<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Festival, Seni, Budaya</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/destinasi/festival-seni-budaya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pelebon: Upacara Mengantar Raja Menuju Nirwana</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pelebon-upacara-mengantar-raja-menuju-nirwana.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pelebon-upacara-mengantar-raja-menuju-nirwana.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 15:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[ngaben]]></category>
		<category><![CDATA[palebon]]></category>
		<category><![CDATA[Peliatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1558</guid>
		<description><![CDATA[Langit Ubud yang mendung, rupanya tak menyentuh kawasan Puri Peliatan, tempat diselenggarakannya upacara Pitra Yadnya Pelebon Ida Dewagung Peliatan, Raja Puri Agung Peliatan IX, yang meninggal pada tanggal 21 Agustus 2010 lalu. Upacara Pelebon sendiri merupakan sebutan untuk upacara Ngaben, upacara kremasi jenazah yang dilakukan khusus untuk kaum raja dan bangsawan. Upacara Pelebon yang diselenggarakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/11/img_9928.jpg" alt="Naga Banda pengiring Pelebon Puri Peliatan" title="Naga Banda pengiring Pelebon Puri Peliatan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1559" /></p>
<p>Langit Ubud yang mendung, rupanya tak menyentuh kawasan Puri Peliatan, tempat diselenggarakannya upacara <a href="http://www.indonesia.travel/en/event/detail/196/grand-cremation-for-the-raja-of-peliatan-bali" title="Royal Cremation For the Raja of Peliatan Bali" target="_blank">Pitra Yadnya Pelebon Ida Dewagung Peliatan, Raja Puri Agung Peliatan IX</a>, yang meninggal pada tanggal 21 Agustus 2010 lalu.</p>
<p>Upacara Pelebon sendiri merupakan sebutan untuk upacara Ngaben, upacara kremasi jenazah yang dilakukan khusus untuk kaum raja dan bangsawan. Upacara Pelebon yang diselenggarakan tanggal 2 November 2010 di Bali kali ini bisa dibilang sebagai <a href="http://www.indonesia.travel/id/destination/277/ubud/article/50/upacara-pembakaran-jenazah-paling-megah-di-bali" title="Upacara Pembakaran Jenazah Paling Megah di Bali" target="_blank">upacara ngaben termegah</a> untuk saat ini.</p>
<p><span id="more-1558"></span>Enam belas <em>Pedande</em> tampak sibuk membakar sesaji untuk menolak hujan. Asap yang memedihkan mata yang berasal dari bakaran sabut kelapa dan serpihan kayu merupakan media untuk mengirim doa agar hujan tidak turun di kawasan upacara.</p>
<p>Meski hujan merupakan salah satu berkah bagi kepercayaan umat Hindu, namun kali ini hujan diharapkan untuk tidak turun di hari yang penting ini.</p>
<p><a href="http://www.indonesia.travel/id/news/detail/184/sayap-bade-terpasang-untuk-pelebon-di-puri-agung-peliatan" title="Sayap Bade Terpasang untuk Pelebon di Puri Agung Peliatan" target="_blank">Sebuah <em>bade tumpang solas</em></a> atau tempat pengusung jenazah bertingkat sebelas tampak menjulang. <em>Bade</em> setinggi 25,5 meter ini memang dibuat spesial, sesuai dengan status sosial si jenazah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/11/img_3768.jpg" alt="Patung Lembu megah pengiring Pelebon" title="Patung Lembu megah pengiring Pelebon" width="200" height="300" class="alignright size-full wp-image-1560" /></p>
<p>Bila pada umumnya keluarga kerajaan non raja atau bangsawan biasa memakai <em>bade</em> bertingkat tujuh atau sembilan, rakyat strata terendah memakai <em>bade</em> bersusun hanya satu atau tiga, maka raja memiliki <em>bade</em> bersusun sebelas, yang juga mencerminkan jumlah tingkatan <em>bade</em> paling tinggi dalam strata sosial di Bali.</p>
<p>Rangkaian upacaranya sendiri diawali dengan beberapa prosesi. Beberapa hari sebelumnya diadakan upacara <em>mendak</em> atau <a href="http://www.indonesia.travel/id/news/detail/178/pengusungan-naga-banda-pelebon-2-november-2010" title="Pengusungan Naga Banda Pelebon 2 November 2010" target="_blank">penjemputan Naga Banda (patung berbentuk naga)</a> dari Puri Ubud ke Puri Peliatan yang berjarak kurang lebih dua kilometer. Patung naga berwarna keemasan ini diusung oleh ribuan orang.</p>
<p>Naga Banda merupakan salah satu sarana upacara Pelebon yang dibuat untuk raja atau keluarganya. Selain Naga Banda, sarana penting lainnya adalah patung lembu putih berbalut kain lembut yang khusus didatangkan dari Norwegia juga akan mendampingi kremasi jenazah Raja Peliatan IX, Ida Dewagung.</p>
<p>Patung lembu ini begitu sempurna, sehingga sulit untuk dibedakan bila hanya melihat sekilas. Pahatan yang rapi berpadu perhiasan emas menghiasi bagian kepala, leher, dada, dan kaki patung membuatnya terlihat lebih megah.</p>
<p>Patung lembu setinggi 5 meter ini adalah simbolisasi kesucian kasta Ksatria. Kasta Ksatria yang di dalamnya termasuk raja ini akan mengendarai lembu menuju nirwana. Untuk kasta lain biasanya mengendarai singa.</p>
<p>Perangkat-perangkat pendukung Pelebon berupa <em>bade</em>, Naga Banda, Patung Lembu, dan perangkat lainnya sebelum digunakan wajib disucikan terlebih dahulu pada upacara Pemlaspas. Air suci yang digunakan pun bukan air sembarangan karena air diambil dari mata air suci melalui <a href="http://www.indonesia.travel/id/news/detail/181/keselarasan-mengagumkan-2-hari-menjelang-pelebon-di-puri-agung-peliatan" title="Keselarasan Mengagumkan 2 Hari Menjelang Pelebon di Puri Agung Peliatan " target="_blank">upacara Ngening</a>.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/11/blog1-2.jpg" alt="Naga Banda diarak pada upacara Pelebon Puri Peliatan" title="Naga Banda diarak pada upacara Pelebon Puri Peliatan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1561" /></p>
<p>Pelebon sendiri pada hakikatnya adalah pengembalian wujud manusia pada esensinya, yaitu lima elemen yang dikenal dengan <em>Panca Maha Buta</em> (tanah, udara, api, air, dan eter).</p>
<p>Melalui media pembakaran, abu yang dihasilkan merepresentasikan tanah, uap dan asap yang dihasilkan adalah manifestasi udara, api yang menjilat jilat adalah amarah (keburukan) yang sirna, dan sisa tulang belulang yang dihaluskan dan dicampur dengan air merepresentasikan air.</p>
<p>Esensi raga yang berunsur air ini kemudian dilarung ke laut. Dengan purnanya prosesi Pelebon, secara fisik mendiang Raja Ida Dwagung akan sempurna kembali ke asalnya, yaitu rohnya akan pergi ke nirwana.</p>
<p>Sedangkan bagi keluarga yang ditinggalkan, Pelebon juga mengandung banyak arti. Salah satunya adalah sebagai cara untuk melupakan satu sama lain: keluarga tak boleh lagi mengingat-ingat raja dan raja tak lagi mengingat-ingat keluarganya.</p>
<p>Pelebon ternyata juga menjadi sarana bagi keluarga untuk memanjatkan pengharapan kepada Sang Hyang Widhi, supaya kelak raja yang dikremasi bereinkarnasi menjadi karakter yang lebih baik dari sebelumnya. </p>
<p>Ndak heran kalo pihak keluarga rela merogoh kocek dalam-dalam demi mengadakan upacara Pelebon dengan semegah-megahnya. Mereka percaya bahwa keindahan, kemegahan, dan kesempurnaan fisik dari sarana Pelebon seperti <em>bade</em>, Lembu, Naga Banda dan lainnya menyimbolkan kebaikan.</p>
<p>Almarhum Ida Dewagung Peliatan adalah keturunan Raja Peliatan pertama dari pasangan Ida Tjokorda Gde Rai dan AA Istri Mas. Beliau diangkat atau Mabhiseka Ratu (gelar) sebagai Raja Peliatan IX sejak 5 Juni tahun 2001.</p>
<p>Selamat jalan, Ida Dewagung Peliatan!</p>
<p>Info lengkap tentang Pelebon dan acara-acara menarik lainnya bisa didapat di situs <a href="http://www.indonesia.travel/" title="Website Resmi Pariwisata Indonesia" target="_blank">Indonesia.Travel</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pelebon-upacara-mengantar-raja-menuju-nirwana.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampung Naga, Kampung Yang Masih Memegang Tradisi Leluhur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kampung-naga-kampung-yang-masih-memegang-tradisi-leluhur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kampung-naga-kampung-yang-masih-memegang-tradisi-leluhur.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:54:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Tasikmalaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1424</guid>
		<description><![CDATA[Kampung Naga merupakan salah satu dari kampung yang masih memegang tradisi dan adat istiadat leluhur, namun bisa hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat lain yang lebih modern. Mengunjungi Kampung Naga memang memiliki keunikan tersendiri. Melihat dari dekat kehidupan sederhana dan bersahaja yang masih tetap lestari di tengah peradaban modern. Hari Selasa, Rabu, dan Sabtu adalah hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/di-kampung-naga.jpg" alt="di Kampung Naga" title="di Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1425" /></p>
<p>Kampung Naga merupakan salah satu dari kampung yang masih memegang tradisi dan adat istiadat leluhur, namun bisa hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat lain yang lebih modern.</p>
<p>Mengunjungi Kampung Naga memang memiliki keunikan tersendiri. Melihat dari dekat kehidupan sederhana dan bersahaja yang masih tetap lestari di tengah peradaban modern.</p>
<p>Hari Selasa, Rabu, dan Sabtu adalah hari pantangan bagi masyarakat Kampung Naga untuk membicarakan berbagai hal tentang tradisi mereka. Selain pada hari pantangan tersebut, kita bisa berinteraksi dengan mereka dengan lebih leluasa.</p>
<p><span id="more-1424"></span>Kampung Naga secara administratif terletak di kampung Legok Dage, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Terletak persis di samping jalan raya Tasikmalaya-Garut dari rute Tasikmalaya-Bandung, membuat kampung ini mudah dicapai.</p>
<p>Untuk menuju ke sini bisa ditempuh dari 2 arah, dari Garut atau dari Tasikmalaya, karena kampung ini terletak di &#8220;tengah-tengah&#8221; perbatasan kedua kota, sekitar 30 km dari Tasikmalaya dan 26 km dari Garut.</p>
<p>Dari Jakarta, saya menuju Garut dengan menggunakan bus Primajasa dari Terminal Lebak Bulus dengan ongkos 35 ribu rupiah. Bila naik yang jurusan Tasikmalaya, ongkosnya 40 ribu rupiah.</p>
<p>Pertimbangan saya, dari Kampung Naga, saya akan meneruskan perjalanan ke Tasikmalaya, sehingga bila berangkat dari Garut lebih mangkus. Apalagi entah kenapa bus-bus jurusan Tasikmalaya yang biasanya <em>pating tlecek</em> di Terminal Lebak Bulus, saat itu tidak ada sama sekali.</p>
<p>Dari Terminal Guntur, Garut, saya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Elf (colt diesel) tujuan Garut-Tasikmalaya dengan ongkos 20 ribu rupiah. Perjalanan memakan waktu sekitar 1-2 jam tergantung kecepatan Elf (sering ngetem menunggu penumpang atau tidak). Ongkos dan waktu tempuh juga hampir sama jika menempuh dari Tasikmalaya.</p>
<p>Jika dari Bandung, gunakan minibus kecil jurusan Bandung-Tasikmalaya. Namun tanyakan dulu apakah bus tersebut melewati Kampung Naga atau tidak.</p>
<p>Jalan berkelok menyusuri bukit adalah jalur yang kami lewati. Saking penuhnya Elf, beberapa penumpang bahkan sampai duduk di atas atap Elf. Saya ndak bisa membayangkan gimana rasanya berada di atap ketika Elf menukik dan berkelok menyusuri tepian jurang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/kampung-naga.jpg" alt="Gerbang Kampung Naga" title="Gerbang Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1426" /></p>
<p>Turun dari Elf, saya disambut oleh sebuah lapangan parkir beraspal dan gerbang bertuliskan &#8220;Selamat Datang di Kampung Naga&#8221;, serta sebuah tugu Kujang, senjata tradisional Sunda. Di seputaran tempat parkir sudah terdapat kios-kios penjual suvenir anyaman khas Tasikmalaya yang dibuat oleh penduduk Kampung Naga dan warung-warung makan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/memanggul-batu.jpg" alt="Seorang penduduk memanggul batu kali untuk dijual" title="Seorang penduduk memanggul batu kali untuk dijual" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1427" /></p>
<p>Untuk menuju ke Kampung Naga, cukup sulit. Saya harus menuruni anak tangga dengan sudut yang curam, mencapai sekitar 45&deg;. Walau anak tangga ini terbuat dari semen yang cukup bagus, bila tidak berhati-hati kita bisa saja terjatuh.</p>
<p>Apalagi tidak ada pagar yang bisa dipakai untuk pegangan, membuat pengunjung harus lebih berhati-hati.</p>
<p>Beberapa penduduk Kampung Naga tampak sedang mendaki naik untuk keluar dari Kampung Naga dan melakukan aktivitas di luar. Seorang bapak yang saya sapa bahkan sedang memanggul batu kali untuk dijual.</p>
<p>Separo perjalanan, dari jauh sudah terlihat deretan rumah berwarna putih beratap hitam menyembul dari kaki bukit dan sawah. Sungai Ciwulan dengan air deras berwarna kecoklatan yang mata airnya berasal dari Gunung Cikuray, Garut, mengapit desa.</p>
<p>Masyarakat Kampung Naga memang menggantungkan hidup dari pertanian dan sungai. Saya jadi teringat sejarah bahwa peradaban manusia lahir di lembah sungai.</p>
<p>Sebuah jalan semen nampak jelas menjadi jalan utama menuju gerbang masuk Kampung Naga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/jalan-kampung-naga.jpg" alt="Jalan utama menuju Kampung Naga" title="Jalan utama menuju Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1428" /></p>
<p>Masyarakat Kampung Naga yang berjumlah sekitar 100 kepala keluarga ini begitu kuat menaati aturan dan adat istiadat yang berlaku. Aturan ini mencakup banyak hal, mulai dari waktu dan tata cara kehidupan hingga pola arsitektur serta kebudayaan.</p>
<p>Mereka sangat mempercayai hal-hal mistis sehingga ada lokasi-lokasi yang dikeramatkan, antara lain hutan adat yang terletak di sebelah barat di mana di sana terdapat makam para leluhur mereka.</p>
<p>Banyak versi yang menceritakan sejarah Kampung Naga, namun tidak ada catatan resmi karena dokumen-dokumen sejarah kampung ini musnah ketika serangan pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.</p>
<p>Namun versi yang populer adalah pada masa kewalian Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang muridnya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah barat hingga mencapai daerah Neglasari (Kampung Naga sekarang).</p>
<p>Awalnya penduduk di sana memeluk agama Hindu yang berasal dari kerajaan Pajajaran, namun akhirnya memeluk agama Islam yang dibawa oleh Singaparana. Sembah Dalem Singaparana inilah yang kemudian menjadi leluhur dan sosok yang dihormati oleh masyarakat Kampung Naga.</p>
<p>Nama &#8220;Kampung Naga&#8221; sendiri diduga berasal dari kata &#8220;Kampung Nagawi&#8221;, yang kemudian lebih sering disebut dengan &#8220;Kampung Naga&#8221;.</p>
<p>Meski semua penduduk beragama Islam, namun tata cara peribadatan mereka berbeda dengan umat Islam pada umumnya. Misalnya, mereka melakukan sholat hanya pada hari Jumat. Juga beberapa hari besar agama Islam juga mereka terapkan yang diberi nama <em>Hajat Sasih</em>. Pengaruh Hindu masih kuat terasa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/rumah-kampung-naga.jpg" alt="Rumah-rumah di Kampung Naga" title="Rumah-rumah di Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1429" /></p>
<p>Rumah-rumah panggung berderet rapi memanjang dari barat ke timur. Setiap rumah menghadap ke utara atau selatan. Setiap rumah harus terbuat dari kayu, dengan dinding dari anyaman bambu, beratap ijuk atau daun nipah, dan dikapur dengan warna putih.</p>
<p>Perabotan rumah tangga semacam kursi dan meja tidak diperkenankan, apalagi peralatan elektronik seperti televisi, radio dan sebagainya. Bahkan mereka menolak pemasangan listrik di kampung mereka.</p>
<p>Di depan rumah biasanya terdapat semacam teras atau serambi kecil yang digunakan untuk melakukan aktivitas dan berinteraksi dengan sesama penduduk. Ketika saya datang, saya melihat sekelompok warga sedang memilah-milah semacam tanaman akar (herbal) yang diambil dari kebun.</p>
<p>Saya tidak mengetahui secara pasti akar apa yang mereka ambil, karena mereka berbicara dalam bahasa Sunda yang saya sama sekali tidak mengerti. Saya hanya mengira-ira saja apa arti dari jawaban mereka ketika saya tanya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/memilah-herbal.jpg" alt="memilah akar tanaman obat" title="memilah akar tanaman obat" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1430" /></p>
<p>Tanah liat dengan batu-batu yang disusun sedemikian rupa menjadi jalan dan tangga memberikan pengalaman menyusuri kampung menjadi lebih menarik. Menyelip di antara gang-gang sempit sembari menikmati kesunyian yang ditemani suara tongeret begitu menenangkan.</p>
<p>Mereka sepertinya sudah terbiasa dengan para wisatawan, sehingga mereka cenderung cuek dan tetap menjalani kehidupan seperti biasa ketika ada wisatawan yang berlalu-lalang di sekitarnya.</p>
<p>Menginap di kampung ini pun bisa, namun kita harus siap dengan segala konsekuensi, misalnya ketiadaan perabotan dan listrik yang biasanya menjadi keseharian kita plus kita harus mematuhi aturan dan pantangan yang berlaku.</p>
<p>Di setiap rumah tidak terdapat kamar mandi. Aktivitas MCK dilakukan di pemandian umum yang terdapat di bagian depan kampung yang dekat dengan sungai. Terdapat kolam-kolam di sekitar pemandian yang digunakan untuk beternak ikan. Kandang-kandang kambing dan sapi juga berada di depan sehingga tidak mengganggu perkampungan.</p>
<p>Di bagian paling atas terdapat sebuah lapangan dan masjid agung. Terdapat sebuah bedug unik yang terbuat dari sebatang kayu yang dilubangi tengahnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/masjid-kampung-naga.jpg" alt="Masjid Agung Kampung Naga" title="Masjid Agung Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1432" /></p>
<p>Selain dari pertanian, penduduk Kampung Naga juga membuat kerajinan anyam-anyaman dari akar-akar dan bambu untuk dijual. Banyak sekali produknya, antara lain tas, topi, gelang-gelang, kalung, hingga sandal.</p>
<p>Suvenir khas ini dijual di beberapa rumah dan bisa ditemukan di kios-kios suvenir di pelataran parkir. Saya tertarik dengan sebuah tas anyam-anyaman dari akar. Saya pun membelinya dengan harga 35 ribu rupiah di sebuah kios di samping masjid. Dengan membeli suvenir ini saya berharap bisa membantu ekonomi masyarakat lokal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/kerajinan-kampung-naga.jpg" alt="Suvenir kerajinan Kampung Naga" title="Suvenir kerajinan Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1431" /></p>
<p>Di beberapa sudut saya melihat anak-anak sedang bermain dengan riang dengan menggunakan bola. Sementara di sudut lain saya melihat beberapa anak sedang belajar di teras rumah.</p>
<p>Karena tata letak rumah yang berundak di kaki lembah, saya sering menemukan ayam-ayam peliharaan penduduk sedang asyik nongkrong di atap rumah. Kandang-kandang ayam biasanya diletakkan di bagian bawah rumah.</p>
<p>Puas menikmati suasana, saya pun meninggalkan kampung ini. Saya dengan susah payah dan terengah-engah melahap tanjakan curam.</p>
<p>Penduduk yang dengan santai meniti <em>sengked</em> (anak tangga) terlihat senyum-senyum melihat tampang saya yang kelelahan ketika beristirahat sejenak.</p>
<p>Foto-foto lain bisa dilihat di <a href="http://www.flickr.com/photos/zamroni/sets/72157622892390068/" title="Kampung Naga" target="_blank">halaman Flickr saya</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kampung-naga-kampung-yang-masih-memegang-tradisi-leluhur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 22:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1290</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Juni merupakan bulan ulang tahun Jakarta. Biasanya banyak acara yang diadakan untuk menyambut ulang tahun Jakarta ini. Acara tahunan yang biasanya diadakan adalah Jakarta Fair yang diselenggarakan di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Bila bosan dengan acara Jakarta Fair yang itu-itu saja, ada sebuah tempat wisata alternatif untuk melihat lebih dekat kebudayaan asli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/rumah-betawi.jpg" alt="Perkampungan Budaya Betawi" title="Perkampungan Budaya Betawi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1294" /></p>
<p>Bulan Juni merupakan bulan ulang tahun Jakarta. Biasanya banyak acara yang diadakan untuk menyambut ulang tahun Jakarta ini. Acara tahunan yang biasanya diadakan adalah <a href="http://www.jakartafair.biz/" title="Jakarta Fair" target="_blank">Jakarta Fair</a> yang diselenggarakan di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran.</p>
<p>Bila bosan dengan acara Jakarta Fair yang itu-itu saja, ada sebuah tempat wisata alternatif untuk melihat lebih dekat kebudayaan asli Betawi, yaitu Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan, yang terletak di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.</p>
<p><span id="more-1290"></span>Situ Babakan sendiri sebenernya nama sebuah danau buatan yang luasnya mencapai 32 hektar. Namun karena letak perkampungan ini sangat dekat dengan danau ini, orang lebih mengenal perkampungan ini dengan nama Situ Babakan.</p>
<p>Lokasi yang diresmikan menjadi kawasan wisata cagar budaya pada bulan Desember 2001 ini menggantikan perkampungan Betawi di Condet, Jakarta Timur, yang tergerus zaman.</p>
<p>Di kawasan ini kita bisa melihat kehidupan masyarakat Betawi asli lengkap dengan tradisi dan keseniannya, mulai dari bentuk arsitektur rumah, makanan khas, hingga kesenian ada semua di sini.</p>
<p>Saya menuju ke kawasan ini dengan menggunakan bus Kopaja S.616 jurusan Blok M-Pasar Minggu-Cipedak dan turun tepat di gerbang utama yang diberi nama Gerbang Bang Pitung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/gerbang-bang-pitung.jpg" alt="Gerbang I Bang Pitung" title="Gerbang I Bang Pitung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1295" /></p>
<p>Dari pintu gerbang ini saya berjalan kaki melalui jalan Moh. Kahfi II yang berpaving-blok sejauh kurang lebih 300 meter untuk mencapai danau, kemudian dilanjutkan dengan berjalan lagi sejauh 300 meter dari danau untuk mencapai Perkampungan Budaya Betawi.</p>
<p>Rumah-rumah di sekitar tempat ini sebagian besar berarsitektur Betawi. Memang ada aturan kepada warga di sini untuk membentuk rumahnya dengan arsitektur Betawi. Bahkan ketika saya mampir di masjid At-Taubah untuk melakukan sholat, saya terkagum-kagum dengan arsitektur masjid yang juga bercorak Betawi.</p>
<p>Mungkin karena akhir pekan, kawasan ini sangat ramai. Motor yang kebanyakan berisi pasangan muda-mudi banyak lalu lalang. Di lapangan tanah saya melihat anak-anak kecil sedang bermain sepak bola seperti melontarkan saya ke sisi lain Jakarta yang lebih membumi.</p>
<p>Saya pun mencapai danau. Wuih, rame banget! Para pengunjung pun terlihat asyik menikmati pemandangan danau yang bersih ini. Di tengah danau rupanya ada orang sedang bermain kano dan di pinggir-pinggir danau tampak beberapa orang sedang memancing.</p>
<p>Pengunjung juga bisa menyewa perahu bebek yang harus dikayuh untuk menggerakannya. Ongkosnya lima ribu rupiah per orang.</p>
<p>Berbagai makanan dan jajanan khas Betawi banyak dijajakan di sini. Hampir setiap 5 meter saya menemukan penjual Kerak Telor. Selain Kerak Telor, makanan lain yang bisa dijumpai adalah Soto Betawi, Bir Pletok, Roti Buaya, Dodol Betawi, dan lain sebagainya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/penjual-kerak-telor.jpg" alt="Penjual kerak telor" title="Penjual kerak telor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1293" /></p>
<p>Konon Roti Buaya merupakan salah satu syarat makanan yang harus ada pada upacara penganten Betawi. Buaya sendiri merupakan hewan yang paling setia. Mungkin sikap kesetiaan inilah yang disimbolkan dalam Roti Buaya yang disuguhkan pas acara penganten. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selain makanan, saya juga menemukan penjual suvenir lucu dan unik. Kaos-kaos bergaya Betawi dan bergambar wajah legenda Betawi, alamarhum Benyamin S. juga dijual di sini. Lantunan lagu <em>Kompor Mleduk</em> yang dinyanyikan Bang Ben lantang terdengar dari VCD player yang diputar dari lapak penjual VCD lagu-lagu Bang Ben.</p>
<p>Untuk masuk kawasan ini gratis, hanya saja bagi pengguna motor akan diminta membayar biaya parkir sebesar seribu rupiah.</p>
<p>Sayang sekali jalanan paving blok hanya berakhir hingga ke danau. Mungkin jalan menuju ke kawasan perkampungan budaya ini masih dalam tahap pembangunan karena ketika saya ke sana, jalanan masih rusak berbatu.</p>
<p>Ndak berapa lama, saya pun sampai di gerbang perkampungan budaya. Sebuah tangga pendek dengan sebuah gerbang menyambut saya. Di sekitar gerbang nampak beberapa pemuda berpakaian hitam-hitam plus peci dengan berkalung kain sarung di leher ala si Pitung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/gerbang-kampung.jpg" alt="Gerbang perkampungan budaya" title="Gerbang perkampungan budaya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1296" /></p>
<p>Ada beberapa rumah yang berada di kompleks ini. Semuanya bercorak Betawi modern, karena rumah asli Betawi semua terbuat dari kayu, sedangkan rumah Betawi modern sudah menggunakan semen.</p>
<p>Rumah-rumah Betawi ini sebenernya ndak jauh berbeda dengan rumah Joglo. Rumah-rumah ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu wilayah publik (beranda untuk menerima tamu), wilayah semi publik (ruang keluarga), dan wilayah privat (kamar tidur dan dapur).</p>
<p>Ciri masyarakat Betawi yang terbuka dan gemar bergaul dituangkan dalam bentuk beranda rumah yang dipakai untuk menerima tamu. Seperangkat meja-kursi kecil nampak tertata rapi di beranda. Di beberapa rumah nampak juga sebuah lincak lebar yang kadang juga dipakai untuk menerima tamu, umumnya tamu yang sudah dekat semacam kerabat.</p>
<p>Duduk di atas lincak ini mengingatkan saya adegan Bang Benyamin yang suka tiduran di atas lincak bambu di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/lincak-betawai.jpg" alt="Lincak Betawi" title="Lincak Betawi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1291" /></p>
<p>Karena semua rumah yang ada di kompleks ini adalah rumah pribadi, saya ndak dapat masuk lebih ke dalam dan cuma bisa masuk sampai beranda.</p>
<p>Bila memperhatikan, pola-pola ornamen dan hiasan yang ada di rumah-rumah Betawi ini sangat terpengaruh dari berbagai corak, yaitu Arab, Portugis, Cina dan Belanda.</p>
<p>Bentuk pintu dan jendela berdaun sirip-sirip horisontal merupakan pola khas yang ada di rumah Betawi. Daun jendela yang dibuka ke samping kanan-kiri dengan teralis kayu bulat bertirai separo di bagian dalam, selalu ada di samping kanan dan kiri rumah.</p>
<p>Di beberapa rumah yang memiliki halaman cukup luas, berbagai pohon buah yang tumbuh di halaman juga menjadi ciri khas rumah Betawi. Pohon belimbing, nangka, rambutan, melinjo, duku, kecapi, jambu air, bisa ditemui di beberapa halaman rumah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/nemplok.jpg" alt="Nemplok di pohon belimbing" title="Nemplok di pohon belimbing" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1292" /></p>
<p>Sayang sekali, saya melihat beberapa motor nampak parkir seenaknya sehingga menggangu kerapihan yang ada. </p>
<p>Di kawasan ini terdapat sebuah panggung yang sering dipakai untuk pertunjukkan seni, mulai dari tari-tarian, pencak silat, Lenong, Gambang Kromong, dan Topeng Betawi, setiap hari Minggu jam 2 siang sampai jam 5 sore. Pada hari-hari tertentu, wisatawan juga bisa melihat latihan tari anak-anak dan remaja.</p>
<p>Karena saya datang kesorean, saya kelewatan berbagai acara seni yang menarik tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Pada bulan-bulan tertentu, terutama bulan Juli, wisatawan bisa melihat ritual budaya seperti upacara pernikahan, akekahan, sunatan, khataman Quran, dan sebagainya.</p>
<p>Perkampungan ini juga terbuka bagi wisatawan yang hendak menginap dan merasakan kehidupan masyarakat Betawi. Ada sekitar 67 homestay (rumah penduduk) yang siap ditinggali wisatawan. Bahkan pada bulan Ramadhan, wisatawan juga bisa merasakan suasana berpuasa hingga Lebaran di kampung ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/lompat.jpg" alt="Perkampungan Budaya Betawi keren!" title="Perkampungan Budaya Betawi keren!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1297" /></p>
<p>Namun ada satu hal yang menjadi pemikiran saya. Mengingat lokasi yang cukup &#8220;terpencil&#8221; ini, apakah ini menandakan bahwa masyarakat Betawi mulai &#8220;tersingkir&#8221; dari kawasan pusat Kota Jakarta yang makin dipadati oleh pendatang, sehingga harus &#8220;dikumpulkan&#8221; di suatu kawasan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 14:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[grebeg]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html</guid>
		<description><![CDATA[Acara Sekaten yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW diakhiri dengan acara Grebeg Maulud. Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan. Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/gunungan1.jpg" alt="Abdi Dalem membawa Gunungan Jaler" title="Abdi Dalem membawa Gunungan Jaler" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1186" /></p>
<p>Acara Sekaten yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW diakhiri dengan acara Grebeg Maulud.</p>
<p>Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan.</p>
<p><span id="more-658"></span>Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau sering disebut dengan Grebeg Sekaten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad.</p>
<p>Menilik sejarah, kata &#8220;grebeg&#8221; berasal dari kata &#8220;gumrebeg&#8221; yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh.</p>
<p>Gunungan pun memiliki makna filosofi tertentu. Gunungan yang berisi hasil bumi (sayur dan buah) dan jajanan (rengginang) ini merupakan simbol dari kemakmuran yang kemudian dibagikan kepada rakyat.</p>
<p>Pada upacara grebeg ini, gunungan yang digunakan bernama Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (perempuan), serta Gepak dan Pawuhan.</p>
<p>Gunungan ini dibawa oleh para abdi dalem yang menggunakan pakaian dan peci berwarna merah marun dan berkain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengah lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa menggunakan alas kaki alias <em>nyeker</em>.</p>
<p>Gunungan diberangkatkan dari Kori Kamandungan dengan diiringi tembakan salvo dan dikawal sepuluh bregada prajurit kraton sekitar pukul 10 siang.</p>
<p>Dari Kamandungan, gunungan dibawa melintasi Sitihinggil lalu menuju Pagelaran di alun-alun utara untuk diletakkan di halaman Masjid Gedhe dengan melewati pintu regol.</p>
<p>Saat berangkat dari kraton, barisan terdepan adalah prajurit Wirabraja yang sering disebut dengan prajurit lombok abang karena pakaiannya yang khas berwarna merah-merah dan bertopi Kudhup Turi berbentuk seperti lombok.</p>
<p>Sebagai catatan, prajurit Wirabraja memang mempunyai tugas sebagai &#8220;cucuking laku&#8221;, alias pasukan garda terdepan di setiap upacara kraton.</p>
<p>Kemudian ketika acara serah terima gunungan di halaman Masjid Gedhe, prajurit yang mengawal adalah prajurit Bugis yang berseragam hitam-hitam dengan topinya yang khas serta prajurit Surakarsa yang berpakaian putih-putih.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/surakarsa-bugis.jpg' alt='Prajurit Surakarsa dan Bugis' /></p>
<p>Setelah gunungan diserahkan kepada penghulu Masjid Gede untuk kemudian didoakan oleh penghulu tersebut, gunungan pun dibagikan.</p>
<p>Namun belum selesai doa diucapkan, gunungan pun sontak direbut oleh masyarakat yang datang dari seluruh penjuru Jogja. Yang memprihatinkan, banyak sekali nenek-nenek yang ikut berebut gunungan.</p>
<p>Memang ada kepercayaan dari masyarakat bahwa barangsiapa yang mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapat berkah.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/rayah-gunungan.jpg' alt='Masyarakat berebut Gunungan Jaler' /></p>
<p>Filosofi berebut atau &#8220;ngrayah&#8221; ini menggambarkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan, manusia harus &#8220;ngrayah&#8221; atau berusaha untuk mengambilnya.</p>
<p>Bahkan beberapa warga masih terlihat mengais sisa-sisa yang ada. Seorang mbah-mbah yang berasal dari Bantul mengatakan bahwa potongan kacang panjang yang didapatnya akan dia simpan untuk mendatangkan keamanan dan ketentraman di rumahnya.</p>
<p>Seorang pemuda yang hanya mendapatkan bambu-bambu sisa rangka gunungan berkata akan menyimpan bambu tersebut dalam gerobak mi ayamnya dengan tujuan untuk penglaris.</p>
<p>Acara rebutan gunungan inilah yang biasanya menjadi daya tarik para wisatawan, baik domestik maupun asing.</p>
<p>Di sekitar, banyak wartawan dari media elektronik maupun para fotografer dengan kamera berlensa pralon bertebaran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Fred, seorang turis asal Austalia yang saya tanya nampak antusias dan berkata, &#8220;it&#8217;s amazing! it&#8217;s beyond of my expectation..&#8221;, sambil menenteng kamera videonya.</p>
<p>Duh, saya ngiler sama bule cewek di sebelahnya yang pakaiannya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Dengan berakhirnya acara Grebeg Maulud ini, usai sudah acara perayaan Maulud Nabi Muhammad yang diwujudkan dalam acara Sekaten.</p>
<p>Baca juga: <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/19/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html" title="Tradisi-Tradisi Acara Sekaten">Tradisi-Tradisi Acara Sekaten</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tradisi-Tradisi Acara Sekaten</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 12:35:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/19/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta. Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten. Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/kondur-gangsa1.jpg" alt="Prosesi Kondur Gangsa" title="Prosesi Kondur Gangsa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1187" /></p>
<p>Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta. </p>
<p>Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten.</p>
<p><span id="more-654"></span>Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga (kalo di Solo adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) pada tanggal 5 bulan Mulud, seminggu sebelum Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Mulud Tahun Jawa.</p>
<p>Sekitar pukul 23.00, gamelan kraton dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, di Bangsal Sri Manganti lalu disinggahkan di Bangsal Ponconiti yang kemudian dengan pengawalan para prajurit kraton, dibawa ke halaman Masjid Agung.</p>
<p>Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di Pagongan Lor (utara) sedangkan Kyai Naga Wilaga diletakkan di Pagongan Kidul (selatan) halaman Masjid Agung. Prosesi ini disebut dengan upacara Mios Gangsa.</p>
<p>Selama sepekan, gamelan ini dibunyikan setiap hari, kecuali pada hari Kamis malam dan hari Jumat. Karena prosesi Mios Gangsa pada Sekaten tahun ini jatuh pada hari Kamis, maka gamelan ini ndak dibunyikan hari itu.</p>
<p>Gending-gending yang dimainkan memiliki nuansa magis yang kental. Menggunakan laras pelog namun berbeda dengan pelog biasa, gamelan ini dibunyikan dengan cara yang berbeda.</p>
<p>Seperangkat gamelan ini hanya terdiri atas bonang, saron, dan gong. Ndak seperti seperangkat gamelan lengkap lainnya.</p>
<p>Kalo menilik sejarah, tradisi ini diawali oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan gamelan ini sebagai media dakwah. Untuk menarik perhatian masyarakat, Sunan Kalijaga memainkan gamelan ini dan ketika warga sudah berkumpul, Sunan Kalijaga memberikan pengajian.</p>
<p>Selama Sekaten berlangsung, memang di Masjid Gede setiap hari diadakan pengajian di sela-sela tabuhan gamelan.</p>
<p>Di sekitar halaman masjid banyak dijumpai para penjual kinang, telor merah, pecut, dan nasi gurih. Ada tradisi unik yang mendasari kenapa banyaknya penjual benda-benda ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/penjual-kinang.jpg' alt='Penjual Kinang' /></p>
<p>Masyarakat percaya jika kita mendengar gamelan ini ditabuh, kemudian kita <em>nginang</em> (mengunyah daun sirih, gambir, tembakau, dan kapur) maka dipercaya kita akan awet muda dan mendapat berkah.</p>
<p>Ada kepercayaan kalo setelah nginang bibir dan gigi kita tidak berwarna merah, berarti kita sering bohong.</p>
<p>Selain tradisi nginang, ada tradisi membeli dan makan <em>sega gurih</em> (nasi gurih alias nasi uduk).</p>
<p>Tradisi ini adalah simbol bahwa kita mensyukuri apa-apa yang sudah kita dapatkan. Dengan makan nasi yang sudah diberi bumbu, diharapkan kehidupan kita akan semakin nikmat, seperti rasa nasi yang kita makan.</p>
<p>Ada pula tradisi membeli <em>endog abang</em> alias telur merah. Telur ini adalah telur rebus biasa yang kulitnya diberi warna merah. Telur ini kemudian ditusuk dengan menggunakan tusuk sate yang kemudian dihias.</p>
<p>Kalo di Solo, namanya <em>endog amal</em>, yaitu telor asin. Endog amal maksudnya agar kita menjadi orang yang suka beramal.</p>
<p>Telur adalah cikal bakal kehidupan. Sedangkan warna merah artinya keberuntungan, rejeki, berkah, dan keberanian.</p>
<p>Jadi diharapkan dengan memakan telur ini, kita bisa kembali lahir menjadi seseorang yang berjiwa bersih, pemberani, dan penuh keberkahan.</p>
<p>Sedangkan tusuk sate melambangkan bahwa kita semua memiliki poros kehidupan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Pecut juga banyak dijual di tempat ini. Pecut adalah alat yang digunakan untuk menggiring ternak agar berjalan pada jalan yang benar. Nah, makna membeli pecut di tempat ini adalah diharapkan kita bisa menggiring nafsu kita supaya berjalan ke jalan yang benar.</p>
<p>Sebelum upacara pengembalian gamelan ini ke Bangsal Sri Manganti dilaksanakan, di dalam serambi Masjid Agung diadakan acara pembacaan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Jawa.</p>
<p>Pembacaan riwayat ini dihadiri oleh Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwana X beserta keluarga dan abdi dalem.</p>
<p>Sekitar pukul 22.30, pembacaan riwayat Nabi selesai. Para pasukan bersiap, dan Ngarso Dalem pun berjalan keluar masjid untuk kembali ke kraton dengan diiringi para prajurit Wirabraja, yang sering disebut dengan pasukan lombok abang karena seragamnya mirip lombok ini, sebagai cucuk lampah.</p>
<p>Setelah Ngarsa Dalem kembali, gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pun kemudian diangkat dan kemudian dikembalikan. Prosesi pengembalian ini disebut dengan Kondur Gangsa.</p>
<p>Besok pagi, puncak perayaan Maulid Nabi akan berlangsung, yaitu Grebeg Sekaten, yang dilakukan di halaman Masjid Agung juga.</p>
<p>Baca juga: <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html" title="Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten">Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ombak Banyu: Carousel Ekstrim Bertenaga Manusia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/ombak-banyu-carousel-ekstrim-bertenaga-manusia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/ombak-banyu-carousel-ekstrim-bertenaga-manusia.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 07:33:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/26/ombak-banyu-carousel-ekstrim-bertenaga-manusia.html</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat banyak jenis permainan yang ada di pasar malam Sekaten. Uniknya, hampir semuanya ndak dilengkapi dengan sistem pengaman yang memadai. Salah satunya adalah permainan yang dinamakan Ombak Banyu. Sebuah permainan semacam Carousel namun digerakkan dengan tenaga manusia dan tentunya tanpa pengaman yang memadai. Masih di acara Seks Mami, kami yang berkeliling di area pasar malam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/ombak-banyu1.jpg" alt="Ombak Banyu" title="Ombak Banyu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1193" /></p>
<p>Terdapat banyak jenis permainan yang ada di pasar malam Sekaten. Uniknya, hampir semuanya ndak dilengkapi dengan sistem pengaman yang memadai.</p>
<p>Salah satunya adalah permainan yang dinamakan Ombak Banyu. Sebuah permainan semacam Carousel namun digerakkan dengan tenaga manusia dan tentunya tanpa pengaman yang memadai.</p>
<p><span id="more-640"></span>Masih di acara <a href="http://wiki.cahandong.org/Seks_Mami" title="main Seks sama Mami?" target="_blank">Seks Mami</a>, kami yang berkeliling di area pasar malam langsung tertegun  ketika menyaksikan permainan ini.</p>
<p>Para <acronym title="kira-kira ada kata lain yang lebih pas?">penumpang</acronym> naik dan duduk di atas sebuah papan lingkaran besar berukuran sekitar 5 meter. Tinggi tempat duduk dengan tanah sekitar 1&#0189; meter.</p>
<p>Setelah semua penumpang naik, Ombak Banyu pun mulai dimainkan. Beberapa pemuda berusia belasan mengitari daerah luar lingkaran dan mulai menggerakkan permainan ini.</p>
<p>Tiada pengaman apa pun kecuali hanya tangan para penumpang yang berpegangan dan dikaitkan ke sandaran di belakang.</p>
<p>Kecepatan pun makin lama makin bertambah cepat. Jeritan dan teriakan pun terdengar menggema di antara dentuman lagu dangdut-ajeb-ajeb yang diputar.</p>
<p>Beberapa kali para pemuda tersebut mengayun lingkaran yang berputar ini sehingga menimbulkan semacam &#8220;ombak&#8221; ketika berputar.</p>
<p>Ndak jarang, para <acronym title="halah!">pemuda penggerak</acronym> ini melakukan aksi akrobatik ketika mengayun lingkaran ini.</p>
<p>Sekitar 5 menit permainan ini dimainkan. Permainan berhenti ketika lingkaran berhenti berputar dengan sendirinya.</p>
<p>Setelah kecepatan melambat, para penumpang pun turun dengan cara &#8220;meloncat&#8221; dari tempat duduk yang telah direndahkan oleh para pemuda penggerak tadi.</p>
<p>Padahal ketika naik, para penumpang ini menggunakan tangga yang uniknya ditahan dengan tangan oleh para pemuda penggerak. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Penasaran bagaimana permainan ini? Simak melalui video yang saya rekam berikut di <a href="http://www.youtube.com/watch?v=tfxWXsDxwxU" title="Dangerously Carousel" target="_blank">Youtube saya</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/ombak-banyu-carousel-ekstrim-bertenaga-manusia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tong Setan: Aksi Motor Ekstrim Menguji Nyali</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/tong-setan-aksi-motor-ekstrim-menguji-nyali.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/tong-setan-aksi-motor-ekstrim-menguji-nyali.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 09:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/24/tong-setan-aksi-motor-ekstrim-menguji-nyali.html</guid>
		<description><![CDATA[Pasar malam Sekaten yang setiap tahun diadakan di Jogja dan Solo mempunyai ciri khas yang menarik. Ndak hanya dari sisi tradisi dan budaya, sisi kuliner dan hiburannya pun begitu unik dan khas. Setiap tahun ragam corak kuliner dan hiburannya pun berubah, walau tetap ada beberapa hal yang selalu ada. Salah satu hiburan yang ada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/tong-setan1.jpg" alt="Aksi Tong Setan" title="Aksi Tong Setan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1194" /></p>
<p>Pasar malam Sekaten yang setiap tahun diadakan di Jogja dan Solo mempunyai ciri khas yang menarik.</p>
<p>Ndak hanya dari sisi tradisi dan budaya, sisi kuliner dan hiburannya pun begitu unik dan khas. Setiap tahun ragam corak kuliner dan hiburannya pun berubah, walau tetap ada beberapa hal yang selalu ada.</p>
<p>Salah satu hiburan yang ada di pasar malam Sekaten adalah Tong Setan. Pertunjukan motor ekstrim yang menguji nyali baik si pelaku dan si penonton.</p>
<p><span id="more-638"></span>Semasa kecil, saya pernah diajak bapak saya untuk menonton pertunjukan ini. Saat itu saya bener-bener kagum dan heran, bagaimana bisa sebuah motor dikendarai secara vertikal berkeliling di dalam tong besar?</p>
<p>Pas acara <a href="http://wiki.cahandong.org/Seks_Mami" title="Seks bareng Mami?" target="_blank">Seks Mami</a> kemarin, saya mengalami nostalgia kembali. Menonton pertunjukan yang saya yakin di negara lain ndak akan ada.</p>
<p>Dalam melakukan aksinya, penonton dan pelaku dituntut untuk menguji nyali dan mempertaruhkan jiwa. Kok bisa?</p>
<p>Bayangkan saja, standar keamanannya begitu minimalis. Si pengendara motor ndak menggunakan helm atau perangkat pengaman apa pun.</p>
<p>Penonton pun demikian, pengaman yang ada hanya seutas tali yang membatasi &#8220;panggung&#8221; pertunjukan.</p>
<p>Di negara lain, tentu aksi pertunjukan macam ini akan dilarang karena membahayakan jiwa. Ah, orang Indonesia ini memang hebat (dan nekat)! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Namun demikian, ini tak menyurutkan niat kami untuk menonton aksi ini. Kapan lagi dan di mana lagi kita bisa menyaksikan ini?</p>
<p>Aksi pertunjukan yang dilakukan selama kurang lebih 15 menit ini begitu luar biasa.</p>
<p>Si pengendara motor dengan menggunakan sepeda motor Yamaha RX-King yang telah dimodifikasi melakukan aksi dengan berjalan mengelilingi tong berdiameter sekitar 3 meter dan tinggi 4 meter.</p>
<p>Motor yang digunakan dipilih untuk mendapatkan akselerasi yang maksimal. Dengan memainkan kopling dan gas dengan teknik tertentu, motor dengan mudah akan melaju.</p>
<p>Gaya sentrifugal dan sentripetal benar-benar bermain di dalam aksi ini untuk melawan gaya gravitasi. Hoho, fisika banget!</p>
<p>Selama aksinya, si pelaku juga melakukan aksi-aksi akrobatik. Mulai dari mengambil duit saweran yang diacungkan oleh penonton, hingga mengendarai motor tanpa tangan dan berdiri.</p>
<p>Suara mesin motor yang memekakkan telinga semakin menambah sensasi adrenalin kami ketika menyaksikan aksi ini selain &#8220;panggung&#8221; tempat kami berdiri bergoyang-goyang ketika motor melintas di depan kami.</p>
<p>Kami ndak berani membayangkan bila saja &#8220;panggung&#8221; ini tiba-tiba roboh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_nailbiting.gif' alt='&#58;&#45;&#83;&#83;' class='wp-smiley' width='36' height='18' title='&#58;&#45;&#83;&#83;' /></p>
<p>Nah, bagi yang penasaran dengan aksi ini, kebetulan saya sudah merekamnya. Yang pengen noton bisa lihat di <a href="http://www.youtube.com/watch?v=Og_V0HSIT6Q" title="Tong Setan" target="_blank">Youtube saya</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/tong-setan-aksi-motor-ekstrim-menguji-nyali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Potehi, Wayang Cina yang Berakulturasi</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 04:26:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/10/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html</guid>
		<description><![CDATA[Suara tabuhan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu bertalu-talu menggaung di lorong jalan Kampung Ketandan. Harmoni suaranya mengundang para penonton untuk berkumpul di depan sebuah kotak berbentuk seperti gerobak penjual rokok yang berwarna merah. Pagelaran Wayang Potehi (Po Tay Hie) akan segera dimulai. Penonton pun berkumpul untuk menyaksikan cerita apa yang akan ditampilkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/wayang-potehi1.jpg" alt="Wayang Potehi" title="Wayang Potehi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1197" /></p>
<p>Suara tabuhan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu bertalu-talu menggaung di lorong jalan Kampung Ketandan.</p>
<p>Harmoni suaranya mengundang para penonton untuk berkumpul di depan sebuah kotak berbentuk seperti gerobak penjual rokok yang berwarna merah.</p>
<p>Pagelaran Wayang Potehi (Po Tay Hie) akan segera dimulai. Penonton pun berkumpul untuk menyaksikan cerita apa yang akan ditampilkan malam itu.</p>
<p><span id="more-630"></span>Itulah salah satu sudut suasana yang tergambar di Pekan Budaya Tionghoa 2008 yang berlangsung di Kampung Ketandan, Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Yogyakarta, yang merupakan lokasi pertama perkembangan etnis Tionghoa di Jogja.</p>
<p>Acara ini merupakan acara tahunan yang mulai diadakan kembali sejak tahun 2006 setelah pada masa orde baru, kesenian macam begini dilarang.</p>
<p>Bersama <a href="http://wiki.cahandong.org/Antobilang" title="Antobilang" target="_blank">Anto</a>, <a href="http://wiki.cahandong.org/Leksa" title="Leksa" target="_blank">Leksa</a>, <a href="http://wiki.cahandong.org/Gunawan" title="Goen" target="_blank">Gunawan</a>, <a href="http://wiki.cahandong.org/Funkshit" title="Funkshit" target="_blank">Funkshit</a>, dan tamu dari Surabaya, si <a href="http://andibagus.com/" title="Cempluk" target="_blank">Cempluk</a>, kami mengunjungi acara yang selain berisi penampilan kesenian Cina, juga digelar bazar ini.</p>
<p>Acara yang digelar tiap malam pada tanggal 7-11 Februari 2008 mulai pukul 17.00 hingga 23.00 ini menampilkan berbagai kesenian macam Musik Pek Bum, Atraksi Naga Barongsai, Pameran Budaya Tionghoa, dan yang menarik buat saya adalah Wayang Po Tay Hie.</p>
<p>Wayang Po Tay Hie sendiri sebetulnya milik suku bangsa Hokkian. Wayang ini berasal dari distrik Quanzhou di Provinsi Fu Jian, yang kemudian dibawa oleh para imigran Cina ke Indonesia sekitar abad 16 hingga abad 19.</p>
<p>Makanya ndak semua etnis Cina di Indonesia mengenal wayang ini. Apalagi semenjak masa orde baru, kesenian Cina macam begini dilarang.</p>
<p>Wayang Po Tay He juga bisa menjadi simbol pembebasan. Meskipun dikekang, wayang ini terus berkembang dan akhirnya bisa bebas dimainkan.</p>
<p>Ini tak lepas dari asal mula wayang ini. Konon Wayang Po Te Hie dimainkan pertama kali ketika Dinasti Tiu Ong berkuasa sekitar 3.000 tahun yang lalu. </p>
<p>Ceritanya, kaisar saat itu ndak berperikemanusiaan dan ndak segan-segan menghukum mati warganya. Ada lima orang yang divonis mati, tapi salah seorang di antaranya sangat tabah dan mengajak keempat rekannya bergembira selama di dalam tahanan.</p>
<p>Mereka kemudian menggunakan tutup panci sebagai Kecer, bambu tangkai sepatu sebagai seruling, panci bekas berbunyi &#8220;tong&#8221;, yang kemudian dibunyikan bersama-sama, menghasilkan suara merdu.</p>
<p>&#8220;Si tabah&#8221; menggunakan kain bekas yang diikat berbentuk kepala dan ujung kain diikat sebagai badan lalu memainkannya sebagai wayang untuk menghibur diri mereka.</p>
<p>Kaisar Tiu Ong akhirnya membebaskan kelima orang itu setelah mendengar bunyi-bunyian merdu dan melihat penampilan wayang tersebut.</p>
<p>Sejak saat itu, kelima orang itu mendirikan paguyuban Wayang Po Tay Hie, yang diambil dari kata-kata &#8220;Po&#8221; berarti &#8220;kain&#8221;, &#8220;Tay&#8221; berarti &#8220;kantong&#8221;, dan &#8220;Hie&#8221; berarti wayang.</p>
<p>Wayang ini mirip dengan wayang golek yang ada di Indonesia, namun uniknya wayang ini memiliki kaki.</p>
<p>Biasanya cerita yang dibawakan menceritakan cerita klasik Cina yang populer, macam &#8220;Shi Jin Kwi&#8221; (menaklukkan Kerajaan See Liang Kok), &#8220;Poei Sie Giok&#8221; (yang membela suku bangsa dengan mengadu kemampuan di atas panggung Lui Tay), &#8220;Jhi Gu Nau Tong Tiauw&#8221; (dua siluman kerbau membuat huru-hara di Kerajaan Tay Tong Tiaw), &#8220;Kho Han Bun&#8221; (jatuh cinta pada siluman ular putih di Danau Si Hu), dan berbagai ajaran kebajikan sesuai ajaran Khong Hu Cu.</p>
<p>Cerita-cerita ini ketika sampai di Indonesia kemudian diterjemahkan dan diakulturasi. Beberapa nama tokohnya pun kemudian &#8220;disesuaikan&#8221; seperti misalnya cerita &#8220;Shi Jin Kwi&#8221; yang pernah dimainkan dalam bahasa Jawa oleh Ketoprak Cokro Ijo Yogyakarta.</p>
<p>Semua nama tokoh diubah ke dalam bahasa Jawa. Misalnya, Kerajaan &#8220;Tai Tong Tiaw&#8221; diubah menjadi &#8220;Kerajaan Tanjung Anom&#8221;, &#8220;Kaisar Li Sie Bin&#8221; menjadi &#8220;Prabu Li San Puro&#8221;, Jenderal Perang &#8220;Shi Jin Kwi&#8221; menjadi Jenderal &#8220;Joko Sudiro&#8221;, putra &#8220;Sie Teng San&#8221; menjadi &#8220;Sutrisno&#8221;, dan istrinya &#8220;Wan Lie Hwa&#8221; menjadi &#8220;Warianti&#8221;.</p>
<p>Malam itu cerita yang dimainkan adalah cerita &#8220;Shi Jin Kwi&#8221; tersebut. Alkisah, Kaisar Lie Sie Bin yang memerintah Kerajaan Tai Tong Tiaw menerima surat tantangan dari So Pu Tong, penguasa negeri tetangga See Liang Kok. Merasa terhina, Kaisar Lie pun murka. Dia mengirimkan pasukan dan perang hebat tak terhindarkan.</p>
<p>Uniknya, semua pemainnya merupakan etnis pribumi, alias orang Jawa. Dalangnya ada dua orang. Seorang memainkan wayang dengan menggunakan jari-jarinya dan seorang lagi bercerita menggunakan bahasa Cina yang kemudian disambung dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>&#8220;Crek.. Nong! Crek Crek.. Nong! Trok Tok Tok.. Creng.. Tong!&#8221;, begitulah suara musik yang muncul dari pukulan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/dalang-wayang-potehi.jpg' alt='Dalang Wayang Potehi' /></p>
<p>Pemain dan dalang wayang ini berada di dalam kotak berukuran sekitar 2&#215;2 meter. Tiga orang memainkan alat musik dan dua orang bermain sebagai dalang.</p>
<p>Cerita dimainkan selama kurang lebih 2 jam. Antusiasme penonton pun begitu besar. Tua-muda, Jawa-Cina, semua berbaur untuk menyaksikan wayang yang dulunya hanya dipakai untuk ritual ibadah ini.</p>
<p>Melihat ekspresi wajah anak-anak kecil yang menonton dengan antusias membuat saya tertarik. Bukan berarti saya pedofil, tapi melihat ekspresi mereka yang ndomblong membuat saya mengeluarkan kamera dan mengabadikan ekspresi wajahnya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/antusiasme-anak.jpg' alt='Ekspresi seorang anak yang menyaksikan wayang' class="alignright" /></p>
<p>Funkshit bilang kalo sejak saya jeprat-jepret anak itu, ibunya sudah ketar-ketir takut kalo anaknya bakal diganyang maniak pedofil! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_rotfl.gif' alt='&#61;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='30' height='18' title='&#61;&#41;&#41;' /></p>
<p>Walau kesenian ini merupakan kesenian Cina, namun justru yang memainkan dan melestarikannya malah orang-orang pribumi.</p>
<p>Inikah wujud akulturasi atau justru orang-orang keturunan Cina sudah enggan memainkan kebudayaannya?</p>
<p>Saya jadi teringat perkataan seorang reporter Trans7 ketika melakukan liputan di Klenteng Sam Poo Kong pas kami <a href="http://cahandong.org/2008/02/09/jeng-semawis.html" title="Jeng Semawis" target="_blank">ke Semarang</a> kemarin.</p>
<p>Sang reporter bilang kalo dia kesulitan menemukan etnis Tionghoa asli yang memainkan Barongsai. Semua pemain Barongsai yang dia temui justru berasal dari etnis Jawa.</p>
<p>Ke mana kah generasi muda Cina? Inikah wujud akulturasi atau &#8220;pembajakan budaya&#8221;? Entah lah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dontknow.gif' alt='&#58;&#45;&#63;&#63;' class='wp-smiley' width='40' height='18' title='&#58;&#45;&#63;&#63;' /></p>
<p>Yang penting menurut saya kesenian macam begini ini menarik dan layak dilestarikan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Sore Ramadhan, Kauman, Jogja</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 15:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/20/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html</guid>
		<description><![CDATA[Bosan dengan hidangan berbuka puasa yang itu-itu saja? Bingung nyari di mana menu untuk berbuka, bahkan sahur? Di Jogja, kita dapat dengan mudah menemukan pusat penjual makanan musiman, terutama di Bulan Ramadhan. Jalan Kaliurang, sekitar Kampus UGM, sekitar Kampus UNY, Jalan Godean, selalu dipenuhi para penjual menu berbuka. Tapi ada satu tempat unik dan bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/pasar-kauman1.jpg" alt="Pasar Sore Ramadhan Kauman" title="Pasar Sore Ramadhan Kauman" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1271" /></p>
<p>Bosan dengan hidangan berbuka puasa yang itu-itu saja? Bingung nyari di mana menu untuk berbuka, bahkan sahur?</p>
<p>Di Jogja, kita dapat dengan mudah menemukan pusat penjual makanan musiman, terutama di Bulan Ramadhan. Jalan Kaliurang, sekitar Kampus UGM, sekitar Kampus UNY, Jalan Godean, selalu dipenuhi para penjual menu berbuka.</p>
<p>Tapi ada satu tempat unik dan bisa menjadi alternatif tujuan berburu makanan untuk berbuka. Tempat itu adalah di Kampung Kauman, yang sering disebut dengan Pasar Sore Ramadhan Kauman.</p>
<p>Kali ini saya akan menjelajah surga dunia makanan Pasar Sore Ramadhan di Kauman untuk mencari menu yang unik dan menarik.</p>
<p><span id="more-392"></span>Kauman sendiri adalah salah satu daerah di lingkungan Kraton Yogyakarta di mana di situ berkumpul para alim ulama dan ahli agama. Organisasi Muhammadiyah yang dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan pun lahir di sini.</p>
<p>Kauman berasal dari kata &#8220;qoimuddin&#8221; yang kemudian karena lidah Jawa berubah jadi &#8220;pakauman&#8221; yang berarti orang-orang berilmu agama. Nama Kauman akhirnya menjadi lebih terkenal dan mudah dilafalkan. Selain di Jogja, kampung Kauman juga dikenal di Solo, Demak, Kudus, Semarang, Surabaya, dan Gersik.</p>
<p>Suasana santri begitu terasa begitu kita melangkahkan kaki, menelusuri lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah penduduk. Bangunan-bangunan tua berarsitektur jadul masih dapat kita temukan di sini.</p>
<p>Tak jarang suara lantunan ayat suci Al Quran terdengar samar-samar namun jelas menyeruak dari rumah-rumah penduduk. Apalagi bulan Ramadahan macam gini. Suasana religinya sangat terasa. Bila anda Eblis, dipastikan kepanasan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Namun, di balik suasana santri yang terasa, ada keriuhan lain ketika Ramadhan tiba. Di salah satu lorong Kauman, <strike>tepatnya di Jalan Nggerjen</strike> lorong Pasar Tiban (<a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/20/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html#comment-2237" title="keterangan dari Arnanto">menurut Arnanto</a>), berderet para ibu-ibu berjualan beraneka macam ragam makanan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Konon kegiatan ini sudah berlangsung selama lebih dari 2 dekade. Sekitar tahun 1973, ibu-ibu warga sekitar mulai merintis usaha dengan menyediakan makanan untuk menu berbuka puasa. Kemudian dalam perjalanannya, penjual di pasar sore ini ndak hanya dari Kampung Kauman, tapi dari luar juga ikut bergabung di pasar ini.</p>
<p>Berbagai macam makanan dijual di sini. Mulai dari jajan pasar tradisional, aneka es dan koktail, kolak, hingga lauk berat pun ada. Bahkan makanan-makanan tradisional yang jarang ditemukan pada hari-hari biasa pun ikutan nongkrong di pasar ini.</p>
<p>Saya pun menjelajah tiap meja stan. Berbagai menu makanan saya cermati benar-benar untuk mencari yang istimewa. </p>
<p>Weh, ada beberapa makanan yang sudah lama ndak saya temukan muncul. Carang Gesing, Jadah Manten, Semar Mendem, Nogosari, Jenang Sumsum, hingga Tahu Sumedang pun ada! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Tapi, eits, tunggu dulu! Mata penuh nafsu saya tak sengaja menatap dan terpaku pada sebentuk onggokan berwarna putih di sebuah meja stan. Usut punya usut, onggokan jajanan itu adalah Kicak, jajanan tradisional yang biasanya muncul cuma di bulan Ramadhan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/kicak.jpg' alt='Kricak, makanan khas Ramadhan' /></p>
<p>Kicak terbuat dari ketan yang dikukus kemudian dicampur dengan potongan nangka yang kemudian dilumuri parutan kelapa. Rasanya, gurih-gurih manis dan kenyal. Harganya cuma 1.500 rupiah per bungkus. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dari 48 meja penjaja yang berderet sepanjang kurang lebih 300 meter ini, saya cuma menemukan 2 stan saja yang menjual Kricak. Lainnya berisi jajanan pasar biasa, aneka minuman, hingga sayur dan lauk yang berat-berat. Padahal dulu, menurut <a href="http://arnanto.web.ugm.ac.id/" title="PriyayiSae" target="_blank">Arnanto</a> si anak Kauman, <strike>Kricak</strike> Kicak merupakan makanan yang menjadi menu andalan pasar ini.</p>
<p>Bila anda resah dengan penjual makanan yang kebanyakan mahasiswi yang cuma nongkrong ngabuburit sambil pura-puara jualan kolak yang penampilannya ndak mau kalah menggoda dengan dagangan yang dijajakannya seperti yang anda temukan di Jalan Kaliurang, percayalah, di sini pandangan anda akan terjaga!</p>
<p>Siapa juga yang mau liat ibu-ibu pake kaos kekecilan dan menjajakan makanan dengan nada mendesah semi-semi menggoda kek begitu? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Keberadaan Pasar Sore Ramadhan di Kauman ini menjadi daya tarik tersendiri ketika Ramadhan tiba. Semaraknya senantiasa dinanti oleh masyarakat. Keberadaannya yang tetap lestari ndak terlepas dari upaya masyarakat untuk turut menyiarkan gema Ramadhan.</p>
<p>Jika kamu ingin merasakan nuansa lain ketika berburu menu berbuka, datanglah ke sini! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Tambahan: Jika anda berkunjung hari Kamis, anda mungkin beruntung mendapatkan takjil buka puasa nasi <a href="http://arnanto.web.ugm.ac.id/priyayisae/2007/09/22/pengajian-vs-gule-kambinx/" title="Pengajian Vs Gule KambinX" target="_blank">Gulai Kambing khas Masjid Gede Kauman</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

