Sate Ambal

Entah sudah beberapa hari ini pikiran saya penuh sesak. Banyak hal yang harus diselesaikan. Walau ingin rasanya menyelesaikannya satu persatu, tetapi kok rasanya masih belum bisa melakukannya.

Tak pelak, ketidakmampuan saya menentukan skala prioritas serta kekurangpercayaan saya menyerahkan sesuatu kepada orang lain membuat saya harus menyiksa diri dengan bermultitasking. ~X(

Baiklah, supaya tidak terus menerus menyiksa hati dan pikiran, saya pun mencari menu kuliner baru. Celakanya, saya malah ketemu sama ebliswati penghuni Detik ini yang membuat saya semakin terperosok ke jurang perjengjengan. :-S

Suasana hati saya saat itu memang lagi asin-manis dan manis-asin. Karena inilah saya bersama Cya akhirnya memutuskan untuk mencoba Sate Ambal yang memang rasanya manis asin rame rasanya ini.

Selesai chatting bertugas, saya pun segera meluncur ke kantor Detik di daerah Baciro untuk menjemput sang ebliswati. Dari Baciro, kami pun meluncur ke Warung Sate Ambal di Jalan Melati Wetan yang tak jauh dari situ.

Seperti aturan tidak tertulis di dunia perkulineran, suatu makanan dari daerah tertentu akan menjadi populer di luar daerah itu dengan membawa nama daerah asalnya. Bingung? Misalnya, Sate Madura. Di Madura sendiri tidak ada yang namanya Sate Madura, yang ada ya Sate Ayam. Demikian juga dengan Mi Ayam Jakarta, Siomay Bandung, Nasi Goreng Magelangan, dan lain sebagainya, yang di daerahnya sendiri biasnya tidak ada embel-embel nama daerah.

Begitu juga dengan sate ini. Sate ini berasal dari daerah Ambal, sebuah nama kecamatan (CMIIW) di Kabupaten Kebumen. Sate ini tak beda jauh dengan sate yang biasa kita kenal.

Ada 2 jenis daging yang ditawarkan, yaitu daging kambing atau ayam. Kami pun memilih sate ayam, walau sebenernya pengen merasakan yang kambing juga tapi apa daya tekanan darah saya lagi on top. :P

Daging sate ini cukup empuk walau sedikit alot. :D Daging sate dibakar dengan bumbu yang menggunakan gula merah sehingga terasa sedikit manis. Untuk menetralisir rasa manis dari sate, digunakan bumbu yang lebih mirip kuah ini yang rasanya asin.

Ada yang unik dari bumbu sate ini. Selain sedikit encer dan berwarna lebih kuning bila dibandingkan dengan bumbu Sate Madura, aroma dari bumbu ini mirip-mirip aroma bumbu kare.

Selain itu, bila Sate Madura menggunakan kacang tanah yang dihaluskan, bumbu sate ini menggunakan tempe yang dihaluskan. Ketika sate manis disiram dengan bumbu asin ini menyentuh lidah, rasa gurih yang bangkit akibat perpaduan rasa manis-asin pun langsung menendang lidah. =p~

Secara pribadi, saya merasa rasa sate ini begitu unik. Mungkin karena di Jogja ini rasa makanannya cenderung manis, sehingga menurut saya rasa sate ini terasa lebih asin. Tentu untuk meyesuaikan setingan lidah, kita bisa menambahkan kecap manis di atas sate ini.

Dengan ditemani nasi putih, seporsi Sate Ambal yang berisi 10 tusuk sate ayam ini dihargai cukup murah. Dengan bermodal 8.000 rupiah, kita bisa menikmati sensasinya plus segelas es jeruk.

Saya mempunyai kenangan tersendiri akan sate ini. Masih ingat perjalanan 19 jam saya ke Purbalingga beberapa waktu yang lalu?

Ketika melewati daerah Ambal melalui The Fuckin Daendels Roadâ„¢, kami ndak sempat mampir untuk sekedar mencicipi sate ini di daerah asalnya. Tetapi kini saya sudah membayar rasa penasaran saya walau tidak menikmati sate ini di daerah asalnya. :D

Tertarik mencoba? ;)

Viewed 6743 times by 406 viewers