<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Urban &amp; Perkotaan</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/destinasi/urban-perkotaan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Singapura: Mencoba MRT</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-mencoba-mrt.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-mencoba-mrt.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 20:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[MRT]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1468</guid>
		<description><![CDATA[Tak diragukan lagi, sistem transportasi massal (MRT &#8211; Mass Rapid Transportation) di Singapura memang pantas disebut sebagai salah satu yang terbaik. Efisiensi, ketepatan waktu, kemudahan, integrasi, dan kenyamanannya memang patut diacungi jempol. Sebagai pelancong yang sering mengandalkan layanan transportasi publik, saya sangat terbantu. Belum lagi soal papan petunjuk dan peta yang dapat dengan mudah ditemukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/03/mrt-lrt.jpg" alt="Peta rute MRT (Mass Rapit Transportation) dan LRT (Light Rail Transit) di Singapura" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1469" /></p>
<p>Tak diragukan lagi, sistem transportasi massal (MRT &#8211; Mass Rapid Transportation) di Singapura memang pantas disebut sebagai salah satu yang terbaik. Efisiensi, ketepatan waktu, kemudahan, integrasi, dan kenyamanannya memang patut diacungi jempol.</p>
<p>Sebagai pelancong yang sering mengandalkan layanan transportasi publik, saya sangat terbantu. Belum lagi soal papan petunjuk dan peta yang dapat dengan mudah ditemukan di setiap sudut, membuat orang bodoh yang nekad melancong tanpa rencana dan tujuan seperti saya bisa mendapatkan pencerahan hendak ke mana. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-1468"></span><a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html" title="">Setelah terkesima plus bingung di pelabuhan HarbourFront</a>, kami akhirnya memulai perjalanan dengan mencoba sistem transportasi di Singapura.</p>
<p>Untungnya di Singapura, bertebaran papan-papan petunjuk, sehingga dengan cukup mengikuti papan petunjuk yang ditulis dalam bahasa Inggris, Melayu, Mandarin, dan India, kita ndak bakal nyasar.</p>
<p>Saya yang biasanya bertanya pada satpam, polisi, atau orang yang &#8220;saya anggap tahu&#8221; sempet celingukan dan bingung, karena orang-orang yang saya cari ini ndak saya temukan! Semua informasi sudah terpampang jelas di papan-papan petunjuk.</p>
<p>Kami memilih untuk naik MRT saja, alat transportasi &#8220;default&#8221; bagi para pelancong dan masyarakat Singapura. Saya pun menuju ke terminal MRT HarbourFront, tentu setelah mengikuti panah di papan petunjuk. Dari pelabuhan, saya bahkan ndak perlu keluar karena pelabuhan dan stasiun MRT terhubung dan terintegrasi dengan toko-toko di sekelilingnya, sehingga suasananya lebih mirip mall daripada pelabuhan atau stasiun.</p>
<p>Sistem transportasi MRT dibangun pada November 1987 dan menjadi sistem transportasi tertua kedua di Asia Tenggara setelah sistem transportasi LRT di Filipina. Stasiun dan jalur-jalur MRT berada di bawah tanah (juga ada yg di atas &#8211; <em>skytrain</em>) dan memiliki sisitem pelindung dari goncangan gempa dan bom, menjangkau hampir seluruh pelosok Singapura dari barat-timur hingga selatan-utara.</p>
<p>Stasiun-stasiun MRT memiliki pendingin udara, sehingga kita ndak perlu khawatir kepanasan, meski di dalam terdapat banyak orang. Selain itu suasananya sangat bersih dan rapi jali. Semua perangkat sangat terawat dan berfungsi sempurna sehingga seolah-olah terlihat selalu baru.</p>
<p>Untuk naik MRT, ada beberapa cara, yaitu dengan membeli tiket sekali jalan yang bisa dibeli di mesin tiket swalayan (kiosk), atau membeli kartu tiket <a href="http://www.ezlink.com.sg/" title="EZ-Link" target="_blank">EZ-link</a> RF-ID yang bisa diisi ulang. Tidak ada unsur manusia (kondektur yang menarik ongkos atau memeriksa karcis), kecuali para pelayan yang membantu mengoperasikan kiosk dan di counter pembelian kartu tiket.</p>
<p><a href="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/kartu-stp.jpg"><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/kartu-stp.jpg" alt="Singapore Tourist Pass - tiket elektronik untuk naik MRT" title="Singapore Tourist Pass - tiket elektronik untuk naik MRT" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1496" /></a></p>
<p>Saya memilih membeli kartu <a href="http://www.publictransport.sg/publish/ptp/en/fares_ticketing/types_of_tickets/singapore_tourist.html" title="Singapore Tourist Pass" target="_blank">Singapore Tourist Pass</a> keluaran EZ-link seharga SG$ 18 (ongkos ini termasuk deposit ongkos perjalanan sebesar SG$ 10) untuk turis harian (ada beberapa jenis kartu, saya membeli STP yang harian karena saya di Singapura cuma sehari) yang bisa digunakan untuk naik kereta dan bus kota. </p>
<p>Ya, bus kota dan kereta terintegrasi dalam sistem MRT yang dioperasikan oleh perusahaan swasta <a href="http://www.smrt.com.sg/" title="SMRT Corporation" target="_blank">SMRT</a> dan <a href="http://www.sbstransit.com.sg/" title="SBS Transit Ltd" target="_blank">SBS-Transit</a>.</p>
<p>Kartu STP ini nanti bisa tukar kembali dan sisa uang deposit akan dikembalikan. Namun sebagai turis ndeso, saya lebih memilih menyimpannya untuk kenang-kenangan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dengan menggunakan kartu, sangat mempermudah dalam penghitungan ongkos dan efisiensi. Penghitungan ongkos dilakukan dengan menggunakan sistem poin, misalnya kita berangkat dari stasiun/terminal A ke stasiun/terminal D. Jika A bernilai poin 7,  dan D bernilai poin 4, maka ongkos yang harus dibayar adalah selisih dari poin ini (bukan dari jarak), yaitu 3.</p>
<p>Jarak yang dekat bukan berarti lebih murah. Nah, dengan poin bernilai 3 ini ongkosnya bisa dilihat di tabel yang juga terpampang jelas. Ongkos menggunakan kartu lebih murah daripada membeli tiket atau langsung menggunakan koin. Untuk pembayaran menggunakan koin dan tiket sekali jalan, saya ndak begitu ngerti, tapi harusnya sih cara membayarnya hampir sama kayak kita membayar ongkos kendaraan umum. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ketika hendak naik kereta MRT, kita harus menempelkan kartu ke mesin (saya menggunakan kartu tiket) untuk membuka gerbang dan mencatat lokasi kita. Jika ongkos di kartu tidak mencukupi, gerbang tidak akan terbuka dan akan memberikan peringatan.</p>
<p>Tiket elektronik berbentuk kartu ini menggunakan teknologi <em>contactless smart card</em> yang berbasis pada teknologi frekuensi radio (RF-ID). Kartu sejenis yang menggunakan teknologi ini adalah kartu Flazz BCA untuk pembayaran. Dengan hanya mendekatkan kartu ke mesin, maka data di kartu akan terbaca. Beberapa kali saya melihat orang-orang menempelkan dompet atau tas mereka yang menyimpan kartu ini ke mesin, dan mesin bisa membaca kartu ini tanpa mengeluarkannya.</p>
<p>Ketika kita turun dan keluar dari stasiun, kita juga harus menempelkan kartu ini ke mesin untuk membuka gerbang dan memberi tahu posisi kita sehingga jarak tempuh bisa dihitung dan ongkos langsung dipotong dari uang deposit. Ongkosnya cukup murah, paling mahal sekitar SG$ 2 (rata-rata cuma kurang dari SG$ 1).</p>
<p>Kereta <em>subway</em> MRT bisa dibilang tidak dapat terlihat bentuknya karena jalur-jalur kereta tertutupi oleh pintu-pintu kaca otomatis. Saya melihat berbagai petunjuk, mulai dari peta rute, layar LCD dan dot matrix yang memberikan petunjuk jalur, arah, hingga perkiraan waktu tiba kereta.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/03/screen-doors.jpg" alt="Pintu-pintu kaca otomatis" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1472" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/03/sign-board.jpg" alt="Papan-papan petunjuk" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1473" /></p>
<p>Karena bingung hendak ke mana, kami pun melihat ke <a href="http://www.smrt.com.sg/trains/network_map.asp" title="MRT &#038; LRT System map" target="_blank">papan peta rute MRT</a>. Dengan mudah bisa dilihat tempat-tempat yang hendak dituju, terus menggunakan kereta jalur apa, dan transit di stasiun mana. Kami memutuskan untuk ke Merlion Park, <em>landmark</em> Singapura yang terkenal itu. Kami pun memutuskan untuk turun di City Hall (balai kota) dan nanti tanya-tanya orang saja pas disana (dan belakangan saya ketahui, untuk ke Merlion Park harusnya turun di Raffles Place di daerah Downtown Core).</p>
<p>Dari HarbourFront, kami naik kereta jalur North East (NE) Line yang dioperasikan oleh SBS Transit yang menuju Punggol, kemudian berpindah kereta di Dhoby Gaut naik kereta jalur North Shouth Line (dioperasikan oleh SMRT) menuju Marina Bay dan turun di City Hall. Untuk menuju ke City Hall juga bisa dengant transit di Outram Park untuk berganti kereta jalur East West (EW) line yang dioperasikan SMRT.</p>
<p>Di dalam kereta, suasana mirip di film-film. Bedanya, ini di Singapura (ya iya lah)! Sebenernya kalo dibandingkan, suasananya mirip macam di KRL Jabodetabek atau Prameks, cuma yang membedakan adalah budaya penumpang dan kondisi kereta juga stasiunnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Orang-orang Singapura itu mau tertib antre, mendahulukan yang keluar dan masuk dengan teratur. Meski ramai dan berdesak-desakan, tapi sangat tertib dan rapi. Bahkan di tengah derap langkah kaki, hampir tidak ada suara manusia. Rame tapi sunyi saya bilang. Umpel-umpelan tapi teratur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/in-mrt.jpg" alt="Suasana di dalam MRT" title="Suasana di dalam MRT" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1497" /></p>
<p>Kami sampai di City Hall. Setelah berkutat di suasana &#8220;mall&#8221;, ini pertama kalinya saya liat permukaan Singapura. Dengan menggunakan eskalator berjenis &#8220;heavy-duty&#8221; yang pergeserannya sangat cepat untuk memperlancar perpindahan manusia, kami sampai juga di permukaan.</p>
<p>Berbeda suasana dengan di bawah tanah, suasana di permukaan relatif lebih sepi. Boleh dibilang, kehidupan orang Singapura itu ada di mall, di subway, dan stasiun MRT. Di luar bener-bener lebih sepi. Mungkin karena kami berkunjung pada hari libur, jadi terasa lebih sepi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/capitol-building.jpg" alt="Capitol Building" title="Capitol Building" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1503" /></p>
<p>Saya langsung terkagum-kagum dengan banyaknya gedung-gedung tua yang bersih, tertata rapi, dan difungsikan. Salah satu gedung yang saya lihat pertama kali adalah gedung Capitol Building yang terletak di ujung perempatan Stamford Rd dan North Bridge Rd.</p>
<p>Di sebelahnya, persis terletak gereja katedral beraliran <em>anglikan</em> St. Andrew yang dibangun pada tahun 1835-1836. Kami berjalan menyusuri Stamford Rd lalu berbelok ke barat daya menyusuri St. Andrew&#8217;s Rd sambil melintasi City Hall Park yang berada persis di depan gedung City Hall (balai kota).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/di-taman.jpg" alt="istirahat di taman City Hall" title="istirahat di taman City Hall" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1498" /></p>
<p>Meski jarak dari City Hall ke Merlion Park itu lumayan jauh, namun berjalan kaki sembari memanggul tas punggung rasanya nyaman. Selain karena suasananya yang sepi dari kendaraan (pejalan kaki sangat dihormati di sini, bahkan sepeda pun harus ngalah ama pejalan kaki) pemandangannya pun rapi.</p>
<p>Kami bahkan sempat berhenti dan duduk-duduk sejenak di taman sembari makan cemilan. Taman yang rindang, bersih tanpa sampah, memang nyaman untuk menjadi tempat beristirahat. Sungguh berbeda dengan di Indonesia, melihat taman begini, para pedagang kaki lima pun akan langsung membuka lapak. Dan inilah yang tidak saya temukan di sini, ketika kehausan, susah rasanya cari pedagang teh botol yang mangkal, hehehe.</p>
<p>Capek beristirahat (loh, istirahat kok capek?) kami melanjutkan perjalanan. Kami melewati jembatan tua namun tetap kokoh, Anderson Bridge, yang melintasi Singapore River, yang awalnya dibangun untuk menggantikan Cavenagh Bridge yang sudah overload. Jembatan Anderson ini dibangun pada tahun 1908-1910.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/anderson-bridge.jpg" alt="Anderson Bridge yang dibangun tahun 1908-1910" title="Anderson Bridge yang dibangun tahun 1908-1910" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1499" /></p>
<p>Setelah menandai wilayah dengan pipis (tentunya di toilet umum yang bersih banget) di kawasan Merlion Park, kami langsung tertarik nyobain Singapore River Cruise (yang akhirnya kami sesali karena ongkosnya lumayan mahal dan menguras duit, yaitu SG$ 15!).</p>
<p>Singapore River Cruise adalah salah satu paket wisata yang ditawarkan di sekitar Downtown Core. Dengan mengunakan kapal yang dulu digunakan oleh orang-orang China ketika datang ke Singapura (namanya bamboat) kita akan dibawa berkeliling menyusuri Singapore River yang airnya bersih (beda banget ama kali-kali di daerah perkotaan di Indonesia).</p>
<p>Setiap melewati sebuah obyek wisata yang sebenernya biasa-biasa aja tapi dikemas dengan baik, yang kebanyakan menceritakan sejarah singkat jembatan-jembatan (bener-bener sigkat, cuma nama, tahun pembangunan, jenis jembatan, dan fungsinya pada masa itu) yang melintasi Singapore River yang dijelaskan melalui rekaman CD yang dioperasikan oleh &#8220;nakhoda&#8221;.</p>
<p>Sangat amat mesin dan miskin interaksi antar manusia. Yang agak menyesakkan, saya mendengar backsound lagu &#8220;Rasa Sayange&#8221; yang dimainkan secara instrumental sebagai lagu pengiring penjelasan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/bamboat.jpg" alt="Bamboat Singapore River Cruise yang melintas di depan gedung Esplanade Theater" title="Bamboat Singapore River Cruise yang melintas di depan gedung Esplanade Theater" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1500" /></p>
<p>Selesai tour jembatan Singapore River Cruise dan capek berputar-putar di sekitar Raffles Park, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Bugis, daerah yang katanya &#8220;Glodok-nya&#8221; Singapura, untuk sekedar beli oleh-oleh (<a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-dan-oleh-oleh.html" title="Jeng-Jeng dan Oleh-Oleh">padahal saya paling males kalo diminta bawa oleh-oleh!</a>).</p>
<p>Karena malas dengan suasana &#8220;mall&#8221; di stasiun kereta MRT, kami pun nyobain naik bus kota. Selain pengen ngerasain naik bus kota di Singapura, juga pengen liat keadaan kota Singapura.</p>
<p>Seperti biasa, karena ndak tau naik busa jalur mana, kami pun menuju ke halte bus terdekat dan mencoba membaca peta dan rute. Okey, setelah cukup lama kami memahami peta, akhirnya kami pun sedikit mengerti dan kami naik bus nomor 130 dari halte Opp The Adelphi yang terletak di Coleman St tepat di belakang Gereja Katedral St. Andrew menuju Bugis Station di Victoria St.</p>
<p>Masing-masing bus itu ternyata ndak berhenti di setiap halte yang dilewati. Dan bus-bus ini hanya berhenti di halte yang tela ditentukan, jadi nggak mungkin kita melambaikan tangan untuk nyegat bus kayak nyegat Metromini.</p>
<p>Yang mengagumkan, bus-bus ini datang dan pergi selalu tepat waktu. Di halte terdapat papan display yang menunjukkan perkiraan tibanya bus di halte dalam menit, sehingga kita bisa tau bus nomor 130 (misalnya) akan tiba di halte 3 menit lagi, dan bener saja 3 menit kemudian bus itu datang persis dengan waktu yang terpampang! Ndak ada tuh ceritanya kita udah antre lama tanpa kepastian dan celakanya ternyata bus yang ditunggu tak juga tiba.</p>
<p>Selain papan display, terpampang jelas peta rute, daftar halte yang disinggahi oleh bus dengan nomor jalur tertentu, atau daftar nomor bus lengkap dengan tujuan-tujuannya, juga tabel harga yang penghitungannya mirip dengan penghitungan tarif kereta MRT.</p>
<p>Kalo saya, cara membaca petanya begini, temukan halte tujuan, lalu lihat bus-bus nomor berapa saja yang berhenti di halte tujuan kita tersebut yang melintas di halte tempat kita akan naik. Atau jika sudah tau nomor busnya, tinggal baca rute si bus ini berhenti di halte mana saja. Bisa juga dengan mengurutkan jalur-jalur bus yang dibedakan warnanya itu.</p>
<p>Misalnya ketika kami berada di <a href="http://www.publictransport.sg/publish/etc/medialib/test2.Par.97802.File.dat/Key_Bus_Service_Map_Orchard.pdf" title="Key Bus Service Map - Orchard">Orchard Rd.</a> dan hendak balik ke HarbourFront, dari halte Lucky Plaza, ternyata rute ke HarbourFront (bus nomor 143) yang kami cari ndak berhenti di sana, dan kami kudu jalan dulu ke halte Opp Meritus Mandarin yang jaraknya sekitar 300 meter dari halte Lucky Plaza. </p>
<p>Ketika bus datang, penumpang masuk melalui pintu depan dan yang turun melalui pintu tengah. Namun bisa juga kalo ndak rame, bisa turun dari pintu mana saja. Ketika naik, jangan lupa menempelkan STP ke mesin pembaca untuk menandai ongkos naik, dan ketika turun menempelkan kembali di mesin yang terletak di deket pintu.</p>
<p>Namun ketika turun di Bugis Stasion, kami lupa menempelkan STP, dan sepertinya sistem bisa langsung mengenali posisi kami ketika kami masuk stasiun kereta MRT di Bugis Station setelah membeli oleh-oleh untuk menuju Orchard Road.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/di-dalam-bus.jpg" alt="Suasana di dalam bus" title="Suasana di dalam bus" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1501" /></p>
<p>Suasana di dalam bus cukup nyaman. Bus-bus ini sebagian memiliki ruang khusus untuk pengguna kursi roda yang ditandai dengan tanda tertentu. Tanda kursi roda ini pun akan muncul di display bus yang akan tiba di halte, sehingga para pengguna kursi roda bisa tau bus mana yang akan dinaikinya. Bus ini pun dirancang khusus untuk memudahkan pengguna kursi roda masuk dan keluar bus, dan apabila ada kesulitan, sopir bus akan dengan sigap membantu.</p>
<p>Kami mencoba dua jenis bus. Bus 130 yang kami tumpangi dari halte Opp The Adelphi menuju Bugis Station bentuknya bus biasa, dan ketika naik bus 143 dari halte Opp Meritus Mandarin menuju HarbourFront, bus yang kami tumpangi adalah bus tingkat (double decker).</p>
<p>Meski sama-sama &#8220;double decker&#8221;, bus umum beda dengan bus tour yang atapnya terbuka, yang untuk naik bus dan ikut tour itu harus membayar SG$ 15 hanya untuk melihat-lihat kota Singapura! Naik bus tingkat begini, mengingatkan saya jaman SD, pernah naik bus tingkat yang dioperasikan DAMRI. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami pun duduk di atas, supaya bisa menikmati suasana kota Singapura dengan lebih leluasa. Ketika bus berhenti di halte, orang yang di atas dan akan turun akan memencet suatu tombol di bagian tiang dekat tangga turun, untuk memberi tahu sopir jika ada yang akan turun. Tombol ini sangat berguna ketika penumpang sangat ramai, ketika penumpang di atas sulit turun, maka dengan memencet tombol ini, sopir akan menunggu lebih lama.</p>
<p>Begitulah pengalaman saya selama nyobain sistem transportasi di Singapura. Jika disuruh memilih, saya lebih tertarik untuk menjelajah dengan menggunakan bus kota daripada kereta. Selain saya kurang sreg dengan suasana mall di stasiun-stasiunnya, dengan menggunakan bus kota saya bisa lebih tau jalan dan rute.</p>
<p>Satu lagi yang saya kagumi dari Singapura, mereka mampu mengemas sesuatu yang biasa menjadi hal yang bisa dijual. Perawatan bangunan peninggalan bersejarahnya pun begitu keren. Gedung-gedung tua itu dirawat dan dimanfaatkan, sehingga bisa berdiri berdampingan dengan gedung-gedung pencakar langit.</p>
<p>Kapan ya, Indonesia bisa kayak gini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-mencoba-mrt.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Singapura: Menyeberang Melalui Laut</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 11:30:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1489</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya ke luar negeri. Memang ndeso banget saya ini. Lumayan lah, jadi paspor saya sekarang udah ada capnya. Buat orang katrok bin ndeso macam saya, Singapura itu negeri yang hebat. Yang saya kagumi dari negeri yang luasnya hampir sama kayak DKI Jakarta ini adalah keteraturan, kerapian, tertataan, dan sistem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/singapore.jpg" alt="di Merlion Park" title="di Merlion Park" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1490" /></p>
<p>Akhirnya saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya ke luar negeri. Memang ndeso banget saya ini. Lumayan lah, jadi paspor saya sekarang udah ada capnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Buat orang katrok bin ndeso macam saya, Singapura itu negeri yang hebat. Yang saya kagumi dari negeri yang luasnya hampir sama kayak DKI Jakarta ini adalah keteraturan, kerapian, tertataan, dan sistem transportasi yang keren. Singapura juga pandai mengemas sesuatu, yang sebenernya biasa aja, bisa dijual dengan mahal.</p>
<p><span id="more-1489"></span>Seperti biasa, tiada rencana sama sekali untuk mengunjungi negeri yang dulunya bernama Temasek ini. Sebelum <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-batam.html" title="Jeng-Jeng Batam">berangkat ke Batam</a>, saya memang sudah siap-siap bawa paspor, siapa tau bisa nyeberang ke Singapura karena jadwal trip yang mepet.</p>
<p>Dan akhirnya kami bisa menyeberang, tanpa persiapan matang, tanpa uang yang cukup, tanpa modal peta dan mau ke mana, tujuan kami cuma satu: menginjak-injak tanah negeri Singa!</p>
<p>Gara-gara malamnya nongkrong di angkringan di depan hotel bareng temen-temen <a href="http://batamblogger.com/" title="Batam Blogger" taget="_blank">Blogger Batam</a>, kami bangun kesiangan. Sekitar jam 7 kami segera packing seadanya, kemudian diantar oleh sopir hotel, kami membeli tiket di agen perjalanan dan menukar uang di <em>money changer</em> yang banyak tersebar di daerah Nagoya.</p>
<p>Jam 8 kami sampai di Pelabuhan Batam Center dan segera check-in di counter <a href="http://www.penguin.com.sg/" title="Penguin" target="_blank">Penguin</a>, maskapai kapal asal Singapura yang akan kami tumpangi. Selain di agen, tiket juga bisa dibeli langsung ketika di pelabuhan. Harga tiketnya adalah SGD 17 (sekitar 110 ribu rupiah) untuk sekali jalan, bisa dibeli pake mata uang rupiah atau dollar Singapura. </p>
<p>Di Pelabuhan Batam Center memang banyak tersedia pilihan operator kapal, selain Penguin, operator <a href="http://www.batamfast.com/" title="Batam Fast" target="_blank">Batam Fast</a> juga sering dijadikan pilihan.</p>
<p>Untuk menyeberang ke Singapura dari Batam, bisa melalui beberapa pelabuhan. Selain Batam Center, kita bisa juga menuju Singapura dengan naik kapal cepat dari Harbour Bay, Sekupang, atau Waterfront City. Yang paling banyak pilihan operatornya sih, memang di Batam Center.</p>
<p>Prosedurnya sih nggak jauh beda seperti kita mo naik pesawat, kita <em>check-in</em> di counter sesuai operator/maskapai dengan menyerahkan tiket, paspor, kartu NPWP bila punya untuk fasilitas bebas fiskal, dan membayar pajak pelabuhan yang besarnya 7 dollar Singapura (sekitar 42 ribu rupiah). Selesai <em>check-in</em>, kita akan diberi <em>boarding-pass</em> dan dokumen <em>exit permit</em> (sebagai ijin untuk keluar Indonesia) dan <em>entry permit</em> (untuk ijin masuk ke Singapura).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/dokumen-paspor.jpg" alt="Paspor, dokumen exit permit, dokumen entry permit, dan boarding-pass." title="Paspor, dokumen exit permit, dokumen entry permit, dan boarding-pass." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1492" /></p>
<p>Setelah mendapat boarding-pass, kami harus menuju ke bagian fiskal, untuk mendapat tanda bebas fiskal (karena saya punya NPWP) dengan menunjukkan paspor dan kartu NPWP, kemudian <em>boarding-pass</em> kita akan mendapat tanda khusus yang menyatakan bebas fiskal ketika dipindai. Kartu <em>boarding-pass</em> ini berupa RF-ID (Radio Frequency Identification) card, di mana kartu ini menyimpan data dan informasi kita, yang diakses dengan sinyal radio berfrekuensi tertentu.</p>
<p>Setelah mendapat tanda bebas fiskal, kami menuju ke bagian imigrasi, bagian yang entah kenapa menurut saya adalah bagian yang paling menegangkan, karena di sini nasib kita seolah-olah diuji, boleh pergi atau tidak.</p>
<p>Setelah dokumen-dokumen saya diperiksa, paspor dicap, dan exit permit dicap dan disobek sebagai tanda keluar Indonesia (sobekan lainnya harus disimpan dan dikembalikan ketika datang ke Indonesia), urusan imigrasi selesai.</p>
<p>Rekan seperjalanan saya, <a href="http://cornila.posterous.com/" title="Cornila Desyana" target="_blank">Nila</a> ternyata mendapat masalah. Paspornya 3 bulan lagi habis masa berlakunya. Ketika data paspor dimasukkan ke dalam sistem, paspornya tidak dikenal. Menurut keterangan petugas yang sok galak itu, untuk keluar negeri, minimal paspor habis masa berlakunya 6 bulan lagi. Saya yang lolos karena tidak bermasalah, akhirnya jadi ikut deg-degan karena ini.</p>
<p>Nila kemudian digiring ke ruangan khusus. Di dalam sana, dia diinterogasi oleh petugas tentang maksud dan tujuannya keluar negeri. Saya duduk harap-harap cemas di luar sembari menunggu. Akhirnya, &#8220;jdok! jdok!&#8221;, paspor dicap dan Nila diijinkan keluar, dengan catatan &#8220;resiko ditanggung sendiri&#8221;. Menurut petugas imigrasi, Nila boleh masuk ke Singapura atau tidak, tergantung oleh petugas imigrasi Singapura, itu pun ngomongnya dengan gaya masih sok galak.</p>
<p>Urusan imigrasi selesai, kami akhirnya naik ke kapal. Kami melewati semacam mesin boarding, dengan menempelkan <em>boarding-pass</em> ke mesin, dan data nama secara otomatis akan tercatat sebagai penumpang di kapal. <em>Boarding-pass</em> ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal.</p>
<p>Perjalanan dari Batam ke Singapura memakan waktu kurang lebih 45 menit. Di Singapura, pelabuhan akhir dari Batam adalah di HarbourFront, yang juga menjadi pelabuah kapal pesiar (<em>cruise ship</em>) besar serta pintu gerbang menuju Sentosa Island (yang cuma selemparan kolor dari HarbourFront).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/kapal.jpg" alt="Kapal cepat milik operator Penguin" title="Kapal cepat milik operator Penguin" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1491" /></p>
<p>Kapal Penguin termasuk jenis ferri cepat yang memiliki daya tampung sekitar 50 orang. Di Pelabuhan Marina, Ancol, jakarta, yang melayani rute ke resort-resort mewah di Kepulauan Seribu, ukurannya lebih kecil, meski bentuknya mirip-mirip. Beberapa ferri yang saya lihat bersliweran di sini berjenis <em>Catamaran</em> di mana memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibanding dengan versi yang saya tumpangi ini.</p>
<p>Kursinya cukup nyaman dan di dalam terdapat pendingin udara. Bila ingin menikmati angin laut, pindah lah ke bagian buritan, di sana terdapat ruang terbuka berkanopi sehingga angin bisa langsung menerpa wajah.</p>
<p>Pemandangan di laut adalah kapal-kapal besar, kapal tangker, dan ferri yang berkeliaran di seputar Selat Malaka. Selat ini memang merupakan salah satu laut tersibuk di dunia, karena posisinya yang sangat strategis. Pantas saja sejak jaman dulu hingga sekarang, selat ini diperebutkan oleh banyak negara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/ketibaan.jpg" alt="Papan petunjuk dalam berbagai bahasa" title="Papan petunjuk dalam berbagai bahasa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1493" /></p>
<p>Setelah tertidur karena keenakan digoyang-goyang ombak, kami pun tiba di HarbourFront, Singapura. Turun dari kapal, papan-papan peringatan berukuran besar bertuliskan dilarang membawa rokok, senjata, dan narkotika beserta ancaman hukuman langsung menyambut.</p>
<p>Papan-papan ini sangat miskin kata-kata penjelasan, namun bisa langsung dimengerti, <em>tunjep poin</em>, karena berupa gambar dan bentuk hukuman yang akan diberikan. Kondisi papan dan penempatannya pun tersebar di mana-mana, dan posisinya bisa dengan mudah dilihat. Contohnya ada <a href="http://matriphe.posterous.com/anjuran-dan-larangan" title="Anjuran dan Larangan" target="_blank">di sini</a> dan <a href="http://cornila.posterous.com/kota-seribu-petunjuk-dan-anjuran" title="Negara Seribu Petunjuk dan Anjuran" target="blank">di situ</a>.</p>
<p>Begitu masuk ke terminal pelabuhan, kami langsung menghadap ke counter imigrasi! Kami pun langsung deg-degan lagi, namun tetap berusaha menenangkan diri. Si Nila sudah menyusun berbagai rencana dan argumen kalo misalnya dia ditanya sebab paspor dan ijin masuk, seperti apa yang dibilang petugas imigrasi di Indonesia.</p>
<p>Dan, tibalah giliran kami. Saya dilayani oleh petugas perempuan berparas India, begitu melihat paspor hijau saya, si petugas menyapa dengan ramah namun terbersit nada tegas, dalam bahasa Melayu, sambil tangannya cekatan memeriksa dan memindai dokumen-dokumen saya.</p>
<p>&#8220;Pernah ke Singapura sebelumnya?&#8221;<br />
&#8220;Belum&#8221;<br />
&#8220;Pulang balik atau menginap?&#8221;<br />
&#8220;Pulang balik..&#8221;<br />
&#8220;Sayang sekali, Anda seharusnya menginap di Singapura..&#8221;<br />
Saya cuma senyum-senyum..</p>
<p>Jdok! Jdok! Paspor saya pun dicap untuk yang kedua kalinya. Entry permit dan paspor dikembalikan kepada saya dan dia bilang sambil tersenyum, &#8220;Selamat datang di Singapura!&#8221;.</p>
<p>Saya melirik ke arah Nila yang ada di counter imigrasi sebelah, yang melayani seorang pemuda. Tak berapa lama, Nila selesai dan dengan wajah sumringah mendekati saya. &#8220;Petugasnya baik banget!! Beda ama petugas imigrasi Indonesia!&#8221;, sungut Nila antara gembira sambil dongkol. Gembira karena diloloskan oleh petugas imigrasi Singapura dan dongkol dengan sikap petugas imigrasi Indonesia.</p>
<p>Menurut Nila, petugas imigrasi Singapura tidak terlalu mempermasalahkan soal masa berlaku paspor, selama masih berlaku, mereka menerima. Namun si petugas tersebut menyarankan agar segera mengurus pergantian paspor (di Indonesia, sekarang tidak ada istilah perpanjangan paspor, namun penggantian paspor). Alasannya bukan karena bernada &#8220;menyalahkan&#8221; seperti yang dipaparkan oleh petugas imigrasi Indonesia, namun lebih ke semacam &#8220;saran&#8221;. </p>
<p>&#8220;Anda harus segera mengurus paspor Anda, supaya Anda bisa datang ke sini lagi&#8221;, begitu kira-kira ucapan si mas-mas petugas imigrasi yang ditirukan oleh Nila. Benar-benar suatu pelayanan yang beda banget dengan pelayanan di Indonesia.</p>
<p>Kami pun turun dari bagian imigrasi dengan perasaan bahagia yang tertahan. Sebenernya pengen melonjak-lonjak, namun kami tahan.</p>
<p>Yang pertama kali saya lakukan, menyesuaikan zona waktu di arloji dengan menambahkan satu jam. Ya, meski posisi Singapura lebih ke barat daripada Jakarta, zona waktu Singapura lebih dulu satu jam dari Jakarta.</p>
<p>Kami pun menuju ke counter Penguin, untuk memesan waktu keberangkatan pulang. Kami di Batam sudah membeli tiket pulang-pergi, sehingga ketika di Singapura, kami cukup membooking dan sekalian <em>check-in</em>. Setelah melalui prosedur yang hampir sama ketika di Batam (bedanya, kami membayar pajak pelabuhan sebesar SGD 6), kami mendapat <em>boarding-pass</em>.</p>
<p>Selesai memesan tiket pulang kami pun turun ke hall pelabuhan. Kami sempat bingung mau ke mana karena kondisi pelabuhan tak ubahnya semacam mall. Kami bingung hendak ke mana, mau naik apa, dan mau ngapain..</p>
<p>Buat saya, yang penting ini: Maaakk!! Anakmu ini sudah menginjak-injak tanah negeri Singa!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Batam</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-batam.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-batam.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 11:07:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Balerang]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[travelwan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1474</guid>
		<description><![CDATA[Batam memang pulau yang unik. Bila mendengar kata &#8220;Batam&#8221;, selalu terbersit nama &#8220;Singapura&#8221; (karena dekatnya jarak dari Batam ke Singapura, sehingga Batam menjadi salah satu pintu gerbang ke Singapura), barang-barang murah (baik yang orisinil atau KW-1), kawasan industri, hingga memiliki dua &#8220;pemerintahan&#8221;. Saya berkesempatan mengunjungi pulau ini atas dukungan dari Travelwan, sebuah majalah pariwisata yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/batam.jpg" alt="di Batam!" title="di Batam!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1475" /></p>
<p>Batam memang pulau yang unik. Bila mendengar kata &#8220;Batam&#8221;, selalu terbersit nama &#8220;Singapura&#8221; (karena dekatnya jarak dari Batam ke Singapura, sehingga Batam menjadi salah satu pintu gerbang ke Singapura), barang-barang murah (baik yang orisinil atau KW-1), kawasan industri, hingga memiliki dua &#8220;pemerintahan&#8221;.</p>
<p>Saya berkesempatan mengunjungi pulau ini atas dukungan dari <a href="http://travelwan.com" title="Travelwan" target="_blank">Travelwan</a>, sebuah majalah pariwisata yang <em>concern</em> ke bidang industri pariwisata dan para pelaku industri wisata (<em>tour agent</em> dan hotel). Terima kasih, Travelwan!</p>
<p><span id="more-1474"></span>Penerbangan paling pagi adalah salah satu hal yang kurang saya suka. Apalagi kalo bukan susahnya melawan rasa kantuk ketika bangun pagi. Namun di sisi positifnya, saya suka melihat suasana Jakarta yang senyap. Jarak tempuh ke Bandara Soekarno-Hatta yang minimal 1 jam bisa menyusut menjadi setengahnya.</p>
<p>Setelah datang kepagian di bandara, <em>check-in</em>, dan <em>take-off</em>, selama di atas pesawat saya habiskan dengan tidur. Rasanya ndak rela waktu tidur kepotong gara-gara kudu pagi-pagi ke bandara. Jarak tempuh Jakarta-Batam, normalnya sekitar satu setengah jam. Lumayan lah buat merem-merem sejenak.</p>
<p>Menjelang landing, terlihat gugusan kepulauan Riau nampak susun menyusun di atas laut biru, dari atas pesawat. Samar-samar, jembatan Balerang yang menjadi icon dari kota Batam terlihat, sebagai pertanda bahwa kami sudah dekat dan hampir mendarat.</p>
<p>Begitu mendarat di Bandara Hang Nadim (yang namanya diambil dari pejuang Melayu yang bermarkas di pulau Batam ketika melawan Portugis di Malaka), kesan pertama saya: Batam panas banget!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/hang-nadim.jpg" alt="Bandara Hang Nadim, Batam" title="Bandara Hang Nadim, Batam" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1484" /></p>
<p>Maklum saja, tanah di Batam itu gersang banget, dengan warna tanah yang merah bata karena mengandung bauksit, sehingga tidak subur. Ndak heran kalo di Batam itu tidak ada sawah dan kebun, sehingga sayur mayur dan kebutuhan pokok diimpor dari Jawa/Sumatera.</p>
<p>Saya dijemput oleh pihak <a href="http://www.puri-garden.com/" title="Hote Puri Garden" target="_blank">Hotel Puri Garden</a> (+62 778 458 888) tempat saya akan menginap, dengan menggunakan mobil yang saya jarang melihat di Jakarta.</p>
<p>&#8220;Ini mobil dari Malaysia, Mas. Di sini banyak berseliweran mobil-mobil bekas dari Singapura dan Malaysia, tandanya adalah plat nomornya menggunakan kode huruf X di bagian belakang, misal BP 1234 DX. Mobil-mobil berplat nomor X ini tidak bisa keluar dari pulau Batam,&#8221; jelas Mas Dhani, pihak hotel (Manager Marketing) yang menjemput saya.</p>
<p>Soal tranportasi umum, di Batam sangat jarang ditemukan angkutan umum. Paling banyak sih taksi (diucapkan sebagai &#8220;teksi&#8221;) tanpa argo, sehingga penumpang harus tawar menawar. Bahkan yang lebih ekstrim, taksi yang berisi penumpang (kalo masih ada tempat) bisa diberhentikan di tengah jalan, selama tujuan searah. Mirip kayak kita nyegat angkot!</p>
<p>Beberapa taksi di Batam memang sudah menerapkan sistem argo, tapi itu hanya di beberapa armada saja. Selebihnya ya taksi angkot itu.</p>
<p>Kami menuju ke Nagoya, yang dulunya bernama Lubuk Baja, daerah perdagangan dan hiburan paling semarak di Batam. Selain mall, ruko-ruko, dan hotel, di Nagoya bisa ditemukan dengan mudah cafe, pub, dan diskotik. Maklum saja, Nagoya merupakan salah satu tempat kehidupan malam terbesar di Batam. &#8220;Kalo di Jakarta, pub atau diskotik tutup jam 4 (pagi) atau Shubuh, di sini, diskotik bubar itu jam 7 pagi,&#8221; jelas Mas Dhani.</p>
<p>&#8220;Di sini dulu jadi salah satu pusat perjudian &#8216;resmi&#8217; di Indonesia, namun semenjak Kapolri dijabat oleh Soetanto (sekitar tahun 2005), maka pusat-pusat judi ini tutup, sehingga banyak ruko-ruko yang kosong,&#8221; jelas Mas Dhani ketika saya bertanya kenapa banyak ruko dan bangunan kosong yang terbengkalai. &#8220;Yang punya kebanyakan orang <em>Singapur</em>, Mas..,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Setelah meletakkan barang bawaan di hotel yang terletak persis di depan Nagoya Hill, salah satu mall terbesar di Batam (kalo di Jakarta bentuknya kayak ITC atau ruko-ruko), kami diajak menuju Batam Center, pusat pemerintahan dan administrasi Kota Batam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/peta-batam.jpg" alt="Peta Batam (kredit peta: Google Maps)" title="Peta Batam (kredit peta: Google Maps)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1478" /></p>
<p>Batam memiliki dua &#8220;pemerintahan&#8221;, yaitu Otorita Pengembangan Daerah Industri (Batam Industrial Development Authority &#8211; BIDA) yang lebih sering disebut dengan Badan Otorita Batam (BOB) dan Pemerintah Kota Batam.</p>
<p>Otorita Batam awalnya memiliki tugas untuk membangun Batam menjadi pusat industri pada tahun 70-an. Kemudian seiring dengan pesatnya pembangunan, pada tahun 1990, Kotamadya Administratif Batam memiliki status otonomi yang dipegang oleh Pemerintah Kota Batam dan bekerjasama dengan Badan Otorita Batam.</p>
<p>Namun pada prakteknya, sering muncul kebingungan dan ketimpangan. Misalnya, ketika hendak mendirikan bangunan, ijin IMB harus diajukan ke Pemko atau ke Otorita? &#8220;Kita ngajuin ke Pemko, nanti Otorita juga minta &#8216;jatah&#8217;, demikian pula sebaliknya. Apalagi status tanah di Batam ini kita nyewa, bukan beli,&#8221; demikian ungkap Pak Parjo, driver yang mengantar kami, yang sudah 20 tahun tinggal di Batam semenjak dideportasi dari Malaysia karena masuk secara ilegal.</p>
<p>Suasana di Batam Center memang rebih rapi, namun lebih sepi dibanding Nagoya. Setelah berkeliling sejenak, kami mampir ke Pelabuhan Batam Center, salah satu gerbang menuju Singapura menggunakan kapal. Gara-gara kami mampir ke pelabuhan ini, terbersitlah ide untuk menginjakkan kaki di Singapura!</p>
<p>Dari Batam Center, kami akhirnya makan siang di Warung Bandung, warung makan Sunda yang cukup besar di Batam Center. He he he, jauh-jauh ke Batam, malah makan makanan Sunda.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/gongong.jpg" alt="Gonggong, hidangan khas Batam" title="Gonggong, hidangan khas Batam" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1476" /></p>
<p>Dari menu, saya terarik dengan menu Gonggoong (<em>Strombus turturella</em>), yaitu siput laut namun ukurannya besar (panjangnya bisa mencapai 5-7 cm), salah satu hidangan khas Batam. Cangkang dari Gonggong sering digunakan sebagai gantungan kunci atau hiasan.</p>
<p>Untuk memakan hewan ini, caranya dengan mencongkel dagingnya dengan tusuk gigi. Hati-hati dengan tungkai gergajinya, karena tungkai gergaji ini sangat keras dan tajam, sehingga tidak bisa dimakan. Saya yang alergi seafood, ketika mencobanya ternyata tidak apa-apa. Gatal-gatal di badan yang biasanya muncul setelah makan makanan laut tidak muncul, mungkin akibat dari minuma air kelapa yang saya pesan sebagai penawar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Panas yang terik membuat kami duduk bersantai dan leyeh-leyeh di warung ini sembari menunggu matahari agak tergelincir. Di warung ini, saya janjian kopdar dengan punggawa blogger Batam, <a href="http://www.jokosupriyanto.com/" title="Joko Supriyanto" target="_blank">Mas Joko &#8220;Geblek&#8221; Supriyanto</a>.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/barelang-1.jpg" alt="Jembatan Tengku Fisabilillah (Balerang #1)" title="Jembatan Tengku Fisabilillah (Balerang #1)" width="200" height="299" class="alignriht size-full wp-image-1477" /></p>
<p>Setelah matahari agak tergelincir, kami segera menuju ke tenggara. Jembatan Balerang menjadi tujuan kami berikutnya.</p>
<p>Jembatan Barelang adalah rangkaian 6 jembatan sepanjang 2 km, menghubungkan 3 pulau besar, yaitu Batam, Rempang, dan Galang. Di antara ketiga pulau ini, ada 3 pulau-pulau penyangga, yang menjadi tumpuan jembatan, yaitu Pulau Tonton, Pulau Nipah, dan Pulau Setokok di antara Batam dan Rempang, kemudian dari Pulau Rempang langsung ke Pulau Galang, dan berakhir di Pulau Galang Baru.</p>
<p>Jembatan-jembatan ini punya nama, yaitu:</p>
<ol>
<li>Jembatan Tengku Fisabilillah menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton dengan panjang 642 meter. Jembatan inilah yang paling mencolok dan terkenal, karena memiliki <em>cable-stay</em> sebagai salah satu tumpuan.</li>
<li>Jembatan Narasinga menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah, berbentuk lurus tanpa lengkungan dan memiliki panjang panjang 420 meter.</li>
<li>Jembatan Ali Haji menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setokok, panjangnya 270 meter.</li>
<li>Jembatan Sultan Zainal Abidin menghubungkan Pulau Setokok dengan Pulau Rempang dengan panjang 365 meter.</li>
<li>Jembatan Tuanku Tambusai menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang memiliki panjang 385 meter.</li>
<li>Jembatan Raja Kecil menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru memiliki panjang lebar tinggi 180 meter.</li>
</ol>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/barelang-5.jpg" alt="Jembatan Tuanku Tambusai (Balerang #5)" title="Jembatan Tuanku Tambusai (Balerang #5)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1479" /></p>
<p>Dari keenam jembatan ini, hanya Jembatan Tengku Fisabilillah dan Jembatan Tuanku Tambusai saja yang menurut saya bentuknya paling bagus.</p>
<p>Ketika kami turun menuju kaki jembatan, saya melihat banyak perahu-perahu kecil melintas di selat-selat pulau. Perahu ini membawa beberapa muatan, diduga muatan tersebut adalah barang selundupan.</p>
<p>Perjalanan kami hanya sampai di Pulau Galang. Di pulau ini terdapat lokasi bekas kamp pengungsi Vietnam, yang dipakai pada tahun 1979-1996.</p>
<p>Ketika terjadi perang saudara di Vietnam pada tahun 1980-an, ratusan ribu penduduk Vietnam selatan mengungsi. Dengan menggunakan perahu kayu, mereka sempat terombang-ambing selama berbulan-bulan di Laut Cina Selatan, sebelum akhirnya sampai di Pulau Galang.</p>
<p>PBB melalui badan yang mengurusi para pengungsi, UNHCR bekerja sama dengan pemerintah Indonesia saat itu kemudian membangun kamp pengungsian di Pulau Galang, tepatnya di Desa Sijantung, Kepulauan Riau, seluas kurang lebih 80 hektar.</p>
<p>Di dalam kamp pengungsi ini selain rumah-rumah juga dibangun berbagai sarana, seperti rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, penjara, hingga pemakaman. </p>
<p>Kondisi bangunan di bekas kamp Vietnam ini begitu memprihatinkan, meski beberapa masih berdiri kokoh. Selain karena material bangunan yang sebagian besar adalah kayu, kurangnya perhatian pemerintah (hayo, Otorita Batam atau Pemko, nih?) membuat kondisi lokasi ini makin menyedihkan.</p>
<p>Di lokasi ini, ada beberapa obyek saja yang sempat kami kunjungi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/anak-teratai.jpg" alt="Anak penjual kerajinan di Pagoda Bukit Teratai (Quan Am Tu)" title="Anak penjual kerajinan di Pagoda Bukit Teratai (Quan Am Tu)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1480" /></p>
<p>Begitu masuk kompleks bekas kamp yang berjarak kurang lebih 50 km dari Batam ini, kami langsung menuju Pagoda Bukit Teratai (Quan Am Tu Quil). Sesuai namanya, pagoda ini terletak di atas bukit.</p>
<p>Wihara ini masih aktif digunakan untuk beribadah umat Budha. Warnanya yang berwarna-warni membuat bangunan ini mudah dikenali dari kejauhan. Tak jauh dari pagoda, terdapat bangunan berisi benda-benda peninggalan dari pengungsi Vietnam serta foto-foto yang dipajang di dinding.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/kwan-in-quan-am-tu.jpg" alt="Patung Dewi Guang Shi Pu Sha" title="Patung Dewi Guang Shi Pu Sha" width="200" height="299" class="alignright size-full wp-image-1481" /></p>
<p>Seorang ibu dan dua anak lelaki berkepala plontos mirip biksu shaolin, tengah asyik merakit ornamen ibadah. Ornamen ini dijual dan digunakan untuk meletakkan berbagai sesaji sembahyang.</p>
<p>Patung Dewi Guang Shi Pu Sha berdiri megah di depan pagoda. Konon barang siapa yang berdoa dan melemparkan uang koin ke arah patung Dewi Guang Shi Pu Sha, akan dilancarkan jodoh dan dijaga keharmonisan keluarga, serta bagi anak-anak bisa pintar sekolah dan tercapai cita-citanya.</p>
<p>Setelah berkeliling pagoda, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju kompleks eks kamp Vietnam. Dengan menyusuri jalan beraspal yang bercabang-cabang, kami menuju ke kompleks pemakaman Ngha Trang.</p>
<p>Di kompleks ini terdapat 503 makam para pengungsi Vietnam yang sakit akibat terkatung-katung di laut atau karena depresi mental. Dari nisan bisa dilihat ada 2 agama mayoritas yang dianut oleh penduduk yang dimakamkan di sini, yaitu Kristen/Katholik dan Budha.</p>
<p>Makam ini masih aktif dikunjungi oleh keluarga dari mereka yang ditinggalkan. Para peziarah ini dulunya para pengungsi Vietnam yang kehidupannya kini sudah mapan dan tinggal di Australia, Canada, dan Amerika Serikat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/nga-thang-grave.jpg" alt="Ngha Trang Grave" title="Ngha Trang Grave" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1482" /></p>
<p>Tujuan kami berikutnya adalah ke monumen perahu yang digunakan pengungsi. Di tengah perjalanan, mobil yang kami tumpangi sesekali berhenti karena banyak monyet Maccaca (keluarga kera) yang berkeliaran di sekitar hutan dan jalan.</p>
<p>Begitu mobil berhenti, para monyet ini mendekat, mengira akan mendapat makanan kecil. Mungkin karena kebiasaan para pengunjung yang memberikan makan kepada monyet-monyet ini, sehingga mereka mengira setiap mobil berhenti akan memberikan makanan. Sungguh kebiasaan yang memprihatinkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/monyet.jpg" alt="Monyet Maccaca yang berkeliaran" title="Monyet Maccaca yang berkeliaran" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1483" /></p>
<p>Kami sampai juga di monumen perahu yang pernah digunakan para pengungsi dari Vietnam. Pada tahun 1995, ketika para pengungsi Vietnam ini hendak dipulangkan, mereka protes dengan membakar dan menenggelamkan perahu-perahu ini.</p>
<p>Setelah para pengungsi sudah dipulangkan pada tahun1996, perahu-perahu yang ditenggelamkan ke dalam lumpur di perairan sekitar Pulau Galang sedalam kira-kira 1 meter ini oleh Otorita Batam diangkat, diperbaiki, dan dipamerkan di monumen ini. Konon untuk mengangkat perahu yang ditenggelamkan ini dibutuhkan sekitar 800 drum plastik!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/perahu-pengungsi.jpg" alt="Monumen perahu pengungsi Vietnam" title="Monumen perahu pengungsi Vietnam" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1485" /></p>
<p>Perjalanan kami berakhir di &#8220;zona inti&#8221; dari eks kamp Vietnam ini. Di kawasan ini, rumah-rumah masih cukup kokoh berdiri, beberapa ditempati oleh warga (entah dari mana mereka berasal, namun yang pasti bukan orang Vietnam). Di sekitar lokasi ini masih berdiri bangunan bekas rumah sakit, bekas penjara dan barak polisi, hingga gereja dan klenteng yang masih digunakan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/gereja-vietnam.jpg" alt="di depan Gereja Katholik Nha To Duc Me Vo Nhem" title="di depan Gereja Katholik Nha To Duc Me Vo Nhem" width="200" height="299" class="alignnone size-full wp-image-1486" /></p>
<p>Ketika melangkah masuk melewati jembatan kayu yang rapuh di depan gereja Katholik Nha To Duc Me Vo Nhem, nuansa mistis langsung terasa. Entah mengapa saya merasa di kawasan ini begitu &#8220;wingit&#8221;, padahal di kompleks pemakaman Ngha Trang, saya merasa biasa-biasa saja.</p>
<p>Gereja kayu ini masih cukup kokoh. Ketika mengintip di sela-sela pintu, altar dan kursi-kursi ibadat masih terawat. Dugaan saya, gereja ini masih dipakai untuk misa dan kebaktian masyarakat yang tinggal di daerah ini.</p>
<p>Di samping gereja, terdapat patung Bunda Maria berukuran besar tengah berdiri di atas kapal. Tak jauh dari gereja ini juga terdapat wihara dan beberapa patung-patung Budha. Rupanya agama Budha dan Katholik banyak dipeluk oleh para pengungsi.</p>
<p>Menurut Pak Parjo, driver kami, lokasi ini dulu pernah dipakai untuk syuting acara menguji keberanian dan nyali menghadapi gangguan alam ghaib. Pantas saja sejak tadi saya merasa hawa-hawa ndak menyenangkan di lokasi ini.</p>
<p>Selama perjalanan keluar dari kompleks eks kamp pengungsi Vietnam untuk kembali ke Batam, kami melewati beberapa obyek lain, namun ndak turun. Obyek-obyek tersebut adalah barak dan kantor Brimob Polri untuk menjaga keamanan kamp pengungsi. Barak ini juga dilengkapi dengan penjara untuk menahan para kriminal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/barak-penjara.jpg" alt="Eks barak Brimob Polri dan penjara" title="Eks barak Brimob Polri dan penjara" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1487" /></p>
<p>Selain barak, kami melewati sebuah monumen Patung Kemanusiaan. Patung berbentuk setengah badan perempuan ini diberi nama Tinhn Han Loai, sesuai dengan nama perempuan tersebut. Menurut cerita, Tinhn Han Loai yang canik jelita diperkosa oleh sesama pengungsi. Akibat menanggung malu, ia memutuskan bunuh diri. Untuk mengenang peristiwa tragis ini lah, maka patung ini dibuat oleh para pengungsi.</p>
<p>Dari Pulau Galang, kami kembali ke hotel yang berada di Nagoya, Batam. Senja sudah hampir tiba, maka untuk menikmatinya, kami mampir di sebuah cafe di daerah Bukit Cinta. Di sini sering dijadikan tempat nongkrong pasangan remaja yang dimabuk kasih sembari melihat gemerlap daerah Nagoya dan Jodoh, dari atas bukit. Makanya daerah ini disebut dengan Bukit Cinta.</p>
<p>Sembari menikmati Teh Obeng, sebutan es teh manis di Batam, kami menikmati senja sembari melepas lelah akibat berkeliling seharian. Di kejauhan, nampak gemerlip gedung-gedung pencakar langit di Singapura sana. Hampir tiap lima menit, terlihat kelip-kelip lampu pesawat berputar-putar di angkasa menunggu giliran mendarat di salah satu bandara hub terbesar di Asia Tenggara, Changi Airport.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/view-bukit-cinta.jpg" alt="Senja di Bukit Cinta" title="Senja di Bukit Cinta" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1488" /></p>
<p>Kami pun memutuskan untuk menyeberang ke Singapura esok hari, setelah bernegosiasi dengan tour leader kami, Mas Dhani, karena obyek tujuan kami di Batam saya rasa kurang menarik, mengunjungi kawasan industri di Muka Kuning dan Kabil.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-batam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wetiga: Warung Wedangan Wi-fi</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/wetiga-warung-wedangan-wi-fi.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/wetiga-warung-wedangan-wi-fi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 03:39:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpul-Kumpul]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[angkringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=870</guid>
		<description><![CDATA[Bagi yang tinggal atau pernah tinggal di Jogja, Klaten, maupun Solo, pasti ndak asing lagi dengan yang namanya angkringan, HIK, atau warung wedangan. Nah, di Jakarta ada warung berkonsep angkringan, HIK, atau warung wedangan yang memadukan unsur &#8220;ndesa&#8221; namun berteknologi &#8220;ngota&#8221;, sehingga menjadikannya tempat nongkrong yang murah namun tetep nggaya. Wetiga nama warung yang baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-871" title="Wetiga" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/10/wetiga.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Bagi yang tinggal atau pernah tinggal di Jogja, Klaten, maupun Solo, pasti ndak asing lagi dengan yang namanya angkringan, HIK, atau warung wedangan.</p>
<p>Nah, di Jakarta ada warung berkonsep angkringan, HIK, atau warung wedangan yang memadukan unsur &#8220;ndesa&#8221; namun berteknologi &#8220;ngota&#8221;, sehingga menjadikannya tempat nongkrong yang murah namun tetep nggaya.</p>
<p><span id="more-870"></span><a title="Wetiga" href="http://wetiga.com/" target="_blank">Wetiga</a> nama warung yang baru saja <a title="Launching Wetiga.Com" href="http://wetiga.com/launching/" target="_blank">diluncurkan beberapa waktu yang lalu itu</a>. Dengan mengusung slogan, &#8220;4 sehat, 5 sempurna, 6 internet&#8221;, warung yang dikomandani oleh <a title="Balibul" href="http://colonelseven.com/" target="_blank">Juragan Bulbul</a> ini mencoba memberikan nuansa tempat nongkrong yang berbeda.</p>
<p>Budaya nongkrong dan ngobrol ala Jogja, dipadu makanan sedap ala Solo, serta semangat urban wong Klaten, namun tetep mengusung tema sok nJakarta, membuat warung ini layak menjadi tempat kongkow bloger dan plurker yang boleh dicoba.</p>
<p>Menu-menu sederhana macam nasi kucing, sate usus, sate telur puyuh, tentu akan membawa sensasi nostalgia bagi mereka yang bosan dengan menu-menu &#8220;modern&#8221;. Suasana guyub penuh canda tawa tentu dapat meredakan kepenatan nJakarta yang laknat.</p>
<p>Namun jangan khawatir, email dari klien atau relasi kerja masih dapat dibaca, bahkan prosesi mengunggah dan mengunduh dokumen kerja bisa dilakukan sambil nyruput susu jahe dengan kaki nangkring seenaknya.</p>
<p>Kalo njenengan belum pernah berjumpa dengan bloger-bloger kondang macam <a title="Ndoro Kakung" href="http://ndorokakung.com/" target="_blank">Ndoro Kakung</a>, <a title="Enda Nasution" href="http://enda.goblogmedia.com/" target="_blank">Enda Nasution</a>, dan <a title="Paman Tyo" href="http://blogombal.org/" target="_blank">Paman Tyo</a>, silakan mampir ke Wetiga. Konon mereka sering mampir ke Wetiga.</p>
<p>Wetiga juga kerap dijadikan tempat kopdar dan ngumpul para bloger dan plurker. Internet gratis kuenceng yang disediaken oleh <a title="Telkom Speedy" href="https://portal.telkomspeedy.com/index.php?" target="_blank">Speedy</a> membuat tempat ini makin blogable and plurkable.</p>
<p>Soal menu, karena masih melakukan orientasi pasar, njenengan juga bisa ngusul ke juragan apa yang njenengan suka. Usul diterima, tapi belum tentu dilakukan. Hehehe..</p>
<p>Jadi, buat njenengan yang suka nongkrong, para pemburu hotspot gretongan, suka jajan, pengen ketemu seleblog, silakan mampir dan datang ke Wetiga. Soal lokasi, koordinat 6°14&#8217;36&#8243;S &#8211; 106°47&#8217;30&#8243;E mungkin akan membantu njenengan.</p>
<p>Saya tunggu di Wetiga! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/wetiga-warung-wedangan-wi-fi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngubek Pasar Subuh Blok M</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/ngubek-pasar-subuh-blok-m.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/ngubek-pasar-subuh-blok-m.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 05:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/18/ngubek-pasar-subuh-blok-m.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum acara Ngupas Benhil, sebenernya saya udah melakukan acara pre-ngubek pasar. Bersama Yudi dan Pito, saya menjelajah Pasar Subuh Blok M Sabtu dini hari. Hujan yang turun sejak lepas tengah malam hari itu membuat suasana menjadi semakin mencekat. Hawa dingin menusuk kulit, pedih sepedih tusukan jarum-jarum air yang tak kunjung reda. Ah, tapi masih lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/pasar-subuh-blok-m1.jpg" alt="Pasar Shubuh Blok M" title="Pasar Shubuh Blok M" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1163" /></p>
<p>Sebelum acara <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/16/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html" title="JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir">Ngupas Benhil</a>, sebenernya saya udah melakukan acara pre-ngubek pasar.</p>
<p>Bersama <a href="http://pantomimus.wordpress.com/" title="Yudi" target="_blank">Yudi</a> dan <a href="http://pitopoenya.blogspot.com/" title="Pito" target="_blank">Pito</a>, saya menjelajah Pasar Subuh Blok M Sabtu dini hari.</p>
<p><span id="more-737"></span>Hujan yang turun sejak lepas tengah malam hari itu membuat suasana menjadi semakin mencekat. Hawa dingin menusuk kulit, pedih sepedih tusukan jarum-jarum air yang tak kunjung reda. Ah, tapi masih lebih pedih bila tiada dirimu di sisi.. Hoeeekkk!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sehabis nongkrong di <a href="http://b-h-i.blogspot.com/" title="Bunderan HI" target="_blank">BHI</a>, terbersit rencana tolol untuk melihat dari dekat aktivitas para pedagang jajanan pasar di kawasan Blok M.</p>
<p>Walau hujan masih turun rintik-rintik, sekitar pukul 4 kami nyegat mikrolet C01 dari depan Hotel Nikko. Menunggu tak lama di halte yang terbuat dari bahan metal itu.</p>
<p>Mikrolet yang penuh dengan orang-orang pulang kerja, mulai dari kerja beneran hingga kerja &#8220;gituan&#8221; pun ada. Sepinya malam semakin sunyi, tenggelam dalam deru mesin mikrolet yang melesat cepat.</p>
<p>Tiba di Blok M, hujan makin menderas. Sial. Tanpa jaket, hanya bermodal kaos oblong dan topi butut gratisan, saya berlari-lari menuju warung mi ayam yang rupanya juga penuh dengan para peneduh.</p>
<p>Aroma mi ayam sempat menggoda, namun urung saya memesan karena Yudi menjawil saya untuk pindah ke pelataran wartel yang ndak jauh dari situ.</p>
<p>Kebelet pipis, karena ndak ada toliet umum yg tersedia, plus hujan deras membuat saya memutuskan untuk sekonyong-konyong mepet ke sekumpulan semak untuk melepas hasrat. Ah.. Nikmat, sambil bergidik karena dingin menjamah kulit.</p>
<p>Dedaunan malang yang basah oleh air hujan menjadi korban. Masih untung saya ndak membawa <a href="http://punyaulan.wordpress.com/2008/06/12/syal-baru-yang-indah-nan-permai/" title="Syal baru yang indah nan permai.." target="_blank">syal baru yang indah nan permai</a>.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Setelah hujan sedikit mereda, kami pun bergerak. Masuk menusuk melewati jalur-jalur bis terminal Blok M. Sesekali melompat untuk menghindari genangan air, namun apa daya kecipak air yang muncul ketika kaki mendarat masih saja membasahi ujung celana.</p>
<p>Berbelok mengikuti koridor dan lorong-lorong toko yang masih tutup, laksana labirin yang membingungkan bila belum terbiasa. Saya yang sedikit mengantuk pun tak begitu ingat rute-rutenya.</p>
<p>Saya hanya menyerah pasrah mengikuti langkah Yudi dan Pito yang seolah-olah memiliki GPS di kepalanya sehingga dengan mudahnya menelusuri labirin pasar. Padahal menurut pengakuan mereka, baru 2 kali mereka menjelajahi pasar ini. Menemukannya pun secara tak sengaja.</p>
<p>Seingat saya, pasar Subuh ini berada di belakang gedung Pasar Jaya, yang dulu pernah mengalami kebakaran ini. Seruak keramaian langsung menyergap.</p>
<p>Para pedagang rupanya sedang bersiap-siap. Ada yang memasang tenda, menata dagangan, bahkan beberapa pembeli sudah melakukan transaksi. Hujan deras rupanya menjadi kendala sehingga persiapan pasar yang biasanya diakukan pukul 2 dini hari telat.</p>
<p>Berbagai jajanan pasar, mulai dari yang tradisional, kue basah, hingga modern berupa roti-roti ada semua di sini. Menempati ruas jalan sepanjang kurang lebih 300 meter, membuat saya sempat kehilangan pegangan hendak membeli jajanan yang mana.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/kue-kue.jpg' alt='Kue-kue pasar' /></p>
<p>Memang, pasar ini ndak lebih besar dari pasar sejenis di kawasan Senen, namun berada di surga makanan ini saja sudah cukup membingungkan.</p>
<p>Setelah tenggelam dalam kebingungan ahirnya saya ndak jadi membeli apa pun. Cacing perut yang nakal malah memaksa kami njujug ke penjual bubur ayam di pentokan pasar. Soal bubur ini <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/27/bubur-ayam-subuh-versus-bandrek-abah.html" title="Bubur Ayam Subuh versus Bandrek Abah">sudah saya posting tersendiri</a>.</p>
<p>Pasar yang memang mulai ada sekitar 3 tahun lalu ini lumayan lengkap. Corak dagangannya beragam dan jumlahnya yang bejibun, membuat pasar ini sering digunakan sebagai pusat kulakan jajanan untuk dijual kembali di pasar-pasar tradisional di sekitarnya.</p>
<p>Namun menurut informasi dari <a href="http://blogiway.blogspot.com/" title="Iway" target="_blank">Kang Iway</a>, keberadaan pasar ini rupanya sudah cukup lama. Dugaan saya sih pasar ini mulai ramai lagi setelah kebakaran pasar pada tahun 2005. Matur sengsu, Kang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Entah apakah pasar ini juga merupakan &#8220;ekstensi&#8221; dari Pasar Subuh yang ada di Pasar Senen, mengingat faktor jarak, saya kurang mengerti sejarahnya. Mungkin njenengan bisa menambahkan?</p>
<p>Namun satu hal, kehidupan pasar di pagi hari menjadi daya tarik tersendiri. Setidaknya buat saya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pasar tradisional, selain menjadi ajang transaksi jual beli yang dihiasi dengan tawar menawar, rupanya juga menjadi ajang bersosialisasi dan berinteraksi, baik antar pedagang, maupun pedagang dengan pembelinya.</p>
<p>Hal yang ndak bisa kita temukan di pasar modern semacam swalayan dan supermarket. Tentu ini terlepas dari kebersihan, kepraktisan, dan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh pasar modern.</p>
<p>Inilah kenapa saya selalu merasa nyaman dan senang ngubek jajanan di pasar atau kaki lima. Selain faktor harga, ada sentuhan lain yang ndak saya dapatkan di restoran mewah, apalagi restoran waralaba.</p>
<p>Ah, potret keramahan dan interaksi semacam inilah yang membuat saya selalu kangen pulang..</p>
<p>Baca juga: <a href="http://blogiway.blogspot.com/2007/09/pasar-ngantuk.html" title="Pasar Ngantuk" target="_blank">Pasar Ngantuk</a> oleh kang Iway.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/ngubek-pasar-subuh-blok-m.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 09:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[JalanSutra]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/16/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sukses dengan Beringharjo Hunting Tour, JalanSutra kembali menggelar acara Ngupas Benhil (Ngubek Pasar Bendungan Hilir). Selain menguak lokasi makan di dalam pasar, acara ini menjadi istimewa karena ada pembagian buku kuliner edisi ke-4yang ditulis oleh para dedengkot JS. Hujan yang turun sejak dini hari sempat membuat saya agak bermalas-malasan. Sempat terpikir saya mo ndak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/js-ngupas-benhil1.jpg" alt="JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir (Ngupas Benhil)" title="JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir (Ngupas Benhil)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1164" /></p>
<p>Setelah sukses dengan <a href="jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html" title="Jajanan Pasar Beringharjo">Beringharjo Hunting Tour</a>, <a href="http://yahoogroups.com/group/jalansutra" title="Milis JalanSutra" target="_blank">JalanSutra</a> kembali menggelar acara Ngupas Benhil (Ngubek Pasar Bendungan Hilir).</p>
<p>Selain menguak lokasi makan di dalam pasar, acara ini menjadi istimewa karena ada pembagian buku kuliner edisi ke-4yang ditulis oleh para dedengkot JS.</p>
<p><span id="more-732"></span>Hujan yang turun sejak dini hari sempat membuat saya agak bermalas-malasan. Sempat terpikir saya mo ndak dateng. Tapi mengingat acara ini bakal dihadiri para dedengkot dan senior JS yang sudah melegenda dan tersohor, rasanya saya akan sangat menyesal kalo saya ndak bersua dengan mereka.</p>
<p>Biasanya saya cuma bisa mengagumi kecerdasan lidah dan analisis mereka melalui tulisan, tentu mendengarkan cerita dari mereka secara langsung adalah pengalaman tersendiri.</p>
<p>Akhirnya setelah memaksakan diri, saya pun berangkat juga. Setelah naik busway dan turun di halte Bendungan Hilir, saya berjalan menuju ke pasar.</p>
<p>Saya datang agak terlambat. Rupanya para peserta yang berjumlah sekitar 20-an orang ini sudah berkumpul. Ndak sulit menemukan segerombolan rekan-rekan JS. Yah, kayak sekumpulan bloger yang pada <a href="http://chikastuff.wordpress.com/2008/06/16/laporan-kopdar-monas-kopdar-fki/" title="Laporan Kopdar Monas + Kopdar FKI" target="_blank">kopdar di Monas</a> itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pasar Benhil saat itu begitu bersih dan rapi. Usut punya usut, rupanya denger-denger <acronym title="GUbernur DKI, Fauzi Bowo">Bang Foke</acronym> mau sidak ke pasar tersebut. Lah? Sidak kok pake persiapan bebersih begini, sih? Mana unsur dadakannya?</p>
<p>Saya pun berkenalan dengan rekan-rekan JS yang sudah nongol di sana. Saya ketemu lagi sama Teh Cindy yg pernah saya jumpa juga ketika acara di Beringharjo. Makin ndut aja, dia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Saya ikut acara JS ini juga baru 2 kali. Pertama ya acara di Beringharjo pas saya masih di Jogja. Kedua ya Ngupas Benhill kemarin itu. JS sebenernya sering bikin acara, cuma karena lokasinya kebanyakan di Jakarta, saya agak kesulitan saat itu untuk ikutan.</p>
<p>Setelah berbincang dan berkenalan, acara pembagian tim pun dimulai. Skenarionya, tiap tim akan berlomba untuk mencari lokasi makan yang mantab. Kemudian lokasi dan makanan itu didata untuk kemudian dinilai. Tim yang paling banyak mendapat hasil buruan, itulah yang menang.</p>
<p>Tak lupa, setelah lokasi itu didatangi, diicipi, dijarah kelezatannya, tentu harus dibayar dan ditempeli stiker JS. Tim yang udah melihat stiker di lokasi tersebut ya harus mengalah dan mencari tempat lain. Saya bergabung sama Teh Euis, Mbak Iping, dan Mbak Ika. Serasa saya paling ganteng sendiri!</p>
<p>Kami langsung menusuk ke jantung pasar melalui pintu tengah. Jleb! Sebuah warung makan Padang Bopet Mini langsung kami jajah dengan semena-mena.</p>
<p>Ketupat Sayur plus Rendang pun segera kami sikat tanpa menunggu komando. Bubur Kampiun tak ketinggalan juga kami hajar untuk memeriahkan suasana.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/js-ketupat-rendang-kampiun.jpg' alt='Ketupat Sayur, Rendang, dan Bubur Kampiun' /></p>
<p>Ketupat Sayur ini biasa aja menurut saya. Cuma yang membuat istimewa adalah digunakannya daun pakis di dalamnya. Daun ini terasa kaku kriuk-kriuk. Di Ketupat Sayur lainnya, biasanya digunakan daun singkong.</p>
<p>Rendangnya pun unik. Dengan sendok, memotong itu daging alotnya minta ampun kayak sandal jepit baru. Ternyata ada teknik untuk mengiris daging dengan sendok.</p>
<p>Usahakan mengenai bagian yang sejajar uratnya, sehingga itu daging mudah terkelupas. Daging yang alot karena susah dipotong rupanya begitu empuk ketika berada di dalam mulut. So, <em>don&#8217;t judge a rendang by its alotness, my friend</em>!</p>
<p>Warna rendang yang menghitam menunjukkan usia rendang. Makin tua usianya, makin meresap bumbunya, makin dahsyat pula rasanya.</p>
<p>Bubur Kampiun pun mendapat giliran untuk dieksekusi. Perpaduan gurihnya bubur putih dengan manisnya sarikaya yang berwarna coklat dan guyuran gula merah membuat mulut terasa segar setelah diterjang santan dari Ketupat Sayur.</p>
<p>Potongan pisang dan aksesoris berupa ubi rebus yang dipotong bola tercelup gula merah juga ikut memeriahkan suasana. Sepintas, rasa bubur ini mirip-mirip Es Palu Butung yang tanpa es..</p>
<p>Puas mereguk kelezatan, tak lupa stiker yang sudah disiapkan ditempelkan dengan manis di warung si penjual. Hohoh!</p>
<p>Lanjut, kami menuju ke warung Gado-Gado Bu Bambang di tengah pasar. Buset, kami ketemu dengan tim lain yang digawangi Mbak Lidia Tanod, Mas Andrew Mulianto, Mas Teddy, dan Mas Adi Taroepratjeka.</p>
<p>Sontak Mas Adi tereak, &#8220;ooii.. yang doyan rujak cingur ke sini!!&#8221;. Dengan kalap saya pun lari-lari histeris nyerobot Rujak Cingur yang udah hampir habis dibantai Mas Adi.</p>
<p>Rasanya boleh dipoedjiken. Sambel petisnya kuentel dan dahsyat. Namun ada yang unik, saya menemukan potongan jambu air merah di sela-sela hitamnya sambel petis. Sesuatu yang ndak ditemukan di Rujak Cingur di Surabaya sono.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Bau harum Soto Sulung yang dibawa Teh Euis langsung ngawe-awe. Sebelum nyeruput soto, saya sempet ngicipi pula Gado-Gadonya Bu Bambang. Rupanya lidah saya masih terbuai oleh dahsyatnya sambel petis sehingga saya ndak bisa obyektif menilai rasa gado-gado ini.</p>
<p>Guyuran Soto Sulung Cak Abbas langsung menyadarkan lidah saya yang terbuai sambel petis. Seger-seger kecut langsung membuat saya merem-melek.</p>
<p>Saya merasa kuah ini terlalu kecut. Apakah ini karena perasan jeruk nipis yang terlalu banyak? Bisa jadi, wong kami ngicipi soto ini dengan cara seperti lagu dangdut, Semangkok Berempat! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami pun berpisah dengan tim yang masih menikmati beberapa makanan di Warung Bu Bambang yang mereka untuk melanjutkan perburuan.</p>
<p>Ndak banyak yang kami temukan di dalam. Ke lantai atas pun sia-sia. Kami pun memutuskan keluar dan memepet pasar dari sayap. Deretan Warung Padang dengan rapi berbaris di sana. Buset, saya seperti merasa di Padang, melihat jejeran warung makan ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ikan Bakar Sinar Surya yang ada di pojokan menjadi tujuan kami. Si penjual seolah-olah mengundang kami dengan asap pembakaran ikannya. Sepotong ikan bawal bakar yang malang segera kami bungkus dengan maksud untuk dicicipi di meeting point kami, RM. Meutia.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/js-kopi-tarik-aceh.jpg' alt='Atraksi Kopi Tarik Aceh' class="alignright" /></p>
<p>Kami merasa sudah pol-polan, walau kami cuma merasa hasil yang kami dapat ndak memenuhi harapan. Segera kaki kami langkahkan, menuju RM Meutia seperti yang dijanjikan. Eh, kok berima ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Di RM Meutia saya dan Mas Adi tergoda untuk memesan kopi tarik setelah melihat pelayan membuat Kopi Tarik.</p>
<p>Atraksi pelayan tersebut menarik perhatian saya, selain pernak-pernik interior di dalam rumah makan ini begitu ciamik.</p>
<p>Rupanya dari atraksi inilah nama Kopi (juga Teh) Tarik berasal. Ketika membuatnya, air kopi dan susu dituang ke dalam sebuah wadah dengan cara seperti menarik tali.</p>
<p>Padahal isinya sih padahal ya cuma Kopi Aceh yang sudah disaring dan bebas ampas dengan susu. Sama kayak bikin Kopi Susu biasa. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Hasil dari tarikan kopi ini menghasilkan buih-buih kecil di atas permukaan kopi. Warna Kopi Aceh yang hitam sontak berubah menjadi coklat tua. Baunya begitu menggoda untuk segera disruput.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Beberapa benda kuno nampak cantik nangkring di dinding berdampingan dengan kain-kain. Gramofon dan sempoa antik berada di meja kasir yang juga tak kalah unik. Tak lepas kamar mandi pun tersentuh nuansa etnik namun mewah. Saya pun duduk di atas sebuah lincak dari kayu ukiran sambil menunggu tim yang lain merapat. Cukup mengesankan!</p>
<p>Seluruh peserta pun akhirnya berkumpul lengkap. Di ruang atas kami bercengkrama sebentar sambil menunggu Mie Aceh terhidang. Begitu mi datang, langsung saja kami sikat tanpa banyak cakap. Eh, berima lagi! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Soal pegimana bentuk dan rasa Mie-nya, silakan buka Buku Kuliner Edisi 04 &#8211; Mie Enak di Jakarta pada halaman 15! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Namun menurut saya, kuah Mi Aceh ini kurang garang. Rempahnya ndak seperti Mi Aceh yang dulu pernah saya cicipi di Jogja. Warna kuah yang merah menantang rupanya rempahnya tampil diam-diam.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/js-mi-aceh.jpg' alt='Mie Aceh' /></p>
<p>Paling mantab memang memakan mi ini dalam keadaan panas ngepul-ngepul. Sedikit saja dingin, rasanya akan berubah drastis. Bagi yang suka, acar bawang merah bisa dimasukkan ke dalam kuah, lalu memakannya cepat-cepat.</p>
<p>Senang rasanya dapat berjumpa langsung dengan para penulis dan kontributor buku kuliner tersebut. Ada Mas Irvan Kartawiria, Mas Andrew Mulianto, Teh Cindy van Cereth Kompor, Mbak Grace Khoesuma, Mbak Lidia Tanod, Mas Adi Taroepratjeka, Mas Benny Tjandra, dan Capt. Gatot Purwoko.</p>
<p>Mendengar pengalaman dan cerita dari mereka tentang &#8220;susahnya&#8221; berburu makanan lalu menuliskan ke buku menjadi pengalaman tersendiri. Mereka tak segan berbagi cerita dan pengalaman kuliner mereka.</p>
<p>Namun ada hal yang ndak seperti ekspektasi saya. Ketika di Beringharjo, masing-masing tim mempresentasikan temuannya dan tim yang lain mengomentari dan bila perlu berdiskusi. Namun kemarin, acara yang saya harapkan saya bisa <em>ngangsu kaweruh</em>, menimba ilmu dari para dedengkot JS ini ndak terlaksana.</p>
<p>Bisa dimaklumi, karena makanan yg ditemukan ini hampir sama semua: Makanan Padang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Berbeda memang dengan di Beringharjo yang banyak ragam dan warna.</p>
<p>Oiya, tim kami dinyatakan memenangi games, padahal kami merasa makanan kami ndak banyak yang kami catat. Rupanya penilaian dilakukan berdasarkan &#8220;urutan stiker&#8221; yang tertempel di warung yg kami temui. Karena kami banyak menempel stiker di tempat-tempat yang belum ada stiker dari tim lain, maka nilai kami yang paling tinggi.</p>
<p>Sebenernya ada tim lain yang lebih banyak jumlah makanannya, namun didiskualifikasi. Ya jelas, wong anggota timnya berisi panitia semua! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Namun secara keseluruhan, acara ini bagus banget. Salut buat panitianya. Kalo ada acara lagi, jika waktu dan lokasinya pas, saya pasti datang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p>La kalo ndak dateng, <em>goodie bag</em> yang dijanjikan sama Mbak Lidia ndak bakal saya dapat.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Postingan ini juga dipostingkan di milis JalanSutra sebagai laporan karena tim kami memenangkan games. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

