<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe!</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Adira Faces of Indonesia: Portal Kolaboratif Wisata Indonesia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/adira-faces-of-indonesia-portal-kolaboratif-wisata-indonesia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/adira-faces-of-indonesia-portal-kolaboratif-wisata-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 10:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[adira]]></category>
		<category><![CDATA[launching]]></category>
		<category><![CDATA[peluncuran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1577</guid>
		<description><![CDATA[Apa hubungannya Adira, salah satu perusahaan penyedia layanan keuangan pembelian mobil dengan wisata? Pertanyaan ini sempat bergelayut dalam benak saya ketika mendatangi undangan grand launching situs Adira Faces of Indonesia, di Annex Building, Kawasan Wisma Nusantara, Jumat, 29 Juli 2011. Begitu memasuki lokasi acara, saya disambut oleh mbak-mbak cantik berpakaian adat dari beberapa daerah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/08/adira-foi.jpg" alt="" title="di acara launching Adira Faces of Indonesia" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1578" /></p>
<p>Apa hubungannya Adira, salah satu perusahaan penyedia layanan keuangan pembelian mobil dengan wisata? Pertanyaan ini sempat bergelayut dalam benak saya ketika mendatangi undangan grand launching situs Adira Faces of Indonesia, di Annex Building, Kawasan Wisma Nusantara, Jumat, 29 Juli 2011.</p>
<p>Begitu memasuki lokasi acara, saya disambut oleh mbak-mbak cantik berpakaian adat dari beberapa daerah di Indonesia. Saya pun mendapat sampiran selendang batik lucu sebagai tanda selamat datang. Saya langsung bertemu dengan <a href="http://ceritaeka.com/" title="Cerita Eka" target="_blank">Eka Situmorang</a>, <a href="http://overthenight.wordpress.com/" target="_blank">Mbak Nunik</a>, <a href="http://defickry.wordpress.com/" title="defickry" target="_blank">Fickry</a>, <a href="http://www.titiw.com/" title="Titiw Akmar" target="_blank">Titiw</a>, <a href="http://penulisbiasa.wordpress.com/" title="Seno" target="_blank">Seno</a>, dan beberapa blogger lainnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/08/adira-with-blogger.jpg" alt="" title="bareng blogger-blogger" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1579" /></p>
<p>Kesan wah langsung terasa begitu masuk ke Upper Room. Mulai dari berbagai pernak-pernik dan konseep acara, semua begitu wah dan meriah. Acara yang dipandu oleh duo MC Kemal dan Alya Rosa ini, dibuka dengan suguhan Tari Saman dari Aceh yang rancak. Dengan diiringi oleh tetabuhan gamelan dari grup reog, CEO Adira, Pak Stanley Setia Atmadja dan Chief Marketing Officer 4 Wheelers Adira, Pak Hafid Hadeli, maju ke atas panggung memberi kata sambutan.</p>
<p>Dari kata sambutan, dipaparkanlah alasan kenapa Adira sampai perlu mendukung program pariwisata Indonesia. Salah satu yang saya tangkap adalah sebagai wujud dari terima kasih Adira kepada masyarakat dan Adira ingin memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.</p>
<p>Sampai di sini, saya masih belum menemukan apa hubungan antara Adira dengan portal wisata. Saya pun mulai berspekulasi apakah ada kemungkinan Adira membuka program kredit untuk berwisata? Hihihi..</p>
<p>Kemudian terdengarlah tabuhan reog di seluruh penjuru ruangan, ternyata ini adalah acara peresmian dan peluncuran web <a href="http://adirafacesofindonesia.com/" title="Adira Faces of Indonesia" target="_blank">Adira Faces of Indonesia</a> yang menggunakan simbol topeng. Simbol topeng dipilih karena dianggap mencerminkan wajah-wajah Indonesia yang beraneka rupa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/08/launching.jpg" alt="" title="direksi Adira meresmikan web Adira Faces of Indonesia" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1580" /></p>
<p>Topeng sendiri telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci. Ini karena peranan topeng yang besar sebagai simbol-simbol khusus dalam berbagai uparaca dan kegiatan adat yang luhur.</p>
<p>Kehidupan masyarakat modern saat ini menempatkan topeng sebagai salah satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang dimilikinya, tetapi sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap mampu memancarkan kekuatan magis yang sulit dijelaskan.</p>
<p>Setelah acara pembukaan dan hiburan dari kelompok musik Bandanaira, diskusi tentang apa sih maksud dan tujuan dari web <a href="http://adirafacesofindonesia.com/" title="Adira Faces of Indonesia" target="_blank">Adira Faces of Indonesia</a> ini. Yang menarik dari acara diskusi ini sebenarnya adalah kehadiran Putri Indonesia 2006, Agni Pratista!</p>
<p>Jadi, konsep dari web <a href="http://adirafacesofindonesia.com/" title="Adira Faces of Indonesia" target="_blank">Adira Faces of Indonesia</a> ini adalah portal kolaboratif yang mana pengisi kontennya adalah para pengguna yang terdaftar. Pengguna bisa mengunggah tulisan, cerita, foto, di web ini. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/08/adira-web-foi.jpg" alt="" title="web Adira Faces of Indonesia" width="350" height="523" class="alignnone size-full wp-image-1582" /></p>
<p>Menariknya lagi, kita bisa ikutan lomba menulis di program <a href="http://adirafacesofindonesia.com/program.php" title="About Adira Best 100 FOI" target="_blank">Adira Best 100 Faces of Indonesia</a> pada periode Juli-Desember 2011 dengan hadiah masing-masing 2 juta rupiah untuk 100 pemenang. Wohoho!</p>
<p>Nah, sepertinya saya akan menulis beberapa cerita saya ke web tersebut, siapa tau ada yang nyantol di hati para jurinya. Kriteria tulisan yang semoga bisa memukau hati para juri adalah tema, penggunaan bahasa yang baik, informasinya menarik, dan foto yang membuat orang mupeng! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Lalu, di mana peran Adira sebagai sponsor? Tenang, Adira nggak bermaksud jualan secara langsung produknya di web ini, namun tetep ada semacam banner untuk mempermudah kita bila ingin kredit mobil. Jalan-jalan pake mobil kan jadi lebih asyik, toh? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Acara pun berlanjut dengan kehadiran penampilan dari komunitas Beatbox Indonesia yang dengan kerennya bisa membunyikan berbagai macam suara dari mulutnya. Gile, mereka nafasnya pake apa, ya? Insang?</p>
<p>Acara pun ditutup dengan penampilan kelompok musik Bandanaira untuk yang kedua kalinya dan tarian dari Papua yang berkolaborasi denan komunitas Beatbox Indonesia. Tarian rancak dari Papua begitu keren menjadi penutup acara istimewa sore itu.</p>
<p>Konsep acara peluncuran tersebut cukup bagus, mengangkat budaya Indonesia dari Aceh hingga Papua. Namun menurut saya web yang beralamat di <a href="http://adirafacesofindonesia.com/" title="Adira Faces of Indonesia" target="_blank">adirafacesofindoesia.com</a> yang menjadi obyek dari acara ini kurang terespos dengan baik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/08/cewe-cewe.jpg" alt="" title="perempuan cantik berpakaian adat" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1583" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/adira-faces-of-indonesia-portal-kolaboratif-wisata-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fort Canning Park: Cikal Bakal Singapura</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/fort-canning-park-cikal-bakal-singapura.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/fort-canning-park-cikal-bakal-singapura.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 11:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1565</guid>
		<description><![CDATA[Sang Nila Utama dari Sriwijaya mendarat di sebuah pulau kecil pada tahun 1324. Di pulau tersebut, dia melihat seekor harimau dan bertanya kepada perdana menterinya apa nama hewan tersebut. Sang perdana menteri menjawab itu adalah seekor singa, dan ini adalah awal kisah dari nama Singapura. Cerita di atas saya dapatkan ketika saya menjelajahi Fort Canning [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/fort-canning-hotel.jpg" alt="" title="Fort Canning Hotel" width="350" height="225" class="alignnone size-full wp-image-1566" /></p>
<p>Sang Nila Utama dari Sriwijaya mendarat di sebuah pulau kecil pada tahun 1324. Di pulau tersebut, dia melihat seekor harimau dan bertanya kepada perdana menterinya apa nama hewan tersebut. Sang perdana menteri menjawab itu adalah seekor singa, dan ini adalah awal kisah dari nama Singapura.</p>
<p><span id="more-1565"></span>Cerita di atas saya dapatkan ketika saya menjelajahi Fort Canning Park, kawasan taman nasional yang dikelola oleh <a href="http://www.nparks.gov.sg/" title="National Parks Board" target="_blank">pemerintah Singapura</a>. Bukit kecil setinggi 60 meter yang terletak di sebelah selatan pulau kecil ini merupakan lokasi bersejarah yang menjadi tonggak berdirinya negara Singapura.</p>
<p><a href="http://maps.google.com/maps?ll=1.294444,103.846944&#038;spn=0.01,0.01&#038;t=m&#038;lci=org.wikipedia.en&#038;q=1.294444,103.846944" title="Lokasi Fort Canning Park" target="_blank">Fort Canning Park</a> dapat dicapai dengan mudah menggunakan sarana transportasi umum. Bila naik MRT kita bisa turun di stasiun Dhoby Ghaut (NE6 &#038; NS24), City Hall (EW13 &#038; NS25), atau Clarke Quay (NE5) kemudian jalan kaki sekitar 10 menit. Jika naik bus, ada lebih banyak pilihan halte untuk turun.</p>
<p>Sejarah Singpura sendiri terbagi menjadi 2, yaitu masa kerajaan Melayu pada abad ke-14 dan masa modern pada abad ke-18. Fort Canning Park, yang dulunya bernama Bukit Larangan pada abad ke-14 menjadi saksi sejarah penting Singapura.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/lobi-hotel.jpg" alt="" title="Peninggalan yang dipajang di lantai lobi Hotel Fort Canning" width="200" height="294" class="alignright size-full wp-image-1568" /></p>
<p>Perjalanan saya menjelajahi Fort Canning Park berawal dari lobi <a href="http://www.hfcsingapore.com/" title="Hotel Fort Canning" target="_blank">Hotel Fort Canning</a> (The Legends) yang terletak di dalam kawasan taman. Kita bisa mengikuti tur Park Walking setiap Sabtu pagi yang rutin diadakan oleh pengelola hotel secara gratis untuk tamu-tamunya.</p>
<p>Terdapat display kaca yang terletak di lantai lobi, berisi benda-benda peninggalan yang ditemukan dari penggalian di taman. Ada 4 kolom yang terbagi menjadi 2 panel, panel pertama berisi benda-benda peninggalan pada abad ke-14 dan panel kedua berisi benda-benda peninggalan abad ke-18.</p>
<p>Panel pertama banyak ditemukan pecahan tanah liat yang dulunya berupa perabotan rumah tangga semacam piring dan tembikar. Pada panel kedua juga tak jauh berbeda, namun lebih beragam, mulai ditemukan pecahan keramik dan botol minuman.</p>
<p>Kami kemudian keluar hotel dan menuju ke atas bukit yang disebut dengan Bukit Larangan. Tembok tua tampak menyembul terselimuti lumut dan tanaman rambat, ini adalah tembok benteng yang dibangun pada tahun 1859, pada masa pemerintahan Stamford Raffles. Pada tahun 1861, Bukit Larangan diubah namanya menjadi Fort Canning, untuk menghormati Gubernur Jendral Hindia saat itu, Lord Charles John Canning.</p>
<p>Benteng Fort Canning ini merupakan salah satu bagian dari sistem pertahanan Singapura. Benteng-benteng lainnya adalah Fort Fullerton, Fort Palmer, Fort Teregah, dan Fort Faber.</p>
<p>Bukit Larangan sendiri diduga dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan Melayu kuno yang didirikan oleh Sang Nila Utama, dari Sriwijaya, seperti yang tertuang pada paragraf pertama. Kerajaan kecil ini kemudian hancur setelah diserang Siam (Thailand), sempat dikuasai oleh Majapahit, dan akhirnya takluk di tangan Portugis.</p>
<p>Kami berjalan mengelilingi tembok benteng melalui jalan setapak yang rapi menuju ke The Gate of Fort Canning. Di pintu gerbang ini terdapat lubang sempit dengan tangga menanjak untuk menuju ke bagian atas gerbang. Pintu ke atas sengaja dibuat sempit demi mempersulit musuh naik ke atas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/gate-fort-canning.jpg" alt="" title="The Gate of Fort Canning" width="350" height="244" class="alignnone size-full wp-image-1569" /></p>
<p>Di dalam benteng seluas kurang lebih 3 hektar, terdapat beberapa fasilitas pendukung. Pada tahun 1867, terdapat tujuh meriam berpeluru 68 pon, delapan meriam 8 inchi, dua meriam katak 13 inchi, dan beberapa senapan 14 pon, barak-barak tentara, rumah sakit, gudang mesiu, serta bunker-bunker bawah tanah.</p>
<p>Bunker bawah tanah tersebut pun masih ada, namun untuk masuk pengunjung harus membeli tiket khusus. Tamu Hotel Fort Canning bisa masuk dengan gratis selama bisa menunjukkan kartu kamar. Sayangnya, saya tidak sempat masuk dan menjelajahi bunker ini.</p>
<p>Kini di dalam benteng, dibuat taman dan jalan-jalan setapak yang nyaman digunakan untuk olah raga pagi atau sekadar duduk-duduk menikmati segarnya udara pagi. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/inside-fort-canning.jpg" alt="" title="Suasana di dalam Fort Canning" width="350" height="245" class="alignnone size-full wp-image-1570" /></p>
<p>Sepanjang jalan kami disuguhi suara kicau burung. Maklum saja, kawasan ini memang sengaja dibuat sebagai kawasan konservasi. Bahkan saya sempat melihat dua ekor tupai berloncatan dari atas pohon di dekat hotel.</p>
<p>Pemandu kami, Amy, bercerita dan menunjukkan beberapa spesies vegetasi yang sebenernya banyak terdapat di Indonesia, misalnya saja pohon beringin, pohon kapuk randu, pohon kayu putih, tanaman sereh, tanaman cabe, hingga pohon pisang! </p>
<p>Pasangan turis dari Selandia Baru langsung takjub melihat aneka vegetasi yang mungkin jarang dilihat di negaranya, sedangkan saya cuma senyum-senyum kecut. Sekali lagi, pemerintah Singapura memang begitu pandai dengan melakukan pemeliharaan hal-hal semacam ini, kemudian dijual untuk obyek wisata. Sesuatu yang mungkin diabaikan oleh pemerintah kita di Indonesia.</p>
<p>Selain mengkonservasi tanaman, pemerintah Singapura juga memfasilitasi kegiatan seni di Fort Canning. Sebuah art-workshop dibangun di dalam taman untuk menjadi sarana seniman-seniman lokal berkreasi dan memanfaatkan kayu-kayu dari pohon tumbang di sekitar taman menjadi karya seni.</p>
<p>Fasilitas penting yang masih digunakan di Fort Canning adalah Water Reservoir. Kolam penampungan air ini dibangun pada abad ke-14 oleh kerajaan Melayu sebagai sumber air minum dan membantu suplai air ke kanal-kanal di sekitar benteng. Pada masa pemerintahan Raffles, kolam penampung air ini tetap digunakan sebagai sumber air minum tentara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/light-house.jpg" alt="" title="Fort Canning Lighthouse" width="200" height="299" class="alignright size-full wp-image-1571" /></p>
<p>Pada saat pemugaran pada tahun 1926, ditemukan perhiasan emas peninggalan Majapahit dengan ciri gambar kepala Kala, yang kini disimpan di <a href="http://www.nationalmuseum.sg/" title="National Museum of Singapore" target="_blank">National Museum of Singapore</a> yang tak jauh dari situ.</p>
<p>Kami tiba di sisi selatan taman, yang disebut dengan Raffles Terrace. Di sini terdapat mercusuar kecil yang disebut dengan Fort Canning Lighthouse, terletak di puncak bukit, yang pada zamannya merupakan salah satu dari 13 mercusuar penting di Selat Malaka, yang berfungsi untuk memandu kapal-kapal yang hendak masuk ke pelabuhan Singapura dan muara Sungai Singapura, yang kini dikenal dengan Marina Bay.</p>
<p>Menara mercusuar ini merupakan menara replika dan masih bisa menyala, namun tidak digunakan sebagai panduan. Menara mercusuar dibangun oleh perusahaan konstruksi Riley, Hargreaves &#038; Co. pada tahun 1903, menggantikan fungsi Flagstaff yang terletak tak jauh lokasi menara.</p>
<p>Menara ini pada zamannya dinyalakan dengan menggunakan kerosin, menghasilkan kekuatan cahaya sebesar 20.000 CD (candlepower) yang mampu mencapai jarak hingga 33 kilometer. Menara ini menggunakan sistem penggerak <em>dioptric occulting</em> yang membuat cahaya terlihat selama 17 detik, kemudian padam selama 3 detik, dan menyala kembali selama 17 detik. Pada Desember 1958, Menara ini kemudian dinonaktifkan seiring dengan dibangunnya gedung-gedung tinggi di sekitar Marina Bay.</p>
<p>Flagstaff dan Time Ball yang terletak beberapa meter ke barat dari mercusuar, juga memiliki peranan penting di zamannya. Flagstaff merupakan tiang dengan dipasangi beberapa bendera warna-warni. Isyarat panduan dikirimkan ke kapal dengan menaikkan atau menurunkan bendera, sesuai dengan perintah yang hendak dikirim.</p>
<p>Time Ball memiliki fungsi melakukan sinkronisasi waktu. Setiap pukul 12:55, bola akan dinaikkan ke atas untuk kemudian dijatuhkan tepat pada pukul 13:00 dan berbunyi nyaring pertanda bahwa sudah saatnya jam-jam disinkronisasi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/flagstaff-timeball.jpg" alt="" title="Flagstaff dan Time Ball" width="350" height="245" class="alignnone size-full wp-image-1572" /></p>
<p>Di sekitar Raffles Terrace ini lah dulu orang-orang Eropa, Cina, dan Melayu berekreasi melihat pemandangan laut. Saya pun bisa melihat Marina Bay dari sini dengan landmark <a href="http://www.marinabaysands.com/" title="Marina Bay Sands" target="_blank">Hotel Marina Bay Sands</a>.</p>
<p>Di sekitar sini pula dulu terdapat rumah tinggal Stanford Raffles yang dibangun pada tahun 1822, yang kini sudah tidak ada karena terbuat dari kayu dan lapuk. Untuk menandai lokasi bersejarah ini, dibangunlah bangunan lain di lokasi yang ditengarai lokasi asli rumah tinggal Raffles tersebut.</p>
<p>Dari Raffles Terrace, tur berlanjut menuju ke sebuah tembok berelief yang menceritakan sejarah Singapura sebelum era kolonial. Tembok relief ini bukan peninggalan sejarah, tapi sengaja dibuat pada tahun 1994, didesain oleh Eng Siak Loy dan dipahat oleh Villa Frangipani.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/relief-singapore.jpg" alt="" title="Relief sejarah prakolonial Singapura" width="350" height="234" class="alignnone size-full wp-image-1573" /></p>
<p>Fragmen-fragmen relief bercerita tentang awal ditemukannya Bukit Larangan, dilanjutkan dengan pembangunan istana kerajaan Melayu di atas bukit, kerajaan Melayu diserang oleh kerajaan Siam (Thailand), penguasaan Majapahit atas kerajaan Melayu di Singapura, kemakmuran perdagangan di Singapura karena posisinya yang strategis, sebuah kolam untuk mandi putri kerajaan yang disebut dengan Pancur Larangan, raja Prameswara melarikan diri karena kerajaannya diserang pada tahun 1396, raja Prameswara yang melarikan diri membangun Malaka dan menguasai perdagangan di Malaka, dan fragmen terakhir bercerita tentang datangnya orang-orang Eropa ke semenanjung Malaka.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan menuju ke situs penggalian arkeologi Fort Canning. Proses ekskavasi dimulai pada tahun 1984, di mana banyak ditemukan artefak berupa pecahan-pecahan perabot rumah tangga, mulai dari abad ke-14 hingga abad ke-18. Beberapa pecahan-pecahan ini dipajang di lobi Hotel Fort Canning, dan sisanya dipajang di sekitar lokasi situs.</p>
<p>Artefak-artefak ini dibiarkan dipajang di ruang terbuka tanpa takut dirusak. Kenapa bisa tidak hilang dicuri orang? Karena pecahan-pecahan tembikar ini &#8220;tidak berharga&#8221;. Benda-benda peninggalan arkeologi akan berharga bila kondisinya masih utuh. Benda-benda yang masih utuh ini disimpan di National Museum of Singapore.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/situs-penggalian-fort-canni.jpg" alt="" title="Situs penggalian arkeologi Fort Canning" width="350" height="234" class="alignnone size-full wp-image-1574" /></p>
<p>Dari situs penggalian, kami berjalan menuju ke Spice Garden yang diresmikan pada tahun 1994 untuk meneruskan taman botani pertama yang ada di Fort Canning pada tahun 1822. Di taman ini, banyak ditemukan tanaman rempah yang banyak juga ditemukan di Indonesia, semacam tanaman cabe rawit, sereh, jahe, kayu manis, hingga daun mint.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/fort-canning-thombs.jpg" alt="" title="Batu nissan di tembok Fort Canning Green" width="350" height="234" class="alignnone size-full wp-image-1575" /></p>
<p>Dari Spice Garden, tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Fort Canning Green yang dulunya adalah makam Kristen pertama yang dibangun pada tahun 1846. Pada tahun 1994, semua jenazah dipindahkan dan dikremasi, kemudian batu-batu nisan ditempelkan di tembok. Sebelum masuk ke kawasan ini, kita akan melewati Gothic Gate yang menjadi pintu gerbang makam bertuliskan IHS, kependekan dari <em>Iota Heta Sigm</em>,yang berarti Yesus dalam bahasa Yunani.</p>
<p>Kini Fort Canning Green menjadi lokasi pertunjukkan. Terdapat panggung tepat berada di tengah lapangan luas, dengan latar belakang gedung Fort Canning Center yang dulunya merupakan barak tentara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2011/07/fort-canning-center.jpg" alt="" title="Gedung Fort Canning Center di kawasan Fort Canning Green" width="350" height="234" class="alignnone size-full wp-image-1576" /></p>
<p>Tak terasa sudah satu jam lebih kami mengelilingi Fort Canning Park. Kami pun kembali ke Hotel Fort Canning, yang gedungnya juga dulunya merupakan barak tentara, untuk sarapan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/fort-canning-park-cikal-bakal-singapura.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelebon: Upacara Mengantar Raja Menuju Nirwana</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pelebon-upacara-mengantar-raja-menuju-nirwana.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pelebon-upacara-mengantar-raja-menuju-nirwana.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 15:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[ngaben]]></category>
		<category><![CDATA[palebon]]></category>
		<category><![CDATA[Peliatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1558</guid>
		<description><![CDATA[Langit Ubud yang mendung, rupanya tak menyentuh kawasan Puri Peliatan, tempat diselenggarakannya upacara Pitra Yadnya Pelebon Ida Dewagung Peliatan, Raja Puri Agung Peliatan IX, yang meninggal pada tanggal 21 Agustus 2010 lalu. Upacara Pelebon sendiri merupakan sebutan untuk upacara Ngaben, upacara kremasi jenazah yang dilakukan khusus untuk kaum raja dan bangsawan. Upacara Pelebon yang diselenggarakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/11/img_9928.jpg" alt="Naga Banda pengiring Pelebon Puri Peliatan" title="Naga Banda pengiring Pelebon Puri Peliatan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1559" /></p>
<p>Langit Ubud yang mendung, rupanya tak menyentuh kawasan Puri Peliatan, tempat diselenggarakannya upacara <a href="http://www.indonesia.travel/en/event/detail/196/grand-cremation-for-the-raja-of-peliatan-bali" title="Royal Cremation For the Raja of Peliatan Bali" target="_blank">Pitra Yadnya Pelebon Ida Dewagung Peliatan, Raja Puri Agung Peliatan IX</a>, yang meninggal pada tanggal 21 Agustus 2010 lalu.</p>
<p>Upacara Pelebon sendiri merupakan sebutan untuk upacara Ngaben, upacara kremasi jenazah yang dilakukan khusus untuk kaum raja dan bangsawan. Upacara Pelebon yang diselenggarakan tanggal 2 November 2010 di Bali kali ini bisa dibilang sebagai <a href="http://www.indonesia.travel/id/destination/277/ubud/article/50/upacara-pembakaran-jenazah-paling-megah-di-bali" title="Upacara Pembakaran Jenazah Paling Megah di Bali" target="_blank">upacara ngaben termegah</a> untuk saat ini.</p>
<p><span id="more-1558"></span>Enam belas <em>Pedande</em> tampak sibuk membakar sesaji untuk menolak hujan. Asap yang memedihkan mata yang berasal dari bakaran sabut kelapa dan serpihan kayu merupakan media untuk mengirim doa agar hujan tidak turun di kawasan upacara.</p>
<p>Meski hujan merupakan salah satu berkah bagi kepercayaan umat Hindu, namun kali ini hujan diharapkan untuk tidak turun di hari yang penting ini.</p>
<p><a href="http://www.indonesia.travel/id/news/detail/184/sayap-bade-terpasang-untuk-pelebon-di-puri-agung-peliatan" title="Sayap Bade Terpasang untuk Pelebon di Puri Agung Peliatan" target="_blank">Sebuah <em>bade tumpang solas</em></a> atau tempat pengusung jenazah bertingkat sebelas tampak menjulang. <em>Bade</em> setinggi 25,5 meter ini memang dibuat spesial, sesuai dengan status sosial si jenazah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/11/img_3768.jpg" alt="Patung Lembu megah pengiring Pelebon" title="Patung Lembu megah pengiring Pelebon" width="200" height="300" class="alignright size-full wp-image-1560" /></p>
<p>Bila pada umumnya keluarga kerajaan non raja atau bangsawan biasa memakai <em>bade</em> bertingkat tujuh atau sembilan, rakyat strata terendah memakai <em>bade</em> bersusun hanya satu atau tiga, maka raja memiliki <em>bade</em> bersusun sebelas, yang juga mencerminkan jumlah tingkatan <em>bade</em> paling tinggi dalam strata sosial di Bali.</p>
<p>Rangkaian upacaranya sendiri diawali dengan beberapa prosesi. Beberapa hari sebelumnya diadakan upacara <em>mendak</em> atau <a href="http://www.indonesia.travel/id/news/detail/178/pengusungan-naga-banda-pelebon-2-november-2010" title="Pengusungan Naga Banda Pelebon 2 November 2010" target="_blank">penjemputan Naga Banda (patung berbentuk naga)</a> dari Puri Ubud ke Puri Peliatan yang berjarak kurang lebih dua kilometer. Patung naga berwarna keemasan ini diusung oleh ribuan orang.</p>
<p>Naga Banda merupakan salah satu sarana upacara Pelebon yang dibuat untuk raja atau keluarganya. Selain Naga Banda, sarana penting lainnya adalah patung lembu putih berbalut kain lembut yang khusus didatangkan dari Norwegia juga akan mendampingi kremasi jenazah Raja Peliatan IX, Ida Dewagung.</p>
<p>Patung lembu ini begitu sempurna, sehingga sulit untuk dibedakan bila hanya melihat sekilas. Pahatan yang rapi berpadu perhiasan emas menghiasi bagian kepala, leher, dada, dan kaki patung membuatnya terlihat lebih megah.</p>
<p>Patung lembu setinggi 5 meter ini adalah simbolisasi kesucian kasta Ksatria. Kasta Ksatria yang di dalamnya termasuk raja ini akan mengendarai lembu menuju nirwana. Untuk kasta lain biasanya mengendarai singa.</p>
<p>Perangkat-perangkat pendukung Pelebon berupa <em>bade</em>, Naga Banda, Patung Lembu, dan perangkat lainnya sebelum digunakan wajib disucikan terlebih dahulu pada upacara Pemlaspas. Air suci yang digunakan pun bukan air sembarangan karena air diambil dari mata air suci melalui <a href="http://www.indonesia.travel/id/news/detail/181/keselarasan-mengagumkan-2-hari-menjelang-pelebon-di-puri-agung-peliatan" title="Keselarasan Mengagumkan 2 Hari Menjelang Pelebon di Puri Agung Peliatan " target="_blank">upacara Ngening</a>.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/11/blog1-2.jpg" alt="Naga Banda diarak pada upacara Pelebon Puri Peliatan" title="Naga Banda diarak pada upacara Pelebon Puri Peliatan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1561" /></p>
<p>Pelebon sendiri pada hakikatnya adalah pengembalian wujud manusia pada esensinya, yaitu lima elemen yang dikenal dengan <em>Panca Maha Buta</em> (tanah, udara, api, air, dan eter).</p>
<p>Melalui media pembakaran, abu yang dihasilkan merepresentasikan tanah, uap dan asap yang dihasilkan adalah manifestasi udara, api yang menjilat jilat adalah amarah (keburukan) yang sirna, dan sisa tulang belulang yang dihaluskan dan dicampur dengan air merepresentasikan air.</p>
<p>Esensi raga yang berunsur air ini kemudian dilarung ke laut. Dengan purnanya prosesi Pelebon, secara fisik mendiang Raja Ida Dwagung akan sempurna kembali ke asalnya, yaitu rohnya akan pergi ke nirwana.</p>
<p>Sedangkan bagi keluarga yang ditinggalkan, Pelebon juga mengandung banyak arti. Salah satunya adalah sebagai cara untuk melupakan satu sama lain: keluarga tak boleh lagi mengingat-ingat raja dan raja tak lagi mengingat-ingat keluarganya.</p>
<p>Pelebon ternyata juga menjadi sarana bagi keluarga untuk memanjatkan pengharapan kepada Sang Hyang Widhi, supaya kelak raja yang dikremasi bereinkarnasi menjadi karakter yang lebih baik dari sebelumnya. </p>
<p>Ndak heran kalo pihak keluarga rela merogoh kocek dalam-dalam demi mengadakan upacara Pelebon dengan semegah-megahnya. Mereka percaya bahwa keindahan, kemegahan, dan kesempurnaan fisik dari sarana Pelebon seperti <em>bade</em>, Lembu, Naga Banda dan lainnya menyimbolkan kebaikan.</p>
<p>Almarhum Ida Dewagung Peliatan adalah keturunan Raja Peliatan pertama dari pasangan Ida Tjokorda Gde Rai dan AA Istri Mas. Beliau diangkat atau Mabhiseka Ratu (gelar) sebagai Raja Peliatan IX sejak 5 Juni tahun 2001.</p>
<p>Selamat jalan, Ida Dewagung Peliatan!</p>
<p>Info lengkap tentang Pelebon dan acara-acara menarik lainnya bisa didapat di situs <a href="http://www.indonesia.travel/" title="Website Resmi Pariwisata Indonesia" target="_blank">Indonesia.Travel</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pelebon-upacara-mengantar-raja-menuju-nirwana.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusuri Sungai Li dan Bukit Karst Hingga ke Yangshuo, China</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 09:22:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Guilin]]></category>
		<category><![CDATA[Yangshuo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1541</guid>
		<description><![CDATA[Guilin, China, memiliki hamparan bukit karst terbesar di dunia. Sejak dulu hingga kini, banyak literatur kuno dan kasusastra modern China yang terinspirasi dari keindahan bukit-bukit karst ini. Salah satu karya puisi yang terkenal adalah puisi karya Han Yu, penyair pada era Dinasti Tang yang berbunyi, “The river winds like a blue silk ribbon, while the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/di-yangshuo.jpg" alt="Di Yangshuo" title="Di Yangshuo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1548" /></p>
<p>Guilin, China, memiliki hamparan bukit karst terbesar di dunia. Sejak dulu hingga kini, banyak literatur kuno dan kasusastra modern China yang terinspirasi dari keindahan bukit-bukit karst ini. Salah satu karya puisi yang terkenal adalah puisi karya Han Yu, penyair pada era Dinasti Tang yang berbunyi, <em>“The river winds like a blue silk ribbon, while the hills erect like green jade hairpins.</em>” </p>
<p>Selain bukit-bukir karst, Sungai Li (Li Jiang) merupakan denyut nadi utama dari Guilin. Mulai dari aspek pertanian hingga pariwisata, sangat menggantungkan hidupnya kepada sungai sepanjang 437 Km yang hulunya terletak di Cat Mountain di Xing-an hingga ke Guangzhuo.</p>
<p><span id="more-1541"></span>Dari 437 Km panjang sungai itu, 83 Km di antaranya adalah kawasan dengan pemandangan terindah. Dan untungnya, kawasan ini berada di Guilin. Ndak heran kalo Sungai Li ini dijadikan daya tarik utama pariwisata Guilin.</p>
<p>Untuk menyusuri Sungai Li ada banyak cara. Bila di dalam kota Guilin, kita bisa menaiki rakit bambu atau ikut kapal tur wisata &#8220;2 sungai dan 4 danau&#8221; (2 rivers and 4 lakes cruise), maka bila ingin melihat lukisan alam seperti yang digambarkan oleh Han Yu dalam puisinya, kita harus ikut tur melalui agen perjalanan.</p>
<p>Semua agen perjalanan di Guilin dan penginapan juga menyediakan paket wisata ini yang harganya cukup kompetitif. Biasanya perbedaannya terdapat di fasilitas yang didapat selama tur. Misalnya ada yang paket makan siang, jemputan dari/ke penginapan, dan sebagainya.</p>
<p>Namun kita harus berhati-hati karena banyak juga agen-agen perjalanan abal-abal yang sering menjerumuskan para pejalan. Sebaiknya menggunakan agen perjalanan yang terkenal, meski haganya agak mahal, namun jelas dan terjamin.</p>
<p>Secara umum ada 3 paket yang biasa ditawarkan, menggunakan rakit bambu, kapal biasa, atau kapal wisata. Rakit bambu adalah yang paling murah (sekitar 180 Yuan) dan kapal wisata yang termahal (sekitar 500 Yuan).</p>
<p>Ini pertama kalinya saya ikut tur. Biasanya saya lebih suka melakukan perjalanan secara mandiri. Namun kali ini saya ingin ikut tur karena berbagai pertimbangan, yaitu rute yang ditempuh lebih jauh, memakan waktu sekitar 4 jam, mendapat fasilitas makan siang di atas kapal, dan ini yang terpenting, ada pemandu berbahasa Inggris. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pukul 8 pagi kami sudah dijemput di penginapan. Bener-bener tepat waktu. Setelah dijemput dengan mobil van kecil, kami kemudian di-drop di titik pemberangkatan, berganti naik bus besar. Rombongan kami adalah para wisatawan dari Eropa, bahkan dari rombongan, cuma kami saja yang orang Asia.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/li-river-cruise.jpg" alt="Selain pemandu, hanya kami orang Asia di antara rombongan tur" title="Selain pemandu, hanya kami orang Asia di antara rombongan tur" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1547" /></p>
<p>Wisatawan yang ikut rombongan ini pun terdiri dari berbagai gaya, ada yang memang niat berwisata bareng keluarga, pasangan pensiunan yang ingin menikmati hidup di hari tua dengan foya-foya, hingga backpacker lengkap dengan tas-tas punggung segede kulkas 2 pintu.</p>
<p>Yangyang, nama pemandu kami, membagikan stiker untuk ditempelkan di pakaian sebagai tanda pengenal kelompok. Dia menamakan kelompok kami Panda Group, lengkap dengan bendera yang dipasang pada tongkat yang bisa dipanjang-pendekkan sebagai tanda agar kami bisa dengan mudah berkumpul bila terpisah selama tur. </p>
<p>Perjalanan tur dimulai dari Dermaga Zhujiang yang terletak sekitar 23 Km di selatan pusat kota Guilin. Kami akan menyusuri bagian tercantik dari Sungai Li, sejauh 83 Km menuju ke Yangshuo, semacam kota kecil di selatan Guilin. Yangshuo ini lah yang menjadi daya tarik utama Guilin, karena menawarkan kecantikan alam dan budaya yang unik.</p>
<p>Kapal bergerak dengan kecepatan sekitar 20 Km per jam, sehingga waktu tempuh kami adalah 4 jam. Sejak dari dermaga kami disuguhi pemandangan bukit-bukit karst yang diberi nama sesuai dengan bentuknya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/li-river.jpg" alt="Kapal-kapal wisata bergerak menyusuri Sungai Li" title="Kapal-kapal wisata bergerak menyusuri Sungai Li" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1545" /></p>
<p>Ada bukit yang sekilas berbentuk seorang ibu menggendong anak, bukit dengan bentuk seperti unta, berbentuk seperti kepala kerbau, hingga seperti mahkota. Kami melewati Desa Yangdi, di mana banyak sekali penduduk desa yang mendekati kapal dengan menggunakan rakit bambu, kemudian dengan  mengikatkan rakit mereka ke kapal dan ikut bergerak dengan kapal, mereka menawarkan suvenir berupa topi rajutan atau pernak-pernik lain kepada wisatawan yang berada di atas kapal.</p>
<p>Lewat Desa Yangdi, kami menuju ke Desa Langshi, yang dipercaya berada pada lokasi dengan Fengshui terbaik, yaitu menghadap ke sungai dan berlatar belakang bukit dan gunung. Lokasi ini menurut kepercayaan Fengshui, merupakan lokasi yang amat sangat menguntungkan. Bahkan ketika kita melewati desa ini, kebaikan dan keuntungan desa ini akan mengikuti kita.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/yellow-cloth-shoal.jpg" alt="Yellow Cloth Soal, pemandangan pamungkas di Sungai Li" title="Yellow Cloth Soal, pemandangan pamungkas di Sungai Li" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1544" /></p>
<p>Landmark lain yang terkenal di sepanjang sungai ini adalah bukit yang diberi nama Painted View of Nine Horses, yang mana wisatawan dipersilakan untuk berimajinasi menggambarkan bentuk 9 kuda. Bila kita berhasil menemukan bentuk 9 kuda dari bukit ini, maka dipercaya kita akan mendapat keberuntungan, karena biasanya hanya beberapa orang beruntung saja yang bisa melihat bentuk 9 kuda.</p>
<p>Pemandangan lain yang terkenal adalah yang diberi nama Yellow Cloth Shoal, pemandangan bukit yang tercermin oleh permukaan air, dengan “pantai” berpasir berwarna kuning di tepinya. Saking terkenalnya, gambar ini menjadi semacam gambar standar brosur-brosur wisata atau kartu pos. Bahkan kita juga bisa menemukan pemandangan ini pada uang kertas 20 Yuan. Pemandangan ini pula lah yang seolah-olah menjadi “penutup” dari tur, karena selepas melewati area ini dan masuk ke Desa Xing Ping, pemandangannya sudah tidak begitu istimewa.</p>
<p>Meski begitu, perjalanan masih jauh, sekitar 1 jam hingga ke Dermaga Yangshuo. Bila mau, kita bisa memanfaatkan waktu ini untuk tidur siang sebentar.</p>
<p>Setibanya di Yangshuo, kami langsung dikerubuti para pedagang suvenir dengan sapaan khas mereka, “hello.. hello..”. Karena banyaknya pedagang yang menyapa dengan kata “hello” ini, pasar ini kemudian disebut dengan nama Hello Market.</p>
<p>Selama di Hello Market, ada tips umum yang belaku di sini, yaitu menawar harga hingga sepertiga harga yang ditawarkan. Bila tidak berminat membeli atau cuma sekadar melihat-lihat, disarankan untuk tidak menanyakan harga. Sekali bertanya, berarti berminat membeli. Pedagang akan membuka harga dan kita akan diminta menawar. </p>
<p>Jika kelepasan menanyakan harga, cara yang ampuh untuk menghindar adalah menawar dengan harga serendah mungkin supaya tidak tercapai kesepakatan harga. Tips lain, usahakan bila membayar menggunakan uang pas. Uang palsu banyak beredar di sini, sehingga kadang kembalian yang diberikan pedagang adalah uang palsu.</p>
<p>Yangshuo sendiri luasnya kurang lebih 1,4 Km persegi. Yangshuo memiliki sisi yang unik. Di satu sisi kebudayaan barat sudah sangat umum karena daerah ini merupakan daerah favorit para backpacker, sehingga tidak jarang ditemukan pub dan bar, namun di sisi lain kebudayaan China masih sangat kental melekat dengan kuat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/west-street.jpg" alt="Suasana di West Street (Xie Jie) di Yangshuo yang ramai" title="Suasana di West Street (Xie Jie) di Yangshuo yang ramai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1546" /></p>
<p>Bangunan-bangunan tua dari kayu mendominasi. Papan-papan nama bertuliskan aksara China banyak bergantung, berdiri berdampingan dengan bangunan batu dengan pub dan bar ala western. West Street (Xie Jie) adalah jalan protokol di Yangshuo di mana penginapan, restoran, kafe, pub, dan bar ala barat berdiri.</p>
<p>Pemandangan alamnya yang cantik adalah daya tarik mengapa banyak wisatawan datang ke sini. Bukit-bukit karst berpadu dengan Sungai Li plus arsitektur tua China klasik yang khas, merupakan pemandangan cantik yang tak bisa ditemukan di mana pun.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/mantra-cina.jpg" alt="Mantra-mantra pengusir roh jahat" title="Mantra-mantra pengusir roh jahat" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1549" /></p>
<p>Kami pun meneruskan tur dengan mengikuti Country Side Tour dengan membayar 200 Yuan karena penasaran. Kami dibawa menuju ke sisi desa di Yangshuo yang masih tradisional. Di desa ini, saya baru tau asal muasal tradisi dan kebiasaan masyarakat China.</p>
<p>Misalnya pada rumah-rumah bergaya klasik China, terdapat kertas mantra berwarna merah menempel di kanan-kiri pintu serta gambar perwira langit berwajah seram menempel di daun pintu, mempunyai maksud untuk mengusir roh jahat.</p>
<p>Di bagian kusen atas, terdapat cermin dan di bagian bawah terdapat balok melintang untuk semacam penghalang. Cermin dipasang supaya setan (yang digambarkan sangat jangkung) ketika hendak masuk melalui pintu akan melihat wajahnya sendiri yang menyeramkan sehingga ketakutan. </p>
<p>Sedangkan penghalang di bagian bawah pintu dimaksudkan untuk menghalangi setan yang digambarkan berjalan dengan melompat-lompat (masih ingat cara jalan vampire di film-film China?), sehingga si setan akan tersandung dan tidak dapat masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Rumah-rumah di desa ini kebanyakan belum selesai dibangun. Konon para pemuda desa membangun rumah ini dengan uang seadanya, yang penting punya rumah dulu, karena syarat pria untuk menikah adalah mempunyai rumah.</p>
<p>Di atas kusen pintu, terdapat 2 balok menonjol keluar dengan diameter yang menunjukkan status sosial si pemilik rumah. Makin lebar diameter balok, makin tinggi derajatnya. Pasangan yang hendak menikah sebaiknya mempunyai derajat yang sama. Bila derajat sang pria kebih tinggi dari wanita, maka si wanita tersebut harus rela dijadikan sebagai istri kesekian. </p>
<p>Sebaliknya bila derajat si wanita lebih tinggi daripada pria, maka si pria harus mengikuti marga dan garis keluarga si wanita.<br />
Namun, di antara bangunan-banguna rumah yang sederhana, terdapat sebuah bangunan megah yang sangat menonjol. Sebuah lambang palu-arit nampak terpasang lengkap dengan bendera Wu Xing Hong Qi (bendera nasional China). Rupanya bangunan yang bagus ini adalah kantor pertemuan partai komunis China.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/yulong-view.jpg" alt="Pemandangan dari jembatan Yulong" title="Pemandangan dari jembatan Yulong" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1551" /></p>
<p>Kami kemudian berpindah menuju Yu Long Bridge, sebuah jembatan batu berusia 600 tahun, yang melintasi Sungai Yu Long, salah satu anak Sungai Li. Nama Yu Long sendiri berarti “bertemu naga”. Menurut cerita rakyat, seekor naga dari laut timur tengah berjalan-jalan menyusuri sungai ini, kemudian terkesima dengan pemandangan alam yang cantik, akhirnya menetap. Beberapa penduduk konon melihat naga dari jembatan ini, maka disebutlah sungai dan jembatan ini Yu Long.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/cormorant.jpg" alt="Nelayan menangkap ikan menggunakan burung Cormorant" title="Nelayan menangkap ikan menggunakan burung Cormorant" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1552" /></p>
<p>Dari atas jembatan Yu Long, pemandangannya sungguh cantik. Sekilas saya seperti melihat wallpaper pada komputer Microsoft Windows. Tak jauh dari jembatan ini, terdapat dermaga kecil untuk naik rakit bambu dan menyusuri Sungai Yu Long.</p>
<p>Kami menikmati pertunjukan Cormorant Show, yaitu pertunjukkan nelayan menangkap ikan dengan menggunakan bantuan burung cormorant di Sungai Yu Long. Burung cormorant adalah burung air yang sekilas mirip pelikan, namun paruhnya pendek. Burung ini diikat di bagian pangkal lehernya sehingga ikan yang ditangkap burung ini tidak dapat ditelan. Nelayan kemudian mengambil ikan dengan cara memuntahkan ikan dari mulut burung cormorant menggunakan teknik tertentu.</p>
<p>Dulu cara tradisional ini mampu menyokong roda ekonomi Guilin. Nelayan-nelayan cormorant bisa mendapatkan 15 Kg ikan dengan cara ini. Namun kini, hanya ada 6 nelayan cormorant saja yang masih terampil mempraktekkan cara tradisional tersebut.</p>
<p>Seorang penyanyi wanita berdiri di atas rakit kemudian bernyanyi. Ini merupakan salah satu tradisi di Guilin yang berawal dari etnis Dong pada sebuah Folksong Festival yang diadakan setiap hari ketiga bulan ketujuh pada kalender Lunar. </p>
<p>Pada festival ini sekelompok pemuda dan pemudi saling berkenalan dengan menyanyikan lagu secara bersahut-sahutan. Si wanita kemudian bernyanyi yang intinya bertanya tentang nama, asal-usul, dan sebagainya kepada pria, kemudian si pria menjawab pertanyaan dengan bernyanyi juga. </p>
<p>Festival ini berlangsung selama 3 hari, kemudian pada hari ketiga, si wanita akan memberikan tantangan kepada pria untuk merebut bola keberuntungan. Bila bola ini berhasil didapat, maka si pria berhak menikahi wanita tersebut.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/hill-singer.jpg" alt="Penyanyi wanita di atas rakit" title="Penyanyi wanita di atas rakit" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1553" /></p>
<p>Wanita dengan pakaian tradisional lengkap dengan capingnya menyanyikan lagu seperti pada festival, dibantu dengan pengeras suara. Kemudian nyanyian ini disahut oleh seorang penyanyi wanita lain di rakit yang berbeda. </p>
<p>Tiba-tiba rakit bambu kami berhenti di suatu lapangan. Para bule kemudian turun dengan gembira menghampiri gerombolan kerbau. Oh, ternyata feeding the buffalo dan melihat sawah merupakan bagian dari atraksi tur ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/kebo-cina.jpg" alt="Jauh-jauh ke China cuma untuk ngasih makan kebo" title="Jauh-jauh ke China cuma untuk ngasih makan kebo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1550" /></p>
<p>Kami yang terbiasa melihat kerbau dan sawah di Indonesia cuma senyum dan geleng-geleng melihat bule-bule itu kegirangan menyodorkan rumput untuk dimakan kerbau. Jauh-jauh ke China kok cuma nonton kerbau dan sawah, gumam saya sambil tersenyum kecut..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Guilin, China</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-guilin-china.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-guilin-china.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 07:43:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Guilin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1529</guid>
		<description><![CDATA[Pernah lihat lukisan atau film-film mandarin dengan setting bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya? Gambar-gambar di lukisan itu bukan khayalan, bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya itu memang nyata dan benar-benar ada. Guilin, adalah kota di China selatan yang memiliki lansekap cantik itu. Terletak di propinsi Guangxi, Guilin menjadi salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/07/jengjeng-guilin.jpg" alt="Di Yulong Bridge, Yongshuo, Guangxi, China" title="Di Yulong Bridge, Yongshuo, Guangxi, China" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1530" /></p>
<p>Pernah lihat lukisan atau film-film mandarin dengan setting bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya? Gambar-gambar di lukisan itu bukan khayalan, bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya itu memang nyata dan benar-benar ada.</p>
<p>Guilin, adalah kota di China selatan yang memiliki lansekap cantik itu. Terletak di propinsi Guangxi, Guilin menjadi salah satu kota tujuan wisata dunia. Kota yang konon telah ada sejak zaman dinasti Qin, tahun 214 SM, dan baru &#8220;ditemukan&#8221; pada tahun 111 SM, memang sejak dulu terkenal. Sungai Li (Li Jiang) yang membelah kota dari utara ke selatan seakan menjadi denyut nadi kota berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa yang terdiri dari berbagai etnis China.</p>
<p><span id="more-1529"></span>Saya dan <a href="http://cornila.matriphe.com/" title="Cornila" target="_blank">Nila</a> mendarat di bandara Liangjiang yang terletak 30 km di sebelah barat pusat kota. Di pintu imigrasi, bayangan tertutupnya China tergambar dengan jelas dari muka-muka dingin petugas imigrasi. Namun begitu lolos dari pintu imigrasi, hawa-hawa dingin berubah drastis. Sapaan &#8220;hallo.. hallo..&#8221; dari calo-calo taksi atau agen travel menyapa hangat, menghapus rasa lelah setelah 4 jam duduk di bangku pesawat yang berangkat dari Kuala Lumpur jam 6 pagi. Ah, saya telah menginjakkan kaki di China.</p>
<p>Guilin pada saat kami berkunjung, yaitu bulan Juli, sedang panas-panasnya. Namun iklim dunia yang memang sedang berubah, membuat prediksi cuaca di Guilin pun sulit ditebak. Siang panas, sore bisa hujan kemudian tiba-tiba bisa panas lagi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/lalu-lintas.jpg" alt="Situasi lalu lintas di Guilin yang riuh." title="Situasi lalu lintas di Guilin yang riuh." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1531" /></p>
<p><a href="http://matriphe.posterous.com/lalu-lintas-di-guilin-china" title="Lalu Lintas di Guilin, China" target="_blank">Transportasi kota yang cukup riuh</a>, namun tidak sampai membuat emosi jiwa semacam di Jakarta. Pengendara sepeda motor bersliweran tanpa helm, bahkan mereka bebas wira-wiri di jalan tol. Pengemudi kendaraan bermotor di Guilin memang terkesan santai, lebih suka mengalah, sehingga seolah-olah tanpa menggunakan helm pun dijamin aman.</p>
<p><a href="http://matriphe.posterous.com/nge-charge-sepeda-motor" title="Nge-charge Sepeda Motor" target="_blank">Motor skutik dengan tenaga listrik</a> banyak bersliweran. Jumlahnya lebih banyak daripada sepeda motor berbahan bakar bensin. Karena ditenagai listrik, motor tersebut hampir tanpa suara, sehingga bila tak berhati-hati, kita bisa disambar oleh pengendara motor listrik. Saking senyapnya itu motor, seolah-olah mereka naik motor dan meluncur begitu saja.</p>
<p>Bentuk dan merk kendaraannya pun beragam. Lucu-lucu dan unik-unik. Bahkan ada anekdot, kita bisa saja bikin motor dengan merk nama kita sendiri.</p>
<p>Sepeda dan motor bisa dihitung hampir sama banyaknya. Meski ada jalur khusus motor dan sepeda, tak jarang kita liat sepeda dan  motor bersliweran di trotoar yang memang lapang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/zonghsan-nanlu.jpg" alt="di Zhongshan Nanlu (Jalan Zhongshan bagian selatan)" title="di Zhongshan Nanlu (Jalan Zhongshan bagian selatan)" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1532" /></p>
<p>Menyusuri Zhongshan Road, jalan protokol di Guilin yang paralel dengan Sungai Li, saya melihat berbagai toko berdiri di sampingnya. Jalan ini memang pusat perniagaan. Bau masakan babi langsung menyeruak. Pedagang yang menggunakan sepeda roda tiga berteriak dalam bahasa yang tidak saya mengerti menjajakan dagangan dengan mengawali dengan sapaan khas, &#8220;hello.. hello&#8221;. Orang-orang nampak santai dan cuek berjalan di trotoar. Ada yang berbaju rapi, bergaun, bahkan bertelanjang dada. </p>
<p>Cewek-cewek menggunakan <em>tank-top</em>, ber-<em>hot-pants</em>, serta mengenakan sepatu <em>high-heels</em> nampak santai berjalan memamerkan tubuh putih mulusnya. Coba kalo di Jakarta, cewek beginian sudah pasti dilecehkan dan bisa-bisa diperkosa.</p>
<p>Pria-pria di sini lebih luar biasa. Berjalan-jalan dengan telanjang dada, atau dengan menggulung baju ke atas memamerkan perut buncitnya, berjalan dengan cuek. Bahkan saya lihat pasangan, si istri berpakaian rapi dan cantik, si suami dengan cuek berjalan-jalan dengan telanjang dada, masuk ke dalam mall. Tak ada yang peduli, selama tidak saling mengganggu.</p>
<p>Bus-bus kota siap membawa kita menuju ke berbagai pelosok kota. Tinggal datang ke halte, tengok nomor bus yang berhenti di halte tersebut beserta <a href="http://matriphe.posterous.com/rute-bus-guilin" title="Rute Bus Guilin" target="_blank">rutenya</a>, maka kita pun bisa memutuskan untuk naik bus apa. Sayang tidak semua rute menuliskan aksara latin.</p>
<p>Penduduk Guilin pada umumnya tidak bisa berbahasa Inggris. Hanya orang-orang hostel atau travel agent saja yang biasanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Bahkan bahasa Inggris dasar macam, &#8220;do you speak English?&#8221; mereka tidak mengerti. Ketika kami memesan makanan di restoran cepat saji internasional (yang belakangan kami ketahui ternyata produknya tidak halal karena ayam tidak disembelih secara Islami) sama sekali tidak mengerti angka dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Soal bahasa ini kami punya <a href="http://cornila.matriphe.com/2010/08/03/tea-please/" title="Tea, Please" target="_blank">cerita lucu</a>. Ketika makan di sebuah <a href="http://matriphe.posterous.com/warung-halal-di-guilin-china" title="Warung Halal di Guilin, China" target="_blank">warung makan halal</a> (ada 3 warung makan halal di Guilin, salah satunya favorit kami ini karena harga murah dan lokasi yg dekat dengan penginapan) ketika kami minta teh kepada pelayannya, si pelayannya malah memberi garam pada air minum kami!</p>
<p>Bisa dimaklumi, karena mungkin kebijakan China yang tertutup, membuat informasi dari luar sulit diakses. Berbagai produk pun (termasuk produk impor), mulai dari <a href="http://matriphe.posterous.com/produk-made-in-china" title='Produk "Made in China"' target="_blank">produk makanan</a> hingga <a href="http://matriphe.posterous.com/lonely-planet-china" title="Lonely Planet China" target="_blank">buku</a> dituliskan dalam bahasa China, sehingga tak perlu lah menuliskannya dalam bahasa Inggris, maka rakyat pun bisa hidup tentram dan bahagia.</p>
<p>Tujuan wisata utama dari kota ini adalah denyut nadi kota itu sendiri, Sungai Li. Dengan menyusuri sungai Li, kita akan disuguhi pemandangan bukit-bukit karst yang seolah-olah saling bertonjolan satu sama lain. </p>
<p>Ada beberapa paket tur yang bisa dipilih, mulai dari yang murah (naik rakit bambu) hingga ke yang mahal, yaitu naik kapal wisata disertai dengan pemandu. Tour agent yang menawarkan paket wisata ini pun bisa dengan mudah ditemui di berbagai pelosok kota Guilin.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/twin-tower.jpg" alt="Pagoda Kembar Bulan dan Matahari di Danau Shan" title="Pagoda Kembar Bulan dan Matahari di Danau Shan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1534" /></p>
<p>Siang maupun malam, Sungai Li selalu ramai. Selain paket menyusuri Sungai Li hingga ke Yangshuo, kita juga bisa sekadar keliling kota lewat sungai. Two River and Four Lake Tour menjadi paket wisata favorit di malam hari. </p>
<p>Di tengah kota, terdapat 4 danau yang terbentuk dari 2 aliran sungai yang mengalir, yaitu Sungai Li dan Sungai Peach Blossom. Keempat danau yang terbentuk dari pertemuan dua sungai ini adalah Danau Shan, Danau Rong, Danau Gui, dan Danau Mulong. Dengan ikut tur ini, kita akan naik kapal wisata dan melihat beberapa landmark Guilin di malam hari, yaitu Pagoda Kembar Bulan dan Matahari di tengah danau Shan dan pagoda Mulong di pinggir danau Mulong. </p>
<p>Landmark lain yang juga menjadi tujuan wisata favorit turis adalah Elephant Trunk Hill. Disebut demikian karena bukit karst ini bentuknya memang mirip gajah yang sedang menjulurkan belalainya. Jaman dulu hingga sekarang, bukit ini digunakan untuk menyimpan arak khas Guilin ketika menjalani proses fermentasi.</p>
<p>Ruang penyimpanan ini berupa goa yang terletak di bagian &#8220;perut gajah&#8221;. Pas lewat di depan pintu goa penyimpanan arak, bau khas arak yang menyengat langsung tercium. Ketika saya mengintip ke dalam (karena pintu dikunci), suasana gelap dan setelah memotret dalamnya dengan bantuan lampu blitz, ternyata di dalamnya masih ada ruangan lagi.</p>
<p>Di dalam taman Elephant Trunk Hill, ada juga Museum of Wine. Di museum ini selain dipajang beberapa produk arak khas Guilin, juga menjual berbagai produk arak tersebut. Harganya cukup bervariasi, tergantung kualitas.</p>
<p>Saya sempat bergidik pas melihat sebuah gentong kaca besar, yang berisi ular, janin kuda, dan berbagai rempah yang direndam di dalam wine. Rupanya ini arak unik yang juga berfungsi sebagai obat. Sebelumnya saya sudah begidik melihat &#8220;<a href="http://matriphe.posterous.com/snake-wine" title="Snake Wine" target="_blank">snake wine</a>&#8220;, yaitu arak yang berasal dari rendaman kulit ular pas ikut Li River Cruise. Bule-bule aja juga gak doyan, begitu ngeliatnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/elephant-trunk-hill.jpg" alt="Di Elephant Trunk Hill" title="Di Elephant Trunk Hill" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1535" /></p>
<p>Banyak sekali <a href="http://matriphe.posterous.com/ruang-terbuka-hijau-di-guilin" title="Ruang Terbuka Hijau di Guilin" target="blank">ruang terbuka hijau</a> di sepanjang kota. Maklum saja, bukit-bukit karst setinggi 100 meter-an yang menonjol di tengah kota menjadi paru-paru kota. Di sepanjang bantaran sungai dibuat trotoar lebar dan bangku-bangku kota sehingga masyarakat bisa beraktivitas di sana, sekadar jalan-jalan sore atau menikmati kicauan burung dan suara tongeret.</p>
<p>Bahkan di jalan Zhongshan, ketika berjalan-jalan menyusuri barisan toko-toko, suara yang terdengar adalah suara tongeret! Mobil-mobil hampir tak bersuara, apalagi klakson. Coba kalo di Jakarta, suara klakson akan terdengar menyalak hampir tiap menit.</p>
<p>Setiap pagi dan sore, terlihat para manula yang sedang berjalan-jalan. Beberapa terlihat main kartu atau main mahyong duduk di bangku taman berteduh di bawah pohon rindang. Para manula beraktivitas di luar semacam <a href="http://matriphe.posterous.com/fitness-on-street" title="Fitness on Street" target="_blank">berolah raga</a> dan bermain musik agar badan mereka tetap bugar, dan mereka bermain mahyong untuk memelihara ingatan. Coba di sini, para manula hampir tak bisa beraktivitas apa-apa karena terlalu banyak diam di rumah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/aktivitas-outdoor.jpg" alt="Manula beraktivitas di ruang terbuka hijau" title="Manula beraktivitas di ruang terbuka hijau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1536" /></p>
<p>Taman-taman kota juga banyak. Memang ada ongkos masuk, namun ketika masuk di dalam, taman ini sangat luas dan banyak hal yang bisa kita lakukan. Kami pun sempat mendatangi beberapa taman yang ada di Guilin, beberapa di antaranya menjadi kawasan wisata komersial. Taman-taman itu adalah Xi Shan Park, Seven Star Scenic Area, Reed Flute Cave Park, Solitary Beauty Peak, Elephant Trunk Hill, dan Yao Shan Park. Sedangkan beberapa tempat yang belum sempat dikunjungi adalah Hei Hill Botanical Garden, Nanxi Park,  Guilin National Forrest Park, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Guilin adalah kota pariwisata. Setiap tahun, Guilin dikunjungi 15 juta orang. Segala hal bisa dijadikan obyek wisata. Mereka sadar akan potensinya, kemudian mengemas dan membangun infrastruktur pendukung, kemudian menjualnya. </p>
<p>Mereka juga tidak segan-segan untuk memperingatkan para wisatawan tentang hal-hal negatif yang mungkin terjadi, misalnya, ketika di pasar, wisatawan disarankan untuk menawar harga hingga separo, kemudian waspada terhadap uang palsu, dan juga bila disapa oleh orang tak dikenal sebaiknya diabaikan (karena biasanya mereka pemandu lokal abal-abal yang suka menyesatkan wisatawan).</p>
<p>Sebagai wisatawan, saya merasa aman dan <em>well-informed</em>, sehingga bisa waspada akan hal-hal negatif tersebut. Ini yang saya salut, mereka tidak malu bahwa ada hal-hal negatif namun mereka mengatasinya dengan memberikan informasi dan peringatan.</p>
<p>Saya sampai iri. Kapan Indonesia bisa seperti ini?</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/08/guilin-dari-atas.jpg" alt="Pemandangan Kota Guilin dari Guangming Hill, Reed Flute Cave" title="Pemandangan Kota Guilin dari Guangming Hill, Reed Flute Cave" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1537" /></p>
<p>Website informasi tentang Guilin:</p>
<ol>
<li><a href="http://www.visitguilin.org/" title="Visit Guilin - Guilin's Official Tourism Website" target="_blank">Visit Guilin &#8211; Guilin&#8217;s Official Tourism Website</a>: web resmi pariwisata Guilin yang lengkap. Dari website ini saya bisa tau gambaran umum di Guilin, terutama dari sisi akomodasi dan transportasinya. Di Indonesia, ada ndak ya website resmi tujuan wisata yang punya informasi lengkap semacam ini?</li>
<li><a href="http://wikitravel.org/en/Guilin" title="Guili Travel Guide" target="_blank">WikiTravel &#8211; Guilin</a>: situs Wiki yang berguna sangat. Menampilkan informasi yang hampir detail, membacanya mirip membaca buku Lonely Planet.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-guilin-china.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengurus Visa China</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/mengurus-visa-china.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/mengurus-visa-china.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 14:10:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Panduan, Tips & Trik]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[paspor]]></category>
		<category><![CDATA[visa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1527</guid>
		<description><![CDATA[China adalah salah satu negara yang “cukup seram” dalam benak saya. Latar belakangnya yang komunis plus berita-berita tentang betapa “tertutupnya” negara itu, memberikan kesan bahwa untuk bepergian ke sana cukup sulit. Namun ternyata kesempatan untuk menginjakkan kaki ke negara berpenduduk terbanyak di dunia itu pun datang. Tentu saja “bayangan seram” tersebut menghantui saya ketika akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/07/visa-china.jpg" alt="Visa L China" title="Visa L China" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1528" /></p>
<p>China adalah salah satu negara yang “cukup seram” dalam benak saya. Latar belakangnya yang komunis plus berita-berita tentang betapa “tertutupnya” negara itu, memberikan kesan bahwa untuk bepergian ke sana cukup sulit. Namun ternyata kesempatan untuk menginjakkan kaki ke negara berpenduduk terbanyak di dunia itu pun datang.</p>
<p>Tentu saja “bayangan seram” tersebut menghantui saya ketika akan mengurus visa China. Setelah googling tentang cara mengurus visa China, saya pun akhirnya memantapkan diri untuk datang dan mengurus sendiri. Bayangan saya akan betapa seramnya mengurus visa, musnah dan sirna seketika!</p>
<p><span id="more-1527"></span>Visa China tidak diurus di kantor Kedutaan Besar China, namun ditangani oleh pihak “ketiga”, yaitu <a href="http://www.visaforchina.org/visa/" title="Chinese Visa Application Service Center (CVASC)" target="blank">Chinese Visa Application Service Center (CVASC)</a> yang berada di lantai 2 gedung The East, Jalan Lingkar Mega Kuningan, Jakarta. CVASC juga memiliki jaringan di berbagai negara.</p>
<p>Ada beberapa jenis visa, yaitu visa turis dan keluarga (L-visa), visa bisnis (F-visa), visa pelajar (X-visa), visa kerja (Z-visa), visa transit (G-visa), visa awak transportasi (C-visa), visa jurnalis (J-visa),  dan visa penduduk (D-visa). Berdasar jumlah kunjungan, visa China dibagi menjadi 3, yaitu visa <em>single entry</em>, visa <em>double entry</em>, dan visa <em>multiple entry</em>.</p>
<p>Visa <em>single entry</em> diperuntukkan bagi mereka yang mengunjungi China satu kali dalam jangka waktu 3 bulan sejak diurusnya visa. Visa <em>double entry</em> digunakan jika akan mengunjungi China sebanyak 2 kali dalam waktu 3 bulan setelah visa terbit. Misalnya jika kita bepergian dari China kemudian menyeberang ke Hong Kong, Macau, atau Taiwan, kemudian kembali lagi ke China, maka yang dipakai adalah visa <em>double entry</em>. Visa <em>multiple entry</em>, sesuai namanya, digunakan untuk mereka yang akan sering keluar masuk ke China dalam jangka waktu 3 bulan sejak diurusnya visa.</p>
<p>Masing-masing visa memiliki prosedur pengurusan yang berbeda. Pada tulisan ini, saya menuliskan prosedur pembuatan visa wisata dan kunjunga keluarga (L-visa).</p>
<p>Biaya visa ditentukan dari jumlah kunjungan. Untuk warga negsara Indonesia, besarnya Rp 300.000 (<em>single entry</em>), Rp 450.000 (<em>double entry</em>), dan Rp 600.000 (<em>multiple entry</em>). Waktu pemrosesan secara normal, memakan waktu selama 4 hari. Namun bila ingin dipercepat, ada biaya tambahan.</p>
<p>Mulai tanggal 3 Maret 2010, CVASC mengenakan biaya pemrosesan yang juga disesuaikan dengan waktu pemrosesan visa. Makin cepat, biayanya makin mahal. Untuk yang biasa (proses 4 hari kerja) bayarnya Rp 240.000, untuk yang besok jadi bayarnya Rp 400.000 dan untuk yang langsung jadi biayanya Rp 500.000.</p>
<p>Biaya pembuatan visa adalah biaya visa ditambah biaya pemrosesan. Karena saya tidak terburu-buru, saya memilih mengurus visa biasa dengan 4 hari kerja, maka biaya yang harus saya keluarkan adalah Rp 300.000 ditambah Rp 240.000 menjadi Rp 540.000.</p>
<p>Untuk tabel biaya lengkapnya, <a href="http://www.visaforchina.co.id/visaen/visaView.html?method=readNotify&#038;notifyId=1118#Menu=ChildMenu2" title="Schedule of Fees" target="_blank">silakan klik tautan berikut</a>.</p>
<p>Saya benar-benar kagum atas pelayanan CVASC ini. Beda banget dari model-model birokrasi lemot macam di institusi pemerintahan. Ada nomor antrian, loket-loket layanan ada sepuluh yang semuanya ada pelayannya ramah dan siap melayani (and they&#8217;re good looking), tempat duduk untuk menunggu yang nyaman, serta formulir gratis dan papan petunjuk yang lengkap amat sangat membantu.</p>
<p>Begitu datang dan bertanya pada satpam, saya langsung dipersilakan membaca papan petunjuk. Dokumen yang disiapkan pun cukup simpel, paspor yang masih berlaku (minimal 6 bulan dari tanggal kadaluarsa), pas foto 4&#215;6 dengan latar belakang putih (pas foto untuk visa sebaiknya berlatar belakang putih), dan mengisi formulir. Formulir gratis dan tersedia pulpen. Kita juga bisa <a href="http://www.visaforchina.co.id/visaen/visaView.html?method=readNotify&#038;notifyId=1121#Menu=ChildMenu2" title="Forms for Download " target="_blank">mengunduh formulir tersebut dari situsnya</a>.</p>
<p>Setelah dokumen lengkap, saya kemudian mengambil nomor antrian, duduk sebentar, dan menyerahkan formulir aplikasi. Setelah dicek dan diterima, saya mendapat semacam bukti pengambilan paspor pada tanggal yang telah ditentukan.</p>
<p>Tidak ada wawancara, itulah enaknya ketika mengurus visa China. Padahal saya sudah mempersiapkan diri kalo memang ada wawancara. Apalagi saya tidak bisa berbahasa Mandarin. Taunya cuma “<em>ni hao ma</em>” dan “<em>wo ai ni</em>”doang.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Setelah dokumen diserahkan, tugas kita cuma menunggu pemrosesan, kemudian pada tanggal yang ditentukan datang ke CVASC, membayar biaya pemrosesan visa, dan paspor yang sudah ditempeli visa kembali ke tangan kita.</p>
<p>Masa berlaku visa adalah 3 bulan sejak tanggal dikeluarkannya visa. Lama tinggal di China adalah 30 hari sejak dia masuk China dan selama belum habis masa berlakunya Visa.</p>
<p>Jam operasional CVASC adalah hari kerja (Senin-Jumat) mulai dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore untuk penyerahan dokumen dan jam 9 pagi hingga jam 4 sore untuk pembayaran dan pengambilan visa.</p>
<p>Oiya, ada sedikit tips. Jika Anda adalah jurnalis dan mengurus visa untuk wisata, sebaiknya tidak mencantumkan profesi Anda yang bekerja sebagai jurnalis atau pekerja media. Ini kemungkinan dikarenakan sifat negara China yang di bidang politik sangat tertutup.</p>
<p>Selain itu, perosedur pengurusan visanya akan berbeda. Jika Anda menyantumkan profesi ini, Anda akan dimintai surat keterangan untuk tidak melakukan peliputan yang harus diurus oleh kantor Anda. Ini pun belum tentu nanti visa bisa keluar atau tidak (menurut pengalaman teman-teman wartawan saya, kecil kemungkinannya visa disetujui). Sebaiknya, mengaku sebagai wirausaha atau pekerja swasta saja. Bila ditanya bekerja di bidang apa, sebutkan saja bidang lain selain media. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Simak juga <a href="http://cornila.matriphe.com/2010/07/17/paspor-visa-dan-imigrasi/" title="Paspor, Visa, dan Imigrasi" target="_blank">pengalaman mengurus visa</a> dari rekan seperjalanan saya yang seorang jurnalis. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Zhu ni hao yun! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<blockquote><p>Chinese Visa Application Service Center Jakarta<br />
Unit 6, 2nd Floor East Building,s<br />
Jl. Lingkar Mega Kuningan Blok E.3.2 Kav 1<br />
Jakarta 12950, Indonesia<br />
Telp: 021-579-38655<br />
Fax: 021-579-38659<br />
E-mail:jakartacentre@visaforchina.org</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/mengurus-visa-china.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Sawarna</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 07:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Bayah]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sawarna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1513</guid>
		<description><![CDATA[Jawa Barat bagian selatan dan Banten masih menyimpan banyak pesona. Lokasinya yang cukup sulit dijangkau karena prasarana yang kurang, membuat alam dan pemandangannya seperti tak pernah terjamah. A hidden paradise. Salah satunya adalah pantai-pantai di kawasan Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, yang menjadi salah satu favorit para surfer asing sejak tahun 2005, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/lagun-pari.jpg" alt="Di Pantai Lagun Pari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1514" /></p>
<p>Jawa Barat bagian selatan dan Banten masih menyimpan banyak pesona. Lokasinya yang cukup sulit dijangkau karena prasarana yang kurang, membuat alam dan pemandangannya seperti tak pernah terjamah. <em>A hidden paradise</em>.</p>
<p>Salah satunya adalah pantai-pantai di kawasan Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, yang menjadi salah satu favorit para <em>surfer</em> asing sejak tahun 2005, karena karakteristik pantainya curam dan memiliki ombak besar. Bahkan para bule ini betah tinggal hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan karena penasaran dengan ombak di pantai ini, tentunya selain karena kawasan ini masih sangat sepi.</p>
<p><span id="more-1513"></span>Tanpa rencana, kami pun berangkat ke Sawarna. Berbekal informasi minim dari teman yang pernah ke sana, kami pun &#8220;napak tilas&#8221; mengikuti rutenya (yang belakangan kami ketahui bahwa rute ini untuk <em>masokis-traveler</em> &ndash; pelancong yang doyan menyiksa dirinya sendiri demi mencapai tujuan), melahap jalur Jakarta-Serang-Malingping-Bayah-Sawarna yang memakan waktu hingga 9 jam!</p>
<p>Padahal jalur ke Sawarna bisa ditempuh dengan menumpang kendaraan umum ke Pelabuhan Ratu (biasanya ke Bogor dulu, kemudian naik bus MGI ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi), kemudian dilanjut naik Elf atau angkot lain ke Bayah atau langsung ke Sawarna.</p>
<p>Namun meski kami tersiksa karena selama 4 jam berdesak-desakan di dalam Elf yang melahap jalan rusak parah dari Terminal Pakupatan, Serang, Banten menuju Malingping, kami merasa enjoy saja. Bahkan kami sempat sesumbar, kalo ke Sawarna ndak melewati rute Malingping, belum ke Sawarna (dengan tujuan agar pelancong lain merasakan penderitaan kami, heheh).</p>
<p>Kami berangkat dari Slipi Jaya, menumpang bus jurusan Merak dan turun di Terminal Pakupatan, Serang, Banten. Perjalanan sekitar 2 jam hingga ke Serang dengan ongkos 18 rebu untuk bus AC. Dari Terminal Pakupatan, kami naik Elf ke Malingping, yang kampretnya itu Elf banyak ngetem dan mematok harga lebih mahal, yang seharusnya 20 ribu menjadi 30 ribu rupiah.</p>
<p>Jalanan rusak dimulai di sekitar Saketi, Pandeglang, Banten, dan terus berlanjut hingga Malingping. Menurut cerita orang-orang, dana pembangunan jalan banyak dikorupsi, sehingga pantas saja jalannya ancur begitu.</p>
<p>Di beberapa ruas, memang ada perbaikan, yaitu dengan membangun jalanan beton. Namun lagi-lagi menurut informasi, yang membangun jalan tersebut adalah pihak swasta yang memang berkepentingan untuk memudahkan akses ke lokasi penambangan emas. Pandeglang memang salah satu daerah penghasil emas di Banten.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/di-angkot.jpg" alt="Di dalam angkot" title="Di dalam angkot" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1526" /></p>
<p>Begitu turun di Pasar Malingping, kami harus berganti angkot ke Bayah (ongkosnya sekitar 10-15 ribu per orang), dan dari Bayah disambung naik ojek dengan ongkos sekitar 20 ribu per orang. Namun begitu turun dari Elf, kami langsung ditawari carter angkot dengan harga 150 ribu dan diantar sampai Sawarna.</p>
<p>Setelah dipikir-pikir, ongkos nyarter angkot ndak jauh beda dengan <em>ngeteng</em>, akhirnya kami menyarter angkot tersebut. Dari Pasar Malingping menuju Bayah, jalannya bagus dengan aspal mulus, Beda banget dengan rute Serang-Malingping, terutama di kawasan Kab. Pandeglang, Banten, yang rusak parah.</p>
<p>Perjalanan dari Malingping ke Sawarna memakan waktu sekitar 2 jam. Perjalanan kami pun bukannya tanpa hambatan, di tengah-tengah tanjakan berkelok dan sempit, selepas Terminal Bayah dan mulai masuk daerah Ciantir yang masih berupa hutan, angkot yang kami tumpangi bermasalah. Karena hujan mengguyur, entah gimana ceritanya mesin kemasukan air sehingga beberapa kali mobil harus berhenti untuk mengeringkan air. Masih untung kami tidak diminta turun dan membantu mendorong mobil.</p>
<p>Meski begitu, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan tiada dua. Menyusuri jalan di yang tepat berada di pinggir tebing yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, memberikan pemandangan luar biasa.</p>
<p>Setelah mengalami perjalanan yang cukup mendebarkan, karena angkot yang gak beres jalan di tengah hutan pada saat hujan, kami pun tiba di Desa Wisata Ciantir, Kampung Cikaung, Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, tujuan kami akan menginap. Desa ini memang kerap menjadi lokasi menginap karena selain lokasinya yang sangat dekat dengan pantai, juga suasana pedesaan yang ramah kepada wisatawan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/jembatan-gantung.jpg" alt="Jembatan gantung menuju Sawarna" title="Jembatan gantung menuju Sawarna" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1515" /></p>
<p>Sebelum masuk ke desa, kami harus melewati jembatan gantung yang sekilas sangat tidak meyakinkan. Jembatan ini melintasi Sungai Sawarna, yang menjadi asal nama dari desa ini. Di mulut jembatan, kami dimintai ongkos retribusi sebesar 2 ribu rupiah per orang.</p>
<p>Setelah berjalan sekitar 500 meter dari jembatan gantung kami menuju ke Widi&#8217;s Homestay yang dimiliki oleh Pak Ade (081911282912). Pak Ade memang sangat terkenal di Sawarna. Banyak para pejalan dan backpacker yang menginap di tempatnya. Dengan memanfaatkan rumahnya dan rumah saudara-saudaranya, Pak Ade menampung tamu-tamu dan melayaninya dengan baik.</p>
<p>Dengan konsep sesuai namanya, homestay, tamu menginap di kamar-kamar yang disediakan, plus disediakan makan pagi-siang-malam yang dilakukan swalayan di ruang makan. Ingin kopi, teh, disediakan air panas dan silakan bikin sendiri. Kalo masih pengen sesuatu yang lain, Indomie Rebus Telur misalnya, tinggal pesan ke warung kelontong di depan rumah yang dikelola oleh puteri Pak Ade.</p>
<p>Ongkos menginapnya cukup mahal, 60 ribu per orang. Kami cukup beruntung, karena saat kami datang, tamu sedang banyak. Kami masih mendapat tempat dan kami satu rumah dengan para bule surfer. Beberapa rombongan yang datang bahkan mendapat tempat yang lokasinya agak jauh dari pantai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/menuju-desa.jpg" alt="Pemandangan sawah di sepanjang jalan desa" title="Pemandangan sawah di sepanjang jalan desa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1519" /></p>
<p>Makin sore, hujan makin menderas. Untung kami sudah sampai di penginapan yang hangat, setelah sebelumnya sempat menikmati suasana sunset di Pantai Ciantir yang menjadi favorit para surfer. Bercengkrama menikmati suasana sepi pedesaan memang menjadi suasana yang &#8220;mahal&#8221; bagi &#8220;orang kota&#8221;.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-ciantir.jpg" alt="Senja di Pantai Ciantir yang mendung" title="Senja di Pantai Ciantir yang mendung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1516" /></p>
<p>Kami bercengkrama dengan Pak Ade pada malam hari. Pak Ade dan istrinya begitu total melayani tamu, mempersiapkan kebutuhan tamu, hingga menemani ngobrol. Dari Pak Ade, kami mendengar cerita tentang asal-usul nama Sawarna.</p>
<p>Saya mengira nama &#8220;sawarna&#8221; berasal dari kata &#8220;satu warna&#8221;, namun ternyata bukan itu. Memang banyak versi cerita yang mendasari asal-usul nama Sawarna, salah satunya adalah ketika seseorang bernama Suwarna Dwipa dan anak buahnya yang menemukan daerah ini setelah berlayar dan terdampar di pantai.</p>
<p>Suwarna pun kemudian membuka hutan dan tinggal di kawasan pantai. Kapalnya yang hancur ditinggalkan dan konon dari layar kapal yang ditinggalkan di pantai karena hancur terkena badai hingga terdampar, terbentuklah karang yang disebut dengan Karang Layar. Karang Layar adalah landmark dari pantai Tanjung Layar, yang kalo digambar di peta, berada di ujung selatan garis pantai.</p>
<p>Nah, suatu ketika, putera Suwarna Dwipa ini sedang asyik main-main di sungai, tenggelam dan terbawa arus sungai. Sungai yang menenggelamkan putera Suwarna Dwipa ini adalah sungai yang dilintasi oleh jembatan gantung yang berada di pintu masuk desa. Sungai ini kemudian disebut dengan sungai Sawarna, yang berasal dari nama Suwarna, dan akhirnya menjadi nama desa.</p>
<p>Pagi-pagi sekali kami bangun. Posisi pantai yang menghadap ke barat jelas tak memungkinkan kami mendapat sunrise. Kami cuma bisa menikmati pemandangan kehidupan pedesaan di pagi hari: orang-orang pergi ke sawah yang terletak berdampingan dengan pasir pantai, ke ladang kelapa yang banyak berdiri berjajar di sepanjang pantai, ditambah para bule bersliweran mengusung papan surfing.</p>
<p>Setelah berburu sunrise, berjalan-jalan sebentar, menikmati nasi uduk bikinan istri Pak Ade, kami memulai tracking. Dengan dipandu oleh Mas Yudha, putera Pak Ade, kami akan diajak menyusuri Gua Lalay, trekking mendaki Bukit Cimonyet, berenang-renang di Pantai Lagun Pari, menyusuri pantai hingga ke Tanjung Layar, sebelum kembali ke penginapan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pemandangan-pagie.jpg" alt="Sunrise hunter" title="Sunrise hunter" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1520" /></p>
<p>Rute tersebut dipilih mengingat ketika siang, air laut akan surut, sehingga kita bisa berjalan di atas karang pantai dan bisa bermain-main di sekitar Pantai Tanjung Karang.</p>
<p>Mas Yudha sendiri adalah seorang surfer. Sejak usia 18 tahun, dia belajar surfing secara otodidak. Di kawasan Sawarna, Mas Yudha termasuk salah satu surver senior dan trainer. Bahkan dia sudah dikontrak oleh Billabong, salah satu brand yang memproduksi peralatan surfing, untuk jadi salah satu peselancarnya. Foto Mas Yudha yang sedang menaiki ombak dengan papan seluncur juga disablon pada dinding mug untuk suvenir.</p>
<p>Tujuan pertama kami adalah Goa Lalay. Untuk menuju ke sini, kami berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,5 Km. Goa Lalay merupakan salah satu dari 28 goa yang ada di Sawarna. Menurut cerita Pak Ade, goa ini pernah coba ditelusuri oleh mahasiswa dari Mapala UI, namun setelah 2 hari, belum ditemukan juga ujungnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/di-dalam-goa-lalay.jpg" alt="Di dalam Goa Lalay" title="Di dalam Goa Lalay" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1524" /></p>
<p>Disebut dengan Goa Lalay karena di goa ini banyak ditemukan kelelawar (lalay, dalam Bahasa Sunda). Sebuah penamaan yang sangat sederhana. Goa ini bila dilihat dari segi geologis, termasuk dalam tipe goa yang biasa ditemukan. Terbentuk dari bebatuan dan tanah  yang terlarut oleh air yang kemudian air mengalir membentuk sungai bawah tanah.</p>
<p>Memasuki Goa Lalay, kami harus bertelanjang kaki. Selain karena licin, lumpur halus hasil endapan tanah yang membentuk goa setebal hingga paha membuat penelusuran goa menjadi sedikit terhambat. Dengan menggunakan penerangan lampu petromaks, kami mengikuti Mas Yudha agar tidak tersesat di dalam goa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/tanjakan-cimonyet.jpg" alt="Tanjakan Cimonyet" title="Tanjakan Cimonyet" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1522" /></p>
<p>Sekitar 500 meter dari mulut goa, kami sampai di salah satu <em>chamber</em> alias &#8220;ruangan&#8221; di dalam goa. Menurut Mas Yudha, yang sudah ditemukan ada 7 chamber, dan kami baru masuk ke <em>chamber</em> pertama.</p>
<p>Hamparan stalaktit dan stalagmit yang masih aktif menjadi pemandangan yang menyenangkan. Di beberapa sudut tercium bau kotoran kelelawar yang sangat tidak menyenangkan.</p>
<p>Keluar dari goa, kami diminta ongkos retribusi masuk sebesar 2.500 rupiah per orang oleh karang taruna desa. Padahal ketika kami datang, tidak ada seorang pun yang jaga, tiba-tiba aja mereka nongol gitu.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan dengan meniti pematang sawah, menyeberangi sungai, mendaki bukit, menuruni lembah. Kami sampai di sebuah tanjakan sempit dan terjal dengan air mengalir di jalurnya, sehingga tanjakan ini sekilas mirip air terjun mini. Tanjakan ini disebut dengan Tanjakan Cimonyet, merupakan jalur yang harus dilalui untuk menuju Bukit Cimonyet.</p>
<p>Dahulu di hutan ini memang banyak terdapat monyet, sehingga dinamakan Bukit Cimonyet. Namun candaan kami, nama Cimonyet cocok disematkan karena ketika mendaki ke bukit dan menuruni bukit ini, kami harus mengumpat, &#8220;monyet!&#8221;, akibat terjalnya medan dan licinnya turunan hingga beberapa kali kami jatuh terpeleset.</p>
<p>Setelah melahap tanjakan dan turunan Bukit Cimonyet yang curam, plus badan bau karena beberapa kali terjerembab ke dalam lumpur licin dan basah, kami pun akhirnya sampai ke Pantai Lagun Pari. Di sekitar pantai ini, terdapat banyak rumah-rumah dan gubuk tempat membuat gula kelapa.</p>
<p>Gula kelapa dibuat dengan mengambil nira yang berasal dari air sadapan tongkol bunga kelapa (manggar). Para petani memanjat pohon kelapa, menyadap air dari bunga kelapa yang sudah cukup umur dan menyimpannya dalam wadah bambu. Nira kemudian dibersihkan dari kotoran dan disaring, kemudian direbus hingga nira mengental. Setelah nira mengental dan berwarna kecoklatan, nira pekat dan cair ini kemudian dicetak menggunakan batok-batok kelapa atau cincin-cincin bambu.</p>
<p>Sayang sekali, ketika kami tiba di tempat produksi gula kelapa ini, kegiatan pembuatan sudah selesai. Kami cuma melihat para pekerja yang sedang beristirahat.</p>
<p>Begitu melihat air laut dan ombak, kami langsung kalap. Apalagi badan kotor akibat lumpur bau, menyebabkan kami ingin segera mandi-mandi di laut.</p>
<p>Byur!! Ombak setinggi 1 meter langsung menerjang badan. Ombak di Pantai Lagun Pari yang berbentuk teluk ini memang besar dan tinggi. Namun meski begitu, bermain-main air di pantai ini bisa dibilang aman karena permukaan pantainya landai. Berbeda dengan pantai Ciantir yang permukaan pantainya curam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/ombak-lagun-pari.jpg" alt="Ombak besar Pantai Lagun Pari" title="Ombak besar Pantai Lagun Pari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1523" /></p>
<p>Lelah bermain-main air, kami pun mentas. Sembari beristirahat, kami ditawari kelapa muda. Yang istimewa, kelapa ini langsung dipetik dari pohonnya. Tentu sensasinya berbeda, menikmati air kelapa dan makan daging kelapa yang baru saja dipetik dari pohon. Untuk sebutir kelapa muda segar langsung petik dari pohon, kami cukup merogoh kocek 5 ribu rupiah per buah. Sangat murah!</p>
<p>Matahari mulai terik ketika kami menyusuri pantai. Air laut telah surut, membuka tabir-tabir karang yang berundak. Karang-karang berundak yang menyerupai tangga sepanjang pantai ini kemudian diberi nama Karang Teraje (d bahasa Sunda, teraje berarti tangga).</p>
<p>Beberapa kali saya melihat ikan-ikan terjebak dalam lubang-lubang karang, yang oleh penduduk setempat dapat dengan mudah diambil dan diburu. Di kejauhan, ombak-ombak besar datang menghantam bibir karang, sehingga terciptalah cipratan karang yang dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/karang-teraje.jpg" alt="Ombak besar Karang Teraje" title="Ombak besar Karang Teraje" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1525" /></p>
<p>Lepas dari Karang Teraje, kami sampai di sebuah &#8220;tikungan&#8221;. Sebuah &#8220;panggung&#8221; besar nampak berdiri megah menjorok ke laut. Karang Palistir adalah nama &#8220;panggung&#8221; megah ini. Dari atas karang muncul cucuran-cucuran air yang mengalir ke bawah, air ini berasal dari sisa ombak yang terjebak dalam lipatan-lipatan batunya.</p>
<p>Dan itu dia! Landmark megah Karang Layar mulai nampak. Karang setinggi sekitar 4 meter ini menjadi tujuan akhir dari trekking kami. Matahari sudah mencapai atas kepala, sehingga kami tidak berlama-lama bermain di Pantai Tanjung Layar ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-tanjung-layar.jpg" alt="di Pantai Tanjung Layar" title="di Pantai Tanjung Layar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1517" /></p>
<p>Kami kembali ke penginapan lagi-lagi dengan trekking. Melewati perkebunan kelapa yang berjajar rapi, melihat gerombolan kambing dan kerbau gembalaan penduduk, kami pulang. Rasa capek baru terasa ketika menyusuri jalan tanah setapak. Pantas saja, rute trekking kami bisa dibilang cukup jauh, sekitar 6 km!</p>
<p>Untuk mengetahui rute trekking kami, silakan liat di <a href="http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF8&#038;hl=en&#038;msa=0&#038;msid=100272502380624460749.000489731df130ec6b18f&#038;ll=-6.986236,106.314483&#038;spn=0.018487,0.038581&#038;t=h&#038;z=15" title="Sawarna Tracking Route" target="_blank">peta berikut</a>.</p>
<p>Setelah mandi-mandi dan berkemas, kami pun pulang menggunakan mobil carteran seharga 750 ribu yang akan mengantar kami sampai Jakarta melalui rute Sukabumi. Bila dihitung-hitung, carter mobil memang lebih murah karena untuk ngeteng dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu dilanjut ke Bogor kemudian ke Jakarta, selain ongkosnya hampir sama, waktu tempuh juga lebih lama.</p>
<p>Ongkos dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu sekitar 25 ribu, plus bus dari Pelabuhan Ratu ke Bogor adalah 25-35 rebu, kemudian bus dari Bogor ke Jakarta sekitar 12 rebu. Bila carter, per orang cuma keluar biaya 100 rebuan, plus bebas macet di Sukabumi karena sopir kami tau rute alternatif untuk menghindari macet.</p>
<p>Kami sampai di Jakarta lebih cepat, cuma makan waktu 5 jam bila dibandingkan ketika berangkat yang memakan waktu hingga 9 jam.</p>
<p>Baca juga:</p>
<ul>
<li><a href="http://cornila.matriphe.com/2010/06/14/ragam-wisata-sawarna/" title="Ragam Wisata Sawarna" target="_blank">Ragam Wisata Sawarna</a></li>
<li><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=130368203649490&#038;id=1074934683" title="warna warni sawarna" target="_blank">warna warni sawarna</a> (Facebook Notes)</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pulau Kelapa-Pulau Harapan, Kepulauan Seribu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 05:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Bira Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Harapan]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kayu Angin]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kelapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1495</guid>
		<description><![CDATA[Kepulauan Seribu masih punya banyak pesona. Meski hanya berjumlah 342 buah pulau, rasanya masih ada saja hal unik dan menarik yang bisa ditemukan di sana. Kali ini saya mengunjungi Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, di gugus utara Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa? Ya, itu lah nama pulau yang konon bisa merayu, seperti dalam lagu ciptaan Ismail [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/selamat-datang.jpg" alt="Dermaga Pulau Harapan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1504" /></p>
<p>Kepulauan Seribu masih punya banyak pesona. Meski hanya berjumlah 342 buah pulau, rasanya masih ada saja hal unik dan menarik yang bisa ditemukan di sana.</p>
<p>Kali ini saya mengunjungi Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, di gugus utara Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa? Ya, itu lah nama pulau yang konon bisa merayu, seperti dalam lagu ciptaan Ismail Marzuki, &#8220;Rayuan Pulau Kelapa&#8221;, yang menjadi lagu nasional itu.</p>
<p>Walau dalam lirik lagu &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=doKGDdW0r1Q" title="Rayuan Pulau Kelapa: Indonesia " target="_blank">Rayuan Pulau Kelapa</a>&#8221; berisi puji-pujian dan gambaran indahnya Indonesia, rupanya keadaan Pulau Kelapa tidak sepenuhnya sesuai dengan lirik lagu. Dalam pandangan umum saya, pulau ini terlihat lebih gersang daripada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html" title="Jeng-Jeng Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu">Pulau Pramuka</a> atau <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html" title="Jeng-Jeng Pulau Tidung, Kepulauan Seribu">Pulau Tidung</a>.</p>
<p><span id="more-1495"></span>Tiba di dermaga Pulau Kelapa yang lautnya berwarna tosca, kami disambut oleh jajaran tukang becak yang menawarkan jasanya. Panas begitu terik, namun tak menyurutkan semangat kami ketika menginjakkan kaki setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kurang lebih tiga setengah jam duduk terpanggang matahari di atas atap kapal motor yang berangkat dari dermaga Muara Baru, Muara Angke jam 7:30 pagi.</p>
<p>Dengan sopan kami menolak tawaran becak-becak tersebut dan memilih mampir di sebuah warung makan di ujung dermaga. Selain untuk mengisi perut, kami juga ingin mengorek informasi penginapan dari pemilik warung di pulau ini, karena memang lagi-lagi kami berangkat dengan nekat, tanpa rencana atau tujuan, pokoknya segera angkat pantat dari sumpeknya Jakarta.</p>
<p>La gimana tidak, kami cuma bermodal nanya ke tukang kapal, &#8220;Bang, ini kapal berangkat ke mana?&#8221;. Begitu mendengar mo ke Pulau Kelapa, kami pun langsung naik tanpa pikir panjang.</p>
<p>Saya menduga <a href="http://matriphe.posterous.com/becak-di-jakarta" title="Becak di Jakarta?" target="_blank">becak-becak</a> ini berasal dari Jakarta, yang dilarang beroperasi di Jakarta pada tahun 1994. Becak-becak itu sebagian besar ditenggelamkan di laut Jawa, namun sebagian yang tidak ditenggelamkan diangkut ke sini.</p>
<p>Dari keterangan pemilik warung, yang menunya sangat-sangat sederhana, yaitu hidangan ikan laut, kami mendapat keterangan untuk menginap dengan menyewa sebuah rumah milik Pak Haji Asmawi (08176662315) yang berada di Pulau Harapan.</p>
<p>Awalnya kami bingung ketika disarankan untuk naik becak atau berjalan kaki saja ke Pulau Harapan, karena kami kira kami harus menyeberang pulau menggunakan kapal. Ternyata ada sebuah jalan berpaving block yang sangat bagus yang menghubungkan kedua pulau, yang dibangun di atas karang yang telah direklamasi dengan menimbun batu-batu beton di atas karang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/deretan-becak.jpg" alt="Deretan becak di dermaga Pulau Kelapa" title="Deretan becak di dermaga Pulau Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1505" /></p>
<p>Hanya 10 menit dari dermaga Pulau Kelapa, kami sampai di gerbang Kelurahan Pulau Harapan, yang bersama dengan Pulau Kelapa masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kab. Administratif Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.</p>
<p>Di beberapa sudut pulau, saya mendengar dialek bahasa Bugis. Unik, karena meski masuk dalam wilayah DKI Jakarta, justru suku Bugis yang sejak dulu terkenal sebagai pelaut ulung, merupakan suku yang dominan mendiami pulau ini setelah suku Jawa dan Betawi.</p>
<p>Yang mengesankan lagi, meski berbeda pulau, penduduk di sini saling mengenal satu sama lain, sehingga ketika kami bertanya rumah Pak H. Asmawi yang akan kami inapi, penduduk sekitar dengan mudah menunjukkannya, bahkan mengantarkan kami.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/instalasi-air-bersih.jpg" alt="Instalasi pengolahan air tawar di Pulau Kelapa" title="Instalasi pengolahan air tawar di Pulau Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1507" /></p>
<p>Kami menyewa sebuah rumah berdinding tembok yang baru selesai dibangun milik Pak Asmawi. Biayanya 250 ribu rupiah semalam dengan fasilitas AC, tempat tidur, televisi, kipas angin, dan sekardus air minum kemasan.</p>
<p>Namun meski ber-AC, listrik hanya nyala pada pukul 4 sore hingga pukul 7 pagi saja. Maklum, seperti di pulau-pulau di gugus utara lainnya, listrik di Pulau Kelapa dan Pulau Harapan berasal dari generator diesel yang menjadi sumber listrik untuk menerangi kedua pulau.</p>
<p>Secara umum sarana dan prasarana di pulau ini sudah lengkap. Sebuah bangunan SD yang kokoh, berdiri megah di Pulau Kelapa. Di SD Negeri Pulau Kelapa 01 Pagi, <a href="http://matriphe.posterous.com/sekolah-gratis" title="Sekolah Gratis?" target="_blank">biaya pendidikannya gratis</a>. Tidak ada pungutan apa pun yang dibebankan kepada siswa. Semua biaya sekolah mulai dari buku hingga seragam, dibebankan ke pemerintah melalui BOS.</p>
<p>Anak-anak cuma perlu baju seragam dan alat tulis, mereka pun bisa mengenyam pendidikan. Dana ini diperoleh dari BOS yang kebetulan ketua komite sekolah yang mewakili wali murid adalah Pak H. Asmawi. &#8220;Pokoknya sekolah tidak boleh memungut uang sepeser pun dari siswa,&#8221; tegas Pak H. Asmawi.</p>
<p>Selain gedung sekolah, terdapat instalasi penyulingan air <a href="http://matriphe.posterous.com/kompensasi-subsidi-bbm-menjadi-air-bersih" title="Kompensasi Subsidi BBM Menjadi Air Bersih" target="_blank">yang dibangun dengan biaya dari dana kompensasi pengurangan subsidi BBM</a>. Air payau yang diambil dari sumur kemudian disuling menjadi air tawar. Air-air ini kemudian dijual dalam jirigen yang dijajakan berkeliling menggunakan gerobak. Satu jirigen harganya 500 rupiah.</p>
<p>Oiya, meski disebut air &#8220;tawar&#8221;, air ini masih sedikit payau dan hanya bisa digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci. Untuk minum, penduduk lebih banyak membeli air dalam kemasan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/melihat-foto.jpg" alt="Anak-anak antusias melihat foto" title="Anak-anak antusias melihat foto" width="200" height="267" class="alignnone size-full wp-image-1508" /></p>
<p>Tak jauh dari rumah tempat kami menginap, di bagian utara Pulau Harapan yang memanjang dari barat ke timur ini, terdapat sebuah taman dan dermaga yang cukup bagus.</p>
<p>Menurut informasi, dulunya sekitar dermaga ini akan dijadikan taman wisata untuk menarik wisatawan, bahkan dermaganya pun bisa dibilang lebih bagus daripada di Pulau Kelapa. Namun sayang seribu sayang, proyek yang dipegang oleh pemerintah ini pun mandeg, sehingga pembangunan taman yang hampir jadi ini pun terkesan terbengkalai.</p>
<p>Selepas beristirahat sejenak karena cuaca saat itu sangat terik, sore harinya kami jalan-jalan mengelilingi pulau. Setelah berfoto-foto di seputar dermaga Pulau Harapan yang bagus namun sayang tidak dijadikan sebagai dermaga utama, kami menuju ke barat, menuju ke ujung Pulau Kelapa untuk mengejar <em>sunset</em>.</p>
<p>Selama menelusuri jalan-jalan kampung di Pulau Harapan maupun Pulau Kelapa, saya menemukan banyak hal yang menarik, terutama <a href="http://muhammad.zamroni.net/menengok-keseharian-masyarakat-pulau-kelapa-pulau-harapan.html" title="Menengok Keseharian Masyarakat Pulau Kelapa-Pulau Harapan">mengamati kehidupan sehari-hari masyarakatnya</a> hingga <a href="http://matriphe.posterous.com/produk-lokal-unik" title="Produk Lokal Unik" target="_blank">benda-benda, produk, dan makanan lokal yang dijual</a>.</p>
<p>Anak-anak kecil yang bermain riuh di tengah jalan, para pemuda yang bermain sepak bola di lapangan di pinggir pantai, <a href="http://matriphe.posterous.com/cegat-kalo-terpikat" title="Cegat Kalo Terpikat" target="_blank">penjaja berbagai hal</a> yang menggunakan gerobak yang dimodifikasi untuk menjajakan barang dagangannya, penduduk yang membuat bubu (perangkap ikan dari bambu), hingga memperbaiki kapal, menjadi pemandangan menarik yang tak ditemukan di Jakarta.</p>
<p>Sapaan dan sambutan warga pulau ini terasa lebih ramah dari Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Panggang. Saya merasa di pulau ini meski lebih gersang, rasanya lebih nyaman. Di malam hari pun, suasana masih cukup ramai bila dibandingkan di Pulau Pramuka atau Pulau Tidung.</p>
<p>Tak terasa kami sampai juga di ujung barat Pulau Kelapa, setelah sebelumnya sempat menerabas kompleks pemakaman kampung yang keliatan angker. Tak terasa, jarak 2 pulau yang masing-masing membentang dari timur ke barat sudah kami lahap tanpa lelah. Sepotong senja yang indah pun kami terima sebagai hadiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/senja.jpg" alt="Sepasang di sepotong senja" title="Sepasang di sepotong senja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1509" /></p>
<p>Selepas Shubuh, kami sudah bersiap di dermaga Pulau Harapan. Perahu motor yang kami sewa seharga 300 rebu rupiah akan mengantarkan kami berkeliling pulau-pulau di sekitar. Tujuan kami adalah ke Pulau Manggaran yang terletak di sebelah utara. Namun tak ada yang cukup menarik, karena pulau ini hanya berupa hutan dan pohon bakau.</p>
<p>Kami berpindah ke Pulau Bulat, yang menurut penduduk setempat dimiliki oleh Tommy Soeharto. Di Pulau ini terlihat lebih bagus. Sebuah rumah yang cukup mewah, plus fasilitas pendukung, namun terkesan terbengkalai berdiri megah di situ. Sebuah bendungan mini yang digunakan untuk melabuhkan perahu motor dibangun di bibir pantai.</p>
<p>Kami pun memanfaatkan dermaga kayu Pulau Bulat untuk menggelar tikar, dan sarapan nasi uduk yang telah kami pesan di Pulau Harapan. Selesai sarapan, kami pun berenang-renang di dalam bendungan yang sedianya untuk berlabuh kapal tersebut. Tak berapa lama, romobongan diver dari Pulau Putri Resort juga datang ke sekitar pulau ini untuk bersiap menyelam.</p>
<p>Puas bermain air di Pulau Bulat, kami pun berpindah ke Pulau Bira Kecil, atau sering disebut dengan <a href="http://lathifulamri.com/pulau-kayu-angin-dan-pulau-tidung" title="Pulau Kayu Angin dan Pulau Tidung" target="_blank">Pulau Kayu Angin</a>. Pulau mungil ini sering dipakai untuk camping karena pantai berpasir putihnya cukup luas dan landai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/menyeberang-laut.jpg" alt="Menyeberang laut menuju ke perahu" title="Menyeberang laut menuju ke perahu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1512" /></p>
<p>Namun untuk menuju ke sini, perahu tidak bisa merapat karena terhalang karang yang membentang sejauh sekitar 100 meter (karang ini pula yang mencegah ombak besar mencapai pantai, sehingga relatif aman untuk membuka tenda).</p>
<p>Sayang, pasir pantai putih ini dikotori oleh mereka yang sebelumnya berkemah di sini. Saya menemukan abu bekas api unggun dan seonggok sampah berupa botol minuman dan plastik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-bira-kecil.jpg" alt="Pantai Pulau Bira Kecil" title="Pantai Pulau Bira Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1511" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pulau-bira-kecil.jpg" alt="Di Pulau Bira Kecil" title="Di Pulau Bira Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1510" /></p>
<p>Di sekitar Pulau Bira Kecil, masih banyak ditemukan ubur-ubur kecil. Bila tidak berhati-hati, kita bisa tersengat ubur-ubur ini, karena ubur-ubur berwarna transparan.</p>
<p>Puas bermain-main di Pulau Bira Kecil, kami pun kembali ke Pulau Harapan untuk bersiap pulang menggunakan kapal terakhir ke Muara Angke dari Pulau Kelapa, yang berangkat jam 1 siang.</p>
<p>Ketika perjalanan pulang ke Pulau Harapan, kami sempat mampir ke sebuah pulau milik pengusaha Tommy Winata, namun kami diusir oleh penjaga pulau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Singapura: Mencoba MRT</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-mencoba-mrt.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-mencoba-mrt.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 20:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[MRT]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1468</guid>
		<description><![CDATA[Tak diragukan lagi, sistem transportasi massal (MRT &#8211; Mass Rapid Transportation) di Singapura memang pantas disebut sebagai salah satu yang terbaik. Efisiensi, ketepatan waktu, kemudahan, integrasi, dan kenyamanannya memang patut diacungi jempol. Sebagai pelancong yang sering mengandalkan layanan transportasi publik, saya sangat terbantu. Belum lagi soal papan petunjuk dan peta yang dapat dengan mudah ditemukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/03/mrt-lrt.jpg" alt="Peta rute MRT (Mass Rapit Transportation) dan LRT (Light Rail Transit) di Singapura" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1469" /></p>
<p>Tak diragukan lagi, sistem transportasi massal (MRT &#8211; Mass Rapid Transportation) di Singapura memang pantas disebut sebagai salah satu yang terbaik. Efisiensi, ketepatan waktu, kemudahan, integrasi, dan kenyamanannya memang patut diacungi jempol.</p>
<p>Sebagai pelancong yang sering mengandalkan layanan transportasi publik, saya sangat terbantu. Belum lagi soal papan petunjuk dan peta yang dapat dengan mudah ditemukan di setiap sudut, membuat orang bodoh yang nekad melancong tanpa rencana dan tujuan seperti saya bisa mendapatkan pencerahan hendak ke mana. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-1468"></span><a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html" title="">Setelah terkesima plus bingung di pelabuhan HarbourFront</a>, kami akhirnya memulai perjalanan dengan mencoba sistem transportasi di Singapura.</p>
<p>Untungnya di Singapura, bertebaran papan-papan petunjuk, sehingga dengan cukup mengikuti papan petunjuk yang ditulis dalam bahasa Inggris, Melayu, Mandarin, dan India, kita ndak bakal nyasar.</p>
<p>Saya yang biasanya bertanya pada satpam, polisi, atau orang yang &#8220;saya anggap tahu&#8221; sempet celingukan dan bingung, karena orang-orang yang saya cari ini ndak saya temukan! Semua informasi sudah terpampang jelas di papan-papan petunjuk.</p>
<p>Kami memilih untuk naik MRT saja, alat transportasi &#8220;default&#8221; bagi para pelancong dan masyarakat Singapura. Saya pun menuju ke terminal MRT HarbourFront, tentu setelah mengikuti panah di papan petunjuk. Dari pelabuhan, saya bahkan ndak perlu keluar karena pelabuhan dan stasiun MRT terhubung dan terintegrasi dengan toko-toko di sekelilingnya, sehingga suasananya lebih mirip mall daripada pelabuhan atau stasiun.</p>
<p>Sistem transportasi MRT dibangun pada November 1987 dan menjadi sistem transportasi tertua kedua di Asia Tenggara setelah sistem transportasi LRT di Filipina. Stasiun dan jalur-jalur MRT berada di bawah tanah (juga ada yg di atas &#8211; <em>skytrain</em>) dan memiliki sisitem pelindung dari goncangan gempa dan bom, menjangkau hampir seluruh pelosok Singapura dari barat-timur hingga selatan-utara.</p>
<p>Stasiun-stasiun MRT memiliki pendingin udara, sehingga kita ndak perlu khawatir kepanasan, meski di dalam terdapat banyak orang. Selain itu suasananya sangat bersih dan rapi jali. Semua perangkat sangat terawat dan berfungsi sempurna sehingga seolah-olah terlihat selalu baru.</p>
<p>Untuk naik MRT, ada beberapa cara, yaitu dengan membeli tiket sekali jalan yang bisa dibeli di mesin tiket swalayan (kiosk), atau membeli kartu tiket <a href="http://www.ezlink.com.sg/" title="EZ-Link" target="_blank">EZ-link</a> RF-ID yang bisa diisi ulang. Tidak ada unsur manusia (kondektur yang menarik ongkos atau memeriksa karcis), kecuali para pelayan yang membantu mengoperasikan kiosk dan di counter pembelian kartu tiket.</p>
<p><a href="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/kartu-stp.jpg"><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/kartu-stp.jpg" alt="Singapore Tourist Pass - tiket elektronik untuk naik MRT" title="Singapore Tourist Pass - tiket elektronik untuk naik MRT" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1496" /></a></p>
<p>Saya memilih membeli kartu <a href="http://www.publictransport.sg/publish/ptp/en/fares_ticketing/types_of_tickets/singapore_tourist.html" title="Singapore Tourist Pass" target="_blank">Singapore Tourist Pass</a> keluaran EZ-link seharga SG$ 18 (ongkos ini termasuk deposit ongkos perjalanan sebesar SG$ 10) untuk turis harian (ada beberapa jenis kartu, saya membeli STP yang harian karena saya di Singapura cuma sehari) yang bisa digunakan untuk naik kereta dan bus kota. </p>
<p>Ya, bus kota dan kereta terintegrasi dalam sistem MRT yang dioperasikan oleh perusahaan swasta <a href="http://www.smrt.com.sg/" title="SMRT Corporation" target="_blank">SMRT</a> dan <a href="http://www.sbstransit.com.sg/" title="SBS Transit Ltd" target="_blank">SBS-Transit</a>.</p>
<p>Kartu STP ini nanti bisa tukar kembali dan sisa uang deposit akan dikembalikan. Namun sebagai turis ndeso, saya lebih memilih menyimpannya untuk kenang-kenangan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dengan menggunakan kartu, sangat mempermudah dalam penghitungan ongkos dan efisiensi. Penghitungan ongkos dilakukan dengan menggunakan sistem poin, misalnya kita berangkat dari stasiun/terminal A ke stasiun/terminal D. Jika A bernilai poin 7,  dan D bernilai poin 4, maka ongkos yang harus dibayar adalah selisih dari poin ini (bukan dari jarak), yaitu 3.</p>
<p>Jarak yang dekat bukan berarti lebih murah. Nah, dengan poin bernilai 3 ini ongkosnya bisa dilihat di tabel yang juga terpampang jelas. Ongkos menggunakan kartu lebih murah daripada membeli tiket atau langsung menggunakan koin. Untuk pembayaran menggunakan koin dan tiket sekali jalan, saya ndak begitu ngerti, tapi harusnya sih cara membayarnya hampir sama kayak kita membayar ongkos kendaraan umum. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ketika hendak naik kereta MRT, kita harus menempelkan kartu ke mesin (saya menggunakan kartu tiket) untuk membuka gerbang dan mencatat lokasi kita. Jika ongkos di kartu tidak mencukupi, gerbang tidak akan terbuka dan akan memberikan peringatan.</p>
<p>Tiket elektronik berbentuk kartu ini menggunakan teknologi <em>contactless smart card</em> yang berbasis pada teknologi frekuensi radio (RF-ID). Kartu sejenis yang menggunakan teknologi ini adalah kartu Flazz BCA untuk pembayaran. Dengan hanya mendekatkan kartu ke mesin, maka data di kartu akan terbaca. Beberapa kali saya melihat orang-orang menempelkan dompet atau tas mereka yang menyimpan kartu ini ke mesin, dan mesin bisa membaca kartu ini tanpa mengeluarkannya.</p>
<p>Ketika kita turun dan keluar dari stasiun, kita juga harus menempelkan kartu ini ke mesin untuk membuka gerbang dan memberi tahu posisi kita sehingga jarak tempuh bisa dihitung dan ongkos langsung dipotong dari uang deposit. Ongkosnya cukup murah, paling mahal sekitar SG$ 2 (rata-rata cuma kurang dari SG$ 1).</p>
<p>Kereta <em>subway</em> MRT bisa dibilang tidak dapat terlihat bentuknya karena jalur-jalur kereta tertutupi oleh pintu-pintu kaca otomatis. Saya melihat berbagai petunjuk, mulai dari peta rute, layar LCD dan dot matrix yang memberikan petunjuk jalur, arah, hingga perkiraan waktu tiba kereta.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/03/screen-doors.jpg" alt="Pintu-pintu kaca otomatis" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1472" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/03/sign-board.jpg" alt="Papan-papan petunjuk" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1473" /></p>
<p>Karena bingung hendak ke mana, kami pun melihat ke <a href="http://www.smrt.com.sg/trains/network_map.asp" title="MRT &#038; LRT System map" target="_blank">papan peta rute MRT</a>. Dengan mudah bisa dilihat tempat-tempat yang hendak dituju, terus menggunakan kereta jalur apa, dan transit di stasiun mana. Kami memutuskan untuk ke Merlion Park, <em>landmark</em> Singapura yang terkenal itu. Kami pun memutuskan untuk turun di City Hall (balai kota) dan nanti tanya-tanya orang saja pas disana (dan belakangan saya ketahui, untuk ke Merlion Park harusnya turun di Raffles Place di daerah Downtown Core).</p>
<p>Dari HarbourFront, kami naik kereta jalur North East (NE) Line yang dioperasikan oleh SBS Transit yang menuju Punggol, kemudian berpindah kereta di Dhoby Gaut naik kereta jalur North Shouth Line (dioperasikan oleh SMRT) menuju Marina Bay dan turun di City Hall. Untuk menuju ke City Hall juga bisa dengant transit di Outram Park untuk berganti kereta jalur East West (EW) line yang dioperasikan SMRT.</p>
<p>Di dalam kereta, suasana mirip di film-film. Bedanya, ini di Singapura (ya iya lah)! Sebenernya kalo dibandingkan, suasananya mirip macam di KRL Jabodetabek atau Prameks, cuma yang membedakan adalah budaya penumpang dan kondisi kereta juga stasiunnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Orang-orang Singapura itu mau tertib antre, mendahulukan yang keluar dan masuk dengan teratur. Meski ramai dan berdesak-desakan, tapi sangat tertib dan rapi. Bahkan di tengah derap langkah kaki, hampir tidak ada suara manusia. Rame tapi sunyi saya bilang. Umpel-umpelan tapi teratur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/in-mrt.jpg" alt="Suasana di dalam MRT" title="Suasana di dalam MRT" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1497" /></p>
<p>Kami sampai di City Hall. Setelah berkutat di suasana &#8220;mall&#8221;, ini pertama kalinya saya liat permukaan Singapura. Dengan menggunakan eskalator berjenis &#8220;heavy-duty&#8221; yang pergeserannya sangat cepat untuk memperlancar perpindahan manusia, kami sampai juga di permukaan.</p>
<p>Berbeda suasana dengan di bawah tanah, suasana di permukaan relatif lebih sepi. Boleh dibilang, kehidupan orang Singapura itu ada di mall, di subway, dan stasiun MRT. Di luar bener-bener lebih sepi. Mungkin karena kami berkunjung pada hari libur, jadi terasa lebih sepi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/capitol-building.jpg" alt="Capitol Building" title="Capitol Building" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1503" /></p>
<p>Saya langsung terkagum-kagum dengan banyaknya gedung-gedung tua yang bersih, tertata rapi, dan difungsikan. Salah satu gedung yang saya lihat pertama kali adalah gedung Capitol Building yang terletak di ujung perempatan Stamford Rd dan North Bridge Rd.</p>
<p>Di sebelahnya, persis terletak gereja katedral beraliran <em>anglikan</em> St. Andrew yang dibangun pada tahun 1835-1836. Kami berjalan menyusuri Stamford Rd lalu berbelok ke barat daya menyusuri St. Andrew&#8217;s Rd sambil melintasi City Hall Park yang berada persis di depan gedung City Hall (balai kota).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/di-taman.jpg" alt="istirahat di taman City Hall" title="istirahat di taman City Hall" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1498" /></p>
<p>Meski jarak dari City Hall ke Merlion Park itu lumayan jauh, namun berjalan kaki sembari memanggul tas punggung rasanya nyaman. Selain karena suasananya yang sepi dari kendaraan (pejalan kaki sangat dihormati di sini, bahkan sepeda pun harus ngalah ama pejalan kaki) pemandangannya pun rapi.</p>
<p>Kami bahkan sempat berhenti dan duduk-duduk sejenak di taman sembari makan cemilan. Taman yang rindang, bersih tanpa sampah, memang nyaman untuk menjadi tempat beristirahat. Sungguh berbeda dengan di Indonesia, melihat taman begini, para pedagang kaki lima pun akan langsung membuka lapak. Dan inilah yang tidak saya temukan di sini, ketika kehausan, susah rasanya cari pedagang teh botol yang mangkal, hehehe.</p>
<p>Capek beristirahat (loh, istirahat kok capek?) kami melanjutkan perjalanan. Kami melewati jembatan tua namun tetap kokoh, Anderson Bridge, yang melintasi Singapore River, yang awalnya dibangun untuk menggantikan Cavenagh Bridge yang sudah overload. Jembatan Anderson ini dibangun pada tahun 1908-1910.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/anderson-bridge.jpg" alt="Anderson Bridge yang dibangun tahun 1908-1910" title="Anderson Bridge yang dibangun tahun 1908-1910" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1499" /></p>
<p>Setelah menandai wilayah dengan pipis (tentunya di toilet umum yang bersih banget) di kawasan Merlion Park, kami langsung tertarik nyobain Singapore River Cruise (yang akhirnya kami sesali karena ongkosnya lumayan mahal dan menguras duit, yaitu SG$ 15!).</p>
<p>Singapore River Cruise adalah salah satu paket wisata yang ditawarkan di sekitar Downtown Core. Dengan mengunakan kapal yang dulu digunakan oleh orang-orang China ketika datang ke Singapura (namanya bamboat) kita akan dibawa berkeliling menyusuri Singapore River yang airnya bersih (beda banget ama kali-kali di daerah perkotaan di Indonesia).</p>
<p>Setiap melewati sebuah obyek wisata yang sebenernya biasa-biasa aja tapi dikemas dengan baik, yang kebanyakan menceritakan sejarah singkat jembatan-jembatan (bener-bener sigkat, cuma nama, tahun pembangunan, jenis jembatan, dan fungsinya pada masa itu) yang melintasi Singapore River yang dijelaskan melalui rekaman CD yang dioperasikan oleh &#8220;nakhoda&#8221;.</p>
<p>Sangat amat mesin dan miskin interaksi antar manusia. Yang agak menyesakkan, saya mendengar backsound lagu &#8220;Rasa Sayange&#8221; yang dimainkan secara instrumental sebagai lagu pengiring penjelasan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/bamboat.jpg" alt="Bamboat Singapore River Cruise yang melintas di depan gedung Esplanade Theater" title="Bamboat Singapore River Cruise yang melintas di depan gedung Esplanade Theater" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1500" /></p>
<p>Selesai tour jembatan Singapore River Cruise dan capek berputar-putar di sekitar Raffles Park, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Bugis, daerah yang katanya &#8220;Glodok-nya&#8221; Singapura, untuk sekedar beli oleh-oleh (<a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-dan-oleh-oleh.html" title="Jeng-Jeng dan Oleh-Oleh">padahal saya paling males kalo diminta bawa oleh-oleh!</a>).</p>
<p>Karena malas dengan suasana &#8220;mall&#8221; di stasiun kereta MRT, kami pun nyobain naik bus kota. Selain pengen ngerasain naik bus kota di Singapura, juga pengen liat keadaan kota Singapura.</p>
<p>Seperti biasa, karena ndak tau naik busa jalur mana, kami pun menuju ke halte bus terdekat dan mencoba membaca peta dan rute. Okey, setelah cukup lama kami memahami peta, akhirnya kami pun sedikit mengerti dan kami naik bus nomor 130 dari halte Opp The Adelphi yang terletak di Coleman St tepat di belakang Gereja Katedral St. Andrew menuju Bugis Station di Victoria St.</p>
<p>Masing-masing bus itu ternyata ndak berhenti di setiap halte yang dilewati. Dan bus-bus ini hanya berhenti di halte yang tela ditentukan, jadi nggak mungkin kita melambaikan tangan untuk nyegat bus kayak nyegat Metromini.</p>
<p>Yang mengagumkan, bus-bus ini datang dan pergi selalu tepat waktu. Di halte terdapat papan display yang menunjukkan perkiraan tibanya bus di halte dalam menit, sehingga kita bisa tau bus nomor 130 (misalnya) akan tiba di halte 3 menit lagi, dan bener saja 3 menit kemudian bus itu datang persis dengan waktu yang terpampang! Ndak ada tuh ceritanya kita udah antre lama tanpa kepastian dan celakanya ternyata bus yang ditunggu tak juga tiba.</p>
<p>Selain papan display, terpampang jelas peta rute, daftar halte yang disinggahi oleh bus dengan nomor jalur tertentu, atau daftar nomor bus lengkap dengan tujuan-tujuannya, juga tabel harga yang penghitungannya mirip dengan penghitungan tarif kereta MRT.</p>
<p>Kalo saya, cara membaca petanya begini, temukan halte tujuan, lalu lihat bus-bus nomor berapa saja yang berhenti di halte tujuan kita tersebut yang melintas di halte tempat kita akan naik. Atau jika sudah tau nomor busnya, tinggal baca rute si bus ini berhenti di halte mana saja. Bisa juga dengan mengurutkan jalur-jalur bus yang dibedakan warnanya itu.</p>
<p>Misalnya ketika kami berada di <a href="http://www.publictransport.sg/publish/etc/medialib/test2.Par.97802.File.dat/Key_Bus_Service_Map_Orchard.pdf" title="Key Bus Service Map - Orchard">Orchard Rd.</a> dan hendak balik ke HarbourFront, dari halte Lucky Plaza, ternyata rute ke HarbourFront (bus nomor 143) yang kami cari ndak berhenti di sana, dan kami kudu jalan dulu ke halte Opp Meritus Mandarin yang jaraknya sekitar 300 meter dari halte Lucky Plaza. </p>
<p>Ketika bus datang, penumpang masuk melalui pintu depan dan yang turun melalui pintu tengah. Namun bisa juga kalo ndak rame, bisa turun dari pintu mana saja. Ketika naik, jangan lupa menempelkan STP ke mesin pembaca untuk menandai ongkos naik, dan ketika turun menempelkan kembali di mesin yang terletak di deket pintu.</p>
<p>Namun ketika turun di Bugis Stasion, kami lupa menempelkan STP, dan sepertinya sistem bisa langsung mengenali posisi kami ketika kami masuk stasiun kereta MRT di Bugis Station setelah membeli oleh-oleh untuk menuju Orchard Road.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/di-dalam-bus.jpg" alt="Suasana di dalam bus" title="Suasana di dalam bus" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1501" /></p>
<p>Suasana di dalam bus cukup nyaman. Bus-bus ini sebagian memiliki ruang khusus untuk pengguna kursi roda yang ditandai dengan tanda tertentu. Tanda kursi roda ini pun akan muncul di display bus yang akan tiba di halte, sehingga para pengguna kursi roda bisa tau bus mana yang akan dinaikinya. Bus ini pun dirancang khusus untuk memudahkan pengguna kursi roda masuk dan keluar bus, dan apabila ada kesulitan, sopir bus akan dengan sigap membantu.</p>
<p>Kami mencoba dua jenis bus. Bus 130 yang kami tumpangi dari halte Opp The Adelphi menuju Bugis Station bentuknya bus biasa, dan ketika naik bus 143 dari halte Opp Meritus Mandarin menuju HarbourFront, bus yang kami tumpangi adalah bus tingkat (double decker).</p>
<p>Meski sama-sama &#8220;double decker&#8221;, bus umum beda dengan bus tour yang atapnya terbuka, yang untuk naik bus dan ikut tour itu harus membayar SG$ 15 hanya untuk melihat-lihat kota Singapura! Naik bus tingkat begini, mengingatkan saya jaman SD, pernah naik bus tingkat yang dioperasikan DAMRI. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami pun duduk di atas, supaya bisa menikmati suasana kota Singapura dengan lebih leluasa. Ketika bus berhenti di halte, orang yang di atas dan akan turun akan memencet suatu tombol di bagian tiang dekat tangga turun, untuk memberi tahu sopir jika ada yang akan turun. Tombol ini sangat berguna ketika penumpang sangat ramai, ketika penumpang di atas sulit turun, maka dengan memencet tombol ini, sopir akan menunggu lebih lama.</p>
<p>Begitulah pengalaman saya selama nyobain sistem transportasi di Singapura. Jika disuruh memilih, saya lebih tertarik untuk menjelajah dengan menggunakan bus kota daripada kereta. Selain saya kurang sreg dengan suasana mall di stasiun-stasiunnya, dengan menggunakan bus kota saya bisa lebih tau jalan dan rute.</p>
<p>Satu lagi yang saya kagumi dari Singapura, mereka mampu mengemas sesuatu yang biasa menjadi hal yang bisa dijual. Perawatan bangunan peninggalan bersejarahnya pun begitu keren. Gedung-gedung tua itu dirawat dan dimanfaatkan, sehingga bisa berdiri berdampingan dengan gedung-gedung pencakar langit.</p>
<p>Kapan ya, Indonesia bisa kayak gini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-mencoba-mrt.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Singapura: Menyeberang Melalui Laut</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 11:30:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[Singapore]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1489</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya ke luar negeri. Memang ndeso banget saya ini. Lumayan lah, jadi paspor saya sekarang udah ada capnya. Buat orang katrok bin ndeso macam saya, Singapura itu negeri yang hebat. Yang saya kagumi dari negeri yang luasnya hampir sama kayak DKI Jakarta ini adalah keteraturan, kerapian, tertataan, dan sistem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/singapore.jpg" alt="di Merlion Park" title="di Merlion Park" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1490" /></p>
<p>Akhirnya saya menjejakkan kaki untuk pertama kalinya ke luar negeri. Memang ndeso banget saya ini. Lumayan lah, jadi paspor saya sekarang udah ada capnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Buat orang katrok bin ndeso macam saya, Singapura itu negeri yang hebat. Yang saya kagumi dari negeri yang luasnya hampir sama kayak DKI Jakarta ini adalah keteraturan, kerapian, tertataan, dan sistem transportasi yang keren. Singapura juga pandai mengemas sesuatu, yang sebenernya biasa aja, bisa dijual dengan mahal.</p>
<p><span id="more-1489"></span>Seperti biasa, tiada rencana sama sekali untuk mengunjungi negeri yang dulunya bernama Temasek ini. Sebelum <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-batam.html" title="Jeng-Jeng Batam">berangkat ke Batam</a>, saya memang sudah siap-siap bawa paspor, siapa tau bisa nyeberang ke Singapura karena jadwal trip yang mepet.</p>
<p>Dan akhirnya kami bisa menyeberang, tanpa persiapan matang, tanpa uang yang cukup, tanpa modal peta dan mau ke mana, tujuan kami cuma satu: menginjak-injak tanah negeri Singa!</p>
<p>Gara-gara malamnya nongkrong di angkringan di depan hotel bareng temen-temen <a href="http://batamblogger.com/" title="Batam Blogger" taget="_blank">Blogger Batam</a>, kami bangun kesiangan. Sekitar jam 7 kami segera packing seadanya, kemudian diantar oleh sopir hotel, kami membeli tiket di agen perjalanan dan menukar uang di <em>money changer</em> yang banyak tersebar di daerah Nagoya.</p>
<p>Jam 8 kami sampai di Pelabuhan Batam Center dan segera check-in di counter <a href="http://www.penguin.com.sg/" title="Penguin" target="_blank">Penguin</a>, maskapai kapal asal Singapura yang akan kami tumpangi. Selain di agen, tiket juga bisa dibeli langsung ketika di pelabuhan. Harga tiketnya adalah SGD 17 (sekitar 110 ribu rupiah) untuk sekali jalan, bisa dibeli pake mata uang rupiah atau dollar Singapura. </p>
<p>Di Pelabuhan Batam Center memang banyak tersedia pilihan operator kapal, selain Penguin, operator <a href="http://www.batamfast.com/" title="Batam Fast" target="_blank">Batam Fast</a> juga sering dijadikan pilihan.</p>
<p>Untuk menyeberang ke Singapura dari Batam, bisa melalui beberapa pelabuhan. Selain Batam Center, kita bisa juga menuju Singapura dengan naik kapal cepat dari Harbour Bay, Sekupang, atau Waterfront City. Yang paling banyak pilihan operatornya sih, memang di Batam Center.</p>
<p>Prosedurnya sih nggak jauh beda seperti kita mo naik pesawat, kita <em>check-in</em> di counter sesuai operator/maskapai dengan menyerahkan tiket, paspor, kartu NPWP bila punya untuk fasilitas bebas fiskal, dan membayar pajak pelabuhan yang besarnya 7 dollar Singapura (sekitar 42 ribu rupiah). Selesai <em>check-in</em>, kita akan diberi <em>boarding-pass</em> dan dokumen <em>exit permit</em> (sebagai ijin untuk keluar Indonesia) dan <em>entry permit</em> (untuk ijin masuk ke Singapura).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/dokumen-paspor.jpg" alt="Paspor, dokumen exit permit, dokumen entry permit, dan boarding-pass." title="Paspor, dokumen exit permit, dokumen entry permit, dan boarding-pass." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1492" /></p>
<p>Setelah mendapat boarding-pass, kami harus menuju ke bagian fiskal, untuk mendapat tanda bebas fiskal (karena saya punya NPWP) dengan menunjukkan paspor dan kartu NPWP, kemudian <em>boarding-pass</em> kita akan mendapat tanda khusus yang menyatakan bebas fiskal ketika dipindai. Kartu <em>boarding-pass</em> ini berupa RF-ID (Radio Frequency Identification) card, di mana kartu ini menyimpan data dan informasi kita, yang diakses dengan sinyal radio berfrekuensi tertentu.</p>
<p>Setelah mendapat tanda bebas fiskal, kami menuju ke bagian imigrasi, bagian yang entah kenapa menurut saya adalah bagian yang paling menegangkan, karena di sini nasib kita seolah-olah diuji, boleh pergi atau tidak.</p>
<p>Setelah dokumen-dokumen saya diperiksa, paspor dicap, dan exit permit dicap dan disobek sebagai tanda keluar Indonesia (sobekan lainnya harus disimpan dan dikembalikan ketika datang ke Indonesia), urusan imigrasi selesai.</p>
<p>Rekan seperjalanan saya, <a href="http://cornila.posterous.com/" title="Cornila Desyana" target="_blank">Nila</a> ternyata mendapat masalah. Paspornya 3 bulan lagi habis masa berlakunya. Ketika data paspor dimasukkan ke dalam sistem, paspornya tidak dikenal. Menurut keterangan petugas yang sok galak itu, untuk keluar negeri, minimal paspor habis masa berlakunya 6 bulan lagi. Saya yang lolos karena tidak bermasalah, akhirnya jadi ikut deg-degan karena ini.</p>
<p>Nila kemudian digiring ke ruangan khusus. Di dalam sana, dia diinterogasi oleh petugas tentang maksud dan tujuannya keluar negeri. Saya duduk harap-harap cemas di luar sembari menunggu. Akhirnya, &#8220;jdok! jdok!&#8221;, paspor dicap dan Nila diijinkan keluar, dengan catatan &#8220;resiko ditanggung sendiri&#8221;. Menurut petugas imigrasi, Nila boleh masuk ke Singapura atau tidak, tergantung oleh petugas imigrasi Singapura, itu pun ngomongnya dengan gaya masih sok galak.</p>
<p>Urusan imigrasi selesai, kami akhirnya naik ke kapal. Kami melewati semacam mesin boarding, dengan menempelkan <em>boarding-pass</em> ke mesin, dan data nama secara otomatis akan tercatat sebagai penumpang di kapal. <em>Boarding-pass</em> ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal.</p>
<p>Perjalanan dari Batam ke Singapura memakan waktu kurang lebih 45 menit. Di Singapura, pelabuhan akhir dari Batam adalah di HarbourFront, yang juga menjadi pelabuah kapal pesiar (<em>cruise ship</em>) besar serta pintu gerbang menuju Sentosa Island (yang cuma selemparan kolor dari HarbourFront).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/kapal.jpg" alt="Kapal cepat milik operator Penguin" title="Kapal cepat milik operator Penguin" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1491" /></p>
<p>Kapal Penguin termasuk jenis ferri cepat yang memiliki daya tampung sekitar 50 orang. Di Pelabuhan Marina, Ancol, jakarta, yang melayani rute ke resort-resort mewah di Kepulauan Seribu, ukurannya lebih kecil, meski bentuknya mirip-mirip. Beberapa ferri yang saya lihat bersliweran di sini berjenis <em>Catamaran</em> di mana memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibanding dengan versi yang saya tumpangi ini.</p>
<p>Kursinya cukup nyaman dan di dalam terdapat pendingin udara. Bila ingin menikmati angin laut, pindah lah ke bagian buritan, di sana terdapat ruang terbuka berkanopi sehingga angin bisa langsung menerpa wajah.</p>
<p>Pemandangan di laut adalah kapal-kapal besar, kapal tangker, dan ferri yang berkeliaran di seputar Selat Malaka. Selat ini memang merupakan salah satu laut tersibuk di dunia, karena posisinya yang sangat strategis. Pantas saja sejak jaman dulu hingga sekarang, selat ini diperebutkan oleh banyak negara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/ketibaan.jpg" alt="Papan petunjuk dalam berbagai bahasa" title="Papan petunjuk dalam berbagai bahasa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1493" /></p>
<p>Setelah tertidur karena keenakan digoyang-goyang ombak, kami pun tiba di HarbourFront, Singapura. Turun dari kapal, papan-papan peringatan berukuran besar bertuliskan dilarang membawa rokok, senjata, dan narkotika beserta ancaman hukuman langsung menyambut.</p>
<p>Papan-papan ini sangat miskin kata-kata penjelasan, namun bisa langsung dimengerti, <em>tunjep poin</em>, karena berupa gambar dan bentuk hukuman yang akan diberikan. Kondisi papan dan penempatannya pun tersebar di mana-mana, dan posisinya bisa dengan mudah dilihat. Contohnya ada <a href="http://matriphe.posterous.com/anjuran-dan-larangan" title="Anjuran dan Larangan" target="_blank">di sini</a> dan <a href="http://cornila.posterous.com/kota-seribu-petunjuk-dan-anjuran" title="Negara Seribu Petunjuk dan Anjuran" target="blank">di situ</a>.</p>
<p>Begitu masuk ke terminal pelabuhan, kami langsung menghadap ke counter imigrasi! Kami pun langsung deg-degan lagi, namun tetap berusaha menenangkan diri. Si Nila sudah menyusun berbagai rencana dan argumen kalo misalnya dia ditanya sebab paspor dan ijin masuk, seperti apa yang dibilang petugas imigrasi di Indonesia.</p>
<p>Dan, tibalah giliran kami. Saya dilayani oleh petugas perempuan berparas India, begitu melihat paspor hijau saya, si petugas menyapa dengan ramah namun terbersit nada tegas, dalam bahasa Melayu, sambil tangannya cekatan memeriksa dan memindai dokumen-dokumen saya.</p>
<p>&#8220;Pernah ke Singapura sebelumnya?&#8221;<br />
&#8220;Belum&#8221;<br />
&#8220;Pulang balik atau menginap?&#8221;<br />
&#8220;Pulang balik..&#8221;<br />
&#8220;Sayang sekali, Anda seharusnya menginap di Singapura..&#8221;<br />
Saya cuma senyum-senyum..</p>
<p>Jdok! Jdok! Paspor saya pun dicap untuk yang kedua kalinya. Entry permit dan paspor dikembalikan kepada saya dan dia bilang sambil tersenyum, &#8220;Selamat datang di Singapura!&#8221;.</p>
<p>Saya melirik ke arah Nila yang ada di counter imigrasi sebelah, yang melayani seorang pemuda. Tak berapa lama, Nila selesai dan dengan wajah sumringah mendekati saya. &#8220;Petugasnya baik banget!! Beda ama petugas imigrasi Indonesia!&#8221;, sungut Nila antara gembira sambil dongkol. Gembira karena diloloskan oleh petugas imigrasi Singapura dan dongkol dengan sikap petugas imigrasi Indonesia.</p>
<p>Menurut Nila, petugas imigrasi Singapura tidak terlalu mempermasalahkan soal masa berlaku paspor, selama masih berlaku, mereka menerima. Namun si petugas tersebut menyarankan agar segera mengurus pergantian paspor (di Indonesia, sekarang tidak ada istilah perpanjangan paspor, namun penggantian paspor). Alasannya bukan karena bernada &#8220;menyalahkan&#8221; seperti yang dipaparkan oleh petugas imigrasi Indonesia, namun lebih ke semacam &#8220;saran&#8221;. </p>
<p>&#8220;Anda harus segera mengurus paspor Anda, supaya Anda bisa datang ke sini lagi&#8221;, begitu kira-kira ucapan si mas-mas petugas imigrasi yang ditirukan oleh Nila. Benar-benar suatu pelayanan yang beda banget dengan pelayanan di Indonesia.</p>
<p>Kami pun turun dari bagian imigrasi dengan perasaan bahagia yang tertahan. Sebenernya pengen melonjak-lonjak, namun kami tahan.</p>
<p>Yang pertama kali saya lakukan, menyesuaikan zona waktu di arloji dengan menambahkan satu jam. Ya, meski posisi Singapura lebih ke barat daripada Jakarta, zona waktu Singapura lebih dulu satu jam dari Jakarta.</p>
<p>Kami pun menuju ke counter Penguin, untuk memesan waktu keberangkatan pulang. Kami di Batam sudah membeli tiket pulang-pergi, sehingga ketika di Singapura, kami cukup membooking dan sekalian <em>check-in</em>. Setelah melalui prosedur yang hampir sama ketika di Batam (bedanya, kami membayar pajak pelabuhan sebesar SGD 6), kami mendapat <em>boarding-pass</em>.</p>
<p>Selesai memesan tiket pulang kami pun turun ke hall pelabuhan. Kami sempat bingung mau ke mana karena kondisi pelabuhan tak ubahnya semacam mall. Kami bingung hendak ke mana, mau naik apa, dan mau ngapain..</p>
<p>Buat saya, yang penting ini: Maaakk!! Anakmu ini sudah menginjak-injak tanah negeri Singa!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-singapura-menyeberang-melalui-laut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

