jengjeng matriphe! http://jengjeng.matriphe.com Just another matriphe! personal blog Sites site Tue, 06 May 2014 13:16:26 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.9.1 Adira Faces of Indonesia: Portal Kolaboratif Wisata Indonesia http://jengjeng.matriphe.com/2011/08/02/adira-faces-of-indonesia-portal-kolaboratif-wisata-indonesia/ http://jengjeng.matriphe.com/2011/08/02/adira-faces-of-indonesia-portal-kolaboratif-wisata-indonesia/#comments Tue, 02 Aug 2011 10:45:40 +0000 http://jengjeng.matriphe.com/?p=1577 Continue reading ]]>

Apa hubungannya Adira, salah satu perusahaan penyedia layanan keuangan pembelian mobil dengan wisata? Pertanyaan ini sempat bergelayut dalam benak saya ketika mendatangi undangan grand launching situs Adira Faces of Indonesia, di Annex Building, Kawasan Wisma Nusantara, Jumat, 29 Juli 2011.

Begitu memasuki lokasi acara, saya disambut oleh mbak-mbak cantik berpakaian adat dari beberapa daerah di Indonesia. Saya pun mendapat sampiran selendang batik lucu sebagai tanda selamat datang. Saya langsung bertemu dengan Eka Situmorang, Mbak Nunik, Fickry, Titiw, Seno, dan beberapa blogger lainnya.

Kesan wah langsung terasa begitu masuk ke Upper Room. Mulai dari berbagai pernak-pernik dan konseep acara, semua begitu wah dan meriah. Acara yang dipandu oleh duo MC Kemal dan Alya Rosa ini, dibuka dengan suguhan Tari Saman dari Aceh yang rancak. Dengan diiringi oleh tetabuhan gamelan dari grup reog, CEO Adira, Pak Stanley Setia Atmadja dan Chief Marketing Officer 4 Wheelers Adira, Pak Hafid Hadeli, maju ke atas panggung memberi kata sambutan.

Dari kata sambutan, dipaparkanlah alasan kenapa Adira sampai perlu mendukung program pariwisata Indonesia. Salah satu yang saya tangkap adalah sebagai wujud dari terima kasih Adira kepada masyarakat dan Adira ingin memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.

Sampai di sini, saya masih belum menemukan apa hubungan antara Adira dengan portal wisata. Saya pun mulai berspekulasi apakah ada kemungkinan Adira membuka program kredit untuk berwisata? Hihihi..

Kemudian terdengarlah tabuhan reog di seluruh penjuru ruangan, ternyata ini adalah acara peresmian dan peluncuran web Adira Faces of Indonesia yang menggunakan simbol topeng. Simbol topeng dipilih karena dianggap mencerminkan wajah-wajah Indonesia yang beraneka rupa.

Topeng sendiri telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci. Ini karena peranan topeng yang besar sebagai simbol-simbol khusus dalam berbagai uparaca dan kegiatan adat yang luhur.

Kehidupan masyarakat modern saat ini menempatkan topeng sebagai salah satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang dimilikinya, tetapi sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap mampu memancarkan kekuatan magis yang sulit dijelaskan.

Setelah acara pembukaan dan hiburan dari kelompok musik Bandanaira, diskusi tentang apa sih maksud dan tujuan dari web Adira Faces of Indonesia ini. Yang menarik dari acara diskusi ini sebenarnya adalah kehadiran Putri Indonesia 2006, Agni Pratista!

Jadi, konsep dari web Adira Faces of Indonesia ini adalah portal kolaboratif yang mana pengisi kontennya adalah para pengguna yang terdaftar. Pengguna bisa mengunggah tulisan, cerita, foto, di web ini.

Menariknya lagi, kita bisa ikutan lomba menulis di program Adira Best 100 Faces of Indonesia pada periode Juli-Desember 2011 dengan hadiah masing-masing 2 juta rupiah untuk 100 pemenang. Wohoho!

Nah, sepertinya saya akan menulis beberapa cerita saya ke web tersebut, siapa tau ada yang nyantol di hati para jurinya. Kriteria tulisan yang semoga bisa memukau hati para juri adalah tema, penggunaan bahasa yang baik, informasinya menarik, dan foto yang membuat orang mupeng! :D

Lalu, di mana peran Adira sebagai sponsor? Tenang, Adira nggak bermaksud jualan secara langsung produknya di web ini, namun tetep ada semacam banner untuk mempermudah kita bila ingin kredit mobil. Jalan-jalan pake mobil kan jadi lebih asyik, toh? :D

Acara pun berlanjut dengan kehadiran penampilan dari komunitas Beatbox Indonesia yang dengan kerennya bisa membunyikan berbagai macam suara dari mulutnya. Gile, mereka nafasnya pake apa, ya? Insang?

Acara pun ditutup dengan penampilan kelompok musik Bandanaira untuk yang kedua kalinya dan tarian dari Papua yang berkolaborasi denan komunitas Beatbox Indonesia. Tarian rancak dari Papua begitu keren menjadi penutup acara istimewa sore itu.

Konsep acara peluncuran tersebut cukup bagus, mengangkat budaya Indonesia dari Aceh hingga Papua. Namun menurut saya web yang beralamat di adirafacesofindoesia.com yang menjadi obyek dari acara ini kurang terespos dengan baik.

]]>
http://jengjeng.matriphe.com/2011/08/02/adira-faces-of-indonesia-portal-kolaboratif-wisata-indonesia/feed/ 7
Fort Canning Park: Cikal Bakal Singapura http://jengjeng.matriphe.com/2011/07/19/fort-canning-park-cikal-bakal-singapura/ http://jengjeng.matriphe.com/2011/07/19/fort-canning-park-cikal-bakal-singapura/#comments Tue, 19 Jul 2011 11:36:50 +0000 http://jengjeng.matriphe.com/?p=1565 Continue reading ]]>

Sang Nila Utama dari Sriwijaya mendarat di sebuah pulau kecil pada tahun 1324. Di pulau tersebut, dia melihat seekor harimau dan bertanya kepada perdana menterinya apa nama hewan tersebut. Sang perdana menteri menjawab itu adalah seekor singa, dan ini adalah awal kisah dari nama Singapura.

Cerita di atas saya dapatkan ketika saya menjelajahi Fort Canning Park, kawasan taman nasional yang dikelola oleh pemerintah Singapura. Bukit kecil setinggi 60 meter yang terletak di sebelah selatan pulau kecil ini merupakan lokasi bersejarah yang menjadi tonggak berdirinya negara Singapura.

Fort Canning Park dapat dicapai dengan mudah menggunakan sarana transportasi umum. Bila naik MRT kita bisa turun di stasiun Dhoby Ghaut (NE6 & NS24), City Hall (EW13 & NS25), atau Clarke Quay (NE5) kemudian jalan kaki sekitar 10 menit. Jika naik bus, ada lebih banyak pilihan halte untuk turun.

Sejarah Singpura sendiri terbagi menjadi 2, yaitu masa kerajaan Melayu pada abad ke-14 dan masa modern pada abad ke-18. Fort Canning Park, yang dulunya bernama Bukit Larangan pada abad ke-14 menjadi saksi sejarah penting Singapura.

Perjalanan saya menjelajahi Fort Canning Park berawal dari lobi Hotel Fort Canning (The Legends) yang terletak di dalam kawasan taman. Kita bisa mengikuti tur Park Walking setiap Sabtu pagi yang rutin diadakan oleh pengelola hotel secara gratis untuk tamu-tamunya.

Terdapat display kaca yang terletak di lantai lobi, berisi benda-benda peninggalan yang ditemukan dari penggalian di taman. Ada 4 kolom yang terbagi menjadi 2 panel, panel pertama berisi benda-benda peninggalan pada abad ke-14 dan panel kedua berisi benda-benda peninggalan abad ke-18.

Panel pertama banyak ditemukan pecahan tanah liat yang dulunya berupa perabotan rumah tangga semacam piring dan tembikar. Pada panel kedua juga tak jauh berbeda, namun lebih beragam, mulai ditemukan pecahan keramik dan botol minuman.

Kami kemudian keluar hotel dan menuju ke atas bukit yang disebut dengan Bukit Larangan. Tembok tua tampak menyembul terselimuti lumut dan tanaman rambat, ini adalah tembok benteng yang dibangun pada tahun 1859, pada masa pemerintahan Stamford Raffles. Pada tahun 1861, Bukit Larangan diubah namanya menjadi Fort Canning, untuk menghormati Gubernur Jendral Hindia saat itu, Lord Charles John Canning.

Benteng Fort Canning ini merupakan salah satu bagian dari sistem pertahanan Singapura. Benteng-benteng lainnya adalah Fort Fullerton, Fort Palmer, Fort Teregah, dan Fort Faber.

Bukit Larangan sendiri diduga dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan Melayu kuno yang didirikan oleh Sang Nila Utama, dari Sriwijaya, seperti yang tertuang pada paragraf pertama. Kerajaan kecil ini kemudian hancur setelah diserang Siam (Thailand), sempat dikuasai oleh Majapahit, dan akhirnya takluk di tangan Portugis.

Kami berjalan mengelilingi tembok benteng melalui jalan setapak yang rapi menuju ke The Gate of Fort Canning. Di pintu gerbang ini terdapat lubang sempit dengan tangga menanjak untuk menuju ke bagian atas gerbang. Pintu ke atas sengaja dibuat sempit demi mempersulit musuh naik ke atas.

Di dalam benteng seluas kurang lebih 3 hektar, terdapat beberapa fasilitas pendukung. Pada tahun 1867, terdapat tujuh meriam berpeluru 68 pon, delapan meriam 8 inchi, dua meriam katak 13 inchi, dan beberapa senapan 14 pon, barak-barak tentara, rumah sakit, gudang mesiu, serta bunker-bunker bawah tanah.

Bunker bawah tanah tersebut pun masih ada, namun untuk masuk pengunjung harus membeli tiket khusus. Tamu Hotel Fort Canning bisa masuk dengan gratis selama bisa menunjukkan kartu kamar. Sayangnya, saya tidak sempat masuk dan menjelajahi bunker ini.

Kini di dalam benteng, dibuat taman dan jalan-jalan setapak yang nyaman digunakan untuk olah raga pagi atau sekadar duduk-duduk menikmati segarnya udara pagi.

Sepanjang jalan kami disuguhi suara kicau burung. Maklum saja, kawasan ini memang sengaja dibuat sebagai kawasan konservasi. Bahkan saya sempat melihat dua ekor tupai berloncatan dari atas pohon di dekat hotel.

Pemandu kami, Amy, bercerita dan menunjukkan beberapa spesies vegetasi yang sebenernya banyak terdapat di Indonesia, misalnya saja pohon beringin, pohon kapuk randu, pohon kayu putih, tanaman sereh, tanaman cabe, hingga pohon pisang!

Pasangan turis dari Selandia Baru langsung takjub melihat aneka vegetasi yang mungkin jarang dilihat di negaranya, sedangkan saya cuma senyum-senyum kecut. Sekali lagi, pemerintah Singapura memang begitu pandai dengan melakukan pemeliharaan hal-hal semacam ini, kemudian dijual untuk obyek wisata. Sesuatu yang mungkin diabaikan oleh pemerintah kita di Indonesia.

Selain mengkonservasi tanaman, pemerintah Singapura juga memfasilitasi kegiatan seni di Fort Canning. Sebuah art-workshop dibangun di dalam taman untuk menjadi sarana seniman-seniman lokal berkreasi dan memanfaatkan kayu-kayu dari pohon tumbang di sekitar taman menjadi karya seni.

Fasilitas penting yang masih digunakan di Fort Canning adalah Water Reservoir. Kolam penampungan air ini dibangun pada abad ke-14 oleh kerajaan Melayu sebagai sumber air minum dan membantu suplai air ke kanal-kanal di sekitar benteng. Pada masa pemerintahan Raffles, kolam penampung air ini tetap digunakan sebagai sumber air minum tentara.

Pada saat pemugaran pada tahun 1926, ditemukan perhiasan emas peninggalan Majapahit dengan ciri gambar kepala Kala, yang kini disimpan di National Museum of Singapore yang tak jauh dari situ.

Kami tiba di sisi selatan taman, yang disebut dengan Raffles Terrace. Di sini terdapat mercusuar kecil yang disebut dengan Fort Canning Lighthouse, terletak di puncak bukit, yang pada zamannya merupakan salah satu dari 13 mercusuar penting di Selat Malaka, yang berfungsi untuk memandu kapal-kapal yang hendak masuk ke pelabuhan Singapura dan muara Sungai Singapura, yang kini dikenal dengan Marina Bay.

Menara mercusuar ini merupakan menara replika dan masih bisa menyala, namun tidak digunakan sebagai panduan. Menara mercusuar dibangun oleh perusahaan konstruksi Riley, Hargreaves & Co. pada tahun 1903, menggantikan fungsi Flagstaff yang terletak tak jauh lokasi menara.

Menara ini pada zamannya dinyalakan dengan menggunakan kerosin, menghasilkan kekuatan cahaya sebesar 20.000 CD (candlepower) yang mampu mencapai jarak hingga 33 kilometer. Menara ini menggunakan sistem penggerak dioptric occulting yang membuat cahaya terlihat selama 17 detik, kemudian padam selama 3 detik, dan menyala kembali selama 17 detik. Pada Desember 1958, Menara ini kemudian dinonaktifkan seiring dengan dibangunnya gedung-gedung tinggi di sekitar Marina Bay.

Flagstaff dan Time Ball yang terletak beberapa meter ke barat dari mercusuar, juga memiliki peranan penting di zamannya. Flagstaff merupakan tiang dengan dipasangi beberapa bendera warna-warni. Isyarat panduan dikirimkan ke kapal dengan menaikkan atau menurunkan bendera, sesuai dengan perintah yang hendak dikirim.

Time Ball memiliki fungsi melakukan sinkronisasi waktu. Setiap pukul 12:55, bola akan dinaikkan ke atas untuk kemudian dijatuhkan tepat pada pukul 13:00 dan berbunyi nyaring pertanda bahwa sudah saatnya jam-jam disinkronisasi.

Di sekitar Raffles Terrace ini lah dulu orang-orang Eropa, Cina, dan Melayu berekreasi melihat pemandangan laut. Saya pun bisa melihat Marina Bay dari sini dengan landmark Hotel Marina Bay Sands.

Di sekitar sini pula dulu terdapat rumah tinggal Stanford Raffles yang dibangun pada tahun 1822, yang kini sudah tidak ada karena terbuat dari kayu dan lapuk. Untuk menandai lokasi bersejarah ini, dibangunlah bangunan lain di lokasi yang ditengarai lokasi asli rumah tinggal Raffles tersebut.

Dari Raffles Terrace, tur berlanjut menuju ke sebuah tembok berelief yang menceritakan sejarah Singapura sebelum era kolonial. Tembok relief ini bukan peninggalan sejarah, tapi sengaja dibuat pada tahun 1994, didesain oleh Eng Siak Loy dan dipahat oleh Villa Frangipani.

Fragmen-fragmen relief bercerita tentang awal ditemukannya Bukit Larangan, dilanjutkan dengan pembangunan istana kerajaan Melayu di atas bukit, kerajaan Melayu diserang oleh kerajaan Siam (Thailand), penguasaan Majapahit atas kerajaan Melayu di Singapura, kemakmuran perdagangan di Singapura karena posisinya yang strategis, sebuah kolam untuk mandi putri kerajaan yang disebut dengan Pancur Larangan, raja Prameswara melarikan diri karena kerajaannya diserang pada tahun 1396, raja Prameswara yang melarikan diri membangun Malaka dan menguasai perdagangan di Malaka, dan fragmen terakhir bercerita tentang datangnya orang-orang Eropa ke semenanjung Malaka.

Perjalanan dilanjutkan menuju ke situs penggalian arkeologi Fort Canning. Proses ekskavasi dimulai pada tahun 1984, di mana banyak ditemukan artefak berupa pecahan-pecahan perabot rumah tangga, mulai dari abad ke-14 hingga abad ke-18. Beberapa pecahan-pecahan ini dipajang di lobi Hotel Fort Canning, dan sisanya dipajang di sekitar lokasi situs.

Artefak-artefak ini dibiarkan dipajang di ruang terbuka tanpa takut dirusak. Kenapa bisa tidak hilang dicuri orang? Karena pecahan-pecahan tembikar ini “tidak berharga”. Benda-benda peninggalan arkeologi akan berharga bila kondisinya masih utuh. Benda-benda yang masih utuh ini disimpan di National Museum of Singapore.

Dari situs penggalian, kami berjalan menuju ke Spice Garden yang diresmikan pada tahun 1994 untuk meneruskan taman botani pertama yang ada di Fort Canning pada tahun 1822. Di taman ini, banyak ditemukan tanaman rempah yang banyak juga ditemukan di Indonesia, semacam tanaman cabe rawit, sereh, jahe, kayu manis, hingga daun mint.

Dari Spice Garden, tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Fort Canning Green yang dulunya adalah makam Kristen pertama yang dibangun pada tahun 1846. Pada tahun 1994, semua jenazah dipindahkan dan dikremasi, kemudian batu-batu nisan ditempelkan di tembok. Sebelum masuk ke kawasan ini, kita akan melewati Gothic Gate yang menjadi pintu gerbang makam bertuliskan IHS, kependekan dari Iota Heta Sigm,yang berarti Yesus dalam bahasa Yunani.

Kini Fort Canning Green menjadi lokasi pertunjukkan. Terdapat panggung tepat berada di tengah lapangan luas, dengan latar belakang gedung Fort Canning Center yang dulunya merupakan barak tentara.

Tak terasa sudah satu jam lebih kami mengelilingi Fort Canning Park. Kami pun kembali ke Hotel Fort Canning, yang gedungnya juga dulunya merupakan barak tentara, untuk sarapan. :)

]]>
http://jengjeng.matriphe.com/2011/07/19/fort-canning-park-cikal-bakal-singapura/feed/ 3
Pelebon: Upacara Mengantar Raja Menuju Nirwana http://jengjeng.matriphe.com/2010/11/02/pelebon-upacara-mengantar-raja-menuju-nirwana/ http://jengjeng.matriphe.com/2010/11/02/pelebon-upacara-mengantar-raja-menuju-nirwana/#comments Tue, 02 Nov 2010 15:54:15 +0000 http://jengjeng.matriphe.com/?p=1558 Continue reading ]]> Naga Banda pengiring Pelebon Puri Peliatan

Langit Ubud yang mendung, rupanya tak menyentuh kawasan Puri Peliatan, tempat diselenggarakannya upacara Pitra Yadnya Pelebon Ida Dewagung Peliatan, Raja Puri Agung Peliatan IX, yang meninggal pada tanggal 21 Agustus 2010 lalu.

Upacara Pelebon sendiri merupakan sebutan untuk upacara Ngaben, upacara kremasi jenazah yang dilakukan khusus untuk kaum raja dan bangsawan. Upacara Pelebon yang diselenggarakan tanggal 2 November 2010 di Bali kali ini bisa dibilang sebagai upacara ngaben termegah untuk saat ini.

Enam belas Pedande tampak sibuk membakar sesaji untuk menolak hujan. Asap yang memedihkan mata yang berasal dari bakaran sabut kelapa dan serpihan kayu merupakan media untuk mengirim doa agar hujan tidak turun di kawasan upacara.

Meski hujan merupakan salah satu berkah bagi kepercayaan umat Hindu, namun kali ini hujan diharapkan untuk tidak turun di hari yang penting ini.

Sebuah bade tumpang solas atau tempat pengusung jenazah bertingkat sebelas tampak menjulang. Bade setinggi 25,5 meter ini memang dibuat spesial, sesuai dengan status sosial si jenazah.

Patung Lembu megah pengiring Pelebon

Bila pada umumnya keluarga kerajaan non raja atau bangsawan biasa memakai bade bertingkat tujuh atau sembilan, rakyat strata terendah memakai bade bersusun hanya satu atau tiga, maka raja memiliki bade bersusun sebelas, yang juga mencerminkan jumlah tingkatan bade paling tinggi dalam strata sosial di Bali.

Rangkaian upacaranya sendiri diawali dengan beberapa prosesi. Beberapa hari sebelumnya diadakan upacara mendak atau penjemputan Naga Banda (patung berbentuk naga) dari Puri Ubud ke Puri Peliatan yang berjarak kurang lebih dua kilometer. Patung naga berwarna keemasan ini diusung oleh ribuan orang.

Naga Banda merupakan salah satu sarana upacara Pelebon yang dibuat untuk raja atau keluarganya. Selain Naga Banda, sarana penting lainnya adalah patung lembu putih berbalut kain lembut yang khusus didatangkan dari Norwegia juga akan mendampingi kremasi jenazah Raja Peliatan IX, Ida Dewagung.

Patung lembu ini begitu sempurna, sehingga sulit untuk dibedakan bila hanya melihat sekilas. Pahatan yang rapi berpadu perhiasan emas menghiasi bagian kepala, leher, dada, dan kaki patung membuatnya terlihat lebih megah.

Patung lembu setinggi 5 meter ini adalah simbolisasi kesucian kasta Ksatria. Kasta Ksatria yang di dalamnya termasuk raja ini akan mengendarai lembu menuju nirwana. Untuk kasta lain biasanya mengendarai singa.

Perangkat-perangkat pendukung Pelebon berupa bade, Naga Banda, Patung Lembu, dan perangkat lainnya sebelum digunakan wajib disucikan terlebih dahulu pada upacara Pemlaspas. Air suci yang digunakan pun bukan air sembarangan karena air diambil dari mata air suci melalui upacara Ngening.

Naga Banda diarak pada upacara Pelebon Puri Peliatan

Pelebon sendiri pada hakikatnya adalah pengembalian wujud manusia pada esensinya, yaitu lima elemen yang dikenal dengan Panca Maha Buta (tanah, udara, api, air, dan eter).

Melalui media pembakaran, abu yang dihasilkan merepresentasikan tanah, uap dan asap yang dihasilkan adalah manifestasi udara, api yang menjilat jilat adalah amarah (keburukan) yang sirna, dan sisa tulang belulang yang dihaluskan dan dicampur dengan air merepresentasikan air.

Esensi raga yang berunsur air ini kemudian dilarung ke laut. Dengan purnanya prosesi Pelebon, secara fisik mendiang Raja Ida Dwagung akan sempurna kembali ke asalnya, yaitu rohnya akan pergi ke nirwana.

Sedangkan bagi keluarga yang ditinggalkan, Pelebon juga mengandung banyak arti. Salah satunya adalah sebagai cara untuk melupakan satu sama lain: keluarga tak boleh lagi mengingat-ingat raja dan raja tak lagi mengingat-ingat keluarganya.

Pelebon ternyata juga menjadi sarana bagi keluarga untuk memanjatkan pengharapan kepada Sang Hyang Widhi, supaya kelak raja yang dikremasi bereinkarnasi menjadi karakter yang lebih baik dari sebelumnya.

Ndak heran kalo pihak keluarga rela merogoh kocek dalam-dalam demi mengadakan upacara Pelebon dengan semegah-megahnya. Mereka percaya bahwa keindahan, kemegahan, dan kesempurnaan fisik dari sarana Pelebon seperti bade, Lembu, Naga Banda dan lainnya menyimbolkan kebaikan.

Almarhum Ida Dewagung Peliatan adalah keturunan Raja Peliatan pertama dari pasangan Ida Tjokorda Gde Rai dan AA Istri Mas. Beliau diangkat atau Mabhiseka Ratu (gelar) sebagai Raja Peliatan IX sejak 5 Juni tahun 2001.

Selamat jalan, Ida Dewagung Peliatan!

Info lengkap tentang Pelebon dan acara-acara menarik lainnya bisa didapat di situs Indonesia.Travel.

]]>
http://jengjeng.matriphe.com/2010/11/02/pelebon-upacara-mengantar-raja-menuju-nirwana/feed/ 24
Menyusuri Sungai Li dan Bukit Karst Hingga ke Yangshuo, China http://jengjeng.matriphe.com/2010/08/30/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china/ http://jengjeng.matriphe.com/2010/08/30/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china/#comments Mon, 30 Aug 2010 09:22:43 +0000 http://jengjeng.matriphe.com/?p=1541 Continue reading ]]> Di Yangshuo

Guilin, China, memiliki hamparan bukit karst terbesar di dunia. Sejak dulu hingga kini, banyak literatur kuno dan kasusastra modern China yang terinspirasi dari keindahan bukit-bukit karst ini. Salah satu karya puisi yang terkenal adalah puisi karya Han Yu, penyair pada era Dinasti Tang yang berbunyi, “The river winds like a blue silk ribbon, while the hills erect like green jade hairpins.

Selain bukit-bukir karst, Sungai Li (Li Jiang) merupakan denyut nadi utama dari Guilin. Mulai dari aspek pertanian hingga pariwisata, sangat menggantungkan hidupnya kepada sungai sepanjang 437 Km yang hulunya terletak di Cat Mountain di Xing-an hingga ke Guangzhuo.

Dari 437 Km panjang sungai itu, 83 Km di antaranya adalah kawasan dengan pemandangan terindah. Dan untungnya, kawasan ini berada di Guilin. Ndak heran kalo Sungai Li ini dijadikan daya tarik utama pariwisata Guilin.

Untuk menyusuri Sungai Li ada banyak cara. Bila di dalam kota Guilin, kita bisa menaiki rakit bambu atau ikut kapal tur wisata “2 sungai dan 4 danau” (2 rivers and 4 lakes cruise), maka bila ingin melihat lukisan alam seperti yang digambarkan oleh Han Yu dalam puisinya, kita harus ikut tur melalui agen perjalanan.

Semua agen perjalanan di Guilin dan penginapan juga menyediakan paket wisata ini yang harganya cukup kompetitif. Biasanya perbedaannya terdapat di fasilitas yang didapat selama tur. Misalnya ada yang paket makan siang, jemputan dari/ke penginapan, dan sebagainya.

Namun kita harus berhati-hati karena banyak juga agen-agen perjalanan abal-abal yang sering menjerumuskan para pejalan. Sebaiknya menggunakan agen perjalanan yang terkenal, meski haganya agak mahal, namun jelas dan terjamin.

Secara umum ada 3 paket yang biasa ditawarkan, menggunakan rakit bambu, kapal biasa, atau kapal wisata. Rakit bambu adalah yang paling murah (sekitar 180 Yuan) dan kapal wisata yang termahal (sekitar 500 Yuan).

Ini pertama kalinya saya ikut tur. Biasanya saya lebih suka melakukan perjalanan secara mandiri. Namun kali ini saya ingin ikut tur karena berbagai pertimbangan, yaitu rute yang ditempuh lebih jauh, memakan waktu sekitar 4 jam, mendapat fasilitas makan siang di atas kapal, dan ini yang terpenting, ada pemandu berbahasa Inggris. :D

Pukul 8 pagi kami sudah dijemput di penginapan. Bener-bener tepat waktu. Setelah dijemput dengan mobil van kecil, kami kemudian di-drop di titik pemberangkatan, berganti naik bus besar. Rombongan kami adalah para wisatawan dari Eropa, bahkan dari rombongan, cuma kami saja yang orang Asia.

Selain pemandu, hanya kami orang Asia di antara rombongan tur

Wisatawan yang ikut rombongan ini pun terdiri dari berbagai gaya, ada yang memang niat berwisata bareng keluarga, pasangan pensiunan yang ingin menikmati hidup di hari tua dengan foya-foya, hingga backpacker lengkap dengan tas-tas punggung segede kulkas 2 pintu.

Yangyang, nama pemandu kami, membagikan stiker untuk ditempelkan di pakaian sebagai tanda pengenal kelompok. Dia menamakan kelompok kami Panda Group, lengkap dengan bendera yang dipasang pada tongkat yang bisa dipanjang-pendekkan sebagai tanda agar kami bisa dengan mudah berkumpul bila terpisah selama tur.

Perjalanan tur dimulai dari Dermaga Zhujiang yang terletak sekitar 23 Km di selatan pusat kota Guilin. Kami akan menyusuri bagian tercantik dari Sungai Li, sejauh 83 Km menuju ke Yangshuo, semacam kota kecil di selatan Guilin. Yangshuo ini lah yang menjadi daya tarik utama Guilin, karena menawarkan kecantikan alam dan budaya yang unik.

Kapal bergerak dengan kecepatan sekitar 20 Km per jam, sehingga waktu tempuh kami adalah 4 jam. Sejak dari dermaga kami disuguhi pemandangan bukit-bukit karst yang diberi nama sesuai dengan bentuknya.

Kapal-kapal wisata bergerak menyusuri Sungai Li

Ada bukit yang sekilas berbentuk seorang ibu menggendong anak, bukit dengan bentuk seperti unta, berbentuk seperti kepala kerbau, hingga seperti mahkota. Kami melewati Desa Yangdi, di mana banyak sekali penduduk desa yang mendekati kapal dengan menggunakan rakit bambu, kemudian dengan mengikatkan rakit mereka ke kapal dan ikut bergerak dengan kapal, mereka menawarkan suvenir berupa topi rajutan atau pernak-pernik lain kepada wisatawan yang berada di atas kapal.

Lewat Desa Yangdi, kami menuju ke Desa Langshi, yang dipercaya berada pada lokasi dengan Fengshui terbaik, yaitu menghadap ke sungai dan berlatar belakang bukit dan gunung. Lokasi ini menurut kepercayaan Fengshui, merupakan lokasi yang amat sangat menguntungkan. Bahkan ketika kita melewati desa ini, kebaikan dan keuntungan desa ini akan mengikuti kita.

Yellow Cloth Soal, pemandangan pamungkas di Sungai Li

Landmark lain yang terkenal di sepanjang sungai ini adalah bukit yang diberi nama Painted View of Nine Horses, yang mana wisatawan dipersilakan untuk berimajinasi menggambarkan bentuk 9 kuda. Bila kita berhasil menemukan bentuk 9 kuda dari bukit ini, maka dipercaya kita akan mendapat keberuntungan, karena biasanya hanya beberapa orang beruntung saja yang bisa melihat bentuk 9 kuda.

Pemandangan lain yang terkenal adalah yang diberi nama Yellow Cloth Shoal, pemandangan bukit yang tercermin oleh permukaan air, dengan “pantai” berpasir berwarna kuning di tepinya. Saking terkenalnya, gambar ini menjadi semacam gambar standar brosur-brosur wisata atau kartu pos. Bahkan kita juga bisa menemukan pemandangan ini pada uang kertas 20 Yuan. Pemandangan ini pula lah yang seolah-olah menjadi “penutup” dari tur, karena selepas melewati area ini dan masuk ke Desa Xing Ping, pemandangannya sudah tidak begitu istimewa.

Meski begitu, perjalanan masih jauh, sekitar 1 jam hingga ke Dermaga Yangshuo. Bila mau, kita bisa memanfaatkan waktu ini untuk tidur siang sebentar.

Setibanya di Yangshuo, kami langsung dikerubuti para pedagang suvenir dengan sapaan khas mereka, “hello.. hello..”. Karena banyaknya pedagang yang menyapa dengan kata “hello” ini, pasar ini kemudian disebut dengan nama Hello Market.

Selama di Hello Market, ada tips umum yang belaku di sini, yaitu menawar harga hingga sepertiga harga yang ditawarkan. Bila tidak berminat membeli atau cuma sekadar melihat-lihat, disarankan untuk tidak menanyakan harga. Sekali bertanya, berarti berminat membeli. Pedagang akan membuka harga dan kita akan diminta menawar.

Jika kelepasan menanyakan harga, cara yang ampuh untuk menghindar adalah menawar dengan harga serendah mungkin supaya tidak tercapai kesepakatan harga. Tips lain, usahakan bila membayar menggunakan uang pas. Uang palsu banyak beredar di sini, sehingga kadang kembalian yang diberikan pedagang adalah uang palsu.

Yangshuo sendiri luasnya kurang lebih 1,4 Km persegi. Yangshuo memiliki sisi yang unik. Di satu sisi kebudayaan barat sudah sangat umum karena daerah ini merupakan daerah favorit para backpacker, sehingga tidak jarang ditemukan pub dan bar, namun di sisi lain kebudayaan China masih sangat kental melekat dengan kuat.

Suasana di West Street (Xie Jie) di Yangshuo yang ramai

Bangunan-bangunan tua dari kayu mendominasi. Papan-papan nama bertuliskan aksara China banyak bergantung, berdiri berdampingan dengan bangunan batu dengan pub dan bar ala western. West Street (Xie Jie) adalah jalan protokol di Yangshuo di mana penginapan, restoran, kafe, pub, dan bar ala barat berdiri.

Pemandangan alamnya yang cantik adalah daya tarik mengapa banyak wisatawan datang ke sini. Bukit-bukit karst berpadu dengan Sungai Li plus arsitektur tua China klasik yang khas, merupakan pemandangan cantik yang tak bisa ditemukan di mana pun.

Mantra-mantra pengusir roh jahat

Kami pun meneruskan tur dengan mengikuti Country Side Tour dengan membayar 200 Yuan karena penasaran. Kami dibawa menuju ke sisi desa di Yangshuo yang masih tradisional. Di desa ini, saya baru tau asal muasal tradisi dan kebiasaan masyarakat China.

Misalnya pada rumah-rumah bergaya klasik China, terdapat kertas mantra berwarna merah menempel di kanan-kiri pintu serta gambar perwira langit berwajah seram menempel di daun pintu, mempunyai maksud untuk mengusir roh jahat.

Di bagian kusen atas, terdapat cermin dan di bagian bawah terdapat balok melintang untuk semacam penghalang. Cermin dipasang supaya setan (yang digambarkan sangat jangkung) ketika hendak masuk melalui pintu akan melihat wajahnya sendiri yang menyeramkan sehingga ketakutan.

Sedangkan penghalang di bagian bawah pintu dimaksudkan untuk menghalangi setan yang digambarkan berjalan dengan melompat-lompat (masih ingat cara jalan vampire di film-film China?), sehingga si setan akan tersandung dan tidak dapat masuk ke dalam rumah.

Rumah-rumah di desa ini kebanyakan belum selesai dibangun. Konon para pemuda desa membangun rumah ini dengan uang seadanya, yang penting punya rumah dulu, karena syarat pria untuk menikah adalah mempunyai rumah.

Di atas kusen pintu, terdapat 2 balok menonjol keluar dengan diameter yang menunjukkan status sosial si pemilik rumah. Makin lebar diameter balok, makin tinggi derajatnya. Pasangan yang hendak menikah sebaiknya mempunyai derajat yang sama. Bila derajat sang pria kebih tinggi dari wanita, maka si wanita tersebut harus rela dijadikan sebagai istri kesekian.

Sebaliknya bila derajat si wanita lebih tinggi daripada pria, maka si pria harus mengikuti marga dan garis keluarga si wanita.
Namun, di antara bangunan-banguna rumah yang sederhana, terdapat sebuah bangunan megah yang sangat menonjol. Sebuah lambang palu-arit nampak terpasang lengkap dengan bendera Wu Xing Hong Qi (bendera nasional China). Rupanya bangunan yang bagus ini adalah kantor pertemuan partai komunis China.

Pemandangan dari jembatan Yulong

Kami kemudian berpindah menuju Yu Long Bridge, sebuah jembatan batu berusia 600 tahun, yang melintasi Sungai Yu Long, salah satu anak Sungai Li. Nama Yu Long sendiri berarti “bertemu naga”. Menurut cerita rakyat, seekor naga dari laut timur tengah berjalan-jalan menyusuri sungai ini, kemudian terkesima dengan pemandangan alam yang cantik, akhirnya menetap. Beberapa penduduk konon melihat naga dari jembatan ini, maka disebutlah sungai dan jembatan ini Yu Long.

Nelayan menangkap ikan menggunakan burung Cormorant

Dari atas jembatan Yu Long, pemandangannya sungguh cantik. Sekilas saya seperti melihat wallpaper pada komputer Microsoft Windows. Tak jauh dari jembatan ini, terdapat dermaga kecil untuk naik rakit bambu dan menyusuri Sungai Yu Long.

Kami menikmati pertunjukan Cormorant Show, yaitu pertunjukkan nelayan menangkap ikan dengan menggunakan bantuan burung cormorant di Sungai Yu Long. Burung cormorant adalah burung air yang sekilas mirip pelikan, namun paruhnya pendek. Burung ini diikat di bagian pangkal lehernya sehingga ikan yang ditangkap burung ini tidak dapat ditelan. Nelayan kemudian mengambil ikan dengan cara memuntahkan ikan dari mulut burung cormorant menggunakan teknik tertentu.

Dulu cara tradisional ini mampu menyokong roda ekonomi Guilin. Nelayan-nelayan cormorant bisa mendapatkan 15 Kg ikan dengan cara ini. Namun kini, hanya ada 6 nelayan cormorant saja yang masih terampil mempraktekkan cara tradisional tersebut.

Seorang penyanyi wanita berdiri di atas rakit kemudian bernyanyi. Ini merupakan salah satu tradisi di Guilin yang berawal dari etnis Dong pada sebuah Folksong Festival yang diadakan setiap hari ketiga bulan ketujuh pada kalender Lunar.

Pada festival ini sekelompok pemuda dan pemudi saling berkenalan dengan menyanyikan lagu secara bersahut-sahutan. Si wanita kemudian bernyanyi yang intinya bertanya tentang nama, asal-usul, dan sebagainya kepada pria, kemudian si pria menjawab pertanyaan dengan bernyanyi juga.

Festival ini berlangsung selama 3 hari, kemudian pada hari ketiga, si wanita akan memberikan tantangan kepada pria untuk merebut bola keberuntungan. Bila bola ini berhasil didapat, maka si pria berhak menikahi wanita tersebut.

Penyanyi wanita di atas rakit

Wanita dengan pakaian tradisional lengkap dengan capingnya menyanyikan lagu seperti pada festival, dibantu dengan pengeras suara. Kemudian nyanyian ini disahut oleh seorang penyanyi wanita lain di rakit yang berbeda.

Tiba-tiba rakit bambu kami berhenti di suatu lapangan. Para bule kemudian turun dengan gembira menghampiri gerombolan kerbau. Oh, ternyata feeding the buffalo dan melihat sawah merupakan bagian dari atraksi tur ini.

Jauh-jauh ke China cuma untuk ngasih makan kebo

Kami yang terbiasa melihat kerbau dan sawah di Indonesia cuma senyum dan geleng-geleng melihat bule-bule itu kegirangan menyodorkan rumput untuk dimakan kerbau. Jauh-jauh ke China kok cuma nonton kerbau dan sawah, gumam saya sambil tersenyum kecut..

]]>
http://jengjeng.matriphe.com/2010/08/30/menyusuri-sungai-li-dan-bukit-karst-hingga-ke-yangshuo-china/feed/ 18
Jeng-Jeng Guilin, China http://jengjeng.matriphe.com/2010/08/03/jeng-jeng-guilin-china/ http://jengjeng.matriphe.com/2010/08/03/jeng-jeng-guilin-china/#comments Tue, 03 Aug 2010 07:43:41 +0000 http://jengjeng.matriphe.com/?p=1529 Continue reading ]]> Di Yulong Bridge, Yongshuo, Guangxi, China

Pernah lihat lukisan atau film-film mandarin dengan setting bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya? Gambar-gambar di lukisan itu bukan khayalan, bukit-bukit lancip dengan sungai lebar mengalir di bawahnya itu memang nyata dan benar-benar ada.

Guilin, adalah kota di China selatan yang memiliki lansekap cantik itu. Terletak di propinsi Guangxi, Guilin menjadi salah satu kota tujuan wisata dunia. Kota yang konon telah ada sejak zaman dinasti Qin, tahun 214 SM, dan baru “ditemukan” pada tahun 111 SM, memang sejak dulu terkenal. Sungai Li (Li Jiang) yang membelah kota dari utara ke selatan seakan menjadi denyut nadi kota berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa yang terdiri dari berbagai etnis China.

Saya dan Nila mendarat di bandara Liangjiang yang terletak 30 km di sebelah barat pusat kota. Di pintu imigrasi, bayangan tertutupnya China tergambar dengan jelas dari muka-muka dingin petugas imigrasi. Namun begitu lolos dari pintu imigrasi, hawa-hawa dingin berubah drastis. Sapaan “hallo.. hallo..” dari calo-calo taksi atau agen travel menyapa hangat, menghapus rasa lelah setelah 4 jam duduk di bangku pesawat yang berangkat dari Kuala Lumpur jam 6 pagi. Ah, saya telah menginjakkan kaki di China.

Guilin pada saat kami berkunjung, yaitu bulan Juli, sedang panas-panasnya. Namun iklim dunia yang memang sedang berubah, membuat prediksi cuaca di Guilin pun sulit ditebak. Siang panas, sore bisa hujan kemudian tiba-tiba bisa panas lagi.

Situasi lalu lintas di Guilin yang riuh.

Transportasi kota yang cukup riuh, namun tidak sampai membuat emosi jiwa semacam di Jakarta. Pengendara sepeda motor bersliweran tanpa helm, bahkan mereka bebas wira-wiri di jalan tol. Pengemudi kendaraan bermotor di Guilin memang terkesan santai, lebih suka mengalah, sehingga seolah-olah tanpa menggunakan helm pun dijamin aman.

Motor skutik dengan tenaga listrik banyak bersliweran. Jumlahnya lebih banyak daripada sepeda motor berbahan bakar bensin. Karena ditenagai listrik, motor tersebut hampir tanpa suara, sehingga bila tak berhati-hati, kita bisa disambar oleh pengendara motor listrik. Saking senyapnya itu motor, seolah-olah mereka naik motor dan meluncur begitu saja.

Bentuk dan merk kendaraannya pun beragam. Lucu-lucu dan unik-unik. Bahkan ada anekdot, kita bisa saja bikin motor dengan merk nama kita sendiri.

Sepeda dan motor bisa dihitung hampir sama banyaknya. Meski ada jalur khusus motor dan sepeda, tak jarang kita liat sepeda dan motor bersliweran di trotoar yang memang lapang.

di Zhongshan Nanlu (Jalan Zhongshan bagian selatan)

Menyusuri Zhongshan Road, jalan protokol di Guilin yang paralel dengan Sungai Li, saya melihat berbagai toko berdiri di sampingnya. Jalan ini memang pusat perniagaan. Bau masakan babi langsung menyeruak. Pedagang yang menggunakan sepeda roda tiga berteriak dalam bahasa yang tidak saya mengerti menjajakan dagangan dengan mengawali dengan sapaan khas, “hello.. hello”. Orang-orang nampak santai dan cuek berjalan di trotoar. Ada yang berbaju rapi, bergaun, bahkan bertelanjang dada.

Cewek-cewek menggunakan tank-top, ber-hot-pants, serta mengenakan sepatu high-heels nampak santai berjalan memamerkan tubuh putih mulusnya. Coba kalo di Jakarta, cewek beginian sudah pasti dilecehkan dan bisa-bisa diperkosa.

Pria-pria di sini lebih luar biasa. Berjalan-jalan dengan telanjang dada, atau dengan menggulung baju ke atas memamerkan perut buncitnya, berjalan dengan cuek. Bahkan saya lihat pasangan, si istri berpakaian rapi dan cantik, si suami dengan cuek berjalan-jalan dengan telanjang dada, masuk ke dalam mall. Tak ada yang peduli, selama tidak saling mengganggu.

Bus-bus kota siap membawa kita menuju ke berbagai pelosok kota. Tinggal datang ke halte, tengok nomor bus yang berhenti di halte tersebut beserta rutenya, maka kita pun bisa memutuskan untuk naik bus apa. Sayang tidak semua rute menuliskan aksara latin.

Penduduk Guilin pada umumnya tidak bisa berbahasa Inggris. Hanya orang-orang hostel atau travel agent saja yang biasanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Bahkan bahasa Inggris dasar macam, “do you speak English?” mereka tidak mengerti. Ketika kami memesan makanan di restoran cepat saji internasional (yang belakangan kami ketahui ternyata produknya tidak halal karena ayam tidak disembelih secara Islami) sama sekali tidak mengerti angka dalam bahasa Inggris.

Soal bahasa ini kami punya cerita lucu. Ketika makan di sebuah warung makan halal (ada 3 warung makan halal di Guilin, salah satunya favorit kami ini karena harga murah dan lokasi yg dekat dengan penginapan) ketika kami minta teh kepada pelayannya, si pelayannya malah memberi garam pada air minum kami!

Bisa dimaklumi, karena mungkin kebijakan China yang tertutup, membuat informasi dari luar sulit diakses. Berbagai produk pun (termasuk produk impor), mulai dari produk makanan hingga buku dituliskan dalam bahasa China, sehingga tak perlu lah menuliskannya dalam bahasa Inggris, maka rakyat pun bisa hidup tentram dan bahagia.

Tujuan wisata utama dari kota ini adalah denyut nadi kota itu sendiri, Sungai Li. Dengan menyusuri sungai Li, kita akan disuguhi pemandangan bukit-bukit karst yang seolah-olah saling bertonjolan satu sama lain.

Ada beberapa paket tur yang bisa dipilih, mulai dari yang murah (naik rakit bambu) hingga ke yang mahal, yaitu naik kapal wisata disertai dengan pemandu. Tour agent yang menawarkan paket wisata ini pun bisa dengan mudah ditemui di berbagai pelosok kota Guilin.

Pagoda Kembar Bulan dan Matahari di Danau Shan

Siang maupun malam, Sungai Li selalu ramai. Selain paket menyusuri Sungai Li hingga ke Yangshuo, kita juga bisa sekadar keliling kota lewat sungai. Two River and Four Lake Tour menjadi paket wisata favorit di malam hari.

Di tengah kota, terdapat 4 danau yang terbentuk dari 2 aliran sungai yang mengalir, yaitu Sungai Li dan Sungai Peach Blossom. Keempat danau yang terbentuk dari pertemuan dua sungai ini adalah Danau Shan, Danau Rong, Danau Gui, dan Danau Mulong. Dengan ikut tur ini, kita akan naik kapal wisata dan melihat beberapa landmark Guilin di malam hari, yaitu Pagoda Kembar Bulan dan Matahari di tengah danau Shan dan pagoda Mulong di pinggir danau Mulong.

Landmark lain yang juga menjadi tujuan wisata favorit turis adalah Elephant Trunk Hill. Disebut demikian karena bukit karst ini bentuknya memang mirip gajah yang sedang menjulurkan belalainya. Jaman dulu hingga sekarang, bukit ini digunakan untuk menyimpan arak khas Guilin ketika menjalani proses fermentasi.

Ruang penyimpanan ini berupa goa yang terletak di bagian “perut gajah”. Pas lewat di depan pintu goa penyimpanan arak, bau khas arak yang menyengat langsung tercium. Ketika saya mengintip ke dalam (karena pintu dikunci), suasana gelap dan setelah memotret dalamnya dengan bantuan lampu blitz, ternyata di dalamnya masih ada ruangan lagi.

Di dalam taman Elephant Trunk Hill, ada juga Museum of Wine. Di museum ini selain dipajang beberapa produk arak khas Guilin, juga menjual berbagai produk arak tersebut. Harganya cukup bervariasi, tergantung kualitas.

Saya sempat bergidik pas melihat sebuah gentong kaca besar, yang berisi ular, janin kuda, dan berbagai rempah yang direndam di dalam wine. Rupanya ini arak unik yang juga berfungsi sebagai obat. Sebelumnya saya sudah begidik melihat “snake wine“, yaitu arak yang berasal dari rendaman kulit ular pas ikut Li River Cruise. Bule-bule aja juga gak doyan, begitu ngeliatnya.

Di Elephant Trunk Hill

Banyak sekali ruang terbuka hijau di sepanjang kota. Maklum saja, bukit-bukit karst setinggi 100 meter-an yang menonjol di tengah kota menjadi paru-paru kota. Di sepanjang bantaran sungai dibuat trotoar lebar dan bangku-bangku kota sehingga masyarakat bisa beraktivitas di sana, sekadar jalan-jalan sore atau menikmati kicauan burung dan suara tongeret.

Bahkan di jalan Zhongshan, ketika berjalan-jalan menyusuri barisan toko-toko, suara yang terdengar adalah suara tongeret! Mobil-mobil hampir tak bersuara, apalagi klakson. Coba kalo di Jakarta, suara klakson akan terdengar menyalak hampir tiap menit.

Setiap pagi dan sore, terlihat para manula yang sedang berjalan-jalan. Beberapa terlihat main kartu atau main mahyong duduk di bangku taman berteduh di bawah pohon rindang. Para manula beraktivitas di luar semacam berolah raga dan bermain musik agar badan mereka tetap bugar, dan mereka bermain mahyong untuk memelihara ingatan. Coba di sini, para manula hampir tak bisa beraktivitas apa-apa karena terlalu banyak diam di rumah.

Manula beraktivitas di ruang terbuka hijau

Taman-taman kota juga banyak. Memang ada ongkos masuk, namun ketika masuk di dalam, taman ini sangat luas dan banyak hal yang bisa kita lakukan. Kami pun sempat mendatangi beberapa taman yang ada di Guilin, beberapa di antaranya menjadi kawasan wisata komersial. Taman-taman itu adalah Xi Shan Park, Seven Star Scenic Area, Reed Flute Cave Park, Solitary Beauty Peak, Elephant Trunk Hill, dan Yao Shan Park. Sedangkan beberapa tempat yang belum sempat dikunjungi adalah Hei Hill Botanical Garden, Nanxi Park, Guilin National Forrest Park, dan masih banyak lagi.

Guilin adalah kota pariwisata. Setiap tahun, Guilin dikunjungi 15 juta orang. Segala hal bisa dijadikan obyek wisata. Mereka sadar akan potensinya, kemudian mengemas dan membangun infrastruktur pendukung, kemudian menjualnya.

Mereka juga tidak segan-segan untuk memperingatkan para wisatawan tentang hal-hal negatif yang mungkin terjadi, misalnya, ketika di pasar, wisatawan disarankan untuk menawar harga hingga separo, kemudian waspada terhadap uang palsu, dan juga bila disapa oleh orang tak dikenal sebaiknya diabaikan (karena biasanya mereka pemandu lokal abal-abal yang suka menyesatkan wisatawan).

Sebagai wisatawan, saya merasa aman dan well-informed, sehingga bisa waspada akan hal-hal negatif tersebut. Ini yang saya salut, mereka tidak malu bahwa ada hal-hal negatif namun mereka mengatasinya dengan memberikan informasi dan peringatan.

Saya sampai iri. Kapan Indonesia bisa seperti ini?

Pemandangan Kota Guilin dari Guangming Hill, Reed Flute Cave

Website informasi tentang Guilin:

  1. Visit Guilin – Guilin’s Official Tourism Website: web resmi pariwisata Guilin yang lengkap. Dari website ini saya bisa tau gambaran umum di Guilin, terutama dari sisi akomodasi dan transportasinya. Di Indonesia, ada ndak ya website resmi tujuan wisata yang punya informasi lengkap semacam ini?
  2. WikiTravel – Guilin: situs Wiki yang berguna sangat. Menampilkan informasi yang hampir detail, membacanya mirip membaca buku Lonely Planet.
]]>
http://jengjeng.matriphe.com/2010/08/03/jeng-jeng-guilin-china/feed/ 18
Mengurus Visa China http://jengjeng.matriphe.com/2010/07/19/mengurus-visa-china/ http://jengjeng.matriphe.com/2010/07/19/mengurus-visa-china/#comments Mon, 19 Jul 2010 14:10:22 +0000 http://jengjeng.matriphe.com/?p=1527 Continue reading ]]> Visa L China

China adalah salah satu negara yang “cukup seram” dalam benak saya. Latar belakangnya yang komunis plus berita-berita tentang betapa “tertutupnya” negara itu, memberikan kesan bahwa untuk bepergian ke sana cukup sulit. Namun ternyata kesempatan untuk menginjakkan kaki ke negara berpenduduk terbanyak di dunia itu pun datang.

Tentu saja “bayangan seram” tersebut menghantui saya ketika akan mengurus visa China. Setelah googling tentang cara mengurus visa China, saya pun akhirnya memantapkan diri untuk datang dan mengurus sendiri. Bayangan saya akan betapa seramnya mengurus visa, musnah dan sirna seketika!

Visa China tidak diurus di kantor Kedutaan Besar China, namun ditangani oleh pihak “ketiga”, yaitu Chinese Visa Application Service Center (CVASC) yang berada di lantai 2 gedung The East, Jalan Lingkar Mega Kuningan, Jakarta. CVASC juga memiliki jaringan di berbagai negara.

Ada beberapa jenis visa, yaitu visa turis dan keluarga (L-visa), visa bisnis (F-visa), visa pelajar (X-visa), visa kerja (Z-visa), visa transit (G-visa), visa awak transportasi (C-visa), visa jurnalis (J-visa), dan visa penduduk (D-visa). Berdasar jumlah kunjungan, visa China dibagi menjadi 3, yaitu visa single entry, visa double entry, dan visa multiple entry.

Visa single entry diperuntukkan bagi mereka yang mengunjungi China satu kali dalam jangka waktu 3 bulan sejak diurusnya visa. Visa double entry digunakan jika akan mengunjungi China sebanyak 2 kali dalam waktu 3 bulan setelah visa terbit. Misalnya jika kita bepergian dari China kemudian menyeberang ke Hong Kong, Macau, atau Taiwan, kemudian kembali lagi ke China, maka yang dipakai adalah visa double entry. Visa multiple entry, sesuai namanya, digunakan untuk mereka yang akan sering keluar masuk ke China dalam jangka waktu 3 bulan sejak diurusnya visa.

Masing-masing visa memiliki prosedur pengurusan yang berbeda. Pada tulisan ini, saya menuliskan prosedur pembuatan visa wisata dan kunjunga keluarga (L-visa).

Biaya visa ditentukan dari jumlah kunjungan. Untuk warga negsara Indonesia, besarnya Rp 300.000 (single entry), Rp 450.000 (double entry), dan Rp 600.000 (multiple entry). Waktu pemrosesan secara normal, memakan waktu selama 4 hari. Namun bila ingin dipercepat, ada biaya tambahan.

Mulai tanggal 3 Maret 2010, CVASC mengenakan biaya pemrosesan yang juga disesuaikan dengan waktu pemrosesan visa. Makin cepat, biayanya makin mahal. Untuk yang biasa (proses 4 hari kerja) bayarnya Rp 240.000, untuk yang besok jadi bayarnya Rp 400.000 dan untuk yang langsung jadi biayanya Rp 500.000.

Biaya pembuatan visa adalah biaya visa ditambah biaya pemrosesan. Karena saya tidak terburu-buru, saya memilih mengurus visa biasa dengan 4 hari kerja, maka biaya yang harus saya keluarkan adalah Rp 300.000 ditambah Rp 240.000 menjadi Rp 540.000.

Untuk tabel biaya lengkapnya, silakan klik tautan berikut.

Saya benar-benar kagum atas pelayanan CVASC ini. Beda banget dari model-model birokrasi lemot macam di institusi pemerintahan. Ada nomor antrian, loket-loket layanan ada sepuluh yang semuanya ada pelayannya ramah dan siap melayani (and they’re good looking), tempat duduk untuk menunggu yang nyaman, serta formulir gratis dan papan petunjuk yang lengkap amat sangat membantu.

Begitu datang dan bertanya pada satpam, saya langsung dipersilakan membaca papan petunjuk. Dokumen yang disiapkan pun cukup simpel, paspor yang masih berlaku (minimal 6 bulan dari tanggal kadaluarsa), pas foto 4×6 dengan latar belakang putih (pas foto untuk visa sebaiknya berlatar belakang putih), dan mengisi formulir. Formulir gratis dan tersedia pulpen. Kita juga bisa mengunduh formulir tersebut dari situsnya.

Setelah dokumen lengkap, saya kemudian mengambil nomor antrian, duduk sebentar, dan menyerahkan formulir aplikasi. Setelah dicek dan diterima, saya mendapat semacam bukti pengambilan paspor pada tanggal yang telah ditentukan.

Tidak ada wawancara, itulah enaknya ketika mengurus visa China. Padahal saya sudah mempersiapkan diri kalo memang ada wawancara. Apalagi saya tidak bisa berbahasa Mandarin. Taunya cuma “ni hao ma” dan “wo ai ni”doang.. :D

Setelah dokumen diserahkan, tugas kita cuma menunggu pemrosesan, kemudian pada tanggal yang ditentukan datang ke CVASC, membayar biaya pemrosesan visa, dan paspor yang sudah ditempeli visa kembali ke tangan kita.

Masa berlaku visa adalah 3 bulan sejak tanggal dikeluarkannya visa. Lama tinggal di China adalah 30 hari sejak dia masuk China dan selama belum habis masa berlakunya Visa.

Jam operasional CVASC adalah hari kerja (Senin-Jumat) mulai dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore untuk penyerahan dokumen dan jam 9 pagi hingga jam 4 sore untuk pembayaran dan pengambilan visa.

Oiya, ada sedikit tips. Jika Anda adalah jurnalis dan mengurus visa untuk wisata, sebaiknya tidak mencantumkan profesi Anda yang bekerja sebagai jurnalis atau pekerja media. Ini kemungkinan dikarenakan sifat negara China yang di bidang politik sangat tertutup.

Selain itu, perosedur pengurusan visanya akan berbeda. Jika Anda menyantumkan profesi ini, Anda akan dimintai surat keterangan untuk tidak melakukan peliputan yang harus diurus oleh kantor Anda. Ini pun belum tentu nanti visa bisa keluar atau tidak (menurut pengalaman teman-teman wartawan saya, kecil kemungkinannya visa disetujui). Sebaiknya, mengaku sebagai wirausaha atau pekerja swasta saja. Bila ditanya bekerja di bidang apa, sebutkan saja bidang lain selain media. :D