Berkunjung ke Green Canyon merupakan salah satu wishlist saya tahun lalu yang baru kesampaian. Pesonanya sudah lama terdengar dan saya telah membuktikannya. Green Canyon, sebuah bagian dari Sungai Cijulang di Ciamis, Jawa Barat, yang diapit oleh tebing dengan air berwarna hijau toska ini memang eksotis. Pangandaran, yang juga berada di Ciamis, juga tak boleh terlewatkan. Hamparan pantai berpasir putih yang memiliki garis pantai barat dan garis pantai timur ini cukup menawan terutama ketika sunset dan sunrise.
Ada sebuah pertanyaan menarik yang pernah saya dengar, "Di manakah letak titik nol kilometer Jakarta?". Aha. Pada jeng-jeng saya kali ini, saya mendapatkan wawasan baru mengenai titik nol kilometer Jakarta. Museum Bahari, selain menyimpan cerita sejarah perkembangan maritim dan kelautan Indonesia, rupanya mempunyai cerita lain yang menarik untuk diulik. Bersama Pelabuhan Sunda Kelapa, kawasan ini menjadi titik awal sejarah lahirnya Jakarta.
Berkunjung ke Museum Taman Prasasti, yang terletak di Jl. Tanah Abang 1 No. 1, Jakarta Pusat, rupanya mampu melemparkan saya ke suasana yang sangat berbeda. Museum yang dulunya memang merupakan areal pemakaman kuno pada masa Batavia ini memang memberikan nuansa sepi, sejuk, dan tenang, terutama di tengah hiruk-pikuknya Jakarta. Suasana angker, kumuh, mengerikan, kotor, langsung sirna begitu menjejakkan kaki ke areal yang luasnya sekitar 1,3 hektar ini.
Kawasan Glodok, Jakarta Barat, selain terkenal dengan pusat perdagangan elektronik dan kawasan pemukiman kaum Tionghoa, rupanya juga mempunyai cerita unik tersendiri. Petak Sembilan, sebuah kawasan pecinan tua yang mempunyai sejarah panjang yang sampai kini masih bertahan. Sisa-sisa kejayaan perdagangan ini masih dapat kita lihat dari bangunan-bangunan bekas rumah toko yang sepi dan tak terawat. Beberapa masih beroperasi walau jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. .
Kota tua Jakarta memang masih memesona. Melanjutkan perjalanan penjelajahan museum, kali ini saya mengunjungi Museum Wayang, yang beralamat di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta. Terletak di kawasan Taman Fatahillah, museum ini merupakan salah satu museum dari beberapa museum yang ada di kawasan ini.
Akhirnya kesampaian juga saya ke Ujung Genteng, sebuah pantai di ujung sebelah barat daya pulau Jawa yang cukup terpencil. Bisa dibilang ini jeng-jeng akhir tahun saya yang sangat mengesankan. \:d/ Di Ujung Genteng, saya mendapatkan pengalaman baru selain menikmati hamparan pantai yang cukup sepi, yaitu melihat secara langsung penyu hijau (Chelonia mydas) bertelur hingga menikmati segarnya air laut selatan yang jernih. .
Badan pegal-pegal akibat mburuh selama seminggu langsung sirna seketika setelah merasakan kehangatan panasnya air yang merendam badan. Sabtu kemarin, saya bareng Purwo dan Damar, 2 orang temen kantor, melakukan perjalanan ke pemandian air panas Gunung Pancar, Desa Karangtengah, Kecamatan Babakan Madang, Citereup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. .
Hari Minggu (2/11) kemarin, saya dan Dita berkunjung ke Planetarium, yang terletak di Jalan Cikini Raya No. 73, di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Turun dari Stasiun Cikini, kami pun berjalan kaki menuju TIM. Daripada naik angkot yang harus muter (karena jalan searah), kami berjalan kaki walau panas menyengat. .
Bagi yang tinggal atau pernah tinggal di Jogja, Klaten, maupun Solo, pasti ndak asing lagi dengan yang namanya angkringan, HIK, atau warung wedangan. Nah, di Jakarta ada warung berkonsep angkringan, HIK, atau warung wedangan yang memadukan unsur "ndesa" namun berteknologi "ngota", sehingga menjadikannya tempat nongkrong yang murah namun tetep nggaya. .
Berada di Pelabuhan Sunda Kelapa, mengamati aktivitas bongkar muat barang di sana, membuat saya menelaah kembali lirik lagu, "nenek moyangku orang pelaut.." Mungkin ndak banyak yang tahu, kalo di pelabuhan yang saya kunjungi tersebut merupakan cikal bakal lahirnya Jakarta. .