Ulang Tahun Jalansutra ke-4

Jalansutra bukanlah Jalan Sutra (Silk Road) dan Makansutra juga bukan Makan Sutra (silk eating). Kalo ingat Kamasutra, Sutra (pengetahuan dan keterampilan) tentang Kama atau hal-hal yang menyangkut hubungan ragawi antara perempuan dan laki-laki. Jadi, Jalansutra adalah pengetahuan tentang jalan-jalan dan karena jalan-jalan biasanya juga melibatkan makan-makan, maka Jalansutra sekaligus Makansutra.

Jalansutra berawal dari tulisan Bondan Winarno di Kompas Cyber Media dan Suara Pembaruan Minggu kemudian berkembang menjadi sebuah komunitas yang mempunyai kepedulian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan boga dan budaya. Bahkan anggota komunitas ini telah mencapai angka 10.000!

Hari Jumat, 29 Juni 2007 kemarin, Jalansutra merayakan ulang tahunnya yang ke-4. Walau perayaannya dipusatkan di Jakarta, beberapa daerah seperti Jogja, Bali, Semarang, dan New York pun ikut serta serentak merayakan ulang tahun JS.

Di Jogja, perayaan ultah JS ini diselenggarakan di Angkringan Sebul, Jl. Timoho. Acara ini dihadiri oleh 16 member Jalansutra Jogja maupun luar Jogja yang kebetulan berada di Jogja.

Rencananya, pada perayaan ini akan dilakukan teleconference menggunakan Y!M dengan Jakarta dan daerah lain yang merayakan ultah JS ini, akan tetapi kendala teknis membuat teleconference ini berjalan tidak sesuai harapan. :-<

Kami sempat terhubung dengan Jakarta dan sempat mengikuti prosesi pemotongan tumpeng yang terlihat sangat meriah, yang dilakukan di Anjungan Bali, TMII. Bahkan Pak Bondan sendiri sempat menghubungi kami melalui telepon dan menanyakan bagaimana suasana di Jogja.

Mengikuti prosesi pemotongan tumpeng melalui teleconference Yahoo! Messenger

Setelah mengikuti prosesi pemotongan tumpeng, kami pun membuat acara sendiri untuk menggantikan acara potong tumpeng. Lah? Acara apa itu? Acara tuang teh secara estafet!

Jadi pertama teh dalam poci dituangkan ke cangkir mungil yang terbuat dari tanah liat, kemudian cangkir mungil ini diserahkan kepada JSers yang hadir secara estafet.

Tuang teh secara estafet

Setelah prosesi tuang teh selesai, kami pun berkumpul dan berbincang. Kebetulan Bu Dyah, membawa jajanan khas yang mulai sulit ditemukan, yaitu Gethuk Pisang. Sebenernya jajanan ini sudah diincar sejak perburuan di Beringharjo beberapa waktu yang lalu, tapi saat itu kami tidak menemukan jajanan ini. Menurut informasi Bu Dyah, jajanan ini didapat dari Pasar Sentul.

Gethuk Pisang

Bedanya dengan Gethuk Pisang Madiun, gethuk ini tidak menggunakan pewarna, sehingga warnanya kuning emas. Terbuat dari Pisang Kepok, teksturnya kasar, tidak seperti gethuk pada umumnya. Bahkan kita masih bisa melihat dengan jelas biji-biji pisang dan potongan pisang yang utuh di dalam gethuk ini.

Selain Gethuk Pisang, kami pun mencicipi Pothil, jajanan khas Muntilan yang dibawa oleh Mbak Yuni. Makanan ringan yang terbuat dari ketela pohon ini cocok untuk cemilan ketika nonton TV atau bersantai karena makanan ini tidak menggunakan bahan pengawet atau bahan kimia lainnya, tentu makanan ini baik untuk kesehatan.

Pothil Ketela Pohon

Setelah puas ngobrol-ngobrol, sekitar pukul 21.30 kami pun bubar.

Terus terang, semenjak bergabung kurang lebih sebulan lalu, pengetahuan saya terutama soal kekayaan kuliner banyak bertambah. Dari para JSers senior ini saya banyak belajar, terutama dalam seni mencicipi makanan.

Kita sering mengatakan makanan ini enak, tapi kita tidak dapat menjelaskan kenapa bisa enak. Para JSers ini beda, mereka bisa menjelaskan dengan detil kenapa bisa enak, apa yang membuatnya enak, hingga bisa menebak rahasia di balik rasa makanan tersebut. Belom lagi soal cerita budaya dan berbagai hal menarik di balik makanan tersebut. Pokoke saya salut dan nyembah-nyembah kalo urusan beginian kepada para JSers. ^:)^

Selamat Ulang Tahun, Jalansutra! Semoga dapat terus menambah wawasan dan khasanah pengetahuan kuliner dan budaya Indonesia! <:-p

Sekali jalan-jalan, terus makan-makan! \:d/

Viewed 522 times by 299 viewers