<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Travelogue</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/category/travelogue/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menyusuri Sungai Li dan Bukit Karst Hingga ke Yangshuo, China</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 09:22:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Guilin]]></category>
		<category><![CDATA[Yangshuo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1541</guid>
		<description><![CDATA[Guilin, China, memiliki hamparan bukit karst terbesar di dunia. Sejak dulu hingga kini, banyak literatur kuno dan kasusastra modern China yang terinspirasi dari keindahan bukit-bukit karst ini. Salah satu karya puisi yang terkenal adalah puisi karya Han Yu, penyair pada era Dinasti Tang yang berbunyi, “The river winds like a blue silk ribbon, while the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/di-yangshuo.jpg" alt="Di Yangshuo" title="Di Yangshuo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1548" /></p>
<p>Guilin, China, memiliki hamparan bukit karst terbesar di dunia. Sejak dulu hingga kini, banyak literatur kuno dan kasusastra modern China yang terinspirasi dari keindahan bukit-bukit karst ini. Salah satu karya puisi yang terkenal adalah puisi karya Han Yu, penyair pada era Dinasti Tang yang berbunyi, <em>“The river winds like a blue silk ribbon, while the hills erect like green jade hairpins.</em>” </p>
<p>Selain bukit-bukir karst, Sungai Li (Li Jiang) merupakan denyut nadi utama dari Guilin. Mulai dari aspek pertanian hingga pariwisata, sangat menggantungkan hidupnya kepada sungai sepanjang 437 Km yang hulunya terletak di Cat Mountain di Xing-an hingga ke Guangzhuo.</p>
<p><span id="more-1541"></span>Dari 437 Km panjang sungai itu, 83 Km di antaranya adalah kawasan dengan pemandangan terindah. Dan untungnya, kawasan ini berada di Guilin. Ndak heran kalo Sungai Li ini dijadikan daya tarik utama pariwisata Guilin.</p>
<p>Untuk menyusuri Sungai Li ada banyak cara. Bila di dalam kota Guilin, kita bisa menaiki rakit bambu atau ikut kapal tur wisata &#8220;2 sungai dan 4 danau&#8221; (2 rivers and 4 lakes cruise), maka bila ingin melihat lukisan alam seperti yang digambarkan oleh Han Yu dalam puisinya, kita harus ikut tur melalui agen perjalanan.</p>
<p>Semua agen perjalanan di Guilin dan penginapan juga menyediakan paket wisata ini yang harganya cukup kompetitif. Biasanya perbedaannya terdapat di fasilitas yang didapat selama tur. Misalnya ada yang paket makan siang, jemputan dari/ke penginapan, dan sebagainya.</p>
<p>Namun kita harus berhati-hati karena banyak juga agen-agen perjalanan abal-abal yang sering menjerumuskan para pejalan. Sebaiknya menggunakan agen perjalanan yang terkenal, meski haganya agak mahal, namun jelas dan terjamin.</p>
<p>Secara umum ada 3 paket yang biasa ditawarkan, menggunakan rakit bambu, kapal biasa, atau kapal wisata. Rakit bambu adalah yang paling murah (sekitar 180 Yuan) dan kapal wisata yang termahal (sekitar 500 Yuan).</p>
<p>Ini pertama kalinya saya ikut tur. Biasanya saya lebih suka melakukan perjalanan secara mandiri. Namun kali ini saya ingin ikut tur karena berbagai pertimbangan, yaitu rute yang ditempuh lebih jauh, memakan waktu sekitar 4 jam, mendapat fasilitas makan siang di atas kapal, dan ini yang terpenting, ada pemandu berbahasa Inggris. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pukul 8 pagi kami sudah dijemput di penginapan. Bener-bener tepat waktu. Setelah dijemput dengan mobil van kecil, kami kemudian di-drop di titik pemberangkatan, berganti naik bus besar. Rombongan kami adalah para wisatawan dari Eropa, bahkan dari rombongan, cuma kami saja yang orang Asia.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/li-river-cruise.jpg" alt="Selain pemandu, hanya kami orang Asia di antara rombongan tur" title="Selain pemandu, hanya kami orang Asia di antara rombongan tur" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1547" /></p>
<p>Wisatawan yang ikut rombongan ini pun terdiri dari berbagai gaya, ada yang memang niat berwisata bareng keluarga, pasangan pensiunan yang ingin menikmati hidup di hari tua dengan foya-foya, hingga backpacker lengkap dengan tas-tas punggung segede kulkas 2 pintu.</p>
<p>Yangyang, nama pemandu kami, membagikan stiker untuk ditempelkan di pakaian sebagai tanda pengenal kelompok. Dia menamakan kelompok kami Panda Group, lengkap dengan bendera yang dipasang pada tongkat yang bisa dipanjang-pendekkan sebagai tanda agar kami bisa dengan mudah berkumpul bila terpisah selama tur. </p>
<p>Perjalanan tur dimulai dari Dermaga Zhujiang yang terletak sekitar 23 Km di selatan pusat kota Guilin. Kami akan menyusuri bagian tercantik dari Sungai Li, sejauh 83 Km menuju ke Yangshuo, semacam kota kecil di selatan Guilin. Yangshuo ini lah yang menjadi daya tarik utama Guilin, karena menawarkan kecantikan alam dan budaya yang unik.</p>
<p>Kapal bergerak dengan kecepatan sekitar 20 Km per jam, sehingga waktu tempuh kami adalah 4 jam. Sejak dari dermaga kami disuguhi pemandangan bukit-bukit karst yang diberi nama sesuai dengan bentuknya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/li-river.jpg" alt="Kapal-kapal wisata bergerak menyusuri Sungai Li" title="Kapal-kapal wisata bergerak menyusuri Sungai Li" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1545" /></p>
<p>Ada bukit yang sekilas berbentuk seorang ibu menggendong anak, bukit dengan bentuk seperti unta, berbentuk seperti kepala kerbau, hingga seperti mahkota. Kami melewati Desa Yangdi, di mana banyak sekali penduduk desa yang mendekati kapal dengan menggunakan rakit bambu, kemudian dengan  mengikatkan rakit mereka ke kapal dan ikut bergerak dengan kapal, mereka menawarkan suvenir berupa topi rajutan atau pernak-pernik lain kepada wisatawan yang berada di atas kapal.</p>
<p>Lewat Desa Yangdi, kami menuju ke Desa Langshi, yang dipercaya berada pada lokasi dengan Fengshui terbaik, yaitu menghadap ke sungai dan berlatar belakang bukit dan gunung. Lokasi ini menurut kepercayaan Fengshui, merupakan lokasi yang amat sangat menguntungkan. Bahkan ketika kita melewati desa ini, kebaikan dan keuntungan desa ini akan mengikuti kita.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/yellow-cloth-shoal.jpg" alt="Yellow Cloth Soal, pemandangan pamungkas di Sungai Li" title="Yellow Cloth Soal, pemandangan pamungkas di Sungai Li" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1544" /></p>
<p>Landmark lain yang terkenal di sepanjang sungai ini adalah bukit yang diberi nama Painted View of Nine Horses, yang mana wisatawan dipersilakan untuk berimajinasi menggambarkan bentuk 9 kuda. Bila kita berhasil menemukan bentuk 9 kuda dari bukit ini, maka dipercaya kita akan mendapat keberuntungan, karena biasanya hanya beberapa orang beruntung saja yang bisa melihat bentuk 9 kuda.</p>
<p>Pemandangan lain yang terkenal adalah yang diberi nama Yellow Cloth Shoal, pemandangan bukit yang tercermin oleh permukaan air, dengan “pantai” berpasir berwarna kuning di tepinya. Saking terkenalnya, gambar ini menjadi semacam gambar standar brosur-brosur wisata atau kartu pos. Bahkan kita juga bisa menemukan pemandangan ini pada uang kertas 20 Yuan. Pemandangan ini pula lah yang seolah-olah menjadi “penutup” dari tur, karena selepas melewati area ini dan masuk ke Desa Xing Ping, pemandangannya sudah tidak begitu istimewa.</p>
<p>Meski begitu, perjalanan masih jauh, sekitar 1 jam hingga ke Dermaga Yangshuo. Bila mau, kita bisa memanfaatkan waktu ini untuk tidur siang sebentar.</p>
<p>Setibanya di Yangshuo, kami langsung dikerubuti para pedagang suvenir dengan sapaan khas mereka, “hello.. hello..”. Karena banyaknya pedagang yang menyapa dengan kata “hello” ini, pasar ini kemudian disebut dengan nama Hello Market.</p>
<p>Selama di Hello Market, ada tips umum yang belaku di sini, yaitu menawar harga hingga sepertiga harga yang ditawarkan. Bila tidak berminat membeli atau cuma sekadar melihat-lihat, disarankan untuk tidak menanyakan harga. Sekali bertanya, berarti berminat membeli. Pedagang akan membuka harga dan kita akan diminta menawar. </p>
<p>Jika kelepasan menanyakan harga, cara yang ampuh untuk menghindar adalah menawar dengan harga serendah mungkin supaya tidak tercapai kesepakatan harga. Tips lain, usahakan bila membayar menggunakan uang pas. Uang palsu banyak beredar di sini, sehingga kadang kembalian yang diberikan pedagang adalah uang palsu.</p>
<p>Yangshuo sendiri luasnya kurang lebih 1,4 Km persegi. Yangshuo memiliki sisi yang unik. Di satu sisi kebudayaan barat sudah sangat umum karena daerah ini merupakan daerah favorit para backpacker, sehingga tidak jarang ditemukan pub dan bar, namun di sisi lain kebudayaan China masih sangat kental melekat dengan kuat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/west-street.jpg" alt="Suasana di West Street (Xie Jie) di Yangshuo yang ramai" title="Suasana di West Street (Xie Jie) di Yangshuo yang ramai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1546" /></p>
<p>Bangunan-bangunan tua dari kayu mendominasi. Papan-papan nama bertuliskan aksara China banyak bergantung, berdiri berdampingan dengan bangunan batu dengan pub dan bar ala western. West Street (Xie Jie) adalah jalan protokol di Yangshuo di mana penginapan, restoran, kafe, pub, dan bar ala barat berdiri.</p>
<p>Pemandangan alamnya yang cantik adalah daya tarik mengapa banyak wisatawan datang ke sini. Bukit-bukit karst berpadu dengan Sungai Li plus arsitektur tua China klasik yang khas, merupakan pemandangan cantik yang tak bisa ditemukan di mana pun.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/mantra-cina.jpg" alt="Mantra-mantra pengusir roh jahat" title="Mantra-mantra pengusir roh jahat" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1549" /></p>
<p>Kami pun meneruskan tur dengan mengikuti Country Side Tour dengan membayar 200 Yuan karena penasaran. Kami dibawa menuju ke sisi desa di Yangshuo yang masih tradisional. Di desa ini, saya baru tau asal muasal tradisi dan kebiasaan masyarakat China.</p>
<p>Misalnya pada rumah-rumah bergaya klasik China, terdapat kertas mantra berwarna merah menempel di kanan-kiri pintu serta gambar perwira langit berwajah seram menempel di daun pintu, mempunyai maksud untuk mengusir roh jahat.</p>
<p>Di bagian kusen atas, terdapat cermin dan di bagian bawah terdapat balok melintang untuk semacam penghalang. Cermin dipasang supaya setan (yang digambarkan sangat jangkung) ketika hendak masuk melalui pintu akan melihat wajahnya sendiri yang menyeramkan sehingga ketakutan. </p>
<p>Sedangkan penghalang di bagian bawah pintu dimaksudkan untuk menghalangi setan yang digambarkan berjalan dengan melompat-lompat (masih ingat cara jalan vampire di film-film China?), sehingga si setan akan tersandung dan tidak dapat masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Rumah-rumah di desa ini kebanyakan belum selesai dibangun. Konon para pemuda desa membangun rumah ini dengan uang seadanya, yang penting punya rumah dulu, karena syarat pria untuk menikah adalah mempunyai rumah.</p>
<p>Di atas kusen pintu, terdapat 2 balok menonjol keluar dengan diameter yang menunjukkan status sosial si pemilik rumah. Makin lebar diameter balok, makin tinggi derajatnya. Pasangan yang hendak menikah sebaiknya mempunyai derajat yang sama. Bila derajat sang pria kebih tinggi dari wanita, maka si wanita tersebut harus rela dijadikan sebagai istri kesekian. </p>
<p>Sebaliknya bila derajat si wanita lebih tinggi daripada pria, maka si pria harus mengikuti marga dan garis keluarga si wanita.<br />
Namun, di antara bangunan-banguna rumah yang sederhana, terdapat sebuah bangunan megah yang sangat menonjol. Sebuah lambang palu-arit nampak terpasang lengkap dengan bendera Wu Xing Hong Qi (bendera nasional China). Rupanya bangunan yang bagus ini adalah kantor pertemuan partai komunis China.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/yulong-view.jpg" alt="Pemandangan dari jembatan Yulong" title="Pemandangan dari jembatan Yulong" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1551" /></p>
<p>Kami kemudian berpindah menuju Yu Long Bridge, sebuah jembatan batu berusia 600 tahun, yang melintasi Sungai Yu Long, salah satu anak Sungai Li. Nama Yu Long sendiri berarti “bertemu naga”. Menurut cerita rakyat, seekor naga dari laut timur tengah berjalan-jalan menyusuri sungai ini, kemudian terkesima dengan pemandangan alam yang cantik, akhirnya menetap. Beberapa penduduk konon melihat naga dari jembatan ini, maka disebutlah sungai dan jembatan ini Yu Long.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/cormorant.jpg" alt="Nelayan menangkap ikan menggunakan burung Cormorant" title="Nelayan menangkap ikan menggunakan burung Cormorant" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1552" /></p>
<p>Dari atas jembatan Yu Long, pemandangannya sungguh cantik. Sekilas saya seperti melihat wallpaper pada komputer Microsoft Windows. Tak jauh dari jembatan ini, terdapat dermaga kecil untuk naik rakit bambu dan menyusuri Sungai Yu Long.</p>
<p>Kami menikmati pertunjukan Cormorant Show, yaitu pertunjukkan nelayan menangkap ikan dengan menggunakan bantuan burung cormorant di Sungai Yu Long. Burung cormorant adalah burung air yang sekilas mirip pelikan, namun paruhnya pendek. Burung ini diikat di bagian pangkal lehernya sehingga ikan yang ditangkap burung ini tidak dapat ditelan. Nelayan kemudian mengambil ikan dengan cara memuntahkan ikan dari mulut burung cormorant menggunakan teknik tertentu.</p>
<p>Dulu cara tradisional ini mampu menyokong roda ekonomi Guilin. Nelayan-nelayan cormorant bisa mendapatkan 15 Kg ikan dengan cara ini. Namun kini, hanya ada 6 nelayan cormorant saja yang masih terampil mempraktekkan cara tradisional tersebut.</p>
<p>Seorang penyanyi wanita berdiri di atas rakit kemudian bernyanyi. Ini merupakan salah satu tradisi di Guilin yang berawal dari etnis Dong pada sebuah Folksong Festival yang diadakan setiap hari ketiga bulan ketujuh pada kalender Lunar. </p>
<p>Pada festival ini sekelompok pemuda dan pemudi saling berkenalan dengan menyanyikan lagu secara bersahut-sahutan. Si wanita kemudian bernyanyi yang intinya bertanya tentang nama, asal-usul, dan sebagainya kepada pria, kemudian si pria menjawab pertanyaan dengan bernyanyi juga. </p>
<p>Festival ini berlangsung selama 3 hari, kemudian pada hari ketiga, si wanita akan memberikan tantangan kepada pria untuk merebut bola keberuntungan. Bila bola ini berhasil didapat, maka si pria berhak menikahi wanita tersebut.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/hill-singer.jpg" alt="Penyanyi wanita di atas rakit" title="Penyanyi wanita di atas rakit" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1553" /></p>
<p>Wanita dengan pakaian tradisional lengkap dengan capingnya menyanyikan lagu seperti pada festival, dibantu dengan pengeras suara. Kemudian nyanyian ini disahut oleh seorang penyanyi wanita lain di rakit yang berbeda. </p>
<p>Tiba-tiba rakit bambu kami berhenti di suatu lapangan. Para bule kemudian turun dengan gembira menghampiri gerombolan kerbau. Oh, ternyata feeding the buffalo dan melihat sawah merupakan bagian dari atraksi tur ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/kebo-cina.jpg" alt="Jauh-jauh ke China cuma untuk ngasih makan kebo" title="Jauh-jauh ke China cuma untuk ngasih makan kebo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1550" /></p>
<p>Kami yang terbiasa melihat kerbau dan sawah di Indonesia cuma senyum dan geleng-geleng melihat bule-bule itu kegirangan menyodorkan rumput untuk dimakan kerbau. Jauh-jauh ke China kok cuma nonton kerbau dan sawah, gumam saya sambil tersenyum kecut..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Guilin, China</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-guilin-china.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-guilin-china.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 07:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Guilin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1529</guid>
		<description><![CDATA[Pernah lihat lukisan atau film-film mandarin dengan setting bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya? Gambar-gambar di lukisan itu bukan khayalan, bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya itu memang nyata dan benar-benar ada. Guilin, adalah kota di China selatan yang memiliki lansekap cantik itu. Terletak di propinsi Guangxi, Guilin menjadi salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/07/jengjeng-guilin.jpg" alt="Di Yulong Bridge, Yongshuo, Guangxi, China" title="Di Yulong Bridge, Yongshuo, Guangxi, China" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1530" /></p>
<p>Pernah lihat lukisan atau film-film mandarin dengan setting bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya? Gambar-gambar di lukisan itu bukan khayalan, bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya itu memang nyata dan benar-benar ada.</p>
<p>Guilin, adalah kota di China selatan yang memiliki lansekap cantik itu. Terletak di propinsi Guangxi, Guilin menjadi salah satu kota tujuan wisata dunia. Kota yang konon telah ada sejak zaman dinasti Qin, tahun 214 SM, dan baru &#8220;ditemukan&#8221; pada tahun 111 SM, memang sejak dulu terkenal. Sungai Li (Li Jiang) yang membelah kota dari utara ke selatan seakan menjadi denyut nadi kota berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa yang terdiri dari berbagai etnis China.</p>
<p><span id="more-1529"></span>Saya dan <a href="http://cornila.matriphe.com/" title="Cornila" target="_blank">Nila</a> mendarat di bandara Liangjiang yang terletak 30 km di sebelah barat pusat kota. Di pintu imigrasi, bayangan tertutupnya China tergambar dengan jelas dari muka-muka dingin petugas imigrasi. Namun begitu lolos dari pintu imigrasi, hawa-hawa dingin berubah drastis. Sapaan &#8220;hallo.. hallo..&#8221; dari calo-calo taksi atau agen travel menyapa hangat, menghapus rasa lelah setelah 4 jam duduk di bangku pesawat yang berangkat dari Kuala Lumpur jam 6 pagi. Ah, saya telah menginjakkan kaki di China.</p>
<p>Guilin pada saat kami berkunjung, yaitu bulan Juli, sedang panas-panasnya. Namun iklim dunia yang memang sedang berubah, membuat prediksi cuaca di Guilin pun sulit ditebak. Siang panas, sore bisa hujan kemudian tiba-tiba bisa panas lagi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/lalu-lintas.jpg" alt="Situasi lalu lintas di Guilin yang riuh." title="Situasi lalu lintas di Guilin yang riuh." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1531" /></p>
<p><a href="http://matriphe.posterous.com/lalu-lintas-di-guilin-china" title="Lalu Lintas di Guilin, China" target="_blank">Transportasi kota yang cukup riuh</a>, namun tidak sampai membuat emosi jiwa semacam di Jakarta. Pengendara sepeda motor bersliweran tanpa helm, bahkan mereka bebas wira-wiri di jalan tol. Pengemudi kendaraan bermotor di Guilin memang terkesan santai, lebih suka mengalah, sehingga seolah-olah tanpa menggunakan helm pun dijamin aman.</p>
<p><a href="http://matriphe.posterous.com/nge-charge-sepeda-motor" title="Nge-charge Sepeda Motor" target="_blank">Motor skutik dengan tenaga listrik</a> banyak bersliweran. Jumlahnya lebih banyak daripada sepeda motor berbahan bakar bensin. Karena ditenagai listrik, motor tersebut hampir tanpa suara, sehingga bila tak berhati-hati, kita bisa disambar oleh pengendara motor listrik. Saking senyapnya itu motor, seolah-olah mereka naik motor dan meluncur begitu saja.</p>
<p>Bentuk dan merk kendaraannya pun beragam. Lucu-lucu dan unik-unik. Bahkan ada anekdot, kita bisa saja bikin motor dengan merk nama kita sendiri.</p>
<p>Sepeda dan motor bisa dihitung hampir sama banyaknya. Meski ada jalur khusus motor dan sepeda, tak jarang kita liat sepeda dan  motor bersliweran di trotoar yang memang lapang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/zonghsan-nanlu.jpg" alt="di Zhongshan Nanlu (Jalan Zhongshan bagian selatan)" title="di Zhongshan Nanlu (Jalan Zhongshan bagian selatan)" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1532" /></p>
<p>Menyusuri Zhongshan Road, jalan protokol di Guilin yang paralel dengan Sungai Li, saya melihat berbagai toko berdiri di sampingnya. Jalan ini memang pusat perniagaan. Bau masakan babi langsung menyeruak. Pedagang yang menggunakan sepeda roda tiga berteriak dalam bahasa yang tidak saya mengerti menjajakan dagangan dengan mengawali dengan sapaan khas, &#8220;hello.. hello&#8221;. Orang-orang nampak santai dan cuek berjalan di trotoar. Ada yang berbaju rapi, bergaun, bahkan bertelanjang dada. </p>
<p>Cewek-cewek menggunakan <em>tank-top</em>, ber-<em>hot-pants</em>, serta mengenakan sepatu <em>high-heels</em> nampak santai berjalan memamerkan tubuh putih mulusnya. Coba kalo di Jakarta, cewek beginian sudah pasti dilecehkan dan bisa-bisa diperkosa.</p>
<p>Pria-pria di sini lebih luar biasa. Berjalan-jalan dengan telanjang dada, atau dengan menggulung baju ke atas memamerkan perut buncitnya, berjalan dengan cuek. Bahkan saya lihat pasangan, si istri berpakaian rapi dan cantik, si suami dengan cuek berjalan-jalan dengan telanjang dada, masuk ke dalam mall. Tak ada yang peduli, selama tidak saling mengganggu.</p>
<p>Bus-bus kota siap membawa kita menuju ke berbagai pelosok kota. Tinggal datang ke halte, tengok nomor bus yang berhenti di halte tersebut beserta <a href="http://matriphe.posterous.com/rute-bus-guilin" title="Rute Bus Guilin" target="_blank">rutenya</a>, maka kita pun bisa memutuskan untuk naik bus apa. Sayang tidak semua rute menuliskan aksara latin.</p>
<p>Penduduk Guilin pada umumnya tidak bisa berbahasa Inggris. Hanya orang-orang hostel atau travel agent saja yang biasanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Bahkan bahasa Inggris dasar macam, &#8220;do you speak English?&#8221; mereka tidak mengerti. Ketika kami memesan makanan di restoran cepat saji internasional (yang belakangan kami ketahui ternyata produknya tidak halal karena ayam tidak disembelih secara Islami) sama sekali tidak mengerti angka dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Soal bahasa ini kami punya <a href="http://cornila.matriphe.com/2010/08/03/tea-please/" title="Tea, Please" target="_blank">cerita lucu</a>. Ketika makan di sebuah <a href="http://matriphe.posterous.com/warung-halal-di-guilin-china" title="Warung Halal di Guilin, China" target="_blank">warung makan halal</a> (ada 3 warung makan halal di Guilin, salah satunya favorit kami ini karena harga murah dan lokasi yg dekat dengan penginapan) ketika kami minta teh kepada pelayannya, si pelayannya malah memberi garam pada air minum kami!</p>
<p>Bisa dimaklumi, karena mungkin kebijakan China yang tertutup, membuat informasi dari luar sulit diakses. Berbagai produk pun (termasuk produk impor), mulai dari <a href="http://matriphe.posterous.com/produk-made-in-china" title='Produk "Made in China"' target="_blank">produk makanan</a> hingga <a href="http://matriphe.posterous.com/lonely-planet-china" title="Lonely Planet China" target="_blank">buku</a> dituliskan dalam bahasa China, sehingga tak perlu lah menuliskannya dalam bahasa Inggris, maka rakyat pun bisa hidup tentram dan bahagia.</p>
<p>Tujuan wisata utama dari kota ini adalah denyut nadi kota itu sendiri, Sungai Li. Dengan menyusuri sungai Li, kita akan disuguhi pemandangan bukit-bukit karst yang seolah-olah saling bertonjolan satu sama lain. </p>
<p>Ada beberapa paket tur yang bisa dipilih, mulai dari yang murah (naik rakit bambu) hingga ke yang mahal, yaitu naik kapal wisata disertai dengan pemandu. Tour agent yang menawarkan paket wisata ini pun bisa dengan mudah ditemui di berbagai pelosok kota Guilin.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/twin-tower.jpg" alt="Pagoda Kembar Bulan dan Matahari di Danau Shan" title="Pagoda Kembar Bulan dan Matahari di Danau Shan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1534" /></p>
<p>Siang maupun malam, Sungai Li selalu ramai. Selain paket menyusuri Sungai Li hingga ke Yangshuo, kita juga bisa sekadar keliling kota lewat sungai. Two River and Four Lake Tour menjadi paket wisata favorit di malam hari. </p>
<p>Di tengah kota, terdapat 4 danau yang terbentuk dari 2 aliran sungai yang mengalir, yaitu Sungai Li dan Sungai Peach Blossom. Keempat danau yang terbentuk dari pertemuan dua sungai ini adalah Danau Shan, Danau Rong, Danau Gui, dan Danau Mulong. Dengan ikut tur ini, kita akan naik kapal wisata dan melihat beberapa landmark Guilin di malam hari, yaitu Pagoda Kembar Bulan dan Matahari di tengah danau Shan dan pagoda Mulong di pinggir danau Mulong. </p>
<p>Landmark lain yang juga menjadi tujuan wisata favorit turis adalah Elephant Trunk Hill. Disebut demikian karena bukit karst ini bentuknya memang mirip gajah yang sedang menjulurkan belalainya. Jaman dulu hingga sekarang, bukit ini digunakan untuk menyimpan arak khas Guilin ketika menjalani proses fermentasi.</p>
<p>Ruang penyimpanan ini berupa goa yang terletak di bagian &#8220;perut gajah&#8221;. Pas lewat di depan pintu goa penyimpanan arak, bau khas arak yang menyengat langsung tercium. Ketika saya mengintip ke dalam (karena pintu dikunci), suasana gelap dan setelah memotret dalamnya dengan bantuan lampu blitz, ternyata di dalamnya masih ada ruangan lagi.</p>
<p>Di dalam taman Elephant Trunk Hill, ada juga Museum of Wine. Di museum ini selain dipajang beberapa produk arak khas Guilin, juga menjual berbagai produk arak tersebut. Harganya cukup bervariasi, tergantung kualitas.</p>
<p>Saya sempat bergidik pas melihat sebuah gentong kaca besar, yang berisi ular, janin kuda, dan berbagai rempah yang direndam di dalam wine. Rupanya ini arak unik yang juga berfungsi sebagai obat. Sebelumnya saya sudah begidik melihat &#8220;<a href="http://matriphe.posterous.com/snake-wine" title="Snake Wine" target="_blank">snake wine</a>&#8220;, yaitu arak yang berasal dari rendaman kulit ular pas ikut Li River Cruise. Bule-bule aja juga gak doyan, begitu ngeliatnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/elephant-trunk-hill.jpg" alt="Di Elephant Trunk Hill" title="Di Elephant Trunk Hill" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1535" /></p>
<p>Banyak sekali <a href="http://matriphe.posterous.com/ruang-terbuka-hijau-di-guilin" title="Ruang Terbuka Hijau di Guilin" target="blank">ruang terbuka hijau</a> di sepanjang kota. Maklum saja, bukit-bukit karst setinggi 100 meter-an yang menonjol di tengah kota menjadi paru-paru kota. Di sepanjang bantaran sungai dibuat trotoar lebar dan bangku-bangku kota sehingga masyarakat bisa beraktivitas di sana, sekadar jalan-jalan sore atau menikmati kicauan burung dan suara tongeret.</p>
<p>Bahkan di jalan Zhongshan, ketika berjalan-jalan menyusuri barisan toko-toko, suara yang terdengar adalah suara tongeret! Mobil-mobil hampir tak bersuara, apalagi klakson. Coba kalo di Jakarta, suara klakson akan terdengar menyalak hampir tiap menit.</p>
<p>Setiap pagi dan sore, terlihat para manula yang sedang berjalan-jalan. Beberapa terlihat main kartu atau main mahyong duduk di bangku taman berteduh di bawah pohon rindang. Para manula beraktivitas di luar semacam <a href="http://matriphe.posterous.com/fitness-on-street" title="Fitness on Street" target="_blank">berolah raga</a> dan bermain musik agar badan mereka tetap bugar, dan mereka bermain mahyong untuk memelihara ingatan. Coba di sini, para manula hampir tak bisa beraktivitas apa-apa karena terlalu banyak diam di rumah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/aktivitas-outdoor.jpg" alt="Manula beraktivitas di ruang terbuka hijau" title="Manula beraktivitas di ruang terbuka hijau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1536" /></p>
<p>Taman-taman kota juga banyak. Memang ada ongkos masuk, namun ketika masuk di dalam, taman ini sangat luas dan banyak hal yang bisa kita lakukan. Kami pun sempat mendatangi beberapa taman yang ada di Guilin, beberapa di antaranya menjadi kawasan wisata komersial. Taman-taman itu adalah Xi Shan Park, Seven Star Scenic Area, Reed Flute Cave Park, Solitary Beauty Peak, Elephant Trunk Hill, dan Yao Shan Park. Sedangkan beberapa tempat yang belum sempat dikunjungi adalah Hei Hill Botanical Garden, Nanxi Park,  Guilin National Forrest Park, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Guilin adalah kota pariwisata. Setiap tahun, Guilin dikunjungi 15 juta orang. Segala hal bisa dijadikan obyek wisata. Mereka sadar akan potensinya, kemudian mengemas dan membangun infrastruktur pendukung, kemudian menjualnya. </p>
<p>Mereka juga tidak segan-segan untuk memperingatkan para wisatawan tentang hal-hal negatif yang mungkin terjadi, misalnya, ketika di pasar, wisatawan disarankan untuk menawar harga hingga separo, kemudian waspada terhadap uang palsu, dan juga bila disapa oleh orang tak dikenal sebaiknya diabaikan (karena biasanya mereka pemandu lokal abal-abal yang suka menyesatkan wisatawan).</p>
<p>Sebagai wisatawan, saya merasa aman dan <em>well-informed</em>, sehingga bisa waspada akan hal-hal negatif tersebut. Ini yang saya salut, mereka tidak malu bahwa ada hal-hal negatif namun mereka mengatasinya dengan memberikan informasi dan peringatan.</p>
<p>Saya sampai iri. Kapan Indonesia bisa seperti ini?</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/guilin-dari-atas.jpg" alt="Pemandangan Kota Guilin dari Guangming Hill, Reed Flute Cave" title="Pemandangan Kota Guilin dari Guangming Hill, Reed Flute Cave" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1537" /></p>
<p>Website informasi tentang Guilin:</p>
<ol>
<li><a href="http://www.visitguilin.org/" title="Visit Guilin - Guilin's Official Tourism Website" target="_blank">Visit Guilin &#8211; Guilin&#8217;s Official Tourism Website</a>: web resmi pariwisata Guilin yang lengkap. Dari website ini saya bisa tau gambaran umum di Guilin, terutama dari sisi akomodasi dan transportasinya. Di Indonesia, ada ndak ya website resmi tujuan wisata yang punya informasi lengkap semacam ini?</li>
<li><a href="http://wikitravel.org/en/Guilin" title="Guili Travel Guide" target="_blank">WikiTravel &#8211; Guilin</a>: situs Wiki yang berguna sangat. Menampilkan informasi yang hampir detail, membacanya mirip membaca buku Lonely Planet.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-guilin-china.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Sawarna</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 07:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Bayah]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sawarna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1513</guid>
		<description><![CDATA[Jawa Barat bagian selatan dan Banten masih menyimpan banyak pesona. Lokasinya yang cukup sulit dijangkau karena prasarana yang kurang, membuat alam dan pemandangannya seperti tak pernah terjamah. A hidden paradise. Salah satunya adalah pantai-pantai di kawasan Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, yang menjadi salah satu favorit para surfer asing sejak tahun 2005, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/lagun-pari.jpg" alt="Di Pantai Lagun Pari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1514" /></p>
<p>Jawa Barat bagian selatan dan Banten masih menyimpan banyak pesona. Lokasinya yang cukup sulit dijangkau karena prasarana yang kurang, membuat alam dan pemandangannya seperti tak pernah terjamah. <em>A hidden paradise</em>.</p>
<p>Salah satunya adalah pantai-pantai di kawasan Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, yang menjadi salah satu favorit para <em>surfer</em> asing sejak tahun 2005, karena karakteristik pantainya curam dan memiliki ombak besar. Bahkan para bule ini betah tinggal hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan karena penasaran dengan ombak di pantai ini, tentunya selain karena kawasan ini masih sangat sepi.</p>
<p><span id="more-1513"></span>Tanpa rencana, kami pun berangkat ke Sawarna. Berbekal informasi minim dari teman yang pernah ke sana, kami pun &#8220;napak tilas&#8221; mengikuti rutenya (yang belakangan kami ketahui bahwa rute ini untuk <em>masokis-traveler</em> &ndash; pelancong yang doyan menyiksa dirinya sendiri demi mencapai tujuan), melahap jalur Jakarta-Serang-Malingping-Bayah-Sawarna yang memakan waktu hingga 9 jam!</p>
<p>Padahal jalur ke Sawarna bisa ditempuh dengan menumpang kendaraan umum ke Pelabuhan Ratu (biasanya ke Bogor dulu, kemudian naik bus MGI ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi), kemudian dilanjut naik Elf atau angkot lain ke Bayah atau langsung ke Sawarna.</p>
<p>Namun meski kami tersiksa karena selama 4 jam berdesak-desakan di dalam Elf yang melahap jalan rusak parah dari Terminal Pakupatan, Serang, Banten menuju Malingping, kami merasa enjoy saja. Bahkan kami sempat sesumbar, kalo ke Sawarna ndak melewati rute Malingping, belum ke Sawarna (dengan tujuan agar pelancong lain merasakan penderitaan kami, heheh).</p>
<p>Kami berangkat dari Slipi Jaya, menumpang bus jurusan Merak dan turun di Terminal Pakupatan, Serang, Banten. Perjalanan sekitar 2 jam hingga ke Serang dengan ongkos 18 rebu untuk bus AC. Dari Terminal Pakupatan, kami naik Elf ke Malingping, yang kampretnya itu Elf banyak ngetem dan mematok harga lebih mahal, yang seharusnya 20 ribu menjadi 30 ribu rupiah.</p>
<p>Jalanan rusak dimulai di sekitar Saketi, Pandeglang, Banten, dan terus berlanjut hingga Malingping. Menurut cerita orang-orang, dana pembangunan jalan banyak dikorupsi, sehingga pantas saja jalannya ancur begitu.</p>
<p>Di beberapa ruas, memang ada perbaikan, yaitu dengan membangun jalanan beton. Namun lagi-lagi menurut informasi, yang membangun jalan tersebut adalah pihak swasta yang memang berkepentingan untuk memudahkan akses ke lokasi penambangan emas. Pandeglang memang salah satu daerah penghasil emas di Banten.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/di-angkot.jpg" alt="Di dalam angkot" title="Di dalam angkot" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1526" /></p>
<p>Begitu turun di Pasar Malingping, kami harus berganti angkot ke Bayah (ongkosnya sekitar 10-15 ribu per orang), dan dari Bayah disambung naik ojek dengan ongkos sekitar 20 ribu per orang. Namun begitu turun dari Elf, kami langsung ditawari carter angkot dengan harga 150 ribu dan diantar sampai Sawarna.</p>
<p>Setelah dipikir-pikir, ongkos nyarter angkot ndak jauh beda dengan <em>ngeteng</em>, akhirnya kami menyarter angkot tersebut. Dari Pasar Malingping menuju Bayah, jalannya bagus dengan aspal mulus, Beda banget dengan rute Serang-Malingping, terutama di kawasan Kab. Pandeglang, Banten, yang rusak parah.</p>
<p>Perjalanan dari Malingping ke Sawarna memakan waktu sekitar 2 jam. Perjalanan kami pun bukannya tanpa hambatan, di tengah-tengah tanjakan berkelok dan sempit, selepas Terminal Bayah dan mulai masuk daerah Ciantir yang masih berupa hutan, angkot yang kami tumpangi bermasalah. Karena hujan mengguyur, entah gimana ceritanya mesin kemasukan air sehingga beberapa kali mobil harus berhenti untuk mengeringkan air. Masih untung kami tidak diminta turun dan membantu mendorong mobil.</p>
<p>Meski begitu, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan tiada dua. Menyusuri jalan di yang tepat berada di pinggir tebing yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, memberikan pemandangan luar biasa.</p>
<p>Setelah mengalami perjalanan yang cukup mendebarkan, karena angkot yang gak beres jalan di tengah hutan pada saat hujan, kami pun tiba di Desa Wisata Ciantir, Kampung Cikaung, Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, tujuan kami akan menginap. Desa ini memang kerap menjadi lokasi menginap karena selain lokasinya yang sangat dekat dengan pantai, juga suasana pedesaan yang ramah kepada wisatawan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/jembatan-gantung.jpg" alt="Jembatan gantung menuju Sawarna" title="Jembatan gantung menuju Sawarna" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1515" /></p>
<p>Sebelum masuk ke desa, kami harus melewati jembatan gantung yang sekilas sangat tidak meyakinkan. Jembatan ini melintasi Sungai Sawarna, yang menjadi asal nama dari desa ini. Di mulut jembatan, kami dimintai ongkos retribusi sebesar 2 ribu rupiah per orang.</p>
<p>Setelah berjalan sekitar 500 meter dari jembatan gantung kami menuju ke Widi&#8217;s Homestay yang dimiliki oleh Pak Ade (081911282912). Pak Ade memang sangat terkenal di Sawarna. Banyak para pejalan dan backpacker yang menginap di tempatnya. Dengan memanfaatkan rumahnya dan rumah saudara-saudaranya, Pak Ade menampung tamu-tamu dan melayaninya dengan baik.</p>
<p>Dengan konsep sesuai namanya, homestay, tamu menginap di kamar-kamar yang disediakan, plus disediakan makan pagi-siang-malam yang dilakukan swalayan di ruang makan. Ingin kopi, teh, disediakan air panas dan silakan bikin sendiri. Kalo masih pengen sesuatu yang lain, Indomie Rebus Telur misalnya, tinggal pesan ke warung kelontong di depan rumah yang dikelola oleh puteri Pak Ade.</p>
<p>Ongkos menginapnya cukup mahal, 60 ribu per orang. Kami cukup beruntung, karena saat kami datang, tamu sedang banyak. Kami masih mendapat tempat dan kami satu rumah dengan para bule surfer. Beberapa rombongan yang datang bahkan mendapat tempat yang lokasinya agak jauh dari pantai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/menuju-desa.jpg" alt="Pemandangan sawah di sepanjang jalan desa" title="Pemandangan sawah di sepanjang jalan desa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1519" /></p>
<p>Makin sore, hujan makin menderas. Untung kami sudah sampai di penginapan yang hangat, setelah sebelumnya sempat menikmati suasana sunset di Pantai Ciantir yang menjadi favorit para surfer. Bercengkrama menikmati suasana sepi pedesaan memang menjadi suasana yang &#8220;mahal&#8221; bagi &#8220;orang kota&#8221;.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-ciantir.jpg" alt="Senja di Pantai Ciantir yang mendung" title="Senja di Pantai Ciantir yang mendung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1516" /></p>
<p>Kami bercengkrama dengan Pak Ade pada malam hari. Pak Ade dan istrinya begitu total melayani tamu, mempersiapkan kebutuhan tamu, hingga menemani ngobrol. Dari Pak Ade, kami mendengar cerita tentang asal-usul nama Sawarna.</p>
<p>Saya mengira nama &#8220;sawarna&#8221; berasal dari kata &#8220;satu warna&#8221;, namun ternyata bukan itu. Memang banyak versi cerita yang mendasari asal-usul nama Sawarna, salah satunya adalah ketika seseorang bernama Suwarna Dwipa dan anak buahnya yang menemukan daerah ini setelah berlayar dan terdampar di pantai.</p>
<p>Suwarna pun kemudian membuka hutan dan tinggal di kawasan pantai. Kapalnya yang hancur ditinggalkan dan konon dari layar kapal yang ditinggalkan di pantai karena hancur terkena badai hingga terdampar, terbentuklah karang yang disebut dengan Karang Layar. Karang Layar adalah landmark dari pantai Tanjung Layar, yang kalo digambar di peta, berada di ujung selatan garis pantai.</p>
<p>Nah, suatu ketika, putera Suwarna Dwipa ini sedang asyik main-main di sungai, tenggelam dan terbawa arus sungai. Sungai yang menenggelamkan putera Suwarna Dwipa ini adalah sungai yang dilintasi oleh jembatan gantung yang berada di pintu masuk desa. Sungai ini kemudian disebut dengan sungai Sawarna, yang berasal dari nama Suwarna, dan akhirnya menjadi nama desa.</p>
<p>Pagi-pagi sekali kami bangun. Posisi pantai yang menghadap ke barat jelas tak memungkinkan kami mendapat sunrise. Kami cuma bisa menikmati pemandangan kehidupan pedesaan di pagi hari: orang-orang pergi ke sawah yang terletak berdampingan dengan pasir pantai, ke ladang kelapa yang banyak berdiri berjajar di sepanjang pantai, ditambah para bule bersliweran mengusung papan surfing.</p>
<p>Setelah berburu sunrise, berjalan-jalan sebentar, menikmati nasi uduk bikinan istri Pak Ade, kami memulai tracking. Dengan dipandu oleh Mas Yudha, putera Pak Ade, kami akan diajak menyusuri Gua Lalay, trekking mendaki Bukit Cimonyet, berenang-renang di Pantai Lagun Pari, menyusuri pantai hingga ke Tanjung Layar, sebelum kembali ke penginapan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pemandangan-pagie.jpg" alt="Sunrise hunter" title="Sunrise hunter" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1520" /></p>
<p>Rute tersebut dipilih mengingat ketika siang, air laut akan surut, sehingga kita bisa berjalan di atas karang pantai dan bisa bermain-main di sekitar Pantai Tanjung Karang.</p>
<p>Mas Yudha sendiri adalah seorang surfer. Sejak usia 18 tahun, dia belajar surfing secara otodidak. Di kawasan Sawarna, Mas Yudha termasuk salah satu surver senior dan trainer. Bahkan dia sudah dikontrak oleh Billabong, salah satu brand yang memproduksi peralatan surfing, untuk jadi salah satu peselancarnya. Foto Mas Yudha yang sedang menaiki ombak dengan papan seluncur juga disablon pada dinding mug untuk suvenir.</p>
<p>Tujuan pertama kami adalah Goa Lalay. Untuk menuju ke sini, kami berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,5 Km. Goa Lalay merupakan salah satu dari 28 goa yang ada di Sawarna. Menurut cerita Pak Ade, goa ini pernah coba ditelusuri oleh mahasiswa dari Mapala UI, namun setelah 2 hari, belum ditemukan juga ujungnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/di-dalam-goa-lalay.jpg" alt="Di dalam Goa Lalay" title="Di dalam Goa Lalay" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1524" /></p>
<p>Disebut dengan Goa Lalay karena di goa ini banyak ditemukan kelelawar (lalay, dalam Bahasa Sunda). Sebuah penamaan yang sangat sederhana. Goa ini bila dilihat dari segi geologis, termasuk dalam tipe goa yang biasa ditemukan. Terbentuk dari bebatuan dan tanah  yang terlarut oleh air yang kemudian air mengalir membentuk sungai bawah tanah.</p>
<p>Memasuki Goa Lalay, kami harus bertelanjang kaki. Selain karena licin, lumpur halus hasil endapan tanah yang membentuk goa setebal hingga paha membuat penelusuran goa menjadi sedikit terhambat. Dengan menggunakan penerangan lampu petromaks, kami mengikuti Mas Yudha agar tidak tersesat di dalam goa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/tanjakan-cimonyet.jpg" alt="Tanjakan Cimonyet" title="Tanjakan Cimonyet" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1522" /></p>
<p>Sekitar 500 meter dari mulut goa, kami sampai di salah satu <em>chamber</em> alias &#8220;ruangan&#8221; di dalam goa. Menurut Mas Yudha, yang sudah ditemukan ada 7 chamber, dan kami baru masuk ke <em>chamber</em> pertama.</p>
<p>Hamparan stalaktit dan stalagmit yang masih aktif menjadi pemandangan yang menyenangkan. Di beberapa sudut tercium bau kotoran kelelawar yang sangat tidak menyenangkan.</p>
<p>Keluar dari goa, kami diminta ongkos retribusi masuk sebesar 2.500 rupiah per orang oleh karang taruna desa. Padahal ketika kami datang, tidak ada seorang pun yang jaga, tiba-tiba aja mereka nongol gitu.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan dengan meniti pematang sawah, menyeberangi sungai, mendaki bukit, menuruni lembah. Kami sampai di sebuah tanjakan sempit dan terjal dengan air mengalir di jalurnya, sehingga tanjakan ini sekilas mirip air terjun mini. Tanjakan ini disebut dengan Tanjakan Cimonyet, merupakan jalur yang harus dilalui untuk menuju Bukit Cimonyet.</p>
<p>Dahulu di hutan ini memang banyak terdapat monyet, sehingga dinamakan Bukit Cimonyet. Namun candaan kami, nama Cimonyet cocok disematkan karena ketika mendaki ke bukit dan menuruni bukit ini, kami harus mengumpat, &#8220;monyet!&#8221;, akibat terjalnya medan dan licinnya turunan hingga beberapa kali kami jatuh terpeleset.</p>
<p>Setelah melahap tanjakan dan turunan Bukit Cimonyet yang curam, plus badan bau karena beberapa kali terjerembab ke dalam lumpur licin dan basah, kami pun akhirnya sampai ke Pantai Lagun Pari. Di sekitar pantai ini, terdapat banyak rumah-rumah dan gubuk tempat membuat gula kelapa.</p>
<p>Gula kelapa dibuat dengan mengambil nira yang berasal dari air sadapan tongkol bunga kelapa (manggar). Para petani memanjat pohon kelapa, menyadap air dari bunga kelapa yang sudah cukup umur dan menyimpannya dalam wadah bambu. Nira kemudian dibersihkan dari kotoran dan disaring, kemudian direbus hingga nira mengental. Setelah nira mengental dan berwarna kecoklatan, nira pekat dan cair ini kemudian dicetak menggunakan batok-batok kelapa atau cincin-cincin bambu.</p>
<p>Sayang sekali, ketika kami tiba di tempat produksi gula kelapa ini, kegiatan pembuatan sudah selesai. Kami cuma melihat para pekerja yang sedang beristirahat.</p>
<p>Begitu melihat air laut dan ombak, kami langsung kalap. Apalagi badan kotor akibat lumpur bau, menyebabkan kami ingin segera mandi-mandi di laut.</p>
<p>Byur!! Ombak setinggi 1 meter langsung menerjang badan. Ombak di Pantai Lagun Pari yang berbentuk teluk ini memang besar dan tinggi. Namun meski begitu, bermain-main air di pantai ini bisa dibilang aman karena permukaan pantainya landai. Berbeda dengan pantai Ciantir yang permukaan pantainya curam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/ombak-lagun-pari.jpg" alt="Ombak besar Pantai Lagun Pari" title="Ombak besar Pantai Lagun Pari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1523" /></p>
<p>Lelah bermain-main air, kami pun mentas. Sembari beristirahat, kami ditawari kelapa muda. Yang istimewa, kelapa ini langsung dipetik dari pohonnya. Tentu sensasinya berbeda, menikmati air kelapa dan makan daging kelapa yang baru saja dipetik dari pohon. Untuk sebutir kelapa muda segar langsung petik dari pohon, kami cukup merogoh kocek 5 ribu rupiah per buah. Sangat murah!</p>
<p>Matahari mulai terik ketika kami menyusuri pantai. Air laut telah surut, membuka tabir-tabir karang yang berundak. Karang-karang berundak yang menyerupai tangga sepanjang pantai ini kemudian diberi nama Karang Teraje (d bahasa Sunda, teraje berarti tangga).</p>
<p>Beberapa kali saya melihat ikan-ikan terjebak dalam lubang-lubang karang, yang oleh penduduk setempat dapat dengan mudah diambil dan diburu. Di kejauhan, ombak-ombak besar datang menghantam bibir karang, sehingga terciptalah cipratan karang yang dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/karang-teraje.jpg" alt="Ombak besar Karang Teraje" title="Ombak besar Karang Teraje" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1525" /></p>
<p>Lepas dari Karang Teraje, kami sampai di sebuah &#8220;tikungan&#8221;. Sebuah &#8220;panggung&#8221; besar nampak berdiri megah menjorok ke laut. Karang Palistir adalah nama &#8220;panggung&#8221; megah ini. Dari atas karang muncul cucuran-cucuran air yang mengalir ke bawah, air ini berasal dari sisa ombak yang terjebak dalam lipatan-lipatan batunya.</p>
<p>Dan itu dia! Landmark megah Karang Layar mulai nampak. Karang setinggi sekitar 4 meter ini menjadi tujuan akhir dari trekking kami. Matahari sudah mencapai atas kepala, sehingga kami tidak berlama-lama bermain di Pantai Tanjung Layar ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-tanjung-layar.jpg" alt="di Pantai Tanjung Layar" title="di Pantai Tanjung Layar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1517" /></p>
<p>Kami kembali ke penginapan lagi-lagi dengan trekking. Melewati perkebunan kelapa yang berjajar rapi, melihat gerombolan kambing dan kerbau gembalaan penduduk, kami pulang. Rasa capek baru terasa ketika menyusuri jalan tanah setapak. Pantas saja, rute trekking kami bisa dibilang cukup jauh, sekitar 6 km!</p>
<p>Untuk mengetahui rute trekking kami, silakan liat di <a href="http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF8&#038;hl=en&#038;msa=0&#038;msid=100272502380624460749.000489731df130ec6b18f&#038;ll=-6.986236,106.314483&#038;spn=0.018487,0.038581&#038;t=h&#038;z=15" title="Sawarna Tracking Route" target="_blank">peta berikut</a>.</p>
<p>Setelah mandi-mandi dan berkemas, kami pun pulang menggunakan mobil carteran seharga 750 ribu yang akan mengantar kami sampai Jakarta melalui rute Sukabumi. Bila dihitung-hitung, carter mobil memang lebih murah karena untuk ngeteng dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu dilanjut ke Bogor kemudian ke Jakarta, selain ongkosnya hampir sama, waktu tempuh juga lebih lama.</p>
<p>Ongkos dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu sekitar 25 ribu, plus bus dari Pelabuhan Ratu ke Bogor adalah 25-35 rebu, kemudian bus dari Bogor ke Jakarta sekitar 12 rebu. Bila carter, per orang cuma keluar biaya 100 rebuan, plus bebas macet di Sukabumi karena sopir kami tau rute alternatif untuk menghindari macet.</p>
<p>Kami sampai di Jakarta lebih cepat, cuma makan waktu 5 jam bila dibandingkan ketika berangkat yang memakan waktu hingga 9 jam.</p>
<p>Baca juga:</p>
<ul>
<li><a href="http://cornila.matriphe.com/2010/06/14/ragam-wisata-sawarna/" title="Ragam Wisata Sawarna" target="_blank">Ragam Wisata Sawarna</a></li>
<li><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=130368203649490&#038;id=1074934683" title="warna warni sawarna" target="_blank">warna warni sawarna</a> (Facebook Notes)</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pulau Kelapa-Pulau Harapan, Kepulauan Seribu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 05:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Bira Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Harapan]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kayu Angin]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kelapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1495</guid>
		<description><![CDATA[Kepulauan Seribu masih punya banyak pesona. Meski hanya berjumlah 342 buah pulau, rasanya masih ada saja hal unik dan menarik yang bisa ditemukan di sana. Kali ini saya mengunjungi Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, di gugus utara Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa? Ya, itu lah nama pulau yang konon bisa merayu, seperti dalam lagu ciptaan Ismail [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/selamat-datang.jpg" alt="Dermaga Pulau Harapan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1504" /></p>
<p>Kepulauan Seribu masih punya banyak pesona. Meski hanya berjumlah 342 buah pulau, rasanya masih ada saja hal unik dan menarik yang bisa ditemukan di sana.</p>
<p>Kali ini saya mengunjungi Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, di gugus utara Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa? Ya, itu lah nama pulau yang konon bisa merayu, seperti dalam lagu ciptaan Ismail Marzuki, &#8220;Rayuan Pulau Kelapa&#8221;, yang menjadi lagu nasional itu.</p>
<p>Walau dalam lirik lagu &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=doKGDdW0r1Q" title="Rayuan Pulau Kelapa: Indonesia " target="_blank">Rayuan Pulau Kelapa</a>&#8221; berisi puji-pujian dan gambaran indahnya Indonesia, rupanya keadaan Pulau Kelapa tidak sepenuhnya sesuai dengan lirik lagu. Dalam pandangan umum saya, pulau ini terlihat lebih gersang daripada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html" title="Jeng-Jeng Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu">Pulau Pramuka</a> atau <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html" title="Jeng-Jeng Pulau Tidung, Kepulauan Seribu">Pulau Tidung</a>.</p>
<p><span id="more-1495"></span>Tiba di dermaga Pulau Kelapa yang lautnya berwarna tosca, kami disambut oleh jajaran tukang becak yang menawarkan jasanya. Panas begitu terik, namun tak menyurutkan semangat kami ketika menginjakkan kaki setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kurang lebih tiga setengah jam duduk terpanggang matahari di atas atap kapal motor yang berangkat dari dermaga Muara Baru, Muara Angke jam 7:30 pagi.</p>
<p>Dengan sopan kami menolak tawaran becak-becak tersebut dan memilih mampir di sebuah warung makan di ujung dermaga. Selain untuk mengisi perut, kami juga ingin mengorek informasi penginapan dari pemilik warung di pulau ini, karena memang lagi-lagi kami berangkat dengan nekat, tanpa rencana atau tujuan, pokoknya segera angkat pantat dari sumpeknya Jakarta.</p>
<p>La gimana tidak, kami cuma bermodal nanya ke tukang kapal, &#8220;Bang, ini kapal berangkat ke mana?&#8221;. Begitu mendengar mo ke Pulau Kelapa, kami pun langsung naik tanpa pikir panjang.</p>
<p>Saya menduga <a href="http://matriphe.posterous.com/becak-di-jakarta" title="Becak di Jakarta?" target="_blank">becak-becak</a> ini berasal dari Jakarta, yang dilarang beroperasi di Jakarta pada tahun 1994. Becak-becak itu sebagian besar ditenggelamkan di laut Jawa, namun sebagian yang tidak ditenggelamkan diangkut ke sini.</p>
<p>Dari keterangan pemilik warung, yang menunya sangat-sangat sederhana, yaitu hidangan ikan laut, kami mendapat keterangan untuk menginap dengan menyewa sebuah rumah milik Pak Haji Asmawi (08176662315) yang berada di Pulau Harapan.</p>
<p>Awalnya kami bingung ketika disarankan untuk naik becak atau berjalan kaki saja ke Pulau Harapan, karena kami kira kami harus menyeberang pulau menggunakan kapal. Ternyata ada sebuah jalan berpaving block yang sangat bagus yang menghubungkan kedua pulau, yang dibangun di atas karang yang telah direklamasi dengan menimbun batu-batu beton di atas karang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/deretan-becak.jpg" alt="Deretan becak di dermaga Pulau Kelapa" title="Deretan becak di dermaga Pulau Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1505" /></p>
<p>Hanya 10 menit dari dermaga Pulau Kelapa, kami sampai di gerbang Kelurahan Pulau Harapan, yang bersama dengan Pulau Kelapa masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kab. Administratif Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.</p>
<p>Di beberapa sudut pulau, saya mendengar dialek bahasa Bugis. Unik, karena meski masuk dalam wilayah DKI Jakarta, justru suku Bugis yang sejak dulu terkenal sebagai pelaut ulung, merupakan suku yang dominan mendiami pulau ini setelah suku Jawa dan Betawi.</p>
<p>Yang mengesankan lagi, meski berbeda pulau, penduduk di sini saling mengenal satu sama lain, sehingga ketika kami bertanya rumah Pak H. Asmawi yang akan kami inapi, penduduk sekitar dengan mudah menunjukkannya, bahkan mengantarkan kami.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/instalasi-air-bersih.jpg" alt="Instalasi pengolahan air tawar di Pulau Kelapa" title="Instalasi pengolahan air tawar di Pulau Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1507" /></p>
<p>Kami menyewa sebuah rumah berdinding tembok yang baru selesai dibangun milik Pak Asmawi. Biayanya 250 ribu rupiah semalam dengan fasilitas AC, tempat tidur, televisi, kipas angin, dan sekardus air minum kemasan.</p>
<p>Namun meski ber-AC, listrik hanya nyala pada pukul 4 sore hingga pukul 7 pagi saja. Maklum, seperti di pulau-pulau di gugus utara lainnya, listrik di Pulau Kelapa dan Pulau Harapan berasal dari generator diesel yang menjadi sumber listrik untuk menerangi kedua pulau.</p>
<p>Secara umum sarana dan prasarana di pulau ini sudah lengkap. Sebuah bangunan SD yang kokoh, berdiri megah di Pulau Kelapa. Di SD Negeri Pulau Kelapa 01 Pagi, <a href="http://matriphe.posterous.com/sekolah-gratis" title="Sekolah Gratis?" target="_blank">biaya pendidikannya gratis</a>. Tidak ada pungutan apa pun yang dibebankan kepada siswa. Semua biaya sekolah mulai dari buku hingga seragam, dibebankan ke pemerintah melalui BOS.</p>
<p>Anak-anak cuma perlu baju seragam dan alat tulis, mereka pun bisa mengenyam pendidikan. Dana ini diperoleh dari BOS yang kebetulan ketua komite sekolah yang mewakili wali murid adalah Pak H. Asmawi. &#8220;Pokoknya sekolah tidak boleh memungut uang sepeser pun dari siswa,&#8221; tegas Pak H. Asmawi.</p>
<p>Selain gedung sekolah, terdapat instalasi penyulingan air <a href="http://matriphe.posterous.com/kompensasi-subsidi-bbm-menjadi-air-bersih" title="Kompensasi Subsidi BBM Menjadi Air Bersih" target="_blank">yang dibangun dengan biaya dari dana kompensasi pengurangan subsidi BBM</a>. Air payau yang diambil dari sumur kemudian disuling menjadi air tawar. Air-air ini kemudian dijual dalam jirigen yang dijajakan berkeliling menggunakan gerobak. Satu jirigen harganya 500 rupiah.</p>
<p>Oiya, meski disebut air &#8220;tawar&#8221;, air ini masih sedikit payau dan hanya bisa digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci. Untuk minum, penduduk lebih banyak membeli air dalam kemasan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/melihat-foto.jpg" alt="Anak-anak antusias melihat foto" title="Anak-anak antusias melihat foto" width="200" height="267" class="alignnone size-full wp-image-1508" /></p>
<p>Tak jauh dari rumah tempat kami menginap, di bagian utara Pulau Harapan yang memanjang dari barat ke timur ini, terdapat sebuah taman dan dermaga yang cukup bagus.</p>
<p>Menurut informasi, dulunya sekitar dermaga ini akan dijadikan taman wisata untuk menarik wisatawan, bahkan dermaganya pun bisa dibilang lebih bagus daripada di Pulau Kelapa. Namun sayang seribu sayang, proyek yang dipegang oleh pemerintah ini pun mandeg, sehingga pembangunan taman yang hampir jadi ini pun terkesan terbengkalai.</p>
<p>Selepas beristirahat sejenak karena cuaca saat itu sangat terik, sore harinya kami jalan-jalan mengelilingi pulau. Setelah berfoto-foto di seputar dermaga Pulau Harapan yang bagus namun sayang tidak dijadikan sebagai dermaga utama, kami menuju ke barat, menuju ke ujung Pulau Kelapa untuk mengejar <em>sunset</em>.</p>
<p>Selama menelusuri jalan-jalan kampung di Pulau Harapan maupun Pulau Kelapa, saya menemukan banyak hal yang menarik, terutama <a href="http://muhammad.zamroni.net/menengok-keseharian-masyarakat-pulau-kelapa-pulau-harapan.html" title="Menengok Keseharian Masyarakat Pulau Kelapa-Pulau Harapan">mengamati kehidupan sehari-hari masyarakatnya</a> hingga <a href="http://matriphe.posterous.com/produk-lokal-unik" title="Produk Lokal Unik" target="_blank">benda-benda, produk, dan makanan lokal yang dijual</a>.</p>
<p>Anak-anak kecil yang bermain riuh di tengah jalan, para pemuda yang bermain sepak bola di lapangan di pinggir pantai, <a href="http://matriphe.posterous.com/cegat-kalo-terpikat" title="Cegat Kalo Terpikat" target="_blank">penjaja berbagai hal</a> yang menggunakan gerobak yang dimodifikasi untuk menjajakan barang dagangannya, penduduk yang membuat bubu (perangkap ikan dari bambu), hingga memperbaiki kapal, menjadi pemandangan menarik yang tak ditemukan di Jakarta.</p>
<p>Sapaan dan sambutan warga pulau ini terasa lebih ramah dari Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Panggang. Saya merasa di pulau ini meski lebih gersang, rasanya lebih nyaman. Di malam hari pun, suasana masih cukup ramai bila dibandingkan di Pulau Pramuka atau Pulau Tidung.</p>
<p>Tak terasa kami sampai juga di ujung barat Pulau Kelapa, setelah sebelumnya sempat menerabas kompleks pemakaman kampung yang keliatan angker. Tak terasa, jarak 2 pulau yang masing-masing membentang dari timur ke barat sudah kami lahap tanpa lelah. Sepotong senja yang indah pun kami terima sebagai hadiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/senja.jpg" alt="Sepasang di sepotong senja" title="Sepasang di sepotong senja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1509" /></p>
<p>Selepas Shubuh, kami sudah bersiap di dermaga Pulau Harapan. Perahu motor yang kami sewa seharga 300 rebu rupiah akan mengantarkan kami berkeliling pulau-pulau di sekitar. Tujuan kami adalah ke Pulau Manggaran yang terletak di sebelah utara. Namun tak ada yang cukup menarik, karena pulau ini hanya berupa hutan dan pohon bakau.</p>
<p>Kami berpindah ke Pulau Bulat, yang menurut penduduk setempat dimiliki oleh Tommy Soeharto. Di Pulau ini terlihat lebih bagus. Sebuah rumah yang cukup mewah, plus fasilitas pendukung, namun terkesan terbengkalai berdiri megah di situ. Sebuah bendungan mini yang digunakan untuk melabuhkan perahu motor dibangun di bibir pantai.</p>
<p>Kami pun memanfaatkan dermaga kayu Pulau Bulat untuk menggelar tikar, dan sarapan nasi uduk yang telah kami pesan di Pulau Harapan. Selesai sarapan, kami pun berenang-renang di dalam bendungan yang sedianya untuk berlabuh kapal tersebut. Tak berapa lama, romobongan diver dari Pulau Putri Resort juga datang ke sekitar pulau ini untuk bersiap menyelam.</p>
<p>Puas bermain air di Pulau Bulat, kami pun berpindah ke Pulau Bira Kecil, atau sering disebut dengan <a href="http://lathifulamri.com/pulau-kayu-angin-dan-pulau-tidung" title="Pulau Kayu Angin dan Pulau Tidung" target="_blank">Pulau Kayu Angin</a>. Pulau mungil ini sering dipakai untuk camping karena pantai berpasir putihnya cukup luas dan landai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/menyeberang-laut.jpg" alt="Menyeberang laut menuju ke perahu" title="Menyeberang laut menuju ke perahu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1512" /></p>
<p>Namun untuk menuju ke sini, perahu tidak bisa merapat karena terhalang karang yang membentang sejauh sekitar 100 meter (karang ini pula yang mencegah ombak besar mencapai pantai, sehingga relatif aman untuk membuka tenda).</p>
<p>Sayang, pasir pantai putih ini dikotori oleh mereka yang sebelumnya berkemah di sini. Saya menemukan abu bekas api unggun dan seonggok sampah berupa botol minuman dan plastik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-bira-kecil.jpg" alt="Pantai Pulau Bira Kecil" title="Pantai Pulau Bira Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1511" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pulau-bira-kecil.jpg" alt="Di Pulau Bira Kecil" title="Di Pulau Bira Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1510" /></p>
<p>Di sekitar Pulau Bira Kecil, masih banyak ditemukan ubur-ubur kecil. Bila tidak berhati-hati, kita bisa tersengat ubur-ubur ini, karena ubur-ubur berwarna transparan.</p>
<p>Puas bermain-main di Pulau Bira Kecil, kami pun kembali ke Pulau Harapan untuk bersiap pulang menggunakan kapal terakhir ke Muara Angke dari Pulau Kelapa, yang berangkat jam 1 siang.</p>
<p>Ketika perjalanan pulang ke Pulau Harapan, kami sempat mampir ke sebuah pulau milik pengusaha Tommy Winata, namun kami diusir oleh penjaga pulau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Singapura: Mencoba MRT</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-mencoba-mrt.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-mencoba-mrt.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 20:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[MRT]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1468</guid>
		<description><![CDATA[Tak diragukan lagi, sistem transportasi massal (MRT &#8211; Mass Rapid Transportation) di Singapura memang pantas disebut sebagai salah satu yang terbaik. Efisiensi, ketepatan waktu, kemudahan, integrasi, dan kenyamanannya memang patut diacungi jempol. Sebagai pelancong yang sering mengandalkan layanan transportasi publik, saya sangat terbantu. Belum lagi soal papan petunjuk dan peta yang dapat dengan mudah ditemukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/03/mrt-lrt.jpg" alt="Peta rute MRT (Mass Rapit Transportation) dan LRT (Light Rail Transit) di Singapura" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1469" /></p>
<p>Tak diragukan lagi, sistem transportasi massal (MRT &#8211; Mass Rapid Transportation) di Singapura memang pantas disebut sebagai salah satu yang terbaik. Efisiensi, ketepatan waktu, kemudahan, integrasi, dan kenyamanannya memang patut diacungi jempol.</p>
<p>Sebagai pelancong yang sering mengandalkan layanan transportasi publik, saya sangat terbantu. Belum lagi soal papan petunjuk dan peta yang dapat dengan mudah ditemukan di setiap sudut, membuat orang bodoh yang nekad melancong tanpa rencana dan tujuan seperti saya bisa mendapatkan pencerahan hendak ke mana. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-1468"></span><a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html" title="">Setelah terkesima plus bingung di pelabuhan HarbourFront</a>, kami akhirnya memulai perjalanan dengan mencoba sistem transportasi di Singapura.</p>
<p>Untungnya di Singapura, bertebaran papan-papan petunjuk, sehingga dengan cukup mengikuti papan petunjuk yang ditulis dalam bahasa Inggris, Melayu, Mandarin, dan India, kita ndak bakal nyasar.</p>
<p>Saya yang biasanya bertanya pada satpam, polisi, atau orang yang &#8220;saya anggap tahu&#8221; sempet celingukan dan bingung, karena orang-orang yang saya cari ini ndak saya temukan! Semua informasi sudah terpampang jelas di papan-papan petunjuk.</p>
<p>Kami memilih untuk naik MRT saja, alat transportasi &#8220;default&#8221; bagi para pelancong dan masyarakat Singapura. Saya pun menuju ke terminal MRT HarbourFront, tentu setelah mengikuti panah di papan petunjuk. Dari pelabuhan, saya bahkan ndak perlu keluar karena pelabuhan dan stasiun MRT terhubung dan terintegrasi dengan toko-toko di sekelilingnya, sehingga suasananya lebih mirip mall daripada pelabuhan atau stasiun.</p>
<p>Sistem transportasi MRT dibangun pada November 1987 dan menjadi sistem transportasi tertua kedua di Asia Tenggara setelah sistem transportasi LRT di Filipina. Stasiun dan jalur-jalur MRT berada di bawah tanah (juga ada yg di atas &#8211; <em>skytrain</em>) dan memiliki sisitem pelindung dari goncangan gempa dan bom, menjangkau hampir seluruh pelosok Singapura dari barat-timur hingga selatan-utara.</p>
<p>Stasiun-stasiun MRT memiliki pendingin udara, sehingga kita ndak perlu khawatir kepanasan, meski di dalam terdapat banyak orang. Selain itu suasananya sangat bersih dan rapi jali. Semua perangkat sangat terawat dan berfungsi sempurna sehingga seolah-olah terlihat selalu baru.</p>
<p>Untuk naik MRT, ada beberapa cara, yaitu dengan membeli tiket sekali jalan yang bisa dibeli di mesin tiket swalayan (kiosk), atau membeli kartu tiket <a href="http://www.ezlink.com.sg/" title="EZ-Link" target="_blank">EZ-link</a> RF-ID yang bisa diisi ulang. Tidak ada unsur manusia (kondektur yang menarik ongkos atau memeriksa karcis), kecuali para pelayan yang membantu mengoperasikan kiosk dan di counter pembelian kartu tiket.</p>
<p><a href="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/kartu-stp.jpg"><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/kartu-stp.jpg" alt="Singapore Tourist Pass - tiket elektronik untuk naik MRT" title="Singapore Tourist Pass - tiket elektronik untuk naik MRT" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1496" /></a></p>
<p>Saya memilih membeli kartu <a href="http://www.publictransport.sg/publish/ptp/en/fares_ticketing/types_of_tickets/singapore_tourist.html" title="Singapore Tourist Pass" target="_blank">Singapore Tourist Pass</a> keluaran EZ-link seharga SG$ 18 (ongkos ini termasuk deposit ongkos perjalanan sebesar SG$ 10) untuk turis harian (ada beberapa jenis kartu, saya membeli STP yang harian karena saya di Singapura cuma sehari) yang bisa digunakan untuk naik kereta dan bus kota. </p>
<p>Ya, bus kota dan kereta terintegrasi dalam sistem MRT yang dioperasikan oleh perusahaan swasta <a href="http://www.smrt.com.sg/" title="SMRT Corporation" target="_blank">SMRT</a> dan <a href="http://www.sbstransit.com.sg/" title="SBS Transit Ltd" target="_blank">SBS-Transit</a>.</p>
<p>Kartu STP ini nanti bisa tukar kembali dan sisa uang deposit akan dikembalikan. Namun sebagai turis ndeso, saya lebih memilih menyimpannya untuk kenang-kenangan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dengan menggunakan kartu, sangat mempermudah dalam penghitungan ongkos dan efisiensi. Penghitungan ongkos dilakukan dengan menggunakan sistem poin, misalnya kita berangkat dari stasiun/terminal A ke stasiun/terminal D. Jika A bernilai poin 7,  dan D bernilai poin 4, maka ongkos yang harus dibayar adalah selisih dari poin ini (bukan dari jarak), yaitu 3.</p>
<p>Jarak yang dekat bukan berarti lebih murah. Nah, dengan poin bernilai 3 ini ongkosnya bisa dilihat di tabel yang juga terpampang jelas. Ongkos menggunakan kartu lebih murah daripada membeli tiket atau langsung menggunakan koin. Untuk pembayaran menggunakan koin dan tiket sekali jalan, saya ndak begitu ngerti, tapi harusnya sih cara membayarnya hampir sama kayak kita membayar ongkos kendaraan umum. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ketika hendak naik kereta MRT, kita harus menempelkan kartu ke mesin (saya menggunakan kartu tiket) untuk membuka gerbang dan mencatat lokasi kita. Jika ongkos di kartu tidak mencukupi, gerbang tidak akan terbuka dan akan memberikan peringatan.</p>
<p>Tiket elektronik berbentuk kartu ini menggunakan teknologi <em>contactless smart card</em> yang berbasis pada teknologi frekuensi radio (RF-ID). Kartu sejenis yang menggunakan teknologi ini adalah kartu Flazz BCA untuk pembayaran. Dengan hanya mendekatkan kartu ke mesin, maka data di kartu akan terbaca. Beberapa kali saya melihat orang-orang menempelkan dompet atau tas mereka yang menyimpan kartu ini ke mesin, dan mesin bisa membaca kartu ini tanpa mengeluarkannya.</p>
<p>Ketika kita turun dan keluar dari stasiun, kita juga harus menempelkan kartu ini ke mesin untuk membuka gerbang dan memberi tahu posisi kita sehingga jarak tempuh bisa dihitung dan ongkos langsung dipotong dari uang deposit. Ongkosnya cukup murah, paling mahal sekitar SG$ 2 (rata-rata cuma kurang dari SG$ 1).</p>
<p>Kereta <em>subway</em> MRT bisa dibilang tidak dapat terlihat bentuknya karena jalur-jalur kereta tertutupi oleh pintu-pintu kaca otomatis. Saya melihat berbagai petunjuk, mulai dari peta rute, layar LCD dan dot matrix yang memberikan petunjuk jalur, arah, hingga perkiraan waktu tiba kereta.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/03/screen-doors.jpg" alt="Pintu-pintu kaca otomatis" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1472" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/03/sign-board.jpg" alt="Papan-papan petunjuk" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1473" /></p>
<p>Karena bingung hendak ke mana, kami pun melihat ke <a href="http://www.smrt.com.sg/trains/network_map.asp" title="MRT &#038; LRT System map" target="_blank">papan peta rute MRT</a>. Dengan mudah bisa dilihat tempat-tempat yang hendak dituju, terus menggunakan kereta jalur apa, dan transit di stasiun mana. Kami memutuskan untuk ke Merlion Park, <em>landmark</em> Singapura yang terkenal itu. Kami pun memutuskan untuk turun di City Hall (balai kota) dan nanti tanya-tanya orang saja pas disana (dan belakangan saya ketahui, untuk ke Merlion Park harusnya turun di Raffles Place di daerah Downtown Core).</p>
<p>Dari HarbourFront, kami naik kereta jalur North East (NE) Line yang dioperasikan oleh SBS Transit yang menuju Punggol, kemudian berpindah kereta di Dhoby Gaut naik kereta jalur North Shouth Line (dioperasikan oleh SMRT) menuju Marina Bay dan turun di City Hall. Untuk menuju ke City Hall juga bisa dengant transit di Outram Park untuk berganti kereta jalur East West (EW) line yang dioperasikan SMRT.</p>
<p>Di dalam kereta, suasana mirip di film-film. Bedanya, ini di Singapura (ya iya lah)! Sebenernya kalo dibandingkan, suasananya mirip macam di KRL Jabodetabek atau Prameks, cuma yang membedakan adalah budaya penumpang dan kondisi kereta juga stasiunnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Orang-orang Singapura itu mau tertib antre, mendahulukan yang keluar dan masuk dengan teratur. Meski ramai dan berdesak-desakan, tapi sangat tertib dan rapi. Bahkan di tengah derap langkah kaki, hampir tidak ada suara manusia. Rame tapi sunyi saya bilang. Umpel-umpelan tapi teratur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/in-mrt.jpg" alt="Suasana di dalam MRT" title="Suasana di dalam MRT" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1497" /></p>
<p>Kami sampai di City Hall. Setelah berkutat di suasana &#8220;mall&#8221;, ini pertama kalinya saya liat permukaan Singapura. Dengan menggunakan eskalator berjenis &#8220;heavy-duty&#8221; yang pergeserannya sangat cepat untuk memperlancar perpindahan manusia, kami sampai juga di permukaan.</p>
<p>Berbeda suasana dengan di bawah tanah, suasana di permukaan relatif lebih sepi. Boleh dibilang, kehidupan orang Singapura itu ada di mall, di subway, dan stasiun MRT. Di luar bener-bener lebih sepi. Mungkin karena kami berkunjung pada hari libur, jadi terasa lebih sepi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/capitol-building.jpg" alt="Capitol Building" title="Capitol Building" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1503" /></p>
<p>Saya langsung terkagum-kagum dengan banyaknya gedung-gedung tua yang bersih, tertata rapi, dan difungsikan. Salah satu gedung yang saya lihat pertama kali adalah gedung Capitol Building yang terletak di ujung perempatan Stamford Rd dan North Bridge Rd.</p>
<p>Di sebelahnya, persis terletak gereja katedral beraliran <em>anglikan</em> St. Andrew yang dibangun pada tahun 1835-1836. Kami berjalan menyusuri Stamford Rd lalu berbelok ke barat daya menyusuri St. Andrew&#8217;s Rd sambil melintasi City Hall Park yang berada persis di depan gedung City Hall (balai kota).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/di-taman.jpg" alt="istirahat di taman City Hall" title="istirahat di taman City Hall" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1498" /></p>
<p>Meski jarak dari City Hall ke Merlion Park itu lumayan jauh, namun berjalan kaki sembari memanggul tas punggung rasanya nyaman. Selain karena suasananya yang sepi dari kendaraan (pejalan kaki sangat dihormati di sini, bahkan sepeda pun harus ngalah ama pejalan kaki) pemandangannya pun rapi.</p>
<p>Kami bahkan sempat berhenti dan duduk-duduk sejenak di taman sembari makan cemilan. Taman yang rindang, bersih tanpa sampah, memang nyaman untuk menjadi tempat beristirahat. Sungguh berbeda dengan di Indonesia, melihat taman begini, para pedagang kaki lima pun akan langsung membuka lapak. Dan inilah yang tidak saya temukan di sini, ketika kehausan, susah rasanya cari pedagang teh botol yang mangkal, hehehe.</p>
<p>Capek beristirahat (loh, istirahat kok capek?) kami melanjutkan perjalanan. Kami melewati jembatan tua namun tetap kokoh, Anderson Bridge, yang melintasi Singapore River, yang awalnya dibangun untuk menggantikan Cavenagh Bridge yang sudah overload. Jembatan Anderson ini dibangun pada tahun 1908-1910.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/anderson-bridge.jpg" alt="Anderson Bridge yang dibangun tahun 1908-1910" title="Anderson Bridge yang dibangun tahun 1908-1910" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1499" /></p>
<p>Setelah menandai wilayah dengan pipis (tentunya di toilet umum yang bersih banget) di kawasan Merlion Park, kami langsung tertarik nyobain Singapore River Cruise (yang akhirnya kami sesali karena ongkosnya lumayan mahal dan menguras duit, yaitu SG$ 15!).</p>
<p>Singapore River Cruise adalah salah satu paket wisata yang ditawarkan di sekitar Downtown Core. Dengan mengunakan kapal yang dulu digunakan oleh orang-orang China ketika datang ke Singapura (namanya bamboat) kita akan dibawa berkeliling menyusuri Singapore River yang airnya bersih (beda banget ama kali-kali di daerah perkotaan di Indonesia).</p>
<p>Setiap melewati sebuah obyek wisata yang sebenernya biasa-biasa aja tapi dikemas dengan baik, yang kebanyakan menceritakan sejarah singkat jembatan-jembatan (bener-bener sigkat, cuma nama, tahun pembangunan, jenis jembatan, dan fungsinya pada masa itu) yang melintasi Singapore River yang dijelaskan melalui rekaman CD yang dioperasikan oleh &#8220;nakhoda&#8221;.</p>
<p>Sangat amat mesin dan miskin interaksi antar manusia. Yang agak menyesakkan, saya mendengar backsound lagu &#8220;Rasa Sayange&#8221; yang dimainkan secara instrumental sebagai lagu pengiring penjelasan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/bamboat.jpg" alt="Bamboat Singapore River Cruise yang melintas di depan gedung Esplanade Theater" title="Bamboat Singapore River Cruise yang melintas di depan gedung Esplanade Theater" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1500" /></p>
<p>Selesai tour jembatan Singapore River Cruise dan capek berputar-putar di sekitar Raffles Park, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Bugis, daerah yang katanya &#8220;Glodok-nya&#8221; Singapura, untuk sekedar beli oleh-oleh (<a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-dan-oleh-oleh.html" title="Jeng-Jeng dan Oleh-Oleh">padahal saya paling males kalo diminta bawa oleh-oleh!</a>).</p>
<p>Karena malas dengan suasana &#8220;mall&#8221; di stasiun kereta MRT, kami pun nyobain naik bus kota. Selain pengen ngerasain naik bus kota di Singapura, juga pengen liat keadaan kota Singapura.</p>
<p>Seperti biasa, karena ndak tau naik busa jalur mana, kami pun menuju ke halte bus terdekat dan mencoba membaca peta dan rute. Okey, setelah cukup lama kami memahami peta, akhirnya kami pun sedikit mengerti dan kami naik bus nomor 130 dari halte Opp The Adelphi yang terletak di Coleman St tepat di belakang Gereja Katedral St. Andrew menuju Bugis Station di Victoria St.</p>
<p>Masing-masing bus itu ternyata ndak berhenti di setiap halte yang dilewati. Dan bus-bus ini hanya berhenti di halte yang tela ditentukan, jadi nggak mungkin kita melambaikan tangan untuk nyegat bus kayak nyegat Metromini.</p>
<p>Yang mengagumkan, bus-bus ini datang dan pergi selalu tepat waktu. Di halte terdapat papan display yang menunjukkan perkiraan tibanya bus di halte dalam menit, sehingga kita bisa tau bus nomor 130 (misalnya) akan tiba di halte 3 menit lagi, dan bener saja 3 menit kemudian bus itu datang persis dengan waktu yang terpampang! Ndak ada tuh ceritanya kita udah antre lama tanpa kepastian dan celakanya ternyata bus yang ditunggu tak juga tiba.</p>
<p>Selain papan display, terpampang jelas peta rute, daftar halte yang disinggahi oleh bus dengan nomor jalur tertentu, atau daftar nomor bus lengkap dengan tujuan-tujuannya, juga tabel harga yang penghitungannya mirip dengan penghitungan tarif kereta MRT.</p>
<p>Kalo saya, cara membaca petanya begini, temukan halte tujuan, lalu lihat bus-bus nomor berapa saja yang berhenti di halte tujuan kita tersebut yang melintas di halte tempat kita akan naik. Atau jika sudah tau nomor busnya, tinggal baca rute si bus ini berhenti di halte mana saja. Bisa juga dengan mengurutkan jalur-jalur bus yang dibedakan warnanya itu.</p>
<p>Misalnya ketika kami berada di <a href="http://www.publictransport.sg/publish/etc/medialib/test2.Par.97802.File.dat/Key_Bus_Service_Map_Orchard.pdf" title="Key Bus Service Map - Orchard">Orchard Rd.</a> dan hendak balik ke HarbourFront, dari halte Lucky Plaza, ternyata rute ke HarbourFront (bus nomor 143) yang kami cari ndak berhenti di sana, dan kami kudu jalan dulu ke halte Opp Meritus Mandarin yang jaraknya sekitar 300 meter dari halte Lucky Plaza. </p>
<p>Ketika bus datang, penumpang masuk melalui pintu depan dan yang turun melalui pintu tengah. Namun bisa juga kalo ndak rame, bisa turun dari pintu mana saja. Ketika naik, jangan lupa menempelkan STP ke mesin pembaca untuk menandai ongkos naik, dan ketika turun menempelkan kembali di mesin yang terletak di deket pintu.</p>
<p>Namun ketika turun di Bugis Stasion, kami lupa menempelkan STP, dan sepertinya sistem bisa langsung mengenali posisi kami ketika kami masuk stasiun kereta MRT di Bugis Station setelah membeli oleh-oleh untuk menuju Orchard Road.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/di-dalam-bus.jpg" alt="Suasana di dalam bus" title="Suasana di dalam bus" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1501" /></p>
<p>Suasana di dalam bus cukup nyaman. Bus-bus ini sebagian memiliki ruang khusus untuk pengguna kursi roda yang ditandai dengan tanda tertentu. Tanda kursi roda ini pun akan muncul di display bus yang akan tiba di halte, sehingga para pengguna kursi roda bisa tau bus mana yang akan dinaikinya. Bus ini pun dirancang khusus untuk memudahkan pengguna kursi roda masuk dan keluar bus, dan apabila ada kesulitan, sopir bus akan dengan sigap membantu.</p>
<p>Kami mencoba dua jenis bus. Bus 130 yang kami tumpangi dari halte Opp The Adelphi menuju Bugis Station bentuknya bus biasa, dan ketika naik bus 143 dari halte Opp Meritus Mandarin menuju HarbourFront, bus yang kami tumpangi adalah bus tingkat (double decker).</p>
<p>Meski sama-sama &#8220;double decker&#8221;, bus umum beda dengan bus tour yang atapnya terbuka, yang untuk naik bus dan ikut tour itu harus membayar SG$ 15 hanya untuk melihat-lihat kota Singapura! Naik bus tingkat begini, mengingatkan saya jaman SD, pernah naik bus tingkat yang dioperasikan DAMRI. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami pun duduk di atas, supaya bisa menikmati suasana kota Singapura dengan lebih leluasa. Ketika bus berhenti di halte, orang yang di atas dan akan turun akan memencet suatu tombol di bagian tiang dekat tangga turun, untuk memberi tahu sopir jika ada yang akan turun. Tombol ini sangat berguna ketika penumpang sangat ramai, ketika penumpang di atas sulit turun, maka dengan memencet tombol ini, sopir akan menunggu lebih lama.</p>
<p>Begitulah pengalaman saya selama nyobain sistem transportasi di Singapura. Jika disuruh memilih, saya lebih tertarik untuk menjelajah dengan menggunakan bus kota daripada kereta. Selain saya kurang sreg dengan suasana mall di stasiun-stasiunnya, dengan menggunakan bus kota saya bisa lebih tau jalan dan rute.</p>
<p>Satu lagi yang saya kagumi dari Singapura, mereka mampu mengemas sesuatu yang biasa menjadi hal yang bisa dijual. Perawatan bangunan peninggalan bersejarahnya pun begitu keren. Gedung-gedung tua itu dirawat dan dimanfaatkan, sehingga bisa berdiri berdampingan dengan gedung-gedung pencakar langit.</p>
<p>Kapan ya, Indonesia bisa kayak gini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-mencoba-mrt.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Singapura: Menyeberang Melalui Laut</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 11:30:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1489</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya ke luar negeri. Memang ndeso banget saya ini. Lumayan lah, jadi paspor saya sekarang udah ada capnya. Buat orang katrok bin ndeso macam saya, Singapura itu negeri yang hebat. Yang saya kagumi dari negeri yang luasnya hampir sama kayak DKI Jakarta ini adalah keteraturan, kerapian, tertataan, dan sistem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/singapore.jpg" alt="di Merlion Park" title="di Merlion Park" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1490" /></p>
<p>Akhirnya saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya ke luar negeri. Memang ndeso banget saya ini. Lumayan lah, jadi paspor saya sekarang udah ada capnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Buat orang katrok bin ndeso macam saya, Singapura itu negeri yang hebat. Yang saya kagumi dari negeri yang luasnya hampir sama kayak DKI Jakarta ini adalah keteraturan, kerapian, tertataan, dan sistem transportasi yang keren. Singapura juga pandai mengemas sesuatu, yang sebenernya biasa aja, bisa dijual dengan mahal.</p>
<p><span id="more-1489"></span>Seperti biasa, tiada rencana sama sekali untuk mengunjungi negeri yang dulunya bernama Temasek ini. Sebelum <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-batam.html" title="Jeng-Jeng Batam">berangkat ke Batam</a>, saya memang sudah siap-siap bawa paspor, siapa tau bisa nyeberang ke Singapura karena jadwal trip yang mepet.</p>
<p>Dan akhirnya kami bisa menyeberang, tanpa persiapan matang, tanpa uang yang cukup, tanpa modal peta dan mau ke mana, tujuan kami cuma satu: menginjak-injak tanah negeri Singa!</p>
<p>Gara-gara malamnya nongkrong di angkringan di depan hotel bareng temen-temen <a href="http://batamblogger.com/" title="Batam Blogger" taget="_blank">Blogger Batam</a>, kami bangun kesiangan. Sekitar jam 7 kami segera packing seadanya, kemudian diantar oleh sopir hotel, kami membeli tiket di agen perjalanan dan menukar uang di <em>money changer</em> yang banyak tersebar di daerah Nagoya.</p>
<p>Jam 8 kami sampai di Pelabuhan Batam Center dan segera check-in di counter <a href="http://www.penguin.com.sg/" title="Penguin" target="_blank">Penguin</a>, maskapai kapal asal Singapura yang akan kami tumpangi. Selain di agen, tiket juga bisa dibeli langsung ketika di pelabuhan. Harga tiketnya adalah SGD 17 (sekitar 110 ribu rupiah) untuk sekali jalan, bisa dibeli pake mata uang rupiah atau dollar Singapura. </p>
<p>Di Pelabuhan Batam Center memang banyak tersedia pilihan operator kapal, selain Penguin, operator <a href="http://www.batamfast.com/" title="Batam Fast" target="_blank">Batam Fast</a> juga sering dijadikan pilihan.</p>
<p>Untuk menyeberang ke Singapura dari Batam, bisa melalui beberapa pelabuhan. Selain Batam Center, kita bisa juga menuju Singapura dengan naik kapal cepat dari Harbour Bay, Sekupang, atau Waterfront City. Yang paling banyak pilihan operatornya sih, memang di Batam Center.</p>
<p>Prosedurnya sih nggak jauh beda seperti kita mo naik pesawat, kita <em>check-in</em> di counter sesuai operator/maskapai dengan menyerahkan tiket, paspor, kartu NPWP bila punya untuk fasilitas bebas fiskal, dan membayar pajak pelabuhan yang besarnya 7 dollar Singapura (sekitar 42 ribu rupiah). Selesai <em>check-in</em>, kita akan diberi <em>boarding-pass</em> dan dokumen <em>exit permit</em> (sebagai ijin untuk keluar Indonesia) dan <em>entry permit</em> (untuk ijin masuk ke Singapura).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/dokumen-paspor.jpg" alt="Paspor, dokumen exit permit, dokumen entry permit, dan boarding-pass." title="Paspor, dokumen exit permit, dokumen entry permit, dan boarding-pass." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1492" /></p>
<p>Setelah mendapat boarding-pass, kami harus menuju ke bagian fiskal, untuk mendapat tanda bebas fiskal (karena saya punya NPWP) dengan menunjukkan paspor dan kartu NPWP, kemudian <em>boarding-pass</em> kita akan mendapat tanda khusus yang menyatakan bebas fiskal ketika dipindai. Kartu <em>boarding-pass</em> ini berupa RF-ID (Radio Frequency Identification) card, di mana kartu ini menyimpan data dan informasi kita, yang diakses dengan sinyal radio berfrekuensi tertentu.</p>
<p>Setelah mendapat tanda bebas fiskal, kami menuju ke bagian imigrasi, bagian yang entah kenapa menurut saya adalah bagian yang paling menegangkan, karena di sini nasib kita seolah-olah diuji, boleh pergi atau tidak.</p>
<p>Setelah dokumen-dokumen saya diperiksa, paspor dicap, dan exit permit dicap dan disobek sebagai tanda keluar Indonesia (sobekan lainnya harus disimpan dan dikembalikan ketika datang ke Indonesia), urusan imigrasi selesai.</p>
<p>Rekan seperjalanan saya, <a href="http://cornila.posterous.com/" title="Cornila Desyana" target="_blank">Nila</a> ternyata mendapat masalah. Paspornya 3 bulan lagi habis masa berlakunya. Ketika data paspor dimasukkan ke dalam sistem, paspornya tidak dikenal. Menurut keterangan petugas yang sok galak itu, untuk keluar negeri, minimal paspor habis masa berlakunya 6 bulan lagi. Saya yang lolos karena tidak bermasalah, akhirnya jadi ikut deg-degan karena ini.</p>
<p>Nila kemudian digiring ke ruangan khusus. Di dalam sana, dia diinterogasi oleh petugas tentang maksud dan tujuannya keluar negeri. Saya duduk harap-harap cemas di luar sembari menunggu. Akhirnya, &#8220;jdok! jdok!&#8221;, paspor dicap dan Nila diijinkan keluar, dengan catatan &#8220;resiko ditanggung sendiri&#8221;. Menurut petugas imigrasi, Nila boleh masuk ke Singapura atau tidak, tergantung oleh petugas imigrasi Singapura, itu pun ngomongnya dengan gaya masih sok galak.</p>
<p>Urusan imigrasi selesai, kami akhirnya naik ke kapal. Kami melewati semacam mesin boarding, dengan menempelkan <em>boarding-pass</em> ke mesin, dan data nama secara otomatis akan tercatat sebagai penumpang di kapal. <em>Boarding-pass</em> ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal.</p>
<p>Perjalanan dari Batam ke Singapura memakan waktu kurang lebih 45 menit. Di Singapura, pelabuhan akhir dari Batam adalah di HarbourFront, yang juga menjadi pelabuah kapal pesiar (<em>cruise ship</em>) besar serta pintu gerbang menuju Sentosa Island (yang cuma selemparan kolor dari HarbourFront).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/kapal.jpg" alt="Kapal cepat milik operator Penguin" title="Kapal cepat milik operator Penguin" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1491" /></p>
<p>Kapal Penguin termasuk jenis ferri cepat yang memiliki daya tampung sekitar 50 orang. Di Pelabuhan Marina, Ancol, jakarta, yang melayani rute ke resort-resort mewah di Kepulauan Seribu, ukurannya lebih kecil, meski bentuknya mirip-mirip. Beberapa ferri yang saya lihat bersliweran di sini berjenis <em>Catamaran</em> di mana memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibanding dengan versi yang saya tumpangi ini.</p>
<p>Kursinya cukup nyaman dan di dalam terdapat pendingin udara. Bila ingin menikmati angin laut, pindah lah ke bagian buritan, di sana terdapat ruang terbuka berkanopi sehingga angin bisa langsung menerpa wajah.</p>
<p>Pemandangan di laut adalah kapal-kapal besar, kapal tangker, dan ferri yang berkeliaran di seputar Selat Malaka. Selat ini memang merupakan salah satu laut tersibuk di dunia, karena posisinya yang sangat strategis. Pantas saja sejak jaman dulu hingga sekarang, selat ini diperebutkan oleh banyak negara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/ketibaan.jpg" alt="Papan petunjuk dalam berbagai bahasa" title="Papan petunjuk dalam berbagai bahasa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1493" /></p>
<p>Setelah tertidur karena keenakan digoyang-goyang ombak, kami pun tiba di HarbourFront, Singapura. Turun dari kapal, papan-papan peringatan berukuran besar bertuliskan dilarang membawa rokok, senjata, dan narkotika beserta ancaman hukuman langsung menyambut.</p>
<p>Papan-papan ini sangat miskin kata-kata penjelasan, namun bisa langsung dimengerti, <em>tunjep poin</em>, karena berupa gambar dan bentuk hukuman yang akan diberikan. Kondisi papan dan penempatannya pun tersebar di mana-mana, dan posisinya bisa dengan mudah dilihat. Contohnya ada <a href="http://matriphe.posterous.com/anjuran-dan-larangan" title="Anjuran dan Larangan" target="_blank">di sini</a> dan <a href="http://cornila.posterous.com/kota-seribu-petunjuk-dan-anjuran" title="Negara Seribu Petunjuk dan Anjuran" target="blank">di situ</a>.</p>
<p>Begitu masuk ke terminal pelabuhan, kami langsung menghadap ke counter imigrasi! Kami pun langsung deg-degan lagi, namun tetap berusaha menenangkan diri. Si Nila sudah menyusun berbagai rencana dan argumen kalo misalnya dia ditanya sebab paspor dan ijin masuk, seperti apa yang dibilang petugas imigrasi di Indonesia.</p>
<p>Dan, tibalah giliran kami. Saya dilayani oleh petugas perempuan berparas India, begitu melihat paspor hijau saya, si petugas menyapa dengan ramah namun terbersit nada tegas, dalam bahasa Melayu, sambil tangannya cekatan memeriksa dan memindai dokumen-dokumen saya.</p>
<p>&#8220;Pernah ke Singapura sebelumnya?&#8221;<br />
&#8220;Belum&#8221;<br />
&#8220;Pulang balik atau menginap?&#8221;<br />
&#8220;Pulang balik..&#8221;<br />
&#8220;Sayang sekali, Anda seharusnya menginap di Singapura..&#8221;<br />
Saya cuma senyum-senyum..</p>
<p>Jdok! Jdok! Paspor saya pun dicap untuk yang kedua kalinya. Entry permit dan paspor dikembalikan kepada saya dan dia bilang sambil tersenyum, &#8220;Selamat datang di Singapura!&#8221;.</p>
<p>Saya melirik ke arah Nila yang ada di counter imigrasi sebelah, yang melayani seorang pemuda. Tak berapa lama, Nila selesai dan dengan wajah sumringah mendekati saya. &#8220;Petugasnya baik banget!! Beda ama petugas imigrasi Indonesia!&#8221;, sungut Nila antara gembira sambil dongkol. Gembira karena diloloskan oleh petugas imigrasi Singapura dan dongkol dengan sikap petugas imigrasi Indonesia.</p>
<p>Menurut Nila, petugas imigrasi Singapura tidak terlalu mempermasalahkan soal masa berlaku paspor, selama masih berlaku, mereka menerima. Namun si petugas tersebut menyarankan agar segera mengurus pergantian paspor (di Indonesia, sekarang tidak ada istilah perpanjangan paspor, namun penggantian paspor). Alasannya bukan karena bernada &#8220;menyalahkan&#8221; seperti yang dipaparkan oleh petugas imigrasi Indonesia, namun lebih ke semacam &#8220;saran&#8221;. </p>
<p>&#8220;Anda harus segera mengurus paspor Anda, supaya Anda bisa datang ke sini lagi&#8221;, begitu kira-kira ucapan si mas-mas petugas imigrasi yang ditirukan oleh Nila. Benar-benar suatu pelayanan yang beda banget dengan pelayanan di Indonesia.</p>
<p>Kami pun turun dari bagian imigrasi dengan perasaan bahagia yang tertahan. Sebenernya pengen melonjak-lonjak, namun kami tahan.</p>
<p>Yang pertama kali saya lakukan, menyesuaikan zona waktu di arloji dengan menambahkan satu jam. Ya, meski posisi Singapura lebih ke barat daripada Jakarta, zona waktu Singapura lebih dulu satu jam dari Jakarta.</p>
<p>Kami pun menuju ke counter Penguin, untuk memesan waktu keberangkatan pulang. Kami di Batam sudah membeli tiket pulang-pergi, sehingga ketika di Singapura, kami cukup membooking dan sekalian <em>check-in</em>. Setelah melalui prosedur yang hampir sama ketika di Batam (bedanya, kami membayar pajak pelabuhan sebesar SGD 6), kami mendapat <em>boarding-pass</em>.</p>
<p>Selesai memesan tiket pulang kami pun turun ke hall pelabuhan. Kami sempat bingung mau ke mana karena kondisi pelabuhan tak ubahnya semacam mall. Kami bingung hendak ke mana, mau naik apa, dan mau ngapain..</p>
<p>Buat saya, yang penting ini: Maaakk!! Anakmu ini sudah menginjak-injak tanah negeri Singa!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Batam</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-batam.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-batam.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 11:07:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Balerang]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[travelwan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1474</guid>
		<description><![CDATA[Batam memang pulau yang unik. Bila mendengar kata &#8220;Batam&#8221;, selalu terbersit nama &#8220;Singapura&#8221; (karena dekatnya jarak dari Batam ke Singapura, sehingga Batam menjadi salah satu pintu gerbang ke Singapura), barang-barang murah (baik yang orisinil atau KW-1), kawasan industri, hingga memiliki dua &#8220;pemerintahan&#8221;. Saya berkesempatan mengunjungi pulau ini atas dukungan dari Travelwan, sebuah majalah pariwisata yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/batam.jpg" alt="di Batam!" title="di Batam!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1475" /></p>
<p>Batam memang pulau yang unik. Bila mendengar kata &#8220;Batam&#8221;, selalu terbersit nama &#8220;Singapura&#8221; (karena dekatnya jarak dari Batam ke Singapura, sehingga Batam menjadi salah satu pintu gerbang ke Singapura), barang-barang murah (baik yang orisinil atau KW-1), kawasan industri, hingga memiliki dua &#8220;pemerintahan&#8221;.</p>
<p>Saya berkesempatan mengunjungi pulau ini atas dukungan dari <a href="http://travelwan.com" title="Travelwan" target="_blank">Travelwan</a>, sebuah majalah pariwisata yang <em>concern</em> ke bidang industri pariwisata dan para pelaku industri wisata (<em>tour agent</em> dan hotel). Terima kasih, Travelwan!</p>
<p><span id="more-1474"></span>Penerbangan paling pagi adalah salah satu hal yang kurang saya suka. Apalagi kalo bukan susahnya melawan rasa kantuk ketika bangun pagi. Namun di sisi positifnya, saya suka melihat suasana Jakarta yang senyap. Jarak tempuh ke Bandara Soekarno-Hatta yang minimal 1 jam bisa menyusut menjadi setengahnya.</p>
<p>Setelah datang kepagian di bandara, <em>check-in</em>, dan <em>take-off</em>, selama di atas pesawat saya habiskan dengan tidur. Rasanya ndak rela waktu tidur kepotong gara-gara kudu pagi-pagi ke bandara. Jarak tempuh Jakarta-Batam, normalnya sekitar satu setengah jam. Lumayan lah buat merem-merem sejenak.</p>
<p>Menjelang landing, terlihat gugusan kepulauan Riau nampak susun menyusun di atas laut biru, dari atas pesawat. Samar-samar, jembatan Balerang yang menjadi icon dari kota Batam terlihat, sebagai pertanda bahwa kami sudah dekat dan hampir mendarat.</p>
<p>Begitu mendarat di Bandara Hang Nadim (yang namanya diambil dari pejuang Melayu yang bermarkas di pulau Batam ketika melawan Portugis di Malaka), kesan pertama saya: Batam panas banget!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/hang-nadim.jpg" alt="Bandara Hang Nadim, Batam" title="Bandara Hang Nadim, Batam" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1484" /></p>
<p>Maklum saja, tanah di Batam itu gersang banget, dengan warna tanah yang merah bata karena mengandung bauksit, sehingga tidak subur. Ndak heran kalo di Batam itu tidak ada sawah dan kebun, sehingga sayur mayur dan kebutuhan pokok diimpor dari Jawa/Sumatera.</p>
<p>Saya dijemput oleh pihak <a href="http://www.puri-garden.com/" title="Hote Puri Garden" target="_blank">Hotel Puri Garden</a> (+62 778 458 888) tempat saya akan menginap, dengan menggunakan mobil yang saya jarang melihat di Jakarta.</p>
<p>&#8220;Ini mobil dari Malaysia, Mas. Di sini banyak berseliweran mobil-mobil bekas dari Singapura dan Malaysia, tandanya adalah plat nomornya menggunakan kode huruf X di bagian belakang, misal BP 1234 DX. Mobil-mobil berplat nomor X ini tidak bisa keluar dari pulau Batam,&#8221; jelas Mas Dhani, pihak hotel (Manager Marketing) yang menjemput saya.</p>
<p>Soal tranportasi umum, di Batam sangat jarang ditemukan angkutan umum. Paling banyak sih taksi (diucapkan sebagai &#8220;teksi&#8221;) tanpa argo, sehingga penumpang harus tawar menawar. Bahkan yang lebih ekstrim, taksi yang berisi penumpang (kalo masih ada tempat) bisa diberhentikan di tengah jalan, selama tujuan searah. Mirip kayak kita nyegat angkot!</p>
<p>Beberapa taksi di Batam memang sudah menerapkan sistem argo, tapi itu hanya di beberapa armada saja. Selebihnya ya taksi angkot itu.</p>
<p>Kami menuju ke Nagoya, yang dulunya bernama Lubuk Baja, daerah perdagangan dan hiburan paling semarak di Batam. Selain mall, ruko-ruko, dan hotel, di Nagoya bisa ditemukan dengan mudah cafe, pub, dan diskotik. Maklum saja, Nagoya merupakan salah satu tempat kehidupan malam terbesar di Batam. &#8220;Kalo di Jakarta, pub atau diskotik tutup jam 4 (pagi) atau Shubuh, di sini, diskotik bubar itu jam 7 pagi,&#8221; jelas Mas Dhani.</p>
<p>&#8220;Di sini dulu jadi salah satu pusat perjudian &#8216;resmi&#8217; di Indonesia, namun semenjak Kapolri dijabat oleh Soetanto (sekitar tahun 2005), maka pusat-pusat judi ini tutup, sehingga banyak ruko-ruko yang kosong,&#8221; jelas Mas Dhani ketika saya bertanya kenapa banyak ruko dan bangunan kosong yang terbengkalai. &#8220;Yang punya kebanyakan orang <em>Singapur</em>, Mas..,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Setelah meletakkan barang bawaan di hotel yang terletak persis di depan Nagoya Hill, salah satu mall terbesar di Batam (kalo di Jakarta bentuknya kayak ITC atau ruko-ruko), kami diajak menuju Batam Center, pusat pemerintahan dan administrasi Kota Batam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/peta-batam.jpg" alt="Peta Batam (kredit peta: Google Maps)" title="Peta Batam (kredit peta: Google Maps)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1478" /></p>
<p>Batam memiliki dua &#8220;pemerintahan&#8221;, yaitu Otorita Pengembangan Daerah Industri (Batam Industrial Development Authority &#8211; BIDA) yang lebih sering disebut dengan Badan Otorita Batam (BOB) dan Pemerintah Kota Batam.</p>
<p>Otorita Batam awalnya memiliki tugas untuk membangun Batam menjadi pusat industri pada tahun 70-an. Kemudian seiring dengan pesatnya pembangunan, pada tahun 1990, Kotamadya Administratif Batam memiliki status otonomi yang dipegang oleh Pemerintah Kota Batam dan bekerjasama dengan Badan Otorita Batam.</p>
<p>Namun pada prakteknya, sering muncul kebingungan dan ketimpangan. Misalnya, ketika hendak mendirikan bangunan, ijin IMB harus diajukan ke Pemko atau ke Otorita? &#8220;Kita ngajuin ke Pemko, nanti Otorita juga minta &#8216;jatah&#8217;, demikian pula sebaliknya. Apalagi status tanah di Batam ini kita nyewa, bukan beli,&#8221; demikian ungkap Pak Parjo, driver yang mengantar kami, yang sudah 20 tahun tinggal di Batam semenjak dideportasi dari Malaysia karena masuk secara ilegal.</p>
<p>Suasana di Batam Center memang rebih rapi, namun lebih sepi dibanding Nagoya. Setelah berkeliling sejenak, kami mampir ke Pelabuhan Batam Center, salah satu gerbang menuju Singapura menggunakan kapal. Gara-gara kami mampir ke pelabuhan ini, terbersitlah ide untuk menginjakkan kaki di Singapura!</p>
<p>Dari Batam Center, kami akhirnya makan siang di Warung Bandung, warung makan Sunda yang cukup besar di Batam Center. He he he, jauh-jauh ke Batam, malah makan makanan Sunda.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/gongong.jpg" alt="Gonggong, hidangan khas Batam" title="Gonggong, hidangan khas Batam" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1476" /></p>
<p>Dari menu, saya terarik dengan menu Gonggoong (<em>Strombus turturella</em>), yaitu siput laut namun ukurannya besar (panjangnya bisa mencapai 5-7 cm), salah satu hidangan khas Batam. Cangkang dari Gonggong sering digunakan sebagai gantungan kunci atau hiasan.</p>
<p>Untuk memakan hewan ini, caranya dengan mencongkel dagingnya dengan tusuk gigi. Hati-hati dengan tungkai gergajinya, karena tungkai gergaji ini sangat keras dan tajam, sehingga tidak bisa dimakan. Saya yang alergi seafood, ketika mencobanya ternyata tidak apa-apa. Gatal-gatal di badan yang biasanya muncul setelah makan makanan laut tidak muncul, mungkin akibat dari minuma air kelapa yang saya pesan sebagai penawar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Panas yang terik membuat kami duduk bersantai dan leyeh-leyeh di warung ini sembari menunggu matahari agak tergelincir. Di warung ini, saya janjian kopdar dengan punggawa blogger Batam, <a href="http://www.jokosupriyanto.com/" title="Joko Supriyanto" target="_blank">Mas Joko &#8220;Geblek&#8221; Supriyanto</a>.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/barelang-1.jpg" alt="Jembatan Tengku Fisabilillah (Balerang #1)" title="Jembatan Tengku Fisabilillah (Balerang #1)" width="200" height="299" class="alignriht size-full wp-image-1477" /></p>
<p>Setelah matahari agak tergelincir, kami segera menuju ke tenggara. Jembatan Balerang menjadi tujuan kami berikutnya.</p>
<p>Jembatan Barelang adalah rangkaian 6 jembatan sepanjang 2 km, menghubungkan 3 pulau besar, yaitu Batam, Rempang, dan Galang. Di antara ketiga pulau ini, ada 3 pulau-pulau penyangga, yang menjadi tumpuan jembatan, yaitu Pulau Tonton, Pulau Nipah, dan Pulau Setokok di antara Batam dan Rempang, kemudian dari Pulau Rempang langsung ke Pulau Galang, dan berakhir di Pulau Galang Baru.</p>
<p>Jembatan-jembatan ini punya nama, yaitu:</p>
<ol>
<li>Jembatan Tengku Fisabilillah menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton dengan panjang 642 meter. Jembatan inilah yang paling mencolok dan terkenal, karena memiliki <em>cable-stay</em> sebagai salah satu tumpuan.</li>
<li>Jembatan Narasinga menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah, berbentuk lurus tanpa lengkungan dan memiliki panjang panjang 420 meter.</li>
<li>Jembatan Ali Haji menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setokok, panjangnya 270 meter.</li>
<li>Jembatan Sultan Zainal Abidin menghubungkan Pulau Setokok dengan Pulau Rempang dengan panjang 365 meter.</li>
<li>Jembatan Tuanku Tambusai menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang memiliki panjang 385 meter.</li>
<li>Jembatan Raja Kecil menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru memiliki panjang lebar tinggi 180 meter.</li>
</ol>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/barelang-5.jpg" alt="Jembatan Tuanku Tambusai (Balerang #5)" title="Jembatan Tuanku Tambusai (Balerang #5)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1479" /></p>
<p>Dari keenam jembatan ini, hanya Jembatan Tengku Fisabilillah dan Jembatan Tuanku Tambusai saja yang menurut saya bentuknya paling bagus.</p>
<p>Ketika kami turun menuju kaki jembatan, saya melihat banyak perahu-perahu kecil melintas di selat-selat pulau. Perahu ini membawa beberapa muatan, diduga muatan tersebut adalah barang selundupan.</p>
<p>Perjalanan kami hanya sampai di Pulau Galang. Di pulau ini terdapat lokasi bekas kamp pengungsi Vietnam, yang dipakai pada tahun 1979-1996.</p>
<p>Ketika terjadi perang saudara di Vietnam pada tahun 1980-an, ratusan ribu penduduk Vietnam selatan mengungsi. Dengan menggunakan perahu kayu, mereka sempat terombang-ambing selama berbulan-bulan di Laut Cina Selatan, sebelum akhirnya sampai di Pulau Galang.</p>
<p>PBB melalui badan yang mengurusi para pengungsi, UNHCR bekerja sama dengan pemerintah Indonesia saat itu kemudian membangun kamp pengungsian di Pulau Galang, tepatnya di Desa Sijantung, Kepulauan Riau, seluas kurang lebih 80 hektar.</p>
<p>Di dalam kamp pengungsi ini selain rumah-rumah juga dibangun berbagai sarana, seperti rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, penjara, hingga pemakaman. </p>
<p>Kondisi bangunan di bekas kamp Vietnam ini begitu memprihatinkan, meski beberapa masih berdiri kokoh. Selain karena material bangunan yang sebagian besar adalah kayu, kurangnya perhatian pemerintah (hayo, Otorita Batam atau Pemko, nih?) membuat kondisi lokasi ini makin menyedihkan.</p>
<p>Di lokasi ini, ada beberapa obyek saja yang sempat kami kunjungi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/anak-teratai.jpg" alt="Anak penjual kerajinan di Pagoda Bukit Teratai (Quan Am Tu)" title="Anak penjual kerajinan di Pagoda Bukit Teratai (Quan Am Tu)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1480" /></p>
<p>Begitu masuk kompleks bekas kamp yang berjarak kurang lebih 50 km dari Batam ini, kami langsung menuju Pagoda Bukit Teratai (Quan Am Tu Quil). Sesuai namanya, pagoda ini terletak di atas bukit.</p>
<p>Wihara ini masih aktif digunakan untuk beribadah umat Budha. Warnanya yang berwarna-warni membuat bangunan ini mudah dikenali dari kejauhan. Tak jauh dari pagoda, terdapat bangunan berisi benda-benda peninggalan dari pengungsi Vietnam serta foto-foto yang dipajang di dinding.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/kwan-in-quan-am-tu.jpg" alt="Patung Dewi Guang Shi Pu Sha" title="Patung Dewi Guang Shi Pu Sha" width="200" height="299" class="alignright size-full wp-image-1481" /></p>
<p>Seorang ibu dan dua anak lelaki berkepala plontos mirip biksu shaolin, tengah asyik merakit ornamen ibadah. Ornamen ini dijual dan digunakan untuk meletakkan berbagai sesaji sembahyang.</p>
<p>Patung Dewi Guang Shi Pu Sha berdiri megah di depan pagoda. Konon barang siapa yang berdoa dan melemparkan uang koin ke arah patung Dewi Guang Shi Pu Sha, akan dilancarkan jodoh dan dijaga keharmonisan keluarga, serta bagi anak-anak bisa pintar sekolah dan tercapai cita-citanya.</p>
<p>Setelah berkeliling pagoda, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju kompleks eks kamp Vietnam. Dengan menyusuri jalan beraspal yang bercabang-cabang, kami menuju ke kompleks pemakaman Ngha Trang.</p>
<p>Di kompleks ini terdapat 503 makam para pengungsi Vietnam yang sakit akibat terkatung-katung di laut atau karena depresi mental. Dari nisan bisa dilihat ada 2 agama mayoritas yang dianut oleh penduduk yang dimakamkan di sini, yaitu Kristen/Katholik dan Budha.</p>
<p>Makam ini masih aktif dikunjungi oleh keluarga dari mereka yang ditinggalkan. Para peziarah ini dulunya para pengungsi Vietnam yang kehidupannya kini sudah mapan dan tinggal di Australia, Canada, dan Amerika Serikat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/nga-thang-grave.jpg" alt="Ngha Trang Grave" title="Ngha Trang Grave" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1482" /></p>
<p>Tujuan kami berikutnya adalah ke monumen perahu yang digunakan pengungsi. Di tengah perjalanan, mobil yang kami tumpangi sesekali berhenti karena banyak monyet Maccaca (keluarga kera) yang berkeliaran di sekitar hutan dan jalan.</p>
<p>Begitu mobil berhenti, para monyet ini mendekat, mengira akan mendapat makanan kecil. Mungkin karena kebiasaan para pengunjung yang memberikan makan kepada monyet-monyet ini, sehingga mereka mengira setiap mobil berhenti akan memberikan makanan. Sungguh kebiasaan yang memprihatinkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/monyet.jpg" alt="Monyet Maccaca yang berkeliaran" title="Monyet Maccaca yang berkeliaran" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1483" /></p>
<p>Kami sampai juga di monumen perahu yang pernah digunakan para pengungsi dari Vietnam. Pada tahun 1995, ketika para pengungsi Vietnam ini hendak dipulangkan, mereka protes dengan membakar dan menenggelamkan perahu-perahu ini.</p>
<p>Setelah para pengungsi sudah dipulangkan pada tahun1996, perahu-perahu yang ditenggelamkan ke dalam lumpur di perairan sekitar Pulau Galang sedalam kira-kira 1 meter ini oleh Otorita Batam diangkat, diperbaiki, dan dipamerkan di monumen ini. Konon untuk mengangkat perahu yang ditenggelamkan ini dibutuhkan sekitar 800 drum plastik!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/perahu-pengungsi.jpg" alt="Monumen perahu pengungsi Vietnam" title="Monumen perahu pengungsi Vietnam" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1485" /></p>
<p>Perjalanan kami berakhir di &#8220;zona inti&#8221; dari eks kamp Vietnam ini. Di kawasan ini, rumah-rumah masih cukup kokoh berdiri, beberapa ditempati oleh warga (entah dari mana mereka berasal, namun yang pasti bukan orang Vietnam). Di sekitar lokasi ini masih berdiri bangunan bekas rumah sakit, bekas penjara dan barak polisi, hingga gereja dan klenteng yang masih digunakan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/gereja-vietnam.jpg" alt="di depan Gereja Katholik Nha To Duc Me Vo Nhem" title="di depan Gereja Katholik Nha To Duc Me Vo Nhem" width="200" height="299" class="alignnone size-full wp-image-1486" /></p>
<p>Ketika melangkah masuk melewati jembatan kayu yang rapuh di depan gereja Katholik Nha To Duc Me Vo Nhem, nuansa mistis langsung terasa. Entah mengapa saya merasa di kawasan ini begitu &#8220;wingit&#8221;, padahal di kompleks pemakaman Ngha Trang, saya merasa biasa-biasa saja.</p>
<p>Gereja kayu ini masih cukup kokoh. Ketika mengintip di sela-sela pintu, altar dan kursi-kursi ibadat masih terawat. Dugaan saya, gereja ini masih dipakai untuk misa dan kebaktian masyarakat yang tinggal di daerah ini.</p>
<p>Di samping gereja, terdapat patung Bunda Maria berukuran besar tengah berdiri di atas kapal. Tak jauh dari gereja ini juga terdapat wihara dan beberapa patung-patung Budha. Rupanya agama Budha dan Katholik banyak dipeluk oleh para pengungsi.</p>
<p>Menurut Pak Parjo, driver kami, lokasi ini dulu pernah dipakai untuk syuting acara menguji keberanian dan nyali menghadapi gangguan alam ghaib. Pantas saja sejak tadi saya merasa hawa-hawa ndak menyenangkan di lokasi ini.</p>
<p>Selama perjalanan keluar dari kompleks eks kamp pengungsi Vietnam untuk kembali ke Batam, kami melewati beberapa obyek lain, namun ndak turun. Obyek-obyek tersebut adalah barak dan kantor Brimob Polri untuk menjaga keamanan kamp pengungsi. Barak ini juga dilengkapi dengan penjara untuk menahan para kriminal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/barak-penjara.jpg" alt="Eks barak Brimob Polri dan penjara" title="Eks barak Brimob Polri dan penjara" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1487" /></p>
<p>Selain barak, kami melewati sebuah monumen Patung Kemanusiaan. Patung berbentuk setengah badan perempuan ini diberi nama Tinhn Han Loai, sesuai dengan nama perempuan tersebut. Menurut cerita, Tinhn Han Loai yang canik jelita diperkosa oleh sesama pengungsi. Akibat menanggung malu, ia memutuskan bunuh diri. Untuk mengenang peristiwa tragis ini lah, maka patung ini dibuat oleh para pengungsi.</p>
<p>Dari Pulau Galang, kami kembali ke hotel yang berada di Nagoya, Batam. Senja sudah hampir tiba, maka untuk menikmatinya, kami mampir di sebuah cafe di daerah Bukit Cinta. Di sini sering dijadikan tempat nongkrong pasangan remaja yang dimabuk kasih sembari melihat gemerlap daerah Nagoya dan Jodoh, dari atas bukit. Makanya daerah ini disebut dengan Bukit Cinta.</p>
<p>Sembari menikmati Teh Obeng, sebutan es teh manis di Batam, kami menikmati senja sembari melepas lelah akibat berkeliling seharian. Di kejauhan, nampak gemerlip gedung-gedung pencakar langit di Singapura sana. Hampir tiap lima menit, terlihat kelip-kelip lampu pesawat berputar-putar di angkasa menunggu giliran mendarat di salah satu bandara hub terbesar di Asia Tenggara, Changi Airport.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/view-bukit-cinta.jpg" alt="Senja di Bukit Cinta" title="Senja di Bukit Cinta" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1488" /></p>
<p>Kami pun memutuskan untuk menyeberang ke Singapura esok hari, setelah bernegosiasi dengan tour leader kami, Mas Dhani, karena obyek tujuan kami di Batam saya rasa kurang menarik, mengunjungi kawasan industri di Muka Kuning dan Kabil.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-batam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Sebesi-Anak Krakatau</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sebesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1452</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992 bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana! Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/puncak-krakatau.jpg" alt="Di puncak Anak Krakatau" title="Di puncak Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1453" /></p>
<p>Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di <a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/Koleksi/Uang/Uang+Kertas/detail.htm?id=192" title="Uang Kertas Bank Indonesia Emisi 1992" target="_blank">uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992</a> bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana!</p>
<p>Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau Sebesi, Lampung, saya pun ikut bergabung. Ini pertama kalinya saya ikut trip bersama rombongan besar, apalagi saya bukan anggota komunitas tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-1452"></span>Awalnya kami hendak mendaftarkan diri di acara gathering tersebut, namun karena pendaftaran sudah ditutup lebih cepat dari rencana, maka kami pun urung bergabung dengan trip tersebut. Tak kehilangan akal, kami bertujuh pun tetep nekad untuk berangkat bareng mereka untuk menghemat biaya kapal dan mengetahui rute (karena selama ini saya buta rute dan gak pake rencana).</p>
<p>Kesimpulan asal saya, mengorganisasi manusia sebanyak 100-an orang itu ribet sangat. Acara dan jadwal molor karena banyaknya manusia yang telat datang ke titik kumpul Pelabuhan Merak, Banten. Saya yang sudah datang jauh-jauh lebih awal jelas sewot. Itulah sebabnya saya lebih suka jalan sendiri atau maksimal dalam kelompok kecil (kurang dari 10 orang).</p>
<p>Menuju Pelabuhan Merak banyak bus yang bisa digunakan. Bus dari Kalideres, Pulogadung, dan Kampung Rambutan selalu ada hampir 24 jam. Ongkosnya sekitar 17 ribu untuk bus AC, dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam kalo tidak macet.</p>
<p>Selain dengan bus, bisa naik kereta api dari Stasiun Jakarta Kota hingga Stasiun Merak dengan kereta Merak Jaya, namun jadwal hanya ada 2 kali pagi dan sore.</p>
<p>Dari Terminal Merak, kami cukup berjalan kaki saja menuju Pelabuhan Merak. Pelabuhan dan terminal ini konon masih dalam taraf pembangunan hingga nantinya bisa menjadi terminal terpadu (pelabuhan, terminal, dan stasiun menjadi satu kawasan dan terhubung satu sama lain). Saat ini yang sudah terpadu baru pelabuhan dan stasiun.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/etiket-merak.jpg" alt="E-ticket Pelabuhan Merak" title="E-ticket Pelabuhan Merak" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1454" /></p>
<p>Tiket naik kapal feri 10 ribu rupiah dengan bentuk kartu magnetik. Bila pernah berkunjung dan masuk ke gedung SCBD/BEI Jakarta, masuk ke Pelabuhan Merak (dan juga di Bakauheni) mirip dengan sistem masuk di gedung SCBD.</p>
<p>Tiket ditempelkan ke mesin, kemudian pintu akan terbuka. Tiket ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pintu-masuk.jpg" alt="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" title="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1455" /></p>
<p>Perjalanan dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni memakan waktu sekitar 2 jam. Selama di kapal, kami lebih banyak tidur di atas bangku-bangku kosong. Apalagi malam membuat kami hampir tidak bisa melihat apa pun kecuali gemerlap lampu-lampu dari kawasan industri Cilegon.</p>
<p>Kami sampai di Bakauheni pas Subuh. Begitu keluar dari Pelabuhan Bakauheni, kami langsung diserbu para calo-calo dari Terminal Bakauheni. &#8220;Karang.. Karang.. Metro.. Metro.. Raja Basa.. Raja Basa..,&#8221; teriak calo tersebut yang kadang ngeselin karena mereka gak segan menarik-narik lengan dan barang bawaan calon penumpang.</p>
<p>Kami segera menyingkir dari kepungan para calo untuk nongkrong dulu di ibu penjual kopi yang ngemper di peron terminal. Selain membeli kopi, kami pun berunding untuk menentukan sarana transportasi berikutnya.</p>
<p>Tujuan kami adalah Dermaga Canti di Kalianda. Untuk menuju ke sini sebenernya bisa ditempuh dengan 2 kali naik angkot. Dari Bakauheni, naik angkot berwarna kuning turun di Pasar Kalianda. Ongkosnya 15 ribu rupiah. Dari Pasar Kalianda kemudian berganti angkot warna biru hingga ke Dermaga Canti dengan ongkos 5 ribu rupiah.</p>
<p>Karena rombongan IBP yang kami barengi pada nyewa angkot, kami pun memutuskan untuk ikut menyewa juga. Tawar-menawar harga terjadi. Kami bertujuh, jika dihitung per orang 20 ribu, ongkosnya akan jadi 140 ribu. Akhirnya kesepakatan harga terjadi, kami akan diantar hingga Dermaga Canti dengan ongkos carter 125 ribu.</p>
<p>Sepanjang jalan dari Bakauheni ke Canti, kami mencium bau durian. Sial! Bau ini membuat kami jadi pengen makan duren!!</p>
<p>Kami tiba di Canti lebih awal dari rombongan IBP. Begitu turun, lagi-lagi kami disambut oleh tawaran carter kapal ke Sebesi. Padahal menurut informasi, kapal dari Sebesi-Canti-Sebesi datang rutin setiap pukul 9 pagi. Ongkosnya pun cuma 15 ribu rupiah per orang. Bila mencarter kami ditarik ongkos 400 ribu rupiah!</p>
<p>Karena rombongan IBP sudah mencarter kapal dari Canti ke Sebesi, maka kami memilih untuk ikut rombongan IBP saja. Kami tetep membayar 15 ribu rupiah per orang ke panitia IBP.</p>
<p>Bentuk perahu motor yang melayani rute Canti-Sebesi sebelas-duabelas dengan kapal yang melayani rute Muara Angke-Pulau Pramuka, cuma ukuran kapal Sebesi ini lebih kecil dan lajunya lebih lambat. Jarak Pulau Sebesi-Canti yang cuma 13 Km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/peta-pulau.jpg" alt="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." title="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1456" /></p>
<p>Selama perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Ada 3 buah karang yang membentuk semacam pulau di sebelah selatan Dermaga Canti yang oleh penduduk setempat disebut dengan Pulau Tiga.</p>
<p>Kami bahkan menyusuri selat Sebuku yang memisahkan Pulau Sebuku dan Pulau Sebuku Kecil. Dari jauh terlihat Gunung Sebesi menjulang tinggi dengan awan menutupi puncaknya membawa kesan mistis. Dari jauh, samar-samar terlihat siluet Anak Gunung Krakatau.</p>
<p>Karena tak ingin melewatkan pemandangan ini, sebagian penumpang kapal langsung pindah untuk duduk di atap kapal. Kamera keluar semua dan akhirnya potret-memotret tak terelakkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/di-atap-kapal.jpg" alt="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" title="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1457" /></p>
<p>Perjalanan akhirnya berakhir di dermaga Sebesi. Dermaga ini merupakan akses utama untuk menuju dan keluar dari Pulau Sebesi.</p>
<p>Pulau Sebesi sebenernya berdiri di lereng Gunung Sebesi yang berketinggian 884 meter dpl. Secara administratif, Pulau Sebesi berada dalam wilayah Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Raja Basa, Kabupaten Lampung Selatan. </p>
<p>Luas pulaunya 2.620 ha dengan panjang pantai 19,55 km. Bila dilihat dari peta, pulau ini berbentuk hampir bundar. Bersama Pulau Sebuku, Sanghyang, Lagundi, dan Anak Krakatau, 5 pulau ini masuk dalam wilayah Kepulauan Krakatau yang terletak di Teluk Lampung, Selat Sunda.</p>
<p>Di Pulau Sebesi terdapat 4 dusun, yaitu Dusun Bangunan, Dusun Inpres, Dusun Regahan Lada, dan Dusun Segenom. Mata pencaharian penduduk Sebesi selain nelayan adalah bertani kelapa, pisang, dan coklat, yang hasil pertanian ini dijual ke Kalianda.</p>
<p>Kami tiba di salah satu dari 3 dermaga di Pulau Sebesi yang terletak di Dusun Bangunan. Fasilitas penginapan tidak ada, kecuali bila menginap secara homestay di rumah-rumah warga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/dermaga-sebesi.jpg" alt="Dermaga Pulau Sebesi" title="Dermaga Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1458" /></p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun (081369923312 &#8211; 08287013757), salah satu pengelola wisata di Pulau Sebesi, kami menginap di salah satu rumah warga dengan biaya 200 ribu per malam.</p>
<p>Kami menginap di salah satu ruangan di rumah warga di Dusun Bangunan. Ini memungkinkan kami bisa berinteraksi langsung dengan si pemilik rumah dan warga sekitar.</p>
<p>Sinyal operator seluler sangat sulit didapat. Ditambah listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam yang dipasok dari PLN dengan menggunakan 2 buah generator diesel. Bahkan saat kami berada di sana, listrik sedang padam karena salah satu dari generator rusak (walau begitu, warga tetap diwajibkan membayar listrik sebesar 25 ribu per bulan).</p>
<p>Karena cuaca cerah, kami sepakat untuk mengunjungi Anak Krakatau, karena anak-anak IBP mengadakan acara sendiri. Awalnya memang tidak terpikir untuk ke Anak Krakatau karena saat berangkat, cuaca sedang mendung.</p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun, kami menyewa kapal untuk menuju ke Anak Krakatau dengan biaya 1,2 juta rupiah pulang-pergi plus biaya perijinan dan pemandu dari ranger Taman Nasional sebesar 200 ribu rupiah, sehingga totalnya 1,4 juta rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/anak-krakatau.jpg" alt="Menuju ke Anak Krakatau" title="Menuju ke Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1459" /></p>
<p>Perjalanan dari Sebesi ke Anak Krakatau memakan waktu sekitar 2 jam. Makin mendekati Anak Krakatau, gelombang laut pun makin tinggi dan ganas. Kami yang awalnya duduk-duduk di atap kemudian beringsut turun dan masuk ke dalam karena goyangan kapal makin kencang sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.</p>
<p>Begitu kapal merapat ke bibir pantai Anak Krakatau, saya langsung menginjak-injakkan kaki di atas pasir hitam karena kegirangan. Maaakk!! Anakmu ini menginjakkan kaki di Anak Krakatau!!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/cagar-alam-krakatau.jpg" alt="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" title="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1460" /></p>
<p>Ketika kami tiba, kami melihat beberapa tenda tengan berdiri di depan gerbang Taman Nasional Krakatau. Selama aktivitas vulkanik Krakatau dinyatakan aman, kita diperbolehkan mendaki ke puncak, berkemah, bahkan melakukan snorkeling dan diving di sekitar Anak Krakatau.</p>
<p>Bersama pemandu, kami melakukan trekking dan mendaki hingga ke puncak Krakatau. Awalnya kami harus menembus gelapnya &#8220;hutan tropis&#8221; mini sebelum pada patok nomor 4 pada ketinggian sekitar 400 meter dpl, kondisinya sudah berubah menjadi jalur pasir bekas longsoran lahar dan beberapa pohon pinus.</p>
<p>Hingga patok nomor 5 pada ketinggian 500 meter dpl, vegetasinya sudah berubah menjadi rerumputan. Lepas dari patok nomor 6-7 pada ketinggian 600-700 meter, vegetasi sudah hampir tak ada dan hanya pasir dan batuan vulkanik. Mulai dari patok nomor 5 inilah sudut pendakian berubah curam.</p>
<p>Kami mendaki hanya sampai bibir kawah bekas letusan tahun 1992 pada patok nomor 12 atau pada ketinggian 120 meter dpl. Kami tidak bisa mencapai ke atas lagi karena puncak Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan gas belerang. Total ketinggian puncak Anak Krakatau saat kami berkunjung adalah 334 meter dpl.</p>
<p>Ketinggian dan luas pulau Anak Krakatau yang muncul pada periode 1927-1929 ini akan terus berubah seiring dengan aktivitas vulkaniknya. Bahkan dari tengah kawah yang terbentuk ketika ledakan tahun 1992 kini telah menjulang puncak baru.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/gunung-rakata.jpg" alt="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" title="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1462" /></p>
<p>Berawal dari sebuah gunung bernama Krakatau Besar berbentuk kerucut yang kemudian meletus besar hingga terbentuklah Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung.</p>
<p>Aktivitas di kaldera Krakatau di bawah laut yang terus bergejolak akhirnya memunculkan 3 gunung baru di atas Pulau Rakata, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.</p>
<p>Pada tanggal 27 Agustus 1883, terjadi letusan besar yang akhirnya menenggelamkan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan dan hanya menyisakan Gunung Rakata. Kaldera yang terbentuk dari ledakan ini memiliki diameter hingga 7 Km.</p>
<p>Aktivitas vulkanik di dasar laut Krakatau terus bergejolak hingga pada periode 1927-1929 terbentuklah pulau baru yang kini dinamakan Anak Krakatau.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/proses-anak-krakatau.jpg" alt="Proses terbentuknya Anak Krakatau" title="Proses terbentuknya Anak Krakatau" width="350" height="789" class="alignnone size-full wp-image-1461" /></p>
<p>Setelah puas menjelajah puncak Krakatau, kami kembali turun sebelum semakin sore. Melihat pantai dengan air jernih, badan rasanya gatal kalo tidak nyemplung. Kami pun kalap dan berkecipak-kecipak nyemplung ke laut!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-krakatau.jpg" alt="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" title="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1463" /></p>
<p>Anak buah kapal berteriak-teriak ke arah kami untuk segera naik ke kapal dan segera kembali ke Sebesi. Selain takut kesorean, ternyata kami disuguhkan pemandangan dahsyat di atas laut ketika pulang.</p>
<p>Di barat, mentari lambat-lambat mulai tenggelam. Anak Krakatau yang gagah nampak tertidur di samping Pulau Sertung yang sekilas berbentuk mirip paus membentuk siluet dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/krakatau-sertung.jpg" alt="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" title="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1464" /></p>
<p>Mendekati Pulau Sebesi, langit sudah gelap. Di kejauhan, di bagian daratan Lampung, kami melihat petir berkilat-kilat teredam mendung pekat. Sepertinya hujan deras tengah mengguyur Lampung. Kami pun bisa dengan jelas melihat rasi bintang scorpio di langit utara, suatu hal yang sangat langka kami temukan di Jakarta. Suara bising mesin kapal tak lagi kami hiraukan.</p>
<p>Kapal yang kami tumpangi tidak memiliki penerangan sama sekali. Kami hanya mengandalkan satu-satunya senter yang dibawa oleh seorang rekan. Begitu kami tiba di dermaga, suasana pun gelap gulita.</p>
<p>Kami berjalan kembali ke penginapan yang untungnya ada genset pribadi di rumah tersebut, sehingga rumah tempat kami menginap lebih terang daripada rumah lain yang menggunakan penerangan lampu minyak (lampu teplok).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pagi-sebesi.jpg" alt="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" title="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1466" /></p>
<p>Keesokan paginya, kami menghabiskan waktu bermain-main dan menyusuri pantai di Pulau Sebesi. Setelah berburu sunrise di dermaga dan makan nasi udduk di warung sebelah penginapan, kami menyurusi pantai hingga mencapai kawasan hutan bakau di sebelah timur laut kemudian berganti arah menuju barat laut untuk menemukan pantai yang teduh untuk mandi-mandi.</p>
<p>Kami pun akhirnya mandi-mandi di pantai dengan pemandangan langsung ke Pulau Umang (masyarakat menyebutnya juga Pulau Umang Umang).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-sebesi.jpg" alt="Bermain di pantai Pulau Sebesi" title="Bermain di pantai Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1465" /></p>
<p>Setelah membersihkan diri dan berkemas, kami meninggalkan Pulau Sebesi sekitar pukul 12 bareng dengan rombongan IBP.</p>
<p>Selama perjalanan, kami mengalami 2 kali senja di atas laut. Pertama ketika kami kembali dari Anak Krakatau dan yang kedua ketika kami berada di atas feri KM Raja Basa I yang membawa kami dari Bakauheni ke Merak. Lagi-lagi kami mendapat pemandangan senja yang menakjubkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/senja-kapal.jpg" alt="Menikmati senja di atas kapal feri" title="Menikmati senja di atas kapal feri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1467" /></p>
<p>Postingan terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.mrbambang.web.id/2010/02/journey-to-sebesi-island-and-child-of-krakatoa.blog/comment-page-1/#comment-2491" title="Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa" target="_blank">Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa</a> di blog Bambang</li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/zamroni/sets/72157623384262786/" title="Muhammad Zamroni's buddy icon<br />
Sebesi &#038; Anak Krakatau" target="_blank">Galeri foto di Flickr</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Ciwidey</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 16:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[ciwidey]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1434</guid>
		<description><![CDATA[Bandung selatan memiliki potensi wisata yang menarik. Selain Pangalengan, Ciwidey bisa menjadi pilihan berlibur yang cukup dekat dari Jakarta atau Bandung. Ciwidey yang sebenernya merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur ini merupakan daerah perkebunan dan pertanian yang memiliki banyak obyek wisata. Salah duanya yang terkenal adalah Kawah Putih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/12/ciwidey.jpg" alt="Di Kawah Putih Ciwidey" title="Di Kawah Putih Ciwidey" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1435" /></p>
<p>Bandung selatan memiliki potensi wisata yang menarik. Selain <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pangalengan.html" title="Jeng-Jeng Pangalengan">Pangalengan</a>, Ciwidey bisa menjadi pilihan berlibur yang cukup dekat dari Jakarta atau Bandung.</p>
<p>Ciwidey yang sebenernya merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur ini merupakan daerah perkebunan dan pertanian yang memiliki banyak obyek wisata. Salah duanya yang terkenal adalah Kawah Putih dan Situ Patengan.</p>
<p><span id="more-1434"></span>Bersama 3 orang rekan lain, saya berkunjung ke Ciwidey, seperti biasa, tanpa rencana. Dari cetusan semalam, saya kemudian berkemas secukupnya, dan berangkat esok paginya dengan cara <em>ngeteng</em> (menggunakan kendaraan umum).</p>
<p>Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, menuju Ciwidey menjadi lebih mudah. Tinggal keluar dari tol Kopo kemudian ikuti jalur ke arah Soreang-Ciwidey.</p>
<p>Dari Jakarta, kami menggunakan bus Primajasa dari Terminal Lebakbulus. Ongkosnya 50 ribu rupiah dengan tujuan akhir Terminal Leuwi Panjang, Bandung.</p>
<p>Dari Leuwi Panjang, kami berganti angkutan dengan menumpang bus Putera Setia jurusan Leuwi Panjang-Ciwidey. Ongkosnya sangat murah, 6 ribu rupiah dengan waktu tempuh 2-3 jam (tergantung kemacetan di jalan raya Kopo).</p>
<p>Selain menggunakan bus Putera Setia, Ciwidey juga bisa ditempuh dengan menggunakan Elf jurusan Leuwi Panjang-Ciwidey atau 2 kali naik angkot (Leuwi Panjang-Soreang, dilanjut Soreang-Ciwidey).</p>
<p>Sesampai di Terminal Cibeureum, Ciwidey, kami menggunakan ojek untuk naik ke atas sembari mencari penginapan. Ongkos ojek ini sekitar 15 ribu, makin pandai menawar, makin murah ongkosnya.</p>
<p>Karena ketidaktahuan plus begitu turun dari bus kami diserbu oleh tukang ojek yang menawarkan jasanya, makanya kami menggunakan ojek. Padahal sebenernya bisa juga menggunakan angkot berwarna kuning jurusan Cibeureum-Situ Patengan dengan ongkos sekitar 3-7 ribu (tergantung jarak).</p>
<p>Oleh tukang ojek, kami direkomendasikan menginap di bungalow dan restoran Kampoeng Strawberry (Jl. Rancabali KM 7, Alam Indah, Ciwidey, Telp. 022-8592 0550). Pertimbangan tukang ojek, penginapan ini jaraknya lebih dekat ke obyek-obyek wisata.</p>
<p>Penginapan lain di sekitar sini adalah  penginapan Patuha Resort dan bumi perkemahan Ranca Upas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/12/kampoeng-strawberry.jpg" alt="Bungalow dan Restoran Kampoeng Strawberry" title="Bungalow dan Restoran Kampoeng Strawberry" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1436" /></p>
<p>Bungalow yang kami sewa merupakan bungalow yang standar. Rate-nya 400 ribu plus ekstra bed dan pajak, totalnya 490 ribu. Biaya ini kami bagi berempat, sehingga per orang membayar Rp 122.500. Bungalow standar ini memiliki air panas.</p>
<p>Jika menyukai yang lebih alami, bisa menginap di bumi perkemahan Ranca Upas atau di wisma PTPN VIII. Daerah di dekat obyek wisata (seputaran daerah Alam Indah) sangat minim penginapan. Penginapan yang agak murah dengan rate 100-200 ribu ada di bawah (seputaran Cibereum-Ciwidey), dengan konsekuensi jarak tempuh yang jauh ke obyek-obyek wisata.</p>
<p>Sepanjang jalan dari terminal hingga Situ Patengan kita dapat menemukan berbagai tempat yang menawarkan wisata memetik sendiri buah strawberry dari kebun. Strawberry yang telah dipetik kemudian ditimbang untuk kemudian dibeli. Kita bisa juga langsung memakan strawberry di kebun.</p>
<p>Setelah cek-in dan meletakkan barang, kami langsung menuju ke Situ Patengan, obyek wisata yang paling jauh. Apalagi kami datang sudah terlalu sore karena terjebak macet.</p>
<p>Ada yang menyebut nama obyek wisata ini dengan &#8220;Patengang&#8221; atau &#8220;Patenggang&#8221;, menurut saya ini cuma faktor &#8220;kesleo&#8221; lidah dalam pengucapan saja. Meski begitu, cukup banyak penduduk lokal mengucapkan &#8220;Patenggang&#8221; yang berarti &#8220;berjarak&#8221; (dari kata &#8220;tenggang&#8221;).</p>
<p>Bila diurutkan, obyek-obyek wisata di daerah ini berada dalam sau garis jalan, yaitu Kawah Putih, pemandian air panas Cimanggu, bumi perkemahan Ranca Upas, kebun teh dan pemandian air panas Ranca Ciwalini, kebun teh PTPN VIII Ranca Bali, dan berakhir di Situ Patengan.</p>
<p>Dari penginapan, kami naik angkot hingga ke Situ Patengan. Ongkosnya 5 ribu rupiah, plus 5 ribu untuk retribusi, semua dibayar oleh sopir angkot. Saya curiga duit retribusi kami dimakan sendiri oleh si sopir angkot, apalagi kami tidak mendapat tiket resmi.</p>
<p>Sopir angkot ini pula yang membuat perjalanan kami jadi kurang menyenangkan. Kalo misal ada banyak sopir angkot macam begini di satu obyek wisata, bisa dipastikan obyek wisata itu akan hancur, karena wisatawan jadi enggan datang. Selengkapnya saya ceritakan nanti.</p>
<p>Situ Patengan adalah sebuah danau seluas 48 hektar yang terbentuk dari sisa-sisa aktivitas vulkanik. Terletak pada ketinggian sekitar 1.600 meter dpl, membuat taman wisata ini sejuk. Apalagi di sekitar danau ditumbuhi tanaman pinus dan kayu putih.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/situ-patengan.jpg" alt="Situ Patengan di kala senja" title="Situ Patengan di kala senja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1437" /></p>
<p>Ada sebuah legenda tentang kemunculan Situ Patengan ini. Konon dulu ada sejoli yang bernama Raden Indrajaya,  (berjuluk Ki Santang), keponakan Prabu Siliwangi, dengan Dewi Rengganis yang karena peperangan, mereka berdua harus terpisah. Menangislah mereka hingga air matanya tergenang menjadi danau ini.</p>
<p>Karena kekuatan cinta mereka, kedua sejoli ini bertekad untuk bertemu sehingga mereka saling mencari, yang dalam bahasa Sunda &#8220;pateangan-teangan&#8221;. Nah, dari kata inilah nama Patengan berasal.</p>
<p>Mereka pun akhirnya bertemu kembali di tempat ini. Tempat bertemunya kedua sejoli ini dinamakan Batu Cinta. Wujud dari batu ini dikabarkan mirip dengan sosok manusia, namun batu ini sangat jarang terlihat karena berada di dalam danau, kecuali ketika air danau surut.</p>
<p>Dewi Rengganis pun meminta kepada Ki Santang untuk dibuatkan perahu untuk digunakan berkeliling danau. Konon pulau yang terletak di tengah danau ini dulunya adalah perahu Ki Santang yang digunakan untuk berkeliling. Ndak heran banyak persewaan perahu yang memang digunakan untuk berkeliling di danau sedalam 3 hingga 4 meter ini.</p>
<p>Pulau di tengah danau tersebut bernama Pulau Sasaka dan lebih dikenal dengan nama Pulau Asmara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/perahu-patengan.jpg" alt="Perahu sewaan di Situ Patengan" title="Perahu sewaan di Situ Patengan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1438" /></p>
<p>Sewa perahu lumayan mahal, sekitar 50-80 ribu. Atau jika menunggu penuh, dikenai tarif 15 ribu per orang. Namun yang menyebalkan, rata-rata para pemilik perahu memaksa pengunjung untuk menyewa.</p>
<p>Menurut mitos, barang siapa yang mengelilingi Pulau Asmara dan singgah di lokasi seputaran Batu Cinta, maka kisah cinta kedua sejoli ini akan abadi seperti pada kisah cinta Ki Santang dan Dewi Rengganis.</p>
<p>Situ Patengan dulunya bersatatus cagar alam dan taman nasional, namun sejak 1981, Situ Patengan dijadikan sebagai taman wisata.</p>
<p>Di sekeliling danau terdapat beberapa penginapan, toko-toko suvenir, dan warung makan yang nampak berjajar. </p>
<p>Kendaraan umum yang melayani rute ini paling terakhir beroperasi jam 6 sore. Dan inilah awal dari kekesalan kami kepada sopir angkot yang kami tumpangi sebelumnya.</p>
<p>Ketika kami tiba, si bapak menawarkan jasa untuk menunggui dan mengantarkan kami pulang. Tawar-menawar harga pun terjadi, dan disepakati harga sebesar 40 rupiah. Kami menganggap angkot sudah kami carter.</p>
<p>Menyebalkannya, ketika mengantar kami, angkot ini ternyata juga mengangkut penumpang sepanjang jalan! Kurang asem! Merasa tertipu, kami memutuskan untuk membayar ongkos layaknya kami naik angkot dengan tarif biasa.</p>
<p>Ketika kami sampai di penginapan dan membayar ongkos sebesar 20 ribu (untuk 4 orang), si sopir angkot tidak terima. Dia memaksa kami untuk membayar harga 40 ribu. Kok nyimut!!</p>
<p>Bahkan ketika kamu cuekin tu angkot, si sopir mengejar kami dan keributan terjadi. Kami berkeras bahwa itu sopir angkot menyalahi kesepakatan, wong sudah dicarter kok masih mengangkut penumpang. Sopir angkot ngehe itu berkilah, &#8220;kalo emang nggak mau ngangkut penumpang lain, bilang, dong&#8221;. Ini sopir angkot emang ngeselin.</p>
<p>Akhirnya satpam penginapan datang menengahi kami. Kami menjelaskan duduk persoalan, dan debat masih terjadi. Kami tetep tidak mau membayar ongkos sesuai kesepakatan karena si sopir angkot sejak awal sudah tidak jujur.</p>
<p>Karena capek dan malas berdebat lagi, kami mengancam bahwa kami bisa menulis di media (salah seorang di antara kami memang wartawan sebuah koran nasional) dan membuat lokasi wisata ini sepi, karena ulah penduduknya sendiri. Satpam yang tentunya membela tamu penginapan akhirnya memutuskan kami yang menang. Ya memang seharusnya begitu.</p>
<p>Sumpah asli Ciwidey dingin sekali. Setelah masuk penginapan yang nyaman, kami enggan keluar. Bahkan untuk sekedar mencari makan. Untungnya lokasi penginapan kami terdapat restoran, sehingga kami tidak harus bersusah-susah mencari warung, tinggal ngesot ke depan.</p>
<p>Walau kami kehabisan menu, karena kami datang ke restoran cukup malam, sekitar jam 9, kami cukup beruntung. Suasana yang sunyi tentu menyulitkan menemukan tempat makan lainnya. Mana ada penjual pecel lele kaki lima di tempat ini?</p>
<p>Pagi-pagi kami segera nyegat angkot di depan penginapan. Ndak berbeda dengan angkot semalam, sopir angkot kami yang masih remaja menawarkan jasa menyewakan angkotnya, karena dari gerbang untuk sampai ke kawah masih cukup jauh. Tentu kami menolak dan meminta untuk turun di depan gerbang obyek wisata Kawah Putih.</p>
<p>Setiba di depan gerbang kami dipungut biaya resmi retribusi sebesar 12 ribu per orang. Awalnya kami hendak naik ontang-anting, kendaraan khas obyek wisata ini berupa mobil pickup yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga mampu memuat 12 orang, urung karena lagi-lagi kami agak sedikit dipaksa untuk menyewa. Biaya sewa 100 ribu per orang. Cih!</p>
<p>Kalo dihitung-hitung oleh kami berempat, per orang membayar 25 ribu. Padahal seharusnya ontang-anting itu beroperasi layaknya angkot, mengantar penumpang dari gerbang ke kawah dengan biaya yang cukup murah. Tapi lagi-lagi sopir angkot nggak mau rugi. Mungkin karena sepi pengunjung yang menggunakan jasa mereka, karena rata-rata wisatawan di sini menggunakan kendaraan pribadi.</p>
<p>Kami pun memutuskan naik ojek saja. Tukang ojek awalnya memasang harga 25 ribu untuk diantar PP, dan kami menawar 20 ribu. Sebenernya bila kami lebih gigih lagi, kami bisa dapat harga 15 ribu. Tapi ya sudah lah, kami  udah malas berurusan dengan mobil, takutnya kejadian &#8220;angkot&#8221; semalam kembali terulang.</p>
<p>Sekitar 10 menit kami diantar menuju kawah. Walau medannya gak seganas ketika mencapai <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html" title="Jeng-Jeng Garut">Kawah Papandayan, Garut</a>, namun jalan yang kami lalui cukup mendebarkan.</p>
<p>Di sekitar kawah, banyak terdapat rambu peringatan untuk tidak berlama-lama di seputar kawah. Kandungan belerangnya yang sangat kuat memang bisa mengganggu kesehatan bila berlama-lama menghirup gasnya. Belum lagi bau belerang yang busuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/kawah-putih.jpg" alt="Kawah Putih" title="Kawah Putih" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1439" /></p>
<p>Kawah Putih merupakan salah satu dari dua kawah yang ada di Gunung Patuha. Kawah yang satunya adalah Kawah Saat (kata &#8220;saat&#8221; berarti &#8220;surut&#8221; dalam bahasa Sunda). Kedua kawah ini diperkirakan terbentuk pada abad ke-10 atau 12.</p>
<p>Kawah Putih terletak pada ketinggian 2.343 meter dpl sedangkan Kawah Saat terletak pada ketinggian 2.194 meter dpl.</p>
<p>Berawal pada tahun 1837, seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, menemukan kawah ini ketika melakukan ekspedisi.</p>
<p>Karena kandungan belerangnya yang sangat tinggi, bahkan burung pun tak ada yang melintas di atas kawah ini, zaman pemerintahan Belanda, sempat dibangun pabrik belerang dengan nama <em>Zwavel Ontgining Kawah Putih</em> di kawasan ini. Pada masa pendudukan Jepang, pabrik ini kemudian diberi nama <em>Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey</em>.</p>
<p>Pada tahun 1987 PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan kawasan Kawah Putih ini menjadi kawasan obyek wisata.</p>
<p>Keunikan Kawah Putih terletak pada warna air di danau kawahnya. Warna air danau ini dapat berubah warna, kadangkala berwarna hijau apel kebiru-biruan bila siang hari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu, namun paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut asap tebal di atas permukaan kawah. Oleh karena itu kawah tersebut dinamakan Kawah Putih.</p>
<p>Di salah satu sisi tebing, terdapat goa kecil yang &#8220;disegel&#8221; dengan kayu bertuliskan &#8220;jangan mendekat&#8221;. Begitu lewat di depan goa ini, bau belerang yang menyengat begitu kuat dapat tercium hebat. Konon ini sisa-sisa pabrik belerang yang ada di sini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/goa-belerang.jpg" alt="Goa belerang Kawah Putih" title="Goa belerang Kawah Putih" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1440" /></p>
<p>Cerita legenda pun rupanya juga menyelimuti kawasan ini. Konon di sekitar kawah ini terdapat beberapa makam keramat, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong.</p>
<p>Salah satu puncak Gunung Patuha yaitu Puncak Kapuk, konon merupakan tempat pertemuan para penunggu yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon, di tempat ini terkadang secara ghaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat sekitar disebut <em>domba lukutan</em>.</p>
<p>Saya menemukan sebuah jalan setapak yang sepi menyusuri salah satu bibir danau. Dugaan saya, jalan setapak ini menuju ke makam yang dikeramatkan ini.</p>
<p>Kami pun tak mau berlama-lama. Selain hari makin siang, orang mulai ramai berdatangan, juga perut udah mual dan mata mulai pedih akibat terlalu lama menghirup bau belerang, kami pun meninggalkan kawah.</p>
<p>Fasilitas di kawasan ini bisa dibilang cukup bagus. Toilet bersih, mushola lumayan, plus banyak penjaja makanan yang bisa menjadi andalan untuk mengganjal perut yang keroncongan.</p>
<p>Salah satu makanan yang layak dicoba adalah Sate Strawberry Coklat. terdiri dari beberapa biji strawberry gemuk yang ditusuk-tusuk kemudian dilumuri coklat beraneka warna dan rasa. Harganya 10 ribu dapat 3 tusuk sate.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/sate-strawberry.jpg" alt="Sate Strawberry" title="Sate Strawberry" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1441" /></p>
<p>Kami kembali ke penginapan dan kemudian check-out. Masalah kembali datang. Karena mengandalkan stiker bertulis VISA, BCA, dan Mandiri Debet yang tertempel di depan ruang resepsionis, kami pun nyantai ketika harus membayar biaya kamar.</p>
<p>Sial! Rupanya saluran telepon hotel bermasalah sehingga pembayaran menggunakan berbagai jenis macam kartu tidak dapat dilakukan. Padahal uang cash kami sudah habis dan hanya cukup untuk ongkos pulang. Walau sudah menguras semua kantong, duit terkumpul masih kurang 400 rebu. Terpaksa saya turun ke bawah naik angkot untuk mencari ATM.</p>
<p>Mampus. Rupanya ATM sangat susah ditemui. Akhirnya saya mampir di Alfamart di daerah deket-deket &#8220;kota&#8221; Ciwidey yang ada tulisan &#8220;TUNAI BCA&#8221;-nya. Alhamdulillah! Kami pun bisa check-out!</p>
<p>Pelajaran yang bisa dipetik: bawa uang cash yang cukup banyak bila Anda bepergian ke lokasi pelosok. Segala macam kartu sakti tidak akan berfungsi di daerah macam ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Garut</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[air panas]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Garut]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1416</guid>
		<description><![CDATA[Sejak zaman VOC, Garut sudah terkenal dengan keindahan alamnya. Pada tahun 1910, Officieel Touristen Bureau, Weltevreden (Dinas Pariwisata VOC di Weltevreden, Batavia) menyebut Garut sebagai Paradijs van het Oosten (surga dari timur). Namun sayang, potensi ini kurang tergarap dengan baik. Garut memiliki banyak potensi wisata, karena lokasinya yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi aktif seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/jengjeng-garut.jpg" alt="Jeng-jeng Garut" title="Jeng-jeng Garut" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1415" /></p>
<p>Sejak zaman VOC, Garut sudah terkenal dengan keindahan alamnya. Pada tahun 1910, <em>Officieel Touristen Bureau, Weltevreden</em> (Dinas Pariwisata VOC di Weltevreden, Batavia) menyebut Garut sebagai <em>Paradijs van het Oosten</em> (surga dari timur). Namun sayang, potensi ini kurang tergarap dengan baik.</p>
<p><span id="more-1416"></span>Garut memiliki banyak potensi wisata, karena lokasinya yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi aktif seperti Gunung Guntur, Gunung Haruman, dan Gunung Kamojang di sebelah barat, Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray di sebelah selatan/tenggara, Gunung Talagabodas dan Gunung Galunggung di sebelah timur. Di sebelah selatan, terdapat garis pantai sepanjang 80 Km.</p>
<p>Saya mendatangi kota yang terkenal akan dodol dan dombanya ini. Seperti biasa, perjalan direncanakan sehari sebelum keberangkatan. Bahkan itinerary belum sempurna dibuat karena buta sama sekali dengan obyek wisata dan sistem transportasinya. Kami nekad berangkat dan bermodal &#8220;nanti di sana tanya-tanya saja soal transportasi dan akomodasinya&#8221;.</p>
<p>Untuk menuju kota ini sangat gampang karena banyaknya transportasi bus AKAP dari Jakarta maupun Bandung. Salah satunya dari Terminal Lebak Bulus menggunakan bus Primajasa dengan tarif 35 ribu rupiah. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam dan berakhir di Terminal Guntur, Garut Kota.</p>
<p>Setelah beristirahat di sebuah masjid tak jauh dari terminal, kami bertanya ke penduduk yang kebetulan sedang akan melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Calo-calo di terminal yang menawarkan trayek angkutan memang sedikit menyebalkan, maka kami memilih untuk menyingkir dari sana dan mencari petunjuk dari &#8220;pihak ketiga&#8221;.</p>
<p>Penginapan rupanya banyak ditemukan di daerah Cipanas. Di daerah Garut kota malah kesulitan. Ketika kami menghubungi 108 (terlebih dulu memberikan kode kota 0262 sebelum nomor 108) untuk bertanya penginapan, rupanya Telkom ndak memiliki database yang lengkap. Beberapa nomor yang diberikan pihak Telkom malah gagal tersambung.</p>
<p>Kami pun akhirnya mendapat kamar di Hotel Augusta (0262-238250), sebuah hotel bintang 2 yang terletak di Jalan Raya Cipanas dengan tarif sekitar 150-450 ribu per malam (tergantung tipe kamar dan wiken atau tidak).</p>
<p>Menuju Cipanas dari terminal Guntur bisa dilalui dengan angkot bernomor 04 jurusan Terminal Guntur-Cipanas berwarna coklat muda. Atau kalo naik bis, turun sebelum masuk terminal Guntur, tepatnya di Jalan Otista (Otto Iskandar Dinata) pertigaan Cipanas (Jl. Panday) sebelum simpang Tarogong, kemudian naik angkot 04 ke arah Cipanas.</p>
<p>Setelah meletakkan tas dan beristirahat sejenak di penginapan, kami melanjutkan perjalanan menuju Situ Cangkuang. Dengan menggunakan angkot nomor 10 berwarna hijau/abu-abu jurusan Leles, kami turun di alun-alun Leles, kemudian naik sejenis dokar di mana orang setempat menyebutnya <em>Kretek</em>. Tarif naik Kretek ini per orang sekitar 5 ribu rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/dokar-kretek.jpg" alt="Dokar &quot;Kretek&quot;" title="Dokar &quot;Kretek&quot;" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1417" /></p>
<p>Pemandangan menuju situ didominasi oleh sawah. Di utara kita akan melihat siluet Gunung Haruman, di sebelah barat akan nampak Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur.</p>
<p>Kontur naik dan turun membuat kusir kami harus mengendalikan kuda sesuai dengan perintahnya. Ketika jalan menanjak, kusir akan menghentakkan tali dan kuda pun akan berlari kencang, dan sebaliknya ketika jalan menurun, laju kuda diperlambat. &#8220;Supaya kuda tidak keseleo karena berlari kencang di jalan menurun&#8221;, ucap sang kusir. Untuk memperlambat, tali kekang agak ditarik dan kusir mengeluarkan semacam bunyi yang memberi isyarat agar kuda memperlambat jalan atau berhenti.</p>
<p>Kretek sendiri cuma bisa ditumpangi oleh maksimal 4 penumpang dengan 2 tempat duduk menyamping di belakang tempat duduk kusir. Sepanjang jalan badan kami terguncang-guncang, sehingga bila tidak berpegangan, kita bisa terlempar keluar.</p>
<p>Masuk ke kawasan Situ Cangkuang, kami dipungut biaya 2 ribu rupiah per orang. Untuk menyeberang ke Pualu Ageung di tengah situ, kami naik semacam rakit sepanjang sekitar 20 meter. Tarif &#8220;resminya&#8221; sih 2 ribu rupiah per orang, tapi si pengemudi rakit mematok harga &#8220;borongan&#8221; seenaknya. Setelah negosiasi, disepakati tarifnya jadi 5 ribu per orang bolak-balik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/situ-cangkuang.jpg" alt="Rakit penyeberangan di Situ Cangkuang" title="Rakit penyeberangan di Situ Cangkuang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1418" /></p>
<p>Rakit digerakkan dengan menggunakan sebilah bambu yang ditancapkan ke dasar situ, kemudian si &#8220;nakhoda&#8221; akan berjalan di sepanjang rakit dengan bertumpu pada bambu tadi untuk mendorong rakit. Di tengah-tengah situ, terdapat banyak nelayan yang menjala dan memancing ikan.</p>
<p>Situ Cangkuang dulu mempunyai luas sekitar 25 hektar, namun karena proses sedimentasi, luasnya menyusut hingga menjadi sekitar 15 hektar saja. Di tengah situ terdapat Pulau Ageung dan Pulau Alit, yang karena sedimentasi pula, kedua pulau ini akhirnya &#8220;menyatu&#8221;.</p>
<p>Dinamakan Cangkuang karena dulu di daerah ini terdapat banyak pohon cangkuang (<em>Pandanus furcatus</em>) semacam pandan yang dimanfaatkan warga untuk anyam-anyaman. Air situ berasal dari sebuah mata air yang kemudian dibendung oleh Embah Dalem Arif Muhammad, seorang tokoh dari Mataram yang menjadi awal mula keberadaan tempat ini.</p>
<p>Di tengah Pulau Ageung, terdapat candi Hindu yang bernama Candi Cangkuang. Tak jauh dari kompleks candi, terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad dan kampung adat Kampung Pulo (pulau).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/candi-cangkuang.jpg" alt="Candi Cangkuang" title="Candi Cangkuang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1419" /></p>
<p>Candi Cangkuang yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 ini seolah-olah menjadi saksi akulturasi kebudayaan dan agama yang dialami desa ini. Konon dulu penghuni Desa Cangkuang beragama Hindu (dibuktikan dengan berdirinya candi Hindu), kemudian Arif Muhammad datang ke desa ini dan menyebarkan agama Islam. </p>
<p>Kampung Pulo yang terletak tak jauh dari candi juga memiliki keunikan tersendiri. Di kampung ini cuma terdiri atas 6 rumah adat yang dihuni oleh 6 kepala keluarga dan sebuah masjid di tengah-tengah gang. Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi, begitu juga dengan keluarga yang mendiami di rumah tersebut tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. Penduduk kampung ini dipercaya merupakan keturunan dari Embah Dalem Arif Muhammad.</p>
<p>Keunikan lain, meski penduduk Kampung Pulo memeluk agama Islam, namun beberapa ritual agama Hindu masih dilakukan. Selain itu, ada larangan bagi penduduk Kampung Pulo memelihara ternak berkaki empat seperti sapi, kambing, dan sebagainya.</p>
<p>Semua rumahnya pun memiliki pola yang unik, memanjang dari timur ke barat (jolopong). Beberapa rumah bahkan atapnya masih menggunakan atap ijuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/rumah-adat-kampung-pulo.jpg" alt="Rumah adat Kampung Pulo" title="Rumah adat Kampung Pulo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1420" /></p>
<p>Informasi soal Candi Cangkuang juga bisa dibaca di <a href="http://wijna.web.id/260-Candi-Cangkuang.html" title="Candi Cangkuang" target="_blank">blognya Wijna</a>.</p>
<p>Malamnya kami mencari makan di sekitaran Simpang Lima Garut. Informasi ini kami dapatkan dari sopir angkot yang kami tumpangi. Secara umum, Kota Garut itu sepi sekali.</p>
<p>Sejak menginjakkan kaki di Garut, saya mengamati jarang sekali terlihat pemuda berusia belasan. Dugaan saya, pemuda-pemuda berusia produktif ini kebanyakan merantau ke luar Garut seperti Jakarta atau Bandung, entah untuk sekolah atau bekerja.</p>
<p>Kami makan di Simlim, semacam foodcourt kecil-kecilan di pinggir jalan. Banyak menu yang ditawarkan, namun saya memesan Mie Kocok, karena penasaran dengan bentuknya. Selain dodol, sepertinya Garut ndak mempunyai kuliner khas yang bisa dicoba.</p>
<p>Mie Kocok sendiri sangat sederhana, terdiri dari mie kuning, kecambah mentah (yak, saya kurang suka dengan kecambah yang dicampur dengan mie), kemudian ditabur potongan kikil sapi. Kuahnya pun standar banget, kuah kaldu tanpa bumbu yang berarti.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/mie-kocok.jpg" alt="Mie Kocok Garut" title="Mie Kocok Garut" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1421" /></p>
<p>Disebut mie kocok karena mie dimasak dengan dimasukkan ke dalam semacam sendok khusus, kemudian dicelup-celupkan ke dalam air mendidih. Proses memasak mie kayak gini mengingatkan saya akan Mie Ongklok dari Wonosobo.</p>
<p>Pagi-pagi benar kami bersiap menuju ke Kawah Papandayan. Dengan menumpang angkot 04 kemudian disambung dengan Elf (minibus). Untuk menuju ke Kawah Papandayan juga bisa langsung dicapai dengan menggunakan Elf jurusan Cikajang dari Terminal Guntur.</p>
<p>Kami turun di pintu gerbang obyek wisata di daerah Cisurupan. Ongkos Elf sekitar 5 ribu rupiah. Begitu turun, kami langsung disambut dengan tawaran tukang ojek. Menuju ke kawah memang bisa ditempun dengan menggunakan ojek, ndak perlu susah-susah mendaki. He he he.</p>
<p>Setelah tawar menawar, disepakati harga 15 ribu untuk naik dan 15 ribu rupiah lagi untuk turun. Jalan menuju kawah beraspal namun sedikit rusak di sana-sini. Motor mio yang saya tumpangi mengerang-erang ketika melahap tanjakan yang cukup curam.</p>
<p>Sekitar 10 menit, kami sampai di pos untuk melapor. Di sini dikenakan biaya per orang 2 ribu rupiah plus sumbangan sukarela. Bila ingin menyewa pemandu, ongkosnya 50 ribu per jam.</p>
<p>Karena jalur lama tertutup longsoran akibat letusan pada tahun 2002 dan si pemandu menjanjikan track yang ndak biasa, kami pun sepakat menggunakan pemandu, juga untuk menggali informasi.</p>
<p>Kawah Papandayan sebenernya sebuah kaldera dengan bentangan mencapai 3 Km. Gunung ini masih aktif sehingga asap-asap yang muncul dari beberapa kawahnya merupakan tanda-tanda aktivitasnya. Pengunjung harus berhati-hati karena ada beberapa kandungan gas yang cukup berbahaya, antara lain gas belerang (yang baunya busuk banget).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/kawah-papandayan.jpg" alt="Kawah Papandayan" title="Kawah Papandayan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1422" /></p>
<p>Kami melewati rute yang berbeda seperti yang dijanjikan pemandu. Kami mendaki dulu ke atas, menuju ke bibir kaldera sehingga pemandangannya pun lebih menakjubkan. Tepat di salah satu puncak di bibir kaldera, saya melihat seismograf yang dipasang untuk memantau aktivitas kegempaan kawah ini.</p>
<p>Dari atas sini pula, saya lebih leluasa melihat Kawah Baru, yang merupakan hasil letusan pada tahun 2002. Letusan ini juga mengakibatkan longsorannya menutupi Kawah Nagrak dan akses jalan aspal yang menuju kawah ini.</p>
<p>Puas menikmati pemandangan, kami memutuskan untuk turun dan menuju ke obyek wisata Cipanas untuk berendam air panas sebelum kembali ke Jakarta.</p>
<p>Begitu turun dari ojek dan hendak menunggu Elf, kami sempat bersitegang dengan sopir angkot yang memaksa-maksa kami naik ke angkotnya. Naik angkot dari Cisurupan menuju Garut tentu akan dipatok dengan harga sangat mahal. Tukang ojek yang rese juga seolah-olah menyuruh kami untuk masuk ke angkotnya.</p>
<p>Untung sebuah Elf lewat dan kami segera naik ke dalam meski si kenek Elf sempat diintimidasi oleh si sopir angkot, untungnya tidak terjadi masalah berarti.</p>
<p>Dari Elf, kami turun di persimpangan Tarogong untuk kemudian naik angkot 04 favorit kami. Kami memilih mandi air panas di <a href="http://www.tirtagangga-hotel.com/" title="Hotel Tirtagangga" target="_blank">Hotel Tirtagangga</a> dengan tarif 25 ribu rupiah per orang karena dengan alasan kenyamanan.</p>
<p>Di Hotel Tirtagangga, terdapat 2 kolam air panas dengan suhu yang berbeda plus sebuah shower air panas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/kolam-air-panas.jpg" alt="Kolam air panas Hotel Tirtagangga" title="Kolam air panas Hotel Tirtagangga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1423" /></p>
<p>Di kawasan pemandian air panas Cipanas, memang banyak terdapat pemandian umum, namun kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa penginapan, terutama penginapan berbintang, biasanya mempunyai fasilitas kolam air panas tersendiri.</p>
<p>Air panas di kawasan ini berasal dari 4 sumber mata air panas yang merupakan hasil aktivitas dari Gunung Guntur. Air panas dari Gunung Guntur konon merupakan air panas alami terjernih, dengan kandungan belerang cukup rendah, bersuhu hingga mencapai suhu 49&deg; ini baik untuk terapi penyakit kulit atau penyakit lainnya.</p>
<p>Sejak dulu, Cipanas memang terkenal dan menjadi favorit para pejabat VOC di Batavia. Konon komedian film bisu Charlie Caplin pun pernah singgah di kawasan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

