<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe!</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 17:07:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jeng-Jeng Sebesi-Anak Krakatau</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sebesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1452</guid>
		<description><![CDATA[
Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992 bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana!
Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau Sebesi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/puncak-krakatau.jpg" alt="Di puncak Anak Krakatau" title="Di puncak Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1453" /></p>
<p>Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di <a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/Koleksi/Uang/Uang+Kertas/detail.htm?id=192" title="Uang Kertas Bank Indonesia Emisi 1992" target="_blank">uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992</a> bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana!</p>
<p>Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau Sebesi, Lampung, saya pun ikut bergabung. Ini pertama kalinya saya ikut trip bersama rombongan besar, apalagi saya bukan anggota komunitas tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-1452"></span>Awalnya kami hendak mendaftarkan diri di acara gathering tersebut, namun karena pendaftaran sudah ditutup lebih cepat dari rencana, maka kami pun urung bergabung dengan trip tersebut. Tak kehilangan akal, kami bertujuh pun tetep nekad untuk berangkat bareng mereka untuk menghemat biaya kapal dan mengetahui rute (karena selama ini saya buta rute dan gak pake rencana).</p>
<p>Kesimpulan asal saya, mengorganisasi manusia sebanyak 100-an orang itu ribet sangat. Acara dan jadwal molor karena banyaknya manusia yang telat datang ke titik kumpul Pelabuhan Merak, Banten. Saya yang sudah datang jauh-jauh lebih awal jelas sewot. Itulah sebabnya saya lebih suka jalan sendiri atau maksimal dalam kelompok kecil (kurang dari 10 orang).</p>
<p>Menuju Pelabuhan Merak banyak bus yang bisa digunakan. Bus dari Kalideres, Pulogadung, dan Kampung Rambutan selalu ada hampir 24 jam. Ongkosnya sekitar 17 ribu untuk bus AC, dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam kalo tidak macet.</p>
<p>Selain dengan bus, bisa naik kereta api dari Stasiun Jakarta Kota hingga Stasiun Merak dengan kereta Merak Jaya, namun jadwal hanya ada 2 kali pagi dan sore.</p>
<p>Dari Terminal Merak, kami cukup berjalan kaki saja menuju Pelabuhan Merak. Pelabuhan dan terminal ini konon masih dalam taraf pembangunan hingga nantinya bisa menjadi terminal terpadu (pelabuhan, terminal, dan stasiun menjadi satu kawasan dan terhubung satu sama lain). Saat ini yang sudah terpadu baru pelabuhan dan stasiun.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/etiket-merak.jpg" alt="E-ticket Pelabuhan Merak" title="E-ticket Pelabuhan Merak" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1454" /></p>
<p>Tiket naik kapal feri 10 ribu rupiah dengan bentuk kartu magnetik. Bila pernah berkunjung dan masuk ke gedung SCBD/BEI Jakarta, masuk ke Pelabuhan Merak (dan juga di Bakauheni) mirip dengan sistem masuk di gedung SCBD.</p>
<p>Tiket ditempelkan ke mesin, kemudian pintu akan terbuka. Tiket ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/pintu-masuk.jpg" alt="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" title="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1455" /></p>
<p>Perjalanan dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni memakan waktu sekitar 2 jam. Selama di kapal, kami lebih banyak tidur di atas bangku-bangku kosong. Apalagi malam membuat kami hampir tidak bisa melihat apa pun kecuali gemerlap lampu-lampu dari kawasan industri Cilegon.</p>
<p>Kami sampai di Bakauheni pas Subuh. Begitu keluar dari Pelabuhan Bakauheni, kami langsung diserbu para calo-calo dari Terminal Bakauheni. &#8220;Karang.. Karang.. Metro.. Metro.. Raja Basa.. Raja Basa..,&#8221; teriak calo tersebut yang kadang ngeselin karena mereka gak segan menarik-narik lengan dan barang bawaan calon penumpang.</p>
<p>Kami segera menyingkir dari kepungan para calo untuk nongkrong dulu di ibu penjual kopi yang ngemper di peron terminal. Selain membeli kopi, kami pun berunding untuk menentukan sarana transportasi berikutnya.</p>
<p>Tujuan kami adalah Dermaga Canti di Kalianda. Untuk menuju ke sini sebenernya bisa ditempuh dengan 2 kali naik angkot. Dari Bakauheni, naik angkot berwarna kuning turun di Pasar Kalianda. Ongkosnya 15 ribu rupiah. Dari Pasar Kalianda kemudian berganti angkot warna biru hingga ke Dermaga Canti dengan ongkos 5 ribu rupiah.</p>
<p>Karena rombongan IBP yang kami barengi pada nyewa angkot, kami pun memutuskan untuk ikut menyewa juga. Tawar-menawar harga terjadi. Kami bertujuh, jika dihitung per orang 20 ribu, ongkosnya akan jadi 140 ribu. Akhirnya kesepakatan harga terjadi, kami akan diantar hingga Dermaga Canti dengan ongkos carter 125 ribu.</p>
<p>Sepanjang jalan dari Bakauheni ke Canti, kami mencium bau durian. Sial! Bau ini membuat kami jadi pengen makan duren!!</p>
<p>Kami tiba di Canti lebih awal dari rombongan IBP. Begitu turun, lagi-lagi kami disambut oleh tawaran carter kapal ke Sebesi. Padahal menurut informasi, kapal dari Sebesi-Canti-Sebesi datang rutin setiap pukul 9 pagi. Ongkosnya pun cuma 15 ribu rupiah per orang. Bila mencarter kami ditarik ongkos 400 ribu rupiah!</p>
<p>Karena rombongan IBP sudah mencarter kapal dari Canti ke Sebesi, maka kami memilih untuk ikut rombongan IBP saja. Kami tetep membayar 15 ribu rupiah per orang ke panitia IBP.</p>
<p>Bentuk perahu motor yang melayani rute Canti-Sebesi sebelas-duabelas dengan kapal yang melayani rute Muara Angke-Pulau Pramuka, cuma ukuran kapal Sebesi ini lebih kecil dan lajunya lebih lambat. Jarak Pulau Sebesi-Canti yang cuma 13 Km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/peta-pulau.jpg" alt="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." title="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1456" /></p>
<p>Selama perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Ada 3 buah karang yang membentuk semacam pulau di sebelah selatan Dermaga Canti yang oleh penduduk setempat disebut dengan Pulau Tiga.</p>
<p>Kami bahkan menyusuri selat Sebuku yang memisahkan Pulau Sebuku dan Pulau Sebuku Kecil. Dari jauh terlihat Gunung Sebesi menjulang tinggi dengan awan menutupi puncaknya membawa kesan mistis. Dari jauh, samar-samar terlihat siluet Anak Gunung Krakatau.</p>
<p>Karena tak ingin melewatkan pemandangan ini, sebagian penumpang kapal langsung pindah untuk duduk di atap kapal. Kamera keluar semua dan akhirnya potret-memotret tak terelakkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/di-atap-kapal.jpg" alt="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" title="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1457" /></p>
<p>Perjalanan akhirnya berakhir di dermaga Sebesi. Dermaga ini merupakan akses utama untuk menuju dan keluar dari Pulau Sebesi.</p>
<p>Pulau Sebesi sebenernya berdiri di lereng Gunung Sebesi yang berketinggian 884 meter dpl. Secara administratif, Pulau Sebesi berada dalam wilayah Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Raja Basa, Kabupaten Lampung Selatan. </p>
<p>Luas pulaunya 2.620 ha dengan panjang pantai 19,55 km. Bila dilihat dari peta, pulau ini berbentuk hampir bundar. Bersama Pulau Sebuku, Sanghyang, Lagundi, dan Anak Krakatau, 5 pulau ini masuk dalam wilayah Kepulauan Krakatau yang terletak di Teluk Lampung, Selat Sunda.</p>
<p>Di Pulau Sebesi terdapat 4 dusun, yaitu Dusun Bangunan, Dusun Inpres, Dusun Regahan Lada, dan Dusun Segenom. Mata pencaharian penduduk Sebesi selain nelayan adalah bertani kelapa, pisang, dan coklat, yang hasil pertanian ini dijual ke Kalianda.</p>
<p>Kami tiba di salah satu dari 3 dermaga di Pulau Sebesi yang terletak di Dusun Bangunan. Fasilitas penginapan tidak ada, kecuali bila menginap secara homestay di rumah-rumah warga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/dermaga-sebesi.jpg" alt="Dermaga Pulau Sebesi" title="Dermaga Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1458" /></p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun (081369923312 &#8211; 08287013757), salah satu pengelola wisata di Pulau Sebesi, kami menginap di salah satu rumah warga dengan biaya 200 ribu per malam.</p>
<p>Kami menginap di salah satu ruangan di rumah warga di Dusun Bangunan. Ini memungkinkan kami bisa berinteraksi langsung dengan si pemilik rumah dan warga sekitar.</p>
<p>Sinyal operator seluler sangat sulit didapat. Ditambah listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam yang dipasok dari PLN dengan menggunakan 2 buah generator diesel. Bahkan saat kami berada di sana, listrik sedang padam karena salah satu dari generator rusak (walau begitu, warga tetap diwajibkan membayar listrik sebesar 25 ribu per bulan).</p>
<p>Karena cuaca cerah, kami sepakat untuk mengunjungi Anak Krakatau, karena anak-anak IBP mengadakan acara sendiri. Awalnya memang tidak terpikir untuk ke Anak Krakatau karena saat berangkat, cuaca sedang mendung.</p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun, kami menyewa kapal untuk menuju ke Anak Krakatau dengan biaya 1,2 juta rupiah pulang-pergi plus biaya perijinan dan pemandu dari ranger Taman Nasional sebesar 200 ribu rupiah, sehingga totalnya 1,4 juta rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/anak-krakatau.jpg" alt="Menuju ke Anak Krakatau" title="Menuju ke Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1459" /></p>
<p>Perjalanan dari Sebesi ke Anak Krakatau memakan waktu sekitar 2 jam. Makin mendekati Anak Krakatau, gelombang laut pun makin tinggi dan ganas. Kami yang awalnya duduk-duduk di atap kemudian beringsut turun dan masuk ke dalam karena goyangan kapal makin kencang sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.</p>
<p>Begitu kapal merapat ke bibir pantai Anak Krakatau, saya langsung menginjak-injakkan kaki di atas pasir hitam karena kegirangan. Maaakk!! Anakmu ini menginjakkan kaki di Anak Krakatau!!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/cagar-alam-krakatau.jpg" alt="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" title="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1460" /></p>
<p>Ketika kami tiba, kami melihat beberapa tenda tengan berdiri di depan gerbang Taman Nasional Krakatau. Selama aktivitas vulkanik Krakatau dinyatakan aman, kita diperbolehkan mendaki ke puncak, berkemah, bahkan melakukan snorkeling dan diving di sekitar Anak Krakatau.</p>
<p>Bersama pemandu, kami melakukan trekking dan mendaki hingga ke puncak Krakatau. Awalnya kami harus menembus gelapnya &#8220;hutan tropis&#8221; mini sebelum pada patok nomor 4 pada ketinggian sekitar 400 meter dpl, kondisinya sudah berubah menjadi jalur pasir bekas longsoran lahar dan beberapa pohon pinus.</p>
<p>Hingga patok nomor 5 pada ketinggian 500 meter dpl, vegetasinya sudah berubah menjadi rerumputan. Lepas dari patok nomor 6-7 pada ketinggian 600-700 meter, vegetasi sudah hampir tak ada dan hanya pasir dan batuan vulkanik. Mulai dari patok nomor 5 inilah sudut pendakian berubah curam.</p>
<p>Kami mendaki hanya sampai bibir kawah bekas letusan tahun 1992 pada patok nomor 12 atau pada ketinggian 120 meter dpl. Kami tidak bisa mencapai ke atas lagi karena puncak Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan gas belerang. Total ketinggian puncak Anak Krakatau saat kami berkunjung adalah 334 meter dpl.</p>
<p>Ketinggian dan luas pulau Anak Krakatau yang muncul pada periode 1927-1929 ini akan terus berubah seiring dengan aktivitas vulkaniknya. Bahkan dari tengah kawah yang terbentuk ketika ledakan tahun 1992 kini telah menjulang puncak baru.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/gunung-rakata.jpg" alt="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" title="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1462" /></p>
<p>Berawal dari sebuah gunung bernama Krakatau Besar berbentuk kerucut yang kemudian meletus besar hingga terbentuklah Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung.</p>
<p>Aktivitas di kaldera Krakatau di bawah laut yang terus bergejolak akhirnya memunculkan 3 gunung baru di atas Pulau Rakata, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.</p>
<p>Pada tanggal 27 Agustus 1883, terjadi letusan besar yang akhirnya menenggelamkan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan dan hanya menyisakan Gunung Rakata. Kaldera yang terbentuk dari ledakan ini memiliki diameter hingga 7 Km.</p>
<p>Aktivitas vulkanik di dasar laut Krakatau terus bergejolak hingga pada periode 1927-1929 terbentuklah pulau baru yang kini dinamakan Anak Krakatau.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/proses-anak-krakatau.jpg" alt="Proses terbentuknya Anak Krakatau" title="Proses terbentuknya Anak Krakatau" width="350" height="789" class="alignnone size-full wp-image-1461" /></p>
<p>Setelah puas menjelajah puncak Krakatau, kami kembali turun sebelum semakin sore. Melihat pantai dengan air jernih, badan rasanya gatal kalo tidak nyemplung. Kami pun kalap dan berkecipak-kecipak nyemplung ke laut!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-krakatau.jpg" alt="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" title="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1463" /></p>
<p>Anak buah kapal berteriak-teriak ke arah kami untuk segera naik ke kapal dan segera kembali ke Sebesi. Selain takut kesorean, ternyata kami disuguhkan pemandangan dahsyat di atas laut ketika pulang.</p>
<p>Di barat, mentari lambat-lambat mulai tenggelam. Anak Krakatau yang gagah nampak tertidur di samping Pulau Sertung yang sekilas berbentuk mirip paus membentuk siluet dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/krakatau-sertung.jpg" alt="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" title="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1464" /></p>
<p>Mendekati Pulau Sebesi, langit sudah gelap. Di kejauhan, di bagian daratan Lampung, kami melihat petir berkilat-kilat teredam mendung pekat. Sepertinya hujan deras tengah mengguyur Lampung. Kami pun bisa dengan jelas melihat rasi bintang scorpio di langit utara, suatu hal yang sangat langka kami temukan di Jakarta. Suara bising mesin kapal tak lagi kami hiraukan.</p>
<p>Kapal yang kami tumpangi tidak memiliki penerangan sama sekali. Kami hanya mengandalkan satu-satunya senter yang dibawa oleh seorang rekan. Begitu kami tiba di dermaga, suasana pun gelap gulita.</p>
<p>Kami berjalan kembali ke penginapan yang untungnya ada genset pribadi di rumah tersebut, sehingga rumah tempat kami menginap lebih terang daripada rumah lain yang menggunakan penerangan lampu minyak (lampu teplok).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/pagi-sebesi.jpg" alt="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" title="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1466" /></p>
<p>Keesokan paginya, kami menghabiskan waktu bermain-main dan menyusuri pantai di Pulau Sebesi. Setelah berburu sunrise di dermaga dan makan nasi udduk di warung sebelah penginapan, kami menyurusi pantai hingga mencapai kawasan hutan bakau di sebelah timur laut kemudian berganti arah menuju barat laut untuk menemukan pantai yang teduh untuk mandi-mandi.</p>
<p>Kami pun akhirnya mandi-mandi di pantai dengan pemandangan langsung ke Pulau Umang (masyarakat menyebutnya juga Pulau Umang Umang).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-sebesi.jpg" alt="Bermain di pantai Pulau Sebesi" title="Bermain di pantai Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1465" /></p>
<p>Setelah membersihkan diri dan berkemas, kami meninggalkan Pulau Sebesi sekitar pukul 12 bareng dengan rombongan IBP.</p>
<p>Selama perjalanan, kami mengalami 2 kali senja di atas laut. Pertama ketika kami kembali dari Anak Krakatau dan yang kedua ketika kami berada di atas feri KM Raja Basa I yang membawa kami dari Bakauheni ke Merak. Lagi-lagi kami mendapat pemandangan senja yang menakjubkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/senja-kapal.jpg" alt="Menikmati senja di atas kapal feri" title="Menikmati senja di atas kapal feri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1467" /></p>
<p>Postingan terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.mrbambang.web.id/2010/02/journey-to-sebesi-island-and-child-of-krakatoa.blog/comment-page-1/#comment-2491" title="Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa" target="_blank">Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa</a> di blog Bambang</li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/zamroni/sets/72157623384262786/" title="Muhammad Zamroni's buddy icon<br />
Sebesi &#038; Anak Krakatau" target="_blank">Galeri foto di Flickr</a></li>
</ul>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Danau Purba Borobudur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 23:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi & Ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Elo]]></category>
		<category><![CDATA[National Geographic Indonenesia]]></category>
		<category><![CDATA[NGI]]></category>
		<category><![CDATA[Progo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[
Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp menulis di dalam bukunya yang berjudul Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.
Bersama teman-teman dari forum National Geographic [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/sutikno.jpg" alt="" title="Ir. Sutarto, M.T. menjelaskan batuan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1445" /></p>
<p>Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama <em>W.O.J Nieuwenkamp</em> menulis di dalam bukunya yang berjudul <em>Fiet Borobudur Meer</em> (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.</p>
<p><span id="more-1444"></span>Bersama teman-teman dari <a href="http://forum.nationalgeographic.co.id/" title="Forum national Geographic Indonesia" target="_blank">forum National Geographic Indonesia</a> regional Yogyakarta, saya berkesempatan menelusuri jejak-jejak danau purba di sekitar Borobudur, yang membuat saya seolah-olah sedang kuliah lapangan!</p>
<p>Saya mendengar pernyataan ini langsung dari Ir. Helmy Murwanto, M.Sc.,  Ir. Sutarto, M.T., dan Dr. Sutanto, tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta yang telah melakukan penelitian terhadap materi-materi tanah di sekitar Borobudur sejak tahun 1996 hingga sekarang untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp.</p>
<p>Hipotesa danau purba Nieuwenkamp dianggap sebuah mitos oleh <em>Van Erp</em>,  pemimpin tim pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911 dari Belanda. Menurut Van Erp, hipotesa ini ngawur karena  tidak didukung bukti-bukti kuat seperti prasasti tentang adanya danau di kawasan itu.</p>
<p>Hipotesa Nieuwenkamp ini lah yang membuat Pak Helmy yang orang Muntilan, Magelang, ini bersama kawan-kawannya tertarik meneliti materi endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo, dan Sungai Elo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/helmy-lempung-hitam.jpg" alt="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" title="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1446" /></p>
<p>Sampel lempung hitam yang sekilas bentuknya seperti arang basah ini kemudian diteliti dengan analisis radio karbon C-14. Ternyata lempung hitam ini banyak mengandung serbuk sari (<em>pollen</em>) dari tanaman komunitas rawa atau danau, antara lain <em>Commelina</em>, <em>Cyperaceae</em>, <em>Nymphaea stellata</em>, dan <em>Hydrocharis</em>, juga fosil kayu. Dalam bahasa populer, flora ini adalah tanaman teratai, rumput air, dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu. Dari analisis ini pula diketahui ternyata endapan lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun.</p>
<p>Pada tahun 2001, Pak Helmy dan tim melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C-14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. Maka dari hasil ini bisa disimpulkan kalo danau ini sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu (zaman <em>Plistosen</em>), dan berakhir di sekitar akhir abad ke-10 hingga abad ke-13.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/sutanto.jpg" alt="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" title="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1448" /></p>
<p>Candi Borobudur konon dibangun di atas daratan (bukit) yang terbentuk karena timbunan endapan-endapan material vulkanik dari beberapa gunung di sekitarnya, yang terbawa oleh sungai-sungai yang bermuara ke danau ini, antara lain Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro.</p>
<p>Sungai-sungai yang ada sekarang di sekitar Borobudur dulunya bermuara di danau purba ini. Namun seiring terbendungnya aliran-aliran sungai oleh material vulkanik, akhirnya danau ini mengering dan membuat sungai-sungai yang dulunya bemuara di danau ini mencari jalurnya sendiri hingga sekarang mengarah ke Laut Selatan.</p>
<p>Namun ada teori lain yang mengatakan bahwa danau ini sudah mengering jauh sebelum Borobudur dibangun, yaitu sebelum abad ke-8. Bahkan diperkirakan di lingkungan tersebut sudah terdapat pemukiman penduduk ketika Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra dengan arsitek Gunadharma ini.</p>
<p>Hal ini bisa ditengarai dari pemakaman umum di beberapa desa di sekitar Borobudur yang berumur sebelum tahun 1300. Nisan makam kuno terbuat dari kayu jati relatif tipis, bukan dari batu. Teori ini dikemukakan oleh budayawan Aris Sutomo, penulis buku <em>Temples of Java</em>.</p>
<p>Yang menarik, ada dugaan lain bahwa awalnya danau ini bagian dari laut yaitu terbentuk dari laut yang terjebak, karena ditemukannya beberapa sumur yang airnya asin di di Desa Candirejo, Sigug, dan Ngasinan. Selain itu, bebatuan karang di Bukit Menoreh di sebelah selatan Borobudur ditengarai sebagai karang laut zaman dahulu.</p>
<p>Bila Van Erp mempertanyakan bukti-bukti prasasti, tim Helmy menggunakan prasasti toponim (asal mula penamaan) nama daerah di sekitar Borobudur, yang berkaitan dengan lingkungan air. Misalnya nama desa Bumi Segoro  di sebelah barat daya Borobudur, yang mana &#8220;bumi&#8221; berarti daratan dan &#8220;segoro&#8221; berarti laut atau danau. Juga ada desa bernama Sabrang Rowo (menyeberang rawa/danau) di sebelah selatan Borobudur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/lapisan-tanah.jpg" alt="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" title="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1451" /></p>
<p>Penelitian tim dari UPN ini bertujuan untuk mencari tahu sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai dari awal terbentuknya danau, yaitu dugaan air laut yang terjebak hingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa, dan rawa menjadi dataran, menggunakan analisis lapisan tanah dan batuan.</p>
<p>Selain tim peneliti dari UPN ini, penelitian serupa untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp juga dilakukan pernah oleh seorang ahli geologi bernama <em>Van Bemmelen</em> pada tahun 1949.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul <em>The Geology of Indonesia</em> (Geologi Indonesia), Van Bemmelen menyebutkan di daerah Magelang bagian selatan dulu pernah terbentuk danau yang terbentuk oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M (meski beberapa ahli mempertanyakan catatan tahun letusan Merapi tahun 1006 M ini).</p>
<p>Letusan ini mengakibatkan sebagian puncak Merapi longsor ke arah barat daya, kemudian tertahan oleh Bukit Menoreh bagian timur yang berada di selatan daerah Borobudur. Akibatnya, material longsoran tersebut membendung aliran Kali Progo di timur Borobudur, sehingga terbentuklah genangan yang luas di dataran Magelang bagian selatan. Setelah berabad-abad, sumbatan yang membendung Kali Progo hilang oleh proses erosi, akhirnya danau mengering.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/peserta.jpg" alt="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" title="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1449" /></p>
<p>Nah, bila memang benar di sekeliling Borobudur saat itu terdapat danau atau rawa, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah batu-batu ini dibentuk dan bagaimana batu-batu ini dibawa ke bukit Borobudur untuk disusun menjadi candi. Apakah batu dibawa dalam bentuk utuh atau sudah berbentuk potongan-potongan balok batu?</p>
<p>Bila batuan dibawa dalam bentuk balok-balok itu, di manakah bengkel pemotongan batu ini? Bila memang dilakukan di tempat lain, di mana kah letak pemotongan batu ini? Bila batu dibawa dalam bentuk utuh kemudian dibentuk di bukit Borobudur, di mana kah &#8220;sampah&#8221; batu bekas ukiran dibuang?</p>
<p>Borobudur rupanya mempunyai sejarah dan pesona yang sampai sekarang masih menjadi misteri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Ciwidey</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 16:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[ciwidey]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1434</guid>
		<description><![CDATA[
Bandung selatan memiliki potensi wisata yang menarik. Selain Pangalengan, Ciwidey bisa menjadi pilihan berlibur yang cukup dekat dari Jakarta atau Bandung.
Ciwidey yang sebenernya merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur ini merupakan daerah perkebunan dan pertanian yang memiliki banyak obyek wisata. Salah duanya yang terkenal adalah Kawah Putih dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/12/ciwidey.jpg" alt="Di Kawah Putih Ciwidey" title="Di Kawah Putih Ciwidey" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1435" /></p>
<p>Bandung selatan memiliki potensi wisata yang menarik. Selain <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pangalengan.html" title="Jeng-Jeng Pangalengan">Pangalengan</a>, Ciwidey bisa menjadi pilihan berlibur yang cukup dekat dari Jakarta atau Bandung.</p>
<p>Ciwidey yang sebenernya merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur ini merupakan daerah perkebunan dan pertanian yang memiliki banyak obyek wisata. Salah duanya yang terkenal adalah Kawah Putih dan Situ Patengan.</p>
<p><span id="more-1434"></span>Bersama 3 orang rekan lain, saya berkunjung ke Ciwidey, seperti biasa, tanpa rencana. Dari cetusan semalam, saya kemudian berkemas secukupnya, dan berangkat esok paginya dengan cara <em>ngeteng</em> (menggunakan kendaraan umum).</p>
<p>Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, menuju Ciwidey menjadi lebih mudah. Tinggal keluar dari tol Kopo kemudian ikuti jalur ke arah Soreang-Ciwidey.</p>
<p>Dari Jakarta, kami menggunakan bus Primajasa dari Terminal Lebakbulus. Ongkosnya 50 ribu rupiah dengan tujuan akhir Terminal Leuwi Panjang, Bandung.</p>
<p>Dari Leuwi Panjang, kami berganti angkutan dengan menumpang bus Putera Setia jurusan Leuwi Panjang-Ciwidey. Ongkosnya sangat murah, 6 ribu rupiah dengan waktu tempuh 2-3 jam (tergantung kemacetan di jalan raya Kopo).</p>
<p>Selain menggunakan bus Putera Setia, Ciwidey juga bisa ditempuh dengan menggunakan Elf jurusan Leuwi Panjang-Ciwidey atau 2 kali naik angkot (Leuwi Panjang-Soreang, dilanjut Soreang-Ciwidey).</p>
<p>Sesampai di Terminal Cibeureum, Ciwidey, kami menggunakan ojek untuk naik ke atas sembari mencari penginapan. Ongkos ojek ini sekitar 15 ribu, makin pandai menawar, makin murah ongkosnya.</p>
<p>Karena ketidaktahuan plus begitu turun dari bus kami diserbu oleh tukang ojek yang menawarkan jasanya, makanya kami menggunakan ojek. Padahal sebenernya bisa juga menggunakan angkot berwarna kuning jurusan Cibeureum-Situ Patengan dengan ongkos sekitar 3-7 ribu (tergantung jarak).</p>
<p>Oleh tukang ojek, kami direkomendasikan menginap di bungalow dan restoran Kampoeng Strawberry (Jl. Rancabali KM 7, Alam Indah, Ciwidey, Telp. 022-8592 0550). Pertimbangan tukang ojek, penginapan ini jaraknya lebih dekat ke obyek-obyek wisata.</p>
<p>Penginapan lain di sekitar sini adalah  penginapan Patuha Resort dan bumi perkemahan Ranca Upas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/12/kampoeng-strawberry.jpg" alt="Bungalow dan Restoran Kampoeng Strawberry" title="Bungalow dan Restoran Kampoeng Strawberry" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1436" /></p>
<p>Bungalow yang kami sewa merupakan bungalow yang standar. Rate-nya 400 ribu plus ekstra bed dan pajak, totalnya 490 ribu. Biaya ini kami bagi berempat, sehingga per orang membayar Rp 122.500. Bungalow standar ini memiliki air panas.</p>
<p>Jika menyukai yang lebih alami, bisa menginap di bumi perkemahan Ranca Upas atau di wisma PTPN VIII. Daerah di dekat obyek wisata (seputaran daerah Alam Indah) sangat minim penginapan. Penginapan yang agak murah dengan rate 100-200 ribu ada di bawah (seputaran Cibereum-Ciwidey), dengan konsekuensi jarak tempuh yang jauh ke obyek-obyek wisata.</p>
<p>Sepanjang jalan dari terminal hingga Situ Patengan kita dapat menemukan berbagai tempat yang menawarkan wisata memetik sendiri buah strawberry dari kebun. Strawberry yang telah dipetik kemudian ditimbang untuk kemudian dibeli. Kita bisa juga langsung memakan strawberry di kebun.</p>
<p>Setelah cek-in dan meletakkan barang, kami langsung menuju ke Situ Patengan, obyek wisata yang paling jauh. Apalagi kami datang sudah terlalu sore karena terjebak macet.</p>
<p>Ada yang menyebut nama obyek wisata ini dengan &#8220;Patengang&#8221; atau &#8220;Patenggang&#8221;, menurut saya ini cuma faktor &#8220;kesleo&#8221; lidah dalam pengucapan saja. Meski begitu, cukup banyak penduduk lokal mengucapkan &#8220;Patenggang&#8221; yang berarti &#8220;berjarak&#8221; (dari kata &#8220;tenggang&#8221;).</p>
<p>Bila diurutkan, obyek-obyek wisata di daerah ini berada dalam sau garis jalan, yaitu Kawah Putih, pemandian air panas Cimanggu, bumi perkemahan Ranca Upas, kebun teh dan pemandian air panas Ranca Ciwalini, kebun teh PTPN VIII Ranca Bali, dan berakhir di Situ Patengan.</p>
<p>Dari penginapan, kami naik angkot hingga ke Situ Patengan. Ongkosnya 5 ribu rupiah, plus 5 ribu untuk retribusi, semua dibayar oleh sopir angkot. Saya curiga duit retribusi kami dimakan sendiri oleh si sopir angkot, apalagi kami tidak mendapat tiket resmi.</p>
<p>Sopir angkot ini pula yang membuat perjalanan kami jadi kurang menyenangkan. Kalo misal ada banyak sopir angkot macam begini di satu obyek wisata, bisa dipastikan obyek wisata itu akan hancur, karena wisatawan jadi enggan datang. Selengkapnya saya ceritakan nanti.</p>
<p>Situ Patengan adalah sebuah danau seluas 48 hektar yang terbentuk dari sisa-sisa aktivitas vulkanik. Terletak pada ketinggian sekitar 1.600 meter dpl, membuat taman wisata ini sejuk. Apalagi di sekitar danau ditumbuhi tanaman pinus dan kayu putih.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/01/situ-patengan.jpg" alt="Situ Patengan di kala senja" title="Situ Patengan di kala senja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1437" /></p>
<p>Ada sebuah legenda tentang kemunculan Situ Patengan ini. Konon dulu ada sejoli yang bernama Raden Indrajaya,  (berjuluk Ki Santang), keponakan Prabu Siliwangi, dengan Dewi Rengganis yang karena peperangan, mereka berdua harus terpisah. Menangislah mereka hingga air matanya tergenang menjadi danau ini.</p>
<p>Karena kekuatan cinta mereka, kedua sejoli ini bertekad untuk bertemu sehingga mereka saling mencari, yang dalam bahasa Sunda &#8220;pateangan-teangan&#8221;. Nah, dari kata inilah nama Patengan berasal.</p>
<p>Mereka pun akhirnya bertemu kembali di tempat ini. Tempat bertemunya kedua sejoli ini dinamakan Batu Cinta. Wujud dari batu ini dikabarkan mirip dengan sosok manusia, namun batu ini sangat jarang terlihat karena berada di dalam danau, kecuali ketika air danau surut.</p>
<p>Dewi Rengganis pun meminta kepada Ki Santang untuk dibuatkan perahu untuk digunakan berkeliling danau. Konon pulau yang terletak di tengah danau ini dulunya adalah perahu Ki Santang yang digunakan untuk berkeliling. Ndak heran banyak persewaan perahu yang memang digunakan untuk berkeliling di danau sedalam 3 hingga 4 meter ini.</p>
<p>Pulau di tengah danau tersebut bernama Pulau Sasaka dan lebih dikenal dengan nama Pulau Asmara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/01/perahu-patengan.jpg" alt="Perahu sewaan di Situ Patengan" title="Perahu sewaan di Situ Patengan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1438" /></p>
<p>Sewa perahu lumayan mahal, sekitar 50-80 ribu. Atau jika menunggu penuh, dikenai tarif 15 ribu per orang. Namun yang menyebalkan, rata-rata para pemilik perahu memaksa pengunjung untuk menyewa.</p>
<p>Menurut mitos, barang siapa yang mengelilingi Pulau Asmara dan singgah di lokasi seputaran Batu Cinta, maka kisah cinta kedua sejoli ini akan abadi seperti pada kisah cinta Ki Santang dan Dewi Rengganis.</p>
<p>Situ Patengan dulunya bersatatus cagar alam dan taman nasional, namun sejak 1981, Situ Patengan dijadikan sebagai taman wisata.</p>
<p>Di sekeliling danau terdapat beberapa penginapan, toko-toko suvenir, dan warung makan yang nampak berjajar. </p>
<p>Kendaraan umum yang melayani rute ini paling terakhir beroperasi jam 6 sore. Dan inilah awal dari kekesalan kami kepada sopir angkot yang kami tumpangi sebelumnya.</p>
<p>Ketika kami tiba, si bapak menawarkan jasa untuk menunggui dan mengantarkan kami pulang. Tawar-menawar harga pun terjadi, dan disepakati harga sebesar 40 rupiah. Kami menganggap angkot sudah kami carter.</p>
<p>Menyebalkannya, ketika mengantar kami, angkot ini ternyata juga mengangkut penumpang sepanjang jalan! Kurang asem! Merasa tertipu, kami memutuskan untuk membayar ongkos layaknya kami naik angkot dengan tarif biasa.</p>
<p>Ketika kami sampai di penginapan dan membayar ongkos sebesar 20 ribu (untuk 4 orang), si sopir angkot tidak terima. Dia memaksa kami untuk membayar harga 40 ribu. Kok nyimut!!</p>
<p>Bahkan ketika kamu cuekin tu angkot, si sopir mengejar kami dan keributan terjadi. Kami berkeras bahwa itu sopir angkot menyalahi kesepakatan, wong sudah dicarter kok masih mengangkut penumpang. Sopir angkot ngehe itu berkilah, &#8220;kalo emang nggak mau ngangkut penumpang lain, bilang, dong&#8221;. Ini sopir angkot emang ngeselin.</p>
<p>Akhirnya satpam penginapan datang menengahi kami. Kami menjelaskan duduk persoalan, dan debat masih terjadi. Kami tetep tidak mau membayar ongkos sesuai kesepakatan karena si sopir angkot sejak awal sudah tidak jujur.</p>
<p>Karena capek dan malas berdebat lagi, kami mengancam bahwa kami bisa menulis di media (salah seorang di antara kami memang wartawan sebuah koran nasional) dan membuat lokasi wisata ini sepi, karena ulah penduduknya sendiri. Satpam yang tentunya membela tamu penginapan akhirnya memutuskan kami yang menang. Ya memang seharusnya begitu.</p>
<p>Sumpah asli Ciwidey dingin sekali. Setelah masuk penginapan yang nyaman, kami enggan keluar. Bahkan untuk sekedar mencari makan. Untungnya lokasi penginapan kami terdapat restoran, sehingga kami tidak harus bersusah-susah mencari warung, tinggal ngesot ke depan.</p>
<p>Walau kami kehabisan menu, karena kami datang ke restoran cukup malam, sekitar jam 9, kami cukup beruntung. Suasana yang sunyi tentu menyulitkan menemukan tempat makan lainnya. Mana ada penjual pecel lele kaki lima di tempat ini?</p>
<p>Pagi-pagi kami segera nyegat angkot di depan penginapan. Ndak berbeda dengan angkot semalam, sopir angkot kami yang masih remaja menawarkan jasa menyewakan angkotnya, karena dari gerbang untuk sampai ke kawah masih cukup jauh. Tentu kami menolak dan meminta untuk turun di depan gerbang obyek wisata Kawah Putih.</p>
<p>Setiba di depan gerbang kami dipungut biaya resmi retribusi sebesar 12 ribu per orang. Awalnya kami hendak naik ontang-anting, kendaraan khas obyek wisata ini berupa mobil pickup yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga mampu memuat 12 orang, urung karena lagi-lagi kami agak sedikit dipaksa untuk menyewa. Biaya sewa 100 ribu per orang. Cih!</p>
<p>Kalo dihitung-hitung oleh kami berempat, per orang membayar 25 ribu. Padahal seharusnya ontang-anting itu beroperasi layaknya angkot, mengantar penumpang dari gerbang ke kawah dengan biaya yang cukup murah. Tapi lagi-lagi sopir angkot nggak mau rugi. Mungkin karena sepi pengunjung yang menggunakan jasa mereka, karena rata-rata wisatawan di sini menggunakan kendaraan pribadi.</p>
<p>Kami pun memutuskan naik ojek saja. Tukang ojek awalnya memasang harga 25 ribu untuk diantar PP, dan kami menawar 20 ribu. Sebenernya bila kami lebih gigih lagi, kami bisa dapat harga 15 ribu. Tapi ya sudah lah, kami  udah malas berurusan dengan mobil, takutnya kejadian &#8220;angkot&#8221; semalam kembali terulang.</p>
<p>Sekitar 10 menit kami diantar menuju kawah. Walau medannya gak seganas ketika mencapai <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html" title="Jeng-Jeng Garut">Kawah Papandayan, Garut</a>, namun jalan yang kami lalui cukup mendebarkan.</p>
<p>Di sekitar kawah, banyak terdapat rambu peringatan untuk tidak berlama-lama di seputar kawah. Kandungan belerangnya yang sangat kuat memang bisa mengganggu kesehatan bila berlama-lama menghirup gasnya. Belum lagi bau belerang yang busuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/01/kawah-putih.jpg" alt="Kawah Putih" title="Kawah Putih" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1439" /></p>
<p>Kawah Putih merupakan salah satu dari dua kawah yang ada di Gunung Patuha. Kawah yang satunya adalah Kawah Saat (kata &#8220;saat&#8221; berarti &#8220;surut&#8221; dalam bahasa Sunda). Kedua kawah ini diperkirakan terbentuk pada abad ke-10 atau 12.</p>
<p>Kawah Putih terletak pada ketinggian 2.343 meter dpl sedangkan Kawah Saat terletak pada ketinggian 2.194 meter dpl.</p>
<p>Berawal pada tahun 1837, seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, menemukan kawah ini ketika melakukan ekspedisi.</p>
<p>Karena kandungan belerangnya yang sangat tinggi, bahkan burung pun tak ada yang melintas di atas kawah ini, zaman pemerintahan Belanda, sempat dibangun pabrik belerang dengan nama <em>Zwavel Ontgining Kawah Putih</em> di kawasan ini. Pada masa pendudukan Jepang, pabrik ini kemudian diberi nama <em>Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey</em>.</p>
<p>Pada tahun 1987 PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan kawasan Kawah Putih ini menjadi kawasan obyek wisata.</p>
<p>Keunikan Kawah Putih terletak pada warna air di danau kawahnya. Warna air danau ini dapat berubah warna, kadangkala berwarna hijau apel kebiru-biruan bila siang hari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu, namun paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut asap tebal di atas permukaan kawah. Oleh karena itu kawah tersebut dinamakan Kawah Putih.</p>
<p>Di salah satu sisi tebing, terdapat goa kecil yang &#8220;disegel&#8221; dengan kayu bertuliskan &#8220;jangan mendekat&#8221;. Begitu lewat di depan goa ini, bau belerang yang menyengat begitu kuat dapat tercium hebat. Konon ini sisa-sisa pabrik belerang yang ada di sini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/01/goa-belerang.jpg" alt="Goa belerang Kawah Putih" title="Goa belerang Kawah Putih" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1440" /></p>
<p>Cerita legenda pun rupanya juga menyelimuti kawasan ini. Konon di sekitar kawah ini terdapat beberapa makam keramat, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong.</p>
<p>Salah satu puncak Gunung Patuha yaitu Puncak Kapuk, konon merupakan tempat pertemuan para penunggu yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon, di tempat ini terkadang secara ghaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat sekitar disebut <em>domba lukutan</em>.</p>
<p>Saya menemukan sebuah jalan setapak yang sepi menyusuri salah satu bibir danau. Dugaan saya, jalan setapak ini menuju ke makam yang dikeramatkan ini.</p>
<p>Kami pun tak mau berlama-lama. Selain hari makin siang, orang mulai ramai berdatangan, juga perut udah mual dan mata mulai pedih akibat terlalu lama menghirup bau belerang, kami pun meninggalkan kawah.</p>
<p>Fasilitas di kawasan ini bisa dibilang cukup bagus. Toilet bersih, mushola lumayan, plus banyak penjaja makanan yang bisa menjadi andalan untuk mengganjal perut yang keroncongan.</p>
<p>Salah satu makanan yang layak dicoba adalah Sate Strawberry Coklat. terdiri dari beberapa biji strawberry gemuk yang ditusuk-tusuk kemudian dilumuri coklat beraneka warna dan rasa. Harganya 10 ribu dapat 3 tusuk sate.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/01/sate-strawberry.jpg" alt="Sate Strawberry" title="Sate Strawberry" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1441" /></p>
<p>Kami kembali ke penginapan dan kemudian check-out. Masalah kembali datang. Karena mengandalkan stiker bertulis VISA, BCA, dan Mandiri Debet yang tertempel di depan ruang resepsionis, kami pun nyantai ketika harus membayar biaya kamar.</p>
<p>Sial! Rupanya saluran telepon hotel bermasalah sehingga pembayaran menggunakan berbagai jenis macam kartu tidak dapat dilakukan. Padahal uang cash kami sudah habis dan hanya cukup untuk ongkos pulang. Walau sudah menguras semua kantong, duit terkumpul masih kurang 400 rebu. Terpaksa saya turun ke bawah naik angkot untuk mencari ATM.</p>
<p>Mampus. Rupanya ATM sangat susah ditemui. Akhirnya saya mampir di Alfamart di daerah deket-deket &#8220;kota&#8221; Ciwidey yang ada tulisan &#8220;TUNAI BCA&#8221;-nya. Alhamdulillah! Kami pun bisa check-out!</p>
<p>Pelajaran yang bisa dipetik: bawa uang cash yang cukup banyak bila Anda bepergian ke lokasi pelosok. Segala macam kartu sakti tidak akan berfungsi di daerah macam ini.</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampung Naga, Kampung Yang Masih Memegang Tradisi Leluhur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kampung-naga-kampung-yang-masih-memegang-tradisi-leluhur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kampung-naga-kampung-yang-masih-memegang-tradisi-leluhur.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:54:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Tasikmalaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1424</guid>
		<description><![CDATA[
Kampung Naga merupakan salah satu dari kampung yang masih memegang tradisi dan adat istiadat leluhur, namun bisa hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat lain yang lebih modern.
Mengunjungi Kampung Naga memang memiliki keunikan tersendiri. Melihat dari dekat kehidupan sederhana dan bersahaja yang masih tetap lestari di tengah peradaban modern.
Hari Selasa, Rabu, dan Sabtu adalah hari pantangan bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/di-kampung-naga.jpg" alt="di Kampung Naga" title="di Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1425" /></p>
<p>Kampung Naga merupakan salah satu dari kampung yang masih memegang tradisi dan adat istiadat leluhur, namun bisa hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat lain yang lebih modern.</p>
<p>Mengunjungi Kampung Naga memang memiliki keunikan tersendiri. Melihat dari dekat kehidupan sederhana dan bersahaja yang masih tetap lestari di tengah peradaban modern.</p>
<p>Hari Selasa, Rabu, dan Sabtu adalah hari pantangan bagi masyarakat Kampung Naga untuk membicarakan berbagai hal tentang tradisi mereka. Selain pada hari pantangan tersebut, kita bisa berinteraksi dengan mereka dengan lebih leluasa.</p>
<p><span id="more-1424"></span>Kampung Naga secara administratif terletak di kampung Legok Dage, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Terletak persis di samping jalan raya Tasikmalaya-Garut dari rute Tasikmalaya-Bandung, membuat kampung ini mudah dicapai.</p>
<p>Untuk menuju ke sini bisa ditempuh dari 2 arah, dari Garut atau dari Tasikmalaya, karena kampung ini terletak di &#8220;tengah-tengah&#8221; perbatasan kedua kota, sekitar 30 km dari Tasikmalaya dan 26 km dari Garut.</p>
<p>Dari Jakarta, saya menuju Garut dengan menggunakan bus Primajasa dari Terminal Lebak Bulus dengan ongkos 35 ribu rupiah. Bila naik yang jurusan Tasikmalaya, ongkosnya 40 ribu rupiah.</p>
<p>Pertimbangan saya, dari Kampung Naga, saya akan meneruskan perjalanan ke Tasikmalaya, sehingga bila berangkat dari Garut lebih mangkus. Apalagi entah kenapa bus-bus jurusan Tasikmalaya yang biasanya <em>pating tlecek</em> di Terminal Lebak Bulus, saat itu tidak ada sama sekali.</p>
<p>Dari Terminal Guntur, Garut, saya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Elf (colt diesel) tujuan Garut-Tasikmalaya dengan ongkos 20 ribu rupiah. Perjalanan memakan waktu sekitar 1-2 jam tergantung kecepatan Elf (sering ngetem menunggu penumpang atau tidak). Ongkos dan waktu tempuh juga hampir sama jika menempuh dari Tasikmalaya.</p>
<p>Jika dari Bandung, gunakan minibus kecil jurusan Bandung-Tasikmalaya. Namun tanyakan dulu apakah bus tersebut melewati Kampung Naga atau tidak.</p>
<p>Jalan berkelok menyusuri bukit adalah jalur yang kami lewati. Saking penuhnya Elf, beberapa penumpang bahkan sampai duduk di atas atap Elf. Saya ndak bisa membayangkan gimana rasanya berada di atap ketika Elf menukik dan berkelok menyusuri tepian jurang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/kampung-naga.jpg" alt="Gerbang Kampung Naga" title="Gerbang Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1426" /></p>
<p>Turun dari Elf, saya disambut oleh sebuah lapangan parkir beraspal dan gerbang bertuliskan &#8220;Selamat Datang di Kampung Naga&#8221;, serta sebuah tugu Kujang, senjata tradisional Sunda. Di seputaran tempat parkir sudah terdapat kios-kios penjual suvenir anyaman khas Tasikmalaya yang dibuat oleh penduduk Kampung Naga dan warung-warung makan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/memanggul-batu.jpg" alt="Seorang penduduk memanggul batu kali untuk dijual" title="Seorang penduduk memanggul batu kali untuk dijual" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1427" /></p>
<p>Untuk menuju ke Kampung Naga, cukup sulit. Saya harus menuruni anak tangga dengan sudut yang curam, mencapai sekitar 45&deg;. Walau anak tangga ini terbuat dari semen yang cukup bagus, bila tidak berhati-hati kita bisa saja terjatuh.</p>
<p>Apalagi tidak ada pagar yang bisa dipakai untuk pegangan, membuat pengunjung harus lebih berhati-hati.</p>
<p>Beberapa penduduk Kampung Naga tampak sedang mendaki naik untuk keluar dari Kampung Naga dan melakukan aktivitas di luar. Seorang bapak yang saya sapa bahkan sedang memanggul batu kali untuk dijual.</p>
<p>Separo perjalanan, dari jauh sudah terlihat deretan rumah berwarna putih beratap hitam menyembul dari kaki bukit dan sawah. Sungai Ciwulan dengan air deras berwarna kecoklatan yang mata airnya berasal dari Gunung Cikuray, Garut, mengapit desa.</p>
<p>Masyarakat Kampung Naga memang menggantungkan hidup dari pertanian dan sungai. Saya jadi teringat sejarah bahwa peradaban manusia lahir di lembah sungai.</p>
<p>Sebuah jalan semen nampak jelas menjadi jalan utama menuju gerbang masuk Kampung Naga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/jalan-kampung-naga.jpg" alt="Jalan utama menuju Kampung Naga" title="Jalan utama menuju Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1428" /></p>
<p>Masyarakat Kampung Naga yang berjumlah sekitar 100 kepala keluarga ini begitu kuat menaati aturan dan adat istiadat yang berlaku. Aturan ini mencakup banyak hal, mulai dari waktu dan tata cara kehidupan hingga pola arsitektur serta kebudayaan.</p>
<p>Mereka sangat mempercayai hal-hal mistis sehingga ada lokasi-lokasi yang dikeramatkan, antara lain hutan adat yang terletak di sebelah barat di mana di sana terdapat makam para leluhur mereka.</p>
<p>Banyak versi yang menceritakan sejarah Kampung Naga, namun tidak ada catatan resmi karena dokumen-dokumen sejarah kampung ini musnah ketika serangan pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.</p>
<p>Namun versi yang populer adalah pada masa kewalian Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang muridnya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah barat hingga mencapai daerah Neglasari (Kampung Naga sekarang).</p>
<p>Awalnya penduduk di sana memeluk agama Hindu yang berasal dari kerajaan Pajajaran, namun akhirnya memeluk agama Islam yang dibawa oleh Singaparana. Sembah Dalem Singaparana inilah yang kemudian menjadi leluhur dan sosok yang dihormati oleh masyarakat Kampung Naga.</p>
<p>Nama &#8220;Kampung Naga&#8221; sendiri diduga berasal dari kata &#8220;Kampung Nagawi&#8221;, yang kemudian lebih sering disebut dengan &#8220;Kampung Naga&#8221;.</p>
<p>Meski semua penduduk beragama Islam, namun tata cara peribadatan mereka berbeda dengan umat Islam pada umumnya. Misalnya, mereka melakukan sholat hanya pada hari Jumat. Juga beberapa hari besar agama Islam juga mereka terapkan yang diberi nama <em>Hajat Sasih</em>. Pengaruh Hindu masih kuat terasa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/rumah-kampung-naga.jpg" alt="Rumah-rumah di Kampung Naga" title="Rumah-rumah di Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1429" /></p>
<p>Rumah-rumah panggung berderet rapi memanjang dari barat ke timur. Setiap rumah menghadap ke utara atau selatan. Setiap rumah harus terbuat dari kayu, dengan dinding dari anyaman bambu, beratap ijuk atau daun nipah, dan dikapur dengan warna putih.</p>
<p>Perabotan rumah tangga semacam kursi dan meja tidak diperkenankan, apalagi peralatan elektronik seperti televisi, radio dan sebagainya. Bahkan mereka menolak pemasangan listrik di kampung mereka.</p>
<p>Di depan rumah biasanya terdapat semacam teras atau serambi kecil yang digunakan untuk melakukan aktivitas dan berinteraksi dengan sesama penduduk. Ketika saya datang, saya melihat sekelompok warga sedang memilah-milah semacam tanaman akar (herbal) yang diambil dari kebun.</p>
<p>Saya tidak mengetahui secara pasti akar apa yang mereka ambil, karena mereka berbicara dalam bahasa Sunda yang saya sama sekali tidak mengerti. Saya hanya mengira-ira saja apa arti dari jawaban mereka ketika saya tanya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/memilah-herbal.jpg" alt="memilah akar tanaman obat" title="memilah akar tanaman obat" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1430" /></p>
<p>Tanah liat dengan batu-batu yang disusun sedemikian rupa menjadi jalan dan tangga memberikan pengalaman menyusuri kampung menjadi lebih menarik. Menyelip di antara gang-gang sempit sembari menikmati kesunyian yang ditemani suara tongeret begitu menenangkan.</p>
<p>Mereka sepertinya sudah terbiasa dengan para wisatawan, sehingga mereka cenderung cuek dan tetap menjalani kehidupan seperti biasa ketika ada wisatawan yang berlalu-lalang di sekitarnya.</p>
<p>Menginap di kampung ini pun bisa, namun kita harus siap dengan segala konsekuensi, misalnya ketiadaan perabotan dan listrik yang biasanya menjadi keseharian kita plus kita harus mematuhi aturan dan pantangan yang berlaku.</p>
<p>Di setiap rumah tidak terdapat kamar mandi. Aktivitas MCK dilakukan di pemandian umum yang terdapat di bagian depan kampung yang dekat dengan sungai. Terdapat kolam-kolam di sekitar pemandian yang digunakan untuk beternak ikan. Kandang-kandang kambing dan sapi juga berada di depan sehingga tidak mengganggu perkampungan.</p>
<p>Di bagian paling atas terdapat sebuah lapangan dan masjid agung. Terdapat sebuah bedug unik yang terbuat dari sebatang kayu yang dilubangi tengahnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/masjid-kampung-naga.jpg" alt="Masjid Agung Kampung Naga" title="Masjid Agung Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1432" /></p>
<p>Selain dari pertanian, penduduk Kampung Naga juga membuat kerajinan anyam-anyaman dari akar-akar dan bambu untuk dijual. Banyak sekali produknya, antara lain tas, topi, gelang-gelang, kalung, hingga sandal.</p>
<p>Suvenir khas ini dijual di beberapa rumah dan bisa ditemukan di kios-kios suvenir di pelataran parkir. Saya tertarik dengan sebuah tas anyam-anyaman dari akar. Saya pun membelinya dengan harga 35 ribu rupiah di sebuah kios di samping masjid. Dengan membeli suvenir ini saya berharap bisa membantu ekonomi masyarakat lokal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/kerajinan-kampung-naga.jpg" alt="Suvenir kerajinan Kampung Naga" title="Suvenir kerajinan Kampung Naga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1431" /></p>
<p>Di beberapa sudut saya melihat anak-anak sedang bermain dengan riang dengan menggunakan bola. Sementara di sudut lain saya melihat beberapa anak sedang belajar di teras rumah.</p>
<p>Karena tata letak rumah yang berundak di kaki lembah, saya sering menemukan ayam-ayam peliharaan penduduk sedang asyik nongkrong di atap rumah. Kandang-kandang ayam biasanya diletakkan di bagian bawah rumah.</p>
<p>Puas menikmati suasana, saya pun meninggalkan kampung ini. Saya dengan susah payah dan terengah-engah melahap tanjakan curam.</p>
<p>Penduduk yang dengan santai meniti <em>sengked</em> (anak tangga) terlihat senyum-senyum melihat tampang saya yang kelelahan ketika beristirahat sejenak.</p>
<p>Foto-foto lain bisa dilihat di <a href="http://www.flickr.com/photos/zamroni/sets/72157622892390068/" title="Kampung Naga" target="_blank">halaman Flickr saya</a>.</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kampung-naga-kampung-yang-masih-memegang-tradisi-leluhur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Garut</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[air panas]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Garut]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1416</guid>
		<description><![CDATA[
Sejak zaman VOC, Garut sudah terkenal dengan keindahan alamnya. Pada tahun 1910, Officieel Touristen Bureau, Weltevreden (Dinas Pariwisata VOC di Weltevreden, Batavia) menyebut Garut sebagai Paradijs van het Oosten (surga dari timur). Namun sayang, potensi ini kurang tergarap dengan baik.
Garut memiliki banyak potensi wisata, karena lokasinya yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi aktif seperti Gunung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/jengjeng-garut.jpg" alt="Jeng-jeng Garut" title="Jeng-jeng Garut" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1415" /></p>
<p>Sejak zaman VOC, Garut sudah terkenal dengan keindahan alamnya. Pada tahun 1910, <em>Officieel Touristen Bureau, Weltevreden</em> (Dinas Pariwisata VOC di Weltevreden, Batavia) menyebut Garut sebagai <em>Paradijs van het Oosten</em> (surga dari timur). Namun sayang, potensi ini kurang tergarap dengan baik.</p>
<p><span id="more-1416"></span>Garut memiliki banyak potensi wisata, karena lokasinya yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi aktif seperti Gunung Guntur, Gunung Haruman, dan Gunung Kamojang di sebelah barat, Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray di sebelah selatan/tenggara, Gunung Talagabodas dan Gunung Galunggung di sebelah timur. Di sebelah selatan, terdapat garis pantai sepanjang 80 Km.</p>
<p>Saya mendatangi kota yang terkenal akan dodol dan dombanya ini. Seperti biasa, perjalan direncanakan sehari sebelum keberangkatan. Bahkan itinerary belum sempurna dibuat karena buta sama sekali dengan obyek wisata dan sistem transportasinya. Kami nekad berangkat dan bermodal &#8220;nanti di sana tanya-tanya saja soal transportasi dan akomodasinya&#8221;.</p>
<p>Untuk menuju kota ini sangat gampang karena banyaknya transportasi bus AKAP dari Jakarta maupun Bandung. Salah satunya dari Terminal Lebak Bulus menggunakan bus Primajasa dengan tarif 35 ribu rupiah. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam dan berakhir di Terminal Guntur, Garut Kota.</p>
<p>Setelah beristirahat di sebuah masjid tak jauh dari terminal, kami bertanya ke penduduk yang kebetulan sedang akan melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Calo-calo di terminal yang menawarkan trayek angkutan memang sedikit menyebalkan, maka kami memilih untuk menyingkir dari sana dan mencari petunjuk dari &#8220;pihak ketiga&#8221;.</p>
<p>Penginapan rupanya banyak ditemukan di daerah Cipanas. Di daerah Garut kota malah kesulitan. Ketika kami menghubungi 108 (terlebih dulu memberikan kode kota 0262 sebelum nomor 108) untuk bertanya penginapan, rupanya Telkom ndak memiliki database yang lengkap. Beberapa nomor yang diberikan pihak Telkom malah gagal tersambung.</p>
<p>Kami pun akhirnya mendapat kamar di Hotel Augusta (0262-238250), sebuah hotel bintang 2 yang terletak di Jalan Raya Cipanas dengan tarif sekitar 150-450 ribu per malam (tergantung tipe kamar dan wiken atau tidak).</p>
<p>Menuju Cipanas dari terminal Guntur bisa dilalui dengan angkot bernomor 04 jurusan Terminal Guntur-Cipanas berwarna coklat muda. Atau kalo naik bis, turun sebelum masuk terminal Guntur, tepatnya di Jalan Otista (Otto Iskandar Dinata) pertigaan Cipanas (Jl. Panday) sebelum simpang Tarogong, kemudian naik angkot 04 ke arah Cipanas.</p>
<p>Setelah meletakkan tas dan beristirahat sejenak di penginapan, kami melanjutkan perjalanan menuju Situ Cangkuang. Dengan menggunakan angkot nomor 10 berwarna hijau/abu-abu jurusan Leles, kami turun di alun-alun Leles, kemudian naik sejenis dokar di mana orang setempat menyebutnya <em>Kretek</em>. Tarif naik Kretek ini per orang sekitar 5 ribu rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/dokar-kretek.jpg" alt="Dokar &quot;Kretek&quot;" title="Dokar &quot;Kretek&quot;" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1417" /></p>
<p>Pemandangan menuju situ didominasi oleh sawah. Di utara kita akan melihat siluet Gunung Haruman, di sebelah barat akan nampak Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur.</p>
<p>Kontur naik dan turun membuat kusir kami harus mengendalikan kuda sesuai dengan perintahnya. Ketika jalan menanjak, kusir akan menghentakkan tali dan kuda pun akan berlari kencang, dan sebaliknya ketika jalan menurun, laju kuda diperlambat. &#8220;Supaya kuda tidak keseleo karena berlari kencang di jalan menurun&#8221;, ucap sang kusir. Untuk memperlambat, tali kekang agak ditarik dan kusir mengeluarkan semacam bunyi yang memberi isyarat agar kuda memperlambat jalan atau berhenti.</p>
<p>Kretek sendiri cuma bisa ditumpangi oleh maksimal 4 penumpang dengan 2 tempat duduk menyamping di belakang tempat duduk kusir. Sepanjang jalan badan kami terguncang-guncang, sehingga bila tidak berpegangan, kita bisa terlempar keluar.</p>
<p>Masuk ke kawasan Situ Cangkuang, kami dipungut biaya 2 ribu rupiah per orang. Untuk menyeberang ke Pualu Ageung di tengah situ, kami naik semacam rakit sepanjang sekitar 20 meter. Tarif &#8220;resminya&#8221; sih 2 ribu rupiah per orang, tapi si pengemudi rakit mematok harga &#8220;borongan&#8221; seenaknya. Setelah negosiasi, disepakati tarifnya jadi 5 ribu per orang bolak-balik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/situ-cangkuang.jpg" alt="Rakit penyeberangan di Situ Cangkuang" title="Rakit penyeberangan di Situ Cangkuang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1418" /></p>
<p>Rakit digerakkan dengan menggunakan sebilah bambu yang ditancapkan ke dasar situ, kemudian si &#8220;nakhoda&#8221; akan berjalan di sepanjang rakit dengan bertumpu pada bambu tadi untuk mendorong rakit. Di tengah-tengah situ, terdapat banyak nelayan yang menjala dan memancing ikan.</p>
<p>Situ Cangkuang dulu mempunyai luas sekitar 25 hektar, namun karena proses sedimentasi, luasnya menyusut hingga menjadi sekitar 15 hektar saja. Di tengah situ terdapat Pulau Ageung dan Pulau Alit, yang karena sedimentasi pula, kedua pulau ini akhirnya &#8220;menyatu&#8221;.</p>
<p>Dinamakan Cangkuang karena dulu di daerah ini terdapat banyak pohon cangkuang (<em>Pandanus furcatus</em>) semacam pandan yang dimanfaatkan warga untuk anyam-anyaman. Air situ berasal dari sebuah mata air yang kemudian dibendung oleh Embah Dalem Arif Muhammad, seorang tokoh dari Mataram yang menjadi awal mula keberadaan tempat ini.</p>
<p>Di tengah Pulau Ageung, terdapat candi Hindu yang bernama Candi Cangkuang. Tak jauh dari kompleks candi, terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad dan kampung adat Kampung Pulo (pulau).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/candi-cangkuang.jpg" alt="Candi Cangkuang" title="Candi Cangkuang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1419" /></p>
<p>Candi Cangkuang yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 ini seolah-olah menjadi saksi akulturasi kebudayaan dan agama yang dialami desa ini. Konon dulu penghuni Desa Cangkuang beragama Hindu (dibuktikan dengan berdirinya candi Hindu), kemudian Arif Muhammad datang ke desa ini dan menyebarkan agama Islam. </p>
<p>Kampung Pulo yang terletak tak jauh dari candi juga memiliki keunikan tersendiri. Di kampung ini cuma terdiri atas 6 rumah adat yang dihuni oleh 6 kepala keluarga dan sebuah masjid di tengah-tengah gang. Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi, begitu juga dengan keluarga yang mendiami di rumah tersebut tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. Penduduk kampung ini dipercaya merupakan keturunan dari Embah Dalem Arif Muhammad.</p>
<p>Keunikan lain, meski penduduk Kampung Pulo memeluk agama Islam, namun beberapa ritual agama Hindu masih dilakukan. Selain itu, ada larangan bagi penduduk Kampung Pulo memelihara ternak berkaki empat seperti sapi, kambing, dan sebagainya.</p>
<p>Semua rumahnya pun memiliki pola yang unik, memanjang dari timur ke barat (jolopong). Beberapa rumah bahkan atapnya masih menggunakan atap ijuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/rumah-adat-kampung-pulo.jpg" alt="Rumah adat Kampung Pulo" title="Rumah adat Kampung Pulo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1420" /></p>
<p>Informasi soal Candi Cangkuang juga bisa dibaca di <a href="http://wijna.web.id/260-Candi-Cangkuang.html" title="Candi Cangkuang" target="_blank">blognya Wijna</a>.</p>
<p>Malamnya kami mencari makan di sekitaran Simpang Lima Garut. Informasi ini kami dapatkan dari sopir angkot yang kami tumpangi. Secara umum, Kota Garut itu sepi sekali.</p>
<p>Sejak menginjakkan kaki di Garut, saya mengamati jarang sekali terlihat pemuda berusia belasan. Dugaan saya, pemuda-pemuda berusia produktif ini kebanyakan merantau ke luar Garut seperti Jakarta atau Bandung, entah untuk sekolah atau bekerja.</p>
<p>Kami makan di Simlim, semacam foodcourt kecil-kecilan di pinggir jalan. Banyak menu yang ditawarkan, namun saya memesan Mie Kocok, karena penasaran dengan bentuknya. Selain dodol, sepertinya Garut ndak mempunyai kuliner khas yang bisa dicoba.</p>
<p>Mie Kocok sendiri sangat sederhana, terdiri dari mie kuning, kecambah mentah (yak, saya kurang suka dengan kecambah yang dicampur dengan mie), kemudian ditabur potongan kikil sapi. Kuahnya pun standar banget, kuah kaldu tanpa bumbu yang berarti.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/mie-kocok.jpg" alt="Mie Kocok Garut" title="Mie Kocok Garut" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1421" /></p>
<p>Disebut mie kocok karena mie dimasak dengan dimasukkan ke dalam semacam sendok khusus, kemudian dicelup-celupkan ke dalam air mendidih. Proses memasak mie kayak gini mengingatkan saya akan Mie Ongklok dari Wonosobo.</p>
<p>Pagi-pagi benar kami bersiap menuju ke Kawah Papandayan. Dengan menumpang angkot 04 kemudian disambung dengan Elf (minibus). Untuk menuju ke Kawah Papandayan juga bisa langsung dicapai dengan menggunakan Elf jurusan Cikajang dari Terminal Guntur.</p>
<p>Kami turun di pintu gerbang obyek wisata di daerah Cisurupan. Ongkos Elf sekitar 5 ribu rupiah. Begitu turun, kami langsung disambut dengan tawaran tukang ojek. Menuju ke kawah memang bisa ditempun dengan menggunakan ojek, ndak perlu susah-susah mendaki. He he he.</p>
<p>Setelah tawar menawar, disepakati harga 15 ribu untuk naik dan 15 ribu rupiah lagi untuk turun. Jalan menuju kawah beraspal namun sedikit rusak di sana-sini. Motor mio yang saya tumpangi mengerang-erang ketika melahap tanjakan yang cukup curam.</p>
<p>Sekitar 10 menit, kami sampai di pos untuk melapor. Di sini dikenakan biaya per orang 2 ribu rupiah plus sumbangan sukarela. Bila ingin menyewa pemandu, ongkosnya 50 ribu per jam.</p>
<p>Karena jalur lama tertutup longsoran akibat letusan pada tahun 2002 dan si pemandu menjanjikan track yang ndak biasa, kami pun sepakat menggunakan pemandu, juga untuk menggali informasi.</p>
<p>Kawah Papandayan sebenernya sebuah kaldera dengan bentangan mencapai 3 Km. Gunung ini masih aktif sehingga asap-asap yang muncul dari beberapa kawahnya merupakan tanda-tanda aktivitasnya. Pengunjung harus berhati-hati karena ada beberapa kandungan gas yang cukup berbahaya, antara lain gas belerang (yang baunya busuk banget).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/kawah-papandayan.jpg" alt="Kawah Papandayan" title="Kawah Papandayan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1422" /></p>
<p>Kami melewati rute yang berbeda seperti yang dijanjikan pemandu. Kami mendaki dulu ke atas, menuju ke bibir kaldera sehingga pemandangannya pun lebih menakjubkan. Tepat di salah satu puncak di bibir kaldera, saya melihat seismograf yang dipasang untuk memantau aktivitas kegempaan kawah ini.</p>
<p>Dari atas sini pula, saya lebih leluasa melihat Kawah Baru, yang merupakan hasil letusan pada tahun 2002. Letusan ini juga mengakibatkan longsorannya menutupi Kawah Nagrak dan akses jalan aspal yang menuju kawah ini.</p>
<p>Puas menikmati pemandangan, kami memutuskan untuk turun dan menuju ke obyek wisata Cipanas untuk berendam air panas sebelum kembali ke Jakarta.</p>
<p>Begitu turun dari ojek dan hendak menunggu Elf, kami sempat bersitegang dengan sopir angkot yang memaksa-maksa kami naik ke angkotnya. Naik angkot dari Cisurupan menuju Garut tentu akan dipatok dengan harga sangat mahal. Tukang ojek yang rese juga seolah-olah menyuruh kami untuk masuk ke angkotnya.</p>
<p>Untung sebuah Elf lewat dan kami segera naik ke dalam meski si kenek Elf sempat diintimidasi oleh si sopir angkot, untungnya tidak terjadi masalah berarti.</p>
<p>Dari Elf, kami turun di persimpangan Tarogong untuk kemudian naik angkot 04 favorit kami. Kami memilih mandi air panas di <a href="http://www.tirtagangga-hotel.com/" title="Hotel Tirtagangga" target="_blank">Hotel Tirtagangga</a> dengan tarif 25 ribu rupiah per orang karena dengan alasan kenyamanan.</p>
<p>Di Hotel Tirtagangga, terdapat 2 kolam air panas dengan suhu yang berbeda plus sebuah shower air panas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/kolam-air-panas.jpg" alt="Kolam air panas Hotel Tirtagangga" title="Kolam air panas Hotel Tirtagangga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1423" /></p>
<p>Di kawasan pemandian air panas Cipanas, memang banyak terdapat pemandian umum, namun kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa penginapan, terutama penginapan berbintang, biasanya mempunyai fasilitas kolam air panas tersendiri.</p>
<p>Air panas di kawasan ini berasal dari 4 sumber mata air panas yang merupakan hasil aktivitas dari Gunung Guntur. Air panas dari Gunung Guntur konon merupakan air panas alami terjernih, dengan kandungan belerang cukup rendah, bersuhu hingga mencapai suhu 49&deg; ini baik untuk terapi penyakit kulit atau penyakit lainnya.</p>
<p>Sejak dulu, Cipanas memang terkenal dan menjadi favorit para pejabat VOC di Batavia. Konon komedian film bisu Charlie Caplin pun pernah singgah di kawasan ini.</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudahkah Kita Menjadi Backpacker?</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/sudahkah-kita-menjadi-backpacker.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/sudahkah-kita-menjadi-backpacker.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 06:55:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[backpacking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1413</guid>
		<description><![CDATA[
Seringkali saya mendapat pertanyaan, &#8220;saya pengen ke situ dengan cara backpacker, kira-kira naik apa, ya?&#8221;. Backpacker, lebih tepatnya orang yang melakukan kegiatan backpacking, memang menjadi ngetren akhir-akhir ini. Seolah-olah itu suatu kegiatan keren bagi para pejalan.
Anggapan bepergian memanggul tas punggung, berpenampilan &#8220;gembel&#8221;, menggunakan sarana transportasi publik, dan bisa menjelajah berbagai sudut bumi memang kerap menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/backpacker.jpg" alt="Backpacker?" title="Backpacker?" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1414" /></p>
<p>Seringkali saya mendapat pertanyaan, &#8220;saya pengen ke situ dengan cara <em>backpacker</em>, kira-kira naik apa, ya?&#8221;. <em>Backpacker</em>, lebih tepatnya orang yang melakukan kegiatan <em>backpacking</em>, memang menjadi ngetren akhir-akhir ini. Seolah-olah itu suatu kegiatan keren bagi para pejalan.</p>
<p>Anggapan bepergian memanggul tas punggung, berpenampilan &#8220;gembel&#8221;, menggunakan sarana transportasi publik, dan bisa menjelajah berbagai sudut bumi memang kerap menjadi rujukan untuk definisi <em>backpacker</em>. Ini memang tidak salah, setidaknya belum ada definisi baku dari kegiatan yang konon baru dikenal tahun 60/70-an.</p>
<p>Namun kadang kita (kita? saya aja ding) sering melupakan semangat dan filosofi dari <em>backpacking</em>. Seringkali saya ber-backpacking hanya penampilan. Memanggul tas segede dosa seperti hendak camping selama setahun (sehingga berbagai barang dibawa) dan menunjukkan latar belakang foto tempat-tempat keren di penjuru negeri, memang keren.</p>
<p>Tapi apakah kita, eh saya, sudah menjadi seorang <em>backpacker</em>?</p>
<p><span id="more-1413"></span>Aktivitas <em>backpacking</em> seringkali dijadikan rujukan bagi para pejalan yang ingin melakukan suatu perjalanan dengan biaya rendah dan biasanya memakan waktu yang panjang. Salah kaprah pun kerap terjadi. Semangat dan filosofinya pun tereliminasi.</p>
<p><em>Backpacking</em> tidak semudah itu dirumuskan, meski salah kaprah tersebut mengandung beberapa unsurnya.</p>
<p>Beberapa unsur-unsur penting yang bisa saya ekstrak dari berbagai definisi <em>backpacking</em> adalah biaya rendah, waktu yang panjang, kemandirian, perhitungan, dan interaksi dengan kehidupan setempat.</p>
<p>Biaya merupakan unsur pertama. Bepergian dengan biaya serendah mungkin, merupakan salah satu ciri <em>backpacking</em>. Implikasinya, para pejalan sering menggunakan sarana transportasi umum karena perhitungan biaya tadi. Namun ndak menutup kemungkinan, menggunakan sarana transportasi umum bisa lebih mahal bila menggunakan kendaraan pribadi, apalagi jika transportasi publik kurang memadai di daerah tersebut.</p>
<p>Kendaraan umum dipilih para pejalan untuk mencapai tujuannya, bukan hanya pertimbangan faktor biaya. Faktor interaksi dengan penduduk lokal, melihat dan merasakan secara langsung kehidupan penduduk, hingga bila memungkinkan berbincang-bincang menggunakan bahasa lokal serta memahami budaya mereka, menjadi unsur lain dari <em>backpacking</em> yang tidak bisa ditemukan bila menggunakan kendaraan pribadi.</p>
<p>Bertanya kepada penduduk cara mencapai suatu tempat, hingga menginap di rumah-rumah penduduk, kerap kali dilakukan para <em>backpacker</em> untuk merasakan dan memahami kehidupan setempat.</p>
<p>Hostel-hostel yang memudahkan interaksi antar pejalan yang menginap juga menjadi cara mereka untuk mengenal wilayah. Bertemu dan bertukar informasi dari sesama pejalan yang berasal dari berbagai tempat dan latar belakang budaya, tentu menjadi pengalaman tersendiri.</p>
<p>Para <em>backpacker</em> tidak hanya mendatang tempat-tempat wisata umum, mereka juga mencoba mengetahui lebih banyak daripada wisatawan biasa yang biasanya cuma setor foto dan cerita-cerita menyenangkan. <em>Backpacker</em> mencoba untuk lebih dalam mengetahui berbagai hal tentang suatu tempat, sehingga selain untuk bersenang-senang, mereka juga belajar.</p>
<p><em>Backpacker</em> bukan hanya memuja-muja biaya rendah, nggak harus ngirit sengirit-ngiritnya. Ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, yaitu waktu. Waktu ini sering kali bertolak belakang dengan biaya.</p>
<p>Bepergian dengan biaya rendah biasanya memakan waktu yang lama, begitu juga sebaliknya, menggunakan transportasi yang &#8220;mahal&#8221; bisa menghemat banyak waktu. Menggunakan kereta api berbiaya murah tentu memakan waktu lebih lama daripada menggunakan pesawat berbiaya lebih mahal, bukan?</p>
<p>Sialnya lagi, kalo budget dan waktu mepet. Sial benar <em>backpacker</em> macam beginian. Hehehe.</p>
<p>Begitu juga ketika menentukan akomodasi. Penginapan dengan lokasi strategis yang dapat menghemat banyak waktu tentu juga lebih mahal daripada penginapan yang terletak di kawasan pinggiran. Tentu saja terlepas dari pelayanannya.</p>
<p>Perhitungan dan kecermatan dalam menghitung ini adalah faktor yang harus dimiliki <em>backpacker</em>. Ndak hanya uang, barang-barang yang perlu dibawa ketika bepergian tentu juga perlu dipikirkan. <em>Backpacker</em> cenderung membawa sedikit barang karena demi mengurangi beban. Semua barang kan dibawa dengan tas punggung, yang tujuannya memudahkan mobilitas, sehingga harus dihitung benar barang-barang apa saja yang bisa masuk ke tas punggung dan seberapa kuat dia membawanya.</p>
<p>Dulu, <em>backpacker</em> jarang membawa benda-benda berharga yang sekiranya tidak perlu. Laptop, telepon seluler, dan sebagainya ditinggal di rumah karena faktor efisiensi tempat dan keamanan. Sekarang banyak juga backpacker yang membawa gadget-gadget pendukung yang tentunya memudahkan mereka bepergian, semacam telepon genggam, kamera, hingga GPS.</p>
<p><em>Backpacker</em> yang baik tentu bisa menguasai medan. Punya kemampuan membaca peta dan menentukan arah mata angin, akan sangat berguna apalagi ketika tersesat. Menguasai berbagai macam bahasa tentu akan sangat membantu lagi. Ini prinsip kemandirian yang dipegang.</p>
<p>Menjadi <em>backpacker</em> memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Keterbatasan dana membuat mereka harus memutar akal supaya bisa mencapai tujuan sesuai dengan kemampuan. Ini tentu beda dengan layaknya wisatawan yang memang datang ke suatu tempat untuk bersenang-senang dan rekreasi.</p>
<p>Apapun pilihan kita ketika bepergian, dengan ala backpacker atau wisatawan, selama kita nyaman dan menikmati perjalanan kita, <em>sumangga</em> saja. Yang penting senang dan ndak merusak tempat-tempat tujuan tersebut.</p>
<p>Ngomong-ngomong, saya bukan, eh belum, menjadi seorang <em>backpacker</em>. Masih <em>wannabe</em>. Kalo ada tawaran menjadi wisatawan, apalagi dibayari, saya memilih cara wisatawan aja deh! Hihihi..</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/sudahkah-kita-menjadi-backpacker.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pusat Primata Schmutzer: Pusat Primata Terbesar di Dunia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 10:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Flora & Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kebun binatang]]></category>
		<category><![CDATA[primata]]></category>
		<category><![CDATA[Ragunan]]></category>
		<category><![CDATA[Schmutzer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1400</guid>
		<description><![CDATA[
Tahukah bahwa Indonesia memiliki pusat primata terbesar di dunia? Terletak di dalam kompleks kebun binatang Ragunan, Pusat Primata Schmutzer yang diresmikan pada tanggal 20 Agustus 2002 ini memiliki koleksi sekitar 25 spesies dari 5 famili dari ordo primata.
Berkunjung ke Pusat Primata Schmutzer ini begitu mudah. Berbagai sarana transportasi umum bisa menjangkau lokasi ini. Tinggal naik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/pusat-primata-schumtzer.jpg" alt="Pusat Primata Schmutzer" title="Pusat Primata Schmutzer" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1401" /></p>
<p>Tahukah bahwa Indonesia memiliki pusat primata terbesar di dunia? Terletak di dalam kompleks kebun binatang Ragunan, Pusat Primata Schmutzer yang diresmikan pada tanggal 20 Agustus 2002 ini memiliki koleksi sekitar 25 spesies dari 5 famili dari ordo primata.</p>
<p><span id="more-1400"></span>Berkunjung ke Pusat Primata Schmutzer ini begitu mudah. Berbagai sarana transportasi umum bisa menjangkau lokasi ini. Tinggal naik kopaja, metromini, mikrolet, atau busway berjurusan Ragunan.</p>
<p>Lokasi Pusat Primata Schmutzer berada di dalam kompleks kebun binatang Ragunan. Pusat Primata Schmutzer dulunya dikelola oleh The Gibbon Foundation, pimpinan Dr. Willie Smits, namun kini pengelolanya adalah Pemda DKI.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/lukisan-schmutzer.jpg" alt="Lukisan Nyonya Schmutzer" title="Lukisan Nyonya Schmutzer" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1411" /></p>
<p>Masuk ke kawasan ini, pengunjung ditarik ongkos 5 ribu rupiah untuk dewasa, ini di luar ongkos masuk kebun binatang Ragunan yang ongkosnya 4.500 rupiah (tiket plus asuransi). Keamanannya pun ketat, pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman apapun, bahkan permen pun tidak boleh. Semua barang bawaan pengunjung yang berupa makanan harus dititipkan.</p>
<p>Ini untuk menghindari ulah iseng pengunjung yang suka memberi makan hewan-hewan. Padahal makanan manusia itu tidak cocok untuk makanan hewan. Di kebun binatang Ragunan, monyet saja sudah pintar merokok karena ulah manusia yang memberinya rokok. Mengenaskan.</p>
<p>Saya baru tahu, bahwa sebenernya pisang itu bukan makanan utama monyet (atau primata lain) seperti yang kita kira. Beberapa jenis primata seperti Simpanse, Gorila, dan Orangutan makanan utamanya adalah daun dan buah-buahan. Untuk memenuhi kebutuhan protein, mereka juga makan serangga.</p>
<p>Begitu masuk halaman, kita akan disambut gerbang besar bertulis Pusat Primata Schmutzer. Saya sempat terdiam sejenak karena bingung mau memulai dari mana. Akhirnya saya memutuskan untuk naik masuk ke gerbang dan memulai penjelajahan saya dengan menyusuri Gorilla Walk.</p>
<p>Dinamakan demikian karena kita akan menyusuri suatu jembatan khusus yang berada di atas enklosur (kandang yang dibuat mirip dengan habitat asli binatang) Gorila, sehingga kita bisa melihat aktivitas Gorila dari atas. Namun sayang, selama di atas ini, saya tidak melihat Gorila sama sekali. Mungkin mereka sedang beristirahat dan bersembunyi. Gorila-gorila ini mempunyai nama loh, antara lain Komu dan Kumbo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/gorilla-walk.jpg" alt="Gorilla Walk" title="Gorilla Walk" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1402" /></p>
<p>Di beberapa sudut Gorilla Walk terdapat tulisan kepanjangan dari akronim GORILA, yang berisi trivia tentang Gorila, yaitu:</p>
<ul>
<li><strong>G</strong>orilla di Pusat Primata Schmutzer adalah jenis Gorila dataran rendah barat</li>
<li><strong>O</strong>rang sering menyebutnya King Kong</li>
<li><strong>R</strong>ambut di punggungnya berwarna keperakan (silver black) dan dimiliki oleh jantan dewasa</li>
<li><strong>I</strong>a adalah salah satu kera terbesar di dunia</li>
<li><strong>L</strong>arangan untuk tidak memburunya sering diabaikan</li>
<li><strong>A</strong>ncaman terhadap Gorila di alam antara lain hilangnya habitat, perburuan ilegal untuk dikonsumsi dagingnya, dan penyakit seperti Ebola</li>
</ul>
<p>Di beberapa sudut juga terdapat kursi-kursi yang bisa digunakan untuk beristirahat sambil melihat pemandangan. Bila melihat ke bawah, beberapa ubin dari kuningan tampak berukiran wajah-wajah Gorila.</p>
<p>Ketika turun dari Gorilla Walk, sayup-sayup saya melihat benda hitam bergerak-gerak dan berjalan dengan kedua kaki dan tangannya di enklosur di depan saya. Kemudian tepat di depan saya dia berhenti dan duduk sambil mengunyah rumput.</p>
<p>Omaigat-omaigat-omaigat! Itu Gorila besar banget! Saya ndak bisa membayangkan bila dihajar dengan tangannya yang panjang itu bagaimana. Bisa-bisa leher mluntir ndak bisa mbalik. Hihihihi..</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/gorilla.jpg" alt="Gorilla (Gorilla gorilla gorilla)" title="Gorilla (Gorilla gorilla gorilla)" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1403" /></p>
<p>Gorila yang ada di Schmutzer ini merupakan jenis Gorila yang hidup di hutan dataran rendah di Afrika. Beratnya bisa mencapai 200 kg lebih dan hidup berkelompok. Yang jantan memiliki rambut keperakan di bagian punggung dan suka menepuk dada untuk menunjukkan kekuatan. Namun begitu, <a href="http://ndobos.com/2009/10/14/mau-diadu-lawan-bebek/" target="_blank" title="Mau Diadu Lawan Bebek?">penis gorila itu kecil banget</a>. Hihihi..</p>
<p>Kalo dilihat dari cirinya, Gorila yang berada di depan saya itu adalah gorila jantan!</p>
<p>Dari enklosur Gorila, saya pun berjalan mengelilingi kawasan ini. Ada beberapa kandang Ungko, Owa Jawa, Wau-wau, Kera Hitam Sulawesi, Digo, Boti, Kelawat, dan Siamang. Kandang-kandang ini ada yang berupa kerangkeng besi, ada juga yang berupa kerangkeng besi dengan kaca.</p>
<p>Ordo primata terdiri atas 5 familia, yaitu Prosimian, Macaques (macaca/kera), Leaf Monkeys (monyet daun), Gibbon, dan Ape. Manusia sebenernya termasuk dalam orde primata, loh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Prosimian adalah primata primitif. Di Indonesia terdapat Kukang dan Tarsius yang termasuk dalam familia ini. Kukang terkenal akan gerakannya yang lambat namun mempunyai cengkraman kuat, sedangkan Tarsius merupakan hewan mungil yang sangat tangkas. Kedua prosimian ini adalah makhluk nokturnal (aktif di malam hari).</p>
<p>Macaques memiliki ciri memiliki kantung pipi untuk menyimpan makanan. Kera-kera ini banyak tersebar di Indonesia, salah satunya adalah <em>Macaca fascicularis</em> (Monyet Ekor Panjang) yang sering dipakai untuk atraksi topeng monyet.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/monyet-ekor-panjang.jpg" alt="Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)" title="Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1404" /></p>
<p>Leaf monkeys, seperti namanya biasanya hidup di atas pohon dan memakan daun-daunan. Di Indonesia, primata jenis ini sering disebut dengan Lutung. Primata jenis ini berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan meloncat menggunakan tungkai kaki belakang.</p>
<p>Gibbon beda lagi. Ciri khasnya adalah tangannya yang panjang karena digunakan untuk bergelantungan. Yang termasuk jenis ini adalah Siamang dan Owa.</p>
<p>Ape adalah jenis primata yang tidak berekor. Orangutan dan Wau-wau termasuk ke dalam jenis ini. </p>
<p>Melewati kandang Monyet daun, saya sampai di taman yang terdapat banyak patung monyet. Beberapa orang nampak berfoto-foto dengan pose merangkul patung monyet atau sekedar berdiri di samping patung tersebut.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/taman-patung.jpg" alt="Di taman patung. Tebak, mana yang bukan patung?" title="Di taman patung. Tebak, mana yang bukan patung?" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1409" /></p>
<p>Di beberapa tempat juga terdapat kursi-kursi namun sayangnya kursi-kursi ini dikuasai oleh pasangan yang sedang asyik pacaran!</p>
<p>Saya mengeilingi sisi ini hingga sampai ke suatu kolam dengan jembatan semen di atasnya. Di tengah kolam terdapat suatu &#8220;pulau&#8221; yang ternyata ini adalah enklosur dari Simpanse, primata tercerdas. Ketika saya melintas, simpanse-simpanse ini rupanya sedang tidur siang di dalam goa-goa buatan.</p>
<p>Di ujung jembatan, saya masuk ke dalam teater melalui pintu keluar. Hahaha! Saya pun masuk dan rupanya di dalam teater sedang diputar film dokumenter tentang kehidupan primata.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/taman-buah-primata.jpg" alt="Melewati enklosur Simpanse" title="Melewati enklosur Simpanse" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1406" /></p>
<p>Saya mengikuti 2 episode, yang bercerita tentang sistem sosial dalam kelompok Gibbon dan Macaca serta sistem alarm dari kelompok monyet daun.</p>
<p>Rupanya, sistem kasta juga dikenal di kalangan mereka. <em>Toque macaque</em> di Sri Lanka, contohnya. Di gerombolan ini, kera-kera berdarah ningrat memiliki keistimewaan di dalam kelompoknya, terutama dalam hal makanan dan pasangan ketika musim kawin.</p>
<p>Sistem alarm dari monyet daun ini begitu keren. Setiap monyet akan saling memperingatkan monyet lain bila ada bahaya. Suara-suara peringatan ini akan berbeda bunyi sesuai dengan bahaya apa yang mendekat. Contohnya ketika seekor elang mendekat, kera-kera ini akan berteriak dengan bunyi tertentu dan monyet-monyet lain akan segera berhamburan turun dari pohon untuk menghindari serangan elang.</p>
<p>Bunyi berbeda dikeluarkan ketika seekor Leopard lewat. Bukannya menghindar, monyet-monyet ini justru mendekat dan menampakkan diri sambil terus berteriak-teriak ketika melihat Leopard. Merasa ketahuan, Leopard yang biasanya menyerang secara tiba-tiba akhirnya mundur teratur.</p>
<p>Selesai melihat film, saya menuju ke museum. Di sini dipamerkan berbagai miniatur primata yang bisa menjadi wahana edukasi anak. Berbagai papan dengan penjelasan juga banyak terdapat di sini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/museum-primata.jpg" alt="Museum Primata" title="Museum Primata" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1405" /></p>
<p>Dari museum, saya meluncur ke belakang, menuju ke Terowongan Orangutan. Terowongan ini mengelilingi enklosur Orangutan yang dapat kita lihat dari balik kaca.</p>
<p>Suasananya begitu gelap, di beberapa sudut terdapat rumbai-rumbai yang dibuat mirip seperti akar pohon, dan di dalamnya sejuk karena terdapat AC. Saya melihat beberapa Orangutan sedang bersantai-santai di atas kayu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/orangutan.jpg" alt="Orangutan sedang bersantai" title="Orangutan sedang bersantai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1407" /></p>
<p>Karena suasana gelap, di beberapa tempat terdapat pasangan yang sedang asyik pacaran. Padahal kalo jeli, di beberapa sudut terdapat kamera pengawas. Dasar pasangan dimabuk asmara yang tidak tau tempat!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/terowongan-orangutan.jpg" alt="Terowongan Orangutan" title="Terowongan Orangutan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1408" /></p>
<p>Keluar dari Terowongan Orangutan, saya berada di bagian belakang. Saya menuju Jembatan Kanopi di mana kita bisa berjalan di atas jembatan yang dipasang di atas pohon, namun sayang ketika saya sampai, fasilitas ini ditutup. Saya ndak tau, mungkin karena dianggap berbahaya karena di beberapa bagian terlihat kayu-kayunya mulai lapuk.</p>
<p>Sebelum pulang, saya menyempatkan diri melihat Lutung Jawa dan Lutung Perak. Ada sebuah papan dengan siluet Gorila yang sedang merentangkan tangan. Rupanya ini digunakan untuk membandingkan ukuran tubuh manusia dengan ukuran tubuh Gorila.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/rentang-gorilla.jpg" alt="Papan rentang Gorila" title="Papan rentang Gorila" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1410" /></p>
<p>Selain itu ada cermin besar bertuliskan, &#8220;ayo, jadi sahabat primata!&#8221;, yang berarti ajakan kepada diri kita ketika berdiri di atas cermin tersebut.</p>
<p>Bila datang pada jam-jam memberi makan (jam 9, 12, dan 15), kita bisa melihat petugas memberi makan primata ini di sekitaran enklosur. Karena saya datang tidak pada jam-jam itu, saya tidak dapat melihat langsung proses ini.</p>
<p>Pusat Primata Schmutzer lahir dari kepedulian Pauline Antoinette Schmutzer-versteegh terhadap satwa terutama primata yang hampir punah. Melalui yayasan The Gibbon Foundation, Nyonya Scmutzer mewakafkan hartanya untuk pembangunan pusat primata ini.</p>
<p>Hampir semua primata yang terdapat di lokasi ini merupakan primata yang dilindungi, beberapa di antaranya merupakan hasil sitaan atau serahan dari masyarakat. Di dalam kawasan seluas 13 hektar ini juga terdapat lebih dari 84 jenis pohon yang menambah teduh kawasan Pusat Primata Schmutzer.</p>
<p>Namun sayang, di beberapa sudut nampak orang pacaran sangat mengganggu pemandangan. Di beberapa tempat terdapat pancuran air minum gratis, namun kondisinya sedikit memprihatinkan. Air yang keluar sangat kecil sehingga ada pengunjung yang mengakali dengan meminum dari kran menggunakan sedotan!kini</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Seni Rupa dan Keramik, Menyimpan Koleksi Benda Seni Berbagai Masa dan Bangsa</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 12:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[seni rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1391</guid>
		<description><![CDATA[
Berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di Jalan Pos Kota No 2, Jakarta Barat (kompleks Kota Tua/Taman Fatahillah) rupanya mampu menambah wawasan saya tentang sejarah perkembangan seni rupa Indonesia.
Sekitar 400-an karya seni rupa yang kebanyakan berupa keramik, lukisan, serta ukiran dari berbagai daerah dan berbagai periode dipamerkan di sini.
Sekilas bila melihat gedung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/museum-keramik.jpg" alt="Museum Seni Rupa dan Keramik" title="Museum Seni Rupa dan Keramik" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1395" /></p>
<p>Berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di Jalan Pos Kota No 2, Jakarta Barat (kompleks Kota Tua/Taman Fatahillah) rupanya mampu menambah wawasan saya tentang sejarah perkembangan seni rupa Indonesia.</p>
<p>Sekitar 400-an karya seni rupa yang kebanyakan berupa keramik, lukisan, serta ukiran dari berbagai daerah dan berbagai periode dipamerkan di sini.</p>
<p><span id="more-1391"></span>Sekilas bila melihat gedung, gedung museum ini mirip dengan gedung-gedung peradilan. Pilar-pilar raksasa menopang kanopi berbentuk prisma memperkuat kesan ini. Terang saja, wong dulunya adalah gedung peradilan Hindia Belanda pada kompleks benteng Batavia (<em>Ordinaris Raad Van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia</em>) yang dibangun pada tanggal 12 Januari 1870.</p>
<p>Tahun 1944, ketika masa pendudukan Jepang, gedung ini pernah dipakai sebagai asrama militer KNIL dan selanjutnya digunakan sebagai asrama TNI. Tanggal 10 Januari 1972, gedung ini dimasukkan dalam daftar bangunan bersejarah.</p>
<p>Pada tahun 1973-1976 gedung ini digunakan untuk kantor Walikota Jakarta Barat, dan pada tanggal 20 Agustus 1976 gedung ini diresmikan sebagai Balai Seni Rupa oleh presiden Soeharto. Tanggal 7 Juni 1977, gubernur Ali Sadikin meresmikan museum keramik yang sejak tahun 1990 berubah fungsi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.</p>
<p>Terdapat pintu besar yang menuju sebuah hall besar (dugaan saya, dulu tempat ini adalah ruang sidang), dengan patung Sindudarsono Sudjojono, bapak seni lukis modern Indonesia, di sebelah kiri (sebelah utara) dan patung Raden Saleh Syarif Bustaman, perintis seni rupa Indonesia modern, di sebelah kanan (selatan).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/gerbang-depan.jpg" alt="Pintu bagian depan" title="Pintu bagian depan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1392" /></p>
<p>Museum ini buka setiap hari Selasa-Minggu, mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore. Tiketnya cukup murah, yaitu 2 ribu rupiah untuk orang dewasa dan seribu rupiah untuk mahasiswa.</p>
<p>Setelah membeli tiket, saya mendapatkan brosur berisi sekelumit cerita tentang museum ini. Benar saja, isi dari brosur ini memang sangat minim dan kurang informatif.</p>
<p>Saya memasuki ruangan pertama di sayap utara. Di ruangan ini dipamerkan berbagai benda keramik yang diambil dari sejumlah kapal dari berbagai bangsa yang tenggelam di perairan Indonesia.</p>
<p>Dari benda-benda yang dibawa oleh kapal-kapal ini bisa diketahui apa saja komoditas saat itu, jalur-jalur mana saja yang dilewati, dan periode kapal itu melintas di nusantara. Selain itu juga bisa diketahui adanya jaringan perdagangan yang terjadi di Asia pada abad 9-10.</p>
<p>Kebanyakan benda-benda yang dipamerkan di ruangan ini berupa guci-guci yang sudah lapuk dan ditempeli kerang di sana-sini. Selain itu ada juga semacam perhiasan yang berbentuk semacam kelereng yang sudah lapuk dan tidak berbentuk.</p>
<p>Di ruangan ketiga sayap uatara, ada sebuah tangga besi dengan ukiran yang sangat indah khas Eropa, berdiri menjulang di tengah ruangan.</p>
<p>Yang menarik dari ruangan ketiga ini adalah adanya penjelasan tentang situs <em>Intan shipwreck</em>, salah satu situs kapal tenggelam yang menyimpan ratusan artefak. Yang menarik dari penemuan ini adalah penjelasan tentang sistem pengemasan (<em>packaging</em>) yang dilakukan pada masa itu.</p>
<p>Guci-guci dan keramik lainnya disusun dan disimpan sedemikian rupa ke dalam suatu guci besar. Sistem ini disebut dengan sistem &#8220;wadah disimpan dalam wadah&#8221;.</p>
<p>Penasaran, saya pun naik ke lantai atas dan di sana terdapat ruangan yang menyimpan berbagai koleksi keramik dari Cina, Jepang, Arab, dan Eropa. Koleksi ini berupa piring-piring dan alat makan dengan hiasan pola tertentu yang dari situ bisa diketahui periode pembuatannya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/koleksi-cina-jepang-eropa.jpg" alt="Keramik dari Cina dan Eropa" title="Keramik dari Cina dan Eropa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1398" /></p>
<p>Keramik-keramik dari Dinasti Yuan (abad 14 M) dominan berwarna hijau, keramik dari Dinasti Ming (abad 15) yang bermotif dan dominan menggunakan warna biru, Dinasti Tang (abad 7-10 M) yang kebanyakan polos tanpa motif dengan dominan warna kuning, Dinasti Qing (abad 18 M), Dinastio Sung (abad 13 M), keramik dari Jepang, keramik dari Eropa bergambar hiraldik, hingga keramik Arab abad 19/20 bertuliskan huruf Arab dalam bahasa Melayu.</p>
<p>Karena ruangan ini buntu, maka saya pun kembali menuruni tangga dan menuju ke bagian belakang. Di bagian belakang ini merupakan ruang pamer lukisan-lukisan dari berbagai periode. Selama dalam ruangan ini, pengunjung tidak diperkenankan untuk memotret.</p>
<p>Saya tidak berani mencuri-curi mengambil foto karena di beberapa sudut saya melihat kamera pengawas yang diletakkan di sudut-sudut strategis, sehingga gerak-gerik pengunjung bisa terawasi.</p>
<p>Ruang-ruang pamer dibagi-bagi berdasarkan periodenya. Jadi lukisan yang dipamerkan itu merupakan hasil karya pelukis yang hidup di masa-masa itu. Ruang pertama adalah ruang di masa Raden Saleh hidup (periode 1880 &#8211; 1890). Salah satu yang terkenal adalah lukisan yang berjudul &#8220;Bupati Cianjur&#8221; karya Raden Saleh.</p>
<p>Berikutnya, ruangan-ruangan periode Hindia Jelita (periode 1920-an), Ruang Persagi (periode 1930-an), Ruang Masa Pendudukan Jepang (periode 1942 &#8211; 1945), Ruang Pendirian Sanggar (periode 1945 &#8211; 1950), Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (periode 1950-an), yang berada di blok sebelah utara dan terakhir Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 &#8211; sekarang) yang berada di satu blok selatan.</p>
<p>Beberapa lukisan terkenal dipamerkan di ruangan ini, antara lain lukisan berjudul &#8220;Ibu Menyusui&#8221; karya Dullah, &#8220;Potret Diri&#8221; karya Affandi, &#8220;Laskar Tritura&#8221; karya S. Sudjojono, dan &#8220;Dancing in the Cloud&#8221; karya Antonio Blanco.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/ukiran-totem.jpg" alt="Patung ukiran Tottem" title="Patung ukiran Tottem" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1397" /></p>
<p>Di halaman belakang terdapat patung-patung kayu berukiran tottem besar. Pohon sawo dan melinjo nampak menghiasi halaman belakang ini membuat udara sedikit segar. Di sepanjang koridor juga disediakan bangku-bangku untuk beristirahat sambil menikmati kicauan burung yang hinggap di pohon-pohon di halaman belakang ini.</p>
<p>Kamar kecil dan musholla terletak di belakang dan semuanya kondisinya sangat baik dan terawat. Di kawasan ini juga tersedia wi-fi yang disediakan oleh Telkom, tapi saya tidak mencoba apakah koneksinya kencang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Di sayap selatan, tepat di ujung ruang pamer lukisan, terdapat ruang keramik yang memamerkan keramik-keramik dari Asia semacam Thailand dan Vietnam. Di ruangan ini juga terdapat tangga ke atas.</p>
<p>Saya tertarik dengan koleksi yang disebut dengan kendi susu. Kendi ini unik karena di bagian moncong terdapat gelembung yang sekilas memang tampak seperti payudara (susu). Meski kendi ini berasal dari Thailand, namun masyarakat mengenalnya dengan nama kendi Majapahit. Mungkin kendi ini dipakai pada era Majapahit kali, ya?</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/kendi-susu.jpg" alt="kendi susu dari Thailand (kendi Majapahit)" title="kendi susu dari Thailand (kendi Majapahit)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1393" /></p>
<p>Di lantai atas, keramik-keramik yang dipamerkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari keramik kasongan, keramik Bandung, Kalimantan, dan sebagainya. Kebanyakan keramik-keramik ini terbuat dari tanah liat.</p>
<p>Selain keramik berupa peralatan rumah tangga, juga terdapat karya seni dari seniman-seniman Indonesia. Salah satunya adalah patung bertajuk &#8220;Urbanisasi&#8221; karya Sri Hartono yang terbuat dari tanah putih tanpa glasir. patung ini menggambarkan segerombolan orang yang menumpang bus untuk pergi ke kota (urbanisasi).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/patung-urbanisasi.jpg" alt="Urbanisasi karya Sri Hartono" title="Urbanisasi karya Sri Hartono" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1399" /></p>
<p>Tertarik mengunjungi museum ini?</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Dukung jengjeng matriphe! Sebagai Blog Perjalanan dan Pariwisata Favorit</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/mari-dukung-jengjeng-matriphe-sebagai-blog-perjalanan-dan-pariwisata-favorit.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/mari-dukung-jengjeng-matriphe-sebagai-blog-perjalanan-dan-pariwisata-favorit.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 17:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Web Update]]></category>
		<category><![CDATA[award]]></category>
		<category><![CDATA[pb2009]]></category>
		<category><![CDATA[pesta blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1380</guid>
		<description><![CDATA[
Perhelatan akbar Pesta Blogger 2009 akan segera dilaksanakan. Berbagai acara sudah disiapkan dalam memeriahkan puncak acara yang akan digelar tanggal 24 Oktober 2009 itu. Salah satunya adalah adanya pemilihan blog-blog favorit yang bernama Pesta Blogger XL Blog Award.
Kegiatan ini merupakan ajang penghargaan kepada para narablog yang telah menuangkan ide dan kreativitasnya melalui blog. Penghargaan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/vote-jengjeng.png" alt="Pilih jengjeng matriphe!" title="Pilih jengjeng matriphe!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1381" /></p>
<p>Perhelatan akbar <a href="http://pestablogger.com/" title="Pesta Blogger" target="_blank">Pesta Blogger 2009</a> akan segera dilaksanakan. Berbagai acara sudah disiapkan dalam memeriahkan puncak acara yang akan digelar tanggal 24 Oktober 2009 itu. Salah satunya adalah adanya pemilihan blog-blog favorit yang bernama <a href="http://award.pestablogger.com/" title="Award Pesta Blogger" target="_blank">Pesta Blogger XL Blog Award</a>.</p>
<p>Kegiatan ini merupakan ajang penghargaan kepada para narablog yang telah menuangkan ide dan kreativitasnya melalui blog. Penghargaan yang diberikan adalah berdasarkan popularitas dan apresiasi terbanyak blog tersebut yang dipilih secara online oleh seluruh blogger di Indonesia melalui sistem voting online, sesuai dengan kategori yang telah ditentukan secara interaktif.</p>
<p>Dari 16 blog pada kategori blog perjalanan dan pariwisata favorit, setelah melalui proses penjurian yang ketat, terpilihlah 5 blog. Alhamdulillah, blog jengjeng matriphe! ini menjadi salah satu nominatornya.</p>
<p>Oleh karena itu, saya mengharapkan dukungan dari teman-teman semua untuk memberikan suaranya melalui link <strong><a href="http://siteo.us/jH" title="Blog Perjalanan dan Pariwisata Terbaik" target="_blank">URL berikut</a></strong>.</p>
<p>Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman, baik pengunjung setia atau pun yang kebetulan nyasar. Saya sadar, blog saya ini jauh banget dari sempurnya. Oleh karena itu saya mengharapkan masukan dan saran dari rekan-rekan semua.</p>
<p>Oiya, mulai hari ini, tampilan blog saya juga berubah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Award ini didukung oleh:</p>
<p><a href="http://www.xl.co.id/" target="_blank" title="XL"><img alt="" src="http://www.nyambungterus.com/logo_xl_13aniv/XL_anniv_bg_blue.jpg" title="XL" class="alignnone" width="200" height="112" /></a></p>
<p><strong>Update:</strong> Selamat untuk Dony Alfan atas terpilihnya blog <a href="http://dolankesolo.info" title="Dolan ke Solo" target="_blank">Dolan ke Solo</a> sebagai Blog Perjalanan dan Pariwisata Favorit Pesta Blogger 2009!</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/mari-dukung-jengjeng-matriphe-sebagai-blog-perjalanan-dan-pariwisata-favorit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pulau Tidung, Kepulauan Seribu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 11:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Karang Beras]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Tidung]]></category>
		<category><![CDATA[snorkeling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1356</guid>
		<description><![CDATA[
Pulau Tidung merupakan pulau terbesar dari gugusan Kepulauan Seribu. Lokasinya yang berada di barat daya dari gugusan pulau-pulau lain, membuat pulau ini sedikit terpencil namun memiliki pesona tersendiri.
Saya berkesempatan menginjakkan kaki ke pulau yang terdiri dari 2 pulau (Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil) ini. Salah satu pesona wisata yang menjadi unggulan dari pulau ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/at-tidung.jpg" alt="di jembatan menuju Pulau Tidung Kecil" title="di jembatan menuju Pulau Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1357" /></p>
<p>Pulau Tidung merupakan pulau terbesar dari gugusan Kepulauan Seribu. Lokasinya yang berada di barat daya dari gugusan pulau-pulau lain, membuat pulau ini sedikit terpencil namun memiliki pesona tersendiri.</p>
<p>Saya berkesempatan menginjakkan kaki ke pulau yang terdiri dari 2 pulau (Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil) ini. Salah satu pesona wisata yang menjadi unggulan dari pulau ini adalah adanya jembatan yang menyeberangi lautan untuk menghubungkan pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil.</p>
<p><span id="more-1356"></span>Kami berangkat menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Muara Baru, Muara Angke, jakarta Utara, sekitar jam 7.15. Berbeda dengan kapal-kapal yang melayani rute ke Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, kapal yang menuju Pulau Tidung lebih sedikit peminatnya. Kapalnya pun hanya beroperasi sekali sehari.</p>
<p>Perjalanan dari Muara Angke ke Pulau Tidung memakan waktu 2.5 sampai 3 jam dengan ongkos 33 ribu per orang. </p>
<p>Dermaga Pulau Tidung sedikit berbeda dengan dermaga di Pulau Pramuka. Di depan dermaga terdapat tembok batu memanjang yang membuat dermaga seperi berada di dalam teluk. Bangunan yang ada di kompleks pun sangat baik. Namun sayang, laut di sekitar dermaga kotor dan penuh dengan sampah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/dermaga-tidung-2.jpg" alt="Dermaga Pulau Tidung" title="Dermaga Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1359" /></p>
<p>Secara umum, perkampungan di Pulau Tidung tidak jauh berbeda dengan di Pulau Pramuka. Namun di Pulau Pramuka lebih bersih dan tertata daripada di Pulau Tidung.</p>
<p>Yang membedakannya lagi, listrik PLN sudah masuk ke pulau ini, berbeda dengan listrik di Pulau Pramuka yang masih mengandalkan generator diesel untuk membangkitkan listrik sehingga hanya menyala dari jam 4 sore hingga jam 7 pagi itu.</p>
<p>Listrik PLN masuk ke Kepulauan Seribu pada tahun 2008 yang dialirkan dari pembangkit listrik Tanjung Pasir, Tangerang, melalui kabel bawah laut. Untuk sementara, hanya pulau-pulau di gugus selatan saja yang mendapat pasokan, salah satunya adalah Pulau Tidung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/begenzer.jpg" alt="kWH meter prabayar" title="kWH meter prabayar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1360" /></p>
<p>Listrik yang digunakan sistemnya prabayar. Seperti pada voucher ponsel, penduduk membeli sejumlah kWH yang kemudian &#8220;diisikan&#8221; ke <em>begenzer</em> (kWH meter). Cara ini dinilai lebih menguntungkan karena penduduk bisa menggunakan listrik seperlu mereka.</p>
<p>Melihat sekilas, saya menemukan banyak sekali pohon jambu air dan pohon sukun yang tumbuh di halaman rumah warga. Beberapa sepeda motor wira-wiri selain sepeda yang menjadi sarana transportasi warga. Gerobak juga rupanya menjadi salah satu alat transportasi alternatif, baik untuk menjajakan dagangan sayur atau untuk membawa beban berat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/gerobak.jpg" alt="Gerobak jualan di Pulau Tidung" title="Gerobak jualan di Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1364" /></p>
<p>Penginapan untuk wisatawan sangat minim. Salah satu yang terkenal adalah homestay Lima Saudara milik pak H. Mid yang terkenal. Tinggal bertanya pada warga, dengan senang hati mereka akan menunjukkan jalan ke sana.</p>
<p>Untuk sewa penginapan, budget-nya sekitar 300-350 ribu per rumah (sistem rumah) atau 200 ribu per kamar (maksimal diisi 6 orang).</p>
<p>Selain di homestay tersebut, jika &#8220;supel&#8221;, bisa menginap di rumah warga. Biayanya juga bisa lebih murah dan fasilitasnya bisa lebih lengkap. Tentunya adanya interaksi dengan penghuni membuat suasana menjadi lebih akrab.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/suasana-kampung-tidung.jpg" alt="Suasana kampung di Pulau Tidung" title="Suasana kampung di Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1361" /></p>
<p>Minimnya sarana penginapan ini kemungkinan karena minimnya wisatawan yang datang ke pulau ini bila dibandingkan wisatawan yang datang ke Pulau Pramuka.</p>
<p>Setelah beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk berkeliling pulau yang luasnya sekitar 106 hektar ini dengan menggunakan sepeda sewaan. Sepeda yang kami gunakan kondisinya kurang bagus, apalagi harga sewa yang cukup mahal menurut saya, 15 ribu per sepeda. Namun daripada tidak ada, kami pun akhirnya menyewanya juga.</p>
<p>Kami menyusuri jalan sepanjang pantai selatan menuju ke Timur, menuju ke arah jembatan Pulau Tidung Kecil. Jalan ber-paving-block dengan pemandangan laut di samping kanan membuat bersepeda menjadi menyenangkan. Sepanjang jalan tumbuh pohon cemara udang membuat suasana menjadi teduh.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/bersepeda-ke-tidung-kecil.jpg" alt="Bersepeda ke jembatan Tidung Kecil" title="Bersepeda ke jembatan Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1363" /></p>
<p>Sesampai di sana, kami sedikit kecewa karena jembatan sedang dalam perbaikan. Jembatan kayu yang sudah mulai lapuk ini akan diganti dengan jembatan yang terbuat dari besi.</p>
<p>Tak hilang akal, dengan modal nekat, kami menitipkan sepeda di tempat istirahat para pekerja jembatan, kemudian menyeberangi jembatan belum jadi itu. Kami menyebutnya jembatan <em>shiratal mustaqim</em>, karena kami harus meniti jalan beton setapak yang bila tidak hati-hati bisa nyemplung ke laut yang dalamnya sekitar 2-3 meter.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/shiratal-mustaqim.jpg" alt="Shiratal mustaqim Pulau Tidung" title="Shiratal mustaqim Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1362" /></p>
<p>Sebenernya Pulau Tidung Besar dan kecil ini masih berada dalam satu gugusan karang yang sama. Oleh karena itu, jembatan sepanjang sekitar 105 meter ini bisa dibuat di atas karang ini. Jembatan pun dibangun tidak lurus, namun berkelok-kelok demi mengikuti kontur karang yang dangkal.</p>
<p>Di satu bagian, ada bagian jembatan yang menanjak. Ini digunakan sebagai &#8220;terowongan&#8221; bila ada kapal yang hendak melintas di bawah jembatan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/jembatan-pulau-tidung.jpg" alt="Jembatan Pulau Tidung" title="Jembatan Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1365" /></p>
<p>Di beberapa titik terdapat gazebo, sehingga kita bisa beristirahat sejenak untuk menikmati pemandangan laut yang indah lengkap dengan karang dan ikan-ikan yang bermain di air berwarna hijau tosca.</p>
<p>Saya heran. Padahal saya tidak bermasalah dengan keseimbangan dan ketinggian, ketika saya hendak melangkahkan kaki di <em>shiratal mustaqim</em> itu, tiba-tiba saja kaki ini tidak bisa digerakkan. Saya merasa ketakutan meniti balok beton tersebut.</p>
<p>Walau saya sudah menenangkan dan meyakinkan diri, saya tetap tidak bisa melangkah dan cuma meringis melihat teman-teman serombongan saya yang sudah sampai di ujung jembatan berkayu.</p>
<p>Mungkin angin yang bertiup cukup kencang membuat saya sedikit ketakutan nyemplung ke laut. Apalagi saya membawa kamera dan ponsel di dalam tas, sehingga dua benda itu menjadi pikiran saya.</p>
<p>Kebetulan, ada teman dari rombongan lain yang mengalami hal yang sama dengan saya. Ketakutan menyeberangi <em>shiratal mustaqim</em> dan cuma bisa terdiam di tengah jembatan. Kami pun memutar akal supaya bisa mencapai ujung jembatan kayu. </p>
<p>Kami melihat seorang pekerja karamba yang tak jauh dari jembatan sedang  mendayung sampan. Kami pun berteriak-teriak memanggil dan meminta tolong untuk diseberangkan. Awalnya si empunya perahu meminta harga sewa 5 ribu per orang, kami pun menawar 10 ribu untuk menyeberangkan kami bertiga. Deal, kami pun menaiki sampan untuk menuju seberang!</p>
<p>Setelah menyusuri jembatan kayu yang memang terlihat lapuk di sana-sini, sampailah kami di Pulau Tidung Kecil. Di sekitar pulau terdapat segerombolan pohon bakau muda.</p>
<p>Pulau Tidung Kecil memang tidak dihuni. Memang, awalnya penduduk memang tinggal di pulau ini, namun seiring perkembangan jumlah penduduk, mereka pun pindah ke Pulau Tidung Besar.</p>
<p>Pulau Tidung Kecil digunakan sebagai pusat pembibitan dan pengembangbiakkan tanaman di Kaupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Bibit pohon jambu air, sukun, bakau, dikembangbiakkan di pulau ini. Ndak heran kalo di Pulau Tidung Besar terdapat banyak pohon jambu air dan pohon sukun. </p>
<p>Terdapat jalan berpaving block membentang di sisi selatan pulau. Daun-daun berguguran menutupi sebagian jalan membuat saya seolah-olah berada di negeri yang sedang mengalami musim gugur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/jalan-tidung-kecil.jpg" alt="Jalan di Pulau Tidung Kecil" title="Jalan di Pulau Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1366" /></p>
<p>Di ujung jalan, kami menemukan bangunan pusat pengembangan bibit tanaman. Terlihat bibit tanaman bakau tertata dengan cantik di halaman bangunan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/bibit-bakau.jpg" alt="Bibit bakau" title="Bibit bakau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1367" /></p>
<p>Karena penasaran dengan pantainya, kami nekad meneruskan perjalanan dengan mengikuti jalan setapak membelah ilalang dan rumput gajah. Saya bahkan tidak mempedulikan kulit tangan dan kaki yang tergores dedaunan rumput gajah.</p>
<p>Yang saya takutkan cuma satu, kaalu tiba-tiba ada ular nongol dan menggigit kaki kan sangat tidak lucu!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/menembus-ilalang.jpg" alt="Menembus ilalang" title="Menembus ilalang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1370" /></p>
<p>Di tengah jalan, kami menemukan sebuah musholla kecil. Rupanya di situ terdapat makam Panglima Hitam dan sebuah sumur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/makam-panglima-hitam.jpg" alt="Makam Panglima Hitam" title="Makam Panglima Hitam" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1368" /></p>
<p>Tentang Panglima Hitam ini, ada banyak versi cerita. Salah satu versinya, menurut cerita masyarakat setempat,  Panglima Hitam adalah seorang sakti yang berasal dari Cirebon yang kalah perang melawan Belanda dan lari ke Pulau Tidung untuk berlindung. Dari kata &#8220;berlindung&#8221; inilah asal kata &#8220;tidung&#8221;.</p>
<p>Sumur yang terletak tak jauh dari makam itu disebut dengan sumur bawang, yang dikeramatkan dan dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.</p>
<p>Seekor kucing kuning yang rupanya peliharan Abah Suharna, si juru kunci makam, datang ke arah saya begitu saya panggil. Saya terbelalak ketika mengelus-elus kucing tersebut melihat gigi taring kucing ini lebih panjang dari kucing-kucing normal ketika si kucing menguap.</p>
<p>Saya jadi tambah yakin dengan hawa-hawa &#8220;asing&#8221; yang langsung menyelimuti perasaan saya semenjak menginjakkan kaki di pulau ini.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan mencari pantai yang asyik. Tak lama kemudian kami pun tiba di pantai yang kami maksud. Apalagi yang tidak dilakukan kecuali foto-foto?</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/foto-foto-di-pantai.jpg" alt="Foto-foto di pantai" title="Foto-foto di pantai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1371" /></p>
<p>Saya pun karena tidak tahan melihat seorang teman yang udah duluan nyemplung, akhirnya melepaskan kaos dan bergabung dengan nyemplung cibang-cibung.. Sueger rasanya walau nantinya saya harus menerima konsekuensi kulit jadi pliket terkena garam dan menjadi semacam ikan asin berjalan. Hahaha!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/nyemplung.jpg" alt="nyemplung di Pulau Tidung Kecil" title="nyemplung di Pulau Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1378" /></p>
<p>Karena ingin mengejar sunset di pantai barat Tidung Besar, kami memutuskan untuk segera kembali ke Pulau Tidung Besar.</p>
<p>Kami bertemu rombongan lain yang sedang menikmati kelapa muda yang baru dipetik dari pohon, tepat di depan bangunan pusat pembibitan tanaman. Duh, enaknya! Kami bersepakat untuk menghemat biaya kapal untuk snorkeling besok pagi, kami akan bergabung dan menyewa satu kapal saja.</p>
<p>Setelah melewati jembatan dan sampai di ujung, kami harus meniti kembali <em>shiratal mustaqim</em>. Tidak seperti pas berangkat, kali ini saya melahap <em>shiratal mustaqim</em> dengan amat sangat lancar. Ketakutan saya tadi seketika sirna entah ke mana.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/mengejar-sunset.jpg" alt="Mengejar sunset" title="Mengejar sunset" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1373" /></p>
<p>Dengan menggunakan sepeda, kami mengayuh menuju pantai barat untuk mengejar sunset. Kami harus melewati jalan setapak yang membelah hutan pohon kelapa dengan pemandangan pantai di sebelah utara. Beberapa kali kami harus menuntun sepeda karena kami melewati jalan berpasir yang membuat sepeda kami selip.</p>
<p>Kami pun tiba di pantai yang dimaksud, tepat sebelum matahari terbenam!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/sunset-pulau-tidung.jpg" alt="Sunset Pulau Tidung" title="Sunset Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1372" /></p>
<p>Malamnya kami beristirahat di penginapan. Beberapa teman sedang berpesta barbekyu ikan di halaman, namun saya memutuskan untuk tidur guna menyusun tenaga yang terkuras karena seharian berkeliling untuk digunakan ber-snorkeling esok paginya. Apalagi kami berniat melihat sunrise di ujung pantai timur, di seputaran jembatan ke arah Pulau Tidung Kecil.</p>
<p>Saya terbangun mendengar alarm ponsel yang berteriak lantang. Teman-teman masih terkapar dan sayup-sayup saya mendengar suara pengajian dari masjid-masjid. Segera saya mengambil air wudhu yang payau dan sholat Shubuh. Selesai sholat, teman-teman sudah bangun.</p>
<p>Bergegas kami pun bersiap untuk mengejar sunrise. Sepeda kami kayuh membelah pagi yang masih gelap. Untungnya bulan yang separo masih nongol menerangi jalan kami. Sampai di ujung timur pulau, langit sudah mulai terang. Sayang, awan tebal menutupi matahari sehingga kami gagal melihat mentari menampakkan wajahnya.</p>
<p>Kami segera kembali ke penginapan karena pagi-pagi benar kami harus check-out dan segera naik kapal untuk snorkeling dan menuju ke Pulau Pramuka. Karena tidak ada kapal yang berangkat siang dari Pulau Tidung, kami kembali ke Jakarta melalui Pulau Pramuka yang mempunyai jadwal kapal berangkat siang hari.</p>
<p>Harga sewa kapal sekitar 250-350 ribu. Tapi karena si empunya kapal tau bahwa ada dua kelompok yang hendak berhemat dengan menyewa satu kapal, dia ndak mau rugi dan memasang harga yang sangat mahal. Tawar menawar terjadi dan akhirnya disepakati harga 500 ribu per kapal, yang menurut saya masih sangat mahal. Tapi karena biaya ditanggung 2 kelompok, jatuhnya tetap 250 ribu per kapal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/di-kapal.jpg" alt="di atas perahu berangkat snorkeling" title="di atas perahu berangkat snorkeling" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1379" /></p>
<p>Kami pun menuju Pulau Karang Beras dan Pulau Air untuk snorkeling dan pemberhentian terakhir di Pulau Pramuka.</p>
<p>Saya banyak berbincang dengan si nakhoda yang ternyata anggota pemadam kebakaran Kepulauan Seribu. Saya bahkan diijinkan untuk memegang kemudi kapal dan mengendalikan kapal menuju ke Pulau Karang Beras.</p>
<p>Mengendalikan perahu itu tidak mudah. Kemudi harus diputar perlahan supaya berbelok dengan mulus. Bila tidak, kapal akan miring. Beberapa kali saya membuat kapal agak miring karena saya mengemudikan kapal masih kasar.</p>
<p>Sembari menuju Pulau Karang Beras, si nakhoda mengambil gulungan senar dengan umpan bulu ayam. Umpan tersebut kemudian direntangkan dan ditarik sambil kapal berjalan. &#8220;Siapa tau dapat tongkol&#8221;, demikian kata si nakhoda.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/gulungan-senar-penangkap-ik.jpg" alt="Gulungan senar penangkap ikan" title="Gulungan senar penangkap ikan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1374" /></p>
<p>Tongkol memang banyak terdapat di laut sekitar Pulau Tidung. Pantas saja rekan-rekan serombongan sampai jenuh dengan hidangan makan yang tongkol-lagi-tongkol-lagi.</p>
<p>Kami snorkeling di sekitara pulau Karang Beras dan Pulau Air. Dari kedua spot ini, saya paling suka dengan spot di Pulau Air (yang merupakan kawasan resort yang dikelola oleh swasta).</p>
<p>Terumbu karang di kawasan Pulau Karang Beras relatif dangkal. Bahkan saking dangkalnya, beberapa kali kaki saya terantuk karang-karang tajam. Bila tidak berhati-hati, kita bisa menginjak karang tajam dan merusak terumbu karang yang ada di lingkungan ini.</p>
<p>Sayang kami tidak memiliki kamera bawah air, sehingga tidak ada yang bisa mengambil gambar indahnya terumbu karang di lokasi ini.</p>
<p>Di Pulau Karang Beras, banyak sekali terumbu karang berjenis acropora berbentuk cabang, acropora padat (mirip batu), acropora tabular (berbentuk seperti lembaran meja), dan acropora berjari (bentuk seperti sekumpulan jari). Namun yang paling dominan adalah acropora tabular, cabang, dan berjari.</p>
<p>Di Pulau Air, terumbu karangnya lebih bervariatif dan hampir merata. Selain seperti apa yang ada di Pulau Karang Beras, ikan-ikan yang ada pun lebih banyak dan beragam jenis. Bintang laut pun banyak ditemukan di Pulau Air.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/snorkeling.jpg" alt="Snorkeling" title="Snorkeling" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1376" /></p>
<p>Dalam perjalanan menuju Pulau Air, sepanjang perjalanan saya melihat ikan terbang sesekali melompat-lompat di atas permukaan air. Bahkan pas hampir sampai Pulau Air, seekor penyu sisik menampakkan wujudnya sebentar sebelum kembali masuk ke dalam laut.</p>
<p>Saya hampir tenggelam ketika snorkeling di Pulau Air ini. Karena kurangnya alat, kami memakai alat snorkel bergantian. Saya nekat turun ke laut tanpa menggunakan life-vest yang membuat kita tetap mengapung.</p>
<p>Awalnya lancar-lancar saja, saya bisa mengapung dengan baik sambil berenang menikmati pemandangan terumbu karang. Ketika saya berhenti sejenak dan hendak mengambil nafas, tiba-tiba saya meminum banyak air laut. Situasi demikian sempat membuat saya panik karena badan saya tidak mau mengapung.</p>
<p>Saya berusaha tenang dan mencoba mencapai permukaan, tapi karena air laut terus masuk melalui hidung dan tenggorokan, saya tidak bisa bernafas dan terus tenggelam perlahan. Untung saya masih bisa meraih teman yang menggunakan pelampung sehingga saya bisa mengambil nafas.</p>
<p>Sebuah pengalaman yang cukup mengerikan bagi saya, walau tidak sampai membuat saya kapok snorkeling.</p>
<p>Selesai snorkeling, kami singgah di Pulau Air untuk makan siang. Kami memang membawa bekal makan siang. Kami makan siang sambil duduk-duduk di pinggir laut dirindangi pohon cemara udang sambil melihat speedboat yang wira-wiri melintas.</p>
<p>Resort Pulau Air memang menyewakan speedboat untuk digunakan oleh wisatawan. Sebenernya Pulau Air merupakan wilayah privat, sehingga tidak sembarang orang bisa masuk. Terbukti dengan beberapa orang penjaga yang mendatangi kami untuk menanyakan keperluan. Untung awak kapal bisa menjelaskan dan penjaga tersebut memaklumi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/di-pulau-air.jpg" alt="di Pulau Air" title="di Pulau Air" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1377" /></p>
<p>Ada cerita lucu. Ketika kami sedang asyik makan siang dan menikmati pemandangan speedboat yang berslieweran, tiba-tiba sebuah speedboat melaju kencang menimbulkan gelombang air yang cukup besar untuk memuncratkan air ke arah kami yang sedang makan.</p>
<p>Walhasil, kami seperti kehujanan dan nasi kami sedikit tercampur &#8220;garam alami&#8221; dari laut. Wakakakaka!</p>
<p>Selesai makan siang, kami pun menuju Pulau Pramuka untuk bebersih dan bersiap menuju kapal yang berangkat menuju Muara Angke sekitar jam 1 siang.</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
