<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Flora &amp; Fauna</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/destinasi/flora-fauna/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pusat Primata Schmutzer: Pusat Primata Terbesar di Dunia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 10:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Flora & Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kebun binatang]]></category>
		<category><![CDATA[primata]]></category>
		<category><![CDATA[Ragunan]]></category>
		<category><![CDATA[Schmutzer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1400</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah bahwa Indonesia memiliki pusat primata terbesar di dunia? Terletak di dalam kompleks kebun binatang Ragunan, Pusat Primata Schmutzer yang diresmikan pada tanggal 20 Agustus 2002 ini memiliki koleksi sekitar 25 spesies dari 5 famili dari ordo primata. Berkunjung ke Pusat Primata Schmutzer ini begitu mudah. Berbagai sarana transportasi umum bisa menjangkau lokasi ini. Tinggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/pusat-primata-schumtzer.jpg" alt="Pusat Primata Schmutzer" title="Pusat Primata Schmutzer" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1401" /></p>
<p>Tahukah bahwa Indonesia memiliki pusat primata terbesar di dunia? Terletak di dalam kompleks kebun binatang Ragunan, Pusat Primata Schmutzer yang diresmikan pada tanggal 20 Agustus 2002 ini memiliki koleksi sekitar 25 spesies dari 5 famili dari ordo primata.</p>
<p><span id="more-1400"></span>Berkunjung ke Pusat Primata Schmutzer ini begitu mudah. Berbagai sarana transportasi umum bisa menjangkau lokasi ini. Tinggal naik kopaja, metromini, mikrolet, atau busway berjurusan Ragunan.</p>
<p>Lokasi Pusat Primata Schmutzer berada di dalam kompleks kebun binatang Ragunan. Pusat Primata Schmutzer dulunya dikelola oleh The Gibbon Foundation, pimpinan Dr. Willie Smits, namun kini pengelolanya adalah Pemda DKI.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/lukisan-schmutzer.jpg" alt="Lukisan Nyonya Schmutzer" title="Lukisan Nyonya Schmutzer" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1411" /></p>
<p>Masuk ke kawasan ini, pengunjung ditarik ongkos 5 ribu rupiah untuk dewasa, ini di luar ongkos masuk kebun binatang Ragunan yang ongkosnya 4.500 rupiah (tiket plus asuransi). Keamanannya pun ketat, pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman apapun, bahkan permen pun tidak boleh. Semua barang bawaan pengunjung yang berupa makanan harus dititipkan.</p>
<p>Ini untuk menghindari ulah iseng pengunjung yang suka memberi makan hewan-hewan. Padahal makanan manusia itu tidak cocok untuk makanan hewan. Di kebun binatang Ragunan, monyet saja sudah pintar merokok karena ulah manusia yang memberinya rokok. Mengenaskan.</p>
<p>Saya baru tahu, bahwa sebenernya pisang itu bukan makanan utama monyet (atau primata lain) seperti yang kita kira. Beberapa jenis primata seperti Simpanse, Gorila, dan Orangutan makanan utamanya adalah daun dan buah-buahan. Untuk memenuhi kebutuhan protein, mereka juga makan serangga.</p>
<p>Begitu masuk halaman, kita akan disambut gerbang besar bertulis Pusat Primata Schmutzer. Saya sempat terdiam sejenak karena bingung mau memulai dari mana. Akhirnya saya memutuskan untuk naik masuk ke gerbang dan memulai penjelajahan saya dengan menyusuri Gorilla Walk.</p>
<p>Dinamakan demikian karena kita akan menyusuri suatu jembatan khusus yang berada di atas enklosur (kandang yang dibuat mirip dengan habitat asli binatang) Gorila, sehingga kita bisa melihat aktivitas Gorila dari atas. Namun sayang, selama di atas ini, saya tidak melihat Gorila sama sekali. Mungkin mereka sedang beristirahat dan bersembunyi. Gorila-gorila ini mempunyai nama loh, antara lain Komu dan Kumbo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gorilla-walk.jpg" alt="Gorilla Walk" title="Gorilla Walk" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1402" /></p>
<p>Di beberapa sudut Gorilla Walk terdapat tulisan kepanjangan dari akronim GORILA, yang berisi trivia tentang Gorila, yaitu:</p>
<ul>
<li><strong>G</strong>orilla di Pusat Primata Schmutzer adalah jenis Gorila dataran rendah barat</li>
<li><strong>O</strong>rang sering menyebutnya King Kong</li>
<li><strong>R</strong>ambut di punggungnya berwarna keperakan (silver black) dan dimiliki oleh jantan dewasa</li>
<li><strong>I</strong>a adalah salah satu kera terbesar di dunia</li>
<li><strong>L</strong>arangan untuk tidak memburunya sering diabaikan</li>
<li><strong>A</strong>ncaman terhadap Gorila di alam antara lain hilangnya habitat, perburuan ilegal untuk dikonsumsi dagingnya, dan penyakit seperti Ebola</li>
</ul>
<p>Di beberapa sudut juga terdapat kursi-kursi yang bisa digunakan untuk beristirahat sambil melihat pemandangan. Bila melihat ke bawah, beberapa ubin dari kuningan tampak berukiran wajah-wajah Gorila.</p>
<p>Ketika turun dari Gorilla Walk, sayup-sayup saya melihat benda hitam bergerak-gerak dan berjalan dengan kedua kaki dan tangannya di enklosur di depan saya. Kemudian tepat di depan saya dia berhenti dan duduk sambil mengunyah rumput.</p>
<p>Omaigat-omaigat-omaigat! Itu Gorila besar banget! Saya ndak bisa membayangkan bila dihajar dengan tangannya yang panjang itu bagaimana. Bisa-bisa leher mluntir ndak bisa mbalik. Hihihihi..</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gorilla.jpg" alt="Gorilla (Gorilla gorilla gorilla)" title="Gorilla (Gorilla gorilla gorilla)" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1403" /></p>
<p>Gorila yang ada di Schmutzer ini merupakan jenis Gorila yang hidup di hutan dataran rendah di Afrika. Beratnya bisa mencapai 200 kg lebih dan hidup berkelompok. Yang jantan memiliki rambut keperakan di bagian punggung dan suka menepuk dada untuk menunjukkan kekuatan. Namun begitu, <a href="http://ndobos.com/2009/10/14/mau-diadu-lawan-bebek/" target="_blank" title="Mau Diadu Lawan Bebek?">penis gorila itu kecil banget</a>. Hihihi..</p>
<p>Kalo dilihat dari cirinya, Gorila yang berada di depan saya itu adalah gorila jantan!</p>
<p>Dari enklosur Gorila, saya pun berjalan mengelilingi kawasan ini. Ada beberapa kandang Ungko, Owa Jawa, Wau-wau, Kera Hitam Sulawesi, Digo, Boti, Kelawat, dan Siamang. Kandang-kandang ini ada yang berupa kerangkeng besi, ada juga yang berupa kerangkeng besi dengan kaca.</p>
<p>Ordo primata terdiri atas 5 familia, yaitu Prosimian, Macaques (macaca/kera), Leaf Monkeys (monyet daun), Gibbon, dan Ape. Manusia sebenernya termasuk dalam orde primata, loh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Prosimian adalah primata primitif. Di Indonesia terdapat Kukang dan Tarsius yang termasuk dalam familia ini. Kukang terkenal akan gerakannya yang lambat namun mempunyai cengkraman kuat, sedangkan Tarsius merupakan hewan mungil yang sangat tangkas. Kedua prosimian ini adalah makhluk nokturnal (aktif di malam hari).</p>
<p>Macaques memiliki ciri memiliki kantung pipi untuk menyimpan makanan. Kera-kera ini banyak tersebar di Indonesia, salah satunya adalah <em>Macaca fascicularis</em> (Monyet Ekor Panjang) yang sering dipakai untuk atraksi topeng monyet.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/monyet-ekor-panjang.jpg" alt="Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)" title="Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1404" /></p>
<p>Leaf monkeys, seperti namanya biasanya hidup di atas pohon dan memakan daun-daunan. Di Indonesia, primata jenis ini sering disebut dengan Lutung. Primata jenis ini berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan meloncat menggunakan tungkai kaki belakang.</p>
<p>Gibbon beda lagi. Ciri khasnya adalah tangannya yang panjang karena digunakan untuk bergelantungan. Yang termasuk jenis ini adalah Siamang dan Owa.</p>
<p>Ape adalah jenis primata yang tidak berekor. Orangutan dan Wau-wau termasuk ke dalam jenis ini. </p>
<p>Melewati kandang Monyet daun, saya sampai di taman yang terdapat banyak patung monyet. Beberapa orang nampak berfoto-foto dengan pose merangkul patung monyet atau sekedar berdiri di samping patung tersebut.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/taman-patung.jpg" alt="Di taman patung. Tebak, mana yang bukan patung?" title="Di taman patung. Tebak, mana yang bukan patung?" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1409" /></p>
<p>Di beberapa tempat juga terdapat kursi-kursi namun sayangnya kursi-kursi ini dikuasai oleh pasangan yang sedang asyik pacaran!</p>
<p>Saya mengeilingi sisi ini hingga sampai ke suatu kolam dengan jembatan semen di atasnya. Di tengah kolam terdapat suatu &#8220;pulau&#8221; yang ternyata ini adalah enklosur dari Simpanse, primata tercerdas. Ketika saya melintas, simpanse-simpanse ini rupanya sedang tidur siang di dalam goa-goa buatan.</p>
<p>Di ujung jembatan, saya masuk ke dalam teater melalui pintu keluar. Hahaha! Saya pun masuk dan rupanya di dalam teater sedang diputar film dokumenter tentang kehidupan primata.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/taman-buah-primata.jpg" alt="Melewati enklosur Simpanse" title="Melewati enklosur Simpanse" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1406" /></p>
<p>Saya mengikuti 2 episode, yang bercerita tentang sistem sosial dalam kelompok Gibbon dan Macaca serta sistem alarm dari kelompok monyet daun.</p>
<p>Rupanya, sistem kasta juga dikenal di kalangan mereka. <em>Toque macaque</em> di Sri Lanka, contohnya. Di gerombolan ini, kera-kera berdarah ningrat memiliki keistimewaan di dalam kelompoknya, terutama dalam hal makanan dan pasangan ketika musim kawin.</p>
<p>Sistem alarm dari monyet daun ini begitu keren. Setiap monyet akan saling memperingatkan monyet lain bila ada bahaya. Suara-suara peringatan ini akan berbeda bunyi sesuai dengan bahaya apa yang mendekat. Contohnya ketika seekor elang mendekat, kera-kera ini akan berteriak dengan bunyi tertentu dan monyet-monyet lain akan segera berhamburan turun dari pohon untuk menghindari serangan elang.</p>
<p>Bunyi berbeda dikeluarkan ketika seekor Leopard lewat. Bukannya menghindar, monyet-monyet ini justru mendekat dan menampakkan diri sambil terus berteriak-teriak ketika melihat Leopard. Merasa ketahuan, Leopard yang biasanya menyerang secara tiba-tiba akhirnya mundur teratur.</p>
<p>Selesai melihat film, saya menuju ke museum. Di sini dipamerkan berbagai miniatur primata yang bisa menjadi wahana edukasi anak. Berbagai papan dengan penjelasan juga banyak terdapat di sini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/museum-primata.jpg" alt="Museum Primata" title="Museum Primata" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1405" /></p>
<p>Dari museum, saya meluncur ke belakang, menuju ke Terowongan Orangutan. Terowongan ini mengelilingi enklosur Orangutan yang dapat kita lihat dari balik kaca.</p>
<p>Suasananya begitu gelap, di beberapa sudut terdapat rumbai-rumbai yang dibuat mirip seperti akar pohon, dan di dalamnya sejuk karena terdapat AC. Saya melihat beberapa Orangutan sedang bersantai-santai di atas kayu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/orangutan.jpg" alt="Orangutan sedang bersantai" title="Orangutan sedang bersantai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1407" /></p>
<p>Karena suasana gelap, di beberapa tempat terdapat pasangan yang sedang asyik pacaran. Padahal kalo jeli, di beberapa sudut terdapat kamera pengawas. Dasar pasangan dimabuk asmara yang tidak tau tempat!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/terowongan-orangutan.jpg" alt="Terowongan Orangutan" title="Terowongan Orangutan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1408" /></p>
<p>Keluar dari Terowongan Orangutan, saya berada di bagian belakang. Saya menuju Jembatan Kanopi di mana kita bisa berjalan di atas jembatan yang dipasang di atas pohon, namun sayang ketika saya sampai, fasilitas ini ditutup. Saya ndak tau, mungkin karena dianggap berbahaya karena di beberapa bagian terlihat kayu-kayunya mulai lapuk.</p>
<p>Sebelum pulang, saya menyempatkan diri melihat Lutung Jawa dan Lutung Perak. Ada sebuah papan dengan siluet Gorila yang sedang merentangkan tangan. Rupanya ini digunakan untuk membandingkan ukuran tubuh manusia dengan ukuran tubuh Gorila.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/rentang-gorilla.jpg" alt="Papan rentang Gorila" title="Papan rentang Gorila" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1410" /></p>
<p>Selain itu ada cermin besar bertuliskan, &#8220;ayo, jadi sahabat primata!&#8221;, yang berarti ajakan kepada diri kita ketika berdiri di atas cermin tersebut.</p>
<p>Bila datang pada jam-jam memberi makan (jam 9, 12, dan 15), kita bisa melihat petugas memberi makan primata ini di sekitaran enklosur. Karena saya datang tidak pada jam-jam itu, saya tidak dapat melihat langsung proses ini.</p>
<p>Pusat Primata Schmutzer lahir dari kepedulian Pauline Antoinette Schmutzer-versteegh terhadap satwa terutama primata yang hampir punah. Melalui yayasan The Gibbon Foundation, Nyonya Scmutzer mewakafkan hartanya untuk pembangunan pusat primata ini.</p>
<p>Hampir semua primata yang terdapat di lokasi ini merupakan primata yang dilindungi, beberapa di antaranya merupakan hasil sitaan atau serahan dari masyarakat. Di dalam kawasan seluas 13 hektar ini juga terdapat lebih dari 84 jenis pohon yang menambah teduh kawasan Pusat Primata Schmutzer.</p>
<p>Namun sayang, di beberapa sudut nampak orang pacaran sangat mengganggu pemandangan. Di beberapa tempat terdapat pancuran air minum gratis, namun kondisinya sedikit memprihatinkan. Air yang keluar sangat kecil sehingga ada pengunjung yang mengakali dengan meminum dari kran menggunakan sedotan!kini</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taman Nasional Komodo, Pesona Purba Yang Tiada Dua</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 09:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Flora & Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[komodo]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Tenggara Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata komodo? Seekor reptilia purba yang dipercaya sebagai turunan dinosaurus? Karnivora dengan ludah beracun yang bisa membunuh seekor kerbau hanya dengan sekali gigit? Apa jadinya kalo misalnya kita berada di Pulau Komodo, dikelilingi oleh hewan &#8220;ganas&#8221; yang menjadi kebanggaan republik ini karena hanya satu-satunya di dunia? Taman Nasional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/go-komodo.jpg" alt="Go Komodo!" title="Go Komodo!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1252" /></p>
<p>Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata komodo? Seekor reptilia purba yang dipercaya sebagai turunan dinosaurus? Karnivora dengan ludah beracun yang bisa membunuh seekor kerbau hanya dengan sekali gigit?</p>
<p>Apa jadinya kalo misalnya kita berada di Pulau Komodo, dikelilingi oleh hewan &#8220;ganas&#8221; yang menjadi kebanggaan republik ini karena hanya satu-satunya di dunia?</p>
<p><span id="more-1246"></span>Taman Nasional Komodo adalah salah satu dari beberapa tempat yang pengen saya kunjungi. Cerita dari <a href="http://ndobos.com/" title="Pakde Mbilung" target="_blank">Pakde Mbilung</a> yang sering berkunjung ke sana telah mengobsesi saya untuk menginjakkan kaki di sana suatu hari nanti. Saya berjanji. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Tentu saja, hewan purba langka ini menjadi daya tarik utama selain pemandangan alamnya yang tak kalah eksotis. Komodo Dragon (<em>Varanus komodoensis</em>), hewan endemik yang hidup tersebar di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, dan pulau-pulau kecil lain yang termasuk ke dalam kawasan <a href="http://www.komodonationalpark.org/" title="Taman Pulau Komodo" target="_blank">Taman Nasional Komodo</a>.</p>
<p><strong>Cara Menuju ke Sana</strong></p>
<p>Setelah bertanya kepada Pakde Mbilung ditambah melakukan gugling di sana-sini, saya mencoba mengumpulkan berbagai informasi untuk menuju ke sana. Selain berguna untuk saya, siapa tahu informasi ini juga bisa digunakan oleh temen-temen yang hendak ke sana dalam waktu dekat ini.</p>
<p>Kawasan ini dapat ditempuh dengan jalur darat, laut, dan udara. Cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan melalui jalur udara. Setidaknya ada 3 maskapai penerbangan yang melayani rute Denpasar ke Labuan Bajo setiap hari, yaitu <a href="http://www.merpati.co.id/" title="Merpati" target="_blank">Merpati</a>, <a href="http://www.iat.co.id/" title="Indonesia Air Transport" target="_blank">Indonesia Air Transport</a>, dan <a href="http://www.transnusa.co.id/flightinfo/jadwal-penerbangan.html" title="Jadwal Penerbangan Transnusa" target="_blank">Pelita Air/Transnusa</a>.</p>
<p>Dari Labuan Bajo, kota pelabuhan di ujung barat Flores, barulah menyeberang ke pulau-pulau yang termasuk ke Taman Nasional Komodo dengan menggunakan perahu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/perahu-komodo.jpg" alt="Kapal pesiar menuju Pulau Komodo" title="Kapal pesiar menuju Pulau Komodo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1253" /></p>
<p>Bila Anda termasuk kaum <em>the have</em>, menyewa kapal pesiar dari Benoa, Bali untuk menuju ke Taman Nasional Komodo mungkin bisa menjadi pilihan. Kapal-kapal seperti ini menyediakan fasilitas yang nyaman untuk tidur dan makan layaknya hotel terapung. Selain itu kapal-kapal semacam ini biasanya juga dilengkapi dengan peralatan menyelam.</p>
<p><em>Backpackers</em> tak perlu berkecil hati. Menuju ke Labuan Bajo melalui jalur darat sepertinya akan menjadi catatan perjalanan yang menarik. Belum lagi ketika harus menumpang kapal-kapal nelayan pengangkut barang kebutuhan untuk bisa menyeberang, atau bahkan ikut menginap di atas perahu tentu memberikan cerita tersendiri.</p>
<p>Kalo disuruh milih, tentu saya pengen menikmati berlayar dengan kapal pesiar! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><strong>Komodo Dragon, Sang Penguasa</strong></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/komodo_dragon.jpg" alt="Komodo Dragon (Varanus komodoensis)" title="Komodo Dragon (Varanus komodoensis)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1251" /></p>
<p>Hamparan sabana gersang yang menjadi habitat komodo tentu menarik untuk dijelajahi. Bila ndak berhati-hati, hewan yang aktif di siang hari ini bisa saja tiba-tiba nongol dari balik semak-semak dan menyerang bila merasa terganggu. Tentu rasa deg-deg-an ini memberikan sensasi adrenalin tersendiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik kita meminta bantuan petugas jagawana Taman Nasional Komodo untuk menemani dan memandu kita mengeksplorasi keunikan dan kecantikan kawasan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/komodo_makan.jpg" alt="Komodo makan" title="Komodo makan" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1254" /></p>
<p>Biasanya komodo (dalam bahasa lokal sering disebut dengan &#8220;ora&#8221;) ini harus &#8220;dipancing&#8221; dahulu supaya keluar dengan cara menyajikan daging yang sudah membusuk.</p>
<p>Ketika komodo datang berbondong-bondong dan berebut makanan, wisatawan pun berbondong-bondong mengabadikan momen yang ditunggu-tunggu ini.</p>
<p>Namun cara memanggil komodo seperti ini sudah jarang dilakukan karena akan membuat komodo manja, demikian kata Pakde Mbilung. Selain itu komodo memang mudah untuk ditemui, terutama di Pulau Rinca.</p>
<p>Selain sabana yang gersang, pemandangan bukit-bukit di Pulau Komodo memang layak dipujikan. Maklum saja, pulau ini sangat unik.</p>
<p>Pulau ini terbentuk dari aktivitas letusan vulkanik purba plus aktivitas tektonik yang membuat dasar laut terangkat. Makanya ndak mengherankan kalo pantai-pantai di sini berbeda dengan tempat lain, hamparan pasir pantai yang dibentengi bukit-bukit.</p>
<p>Hamparan pegunungan yang membentang dari utara ke selatan dengan tinggi rata-rata 400-500 meter dpl dengan puncak tertinggi bernama Satalibo (735 m dpl) menjadi pemandangan eksotis lainnya.</p>
<p>Di dataran yang agak tinggi, hamparan pohon Lontar dan hutan hujan merupakan pemandangan yang ndak boleh terlewatkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/pulau_komodo.jpg" alt="Pulau Komodo" title="Pulau Komodo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1250" /></p>
<p>Hwaa!! Makin penasaran aja nih dengan Pulau Komodo!</p>
<p><strong>Kekayaan Bahari Taman Nasional Komodo</strong></p>
<p>Jika Anda penggemar olah raga air semacam <em>snorkeling</em> dan <em>diving</em>, keindahan laut di taman nasional ini patut diselami. Namun arus yang kuat harus menjadi perhatian tersendiri. Arusnya yang kuat terjadi karena laut ini merupakan pertemuan air laut tropis dari utara dan air laut dari selatan.</p>
<p>Ada beberapa <a href="http://www.komodonationalpark.org/dive_sites.htm" title="Diving Site in Komodo" target="_blank">titik penyelaman</a> yang bisa dijelajahi di sekitar Pulau Komodo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/pantai_merah.jpg" alt="Pantai Merah, Pulau Komodo" title="Pantai Merah, Pulau Komodo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1249" /></p>
<p>Salah satu titik yang sering didatangi adalah Pantai Merah. Disebut pantai merah karena pasirnya yang terdiri dari pecahan-pecahan koral dan cangkang hewan laut lainnya sehingga berwarna kemerahan. </p>
<p>Pantai ini menjadi pantai favorit para wisatawa asing maupun lokal karena hanya dengan ber-<em>snorkeling</em> saja, keindahan bawah laut di pantai ini bisa dinikmati, apalagi bila mencoba <em>diving</em>.</p>
<p>Dengan kedalaman hingga 30 meter, situs penyelaman Pantai Merah didiami berbagai jenis ikan, seperti ikan scorpion yang dikenal memiliki sengat beracun, siput tak bercangkang dan hewan molusca lain.</p>
<p>Penyelaman di malam hari juga sering dilakukan di situs Pantai Merah untuk melihat kehidupan malam hewan laut di situs ini. Selain karena jarak pandang, banyaknya organisme laut yang mendiami situs ini tentu menjadi daya tarik.</p>
<p>Selain Pantai Merah, situs penyelaman favorit adalah Batu Bolong. Batu Bolong adalah situs penyelaman terbaik di Komodo yang berupa &#8220;pulau&#8221; karang di selat antara Pulau Tatawa dan Pulau Komodo.</p>
<p>Dengan topografinya yang berbentuk tebing curam membuat situs penyelaman ini menawarkan pemandangan bawah laut yang sangat alami karena nelayan lokal ndak bisa menggunakan bom atau racun sianida untuk menangkap ikan di sekitar lokasi ini yang tentunya berakibat merusak ekosistem di bawah laut.</p>
<p>Karena topografinya pula, arus di situs penyelaman ini menjadi sangat berbahaya, sehingga penyelaman disarankan dilakukan saat laut sedang surut.</p>
<p>Berbagai jenis ikan dan biota laut dapat ditemui di lokasi ini. Biota ini hidup di sekitar tebing karang dan pada kedalaman tertentu bisa ditemukan ikan hiu.</p>
<p>Jika ingin melihat berbagai ikan besar, menyelam di situs Batu Tiga sangat disarankan. Disebut Batu Tiga karena situs penyelaman yang terletak di sebelah tenggara Tanjung Kuning di Selat Linta ini terdapat tiga buah batu karang yang merupakan &#8220;perpanjangan&#8221; dari bagian bawah Pulau Komodo.</p>
<p>Primadona dari situs Batu Tiga adalah ikan pari Manta (<em>Manta birostris</em>) yang lebarnya bisa mencapai 8 meter! Selain itu di situs yang berarus sangat kuat ini menjadi habitat berkembangnya terumbu karang yang cantik-cantik dan segerombolan ikan-ikan kecil.</p>
<p>Sayangnya situs-situs penyelaman di Taman Nasional Komodo ini arusnya terkenal sangat kuat sehingga ndak disarankan untuk diver pemula apalagi yang belum pernah diving seperti saya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /> </p>
<p><strong>Lokasi Eco-Wisata Terunik di Dunia</strong></p>
<p><a href="http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/?firstselect=6:91"><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/vote-komodo-150x150.jpg" alt="Vote Komodo for the New 7 Wonders of Nature" title="Vote Komodo for the New 7 Wonders of Nature" width="150" height="150" class="alignleft strip size-thumbnail wp-image-1257" style="border: 0" /></a></p>
<p>Melihat berbagai potensi kekayaan alam Taman Nasional Komodo, memang pantas kalo lokasi yang pada tahun 1991 masuk dalam <a href="http://whc.unesco.org/en/list/609" title="Komodo National Park: UNESCO Wolrd Heritage" target="_blank">daftar Situs Warisan Dunia UNESCO</a> ini <a href="http://www.new7wonders.com/nature/en/nominees/asia/c/KomodoNationalParkNationalPark/" title="New7Wonders: Komodo National Park" target="_blank">dinominasikan ke dalam New 7 Wonders of Nature</a> dan kita harus mendukungnya dengan <a href="http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/?firstselect=6:91" title="Vote for Komodo National Park!" target="_blank">memberikan suara untuk lokasi ini</a>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p>Harapan saya, selain bisa jeng-jeng ke Taman Nasional Komodo sekaligus mendukung <a href="http://www.indonesia.travel/" title="Visit Indonesia Year 2009" target="_blank">tahun kunjungan ke Indonesia (Visit Indonesia Year 2009)</a> ini, saya berharap kita bisa menyadari betapa pentingnya pelesatarian alam Indonesia, terutama fauna langka seperti Komodo. Bahkan ajang <a href="http://www.bubuawards.com/" title="Bubu Awards" target="_blank">Bubu Awards</a> tahun ini pun ikut mengangkat isu Taman Nasional Komodo untuk masuk ke dalam daftar New 7 Wonders of Nature. </p>
<p>Jadi, kapan kita ke Komodo? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p><small>Gambar ilustrasi diambil dari Google Images.</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Mangrove Terakhir Jakarta</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 11:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Flora & Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mangrove]]></category>
		<category><![CDATA[Muara Angke]]></category>
		<category><![CDATA[Suaka Margasatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ndak banyak yang tahu bahwa Jakarta mempunyai suaka margasatwa yang sekaligus menjadi hutan mangrove dan lahan basah yang menjadi benteng terakhir untuk melawan abrasi. Walau suaka margasatwa yang terletak berdampingan dengan kawasan pemukiman elit Pantai Indah Kapuk ini merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki sekitar 30 jenis vegetasi berupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/suaka-margasatwa-muara-angk.jpg" alt="Di Suaka Margastwa Muara Angke" title="Di Suaka Margastwa Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1239" /></p>
<p>Mungkin ndak banyak yang tahu bahwa Jakarta mempunyai suaka margasatwa yang sekaligus menjadi hutan mangrove dan lahan basah yang menjadi benteng terakhir untuk melawan abrasi.</p>
<p>Walau suaka margasatwa yang terletak berdampingan dengan kawasan pemukiman elit Pantai Indah Kapuk ini merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki sekitar 30 jenis vegetasi berupa mangrove dan tumbuhan lainnya, 91 jenis burung air dan burung hutan, serta satwa lain seperti monyet dan biawak.</p>
<p><span id="more-1232"></span>Bersama <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=643418838" title="Taufiq Ismail" target="_blank">Tupic</a>, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1577900179" title="Wahyu Ardi Kurniawan" target="_blank">Didit</a>, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=531469679" title="Arsyad M Fajri" target="_blank" target="_blank">Aad</a>, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1320197433" title="Cornila Desyana" target="_blank">Nila</a>, dan <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1074934683" title="Widi Astuti Ari Setiyaningsih" target="_blank">Widi</a>, saya berkesempatan mengunjungi suaka margasatwa yang sejak tahun 1939 sudah diresmikan oleh pemerintah Hindia Belanda ini.</p>
<p>Menuju lokasi yang secara administratif terletak di wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara ini cukup mudah dijangkau dengan kendaraan umum.</p>
<p>Dari terminal Blok M, kami naik bus PPD 37 jurusan Blok M-Muara Angke yang cuma berhenti sampai Mega Mall Pluit. Dari depan Mega Mall ini, kami naik angkot merah U11 dan turun di perempatan gerbang masuk Pantai Indah Kapuk.</p>
<p>Kemudian kami berjalan masuk ke arah PIK, melewati gerbang dan setelah menyeberang Sungai Angke berbelok ke kanan menyusuri trotoar di seberang kompleks ruko Mediterania Niaga. Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke terletak sekitar 300 meter dari jembatan ini.</p>
<p>Selain dari Blok M, bisa juga ditempuh dari Terminal Grogol. Dari Terminal Grogol, naik angkot merah B01 yang mempunyai jurusan Grogol-Muara Angke, kemudian turun di perempatan Pantai Indah Kapuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/gerbang-suaka-margasatwa.jpg" alt="Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke" title="Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1241" /></p>
<p>Di dalam, rupanya rombongan dari <a href="http://www.jgm.or.id/" title="Jakarta Green Monser" target="_blank">Jakarta Green Monster</a> sedang mengadakan acara. Kru TransTV juga nampak sedang melakukan liputan.</p>
<p>Seorang penjaga langsung menyambut kami dengan tatapan yang kurang menyenangkan. Untuk masuk, kami ditanyai mengenai Simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) yang harus dibuat sehari sebelumnya di Departemen Kehutanan. Blah! Apa-apaan ini? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Kami kan cuma berniat berwisata, kenapa harus menggunakan surat ijin? Belum lagi si petugas meminta ongkos untuk penggunaan kamera yang saya rasa tidak masuk akal, 100 ribu rupiah! Udah gitu si petugas meminta uang rokok.</p>
<p>Namun setelah melalui proses negosiasi, kami akhirnya diijinkan masuk juga. Kami bahkan tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk &#8220;uang rokok&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Saya sebenernya lebih sreg kalo ada semacam retribusi, dengan diberi karcis tanda masuk resmi, sehingga uang yang masuk juga jelas. Kalo pun harus ijin, kenapa harus ke Departemen Kehutanan yang lokasinya sangat jauh itu?</p>
<p>Kalo untuk melakukan kegiatan, boleh lah. La kalo cuma pengen berwisata biasa? Kasihan buat yang datang jauh-jauh dan tidak mengetahui adanya aturan Simaksi ini. Minimal dibuatkan Simaksi sementara di tempat gitu.</p>
<p>Namun untuk menghindari masalah, sebelum berkunjung ke tempat-tempat yang termasuk kawasan konservasi semacam cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional, sebaiknya kita mengurus Simaksi di Departemen Kehutanan, meski hanya berwisata.</p>
<p>Departemen Kehutanan juga sebaiknya memberikan informasi mengenai syarat-syarat dan tata cara mengurus Simaksi ini. Bahkan ketika saya googling, saya belum nemu informasi yang oke mengenai pengurusan Simaksi ini.</p>
<p>Harus diakui, kami cukup beruntung bisa masuk ke sana tanpa Simaksi. Hehehe. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_whistling.gif' alt='&#58;&#45;&#34;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#45;&#34;' /></p>
<p>Selesai urusan di pintu masuk dan Simaksi, kami pun mulai meniti jembatan-jembatan kayu yang menjadi track penjelajahan sepanjang kurang lebih 1 km ini. Di awal, track masih rindang karena banyaknya pohon Pidada (<em>Sonneratia caseolaris</em>) yang menaungi. Bila &#8220;beruntung&#8221;, kepala bisa kejatuhan buah Pidada dari atas, jadi berwaspadalah.</p>
<p>Buah Pidada menjadi makanan favorit Monyet Ekor Panjang (<em>Macaca fascicularis</em>) yang merupakan salah satu satwa penghuni suaka margasatwa ini. Pohon Pidada mempunyai ciri akar nafas berbentuk seperti tombak yang menancap ke dalam lumpur dengan air yang memiliki kadar garam rendah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/buah-pidada.jpg" alt="Buah Pidada (Sonneratia cesolaris)" title="Buah Pidada (Sonneratia cesolaris)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1234" /></p>
<p>Buah Pidada berbentuk bulat dengan bagian tengah buah ada semacam tangkai, bila dimakan rasanya masam. Bunga Pidada mekar pada dini hari.</p>
<p>Di kawasan yang masih rimbun ini terdapat pula sebuah menara pengawas yang tampaknya sudah tidak dipakai. Warna coklat karat yang menempel di batang-batang besi mengukuhkan hal ini.</p>
<p>Lepas dari kawasan Pidada, kami memasuki kawasan rawa dengan vegetasi berupa Gelagah (<em>Saccharum spontaneum</em>) dan Eceng Gondok (<em>Eichchornia crassipes</em>). Di kejauhan, terlihat bangunan-bangunan megah pemukiman PIK.</p>
<p>Di tengah track terdapat semacam bangunan untuk beristirahat. Ketika kami tiba, tampak seorang bule yang dari perawakannya saya menduga seorang backpacker, sedang duduk beristirahat.</p>
<p>Dua orang fotografer sedang memotret model wanita yang sedang berpose di atas track kayu. Lokasi ini rupanya juga dipakai untuk pemotretan.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan dan di kejauhan nampak beberapa ekor burung Cangak Abu (<em>Ardea cinerea</em>) sedang terbang dan seekor tampak sedang bertengger yang seolah-olah sedang berdiri di atas permukaan rawa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/ardea-cinerea.jpg" alt="Cangak Abu/Grey Heron (Ardea cinerea)" title="Cangak Abu/Grey Heron (Ardea cinerea)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1233" /></p>
<p>Di tengah penjelajahan, sayup-sayup saya mendengar suara &#8220;koak-koak&#8221; di antara rerimbunan semak. Kemungkinan itu suara burung Kowak Malam Kelabu (<em>Nycticorax nycticorax</em>).</p>
<p>Panas mentari semakin menyengat ditambah bau amis membuat keringat bercucuran dan badan terasa lengket. Setelah melewati area yang banyak ditumbuhi Api-api (<em>Avicennia marina</em>) dan Nipah (<em>Nypa fruticans</em>), kami pun beristirahat sejenak di bawah pohon Pidada besar.</p>
<p>Semilir angin begitu sejuk membuat kami betah berlama-lama duduk ngemper sambil menikmati bekal logistik yang kami bawa. Saya mengamati sekitar dan tampak seekor pelatuk Caladi Ulam (<em>Picoides macei</em>) sedang mematuk-matuk batang Pidada.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/picoides-macei.jpg" alt="Caladi Ulam/Fulvous-breasted Woodpecker (Picoides macei)" title="Caladi Ulam/Fulvous-breasted Woodpecker (Picoides macei)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1238" /></p>
<p>Ndak jauh dari situ, nampak burung kecil berwarna kuning, yang sepertinya burung madu Sriganti (<em>Nectarinia jugularis</em>) betina.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/nectarinia-jugularis-betina.jpg" alt="nectarinia-jugularis-betinaBurung Madu Sriganti/Olive-backed Sunbird (Nectarinia jugularis) betina" title="nectarinia-jugularis-betinaBurung Madu Sriganti/Olive-backed Sunbird (Nectarinia jugularis) betina" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1237" /></p>
<p>Setelah puas ngaso, kami pun beranjak untuk meneruskan perjalanan. Masih didominasi pohon Nipah, kami harus menghalau beberapa daun Nipah yang menutupi jalan hingga kami sampai di ujung jembatan.</p>
<p>Awalnya kami mengira jembatan ini akan mengarah kembali ke gerbang masuk, tapi ternyata tidak. Untuk kembali, kami harus melalui rute yang sama dengan rute kami tadi. Apa boleh buat, kami memang tidak bisa ke mana-mana lagi.</p>
<p>Ketika kami kembali, Widi berteriak karena melihat seekor Biawak (<em>Varanus salvator</em>) kecil sepanjang sekitar 30 cm sedang berenang di atas rawa. Kami pun segera menghampiri dan rupanya si Biawak kecil ini sedang memanjat tiang jembatan kayu. Setelah menungu sebentar, Biawak ini kemudian nongol dan nampak sedang berjemur sebentar.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/varanus-salvator.jpg" alt="Biawak (Varanus salvator)" title="Biawak (Varanus salvator)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1240" /></p>
<p>Sepanjang perjalanan, saya masih penasaran dengan kehadiran Monyet Ekor Panjang yang menjadi primadona suaka margasatwa ini. Namun sepanjang perjalanan saya tidak melihatnya.</p>
<p>Monyet yang sering dipakai untuk pertunjukan topeng monyet ini mempunyai peranan penting dalam penyebaran biji-bijian tumbuhan hutan di Suaka Margasatwa Muara Angke melalui fecesnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/bukan-monyet.jpg" alt="Ini bukan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)" title="Ini bukan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1235" /></p>
<p>Mengunjungi Suaka Margasatwa Muara Angke memang menyenangkan. Namun sayangnya pengelolaannya yang kurang maksimal serta ribetnya jalur birokrasi membuat potensi tempat wisata edukasi ini menjadi kurang terekspos.</p>
<p>Beberapa sampah plastik juga menjadi keprihatinan tersendiri. Lokasinya yang memang berdekatan dengan lokasi pemukiman kumuh nelayan Muara Angke menjadikan lokasi ini kerap menjadi penampungan sampah yang mengalir dari Sungai Angke.</p>
<p>Padahal suaka margasatwa ini menjadi lahan basah dan benteng terakhir Jakarta dari ancaman abrasi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/jembatan-kayu.jpg" alt="Jembatan kayu di Suaka Margasatwa Muara Angke" title="Jembatan kayu di Suaka Margasatwa Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1236" /></p>
<p>Terima kasih kepada <a href="http://ndobos.com/" title="Pakde Rudyanto" target="_blank">Pakde Mbilung</a> atas bantuan identifikasi beberapa spesies burung yang saya temui. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>82</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

