<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Edukasi &amp; Ketrampilan</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/destinasi/edukasi-ketrampilan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Danau Purba Borobudur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 23:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi & Ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Elo]]></category>
		<category><![CDATA[National Geographic Indonenesia]]></category>
		<category><![CDATA[NGI]]></category>
		<category><![CDATA[Progo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp menulis di dalam bukunya yang berjudul Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha. Bersama teman-teman dari forum National [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/sutikno.jpg" alt="" title="Ir. Sutarto, M.T. menjelaskan batuan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1445" /></p>
<p>Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama <em>W.O.J Nieuwenkamp</em> menulis di dalam bukunya yang berjudul <em>Fiet Borobudur Meer</em> (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.</p>
<p><span id="more-1444"></span>Bersama teman-teman dari <a href="http://forum.nationalgeographic.co.id/" title="Forum national Geographic Indonesia" target="_blank">forum National Geographic Indonesia</a> regional Yogyakarta, saya berkesempatan menelusuri jejak-jejak danau purba di sekitar Borobudur, yang membuat saya seolah-olah sedang kuliah lapangan!</p>
<p>Saya mendengar pernyataan ini langsung dari Ir. Helmy Murwanto, M.Sc.,  Ir. Sutarto, M.T., dan Dr. Sutanto, tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta yang telah melakukan penelitian terhadap materi-materi tanah di sekitar Borobudur sejak tahun 1996 hingga sekarang untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp.</p>
<p>Hipotesa danau purba Nieuwenkamp dianggap sebuah mitos oleh <em>Van Erp</em>,  pemimpin tim pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911 dari Belanda. Menurut Van Erp, hipotesa ini ngawur karena  tidak didukung bukti-bukti kuat seperti prasasti tentang adanya danau di kawasan itu.</p>
<p>Hipotesa Nieuwenkamp ini lah yang membuat Pak Helmy yang orang Muntilan, Magelang, ini bersama kawan-kawannya tertarik meneliti materi endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo, dan Sungai Elo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/helmy-lempung-hitam.jpg" alt="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" title="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1446" /></p>
<p>Sampel lempung hitam yang sekilas bentuknya seperti arang basah ini kemudian diteliti dengan analisis radio karbon C-14. Ternyata lempung hitam ini banyak mengandung serbuk sari (<em>pollen</em>) dari tanaman komunitas rawa atau danau, antara lain <em>Commelina</em>, <em>Cyperaceae</em>, <em>Nymphaea stellata</em>, dan <em>Hydrocharis</em>, juga fosil kayu. Dalam bahasa populer, flora ini adalah tanaman teratai, rumput air, dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu. Dari analisis ini pula diketahui ternyata endapan lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun.</p>
<p>Pada tahun 2001, Pak Helmy dan tim melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C-14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. Maka dari hasil ini bisa disimpulkan kalo danau ini sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu (zaman <em>Plistosen</em>), dan berakhir di sekitar akhir abad ke-10 hingga abad ke-13.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/sutanto.jpg" alt="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" title="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1448" /></p>
<p>Candi Borobudur konon dibangun di atas daratan (bukit) yang terbentuk karena timbunan endapan-endapan material vulkanik dari beberapa gunung di sekitarnya, yang terbawa oleh sungai-sungai yang bermuara ke danau ini, antara lain Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro.</p>
<p>Sungai-sungai yang ada sekarang di sekitar Borobudur dulunya bermuara di danau purba ini. Namun seiring terbendungnya aliran-aliran sungai oleh material vulkanik, akhirnya danau ini mengering dan membuat sungai-sungai yang dulunya bemuara di danau ini mencari jalurnya sendiri hingga sekarang mengarah ke Laut Selatan.</p>
<p>Namun ada teori lain yang mengatakan bahwa danau ini sudah mengering jauh sebelum Borobudur dibangun, yaitu sebelum abad ke-8. Bahkan diperkirakan di lingkungan tersebut sudah terdapat pemukiman penduduk ketika Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra dengan arsitek Gunadharma ini.</p>
<p>Hal ini bisa ditengarai dari pemakaman umum di beberapa desa di sekitar Borobudur yang berumur sebelum tahun 1300. Nisan makam kuno terbuat dari kayu jati relatif tipis, bukan dari batu. Teori ini dikemukakan oleh budayawan Aris Sutomo, penulis buku <em>Temples of Java</em>.</p>
<p>Yang menarik, ada dugaan lain bahwa awalnya danau ini bagian dari laut yaitu terbentuk dari laut yang terjebak, karena ditemukannya beberapa sumur yang airnya asin di di Desa Candirejo, Sigug, dan Ngasinan. Selain itu, bebatuan karang di Bukit Menoreh di sebelah selatan Borobudur ditengarai sebagai karang laut zaman dahulu.</p>
<p>Bila Van Erp mempertanyakan bukti-bukti prasasti, tim Helmy menggunakan prasasti toponim (asal mula penamaan) nama daerah di sekitar Borobudur, yang berkaitan dengan lingkungan air. Misalnya nama desa Bumi Segoro  di sebelah barat daya Borobudur, yang mana &#8220;bumi&#8221; berarti daratan dan &#8220;segoro&#8221; berarti laut atau danau. Juga ada desa bernama Sabrang Rowo (menyeberang rawa/danau) di sebelah selatan Borobudur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/lapisan-tanah.jpg" alt="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" title="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1451" /></p>
<p>Penelitian tim dari UPN ini bertujuan untuk mencari tahu sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai dari awal terbentuknya danau, yaitu dugaan air laut yang terjebak hingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa, dan rawa menjadi dataran, menggunakan analisis lapisan tanah dan batuan.</p>
<p>Selain tim peneliti dari UPN ini, penelitian serupa untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp juga dilakukan pernah oleh seorang ahli geologi bernama <em>Van Bemmelen</em> pada tahun 1949.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul <em>The Geology of Indonesia</em> (Geologi Indonesia), Van Bemmelen menyebutkan di daerah Magelang bagian selatan dulu pernah terbentuk danau yang terbentuk oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M (meski beberapa ahli mempertanyakan catatan tahun letusan Merapi tahun 1006 M ini).</p>
<p>Letusan ini mengakibatkan sebagian puncak Merapi longsor ke arah barat daya, kemudian tertahan oleh Bukit Menoreh bagian timur yang berada di selatan daerah Borobudur. Akibatnya, material longsoran tersebut membendung aliran Kali Progo di timur Borobudur, sehingga terbentuklah genangan yang luas di dataran Magelang bagian selatan. Setelah berabad-abad, sumbatan yang membendung Kali Progo hilang oleh proses erosi, akhirnya danau mengering.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/peserta.jpg" alt="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" title="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1449" /></p>
<p>Nah, bila memang benar di sekeliling Borobudur saat itu terdapat danau atau rawa, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah batu-batu ini dibentuk dan bagaimana batu-batu ini dibawa ke bukit Borobudur untuk disusun menjadi candi. Apakah batu dibawa dalam bentuk utuh atau sudah berbentuk potongan-potongan balok batu?</p>
<p>Bila batuan dibawa dalam bentuk balok-balok itu, di manakah bengkel pemotongan batu ini? Bila memang dilakukan di tempat lain, di mana kah letak pemotongan batu ini? Bila batu dibawa dalam bentuk utuh kemudian dibentuk di bukit Borobudur, di mana kah &#8220;sampah&#8221; batu bekas ukiran dibuang?</p>
<p>Borobudur rupanya mempunyai sejarah dan pesona yang sampai sekarang masih menjadi misteri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Astronomi di Planetarium, Jakarta</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/belajar-astronomi-di-planetarium-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/belajar-astronomi-di-planetarium-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 16:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi & Ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[planetarium]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu (2/11) kemarin, saya dan Dita berkunjung ke Planetarium, yang terletak di Jalan Cikini Raya No. 73, di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Turun dari Stasiun Cikini, kami pun berjalan kaki menuju TIM. Daripada naik angkot yang harus muter (karena jalan searah), kami berjalan kaki walau panas menyengat. Sampai di lokasi, suasana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-882" title="Tiket Planetarium" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/planetarium.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Hari Minggu (2/11) kemarin, saya dan <a title="NonaDita" href="http://nonadita.com" target="_blank">Dita</a> berkunjung ke <a title="Planetarium" href="http://planetarium.jakarta.go.id/" target="_blank">Planetarium</a>, yang terletak di Jalan Cikini Raya No. 73, di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.</p>
<p>Turun dari Stasiun Cikini, kami pun berjalan kaki menuju TIM. Daripada naik angkot yang harus muter (karena jalan searah), kami berjalan kaki walau panas menyengat.</p>
<p><span id="more-881"></span>Sampai di lokasi, suasana masih sepi. Maklum, kami tiba di Planetarium sekitar pukul 10 pagi. Rupanya pertunjukkan sesi pertama baru saja dimulai, sehingga suasana sudah sepi.</p>
<p>Setelah bertanya-tanya, kami pun mengantre tiket di loket yang buka kembali pukul 10.30. Melalui semacam &#8220;labirin&#8221; dari kursi berwarna biru, kami harus berputar-putar untuk mencapai loket. Mungkin labirin ini digunakan untuk mengatur antrian supaya lebih tertib kali, ya?</p>
<p>Penjual buku-buku tentang planet dan tata surya berkeliaran menjajakan dagangannya. Tertarik dengan 2 buku mini tentang planet dan bumi, saya mencoba menawar. Dengan menggunakan bahasa Jawa, akhirnya dapat harga 15 ribu untuk 2 buku (seri 1 dan 2), yang awalnya ditawarkan 10 ribu per buku.</p>
<p>Tak lama kemudian loket dibuka. Tiba-tiba saja antrian panjang langsung terjadi. Busyet, saya baru nyadar ternyata di tempat ini sudah mulai rame.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-884" title="Antrean Membeli Tiket" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/antrian.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Dengan tiket seharga 7 ribu (plus sumbangan PMI 500 rupiah), maka kita bisa menikmati pertunjukan simulasi langit yang mengesankan.</p>
<p>Sembari menunggu dimulainya pertunjukkan pada pukul 11.30, saya dan Dita pun berkeliling. Kami menuju ke ruang pameran yang terletak di belakang.</p>
<p>Ruangan ini memamerkan berbagai gambar dan foto benda-benda luar angkasa. Ada juga diorama mini mengenai pendaratan manusia pertama di bulan, meski soal pendaratan ini masih diperdebatkan apakah benar-benar terjadi atau cuma rekayasa Amerika.</p>
<p>Namun yang membuat saya kagum adalah disimpannya batu meteorit Pasuruan, yaitu meteorit yang jatuh di kawasan Tambakwatu, Kabupaten Pasuruan pada tanggal 14 Februari 1975. Batu ini berukuran sebesar kepala manusia, dengan berat sekitar 10.5 kg.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-885" title="Ruang Pamer Planetarium" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/ruang-pamer.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Puas melihat-lihat ruang pameran, kami pun menuju ke depan pintu masuk teater yang ada di lantai 2. Buset, kami harus berebut jalan dengan anak-anak kecil ketika pintu teater dibuka.</p>
<p>Ruang pertunjukan ini menggunakan sebuah kubah setengah lingkaran berdiameter 22 meter sebagai layar pertunjukan, sehingga kita bukan melihat layar yang ada di depan, melainkan ada di atas. Kursi-kursi yang berjumlah 320 buah ini bisa direbahkan hingga nyaris telentang, memudahkan kita melihat sejauh hampir 180 derajat.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-887" title="Proyektor Carl Zeiss" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/proyektor.jpg" alt="" width="200" height="267" /></p>
<p>Di tengah ruangan, kira-kira di titik fokus atap kubah, terdapat proyektor Universarium Model VIII bikinan Carl Zeiss, Jerman. Bentuk proyektor ini sekilas mirip bola lampu disko, namun bedanya proyektor ini menembakkan gambar-gambar ke atas kubah sehingga membentuk tampilan gambar seperti 3 dimensi.</p>
<p>Tak berapa lama suasana gelap. Tiba-tiba saja saya merasa berada di luar pada malam hari. Suasana langit saat itu sedikit kelabu karena kami sedang berada di Jakarta pada malam hari. Hehe, Jakarta sebelah mana, ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Narator bercerita bahwa langit malam menjadi sedikit kelabu karena banyaknya polusi udara di Jakarta. Melihat langit yang penuh bintang di malam hari di Jakarta adalah suatu hal yang mustahil, karena terdistorsi oleh cahaya lampu-lampu kota. Andai saja lampu-lampu kota itu dimatikan maka hamparan bintang itu akan terlihat.</p>
<p>Ah, saya jadi teringat masa-masa ketika bermalam di Parangtritis dan <a title="Mercusuar Pandansari" href="http://cahandong.org/2006/11/04/merkusuar-pandansari.html" target="_blank">Pandansari</a> pas masa-masa kuliah dulu. Memandangi hamparan bintang yang sesekali terlihat bintang jatuh lewat setiap menit.</p>
<p>Setelah &#8220;distorsi&#8221; tadi dihilangkan, kini terlihat jelas langit hitam yang penuh dengan bintang, begitulah tampilan di layar. Saya benar-benar merasa seolah-olah melihat ke atas langit cerah yang penuh bintang!</p>
<p>Dimulailah &#8220;petualangan&#8221; kami menyusuri ruang angkasa. Cerita yang ditampilkan saat itu bertajuk &#8220;Penjelajah Kecil di Tata Surya&#8221;.</p>
<p>Sebenarnya ada 9 seri cerita yang ditampilkan bergantian, namun karena tiada jadwal penayangannya, mengikuti semua seri cerita menjadi sulit. Kita hanya bisa pasrah dengan apa yang akan ditampilkan di ruang pertunjukkan. Tentu akan lebih menarik bila kita bisa &#8220;memilih&#8221; cerita apa yang akan kita ikuti.</p>
<p>Cerita diawali dengan pengenalan bintang dan rasi bintang. Ternyata ada 88 buah rasi bintang yang ditentukan oleh International Astronomical Union (IAU) untuk standardisasi. Dua belas lambang zodiak dalam astrologi itu termasuk di dalamnya.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-886" title="Gambar Rasi Bintang" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/rasi-bintang.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Kenapa 12 rasi bintang yang sering kita kenal sebagai zodiak itu begitu istimewa? Rupanya karena kedua belas rasi binang ini selalu nampak dari bumi dan seolah-olah dilintasi oleh matahari setiap tahunnya dengan susunan yang sama. Ini terjadi karena rasi-rasi bintang ini teretak di lintasan ekliptika (garis edar matahari).</p>
<p>Susunan kedua belas rasi bintang zodiak ini adalah Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, Pisces, dan kembali lagi ke Aries. Masa-masa rasi bintang ini ditentukan oleh posisi matahari terhadap zodiak tersebut.</p>
<p>Beberapa rasi bintang lainnya hanya dapat dilihat di belahan langit tertentu. Rasi bintang Polaris yang terlihat di langit utara tidak dapat dilihat oleh mereka yang berada di belahan bumi selatan. Begitu pula dengan rasi bintang Salib Selatan tidak dapat dilihat oleh mereka yang berada di belahan bumi utara. Beruntunglah kita yang berada di khatulistiwa, sehingga hampir semua rasi bintang dapat kita lihat.</p>
<p>Bila kita melihat bintang berwarna merah, itu adalah bintang &#8220;dingin&#8221; yang bersuhu sekitar 300 kali suhu air mendidih. Salah satunya bisa kita lihat di belahan langit bagian barat ketika malam hari.</p>
<p>Setelah perkenalan dengan rasi bintang selesai, kita akan diperkenalkan dengan benda-benda kecil yang berada di luar angkasa, antara lain komet, meteor, meteorit, dan asteroid.</p>
<p>Komet adalah gumpalan es kotor, yang terdiri atas gas-gas yang membeku dan terletak di pinggiran sistem tata surya kita yang dingin. Komet ini bergerak mengikuti suatu orbit tertentu, dan ketika ia mendekati matahari, sebagian gasnya terbakar dan menyublim sehingga membentuk ekor yang arahnya menjauhi matahari karena semburan angin radiasi dari matahari.</p>
<p>Salah satu komet yang terkenal adalah Komet Halley yang terlihat dari bumi setiap 75-76 tahun sekali.</p>
<p>Meteor adalah benda-benda langit yang jatuh ke bumi akibat gravitasi bumi. Ketika memasuki atmosfer bumi, benda-benda ini akan terbakar. Benda-benda angkasa ini berdasarkan unsur penyusunnya, dibedakan menjadi 3 jenis yaitu yang mengandung logam, meteorit yang berupa batuan, serta meteorit yang mengandung logam dan batuan.</p>
<p>Salah satu meteor besar yang pernah menghujam bumi adalah meteor yang jatuh di kawasan Arizona, Amerika, sekitar 49 ribu tahun yang lalu. Tumbukan meteor ini menimbulkan sebuah kawah lebar 1.200 meter dengan kedalaman 170 meter. Kawah ini dikenal dengan nama Canyon Diablo Crater.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-894" title="Canyon Diablo Crater" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/canyon-diablo-crater.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Meteor yang menumbuk sebenarnya ndak besar, namun tenaga yang dihasilkan oleh kecepatannya yang sangat besar membuat tumbukan itu begitu dahsyat. Saya jadi teringat hukum energi Einstein, yang menyatakan <code>E = mc<sup>2</sup></code>, di mana <em>m</em> adalah massa dan <em>c</em> adalah kecepatannya.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, ada meteorit yang terjatuh pada tahun 1975 di Pasuruan, yang dikenal dengan Meteorit Pasuruan, yang disimpan di ruang pamer Planetarium.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-895" title="Meteorit Pasuruan" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/meteorit-pasuruan.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Tak hanya bumi, rupanya planet Jupiter juga sering ditabrak oleh benda-benda angkasa. Namun karena Jupiter hanya terdiri dari gas, maka tumbukannya tidak begitu berpengaruh terhadap Jupiter.</p>
<p>Yang lucu, pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (sekitar tahun 1801), di Kraton Surakarta, pernah jatuh meteorit di daerah Prambanan. Meteorit ini kemudian diambil dan kemudian dilebur lalu ditempa untuk dijadikan senjata pusaka berupa tombak dan keris. Ini dimungkinkan karena adanya unsur logam di dalam meteorit tersebut.</p>
<p>Nah, benda pusaka yang terbuat dari meteorit tersebut disimpan di dalam Kraton Surakarta dan yang paling terkenal adalah senjata pusaka yang dinamai Kanjeng Kyai Pamor.</p>
<p>Kemudian dijelaskan pula mengenai fenomena hujan meteor. Fenomena ini terjadi bila ada serpihan ekor komet yang masuk ke atmosfer bumi. Hujan meteor biasanya terjadi seolah-olah berasal dari salah satu titik di rasi bintang. Beberapa rasi bintang yang sering menjadi &#8220;sumber&#8221; hujan meteor adalah Gemini, Leo, an Orion. Hujan meteor yang seolah-olah berasal dari ketiga rasi bintang ini disebut dengan hujan meteor Geminit, Leonit, dan Orionit.</p>
<p>Dijelaskan pula mengenai sabuk asteroid. Ditengarai sabuk asteroid yang berada di orbit antara Mars dan Jupiter tersebut adalah planet yang sudah hancur. Serpihan-serpihan planet yang sudah hancur itulah yang kemudian membentuk sabuk asteroid.</p>
<p>Salah satu asteroid yang terbesar adalah asteroid Ceres yang ditemukan oleh Giuseppe Piazzi pada tahun 1801. Besarnya pun &#8220;hanya&#8221; sepanjang pulau Jawa. Namun sejak tahun 2006, Ceres kemudian dikategorikan menjadi planet kerdil, bersamaan dengan Pluto.</p>
<p>Bentuk asteroid yang tidak beraturan, membuat lintasan orbitnya juga tidak beraturan. Ada kalanya ia lepas dari orbit dan melayang-layang di angkasa atau menabrak benda langit lainnya. Bila asteroid berukuran cukup besar menuju bumi, bisa jadi bencana akan terjadi. Masih ingat dengan film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Armageddon_(1998_film)" title="film Armageddon" target="_blank">Armageddon</a>? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Bahasan tentang asteroid menjadi topik terakhir dari film yang berdurasi sekitar 1 jam ini. Film yang narasinya dibacakan secara langsung ini menjadi lebih menarik karena terdapat suatu segmen di mana kita berpura-pura naik pesawat luar angkasa dan gambar pada layar digerakkan sehingga seolah-olah kita yang bergerak. Anak-anak kecil berteriak-teriak ketika segmen ini berlangsung.</p>
<p>Berkunjung ke Planetarium, selain menjadi rekreasi yang menyenangkan juga dapat menambah pengetahuan, terutama mengenai benda-benda langit dan luar angkasa.</p>
<p>Pernahkah kamu berkunjung ke Planetarium?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/belajar-astronomi-di-planetarium-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

