Tunai sudah janji saya kepada njenengan, Pakde. :D Ya ya, kemarin itu saya nekat ndoyok ke Bogor, ketemu sama Pakde Mbilung. Tanpa rencana, tanpa agenda, pokoknya ya langsung datang saja. Namanya juga ndoyok. ;)) Kebetulan saya ada suatu keperluan di Jakarta.
Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya. Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu. Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa. "Halo, ini bener Zam. Saya Ina dari Majalah JalanJalan, temennya Gita Aprikot.
Dalam beberapa postingan, saya sering menyebutkan istilah "ndoyok". Pun banyak juga yang bertanya tentang arti kata "ndoyok" itu tadi. Ndoyok sering disebut bersamaan dengan jeng-jeng. Walau artinya mirip-mirip, namun ada perbedaannya. Kata "ndoyok" bukan merupakan salah satu kata gaul ala Jogja.
Sebenernya sudah lama saya mo posting ini, tapi kemarin masih kerepotan dan belum bisa berhubungan dengan dunia internet, maka baru sekarang saya sempat posting. Biar basi yang penting posting. :p Hari Jumat-Sabtu (7-8/12) lalu saya berkesempatan jeng-jeng ke Jakarta. Kesempatan ini merupakan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Jakarta. Huehehe, maklum wong ndeso.
Memenuhi janji kepada Bude Gita, hari Minggu, 23 September kemarin itu, saya sama rekan sepertololan saya akhirnya menepati janji untuk jeng-jeng ke Jepara. Janji itu sebenernya sudah lama, ketika status kami saat itu masih mahasiswa, sebagai motivasi, kalo kami lulus, kami akan jeng-jeng ke Jepara. Alhamdulillah nadzar itu akhirnya terpenuhi, apalagi kemarin itu hari terakhir Bude Gita di Jepara sebelum beliau njongos di Bandung. Perjalanan nekad dan lagi-lagi tanpa rencana itu bener-bener berkesan. Selain kami harus menempuh perjalanan yang jaraknya hampir sama dengan lebar pulau Jawa, ngenthang dari selatan ke utara, petualangan tolol itu kami lalui dalam waktu sehari semalam lebih dikit.
Gila, tolol, bodoh. Itulah kata-kata yang rasanya tepat dilontarkan kepada 3 ekor eblis laknat terkutuk yang menamakan diri mereka, The Tri Mas Kenthir. Gimana ndak kenthir, dengan berpedoman pada semboyan, "do first think later" dan "doing without thinking", tiga trio eblis ini melakukan perjalanan ke Alam Baka Candi Ratu Boko menggunakan sepeda hanya untuk mengejar sunset. Ya, ya. Setelah dihajar kopdar, saya pun kembali menikmati dunia saya, dunia keluyuran yang kali ini jelas lebih bebas dan puwas.
Tanggal 5-6 Mei lalu, temen-temen Loenpia mengundang CahAndong untuk jumpa muka dan menjalin silaturahmi serta persaudaraan. Tentu saja undangan ini tidak akan disia-siakan. Setelah mengalami beberapa kali kesepakatan, akhirnya terbentuklah tim Serang Semarang™!. yang terdiri dari 7 orang dengan menggunakan 4 buah sepeda motor dan beberapa orang akan menyusul menggunakan bus. Ketujuh anggota tim yang menggunakan sepeda motor adalah Didit sebagai korlap, Tupic, Mbak Amma, Adi, Ridho, Kailani, dan saya sendiri.
Hari Jumat, 30 Maret 2007, Jogja kembali geger genjik udan kirik. Setelah musibah jatuhnya Garuda beberapa waktu yang lalu, Jogja kini diserang oleh para tukang Loenpia!. Kali ini pasukan Loenpia datang tak tanggung-tanggung. Dengan mengendarai sebuah panser abu-abu, berjumlah 9 ribu trilyun pasukan, mereka meng-gruduk markas CahAndong. Setelah mendapat informasi dari intelejen dan mata-mata, kami mendapatkan informasi mengenai target operasi, waktu, dan estimasi kekuatan yang akan dikerahkan Loenpia.
Ah, lagi-lagi saya tidak bisa menahan hasrat jeng-jeng saya. Jeng-jeng kali ini sedikit beda, bukan keluyuran ke tempat-tempat eksotis, tetapi cuma perjalanan saya pulang kampung ke Solo. Tapi kenapa dituliskan di sini, karena saya mendapatkan nuansa nostalgia selama dalam perjalanan saya pulang ini. Kalo biasanya saya pulang ke Solo naek motor, kemarin itu saya pulang sambil mengenang masa-masa lalu saya, karena sudah lama banget saya ndak pulang menggunakan jasa kereta Prambanan Ekspres (Prameks). Apalagi semenjak peluncuran Prameks edisi KRDE pada tanggal 1 Maret setahun yang lalu, saya belom pernah mencobanya.
Baru saja saya berniat bener-bener bertaubat demi TA™, tapi dasar eblis yang terkutuk kok ya dengan tiba-tiba datang untuk menggoda iman kembali. ~X( La bayangkan saja, Bu Guru saya di dunia per-jeng-jeng-an saja bisa tergoda untuk men-jeng-jeng-i Tasikmalaya, sebagai muridnya, kok rasanya ndak etis kalo saya ndak ikutan tergoda. >:) Apalagi pada jeng-jeng kali ini ada seorang tamu spesial dari negeri matahari terbit, Jepang, seorang gadis cantik bernama Miwako Nishikawa. :x Dalam perjalanan kali ini, kita akan menjelajah Pantai Pandansari di malam hari dan Taman Sari. .