Museum Gula Gondang Baru

Trio Tolol kembali beraksi! Setelah berpetualang mematahkan kaki memandulkan sperma ke Ratu Boko beberapa waktu yang lalu, kini Trio Tolol melanjutkan jeng-jeng ke Museum Gula Gondang Baru, Klaten. Sekali lagi, dengan perencanaan yang tiada, jeng-jeng kali ini sedikit lebih bermutu dan tentunya postingannya akan sangat panjang. :D

Ide tolol ini terbersit karena selama perjalanan saya dari Solo ke Jogja atau sebaliknya, selalu melewati kawasan ini. Apalagi Museum Gula ini merupakan bagian dari kompleks Pabrik Gula Gondang Baru yang merupakan pabrik peninggalan jaman Belanda yang masih aktif. Kebetulan musim ini merupakan musim giling tebu, maka hasrat keingintahuan kami pun semakin bertambah.

Selain berkunjung ke Museum Gula yang sepi, kami juga mengunjungi pabrik gula untuk melihat langsung proses penggilingan tebu hingga menjadi gula pasir.

Museum Gula: Sepi!

Museum Gula ini didirikan atas prakarsa dan diresmikan sendiri oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bapak Soepardjo Roestam, pada tanggal 11 September 1982. Museum ini menyimpan berbagai benda yang berkaitan dengan pemrosesan tebu hingga menjadi gula.

Memasuki museum ini, kami diwajibkan menuliskan buku tamu dan membayar dana sukarela. Dari buku tamu, kami melihat beberapa wisatawan dari Belanda, Belgia, dan Jepang pernah mengunjungi museum ini.

Setelah urusan administrasi selesai, kami pun memasuki museum ditemani oleh Mas Bimo, pemandu dan satu-satunya orang yang dapat kami temui di museum itu.

Memasuki ruangan pertama, kami menemukan miniatur kompleks Pabrik Gula Gondang Baru. Sebuah peta Jawa Tengah dengan titik-titik lokasi pabrik gula di Jawa Tengah terpampang jelas di ruangan ini.

Pabrik ini merupakan pabrik yang dibangun pada masa Belanda dan bernama Gondang Winangoen saat itu. PG Gondang Baru merupakan salah satu di antara 180 pabrik gula lain di Pulau Jawa yang masih aktif. Nama Gondang Baru diberikan pada tahun 1960-an.

Pada masa pendudukan Jepang, pabrik-pabrik gula di Jawa banyak yang berubah fungsi menjadi pabrik dan gudang senjata Jepang. Setelah Jepang angkat kaki dari Indonesia, pabrik-pabrik dan gudang ini mangkrak. Beruntung, pabrik ini masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.

Ruangan kedua, kami melihat koleksi alat-alat pertanian yang digunakan untuk menanam tebu. Mulai dari cangkul sederhana, contoh jenis tebu, hama pengganggu tanaman tebu, terletak di ruangan ini.

Memasuki ruangan ketiga, kami melihat alat-alat produksi gula jaman dulu. Amperemeter, sekering, trafo, mesin jahit karung, timbangan, pokoknya komponen-komponen pabrik jaman dulu ada di sini.

Kemudian kami memasuki ruangan berikutnya. Di sini dipajang foto-foto upacara selamatan ketika akan memulai musim giling di beberapa pabrik gula.

Kebiasaan masyarakat Jawa, setiap kali ada acara selalu diawali dengan upacara selamatan. Biasanya upacara selamatan awal musim giling ini diawali dengan “mengawinkan” sepasang tebu. Acara ini mirip dengan acara perkawinan, tetapi yang dikawinkan adalah sepasang tebu. Sepasang tebu yang sudah “dikawinkan” ini kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggiling, sebagai tanda dimulainya musim giling.

Selain “perkawinan” tebu, biasanya acara selamatan semacam ini dimeriahkan dengan acara pagelaran wayang kulit. Sesaji yang digunakan biasanya menggunakan kepala kerbau atau kepala sapi.

Di ruangan ini pula, dapat dilihat miniatur PG Tasikmadu, Karanganyar, serta foto-foto jadul beberapa pabrik gula di Jawa Tengah.

Ruangan berikutnya adalah miniatur ruang administratif kantor pengurus pabrik. Ada mesin ketik kuno, mesin hitung kuno, kamera kuno, dan foto-foto para pejabat yang pernah menjabat di pabrik ini.

Kemudian ruangan terakhir yang kami kunjungi berisi miniatur pabrik gula. Ternyata proses pembuatan gula ini diibaratkan dengan kereta api. Tiap-tiap bagian proses disebut dengan “stasiun” dan orang yang bertanggung jawab atas proses tersebut disebut dengan “masinis”.

Miniatur Pabrik Gula

Usai berkeliling museum, kami pun keluar ke halaman. Di halaman kami menemukan lokomotif kereta lori yang sudah tidak dipakai. Kereta lori merupakan sarana angkutan yang digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun ke pabrik. Tapi kini lori sudah tidak dipakai lagi untuk mengangkut tebu dari kebun, tapi hanya digunakan untuk mengangkut tebu menuju ke stasiun penggilingan.

Ada salah satu lokomotif uap yang diberi nama “simbah”. Lokomotif ini adalah lokomotif pertama yang digunakan di pabrik ini. Lokomotif bertenaga uap ini merupakan lokomotif buatan Jerman pada tahun 1818. Di samping “simbah” ada gerbong lori pengangkut tebu. Pada masanya, “simbah” digunakan untuk mengangkut tetes tebu dari Gondang Baru ke Stasiun Srowot untuk selanjutnya dibawa ke Semarang atau Surabaya.

Tak jauh dari “simbah” ada pedati yang digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun dan lokomotif diesel buatan Belanda yang diberi nama “ajax”.

Lokomotif Tua dan Gerbong Lori

Sebenernya di pabrik ini ada kereta wisata, yaitu para pengunjung diajak berkeliling kompleks pabrik menggunakan lori. Tapi sayang, paket wisata ini hanya diadakan di luar musim giling karena pas musim giling begini itu lori dipake untuk proses produksi. Berhubung saat kami berkunjung adalah saat musim giling, kami tidak dapat menikmati perjalanan mengunakan lori.

MELIHAT PROSES PEMBUATAN GULA PASIR

Pak Bimo mengajak kami mengunjungi pabrik. Loh, apa boleh? Ya tentu saja boleh, asal ada pemandu yang mendampingi. Tapi sayangnya, selama di dalam pabrik kami tidak diperkenankan berfoto-foto. Mungkin dapat mengganggu kali ya? :D

Kami berjalan memasuki pabrik dengan gedung tua yang kental sekali arsitektur Belandanya. Di tempat ini juga disewakan sebuah guesthouse bercorak Belanda yang keren banget. Guesthouse ini dulu adalah rumah dinas dari kepala pengelola pabrik. Pokoke kalo masuk rumah ini, serasa jadi meneer Belanda gitu lah. :D

Guesthouse bercorak Belanda

Kami pun smpai di area pabrik. Stasiun pertama yang kami temui adalah stasiun penggilingan. Di sini, tebu diangkut dari truk atau lori menggunakan crane kemudian dimasukkan ke mesin penggiling. Kami melihat sendiri mesin-mesin uap yang masih bekerja dengan baik.

Dari plakat yang tertempel pada tubuh mesin, tertulis: 1879. Roda-roda besar dengan gerigi-gerigi mesin uap ini digunakan sebagai sumber tenaga mesin-mesin penggiling dan seluruh stasiun.

Suara bising memekakkan telinga membuat kami harus setengah berteriak untuk berkomunikasi. Lantai bergetar serasa gempa membuat kami harus berhati-hati selama berada di pabrik ini. Udara panas akibat mesin-mesin uap membuat suasana serasa di sauna. Ditambah harum air tebu dan senyuman ramah para pekerja di pabrik ini membuat kami menikmati tour de fabriek ini.

Menuju stasiun penggilingan, kami melihat bagaimana batang-batang tebu dipotong dan digiling untuk diambil airnya. Batang tebu harus melewati beberapa proses pemerasan agar air tebu dapat diperoleh secara maksimal dan ampasnya menjadi kering.

Air tebu, atau yang disebut dengan nira kemudian ditampung untuk kemudian disalurkan ke stasiun penyaringan. Ampas-ampas tebu yang kering disalurkan ke ruang ketel untuk menjadi bahan bakar mesin-mesin uap. Nah, cerobong besar di pabrik ini mengeluarkan asap sisa pembakaran ini.

Nira kemudian dibersihkan dari kotoran. Caranya dengan mencampurkan nira dengan susu kapur, yaitu campuran air kapur (kalsium oksida) dari gamping dan gas belerang dioksida. Kotoran akan mengendap karena terikat secara kimia oleh kapur dan belerang ini. Hehe, CMIIW ya. :D

Hehe, saya jadi ingat matakuliah Pengantar Instrumentasi yang diberikan oleh dosen saya, Pak Bambang Purwadi tentang proses otomatisasi pengatur campuran pada proses pemurnian nira ini. :D

Lanjut. Setelah nira bersih, lalu nira dipanaskan. Fungsinya jelas, menguapkan air sehingga yang tertinggal adalah tetes tebunya (molase) dan endapan gula. Tetes tebu ini kemudian dipisahkan dari endapan gula, sedangkan endapan gula lalu dijadikan kristal dengan cara diputar dengan menggunakan mesin sentrifugal.

Mesin sentrifugal ini bentuknya kek mesin pembuat arum manis. Jadi endapan gula diputar dengan kecepatan tinggi hingga terbentuklah kristal-krisatal gula. Kalo endapan gula tidak diproses dengan putaran, maka akan diperoleh gula kental.

Pernah liat gula jawa atau gula merah? Nah begitulah bentuk dari endapan gula yang sudah dingin bila tidak diproses dengan putaran. ;)

Setelah kristal-kristal gula terbentuk, masuk ke proses pendinginan dan pengayakan. Kalo pengen hasilnya lebih putih, kristal gula diproses lagi hingga menjadi warna lebih putih. Tentu saja rasa manisnya juga berkurang. Jadi jangan heran kalo gula yang berwarna putih dan yang berwarna agak kekuningan itu rasa manisnya beda.

Setelah gula selesai diayak, gula pun dikemas ke dalam karung-karung berukuran 1 kuintal dan dijahit. Setelah dikemas, gula disimpan di dalam gudang dan siap didistribusikan. :D

Oiya, meskipun di gudang gula ini banyak tersimpan gula, anehnya tidak ditemukan semut di tempat ini. Mungkin tu semut mabok kali ya, kebanyakan makan gula? :))

Uh, capek deh. #:-S

Ternyata bikin gula tu susah juga. Tapi yang membuat saya kagum, pabrik ini masih menggunakan mesin-mesin tua jaman peninggalan Belanda yang semuanya masih berfungsi dengan baik! :top

INGAT MASA KECIL

Kebun Tebu

Saya jadi teringat masa kecil saya. Mencuri tebu di ladang tebu lalu menikmati setiap gigitan batang tebu bersama kawan-kawan. Badan gatel karena terkena lugut, suasana menegangkan karena kucing-kucingan dengan sebe, numpang gerbong lori yang membawa tebu, ah senangnya.. 8->

Dulu di deket rumah saya ada banyak ladang tebu. Tapi kini udah berubah jadi ladang rumah. Kalo pas musim panen gitu, wah dipastikan banyak anak-anak sebaya yang berbondong-bondong menyerbu ladang. Para sebe pun pasti kewalahan menghadapi kami yang kecil dan lincah berlari menerobos ladang-ladang tebu. :))

Tebu sendiri membutuhkan waktu sekitar setahun untuk dapat dipanen. Seingat saya, tebu jaman dulu tuh gede-gede batangnya. Manisnya pun bener-bener mantab. Batangnya kuning, kulitnya tipis, sekali brakot, wah.. Kalo gigi ndak kuat bisa mringis-mringis kesakitan. Kalo tebu sekarang mah kecil-kecil.

Selain tebu, bunga tebu (glagah) juga sering kami jadikan mainan. Batang glagah dibentuk sedemikian rupa menjadi senapan mainan sedangkan bunganya dijadikan aksesoris dengan menyelipkan pada belakang kepala yang diikat karet gelang kek suku indian. Setelah atribut lengkap, kami pun bermain perang-perangan di ladang tebu.. Fire in the hole! :))

Huhuh.. Manisnya tebu membuatku teringat manisnya masa kecil.. :)

Viewed 1902 times by 173 viewers