalu identik dengan ketupat. Seolah-olah kalo Lebaran tanpa makan ketupat belum Lebaran rasanya, walau ndak ada aturan soal hidangan Lebaran harus ketupat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ndak banyak yang tau kenapa ketupat identik dengan Lebaran. Padahal bisa saja ketupat diganti lontong, nasi, sagu, singkong, roti, atau apa pun. Ternyata memang ada makna filosofis tersendiri di balik ketupat, lo. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Seperti yang saya bilang tadi, biasanya ketika Lebaran, hidangan utamanya adalah ketupat. Tapi pada masyarakat Jawa, ketupat biasanya dinikmati seminggu setelah hari raya Idul Fitri.</p>
<p>Kok bisa? Ya, inilah yang namanya tradisi <em>Bakda Kupat</em> (Lebaran Ketupat) yang sering juga disebut <em>Bakda Cilik</em> (Lebaran Kecil). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p><span id="more-423"></span><strong>TRADISI BAKDA KUPAT (BAKDA CILIK)</strong></p>
<p>Kata <em>bakda</em> berasal dari bahasa Arab <em>ba&#8217;da</em> yang artinya &#8220;setelah&#8221;. Kalimat &#8220;ba&#8217;da Ashar&#8221; berarti sesudah Ashar.</p>
<p>Nah, kata &#8220;bakda&#8221; di sini merujuk pada hari raya Idul Fitri, yang maksudnya berhari raya setelah sebulan penuh berpuasa. Kemudian kata &#8220;bakda&#8221; ini menjadi luas maknanya yang berarti &#8220;hari raya&#8221;.</p>
<p>Ada juga yang menyebut <em>riyaya</em> yang berasal dari kata &#8220;hari&#8221; dan &#8220;raya&#8221;, yang kemudian digabung jadi kata &#8220;riyaya&#8221;.</p>
<p>Wealah, gayaku ini kek ahli bahasa saja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kembali ke Bakda Kupat. Tradisi ini tentu ada asal usulnya. Kalo asal ndak boleh usul, tapi kalo usul ndak boleh asal. Halah, kek semboyan acara tivi saja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dalam Islam, ndak ada itu yang namanya hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi, Bakda Kupat jelas hanya tradisi Jawa saja.</p>
<p>Yang namanya Islam di Jawa, ndak luput sama yang namanya asimilasi kebudayaan Hindu dan Islam yang dilakukan sama para Wali Songo.</p>
<p>Dulu, Bakda Kupat merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa sebagai sarana berkirim doa kepada arwah anak kecil yang sudah meninggal. Anak kecil dalam bahasa Jawa adalah &#8220;bocah cilik&#8221;, sehingga tradisi ini disebut dengan Bakda Cilik.</p>
<p>Setelah ajaran Islam masuk, tradisi ini ndak dihilangkan, tapi dijadikan sarana dakwah dengan memasukkan ajaran-ajaran Islam.</p>
<p>Bakda Cilik pun berubah fungsi menjadi &#8220;hari raya kecil&#8221; setelah melakukan puasa Syawal selama 6 hari. Setelah merayakan Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal, masyarakat Jawa kemudian dibiasakan dengan berpuasa sunnah Syawal selama 6 hari. Kemudian setelah rangkaian puasa Syawal usai, diakhiri dengan &#8220;lebaran kedua&#8221; yang disebut dengan Bakda Cilik atau Bakda Kupat itu tadi.</p>
<p>Ini pula kenapa Bakda Kupat disebut juga dengan Bakda Cilik atau &#8220;hari raya kecil&#8221; karena hari raya ini diadakan setelah &#8220;berpuasa kecil&#8221; selama seminggu bila dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri yang dilakukan setelah puasa selama sebulan.</p>
<p>Namun tradisi Bakda Kupat ini sendiri makin lama makin ditinggalkan. Ndak hanya tradisi Bakda Kupat saja yang banyak ditinggalkan, tapi kebiasaan berpuasa Syawal pun kini juga jarang dilakukan. La kalo saya sih, puasa Syawal-nya ndak ikut, tapi Bakda Kupat-nya ikut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sanak famili saya yang di Gresik setahu saya masih melakukan tradisi ini. Setelah berpuasa selama seminggu, pakde, bude, paman, bibi, dan nenek mengakhiri rangkaian puasa Syawal dengan bakda walau ndak selalu pake ketupat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><a name="ketupat"></a><strong>FILOSOFI KETUPAT</strong></p>
<p>Lalu yang jadi pertanyaan kemudian, kenapa menggunakan ketupat?</p>
<p>Ketupat memiliki makna tersendiri. Bungkus ketupat dibuat dari janur kuning yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk segi empat.</p>
<p>Janur kuning merupakan lambang dari penolak bala. Pada Kraton Surakarta, ada sepotong kain panjang yang disebut Samir yang merupakan aksesoris wajib yang harus dikenakan. Samir kuning tersebut dipercaya sebagai penolak bala. Nah, janur kuning inilah kemudian yang dianggap sebagai Samir penolak bala.</p>
<p>Dulu, selongsong ketupat itu dibuat sendiri. Tangan-tangan terampil wanita bekerja dengan cekatan merangkai helai-helai janur. Di kala pembuatan selongsong ini biasanya suasana begitu ramai. Inilah yang membuat suasana menjelang Lebaran begitu meriah.</p>
<p>Kalo kini sih, cukup membeli saja di pasar yang biasanya dijual per ikat berisi 10 selongsong atau selusin selongsong. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Bentuk segi empat merupakan wujud dari prinsip &#8220;kiblat papat lima pancer&#8221;, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Tuhan.</p>
<p>UPDATE. Terima kasih <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/20/tradisi-bakda-kupat-dan-makna-ketupat.html#comment-2488" title="komentar dari Signal">Bung Zaenal</a>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Secara harfiah, &#8220;kiblat papat lima pancer&#8221; bermakna &#8220;empat arah mata angin dan satu pusat&#8221;. Kalo dijelantrahkan bisa bermakna macam-macam. Salah satu maknanya adalah makna filosofi keseimbangan alam.</p>
<p>Kita tahu ada 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang.</p>
<p>Begitu juga dengan manusia. Ke mana pun manusia ini pergi (ke penjuru mata angin) tentu dia tak lepas dari yang namanya pusat, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, supaya manusia tetap &#8220;seimbang&#8221; hendaklah selalu ingat kepada Tuhan, pusat dari segalanya.</p>
<p>Itulah kira-kira hasil <em>otak-atik gathuk</em> yang saya tangkap dari filosofi &#8220;kiblat papat lima pancer&#8221; ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kemudian beras yang menjadi isi dari ketupat menjadi lambang dari kemakmuran. Diharapkan setelah hari raya, kita akan selalu dilimpahi dengan kemakmuran.</p>
<p>Kata &#8220;ketupat&#8221; atau &#8220;kupat&#8221; berasal dari kata bahasa Jawa &#8220;ngaku lepat&#8221; yang berarti &#8220;mengakui kesalahan&#8221;. Sehingga dengan ketupat kita diharapkan mengakui kesalahan kita dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut.</p>
<p>Ada lagi tradisi unik yang kini sudah sangat jarang ditemukan. Selain simbol maaf, ada yang percaya kalo ketupat dapat menolak bala.</p>
<p>Caranya dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah. Biasanya ketupat digantung bersamaan dengan pisang. Ketupat ini digantungkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai kering hingga Lebaran tahun berikutnya.</p>
<p>Tapi tradisi menggantungkan ketupat yang kental nuansa mistisnya ini kini sudah sangat jarang ditemukan.</p>
<p>Percaya atau tidak, tapi itulah filosofi dan tradisi yang saya ketahui dari cerita orang-orang tua. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p><strong>HIDANGAN LEBARAN SELALU KETUPAT?</strong></p>
<p>Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya juga.</p>
<p>Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut dengan <em>santen</em> yang mempunya makna &#8220;pangapunten&#8221; alias memohon maaf.</p>
<p>Saking dekatnya kupat dengan santen ini, ada pantun yang sering dipake pada kata-kata ucapan Idul Fitri:</p>
<blockquote><p>Mangan kupat nganggo santen.<br />
Menawi lepat, nyuwun pangapunten.<br />
(Makan ketupat pakai santan.<br />
Bila ada kesalahan mohon dimaafkan.)</p></blockquote>
<p>Biasanya hidangan ketupat dan opor ini ndak hanya dinikmati bersama keluarga. Hidangan ketupat ini juga dijadikan hantaran kepada tetangga-tetangga sebagai simbol permohonan maaf dan silaturahmi.</p>
<p>Tapi sekali lagi, tradisi saling menghantarkan hidangan ketupat ini kini juga sudah pudar.</p>
<p>Mungkin ada tradisi, filosofi, atau makanan khas Lebaran lainnya? Saya yakin, tiap daerah pasti mempunyai tradisi dan makanan yang khas ketika Lebaran tiba.</p>
<p>Silakan berbagi cerita melalui komentar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-bakda-kupat-dan-makna-ketupat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Walikan Jogja</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/bahasa-walikan-jogja.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/bahasa-walikan-jogja.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jun 2007 11:57:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/09/bahasa-walikan-jogja.html</guid>
		<description><![CDATA[Pernah denger percakapan atau tulisan kek gini, &#8220;Piye kabare socomu sing pahin kae, Dab?&#8221;. Atau pernah dengar orang memaki, &#8220;pabu sacilad!&#8221; hingga nama merek kaos oblong khas Jogja, Dagadu? Buat temen-temen di Jogja, bahasa tersebut mungkin familiar, bahkan sering digunakan pada percakapan sehari-hari. Tapi kadang temen-temen di luar Jogja kurang paham dengan arti kata tersebut. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/basa-walikan.jpg' alt='Bahasa Walikan Jogja' /></p>
<p>Pernah denger percakapan atau tulisan kek gini, &#8220;Piye kabare <strong>soco</strong>mu sing <strong>pahin</strong> kae, <strong>Dab</strong>?&#8221;. Atau pernah dengar orang memaki, &#8220;<strong>pabu sacilad</strong>!&#8221; hingga nama merek kaos oblong khas Jogja, <a href="http://dagadu.co.id/" title="Dagadu" target="_blank">Dagadu</a>?</p>
<p>Buat temen-temen di Jogja, bahasa tersebut mungkin familiar, bahkan sering digunakan pada percakapan sehari-hari. Tapi kadang temen-temen di luar Jogja kurang paham dengan arti kata tersebut.</p>
<p>Kalo kita mengenal bahasa gawul abege yang bahkan sampe ada <a href="http://www.kompas.com/tbgramedia/product_detail.cfm?bid=9558" title="Kamus Bahasa Gaul" target="_blank">kamusnya</a> yang konon diambil dari bahasa gaulnya kaum <acronym title="waria, homo, lesbian">transexsual</acronym>, ada juga bahasa gaul yang muncul di daerah-daerah tertentu. Contohnya ada bahasa <em>kiwalan kera ngalam</em> dan tentu saja bahasa walikan Jogja, walau sebenernya setiap daerah punya bahasa slangnya masing-masing.</p>
<p>Saya cuma mo ngebahas bahasa walikan khas Jogja saja. Mungkin sudah banyak blog yang membahasnya, saya cuma menambahkan dan menceritakan ulang saja. Semoga bisa berguna, terutama kalo temen-temen sedang berada di Jogja dan mendengar bahasa macam ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p><span id="more-246"></span>Ndak ada yang tahu kapan pastinya kemunculan bahasa walikan Jogja ini. Konon bahasa semacam ini sudah digunakan sejak jaman perang kemerdekaan. Tujuan awalnya tak lain dan tak bukan adalah untuk berkomunikasi dengan kawan tanpa diketahui oleh musuh (Belanda).</p>
<p>Penggunaan bahasa ini lama-lama bergeser. Banyak anak muda yang mulai menggunakannya untuk bahasa percakapan. Apalagi sejak tahun 1994, penggunaan bahasa <acronym title="preman">prokem</acronym> ini semakin memasyarakat sejak munculnya kaos <a href="http://dagadu.co.id/" title="Dagadu" target="_blank">Dagadu</a> yang diprakarsai oleh mahasiswa <a href="http://www.archiplan.ugm.ac.id/" title="Jurusan Teknik Arsitektur UGM" target="_blank">Arsitektur UGM</a> ini.</p>
<p>Lalu pertanyaannya kemudian, kok bisa? Kata &#8220;matamu&#8221; jadi &#8220;dagadu&#8221;? Gimana caranya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_question.gif' alt='&#58;&#45;&#47;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#47;' /></p>
<p>Gampang. Kata-kata tersebut ada polanya. Dasarnya adalah penggunaan aksara Jawa. Masih ingat, anak-anak? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_mean.gif' alt='&#58;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#62;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/aksara_jawa.gif' alt='Aksara Jawa' /></p>
<p>Baris nomer 1 diganti konsonannya dengan baris nomer 3. Baris nomer 2 diganti konsonannya dengan baris nomer 4. Baris nomer 3 diganti dengan baris nomer 1. Dan terakhir baris nomer 4 diganti dengan baris nomer 2. Sedangkan huruf vokal (a, i, u, e, o) disamakan dengan huruf <em>HA</em>. Bingung?</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/rumus_walikan.gif' alt='Rumus Bahasa Walikan Jogja' /></p>
<p>Nah, karena hurufnya yang dibolak-balik inilah bahasa ini disebut dengan bahasa walikan alias bahasa kebalikan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Baik, mari kita coba. Dari contoh sebelumnya, kata-kata yang dicetak tebal itu berarti:</p>
<ul>
<li>SOCO = BOJO (pasangan)</li>
<li>PAHIN = APIK (bagus, cantik)</li>
<li>DAB = MAS (sapaan)</li>
</ul>
<p>Tetapi dalam penggunaan dan pengucapannya, kata yang digunakan sering tidak baku seperti kata yang dihasilkan oleh rumus tersebut. Beberapa kata harus dimodifikasi supaya enak diucapkan dan didengarkan. Contohnya kata &#8220;pahin&#8221; di atas. Kata ini berasal dari kata &#8220;apik&#8221; (&#8220;hapik&#8221;) yang kalo menurut rumus, harusnya menjadi &#8220;pahiny&#8221;. Tetapi dalam keseharian sering diucapkan sebagai &#8220;pahin&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Nah? Males mengutak-atik dan mengingat-ingat rumusnya? Saya menemukan sebuah tools menarik. Tools ini berfungsi untuk mengkonversi kata menjadi kata walikan dan sebaliknya, kata walikan dijadikan kata aslinya. Tools itu ada di alamat  ini: <a href="http://java.sandalian.com/" title="Yogyakarta's Prokem Translator" target="_blank">http://java.sandalian.com/</a>.</p>
<p>Kata-kata yang ditranslasikan umumnya kata-kata dalam bahasa Jawa. Memang kata-kata tersebut lebih enak kalo diucapkan dalam kalimat berbahasa Jawa dan banyak digunakan ketika kita berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Kalo pake bahasa Indonesia kok kesannya jadi agak kaku gitu sih. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Untuk latihan, sekarang coba artikan kalimat berikut:</p>
<blockquote><p>Saya kemarin pergi naik dosing-nya sahan-ku mengantar pisu-ku terus dikejar hongib. Saya lalu bilang ke hongib, tenang, dab! Jape methe!</p></blockquote>
<p>Yang bisa menjawab akan mendapat hadiah menarik, yaitu menarik becak! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_rotfl.gif' alt='&#61;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='30' height='18' title='&#61;&#41;&#41;' /></p>
<p>Bengadag dedhjosa! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/bahasa-walikan-jogja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

