<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Pulau, Laut, Pantai</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/destinasi/pulau-laut-pantai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Sawarna</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 07:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Bayah]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sawarna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1513</guid>
		<description><![CDATA[Jawa Barat bagian selatan dan Banten masih menyimpan banyak pesona. Lokasinya yang cukup sulit dijangkau karena prasarana yang kurang, membuat alam dan pemandangannya seperti tak pernah terjamah. A hidden paradise. Salah satunya adalah pantai-pantai di kawasan Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, yang menjadi salah satu favorit para surfer asing sejak tahun 2005, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/lagun-pari.jpg" alt="Di Pantai Lagun Pari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1514" /></p>
<p>Jawa Barat bagian selatan dan Banten masih menyimpan banyak pesona. Lokasinya yang cukup sulit dijangkau karena prasarana yang kurang, membuat alam dan pemandangannya seperti tak pernah terjamah. <em>A hidden paradise</em>.</p>
<p>Salah satunya adalah pantai-pantai di kawasan Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, yang menjadi salah satu favorit para <em>surfer</em> asing sejak tahun 2005, karena karakteristik pantainya curam dan memiliki ombak besar. Bahkan para bule ini betah tinggal hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan karena penasaran dengan ombak di pantai ini, tentunya selain karena kawasan ini masih sangat sepi.</p>
<p><span id="more-1513"></span>Tanpa rencana, kami pun berangkat ke Sawarna. Berbekal informasi minim dari teman yang pernah ke sana, kami pun &#8220;napak tilas&#8221; mengikuti rutenya (yang belakangan kami ketahui bahwa rute ini untuk <em>masokis-traveler</em> &ndash; pelancong yang doyan menyiksa dirinya sendiri demi mencapai tujuan), melahap jalur Jakarta-Serang-Malingping-Bayah-Sawarna yang memakan waktu hingga 9 jam!</p>
<p>Padahal jalur ke Sawarna bisa ditempuh dengan menumpang kendaraan umum ke Pelabuhan Ratu (biasanya ke Bogor dulu, kemudian naik bus MGI ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi), kemudian dilanjut naik Elf atau angkot lain ke Bayah atau langsung ke Sawarna.</p>
<p>Namun meski kami tersiksa karena selama 4 jam berdesak-desakan di dalam Elf yang melahap jalan rusak parah dari Terminal Pakupatan, Serang, Banten menuju Malingping, kami merasa enjoy saja. Bahkan kami sempat sesumbar, kalo ke Sawarna ndak melewati rute Malingping, belum ke Sawarna (dengan tujuan agar pelancong lain merasakan penderitaan kami, heheh).</p>
<p>Kami berangkat dari Slipi Jaya, menumpang bus jurusan Merak dan turun di Terminal Pakupatan, Serang, Banten. Perjalanan sekitar 2 jam hingga ke Serang dengan ongkos 18 rebu untuk bus AC. Dari Terminal Pakupatan, kami naik Elf ke Malingping, yang kampretnya itu Elf banyak ngetem dan mematok harga lebih mahal, yang seharusnya 20 ribu menjadi 30 ribu rupiah.</p>
<p>Jalanan rusak dimulai di sekitar Saketi, Pandeglang, Banten, dan terus berlanjut hingga Malingping. Menurut cerita orang-orang, dana pembangunan jalan banyak dikorupsi, sehingga pantas saja jalannya ancur begitu.</p>
<p>Di beberapa ruas, memang ada perbaikan, yaitu dengan membangun jalanan beton. Namun lagi-lagi menurut informasi, yang membangun jalan tersebut adalah pihak swasta yang memang berkepentingan untuk memudahkan akses ke lokasi penambangan emas. Pandeglang memang salah satu daerah penghasil emas di Banten.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/di-angkot.jpg" alt="Di dalam angkot" title="Di dalam angkot" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1526" /></p>
<p>Begitu turun di Pasar Malingping, kami harus berganti angkot ke Bayah (ongkosnya sekitar 10-15 ribu per orang), dan dari Bayah disambung naik ojek dengan ongkos sekitar 20 ribu per orang. Namun begitu turun dari Elf, kami langsung ditawari carter angkot dengan harga 150 ribu dan diantar sampai Sawarna.</p>
<p>Setelah dipikir-pikir, ongkos nyarter angkot ndak jauh beda dengan <em>ngeteng</em>, akhirnya kami menyarter angkot tersebut. Dari Pasar Malingping menuju Bayah, jalannya bagus dengan aspal mulus, Beda banget dengan rute Serang-Malingping, terutama di kawasan Kab. Pandeglang, Banten, yang rusak parah.</p>
<p>Perjalanan dari Malingping ke Sawarna memakan waktu sekitar 2 jam. Perjalanan kami pun bukannya tanpa hambatan, di tengah-tengah tanjakan berkelok dan sempit, selepas Terminal Bayah dan mulai masuk daerah Ciantir yang masih berupa hutan, angkot yang kami tumpangi bermasalah. Karena hujan mengguyur, entah gimana ceritanya mesin kemasukan air sehingga beberapa kali mobil harus berhenti untuk mengeringkan air. Masih untung kami tidak diminta turun dan membantu mendorong mobil.</p>
<p>Meski begitu, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan tiada dua. Menyusuri jalan di yang tepat berada di pinggir tebing yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, memberikan pemandangan luar biasa.</p>
<p>Setelah mengalami perjalanan yang cukup mendebarkan, karena angkot yang gak beres jalan di tengah hutan pada saat hujan, kami pun tiba di Desa Wisata Ciantir, Kampung Cikaung, Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, tujuan kami akan menginap. Desa ini memang kerap menjadi lokasi menginap karena selain lokasinya yang sangat dekat dengan pantai, juga suasana pedesaan yang ramah kepada wisatawan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/jembatan-gantung.jpg" alt="Jembatan gantung menuju Sawarna" title="Jembatan gantung menuju Sawarna" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1515" /></p>
<p>Sebelum masuk ke desa, kami harus melewati jembatan gantung yang sekilas sangat tidak meyakinkan. Jembatan ini melintasi Sungai Sawarna, yang menjadi asal nama dari desa ini. Di mulut jembatan, kami dimintai ongkos retribusi sebesar 2 ribu rupiah per orang.</p>
<p>Setelah berjalan sekitar 500 meter dari jembatan gantung kami menuju ke Widi&#8217;s Homestay yang dimiliki oleh Pak Ade (081911282912). Pak Ade memang sangat terkenal di Sawarna. Banyak para pejalan dan backpacker yang menginap di tempatnya. Dengan memanfaatkan rumahnya dan rumah saudara-saudaranya, Pak Ade menampung tamu-tamu dan melayaninya dengan baik.</p>
<p>Dengan konsep sesuai namanya, homestay, tamu menginap di kamar-kamar yang disediakan, plus disediakan makan pagi-siang-malam yang dilakukan swalayan di ruang makan. Ingin kopi, teh, disediakan air panas dan silakan bikin sendiri. Kalo masih pengen sesuatu yang lain, Indomie Rebus Telur misalnya, tinggal pesan ke warung kelontong di depan rumah yang dikelola oleh puteri Pak Ade.</p>
<p>Ongkos menginapnya cukup mahal, 60 ribu per orang. Kami cukup beruntung, karena saat kami datang, tamu sedang banyak. Kami masih mendapat tempat dan kami satu rumah dengan para bule surfer. Beberapa rombongan yang datang bahkan mendapat tempat yang lokasinya agak jauh dari pantai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/menuju-desa.jpg" alt="Pemandangan sawah di sepanjang jalan desa" title="Pemandangan sawah di sepanjang jalan desa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1519" /></p>
<p>Makin sore, hujan makin menderas. Untung kami sudah sampai di penginapan yang hangat, setelah sebelumnya sempat menikmati suasana sunset di Pantai Ciantir yang menjadi favorit para surfer. Bercengkrama menikmati suasana sepi pedesaan memang menjadi suasana yang &#8220;mahal&#8221; bagi &#8220;orang kota&#8221;.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-ciantir.jpg" alt="Senja di Pantai Ciantir yang mendung" title="Senja di Pantai Ciantir yang mendung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1516" /></p>
<p>Kami bercengkrama dengan Pak Ade pada malam hari. Pak Ade dan istrinya begitu total melayani tamu, mempersiapkan kebutuhan tamu, hingga menemani ngobrol. Dari Pak Ade, kami mendengar cerita tentang asal-usul nama Sawarna.</p>
<p>Saya mengira nama &#8220;sawarna&#8221; berasal dari kata &#8220;satu warna&#8221;, namun ternyata bukan itu. Memang banyak versi cerita yang mendasari asal-usul nama Sawarna, salah satunya adalah ketika seseorang bernama Suwarna Dwipa dan anak buahnya yang menemukan daerah ini setelah berlayar dan terdampar di pantai.</p>
<p>Suwarna pun kemudian membuka hutan dan tinggal di kawasan pantai. Kapalnya yang hancur ditinggalkan dan konon dari layar kapal yang ditinggalkan di pantai karena hancur terkena badai hingga terdampar, terbentuklah karang yang disebut dengan Karang Layar. Karang Layar adalah landmark dari pantai Tanjung Layar, yang kalo digambar di peta, berada di ujung selatan garis pantai.</p>
<p>Nah, suatu ketika, putera Suwarna Dwipa ini sedang asyik main-main di sungai, tenggelam dan terbawa arus sungai. Sungai yang menenggelamkan putera Suwarna Dwipa ini adalah sungai yang dilintasi oleh jembatan gantung yang berada di pintu masuk desa. Sungai ini kemudian disebut dengan sungai Sawarna, yang berasal dari nama Suwarna, dan akhirnya menjadi nama desa.</p>
<p>Pagi-pagi sekali kami bangun. Posisi pantai yang menghadap ke barat jelas tak memungkinkan kami mendapat sunrise. Kami cuma bisa menikmati pemandangan kehidupan pedesaan di pagi hari: orang-orang pergi ke sawah yang terletak berdampingan dengan pasir pantai, ke ladang kelapa yang banyak berdiri berjajar di sepanjang pantai, ditambah para bule bersliweran mengusung papan surfing.</p>
<p>Setelah berburu sunrise, berjalan-jalan sebentar, menikmati nasi uduk bikinan istri Pak Ade, kami memulai tracking. Dengan dipandu oleh Mas Yudha, putera Pak Ade, kami akan diajak menyusuri Gua Lalay, trekking mendaki Bukit Cimonyet, berenang-renang di Pantai Lagun Pari, menyusuri pantai hingga ke Tanjung Layar, sebelum kembali ke penginapan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pemandangan-pagie.jpg" alt="Sunrise hunter" title="Sunrise hunter" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1520" /></p>
<p>Rute tersebut dipilih mengingat ketika siang, air laut akan surut, sehingga kita bisa berjalan di atas karang pantai dan bisa bermain-main di sekitar Pantai Tanjung Karang.</p>
<p>Mas Yudha sendiri adalah seorang surfer. Sejak usia 18 tahun, dia belajar surfing secara otodidak. Di kawasan Sawarna, Mas Yudha termasuk salah satu surver senior dan trainer. Bahkan dia sudah dikontrak oleh Billabong, salah satu brand yang memproduksi peralatan surfing, untuk jadi salah satu peselancarnya. Foto Mas Yudha yang sedang menaiki ombak dengan papan seluncur juga disablon pada dinding mug untuk suvenir.</p>
<p>Tujuan pertama kami adalah Goa Lalay. Untuk menuju ke sini, kami berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,5 Km. Goa Lalay merupakan salah satu dari 28 goa yang ada di Sawarna. Menurut cerita Pak Ade, goa ini pernah coba ditelusuri oleh mahasiswa dari Mapala UI, namun setelah 2 hari, belum ditemukan juga ujungnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/di-dalam-goa-lalay.jpg" alt="Di dalam Goa Lalay" title="Di dalam Goa Lalay" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1524" /></p>
<p>Disebut dengan Goa Lalay karena di goa ini banyak ditemukan kelelawar (lalay, dalam Bahasa Sunda). Sebuah penamaan yang sangat sederhana. Goa ini bila dilihat dari segi geologis, termasuk dalam tipe goa yang biasa ditemukan. Terbentuk dari bebatuan dan tanah  yang terlarut oleh air yang kemudian air mengalir membentuk sungai bawah tanah.</p>
<p>Memasuki Goa Lalay, kami harus bertelanjang kaki. Selain karena licin, lumpur halus hasil endapan tanah yang membentuk goa setebal hingga paha membuat penelusuran goa menjadi sedikit terhambat. Dengan menggunakan penerangan lampu petromaks, kami mengikuti Mas Yudha agar tidak tersesat di dalam goa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/tanjakan-cimonyet.jpg" alt="Tanjakan Cimonyet" title="Tanjakan Cimonyet" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1522" /></p>
<p>Sekitar 500 meter dari mulut goa, kami sampai di salah satu <em>chamber</em> alias &#8220;ruangan&#8221; di dalam goa. Menurut Mas Yudha, yang sudah ditemukan ada 7 chamber, dan kami baru masuk ke <em>chamber</em> pertama.</p>
<p>Hamparan stalaktit dan stalagmit yang masih aktif menjadi pemandangan yang menyenangkan. Di beberapa sudut tercium bau kotoran kelelawar yang sangat tidak menyenangkan.</p>
<p>Keluar dari goa, kami diminta ongkos retribusi masuk sebesar 2.500 rupiah per orang oleh karang taruna desa. Padahal ketika kami datang, tidak ada seorang pun yang jaga, tiba-tiba aja mereka nongol gitu.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan dengan meniti pematang sawah, menyeberangi sungai, mendaki bukit, menuruni lembah. Kami sampai di sebuah tanjakan sempit dan terjal dengan air mengalir di jalurnya, sehingga tanjakan ini sekilas mirip air terjun mini. Tanjakan ini disebut dengan Tanjakan Cimonyet, merupakan jalur yang harus dilalui untuk menuju Bukit Cimonyet.</p>
<p>Dahulu di hutan ini memang banyak terdapat monyet, sehingga dinamakan Bukit Cimonyet. Namun candaan kami, nama Cimonyet cocok disematkan karena ketika mendaki ke bukit dan menuruni bukit ini, kami harus mengumpat, &#8220;monyet!&#8221;, akibat terjalnya medan dan licinnya turunan hingga beberapa kali kami jatuh terpeleset.</p>
<p>Setelah melahap tanjakan dan turunan Bukit Cimonyet yang curam, plus badan bau karena beberapa kali terjerembab ke dalam lumpur licin dan basah, kami pun akhirnya sampai ke Pantai Lagun Pari. Di sekitar pantai ini, terdapat banyak rumah-rumah dan gubuk tempat membuat gula kelapa.</p>
<p>Gula kelapa dibuat dengan mengambil nira yang berasal dari air sadapan tongkol bunga kelapa (manggar). Para petani memanjat pohon kelapa, menyadap air dari bunga kelapa yang sudah cukup umur dan menyimpannya dalam wadah bambu. Nira kemudian dibersihkan dari kotoran dan disaring, kemudian direbus hingga nira mengental. Setelah nira mengental dan berwarna kecoklatan, nira pekat dan cair ini kemudian dicetak menggunakan batok-batok kelapa atau cincin-cincin bambu.</p>
<p>Sayang sekali, ketika kami tiba di tempat produksi gula kelapa ini, kegiatan pembuatan sudah selesai. Kami cuma melihat para pekerja yang sedang beristirahat.</p>
<p>Begitu melihat air laut dan ombak, kami langsung kalap. Apalagi badan kotor akibat lumpur bau, menyebabkan kami ingin segera mandi-mandi di laut.</p>
<p>Byur!! Ombak setinggi 1 meter langsung menerjang badan. Ombak di Pantai Lagun Pari yang berbentuk teluk ini memang besar dan tinggi. Namun meski begitu, bermain-main air di pantai ini bisa dibilang aman karena permukaan pantainya landai. Berbeda dengan pantai Ciantir yang permukaan pantainya curam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/ombak-lagun-pari.jpg" alt="Ombak besar Pantai Lagun Pari" title="Ombak besar Pantai Lagun Pari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1523" /></p>
<p>Lelah bermain-main air, kami pun mentas. Sembari beristirahat, kami ditawari kelapa muda. Yang istimewa, kelapa ini langsung dipetik dari pohonnya. Tentu sensasinya berbeda, menikmati air kelapa dan makan daging kelapa yang baru saja dipetik dari pohon. Untuk sebutir kelapa muda segar langsung petik dari pohon, kami cukup merogoh kocek 5 ribu rupiah per buah. Sangat murah!</p>
<p>Matahari mulai terik ketika kami menyusuri pantai. Air laut telah surut, membuka tabir-tabir karang yang berundak. Karang-karang berundak yang menyerupai tangga sepanjang pantai ini kemudian diberi nama Karang Teraje (d bahasa Sunda, teraje berarti tangga).</p>
<p>Beberapa kali saya melihat ikan-ikan terjebak dalam lubang-lubang karang, yang oleh penduduk setempat dapat dengan mudah diambil dan diburu. Di kejauhan, ombak-ombak besar datang menghantam bibir karang, sehingga terciptalah cipratan karang yang dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/karang-teraje.jpg" alt="Ombak besar Karang Teraje" title="Ombak besar Karang Teraje" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1525" /></p>
<p>Lepas dari Karang Teraje, kami sampai di sebuah &#8220;tikungan&#8221;. Sebuah &#8220;panggung&#8221; besar nampak berdiri megah menjorok ke laut. Karang Palistir adalah nama &#8220;panggung&#8221; megah ini. Dari atas karang muncul cucuran-cucuran air yang mengalir ke bawah, air ini berasal dari sisa ombak yang terjebak dalam lipatan-lipatan batunya.</p>
<p>Dan itu dia! Landmark megah Karang Layar mulai nampak. Karang setinggi sekitar 4 meter ini menjadi tujuan akhir dari trekking kami. Matahari sudah mencapai atas kepala, sehingga kami tidak berlama-lama bermain di Pantai Tanjung Layar ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-tanjung-layar.jpg" alt="di Pantai Tanjung Layar" title="di Pantai Tanjung Layar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1517" /></p>
<p>Kami kembali ke penginapan lagi-lagi dengan trekking. Melewati perkebunan kelapa yang berjajar rapi, melihat gerombolan kambing dan kerbau gembalaan penduduk, kami pulang. Rasa capek baru terasa ketika menyusuri jalan tanah setapak. Pantas saja, rute trekking kami bisa dibilang cukup jauh, sekitar 6 km!</p>
<p>Untuk mengetahui rute trekking kami, silakan liat di <a href="http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF8&#038;hl=en&#038;msa=0&#038;msid=100272502380624460749.000489731df130ec6b18f&#038;ll=-6.986236,106.314483&#038;spn=0.018487,0.038581&#038;t=h&#038;z=15" title="Sawarna Tracking Route" target="_blank">peta berikut</a>.</p>
<p>Setelah mandi-mandi dan berkemas, kami pun pulang menggunakan mobil carteran seharga 750 ribu yang akan mengantar kami sampai Jakarta melalui rute Sukabumi. Bila dihitung-hitung, carter mobil memang lebih murah karena untuk ngeteng dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu dilanjut ke Bogor kemudian ke Jakarta, selain ongkosnya hampir sama, waktu tempuh juga lebih lama.</p>
<p>Ongkos dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu sekitar 25 ribu, plus bus dari Pelabuhan Ratu ke Bogor adalah 25-35 rebu, kemudian bus dari Bogor ke Jakarta sekitar 12 rebu. Bila carter, per orang cuma keluar biaya 100 rebuan, plus bebas macet di Sukabumi karena sopir kami tau rute alternatif untuk menghindari macet.</p>
<p>Kami sampai di Jakarta lebih cepat, cuma makan waktu 5 jam bila dibandingkan ketika berangkat yang memakan waktu hingga 9 jam.</p>
<p>Baca juga:</p>
<ul>
<li><a href="http://cornila.matriphe.com/2010/06/14/ragam-wisata-sawarna/" title="Ragam Wisata Sawarna" target="_blank">Ragam Wisata Sawarna</a></li>
<li><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=130368203649490&#038;id=1074934683" title="warna warni sawarna" target="_blank">warna warni sawarna</a> (Facebook Notes)</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pulau Kelapa-Pulau Harapan, Kepulauan Seribu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 05:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Bira Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Harapan]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kayu Angin]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kelapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1495</guid>
		<description><![CDATA[Kepulauan Seribu masih punya banyak pesona. Meski hanya berjumlah 342 buah pulau, rasanya masih ada saja hal unik dan menarik yang bisa ditemukan di sana. Kali ini saya mengunjungi Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, di gugus utara Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa? Ya, itu lah nama pulau yang konon bisa merayu, seperti dalam lagu ciptaan Ismail [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/selamat-datang.jpg" alt="Dermaga Pulau Harapan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1504" /></p>
<p>Kepulauan Seribu masih punya banyak pesona. Meski hanya berjumlah 342 buah pulau, rasanya masih ada saja hal unik dan menarik yang bisa ditemukan di sana.</p>
<p>Kali ini saya mengunjungi Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, di gugus utara Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa? Ya, itu lah nama pulau yang konon bisa merayu, seperti dalam lagu ciptaan Ismail Marzuki, &#8220;Rayuan Pulau Kelapa&#8221;, yang menjadi lagu nasional itu.</p>
<p>Walau dalam lirik lagu &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=doKGDdW0r1Q" title="Rayuan Pulau Kelapa: Indonesia " target="_blank">Rayuan Pulau Kelapa</a>&#8221; berisi puji-pujian dan gambaran indahnya Indonesia, rupanya keadaan Pulau Kelapa tidak sepenuhnya sesuai dengan lirik lagu. Dalam pandangan umum saya, pulau ini terlihat lebih gersang daripada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html" title="Jeng-Jeng Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu">Pulau Pramuka</a> atau <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html" title="Jeng-Jeng Pulau Tidung, Kepulauan Seribu">Pulau Tidung</a>.</p>
<p><span id="more-1495"></span>Tiba di dermaga Pulau Kelapa yang lautnya berwarna tosca, kami disambut oleh jajaran tukang becak yang menawarkan jasanya. Panas begitu terik, namun tak menyurutkan semangat kami ketika menginjakkan kaki setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kurang lebih tiga setengah jam duduk terpanggang matahari di atas atap kapal motor yang berangkat dari dermaga Muara Baru, Muara Angke jam 7:30 pagi.</p>
<p>Dengan sopan kami menolak tawaran becak-becak tersebut dan memilih mampir di sebuah warung makan di ujung dermaga. Selain untuk mengisi perut, kami juga ingin mengorek informasi penginapan dari pemilik warung di pulau ini, karena memang lagi-lagi kami berangkat dengan nekat, tanpa rencana atau tujuan, pokoknya segera angkat pantat dari sumpeknya Jakarta.</p>
<p>La gimana tidak, kami cuma bermodal nanya ke tukang kapal, &#8220;Bang, ini kapal berangkat ke mana?&#8221;. Begitu mendengar mo ke Pulau Kelapa, kami pun langsung naik tanpa pikir panjang.</p>
<p>Saya menduga <a href="http://matriphe.posterous.com/becak-di-jakarta" title="Becak di Jakarta?" target="_blank">becak-becak</a> ini berasal dari Jakarta, yang dilarang beroperasi di Jakarta pada tahun 1994. Becak-becak itu sebagian besar ditenggelamkan di laut Jawa, namun sebagian yang tidak ditenggelamkan diangkut ke sini.</p>
<p>Dari keterangan pemilik warung, yang menunya sangat-sangat sederhana, yaitu hidangan ikan laut, kami mendapat keterangan untuk menginap dengan menyewa sebuah rumah milik Pak Haji Asmawi (08176662315) yang berada di Pulau Harapan.</p>
<p>Awalnya kami bingung ketika disarankan untuk naik becak atau berjalan kaki saja ke Pulau Harapan, karena kami kira kami harus menyeberang pulau menggunakan kapal. Ternyata ada sebuah jalan berpaving block yang sangat bagus yang menghubungkan kedua pulau, yang dibangun di atas karang yang telah direklamasi dengan menimbun batu-batu beton di atas karang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/deretan-becak.jpg" alt="Deretan becak di dermaga Pulau Kelapa" title="Deretan becak di dermaga Pulau Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1505" /></p>
<p>Hanya 10 menit dari dermaga Pulau Kelapa, kami sampai di gerbang Kelurahan Pulau Harapan, yang bersama dengan Pulau Kelapa masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kab. Administratif Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.</p>
<p>Di beberapa sudut pulau, saya mendengar dialek bahasa Bugis. Unik, karena meski masuk dalam wilayah DKI Jakarta, justru suku Bugis yang sejak dulu terkenal sebagai pelaut ulung, merupakan suku yang dominan mendiami pulau ini setelah suku Jawa dan Betawi.</p>
<p>Yang mengesankan lagi, meski berbeda pulau, penduduk di sini saling mengenal satu sama lain, sehingga ketika kami bertanya rumah Pak H. Asmawi yang akan kami inapi, penduduk sekitar dengan mudah menunjukkannya, bahkan mengantarkan kami.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/instalasi-air-bersih.jpg" alt="Instalasi pengolahan air tawar di Pulau Kelapa" title="Instalasi pengolahan air tawar di Pulau Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1507" /></p>
<p>Kami menyewa sebuah rumah berdinding tembok yang baru selesai dibangun milik Pak Asmawi. Biayanya 250 ribu rupiah semalam dengan fasilitas AC, tempat tidur, televisi, kipas angin, dan sekardus air minum kemasan.</p>
<p>Namun meski ber-AC, listrik hanya nyala pada pukul 4 sore hingga pukul 7 pagi saja. Maklum, seperti di pulau-pulau di gugus utara lainnya, listrik di Pulau Kelapa dan Pulau Harapan berasal dari generator diesel yang menjadi sumber listrik untuk menerangi kedua pulau.</p>
<p>Secara umum sarana dan prasarana di pulau ini sudah lengkap. Sebuah bangunan SD yang kokoh, berdiri megah di Pulau Kelapa. Di SD Negeri Pulau Kelapa 01 Pagi, <a href="http://matriphe.posterous.com/sekolah-gratis" title="Sekolah Gratis?" target="_blank">biaya pendidikannya gratis</a>. Tidak ada pungutan apa pun yang dibebankan kepada siswa. Semua biaya sekolah mulai dari buku hingga seragam, dibebankan ke pemerintah melalui BOS.</p>
<p>Anak-anak cuma perlu baju seragam dan alat tulis, mereka pun bisa mengenyam pendidikan. Dana ini diperoleh dari BOS yang kebetulan ketua komite sekolah yang mewakili wali murid adalah Pak H. Asmawi. &#8220;Pokoknya sekolah tidak boleh memungut uang sepeser pun dari siswa,&#8221; tegas Pak H. Asmawi.</p>
<p>Selain gedung sekolah, terdapat instalasi penyulingan air <a href="http://matriphe.posterous.com/kompensasi-subsidi-bbm-menjadi-air-bersih" title="Kompensasi Subsidi BBM Menjadi Air Bersih" target="_blank">yang dibangun dengan biaya dari dana kompensasi pengurangan subsidi BBM</a>. Air payau yang diambil dari sumur kemudian disuling menjadi air tawar. Air-air ini kemudian dijual dalam jirigen yang dijajakan berkeliling menggunakan gerobak. Satu jirigen harganya 500 rupiah.</p>
<p>Oiya, meski disebut air &#8220;tawar&#8221;, air ini masih sedikit payau dan hanya bisa digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci. Untuk minum, penduduk lebih banyak membeli air dalam kemasan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/melihat-foto.jpg" alt="Anak-anak antusias melihat foto" title="Anak-anak antusias melihat foto" width="200" height="267" class="alignnone size-full wp-image-1508" /></p>
<p>Tak jauh dari rumah tempat kami menginap, di bagian utara Pulau Harapan yang memanjang dari barat ke timur ini, terdapat sebuah taman dan dermaga yang cukup bagus.</p>
<p>Menurut informasi, dulunya sekitar dermaga ini akan dijadikan taman wisata untuk menarik wisatawan, bahkan dermaganya pun bisa dibilang lebih bagus daripada di Pulau Kelapa. Namun sayang seribu sayang, proyek yang dipegang oleh pemerintah ini pun mandeg, sehingga pembangunan taman yang hampir jadi ini pun terkesan terbengkalai.</p>
<p>Selepas beristirahat sejenak karena cuaca saat itu sangat terik, sore harinya kami jalan-jalan mengelilingi pulau. Setelah berfoto-foto di seputar dermaga Pulau Harapan yang bagus namun sayang tidak dijadikan sebagai dermaga utama, kami menuju ke barat, menuju ke ujung Pulau Kelapa untuk mengejar <em>sunset</em>.</p>
<p>Selama menelusuri jalan-jalan kampung di Pulau Harapan maupun Pulau Kelapa, saya menemukan banyak hal yang menarik, terutama <a href="http://muhammad.zamroni.net/menengok-keseharian-masyarakat-pulau-kelapa-pulau-harapan.html" title="Menengok Keseharian Masyarakat Pulau Kelapa-Pulau Harapan">mengamati kehidupan sehari-hari masyarakatnya</a> hingga <a href="http://matriphe.posterous.com/produk-lokal-unik" title="Produk Lokal Unik" target="_blank">benda-benda, produk, dan makanan lokal yang dijual</a>.</p>
<p>Anak-anak kecil yang bermain riuh di tengah jalan, para pemuda yang bermain sepak bola di lapangan di pinggir pantai, <a href="http://matriphe.posterous.com/cegat-kalo-terpikat" title="Cegat Kalo Terpikat" target="_blank">penjaja berbagai hal</a> yang menggunakan gerobak yang dimodifikasi untuk menjajakan barang dagangannya, penduduk yang membuat bubu (perangkap ikan dari bambu), hingga memperbaiki kapal, menjadi pemandangan menarik yang tak ditemukan di Jakarta.</p>
<p>Sapaan dan sambutan warga pulau ini terasa lebih ramah dari Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Panggang. Saya merasa di pulau ini meski lebih gersang, rasanya lebih nyaman. Di malam hari pun, suasana masih cukup ramai bila dibandingkan di Pulau Pramuka atau Pulau Tidung.</p>
<p>Tak terasa kami sampai juga di ujung barat Pulau Kelapa, setelah sebelumnya sempat menerabas kompleks pemakaman kampung yang keliatan angker. Tak terasa, jarak 2 pulau yang masing-masing membentang dari timur ke barat sudah kami lahap tanpa lelah. Sepotong senja yang indah pun kami terima sebagai hadiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/senja.jpg" alt="Sepasang di sepotong senja" title="Sepasang di sepotong senja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1509" /></p>
<p>Selepas Shubuh, kami sudah bersiap di dermaga Pulau Harapan. Perahu motor yang kami sewa seharga 300 rebu rupiah akan mengantarkan kami berkeliling pulau-pulau di sekitar. Tujuan kami adalah ke Pulau Manggaran yang terletak di sebelah utara. Namun tak ada yang cukup menarik, karena pulau ini hanya berupa hutan dan pohon bakau.</p>
<p>Kami berpindah ke Pulau Bulat, yang menurut penduduk setempat dimiliki oleh Tommy Soeharto. Di Pulau ini terlihat lebih bagus. Sebuah rumah yang cukup mewah, plus fasilitas pendukung, namun terkesan terbengkalai berdiri megah di situ. Sebuah bendungan mini yang digunakan untuk melabuhkan perahu motor dibangun di bibir pantai.</p>
<p>Kami pun memanfaatkan dermaga kayu Pulau Bulat untuk menggelar tikar, dan sarapan nasi uduk yang telah kami pesan di Pulau Harapan. Selesai sarapan, kami pun berenang-renang di dalam bendungan yang sedianya untuk berlabuh kapal tersebut. Tak berapa lama, romobongan diver dari Pulau Putri Resort juga datang ke sekitar pulau ini untuk bersiap menyelam.</p>
<p>Puas bermain air di Pulau Bulat, kami pun berpindah ke Pulau Bira Kecil, atau sering disebut dengan <a href="http://lathifulamri.com/pulau-kayu-angin-dan-pulau-tidung" title="Pulau Kayu Angin dan Pulau Tidung" target="_blank">Pulau Kayu Angin</a>. Pulau mungil ini sering dipakai untuk camping karena pantai berpasir putihnya cukup luas dan landai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/menyeberang-laut.jpg" alt="Menyeberang laut menuju ke perahu" title="Menyeberang laut menuju ke perahu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1512" /></p>
<p>Namun untuk menuju ke sini, perahu tidak bisa merapat karena terhalang karang yang membentang sejauh sekitar 100 meter (karang ini pula yang mencegah ombak besar mencapai pantai, sehingga relatif aman untuk membuka tenda).</p>
<p>Sayang, pasir pantai putih ini dikotori oleh mereka yang sebelumnya berkemah di sini. Saya menemukan abu bekas api unggun dan seonggok sampah berupa botol minuman dan plastik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-bira-kecil.jpg" alt="Pantai Pulau Bira Kecil" title="Pantai Pulau Bira Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1511" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pulau-bira-kecil.jpg" alt="Di Pulau Bira Kecil" title="Di Pulau Bira Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1510" /></p>
<p>Di sekitar Pulau Bira Kecil, masih banyak ditemukan ubur-ubur kecil. Bila tidak berhati-hati, kita bisa tersengat ubur-ubur ini, karena ubur-ubur berwarna transparan.</p>
<p>Puas bermain-main di Pulau Bira Kecil, kami pun kembali ke Pulau Harapan untuk bersiap pulang menggunakan kapal terakhir ke Muara Angke dari Pulau Kelapa, yang berangkat jam 1 siang.</p>
<p>Ketika perjalanan pulang ke Pulau Harapan, kami sempat mampir ke sebuah pulau milik pengusaha Tommy Winata, namun kami diusir oleh penjaga pulau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Sebesi-Anak Krakatau</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sebesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1452</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992 bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana! Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/puncak-krakatau.jpg" alt="Di puncak Anak Krakatau" title="Di puncak Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1453" /></p>
<p>Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di <a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/Koleksi/Uang/Uang+Kertas/detail.htm?id=192" title="Uang Kertas Bank Indonesia Emisi 1992" target="_blank">uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992</a> bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana!</p>
<p>Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau Sebesi, Lampung, saya pun ikut bergabung. Ini pertama kalinya saya ikut trip bersama rombongan besar, apalagi saya bukan anggota komunitas tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-1452"></span>Awalnya kami hendak mendaftarkan diri di acara gathering tersebut, namun karena pendaftaran sudah ditutup lebih cepat dari rencana, maka kami pun urung bergabung dengan trip tersebut. Tak kehilangan akal, kami bertujuh pun tetep nekad untuk berangkat bareng mereka untuk menghemat biaya kapal dan mengetahui rute (karena selama ini saya buta rute dan gak pake rencana).</p>
<p>Kesimpulan asal saya, mengorganisasi manusia sebanyak 100-an orang itu ribet sangat. Acara dan jadwal molor karena banyaknya manusia yang telat datang ke titik kumpul Pelabuhan Merak, Banten. Saya yang sudah datang jauh-jauh lebih awal jelas sewot. Itulah sebabnya saya lebih suka jalan sendiri atau maksimal dalam kelompok kecil (kurang dari 10 orang).</p>
<p>Menuju Pelabuhan Merak banyak bus yang bisa digunakan. Bus dari Kalideres, Pulogadung, dan Kampung Rambutan selalu ada hampir 24 jam. Ongkosnya sekitar 17 ribu untuk bus AC, dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam kalo tidak macet.</p>
<p>Selain dengan bus, bisa naik kereta api dari Stasiun Jakarta Kota hingga Stasiun Merak dengan kereta Merak Jaya, namun jadwal hanya ada 2 kali pagi dan sore.</p>
<p>Dari Terminal Merak, kami cukup berjalan kaki saja menuju Pelabuhan Merak. Pelabuhan dan terminal ini konon masih dalam taraf pembangunan hingga nantinya bisa menjadi terminal terpadu (pelabuhan, terminal, dan stasiun menjadi satu kawasan dan terhubung satu sama lain). Saat ini yang sudah terpadu baru pelabuhan dan stasiun.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/etiket-merak.jpg" alt="E-ticket Pelabuhan Merak" title="E-ticket Pelabuhan Merak" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1454" /></p>
<p>Tiket naik kapal feri 10 ribu rupiah dengan bentuk kartu magnetik. Bila pernah berkunjung dan masuk ke gedung SCBD/BEI Jakarta, masuk ke Pelabuhan Merak (dan juga di Bakauheni) mirip dengan sistem masuk di gedung SCBD.</p>
<p>Tiket ditempelkan ke mesin, kemudian pintu akan terbuka. Tiket ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pintu-masuk.jpg" alt="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" title="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1455" /></p>
<p>Perjalanan dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni memakan waktu sekitar 2 jam. Selama di kapal, kami lebih banyak tidur di atas bangku-bangku kosong. Apalagi malam membuat kami hampir tidak bisa melihat apa pun kecuali gemerlap lampu-lampu dari kawasan industri Cilegon.</p>
<p>Kami sampai di Bakauheni pas Subuh. Begitu keluar dari Pelabuhan Bakauheni, kami langsung diserbu para calo-calo dari Terminal Bakauheni. &#8220;Karang.. Karang.. Metro.. Metro.. Raja Basa.. Raja Basa..,&#8221; teriak calo tersebut yang kadang ngeselin karena mereka gak segan menarik-narik lengan dan barang bawaan calon penumpang.</p>
<p>Kami segera menyingkir dari kepungan para calo untuk nongkrong dulu di ibu penjual kopi yang ngemper di peron terminal. Selain membeli kopi, kami pun berunding untuk menentukan sarana transportasi berikutnya.</p>
<p>Tujuan kami adalah Dermaga Canti di Kalianda. Untuk menuju ke sini sebenernya bisa ditempuh dengan 2 kali naik angkot. Dari Bakauheni, naik angkot berwarna kuning turun di Pasar Kalianda. Ongkosnya 15 ribu rupiah. Dari Pasar Kalianda kemudian berganti angkot warna biru hingga ke Dermaga Canti dengan ongkos 5 ribu rupiah.</p>
<p>Karena rombongan IBP yang kami barengi pada nyewa angkot, kami pun memutuskan untuk ikut menyewa juga. Tawar-menawar harga terjadi. Kami bertujuh, jika dihitung per orang 20 ribu, ongkosnya akan jadi 140 ribu. Akhirnya kesepakatan harga terjadi, kami akan diantar hingga Dermaga Canti dengan ongkos carter 125 ribu.</p>
<p>Sepanjang jalan dari Bakauheni ke Canti, kami mencium bau durian. Sial! Bau ini membuat kami jadi pengen makan duren!!</p>
<p>Kami tiba di Canti lebih awal dari rombongan IBP. Begitu turun, lagi-lagi kami disambut oleh tawaran carter kapal ke Sebesi. Padahal menurut informasi, kapal dari Sebesi-Canti-Sebesi datang rutin setiap pukul 9 pagi. Ongkosnya pun cuma 15 ribu rupiah per orang. Bila mencarter kami ditarik ongkos 400 ribu rupiah!</p>
<p>Karena rombongan IBP sudah mencarter kapal dari Canti ke Sebesi, maka kami memilih untuk ikut rombongan IBP saja. Kami tetep membayar 15 ribu rupiah per orang ke panitia IBP.</p>
<p>Bentuk perahu motor yang melayani rute Canti-Sebesi sebelas-duabelas dengan kapal yang melayani rute Muara Angke-Pulau Pramuka, cuma ukuran kapal Sebesi ini lebih kecil dan lajunya lebih lambat. Jarak Pulau Sebesi-Canti yang cuma 13 Km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/peta-pulau.jpg" alt="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." title="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1456" /></p>
<p>Selama perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Ada 3 buah karang yang membentuk semacam pulau di sebelah selatan Dermaga Canti yang oleh penduduk setempat disebut dengan Pulau Tiga.</p>
<p>Kami bahkan menyusuri selat Sebuku yang memisahkan Pulau Sebuku dan Pulau Sebuku Kecil. Dari jauh terlihat Gunung Sebesi menjulang tinggi dengan awan menutupi puncaknya membawa kesan mistis. Dari jauh, samar-samar terlihat siluet Anak Gunung Krakatau.</p>
<p>Karena tak ingin melewatkan pemandangan ini, sebagian penumpang kapal langsung pindah untuk duduk di atap kapal. Kamera keluar semua dan akhirnya potret-memotret tak terelakkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/di-atap-kapal.jpg" alt="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" title="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1457" /></p>
<p>Perjalanan akhirnya berakhir di dermaga Sebesi. Dermaga ini merupakan akses utama untuk menuju dan keluar dari Pulau Sebesi.</p>
<p>Pulau Sebesi sebenernya berdiri di lereng Gunung Sebesi yang berketinggian 884 meter dpl. Secara administratif, Pulau Sebesi berada dalam wilayah Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Raja Basa, Kabupaten Lampung Selatan. </p>
<p>Luas pulaunya 2.620 ha dengan panjang pantai 19,55 km. Bila dilihat dari peta, pulau ini berbentuk hampir bundar. Bersama Pulau Sebuku, Sanghyang, Lagundi, dan Anak Krakatau, 5 pulau ini masuk dalam wilayah Kepulauan Krakatau yang terletak di Teluk Lampung, Selat Sunda.</p>
<p>Di Pulau Sebesi terdapat 4 dusun, yaitu Dusun Bangunan, Dusun Inpres, Dusun Regahan Lada, dan Dusun Segenom. Mata pencaharian penduduk Sebesi selain nelayan adalah bertani kelapa, pisang, dan coklat, yang hasil pertanian ini dijual ke Kalianda.</p>
<p>Kami tiba di salah satu dari 3 dermaga di Pulau Sebesi yang terletak di Dusun Bangunan. Fasilitas penginapan tidak ada, kecuali bila menginap secara homestay di rumah-rumah warga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/dermaga-sebesi.jpg" alt="Dermaga Pulau Sebesi" title="Dermaga Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1458" /></p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun (081369923312 &#8211; 08287013757), salah satu pengelola wisata di Pulau Sebesi, kami menginap di salah satu rumah warga dengan biaya 200 ribu per malam.</p>
<p>Kami menginap di salah satu ruangan di rumah warga di Dusun Bangunan. Ini memungkinkan kami bisa berinteraksi langsung dengan si pemilik rumah dan warga sekitar.</p>
<p>Sinyal operator seluler sangat sulit didapat. Ditambah listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam yang dipasok dari PLN dengan menggunakan 2 buah generator diesel. Bahkan saat kami berada di sana, listrik sedang padam karena salah satu dari generator rusak (walau begitu, warga tetap diwajibkan membayar listrik sebesar 25 ribu per bulan).</p>
<p>Karena cuaca cerah, kami sepakat untuk mengunjungi Anak Krakatau, karena anak-anak IBP mengadakan acara sendiri. Awalnya memang tidak terpikir untuk ke Anak Krakatau karena saat berangkat, cuaca sedang mendung.</p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun, kami menyewa kapal untuk menuju ke Anak Krakatau dengan biaya 1,2 juta rupiah pulang-pergi plus biaya perijinan dan pemandu dari ranger Taman Nasional sebesar 200 ribu rupiah, sehingga totalnya 1,4 juta rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/anak-krakatau.jpg" alt="Menuju ke Anak Krakatau" title="Menuju ke Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1459" /></p>
<p>Perjalanan dari Sebesi ke Anak Krakatau memakan waktu sekitar 2 jam. Makin mendekati Anak Krakatau, gelombang laut pun makin tinggi dan ganas. Kami yang awalnya duduk-duduk di atap kemudian beringsut turun dan masuk ke dalam karena goyangan kapal makin kencang sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.</p>
<p>Begitu kapal merapat ke bibir pantai Anak Krakatau, saya langsung menginjak-injakkan kaki di atas pasir hitam karena kegirangan. Maaakk!! Anakmu ini menginjakkan kaki di Anak Krakatau!!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/cagar-alam-krakatau.jpg" alt="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" title="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1460" /></p>
<p>Ketika kami tiba, kami melihat beberapa tenda tengan berdiri di depan gerbang Taman Nasional Krakatau. Selama aktivitas vulkanik Krakatau dinyatakan aman, kita diperbolehkan mendaki ke puncak, berkemah, bahkan melakukan snorkeling dan diving di sekitar Anak Krakatau.</p>
<p>Bersama pemandu, kami melakukan trekking dan mendaki hingga ke puncak Krakatau. Awalnya kami harus menembus gelapnya &#8220;hutan tropis&#8221; mini sebelum pada patok nomor 4 pada ketinggian sekitar 400 meter dpl, kondisinya sudah berubah menjadi jalur pasir bekas longsoran lahar dan beberapa pohon pinus.</p>
<p>Hingga patok nomor 5 pada ketinggian 500 meter dpl, vegetasinya sudah berubah menjadi rerumputan. Lepas dari patok nomor 6-7 pada ketinggian 600-700 meter, vegetasi sudah hampir tak ada dan hanya pasir dan batuan vulkanik. Mulai dari patok nomor 5 inilah sudut pendakian berubah curam.</p>
<p>Kami mendaki hanya sampai bibir kawah bekas letusan tahun 1992 pada patok nomor 12 atau pada ketinggian 120 meter dpl. Kami tidak bisa mencapai ke atas lagi karena puncak Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan gas belerang. Total ketinggian puncak Anak Krakatau saat kami berkunjung adalah 334 meter dpl.</p>
<p>Ketinggian dan luas pulau Anak Krakatau yang muncul pada periode 1927-1929 ini akan terus berubah seiring dengan aktivitas vulkaniknya. Bahkan dari tengah kawah yang terbentuk ketika ledakan tahun 1992 kini telah menjulang puncak baru.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/gunung-rakata.jpg" alt="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" title="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1462" /></p>
<p>Berawal dari sebuah gunung bernama Krakatau Besar berbentuk kerucut yang kemudian meletus besar hingga terbentuklah Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung.</p>
<p>Aktivitas di kaldera Krakatau di bawah laut yang terus bergejolak akhirnya memunculkan 3 gunung baru di atas Pulau Rakata, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.</p>
<p>Pada tanggal 27 Agustus 1883, terjadi letusan besar yang akhirnya menenggelamkan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan dan hanya menyisakan Gunung Rakata. Kaldera yang terbentuk dari ledakan ini memiliki diameter hingga 7 Km.</p>
<p>Aktivitas vulkanik di dasar laut Krakatau terus bergejolak hingga pada periode 1927-1929 terbentuklah pulau baru yang kini dinamakan Anak Krakatau.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/proses-anak-krakatau.jpg" alt="Proses terbentuknya Anak Krakatau" title="Proses terbentuknya Anak Krakatau" width="350" height="789" class="alignnone size-full wp-image-1461" /></p>
<p>Setelah puas menjelajah puncak Krakatau, kami kembali turun sebelum semakin sore. Melihat pantai dengan air jernih, badan rasanya gatal kalo tidak nyemplung. Kami pun kalap dan berkecipak-kecipak nyemplung ke laut!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-krakatau.jpg" alt="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" title="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1463" /></p>
<p>Anak buah kapal berteriak-teriak ke arah kami untuk segera naik ke kapal dan segera kembali ke Sebesi. Selain takut kesorean, ternyata kami disuguhkan pemandangan dahsyat di atas laut ketika pulang.</p>
<p>Di barat, mentari lambat-lambat mulai tenggelam. Anak Krakatau yang gagah nampak tertidur di samping Pulau Sertung yang sekilas berbentuk mirip paus membentuk siluet dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/krakatau-sertung.jpg" alt="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" title="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1464" /></p>
<p>Mendekati Pulau Sebesi, langit sudah gelap. Di kejauhan, di bagian daratan Lampung, kami melihat petir berkilat-kilat teredam mendung pekat. Sepertinya hujan deras tengah mengguyur Lampung. Kami pun bisa dengan jelas melihat rasi bintang scorpio di langit utara, suatu hal yang sangat langka kami temukan di Jakarta. Suara bising mesin kapal tak lagi kami hiraukan.</p>
<p>Kapal yang kami tumpangi tidak memiliki penerangan sama sekali. Kami hanya mengandalkan satu-satunya senter yang dibawa oleh seorang rekan. Begitu kami tiba di dermaga, suasana pun gelap gulita.</p>
<p>Kami berjalan kembali ke penginapan yang untungnya ada genset pribadi di rumah tersebut, sehingga rumah tempat kami menginap lebih terang daripada rumah lain yang menggunakan penerangan lampu minyak (lampu teplok).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pagi-sebesi.jpg" alt="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" title="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1466" /></p>
<p>Keesokan paginya, kami menghabiskan waktu bermain-main dan menyusuri pantai di Pulau Sebesi. Setelah berburu sunrise di dermaga dan makan nasi udduk di warung sebelah penginapan, kami menyurusi pantai hingga mencapai kawasan hutan bakau di sebelah timur laut kemudian berganti arah menuju barat laut untuk menemukan pantai yang teduh untuk mandi-mandi.</p>
<p>Kami pun akhirnya mandi-mandi di pantai dengan pemandangan langsung ke Pulau Umang (masyarakat menyebutnya juga Pulau Umang Umang).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-sebesi.jpg" alt="Bermain di pantai Pulau Sebesi" title="Bermain di pantai Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1465" /></p>
<p>Setelah membersihkan diri dan berkemas, kami meninggalkan Pulau Sebesi sekitar pukul 12 bareng dengan rombongan IBP.</p>
<p>Selama perjalanan, kami mengalami 2 kali senja di atas laut. Pertama ketika kami kembali dari Anak Krakatau dan yang kedua ketika kami berada di atas feri KM Raja Basa I yang membawa kami dari Bakauheni ke Merak. Lagi-lagi kami mendapat pemandangan senja yang menakjubkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/senja-kapal.jpg" alt="Menikmati senja di atas kapal feri" title="Menikmati senja di atas kapal feri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1467" /></p>
<p>Postingan terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.mrbambang.web.id/2010/02/journey-to-sebesi-island-and-child-of-krakatoa.blog/comment-page-1/#comment-2491" title="Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa" target="_blank">Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa</a> di blog Bambang</li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/zamroni/sets/72157623384262786/" title="Muhammad Zamroni's buddy icon<br />
Sebesi &#038; Anak Krakatau" target="_blank">Galeri foto di Flickr</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pulau Tidung, Kepulauan Seribu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 11:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Karang Beras]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Tidung]]></category>
		<category><![CDATA[snorkeling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1356</guid>
		<description><![CDATA[Pulau Tidung merupakan pulau terbesar dari gugusan Kepulauan Seribu. Lokasinya yang berada di barat daya dari gugusan pulau-pulau lain, membuat pulau ini sedikit terpencil namun memiliki pesona tersendiri. Saya berkesempatan menginjakkan kaki ke pulau yang terdiri dari 2 pulau (Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil) ini. Salah satu pesona wisata yang menjadi unggulan dari pulau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/at-tidung.jpg" alt="di jembatan menuju Pulau Tidung Kecil" title="di jembatan menuju Pulau Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1357" /></p>
<p>Pulau Tidung merupakan pulau terbesar dari gugusan Kepulauan Seribu. Lokasinya yang berada di barat daya dari gugusan pulau-pulau lain, membuat pulau ini sedikit terpencil namun memiliki pesona tersendiri.</p>
<p>Saya berkesempatan menginjakkan kaki ke pulau yang terdiri dari 2 pulau (Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil) ini. Salah satu pesona wisata yang menjadi unggulan dari pulau ini adalah adanya jembatan yang menyeberangi lautan untuk menghubungkan pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil.</p>
<p><span id="more-1356"></span>Kami berangkat menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Muara Baru, Muara Angke, jakarta Utara, sekitar jam 7.15. Berbeda dengan kapal-kapal yang melayani rute ke Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, kapal yang menuju Pulau Tidung lebih sedikit peminatnya. Kapalnya pun hanya beroperasi sekali sehari.</p>
<p>Perjalanan dari Muara Angke ke Pulau Tidung memakan waktu 2.5 sampai 3 jam dengan ongkos 33 ribu per orang. </p>
<p>Dermaga Pulau Tidung sedikit berbeda dengan dermaga di Pulau Pramuka. Di depan dermaga terdapat tembok batu memanjang yang membuat dermaga seperi berada di dalam teluk. Bangunan yang ada di kompleks pun sangat baik. Namun sayang, laut di sekitar dermaga kotor dan penuh dengan sampah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/dermaga-tidung-2.jpg" alt="Dermaga Pulau Tidung" title="Dermaga Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1359" /></p>
<p>Secara umum, perkampungan di Pulau Tidung tidak jauh berbeda dengan di Pulau Pramuka. Namun di Pulau Pramuka lebih bersih dan tertata daripada di Pulau Tidung.</p>
<p>Yang membedakannya lagi, listrik PLN sudah masuk ke pulau ini, berbeda dengan listrik di Pulau Pramuka yang masih mengandalkan generator diesel untuk membangkitkan listrik sehingga hanya menyala dari jam 4 sore hingga jam 7 pagi itu.</p>
<p>Listrik PLN masuk ke Kepulauan Seribu pada tahun 2008 yang dialirkan dari pembangkit listrik Tanjung Pasir, Tangerang, melalui kabel bawah laut. Untuk sementara, hanya pulau-pulau di gugus selatan saja yang mendapat pasokan, salah satunya adalah Pulau Tidung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/begenzer.jpg" alt="kWH meter prabayar" title="kWH meter prabayar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1360" /></p>
<p>Listrik yang digunakan sistemnya prabayar. Seperti pada voucher ponsel, penduduk membeli sejumlah kWH yang kemudian &#8220;diisikan&#8221; ke <em>begenzer</em> (kWH meter). Cara ini dinilai lebih menguntungkan karena penduduk bisa menggunakan listrik seperlu mereka.</p>
<p>Melihat sekilas, saya menemukan banyak sekali pohon jambu air dan pohon sukun yang tumbuh di halaman rumah warga. Beberapa sepeda motor wira-wiri selain sepeda yang menjadi sarana transportasi warga. Gerobak juga rupanya menjadi salah satu alat transportasi alternatif, baik untuk menjajakan dagangan sayur atau untuk membawa beban berat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gerobak.jpg" alt="Gerobak jualan di Pulau Tidung" title="Gerobak jualan di Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1364" /></p>
<p>Penginapan untuk wisatawan sangat minim. Salah satu yang terkenal adalah homestay Lima Saudara milik pak H. Mid yang terkenal. Tinggal bertanya pada warga, dengan senang hati mereka akan menunjukkan jalan ke sana.</p>
<p>Untuk sewa penginapan, budget-nya sekitar 300-350 ribu per rumah (sistem rumah) atau 200 ribu per kamar (maksimal diisi 6 orang).</p>
<p>Selain di homestay tersebut, jika &#8220;supel&#8221;, bisa menginap di rumah warga. Biayanya juga bisa lebih murah dan fasilitasnya bisa lebih lengkap. Tentunya adanya interaksi dengan penghuni membuat suasana menjadi lebih akrab.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/suasana-kampung-tidung.jpg" alt="Suasana kampung di Pulau Tidung" title="Suasana kampung di Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1361" /></p>
<p>Minimnya sarana penginapan ini kemungkinan karena minimnya wisatawan yang datang ke pulau ini bila dibandingkan wisatawan yang datang ke Pulau Pramuka.</p>
<p>Setelah beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk berkeliling pulau yang luasnya sekitar 106 hektar ini dengan menggunakan sepeda sewaan. Sepeda yang kami gunakan kondisinya kurang bagus, apalagi harga sewa yang cukup mahal menurut saya, 15 ribu per sepeda. Namun daripada tidak ada, kami pun akhirnya menyewanya juga.</p>
<p>Kami menyusuri jalan sepanjang pantai selatan menuju ke Timur, menuju ke arah jembatan Pulau Tidung Kecil. Jalan ber-paving-block dengan pemandangan laut di samping kanan membuat bersepeda menjadi menyenangkan. Sepanjang jalan tumbuh pohon cemara udang membuat suasana menjadi teduh.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/bersepeda-ke-tidung-kecil.jpg" alt="Bersepeda ke jembatan Tidung Kecil" title="Bersepeda ke jembatan Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1363" /></p>
<p>Sesampai di sana, kami sedikit kecewa karena jembatan sedang dalam perbaikan. Jembatan kayu yang sudah mulai lapuk ini akan diganti dengan jembatan yang terbuat dari besi.</p>
<p>Tak hilang akal, dengan modal nekat, kami menitipkan sepeda di tempat istirahat para pekerja jembatan, kemudian menyeberangi jembatan belum jadi itu. Kami menyebutnya jembatan <em>shiratal mustaqim</em>, karena kami harus meniti jalan beton setapak yang bila tidak hati-hati bisa nyemplung ke laut yang dalamnya sekitar 2-3 meter.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/shiratal-mustaqim.jpg" alt="Shiratal mustaqim Pulau Tidung" title="Shiratal mustaqim Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1362" /></p>
<p>Sebenernya Pulau Tidung Besar dan kecil ini masih berada dalam satu gugusan karang yang sama. Oleh karena itu, jembatan sepanjang sekitar 105 meter ini bisa dibuat di atas karang ini. Jembatan pun dibangun tidak lurus, namun berkelok-kelok demi mengikuti kontur karang yang dangkal.</p>
<p>Di satu bagian, ada bagian jembatan yang menanjak. Ini digunakan sebagai &#8220;terowongan&#8221; bila ada kapal yang hendak melintas di bawah jembatan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/jembatan-pulau-tidung.jpg" alt="Jembatan Pulau Tidung" title="Jembatan Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1365" /></p>
<p>Di beberapa titik terdapat gazebo, sehingga kita bisa beristirahat sejenak untuk menikmati pemandangan laut yang indah lengkap dengan karang dan ikan-ikan yang bermain di air berwarna hijau tosca.</p>
<p>Saya heran. Padahal saya tidak bermasalah dengan keseimbangan dan ketinggian, ketika saya hendak melangkahkan kaki di <em>shiratal mustaqim</em> itu, tiba-tiba saja kaki ini tidak bisa digerakkan. Saya merasa ketakutan meniti balok beton tersebut.</p>
<p>Walau saya sudah menenangkan dan meyakinkan diri, saya tetap tidak bisa melangkah dan cuma meringis melihat teman-teman serombongan saya yang sudah sampai di ujung jembatan berkayu.</p>
<p>Mungkin angin yang bertiup cukup kencang membuat saya sedikit ketakutan nyemplung ke laut. Apalagi saya membawa kamera dan ponsel di dalam tas, sehingga dua benda itu menjadi pikiran saya.</p>
<p>Kebetulan, ada teman dari rombongan lain yang mengalami hal yang sama dengan saya. Ketakutan menyeberangi <em>shiratal mustaqim</em> dan cuma bisa terdiam di tengah jembatan. Kami pun memutar akal supaya bisa mencapai ujung jembatan kayu. </p>
<p>Kami melihat seorang pekerja karamba yang tak jauh dari jembatan sedang  mendayung sampan. Kami pun berteriak-teriak memanggil dan meminta tolong untuk diseberangkan. Awalnya si empunya perahu meminta harga sewa 5 ribu per orang, kami pun menawar 10 ribu untuk menyeberangkan kami bertiga. Deal, kami pun menaiki sampan untuk menuju seberang!</p>
<p>Setelah menyusuri jembatan kayu yang memang terlihat lapuk di sana-sini, sampailah kami di Pulau Tidung Kecil. Di sekitar pulau terdapat segerombolan pohon bakau muda.</p>
<p>Pulau Tidung Kecil memang tidak dihuni. Memang, awalnya penduduk memang tinggal di pulau ini, namun seiring perkembangan jumlah penduduk, mereka pun pindah ke Pulau Tidung Besar.</p>
<p>Pulau Tidung Kecil digunakan sebagai pusat pembibitan dan pengembangbiakkan tanaman di Kaupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Bibit pohon jambu air, sukun, bakau, dikembangbiakkan di pulau ini. Ndak heran kalo di Pulau Tidung Besar terdapat banyak pohon jambu air dan pohon sukun. </p>
<p>Terdapat jalan berpaving block membentang di sisi selatan pulau. Daun-daun berguguran menutupi sebagian jalan membuat saya seolah-olah berada di negeri yang sedang mengalami musim gugur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/jalan-tidung-kecil.jpg" alt="Jalan di Pulau Tidung Kecil" title="Jalan di Pulau Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1366" /></p>
<p>Di ujung jalan, kami menemukan bangunan pusat pengembangan bibit tanaman. Terlihat bibit tanaman bakau tertata dengan cantik di halaman bangunan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/bibit-bakau.jpg" alt="Bibit bakau" title="Bibit bakau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1367" /></p>
<p>Karena penasaran dengan pantainya, kami nekad meneruskan perjalanan dengan mengikuti jalan setapak membelah ilalang dan rumput gajah. Saya bahkan tidak mempedulikan kulit tangan dan kaki yang tergores dedaunan rumput gajah.</p>
<p>Yang saya takutkan cuma satu, kaalu tiba-tiba ada ular nongol dan menggigit kaki kan sangat tidak lucu!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/menembus-ilalang.jpg" alt="Menembus ilalang" title="Menembus ilalang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1370" /></p>
<p>Di tengah jalan, kami menemukan sebuah musholla kecil. Rupanya di situ terdapat makam Panglima Hitam dan sebuah sumur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/makam-panglima-hitam.jpg" alt="Makam Panglima Hitam" title="Makam Panglima Hitam" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1368" /></p>
<p>Tentang Panglima Hitam ini, ada banyak versi cerita. Salah satu versinya, menurut cerita masyarakat setempat,  Panglima Hitam adalah seorang sakti yang berasal dari Cirebon yang kalah perang melawan Belanda dan lari ke Pulau Tidung untuk berlindung. Dari kata &#8220;berlindung&#8221; inilah asal kata &#8220;tidung&#8221;.</p>
<p>Sumur yang terletak tak jauh dari makam itu disebut dengan sumur bawang, yang dikeramatkan dan dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.</p>
<p>Seekor kucing kuning yang rupanya peliharan Abah Suharna, si juru kunci makam, datang ke arah saya begitu saya panggil. Saya terbelalak ketika mengelus-elus kucing tersebut melihat gigi taring kucing ini lebih panjang dari kucing-kucing normal ketika si kucing menguap.</p>
<p>Saya jadi tambah yakin dengan hawa-hawa &#8220;asing&#8221; yang langsung menyelimuti perasaan saya semenjak menginjakkan kaki di pulau ini.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan mencari pantai yang asyik. Tak lama kemudian kami pun tiba di pantai yang kami maksud. Apalagi yang tidak dilakukan kecuali foto-foto?</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/foto-foto-di-pantai.jpg" alt="Foto-foto di pantai" title="Foto-foto di pantai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1371" /></p>
<p>Saya pun karena tidak tahan melihat seorang teman yang udah duluan nyemplung, akhirnya melepaskan kaos dan bergabung dengan nyemplung cibang-cibung.. Sueger rasanya walau nantinya saya harus menerima konsekuensi kulit jadi pliket terkena garam dan menjadi semacam ikan asin berjalan. Hahaha!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/nyemplung.jpg" alt="nyemplung di Pulau Tidung Kecil" title="nyemplung di Pulau Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1378" /></p>
<p>Karena ingin mengejar sunset di pantai barat Tidung Besar, kami memutuskan untuk segera kembali ke Pulau Tidung Besar.</p>
<p>Kami bertemu rombongan lain yang sedang menikmati kelapa muda yang baru dipetik dari pohon, tepat di depan bangunan pusat pembibitan tanaman. Duh, enaknya! Kami bersepakat untuk menghemat biaya kapal untuk snorkeling besok pagi, kami akan bergabung dan menyewa satu kapal saja.</p>
<p>Setelah melewati jembatan dan sampai di ujung, kami harus meniti kembali <em>shiratal mustaqim</em>. Tidak seperti pas berangkat, kali ini saya melahap <em>shiratal mustaqim</em> dengan amat sangat lancar. Ketakutan saya tadi seketika sirna entah ke mana.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/mengejar-sunset.jpg" alt="Mengejar sunset" title="Mengejar sunset" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1373" /></p>
<p>Dengan menggunakan sepeda, kami mengayuh menuju pantai barat untuk mengejar sunset. Kami harus melewati jalan setapak yang membelah hutan pohon kelapa dengan pemandangan pantai di sebelah utara. Beberapa kali kami harus menuntun sepeda karena kami melewati jalan berpasir yang membuat sepeda kami selip.</p>
<p>Kami pun tiba di pantai yang dimaksud, tepat sebelum matahari terbenam!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/sunset-pulau-tidung.jpg" alt="Sunset Pulau Tidung" title="Sunset Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1372" /></p>
<p>Malamnya kami beristirahat di penginapan. Beberapa teman sedang berpesta barbekyu ikan di halaman, namun saya memutuskan untuk tidur guna menyusun tenaga yang terkuras karena seharian berkeliling untuk digunakan ber-snorkeling esok paginya. Apalagi kami berniat melihat sunrise di ujung pantai timur, di seputaran jembatan ke arah Pulau Tidung Kecil.</p>
<p>Saya terbangun mendengar alarm ponsel yang berteriak lantang. Teman-teman masih terkapar dan sayup-sayup saya mendengar suara pengajian dari masjid-masjid. Segera saya mengambil air wudhu yang payau dan sholat Shubuh. Selesai sholat, teman-teman sudah bangun.</p>
<p>Bergegas kami pun bersiap untuk mengejar sunrise. Sepeda kami kayuh membelah pagi yang masih gelap. Untungnya bulan yang separo masih nongol menerangi jalan kami. Sampai di ujung timur pulau, langit sudah mulai terang. Sayang, awan tebal menutupi matahari sehingga kami gagal melihat mentari menampakkan wajahnya.</p>
<p>Kami segera kembali ke penginapan karena pagi-pagi benar kami harus check-out dan segera naik kapal untuk snorkeling dan menuju ke Pulau Pramuka. Karena tidak ada kapal yang berangkat siang dari Pulau Tidung, kami kembali ke Jakarta melalui Pulau Pramuka yang mempunyai jadwal kapal berangkat siang hari.</p>
<p>Harga sewa kapal sekitar 250-350 ribu. Tapi karena si empunya kapal tau bahwa ada dua kelompok yang hendak berhemat dengan menyewa satu kapal, dia ndak mau rugi dan memasang harga yang sangat mahal. Tawar menawar terjadi dan akhirnya disepakati harga 500 ribu per kapal, yang menurut saya masih sangat mahal. Tapi karena biaya ditanggung 2 kelompok, jatuhnya tetap 250 ribu per kapal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/di-kapal.jpg" alt="di atas perahu berangkat snorkeling" title="di atas perahu berangkat snorkeling" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1379" /></p>
<p>Kami pun menuju Pulau Karang Beras dan Pulau Air untuk snorkeling dan pemberhentian terakhir di Pulau Pramuka.</p>
<p>Saya banyak berbincang dengan si nakhoda yang ternyata anggota pemadam kebakaran Kepulauan Seribu. Saya bahkan diijinkan untuk memegang kemudi kapal dan mengendalikan kapal menuju ke Pulau Karang Beras.</p>
<p>Mengendalikan perahu itu tidak mudah. Kemudi harus diputar perlahan supaya berbelok dengan mulus. Bila tidak, kapal akan miring. Beberapa kali saya membuat kapal agak miring karena saya mengemudikan kapal masih kasar.</p>
<p>Sembari menuju Pulau Karang Beras, si nakhoda mengambil gulungan senar dengan umpan bulu ayam. Umpan tersebut kemudian direntangkan dan ditarik sambil kapal berjalan. &#8220;Siapa tau dapat tongkol&#8221;, demikian kata si nakhoda.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gulungan-senar-penangkap-ik.jpg" alt="Gulungan senar penangkap ikan" title="Gulungan senar penangkap ikan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1374" /></p>
<p>Tongkol memang banyak terdapat di laut sekitar Pulau Tidung. Pantas saja rekan-rekan serombongan sampai jenuh dengan hidangan makan yang tongkol-lagi-tongkol-lagi.</p>
<p>Kami snorkeling di sekitara pulau Karang Beras dan Pulau Air. Dari kedua spot ini, saya paling suka dengan spot di Pulau Air (yang merupakan kawasan resort yang dikelola oleh swasta).</p>
<p>Terumbu karang di kawasan Pulau Karang Beras relatif dangkal. Bahkan saking dangkalnya, beberapa kali kaki saya terantuk karang-karang tajam. Bila tidak berhati-hati, kita bisa menginjak karang tajam dan merusak terumbu karang yang ada di lingkungan ini.</p>
<p>Sayang kami tidak memiliki kamera bawah air, sehingga tidak ada yang bisa mengambil gambar indahnya terumbu karang di lokasi ini.</p>
<p>Di Pulau Karang Beras, banyak sekali terumbu karang berjenis acropora berbentuk cabang, acropora padat (mirip batu), acropora tabular (berbentuk seperti lembaran meja), dan acropora berjari (bentuk seperti sekumpulan jari). Namun yang paling dominan adalah acropora tabular, cabang, dan berjari.</p>
<p>Di Pulau Air, terumbu karangnya lebih bervariatif dan hampir merata. Selain seperti apa yang ada di Pulau Karang Beras, ikan-ikan yang ada pun lebih banyak dan beragam jenis. Bintang laut pun banyak ditemukan di Pulau Air.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/snorkeling.jpg" alt="Snorkeling" title="Snorkeling" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1376" /></p>
<p>Dalam perjalanan menuju Pulau Air, sepanjang perjalanan saya melihat ikan terbang sesekali melompat-lompat di atas permukaan air. Bahkan pas hampir sampai Pulau Air, seekor penyu sisik menampakkan wujudnya sebentar sebelum kembali masuk ke dalam laut.</p>
<p>Saya hampir tenggelam ketika snorkeling di Pulau Air ini. Karena kurangnya alat, kami memakai alat snorkel bergantian. Saya nekat turun ke laut tanpa menggunakan life-vest yang membuat kita tetap mengapung.</p>
<p>Awalnya lancar-lancar saja, saya bisa mengapung dengan baik sambil berenang menikmati pemandangan terumbu karang. Ketika saya berhenti sejenak dan hendak mengambil nafas, tiba-tiba saya meminum banyak air laut. Situasi demikian sempat membuat saya panik karena badan saya tidak mau mengapung.</p>
<p>Saya berusaha tenang dan mencoba mencapai permukaan, tapi karena air laut terus masuk melalui hidung dan tenggorokan, saya tidak bisa bernafas dan terus tenggelam perlahan. Untung saya masih bisa meraih teman yang menggunakan pelampung sehingga saya bisa mengambil nafas.</p>
<p>Sebuah pengalaman yang cukup mengerikan bagi saya, walau tidak sampai membuat saya kapok snorkeling.</p>
<p>Selesai snorkeling, kami singgah di Pulau Air untuk makan siang. Kami memang membawa bekal makan siang. Kami makan siang sambil duduk-duduk di pinggir laut dirindangi pohon cemara udang sambil melihat speedboat yang wira-wiri melintas.</p>
<p>Resort Pulau Air memang menyewakan speedboat untuk digunakan oleh wisatawan. Sebenernya Pulau Air merupakan wilayah privat, sehingga tidak sembarang orang bisa masuk. Terbukti dengan beberapa orang penjaga yang mendatangi kami untuk menanyakan keperluan. Untung awak kapal bisa menjelaskan dan penjaga tersebut memaklumi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/di-pulau-air.jpg" alt="di Pulau Air" title="di Pulau Air" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1377" /></p>
<p>Ada cerita lucu. Ketika kami sedang asyik makan siang dan menikmati pemandangan speedboat yang berslieweran, tiba-tiba sebuah speedboat melaju kencang menimbulkan gelombang air yang cukup besar untuk memuncratkan air ke arah kami yang sedang makan.</p>
<p>Walhasil, kami seperti kehujanan dan nasi kami sedikit tercampur &#8220;garam alami&#8221; dari laut. Wakakakaka!</p>
<p>Selesai makan siang, kami pun menuju Pulau Pramuka untuk bebersih dan bersiap menuju kapal yang berangkat menuju Muara Angke sekitar jam 1 siang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 09:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Panggang]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Pramuka]]></category>
		<category><![CDATA[snorkeling]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1312</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu saya bangun pagi sekali. Berbekal backpack yang baru semalam saya kemas, selepas Shubuh, saya segera menjejakkan kaki menuju terminal bus Blok M sembari menikmati udara dingin yang cukup segar. Jakarta memang baru bergeliat pagi itu, sang mentari pun masih dalam peraduannya. Saya akan berkunjung ke Kepulauan Seribu. Tiada rencana sebelumnya, hanya berbekal panduan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/welcome-to-pramuka.jpg" alt="Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu" title="Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1320" /></p>
<p>Hari itu saya bangun pagi sekali. Berbekal backpack yang baru semalam saya kemas, selepas Shubuh, saya segera menjejakkan kaki menuju terminal bus Blok M sembari menikmati udara dingin yang cukup segar. Jakarta memang baru bergeliat pagi itu, sang mentari pun masih dalam peraduannya.</p>
<p>Saya akan berkunjung ke Kepulauan Seribu. Tiada rencana sebelumnya, hanya berbekal panduan dari beberapa orang rekan, saya, <a href="http://cyapila.com/blog" title="Famega Cyapila" target="_blank">Fame</a>, dan <a href="http://corniladesyana.wordpress.com" title="Cornila Desyana" target="_blank">Nila</a> langsung berangkat tanpa memikirkan apa yang akan dilakukan setibanya di sana, yang penting hengkang dari kota ini.</p>
<p><span id="more-1312"></span>Raut muka mengantuk masih terlihat jelas di muka kami. Tak berapa lama, bus PPD P-37 jurusan Blok M-Muara Angke muncul dan kami bergegas naik ke dalam bus yang hanya berisi beberapa gelintir manusia. Sang kondektur pun bahkan belum nongol dan baru naik di Bundaran Senayan. </p>
<p>Bus berjalan dengan sangat cepat. Dalam waktu sekitar 30 menit, kami sudah sampai di Mega Mall Pluit. Lalu lintas yang masih lengang sepertinya membuat Jakarta menjadi sangat dekat.</p>
<p>Dengan menggunakan angkot merah U-11, kami segera menuju ke Muara Angke. Rute ini sama persis ketika kami berkunjung ke <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/05/26/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html" title="">Suaka Margasatwa Muara Angke</a> beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Dari terminal Muara Angke, kami berjalan sedikit menuju dermaga Muara Baru, Muara Angke. Melewati pasar ikan dengan bau yang membuat rasa kantuk kami sirna seketika karena begitu &#8220;sedapnya&#8221;, antara campuran bau ikan dan genangan air kotor dari got yang tersumbat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/dermaga-muara-angke.jpg" alt="Dermaga Muara Angke" title="Dermaga Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1314" /></p>
<p>Dermaga ramai sekali. Rupanya banyak juga rombongan yang akan menyeberang. Beberapa nampak memanggul backpack besar dan sedang bergerombol.</p>
<p>Ada banyak kapal yang akan menuju ke Kepulauan Seribu. Hampir semua kapal akan singgah di Pulau Pramuka sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau lain semacam Pulau Panggang, Pulau Tidung, bahkan hingga ke Pulau Kelapa.</p>
<p>Untuk menuju ke Kepulauan Seribu, ada berbagai macam rute yang bisa dipakai. Wisatawan yang berkocek tebal dan menginginkan kepraktisan bisa berangkat dari Pantai Marina, Ancol, dengan menggunakan kapal speedboat yang berangkat pukul 8-9 pagi dan kembali pukul 1-2 siang.</p>
<p>Biasanya layanan speedboat ini sudah termasuk dalam suatu paket wisata ke pulau-pulau tertentu semacam Pulau Bidadari, Pulau Sepa, dan Pulau Onrust. Untuk info lebih lanjut bisa bertanya pada agen perjalanan yang ada di seputaran Pantai Marina, Ancol.</p>
<p>Bila ingin bepergian ala backpacker atau budget traveler, bisa menggunakan rute dari Muara Angke eperti yang kami tempuh ini. Kapal-kapal dari Muara Angke berangkat setiap hari pada pukul 7-8 pagi. Pulau-pulau tujuan adalah pulau-pulau yang dihuni oleh penduduk, antara lain Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Tidung, dan Pulau Kelapa.</p>
<p>Bila Pulau Untung Jawa menjadi tujuan, berangkatlah dari dermaga Tanjung Pasir di Tangerang. Kalo jadwal kapal ini biasanya sekitar pukul 1 siang.</p>
<p>Kami naik kapal motor Ksatria, dengan tujuan akhir Pulau Kelapa, yang tentunya akan singgah ke Pulau Pramuka. Di dalam kapal rupanya sudah sesak sehingga kami mendapat tempat di bagian buritan.</p>
<p>Selain manusia, kapal ini juga mengangkut berbagai macam bahan kebutuhan pokok. Mulai dari beras, sayur, telor, gula, bahkan sepeda motor pun bisa masuk. Para penumpang harus berbagi ruang dengan barang-barang ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/di-dalam-kapal.jpg" alt="Di dalam kapal" title="Di dalam kapal" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1324" /></p>
<p>Beberapa orang ada yang duduk di atas atap karena saking penuhnya. Betapa berbahayanya, apalagi peralatan keselamatan sangat minim. Indonesia memang sungguh inspiratif dalam urusan efisiensi! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pukul 7.20 kapal yang kami tumpangi sudah melepas tali dan bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Mesin diesel berteriak kencang membuat kapal bergetar-getar mengingatkan saya seperti naik bajaj.</p>
<p>Lepas dari Teluk Jakarta, kapal berhenti sejenak. Rupanya ada sampah yang nyangkut di baling-baling. Seorang awak kapal langsung nyebur dengan hanya bercelana kolor dan masker untuk menyingkirkan sampah-sampah ini.</p>
<p>Sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 jam ini, saya berusaha untuk tidur. Namun entah kenapa hidung saya terasa sangat gatal. Rasanya seperti mau pilek padahal tadi baik-baik saja. Rasa gatal ini begitu mengganggu sehingga selama perjalanan saya tidak bisa tidur.</p>
<p>Bermain hape untuk sekedar update Plurk atau status Facebook? Lah, kan di tengah laut. Mana ada sinyal? Bener-bener mati gaya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Menjelang sampai tujuan, anak buah kapal menarik ongkos. Per orang ditarik ongkos 30 rebu rupiah. Herannya, rasa gatal di hidung tadi juga tiba-tiba lenyap beberapa saat sebelum kapal merapat di dermaga.</p>
<p>Kepulauan Seribu sendiri sebenernya merupakan sebuah Kabupaten Administrasi yang terbagi dalam dua kecamatan, Kepulauan Seribu Selatan dan Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.</p>
<p>Di sebagian wilayah di Kepulauan Seribu, terutama di utara, terdapat zona konservasi alam yang disebut dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu dengan luas mencapai 100.000 hektar lebih yang terdiri atas 44 buah pulau dan perairan di sekitarnya.</p>
<p>Kami akan turun di Pulau Pramuka, yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Karena Pulau Pramuka adalah pusat kota, tentu lebih mudah dalam menemukan penginapan atau penyedia makanan. Apalagi kami sama sekali buta dan belum tau akan ngapain.</p>
<p>Dinamakan Pulau Pramuka, karena dulu pulau ini kotor dan tak terurus. Kemudian beberapa rombongan pramuka datang ke pulau ini dan membersihkan pulau ini. Untuk menghormati jasa para pramuka ini lah pulau ini dinamakan Pulau Pramuka.</p>
<p>Dari seorang peserta trip dari sebuah milis yang berada dalam satu kapal dengan kami tadi, kami mendapat informasi perkiraan biaya yang akan kami keluarkan, terutama untuk masalah penginapan dan transportasi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/dermaga-p-pramuka.jpg" alt="Dermaga Pulau Pramuka" title="Dermaga Pulau Pramuka" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1323" /></p>
<p>Begitu tiba di Pulau Pramuka, kami segera mencari penginapan. Karena akhir pekan, hampir semua penginapan penuh. Setelah bertanya-tanya, akhirnya kami sampai di kantor Taman Nasional Kepulauan Seribu yang berada di bagian timur Pulau Pramuka.</p>
<p>Kawasan kantor ini rupanya menyewakan wisma seharga 300 ribu per malam. Kami mendapat wisma bernama Bruguiera, salah satu nama genus dari tanaman Bakau. </p>
<p>Wisma ini rupanya sering dipakai oleh para peneliti atau mereka yang melakukan riset di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Beberapa orang nampak sedang berdiskusi dalam kelompok. Kantor ini juga menyewakan peralatan scuba dan snorkeling dengan harga 35 ribu rupiah sekali sewa.</p>
<p>Sebenernya tempat ini cukup nyaman, namun bapak penjaga yang kurang ramah membuat kami sedikit malas berada di sekitaran kantor ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Setelah beristirahat sejenak dan menaruh backpack, kami pun berkeliling untuk mengenali pulau. Kami menuju pantai timur yang jaraknya cuma selemparan cawat dari tempat kami menginap. Di pantai yang dilindungi karang sejauh sekitar 500 meter ini dibudidayakan tanaman Mangrove.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/mangrove.jpg" alt="Tanaman Mangrove" title="Tanaman Mangrove" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1321" /></p>
<p>Tak jauh dari kantor penginapan, kami melihat lokasi penangkaran Penyu Sisik (<em>Eretnochelys imbricata</em>). Di lokasi ini, penyu ditetaskan dari telur, kemudian ditangkarkan hingga cukup dewasa. Setelah dewasa, penyu-penyu ini kemudian dilepas lagi di laut.</p>
<p>Warna dan bentuk cangkang dari penyu ini unik, berbentuk seperti sisik yang bertumpuk teratur. Di bagian tepi sedikit tajam sehingga bila ndak berhati-hati memegangnya, tangan bisa terluka.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/memegang-tukik.jpg" alt="Bermain bersama tukik Penyu Sisik" title="Bermain bersama tukik Penyu Sisik" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1322" /></p>
<p>Saya tertarik dengan sebuah ember besar berisi tukik-tukik. Saya pun mencelupkan tangan saya ke air dan tukik-tukik itu langsung mengerubungi tangan saya sehingga saya kegelian.</p>
<p>Tiba-tiba kelingking kanan saya merasa seperti dicubit. Ternyata seekor tukik menggigit kelingking saya dengan mulut mungilnya yang berbentuk seperti paruh burung.</p>
<p>Seekor penyu besar dengan cangkang yang bengkok berusaha menarik perhatian kami dengan menyiprat-nyipratkan air menggunakan kakinya. Setelah  kami datang melihat dan mengelus-elusnya, si penyu pun diam dan pasang tampang manja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/penyu-sisik.jpg" alt="Bermain bersama Penyu Sisik (Eretnochelys imbricata)" title="Bermain bersama Penyu Sisik (Eretnochelys imbricata)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1318" /></p>
<p>Kami meneruskan penjelajahan. Kami memasuki pemukiman penduduk. Jalan berpaving blok selebar 2 meter membuat pemukiman terlihat tertata rapih.</p>
<p>Sorak anak-anak bermain di tengah jalan pun mewarnai siang itu. Tanpa khawatir tertabrak kendaraan, karena memang jarang ada kendaraan bermotor, mereka berlari-lari sesukanya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/suasana-p-pramuka.jpg" alt="Suasana di Pulau Pramuka" title="Suasana di Pulau Pramuka" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1319" /></p>
<p>Listrik memang hanya nyala mulai pukul 4 sore hingga 7 pagi. Beberapa generator diesel tampak di beberapa sudut sebagai pembangkit listrik yang sepertinya diset secara otomatis.</p>
<p>Pantas saja anak-anak itu bermain di luar karena di rumah tidak bisa menonton televisi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sayup-sayup terdengar suara musik pop ST12 yang makin lama makin nyaring. Rupanya lagu itu berasal dari sebuah ojek motor yang mempunyai rute berkeliling pulau.</p>
<p>Ojek ini cukup unik. Terbuat dari sepeda motor roda tiga yang biasa digunakan untuk mengangkut barang yang dimodifikasi sehingga bisa digunakan untuk mengangkut penumpang. Di bagian depan dipasang radio-tape yang memutar musik dengan kencang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/ojek-motor.jpg" alt="Ojek motor" title="Ojek motor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1317" /></p>
<p>Puas berkeliling kampung, kami menuju dermaga. Kami bingung hendak ke mana lagi. Tiba-tiba kami melihat rombongan yang akan pergi snorkeling. Kami pun minta izin untuk ikut dengan mereka dan untungnya diizinkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dengan menyewa peralatan snorkeling seharga 35 ribu yang terdiri dari mask, snorkel, fin, dan lifevest, kami pun segera berangkat ke pulau yang dekat, yaitu Pulau Karya, yang terletak di sebelah utara Pulau Panggang.</p>
<p>Dengan menggunakan ojek kapal antar pulau dengan ongkos 3 ribu per orang sekali jalan, kami berangkat. Untuk snorkeling sebenernya lebih oke ke Pulau Sepa tapi karena ongkos sewa perahu yang mahal, 300 rebu (carter) dan jarak yang jauh, kami memilih yang dekat-dekat aja.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/ojek-kapal.jpg" alt="Ojek Kapal" title="Ojek Kapal" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1316" /></p>
<p>Ojek kapal ini merupakan sarana transportasi masyarakat untuk berpindah dari pulau satu ke pulau lain. Biasanya sih antara Pulau Pramuka dan Pulau Panggang.</p>
<p>Setiba di Pulau Karya, kami pun mengelilingi pulau ini dulu sembari mencari lokasi yang oke untuk snorkeling. Ada beberapa spot yang menarik, namun sayang banyak sekali Bulu Babi di dalamnya sehingga menjadi berbahaya.</p>
<p>Kami memutuskan untuk snorkeling dan bermain air di sekitar dermaga sebelah selatan Pulau Karya. Kedalamannya cukup dan Bulu Babi tak begitu banyak. Setelah mengenakan peralatan kami pun nyebur.</p>
<p>Ada beberapa insiden menyebalkan ketika kami snorkeling. Pas sedang enak-enaknya, tiba-tiba sebuah bungkusan putih yang ternyata popok berisi kotoran mengapung dengan tanpa dosa di hadapan kami. Sontak kami pun berenang menjauh. Kemungkinan benda itu berasal dari sampah yang dibuang oleh penduduk Pulau Panggang.</p>
<p>Begitu juga ketika saya sedang asyik mengamati segerombolan ikan yang berenang dan melewati saya, tiba-tiba sebungkus plastik Indomie nyelonong ke dalam kerumunan ikan dan merusak suasana. Kampret!!</p>
<p>Tiba-tiba beberapa rekan menjerit dan berteriak. Mereka bilang ada sesuatu yang menusuk-nusuk badan mereka. Panik, beberapa di antaranya menepi dan mentas.</p>
<p>Saya pun akhirnya merasakan juga. Clekit-clekit, badan serasa ditusuk-tusuk jarum. Apa ini?! </p>
<p>Awalnya kami mengira ini adalah ulah Bulu Babi, tapi setelh dipikir-pikir tidak mungkin karena Bulu Babi berada di dasar laut dan tidak bisa berenang.</p>
<p>Kami baru tau bahwa ini ulah salah satu jenis ubur-ubur yang karena saking kecil dan transparannya hingga tidak terlihat, yang menyengat. Oh, pantas! Untungnya tidak beracun dan hanya menimbulkan rasa gatal-gatal saja.</p>
<p>Sekitar 2 jam kami puas snorkeling, kami memutuskan untuk mengakhiri. Kami kembali ke Pulau Pramuka dengan menggunakan ojek perahu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/berfoto-sebelum-snorkeling.jpg" alt="Berfoto di dermaga Pulau Karya" title="Berfoto di dermaga Pulau Karya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1313" /></p>
<p>Menjelang senja dan setelah membersihkan diri, kami bertiga menikmati suasana di dermaga. Karena dorongan cacing perut, kami berencana mencari makan sekalian. Apalagi sejak pagi kami belom makan.</p>
<p>Dengan menggunakan ojek perahu, kami menyeberang ke Nusa Cafe, sebuah restoran yang berada di tengah laut dan membudidayakan ikan-ikannya di dalam keramba. Restoran ini dikenal dengan restoran keramba.</p>
<p>Sayangnya, menu seafood yang ada di restoran ini kurang lengkap. Cumi, kepiting, atau kerang tidak ada, kebanyakan berupa ikan. Mungkin karena budidaya cumi, kerang, dan kepiting tidak dapat dilakukan di dalam keramba? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/nusa-cafe-karamba.jpg" alt="Nusa Cafe" title="Nusa Cafe" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1315" /></p>
<p>Karena Fame ultah hari itu, kami bertiga merayakan ultah Fame di resto itu. Met ultah, Fame! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_party.gif' alt='&#60;&#58;&#45;&#112;' class='wp-smiley' width='38' height='18' title='&#60;&#58;&#45;&#112;' /></p>
<p>Keesokan harinya, kami berencana hendak mengeksplorasi lebih lanjut Pulau Pramuka dan Pulau Panggang.</p>
<p>Kami berkeliling menyusuri pesisir Pulau Pramuka berjalan ke selatan. Makin ke selatan, pemukiman makin sedikit. Kami juga menemukan lokasi penangkaran dan budidaya terumbu karang. Karang-karang ini dibudidayakan dengan cara transplantasi.</p>
<p>Di dalam bak-bak terdapat beberapa induk terumbu karang yang akan dipotong beberapa cabangnya. Di bak-bak yang lain terdapat anakan karang yang sudah ditanam dalam substrat beton. Di luar, terdapat rangka beton yang digunakan untuk &#8220;menanam&#8221; terumbu karang ini nampak tersusun rapi.</p>
<p>Puas mengelilingi Pulau Pramuka, kami berpindah ke Pulau Panggang dengan menggunakan ojek perahu. Pulau Panggang adalah pulau dengan kepadatan penduduk paling tinggi di kabupaten ini.</p>
<p>Benar saja, terlihat dari bentuk pemukimannya, mengingatkan saya akan pemukiman serupa di beberapa sudut Jakarta yang kumuh, hanya ditambahi kapal yang tertambat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/sudut-p-panggang.jpg" alt="Salah satu sudut Pulau Panggang" title="Salah satu sudut Pulau Panggang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1325" /></p>
<p>Bila diperhatikan, bangunan-bangunan rumah penduduk ini pondasinya menggunakan batu-batu karang. Pasir yang digunakan untuk menyemen pun adalah pasir pantai yang terdiri dari pecahan karang. </p>
<p>Kami berjalan menuju ke selatan. Kami menemukan kompleks makam kecil yang terletak persis di tepi pantai dinaungi pohon cemara.</p>
<p>Seorang bapak nampak sibuk membongkar bangkai kapal yang teronggok di pinggir pantai. &#8220;Mau diambil besinya. Lumayan buat dikilokan&#8221;, begitu katanya ketika saya tanya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/pantai-p-panggang.jpg" alt="Pantai di Pulau Panggang" title="Pantai di Pulau Panggang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1326" /></p>
<p>Memandang pantai dengan warna air laut tosca-biru memang menyenangkan. Ditambah sepoi-sepoi angin membuat mata menjai ngantuk. Kalo saja kami tidak ingat jadwal kapal terakhir menuju Muara Angke, kami pasti sudah terlelap.</p>
<p>Benar saja, ketika kami kembali dari Pulau Panggang, KM Cinta Alam yang akan membawa kami kembali ke Muara Angke sudah merapat. Dermaga juga sudah dipenuhi calon penumpang yang juga hendak kembali.</p>
<p>Dengan sedikit panik kami segera berkemas seadanya. Dari penginapan kami berlari-lari kecil karena takut ketinggalan kapal karena kapal ini satu-satunya yang membawa kami ke Muara Angke. Untung ketika kami sampai kami masih bisa naik walau tempat sudah sangat penuh.</p>
<p>Perjalanan pulang memakan waktu lebih lama. Selain karena ombak sedang besar, kapal ini juga mampir sebentar di Pulau Untung Jawa sebelum merapat ke Muara Angke.</p>
<p>Memasuki Teluk Jakarta, warna laut yang semula biru berubah menjadi berwarna coklat. Ah, rasanya liburan saya berlalu dengan sangat cepat.</p>
<p>Begitu menjejakkan kaki di dermaga Muara Baru, Muara Angke dan disambut oleh bau khasnya, saya cuma tersenyum kecut. </p>
<p>Welcome to Jakarta! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taman Nasional Komodo, Pesona Purba Yang Tiada Dua</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 09:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Flora & Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[komodo]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Tenggara Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata komodo? Seekor reptilia purba yang dipercaya sebagai turunan dinosaurus? Karnivora dengan ludah beracun yang bisa membunuh seekor kerbau hanya dengan sekali gigit? Apa jadinya kalo misalnya kita berada di Pulau Komodo, dikelilingi oleh hewan &#8220;ganas&#8221; yang menjadi kebanggaan republik ini karena hanya satu-satunya di dunia? Taman Nasional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/go-komodo.jpg" alt="Go Komodo!" title="Go Komodo!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1252" /></p>
<p>Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata komodo? Seekor reptilia purba yang dipercaya sebagai turunan dinosaurus? Karnivora dengan ludah beracun yang bisa membunuh seekor kerbau hanya dengan sekali gigit?</p>
<p>Apa jadinya kalo misalnya kita berada di Pulau Komodo, dikelilingi oleh hewan &#8220;ganas&#8221; yang menjadi kebanggaan republik ini karena hanya satu-satunya di dunia?</p>
<p><span id="more-1246"></span>Taman Nasional Komodo adalah salah satu dari beberapa tempat yang pengen saya kunjungi. Cerita dari <a href="http://ndobos.com/" title="Pakde Mbilung" target="_blank">Pakde Mbilung</a> yang sering berkunjung ke sana telah mengobsesi saya untuk menginjakkan kaki di sana suatu hari nanti. Saya berjanji. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Tentu saja, hewan purba langka ini menjadi daya tarik utama selain pemandangan alamnya yang tak kalah eksotis. Komodo Dragon (<em>Varanus komodoensis</em>), hewan endemik yang hidup tersebar di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, dan pulau-pulau kecil lain yang termasuk ke dalam kawasan <a href="http://www.komodonationalpark.org/" title="Taman Pulau Komodo" target="_blank">Taman Nasional Komodo</a>.</p>
<p><strong>Cara Menuju ke Sana</strong></p>
<p>Setelah bertanya kepada Pakde Mbilung ditambah melakukan gugling di sana-sini, saya mencoba mengumpulkan berbagai informasi untuk menuju ke sana. Selain berguna untuk saya, siapa tahu informasi ini juga bisa digunakan oleh temen-temen yang hendak ke sana dalam waktu dekat ini.</p>
<p>Kawasan ini dapat ditempuh dengan jalur darat, laut, dan udara. Cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan melalui jalur udara. Setidaknya ada 3 maskapai penerbangan yang melayani rute Denpasar ke Labuan Bajo setiap hari, yaitu <a href="http://www.merpati.co.id/" title="Merpati" target="_blank">Merpati</a>, <a href="http://www.iat.co.id/" title="Indonesia Air Transport" target="_blank">Indonesia Air Transport</a>, dan <a href="http://www.transnusa.co.id/flightinfo/jadwal-penerbangan.html" title="Jadwal Penerbangan Transnusa" target="_blank">Pelita Air/Transnusa</a>.</p>
<p>Dari Labuan Bajo, kota pelabuhan di ujung barat Flores, barulah menyeberang ke pulau-pulau yang termasuk ke Taman Nasional Komodo dengan menggunakan perahu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/perahu-komodo.jpg" alt="Kapal pesiar menuju Pulau Komodo" title="Kapal pesiar menuju Pulau Komodo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1253" /></p>
<p>Bila Anda termasuk kaum <em>the have</em>, menyewa kapal pesiar dari Benoa, Bali untuk menuju ke Taman Nasional Komodo mungkin bisa menjadi pilihan. Kapal-kapal seperti ini menyediakan fasilitas yang nyaman untuk tidur dan makan layaknya hotel terapung. Selain itu kapal-kapal semacam ini biasanya juga dilengkapi dengan peralatan menyelam.</p>
<p><em>Backpackers</em> tak perlu berkecil hati. Menuju ke Labuan Bajo melalui jalur darat sepertinya akan menjadi catatan perjalanan yang menarik. Belum lagi ketika harus menumpang kapal-kapal nelayan pengangkut barang kebutuhan untuk bisa menyeberang, atau bahkan ikut menginap di atas perahu tentu memberikan cerita tersendiri.</p>
<p>Kalo disuruh milih, tentu saya pengen menikmati berlayar dengan kapal pesiar! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><strong>Komodo Dragon, Sang Penguasa</strong></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/komodo_dragon.jpg" alt="Komodo Dragon (Varanus komodoensis)" title="Komodo Dragon (Varanus komodoensis)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1251" /></p>
<p>Hamparan sabana gersang yang menjadi habitat komodo tentu menarik untuk dijelajahi. Bila ndak berhati-hati, hewan yang aktif di siang hari ini bisa saja tiba-tiba nongol dari balik semak-semak dan menyerang bila merasa terganggu. Tentu rasa deg-deg-an ini memberikan sensasi adrenalin tersendiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik kita meminta bantuan petugas jagawana Taman Nasional Komodo untuk menemani dan memandu kita mengeksplorasi keunikan dan kecantikan kawasan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/komodo_makan.jpg" alt="Komodo makan" title="Komodo makan" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1254" /></p>
<p>Biasanya komodo (dalam bahasa lokal sering disebut dengan &#8220;ora&#8221;) ini harus &#8220;dipancing&#8221; dahulu supaya keluar dengan cara menyajikan daging yang sudah membusuk.</p>
<p>Ketika komodo datang berbondong-bondong dan berebut makanan, wisatawan pun berbondong-bondong mengabadikan momen yang ditunggu-tunggu ini.</p>
<p>Namun cara memanggil komodo seperti ini sudah jarang dilakukan karena akan membuat komodo manja, demikian kata Pakde Mbilung. Selain itu komodo memang mudah untuk ditemui, terutama di Pulau Rinca.</p>
<p>Selain sabana yang gersang, pemandangan bukit-bukit di Pulau Komodo memang layak dipujikan. Maklum saja, pulau ini sangat unik.</p>
<p>Pulau ini terbentuk dari aktivitas letusan vulkanik purba plus aktivitas tektonik yang membuat dasar laut terangkat. Makanya ndak mengherankan kalo pantai-pantai di sini berbeda dengan tempat lain, hamparan pasir pantai yang dibentengi bukit-bukit.</p>
<p>Hamparan pegunungan yang membentang dari utara ke selatan dengan tinggi rata-rata 400-500 meter dpl dengan puncak tertinggi bernama Satalibo (735 m dpl) menjadi pemandangan eksotis lainnya.</p>
<p>Di dataran yang agak tinggi, hamparan pohon Lontar dan hutan hujan merupakan pemandangan yang ndak boleh terlewatkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/pulau_komodo.jpg" alt="Pulau Komodo" title="Pulau Komodo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1250" /></p>
<p>Hwaa!! Makin penasaran aja nih dengan Pulau Komodo!</p>
<p><strong>Kekayaan Bahari Taman Nasional Komodo</strong></p>
<p>Jika Anda penggemar olah raga air semacam <em>snorkeling</em> dan <em>diving</em>, keindahan laut di taman nasional ini patut diselami. Namun arus yang kuat harus menjadi perhatian tersendiri. Arusnya yang kuat terjadi karena laut ini merupakan pertemuan air laut tropis dari utara dan air laut dari selatan.</p>
<p>Ada beberapa <a href="http://www.komodonationalpark.org/dive_sites.htm" title="Diving Site in Komodo" target="_blank">titik penyelaman</a> yang bisa dijelajahi di sekitar Pulau Komodo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/pantai_merah.jpg" alt="Pantai Merah, Pulau Komodo" title="Pantai Merah, Pulau Komodo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1249" /></p>
<p>Salah satu titik yang sering didatangi adalah Pantai Merah. Disebut pantai merah karena pasirnya yang terdiri dari pecahan-pecahan koral dan cangkang hewan laut lainnya sehingga berwarna kemerahan. </p>
<p>Pantai ini menjadi pantai favorit para wisatawa asing maupun lokal karena hanya dengan ber-<em>snorkeling</em> saja, keindahan bawah laut di pantai ini bisa dinikmati, apalagi bila mencoba <em>diving</em>.</p>
<p>Dengan kedalaman hingga 30 meter, situs penyelaman Pantai Merah didiami berbagai jenis ikan, seperti ikan scorpion yang dikenal memiliki sengat beracun, siput tak bercangkang dan hewan molusca lain.</p>
<p>Penyelaman di malam hari juga sering dilakukan di situs Pantai Merah untuk melihat kehidupan malam hewan laut di situs ini. Selain karena jarak pandang, banyaknya organisme laut yang mendiami situs ini tentu menjadi daya tarik.</p>
<p>Selain Pantai Merah, situs penyelaman favorit adalah Batu Bolong. Batu Bolong adalah situs penyelaman terbaik di Komodo yang berupa &#8220;pulau&#8221; karang di selat antara Pulau Tatawa dan Pulau Komodo.</p>
<p>Dengan topografinya yang berbentuk tebing curam membuat situs penyelaman ini menawarkan pemandangan bawah laut yang sangat alami karena nelayan lokal ndak bisa menggunakan bom atau racun sianida untuk menangkap ikan di sekitar lokasi ini yang tentunya berakibat merusak ekosistem di bawah laut.</p>
<p>Karena topografinya pula, arus di situs penyelaman ini menjadi sangat berbahaya, sehingga penyelaman disarankan dilakukan saat laut sedang surut.</p>
<p>Berbagai jenis ikan dan biota laut dapat ditemui di lokasi ini. Biota ini hidup di sekitar tebing karang dan pada kedalaman tertentu bisa ditemukan ikan hiu.</p>
<p>Jika ingin melihat berbagai ikan besar, menyelam di situs Batu Tiga sangat disarankan. Disebut Batu Tiga karena situs penyelaman yang terletak di sebelah tenggara Tanjung Kuning di Selat Linta ini terdapat tiga buah batu karang yang merupakan &#8220;perpanjangan&#8221; dari bagian bawah Pulau Komodo.</p>
<p>Primadona dari situs Batu Tiga adalah ikan pari Manta (<em>Manta birostris</em>) yang lebarnya bisa mencapai 8 meter! Selain itu di situs yang berarus sangat kuat ini menjadi habitat berkembangnya terumbu karang yang cantik-cantik dan segerombolan ikan-ikan kecil.</p>
<p>Sayangnya situs-situs penyelaman di Taman Nasional Komodo ini arusnya terkenal sangat kuat sehingga ndak disarankan untuk diver pemula apalagi yang belum pernah diving seperti saya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /> </p>
<p><strong>Lokasi Eco-Wisata Terunik di Dunia</strong></p>
<p><a href="http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/?firstselect=6:91"><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/vote-komodo-150x150.jpg" alt="Vote Komodo for the New 7 Wonders of Nature" title="Vote Komodo for the New 7 Wonders of Nature" width="150" height="150" class="alignleft strip size-thumbnail wp-image-1257" style="border: 0" /></a></p>
<p>Melihat berbagai potensi kekayaan alam Taman Nasional Komodo, memang pantas kalo lokasi yang pada tahun 1991 masuk dalam <a href="http://whc.unesco.org/en/list/609" title="Komodo National Park: UNESCO Wolrd Heritage" target="_blank">daftar Situs Warisan Dunia UNESCO</a> ini <a href="http://www.new7wonders.com/nature/en/nominees/asia/c/KomodoNationalParkNationalPark/" title="New7Wonders: Komodo National Park" target="_blank">dinominasikan ke dalam New 7 Wonders of Nature</a> dan kita harus mendukungnya dengan <a href="http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/?firstselect=6:91" title="Vote for Komodo National Park!" target="_blank">memberikan suara untuk lokasi ini</a>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p>Harapan saya, selain bisa jeng-jeng ke Taman Nasional Komodo sekaligus mendukung <a href="http://www.indonesia.travel/" title="Visit Indonesia Year 2009" target="_blank">tahun kunjungan ke Indonesia (Visit Indonesia Year 2009)</a> ini, saya berharap kita bisa menyadari betapa pentingnya pelesatarian alam Indonesia, terutama fauna langka seperti Komodo. Bahkan ajang <a href="http://www.bubuawards.com/" title="Bubu Awards" target="_blank">Bubu Awards</a> tahun ini pun ikut mengangkat isu Taman Nasional Komodo untuk masuk ke dalam daftar New 7 Wonders of Nature. </p>
<p>Jadi, kapan kita ke Komodo? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p><small>Gambar ilustrasi diambil dari Google Images.</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/taman-nasional-komodo-pesona-purba-yang-tiada-dua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Green Canyon &amp; Pangandaran</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 18:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Ciamis]]></category>
		<category><![CDATA[Green Canyon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Berkunjung ke Green Canyon merupakan salah satu wishlist saya tahun lalu yang baru kesampaian. Pesonanya sudah lama terdengar dan saya telah membuktikannya. Green Canyon, sebuah bagian dari Sungai Cijulang di Ciamis, Jawa Barat, yang diapit oleh tebing dengan air berwarna hijau toska ini memang eksotis. Pangandaran, yang juga berada di Ciamis, juga tak boleh terlewatkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/green-canyon.jpg" alt="Menuju Green Canyon" title="Menuju Green Canyon" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1137" /></p>
<p>Berkunjung ke Green Canyon merupakan salah satu wishlist saya tahun lalu yang baru kesampaian. Pesonanya sudah lama terdengar dan saya telah membuktikannya. Green Canyon, sebuah bagian dari Sungai Cijulang di Ciamis, Jawa Barat, yang diapit oleh tebing dengan air berwarna hijau toska ini memang eksotis.</p>
<p>Pangandaran, yang juga berada di Ciamis, juga tak boleh terlewatkan. Hamparan pantai berpasir putih yang memiliki garis pantai barat dan garis pantai timur ini cukup menawan terutama ketika sunset dan sunrise. Boleh dibilang Pangandaran menjadi basis jika kita ingin mengunjungi berbagai obyek wisata lain di sekitarnya.</p>
<p><span id="more-1133"></span>Perjalanan melelahkan untuk menuju ke sana yang memakan waktu kurang lebih 8-9 jam dari Jakarta terbayar lunas. Dan seperti biasa, tanpa rencana, hanya bermodalkan beberapa lembar pakaian dan logistik seadanya yang tersimpan di dalam backpack, saya pun ndoyok ke sana.</p>
<p>Ada beberapa rute yang bisa ditempuh untuk mencapai Green Canyon. Seperti yang saya bilang, Pangandaran menjadi basis sebelum menuju ke Green Canyon. Untuk menuju ke Pangandaran bisa langsung dari Jakarta atau dari Bandung.</p>
<p>Saya menggunakan bus Perkasa Jaya tujuan Pangandaran yang berangkat dari terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Macet yang amat parah di akhir pekan membuat saya hampir tertinggal bus terakhir yang berangkat sekitar pukul 9 malam ini.</p>
<p>Sebenernya ada bus AC dengan rute yang sama, namun bus ini sudah berangkat sejam sebelumnya. Bus yang saya tumpangi ini berkelas ekonomi non-AC dengan tarif 55 ribu rupiah.</p>
<p>Awalnya saya khawatir jika bus ini akan berhenti di tengah jalan untuk mengangkut penumpang sehingga waktu tempuh semakin lama, namun karena bus ini langsung masuk tol menuju Bandung membuat kekhawatiran saya sirna. Penumpang yang tidak begitu penuh karena perjalanan di malam hari membuat perjalanan cukup nyaman.</p>
<p>Saya berangkat pada Jumat malam hari karena ingin menghemat waktu serta penginapan. Niatnya sih mau tidur di bus sehingga paginya siap untuk jeng-jeng namun apa daya, desain kursi bus ekonomi ini membuat badan saya pegel-pegel dan ndak bisa tidur! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Sampai di Pangandaran pagi sekitar pukul 6. Begitu turun dari bus, saya langsung ditawari jasa ojek. Karena hari masih sangat pagi untuk meneruskan perjalanan ke Green Canyon, saya pun memutuskan untuk mencari penginapan di sekitar kawasan wisata Pantai Pangandaran.</p>
<p>Dengan menyewa ojek yang cukup mahal, 30 ribu rupiah, saya berkeliling mencari penginapan yang cocok. Mulai dari yang bentuknya mirip kamar kos-kosan mahasiswa yang umpel-umpelan hingga hotel mewah dan bungalow pun ada. Harganya pun bervariatif, mulai dari 100 rebu per malam hingga yang bertarif jutaan. Karena masih pagi, saya bisa lebih leluasa survei dan berkeliling untuk bertanya dari satu penginapan ke penginapan lainnya.</p>
<p>Saya menginap di Hotel Sunset, dengan tarif 300 rebu (kelasnya menengah), dengan fasilitas yang mirip dengan hotel berbintang 3 lah. Fasilitasnya selain AC, TV, breakfast, dan yang penting kasur empuk dan air panas! Apalagi view dari kamar lumayan bagus dan jarak ke pantai cuma sekali salto. Bila dibandingkan dengan fasilitasnya dan lokasinya, tarifnya masih masuk akal menurut saya. Apalagi saya kan mau liburan dan bermanja-manja diri. Hehehe.</p>
<p>Backpacking bukan berarti harus &#8220;kere&#8221; dan menyiksa diri dengan meminimalisir pengeluaran seirit mungkin, namun bila mampu, boleh lah merasakan &#8220;kemewahan&#8221; demi kenyamanan. Selama budget dan kemampuan finansial masih masuk, menurutku sih tiada masalah. Hehehe.</p>
<p>Maksud hati cuma menaruh backpack, bebersih diri, dan beristirahat sejenak, tapi karena tidak bisa tidur selama di perjalanan membuat saya terlelap di hotel. Badan yang segar sehabis mandi air hangat yang pasrah di dalam pelukan kasur empuk dan buaian AC membuat saya bangun kesiangan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p>Sehabis dhuhur dan mencari makan di warung makan Holiday yang menyediakan berbagai menu masakan dengan harga yang wajar yang tak jauh dari hotel, saya berangkat ke Green Canyon.</p>
<p>Ada beberapa cara untuk sampai Green Canyon. Dari terminal Pangandaran, kita bisa naik bus kecil ke arah Terminal Cijulang. Dari terminal Cijulang, kita bisa naik ojek lagi hingga sampai ke Dermaga Ciseureuh. </p>
<p>Saya sekali lagi mengandalkan ojek. Dengan tarif sekitar 60 ribu, si tukang ojek akan mengantarkan saya dari hotel hingga ke dermaga, menunggu saya selama berada di Green Canyon, kemudian mengantarkan saya ke obyek wisata Pantai Batu Hiu, dan mengantarkan saya kembali ke hotel.</p>
<p>Jarak dari Pangandaran ke Dermaga Ciseureuh yang terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, sekitar 30 km. Waktu tempuh dengan menggunakan ojek sekitar 30 menit. Dari dermaga ini, kita harus menyewa perahu untuk sampai ke Green Canyon.</p>
<p>Dermaga Ciseureuh dibangun sekitar tahun 1993. Sebelumnya para penyedia jasa perahu bekerja sendiri-sendiri dalam menawarkan perahunya. Dengan adanya dermaga ini, para penyedia jasa perahu bisa diatur dan menjadi lebih tertib.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/dermaga-cisereuh.jpg" alt="Di Dermaga Ciseureuh" title="Di Dermaga Ciseureuh" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1134" /></p>
<p>Ongkos sewa perahu 75 ribu per perahu dengan maksimal jumlah penumpang 5 orang. Cukup mahal bila kita menyewa untuk sendiri dan tentunya menjadi lebih murah bila kita berombongan.</p>
<p>Perjalanan dari dermaga ke Green Canyon yang berjarak sekitar 3 km ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dengan perahu motor. Kita akan ditemani seorang juru mesin dan seorang guide.</p>
<p>Kami berjalan menuju hulu, menyusuri Sungai Cijulang dengan air berwarna hijau keruh. Menurut guide saya, warna air akan menjadi hijau jernih pada musim kemarau.</p>
<p>Di sepanjang sungai, bila beruntung kita bisa melihat beberapa ekor biawak yang terlihat nemplok di pepohonan. Kedalaman sungai ini menurut guide bisa mencapai 7 meter. Sedangkan di Green Canyon sendiri bisa sampai 4 meter.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/mulut-green-canyon.jpg" alt="Mulut Green Canyon" title="Mulut Green Canyon" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1143" /></p>
<p>Kami pun akhirnya tiba di mulut Green Canyon. Mulutnya berbentuk seperti goa, namun di bagian lainnya &#8220;atap&#8221; goanya tidak ada alias tebing terbuka.</p>
<p>Bagian atap goa yang menghubungkan kedua tebing inilah yang disebut dengan Cukang Taneuh, yang berarti &#8220;jembatan tanah&#8221;. Jembatan ini menghubungkan Desa Batukaras dan Desa Kertajaya.</p>
<p>Sampai di sana rupanya sudah banyak perahu yang sedang menambatkan diri. Perahu ndak dapat masuk lebih ke dalam lagi karena terhadang batuan besar di mulut gua. Bila ingin masuk ke dalam lagi harus berenang dengan menggunakan pelampung. Hampir semua perahu kosong karena para penumpangnya sedang masuk menjelajah lebih ke dalam. </p>
<p>Bila ingin dipandu menyusuri gua oleh guide, ada biaya tambahan yang bisa didiskusikan dengan si guide. Biayanya bisa mencapai harga sekali sewa perahu, karena guide menghitung berdasarkan waktu kita menjelajah gua sekitar 45 menit hingga 1 jam.</p>
<p>Nanggung bila cuma sampai di mulut gua, saya pun menyepakati harga agar bisa menjelajah lebih dalam. Si guide pun meminjamkan pelampung yang harus dikenakan dan si juru mesin akan berada di atas perahu sambil menjaga barang-barang. Kamera kemudian saya bungkus plastik dan saya titipkan ke guide agar saya bisa berfoto-foto di dalam.</p>
<p>Saya pun langsung nyemplung ke dalam air. Hati-hati, karena arus yang cukup deras, kita bisa terseret. Belum lagi batu-batuan di dasar membuat kaki bisa terluka bila tidak berhati-hati.</p>
<p>Karena Green Canyon itu strukturnya seperti gua, kita bisa melihat stalagtit dan stalagmit yang begitu indah. Ada bagian di dalam gua di mana tetes-tetes air yang jatuh dari stalagtit begitu deras dan berbentuk seperti air hujan yang disebut dengan air terjun Palatar karena letaknya berada di depan mulut gua.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/di-antara-tebing-green-cany.jpg" alt="Green Canyon" title="Green Canyon" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1135" /></p>
<p>Pemandangan stalagtit dan stalagmit yang eksotis, ditambah percikan air yang menetes, dan cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam melewati tebing tak beratap memberikan pemandangan yang cantik.</p>
<p>Karena saya datang di saat musim hujan, air masih begitu deras. Guide saya selalu menunjukkan ke arah mana saya harus berenang agar ndak terseret arus dengan meminta saya mengikutinya. Lincah sekali dia, berenang dengan satu tangan di mana salah satu tangannya berada di atas membawa kamera agar tidak tercelup air.</p>
<p>Ketika beristirahat sejenak, saya melihat beberapa orang nampak duduk di atas sebuah batu besar. Kemudian mereka meloncat dari atas batu yang tingginya sekitar 4 meter dan nyemplung ke air. Melihatnya, saya ingin mencoba. Guide saya menyarankan saya mencobanya ketika hendak pulang karena perjalanan menelusuri gua masih panjang.</p>
<p>Ada sebuah bagian di mana air cukup deras, sehingga kami harus meniti pada dinding tebing. Dengan berpegangan pada celah-celah batu, mengingatkan saya pada olah raga panjat tebing yang bertumpu pada kekuatan jari. Bila tidak berhati-hati, kita juga bisa terluka karena beberapa permukaan batu yang tajam.</p>
<p>Setelah petualangan menyusuri gua yang cukup melelahkan, sampai lah kami di satu titik di mana kami harus berhenti. Selain medan yang lebih sulit karena batuan licin dan berlumut, kami tidak bisa berlama-lama di dalam gua.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/jacuzzi-alam.jpg" alt="Di Kolam Putri" title="Di Kolam Putri" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1138" /></p>
<p>Namun sebelum pulang, guide mengajak saya menuju sebuah kolam di atas tebing di mana airnya berasal dari tetes-tetes air yang tertampung di dalam cekungan. Cekungan ini sering disebut dengan Kolam Putri.</p>
<p>Untuk menuju ke sana, kami harus memanjat tebing setinggi sekitar 5 meter. Bebatuan yang licin sempat membuat saya beberapa kali terpeleset namun untungnya saya masih bisa berpegangan pada batu. Dan begitu sampai di atas, benar saja, sebuah kolam berisi air nampak pasrah untuk dicemplungi.</p>
<p>Saya sangat menikmati nyemplung di kolam ini, selain airnya yang jernih dan segar pemandangan dari atas sini lebih mantab!</p>
<p>Puas berendam di Kolam Putri, kami pun kembali ke perahu. Saya menikmati mengapung dengan telentang dan membiarkan badan terseret arus sembari menikmati pemandangan di atap gua. Bener-bener indah!</p>
<p>Guide pun mengingatkan saya apakah saya jadi mencoba meloncat dari atas Batu Payung, yang tadi sempet saya pengeni tadi. Tentu saja saya mau dan guide menunjukkan jalan agar sampai di atas batu tersebut. </p>
<p>Disebut Batu Payung karena bentuknya setengah lingkaran seperti payung, padahal kalo diamat-amati ndak berbentuk seperti payung, loh. Heheheh.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/di-atas-batu-payung.jpg" alt="Di atas Batu Payung sebelum meloncat" title="Di atas Batu Payung sebelum meloncat" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1136" /></p>
<p>Saya yang awalnya pede abis langsung sedikit ciut nyali. Njrit! Ternyata kalo dari atas, pemandangannya sedikit menyeramkan. Apalagi permukaan batu yang bulat menyulitkan saya menentukan titik tolakan.</p>
<p>Dengan mengumpulkan nyali yang tadi sempat mengkerut, saya pun ambil ancang-ancang dan setelah melangkah 3-4 langkah setengah berlari saya lantas meloncat ke dalam air.</p>
<p>Hup! Waktu seperti terasa berhenti selama 2 detik sebelum badan nyemplung ke air. Adrenalin langsung mengalir deras ketika saya &#8220;melayang&#8221;!</p>
<p>Byur!! Blup blup blup! Saya pun berusaha mencari udara. Begitu kepala saya nongol di permukaan, rupanya saya berada cukup jauh dari Batu Payung karena terseret arus.</p>
<p>Penasaran, saya pun ingin mencobanya sekali lagi. Dengan susah payah, saya berenang melawan arus untuk kembali ke Batu Payung, segera naik ke atas, dan kembali merasakan adrenalin yang menjalar di sekujur tubuh.</p>
<p>Meloncat dari Batu Payung menutup perjalanan saya mengeksplorasi Green Canyon. Kami pun kembali ke perahu untuk kembali ke dermaga. Saya menikmati angin yang berdesir serta sengatan matahari untuk mengeringkan badan yang basah. Ah, nikmatnya!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/perahu-cijulang.jpg" alt="Di atas perahu di sungai Cijulang" title="Di atas perahu di sungai Cijulang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1139" /></p>
<p>Dari Green Canyon, saya kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Karena saya cuma bawa selembar kaos cadangan, dengan berbasah-basah saya kembali ke hotel menggunakan ojek yang tadi menunggu saya. Di perjalanan, saya berharap celana saya bisa kering karena tersapu angin.</p>
<p>Seperti janji si tukang ojek, saya diantarkan ke Pantai Batu Hiu yang terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, sekitar 15 km dari Pangandaran.</p>
<p>Sekitar 15 menit, saya telah sampai di pantai tersebut. Disebut Pantai Batu Hiu karena ada sebuah batu di tengah laut yang katanya mirip dengan hiu. Saya kira karena ada kepala hiu yang lagi mangap yang menjadi gerbang masuk. Hehehe.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/kepala-hiu.jpg" alt="Gerbang masuk Pantai Batu Hiu" title="Gerbang masuk Pantai Batu Hiu" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1140" /></p>
<p>Pantai pasir putih menjadi pesona dari pantai ini. Namun saya penasaran dengan batu berbentuk hiu yang didengung-dengungkan orang. Saya pun menyusuri jalan setapak menuju bukit yang banyak ditumbuhi pohon Pandan Wong yang besar-besar.</p>
<p>Dari atas bukit ini memang pemandangannya sangat elok. Kita bisa duduk-duduk di atas rumput hijau yang seolah-olah menjadi permadani di bukit ini.</p>
<p>Selain pemandangan alamnya yang ciamik, pantai ini rupanya juga menjadi lokasi ziarah bagi orang yang ingin menjadi sinden atau penabuh gamelan terkenal. Konon kepercayaan ini berasal dari sebuah cerita rakyat.</p>
<p>Beberapa anjing kampung nampak berkeliaran ke sana kemari, namun jangan khawatir, anjing-anjing ini cukup ramah, kok. Bila berbaik hati, berikan beberapa makanan ke anjing-anjing ini, asal bukan makanan berbahan coklat karena coklat bisa membunuh anjing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Di ujung, saya melihat sebuah batu yang berada di tengah lautan. Setelah bertanya kepada penjual makanan yang juga banyak tersebar di sepanjang jalan setapak, rupanya benar kalo batu itulah yang dimaksud dengan Batu Hiu. Padahal kalo menurut saya, ndak ada mirip-miripnya sama hiu. Hihihihi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/pantai-batu-hiu.jpg" alt="Di Pantai Batu Hiu" title="Di Pantai Batu Hiu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1141" /></p>
<p>Menikmati pemandangan yang cantik di pantai ini mengingatkan saya akan sebuah tembang dari Doel Sumbang yang berjudul Bulan di Atas Batu Hiu.</p>
<blockquote><p>Bulan nu ngagantung di atas Batu Hiu<br />
Tinggal sapasi sesa purnama kamari<br />
Ikrar janji, sahidup samati<br />
Moal khianat, insya Allah moal pegat..</p></blockquote>
<p>Woh, malah nyanyi! Dan kok ya pas banget, di atas langit bulan nampak nongol separo, <em>tinggal sapasi sesa purnama kamari</em>.. Hihihi.</p>
<p>Saya sampai di hotel menjelang mentari terbenam. Nanggung, sebelum bebersih diri dan karena pakaian sudah lumayan kering, saya menghabiskan waktu menikmati sunset di Pantai Pangandaran di sisi barat.</p>
<p>Nampak perahu-perahu wisata yang bisa disewa untuk berkeliling laut atau mengantarkan penumpang ke Cagar Alam Pananjung mulai mendarat. Laut yang bentar lagi pasang membuat aktivitas wisata berkurang. Melihat aktivitas awak perahu meminggirkan perahunya menjadi pemandangan menarik.</p>
<p>Penjaja kuda mulai menggiring kudanya pulang dan penyewaan papan selancar mini mulai mengemasi papan selancarnya. Nampak beberapa orang tengah mengendarai ATV (All-Terrain Vehicle) yang banyak disewakan di sepanjang pantai. Beberapa pasangan nampak asyik bersepeda menggunakan sepeda tandem yang juga bisa disewa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/sunset-pangandaran.jpg" alt="Sunset di Pangandaran" title="Sunset di Pangandaran" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1142" /></p>
<p>Puas menikmati sunset, saya kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Saya ingin berkunjung ke Pasar Ikan yang berada di pantai timur untuk sekedar melihat-lihat.</p>
<p>Di Pasar Ikan, kita bisa langsung membeli hasil laut yang masih segar. Menariknya, di rumah makan yang ada di seputaran Pasar Ikan menjual menunya dengan cara berbeda.</p>
<p>Calon konsumen dipersilakan memilih sendiri menu makan malam mereka, apakah udang, cumi, kerang, atau kepiting. Menu ini dijual dalam satuan kilo, dengan pembelian minimal setengah kilo. Harga yang dibayar per kilo tersebut sudah termasuk ongkos memasak.</p>
<p>Dari hotel, saya menaiki becak yang banyak dijajakan. Dengan ongkos 20 ribu rupiah, saya bisa berkeliling dari hotel menuju pasar ikan dan kembali lagi ke hotel. Suasana malam di pantai ini rupanya ndak begitu ramai padahal malam itu malam minggu, walau nampak satu-dua pasangan muda-mudi sedang memadu kasih.</p>
<p>Sehabis berkeliling, malam itu saya terlelap karena capek yang tiada terkira. Meskipun begitu, kesenangan yang saya dapatkan siang tadi masih membekas.</p>
<p>Paginya, setelah check-out dari hotel, saya memanggul backpack lagi untuk kembali ke Jakarta dengan lebih dulu mampir ke Bandung. Untuk ke Bandung, saya naik bus Budiman yang berangkat setiap jam dari Terminal Pangandaran menuju Terminal Cicaheum, Bandung.</p>
<p>Untungnya saya dapat bus AC dengan tarif 35 ribu rupiah. Rencananya dari Bandung saya kembali ke Jakarta menggunakan kereta api. Namun apa lacur, tiket kereta api sudah ludes terjual ketika saya nyampe di Stasiun Bandung. Damn! Saya lupa kalo ini awal pekan!</p>
<p>Plan B, saya segera menuju Terminal Leuwi Panjang untuk naik bus tujuan Jakarta. Saya sempat berlari-lari mengejar bus Damri jurusan Dago-Leuwi Panjang ketika bus terjebak macet walau akhirnya bus itu lolos juga. Terpaksa lah saya naik angkot dengan oper 2 kali untuk sampai di Leuwi Panjang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /> </p>
<p>Dari Terminal Leuwi Panjang, saya naik bus AC Prima Jasa tujuan Terminal Lebak Bulus, Jakarta. Ongkos bus ini 50 ribu rupiah. Tempat duduk yang lebih nyaman di bus ini membuat saya bisa beristirahat.</p>
<p>Meskipun capek, saya puas telah memenuhi salah satu wishlist saya. Semoga saya bisa memenuhi wishlist saya yang lainnya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-green-canyon-pangandaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>99</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Ujung Genteng</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ujung-genteng.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ujung-genteng.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 03:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[penyu]]></category>
		<category><![CDATA[Sukabumi]]></category>
		<category><![CDATA[Ujung Genteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=992</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya kesampaian juga saya ke Ujung Genteng, sebuah pantai di ujung sebelah barat daya pulau Jawa yang cukup terpencil. Bisa dibilang ini jeng-jeng akhir tahun saya yang sangat mengesankan! Di Ujung Genteng, saya mendapatkan pengalaman baru selain menikmati hamparan pantai yang cukup sepi, yaitu melihat secara langsung penyu hijau (Chelonia mydas) bertelur hingga menikmati segarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/tim-ujung-genteng.jpg" alt="Tim Ujung Genteng" title="Tim Ujung Genteng" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-993" /></p>
<p>Akhirnya kesampaian juga saya ke Ujung Genteng, sebuah pantai di ujung sebelah barat daya pulau Jawa yang cukup terpencil. Bisa dibilang ini jeng-jeng akhir tahun saya yang sangat mengesankan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p>Di Ujung Genteng, saya mendapatkan pengalaman baru selain menikmati hamparan pantai yang cukup sepi, yaitu melihat secara langsung penyu hijau (<em>Chelonia mydas</em>) bertelur hingga menikmati segarnya air laut selatan yang jernih.</p>
<p><span id="more-992"></span>Kami berangkat selepas jam kerja pada malam Natal. Tim awal yang tadinya hanya saya, <a title="Cyapila" href="http://cyapila.com/blog/" target="_blank">Fame</a>, <a href="http://www.facebook.com/home.php#/profile.php?id=1320197433" title="Cornila" target="_blank">Nila</a>, dan <a title="Suprie" href="http://suprie.in.ruangkopi.com/" target="_blank">Suprie</a>, akhirnya ketambahan <a title="Tupic" href="http://cahmbuh.com/" target="_blank">Tupic</a> yang bergabung pada menit-menit terakhir setelah mendapat bujukan <strike>setan</strike> Fame.</p>
<p>Setelah berkumpul di UKI, kami segera berangkat dengan menggunakan bus jurusan Sukabumi. Cukup lama kami menunggu karena bus jurusan ini kalah banyak daripada bus jurusan Bogor. Bus yang kami tunggu akhirnya nongol, meski di dalamnya sudah penuh sesak, kami naik juga.</p>
<p>&#8220;Terakhir.. Terakhir..&#8221;, teriak kondektur bus yang seolah memaksa kami untuk bergegas. Sedikit melirik ke jam tangan, jarum jam telah menunjuk angka 9. Kemacetan yang parah sangat menghambat perjalanan kami sehingga waktu perjalanan kami molor.</p>
<p>Kami terpaksa berdiri berjejal. Kami mulai mendapat tempat duduk setelah sebagian penumpang turun di Ciawi dan sekitarnya. Bus pun mulai menanjak dan meliut ke sana kemari digoyang tikungan berkelok. Beberapa penumpang tenggelam dalam lelap menikmati goyangan bus. Laju bus semakin kencang karena jalan mulai lengang.</p>
<p>Seorang bapak berbincang dengan Fame. Samar-samar terdengar mereka berbincang tentang rute ke Ujung Genteng dari Sukabumi. Si bapak memberitahukan rute dan moda transportasinya. Tak hanya itu, dia bahkan sempat menawari kami untuk menginap di rumahnya, namun kami menolak dengan halus.</p>
<p>Kami pun tiba di Sukabumi setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2, 5 jam. Menurut informasi yang simpang siur, baik dari bapak-bapak yang berbincang dengan Fame tadi maupun kondektur bus, moda transportasi kami antara ada dan tiada. Bisa dimaklumi karena kami tiba di Sukabumi kota hampir tengah malam. Kami memang buta rute dan berangkat hanya bermodal nekat.</p>
<p>Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk mengisi perut sambil memikirkan langkah selanjutnya. Kami mampir di warung Soto Lamongan. Cukup lucu karena kami jauh-jauh ke Sukabumi, tapi malah makan Soto Lamongan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Keterangan ibu penjual soto sempat menyurutkan semangat kami. Menurutnya sudah tiada transportasi yang bisa membawa kami ke sana, namun kami tetap meneruskan perjalanan. Nanggung, lagian kami mau menginap di mana?</p>
<p>Menuju ke sebuah <acronym title="sebutan untuk minibus colt diesel berpenumpang sekitar 12-an orang">ELF</acronym> yang sedang berhenti, kami bertanya bagaimana kami bisa melanjutkan perjalanan. Kami disarankan menggunakan ojeg untuk menuju Terminal Lembur Situ karena angkot sudah tidak beroperasi. Kami akhirnya terpaksa menyewa 5 ojeg karena memang kami tiada pilihan lain. Apalagi jam menunjukkan hampir pergantian hari.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/terminal-lembur-situ.jpg" alt="Terminal Lembur Situ" title="Terminal Lembur Situ" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1007" /></p>
<p>Tibalah kami di Terminal Lembur Situ. Kami beruntung karena masih ada sebuah ELF jurusan Surade yang sedang ngetem. ELF tersebut memang sedang bekerja di luar jam operasional, yaitu hanya sampai jam 7 malam. Namun karena liburan panjang mereka menambah jam operasional dan sepertinya menjadi satu-satunya ELF yang terakhir beroperasi malam itu.</p>
<p>ELF yang kami tumpangi lama-lama penuh, karena selain kami ternyata banyak penumpang yang dilihat dari penampilannya adalah mereka yang hendak pulang dari bekerja. Di antara mereka bahkan ada seorang wanita. Beberapa pria sampai rela bergelantungan di pintu ELF karena tiada tempat lagi.</p>
<p>Perjalanan dari Lembur Situ ke Surade, sebuah kota kecamatan yang paling dekat ke Ujung Genteng, &#8220;sangat seru&#8221; karena sepanjang jalan kami terguncang-guncang bahkan sesekali terlempar dari tempat duduk akibat ELF melahap jalanan bergelombang meliuk dengan kecepatan tinggi.</p>
<p>Kami yang sudah terkantuk-kantuk urung terbuai mimpi. Badan seperti dilempar ke sana kemari. Sungguh tidak nyaman tidur dalam kondisi demikian. Melihat keluar pun gelap sia-sia karena tiada yang bisa dilihat. Sekilas dari kaca depan, saya membayangkan medan yang dilewati berupa jalan kampung yang membelah perbukitan dan hutan yang menghubungkan peradaban antar desa.</p>
<p>Tidur dengan terguncang-guncang sungguh tidak menyenangkan, kawan! Bayangkan, selama sekitar 5 jam kami harus tidur sepotong-potong. Mimpi yang kami sulam seakan tercabik-cabik akibat kepala terantuk kursi atau tubuh terguncang dengan hebat. Berbagai posisi tidur pun kami coba. Hasilnya? Sama saja! Bahkan teman di samping yang dengan semena-mena dijadikan sandaran pun tak membuat keadaan lebih baik. Leher pegel, punggung capek, justru itu yang didapat!</p>
<p>Penderitaan kami akhirnya usai setelah kami tiba di Surade. Kami tiba lebih cepat satu jam dari estimasi waktu tempuh. Kami singgah di sebuah masjid untuk sekedar meluruskan otot yang tegang dan badan yang shock karena guncangan sembari menunggu Shubuh datang. Kami lebih memilih mengganti waktu tidur yang hilang selama perjalanan ke Surade dengan tidur di masjid. Maksud hati mengejar sunrise terpaksa kami tunda, meskipun Ujung Genteng sudah dekat, sekitar 22 km ke selatan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/tidur-di-masjid.jpg" alt="Melepas lelah di masjid di Surade" title="Melepas lelah di masjid di Surade" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1008" /></p>
<p>Yang menyebalkan, kami ditawari ojeg carteran begitu kami turun dari ELF. Kondisi yang tiada moda transportasi lain inilah yang membuat kami menjadi sasaran empuk. Cara mereka yang sedikit memaksa dan rese ini lah yang sangat menyebalkan.</p>
<p>Namun akhirnya kami harus berterima kasih kepada seorang bapak sopir angkot yang dengan setia dan gigih telah menunggui kami, yang dengan angkuhnya kami justru nyuekin bapak angkot tersebut. Bayangkan saja, selama 4 jam lebih kami ditunggui oleh dia. Bahkan sepertinya si bapak ini yang lebih antusias mengajak kami untuk segera ke Ujung Genteng. Makasih sekali bapak angkot, atas kebaikan Anda! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Hujan rintik-rintik mengawali perjalanan kami dari Surade ke Ujung Genteng. Sepanjang perjalanan Surade-Ujung Genteng, kami disuguhi pemandangan hijaunya sawah yang sesekali diselingi deretan pohon kelapa yang terjajar rapi. Di kejauhan, nampak horison samudra yang membuat kantuk yang masih menggelayut di mata sirna. Bau tanah dan dedaunan yang basah akiba hujan tadi pagi semakin menyegarkan kami.</p>
<p>Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 1 jam, kami pun tiba di pelabuhan nelayan sekaligus terminal akhir angkot Ujung Genteng. Berbagai perahu tradisional berserakan seolah menyambut kedatangan kami. Warna-warni lambung kapal, nama-nama yang tertulis, hingga bendera yang berkibar mulai dari kain biasa hingga bendera parpol menjadi pemandangan yang khas. Pantai ini sekilas mengingatkan saya akan pantai Drini di Jogja.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/perahu-nelayan.jpg" alt="Kumpulan perahu di Ujung Genteng" title="Kumpulan perahu di Ujung Genteng" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1004" /></p>
<p>Secara administratif, Ujung Genteng berada di Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Beberapa lokasi di pantai ini merupakan lahan latihan TNI AU. Disebut Ujung Genteng karena letaknya berada di ujung dan &#8220;genteng&#8221; alias buntu. Bila melihat ke peta, lokasi ini memang nyempil dan berada di salah satu ujung pulau Jawa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/peta-ujung-genteng.jpg" alt="Peta Ujung Genteng" title="Peta Ujung Genteng" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-994" /></p>
<p>Saya menduga daerah di sini cukup miskin. Hal ini tercermin dari suasana, bentuk-bentuk rumah, dan gaya pakaian penduduk sekitarnya. Sayang sekali daerah ini kurang mendapat perhatian dari pemda untuk menjadikannya obyek wisata unggulan yang ujung-ujungnya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.</p>
<p>Jalan berpasir dengan kubangan air menganga, rumah-rumah panggung dari kayu yang kusam, semakin menampakkan kondisi yang memprihatinkan. Beberapa ekor sapi tampak dibiarkan menggelandang di lahan berumput. Beberapa di antaranya memang diikat, namun lebih banyak yang dilepas begitu saja.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/jalan-berlubang.jpg" alt="Jalan dengan lubang air" title="Jalan dengan lubang air" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-998" /></p>
<p>Saya sempat terkejut ketika melihat sekor celeng dengan pita merah di lehernya melintas. Entah itu memang peliharaan alternatif warga di sini atau memang ada orang yang semalam mematikan lilin sehingga si celeng tidak dapat kembali ke wujud aslinya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/celeng-ujung-genteng.jpg" alt="Seekor celeng di Ujung Genteng" title="Seekor celeng di Ujung Genteng" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-996" /></p>
<p>Kami lantas bergegas berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tepi pantai mengarah ke utara menuju ke Pondok Adi, penginapan yang sudah kami pesan jauh-jauh hari untuk mengantisipasi kehabisan kamar. Jalanan setapak berpasir yang di tengah-tengahnya ada lubang berisi air menganga juga menjadi pemandangan yang kami temukan selain hamparan laut dan tumbuhan khas pantai yang menemani kami selama berjalan menuju pondokan. Sesekali kami berhenti untuk sekedar mencelupkan kaki ke air.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/di-pantai.jpg" alt="Berjalan di tepi pantai" title="Berjalan di tepi pantai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-997" /></p>
<p>Pantai di sepanjang Ujung Genteng ini cukup unik. Sepanjang garis pantai terdapat barisan karang selebar kurang lebih 500 meter yang berfungsi untuk memecah ombak. Ombak-ombak laut selatan yang terkenal besar langsung dibikin tak berkutik di sini sehingga pantai ini aman untuk digunakan mandi-mandi. Karakter pantai yang hampir sama dengan pantai-pantai di Gunung Kidul, Jogja, namun di pantai ini bisa digunakan untuk mandi-mandi, sedangkan yang di Jogja tidak bisa karena dangkal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/pantai-ujung-genteng.jpg" alt="Pantai Ujung Genteng" title="Pantai Ujung Genteng" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1001" /></p>
<p>Kami tiba di pondokan. Namun karena penghuni cottage kami sebelumnya belum check-out, kami menunggu check-in dengan berjalan-jalan dulu di pantai ini. Cottage kami memang cukup unik. Dengan bangunan berbentuk rumah panggung, dari balkon kita bisa langsung melihat ke pantai. Seolah-olah jarak pantai ke pondokan itu cuma <em>sak uncalan cawet</em>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/pondok-adi.jpg" alt="Pondok Adi, pemondokan kami" title="Pondok Adi, pemondokan kami" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1005" /></p>
<p>Halaman pondokan ditumbuhi pohon-pohon kelapa. Saya melihat seorang bapak beberapa kali memanjat pohon kelapa ini untuk mengambil air dari kembang kelapa yang untuk kemudian diolah menjadi gula kelapa. Dengan cekatan bapak ini memanjat dengan sebuah wadah yang tergantung di pingganggnya. Gula kelapa memang menjadi salah satu komoditas warga selain ikan tentunya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/pemanjat-kelapa.jpg" alt="Pemanjat kelapa" title="Pemanjat kelapa" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1002" /></p>
<p>Sekilas memang ngeri bila membayangkan tsunami karena letak pondokan yang &#8220;<em>sak uncalan cawet</em>&#8221; tadi. Namun menurut keterangan pemiliknya, air laut tidak pernah sampai ke halaman pondokan, kecuali ketika terjadi tsunami yang melanda Pangandaran beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Pondok Adi memang tidak menyediakan makanan secara default, namun di depan pemondokan terdapat sebuah tempat yang memang dikhususkan untuk acara bakar-bakar ikan. Kita bisa berbelanja ikan di pasar yang tentunya masih segar dan berharga murah, untuk kemudian dibakar di sini.</p>
<p>Namun sayang sekali, mendung yang sudah menggelayut akhirnya menumpahkan airnya. Rencana kami untuk berjalan-jalan menyusuri pantai dan melihat sunset pun sirna. Kebetulan laut di depan kami berada di sebelah barat, tentunya akan sangat mantab sekali bila melihat sang surya mulai menenggelamkan dirinya.</p>
<p>Hujan yang turun cukup deras membuat kami hanya bisa bermalas-malasan di pemondokan. Rencana kami untuk melihat penyu bertelur pun hampir gagal karena hujan tak kunjung berhenti. Untung saja, hujan yang ditumpahkan sejak sore membuat malam menjadi terang, sehingga kami bisa menuju ke Pantai Pangumbahan untuk melihat penyu bertelur!</p>
<p>Dengan menyewa ojek seharga 50 ribu rupiah untuk pulang pergi, kami pun berangkat menuju Pangumbahan yang berjarak sekitar 5 km dari pondokan kami. Rute ke sana pun tak main-main. Jalanan berlumpur, menerobos hutan, menyeberangi muara sungai, meniti jembatan kayu, membuat medan ini sangat sulit untuk ditempuh menggunakan mobil. Motor biasa pun saya rasa akan kesulitan, sehingga lebih baik menggunakan ojeg saja. Selain si pengemudi ojeg sudah hafal jalan dan medan, kondisi motor mereka pun memang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memudahkan untuk melahap medan tersebut.</p>
<p>Di tengah perjalanan, kami melewati Batu Nunggul, salah satu spot berselancar yang menjadi favorit para bule. Di sini pantainya mempunyai karakter yang berbeda dengan pantai di Ujung Genteng. Ombak besar dengan sudut pantai yang cukup curam membuat ombk menjadi lebih besar dan mudah untuk ditunggangi. Yang terkenal dari tempat ini adalah adanya Ombak Tujuh, yaitu 7 buah ombak besar yang datang secara berurutan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/pantai-pangumbahan.jpg" alt="Di Penangkaran Penyu, Pantai Pangumbahan" title="Di Penangkaran Penyu, Pantai Pangumbahan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1000" /></p>
<p>Tiba di Pangumbahan, kami segera bersiap. Penjaga berkali-kali mengingatkan kami untuk tidak membuat gaduh dan menyalakan senter karena cahaya dan kegaduhan akan membuat penyu enggan bertelur. Namun ketika si penyu sedang dalam proses bertelur atau usai bertelur, pengunjung dipersilakan untuk mendekat dan bahkan berfoto.</p>
<p>Dari sekian jenis penyu, Penyu Hijau (<em>Chelonia mydas</em>) lah yang paling banyak datang ke Pangumbahan. Kami begitu takjub melihat penyu yang ukurannya lebih besar dari bayangan kami. Seekor penyu bahkan bisa mencapai berat 80 kg!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/penyu-hijau.jpg" alt="Penyu Hijau!" title="Penyu Hijau!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1003" /></p>
<p>Setiap malam selalu ada saja penyu yang datang. Bulan Desember adalah bulan di mana penyu yang datang bertelur lebih banyak. Pasir di pantai ini memang halus dan hangat, sehingga ndak heran kalo penyu suka bertelur di sini.</p>
<p>Penyu dalam waktu sekitar 15 menit bisa bertelur hingga ratusan buah. Telurnya berwarna putih dan berukuran sebesar bola pingpong. Bila dipegang agak empuk-empuk namun kulitnya sangat kuat. Selama kurang lebih 40 hari, telur-telur penyu ini akan menetas dan melahirkan tukik. Tukik-tukik ini kemudian menuju ke lautan lepas untuk melanjutkan kehidupan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/telur-penyu.jpg" alt="Telur Penyu" title="Telur Penyu" width="200" height="267" class="alignright size-medium wp-image-1006" /></p>
<p>Saya jadi berpikir, dari sekian banyak tukik, berapa persen kah yang akan selamat dan tumbuh menjadi penyu dewasa? Karena para tukik ini harus menghadapi berbagai predator dan pemangsa. Belum lagi ada yang tega menjual telur-telur penyu ini untuk dikonsumsi! Jahat! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_silent.gif' alt='&#91;&#45;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#40;' /></p>
<p>Karena itu lah lembaga penangkaran penyu di Pangumbahan langsung memindahkan telur-telur penyu ini. Seorang petugas akan segera mengambil semua telur begitu dikeluarkan dan memindahkannya ke dalam sebuah ember. Setelah selesai, si penyu akan menutup lubang tempat telur tadi dia keluarkan dengan tungkai belakangnya meskipun lubang itu sudah tidak berisi telur lagi.</p>
<p>Setelah melihat 3 ekor penyu, kami pun memutuskan untuk pulang ke pemondokan. Bila hendak melihat pelepasan tukik-tukik ini ke laut, silakan datang pagi-pagi. Namun mengingat biaya transportasi untuk ke sini yang mahal, kami pun tidak berencana melihat pelepasan tukik-tukik ini meskipun sebenernya kepengen banget.</p>
<p>Sekitar tengah malam, terdengar suara gemuruh yang cukup menakutkan. Angin dingin menerobos dinding pemondokan kami yang memang terbuat dari anyaman bambu. melihat ke luar jendela semakin membuat saya bergidik ngeri. Rupanya suara bergemuruh itu berasal dari suara angin yang menggoyang daun-daun kelapa dengan kuat. Saya bahkan mengira suara itu berasal dari badai di tengah laut yang bergerak ke daratan.</p>
<p>Pagi-pagi benar kami pun keluar dari pemondokan dan bergegas ke pantai. Menyusuri pantai dan bermain-main di atas karang sepertinya menyenangkan. Menjelang siang, air laut yang jernih terlihat menyenangkan untuk dipakai untuk berenang. Segera saya turun ke pantai untuk menikmati kesegaran air laut setelah melihat Fame dan Nila yang sudah lebih dulu nyemplung ke laut. Tupic dan Suprie enggan bergabung bersama kami. Ah, rugi sekali kalian! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/mandi-di-pantai.jpg" alt="Menikmati kesegaran air laut selatan" title="Menikmati kesegaran air laut selatan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-999" /></p>
<p>Telentang di atas pasir putih dan membiarkan diri diterpa ombak rasanya begitu menyenangkan! Seakan semua penat dan lelah langsung sirna!</p>
<p>Kami tak bisa belama-lama karena sebelum tengah hari kami harus sudah sampai di Surade. Hari Jumat membuat kami mengejar waktu sholat Jumat di masjid tempat kami beristirahat ketika tiba. Badan lengket akibat mandi di pantai langsung segera dibersihkan dan bergegas packing.</p>
<p>Kami menggunakan angkot berwarna merah-biru yang membawa kami dari Ujung Genteng kembali ke Surade. Dari Surade kami bertemu dengan ELF yang sama ketika kami berangkat dari Lembur Situ. Kalo emang jodoh tak kan lari ke mana! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/angkot-surade.jpg" alt="Angkot Sukabumi-Surade" title="Angkot Sukabumi-Surade" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-995" /></p>
<p>Dan perjalanan dari Surade ke Lembur Situ kali ini mampu menjawab rasa penasaran kami mengenai apa yang membuat kami terguncang dan tak tidur semalaman. Rupanya benar, jalanan bergelombang dengan kelokan tajam serta berbukit lah penyebab semua itu!</p>
<p>Namun rupanya pemandangan yang ditawarkan rute &#8220;menyebalkan&#8221; ini begitu memesona. Hamparan kebun teh dari Perkebunan Teh Tugu serta pemandangan jurang-jurang mampu membuat kami sejenak melupakan goncangan-goncangan ini. Walau begitu, bagi yang tidak tahan, goncangan-goncangan ini tetep bisa membuat mabok perjalanan dan muntah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dari Lembur Situ, kami menuju ke Terminal Degung menggunakan angkot berwarna kuning untuk kemudian kembali ke Bogor. Dari Degung, kami kembali ke Bogor dengan (lagi-lagi) menggunakan ELF jurusan Sukabumi-Bogor. Jalanan macet karena week end membuat waktu tempuh molor!</p>
<p>Perjalanan menyenangkan kami akhirnya berakhir dan kami harus kembali ke peradaban yang menyebalkan. Jujur, selama di Ujung Genteng, kami semua merasa bahwa waktu seolah-olah berjalan lambat di sana. Begitu tenang dan damai!</p>
<p>Kalo dihitung-hitung, dengan bermodal uang sekitar 400 ribu rupiah per orang, kami bisa melakukan jeng-jeng ke Ujung Genteng. Itu sudah termasuk transportasi pergi-pulang, makan, jajan, dan penginapan. Tentu biaya tersebut menjadi ringan karena kami patungan.</p>
<p>Sebuah jeng-jeng akhir tahun yang menyenangkan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ujung-genteng.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>95</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

