<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Kuliner</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/kuliner/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pecel Semanggi Surabaya, Makanan Tradisional Yang Hampir Punah</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisional-yang-hampir-punah.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisional-yang-hampir-punah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1352</guid>
		<description><![CDATA[Pas mudik Lebaran ke Surabaya beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mencicipi kembali beberapa makanan khas yang kini agak sulit ditemukan. Salah satu makanan ini adalah Pecel Semanggi. Makanan ini konon sudah hampir punah karena sulit ditemui. Penjualnya rata-rata adalah ibu-ibu paruh baya yang berdagang keliling dengan menyunggi besek berisi bahan-bahan pecel. Kendala utama sih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/09/pecel-semanggi.jpg" alt="Pecel Semanggi" title="Pecel Semanggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1353" /></p>
<p>Pas mudik Lebaran ke Surabaya beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mencicipi kembali beberapa makanan khas yang kini agak sulit ditemukan. Salah satu makanan ini adalah Pecel Semanggi.</p>
<p>Makanan ini konon sudah hampir punah karena sulit ditemui. Penjualnya rata-rata adalah ibu-ibu paruh baya yang berdagang keliling dengan menyunggi <em>besek</em> berisi bahan-bahan pecel. Kendala utama sih di faktor bahan dasarnya, yaitu daun semanggi.</p>
<p>Konon makanan ini juga sudah merambah restoran dan hotel-hotel, namun menurut saya, lebih mantab kalo kita mencicipinya langsung dari penjual tradisional.</p>
<p><span id="more-1352"></span>Seperti namanya, pecel ini berbahan dasar daun semanggi (<em>Marsilea crenata</em>) yang direbus dan disajikan dengan kecambah rebus kemudian disiram bumbu yang terbuat dari ketela rambat atau ubi jalar (<em>Ipomoea batatas</em>) yang direbus dan dicampur gula jawa, garam, terasi, petis udang (makanya warna bumbunya berwarna hitam), sedikit kacang tanah, dan cabai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/09/racikan-pecel-semanggi.jpg" alt="Racikan pecel semanggi" title="Racikan pecel semanggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1354" /></p>
<p>Pecel ini disajikan tanpa nasi, hanya sayur semanggi dan kecambah disiram bumbu yang disajikan di dalam pincuk daun pisang. Untuk memakannya, kita wajib dan fardhu menggunakan kerupuk puli yang terbuat dari beras (di beberapa daerah di Jawa kerupuk ini disebut dengan kerupuk gendar) untuk memakannya.</p>
<p>Kerupuk puli ini berfungsi menggantikan sendok. Kalo cara saya makan, kerupuk dicuil kemudian cuilan ini digunakan untuk menyendok sayur dan dimakan bersama. Kerupuk ini sangat lebar sehingga kita harus berhati-hati membawanya supaya tidak jatuh (karena biasanya disajikan di samping pecel).</p>
<p>Secara penampilan, pecel semanggi memang &#8220;kurang menggiurkan&#8221;, namun secara rasa, woohh! Seddap!!</p>
<p>Makanan ini biasa dijual dengan berkeliling. Si penjual biasanya berteriak, &#8220;seemmmaannnggiiiiiii&#8230;&#8221;, dengan nada tertentu untuk menjajakan dagangannya.</p>
<p>Para penjual ini kebanyakan berasal dari daerah Benowo, Surabaya bagian barat. Kebetulan, karena pakde saya tinggal di daerah Manukan, Tandes, yang ndak jauh dari Benowo, penjual pecel ini berhasil dicegat di depan rumah ketika melintas.</p>
<p>Karena sulitnya bahan baku daun semanggi, penjual ini waktu berjualannya tidak menentu. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali.</p>
<p>Daun semanggi yang digunakan pun bukan daun semanggi liar (yang biasa tumbuh di sungai dan sawah), tapi dibeli dari seseorang yang membudidayakan semanggi ini, begitu menurut pengakuan si penjual.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/09/penjual-pecel-semanggi.jpg" alt="Penjual pecel semanggi" title="Penjual pecel semanggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1355" /></p>
<p>Bila diperhatikan, gaya penjual pecel semanggi ini sangat khas. Ibu-ibu ini selalu menggunakan kebaya plus kain batik, kemudian sebuah selendang dililit sedemikian rupa di atas kepala yang berfungsi sebagai alas ketika dagangan disunggi.</p>
<p>Formasi dagangan ketika disunggi pun sangat khas. Sebuah besek atau keranjang berisi sayur dan bumbu berada di bawah, kemudian di atasnya ditumpangkan seplastik besar kerupuk puli.</p>
<p>Tangan satu memgang dagangan di atas kepala, tangan yang lain menenteng keranjang yang berisi daun-daun pisang untuk pincuk dan <em>gear</em> lainnya. Tentu dibutuhkan keseimbangan yang luar biasa sehingga dagangan ini tidak tumpah.</p>
<p>Ketika ada pembeli, dengan suatu teknik yang sigap, keranjang yang menjulang tinggi di atas kepala ini bisa &#8220;mendarat&#8221; dengan sempurna. Sebaliknya, ketika selesai melayani, keranjang dagangan ini pun bisa dengan cepat berpindah ke atas kepala!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisional-yang-hampir-punah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramen 38, Kedai Ramen Bernuansa Jepang</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/ramen-38-kedai-ramen-bernuansa-jepang.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/ramen-38-kedai-ramen-bernuansa-jepang.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 09:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mie]]></category>
		<category><![CDATA[ramen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1048</guid>
		<description><![CDATA[Pas di Jogja, saya menemukan sebuah kedai yang menyediakan ramen, namun rasa dan suasanya sudah amat sangat terlokalisasi. Ramen &#8220;njawani&#8221; kalo saya bilang. Nah, beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung ke Ramen 38 (Ramen Sanpachi) yang terletak di dalam Gedung Kamome, Jl. Melawai Raya No. 189 B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya berada di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/ramen-38.jpg" alt="Kedai Ramen 38 (Ramen Sanpachi)" title="Kedai Ramen 38 (Ramen Sanpachi)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1049" /></p>
<p>Pas di Jogja, saya menemukan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/11/16/porsi-romusha-shoyu-ramen.html" title="Porsi Romusha Shoyu Ramen">sebuah kedai yang menyediakan ramen</a>, namun rasa dan suasanya sudah amat sangat terlokalisasi. Ramen &#8220;njawani&#8221; kalo saya bilang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Nah, beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung ke <a href="http://www.ramen38.com/" title="Ramen 38" target="_blank">Ramen 38 (Ramen Sanpachi)</a> yang terletak di dalam Gedung Kamome, Jl. Melawai Raya No. 189 B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya berada di atas Starbuck Melawai.</p>
<p><span id="more-1048"></span>Begitu masuk ke dalam gedung ini, terutama di lantai atas, nuansa &#8220;nJepang&#8221;-nya akan langsung terasa. Memang, di kawasan Melawai ini ada tempat yang sering disebut dengan &#8220;Little Tokyo&#8221;.</p>
<p>Little Tokyo, tempat ini disebut demikian karena memang di tempat itu sering dijadikan tongkrongan orang-orang Jepang. Beberapa toko, kedai, kafe, restoran pun kebanyakan dikunjungi oleh orang Jepang dan menyediakan makanan Jepang. Suasananya dibuat semirip mungkin dengan di Jepang, mulai dari arsitektur ruang, interior, gaya berpakaian pramuniaganya, hingga ucapan &#8220;selamat datang&#8221; dan &#8220;terima kasih&#8221;-nya pun diucapkan dalam Bahasa Jepang, walau si pramuniaga ini orang Indonesia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Gedung Kamome ini terletak ndak jauh dari Little Tokyo, sehingga hawa-hawa Jepangnya masih terasa. Kesan sepi cukup terasa begitu sampai di lantai 2, namun kesan sepi tersebut akan sirna ketika masuk ke dalam kedai.</p>
<p>&#8220;Irasshaimase!&#8221;, teriak pramuniaga cukup mengagetkan ketika saya memasuki kedai menyirnakan kesan sepi plus mendatangkan kesan nJepang. Benar saja, saya seperti kehilangan orientasi begitu menikmati suasananya. Hanya pramuniaga yang bukan orang Jepang lah yang membuat saya tersadar kembali bahwa saya tidak berada di Jepang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/suasana-ramen-38.jpg" alt="Suasana kedai yang Jepang banget" title="Suasana kedai yang Jepang banget" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1050" /></p>
<p>Duduk di meja dan dingklik kayu beralas bantal duduk, dengan pernak-pernik meja dan dekorasi ruangan ala Jepang, plus sebuah daftar menu berhuruf kanji, membuat saya seperti hilang konsentrasi antara memilih menu atau mengamati suasana.</p>
<p>Sebuah meja bar panjang berada di sisi lain. Sang koki pria (lebih tepatnya si peracik ramen) nampak memukul-mukulkan pisaunya seperti sedang mencacah sesuatu secara bergantian sehingga muncul bunyi berisik &#8220;tok-tok-tok-tok&#8221; dinamis, padahal tiada apa pun yang dicacah.</p>
<p>Dua buah televisi yang menayangkan acara TV Jepang, entah rekaman atau memang live dari TV kabel, memper-jepang-kan suasana. Iklan-iklan Jepang yang lucu dan kreatif mampu membuat saya tersenyum karena iklan-iklan ini begitu ekspresif, sehingga saya yang ndak bisa berbahasa Jepang pun bisa menangkap apa maksud iklan tersebut.</p>
<p>Seorang pria nampak lahap menikmati ramen yang ada di depannya. Pramuniaga wanita berseragam dengan nama dan nomor di punggung, mirip dengan seragam sepak bola, nampak berdiri menunggu di ujung meja bar. </p>
<p>Saya bingung ketika hendak memilih menu. Berbagai menu dengan tulisan kanji, walau dilengkapi dengan romanjinya, membuat saya tetap saja bingung karena benar-benar merasa asing dengan menu-menu yang ditawarkan. Belum lagi label &#8220;kehalalan&#8221; membuat saya makin bingung menentukan pilihan.</p>
<p>Daftar menu memang memberikan informasi berupa tanda lingkaran berwarna merah untuk menu yang mengandung babi, tanda kuning untuk menu yang daging dan minyaknya bisa diganti dengan selain babi, dan tanda berwarna biru yang benar-benar halal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/menu-ramen-38.jpg" alt="Daftar menu Ramen 38" title="Daftar menu Ramen 38" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1052" /> </p>
<p>Saya pun pasrah dan akhirnya menyerahkan pemilihan menu sesuai rekomendasi si pramuniaga, dengan syarat menu tersebut harus halal. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Setelah memilih-milih menu rekomendasi dari si pramuniaga, saya pun memilih Tan-men.</p>
<p>Setelah menu dipesan, kita akan disuguhi gelas kecil berisi air putih sebagai &#8220;welcome drink&#8221;. Bila air di dalam gelas ini habis, pramuniaga akan mengisinya lagi. Sambil menunggu, saya mengamati peta jalur kereta bawah tanah di Jepang yang terpampang. Tak jelas daerah mana karena semuanya berhuruf kanji.</p>
<p>Mengamati peta yang jalurnya mbundet ini membuat saya berpikir, betapa rumitnya pengaturan jalur-jalur kereta di sana. Hampir setiap sudut dapat dijangkau hanya dengan menggunakan kereta yang jalurnya saling menyilang dan tumpang tindih ini. Namun kerennya, meskipun njlimet, semuanya serba teratur dan tepat waktu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
<p>Iklan sebuah produk pemutih kulit yang ditayangkan di TV juga menarik perhatian saya. Bayangkan, di Jepang yang cewek-ceweknya udah putih, kok masih butuh produk pemutih kulit? Mau seputih apa? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Tak lama pesanan saya pun datang. Saya sudah menduga sebesar apa porsinya, sehingga ketika pesanan saya datang, saya ndak begitu kaget. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/tanmen-ramen.jpg" alt="Tanmen Ramen" title="Tanmen Ramen" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1051" /></p>
<p>Tan-men, yang konon berasal dari Schezwan di Tiongkok ini, berisi ramen, potongan daging sapi (aslinya menggunakan daging babi) yang direbus tak terlalu lama sehingga berwarna coklat muda-kemerahan, sayuran berupa kubis, tauge, wortel, dan buncis. Kuahnya menggunakan miso (tauco Jepang) dan minyak wijen yang di lidah saya rupanya masih kurang berasa &#8220;nendang&#8221; karena terbiasa dengan masakan Indonesia yang berempah.</p>
<p>Porsinya rupanya cukup menipu, karena ternyata isi mie-nya tidak sebesar mangkoknya. Jadi jangan khawatir dan keder duluan ketika melihat mangkuk segede baskom terhidang di depan hadapan Anda. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Jika sudah selesai, pramuniaga akan memberikan bonus berupa segelas kecil berisi potongan agar-agar sebagai pencuci mulut. Tak lupa ucapan &#8220;arigatou gozaimash&#8221;, diiringi bungkukan dari pramuniaga mengiringi saya keluar dari kedai.</p>
<p>Menurut website resminya, kedai Ramen 38 ini juga ada di Wisma Hoka Jl. Wahid Hasyim, Cikarang, Mall Pondok Indah 2, Mall Artha Gading, dan di FX (Kuishinbo).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/ramen-38-kedai-ramen-bernuansa-jepang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gudeg Ceker Margoyudan, Juaranya Gudeg Solo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/gudeg-ceker-margoyudan-juaranya-gudeg-solo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/gudeg-ceker-margoyudan-juaranya-gudeg-solo.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 19:16:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[gudeg]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1043</guid>
		<description><![CDATA[Gudeg rupanya ndak melulu menjadi monopoli Jogja. Meskipun berdekatan, namun cita rasa gudeg ala Solo ini berbeda dengan gudeg Jogja yang terkenal manis tersebut. Solo memang merupakan salah satu surga kuliner di Indonesia. Berbagai makanan enak banyak dijual dengan waktu penjualan yang berbeda-beda, mulai dari pagi hari, siang hari, malam hari, maupun dini hari. Ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/gudeg-ceker.jpg" alt="Gudeg Ceker Bu Kasno" title="Gudeg Ceker Bu Kasno" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1044" /></p>
<p>Gudeg rupanya ndak melulu menjadi monopoli Jogja. Meskipun berdekatan, namun cita rasa gudeg ala Solo ini berbeda dengan gudeg Jogja yang terkenal manis tersebut.</p>
<p>Solo memang merupakan salah satu surga kuliner di Indonesia. Berbagai makanan enak banyak dijual dengan waktu penjualan yang berbeda-beda, mulai dari pagi hari, siang hari, malam hari, maupun dini hari.</p>
<p><span id="more-1043"></span>Ketika pulang ke Solo beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung kembali ke Gudeg Ceker Margoyudan yang sangat termahsyur itu. Kebetulan letaknya juga ndak jauh dari SMA saya, jadi sekalian bernostalgia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Gudeg Bu Kasno, yang terletak di Jl. Monginsidi, Solo ini memang sudah termahsyur sejak tahun 1960-an. Ceker ayam yang begitu empuk memang menjadi jagoan dari gudeg ini. Bayangkan, kita bisa dengan mudah melolosi daging dari tulang dengan lidah tanpa perlawanan sedikit pun!</p>
<p>Jam bukanya pun ajaib, yaitu sekitar jam 2 dini hari. Namun jangan salah, yang rela mengantre itu banyak banget! Bahkan sebelum warung resmi dibuka, pengunjung sudah rela mengantre!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/antrian-gudeg.jpg" alt="Antrian di Gudeg Ceker" title="Antrian di Gudeg Ceker" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1045" /></p>
<p>Karena saking banyaknya orang yang hendak menikmati gudeg ini, maka tata letak warung pun disesuaikan. Kita bisa memilih duduk di depan si ibu dan menikmati gudeg dengan menahan piring dengan salah satu tangan, atau duduk di dingklik-dingklik kayu yang sudah disediakan.</p>
<p>Di tempat ini memang sengaja tidak memberikan meja, demi alasan efisiensi tempat. Jadi pengunjung datang, antre, duduk, makan, kemudian pergi karena tempatnya akan digunakan oleh pengunjung lain.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/tanpa-meja.jpg" alt="Tanpa meja" title="Tanpa meja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1046" /></p>
<p>Maka jika Anda berkunjung ke Solo dan kelaparan pada tengah malam, jangan khawatir. Gudeg ceker akan membinasakan rasa lapar Anda dan memanjakan lidah Anda, tentunya Anda harus rela mengantre dengan tertib.</p>
<p>Duh, jadi lapar!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/gudeg-ceker-margoyudan-juaranya-gudeg-solo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pizza Meteran, Lezatnya Panjang!</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pizza-meteran-lezatnya-panjang.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pizza-meteran-lezatnya-panjang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 03:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[pizza]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=915</guid>
		<description><![CDATA[Pizza, ternyata ndak hanya berbentuk bundar seperti yang kita kenal selama ini. Isi atau toppingnya pun, ternyata ndak harus melulu itu-itu aja. Di Bogor, ada pizza yang dijual dalam skala ukuran meter. Ya, seperti beli kain, namun kita ndak harus beli sepanjang beberapa meter, namun cukup beberapa centimeter saja. Hari Ahad (9/11) lalu, saya, Dita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-916" title="Pizza Meteran" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/pizza-meteran.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Pizza, ternyata ndak hanya berbentuk bundar seperti yang kita kenal selama ini. Isi atau toppingnya pun, ternyata ndak harus melulu itu-itu aja.</p>
<p>Di Bogor, ada pizza yang dijual dalam skala ukuran meter. Ya, seperti beli kain, namun kita ndak harus beli sepanjang beberapa meter, namun cukup beberapa centimeter saja.</p>
<p><span id="more-915"></span>Hari Ahad (9/11) lalu, saya, <a title="Nonadita" href="http://nonadita.com/" target="_blank">Dita</a>, dan <a title="Suprie" href="http://suprie.in.ruangkopi.com/" target="_blank">Suprie</a> nyobain pizza meteran tersebut yang dijual di Pastel &amp; Pizza Risttafel Pap, Jalan Binamarga I/1, Bogor. Letaknya pun cukup strategis. Berada di tepi jalan tol Jagorawi, ketika keluar dari gerbang tol Bogor, ambil arah ke Tanah Baru (Novotel Bogor).</p>
<p>Bangunan bercorak art-deco ini begitu mengesankan. Kanopi-kanopi yang berada di atas jendela berkotak-kotak, plus lampu-lampu gantung, serta desain interior yang bergaya campuran Eropa dan Indonesia benar-benar memberikan konsep berbeda.</p>
<p>Bagi yang pernah berkunjung ke DBC, Macaroni Panggang, atau Pie Apple Pie, suasana semacam ini tentunya ndak asing lagi. Tentu saja, karena pengelola keempat resto tersebut masih dalam satu grup.</p>
<p>Kami langsung menuju ke lantai paling atas yang diberi nama ruang &#8220;jantung pisang&#8221;. Kami memilih ruangan ini karena menginginkan pemandangan yang lebih leluasa.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-917" title="Ruang Jantung Pisang" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/ruang-jantung-pisang.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Sebenernya ada beberapa ruangan yang bisa dipilih. Namun kami memilih berada di ruangan paling atas.</p>
<p>Kami pun memesan menu andalah resto ini, pizza meteran. Kami memesan pizza sepanjang seperempat meter yang berisi 4 slice pizza. Harganya pun cukup murah, 9 ribu rupiah per slice. Per slice memiliki panjang sekitar 15 cm dengan lebar sekitar 6 cm (25 cm / 4).</p>
<p>Rasa dari pizza ini begitu unik. Beef pizza yang kami pesan ini rupanya diisi dengan berbagai macam sayuran, ada wortel, kacang kapri, hingga biji jagung manis, plus irisan jamur kuping yang di atasnya diseruti keju chedar.</p>
<p>Rotinya pun empuk, beda banget dengan pizza waralaba semacam Pizza Hut atau Papa Ron&#8217;s. Rupanya bahan dasar roti pizza ini hampir sama dengan bahan dasar pie yang juga dijual di tempat ini. Pantas saja terasa beda dan enak.</p>
<p>Selain genre asin, resto ini juga menjual pizza dari genre manis. Pizza dengan topping coklat berhias strawberry sayangnya belum sempat saya coba ketika melihatnya di meja depan.</p>
<p>Sebuah tungku dari batu bata juga dapat kita lihat ketika kita masuk. Tungku ini masih dipakai walau sangat jarang dikarenakan kendala sulitnya mencari kayu sebagai bahan bakar tungku ini. Bila pizza dipanggang dengan tungku ini, rasanya pun akan lebih mantab.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-918" title="Ruang Pala" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/ruang-pala.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Kami mencoba turun ke bawah. Tak hanya meja-kursi, ada tempat khusus bagi kita yang ingin menikmati pizza sambil duduk bersila sambil beralaskan bantal duduk. Kursinya yang terbuat dari campuran besi dan kayu juga terasa empuk karena bantalan pantat yang tebal.</p>
<p>Tempat ini memang cocok untuk merayakan ultah atau kopdar karena tempatnya yang luas. Makanannya pun enak dan boleh ditjoebaken.</p>
<p>Namun sayang ada yang kurang. Saya sempat menemukan ada sinyal wi-fi di tempat ini, namun rupanya tidak aktif. Menurut pelayan, memang akan ada wi-fi, namun perkara gratis, saya meragukan. Kalo mo yang gratis dan kuenceng, datang aja ke <a title="Wetiga: Warung Wedangan Wi-fi" href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/11/01/wetiga-warung-wedangan-wi-fi.html">Wetiga</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Belum lagi adanya biaya colok listrik yang mahalnya minta ampun. Untuk laptop, sejam dikenai biaya 10 ribu dan untuk henpon (charging batere) dikenai 5 ribu per jam.</p>
<p>Ah, rasanya akan lebih asyik kalo ada wi-fi gratis dan bebas nyolok listrik. Dijamin tempat ini bakal jadi tempat nongkrong yang asyik.</p>
<p>Atau kita tunggu saja Wetiga buka cabang di Bogor? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pizza-meteran-lezatnya-panjang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nostalgia Ayam Bakar Sari Mulia Asli, Megaria</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/nostalgia-ayam-bakar-sari-mulia-asli-megaria.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/nostalgia-ayam-bakar-sari-mulia-asli-megaria.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 12:48:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[ayam bakar]]></category>
		<category><![CDATA[es teler]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/08/04/nostalgia-ayam-bakar-sari-mulia-asli-megaria.html</guid>
		<description><![CDATA[Kompleks Bioskop Megaria yang terletak di pertigaan Jalan Cikini Raya, Jalan Diponegoro, dan Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat ini rupanya menyimpan cerita kuliner nostalgia. Ayam bakar khas Solo ini selain mempunyai cerita historia tersendiri, juga membawa nuansa nostalgia rasa ayam bakar tempat saya besar, Solo. Siapa yang menduga, gedung Bioscoop Metropool yang dibangun pada tahun 1932, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/ayam-bakar1.jpg" alt="Ayam Bakar Megaria" title="Ayam Bakar Megaria" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1151" /></p>
<p>Kompleks Bioskop Megaria yang terletak di pertigaan Jalan Cikini Raya, Jalan Diponegoro, dan Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat ini rupanya menyimpan cerita kuliner nostalgia.</p>
<p>Ayam bakar khas Solo ini selain mempunyai cerita historia tersendiri, juga membawa nuansa nostalgia rasa ayam bakar tempat saya besar, Solo.</p>
<p><span id="more-779"></span>Siapa yang menduga, gedung Bioscoop Metropool yang dibangun pada tahun 1932, selain menjadi salah satu gedung bioskop tertua di Jakarta ini juga mempunyai cerita kuliner yang lajak ditjoebaken.</p>
<p>Di samping gedung berarsitektur De Stijl yang dirancang oleh Han Groenewegen inilah kami memulai petualangan kuliner kami.</p>
<p>Warung Ayam Bakar Sari Mulia Asli, begitu nama warung yang terletak tepat di sebelah barat-laut di samping Bioskop Megaria ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/bioskop-megaria.jpg' alt='Bioskop Megaria' /></p>
<p>Aroma kesohoran langsung terasa begitu memasuki warung sederhana yang ditandai dengan banyaknya pengunjung dan hiruk pikuk malam itu.</p>
<p>Sesuai menu, ayam bakar pun kami pesan dengan segera. Daging ayam potong yang konon melewati 3 tahap pemrosesan ini begitu ngawe-awe untuk segera disantap.</p>
<p>Proses pengolahan ayam bakar ini memang khas, yaitu daging ayam direndam dulu dalam air berbumbu kecap yang sering disebut dengan nama <em>mbacem</em>. Cara ini memungkinkan bumbu dapat meresap ke dalam daging.</p>
<p>Setelah dirasa bumbu cukup meresap, daging kemudian digoreng terlebih dahulu agar matang. Cara ini digunakan untuk mengurangi lemak.</p>
<p>Baru ketika akan disajikan, ayam ini baru dibakar di atas arang dalam waktu yang ndak lama, sampai benar-benar kecoklatan, dan beberapa bagian di sana-sini gosong kemripik.</p>
<p>Cara membakarnya pun unik, yaitu dengan menggunakan arang. Untuk menghasilkan angin, bukan kipas yang digerakkan dengan tangan yang digunakan untuk memasok oksigen, namun menggunakan kipas angin listrik.</p>
<p>Hasilnya, panas arang yang konsisten, sekonsisten putaran dan hembusan angin yang dihasilkan oleh kipas angin tersebut.</p>
<p>Ayam ini pun disajikan lengkap dengan lalapan timun, kemangi, kobis, serta sejumprut sambal merah menantang.</p>
<p>Ketika disobek, daging ayam ini menyerah pasrah tanpa perlawanan. Bumbunya pun cukup meresap dengan menghantarkan nuansa manis kecap.</p>
<p>Menurut saya, walau bumbunya masih ndak senendang Ayam Bakar Ojo Gelo di samping Stasiun Purwosari, Solo, yang ngangeni itu, ayam bakar ini bolehlah dicoba sebagai ayam bakar gagrak Solo yang boleh ditjoebaken.</p>
<p>Rasa ayam bakarnya begitu sederhana, sesederhana pola arsitektur Bioskop Megaria yang banyak menggunakan unsur-unsur garis vertikal dan horisontal, yang mengingatkan saya akan perpaduan bangunan Stasiun Tugu Yogyakarta dan gedung tua kampus UGM.</p>
<p>Sambel berwarna merah tersebut ndak berani saya coba. Bisa jadi sambal itu dapat memeriahkan rasa yang sederhana tersebut.</p>
<p>Ah, saya jadi teringat <a href="http://nonadita.com/" title="Nona Dita" target="_blank">Dita</a> yang mungkin akan kegirangan melihat sambal sejumprut itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Selain ayam bakar, tahu bacemnya juga layak dipoedjiken. Rasa tahu bacem dengan keempukan dan rasa manis yang &#8220;pas&#8221; cukup membuat saya terngiang kembali buaian kota Solo yang membesarkan saya itu.</p>
<p>Jangan lupa pesan lah segelas Es Teler yang konon merupakan es teler pertama yang diciptakan di Indonesia.</p>
<p>Sejak dulu hingga kini, pengemasan dan komposisi es ini ndak pernah berubah. Diwadahi dalam gelas, bukannya mangkok, membuat kita harus lihai dalam menikmati sensasi es ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/es-teler-megaria.jpg' alt='Es Teler Megaria' /></p>
<p>Potongan alpukat, suiran kelapa muda, dan nangka yang berpadu dalam susu, air gula, dan air kelapa ini begitu istimewa.</p>
<p>Ada cerita di balik nama Es Teler ini. Konon dulu, Tukiman Darmowijono yang asli Solo ini membuka usaha dagang rokok. Suatu malam dia mimpi didatangi oleh kelinci yang menjelma menjadi kakek tua menyarankan ia untuk berdagang yang segar-segar.</p>
<p>Tukiman pun mengganti usahanya dengan berdagang es buah dan es campur. Salah satu remaja konsumennya pun meminta Tukiman untuk membuat es yang ramuannya begitu sederhana, yang komposisinya hanya kelapa, nangka, dan alpukat.</p>
<p>&#8220;Sedap dan bikin teler..&#8221;, begitu jawaban anak muda itu ketika ditanya kenapa dia suka dengan ramuan es yang nyeleneh ini. Sejak saat itulah nama es racikan ini disebut dengan Es Teler.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/nostalgia-ayam-bakar-sari-mulia-asli-megaria.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayam Geprek Bikin Merem Melek</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/ayam-geprek-bikin-merem-melek.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/ayam-geprek-bikin-merem-melek.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 12:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[ayam geprek]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/30/ayam-geprek-bikin-merem-melek.html</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari rasa penasaran saya terhadap nama menu yang cukup terkenal di Bogor ini, saya pun akhirnya mencobanya. Rasa penasaran saya semakin bertambah apalagi setelah melihat begitu banyak orang yang rela antri berdiri-diri hanya demi menikmati sepotong daging ayam. Bertempat di warung Ayam Geprek Istimewa, Jl. Bangbarung Raya No. 54, Bantarjati, Bogor, warung ini terletak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/ayam-geprek1.jpg" alt="Ayam Geprek" title="Ayam Geprek" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1158" /></p>
<p>Berawal dari rasa penasaran saya terhadap nama menu yang cukup terkenal di Bogor ini, saya pun akhirnya mencobanya.</p>
<p>Rasa penasaran saya semakin bertambah apalagi setelah melihat begitu banyak orang yang rela antri berdiri-diri hanya demi menikmati sepotong daging ayam.</p>
<p><span id="more-754"></span>Bertempat di warung Ayam Geprek Istimewa, Jl. Bangbarung Raya No. 54, Bantarjati, Bogor, warung ini terletak berada di samping rumah bergaya art deco dengan taman yang cukup rimbun.</p>
<p>Menurut <a href="http://nonadita.com/" title="Nona Dita" target="_blank">si pecinta ayam geprek</a>, yang istimewa dari ayam ini adalah <a href="http://nonadita.dagdigdug.com/archives/555" title="Sambel Ayam Geprek" target="_blank">sambalnya</a> benar-benar maut. La kalo gitu makan saja sambalnya tanpa ayam. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sembari menunggu tempat duduk, saya melihat-lihat sekeliling. Tempat yang ndak begitu luas, membuat para pengunjung sampe rela antri berdiri-diri.</p>
<p>Warung ini pun banyak didatangi oleh berbagai kalangan, mulai dari keluarga, pasangan ABG, hingga eksekutif muda berdasi ada di sini.</p>
<p>Akhirnya setelah menunggu cukup lama, saya mendapat tempat duduk. Duduk di sebuah kursi rotan dan menghadap meja rotan bundar dengan selembar kaca di atasnya, pelayan datang menghantarkan menu.</p>
<p>Suasana yang begitu ramai membuat saya langsung merasa kurang nyaman. Bayangkan, anda hendak makan, namun seolah-olah anda ditunggui untuk segera menghabiskan makanan anda dan cabut dari tempat duduk karena meja akan dipakai oleh pengunjung lainnya.</p>
<p>Kami memesan Ayam Geprek, Tahu Susur, dan Tumis Kangkung. Agak lama, pesanan kami akhirnya datang. Rupanya karena saking banyaknya pengunjung, pelayannya cukup kerepotan.</p>
<p>Bentuk dari ayam goreng ini lucu juga. Gepeng karena &#8220;digeprek&#8221;, ndak kayak ayam goreng lainnya yang biasanya <em>mekungkung</em> dan <em>mlenuk</em> di atas piring. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Entah bagaimana teknik menggepreknya, namun rupanya daging ayam ini bisa menjadi sedemikian lunak. Sekali tarik, daging pun langsung sobek tanpa perlawanan.</p>
<p>Remah-remahan tepung berbumbu semakin memeriahkan suasana dengan rasa kriuk-kriuknya. Warna kuning terang menunjukkan minyak yang digunakan untuk menggoreng masih cukup bagus.</p>
<p>Saya pun mencoba rasa ayamnya. Rasa gurih cenderung asin merupakan rasa ayam yang dominan. Dita memaksa saya untuk mencoba sambalnya. Woh, padahal saya ini ndak doyan sambal, je. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Melihat bentuk sambalnya saja saya sudah bergidik ngeri. Warna merah-oranye dengan sedikit warna hijau yang muncul malu-malu membuat saya meringis.</p>
<p>Bau cabe rawit langsung menyeruak seolah hendak menunjukkan kegarangannya, bahkan sebelum sampai ke mulut. Ndak mau dibilang cemen, saya pun akhirnya menguji nyali.</p>
<p>Saya memberanikan diri mendulit sambal yang ada dan dengan dada berdebar-debar saya memasukkannya ke dalam mulut.</p>
<p>Begitu masuk ke dalam mulut, lidah saya langsung terbakar, mata saya langsung merem-melek, kebakaraaann!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#111;' /></p>
<p>Teh manis punya Dita langsung saya sikat dengan kalap. Buset, kok bisa-bisanya dia bisa jatuh cinta sama sambal yang sedemikian laknat?</p>
<p>Dita cuma ketawa melihat saya kepedasan. Saya masih saja merem melek.</p>
<p>Akhirnya saya harus puas dengan menikmati ayam dengan rekan tumis kangkung. Sedangkan Dita malah asyik ber-huh-hah-huh-hah menikmati sensasi pedas sambil nyruputi tulang.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sensasi rasa pedas masih tersisa di mulut, menunjukkan betapa kejamnya itu sambal. Uniknya, banyak orang datang ke tempat ini justru karena tergila-gila dengan sambalnya yang laknat itu.</p>
<p>Tahu Susurnya juga lumayan istimewa. Tepung yang menyelimuti tahu inilah yang saya rasakan begitu istimewa. Sedangkan isinya, ya seperti tahu isi biasa, seonggok tauge dan potongan wortel.</p>
<p>Menurut saya, Ayam Geprek ini ndak begitu istimewa. Ketenaran menu ini justru tertolong oleh kedahsyatan sambalnya.</p>
<p>Bagi penyuka sambal, tiada salahnya untuk mencoba menu ini. Siapa tau anda bisa tergila-gila kayak <a href="http://nonadita.dagdigdug.com/?s=ayam+geprek" title="Nona Dita Geprek" target="_blank">si Dita Geprek</a> itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/ayam-geprek-bikin-merem-melek.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bubur Ayam Subuh versus Bandrek Abah</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/bubur-ayam-subuh-versus-bandrek-abah.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/bubur-ayam-subuh-versus-bandrek-abah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 03:36:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[bubur]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/27/bubur-ayam-subuh-versus-bandrek-abah.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebenernya kapan sih waktu yang mantab untuk makan bubur ayam? Pagi? Siang? Malam? Urusan buryam begini, si Nona van Bogor lebih pandai berpantun, eh menuntun. Namun pas Ngubek Pasar Subuh Blok M beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sensasi berbeda dari bubur ayam. Menikmati bubur ayam dengan backsound adzan Subuh! Bubur Ayam, siapa sih yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/buryam-subuh1.jpg" alt="Bubur Ayam Shubuh" title="Bubur Ayam Shubuh" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1159" /></p>
<p>Sebenernya kapan sih waktu yang mantab untuk makan bubur ayam? Pagi? Siang? Malam? Urusan buryam begini, si <a href="http://nonadita.com/" title="Nona Dita" target="_blank">Nona van Bogor</a> lebih pandai berpantun, eh <a href="http://nonadita.com/2005/01/18/bubur-ayam-bogor/" title=" bubur ayam bogor" target="_blank">menuntun</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Namun pas <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/18/ngubek-pasar-subuh-blok-m.html" title="Ngubek Pasar Subuh Blok M">Ngubek Pasar Subuh Blok M</a> beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sensasi berbeda dari bubur ayam. Menikmati bubur ayam dengan backsound adzan Subuh! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><span id="more-748"></span>Bubur Ayam, siapa sih yang ndak kenal? Bubur dari beras yang ditaburi berbagai aksesori, mulai dari suiran daging ayam (ya iya deh! sayur aja sayur lodeh) plus peramai suasana semacam krupuk aci atau emping melinjo, kemudian disiram kuah berbumbu.</p>
<p>Perut lapar menggelepar pada Subuh hari memang wajar. Apalagi sejak semalam belum makan, membuat cacing perut berteriak gusar. Eh la kok ndilalah ada penjual Bubur Ayam di tengah pasar. Langsung saja kami datang untuk segera menghajar.</p>
<p>Penjualnya ibu-ibu berjilbab yang memang tiap hari nongkrong memarkir <acronym title="mobil toko">moko</acronym>nya di sudut Pasar Shubuh.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/moko-buryam.jpg' alt='Mobil toko Bubur Ayam Bintaro' /></p>
<p>Moko ini begitu mudah dikenali karena selain memasang label &#8220;Bubur Ayam Bintaro&#8221; dan warnanya yang mencolok, moko ini satu-satunya yang menjual Bubur Ayam di tengah surga jajanan dan makanan kecil.</p>
<p>Hawa dingin menggigit kulit plus tusukan air hujan yang sejak tadi menghujam tubuh kami membuat kami tak sabar untuk menghangatkan diri. Bayangan kehangatan Bubur Ayam sudah terbayang dengan liar.</p>
<p>Selama menunggu bubur tersebut diracik, saya melihat sebuah botol yang berdiri malu-malu di pojokan. Botol sirup berlabel &#8220;Bandrek Abah Minuman Khas Parahyangan&#8221; dengan kemasan klasik telah membuat rasa penasaran saya terusik.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/bandrek-abah.jpg' alt='Bandrek Abah' /></p>
<p>Segelas Bandrek hangat langsung saya pesan dan rupanya langsung tersaji cepat. Bau wangi jahe langsung menyeruak ketika saya hendak meniup-niup Bandrek yang masih mendidih tersebut.</p>
<p>Sruput-demi sruput saya mencicipi Bandrek tersebut. Jejak pedas yang timbul di pangkal kerongkongan saya identifikasikan sebagai lada. Rasa manis dihantarkan oleh gula aren yang juga berfungsi membuat warna menjadi coklat.</p>
<p>Rasa pala dan serai lamat-lamat saya rasakan di ujung pengecap. Jejak pedas masih terasa di mulut ketika reaksi hangat Bandrek sudah membuat perut hangat.</p>
<p>Baru saja terbuai oleh pesona &#8220;Abah&#8221;, Bubur Ayam pun tersaji di depan mata. Bau wangi seledri yang tersentuh hangatnya bubur putih semakin menggerakkan imajinasi liar saya.</p>
<p>Belum sempat makan, kami sudah ditawari tambahan kerupuk aci. &#8220;Wah, lebih mantab lagi kalo ada emping melinjo..&#8221;, spontan saya berceletuk.</p>
<p>&#8220;Dulu memang kami menggunakan emping melinjo, Mas. Tapi karena banyak yang kurang suka, kami tidak menyediakannya lagi..&#8221;, sahut ibu penjual yang ternyata mendengar celetukan saya.</p>
<p>Isi bubur ini begitu padat berisi. Ada potongan telur rebus, kentang rebus, suiran ayam goreng yang begitu banyak, dan taburan bawang goreng membuat bubur putih tak nampak sama sekali. Belum lagi kerupuk aci warna-warni yang menghiasi.</p>
<p>Dalam menikmati Bubur Ayam, saya lebih suka makan dengan &#8220;garingan&#8221;. Maksudnya ndak menggunakan kuah bumbu sama sekali. Mungkin ini kebiasaan saya masa kecil yang suka makan bubur tanpa menggunakan kuah.</p>
<p>Kualitas buburnya boleh juga. Warna putih bersih menandakan beras yang digunakan juga istimewa. Bubur yang ndak terlalu padat namun juga tak terlalu encer berasa gurih menunjukkan waktu pemasakan dan komposisi air yang pas.</p>
<p>Adzan Subuh yang bergaung bersahut-sahutan menyadarkan keberadaan saya. Rupanya, Bubur Ayam juga bisa dinikmati pada Subuh hari.</p>
<p>Sisa Bandrek yang tingal separo gelas akhirnya menutup kehangatan pagi itu. Bandrek panas-pedas berpadu dengan Bubur Ayam rupanya bisa jadi pasangan yang pas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/bubur-ayam-subuh-versus-bandrek-abah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kue Putu Tanpa Bambu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kue-putu-tanpa-bambu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kue-putu-tanpa-bambu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 09:28:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[putu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/25/kue-putu-tanpa-bambu.html</guid>
		<description><![CDATA[Saya jadi teringat tebak-tebakan jaman kecil dulu. &#8220;Penjual apa yang menjajakan dagangannya dengan cara menangis?&#8221; Yak, pedagang Kue Putu, jawabannya. Bukan karena penjualnya beneran nangis, namun suara &#8220;hhuuuuuuu&#8221; panjang dari cerobong peluit yang tertiup uap air yang mirip dengan suara tangisan inilah sebabnya. Masih dari Bogor, saya menemukan kembali penjual Kue Putu. Namun yang unik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/kue-putu1.jpg" alt="Kue Putu" title="Kue Putu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1160" /></p>
<p>Saya jadi teringat tebak-tebakan jaman kecil dulu. &#8220;Penjual apa yang menjajakan dagangannya dengan cara menangis?&#8221;</p>
<p>Yak, pedagang Kue Putu, jawabannya. Bukan karena penjualnya beneran nangis, namun suara &#8220;hhuuuuuuu&#8221; panjang dari cerobong peluit yang tertiup uap air yang mirip dengan suara tangisan inilah sebabnya.</p>
<p><span id="more-743"></span>Masih dari Bogor, saya menemukan kembali penjual Kue Putu. Namun yang unik, Kue Putu ini diuapkan tidak di dalam selongsong bambu, namun dalam potongan pipa PVC!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/putu-pralon.jpg' alt='Putu di dalam pipa' class="alignright" /></p>
<p>Sebuah pipa berdiameter sekitar 5 cm dipotong sepanjang kurang lebih 10 cm kemudian dililit karet bekas ban digunakan untuk menguapi adonan &#8220;serbuk&#8221; beras.</p>
<p>Inilah ciri khas Kue Putu, penguapan dengan uap air melalui lubang kecil ini membuat gula merah yang disisipkan di tengah adonan menjadi meleleh dan &#8220;serbuk&#8221; beras tadi menjadi lebih hangat dan bisa menyatu.</p>
<p>Kita sering melihat penggunaan bambu untuk melakukan &#8220;pengukusan&#8221; seperti ini, namun rupanya bahan bambu yang mudah rusak membuat sang penjual berpikir kreatif dan nyeleneh, yaitu menggunakan pipa PVC yang lebih awet demi menghemat biaya maintenance. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Memang penggunaan bambu atau pun pipa, ndak berpengaruh sama sekali ke rasa. Begitu pula dalam urusan bentuk. Namun, ide kreatif inilah yang menurut saya unik.</p>
<p>Saya teringat dengan Kue Putu sejenis yang pernah saya temukan pula pas jaman kecil ketika main di tempat bude saya di Bogor.</p>
<p>Kue Putu diuapi dalam selongsong bambu berdiameter besar! Sekitar 10 cm barangkali ada. Dan untuk menguapkannya pun, dibutuhkan 3 lubang penghembus uap sekaligus.</p>
<p>Serbuk beras itu sebenernya sudah matang. Dimakan langsung tanpa diuapi pun bisa. Rasanya? Hambar cenderung gurih. Bila ndak percaya silakan mencoba. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Adonan tepung beras dan air dikukus terlebih dulu. Setelah matang dan bisa dibentuk,  adonan dimasukkan ke dalam saringan kawat, lalu ditekan dan gosok-gosok dengan tangan sehingga adonan keluar dalam bentuk butiran.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/bikin-kue-putu.jpg' alt='Masukkan adonan ke dalam pipa' /></p>
<p>Nah, adonan &#8220;serbuk&#8221; inilah yang kemudian dimasukkan ke dalam potongan pipa dan &#8220;dikukus&#8221;. Jangan lupa, serutan gula jawa harus dimasukkan di tengah supaya mak nyus.</p>
<p>Tak lama, sekitar semenit adonan kue dalam pipa matang. Dengan menggunakan semacam <em>sunduk</em> dari kayu, adonan dalam pipa ini disodok hingga keluar dari pipa. Srut.. Srut.. Srut!</p>
<p>Satu per satu silinder-silinder hangat pengundang selera itu pun disusun seperti piramid, sebelum ditaburi parutan kelapa.</p>
<p>Bila saya perhatikan, ada beberapa perbedaan dengan Kue Putu yang saya temukan di Solo, juga pas saya masih kecil. Kue Putu di Solo berwarna putih, sedangkan yang saya temukan di Bogor (dan juga di Jakarta) berwarna hijau. Warna hijau ini dibuat dengan menggunakan air daun suji.</p>
<p>Penjualnya pun, ada yang menggunakan sepeda dan ada juga yang menggunakan pikulan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/penjual-kue-putu.jpg' alt='Penjual Kue Putu' /></p>
<p>Seperti pada penjual Kue Putu di atas. Dengan mengempelkan stiker karakter tokoh super hero semacam Spiderman, menjadikan rombong dagangannya terlihat lebih rame, ciamik, meriah, dan nyentrik!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kue-putu-tanpa-bambu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecap Zebra, Kecap Asli Bogor</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kecap-zebra-kecap-asli-bogor.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kecap-zebra-kecap-asli-bogor.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 07:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[kecap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/23/kecap-zebra-kecap-asli-bogor.html</guid>
		<description><![CDATA[Pas keluyuran ngicip-icip penganan di Bogor kemarin, saya menemukan penjual soto yang menggunakan kecap (cap) Zebra. Konon kecap ini adalah kecap asli Bogor yang telah ada sejak kurang lebih 60 tahun yang lalu. Pabrik kecap ini berdiri pada tahun 1945 di daerah Gunung Batur, Bogor. Pabrik ini dibangun oleh Soedjono, seorang pembuat kecap yang mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/kecap-zebra1.jpg" alt="Kecap dan Cuka Cap Zebra" title="Kecap dan Cuka Cap Zebra" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1162" /></p>
<p>Pas <a href="http://suprie.in.ruangkopi.com/2008/06/23/weekend-kemarin/" title="Weekend Kemarin" target="_blank">keluyuran</a> <a href="http://ndobos.com/2008/06/23/bersama-keluarga/" title="Bersama Keluarga" target="_blank">ngicip-icip penganan</a> di Bogor kemarin, saya menemukan penjual soto yang menggunakan kecap (cap) Zebra.</p>
<p>Konon kecap ini adalah kecap asli Bogor yang telah ada sejak kurang lebih 60 tahun yang lalu.</p>
<p><span id="more-741"></span>Pabrik kecap ini berdiri pada tahun 1945 di daerah Gunung Batur, Bogor.  Pabrik ini dibangun oleh Soedjono, seorang pembuat kecap yang mempunyai keahlian turun temurun dalam dunia perkecapan, yang berasal dari Juwana, Pati, Jawa Tengah.</p>
<p>Kecap produksi Soedjono awalnya diberi nama label Badak, namun setelah berproduksi selama 5 tahun, merk itu ternyata banyak dipalsukan dan membuat usaha kecap ini kolaps.</p>
<p>Tahun 1960, label Badak pun diganti dengan label Zebra. Ndak ingin mengulangi kerugiannya di masa lalu, merk ini segera dipatenkan.</p>
<p>Ndak seperti pabrik kecap lainnya, konon semua proses pembuatan kecap ini pun masih menggunakan cara tradisional. Mulai dari fermentasi, pengolahan, dan pengemasan, semuanya hand-made alias tradisional.</p>
<p>Bahan bakunya pun, kebanyakan masih alami. Kedelai yang telah difermentasi selama 1 bulan, dicampur dengan gula kelapa, garam,  bumbu, dan air. Satu-satunya bahan pengawet hanyalah <em>Natrium benzoat</em> yang umum digunakan dalam industri makanan.</p>
<p>Kemasannya pun unik. Botol kecap biasa yang cuma ditempeli label kertas dengan cetakan duo-tone, hitam-putih. Logo Zebra yang digunakan, bila diperhatikan, adalah Zebra jantan.</p>
<p>Kok tau itu jantan atau betina? Liat dari stripingnya. Zebra jantan warnanya putih bergaris hitam, sedangkan zebra betina berwarna hitam bergaris putih. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dengan desain yang klasik banget ini membuat kecap ini begitu unik dan lucu. Ah, soal perlabel-an ini, <a href="http://label.blogombal.org/2007/03/01/kecap-bergaris/" title="Kecap Bergaris" target="_blank">Paman Gombal</a> itu lebih tau banyak.</p>
<p>Label-label beginian ini mengingatkan saya pada Kecap Cap Jeruk dengan foto sepasang suami istri keturunan Tionghoa di label belakangnya jaman saya kecil ketika di Surabaya. Hoho..</p>
<p>Namun, yang bikin saya penasaran, kenapa menggunakan gambar Zebra? Kenapa ndak menggunakan Talas sebagai merk kecap? Mungkin njenengan tau? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sebagai leader dan tetua di dunia perkecapan Bogor, kecap Zebra bisa dibilang menguasai peta kuliner Bogor. Mulai dari pedagang soto hingga tauge goreng, saya melihat kecap ini banyak digunakan.</p>
<p>Rasanya yang khas dan mBogor banget inilah yang mungkin membuat kecap ini tetep menjadi kecap andalan penganan khas Bogor. Soal rasa, <a href="http://tumisgenjer.multiply.com/" title="Andrew Mulianto" target="_blank">Mas Andrew Mulianto</a> si tukang kecap, eh pendekar kecap dari perguruan <a href="http://yahoogroups.com/group/jalansutra" title="JalanSutra" target="_blank">JalanSutra</a> yang pandai membedakan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dari botol yang saya temukan, rupanya pabrik ini juga memproduksi cuka makanan dengan label serupa berbeda warna, Cap Zebra! Sebuah diversifikasi usaha yang semoga selalu bertahan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Pabriknya sekarang, berada di daerah Ciampea, Kabupaten Bogor. Konon kita bisa berkunjung ke pabrik kecap ini dan melihat proses produksinya secara langsung.</p>
<p>Ah, jadi pengen ke sana.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kecap-zebra-kecap-asli-bogor.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>90</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kue Gambir, Dodol Khas Bali</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kue-gambir-dodol-khas-bali.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kue-gambir-dodol-khas-bali.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 13:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[dodol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/11/kue-gambir-dodol-khas-bali.html</guid>
		<description><![CDATA[Jumat lalu, Dewi mampir ke BHI. Beliau membawa oleh-oleh berupa brem, kacang, dan sebuah bungkusan berwarna ijo yang diikat rafia merah. Perhatian saya langsung tertuju ke benda yang terbungkus daun tersebut. Bungkusan apakah itu? Rupanya bungkusan yang mengundang gairah itu bernama Kue Gambir! Hoho.. Kue Gambir sendiri bisa dibilang oleh-oleh khas Bali yang kalah pamor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/kue-gambir-bali1.jpg" alt="Kue Gambir Bali" title="Kue Gambir Bali" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1165" /></p>
<p>Jumat lalu, <a href="http://secret-silence.blogspot.com/" title="Secret Silence" target="_blank">Dewi</a> mampir ke <a href="http://b-h-i.blogspot.com/" title="Bunderan HI" target="_blank">BHI</a>. Beliau membawa oleh-oleh berupa brem, kacang, dan sebuah bungkusan berwarna ijo yang diikat rafia merah.</p>
<p>Perhatian saya langsung tertuju ke benda yang terbungkus daun tersebut. Bungkusan apakah itu?</p>
<p><span id="more-729"></span>Rupanya bungkusan yang mengundang gairah itu bernama Kue Gambir! Hoho..</p>
<p>Kue Gambir sendiri bisa dibilang oleh-oleh khas Bali yang kalah pamor dibandingkan dengan brem, salak, dan kacang. Malam itu, Dewi membawakannya. Matur suwun, Mbak!</p>
<p>Daun yang digunakan untuk membungkus kue semacam dodol ini adalah daun bambu. Hati-hati bila membukanya, salah-salah tangan atau bibir bisa luka tergores pinggiran daun bambu yang tajam itu.</p>
<p>Ada 2 lembar daun yang digunakan untuk melapisi kue ini. Setelah dibungkus sedemikian rupa, kue diikat dengan rafia. Saya merasa akan lebih eksotis lagi penampilannya kalo diikat dengan tali dari suiran batang bambu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/kue-gambir-bungkus.jpg' alt='Kue Gambir Bali' /></p>
<p>Setelah dibuka, nongol lah sebuah gundukan dengan bentuk yang sekilas ndak meyakinkan. Hitem kecil mengingatkan saya pada.. Ah, sudahlah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_youkiddingme.gif' alt='&#58;&#45;&#106;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#58;&#45;&#106;' /></p>
<p>Ketika dimakan rupanya di tengahnya terdapat tumbukan kacang yang begitu lembut. Menarik sekali. Adonan ketan hitam yang diolah menjadi dodol liat membungkus kacang yang ditumbuk kasar.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/isi-kue-gambir.jpg' alt='Isi Kue Gambir' /></p>
<p>Rasanya yang manis-gurih, begitu pas. Apalagi disantap di kala hujan, berteduh di halte, menikmati kopi 2 ribuan, sambil ngobrol bersama kawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kue-gambir-dodol-khas-bali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

