<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Museum &amp; Bangunan Bersejarah</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/destinasi/museum-bangunan-bersejarah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Fort Canning Park: Cikal Bakal Singapura</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/fort-canning-park-cikal-bakal-singapura.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/fort-canning-park-cikal-bakal-singapura.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 11:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1565</guid>
		<description><![CDATA[Sang Nila Utama dari Sriwijaya mendarat di sebuah pulau kecil pada tahun 1324. Di pulau tersebut, dia melihat seekor harimau dan bertanya kepada perdana menterinya apa nama hewan tersebut. Sang perdana menteri menjawab itu adalah seekor singa, dan ini adalah awal kisah dari nama Singapura. Cerita di atas saya dapatkan ketika saya menjelajahi Fort Canning [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/fort-canning-hotel.jpg" alt="" title="Fort Canning Hotel" width="350" height="225" class="alignnone size-full wp-image-1566" /></p>
<p>Sang Nila Utama dari Sriwijaya mendarat di sebuah pulau kecil pada tahun 1324. Di pulau tersebut, dia melihat seekor harimau dan bertanya kepada perdana menterinya apa nama hewan tersebut. Sang perdana menteri menjawab itu adalah seekor singa, dan ini adalah awal kisah dari nama Singapura.</p>
<p><span id="more-1565"></span>Cerita di atas saya dapatkan ketika saya menjelajahi Fort Canning Park, kawasan taman nasional yang dikelola oleh <a href="http://www.nparks.gov.sg/" title="National Parks Board" target="_blank">pemerintah Singapura</a>. Bukit kecil setinggi 60 meter yang terletak di sebelah selatan pulau kecil ini merupakan lokasi bersejarah yang menjadi tonggak berdirinya negara Singapura.</p>
<p><a href="http://maps.google.com/maps?ll=1.294444,103.846944&#038;spn=0.01,0.01&#038;t=m&#038;lci=org.wikipedia.en&#038;q=1.294444,103.846944" title="Lokasi Fort Canning Park" target="_blank">Fort Canning Park</a> dapat dicapai dengan mudah menggunakan sarana transportasi umum. Bila naik MRT kita bisa turun di stasiun Dhoby Ghaut (NE6 &#038; NS24), City Hall (EW13 &#038; NS25), atau Clarke Quay (NE5) kemudian jalan kaki sekitar 10 menit. Jika naik bus, ada lebih banyak pilihan halte untuk turun.</p>
<p>Sejarah Singpura sendiri terbagi menjadi 2, yaitu masa kerajaan Melayu pada abad ke-14 dan masa modern pada abad ke-18. Fort Canning Park, yang dulunya bernama Bukit Larangan pada abad ke-14 menjadi saksi sejarah penting Singapura.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/lobi-hotel.jpg" alt="" title="Peninggalan yang dipajang di lantai lobi Hotel Fort Canning" width="200" height="294" class="alignright size-full wp-image-1568" /></p>
<p>Perjalanan saya menjelajahi Fort Canning Park berawal dari lobi <a href="http://www.hfcsingapore.com/" title="Hotel Fort Canning" target="_blank">Hotel Fort Canning</a> (The Legends) yang terletak di dalam kawasan taman. Kita bisa mengikuti tur Park Walking setiap Sabtu pagi yang rutin diadakan oleh pengelola hotel secara gratis untuk tamu-tamunya.</p>
<p>Terdapat display kaca yang terletak di lantai lobi, berisi benda-benda peninggalan yang ditemukan dari penggalian di taman. Ada 4 kolom yang terbagi menjadi 2 panel, panel pertama berisi benda-benda peninggalan pada abad ke-14 dan panel kedua berisi benda-benda peninggalan abad ke-18.</p>
<p>Panel pertama banyak ditemukan pecahan tanah liat yang dulunya berupa perabotan rumah tangga semacam piring dan tembikar. Pada panel kedua juga tak jauh berbeda, namun lebih beragam, mulai ditemukan pecahan keramik dan botol minuman.</p>
<p>Kami kemudian keluar hotel dan menuju ke atas bukit yang disebut dengan Bukit Larangan. Tembok tua tampak menyembul terselimuti lumut dan tanaman rambat, ini adalah tembok benteng yang dibangun pada tahun 1859, pada masa pemerintahan Stamford Raffles. Pada tahun 1861, Bukit Larangan diubah namanya menjadi Fort Canning, untuk menghormati Gubernur Jendral Hindia saat itu, Lord Charles John Canning.</p>
<p>Benteng Fort Canning ini merupakan salah satu bagian dari sistem pertahanan Singapura. Benteng-benteng lainnya adalah Fort Fullerton, Fort Palmer, Fort Teregah, dan Fort Faber.</p>
<p>Bukit Larangan sendiri diduga dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan Melayu kuno yang didirikan oleh Sang Nila Utama, dari Sriwijaya, seperti yang tertuang pada paragraf pertama. Kerajaan kecil ini kemudian hancur setelah diserang Siam (Thailand), sempat dikuasai oleh Majapahit, dan akhirnya takluk di tangan Portugis.</p>
<p>Kami berjalan mengelilingi tembok benteng melalui jalan setapak yang rapi menuju ke The Gate of Fort Canning. Di pintu gerbang ini terdapat lubang sempit dengan tangga menanjak untuk menuju ke bagian atas gerbang. Pintu ke atas sengaja dibuat sempit demi mempersulit musuh naik ke atas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/gate-fort-canning.jpg" alt="" title="The Gate of Fort Canning" width="350" height="244" class="alignnone size-full wp-image-1569" /></p>
<p>Di dalam benteng seluas kurang lebih 3 hektar, terdapat beberapa fasilitas pendukung. Pada tahun 1867, terdapat tujuh meriam berpeluru 68 pon, delapan meriam 8 inchi, dua meriam katak 13 inchi, dan beberapa senapan 14 pon, barak-barak tentara, rumah sakit, gudang mesiu, serta bunker-bunker bawah tanah.</p>
<p>Bunker bawah tanah tersebut pun masih ada, namun untuk masuk pengunjung harus membeli tiket khusus. Tamu Hotel Fort Canning bisa masuk dengan gratis selama bisa menunjukkan kartu kamar. Sayangnya, saya tidak sempat masuk dan menjelajahi bunker ini.</p>
<p>Kini di dalam benteng, dibuat taman dan jalan-jalan setapak yang nyaman digunakan untuk olah raga pagi atau sekadar duduk-duduk menikmati segarnya udara pagi. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/inside-fort-canning.jpg" alt="" title="Suasana di dalam Fort Canning" width="350" height="245" class="alignnone size-full wp-image-1570" /></p>
<p>Sepanjang jalan kami disuguhi suara kicau burung. Maklum saja, kawasan ini memang sengaja dibuat sebagai kawasan konservasi. Bahkan saya sempat melihat dua ekor tupai berloncatan dari atas pohon di dekat hotel.</p>
<p>Pemandu kami, Amy, bercerita dan menunjukkan beberapa spesies vegetasi yang sebenernya banyak terdapat di Indonesia, misalnya saja pohon beringin, pohon kapuk randu, pohon kayu putih, tanaman sereh, tanaman cabe, hingga pohon pisang! </p>
<p>Pasangan turis dari Selandia Baru langsung takjub melihat aneka vegetasi yang mungkin jarang dilihat di negaranya, sedangkan saya cuma senyum-senyum kecut. Sekali lagi, pemerintah Singapura memang begitu pandai dengan melakukan pemeliharaan hal-hal semacam ini, kemudian dijual untuk obyek wisata. Sesuatu yang mungkin diabaikan oleh pemerintah kita di Indonesia.</p>
<p>Selain mengkonservasi tanaman, pemerintah Singapura juga memfasilitasi kegiatan seni di Fort Canning. Sebuah art-workshop dibangun di dalam taman untuk menjadi sarana seniman-seniman lokal berkreasi dan memanfaatkan kayu-kayu dari pohon tumbang di sekitar taman menjadi karya seni.</p>
<p>Fasilitas penting yang masih digunakan di Fort Canning adalah Water Reservoir. Kolam penampungan air ini dibangun pada abad ke-14 oleh kerajaan Melayu sebagai sumber air minum dan membantu suplai air ke kanal-kanal di sekitar benteng. Pada masa pemerintahan Raffles, kolam penampung air ini tetap digunakan sebagai sumber air minum tentara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/light-house.jpg" alt="" title="Fort Canning Lighthouse" width="200" height="299" class="alignright size-full wp-image-1571" /></p>
<p>Pada saat pemugaran pada tahun 1926, ditemukan perhiasan emas peninggalan Majapahit dengan ciri gambar kepala Kala, yang kini disimpan di <a href="http://www.nationalmuseum.sg/" title="National Museum of Singapore" target="_blank">National Museum of Singapore</a> yang tak jauh dari situ.</p>
<p>Kami tiba di sisi selatan taman, yang disebut dengan Raffles Terrace. Di sini terdapat mercusuar kecil yang disebut dengan Fort Canning Lighthouse, terletak di puncak bukit, yang pada zamannya merupakan salah satu dari 13 mercusuar penting di Selat Malaka, yang berfungsi untuk memandu kapal-kapal yang hendak masuk ke pelabuhan Singapura dan muara Sungai Singapura, yang kini dikenal dengan Marina Bay.</p>
<p>Menara mercusuar ini merupakan menara replika dan masih bisa menyala, namun tidak digunakan sebagai panduan. Menara mercusuar dibangun oleh perusahaan konstruksi Riley, Hargreaves &#038; Co. pada tahun 1903, menggantikan fungsi Flagstaff yang terletak tak jauh lokasi menara.</p>
<p>Menara ini pada zamannya dinyalakan dengan menggunakan kerosin, menghasilkan kekuatan cahaya sebesar 20.000 CD (candlepower) yang mampu mencapai jarak hingga 33 kilometer. Menara ini menggunakan sistem penggerak <em>dioptric occulting</em> yang membuat cahaya terlihat selama 17 detik, kemudian padam selama 3 detik, dan menyala kembali selama 17 detik. Pada Desember 1958, Menara ini kemudian dinonaktifkan seiring dengan dibangunnya gedung-gedung tinggi di sekitar Marina Bay.</p>
<p>Flagstaff dan Time Ball yang terletak beberapa meter ke barat dari mercusuar, juga memiliki peranan penting di zamannya. Flagstaff merupakan tiang dengan dipasangi beberapa bendera warna-warni. Isyarat panduan dikirimkan ke kapal dengan menaikkan atau menurunkan bendera, sesuai dengan perintah yang hendak dikirim.</p>
<p>Time Ball memiliki fungsi melakukan sinkronisasi waktu. Setiap pukul 12:55, bola akan dinaikkan ke atas untuk kemudian dijatuhkan tepat pada pukul 13:00 dan berbunyi nyaring pertanda bahwa sudah saatnya jam-jam disinkronisasi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/flagstaff-timeball.jpg" alt="" title="Flagstaff dan Time Ball" width="350" height="245" class="alignnone size-full wp-image-1572" /></p>
<p>Di sekitar Raffles Terrace ini lah dulu orang-orang Eropa, Cina, dan Melayu berekreasi melihat pemandangan laut. Saya pun bisa melihat Marina Bay dari sini dengan landmark <a href="http://www.marinabaysands.com/" title="Marina Bay Sands" target="_blank">Hotel Marina Bay Sands</a>.</p>
<p>Di sekitar sini pula dulu terdapat rumah tinggal Stanford Raffles yang dibangun pada tahun 1822, yang kini sudah tidak ada karena terbuat dari kayu dan lapuk. Untuk menandai lokasi bersejarah ini, dibangunlah bangunan lain di lokasi yang ditengarai lokasi asli rumah tinggal Raffles tersebut.</p>
<p>Dari Raffles Terrace, tur berlanjut menuju ke sebuah tembok berelief yang menceritakan sejarah Singapura sebelum era kolonial. Tembok relief ini bukan peninggalan sejarah, tapi sengaja dibuat pada tahun 1994, didesain oleh Eng Siak Loy dan dipahat oleh Villa Frangipani.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/relief-singapore.jpg" alt="" title="Relief sejarah prakolonial Singapura" width="350" height="234" class="alignnone size-full wp-image-1573" /></p>
<p>Fragmen-fragmen relief bercerita tentang awal ditemukannya Bukit Larangan, dilanjutkan dengan pembangunan istana kerajaan Melayu di atas bukit, kerajaan Melayu diserang oleh kerajaan Siam (Thailand), penguasaan Majapahit atas kerajaan Melayu di Singapura, kemakmuran perdagangan di Singapura karena posisinya yang strategis, sebuah kolam untuk mandi putri kerajaan yang disebut dengan Pancur Larangan, raja Prameswara melarikan diri karena kerajaannya diserang pada tahun 1396, raja Prameswara yang melarikan diri membangun Malaka dan menguasai perdagangan di Malaka, dan fragmen terakhir bercerita tentang datangnya orang-orang Eropa ke semenanjung Malaka.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan menuju ke situs penggalian arkeologi Fort Canning. Proses ekskavasi dimulai pada tahun 1984, di mana banyak ditemukan artefak berupa pecahan-pecahan perabot rumah tangga, mulai dari abad ke-14 hingga abad ke-18. Beberapa pecahan-pecahan ini dipajang di lobi Hotel Fort Canning, dan sisanya dipajang di sekitar lokasi situs.</p>
<p>Artefak-artefak ini dibiarkan dipajang di ruang terbuka tanpa takut dirusak. Kenapa bisa tidak hilang dicuri orang? Karena pecahan-pecahan tembikar ini &#8220;tidak berharga&#8221;. Benda-benda peninggalan arkeologi akan berharga bila kondisinya masih utuh. Benda-benda yang masih utuh ini disimpan di National Museum of Singapore.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/situs-penggalian-fort-canni.jpg" alt="" title="Situs penggalian arkeologi Fort Canning" width="350" height="234" class="alignnone size-full wp-image-1574" /></p>
<p>Dari situs penggalian, kami berjalan menuju ke Spice Garden yang diresmikan pada tahun 1994 untuk meneruskan taman botani pertama yang ada di Fort Canning pada tahun 1822. Di taman ini, banyak ditemukan tanaman rempah yang banyak juga ditemukan di Indonesia, semacam tanaman cabe rawit, sereh, jahe, kayu manis, hingga daun mint.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/fort-canning-thombs.jpg" alt="" title="Batu nissan di tembok Fort Canning Green" width="350" height="234" class="alignnone size-full wp-image-1575" /></p>
<p>Dari Spice Garden, tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Fort Canning Green yang dulunya adalah makam Kristen pertama yang dibangun pada tahun 1846. Pada tahun 1994, semua jenazah dipindahkan dan dikremasi, kemudian batu-batu nisan ditempelkan di tembok. Sebelum masuk ke kawasan ini, kita akan melewati Gothic Gate yang menjadi pintu gerbang makam bertuliskan IHS, kependekan dari <em>Iota Heta Sigm</em>,yang berarti Yesus dalam bahasa Yunani.</p>
<p>Kini Fort Canning Green menjadi lokasi pertunjukkan. Terdapat panggung tepat berada di tengah lapangan luas, dengan latar belakang gedung Fort Canning Center yang dulunya merupakan barak tentara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/fort-canning-center.jpg" alt="" title="Gedung Fort Canning Center di kawasan Fort Canning Green" width="350" height="234" class="alignnone size-full wp-image-1576" /></p>
<p>Tak terasa sudah satu jam lebih kami mengelilingi Fort Canning Park. Kami pun kembali ke Hotel Fort Canning, yang gedungnya juga dulunya merupakan barak tentara, untuk sarapan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/fort-canning-park-cikal-bakal-singapura.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Seni Rupa dan Keramik, Menyimpan Koleksi Benda Seni Berbagai Masa dan Bangsa</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 12:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[seni rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1391</guid>
		<description><![CDATA[Berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di Jalan Pos Kota No 2, Jakarta Barat (kompleks Kota Tua/Taman Fatahillah) rupanya mampu menambah wawasan saya tentang sejarah perkembangan seni rupa Indonesia. Sekitar 400-an karya seni rupa yang kebanyakan berupa keramik, lukisan, serta ukiran dari berbagai daerah dan berbagai periode dipamerkan di sini. Sekilas bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/museum-keramik.jpg" alt="Museum Seni Rupa dan Keramik" title="Museum Seni Rupa dan Keramik" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1395" /></p>
<p>Berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di Jalan Pos Kota No 2, Jakarta Barat (kompleks Kota Tua/Taman Fatahillah) rupanya mampu menambah wawasan saya tentang sejarah perkembangan seni rupa Indonesia.</p>
<p>Sekitar 400-an karya seni rupa yang kebanyakan berupa keramik, lukisan, serta ukiran dari berbagai daerah dan berbagai periode dipamerkan di sini.</p>
<p><span id="more-1391"></span>Sekilas bila melihat gedung, gedung museum ini mirip dengan gedung-gedung peradilan. Pilar-pilar raksasa menopang kanopi berbentuk prisma memperkuat kesan ini. Terang saja, wong dulunya adalah gedung peradilan Hindia Belanda pada kompleks benteng Batavia (<em>Ordinaris Raad Van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia</em>) yang dibangun pada tanggal 12 Januari 1870.</p>
<p>Tahun 1944, ketika masa pendudukan Jepang, gedung ini pernah dipakai sebagai asrama militer KNIL dan selanjutnya digunakan sebagai asrama TNI. Tanggal 10 Januari 1972, gedung ini dimasukkan dalam daftar bangunan bersejarah.</p>
<p>Pada tahun 1973-1976 gedung ini digunakan untuk kantor Walikota Jakarta Barat, dan pada tanggal 20 Agustus 1976 gedung ini diresmikan sebagai Balai Seni Rupa oleh presiden Soeharto. Tanggal 7 Juni 1977, gubernur Ali Sadikin meresmikan museum keramik yang sejak tahun 1990 berubah fungsi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.</p>
<p>Terdapat pintu besar yang menuju sebuah hall besar (dugaan saya, dulu tempat ini adalah ruang sidang), dengan patung Sindudarsono Sudjojono, bapak seni lukis modern Indonesia, di sebelah kiri (sebelah utara) dan patung Raden Saleh Syarif Bustaman, perintis seni rupa Indonesia modern, di sebelah kanan (selatan).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gerbang-depan.jpg" alt="Pintu bagian depan" title="Pintu bagian depan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1392" /></p>
<p>Museum ini buka setiap hari Selasa-Minggu, mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore. Tiketnya cukup murah, yaitu 2 ribu rupiah untuk orang dewasa dan seribu rupiah untuk mahasiswa.</p>
<p>Setelah membeli tiket, saya mendapatkan brosur berisi sekelumit cerita tentang museum ini. Benar saja, isi dari brosur ini memang sangat minim dan kurang informatif.</p>
<p>Saya memasuki ruangan pertama di sayap utara. Di ruangan ini dipamerkan berbagai benda keramik yang diambil dari sejumlah kapal dari berbagai bangsa yang tenggelam di perairan Indonesia.</p>
<p>Dari benda-benda yang dibawa oleh kapal-kapal ini bisa diketahui apa saja komoditas saat itu, jalur-jalur mana saja yang dilewati, dan periode kapal itu melintas di nusantara. Selain itu juga bisa diketahui adanya jaringan perdagangan yang terjadi di Asia pada abad 9-10.</p>
<p>Kebanyakan benda-benda yang dipamerkan di ruangan ini berupa guci-guci yang sudah lapuk dan ditempeli kerang di sana-sini. Selain itu ada juga semacam perhiasan yang berbentuk semacam kelereng yang sudah lapuk dan tidak berbentuk.</p>
<p>Di ruangan ketiga sayap uatara, ada sebuah tangga besi dengan ukiran yang sangat indah khas Eropa, berdiri menjulang di tengah ruangan.</p>
<p>Yang menarik dari ruangan ketiga ini adalah adanya penjelasan tentang situs <em>Intan shipwreck</em>, salah satu situs kapal tenggelam yang menyimpan ratusan artefak. Yang menarik dari penemuan ini adalah penjelasan tentang sistem pengemasan (<em>packaging</em>) yang dilakukan pada masa itu.</p>
<p>Guci-guci dan keramik lainnya disusun dan disimpan sedemikian rupa ke dalam suatu guci besar. Sistem ini disebut dengan sistem &#8220;wadah disimpan dalam wadah&#8221;.</p>
<p>Penasaran, saya pun naik ke lantai atas dan di sana terdapat ruangan yang menyimpan berbagai koleksi keramik dari Cina, Jepang, Arab, dan Eropa. Koleksi ini berupa piring-piring dan alat makan dengan hiasan pola tertentu yang dari situ bisa diketahui periode pembuatannya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/koleksi-cina-jepang-eropa.jpg" alt="Keramik dari Cina dan Eropa" title="Keramik dari Cina dan Eropa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1398" /></p>
<p>Keramik-keramik dari Dinasti Yuan (abad 14 M) dominan berwarna hijau, keramik dari Dinasti Ming (abad 15) yang bermotif dan dominan menggunakan warna biru, Dinasti Tang (abad 7-10 M) yang kebanyakan polos tanpa motif dengan dominan warna kuning, Dinasti Qing (abad 18 M), Dinastio Sung (abad 13 M), keramik dari Jepang, keramik dari Eropa bergambar hiraldik, hingga keramik Arab abad 19/20 bertuliskan huruf Arab dalam bahasa Melayu.</p>
<p>Karena ruangan ini buntu, maka saya pun kembali menuruni tangga dan menuju ke bagian belakang. Di bagian belakang ini merupakan ruang pamer lukisan-lukisan dari berbagai periode. Selama dalam ruangan ini, pengunjung tidak diperkenankan untuk memotret.</p>
<p>Saya tidak berani mencuri-curi mengambil foto karena di beberapa sudut saya melihat kamera pengawas yang diletakkan di sudut-sudut strategis, sehingga gerak-gerik pengunjung bisa terawasi.</p>
<p>Ruang-ruang pamer dibagi-bagi berdasarkan periodenya. Jadi lukisan yang dipamerkan itu merupakan hasil karya pelukis yang hidup di masa-masa itu. Ruang pertama adalah ruang di masa Raden Saleh hidup (periode 1880 &#8211; 1890). Salah satu yang terkenal adalah lukisan yang berjudul &#8220;Bupati Cianjur&#8221; karya Raden Saleh.</p>
<p>Berikutnya, ruangan-ruangan periode Hindia Jelita (periode 1920-an), Ruang Persagi (periode 1930-an), Ruang Masa Pendudukan Jepang (periode 1942 &#8211; 1945), Ruang Pendirian Sanggar (periode 1945 &#8211; 1950), Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (periode 1950-an), yang berada di blok sebelah utara dan terakhir Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 &#8211; sekarang) yang berada di satu blok selatan.</p>
<p>Beberapa lukisan terkenal dipamerkan di ruangan ini, antara lain lukisan berjudul &#8220;Ibu Menyusui&#8221; karya Dullah, &#8220;Potret Diri&#8221; karya Affandi, &#8220;Laskar Tritura&#8221; karya S. Sudjojono, dan &#8220;Dancing in the Cloud&#8221; karya Antonio Blanco.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/ukiran-totem.jpg" alt="Patung ukiran Tottem" title="Patung ukiran Tottem" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1397" /></p>
<p>Di halaman belakang terdapat patung-patung kayu berukiran tottem besar. Pohon sawo dan melinjo nampak menghiasi halaman belakang ini membuat udara sedikit segar. Di sepanjang koridor juga disediakan bangku-bangku untuk beristirahat sambil menikmati kicauan burung yang hinggap di pohon-pohon di halaman belakang ini.</p>
<p>Kamar kecil dan musholla terletak di belakang dan semuanya kondisinya sangat baik dan terawat. Di kawasan ini juga tersedia wi-fi yang disediakan oleh Telkom, tapi saya tidak mencoba apakah koneksinya kencang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Di sayap selatan, tepat di ujung ruang pamer lukisan, terdapat ruang keramik yang memamerkan keramik-keramik dari Asia semacam Thailand dan Vietnam. Di ruangan ini juga terdapat tangga ke atas.</p>
<p>Saya tertarik dengan koleksi yang disebut dengan kendi susu. Kendi ini unik karena di bagian moncong terdapat gelembung yang sekilas memang tampak seperti payudara (susu). Meski kendi ini berasal dari Thailand, namun masyarakat mengenalnya dengan nama kendi Majapahit. Mungkin kendi ini dipakai pada era Majapahit kali, ya?</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/kendi-susu.jpg" alt="kendi susu dari Thailand (kendi Majapahit)" title="kendi susu dari Thailand (kendi Majapahit)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1393" /></p>
<p>Di lantai atas, keramik-keramik yang dipamerkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari keramik kasongan, keramik Bandung, Kalimantan, dan sebagainya. Kebanyakan keramik-keramik ini terbuat dari tanah liat.</p>
<p>Selain keramik berupa peralatan rumah tangga, juga terdapat karya seni dari seniman-seniman Indonesia. Salah satunya adalah patung bertajuk &#8220;Urbanisasi&#8221; karya Sri Hartono yang terbuat dari tanah putih tanpa glasir. patung ini menggambarkan segerombolan orang yang menumpang bus untuk pergi ke kota (urbanisasi).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/patung-urbanisasi.jpg" alt="Urbanisasi karya Sri Hartono" title="Urbanisasi karya Sri Hartono" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1399" /></p>
<p>Tertarik mengunjungi museum ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Bahari: Sejarah Maritim dan Titik 0 Km Jakarta</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 05:04:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1091</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah pertanyaan menarik yang pernah saya dengar, &#8220;Di manakah letak titik nol kilometer Jakarta?&#8221;. Aha! Pada jeng-jeng saya kali ini, saya mendapatkan wawasan baru mengenai titik nol kilometer Jakarta! Museum Bahari, selain menyimpan cerita sejarah perkembangan maritim dan kelautan Indonesia, rupanya mempunyai cerita lain yang menarik untuk diulik. Bersama Pelabuhan Sunda Kelapa, kawasan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/museum-bahari.jpg" alt="Museum Bahari" title="Museum Bahari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1092" /></p>
<p>Ada sebuah pertanyaan menarik yang pernah saya dengar, &#8220;Di manakah letak titik nol kilometer Jakarta?&#8221;. Aha! Pada jeng-jeng saya kali ini, saya mendapatkan wawasan baru mengenai titik nol kilometer Jakarta!</p>
<p>Museum Bahari, selain menyimpan cerita sejarah perkembangan maritim dan kelautan Indonesia, rupanya mempunyai cerita lain yang menarik untuk diulik. Bersama <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/07/28/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html" title="Pelabuhan Sunda Kelapa, Cikal Bakal Jakarta">Pelabuhan Sunda Kelapa</a>, kawasan ini menjadi titik awal sejarah lahirnya Jakarta.</p>
<p><span id="more-1091"></span>Panas yang menyengat ndak menyurutkan niat saya untuk mengunjungi museum yang terletak di tepi muara Kali Ciliwung, tepatnya di Jalan Pasar Ikan No 1, Sunda Kelapa, Jakarta Utara.</p>
<p>Saya langsung terpukau dengan Menara Syahbandar (<em>Uitkijk Post</em>) yang dibangun pada tahun 1839, yang didirikan di bekas bastion (benteng) <em>Culemborg</em> yang merupakan tembok kota Batavia, ketika menjejakkan kaki di kawasan ini.</p>
<p>Menara setinggi 18 meter, dengan panjang 10 meter dan lebar 6 meter ini ternyata miring! Menurut pengukuran yang dilakukan pada tahun 2001, menara ini memang miring dengan sudut kemiringan 2&deg;15&#8217;54&#8243; ke arah selatan dan 0&deg;15&#8217;58&#8243; ke arah barat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/lookup-tower.jpg" alt="Menara Syahbandar" title="Menara Syahbandar" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1093" /></p>
<p>Di sekitar menara terdapat 3 bangunan lain, yaitu sebuah gedung yang dulunya dipakai untuk kantor urusan perdagangan, bangunan yang difungsikan sebagai gudang tepat di depan menara, dan bangunan di samping menara yang dulunya digunakan untuk urusan pabean.</p>
<p>Saya masuk ke dalam. Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah kita bisa menjelajah museum. Kita bisa membelinya di Menara Syahbandar kemudian tiketnya bisa ditunjukkan ketika kita hendak memasuki bangunan utama museum.</p>
<p>Memasuki menara, tepat di bawah tangga terdapat sebuah prasasti bertulisan Cina. Tulisan ini bila diartikan berbunyi, &#8220;Tempat ini adalah kantor pengukuran dan penimbangan serta di sinilah titik nol Batavia&#8221;. Aha! Inilah jawaban pertanyaan mengenai di manakah titik nol kilometer Batavia!</p>
<p>Namun sekarang titik nol kilometer Jakarta dihitung dari Tugu Monas. Di seputaran fly-over Cawang, juga terdapat titik nol juga, namun titik ini digunakan untuk mengukur kilometer jalan tol.</p>
<p>Dengan melalui anak tangga, saya naik ke atas. Ada 3 ruangan yang ada di dalam menara. Sebuah ruangan di lantai dasar, sebuah ruangan di bagian tengah, dan sebuah ruangan lagi di bagian atas. Di bagian bawah lantai dasar, terdapat ruangan yang dulunya digunakan sebagai penjara.</p>
<p>Dari atas bangunan yang pernah menjadi bangunan tertinggi pada abad ke-18 ini, kita bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Barisan perahu-perahu phinisi nampak rapi berderet di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kafe Galangan VOC yang memang dulunya merupakan galangan kapal juga nampak dengan jelas.</p>
<p>Ada sebuah tangga kecil yang mengarah ke luar. Saya penasaran dan mencoba menaikinya untuk menuju ke teras di atas atap ini. Entah kenapa ketika berada di atas sini, saya yang biasanya tidak bermasalah dengan ketinggian, tiba-tiba merasa ketakutan. Mungkin  karena ruang yang sempit plus kondisi bangunan yang miring, membuat saya merasa ndak aman.</p>
<p>Di halaman, terdapat sebuah tugu peresmian museum ini. Museum ini diresmikan oleh gubernur Ali Sadikin pada tanggal 7 Juli 1977. Bila dicermati, angka tanggal ini cukup unik, bisa dibaca sebagai 7-7-77!</p>
<p>Pada tugu ini juga terdapat tulisan P126, yang merupakan titik meridian (pertemuan garis bujur dan garis lintang) Kota Jakarta. Selain itu, tugu ini juga didirikan tepat pada ketinggian 0 meter dari permukaan laut.</p>
<p>Dari Menara Syahbandar, saya menuju ke bangunan utama museum. Bau amis dan busuk langsung menyengat. Maklum saja, museum ini terletak persis di samping Pasar Ikan. Saya harus membiasakan diri dengan bau ini, setidaknya selama berada di kawasan museum.</p>
<p>Bangunan utama museum ini dulunya merupakan gudang VOC untuk menyimpan berbagai komoditi. Mulai dari rempah-rempah, pakaian, hingga benda-benda berharga. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan untuk gudang penyimpanan senjata. Gedung ini juga pernah dipakai PLN dan PTT setelah Indonesia merdeka sebagai gudang penyimpanan.</p>
<p>Bangunan yang dibangun pada tahun 1652 dan mengalami beberapa kali pemugaran hingga tahun 1759 ini terdiri dari 2 bagian, <em>Westzijdsche Pakhuizen</em> di sebelah barat dan <em>Oostzijdsche Pakhuizen</em> di sebelah timur Kali Ciliwung. Gedung bagian timur tidak dipakai sedangkan gedung barat inilah yang kini dipakai sebagai Museum Bahari.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/gedung-baru-lama.jpg" alt="Gedung barat dan gedung timur" title="Gedung barat dan gedung timur" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1095" /></p>
<p>Gedung barat ini terdiri atas 2 blok, barat dan timur. Terdapat perbedaan mencolok antara blok barat dan timur. Gedung blok sebelah barat sudah direnovasi dan tampak lebih bagus, sedangkan blok gedung timur belum mendapat renovasi. Semoga saja renovasi ini bisa segera selesai dan bangunan museum menjadi lebih terawat.</p>
<p>Benteng yang mengelilingi gedung ini nampak kokoh walau terlihat renta. Begitu masuk bangunan, saya langsung menjelajah isi museum yang berada di dalam gedung bagian timur. Saya menjelajah sesuai urutan, dari depan kemudian ke atas dan berpindah ke gedung di bagian barat.</p>
<p>Ruangan pertama berisi berbagai panel yang bertuliskan sejarah pelayaran dan perkapalan di Nusantara, kedatangan VOC karena rempah, perkembangan pelabuhan, dan sebagainya. Selain panel-panel, dipamerkan juga berbagai miniatur kapal-kapal yang ada di seluruh penjuru nusantara.</p>
<p>Sebuah sirip kendali kapal dari kayu yang sangat panjang dan miniatur perahu Phinisi Nusantara, perahu tradisional Bugis, menarik perhatian saya di ruangan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/miniatur-phinisi.jpg" alt="Miniatur Kapal Phinisi Nusantara" title="Miniatur Kapal Phinisi Nusantara" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1096" /></p>
<p>Melanjutkan ke ruangan berikutnya, masih memamerkan berbagai koleksi miniatur perahu-perahu dan kapal-kapal tradisional. Berbagai jenis kapal tradisional dari penjuru nusantara ada di sini. Ada perahu cadik dari Papua, miniatur perahu Phinisi dari Sulawesi, miniatur perahu Mayang dari Indramayu, miniatur perahu Londe dari Sulawesi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Yang menarik perhatian saya di ruangan ini adalah adanya replika dari relief yang ada di Candi Borobudur. Relief ini menggambarkan kejayaan bahari pada masa Budha pada abad ke-8 M yang saat itu berpusat di Kerajaan Sriwijaya.</p>
<p>Dalam relief digambarkan sebuah perahu bercadik yang memiliki 2 tiang layar dengan konstruksi 3 kaki (tripod). Perahu ini pernah berlayar menyusuri <a href="http://asiapacificuniverse.com/pkm/spiceroutes.htm" title="The Spice and Cinnamon Route" target="_blank">Jalur Kayu Manis (The Cinnamon Route)</a> sejauh kurang lebih 11.000 mil laut.</p>
<p>Bahkan sebuah perjalanan napak tilas untuk menyusuri rute ini pernah dilakukan pada tahun 2003 oleh putera-putera terbaik Indonesia. Dengan merekonstruksi perahu seperti yang tergambar pada relief Candi Borobudur, 10 orang pemberani ini mengarungi samudera dari Jakarta menuju Ghana, Afrika.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/replika-cadik-borobudur.jpg" alt="Replika relief Candi Borobudur" title="Replika relief Candi Borobudur" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1097" /></p>
<p>Update info dari <a href="http://wijna.web.id/" title="Mawi Wijna" target="_blank">Mawi Wijna</a>, perahu yang digunakan napak tilas ini berada di Museum Candi Borobudur.</p>
<p>Ruangan berikutnya, selain masih berisi replika perahu juga berisi berbagai perabotan membuat perahu dan kapal kayu. Ada kerangka kayu perahu yang besar, sebuah batang pohon utuh yang dijadikan sebuah perahu, hingga alat-alat pertukangan.</p>
<p>Naik ke atas, di lantai dua saya memasuki ruangan yang memamerkan berbagai peralatan navigasi. Mulai dari miniatur berbagai macam bentuk mercusuar, pelampung rambu-rambu laut, rumah kompas, dan berbagai alat keperluan navigasi lainnya.</p>
<p>Sebuah replika ruang kemudi kapal menarik perhatian saya. Sebuah rumah kompas besar berada di depan kemudi dan di sampingnya terdapat pengendali kecepatan. Sewaktu saya mencoba menarik batang pengendali kecepatan, saya kaget karena ternyata alat tersebut berbunyi dengan nyaring, &#8220;ting! ting! ting!&#8221;.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/miniatur-kemudi-kapal.jpg" alt="Miniatur kemudi kapal" title="Miniatur kemudi kapal" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1098" /></p>
<p>Selanjutnya saya memasuki ruang biota laut. Seperti namanya, ruangan ini memamerkan beberapa contoh organisme laut. Beberapa merupakan hewan yang diawetkan.</p>
<p>Dari ruangan ini saya memasuki ruangan yang memamerkan berbagai alat untuk menangkap ikan. Mulai dari jala, joran, dan belat bambu. Yang menarik perhatian saya adalah belat bambu.</p>
<p>Belat bambu adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu, memiliki sistem pintu masuk searah. Ikan hanya bisa masuk ke dalam tapi tidak bisa keluar. Belat bambu ini dipasang menghadap ke hulu, sehingga ikan yang terbawa arus ke hilir akan masuk dengan mudah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/belat-bambu.jpg" alt="Belat Bambu" title="Belat Bambu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1099" /></p>
<p>Di antara beberapa ruangan terdapat ruang perpindahan di mana terdapat tangga dan terpasang foto-foto yang berhubungan dengan sejarah maritim. Saya tersenyum geli melihat foto jadul yang menggambarkan proses &#8220;pelantikan&#8221; alias perpeloncoan terhadap awak kapal yang baru melintasi garis katulistiwa untuk pertama kalinya. Mereka didandani dengan berbagai atribut yang lucu dan dilantik dalam suatu upacara yang khidmat dan konyol. Ternyata jaman dulu proses plonco itu sudah ada!</p>
<p>Dari ruangan ini saya pun turun dan berpindah ke gedung barat. Di bagian gedung yang sebagian masih kosong karena tahap renovasi, dipamerkan perahu-perahu besar. Perahu-perahu ini memang didatangkan dari berbagai penjuru nusantara.</p>
<p>Salah satu yang membuat saya takjub adalah sebuah perahu bercadik dari Papua yang terbuat dari sebatang pohon utuh yang dilubangi tengahnya. Perahu ini dibawa ke Jakarta pada tahun 1980 dengan cara dilayarkan dan dikemudikan oleh 15 orang secara bergantian sehingga totalnya ada 30 awak. Ketika 15 orang mendayung, 15 orang lainnya beristirahat. Perjalanan mereka dikawal oleh 2 kapal TNI AL dan helikopter selama 3 bulan.</p>
<p>Ukiran perahu ini juga menarik untuk dicermati, dengan relief menggambarkan rangkaian cerita kehidupan sehari-hari masyarakat Papua dan tak lupa hiasan kepala burung Cendrawasih terpasang di ujung-ujungnya. Warna-warna yang digunakan juga berasal dari alam. Warna hitam diperoleh dari tinta cumi-cumi sedangkan warna-warna lain diperoleh dari akar-akar dan dedaunan. Untuk perawatan perahu ini pun, harus dilakukan oleh orang Papua, dengan menggunakan semacam ritual adat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/perahu-papua.jpg" alt="Perahu cadik Papua" title="Perahu cadik Papua" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1100" /></p>
<p>Ruangan perahu ini menjadi ruangan terakhir yang saya kunjungi. Berada di halaman di antara dua gedung, saya merasa ndak berada di Jakarta. Bentuk-bentuk arsitektur Eropa yang kental sangat terasa dengan memandang jendela-jendela kayu dengan teralis-teralis besi di dalamnya. Ndak heran kalo pemotretan pre-wedding juga kerap dilakukan di tempat ini.</p>
<p>Namun sayang, bau busuk yang menyengat dan hawa-hawa <em>pliket</em> laut begitu mengurangi kenyamanan. Belum lagi hawa panas yang tak mampu diusir oleh kipas angin yang terpasang di atap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Taman Prasasti, Bekas Makam Tertua Batavia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 13:55:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Batavia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[Berkunjung ke Museum Taman Prasasti, yang terletak di Jl. Tanah Abang 1 No. 1, Jakarta Pusat, rupanya mampu melemparkan saya ke suasana yang sangat berbeda. Museum yang dulunya memang merupakan areal pemakaman kuno pada masa Batavia ini memang memberikan nuansa sepi, sejuk, dan tenang, terutama di tengah hiruk-pikuknya Jakarta. Suasana angker, kumuh, mengerikan, kotor, langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/museum-taman-prasasti.jpg" alt="Museum Taman Prasasti" title="Museum Taman Prasasti" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1055" /></p>
<p>Berkunjung ke Museum Taman Prasasti, yang terletak di Jl. Tanah Abang 1 No. 1, Jakarta Pusat, rupanya mampu melemparkan saya ke suasana yang sangat berbeda. Museum yang dulunya memang merupakan areal pemakaman kuno pada masa Batavia ini memang memberikan nuansa sepi, sejuk, dan tenang, terutama di tengah hiruk-pikuknya Jakarta.</p>
<p>Suasana angker, kumuh, mengerikan, kotor, langsung sirna begitu menjejakkan kaki ke areal yang luasnya sekitar 1,3 hektar ini. Memang kesan menakutkan masih sedikit terasa karena berbagai bentuk batu nisan yang berada di lokasi ini.</p>
<p><span id="more-1054"></span>Menuju ke tempat ini sangatlah mudah. Dengan menggunakan TransJakarta, saya turun di halte Monumen Nasional, tepat di depan gedung Museum Nasional (Museum Gajah).</p>
<p>Dari sini, saya berjalan sedikit ke arah utara, menuju ke sebuah jalan kecil di antara gedung Museum Nasional dan Gedung Depkominfo (Jl. Museum) ke arah barat, kemudian menyeberangi Kali Krukut menuju ke utara hingga menemukan Jl. Tanah Abang 1. Jika ogah repot, kita bisa naek ojek dari pertigaan dekat Depkominfo.</p>
<p>Suasana di sekitar sini sangat rapi dan bersih. Trotoar yang cukup lebar membuat saya lebih memilih berjalan kaki menikmati suasana.</p>
<p>Sebelum masuk areal museum, kita akan disambut oleh sebuah bangunan bergaya Doria yang dibangun pada tahun 1844 sebagai gerbang masuk. Di dalam bangunan ini terdapat ruangan di sayap kanan-kiri yang berfungsi untuk menyemayamkan jenazah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/gerbang-museum-taman-prasas.jpg" alt="Gerbang Museum Taman Prasasti" title="Gerbang Museum Taman Prasasti" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1056" /></p>
<p>Di salah satu ruang bekas ruang penyemayaman jenazah inilah kita bisa membeli tiket untuk masuk ke museum ini. Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah, kita bisa menjelajah setiap sudut area museum.</p>
<p>Seperti pada museum-museum lainnya di Jakarta, museum yang pengelolaannya berada dalam satu manajemen dengan pengelola Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) ini beroperasi setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore. Museum ini juga tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.</p>
<p>Makam kuno (<em>Kerkhof Laan</em>) ini awalnya bernama Kebon Jahe Kober, yang didirikan pada tanggal 28 September 1795. Saat itu kondisi Batavia sangat padat dan tidak sehat sehingga banyak warga yang terkena penyakit dan meninggal. Pemakaman di depan gereja pun tidak sanggup menampung sehingga pemkot Batavia kemudian mencari lahan di luar kota Batavia yang berada di sebelah selatan.</p>
<p>Areal makam ini dulunya sangat luas, mencapai sekitar 5,9 hektar. Posisinya yang dekat dengan Kali Krukut membuat posisi makam ini sangat strategis. Kali Krukut pada masa itu bahkan digunakan sebagai moda transportasi untuk mengangkut jenazah dan rombongan pengantar dengan menggunakan perahu.</p>
<p>Museum Taman Prasasti diresmikan pada tanggal 9 Juli 1977 oleh gubernur saat itu, Ali Sadikin, setelah selama 2 tahun jenazah-jenazah yang ada di makam ini direlokasi pada tahun 1975-1977. Sejak Agustus 2003, pengelolaan museum yang terletak persis di sebelah kantor Walikota Jakarta Pusat ini, bergabung dengan manajemen Museum Sejarah Jakarta.</p>
<p>Begitu masuk, kita akan mendapati beberapa pilar-pilar yang di tiap sisinya terdapat prasasti nisan. Gubernur Ali Sadikin yang saat itu mempunyai ide untuk menata prasasti-prasasti tersebut ke dalam pilar-pilar sehingga lebih rapi dan tertata, namun rupanya pemerintah Belanda tidak menyetujui ide ini, sehingga terkesan pembangunan pilar-pilar ini belum rampung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/pilar-pilar-prasasti.jpg" alt="Pilar-pilar prasasti" title="Pilar-pilar prasasti" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1057" /></p>
<p>Meskipun di sini saya menyebutnya makam, namun semua jenazah yang ada di sini sudah dipindahkan. Ada yang dikembalikan ke keluarganya di negeri Belanda, sebagian dipindahkan ke pemakaman Menteng Pulo, dan beberapa dimakamkan di pemakaman umum lain semacam Tanah Kusir.</p>
<p>Kompleks makam ini terbagi atas 10 blok yang mengikuti kontur parit dan menyimpan hampir 1.500 koleksi. Bila bingung hendak ke mana, ikuti saja jalur semen yang mengelilingi kompleks ini. Sesekali keluar jalur untuk mengeksplorasi dan melihat-lihat nisan juga tak mengapa.</p>
<p>Nisan-nisan yang terdapat di sini beraneka rupa bentuk dan bahannya. Dari angka tahun yang tertulis di nisan, rata-rata berangka tahun wafat 1800-1900-an. Yang dimakamkan di sini pun beragam, awalnya hanya diperuntukkan oleh kaum bangsawan dan pejabat VOC/Batavia, namun seiring waktu masyarakat umum pun diterima, tentunya dengan membayar sejumlah tertentu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/heraldik.jpg" alt="Contoh Heraldik" title="Contoh Heraldik" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1058" /></p>
<p>Informasi dari batu nisan dan prasasti yang ada inilah kita bisa mengetahui komposisi penduduk Batavia pada saat itu. Dari bahasa yang tertulis di nisan, kita juga akan mendapati bangsa-bangsa yang ada. Bentuk-bentuk hiasan menunjukkan pola arsitektur yang berkembang saat itu, mulai dari arsitektur klasik, neo-gothic, dan Hindu-Jawa.</p>
<p>Logo <em>Heraldik</em> yang terpampang di nisan menunjukkan garis keturunan keluarga. Ada keturunan keluarga <em>Cornelis Breekpot</em> (militer), <em>Jonatan Michielsz</em> (saudagar Portugis, <em>mardjiker</em>), <em>Cornelis Lindius</em> (agamawan gereja), <em>Juffrow Sara Pedel</em> (saudagar), <em>Catharina van Doorn</em> (anggota dewan Hindia-Belanda), dan <em>Jacques de Bollan</em> (anggota dewan kota Batavia).</p>
<p>Logo Heraldik adalah semacam lambang status sosial, yang diberikan kepada suatu keluarga karena memiliki jasa-jasa tertentu. Logo ini biasanya dipasang di foto seseorang yang menunjukkan identitas keluarganya.</p>
<p>Tiap-tiap logo memiliki berbagai macam informasi yang disimbolkan dalam gambat-gambar penyusunnya. Biasanya simbol-simbol ini berisi falsafah hidup, semboyan, dan ajaran kebaikan.</p>
<p>Saya berniat untuk berjalan dengan mengikuti jalur ke arah kiri. Belum saya melangkah, pandangan mata saya tertahan pada sebuah dinding dengan prasasti di tengah dan ada hiasan tengkorak yang tertancap pedang. Inilah prasasti <em>Pieter Erbelrveld</em>, seorang campuran Jerman dan Thailand yang membenci orang-orang Belanda.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-erberveld.jpg" alt="Monumen Pieter Erberveld" title="Monumen Pieter Erberveld" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1059" /></p>
<p>Pieter Erberveld begitu membenci pemerintah Batavia yang sewenang-wenang. Beberapa kali Pieter Erbelverd melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan dibantu oleh Raden Kartadriya. Belanda menuduh Erbelverd hendak melakukan pemberontakan dan melakukan pembantaian terhadap etnis Belanda.</p>
<p>Ketika tertangkap, Erberveld diganjar hukuman yang sangat kejam. Tangan dan kakinya diikatkan ke 4 ekor kuda kemudian ditarik ke 4 arah yang berbeda. Tentu saja badannya robek dan berhamburan di jalan. Lokasi tempat eksekusi Erberveld yang terletak di tepi <em>Jacatra-weg</em> ini kini dikenal dengan Jalan (Kampung) Pecah Kulit, yang sekarang menjadi Jalan Pangeran Jayakarta.</p>
<p>Kepala Erberveld ini kemudian ditusuk dengan pedang dan dijadikan monumen sebagai peringatan kepada warga agar tidak melawan Belanda. Sebuah prasasti sepanjang sekitar 8 meter pun dibuat yang berisi peringatan dalam bahasa Belanda dan Jawa untuk tidak mendirikan bangunan atau menanam tumbuhan di sekitar monumen.</p>
<p>Prasasti yang terletak di Kampung Pecah Kulit ini kemudian dipindahkan ke Museum Taman Prasasti. Namun tengkorak dan pedang di prasasti ini tentu hanya replika. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/makam-roll.jpg" alt="Nissan H.F. Roll" title="Nissan H.F. Roll" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1060" /></p>
<p>Tak jauh saya melangkah dari prasasti Erberveld, saya menemukan nisan makam <em>H.F. Roll</em>, si pendiri STOVIA (<em>School tot Opleiding van Indische Artsen</em>), sekolah tinggi kedokteran untuk kaum pribumi. Nisannya dapat dengan mudah dikenali dari bentuk buku terbuka yang menjadi hiasan nisan.</p>
<p>Roll adalah seorang dokter Belanda yang berpikiran maju. Dia mengusulkan pendidikan kedokteran pribumi harus sama dengan pendidikan dokter di Belanda. Roll pun sempat menjadi direktur STOVIA, di mana pergerakan Budi Utomo lahir di sana.</p>
<p>Ndak jauh dari nissan H.F. Roll, ada sebuah bangunan mungil yang kini berfungsi sebagai gudang. Di bangunan itu dulunya ditemukan mumi dari keluarga keluarga <em>A.J.W. Van Delben</em>. Mumi itu sekarang entah berada di mana.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/rumah-van-delben.jpg" alt="Rumah Van Delben" title="Rumah Van Delben" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1061" /></p>
<p>Sebuah kereta yang terpajang tak jauh dari situ menarik perhatian saya. Rupanya itu adalah kereta jenazah yang pernah dipakai untuk mengangkut jenazah dari pelabuhan Kali Krukut ke pemakaman Kebon Jahe Kober.</p>
<p>Seperti yang saya ceritakan di awal, jenazah dibawa dari kota Batavia ke pemakaman dengan menggunakan perahu yang melalui Kali Krukut, kemudian jenazah dibawa ke pemakaman dengan menggunakan kereta kuda ini. Jumlah kuda yang menarik kereta menunjukkan status sosial si jenazah.</p>
<p>Dulu terdapat lonceng perunggu yang terpasang pada tiang besi setinggi 4 meter yang berada di pelabuhan, yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari makam. Ketika jenazah tiba di pelabuhan, lonceng ini akan dibunyikan sebagai tanda jenazah telah tiba.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/kereta-jenazah.jpg" alt="Kereta jenazah tua" title="Kereta jenazah tua" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1062" /></p>
<p>Masih di blok yang sama, saya melihat batu nisan <em>Olivia Mariamne Raffles</em>, istri pertama <em>Thomas Stamford Raffless</em> saat masih menjabat jadi Gubernur Letnan Jawa ketika pemerintahan Inggris. Olivia begitu mencintai dunia tanaman dan dia lah yang mencetuskan ide pembangunan Kebun Raya Bogor. Saat Olivia meninggal pada usia 43 tahun, dibuatlah sebuah monumen di Kebun Raya Bogor yang dipersembahkan untuk Olivia Raffles.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-olivia-raffles.jpg" alt="Nisan Olivia Mariamne Raffless" title="Nisan Olivia Mariamne Raffless" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1063" /></p>
<p>Masih di sekitar situ, ada sebuah nisan yang unik menurut saya, berada tepat di bawah sebuah pohon. Hanya sebuah tulisan yang ada di batu nisan yang berbunyi, Kapiten Jas. Siapakah dia?</p>
<p>Kapiten Jas adalah sebuah legenda. Diduga nama ini berhubungan dengan <em>Jassen Kerk</em>, sebuah gereja Portugis di luar kota lama. Pada abad ke-17, karena kondisi Batavia yang tidak sehat, banyak warga meninggal dan dimakamkan di halaman gereja ini. Tanah pemakaman di halaman gereja inilah yang disebut dengan &#8220;tanah Kapiten Jas&#8221;.</p>
<p>Lantas, siapakah yang dimakamkan di sana? Entah lah, namun menurut salah seorang penjaga museum, jasad yang ada di situ ketika direlokasi mengalami hambatan, yaitu peti matinya terlilit akar pohon yang tumbuh di sampingnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-kapiten-jas.jpg" alt="Nisan Kapiten Jas" title="Nisan Kapiten Jas" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1065" /></p>
<p>Mengikuti jalur yang ada, saya pun berkeliling. Batu nisan berbagai bentuk rupanya menarik perhatian serombongan anak SMA untuk berfoto-foto. Dengan menggunakan kostum ala <em>vintage</em>, mereka berpose di atas nisan atau berlatar belakang suasana makam.</p>
<p>Memang di beberapa tempat terdapat hiasan-hiasan berupa malaikat, manusia bersayap, wanita cantik, dan sebagainya. Ada juga bentuk-bentuk bangunan dengan arsitektur yang indah. Ndak heran banyak syuting, pemotretan pre-wedding yang mengambil lokasi ini.</p>
<p>Di beberapa sudut tersedia bangku-bangku taman. Sesuai dengan namanya, Museum Taman Prasasti ini memang layak dijadikan taman tempat berekreasi. Sembari duduk-duduk menikmati keteduhan suasana karena di sini tumbuh berbagai jenis pohon yang rindang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-gie.jpg" alt="Nisan Soe Hok Gie" title="Nisan Soe Hok Gie" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1067" /></p>
<p>Rupanya tidak hanya tokoh-tokoh Belanda saja yang dimakamkan di sini. Di luar jalur semen, saya melihat nisan <em>Soe Hok Gie</em>, tokoh pergerakan mahasiswa era tahun 1967-1969, yang meninggal menghirup gas beracun di Gunung Semeru.</p>
<p>Selain Soe Hok Gie, ada juga nisan <em>Miss Riboet</em>. Miss Riboet adalah penyanyi dan penari terkenal dari kelompok seni Orion Junior yang didirikan oleh suaminya, <em>Tio Tek Djien</em>, pada tahun 1925. Selain menari, Miss Riboet piawai memainkan pedang.</p>
<p>Karir Miss Riboet makin terkenal ketika dia memainkan peran sebagai perampok wanita dalam lakon berjudul <em>Juanita de Vega</em> karya <em>Antoimette de Zema</em>. Namun karir kelompok seni ini berakhir pada tahun 1934 ketika dua orang penulis naskah mereka, <em>Njoo Cheong Seng</em> dan <em>Fifi Young</em>, pindah ke kelompok sandiwara asal Surabaya yang menjadi saingan berat Orion. Miss Riboet meninggal di Jakarta pada tahun 1965.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-riboet.jpg" alt="Nisan Miss Riboet" title="Nisan Miss Riboet" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1068" /></p>
<p>Melanjutkan penelusuran saya, berbagai tokoh pun saya lihat nisannya. Ada nisan <em>Dr. J.L. Andries Brandes</em>, seorang arkeolog yang menguasai sastra Jawa kuno. Sejarah Indonesia banyak sekali yang dia ungkap, mulai dari Kitab Pararaton, naskah raja-raja Tumapel hingga Majapahit.</p>
<p>Batu nisannya unik. Sekilas bentuknya seperti lingga, dengan ukiran <em>antefix</em> seperti yang dapat ditemukan pada hiasan beberapa candi di Jogja.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-brandes.jpg" alt="Nisan Dr. J.L. Andries Brandes" title="Nisan Dr. J.L. Andries Brandes" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1069" /></p>
<p>Masih banyak tokoh-tokoh lain yang nisannya berada di museum ini. Ada nisan <em>Adami Caroli Claessens</em>, seorang pastur Katholik yang datang ke Hindia Belanda pada tahun 1847. Salah satu jasa Claessens adalah membangun kembali Gereja Katedral yang roboh pada tahun 1890.</p>
<p>Ada juga nisan <em>J.H.R. Kohler</em>, seorang panglima tinggi militer Batavia yang gugur ketika melakukan ekspedisi ke Aceh. Kohler gugur karena salah sasaran, seharusnya menyerang Kerajaan Aceh, namun justru menyerang sebuah masjid. Masyarakat pun melakukan perlawanan dan Kohler tewas tertembak di dada pada tahun 1879.</p>
<p>Ketika hendak mengakhiri kunjungan, saya tertarik dengan sebuah bangunan di sebelah selatan gerbang masuk. Sebuah aula yang tertutup rapat mengusik rasa penasaran saya. Ketika saya bertanya kepada penjaga museum, dia malah mengajak saya masuk ke dalam melalui jendela karena pintu utamanya rusak.</p>
<p>Rupanya aula ini tempat menyimpan peti jenazah proklamator kita, Bung Karno dan Bung Hatta. Peti bung Hatta di sebelah utara (kiri) dan peti Bung Karno di sebelah selatan (kanan).</p>
<p>Si penjaga pun mengijinkan saya melihat isi peti. &#8220;Semua masih asli&#8221;, kata penjaga itu. Saya melihat isi peti yang mulai lapuk kain dan bantalan di dalamnya karena dimakan usia.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/peti-sukarno-hatta.jpg" alt="Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta" title="Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1070" /></p>
<p>Mengunjungi Museum Taman Prasasti dapat menjadi wisata alternatif. Selain menikmati kesejukan udara dan kicauan burung yang hinggap di sela-sela pepohonannya yang rindang, kita juga bisa mengenal berbagai tokoh yang hidup di masa silam.</p>
<p>Yang menarik, makam Kebon Jahe Kober (1795) bahkan bisa dibilang salah satu makam tertua di dunia. Lebih tua dari <em>Fort Cannin Park</em> (1926) di Singapura, <em>Gore Hill Cemetery</em> (1868) di Sidney, <em>La Chaise Cemetery</em> (1803) di Paris, <em>Mount Auburn Cemetery</em> (1831) di Cambridge yang diklaim sebagai makam modern pertama di dunia, atau <em>Arlington National Cemetery</em> (1864) di Washington DC.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Wayang: Menyimpan Koleksi Wayang Berbagai Daerah</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-wayang-menyimpan-koleksi-wayang-berbagai-daerah.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-wayang-menyimpan-koleksi-wayang-berbagai-daerah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 14:26:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[Kota tua Jakarta memang masih memesona. Melanjutkan perjalanan penjelajahan museum, kali ini saya mengunjungi Museum Wayang, yang beralamat di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta. Terletak di kawasan Taman Fatahillah, museum ini merupakan salah satu museum dari beberapa museum yang ada di kawasan ini. Gedung ini begitu mudah ditemui karena cat temboknya yang berbeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/museum-wayang.jpg" alt="Prasasti Museum Wayang" title="Prasasti Museum Wayang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1027" /></p>
<p>Kota tua Jakarta memang masih memesona. Melanjutkan perjalanan penjelajahan museum, kali ini saya mengunjungi Museum Wayang, yang beralamat di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta. Terletak di kawasan Taman Fatahillah, museum ini merupakan salah satu museum dari beberapa museum yang ada di kawasan ini.</p>
<p>Gedung ini begitu mudah ditemui karena cat temboknya yang berbeda warna. Warna coklat yang dominan di antara gedung-gedung lain berwarna putih membuat gedung museum ini mudah ditemukan.</p>
<p><span id="more-1026"></span>Siapa yang menyangka kalo gedung mungil ini menyimpan hampir 6 ribu koleksi wayang dari seluruh Indonesia bahkan beberapa dari dunia. Museum yang diresmikan oleh gubernur saat itu, Ali Sadikin, pada tanggal 13 Agustus 1975 ini usianya hampir sama dengan Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/gedung-museum-wayang.jpg" alt="Gedung Museum Wayang" title="Gedung Museum Wayang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1029" /></p>
<p>Arsitekturnya sekilas memang berbeda dengan arsitektur gedung-gedung di sampingnya. Maklum saja karena gedung bercorak <em>neo-renaisance</em> ini memang beberapa kali mengalami pemugaran.</p>
<p>Awalnya gedung ini adalah gedung <em>De Oude Hollandsche Kerk</em> (Gereja Lama Belanda) dan dibangun pertama kali pada tahun 1640. Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama <em>De Nieuwe Hollandse Kerk</em> (Gereja Baru Belanda), namun sayangnya hancur oleh gempa bumi pada tahun 1808. Di atas puing-puing bangunan ini kemudian dibangunlah sebuah museum yang disebut Museum Batavia yang dibuka pada 1939 oleh Gubernur Jenderal Belanda saat itu, <em>Tjarda Van Starkenborgh Stachhouwer</em>. Museum inilah yang kemudian menjadi Museum Wayang.</p>
<p>Dengan tiket sebesar 2 ribu rupiah, kita bisa menikmati koleksi wayang dari berbagai corak, bentuk, dan daerah. Sayangnya selama berada di museum ini kita tidak diperkenankan untuk mengambil gambar, walau ada beberapa pengunjung yang nekat mengambil gambar meski hanya menggunakan kamera handphone.</p>
<p>Menuju ke ruangan atas, di mana ruang pamer berada, kita akan disambut oleh sebuah fragmen wayang yang menceritakan peristiwa proklamasi kemerdekaan. Terdapat sosok Bung Karno dan Bung Hatta di dalam fragmen tersebut. Wayang ini sempat dibawa ke Belanda sebelum akhirnya dikembalikan lagi dan menjadi koleksi museum ini.</p>
<p>Memasuki koridor, kita akan mendapati berbagai bentuk rupa, mulai dari wayang kulit, wayang beber, wayang golek, wayang klitik, dan sebagainya. Asal daerahnya pun ada yang berasal dari Surakarta, Yogyakarta, Cireebon, Sunda, Betawi, Banyumas, Banjarmasin, bahkan dari Eropa, India, Amerika, Kamboja, dan Thailand.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/dalam-museum-wayang.jpg" alt="Suasana di dalam Museum Wayang" title="Suasana di dalam Museum Wayang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1028" /></p>
<p>Ada beberapa koleksi yang memukau saya, antara lain wayang intan. Wayang intan adalah wayang kulit yang di bagian-bagian tertentu terdapat intan-intan. Wayang yang dibuat oleh Ki Guno Kerti Wondo ini dibuat pada tahun 1878.</p>
<p>Wayang lainnya yang ukup unik adalah wayang klithik. Wayang ini badannya terbuat dari kayu, namun pada bagian tangan menggunakan kulit. Ketika dimainkan, wayang ini akan berbunyi &#8220;klithik-klithik&#8221; akibat badan wayang bersentuhan dengan gagang wayang yang menggerakkan tangan, jadilah namanya wayang klithik. Cara memainkannya pun mirip dengan wayang golek.</p>
<p>Ada juga wayang Betawi, di mana bentuknya seperti wayang golek, namun tokoh-tokohnya adalah tokoh-tokoh Betawi pada masa penjajahan. Kita bia melihat tokoh seperti Si Pitung, Centeng Belanda, Pak Haji, Jenderal Belanda, dan sebagainya.</p>
<p>Ada juga boneka Si Gale-Gale, boneka dari Pulau Samosir, Sumatera Utara yang konon dulu berisi roh putera raja Si Gale-Gale sehingga bisa menari-nari ini juga dipamerkan. Beberapa wayang berbentuk boneka dari Eropa, Malaysia, dan Thailand juga dapat kita lihat.</p>
<p>Saya terpukau melihat sebuah blencong (lampu minyak yang digunakan sebagai sumber cahaya pada pertunjukkan wayang kulit) besar berbentuk garuda yang pernah &#8220;piknik&#8221; hingga negeri Belanda. Namun oleh Kolonel Karel Heshusius, blencong ini dikembalikan ke Indonesia pada tahun 1975.</p>
<p>Namun dari sekian jenis wayang, saya ndak menemukan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/10/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html" title="Wayang Potehi, Wayang Cina yang Berakulturasi">wayang potehi</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Selain berbagai jenis wayang, ada juga seperangkat gamelan yang dipamerkan di sini.</p>
<p>Keunikan lain dari museum ini adalah adanya taman di bagian bawah di mana terdapat prasasti-prasasti yang merupakan bagian dari bangunan sebelumnya. Sekilas memang bentuk taman ini semacam makam, sehingga banyak yang mengira taman ini adalah makam. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Dari sekian buah nama yang tertulis, saya hanya bisa mengenali nama Jan Pieterzoon Coen, sang pendiri Batavia.</p>
<p>Sayangnya ketika ke sana, koleksi yang dipamerkan tidak banyak mengingat keterbatasan tempat. Namun menurut informasi, gedung ini akan diperluas sehingga di beberapa tempat masih terpampang tulisan &#8220;dalam renovasi&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-wayang-menyimpan-koleksi-wayang-berbagai-daerah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelabuhan Sunda Kelapa, Cikal Bakal Jakarta</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 13:13:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda Kelapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/07/28/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html</guid>
		<description><![CDATA[Berada di Pelabuhan Sunda Kelapa, mengamati aktivitas bongkar muat barang di sana, membuat saya menelaah kembali lirik lagu, &#8220;nenek moyangku orang pelaut..&#8221; Mungkin ndak banyak yang tahu, kalo di pelabuhan yang saya kunjungi tersebut merupakan cikal bakal lahirnya Jakarta. Yang menarik dari Jakarta adalah banyaknya situs-situs bersejarah, yang sayangnya kondisinya sangat banyak yang memprihatinkan. Menjelajahi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/pelabuhan-sunda-kelapa1.jpg" alt="Pelabuhan Sunda Kelapa" title="Pelabuhan Sunda Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1152" /></p>
<p>Berada di Pelabuhan Sunda Kelapa, mengamati aktivitas bongkar muat barang di sana, membuat saya menelaah kembali lirik lagu, &#8220;nenek moyangku orang pelaut..&#8221;</p>
<p>Mungkin ndak banyak yang tahu, kalo di pelabuhan yang saya kunjungi tersebut merupakan cikal bakal lahirnya Jakarta.</p>
<p><span id="more-774"></span>Yang menarik dari Jakarta adalah banyaknya situs-situs bersejarah, yang sayangnya kondisinya sangat banyak yang memprihatinkan.</p>
<p>Menjelajahi situs-situs ini seolah membawa saya membaca kembali buku Sejarah, yang dulu pernah saya benci, namun dengan visualisasi dan sensasi yang menarik.</p>
<p>Salah satunya adalah Pelabuhan Sunda Kelapa, yang konon merupakan pelabuhan perdagangan terbesar setelah Malaka.</p>
<p>Pelabuhan ini pada abad ke-12 merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Sunda, yang beribukota di Pakuan Pajajaran (yang kini menjadi Kota Bogor). Bahkan konon pelabuhan ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Tarumanegara.</p>
<p>Menyaksikan kapal-kapal Phinisi dan kapal-kapal Bugis Schooner dengan bentuknya yang khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal, membuat saya bisa membayangkan betapa ramai dan besarnya pelabuhan ini saat itu.</p>
<p>Kapal-kapal tersebut ditambatkan berjejer di kanal sepanjang 3 km. Bahkan di abad ke-17, konon kapal-kapal ini masih dapat melayari muara sungai Ciliwung.</p>
<p>Kemahsyuran pelabuhan milik Kerajaan Sunda ini membuat pelabuhan ramai dikunjungi oleh kapal-kapal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makassar, serta pedagang-pedagang dari India dan Tiongkok. Dari bandar ini lah merica, beras, porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, hingga emas diperdagangkan.</p>
<p>Seorang penjelajah asal Portugis, Tome Pires, yang mendarat di Sunda Kelapa sekitar tahun 1512-1515 menuliskan dalam dokumen, bahwa Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi penyangga sejumlah pelabuhan di Nusantara seperti Sumatera, Palembang, Laue, Tanjungpura, Malaka, Makassar, dan Madura.</p>
<p>Pun demikian kesan yang saya tangkap ketika melihat aktivitas di pelabuhan ini. Kapal-kapal modern yang terletak di kanal sebelah timur, terlihat mengangkut berbagai komoditas &#8220;berat&#8221; yang hendak dibawa ke luar Jawa. Sedangkan kapal-kapal tradisional ditambatkan di kanal sebelah barat membawa komoditas yang &#8220;lebih ringan&#8221;.</p>
<p>Melihat aktivitas para kuli panggul membawa barang di pundaknya, kemudian meniti sebatang balok kayu yang ditopangkan miring ke badan kapal sebagai jembatan, merupakan pemandangan yang cukup menarik.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/membawa-barang.jpg' alt='Membawa barang ke atas kapal' /></p>
<p>Saya hanya begidik ngeri dan urung mencoba meniti batang kayu ini setelah melihat laut yang ada di bawah. Kecemplung ke laut karena melakukan tindakan konyol tentu bukanlah hal yang bijaksana. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kehidupan para anak buah kapal pun bisa kita lihat lebih dekat. Mulai dari mencuci pakaian, membersihkan kapal, memperbaiki jangkar, mengecat lambung kapal, semua bisa kita saksikan.</p>
<p>Saya tertegun ketika melihat sepasang suami-istri beserta anak-anaknya yang mendayung perahu mungil menelisip di antara badan-badan kapal yang besar. Hendak ke mana kah, mereka?</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/perahu-kecil.jpg' alt='Perahu mungil di antara kapal' /></p>
<p>Siapa kah yang menyangka, kalo dari pelabuhan inilah, Kota Batavia, cikal bakal Jakarta berawal.</p>
<p>Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis melalui Alfonso d&#8217; Albuquerque tahun 1511 membawa lembaran sejarah baru.</p>
<p>Portugis membuat perjanjian dengan Kerajaan Pasundan yang memberikan hak bagi orang-orang Portugis membangun gudang dan benteng di kawasan ini. Sebagai imbalannya, Portugis akan membantu kerajaan Pasundan yang kala itu beragama Hindu melawan serangan dari Kerajaan Islam Demak.</p>
<p>Perjanjian ini kemudian ditulis di sebuah prasasti batu yang diberi nama Padrao. Prasasti Padrao ini dapat dilihat di Museum Nasional (Museum Gajah).</p>
<p>Serangan pasukan Kerajaan Demak yang dibantu Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah untuk mengusir Portugis akhirnya berhasil merebut Sunda Kelapa.</p>
<p>Fatahillah pun akhirnya mengubah nama Sunda Kelapa menjadi &#8220;Jayakarta&#8221; yang berarti &#8220;kota kemenangan&#8221;, pada tanggal 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kemudian dipakai sebagai &#8220;tanggal lahir&#8221; kota Jakarta.</p>
<p>Akhir abad ke-16, Jan Pieterszoon Coen berhasil merebut Jayakarta. J.P. Coen kemudian membangun kota baru yang disebut dengan nama Batavia, yang diduga lokasinya adalah di situs Kota Tua sekarang.</p>
<p>Kapasitas Pelabuhan Sunda Kelapa yang tidak dapat menampung jumlah kapal yang masuk, membuat pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Tanjung Priok.</p>
<p>Selain itu, pemerintah Belanda juga membangun jalur trem yang ditarik oleh kuda untuk membawa komoditas dari Tanjung Priok ke Batavia pada tahun 1869 dan jalan kereta api pertama antara Batavia-Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1873.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/bersepeda.jpg' alt='Bersepeda ke Sunda Kelapa' /></p>
<p>Sore itu kami mencoba menelusuri jalur kejayaan Batavia dan Sunda Kelapa. Menggunakan jasa ojek sepeda, kami menyusuri jalan dari situs Kota Tua ke Pelabuhan Sunda Kelapa.</p>
<p>Sore yang cerah, menawarkan pemandangan senja di pelabuhan, membuat kami termotivasi.</p>
<p>Jejak-jejak kejayaan Sunda Kelapa tidak dapat kami temukan lagi. Kasteel atau benteng Belanda yang dulu kokoh berdiri sudah tiada berbekas.</p>
<p>Ketika kami berkunjung, kami ndak sempat berkunjung ke Menara Syahbandar (Lookout Tower) yang dibangun pada tahun 1839. Mungkin lain kali?</p>
<p>Ah, rasanya Museum Bahari yang merupakan bekas Westzijdsche Pakhuizen (gudang rempah-rempah Belanda) akan menjadi destinasi saya selanjutnya.</p>
<p>Berawal dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, terakhir sebutannya menjadi Jakarta. Berbagai peristiwa yang menjadi dasar perubahan nama-nama tersebut, membuat pelabuhan ini layak disebut sebagai Bandar Empat Zaman.</p>
<p>Selain memiliki nilai sejarah, pelabuhan ini juga mempunyai nilai ekonomi, sosial, dan budaya.</p>
<p>Akankah pelabuhan ini lekang ditelan zaman?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Bank Indonesia, Museum Bermultimedia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-indonesia-museum-bermultimedia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-indonesia-museum-bermultimedia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 04:48:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[perbankan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/07/18/museum-bank-indonesia-museum-bermultimedia.html</guid>
		<description><![CDATA[Masih di seputaran Kota Tua, saya pun mengunjungi Museum Bank Indonesia, yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat. Museum ini kembali membuat saya takjub. Konsep museum yang ditawarkan oleh Museum BI ini sangat keren dan berbeda dengan museum-museum lainnya. Walau dari luar, bangunan bekas De Javasche Bank ini nampak tua, namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/museum-bi1.jpg" alt="Museum Bank Indonesia" title="Museum Bank Indonesia" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1153" /></p>
<p>Masih di seputaran Kota Tua, saya pun mengunjungi Museum Bank Indonesia, yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat.</p>
<p>Museum ini kembali membuat saya takjub. Konsep museum yang ditawarkan oleh Museum BI ini sangat keren dan berbeda dengan museum-museum lainnya.</p>
<p><span id="more-764"></span>Walau dari luar, bangunan bekas De Javasche Bank ini nampak tua, namun jangan berharap menemukan kesan kuno bila masuk ke dalamnya. Saya serasa masuk ke dalam hotel berbintang!</p>
<p>Awalnya saya clingak-clinguk mencari di mana pintu masuknya. Ah, rupanya pintu kaca bersensor yang akan terbuka otomatis bila kita mendekat mengagetkan saya. Saya sempat bingung, ini museum atau mall?</p>
<p>Masuk ke lobi, saya kembali melongo, ini penjaganya di mana? Kok sepi? Oh, rupanya meja resepsionis berada di ruangan sebelah utara, setelah masuk melalui sebuah pintu putar kuno yang terbuat dari baja.</p>
<p>Lagi-lagi saya tercengang, ruang resepsionisnya pun nampak modern. Mbak-mbak penjaga resepsionis menyapa saya ramah dan mempersilakan saya mengisi buku tamu dan menitipkan tas.</p>
<p>&#8220;Mohon nanti di ruang Peralihan dan Numismatik, blitz-nya tidak dinyalakan, karena akan mengganggu..&#8221;, mbak resepsionis memperingatkan saya dengan tersenyum ketika melihat saya mengeluarkan kamera dari tas.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/resepsionis.jpg' alt='Ruang Resepsionis' /></p>
<p>Saat saya hendak mengeluarkan uang untuk membayar tiket masuk, lagi-lagi saya terkejut. &#8220;Hah?! Masuk museum sekeren ini, GRATIS?!!&#8221;, teriak saya hampir tak percaya.</p>
<p>Ruang resepsionis ini begitu keren. Sepanjang koridor di mana ruang resepsionis ini berada, terdapat ruang-ruang berteralis yang digunakan untuk melakukan transaksi dengan teller. Privasi sangat dijaga sekali.</p>
<p>Konon bangunan 2 lantai ini dulunya digunakan sebagai rumah sakit Binnen Hospital, sebelum digunakan untuk kantor De Javasche Bank.</p>
<p>De Javasche Bank didirikan pada tahun 1828. DJB saat itu sangat berperan dalam peredaran komoditi hasil bumi dari seluruh penjuru Hindia Belanda.</p>
<p>Gedung ini pun sempat mengalami 5 tahap renovasi. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1909 hingga 1912 yang dilakukan oleh biro arsitektur terkemuka dari Belanda saat itu, Biro Arsitek Ed Cuypers en Hulswit.</p>
<p>Renovasi pertama ini menambahkan elemen dekoratif Neoklasik yang terpengaruh oleh arsitektur Beaux Arts yang sedang berkembang di Eropa. Selain itu, unsur-unsur lokal dapat kita temukan pula pada beberapa hiasan dekoratifnya, sehingga gedung ini menjadi gedung bergaya Eropa pertama yang memadukan unsur Eropa dan lokal di Hindia Belanda.</p>
<p>Renovasi kedua dilakukan pada tahun 1922 oleh Biro Arsitek NV Architecten-Ingenieursbureau Fermont-Cuypers, dengan menambahkan ruang rapat berkeramik hijau dari Belanda yang disebut dengan Ruang Hijau.</p>
<p>Pada tahap ini pula, ruang Kluis (penyimpanan uang dan benda beharga) lapis baja dengan tembok beton setebal 65 cm dibangun oleh perusahaan LIPS dari Dordrecht.</p>
<p>Renovasi tahap ketiga pada tahun 1924 hanya menyelesaikan pembangunan di sepanjang Javabank Straat (sekarang Jl. Bank) dan bangunan sayap belakang sepanjang kali.</p>
<p>Tahap keempat (1933) dan tahap kelima (1935) hanya melakukan penambahan beberapa gedung dan merombak beberapa bagian gedung.</p>
<p>Sebelum masuk ke ruang pertama museum, yaitu Ruang Peralihan, terpampang layar <em>touchscreen</em> yang memberikan informasi lengkap soal museum ini. Beberapa layar monitor LCD widescreen juga terpampang memberikan informasi berupa video.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/touchscreen.jpg' alt='Layar Informasi Touchscreen' /></p>
<p>Sejarah perkembangan logo BI yang telah mengalami perubahan 7 kali sejak tahun 1953 hingga 2005 pun terpampang jelas. Logo BI yang sekarang ini ternyata mengadaptasi logo De Javasche Bank dengan mengubah huruf J menjadi huruf I.</p>
<p>Saya pun memasuki Ruang Peralihan. Label larangan memotret menggunakan blitz terpampang sebelum pintu masuk. Rupanya penggunaan blitz dikhawatirkan akan mengganggu sensor cahaya yang ada di ruangan ini.</p>
<p>Ruangan ini adalah ruangan multimedia interaktif. Di sini sebuah proyektor khusus menampilkan kepingan uang logam berbagai nilai yang melayang-layang pada sebuah layar putih melengkung.</p>
<p>Bila kita bisa &#8220;menangkap&#8221; kepingan uang logam ini, yaitu dengan mengurung uang tersebut di dalam lingkaran tangan, maka akan muncul semacam pop-up yang berisi informasi mengenai uang logam tersebut.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/ruang-peralihan.jpg' alt='Ruang Peralihan' /></p>
<p>Keluar dari Ruang Peralihan, saya memasuki Ruang Teater berkapasitas 45 tempat duduk yang digunakan untuk memutar film sejarah Bank Indonesia selama 30 menit.</p>
<p>Ruangan berikutnya adalah Ruang Sejarah Bank Indonesia. Di sini terdapat berbagai diorama dan papan informasi besar yang menceritakan sejarah Bank Indonesia dari tahun 1953 hingga tahun 2005.</p>
<p>Sejarah Bank Indonesia sendiri menampilkan 3 fungsi Bank Indonesia yaitu sebagai lembaga moneter, perbankan, dan sistem pembayaran.</p>
<p>Lagi-lagi unsur multimedia tak lepas dari ruangan ini. Speaker berbentuk khusus yang terletak menggantung di langit-langit tepat di atas monitor touchscreen membuat suara menjadi lebih bagus.</p>
<p>Yang saya sukai dari ruangan ini adalah panel &#8220;Yang Seru, Yang Lucu&#8221;, yang menampilkan beberapa asal mula istilah-istilah perbankan yang akrab di telinga kita.</p>
<p>Tampilannya pun dibuat interaktif. Pertanyaan dan gambar ilustrasi ditulis pada papan persegi semacam jendela, kemudian untuk mengetahui jawabannya, kotak pertanyaan ini digeser ke kanan dan akan muncullah jawaban dari pertanyaan tersebut.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/yang-seru-lucu.jpg' alt='Panel “Yang Seru, Yang Lucu”' /></p>
<p>Berbagai macam asal usul istilah perbankan ada di sana. Mulai dari asal usul uang kertas, kata &#8220;dollar&#8221;, kata &#8220;money&#8221;, celengan, kata &#8220;matre&#8221;, kata &#8220;bangkrut&#8221;, kata &#8220;bank&#8221;, beberapa istilah bursa semacam &#8220;bull market&#8221; dan &#8220;bear market&#8221;, serta masih banyak lagi.</p>
<p>Dari panel-panel ini saya jadi tau asal kata &#8220;money&#8221; yang berasal dari kata &#8220;moneta&#8221; (memperingatkan) dalam mitologi Yunani, kemudian kata &#8220;dollar&#8221; yang berasal dari kata &#8220;thaler&#8221; (koin perak) di Bohemia (Cekoslovakia), kata &#8220;bank&#8221; yang berasal dari kata &#8220;banca&#8221; (bangku) di Italia, serta banyak hal menarik dan lucu lainnya.</p>
<p>Keluar dari ruang ini, saya lantas menuju ke lantai atas. Di sana terdapat Ruang Numismatik. Sebelum masuk ke ruangan ini, kita harus melalui ruang koridor Numismatik.</p>
<p>Di sini, terdapat sebuah panel gambar uang pecahan 10 ribu rupiah tahun emisi 1985 yang pada wajah Ibu Kartini terdapat lubang untuk kita berpose. Jadi kita seolah-olah menjadi tokoh dalam uang tersebut. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/duit-aneh.jpg' alt='Duit Edisi Aneh' /></p>
<p>Sebelum masuk ke ruang Numismatik, yang merupakan bekas ruang Kluis dengan pintu baja, seorang guide wanita kembali memperingatkan saya untuk tidak menyalakan blitz, karena di ruangan ini terdapat koleksi mata uang kuno yang dikhawatirkan bila terkena cahaya berlebihan, bisa merusak uang-uang tersebut.</p>
<p>Di ruang ini, display uang kuno dibagi dalam beberapa periode masa, mulai dari masa kerajaan hingga masa sekarang. Selain itu, terdapat informasi mengenai uang-uang khusus semacam uang bersambung dan uang token.</p>
<p>Saya takjub melihat <a href="http://www.bi.go.id/msmbiweb/koleksi_content.asp?id=274&#038;tipe=" title="Kampua" target="_blank">Kampua</a>, uang dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara yang diperkirakan berasal dari abad ke-14 hingga 19. uang ini terbuat dari anyaman benang yang dianyam oleh putri raja Buton.</p>
<p>Satuan uang ini ditentukan oleh luas kain selebar telapak tangan raja Buton yang berkuasa saat itu. Satu satuan uang adalah sama harganya dengan satu butir telur.</p>
<p>Kemudian ada lagi yang namanya Uang Bersambung. Jadi, uang ini sengaja dicetak tanpa dipotong, sehingga uang tersebut tetap bergandengan. Uang ini dicetak dalam jumlah terbatas untuk konsumsi para kolektor dan tidak digunakan untuk keperluan sehari-hari, meski bila uang ini kemudian kita potong, tetep saja uang ini sah digunakan sebagai alat pembayaran.</p>
<p>Ada juga Uang Token, yaitu uang yang mempunyai nilai nominalnya lebih tinggi dari nilai materinya. Uang ini biasanya dikeluarkan oleh badan tertentu dan hanya berlaku di lokasi tertentu saja. Contohnya ya koin-koin pada casino, di mana koin tersebut hanya berlaku di dalam casino tersebut.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/ruang-numismatik.jpg' alt='Ruang Numismatik' /></p>
<p>Sayangnya ruang ini menjadi ruang terakhir yang saya jelajah, karena museum ini rupanya baru aja soft-launching pada tanggal 15 Desember 2005 lalu dan masih dalam taraf pembangunan.</p>
<p>Rencana grand-launching adalah pada akhir tahun 2008 ini. Saya pun berharap bisa melihat berbagai macam koleksi yang ada di museum ini. Tentu dengan penataan yang sangat baik dan menyenangkan semacam ini.</p>
<p>Selain itu, museum ini juga mempunyai website yang cukup informatif. Beralamat di <a href="http://www.bi.go.id/msmbiweb/" title="Cyber Museum Bank Indonesia" target="_blank">http://www.bi.go.id/msmbiweb/</a>, website ini bisa dibilang cukup lengkap. Desainnya pun bisa dibilang keren bila dibandingkan dengan website-website museum lain di Indonesia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Sekali lagi, saya menemukan museum yang menyenangkan untuk dikunjungi di Indonesia! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-indonesia-museum-bermultimedia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Bank Mandiri, Potret Perbankan Masa Lalu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-mandiri-potret-perbankan-masa-lalu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-mandiri-potret-perbankan-masa-lalu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 11:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[perbankan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/07/14/museum-bank-mandiri-potret-perbankan-masa-lalu.html</guid>
		<description><![CDATA[Rasa penasaran saya terhadap bangunan berarsitektur Indische dengan gaya Nieuw-Zakelijk yang terletak di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) tertuntaskan sudah. Museum Bank Mandiri, nama gedung itu benar-benar membuat saya puas dan merasakan nuansa berbeda dari museum-museum yang saya kunjungi sebelumnya. Saya termasuk orang yang suka dengan museum, bangunan tua, heritage, dan sesuatu yang menyimpan cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/lobi-museum1.jpg" alt="Lobi Museum Bank Mandiri" title="Lobi Museum Bank Mandiri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1154" /></p>
<p>Rasa penasaran saya terhadap bangunan berarsitektur <em>Indische</em> dengan gaya <em>Nieuw-Zakelijk</em> yang terletak di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) tertuntaskan sudah.</p>
<p>Museum Bank Mandiri, nama gedung itu benar-benar membuat saya puas dan merasakan nuansa berbeda dari museum-museum yang saya kunjungi sebelumnya.</p>
<p><span id="more-759"></span>Saya termasuk orang yang suka dengan museum, bangunan tua, heritage, dan sesuatu yang menyimpan cerita sejarah.</p>
<p>Berkunjung ke kawasan Kota Tua Jakarta menjadi aktivitas di akhir pekan bila saya bingung hendak jeng-jeng ke mana. Kawasan itu menjadi semacam surga buat saya, selain karena banyaknya bangunan tua peninggalan Belanda, juga banyak museum!</p>
<p>Saya akhirnya memutuskan mengunjungi Museum Bank Mandiri, yang beralamat di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat.</p>
<p>Akses menuju tempat ini sangat mudah, hanya dengan mengandalkan busway, saya turun di halte Stasiun Kota, masuk ke terowongan dan mengambil arah Pasar Pagi.</p>
<p>Museum ini buka setiap hari kecuali hari Senin (hari libur bagi seluruh museum) dan hari libur nasional, mulai pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore.</p>
<p>Begitu masuk, saya langsung terpesona dengan isi dari museum. Kesan <em>wingit</em>, sepi, berdebu, seketika langsung sirna. Suasana yang adem, bersih, dan terawat adalah kesan yang saya tangkap ketika memasuki museum ini.</p>
<p>Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah, bahkan bila kita mempunyai Kartu Mandiri kita bisa gratis masuk, bebas berfoto-foto, membuat saya merasa ini adalah lokasi yang sangat menyenangkan!</p>
<p>Saya jadi teringat dengan museum <a href="http://blog.faniez.net/2007/07/20/4-nights-in-jogja-2/" title="4 Nights in Jogja (2)" target="_blank">Ulen Sentalu</a> di Jogja, yang menarik harga mahal bila ingin melihat isi museum itu. Ternyata museum yang bagus dan keren itu ndak harus mahal!</p>
<p>Setelah urusan administrasi selesai, yaitu cuma menulis buku tamu dan menitipkan tas, saya dengan kalap langsung masuk menjelajah isi musem.</p>
<p>Gedung ini memiliki bentuk arsitektur yang sederhana, yang dirancang oleh 3 orang arsitek asal Belanda, yaitu J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits, dan C. Van de Linde.</p>
<p>Bangunan yang dulu beralamat di <em>Stasionsplein 1, Binnen Nieuwpoortstraat</em>, ini digunakan sebagai kantor <em>Nederlandsche Handel Maatschappij</em> (NHM), kongsi dagang Belanda yang menggantikan VOC.</p>
<p>Memasuki lantai satu, saya seperti terlempar ke jaman kolonial. Sinyo dan Noni Belanda terlihat wara-wiri melakukan transaksi. Suara-suara mesin hitung yang klak-klik terdengar dari penjuru ruangan.</p>
<p>Ah, namun rupanya itu semua hanya dalam imajinasi saya ketika melihat rekonstruksi ruang Kasir Tjina.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/ruang-kasir-tjina.jpg' alt='Ruang Kasir Tjina' /></p>
<p>Berbagai benda dan tata letak di ruang ini pun hampir sama dengan bila kita masuk ke bank biasa. Yang membedakan hanya usia dan bentuk benda-benda tersebut.</p>
<p>Saya terpana melihat sebuah mesin hitung kuno yang berbentuk seperti mesin ketik bermerk Oliver. Belum selesai kekaguman saya, berbagai benda-benda lainnya hampir membuat saya pingsan karena kagum!</p>
<p>Sebuah buku yang diberi nama &#8220;Buku Besar (Grootboek)&#8221; rupanya ukurannya benar-benar besar! Buku setebal 1503 lembar dengan ukuran panjang dan lebar hampir setengah meter dengan tebal hampir 20 cm ini digunakan untuk mencatat laporan keuangan NHM yang berisi soal hasil kebun dan komoditi pada tahun 1935-1936!</p>
<p>Turun ke lantai bawah membuat saya semakin takjub. Rupanya ruangan ini digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga yang disebut dengan Kluis atau Khasanah (<em>vault</em> / <em>strong room</em>). Ruangan ini berukuran 924 m<sup>2</sup> dan terbagi atas 3 ruangan.</p>
<p>Untuk memasuki ruangan ini, kita harus melewati sebuah pintu yang terbuat dari baja berwarna hijau setebal 10 cm dengan berat 5 ton yang langsung dibawa dari Amsterdam. Sistem pengaman pintu ini menggunakan sistem waktu dan kombinasi angka. Sebuah teknologi hebat di masa itu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_clap.gif' alt='&#61;&#68;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#68;&#62;' /></p>
<p>Saya membayangkan, bila dulu hendak merampok bank ini, kita ndak perlu membobol pintu, namun dengan membobol temboknya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dari pintu utama ini, terdapat ruangan yang penuh dengan teralis. Sekilas ruangan ini memang mirip penjara. Rupanya tempat ini digunakan untuk menyimpan berbagai surat berharga, yang disebut dengan <em>Efecteen Kluis</em>.</p>
<p>Ruang kedua atau ruang tengah berisi berbagai jenis <em>Brandkast</em> segede kulkas. Brankas-brankas baja ini digunakan untuk menyimpan uang dan emas (<em>Kast Kluis</em>).</p>
<p>Ruangan ketiga merupakan ruang penyimpan Safe Deposit Box (SDB) yang digunakan untuk menyimpan benda-benda berharga lain semacam perhiasan. Dari ketiga ruang di dalam Kluis ini, hanya ruang penyimpan SDB yang kala itu bisa dimasuki oleh nasabah penyewa SDB.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/ruang-sdb-kluis.jpg' alt='Ruang Safe Deposit Box' /></p>
<p>Uniknya, bila diperhatikan, semua brankas dan peti penyimpanan ini tidak ada yang diletakkan mepet ke tembok. Selalu saja ada ruangan di antara lemari dan tembok. Rupanya ini merupakan salah satu sistem keamanan yang diterapkan pada masa itu.</p>
<p>Saya menemukan sebuah lift kuno di bagian belakang. Desain interior lift yang jadul banget, dengan pintu kaca membuat saya penasaran untuk mencoba. Meski kuno, namun mesin lift ini sudah menggunakan mesin modern. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Saya pun mencoba naik ke lantai 2. Di sini terdapat ruang penyimpanan berbagai benda pendukung aktivitas perbankan, mulai dari perkembangan teknologi informasi hingga sistem keamanan bank!</p>
<p>Di ruang perkembangan teknologi informasi, saya melihat komputer-komputer server jaman dulu yang segede gaban. Printer-printer yang lebih mirip mesin fotokopi, hingga media penyimpan data nasabah yang masih berupa pita magnetik! Buset!</p>
<p>Di ruang yang menyimpan benda-benda sistem keamanan bank juga lucu. Saya menemukan berbagai pakaian seragam satpam lengkap dengan tanda kepangkatannya hingga senjata-senjata yang digunakan. Saya melihat <em>shuriken</em> dan paku lempar yang dimasukkan ke dalam kategori senjata satpam selain pentungan!</p>
<p>Dari ruang-ruang penyimpan ini, saya menuju ke bagian depan. Sebuah ruang rapat yang begitu bagus mengingatkan saya pada ruang rapat pada film-film mafia. Pantas saja, beberapa bahan terutama ubin menggunakan bahan mozaik keramik bercampur kaca, yang merupakan material impor dari Vinencia, Italia.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/kaca-patri.jpg' alt='Kaca Patri' class="alignright" /></p>
<p>Ketika hendak turun ke bawah menggunakan tangga, saya terkesima begitu melihat kaca patri di depan tangga. Inilah bagian yang hampir selalu ada di bangunan-bangunan bercorak <em>Indische</em>. Lokasinya pun, selalu di depan tangga utama.</p>
<p>Corak-corak kaca patri ini menggambarkan 4 musim di Belanda dan seorang nakhoda yang mendarat di Banten tahun 1596, Cornelis de Houtman.</p>
<p>Begitu turun ke lantai 1, saya menuju ke toko suvenir yang berada di sayap selatan. Di ruang sebelahnya lagi, saya menemukan berbagai mesin-mesin ATM jaman dulu.</p>
<p>Kebelet pipis, saya menuju ke toilet. Menarik, di depan pintu masuk toilet, terdapat sebuah papan keterangan yang menyatakan bahwa toilet itu dulu merupakan toilet khusus untuk para <em>Inlander</em>!</p>
<p>Bentuk toilet ini sengaja dipertahankan sesuai dengan aslinya, namun diberi sekat-sekat dari kayu untuk memisahkan toliet pria dan wanita. Pispotnya pun sudah berubah, mungkin karena pispot asli sudah rusak dimakan jaman.</p>
<p>Menjelajah museum yang dikelola oleh Bank Mandiri ini ndak ada habisnya. Saya ketika menulis postingan ini merasa ada beberapa bagian yang belum terkunjungi.</p>
<p>Bila njenengan datang ke sini, cobalah anda berkeliling museum. Menyusuri setiap lorong dan ruangan-ruangannya, kita akan menemukan hal-hal menarik, meski sebenernya ruang itu bukanlah bagian dari museum. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Pokoke ini museum lajak dikoendjoengi, teroetama oentoek rekreasi keloearga.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-mandiri-potret-perbankan-masa-lalu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lawang Sewu, Eksotisme yang Terbalut Mistis</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/lawang-sewu-eksotisme-yang-terbalut-mistis.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/lawang-sewu-eksotisme-yang-terbalut-mistis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 04:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/09/lawang-sewu-eksotisme-yang-terbalut-mistis.html</guid>
		<description><![CDATA[Pas jeng-jeng ke Semarang liburan Imlek kemarin, kami mengunjungi kembali Lawang Sewu, salah satu situs wisata populer di Semarang. Kunjungan saya yang ketiga kali ini ternyata membuat saya berpikir kembali soal eksotisme dan potensi wisata Lawang Sewu yang dari sudut pandang lain mungkin ndak selaras dengan sudut pandang orang kebanyakan. Lawang Sewu, sejak dulu terkenal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/lawang-sewu1.jpg" alt="Sisi lain Lawang Sewu" title="Sisi lain Lawang Sewu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1198" /></p>
<p>Pas <a href="http://cahandong.org/2008/02/09/jeng-semawis.html" title="Jeng Semawis" target="_blank">jeng-jeng ke Semarang</a> liburan Imlek kemarin, kami mengunjungi kembali Lawang Sewu, salah satu situs wisata populer di Semarang.</p>
<p>Kunjungan saya yang ketiga kali ini ternyata membuat saya berpikir kembali soal eksotisme dan potensi wisata Lawang Sewu yang dari sudut pandang lain mungkin ndak selaras dengan sudut pandang orang kebanyakan.</p>
<p><span id="more-628"></span>Lawang Sewu, sejak dulu terkenal dengan keangkeran, cerita horor, kemistisan, tempat seram, dan obyek wisata nyali lainnya.</p>
<p>Namun bila kita bisa menafikkan semua stigma masyarakat tersebut, Lawang Sewu bisa menjadi potensi wisata unggulan Semarang.</p>
<p>Arsitektur Lawang Sewu yang unik dan menarik inilah yang patut ditonjolkan daripada cerita seramnya.</p>
<p>Latar belakang sejarah lah yang seharusnya lebih dikedepankan daripada cerita &#8220;di sini pernah dipakai untuk lokasi uji nyali yang memenangkan penghargaan reality show terbaik se-Asia&#8221;-nya itu.</p>
<p>Bila Pemkot Semarang memang berniat mengangkat potensi wisata Semarang, tentunya pemkot harus bener-bener serius dengan membangun infrastruktur yang memadai.</p>
<p>Andai saja Lawang Sewu direnovasi kembali, kemudian dialihfungsikan, sebagai museum atau hotel misalnya, tentunya ini akan menarik lebih banyak wisatawan.</p>
<p>Lalu akan muncul keresahan, la nanti kalo dijadikan hotel, apa ndak angker nantinya? Saya cuma ketawa. La hantu itu sebenernya lebih takut pada kita! La kok kita yang takut sama mereka.</p>
<p>Suasana gelap, sepi, membuat suasana tambah wingit dan membuat para setan itu suka gentayangan. Coba kalo ini gedung diramaikan, saya yakin para setan dan hantu itu akan enyah dengan sendirinya.</p>
<p>Wisatawan asing tentu ndak tertarik dengan cerita klenik macam beginian. Yang doyan cerita klenik ini kan ya orang-orang kita sendiri. La kalo yang ditonjolkan cuma cerita klenik, mana mau para wisatawan asing itu datang?</p>
<p>Andai Lawang Sewu dijadikan hotel, tentu hotel ini akan menjadi hotel menarik seperti hotel Majapahit di Surabaya yang pernah menjadi saksi sejarah dengan peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi merah-putih itu.</p>
<p>Kalo dijadikan museum, bisa jadi Museum Sejarah Jakarta  atau yang sering disebut dengan Museum Fatahillah itu dijamin ndak bakal ada apa-apanya.</p>
<p>Foto-foto Semarang tempo doeloe bisa dipajang di museum ini. Saya sendiri sedih dan prihatin. Mosok gambar-gambar, foto-foto, dan peninggalan sejarah kita (khususnya di Semarang) malah ada di <a href="http://www.semarang.nl/" title="Semarang Foto Archives" target="_blank"">Belanda</a>?</p>
<p>Heritage dan bangunan tua peninggalan Belanda yang banyak bertebaran di Semarang harusnya bisa menjadi ujung tombak wisata Semarang. Tentunya dengan perawatan dan penyajian yang baik.</p>
<p>Saya yang suka melihat heritage dan bentuk bangunan-bangunan tua begitu sedih. Ndak bisa kah kita melestarikan peninggalan kebudayaan tersebut sebagai warisan kepada anak cucu?</p>
<p>Saya jadi teringat slogan, &#8220;jas <strike>coklat</strike> merah: jangan sekali-kali melupakan sejarah&#8221;.</p>
<p>Saya membayangkan bila saja Lawang Sewu bener-bener direnovasi. Membayangkan suasana tempo doeloe lengkap dengan para sinyo dan none-none Belandanya tentunya menjadi ndak sulit lagi.</p>
<p>Ah, andai saja pemerintah kita ini peduli.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/lawang-sewu-eksotisme-yang-terbalut-mistis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 07:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/24/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html</guid>
		<description><![CDATA[Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu. Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan. Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya. Konon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/lorong-laweyan1.jpg" alt="Salah satu sudut Kampung Laweyan" title="Salah satu sudut Kampung Laweyan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1202" /></p>
<p>Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu.</p>
<p>Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan.</p>
<p>Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya.</p>
<p><span id="more-606"></span>Konon Kampung Laweyan sudah ada sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Pajang.</p>
<p>Daerah Laweyan dulu banyak ditumbuhi pohon kapas dan merupakan sentra industri benang yang kemudian berkembang menjadi sentra industri kain tenun dan bahan pakaian.</p>
<p>Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian ini sering disebut dengan Lawe, sehingga daerah ini kemudian disebut dengan Laweyan.</p>
<p>Industri dan perdagangan di Laweyan semakin berkembang semenjak digunakannya <acronym title="orang-orang sekitar menyebut juga Kali Jenis">Kali Kabangan</acronym> sebagai jalur transportasi dari dan menuju Kerajaan Pajang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/jembatan-kabangan.jpg' alt='Jembatan yang melintas di atas Kali Kabangan' /></p>
<p>Dari kampung ini pula, hidup seorang tokoh yang konon akan menurunkan raja-raja Mataram Islam.</p>
<p>Tokoh ini adalah Kyai Ageng Henis yang merupakan keturunan Brawijaya V yang kemudian mempunyai keturunan Ki Ageng Pemanahan yang mendirikan Kerajaan Mataram di Kotagede.</p>
<p>Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kerajaan Pajang, Kyai Ageng Henis pun kemudian masuk Islam.</p>
<p>Kyai Ageng Henis bersama Sunan Kalijaga kemudian menyebarkan agama Islam di kawasan Laweyan.</p>
<p>Seorang tokoh yang amat disegani saat itu atas pengaruh Kyai Ageng Henis akhirnya juga masuk Islam. Beliau adalah Kyai Ageng Beluk.</p>
<p>Setelah masuk Islam, Kyai Ageng Beluk kemudian mengubah sanggarnya menjadi sebuah masjid untuk menunjang dakwahnya.</p>
<p>Masjid ini lah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 Masehi.</p>
<p>Agama Islam pun menyebar dengan sangat pesat di Laweyan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/masjid-laweyan.jpg' alt='Masjid Laweyan' /></p>
<p>Batik sendiri awalnya diperkenalkan oleh Kyai Ageng Henis yang memang menyukai kesenian.</p>
<p>Selain menyebarkan agama, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat bagaimana cara membuat batik.</p>
<p>Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun berubah menjadi produsen batik.</p>
<p>Karena letaknya yang strategis, Laweyan pun menjadi salah satu kota perdagangan yang maju.</p>
<p>Sebagai kota perdagangan, dibangunlah sebuah bandar (pelabuhan) yang berada di sisi selatan kampung dan di sebelah timur masjid di pinggir Kali Kabangan. Namun peninggalan bandar ini sudah ndak dapat ditemukan lagi.</p>
<p>Ndak heran kalo di Laweyan banyak terdapat saudagar batik yang kaya.</p>
<p>Kehidupan masyarakat di Laweyan ini dapat kita lihat dari bentuk-bentuk bangunan yang ada.</p>
<p>Setiap rumah saudagar biasanya dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi. Tujuannya adalah saat itu demi alasan keamanan.</p>
<p>Namun walau setiap rumah dibatasi dengan tembok, antar rumah terdapat pintu yang menghubungkan rumah satu dengan yang lainnya sehingga silaturahmi tetap terjaga.</p>
<p>Konon di beberapa rumah juga terdapat lorong bawah tanah dan bunker yang berfungsi untuk mengungsi bila terjadi serangan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/tembok-laweyan.jpg' alt='Lorong di antara tembok-tembok tinggi di Laweyan' /></p>
<p>Sekilas, bentuk-bentuk bangunan rumah yang dikelilingi oleh tembok ini mengingatkan saya akan Kotagede.</p>
<p>Terang saja, tata kota Kotagede terinspirasi oleh tata kota di Laweyan karena Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan banyak menghabiskan masa kecilnya di kampung ini.</p>
<p>Bila melacak kembali, sebuah tugu yang ada di pusat kawasan ini dulunya adalah pasar. Namun pasar ini sudah ndak ditemukan lagi.</p>
<p>Panembahan Senopati semasa kecil tinggal di kawasan sebelah utara pasar. Rumah Panembahan Senopati ketika berada di Kotagede pun berada di sebelah utara pasar. Karena inilah ia dijuluki Raden Ngabehi Loring Pasar.</p>
<p>Ketika Kerajaan Mataram pindah ke desa Sala yang kemudian berubah nama menjadi Kraton Surakarta, Laweyan tetap merasa sebagai daerah merdeka yang ndak ingin tunduk kepada kraton.</p>
<p>Ini dikarenakan para saudagar merasa mereka sudah kaya dan mampu hidup tanpa perlu bergabung dengan daerah kekuasaan kraton.</p>
<p>Bisa jadi perlawanan ini juga dikarenakan kraton saat itu begitu dekat pihak Belanda, padahal para saudagar batik yang ada di kawasan ini semuanya adalah saudagar muslim <acronym title="pribumi">bumiputra</acronym>.</p>
<p>Sikap ini nampak dari bentuk-bentuk motif batik yang ndak mengikuti pakem-pakem motif seperti motif-motif batik kraton.</p>
<p>Ketika masa penjajahan Belanda, pada tahun 1905 muncullah organisasi Serikat Dagang Islam yang diprakarsai oleh K.H. Samanhudi, salah satu saudagar batik.</p>
<p>Tujuan didirikannya SDI saat itu sebenernya untuk menyatukan para saudagar batik muslim bumiputra yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di dalam kraton.</p>
<p>Rumah K.H. Samanhudi masih ada dan dapat kita temukan di kawasan ini.</p>
<p>Atas jasa-jasa dari K.H. Samanhudi, Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk K.H. Samanhudi yang sampai sekarang masih digunakan oleh cucu dan keturunan K.H. Samanhudi.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/rumah-samanhudi.jpg' alt='Rumah pemberian Presiden Soekarno kepada K.H. Samanhudi' /></p>
<p>Bentuk bangunan di kawasan tengah dan utara Laweyan kebanyakan membentuk &#8220;jalan mati&#8221;, di mana jalan ini terkesan sepi karena berada di antara tembok-tembok rumah yang saling membelakangi.</p>
<p>Sedangkan kawasan di daerah selatan yang dekat dengan Kali Kabangan rumahnya cenderung terbuka dan membentuk &#8220;jalan hidup&#8221; di mana pintu-pintu bagian depan rumah saling berhadap-hadapan sehingga memungkinkan interaksi.</p>
<p>Rumah-rumah di kawasan tengah dan utara didiami oleh para saudagar sedangkan berada di selatan didiami oleh para pekerja batik.</p>
<p>Dulu banyak sekali jalan-jalan yang melintang dari utara ke selatan menuju ke Kali Kabangan. Jalan ini dinamakan &#8220;jalan servis&#8221; yang berfungsi untuk membawa kain batik setengah jadi untuk dicuci di Kali Kabangan.</p>
<p>Jaman dulu air di kali ini begitu bersih sehingga masih layak digunakan untuk mencuci. Selain itu, bahan pewarna batik jaman dulu itu terbuat dari bahan alami sehingga ndak membahayakan alam.</p>
<p>Industri batik tulis dan cap di Laweyan sempat kolaps ketika masuknya batik-batik sablon.</p>
<p>Proses pembuatan batik yang lebih cepat dan massal membuat harga batik sablon menjadi murah. Tentu saja ini menghantam industri batik tulis dan cap yang ada di Laweyan.</p>
<p>Belum lagi ekspansi bisnis yang dilakukan oleh para pedagang Cina yang saat itu memang mencoba menguasai area Laweyan.</p>
<p>Selama hampir beberapa generasi pembatik di Laweyan gulung tikar. Bisnis batik di Laweyan yang dilakukan secara turun temurun pun terputus.</p>
<p>Para pemuda Laweyan justru banyak yang keluar dari area dan mencoba peruntungan di luar Laweyan. Bukan begitu, <a href="http://colonelseven.wordpress.com/" title="Balibul" target="_blank">Kang Bal</a>? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun pada tahun 2000-an industri batik Laweyan pun kembali bangkit. Apalagi semenjak dibentuknya forum Kampung Batik Laweyan mencoba mengangkat kembali potensi wisata kampung cagar budaya ini.</p>
<p>Jika dulu para pengusaha batik hanya menjadi produsen dan suplier, kini mereka juga membuka showroom-showroom di rumahnya masing-masing.</p>
<p>Kita bisa berkeliling menyusuri lorong-lorong Laweyan dan blusukan masuk ke rumah-rumah saudagar batik untuk melihat dengan lebih dekat proses pembuatan batik.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/mengintip-pembatik.jpg' alt='Mengintip aktivitas pembatik di Laweyan' /></p>
<p>Waktu yang dianjurkan untuk melihat aktivitas di kampung ini adalah pagi hari. Mulai dari pembuatan, pencelupan, hingga penjemuran kain-kain batik dapat kita lihat hingga tengah hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

