<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Gunung, Bukit, Mata Air</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/destinasi/gunung-bukit-mata-air/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menyusuri Sungai Li dan Bukit Karst Hingga ke Yangshuo, China</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 09:22:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Guilin]]></category>
		<category><![CDATA[Yangshuo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1541</guid>
		<description><![CDATA[Guilin, China, memiliki hamparan bukit karst terbesar di dunia. Sejak dulu hingga kini, banyak literatur kuno dan kasusastra modern China yang terinspirasi dari keindahan bukit-bukit karst ini. Salah satu karya puisi yang terkenal adalah puisi karya Han Yu, penyair pada era Dinasti Tang yang berbunyi, “The river winds like a blue silk ribbon, while the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/di-yangshuo.jpg" alt="Di Yangshuo" title="Di Yangshuo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1548" /></p>
<p>Guilin, China, memiliki hamparan bukit karst terbesar di dunia. Sejak dulu hingga kini, banyak literatur kuno dan kasusastra modern China yang terinspirasi dari keindahan bukit-bukit karst ini. Salah satu karya puisi yang terkenal adalah puisi karya Han Yu, penyair pada era Dinasti Tang yang berbunyi, <em>“The river winds like a blue silk ribbon, while the hills erect like green jade hairpins.</em>” </p>
<p>Selain bukit-bukir karst, Sungai Li (Li Jiang) merupakan denyut nadi utama dari Guilin. Mulai dari aspek pertanian hingga pariwisata, sangat menggantungkan hidupnya kepada sungai sepanjang 437 Km yang hulunya terletak di Cat Mountain di Xing-an hingga ke Guangzhuo.</p>
<p><span id="more-1541"></span>Dari 437 Km panjang sungai itu, 83 Km di antaranya adalah kawasan dengan pemandangan terindah. Dan untungnya, kawasan ini berada di Guilin. Ndak heran kalo Sungai Li ini dijadikan daya tarik utama pariwisata Guilin.</p>
<p>Untuk menyusuri Sungai Li ada banyak cara. Bila di dalam kota Guilin, kita bisa menaiki rakit bambu atau ikut kapal tur wisata &#8220;2 sungai dan 4 danau&#8221; (2 rivers and 4 lakes cruise), maka bila ingin melihat lukisan alam seperti yang digambarkan oleh Han Yu dalam puisinya, kita harus ikut tur melalui agen perjalanan.</p>
<p>Semua agen perjalanan di Guilin dan penginapan juga menyediakan paket wisata ini yang harganya cukup kompetitif. Biasanya perbedaannya terdapat di fasilitas yang didapat selama tur. Misalnya ada yang paket makan siang, jemputan dari/ke penginapan, dan sebagainya.</p>
<p>Namun kita harus berhati-hati karena banyak juga agen-agen perjalanan abal-abal yang sering menjerumuskan para pejalan. Sebaiknya menggunakan agen perjalanan yang terkenal, meski haganya agak mahal, namun jelas dan terjamin.</p>
<p>Secara umum ada 3 paket yang biasa ditawarkan, menggunakan rakit bambu, kapal biasa, atau kapal wisata. Rakit bambu adalah yang paling murah (sekitar 180 Yuan) dan kapal wisata yang termahal (sekitar 500 Yuan).</p>
<p>Ini pertama kalinya saya ikut tur. Biasanya saya lebih suka melakukan perjalanan secara mandiri. Namun kali ini saya ingin ikut tur karena berbagai pertimbangan, yaitu rute yang ditempuh lebih jauh, memakan waktu sekitar 4 jam, mendapat fasilitas makan siang di atas kapal, dan ini yang terpenting, ada pemandu berbahasa Inggris. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pukul 8 pagi kami sudah dijemput di penginapan. Bener-bener tepat waktu. Setelah dijemput dengan mobil van kecil, kami kemudian di-drop di titik pemberangkatan, berganti naik bus besar. Rombongan kami adalah para wisatawan dari Eropa, bahkan dari rombongan, cuma kami saja yang orang Asia.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/li-river-cruise.jpg" alt="Selain pemandu, hanya kami orang Asia di antara rombongan tur" title="Selain pemandu, hanya kami orang Asia di antara rombongan tur" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1547" /></p>
<p>Wisatawan yang ikut rombongan ini pun terdiri dari berbagai gaya, ada yang memang niat berwisata bareng keluarga, pasangan pensiunan yang ingin menikmati hidup di hari tua dengan foya-foya, hingga backpacker lengkap dengan tas-tas punggung segede kulkas 2 pintu.</p>
<p>Yangyang, nama pemandu kami, membagikan stiker untuk ditempelkan di pakaian sebagai tanda pengenal kelompok. Dia menamakan kelompok kami Panda Group, lengkap dengan bendera yang dipasang pada tongkat yang bisa dipanjang-pendekkan sebagai tanda agar kami bisa dengan mudah berkumpul bila terpisah selama tur. </p>
<p>Perjalanan tur dimulai dari Dermaga Zhujiang yang terletak sekitar 23 Km di selatan pusat kota Guilin. Kami akan menyusuri bagian tercantik dari Sungai Li, sejauh 83 Km menuju ke Yangshuo, semacam kota kecil di selatan Guilin. Yangshuo ini lah yang menjadi daya tarik utama Guilin, karena menawarkan kecantikan alam dan budaya yang unik.</p>
<p>Kapal bergerak dengan kecepatan sekitar 20 Km per jam, sehingga waktu tempuh kami adalah 4 jam. Sejak dari dermaga kami disuguhi pemandangan bukit-bukit karst yang diberi nama sesuai dengan bentuknya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/li-river.jpg" alt="Kapal-kapal wisata bergerak menyusuri Sungai Li" title="Kapal-kapal wisata bergerak menyusuri Sungai Li" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1545" /></p>
<p>Ada bukit yang sekilas berbentuk seorang ibu menggendong anak, bukit dengan bentuk seperti unta, berbentuk seperti kepala kerbau, hingga seperti mahkota. Kami melewati Desa Yangdi, di mana banyak sekali penduduk desa yang mendekati kapal dengan menggunakan rakit bambu, kemudian dengan  mengikatkan rakit mereka ke kapal dan ikut bergerak dengan kapal, mereka menawarkan suvenir berupa topi rajutan atau pernak-pernik lain kepada wisatawan yang berada di atas kapal.</p>
<p>Lewat Desa Yangdi, kami menuju ke Desa Langshi, yang dipercaya berada pada lokasi dengan Fengshui terbaik, yaitu menghadap ke sungai dan berlatar belakang bukit dan gunung. Lokasi ini menurut kepercayaan Fengshui, merupakan lokasi yang amat sangat menguntungkan. Bahkan ketika kita melewati desa ini, kebaikan dan keuntungan desa ini akan mengikuti kita.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/yellow-cloth-shoal.jpg" alt="Yellow Cloth Soal, pemandangan pamungkas di Sungai Li" title="Yellow Cloth Soal, pemandangan pamungkas di Sungai Li" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1544" /></p>
<p>Landmark lain yang terkenal di sepanjang sungai ini adalah bukit yang diberi nama Painted View of Nine Horses, yang mana wisatawan dipersilakan untuk berimajinasi menggambarkan bentuk 9 kuda. Bila kita berhasil menemukan bentuk 9 kuda dari bukit ini, maka dipercaya kita akan mendapat keberuntungan, karena biasanya hanya beberapa orang beruntung saja yang bisa melihat bentuk 9 kuda.</p>
<p>Pemandangan lain yang terkenal adalah yang diberi nama Yellow Cloth Shoal, pemandangan bukit yang tercermin oleh permukaan air, dengan “pantai” berpasir berwarna kuning di tepinya. Saking terkenalnya, gambar ini menjadi semacam gambar standar brosur-brosur wisata atau kartu pos. Bahkan kita juga bisa menemukan pemandangan ini pada uang kertas 20 Yuan. Pemandangan ini pula lah yang seolah-olah menjadi “penutup” dari tur, karena selepas melewati area ini dan masuk ke Desa Xing Ping, pemandangannya sudah tidak begitu istimewa.</p>
<p>Meski begitu, perjalanan masih jauh, sekitar 1 jam hingga ke Dermaga Yangshuo. Bila mau, kita bisa memanfaatkan waktu ini untuk tidur siang sebentar.</p>
<p>Setibanya di Yangshuo, kami langsung dikerubuti para pedagang suvenir dengan sapaan khas mereka, “hello.. hello..”. Karena banyaknya pedagang yang menyapa dengan kata “hello” ini, pasar ini kemudian disebut dengan nama Hello Market.</p>
<p>Selama di Hello Market, ada tips umum yang belaku di sini, yaitu menawar harga hingga sepertiga harga yang ditawarkan. Bila tidak berminat membeli atau cuma sekadar melihat-lihat, disarankan untuk tidak menanyakan harga. Sekali bertanya, berarti berminat membeli. Pedagang akan membuka harga dan kita akan diminta menawar. </p>
<p>Jika kelepasan menanyakan harga, cara yang ampuh untuk menghindar adalah menawar dengan harga serendah mungkin supaya tidak tercapai kesepakatan harga. Tips lain, usahakan bila membayar menggunakan uang pas. Uang palsu banyak beredar di sini, sehingga kadang kembalian yang diberikan pedagang adalah uang palsu.</p>
<p>Yangshuo sendiri luasnya kurang lebih 1,4 Km persegi. Yangshuo memiliki sisi yang unik. Di satu sisi kebudayaan barat sudah sangat umum karena daerah ini merupakan daerah favorit para backpacker, sehingga tidak jarang ditemukan pub dan bar, namun di sisi lain kebudayaan China masih sangat kental melekat dengan kuat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/west-street.jpg" alt="Suasana di West Street (Xie Jie) di Yangshuo yang ramai" title="Suasana di West Street (Xie Jie) di Yangshuo yang ramai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1546" /></p>
<p>Bangunan-bangunan tua dari kayu mendominasi. Papan-papan nama bertuliskan aksara China banyak bergantung, berdiri berdampingan dengan bangunan batu dengan pub dan bar ala western. West Street (Xie Jie) adalah jalan protokol di Yangshuo di mana penginapan, restoran, kafe, pub, dan bar ala barat berdiri.</p>
<p>Pemandangan alamnya yang cantik adalah daya tarik mengapa banyak wisatawan datang ke sini. Bukit-bukit karst berpadu dengan Sungai Li plus arsitektur tua China klasik yang khas, merupakan pemandangan cantik yang tak bisa ditemukan di mana pun.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/mantra-cina.jpg" alt="Mantra-mantra pengusir roh jahat" title="Mantra-mantra pengusir roh jahat" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1549" /></p>
<p>Kami pun meneruskan tur dengan mengikuti Country Side Tour dengan membayar 200 Yuan karena penasaran. Kami dibawa menuju ke sisi desa di Yangshuo yang masih tradisional. Di desa ini, saya baru tau asal muasal tradisi dan kebiasaan masyarakat China.</p>
<p>Misalnya pada rumah-rumah bergaya klasik China, terdapat kertas mantra berwarna merah menempel di kanan-kiri pintu serta gambar perwira langit berwajah seram menempel di daun pintu, mempunyai maksud untuk mengusir roh jahat.</p>
<p>Di bagian kusen atas, terdapat cermin dan di bagian bawah terdapat balok melintang untuk semacam penghalang. Cermin dipasang supaya setan (yang digambarkan sangat jangkung) ketika hendak masuk melalui pintu akan melihat wajahnya sendiri yang menyeramkan sehingga ketakutan. </p>
<p>Sedangkan penghalang di bagian bawah pintu dimaksudkan untuk menghalangi setan yang digambarkan berjalan dengan melompat-lompat (masih ingat cara jalan vampire di film-film China?), sehingga si setan akan tersandung dan tidak dapat masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Rumah-rumah di desa ini kebanyakan belum selesai dibangun. Konon para pemuda desa membangun rumah ini dengan uang seadanya, yang penting punya rumah dulu, karena syarat pria untuk menikah adalah mempunyai rumah.</p>
<p>Di atas kusen pintu, terdapat 2 balok menonjol keluar dengan diameter yang menunjukkan status sosial si pemilik rumah. Makin lebar diameter balok, makin tinggi derajatnya. Pasangan yang hendak menikah sebaiknya mempunyai derajat yang sama. Bila derajat sang pria kebih tinggi dari wanita, maka si wanita tersebut harus rela dijadikan sebagai istri kesekian. </p>
<p>Sebaliknya bila derajat si wanita lebih tinggi daripada pria, maka si pria harus mengikuti marga dan garis keluarga si wanita.<br />
Namun, di antara bangunan-banguna rumah yang sederhana, terdapat sebuah bangunan megah yang sangat menonjol. Sebuah lambang palu-arit nampak terpasang lengkap dengan bendera Wu Xing Hong Qi (bendera nasional China). Rupanya bangunan yang bagus ini adalah kantor pertemuan partai komunis China.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/yulong-view.jpg" alt="Pemandangan dari jembatan Yulong" title="Pemandangan dari jembatan Yulong" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1551" /></p>
<p>Kami kemudian berpindah menuju Yu Long Bridge, sebuah jembatan batu berusia 600 tahun, yang melintasi Sungai Yu Long, salah satu anak Sungai Li. Nama Yu Long sendiri berarti “bertemu naga”. Menurut cerita rakyat, seekor naga dari laut timur tengah berjalan-jalan menyusuri sungai ini, kemudian terkesima dengan pemandangan alam yang cantik, akhirnya menetap. Beberapa penduduk konon melihat naga dari jembatan ini, maka disebutlah sungai dan jembatan ini Yu Long.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/cormorant.jpg" alt="Nelayan menangkap ikan menggunakan burung Cormorant" title="Nelayan menangkap ikan menggunakan burung Cormorant" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1552" /></p>
<p>Dari atas jembatan Yu Long, pemandangannya sungguh cantik. Sekilas saya seperti melihat wallpaper pada komputer Microsoft Windows. Tak jauh dari jembatan ini, terdapat dermaga kecil untuk naik rakit bambu dan menyusuri Sungai Yu Long.</p>
<p>Kami menikmati pertunjukan Cormorant Show, yaitu pertunjukkan nelayan menangkap ikan dengan menggunakan bantuan burung cormorant di Sungai Yu Long. Burung cormorant adalah burung air yang sekilas mirip pelikan, namun paruhnya pendek. Burung ini diikat di bagian pangkal lehernya sehingga ikan yang ditangkap burung ini tidak dapat ditelan. Nelayan kemudian mengambil ikan dengan cara memuntahkan ikan dari mulut burung cormorant menggunakan teknik tertentu.</p>
<p>Dulu cara tradisional ini mampu menyokong roda ekonomi Guilin. Nelayan-nelayan cormorant bisa mendapatkan 15 Kg ikan dengan cara ini. Namun kini, hanya ada 6 nelayan cormorant saja yang masih terampil mempraktekkan cara tradisional tersebut.</p>
<p>Seorang penyanyi wanita berdiri di atas rakit kemudian bernyanyi. Ini merupakan salah satu tradisi di Guilin yang berawal dari etnis Dong pada sebuah Folksong Festival yang diadakan setiap hari ketiga bulan ketujuh pada kalender Lunar. </p>
<p>Pada festival ini sekelompok pemuda dan pemudi saling berkenalan dengan menyanyikan lagu secara bersahut-sahutan. Si wanita kemudian bernyanyi yang intinya bertanya tentang nama, asal-usul, dan sebagainya kepada pria, kemudian si pria menjawab pertanyaan dengan bernyanyi juga. </p>
<p>Festival ini berlangsung selama 3 hari, kemudian pada hari ketiga, si wanita akan memberikan tantangan kepada pria untuk merebut bola keberuntungan. Bila bola ini berhasil didapat, maka si pria berhak menikahi wanita tersebut.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/hill-singer.jpg" alt="Penyanyi wanita di atas rakit" title="Penyanyi wanita di atas rakit" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1553" /></p>
<p>Wanita dengan pakaian tradisional lengkap dengan capingnya menyanyikan lagu seperti pada festival, dibantu dengan pengeras suara. Kemudian nyanyian ini disahut oleh seorang penyanyi wanita lain di rakit yang berbeda. </p>
<p>Tiba-tiba rakit bambu kami berhenti di suatu lapangan. Para bule kemudian turun dengan gembira menghampiri gerombolan kerbau. Oh, ternyata feeding the buffalo dan melihat sawah merupakan bagian dari atraksi tur ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/kebo-cina.jpg" alt="Jauh-jauh ke China cuma untuk ngasih makan kebo" title="Jauh-jauh ke China cuma untuk ngasih makan kebo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1550" /></p>
<p>Kami yang terbiasa melihat kerbau dan sawah di Indonesia cuma senyum dan geleng-geleng melihat bule-bule itu kegirangan menyodorkan rumput untuk dimakan kerbau. Jauh-jauh ke China kok cuma nonton kerbau dan sawah, gumam saya sambil tersenyum kecut..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Sebesi-Anak Krakatau</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sebesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1452</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992 bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana! Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/puncak-krakatau.jpg" alt="Di puncak Anak Krakatau" title="Di puncak Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1453" /></p>
<p>Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di <a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/Koleksi/Uang/Uang+Kertas/detail.htm?id=192" title="Uang Kertas Bank Indonesia Emisi 1992" target="_blank">uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992</a> bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana!</p>
<p>Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau Sebesi, Lampung, saya pun ikut bergabung. Ini pertama kalinya saya ikut trip bersama rombongan besar, apalagi saya bukan anggota komunitas tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-1452"></span>Awalnya kami hendak mendaftarkan diri di acara gathering tersebut, namun karena pendaftaran sudah ditutup lebih cepat dari rencana, maka kami pun urung bergabung dengan trip tersebut. Tak kehilangan akal, kami bertujuh pun tetep nekad untuk berangkat bareng mereka untuk menghemat biaya kapal dan mengetahui rute (karena selama ini saya buta rute dan gak pake rencana).</p>
<p>Kesimpulan asal saya, mengorganisasi manusia sebanyak 100-an orang itu ribet sangat. Acara dan jadwal molor karena banyaknya manusia yang telat datang ke titik kumpul Pelabuhan Merak, Banten. Saya yang sudah datang jauh-jauh lebih awal jelas sewot. Itulah sebabnya saya lebih suka jalan sendiri atau maksimal dalam kelompok kecil (kurang dari 10 orang).</p>
<p>Menuju Pelabuhan Merak banyak bus yang bisa digunakan. Bus dari Kalideres, Pulogadung, dan Kampung Rambutan selalu ada hampir 24 jam. Ongkosnya sekitar 17 ribu untuk bus AC, dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam kalo tidak macet.</p>
<p>Selain dengan bus, bisa naik kereta api dari Stasiun Jakarta Kota hingga Stasiun Merak dengan kereta Merak Jaya, namun jadwal hanya ada 2 kali pagi dan sore.</p>
<p>Dari Terminal Merak, kami cukup berjalan kaki saja menuju Pelabuhan Merak. Pelabuhan dan terminal ini konon masih dalam taraf pembangunan hingga nantinya bisa menjadi terminal terpadu (pelabuhan, terminal, dan stasiun menjadi satu kawasan dan terhubung satu sama lain). Saat ini yang sudah terpadu baru pelabuhan dan stasiun.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/etiket-merak.jpg" alt="E-ticket Pelabuhan Merak" title="E-ticket Pelabuhan Merak" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1454" /></p>
<p>Tiket naik kapal feri 10 ribu rupiah dengan bentuk kartu magnetik. Bila pernah berkunjung dan masuk ke gedung SCBD/BEI Jakarta, masuk ke Pelabuhan Merak (dan juga di Bakauheni) mirip dengan sistem masuk di gedung SCBD.</p>
<p>Tiket ditempelkan ke mesin, kemudian pintu akan terbuka. Tiket ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pintu-masuk.jpg" alt="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" title="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1455" /></p>
<p>Perjalanan dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni memakan waktu sekitar 2 jam. Selama di kapal, kami lebih banyak tidur di atas bangku-bangku kosong. Apalagi malam membuat kami hampir tidak bisa melihat apa pun kecuali gemerlap lampu-lampu dari kawasan industri Cilegon.</p>
<p>Kami sampai di Bakauheni pas Subuh. Begitu keluar dari Pelabuhan Bakauheni, kami langsung diserbu para calo-calo dari Terminal Bakauheni. &#8220;Karang.. Karang.. Metro.. Metro.. Raja Basa.. Raja Basa..,&#8221; teriak calo tersebut yang kadang ngeselin karena mereka gak segan menarik-narik lengan dan barang bawaan calon penumpang.</p>
<p>Kami segera menyingkir dari kepungan para calo untuk nongkrong dulu di ibu penjual kopi yang ngemper di peron terminal. Selain membeli kopi, kami pun berunding untuk menentukan sarana transportasi berikutnya.</p>
<p>Tujuan kami adalah Dermaga Canti di Kalianda. Untuk menuju ke sini sebenernya bisa ditempuh dengan 2 kali naik angkot. Dari Bakauheni, naik angkot berwarna kuning turun di Pasar Kalianda. Ongkosnya 15 ribu rupiah. Dari Pasar Kalianda kemudian berganti angkot warna biru hingga ke Dermaga Canti dengan ongkos 5 ribu rupiah.</p>
<p>Karena rombongan IBP yang kami barengi pada nyewa angkot, kami pun memutuskan untuk ikut menyewa juga. Tawar-menawar harga terjadi. Kami bertujuh, jika dihitung per orang 20 ribu, ongkosnya akan jadi 140 ribu. Akhirnya kesepakatan harga terjadi, kami akan diantar hingga Dermaga Canti dengan ongkos carter 125 ribu.</p>
<p>Sepanjang jalan dari Bakauheni ke Canti, kami mencium bau durian. Sial! Bau ini membuat kami jadi pengen makan duren!!</p>
<p>Kami tiba di Canti lebih awal dari rombongan IBP. Begitu turun, lagi-lagi kami disambut oleh tawaran carter kapal ke Sebesi. Padahal menurut informasi, kapal dari Sebesi-Canti-Sebesi datang rutin setiap pukul 9 pagi. Ongkosnya pun cuma 15 ribu rupiah per orang. Bila mencarter kami ditarik ongkos 400 ribu rupiah!</p>
<p>Karena rombongan IBP sudah mencarter kapal dari Canti ke Sebesi, maka kami memilih untuk ikut rombongan IBP saja. Kami tetep membayar 15 ribu rupiah per orang ke panitia IBP.</p>
<p>Bentuk perahu motor yang melayani rute Canti-Sebesi sebelas-duabelas dengan kapal yang melayani rute Muara Angke-Pulau Pramuka, cuma ukuran kapal Sebesi ini lebih kecil dan lajunya lebih lambat. Jarak Pulau Sebesi-Canti yang cuma 13 Km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/peta-pulau.jpg" alt="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." title="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1456" /></p>
<p>Selama perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Ada 3 buah karang yang membentuk semacam pulau di sebelah selatan Dermaga Canti yang oleh penduduk setempat disebut dengan Pulau Tiga.</p>
<p>Kami bahkan menyusuri selat Sebuku yang memisahkan Pulau Sebuku dan Pulau Sebuku Kecil. Dari jauh terlihat Gunung Sebesi menjulang tinggi dengan awan menutupi puncaknya membawa kesan mistis. Dari jauh, samar-samar terlihat siluet Anak Gunung Krakatau.</p>
<p>Karena tak ingin melewatkan pemandangan ini, sebagian penumpang kapal langsung pindah untuk duduk di atap kapal. Kamera keluar semua dan akhirnya potret-memotret tak terelakkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/di-atap-kapal.jpg" alt="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" title="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1457" /></p>
<p>Perjalanan akhirnya berakhir di dermaga Sebesi. Dermaga ini merupakan akses utama untuk menuju dan keluar dari Pulau Sebesi.</p>
<p>Pulau Sebesi sebenernya berdiri di lereng Gunung Sebesi yang berketinggian 884 meter dpl. Secara administratif, Pulau Sebesi berada dalam wilayah Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Raja Basa, Kabupaten Lampung Selatan. </p>
<p>Luas pulaunya 2.620 ha dengan panjang pantai 19,55 km. Bila dilihat dari peta, pulau ini berbentuk hampir bundar. Bersama Pulau Sebuku, Sanghyang, Lagundi, dan Anak Krakatau, 5 pulau ini masuk dalam wilayah Kepulauan Krakatau yang terletak di Teluk Lampung, Selat Sunda.</p>
<p>Di Pulau Sebesi terdapat 4 dusun, yaitu Dusun Bangunan, Dusun Inpres, Dusun Regahan Lada, dan Dusun Segenom. Mata pencaharian penduduk Sebesi selain nelayan adalah bertani kelapa, pisang, dan coklat, yang hasil pertanian ini dijual ke Kalianda.</p>
<p>Kami tiba di salah satu dari 3 dermaga di Pulau Sebesi yang terletak di Dusun Bangunan. Fasilitas penginapan tidak ada, kecuali bila menginap secara homestay di rumah-rumah warga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/dermaga-sebesi.jpg" alt="Dermaga Pulau Sebesi" title="Dermaga Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1458" /></p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun (081369923312 &#8211; 08287013757), salah satu pengelola wisata di Pulau Sebesi, kami menginap di salah satu rumah warga dengan biaya 200 ribu per malam.</p>
<p>Kami menginap di salah satu ruangan di rumah warga di Dusun Bangunan. Ini memungkinkan kami bisa berinteraksi langsung dengan si pemilik rumah dan warga sekitar.</p>
<p>Sinyal operator seluler sangat sulit didapat. Ditambah listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam yang dipasok dari PLN dengan menggunakan 2 buah generator diesel. Bahkan saat kami berada di sana, listrik sedang padam karena salah satu dari generator rusak (walau begitu, warga tetap diwajibkan membayar listrik sebesar 25 ribu per bulan).</p>
<p>Karena cuaca cerah, kami sepakat untuk mengunjungi Anak Krakatau, karena anak-anak IBP mengadakan acara sendiri. Awalnya memang tidak terpikir untuk ke Anak Krakatau karena saat berangkat, cuaca sedang mendung.</p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun, kami menyewa kapal untuk menuju ke Anak Krakatau dengan biaya 1,2 juta rupiah pulang-pergi plus biaya perijinan dan pemandu dari ranger Taman Nasional sebesar 200 ribu rupiah, sehingga totalnya 1,4 juta rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/anak-krakatau.jpg" alt="Menuju ke Anak Krakatau" title="Menuju ke Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1459" /></p>
<p>Perjalanan dari Sebesi ke Anak Krakatau memakan waktu sekitar 2 jam. Makin mendekati Anak Krakatau, gelombang laut pun makin tinggi dan ganas. Kami yang awalnya duduk-duduk di atap kemudian beringsut turun dan masuk ke dalam karena goyangan kapal makin kencang sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.</p>
<p>Begitu kapal merapat ke bibir pantai Anak Krakatau, saya langsung menginjak-injakkan kaki di atas pasir hitam karena kegirangan. Maaakk!! Anakmu ini menginjakkan kaki di Anak Krakatau!!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/cagar-alam-krakatau.jpg" alt="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" title="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1460" /></p>
<p>Ketika kami tiba, kami melihat beberapa tenda tengan berdiri di depan gerbang Taman Nasional Krakatau. Selama aktivitas vulkanik Krakatau dinyatakan aman, kita diperbolehkan mendaki ke puncak, berkemah, bahkan melakukan snorkeling dan diving di sekitar Anak Krakatau.</p>
<p>Bersama pemandu, kami melakukan trekking dan mendaki hingga ke puncak Krakatau. Awalnya kami harus menembus gelapnya &#8220;hutan tropis&#8221; mini sebelum pada patok nomor 4 pada ketinggian sekitar 400 meter dpl, kondisinya sudah berubah menjadi jalur pasir bekas longsoran lahar dan beberapa pohon pinus.</p>
<p>Hingga patok nomor 5 pada ketinggian 500 meter dpl, vegetasinya sudah berubah menjadi rerumputan. Lepas dari patok nomor 6-7 pada ketinggian 600-700 meter, vegetasi sudah hampir tak ada dan hanya pasir dan batuan vulkanik. Mulai dari patok nomor 5 inilah sudut pendakian berubah curam.</p>
<p>Kami mendaki hanya sampai bibir kawah bekas letusan tahun 1992 pada patok nomor 12 atau pada ketinggian 120 meter dpl. Kami tidak bisa mencapai ke atas lagi karena puncak Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan gas belerang. Total ketinggian puncak Anak Krakatau saat kami berkunjung adalah 334 meter dpl.</p>
<p>Ketinggian dan luas pulau Anak Krakatau yang muncul pada periode 1927-1929 ini akan terus berubah seiring dengan aktivitas vulkaniknya. Bahkan dari tengah kawah yang terbentuk ketika ledakan tahun 1992 kini telah menjulang puncak baru.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/gunung-rakata.jpg" alt="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" title="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1462" /></p>
<p>Berawal dari sebuah gunung bernama Krakatau Besar berbentuk kerucut yang kemudian meletus besar hingga terbentuklah Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung.</p>
<p>Aktivitas di kaldera Krakatau di bawah laut yang terus bergejolak akhirnya memunculkan 3 gunung baru di atas Pulau Rakata, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.</p>
<p>Pada tanggal 27 Agustus 1883, terjadi letusan besar yang akhirnya menenggelamkan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan dan hanya menyisakan Gunung Rakata. Kaldera yang terbentuk dari ledakan ini memiliki diameter hingga 7 Km.</p>
<p>Aktivitas vulkanik di dasar laut Krakatau terus bergejolak hingga pada periode 1927-1929 terbentuklah pulau baru yang kini dinamakan Anak Krakatau.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/proses-anak-krakatau.jpg" alt="Proses terbentuknya Anak Krakatau" title="Proses terbentuknya Anak Krakatau" width="350" height="789" class="alignnone size-full wp-image-1461" /></p>
<p>Setelah puas menjelajah puncak Krakatau, kami kembali turun sebelum semakin sore. Melihat pantai dengan air jernih, badan rasanya gatal kalo tidak nyemplung. Kami pun kalap dan berkecipak-kecipak nyemplung ke laut!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-krakatau.jpg" alt="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" title="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1463" /></p>
<p>Anak buah kapal berteriak-teriak ke arah kami untuk segera naik ke kapal dan segera kembali ke Sebesi. Selain takut kesorean, ternyata kami disuguhkan pemandangan dahsyat di atas laut ketika pulang.</p>
<p>Di barat, mentari lambat-lambat mulai tenggelam. Anak Krakatau yang gagah nampak tertidur di samping Pulau Sertung yang sekilas berbentuk mirip paus membentuk siluet dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/krakatau-sertung.jpg" alt="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" title="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1464" /></p>
<p>Mendekati Pulau Sebesi, langit sudah gelap. Di kejauhan, di bagian daratan Lampung, kami melihat petir berkilat-kilat teredam mendung pekat. Sepertinya hujan deras tengah mengguyur Lampung. Kami pun bisa dengan jelas melihat rasi bintang scorpio di langit utara, suatu hal yang sangat langka kami temukan di Jakarta. Suara bising mesin kapal tak lagi kami hiraukan.</p>
<p>Kapal yang kami tumpangi tidak memiliki penerangan sama sekali. Kami hanya mengandalkan satu-satunya senter yang dibawa oleh seorang rekan. Begitu kami tiba di dermaga, suasana pun gelap gulita.</p>
<p>Kami berjalan kembali ke penginapan yang untungnya ada genset pribadi di rumah tersebut, sehingga rumah tempat kami menginap lebih terang daripada rumah lain yang menggunakan penerangan lampu minyak (lampu teplok).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pagi-sebesi.jpg" alt="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" title="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1466" /></p>
<p>Keesokan paginya, kami menghabiskan waktu bermain-main dan menyusuri pantai di Pulau Sebesi. Setelah berburu sunrise di dermaga dan makan nasi udduk di warung sebelah penginapan, kami menyurusi pantai hingga mencapai kawasan hutan bakau di sebelah timur laut kemudian berganti arah menuju barat laut untuk menemukan pantai yang teduh untuk mandi-mandi.</p>
<p>Kami pun akhirnya mandi-mandi di pantai dengan pemandangan langsung ke Pulau Umang (masyarakat menyebutnya juga Pulau Umang Umang).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-sebesi.jpg" alt="Bermain di pantai Pulau Sebesi" title="Bermain di pantai Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1465" /></p>
<p>Setelah membersihkan diri dan berkemas, kami meninggalkan Pulau Sebesi sekitar pukul 12 bareng dengan rombongan IBP.</p>
<p>Selama perjalanan, kami mengalami 2 kali senja di atas laut. Pertama ketika kami kembali dari Anak Krakatau dan yang kedua ketika kami berada di atas feri KM Raja Basa I yang membawa kami dari Bakauheni ke Merak. Lagi-lagi kami mendapat pemandangan senja yang menakjubkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/senja-kapal.jpg" alt="Menikmati senja di atas kapal feri" title="Menikmati senja di atas kapal feri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1467" /></p>
<p>Postingan terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.mrbambang.web.id/2010/02/journey-to-sebesi-island-and-child-of-krakatoa.blog/comment-page-1/#comment-2491" title="Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa" target="_blank">Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa</a> di blog Bambang</li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/zamroni/sets/72157623384262786/" title="Muhammad Zamroni's buddy icon<br />
Sebesi &#038; Anak Krakatau" target="_blank">Galeri foto di Flickr</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Ciwidey</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 16:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[ciwidey]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1434</guid>
		<description><![CDATA[Bandung selatan memiliki potensi wisata yang menarik. Selain Pangalengan, Ciwidey bisa menjadi pilihan berlibur yang cukup dekat dari Jakarta atau Bandung. Ciwidey yang sebenernya merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur ini merupakan daerah perkebunan dan pertanian yang memiliki banyak obyek wisata. Salah duanya yang terkenal adalah Kawah Putih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/12/ciwidey.jpg" alt="Di Kawah Putih Ciwidey" title="Di Kawah Putih Ciwidey" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1435" /></p>
<p>Bandung selatan memiliki potensi wisata yang menarik. Selain <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pangalengan.html" title="Jeng-Jeng Pangalengan">Pangalengan</a>, Ciwidey bisa menjadi pilihan berlibur yang cukup dekat dari Jakarta atau Bandung.</p>
<p>Ciwidey yang sebenernya merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur ini merupakan daerah perkebunan dan pertanian yang memiliki banyak obyek wisata. Salah duanya yang terkenal adalah Kawah Putih dan Situ Patengan.</p>
<p><span id="more-1434"></span>Bersama 3 orang rekan lain, saya berkunjung ke Ciwidey, seperti biasa, tanpa rencana. Dari cetusan semalam, saya kemudian berkemas secukupnya, dan berangkat esok paginya dengan cara <em>ngeteng</em> (menggunakan kendaraan umum).</p>
<p>Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, menuju Ciwidey menjadi lebih mudah. Tinggal keluar dari tol Kopo kemudian ikuti jalur ke arah Soreang-Ciwidey.</p>
<p>Dari Jakarta, kami menggunakan bus Primajasa dari Terminal Lebakbulus. Ongkosnya 50 ribu rupiah dengan tujuan akhir Terminal Leuwi Panjang, Bandung.</p>
<p>Dari Leuwi Panjang, kami berganti angkutan dengan menumpang bus Putera Setia jurusan Leuwi Panjang-Ciwidey. Ongkosnya sangat murah, 6 ribu rupiah dengan waktu tempuh 2-3 jam (tergantung kemacetan di jalan raya Kopo).</p>
<p>Selain menggunakan bus Putera Setia, Ciwidey juga bisa ditempuh dengan menggunakan Elf jurusan Leuwi Panjang-Ciwidey atau 2 kali naik angkot (Leuwi Panjang-Soreang, dilanjut Soreang-Ciwidey).</p>
<p>Sesampai di Terminal Cibeureum, Ciwidey, kami menggunakan ojek untuk naik ke atas sembari mencari penginapan. Ongkos ojek ini sekitar 15 ribu, makin pandai menawar, makin murah ongkosnya.</p>
<p>Karena ketidaktahuan plus begitu turun dari bus kami diserbu oleh tukang ojek yang menawarkan jasanya, makanya kami menggunakan ojek. Padahal sebenernya bisa juga menggunakan angkot berwarna kuning jurusan Cibeureum-Situ Patengan dengan ongkos sekitar 3-7 ribu (tergantung jarak).</p>
<p>Oleh tukang ojek, kami direkomendasikan menginap di bungalow dan restoran Kampoeng Strawberry (Jl. Rancabali KM 7, Alam Indah, Ciwidey, Telp. 022-8592 0550). Pertimbangan tukang ojek, penginapan ini jaraknya lebih dekat ke obyek-obyek wisata.</p>
<p>Penginapan lain di sekitar sini adalah  penginapan Patuha Resort dan bumi perkemahan Ranca Upas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/12/kampoeng-strawberry.jpg" alt="Bungalow dan Restoran Kampoeng Strawberry" title="Bungalow dan Restoran Kampoeng Strawberry" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1436" /></p>
<p>Bungalow yang kami sewa merupakan bungalow yang standar. Rate-nya 400 ribu plus ekstra bed dan pajak, totalnya 490 ribu. Biaya ini kami bagi berempat, sehingga per orang membayar Rp 122.500. Bungalow standar ini memiliki air panas.</p>
<p>Jika menyukai yang lebih alami, bisa menginap di bumi perkemahan Ranca Upas atau di wisma PTPN VIII. Daerah di dekat obyek wisata (seputaran daerah Alam Indah) sangat minim penginapan. Penginapan yang agak murah dengan rate 100-200 ribu ada di bawah (seputaran Cibereum-Ciwidey), dengan konsekuensi jarak tempuh yang jauh ke obyek-obyek wisata.</p>
<p>Sepanjang jalan dari terminal hingga Situ Patengan kita dapat menemukan berbagai tempat yang menawarkan wisata memetik sendiri buah strawberry dari kebun. Strawberry yang telah dipetik kemudian ditimbang untuk kemudian dibeli. Kita bisa juga langsung memakan strawberry di kebun.</p>
<p>Setelah cek-in dan meletakkan barang, kami langsung menuju ke Situ Patengan, obyek wisata yang paling jauh. Apalagi kami datang sudah terlalu sore karena terjebak macet.</p>
<p>Ada yang menyebut nama obyek wisata ini dengan &#8220;Patengang&#8221; atau &#8220;Patenggang&#8221;, menurut saya ini cuma faktor &#8220;kesleo&#8221; lidah dalam pengucapan saja. Meski begitu, cukup banyak penduduk lokal mengucapkan &#8220;Patenggang&#8221; yang berarti &#8220;berjarak&#8221; (dari kata &#8220;tenggang&#8221;).</p>
<p>Bila diurutkan, obyek-obyek wisata di daerah ini berada dalam sau garis jalan, yaitu Kawah Putih, pemandian air panas Cimanggu, bumi perkemahan Ranca Upas, kebun teh dan pemandian air panas Ranca Ciwalini, kebun teh PTPN VIII Ranca Bali, dan berakhir di Situ Patengan.</p>
<p>Dari penginapan, kami naik angkot hingga ke Situ Patengan. Ongkosnya 5 ribu rupiah, plus 5 ribu untuk retribusi, semua dibayar oleh sopir angkot. Saya curiga duit retribusi kami dimakan sendiri oleh si sopir angkot, apalagi kami tidak mendapat tiket resmi.</p>
<p>Sopir angkot ini pula yang membuat perjalanan kami jadi kurang menyenangkan. Kalo misal ada banyak sopir angkot macam begini di satu obyek wisata, bisa dipastikan obyek wisata itu akan hancur, karena wisatawan jadi enggan datang. Selengkapnya saya ceritakan nanti.</p>
<p>Situ Patengan adalah sebuah danau seluas 48 hektar yang terbentuk dari sisa-sisa aktivitas vulkanik. Terletak pada ketinggian sekitar 1.600 meter dpl, membuat taman wisata ini sejuk. Apalagi di sekitar danau ditumbuhi tanaman pinus dan kayu putih.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/situ-patengan.jpg" alt="Situ Patengan di kala senja" title="Situ Patengan di kala senja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1437" /></p>
<p>Ada sebuah legenda tentang kemunculan Situ Patengan ini. Konon dulu ada sejoli yang bernama Raden Indrajaya,  (berjuluk Ki Santang), keponakan Prabu Siliwangi, dengan Dewi Rengganis yang karena peperangan, mereka berdua harus terpisah. Menangislah mereka hingga air matanya tergenang menjadi danau ini.</p>
<p>Karena kekuatan cinta mereka, kedua sejoli ini bertekad untuk bertemu sehingga mereka saling mencari, yang dalam bahasa Sunda &#8220;pateangan-teangan&#8221;. Nah, dari kata inilah nama Patengan berasal.</p>
<p>Mereka pun akhirnya bertemu kembali di tempat ini. Tempat bertemunya kedua sejoli ini dinamakan Batu Cinta. Wujud dari batu ini dikabarkan mirip dengan sosok manusia, namun batu ini sangat jarang terlihat karena berada di dalam danau, kecuali ketika air danau surut.</p>
<p>Dewi Rengganis pun meminta kepada Ki Santang untuk dibuatkan perahu untuk digunakan berkeliling danau. Konon pulau yang terletak di tengah danau ini dulunya adalah perahu Ki Santang yang digunakan untuk berkeliling. Ndak heran banyak persewaan perahu yang memang digunakan untuk berkeliling di danau sedalam 3 hingga 4 meter ini.</p>
<p>Pulau di tengah danau tersebut bernama Pulau Sasaka dan lebih dikenal dengan nama Pulau Asmara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/perahu-patengan.jpg" alt="Perahu sewaan di Situ Patengan" title="Perahu sewaan di Situ Patengan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1438" /></p>
<p>Sewa perahu lumayan mahal, sekitar 50-80 ribu. Atau jika menunggu penuh, dikenai tarif 15 ribu per orang. Namun yang menyebalkan, rata-rata para pemilik perahu memaksa pengunjung untuk menyewa.</p>
<p>Menurut mitos, barang siapa yang mengelilingi Pulau Asmara dan singgah di lokasi seputaran Batu Cinta, maka kisah cinta kedua sejoli ini akan abadi seperti pada kisah cinta Ki Santang dan Dewi Rengganis.</p>
<p>Situ Patengan dulunya bersatatus cagar alam dan taman nasional, namun sejak 1981, Situ Patengan dijadikan sebagai taman wisata.</p>
<p>Di sekeliling danau terdapat beberapa penginapan, toko-toko suvenir, dan warung makan yang nampak berjajar. </p>
<p>Kendaraan umum yang melayani rute ini paling terakhir beroperasi jam 6 sore. Dan inilah awal dari kekesalan kami kepada sopir angkot yang kami tumpangi sebelumnya.</p>
<p>Ketika kami tiba, si bapak menawarkan jasa untuk menunggui dan mengantarkan kami pulang. Tawar-menawar harga pun terjadi, dan disepakati harga sebesar 40 rupiah. Kami menganggap angkot sudah kami carter.</p>
<p>Menyebalkannya, ketika mengantar kami, angkot ini ternyata juga mengangkut penumpang sepanjang jalan! Kurang asem! Merasa tertipu, kami memutuskan untuk membayar ongkos layaknya kami naik angkot dengan tarif biasa.</p>
<p>Ketika kami sampai di penginapan dan membayar ongkos sebesar 20 ribu (untuk 4 orang), si sopir angkot tidak terima. Dia memaksa kami untuk membayar harga 40 ribu. Kok nyimut!!</p>
<p>Bahkan ketika kamu cuekin tu angkot, si sopir mengejar kami dan keributan terjadi. Kami berkeras bahwa itu sopir angkot menyalahi kesepakatan, wong sudah dicarter kok masih mengangkut penumpang. Sopir angkot ngehe itu berkilah, &#8220;kalo emang nggak mau ngangkut penumpang lain, bilang, dong&#8221;. Ini sopir angkot emang ngeselin.</p>
<p>Akhirnya satpam penginapan datang menengahi kami. Kami menjelaskan duduk persoalan, dan debat masih terjadi. Kami tetep tidak mau membayar ongkos sesuai kesepakatan karena si sopir angkot sejak awal sudah tidak jujur.</p>
<p>Karena capek dan malas berdebat lagi, kami mengancam bahwa kami bisa menulis di media (salah seorang di antara kami memang wartawan sebuah koran nasional) dan membuat lokasi wisata ini sepi, karena ulah penduduknya sendiri. Satpam yang tentunya membela tamu penginapan akhirnya memutuskan kami yang menang. Ya memang seharusnya begitu.</p>
<p>Sumpah asli Ciwidey dingin sekali. Setelah masuk penginapan yang nyaman, kami enggan keluar. Bahkan untuk sekedar mencari makan. Untungnya lokasi penginapan kami terdapat restoran, sehingga kami tidak harus bersusah-susah mencari warung, tinggal ngesot ke depan.</p>
<p>Walau kami kehabisan menu, karena kami datang ke restoran cukup malam, sekitar jam 9, kami cukup beruntung. Suasana yang sunyi tentu menyulitkan menemukan tempat makan lainnya. Mana ada penjual pecel lele kaki lima di tempat ini?</p>
<p>Pagi-pagi kami segera nyegat angkot di depan penginapan. Ndak berbeda dengan angkot semalam, sopir angkot kami yang masih remaja menawarkan jasa menyewakan angkotnya, karena dari gerbang untuk sampai ke kawah masih cukup jauh. Tentu kami menolak dan meminta untuk turun di depan gerbang obyek wisata Kawah Putih.</p>
<p>Setiba di depan gerbang kami dipungut biaya resmi retribusi sebesar 12 ribu per orang. Awalnya kami hendak naik ontang-anting, kendaraan khas obyek wisata ini berupa mobil pickup yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga mampu memuat 12 orang, urung karena lagi-lagi kami agak sedikit dipaksa untuk menyewa. Biaya sewa 100 ribu per orang. Cih!</p>
<p>Kalo dihitung-hitung oleh kami berempat, per orang membayar 25 ribu. Padahal seharusnya ontang-anting itu beroperasi layaknya angkot, mengantar penumpang dari gerbang ke kawah dengan biaya yang cukup murah. Tapi lagi-lagi sopir angkot nggak mau rugi. Mungkin karena sepi pengunjung yang menggunakan jasa mereka, karena rata-rata wisatawan di sini menggunakan kendaraan pribadi.</p>
<p>Kami pun memutuskan naik ojek saja. Tukang ojek awalnya memasang harga 25 ribu untuk diantar PP, dan kami menawar 20 ribu. Sebenernya bila kami lebih gigih lagi, kami bisa dapat harga 15 ribu. Tapi ya sudah lah, kami  udah malas berurusan dengan mobil, takutnya kejadian &#8220;angkot&#8221; semalam kembali terulang.</p>
<p>Sekitar 10 menit kami diantar menuju kawah. Walau medannya gak seganas ketika mencapai <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html" title="Jeng-Jeng Garut">Kawah Papandayan, Garut</a>, namun jalan yang kami lalui cukup mendebarkan.</p>
<p>Di sekitar kawah, banyak terdapat rambu peringatan untuk tidak berlama-lama di seputar kawah. Kandungan belerangnya yang sangat kuat memang bisa mengganggu kesehatan bila berlama-lama menghirup gasnya. Belum lagi bau belerang yang busuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/kawah-putih.jpg" alt="Kawah Putih" title="Kawah Putih" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1439" /></p>
<p>Kawah Putih merupakan salah satu dari dua kawah yang ada di Gunung Patuha. Kawah yang satunya adalah Kawah Saat (kata &#8220;saat&#8221; berarti &#8220;surut&#8221; dalam bahasa Sunda). Kedua kawah ini diperkirakan terbentuk pada abad ke-10 atau 12.</p>
<p>Kawah Putih terletak pada ketinggian 2.343 meter dpl sedangkan Kawah Saat terletak pada ketinggian 2.194 meter dpl.</p>
<p>Berawal pada tahun 1837, seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, menemukan kawah ini ketika melakukan ekspedisi.</p>
<p>Karena kandungan belerangnya yang sangat tinggi, bahkan burung pun tak ada yang melintas di atas kawah ini, zaman pemerintahan Belanda, sempat dibangun pabrik belerang dengan nama <em>Zwavel Ontgining Kawah Putih</em> di kawasan ini. Pada masa pendudukan Jepang, pabrik ini kemudian diberi nama <em>Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey</em>.</p>
<p>Pada tahun 1987 PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan kawasan Kawah Putih ini menjadi kawasan obyek wisata.</p>
<p>Keunikan Kawah Putih terletak pada warna air di danau kawahnya. Warna air danau ini dapat berubah warna, kadangkala berwarna hijau apel kebiru-biruan bila siang hari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu, namun paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut asap tebal di atas permukaan kawah. Oleh karena itu kawah tersebut dinamakan Kawah Putih.</p>
<p>Di salah satu sisi tebing, terdapat goa kecil yang &#8220;disegel&#8221; dengan kayu bertuliskan &#8220;jangan mendekat&#8221;. Begitu lewat di depan goa ini, bau belerang yang menyengat begitu kuat dapat tercium hebat. Konon ini sisa-sisa pabrik belerang yang ada di sini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/goa-belerang.jpg" alt="Goa belerang Kawah Putih" title="Goa belerang Kawah Putih" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1440" /></p>
<p>Cerita legenda pun rupanya juga menyelimuti kawasan ini. Konon di sekitar kawah ini terdapat beberapa makam keramat, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong.</p>
<p>Salah satu puncak Gunung Patuha yaitu Puncak Kapuk, konon merupakan tempat pertemuan para penunggu yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon, di tempat ini terkadang secara ghaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat sekitar disebut <em>domba lukutan</em>.</p>
<p>Saya menemukan sebuah jalan setapak yang sepi menyusuri salah satu bibir danau. Dugaan saya, jalan setapak ini menuju ke makam yang dikeramatkan ini.</p>
<p>Kami pun tak mau berlama-lama. Selain hari makin siang, orang mulai ramai berdatangan, juga perut udah mual dan mata mulai pedih akibat terlalu lama menghirup bau belerang, kami pun meninggalkan kawah.</p>
<p>Fasilitas di kawasan ini bisa dibilang cukup bagus. Toilet bersih, mushola lumayan, plus banyak penjaja makanan yang bisa menjadi andalan untuk mengganjal perut yang keroncongan.</p>
<p>Salah satu makanan yang layak dicoba adalah Sate Strawberry Coklat. terdiri dari beberapa biji strawberry gemuk yang ditusuk-tusuk kemudian dilumuri coklat beraneka warna dan rasa. Harganya 10 ribu dapat 3 tusuk sate.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/sate-strawberry.jpg" alt="Sate Strawberry" title="Sate Strawberry" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1441" /></p>
<p>Kami kembali ke penginapan dan kemudian check-out. Masalah kembali datang. Karena mengandalkan stiker bertulis VISA, BCA, dan Mandiri Debet yang tertempel di depan ruang resepsionis, kami pun nyantai ketika harus membayar biaya kamar.</p>
<p>Sial! Rupanya saluran telepon hotel bermasalah sehingga pembayaran menggunakan berbagai jenis macam kartu tidak dapat dilakukan. Padahal uang cash kami sudah habis dan hanya cukup untuk ongkos pulang. Walau sudah menguras semua kantong, duit terkumpul masih kurang 400 rebu. Terpaksa saya turun ke bawah naik angkot untuk mencari ATM.</p>
<p>Mampus. Rupanya ATM sangat susah ditemui. Akhirnya saya mampir di Alfamart di daerah deket-deket &#8220;kota&#8221; Ciwidey yang ada tulisan &#8220;TUNAI BCA&#8221;-nya. Alhamdulillah! Kami pun bisa check-out!</p>
<p>Pelajaran yang bisa dipetik: bawa uang cash yang cukup banyak bila Anda bepergian ke lokasi pelosok. Segala macam kartu sakti tidak akan berfungsi di daerah macam ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Curug Cilember, Pesona 7 Air Terjun</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/curug-cilember-pesona-7-air-terjun.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/curug-cilember-pesona-7-air-terjun.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 18:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[curug]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1331</guid>
		<description><![CDATA[Puncak adalah tempat favorit warga Jakarta untuk berlibur. Bisa dipastikan setiap akhir pekan, jalur ini selalu macet. Namun sebenernya di rute menuju kawasan Puncak ini terdapat tempat wisata alternatif yang bisa dikunjungi, walau tetep harus menembus kemacetan jalur puncak juga, sih. He he he. Akhir pekan itu saya, Nila, dan Suprie bekunjung ke Curug Cilember, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/curug-cilember.jpg" alt="Curug Cilember" title="Curug Cilember" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1330" /></p>
<p>Puncak adalah tempat favorit warga Jakarta untuk berlibur. Bisa dipastikan setiap akhir pekan, jalur ini selalu macet. Namun sebenernya di rute menuju kawasan Puncak ini terdapat tempat wisata alternatif yang bisa dikunjungi, walau tetep harus menembus kemacetan jalur puncak juga, sih. He he he.</p>
<p>Akhir pekan itu saya, <a href="http://corniladesyana.wordpress.com" title="Cornila" target="_blank">Nila</a>, dan <a href="http://suprieaja.com/" title="Suprie" target="_blank">Suprie</a> bekunjung ke Curug Cilember, sebuah tempat wisata yang letaknya sekitar 20 km dari Kota Bogor ke arah Puncak. Yang namanya akhir pekan, rute yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam dari Bogor bisa mencapai 2 jam!</p>
<p><span id="more-1331"></span>Dari Jakarta, saya dan Nila naik bus Agra Mas dari Lebak Bulus menuju Bogor. Ongkosnya sekitar 12 rebu. Di Bogor, kami akan bertemu dengan Suprie yang kebetulan sedang berada di Cibinong.</p>
<p>Dari Bogor, kami naik angkot 01 jurusan Baranang Siang-Ciawi dengan ongkos 2 rebu per orang. Sesampai di Ciawi, kami berganti angkot biru jurusan Cisarua.</p>
<p>Kemacetan terjadi di pertigaan di tanjakan sebelum Cipayung. Supir angkot kami yang dari logatnya sepertinya logat Batak (karena kecampur sunda-sunda gitu), mengajak kami ngobrol. Guyon-guyonnya yang garing memang menjadi penghibur kami di tengah kemacetan.</p>
<p>Lepas dari Cipayung, penumpang angkot tinggal kami bertiga. Beruntung, karena saat itu jalur Puncak sedang dibuka satu arah yaitu yang mengarah ke Puncak. Angkot pun digeber dengan kencang.</p>
<p>Supir angkot yang sok akrab itu menawarkan jasanya untuk mengantar kami hingga ke Curug Cilember dengan hitungan menyewa angkotnya sebesar 30 ribu rupiah. Setelah berpikir, kami menolaknya dan lebih memilih menggunakan ojek saja nantinya. Ongkos dari Ciawi sampai Hankam 5 ribu rupiah.</p>
<p>Kami turun di pertigaan Hankam, karena ternyata pertigaan Cilember terlewati. Dari pertigaan ini, kami naek ojek dengan ongkos 10 ribu per orang untuk sampai ke Wana Wisata Curug Cilember.</p>
<p>Jalan dari pertigaan Hankam menuju tempat wisata memang luar biasa. Tikungan tajam ketika jalan menurun curam atau menanjak tajam menjadi rute yang membuat adrenalin mengalir cukup deras. Belum lagi jalan yang sempit, membuat kami yakin keputusan kami menolak tawaran bapak supir angkot tadi tepat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/welcome-board.jpg" alt="Welcome to Curug 7 Cilember" title="Welcome to Curug 7 Cilember" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1332" /></p>
<p>Wana Wisata Curug Cilember terletak di Desa Cilember, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, membuat kawasan di kaki Bukit Hambalang ini sejuk dengan vegetasi dominan pinus merkusi dan anggrek tanah berwarna kuning.</p>
<p>Kami masuk dengan terlebih dulu membeli tiket retribusi seharga 7.500 rupiah per orang. Kawasan wisata ini rupanya sudah dikelola cukup baik, terlihat dari sarana dan prasarana yang tersedia di lokasi ini.</p>
<p>Sepanjang jalan setapak sudah disemen dan diberi papan petunjuk. Kios-kios penjual suvenir dan warung makan juga terlihat berderet rapi. Di lokasi ini juga terdapat lapangan yang digunakan untuk berkemah. Ketika kami datang, siswa-siswa dari sebuah SMP sedang mengadakan acara perkemahan.</p>
<p>Bungalow-bungalow dengan konsep rumah panggung yang terbuat dari kayu juga disewakan di tempat ini. Total ada 4 bungalow yang mempunyai tarif berbeda-beda, mulai dari 500 ribu hingga 800 ribu rupiah. harga ini akan makin mahal ketika akhir pekan atau liburan.</p>
<p>Pondok Meranti adalah tipe bungalow yang paling lengkap dan paling mahal, sedangkan Pondok Merkusi adalah kelas menengah, kemudian Pondok Rasamala dan Damar adalah bungalow yang paling murah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/bungalow.jpg" alt="Bungalow di Curug Cilember" title="Bungalow di Curug Cilember" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1333" /></p>
<p>Fasilitas untuk outbond juga ada di kawasan ini. Saya melihat seutas tali terbentang yang ternyata merupakan fasilitas <em>flying fox</em>.</p>
<p>Kami menjumpai sebuah bangunan berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari jaring-jaring besi. Rupanya bangunan ini adalah Taman Konservasi Kupu-kupu, di mana di tempat ini dikembangbiakkan 12 spesies kupu-kupu dari seluruh Indonseia, diantaranya adalah <em>Troides helena</em> dan <em>Papilio meiunon</em>.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/taman-kupu-kupu.jpg" alt="Taman Konservasi Kupu-kupu" title="Taman Konservasi Kupu-kupu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1336" /></p>
<p>Setelah melewati Jembatan Cinta, sebuah jembatan yang melintasi sungai kecil dan menapaki jalan setapak, kami sampai di Curug 7.</p>
<p>Suasana yang sangat ramai membuat kami enggan mendatangi curug ini dan langsung menuju ke Curug 5.</p>
<p>Curug Cilember terdiri dari 7 buah curug sambung-menyambung yang airnya berasal dari mata air di Bukit Hambalang pada ketinggian 2.000 meter dpl. Curug 1 sendiri terletak pada ketinggian 1.700 meter dpl dan curug terakhir, yaitu curug 7 berketinggian sekitar 30 meter berada pada ketinggian 800 meter dpl.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/curug.jpg" alt="Air terjun" title="Air terjun" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1334" /></p>
<p>Namun untuk menikmati keindahan curug-curug ini, dibutuhkan pengorbanan ekstra. Makin ke atas, medan yang ditempuh semakin terjal dan sulit. Track semen hanya sampai di Curug 7, sedangkan untuk sampai ke Curug 5, track berupa tangga batu yang terjal.</p>
<p>Curug 6 tidak dapat dijangkau karena medan yang berbahaya. Umumnya pengunjung hanya sampai di Curug 5 saja. Menurut tukang ojek yang saya tumpangi, curug yang bagus justru curug-curug yang berada di atas karena jarang tersentuh oleh manusia. Namun total perjalanan mulai dari Curug 7 dan mendaki hingga Curug 1, diperlukan waktu sekitar 3 jam!</p>
<p>Kami pun hanya sampai di Curug 5. Sebuah curug dengan kolam di bawahnya memang menarik untuk dicemplungi dan berbasah-basah di sana. Karena di Curug 5 ini ternyata juga ramai, kami memilih bermain air di sungai kecil yang  letaknya tak jauh dari Curug 5.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/suprie-leyeh-leyeh.jpg" alt="Suprie leyeh-leyeh" title="Suprie leyeh-leyeh" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1335" /></p>
<p>Air yang dingin dan segar membuat letih saya selama perjalanan tadi sirna ketika saya membasuh muka dan mengguyur air di atas kepala.</p>
<p>Tak terasa hari sudah sore. Kami pun segera beranjak dari ketenangan dan kesejukan di tempat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/curug-cilember-pesona-7-air-terjun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>52</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Green Canyon &amp; Pangandaran</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 18:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Ciamis]]></category>
		<category><![CDATA[Green Canyon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Berkunjung ke Green Canyon merupakan salah satu wishlist saya tahun lalu yang baru kesampaian. Pesonanya sudah lama terdengar dan saya telah membuktikannya. Green Canyon, sebuah bagian dari Sungai Cijulang di Ciamis, Jawa Barat, yang diapit oleh tebing dengan air berwarna hijau toska ini memang eksotis. Pangandaran, yang juga berada di Ciamis, juga tak boleh terlewatkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/green-canyon.jpg" alt="Menuju Green Canyon" title="Menuju Green Canyon" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1137" /></p>
<p>Berkunjung ke Green Canyon merupakan salah satu wishlist saya tahun lalu yang baru kesampaian. Pesonanya sudah lama terdengar dan saya telah membuktikannya. Green Canyon, sebuah bagian dari Sungai Cijulang di Ciamis, Jawa Barat, yang diapit oleh tebing dengan air berwarna hijau toska ini memang eksotis.</p>
<p>Pangandaran, yang juga berada di Ciamis, juga tak boleh terlewatkan. Hamparan pantai berpasir putih yang memiliki garis pantai barat dan garis pantai timur ini cukup menawan terutama ketika sunset dan sunrise. Boleh dibilang Pangandaran menjadi basis jika kita ingin mengunjungi berbagai obyek wisata lain di sekitarnya.</p>
<p><span id="more-1133"></span>Perjalanan melelahkan untuk menuju ke sana yang memakan waktu kurang lebih 8-9 jam dari Jakarta terbayar lunas. Dan seperti biasa, tanpa rencana, hanya bermodalkan beberapa lembar pakaian dan logistik seadanya yang tersimpan di dalam backpack, saya pun ndoyok ke sana.</p>
<p>Ada beberapa rute yang bisa ditempuh untuk mencapai Green Canyon. Seperti yang saya bilang, Pangandaran menjadi basis sebelum menuju ke Green Canyon. Untuk menuju ke Pangandaran bisa langsung dari Jakarta atau dari Bandung.</p>
<p>Saya menggunakan bus Perkasa Jaya tujuan Pangandaran yang berangkat dari terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Macet yang amat parah di akhir pekan membuat saya hampir tertinggal bus terakhir yang berangkat sekitar pukul 9 malam ini.</p>
<p>Sebenernya ada bus AC dengan rute yang sama, namun bus ini sudah berangkat sejam sebelumnya. Bus yang saya tumpangi ini berkelas ekonomi non-AC dengan tarif 55 ribu rupiah.</p>
<p>Awalnya saya khawatir jika bus ini akan berhenti di tengah jalan untuk mengangkut penumpang sehingga waktu tempuh semakin lama, namun karena bus ini langsung masuk tol menuju Bandung membuat kekhawatiran saya sirna. Penumpang yang tidak begitu penuh karena perjalanan di malam hari membuat perjalanan cukup nyaman.</p>
<p>Saya berangkat pada Jumat malam hari karena ingin menghemat waktu serta penginapan. Niatnya sih mau tidur di bus sehingga paginya siap untuk jeng-jeng namun apa daya, desain kursi bus ekonomi ini membuat badan saya pegel-pegel dan ndak bisa tidur! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Sampai di Pangandaran pagi sekitar pukul 6. Begitu turun dari bus, saya langsung ditawari jasa ojek. Karena hari masih sangat pagi untuk meneruskan perjalanan ke Green Canyon, saya pun memutuskan untuk mencari penginapan di sekitar kawasan wisata Pantai Pangandaran.</p>
<p>Dengan menyewa ojek yang cukup mahal, 30 ribu rupiah, saya berkeliling mencari penginapan yang cocok. Mulai dari yang bentuknya mirip kamar kos-kosan mahasiswa yang umpel-umpelan hingga hotel mewah dan bungalow pun ada. Harganya pun bervariatif, mulai dari 100 rebu per malam hingga yang bertarif jutaan. Karena masih pagi, saya bisa lebih leluasa survei dan berkeliling untuk bertanya dari satu penginapan ke penginapan lainnya.</p>
<p>Saya menginap di Hotel Sunset, dengan tarif 300 rebu (kelasnya menengah), dengan fasilitas yang mirip dengan hotel berbintang 3 lah. Fasilitasnya selain AC, TV, breakfast, dan yang penting kasur empuk dan air panas! Apalagi view dari kamar lumayan bagus dan jarak ke pantai cuma sekali salto. Bila dibandingkan dengan fasilitasnya dan lokasinya, tarifnya masih masuk akal menurut saya. Apalagi saya kan mau liburan dan bermanja-manja diri. Hehehe.</p>
<p>Backpacking bukan berarti harus &#8220;kere&#8221; dan menyiksa diri dengan meminimalisir pengeluaran seirit mungkin, namun bila mampu, boleh lah merasakan &#8220;kemewahan&#8221; demi kenyamanan. Selama budget dan kemampuan finansial masih masuk, menurutku sih tiada masalah. Hehehe.</p>
<p>Maksud hati cuma menaruh backpack, bebersih diri, dan beristirahat sejenak, tapi karena tidak bisa tidur selama di perjalanan membuat saya terlelap di hotel. Badan yang segar sehabis mandi air hangat yang pasrah di dalam pelukan kasur empuk dan buaian AC membuat saya bangun kesiangan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p>Sehabis dhuhur dan mencari makan di warung makan Holiday yang menyediakan berbagai menu masakan dengan harga yang wajar yang tak jauh dari hotel, saya berangkat ke Green Canyon.</p>
<p>Ada beberapa cara untuk sampai Green Canyon. Dari terminal Pangandaran, kita bisa naik bus kecil ke arah Terminal Cijulang. Dari terminal Cijulang, kita bisa naik ojek lagi hingga sampai ke Dermaga Ciseureuh. </p>
<p>Saya sekali lagi mengandalkan ojek. Dengan tarif sekitar 60 ribu, si tukang ojek akan mengantarkan saya dari hotel hingga ke dermaga, menunggu saya selama berada di Green Canyon, kemudian mengantarkan saya ke obyek wisata Pantai Batu Hiu, dan mengantarkan saya kembali ke hotel.</p>
<p>Jarak dari Pangandaran ke Dermaga Ciseureuh yang terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, sekitar 30 km. Waktu tempuh dengan menggunakan ojek sekitar 30 menit. Dari dermaga ini, kita harus menyewa perahu untuk sampai ke Green Canyon.</p>
<p>Dermaga Ciseureuh dibangun sekitar tahun 1993. Sebelumnya para penyedia jasa perahu bekerja sendiri-sendiri dalam menawarkan perahunya. Dengan adanya dermaga ini, para penyedia jasa perahu bisa diatur dan menjadi lebih tertib.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/dermaga-cisereuh.jpg" alt="Di Dermaga Ciseureuh" title="Di Dermaga Ciseureuh" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1134" /></p>
<p>Ongkos sewa perahu 75 ribu per perahu dengan maksimal jumlah penumpang 5 orang. Cukup mahal bila kita menyewa untuk sendiri dan tentunya menjadi lebih murah bila kita berombongan.</p>
<p>Perjalanan dari dermaga ke Green Canyon yang berjarak sekitar 3 km ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dengan perahu motor. Kita akan ditemani seorang juru mesin dan seorang guide.</p>
<p>Kami berjalan menuju hulu, menyusuri Sungai Cijulang dengan air berwarna hijau keruh. Menurut guide saya, warna air akan menjadi hijau jernih pada musim kemarau.</p>
<p>Di sepanjang sungai, bila beruntung kita bisa melihat beberapa ekor biawak yang terlihat nemplok di pepohonan. Kedalaman sungai ini menurut guide bisa mencapai 7 meter. Sedangkan di Green Canyon sendiri bisa sampai 4 meter.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/mulut-green-canyon.jpg" alt="Mulut Green Canyon" title="Mulut Green Canyon" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1143" /></p>
<p>Kami pun akhirnya tiba di mulut Green Canyon. Mulutnya berbentuk seperti goa, namun di bagian lainnya &#8220;atap&#8221; goanya tidak ada alias tebing terbuka.</p>
<p>Bagian atap goa yang menghubungkan kedua tebing inilah yang disebut dengan Cukang Taneuh, yang berarti &#8220;jembatan tanah&#8221;. Jembatan ini menghubungkan Desa Batukaras dan Desa Kertajaya.</p>
<p>Sampai di sana rupanya sudah banyak perahu yang sedang menambatkan diri. Perahu ndak dapat masuk lebih ke dalam lagi karena terhadang batuan besar di mulut gua. Bila ingin masuk ke dalam lagi harus berenang dengan menggunakan pelampung. Hampir semua perahu kosong karena para penumpangnya sedang masuk menjelajah lebih ke dalam. </p>
<p>Bila ingin dipandu menyusuri gua oleh guide, ada biaya tambahan yang bisa didiskusikan dengan si guide. Biayanya bisa mencapai harga sekali sewa perahu, karena guide menghitung berdasarkan waktu kita menjelajah gua sekitar 45 menit hingga 1 jam.</p>
<p>Nanggung bila cuma sampai di mulut gua, saya pun menyepakati harga agar bisa menjelajah lebih dalam. Si guide pun meminjamkan pelampung yang harus dikenakan dan si juru mesin akan berada di atas perahu sambil menjaga barang-barang. Kamera kemudian saya bungkus plastik dan saya titipkan ke guide agar saya bisa berfoto-foto di dalam.</p>
<p>Saya pun langsung nyemplung ke dalam air. Hati-hati, karena arus yang cukup deras, kita bisa terseret. Belum lagi batu-batuan di dasar membuat kaki bisa terluka bila tidak berhati-hati.</p>
<p>Karena Green Canyon itu strukturnya seperti gua, kita bisa melihat stalagtit dan stalagmit yang begitu indah. Ada bagian di dalam gua di mana tetes-tetes air yang jatuh dari stalagtit begitu deras dan berbentuk seperti air hujan yang disebut dengan air terjun Palatar karena letaknya berada di depan mulut gua.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/di-antara-tebing-green-cany.jpg" alt="Green Canyon" title="Green Canyon" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1135" /></p>
<p>Pemandangan stalagtit dan stalagmit yang eksotis, ditambah percikan air yang menetes, dan cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam melewati tebing tak beratap memberikan pemandangan yang cantik.</p>
<p>Karena saya datang di saat musim hujan, air masih begitu deras. Guide saya selalu menunjukkan ke arah mana saya harus berenang agar ndak terseret arus dengan meminta saya mengikutinya. Lincah sekali dia, berenang dengan satu tangan di mana salah satu tangannya berada di atas membawa kamera agar tidak tercelup air.</p>
<p>Ketika beristirahat sejenak, saya melihat beberapa orang nampak duduk di atas sebuah batu besar. Kemudian mereka meloncat dari atas batu yang tingginya sekitar 4 meter dan nyemplung ke air. Melihatnya, saya ingin mencoba. Guide saya menyarankan saya mencobanya ketika hendak pulang karena perjalanan menelusuri gua masih panjang.</p>
<p>Ada sebuah bagian di mana air cukup deras, sehingga kami harus meniti pada dinding tebing. Dengan berpegangan pada celah-celah batu, mengingatkan saya pada olah raga panjat tebing yang bertumpu pada kekuatan jari. Bila tidak berhati-hati, kita juga bisa terluka karena beberapa permukaan batu yang tajam.</p>
<p>Setelah petualangan menyusuri gua yang cukup melelahkan, sampai lah kami di satu titik di mana kami harus berhenti. Selain medan yang lebih sulit karena batuan licin dan berlumut, kami tidak bisa berlama-lama di dalam gua.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/jacuzzi-alam.jpg" alt="Di Kolam Putri" title="Di Kolam Putri" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1138" /></p>
<p>Namun sebelum pulang, guide mengajak saya menuju sebuah kolam di atas tebing di mana airnya berasal dari tetes-tetes air yang tertampung di dalam cekungan. Cekungan ini sering disebut dengan Kolam Putri.</p>
<p>Untuk menuju ke sana, kami harus memanjat tebing setinggi sekitar 5 meter. Bebatuan yang licin sempat membuat saya beberapa kali terpeleset namun untungnya saya masih bisa berpegangan pada batu. Dan begitu sampai di atas, benar saja, sebuah kolam berisi air nampak pasrah untuk dicemplungi.</p>
<p>Saya sangat menikmati nyemplung di kolam ini, selain airnya yang jernih dan segar pemandangan dari atas sini lebih mantab!</p>
<p>Puas berendam di Kolam Putri, kami pun kembali ke perahu. Saya menikmati mengapung dengan telentang dan membiarkan badan terseret arus sembari menikmati pemandangan di atap gua. Bener-bener indah!</p>
<p>Guide pun mengingatkan saya apakah saya jadi mencoba meloncat dari atas Batu Payung, yang tadi sempet saya pengeni tadi. Tentu saja saya mau dan guide menunjukkan jalan agar sampai di atas batu tersebut. </p>
<p>Disebut Batu Payung karena bentuknya setengah lingkaran seperti payung, padahal kalo diamat-amati ndak berbentuk seperti payung, loh. Heheheh.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/di-atas-batu-payung.jpg" alt="Di atas Batu Payung sebelum meloncat" title="Di atas Batu Payung sebelum meloncat" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1136" /></p>
<p>Saya yang awalnya pede abis langsung sedikit ciut nyali. Njrit! Ternyata kalo dari atas, pemandangannya sedikit menyeramkan. Apalagi permukaan batu yang bulat menyulitkan saya menentukan titik tolakan.</p>
<p>Dengan mengumpulkan nyali yang tadi sempat mengkerut, saya pun ambil ancang-ancang dan setelah melangkah 3-4 langkah setengah berlari saya lantas meloncat ke dalam air.</p>
<p>Hup! Waktu seperti terasa berhenti selama 2 detik sebelum badan nyemplung ke air. Adrenalin langsung mengalir deras ketika saya &#8220;melayang&#8221;!</p>
<p>Byur!! Blup blup blup! Saya pun berusaha mencari udara. Begitu kepala saya nongol di permukaan, rupanya saya berada cukup jauh dari Batu Payung karena terseret arus.</p>
<p>Penasaran, saya pun ingin mencobanya sekali lagi. Dengan susah payah, saya berenang melawan arus untuk kembali ke Batu Payung, segera naik ke atas, dan kembali merasakan adrenalin yang menjalar di sekujur tubuh.</p>
<p>Meloncat dari Batu Payung menutup perjalanan saya mengeksplorasi Green Canyon. Kami pun kembali ke perahu untuk kembali ke dermaga. Saya menikmati angin yang berdesir serta sengatan matahari untuk mengeringkan badan yang basah. Ah, nikmatnya!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/perahu-cijulang.jpg" alt="Di atas perahu di sungai Cijulang" title="Di atas perahu di sungai Cijulang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1139" /></p>
<p>Dari Green Canyon, saya kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Karena saya cuma bawa selembar kaos cadangan, dengan berbasah-basah saya kembali ke hotel menggunakan ojek yang tadi menunggu saya. Di perjalanan, saya berharap celana saya bisa kering karena tersapu angin.</p>
<p>Seperti janji si tukang ojek, saya diantarkan ke Pantai Batu Hiu yang terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, sekitar 15 km dari Pangandaran.</p>
<p>Sekitar 15 menit, saya telah sampai di pantai tersebut. Disebut Pantai Batu Hiu karena ada sebuah batu di tengah laut yang katanya mirip dengan hiu. Saya kira karena ada kepala hiu yang lagi mangap yang menjadi gerbang masuk. Hehehe.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/kepala-hiu.jpg" alt="Gerbang masuk Pantai Batu Hiu" title="Gerbang masuk Pantai Batu Hiu" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1140" /></p>
<p>Pantai pasir putih menjadi pesona dari pantai ini. Namun saya penasaran dengan batu berbentuk hiu yang didengung-dengungkan orang. Saya pun menyusuri jalan setapak menuju bukit yang banyak ditumbuhi pohon Pandan Wong yang besar-besar.</p>
<p>Dari atas bukit ini memang pemandangannya sangat elok. Kita bisa duduk-duduk di atas rumput hijau yang seolah-olah menjadi permadani di bukit ini.</p>
<p>Selain pemandangan alamnya yang ciamik, pantai ini rupanya juga menjadi lokasi ziarah bagi orang yang ingin menjadi sinden atau penabuh gamelan terkenal. Konon kepercayaan ini berasal dari sebuah cerita rakyat.</p>
<p>Beberapa anjing kampung nampak berkeliaran ke sana kemari, namun jangan khawatir, anjing-anjing ini cukup ramah, kok. Bila berbaik hati, berikan beberapa makanan ke anjing-anjing ini, asal bukan makanan berbahan coklat karena coklat bisa membunuh anjing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Di ujung, saya melihat sebuah batu yang berada di tengah lautan. Setelah bertanya kepada penjual makanan yang juga banyak tersebar di sepanjang jalan setapak, rupanya benar kalo batu itulah yang dimaksud dengan Batu Hiu. Padahal kalo menurut saya, ndak ada mirip-miripnya sama hiu. Hihihihi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/pantai-batu-hiu.jpg" alt="Di Pantai Batu Hiu" title="Di Pantai Batu Hiu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1141" /></p>
<p>Menikmati pemandangan yang cantik di pantai ini mengingatkan saya akan sebuah tembang dari Doel Sumbang yang berjudul Bulan di Atas Batu Hiu.</p>
<blockquote><p>Bulan nu ngagantung di atas Batu Hiu<br />
Tinggal sapasi sesa purnama kamari<br />
Ikrar janji, sahidup samati<br />
Moal khianat, insya Allah moal pegat..</p></blockquote>
<p>Woh, malah nyanyi! Dan kok ya pas banget, di atas langit bulan nampak nongol separo, <em>tinggal sapasi sesa purnama kamari</em>.. Hihihi.</p>
<p>Saya sampai di hotel menjelang mentari terbenam. Nanggung, sebelum bebersih diri dan karena pakaian sudah lumayan kering, saya menghabiskan waktu menikmati sunset di Pantai Pangandaran di sisi barat.</p>
<p>Nampak perahu-perahu wisata yang bisa disewa untuk berkeliling laut atau mengantarkan penumpang ke Cagar Alam Pananjung mulai mendarat. Laut yang bentar lagi pasang membuat aktivitas wisata berkurang. Melihat aktivitas awak perahu meminggirkan perahunya menjadi pemandangan menarik.</p>
<p>Penjaja kuda mulai menggiring kudanya pulang dan penyewaan papan selancar mini mulai mengemasi papan selancarnya. Nampak beberapa orang tengah mengendarai ATV (All-Terrain Vehicle) yang banyak disewakan di sepanjang pantai. Beberapa pasangan nampak asyik bersepeda menggunakan sepeda tandem yang juga bisa disewa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/sunset-pangandaran.jpg" alt="Sunset di Pangandaran" title="Sunset di Pangandaran" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1142" /></p>
<p>Puas menikmati sunset, saya kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Saya ingin berkunjung ke Pasar Ikan yang berada di pantai timur untuk sekedar melihat-lihat.</p>
<p>Di Pasar Ikan, kita bisa langsung membeli hasil laut yang masih segar. Menariknya, di rumah makan yang ada di seputaran Pasar Ikan menjual menunya dengan cara berbeda.</p>
<p>Calon konsumen dipersilakan memilih sendiri menu makan malam mereka, apakah udang, cumi, kerang, atau kepiting. Menu ini dijual dalam satuan kilo, dengan pembelian minimal setengah kilo. Harga yang dibayar per kilo tersebut sudah termasuk ongkos memasak.</p>
<p>Dari hotel, saya menaiki becak yang banyak dijajakan. Dengan ongkos 20 ribu rupiah, saya bisa berkeliling dari hotel menuju pasar ikan dan kembali lagi ke hotel. Suasana malam di pantai ini rupanya ndak begitu ramai padahal malam itu malam minggu, walau nampak satu-dua pasangan muda-mudi sedang memadu kasih.</p>
<p>Sehabis berkeliling, malam itu saya terlelap karena capek yang tiada terkira. Meskipun begitu, kesenangan yang saya dapatkan siang tadi masih membekas.</p>
<p>Paginya, setelah check-out dari hotel, saya memanggul backpack lagi untuk kembali ke Jakarta dengan lebih dulu mampir ke Bandung. Untuk ke Bandung, saya naik bus Budiman yang berangkat setiap jam dari Terminal Pangandaran menuju Terminal Cicaheum, Bandung.</p>
<p>Untungnya saya dapat bus AC dengan tarif 35 ribu rupiah. Rencananya dari Bandung saya kembali ke Jakarta menggunakan kereta api. Namun apa lacur, tiket kereta api sudah ludes terjual ketika saya nyampe di Stasiun Bandung. Damn! Saya lupa kalo ini awal pekan!</p>
<p>Plan B, saya segera menuju Terminal Leuwi Panjang untuk naik bus tujuan Jakarta. Saya sempat berlari-lari mengejar bus Damri jurusan Dago-Leuwi Panjang ketika bus terjebak macet walau akhirnya bus itu lolos juga. Terpaksa lah saya naik angkot dengan oper 2 kali untuk sampai di Leuwi Panjang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /> </p>
<p>Dari Terminal Leuwi Panjang, saya naik bus AC Prima Jasa tujuan Terminal Lebak Bulus, Jakarta. Ongkos bus ini 50 ribu rupiah. Tempat duduk yang lebih nyaman di bus ini membuat saya bisa beristirahat.</p>
<p>Meskipun capek, saya puas telah memenuhi salah satu wishlist saya. Semoga saya bisa memenuhi wishlist saya yang lainnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>99</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mata Air Panas Gunung Pancar, Air Panas Minim Belerang</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/mata-air-panas-gunung-pancar-air-panas-minim-belerang.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/mata-air-panas-gunung-pancar-air-panas-minim-belerang.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 04:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[air panas]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=978</guid>
		<description><![CDATA[Badan pegal-pegal akibat mburuh selama seminggu langsung sirna seketika setelah merasakan kehangatan panasnya air yang merendam badan. Sabtu kemarin, saya bareng Purwo dan Damar, 2 orang temen kantor, melakukan perjalanan ke pemandian air panas Gunung Pancar, Desa Karangtengah, Kecamatan Babakan Madang, Citereup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berangkat pagi-pagi sekali dari rumah Purwo di daerah Sentul, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/air-panas-gunung-pancar.jpg" alt="Mata Air Panas Gunung Pancar" title="Mata Air Panas Gunung Pancar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-979" /></p>
<p>Badan pegal-pegal akibat mburuh selama seminggu langsung sirna seketika setelah merasakan <strike>kehangatan</strike> panasnya air yang merendam badan.</p>
<p>Sabtu kemarin, saya bareng <a href="http://www.purwoshop.multiply.com/" title="Purwo" target="_blank">Purwo</a> dan Damar, 2 orang temen kantor, melakukan perjalanan ke pemandian air panas Gunung Pancar, Desa Karangtengah, Kecamatan Babakan Madang, Citereup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.</p>
<p><span id="more-978"></span>Berangkat pagi-pagi sekali dari rumah Purwo di daerah Sentul, kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam.</p>
<p>Kami melewati Desa Sumurbatu, yang konon penduduknya mayoritas bermata pencaharian dari memecah batu. Di sepanjang jalan memang terlihat batu-batu besar yang sudah dipecah berserakan. Apakah karena ini juga sehingga jalan yang melintasi desa ini juga &#8220;berbatu&#8221; yang sedikit menghambat perjalanan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dontknow.gif' alt='&#58;&#45;&#63;&#63;' class='wp-smiley' width='40' height='18' title='&#58;&#45;&#63;&#63;' /></p>
<p>Hutan pinus langsung menyambut kami ketika memasuki Kawasan Wisata Alam Gunung Pancar yang memiliki luas sekitar 447,5 hektar ini. Kami dipungut tiket masuk 2 ribu rupiah per orang dan motor seribu rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/hutan-pinus-gunung-pancar.jpg" alt="Hutan Pinus Gunung Pancar" title="Hutan Pinus Gunung Pancar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-980" /></p>
<p>Kami pun menikmati pemandangan eksotis yang ditawarkan. Di beberapa bagian, bunga-bunga berwarna kuning dan oranye memberikan warna tersendiri di antara teduhnya hutan.</p>
<p>Di kawasan ini ada juga pemandian air panas yang lebih mewah, yaitu Giri Tirta. Namun kami lebih memilih pemandian air panas Gunung Pancar, karena alasan ekonomis.</p>
<p>Tak berapa lama, gerbang retribusi pemandian ini terlihat. Setiap orang dikenakan biaya masuk 5 ribu rupiah dan motor 2 ribu rupiah. Jangan lupa siapkan pula duit untuk ongkos &#8220;parkir&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami segera menuju ke bawah dengan menuruni tangga setapak yang pegangan pinggirnya berupa kayu yang diikat dengan ijuk.</p>
<p>Terdapat gazebo-gazebo yang cocok untuk dipakai bersantai-santai. Kami duduk sebentar di salah satu gazebo sambil makan nasi uduk yang berbungkus daun pisang untuk sarapan.</p>
<p>Ada 3 buah kolam yang tersedia. Dua kolam untuk umum yang dipisahkan antara laki dan perempuan, serta satu lagi kolam yang dikhususkan untuk terapi pengobatan. Selain itu, ada 3 bilik khusus berisi semacam bathtub yang bisa kita sewa dengan harga 10 ribu bila ingin privasi terjaga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/kolam-air-panas.jpg" alt="Kolam Air Panas" title="Kolam Air Panas" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-981" /></p>
<p>Segera saya ingin mencoba. Namun begitu menyentuhkan kaki ke permukaan air, saya langsung berteriak dan menarik kaki. Panas banget! Saya memperkirakan suhunya sekitar 50&deg;-60&deg; celcius.</p>
<p>Memang kita harus melakukan pemanasan sebelum berendam. Caranya dengan merendam kaki terlebih dahulu supaya tubuh bisa menyesuaikan dengan suhu air.</p>
<p>Panas yang menusuk-nusuk inilah yang dipercaya mampu mengobati berbagai penyakit. Pantas saja, karena syaraf-syaraf langsung terbangun dan otot-otot kaku langsung lemas.</p>
<p>Perlahan-lahan saya mulai memasukkan kaki. Saya menahan panas dengan mengalihkan perhatian dengan melihat-lihat pemandangan sekitar yang menyegarkan. Sesekali burung elang tampak terbang di kejauhan.</p>
<p>Kaki yang terendam sontak berwarna lebih merah. Aliran darah yang lebih deras membuat warna kulit menjadi begitu.</p>
<p>Ketika dirasa sudah &#8220;terbiasa&#8221;, saya pun mulai merendam bagian tubuh lainnya, mulai dari paha, perut, hingga akhirnya seleher. Ketika merendam bagian selangkangan, rasanya panas luar biasa. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Maklum lah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya langsung merasa rileks. Mata mulai terkantuk-kantuk. Penat dan capek langsung sirna. Rasa panas yang tadi dirasa berubah menjadi lebih hangat dan nyaman.</p>
<p>Menyiramkan air panas ke tengkuk dan kepala membuat pusing dan pening saya hilang. Rasanya enak banget seperti dipijat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/berendam-air-panas.jpg" alt="Berendam Air Panas" title="Berendam Air Panas" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-983" /></p>
<p>Keunikan air panas di Gunung Pancar adalah air ini minim belerang. Maklum saja, air panas ini berasal dari panas bumi yang dialirkan melalui pipa-pipa ke kolam.</p>
<p>Bila ingin menyembuhkan penyakit kulit, sabun belerang bisa dibeli pula di tempat ini. Bila berani, silakan mencoba sensasi berbeda dengan merasakan pijatan dari air pancuran yang tentu lebih panas daripada air kolam.</p>
<p>Seorang bapak tiba-tiba masuk ke dalam kolam dan berkata, &#8220;air di sini ternyata gak begitu panas, lebih panas di kolam sebelah&#8221;, dengan enteng. Buset! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>Ternyata yang dimaksud adalah kolam yang khusus untuk terapi pengobatan. Airnya memang lebih panas. Saya melihat seorang nenek yang sedang dibopong menuju ke kolam terapi ini.</p>
<p>Ndak lama, sekitar 10 menit berendam, saya mentas. Panas terlalu lama memang kurang begitu baik, apalagi untuk kesehatan &#8220;si otong&#8221;.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setelah selesai berbilas dan berganti pakaian, badan langsung segar dan rileks. Namun celakanya, saking rileksnya, kantuk ndak mau lepas dari pelupuk mata. Pengennya tidur!!</p>
<p>Tempat ini buka selama 24 jam. Mau datang malam hari pun bisa. Tentu sensasinya juga akan berbeda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/mata-air-panas-gunung-pancar-air-panas-minim-belerang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pangalengan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pangalengan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pangalengan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 06:31:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Pangalengan]]></category>
		<category><![CDATA[rafting]]></category>
		<category><![CDATA[tea walk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/05/19/jeng-jeng-pangalengan.html</guid>
		<description><![CDATA[Jeng-jeng kali ini adalah jeng-jeng pertama saya setelah meninggalkan Jogja. Pangalengan, Bandung Selatan, menjadi destinasi saya untuk memenuhi janji saya berkunjung ke tempat Gita. Jeng-jeng kali ini juga bisa dibilang istimewa, karena kali ini saya didampingi Master Suhu dari Legenda Tujuh Naga, Man Tao Tse, dan salah satu putri asuhnya yang cantik berjuluk Buanadara Penakluk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/05/jengjeng-pangalengan1.jpg" alt="Jeng-Jeng Pangalengan" title="Jeng-Jeng Pangalengan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1173" /></p>
<p>Jeng-jeng kali ini adalah jeng-jeng pertama saya setelah meninggalkan Jogja. Pangalengan, Bandung Selatan, menjadi destinasi saya untuk memenuhi janji saya berkunjung ke tempat <a href="http://aprikot.wordpress.com/" title="Gita Aprikot" target="_blank">Gita</a>.</p>
<p>Jeng-jeng kali ini juga bisa dibilang istimewa, karena kali ini saya didampingi <a href="http://wiki.cahandong.org/Iman_Brotoseno#Tanda_Penghormatan_dari_Negeri_Ndoyokarto_Hadiningrat" title="tanda penghormatan Kasultanan" target="_blank">Master Suhu</a> dari <a href="http://wiki.cahandong.org/Jeng_Semawis" title="Jeng Semawis" target="_blank">Legenda Tujuh Naga</a>, <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/" title="Iman Brotoseno" target="_blank">Man Tao Tse</a>, dan salah satu putri asuhnya yang cantik berjuluk <a href="http://buanadara.wordpress.com/" title="Sarah Buanadara" target="_blank">Buanadara Penakluk Naga</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><span id="more-697"></span>Sebenernya sudah lama saya ingin berkunjung ke Pangalengan. Namun baru kemarin itu keinginan saya terwujud. Awalnya hanya rasan-rasan ndak serius, eh la kok Mas Iman yang mendengar celotehan saya langsung nantangin, &#8220;Minggu depan ke Pangalengan, yuk?&#8221;</p>
<p>Ya sudah. Tawaran dari Mas Iman langsung kami sikat. Tim segera dibentuk dan agenda segera disusun.</p>
<p>Awalnya <a href="http://blog.faniez.net" title="Fany" target="_blank">Sri Bagindi</a> yang kebetulan lagi ada di Jakarta mo ikut, tapi ternyata dia ada urusan lain sehingga ndak jadi merapat. Akhirnya yang berangkat adalah <acronym title="versi baru Trio Tolol, pake tu dot o">Trio Tolol 2.0</acronym> yang terdiri atas saya, <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="doyoker senior" target="_blank">Didiet</a>, dan <a href="http://www.colonelseven.com/" title="Balibul" target="_blank">Kang Gembul</a>, Mas Iman, dan juga Sarah tentunya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Berangkat Sabtu pagi menjelang siang sekitar pukul 10 dan langsung meluncur ke tol Cikampek yang kemudian masuk Purbaleunyi dan keluar di gerbang tol M. Toha. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam.</p>
<p>Sampai di Banjaran, kami menunggu Gita yang lagi turun gunung. Kemudian kami disinggahkan ke guest house Citere yang pemandangannya cukup mantab.</p>
<p>Belum sempat menaruh pantat yang penat, Gita langsung ngajak kami koprol ke Danau Stoplast, sebuah danau mungil yang katanya dipake untuk syuting film <a href="http://ruangfilm.com/?q=katalog/heart" title="film Heart" target="_blank">Heart</a> itu. Awalnya saya sempet ndak percaya karena mana mungkin danau semungil itu dipake untuk syuting, namun Gita meyakinkan saya dan akhirnya saya terpaksa mempercayainya. La saya kan belom pernah liat itu film. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Setelah foto-foto, kami melanjutkan perjengjengan ke makam Karel Albert Rudolf Bosscha, di Cagar Alam Malabar. K.R.A. Bosscha, merupakan juragan perkebunan teh terbesar di Malabar. Bosscha sempat membangun 2 pabrik teh, yaitu Pabrik Teh Malabar dan Pabrik Teh Tanara. Selain itu, Bosscha juga dikenal sebagai penggagas observatorium Bosscha di Lembang dan Institut Teknologi Bandung.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/05/bosscha.jpg' alt='Makam Bosscha' /></p>
<p>Bosscha meninggal pada tahun 1928 yang diduga akibat kecelakaan, yaitu jatuh dari kuda ketika mengontrol perkebunan tehnya. Sesuai wasiatnya, Bosscha ingin dimakamkan di tanah yang belum dijadikan kebun teh. Dan akhirnya di tempat inilah Bosscha dimakamkan, yang berdasarkan GB (Besluit van den Gouverneur-Generaal) tertanggal 7 Juli 1927, nomor 27 Staatsblad 99, tempat ini dijadikan cagar alam.</p>
<p>Di seputar kompleks makam ini, selain pohon teh juga dapat kita temukan berbagai tanaman lainnya. Berbagai macam bunga ada di sini. Mulai dari mawar putih hingga berbagai jenis anggrek.</p>
<p>Masih seputar Bosscha, kami pun menuju ke Wisma Malabar yang dulunya merupakan kantor administrasi perkebunan Malabar dan rumah tinggal Bosscha. Konon rumah Bosscha ini dibangun pada tahun 1894.</p>
<p>Jendela berbentuk kotak-kotak dengan warna kusam, tembok bagian bawah yang berhias batu, genteng tanah liat yang mulai menghitam, menunjukkan sosok renta bangunan yang masih nampak terawat itu. Sebuah tungku kayu di halaman semakin menambah kesan arsitektur Eropa.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/05/wisma-malabar.jpg' alt='Wisma Malabar' /></p>
<p>Wisma Malabar menjadi obyek terakhir kami di hari pertama sebelum kembali ke penginapan. Hawa dingin Pangalengan yang berada di ketinggian sekitar 1.500 meter ini membuat kami menyalakan tungku api di dalam bungalow. Suara gemertik kayu yang terbakar membuat suasana hangat yang tercipta menjadi begitu romantis. Apalagi ditemani secangkir teh hangat dan kekasih hati, rasanya begitu nikmat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Pagi benar kami bangun. Tujuan pertama kami di hari kedua adalah Bukit Nini, yang letaknya ndak jauh dari Wisma Malabar. Bukit Nini ini memang sering dijadikan lokasi tea walk.</p>
<p>Berjalan mendaki bukit di sela-sela pepohonan teh dan pohon Kina begitu menyenangkan. Apalagi bila kita sampai di puncak bukit, dari atas saung kita bisa melihat keindahan Danau Cileunca.</p>
<p>Ada cerita rakyat yang berkembang mengenai nama Bukit Nini ini. Konon di bukit ini terdapat sebuah istana yang ditinggali oleh seorang nini (nenek). Saat ada upacara menjelang menanam teh, si Nini ini biasanya turun dan menyamar menjadi seorang penari yang sangat cantik. Kemudian setelah acara selesai, si Nini ini meminta salah seorang penduduk untuk mengantarkannya pulang. Si penduduk yang beruntung tersebut akan dapat melihat istana di Bukit Nini ini dan menjadi kaya mendadak. Dari cerita inilah nama Bukit Nini diambil. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/05/bukit-nini.jpg' alt='Bukit Nini' /></p>
<p>Namun berhati-hatilah bila melakukan tea walk, karena di sela-sela pohon teh terdapat gerombolan ulat teh yang bila sudah menggigit akan sulit lepas. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Dari Bukit Nini, kami pun turun menuju Danau Cileunca. Danau buatan seluas 1.400 hektar ini selain sebagai sumber air PLTA juga menawarkan berbagai paket wisata menarik. Salah satunya adalah paket rafting di sungai Palayangan.</p>
<p>Kami pun akhirnya mencoba paket rafting ini. Karena Pak Uju, sopirnya mbak Gita kenal dengan pengelola paket wisata ini, kami diberi harga khusus. Hatur nuhun, Pak! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Sungai Palayangan sendiri merupakan sungai dengan jeram bertipe 3 hingga 4. Sebuah tipe sungai yang cukup menantang, terutama bagi pemula. Sejak awal kami turun, kami langsung disambut dengan jeram-jeram yang mempunyai nama-nama unik. Mulai dari jeram cinta, jeram gadis, dan sebagainya.</p>
<p>Selain memacu adrenalin, pemandangan sepanjang sungai begitu eksotis dan mantab. Di tengah-tengah rute kami pun berhenti sejenak untuk beristirahat dan menikmati keindahan alam yang ada.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/05/rafting.jpg' alt='Rafting di Sungai Palayangan' /></p>
<p>Akhirnya perjalanan kami selama 1,5 jam menunggang arus Palayangan usai sudah. Perahu karet diangkut ke sebuah land rover yang menunggu di garis finish. Menurut evaluasi dari pemandu kami, tim kami cukup kompak sebagai pemula, meskipun Kang Gembul ketika diberi aba-aba maju justru mendayung mundur. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dalam perjalanan kembali ke Cileunca, saya naik di atas perahu karet yang diikat di atas land rover. Saya seperti berada di atas perahu terbang yang melayang di dataran antah berantah. Pemandangannya begitu eksotis dan mantab! Pengorbanan robeknya celana saya ketika berusaha naik ke atap mobil terbayar sudah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/05/after-rafting.jpg' alt='Setelah Rafting' /></p>
<p>Usai rafting, awalnya kami hendak melanjutkan ke pemandian air panas Cibolang yang sudah diidam-idamkan Sarah, namun apa daya, pemandian begitu ramai pengunjung membuat kami semua langsung ilfil dan balik kanan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Perjengjengan kami hari itu pun akhirnya disudahi. Setelah mandi air panas di penginapan, kami pun segera packing untuk pulang.</p>
<p>Ah, namun perjengjengan kami kemarin itu kok rasanya masih belum memuaskan. Masih banyak tempat yang harus saya kunjungi lagi lain kali. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Makasih Mas Iman, Sarah, Kang Gembul, Didiet, Mas Arief dan Pak Uju (sopir kami), dan tentunya Bude Gita! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Selamat datang kembali, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/05/16/lagak-jakarta.html" title="Lagak Jakarta">Jakarta laknat</a>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pangalengan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sendang Sono, Lokasi Pembaptisan Pertama di Jawa</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/sendang-sono-lokasi-pembaptisan-pertama-di-jawa.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/sendang-sono-lokasi-pembaptisan-pertama-di-jawa.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 13:12:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[Kulon Progo]]></category>
		<category><![CDATA[religius]]></category>
		<category><![CDATA[sendang]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/03/sendang-sono-lokasi-pembaptisan-pertama-di-jawa.html</guid>
		<description><![CDATA[Berwisata ke lokasi wisata religi ternyata mengasyikkan. Merenung dan berinstropeksi kepada Tuhan di tempat yang memiliki sejarah tersendiri rupanya memberikan sensasi berbeda. Dari Puncak Suroloyo, jeng-jeng kami lanjutkan ke kawasan wisata religi umat Katholik, Sendang Sono. Lokasi ini selain memberikan pengalaman rohani bagi umat Katholik, juga memiliki sejarah tersendiri. Belum lagi pemandangan dan suasana alamnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/doa-maria1.jpg" alt="Berdoa di depan Goa Maria" title="Berdoa di depan Goa Maria" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1212" /></p>
<p>Berwisata ke lokasi wisata religi ternyata mengasyikkan. Merenung dan berinstropeksi kepada Tuhan  di tempat yang memiliki sejarah tersendiri rupanya memberikan sensasi berbeda.</p>
<p>Dari <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/02/sunrise-hunting-di-puncak-suroloyo.html" title="Sunrise Hunting di Puncak Suroloyo" target="_blank">Puncak Suroloyo</a>, jeng-jeng kami lanjutkan ke kawasan wisata religi umat Katholik, Sendang Sono.</p>
<p>Lokasi ini selain memberikan pengalaman rohani bagi umat Katholik, juga memiliki sejarah tersendiri. Belum lagi pemandangan dan suasana alamnya yang rasanya cukup layak dijadikan tempat wisata.</p>
<p><span id="more-544"></span>Terletak di salah satu lembah di Bukit Menoreh, tepatnya di Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, DIY, menjadikan tempat ini tenang, sejuk, dan hening, sehingga sangat layak untuk menjadi ajang merenung dan mendekatkan diri kepada Tuhan.</p>
<p>Menuju ke sana, kami disambut sebuah gerbang berarsitektur modern. Pengunjung ndak ditarik tiket retribusi apa pun karena Gereja Promasan yang bertanggung jawab atas pengelolaan tempat ini memang ndak diijinkan menarik retribusi apa pun. Namun kita hanya ditarik karcis parkir yang pengelolaannya dipegang oleh pemda.</p>
<p>Sepanjang jalan menuju sendang, terdapat banyak kios pedagang yang menjajakan suvenir semacam pajangan salib, kaos, lukisan, maupun peralatan untuk beribadah semacam lilin, bunga, dan untaian rosario.</p>
<p>Anjing-anjing sangat banyak berkeliaran di kawasan ini. Sehingga kita harus waspada dan berhati-hati, terutama bagi yang takut anjing. Tapi percayalah, kalo niat kita baik, anjing-anjing ini ndak akan mengganggu kita, kok. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Bangunan kawasan ini sangat cantik. Dibangun dengan menyesuaikan kontur alam yang berbukit sehingga kita akan menemukan banyak tangga dan undakan.</p>
<p>Kawasan ini ditata oleh Pastor Y.B. Mangunwijaya pada tahun 1970-an dan pernah mendapatkan penghargaan Aga Khan Award dari Ikatan Arsitektur Indonesia pada tahun 1991 pada bidang bentuk bangunan khusus pada kategori penataan lingkungan.</p>
<p>Kompleks ini sendiri terdiri atas beberapa bagian. Ada kompleks makam, goa Maria, kapel-kapel, sumber mata air, dan bangunan joglo yang mungkin digunakan untuk beristirahat.</p>
<p>Saya menuju ke atas dan melihat ada salib besar yang berdiri di samping kompleks Makam Semagung. Di sini kita dapat menemukan makam Barnabas Sarikromo, <acronym title="saya kurang tau persis arti kata ini. ada yang tau?">katakumen</acronym> yang dibaptis pertama kali di Sendang Sono.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/makam-semagung.jpg' alt='Kompleks Makam Semagung' /></p>
<p>Sepanjang jalan menuju Goa Maria, kita akan menemukan fragmen-fragmen yang menceritakan perjuangan Kristus dalam menyebarkan agama Nasrani.</p>
<p>Di setiap fragmen terdapat tatakan lilin, di mana saya menemukan beberapa orang peziarah menyalakan lilin dan khusyuk berdoa di depannya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/doa-fragmen.jpg' alt='Berdoa di depan fragmen perjuangan Kristus' /></p>
<p>Saya akhirnya tiba juga di pusat kompleks ini. Goa Maria terletak di depan Pohon Sono, yang menjadi cikal bakal penamaan dari obyek wisata ini.</p>
<p>Goa Maria di tempat ini mempunyai kisah tersendiri. Patung Bunda Maria yang ada di sana merupakan hadiah dari Ratu Spanyol yang untuk membawanya dibutuhkan usaha yang keras karena kondisi alam yang memang sulit dijangkau.</p>
<p>Sekitar tahun 1945, beberapa pemuda Katholik mendapat kesempatan berkunjung ke Lourdes, Prancis, membawa batu dari sana yang dipercaya merupakan batu dari goa tempat penampakan Bunda Maria kepada Bernadette Soubirous di Lourdes pada tahun 1858.</p>
<p>Batu dari Lourdes tersebut kemudian ditanam di bawah kaki patung Bunda Maria, sehingga kawasan Sendang Sono juga populer disebut dengan nama &#8220;Lourdes-nya Indonesia&#8221;.</p>
<p>Di bawah pohon Sono yang rindang ini, beberapa peziarah nampak khusyuk berdoa menghadap ke Goa Maria. Ada berbagai macam persembahan yang diletakkan di altar, namun yang paling banyak terlihat adalah lilin dan bunga.</p>
<p>Nama Sendang Sono sendiri berasal dari kata &#8220;sendang&#8221; yang berarti kolam mata air dan &#8220;Sono&#8221; yang berasal dari kata pohon Sono yang tumbuh di situ.</p>
<p>Mata airnya sendiri berada di bawah pohon Sono yang sayangnya kita ndak bisa melihat langsung karena lokasi ini ditutup dengan kaca.</p>
<p>Air dari sendang kemudian dialirkan melalui kran-kran, sehingga kita bisa leluasa untuk mencuci muka, meminum, bahkan membawa pulang air ini dengan menyimpannya ke dalam botol atau jirigen kecil yang banyak dijual di kios suvenir di depan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/basuh-air.jpg' alt='Air sendang yang dialirkan melalui kran' /></p>
<p>Selain melakukan ritual ibadah, kita juga bisa sekadar menikmati pemandangan alamnya yang memang asri. Gemericik air yang mengalir melalui sungai yang membelah kompleks ini menambah syahdu suasana.</p>
<p>Bentuk tangganya pun unik. Jika kita memperhatikan dengan seksama, ada bentuk anak tangga bersusun selang-seling yang berbentuk segi enam.</p>
<p>Kita juga akan menemukan beberapa bangunan kapel yang memiliki nama-nama. Misalnya ada Kapel Maria yang berisi patung Bunda Maria, Kapel Rasul yang menceritakan kisah perjuangan 12 rasul Kristus, dan Kapel Kristus yang berisi patung Kristus disalib.</p>
<p>Bangunan Joglo berbentuk panggung juga dapat kita temukan di sini. Bangunan ini bisa kita gunakan untuk beristirahat atau tempat merenung dan berdoa kepada Tuhan.</p>
<p>Saya melihat ada arsitektur Cina pada bangunannya. Selain corak warna merah yang dominan, beberapa ukiran dan bentuk tangganya mengingatkan saya pada klenteng di film-film kungfu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Weh, perpaduan kebudayaan yang cukup menarik. Joglo mewakili Jawa, bentuk rumah panggung ala Sumatra, arsitektur Cina, dan nuansa Eropa dari patung-patungnya berpadu dengan cantik. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Menengok sejarah, kawasan ini dulunya bernama Sendang Semanggung dan digunakan oleh para biksu dari Borobudur yang singgah untuk beristirahat dengan meminum air sendang sebelum melanjutkan perjalanan ke Biara di kawasan Boro.</p>
<p>Pada tahun 1904, seorang pastor bernama Rama Van Lith, SJ datang untuk menyebarkan agama Nasrani di tanah Jawa, terutama di Muntilan, Magelang.</p>
<p>Pastor ini kemudian menggunakan air dari sendang ini untuk membaptis 178 orang pada tanggal 14 Desember 1904. Peristiwa inilah yang kemudian disebut sebagai peristiwa pembaptisan pertama kali yang dilakukan di tanah Jawa.</p>
<p>Walau kawasan ini sudah dikenal sejak tahun 1904, namun kawasan ini baru diresmikan pada tanggal 8 Desember 1929 oleh Pastor Rp. Prennthaler, SJ.</p>
<p>Demikian hasil persinggahan saya ke lokasi wisata religi ini. Meskipun saya bukan umat Katholik, saya merasakan pengalaman spiritual tersendiri.</p>
<p>Kedamaian di tempat ini begitu terasa, sehingga saya ndak berani berbuat narsis yang bisa merusak ketenangan di tempat ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Ah, andai saja umat beragama di Indonesia bisa merasakan kedamaian seperti apa yang saya rasa.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Foto lainnya ada di <a href="http://matriphe.multiply.com/photos/album/26/Sendang_Sono" title="Sendang Sono" target="_blank">Galeri Narsis</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/sendang-sono-lokasi-pembaptisan-pertama-di-jawa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sunrise Hunting di Puncak Suroloyo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/sunrise-hunting-di-puncak-suroloyo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/sunrise-hunting-di-puncak-suroloyo.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 13:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Kulon Progo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/02/sunrise-hunting-di-puncak-suroloyo.html</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah jengjeng wal ndoyok pertama saya di tahun 2008. Kalo dulu saya pernah melakukan Sunset Hunting di Ratu Boko, kini giliran Sunrise Hunting yang saya lakukan. Terdengar menyenangkan? Tentu saja! Apalagi demi mengejar sinar matahari pertama di awal tahun 2008, membutuhkan perjuangan yang cukup tolol berat. Seperti biasa, petualangan tolol tanpa rencana yang sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/sunrise-hunting-suroloyo1.jpg" alt="Sunrise Hunting di Puncak Suroloyo" title="Sunrise Hunting di Puncak Suroloyo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1213" /></p>
<p>Ini adalah jengjeng wal ndoyok pertama saya di tahun 2008.</p>
<p>Kalo dulu saya pernah melakukan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/17/sunset-hunting-at-ratu-boko-by-bike.html" title="Sunset Hunting at Ratu Boko by Bike!" target="_blank">Sunset Hunting di Ratu Boko</a>, kini giliran Sunrise Hunting yang saya lakukan.</p>
<p>Terdengar menyenangkan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Tentu saja! Apalagi demi mengejar sinar matahari pertama di awal tahun 2008, membutuhkan perjuangan yang cukup <strike>tolol</strike> berat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-532"></span>Seperti biasa, petualangan tolol tanpa rencana yang sering disebut dengan ndoyok ini terjadi begitu saja.</p>
<p>Berawal dari celetukan tolol <a href="http://antobilang.wordpress.com/" title="Antobilang" target="_blank">Antobilang</a> yang ingin merasakan sensasi beda dari sinar mentari pertama di tahun 2008, pas kumpul-kumpul bareng <a href="http://cahandong.org/" title="CahAndong" target="_blank">CahAndong</a> pada malam pergantian tahun di Kafe Djambur.</p>
<p>Hoho, rupanya Anto punya bakat ndoyok juga! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Dan ide tolol namun menyenangkan itu pun akhirnya terlaksana! Bersama <a href="http://antobilang.wordpress.com/" title="Antobilang" target="_blank">Anto</a>, <a href="http://kapucino.org/" title="Leksa" target="_blank">Leksa</a>, dan <a href="http://rozenesia.wordpress.com/" title="Gunawan" target="_blank">Gunawan</a>, kami menuju Puncak Suroloyo malam-malam dengan motor demi melihat sunrise!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/doyoker-malam.jpg' alt='Doyoker Puncak Suroloyo' /></p>
<p>Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 2 dini hari. Meski belum pernah ke sana sebelumnya, kami melakukan aksi nekad hanya dengan bermodalkan secuil informasi rute.</p>
<p>Kami mengambil jalur Jalan Magelang &#8211; Pasar Muntilan &#8211; Kalibawang utuk menuju ke sana. Pada perempatan setelah Klenteng Hok An Kiong di Pasar Muntilan, kami berbelok ke kiri dan mengikuti jalan tersebut. Kemudian pada ujung pertigaan, kami berbelok ke kiri ke arah Wates / Sendang Sono dan masuk ke jalan raya Kalibawang.</p>
<p>Kami sempat kebablasan sekitar 4 km karena papan petunjuk yang ndak terlihat karena saking gelapnya. Hehe, dalam ndoyok, tersesat adalah fitur! Jadi, nikmati saja! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Untung saja ada seorang warga yang bisa kami temui untuk menunjukkan arah. Bayangkan, pukul 1 dini hari berjalan sendiri di hutan, ngapain itu orang ya? Jangan-jangan.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worried.gif' alt='&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Dari jalan raya Kalibawang ini, menuju ke Puncak Suroloyo diperlukan perjuangan ekstra. Fisik dan kondisi kendaraan harus dalam kondisi prima karena jalan sempit dengan tanjakan sekitar 30Â°-45Â° plus kelokan tajam bangsat yang ndak terduga menuntut perhatian ekstra. Jarak dari jalan raya Kalibawang ke Puncak Suroloyo adalah sekitar 18 km.</p>
<p>Yang menegangkan dari perjalanan dini hari kami adalah kondisi jalan gelap, sepi, sedikit bergeronjal, dan sempit. Belum lagi rute naik-turun menyusuri tepian bukit yang bila ndak berhati-hati bisa tergelincir nyungsep ke jurang.</p>
<p>Mesin yang mengerang <strike>melenguh keenakan</strike> di posisi gigi perseneling 1 semakin membuat ketar-ketir. Untung saja Kaze sahabat saya itu sudah teruji ketangguhannya, meski saat itu motor tersebut dalam kondisi yang kurang fit.</p>
<p>Tuhan sepertinya masih mengasihani kami karena cuaca saat itu cukup cerah. Saya ndak bisa mbayangkan kalo misalnya hujan turun di tengah jalan ditambah motor kami mengalami masalah, entah ban bocor atau kehabisan bensin. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worried.gif' alt='&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Sekitar pukul 4 pagi kami sampai di Puncak Suroloyo. Puncak ini berupa gardu pandang yang untuk menuju ke sana kami harus menaiki anak tangga yang berjumlah sekitar 286 buah dengan sudut kemiringan yang sadis.</p>
<p>Begitu sampai di atas, rasanya perjuangan kami terbayar lunas dan ndak sia-sia. Pemandangan eksotis lampu kota Magelang di bawah begitu eksotis. Udara dingin langsung menusuk ketika kami tiba di puncak berketinggian sekitar 1.019 m di atas permukaan laut ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/night-city-lamp.jpg' alt='Pemandangan lampu kota Magelang di waktu malam' /></p>
<p>Ada 3 gardu pandang di kawasan ini, yaitu Suroloyo, Sariloyo, dan Kaendran. Namun yang paling terkenal dan paling tinggi adalah Puncak Suroloyo.</p>
<p>Secara administratif, Puncak Suroloyo terletak di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, DIY.</p>
<p>Di sebelah barat puncak Suroloyo ketika menuju ke Puncak Sariloyo di Tegal Kepanasan, kita akan menemukan tugu perbatasan propinsi Jawa Tengah dan DIY.</p>
<p>Lokasi gardu pandang ini rupanya cukup sempit. Ketika kami datang, ada serombongan anak muda yang mendirikan tenda dan berkemah di sana. Sayup-sayup terdengar azan Subuh dari bawah yang menggema karena terpantul dinding bukit.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/gardu-pandang.jpg' alt='Gardu pandang di Puncak Suroloyo' /></p>
<p>Karena minimnya air, kami pun melakukan sholat Subuh beralaskan jas hujan dengan sebelumnya bersuci dengan cara tayamum. Sungguh khusyuk rasanya karena suasana begitu hening dan syahdu. Inilah sholat Subuh pertamaku di tahun 2008!</p>
<p>Untuk menentukan arah kiblat, kami berpatokan pada terlihatnya Planet Venus (Bintang Fajar) di ufuk timur dan Planet Mars di ufuk barat karena rasi bintang sudah tidak terlihat seiring pagi yang menjelang.</p>
<p>Kedua planet ini terlihat seperti bintang namun memiliki sinar yang lebih terang. Planet Mars terlihat seperti bintang namun berwarna agak merah dan Planet Venus terlihat lebih kuning dan lebih terang daripada bintang biasa.</p>
<p>Menjelang sunrise, kami disuguhi pemandangan dan suasana yang luar biasa. Angin dingin kencang bertiup dari lembah ke bukit dan menyapu kabut dengan cepat.</p>
<p>Udara langsung menjadi semakin dingin dan terdengar suara bising menderu mengerikan akibat angin yang menerpa pepohonan bukit.</p>
<p>Untung saja ini hanyalah kabut. Saya ndak bisa membayangkan andai yang bergerak secepat ini adalah awan panas wedhus gembel seperti di Merapi itu. Hi, saya bergidik ngeri bercampur kedinginan.</p>
<p>Peristiwa ini langsung menyadarkan saya, betapa ndak berdayanya manusia ketika berhadapan dengan alam.</p>
<p>Manusia seringkali sombong dengan memperkosa alam. Ketika bencana terjadi, barulah manusia sadar dan sering menyalahkan alam. Padahal itu adalah ulahnya sendiri. Duh Gusti, ampuni dosa-dosa hamba-Mu ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Selain sarana tadabur alam, pemandangan ini ternyata mengasyikkan karena belum pernah kami lihat sebelumnya.</p>
<p>Dengan cepat kabut tersapu ke arah selatan dan perlahan Gunung Merapi, Merbabu, Sundoro, dan Sumbing muncul dari lautan kabut. Subhanallah! Luar biasa!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/kabut.jpg' alt='Kabut di Puncak Suroloyo' /></p>
<p>Semakin siang, pemandangan semakin nampak terlihat jelas. Sayang sekali, tebalnya kabut membuat kami ndak bisa melihat eksotisme mentari yang menyembul dari horison yang kami yakin begitu indah. Namun tak mengapa, pemandangan di atas sini cukup memuaskan kami.</p>
<p>Candi Borobudur pun nampak menyembul mungil di bawah menunjukkan betapa tingginya kami berada di atas. Kami agak kesulitan menemukan lokasi candi ini karena tebalnya kabut.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/borobudur.jpg' alt='Borobudur nampak dari Puncak Suroloyo' /></p>
<p>Di sebelah utara kita akan melihat jelas gunung kembar Sumbing dan Sundoro. Di sebelah timur, Merapi dan Merbabu berdiri megah walau sedikit tertutup oleh bukit-bukit.</p>
<p>Pelangi yang muncul menghiasi puncak Sumbing yang saat itu tertutup awan putih tipis menambah syahdu suasana pagi kami. Wow, begitu indah dan dahsyat!</p>
<p>Belum lagi pemandangan eksotis bukit-bukit yang menyusun Barisan Bukit Menoreh ini membuat bukit ini layak dan sering disebut-sebut dalam cerita persilatan.</p>
<p>Berlama-lama di sini memang membuat kami enggan turun. Udara segar dan kicauan burung menambah suasana pagi kami bagai di surga. Kesempatan ini tentunya ndak kami sia-siakan demi mengambil gambar narsis. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/narsis.jpg' alt='Narsis di Puncak Suroloyo' /></p>
<p>Konon puncak Suroloyo ini merupakan lokasi Raden Mas Rangsang alias Sultan Agung Hanyokrokusumo mencari wangsit sebelum berkuasa menjadi raja Mataram.</p>
<p>Mungkin karena inilah lokasi ini sering digunakan sebagai tempat melakukan ritual untuk mencari wangsit, terutama pada bulan Suro (Muharam).</p>
<p>Jika malam tahun baru Jawa 1 Suro tiba, bisa dipastikan tempat ini akan ramai karena adanya tradisi upacara jamasan pusaka desa setempat, pemberian Kraton Yogyakarta.</p>
<p>Pusaka tersebut adalah Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Kyai Manggolo Dewo yang disimpan oleh sesepuh Dusun Keceme.</p>
<p>Suasana mistis semakin terasa ketika kami menemukan sebuah arca <acronym title="Dewa Perusak">Dewa Siwa</acronym> yang berdiri di atas <acronym title="lembu betina kendaraan Dewa Siwa">Nandini</acronym>.</p>
<p>Arca yang merupakan pahatan baru (bukan peninggalan purbakala) ini mungkin digunakan untuk tempat sembahyang umat Hindu. Terbukti kami menemukan beberapa batang dupa menancap di sekitar arca ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/aku-siwa.jpg' alt='Saya dan Arca Dewa Siwa' /></p>
<p>Menurut mitos yang beredar pula, Puncak Suroloyo merupakan pusat dari penjuru mata angin (kiblat pancering bumi) di Pulau Jawa. Puncak ini merupakan perpotongan dari garis imajiner bila ditarik dari utara-selatan dan barat-timur, alias perupakan titik pusatnya Pulau Jawa.</p>
<p>Puncak ini begitu indah dan layak dikunjungi, terutama bagi kita yang menyukai petualangan dan tantangan seru. Namun sayang, lokasi ini kurang dikelola dengan baik sehingga potensinya menjadi kurang tereksplorasi apalagi lokasinya cukup sulit untuk ditempuh.</p>
<p>Setelah puas menikmati eksotisme Puncak Suroloyo, kami pun pulang dengan kembali melahap jalanan laknat terkutuk itu yang ternyata pemandangannya cukup dahsyat juga. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sebelum pulang kami menyempatkan mampir ke kawasan wisata rohani umat Katholik, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/03/sendang-sono-lokasi-pembaptisan-pertama-di-jawa.html" title="Sendang Sono, Lokasi Pembaptisan Pertama di Jawa" target="_blank">Sendang Sono</a>. <strike>Tunggu postingan saya soal tempat ini.</strike> Silakan meluncur ke TKP. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kami memilih rute pulang  yang berbeda dengan rute berangkat. Setelah sampai kembali di jalan raya Kalibawang, kami mengambil arah ke Wates menuju Sentolo kemudian berbelok ke jalan Godean dan kembali ke Yogyakarta. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Bila Anda ingin merasakan sensasi tersendiri untuk melihat sunrise, Puncak Suroloyo layak dijadikan pilihan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Seperti biasa, <a href="http://matriphe.multiply.com/photos/album/25/Sunrise_Hunting_di_Puncak_Suroloyo" title="Sunrise Hunting di Puncak Suroloyo" target="_blank">Galeri Narsis saya</a> bisa membuat Anda muntah-muntah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Cerita perjalanan tolol dari doyoker trainee asuhan saya:</p>
<ul>
<li><a href="http://antobilang.wordpress.com/2008/01/01/matahari-baru-2008/" title="Matahari Baru 2008 di Puncak Suroloyo" target="_blank">Matahari Baru 2008 di Puncak Suroloyo</a></li>
<li><a href="http://rozenesia.wordpress.com/2008/01/01/god-bless-alhamdulillah/" title="God Bless! Alhamdulillah!" target="_blank">God Bless! Alhamdulillah!</a></li>
<li><a href="http://www.kapucino.org/2008/01/03/menikmati-keagungan-alam-di-awal-tahun-2008/" title="Menikmati Keagungan Alam di Awal Tahun 2008" target="_blank">Menikmati Keagungan Alam di Awal Tahun 2008</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/sunrise-hunting-di-puncak-suroloyo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umbul Manten, Wejangan untuk Pengantin</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/umbul-manten-wejangan-untuk-pengantin.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/umbul-manten-wejangan-untuk-pengantin.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Sep 2007 12:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Klaten]]></category>
		<category><![CDATA[sendang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/10/umbul-manten-wejangan-untuk-pengantin.html</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Ahad tanggal 2 September 2007, saya dan Didit melakukan perjalanan yang kami beri tajuk, &#8220;Petualangan Si BOLANG (Bocah Hilang)&#8221; lengkap dengan tas, syal, dan topi terbaliknya. Kali ini Si BOLANG akan menjelajah daerah Klaten, tepatnya Umbul Manten, tempat wisata alternatif yang mungkin cocok dikunjungi menjelang bulan puasa seperti ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/bolang1.jpg" alt="Petualangan Si BOLANG (Bocah Hilang) di Umbul Manten" title="Petualangan Si BOLANG (Bocah Hilang) di Umbul Manten" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1277" /></p>
<p>Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Ahad tanggal 2 September 2007, saya dan <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> melakukan perjalanan yang kami beri tajuk, &#8220;Petualangan Si BOLANG (Bocah Hilang)&#8221; lengkap dengan tas, syal, dan topi terbaliknya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kali ini Si BOLANG akan menjelajah daerah Klaten, tepatnya Umbul Manten, tempat wisata alternatif yang mungkin cocok dikunjungi menjelang bulan puasa seperti ini.</p>
<p><span id="more-376"></span>Pada masyarakat Jawa, setiap kali menjelang bulan Ramadhan seperti sekarang ini, ada suatu tradisi tahunan yang dilakukan selain <a href="http://fanabis.blogsome.com/2007/09/09/nadran/" title="nadran" target="_blank">Nyadran</a> (berziarah ke makam). Tradisi tersebut adalah Padusan.</p>
<p>Padusan berasal dari kata &#8220;adus&#8221; yang berarti mandi. Padusan bertujuan untuk mensucikan diri baik lahir maupun batin untuk menyambut bulan Ramadhan dengan cara melakukan &#8220;mandi&#8221;.</p>
<p>Biasanya, Padusan dilakukan pada sumber-sumber air. Sumber air dalam bahasa Jawa sering disebut dengan &#8220;umbul&#8221;.</p>
<p>Kenapa menggunakan umbul untuk lokasi padusan? Filosofinya jelas, air dari sumbernya kan masih bersih, diharapkan dengan mensucikan diri dengan air dari umbul tersebut jiwa dan raga menjadi bersih sebersih air dari umbul tersebut.</p>
<p>Biasanya masyarakat berduyun-duyun datang ke sumber-sumber air untuk melakukan Padusan, mandi bersama, berendam bersama, di sumber-sumber air tersebut.</p>
<p>Namun filosofi dan makna Padusan kini banyak bergeser. Jangankan mensucikan diri, ajang Padusan sering menjadi ajang-ajang maksiat.</p>
<p>Bayangkan saja, biasanya di umbul-umbul tersebut tidak dipisahkan tempat untuk laki dan perempuan, tumpek blek jadi satu. Belum lagi adanya panggung hiburan dangdut yang goyangan dan pakaian penyanyinya bener-bener &#8220;mahadahsyat&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Otomatis, tau sendiri kan tujuan masyarakat ke tempat-tempat Padusan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Saya ndak akan membahas lebih lanjut soal Padusan ini, tapi akan membahas Umbul Manten yang mungkin bisa dijadikan alternatif tempat untuk melakukan Padusan, atau hanya tempat rekreasi saja bersama keluarga.</p>
<p>Umbul Manten terletak di daerah Tulung, Klaten, di tepi perbatasan Boyolali-Klaten. Alamat persisnya kurang saya ketahui, tapi lokasinya gampang dicapai.</p>
<p>Dari jalan Solo-Jogja, sebelum masuk pertigaan Pakis, Delanggu, bila dari timur (Solo) akan ada papan petunjuk ke obyek wisata pemancingan ikan Janti. Masuk dan ikuti jalan menuju ke obyek wisata Janti tersebut, namun ketika sampa di pertigaan di mana ada petunjuk obyek wisata Janti belok ke kiri, ambil jalan yang lurus.</p>
<p>Ikuti terus jalan lurus tersebut. Umbul Manten terletak di pinggir jalan sehingga mudah ditemukan. Kalo pun ndak ketemu, tanya saja kepada penduduk sekitar, pasti mereka tahu dan dengan senang hati akan menunjukkan arahnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Di kawasan ini, ada sekitar 7 buah umbul. Salah satu umbul yang terkenal adalah Umbul Cokro yang sering juga disebut dengan Cokro Tulung. Air-air dari umbul-umbul yang terletak di kawasan ini sering digunakan untuk bahan minuman air mineral atau suplai air <acronym title="Perusahaan Daerah Air Minum">PDAM</acronym>.</p>
<p>Umbul Manten sendiri terdiri dari 2 buah sumber air. Kedua sumber air ini disebut dengan Umbul Peteng dan Umbul Pelem. Masyarakat sekitar lebih sering menyebut Umbul Lanang (laki-laki) dan Umbul Wadon (perempuan).</p>
<p>Ada beberapa versi cerita dari masyarakat tentang yang manakah yang disebut Umbul Lanang dan mana Umbul Wadon. Ada yang bilang Umbul Lanang adalah Umbul Pelem, atau sebaliknya, Umbul Lanang adalah Umbul Peteng. Tetapi menurut seorang bapak tua penduduk sekitar, Umbul Lanang adalah Umbul Pelem sedangkan Umbul Wadon adalah Umbul Peteng.</p>
<p>Umbul Pelem lokasinya berada persis di tepi jalan, sedangkan Umbul Peteng berada agak jauh dari tepi jalan. Umbul Peteng berada di sebelah selatan umbul Pelem. Di sekitar kedua umbul ini kita akan menemukan sawah yang ditanami tanaman Cenil.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/umbul-pelem.jpg' alt='Umbul Pelem (Umbul Lanang)' /></p>
<p>Disebut Umbul Pelem karena konon dahulu di situ tumbuh pohon Pelem (mangga) yang besar di sekitar umbul. Tetapi pohon itu kini sudah ndak ada, yang ada cuma pohon Beringin besar yang membuat lokasi sekitar umbul menjadi teduh. Umbul ini ukurannya lebih kecil daripada Umbul Peteng.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/umbul-peteng.jpg' alt='Umbul Peteng (Umbul Wadon)' /></p>
<p>Disebut Umbul Peteng karena lokasi umbul ini peteng (gelap). Di sekeliling umbul ditumbuhi pohon Ipik (mirip-mirip Beringin) sehingga karena saking teduhnya, umbul ini menjadi gelap. Umbul inilah yang paling sering dipakai mandi karena memang cukup luas dan asyik untuk berenang-renang atau sekedar berendam.</p>
<p>Ada cerita rakyat yang beredar di masyarakat mengenai asal muasal umbul ini. Konon dahulu ada sepasang pengantin baru. Pengantin ini diberi wejangan oleh orang tuanya, &#8220;kalo pengantin baru itu, dilarang keluar rumah bersama-sama menjelang senja (maghrib) sebelum 40 hari&#8221;.</p>
<p>Pasangan pengantin tersebut bertanya mengapa mereka dilarang keluar rumah menjelang senja sebelum 40 hari. Dijawab oleh orang tua tersebut, &#8220;kalian ndak perlu membantah. turuti saja dan kalian akan selamat&#8221;, dengan nada sedikit marah karena nasehatnya dibantah.</p>
<p>Pengantin tersebut suatu hari sebelum 40 hari keluar rumah bersama-sama. Saat itu menjelang senja. Sang suami berjalan mendahului istrinya. Setelah berjalan lama, sang suami menengok ke belakang dan menemukan istrinya lenyap. Begitu juga dengan sang istri, ketika dia mengejar sang suami ternyata suaminya lenyap. Nah, letak kedua umbul inilah disinyalir sebagai lokasi di mana kedua suami istri itu lenyap.</p>
<p>Namanya juga cerita rakyat. Boleh percaya boleh tidak. Tapi ada pelajaran yang bisa dipetik dari cerita tersebut. Ini lagi-lagi menurut analisis ala kadarnya saya lo, ya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pertama jangan membantah nasehat orang tua. Kedua, sepasang suami istri hendaknya selama masa-masa awal menikah (40 hari pertama) harus menata rumah tangganya dengan baik terlebih dulu. Dilarang keluar rumah bersama-sama dimaksudkan agar ada salah satu di antara mereka yang tetap berada di rumah untuk menjaga rumah tersebut. Ketiga, sepasang suami istri hendaknya selalu berjalan beriringan, baik dalam suka maupun duka.</p>
<p>Umbul Manten ini masih cukup asyik dikunjungi bagi kita yang ndak begitu suka dengan keramaian dan merindukan suasana natural. Datanglah pas hari kerja, niscaya umbul ini akan jadi milik anda. Dan karena itulah lokasi ini sering digunakan untuk pacaran para abege. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Awalnya saya ndak ngerti dengan tanaman-tanaman yang tumbuh di sekitar umbul. Terdapat pula papan peringatan untuk tidak menginjak tanaman. Saya penasaran dan bertanya pada penduduk sekitar tentang tanaman ini.</p>
<p>&#8220;Itu tanaman Cenil, mas. Biasanya digunakan sebagai sayur pecel. Diambil pada sore hari kalo ingin digunakan keesokan harinya&#8221;, ujar salah satu penduduk di situ.</p>
<p>Saya pun tertarik mendengar kata &#8220;Pecel Cenil&#8221;. Seperti slogan <a href="http://yahoogroups.com/group/jalansutra" title="Komunitas Jalansutra" target="_blank">Jalansutra</a>, &#8220;sekali jalan-jalan terus makan-makan&#8221;, membuat saya penasaran untuk mencoba makanan tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Alhamdulillah. Di lapak-lapak penjual makanan di sekitar lokasi, ada yang menjual pecel ini. Kalo pecel biasanya terdiri dari berbagai macam sayuran, Pecel Cenil ini hanya menggunakan tanaman Cenil yang sudah direbus.</p>
<p>Sebagai sumber energi, kita bisa mengunakan bakmi atau nasi. Dilengkapi kerupuk sambil bersantap di tepi sawah dan ditemani angin sejuk sepoi-sepoi pasti mak nyus!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/pecel-cenil.jpg' alt='Menu santap siang Pecel Cenil' /></p>
<p>Tanaman Cenil merupakan tanaman air. Dia tumbuh sambung-menyambung satu sama lainnya. Macam Eceng Gondok gitu lah. Eh, tapi beda jauh ding, sama Eceng Gondok. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Tanaman Cenil harus mendapat suplai air yang cukup. Bila kekurangan air ia akan mati tapi bila terlalu banyak air ia akan busuk. Petak-petak tanaman cenil dibatasi oleh batu-batu yang disusun sedemikian rupa agar suplai air dari umbul dapat terdistribusi secara merata.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/tanaman-cenil.jpg' alt='Tanaman Cenil' /></p>
<p>Sekian dulu Petualangan Si BOLANG. Nantikan petualangan berikutnya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/umbul-manten-wejangan-untuk-pengantin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

