
Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Ahad tanggal 2 September 2007, saya dan Didit melakukan perjalanan yang kami beri tajuk, “Petualangan Si BOLANG (Bocah Hilang)” lengkap dengan tas, syal, dan topi terbaliknya. ![]()
Kali ini Si BOLANG akan menjelajah daerah Klaten, tepatnya Umbul Manten, tempat wisata alternatif yang mungkin cocok dikunjungi menjelang bulan puasa seperti ini.
Pada masyarakat Jawa, setiap kali menjelang bulan Ramadhan seperti sekarang ini, ada suatu tradisi tahunan yang dilakukan selain Nyadran (berziarah ke makam). Tradisi tersebut adalah Padusan.
Padusan berasal dari kata “adus” yang berarti mandi. Padusan bertujuan untuk mensucikan diri baik lahir maupun batin untuk menyambut bulan Ramadhan dengan cara melakukan “mandi”.
Biasanya, Padusan dilakukan pada sumber-sumber air. Sumber air dalam bahasa Jawa sering disebut dengan “umbul”.
Kenapa menggunakan umbul untuk lokasi padusan? Filosofinya jelas, air dari sumbernya kan masih bersih, diharapkan dengan mensucikan diri dengan air dari umbul tersebut jiwa dan raga menjadi bersih sebersih air dari umbul tersebut.
Biasanya masyarakat berduyun-duyun datang ke sumber-sumber air untuk melakukan Padusan, mandi bersama, berendam bersama, di sumber-sumber air tersebut.
Namun filosofi dan makna Padusan kini banyak bergeser. Jangankan mensucikan diri, ajang Padusan sering menjadi ajang-ajang maksiat.
Bayangkan saja, biasanya di umbul-umbul tersebut tidak dipisahkan tempat untuk laki dan perempuan, tumpek blek jadi satu. Belum lagi adanya panggung hiburan dangdut yang goyangan dan pakaian penyanyinya bener-bener “mahadahsyat”. ![]()
Otomatis, tau sendiri kan tujuan masyarakat ke tempat-tempat Padusan? ![]()
Saya ndak akan membahas lebih lanjut soal Padusan ini, tapi akan membahas Umbul Manten yang mungkin bisa dijadikan alternatif tempat untuk melakukan Padusan, atau hanya tempat rekreasi saja bersama keluarga.
Umbul Manten terletak di daerah Tulung, Klaten, di tepi perbatasan Boyolali-Klaten. Alamat persisnya kurang saya ketahui, tapi lokasinya gampang dicapai.
Dari jalan Solo-Jogja, sebelum masuk pertigaan Pakis, Delanggu, bila dari timur (Solo) akan ada papan petunjuk ke obyek wisata pemancingan ikan Janti. Masuk dan ikuti jalan menuju ke obyek wisata Janti tersebut, namun ketika sampa di pertigaan di mana ada petunjuk obyek wisata Janti belok ke kiri, ambil jalan yang lurus.
Ikuti terus jalan lurus tersebut. Umbul Manten terletak di pinggir jalan sehingga mudah ditemukan. Kalo pun ndak ketemu, tanya saja kepada penduduk sekitar, pasti mereka tahu dan dengan senang hati akan menunjukkan arahnya. ![]()
Di kawasan ini, ada sekitar 7 buah umbul. Salah satu umbul yang terkenal adalah Umbul Cokro yang sering juga disebut dengan Cokro Tulung. Air-air dari umbul-umbul yang terletak di kawasan ini sering digunakan untuk bahan minuman air mineral atau suplai air PDAM.
Umbul Manten sendiri terdiri dari 2 buah sumber air. Kedua sumber air ini disebut dengan Umbul Peteng dan Umbul Pelem. Masyarakat sekitar lebih sering menyebut Umbul Lanang (laki-laki) dan Umbul Wadon (perempuan).
Ada beberapa versi cerita dari masyarakat tentang yang manakah yang disebut Umbul Lanang dan mana Umbul Wadon. Ada yang bilang Umbul Lanang adalah Umbul Pelem, atau sebaliknya, Umbul Lanang adalah Umbul Peteng. Tetapi menurut seorang bapak tua penduduk sekitar, Umbul Lanang adalah Umbul Pelem sedangkan Umbul Wadon adalah Umbul Peteng.
Umbul Pelem lokasinya berada persis di tepi jalan, sedangkan Umbul Peteng berada agak jauh dari tepi jalan. Umbul Peteng berada di sebelah selatan umbul Pelem. Di sekitar kedua umbul ini kita akan menemukan sawah yang ditanami tanaman Cenil.

Disebut Umbul Pelem karena konon dahulu di situ tumbuh pohon Pelem (mangga) yang besar di sekitar umbul. Tetapi pohon itu kini sudah ndak ada, yang ada cuma pohon Beringin besar yang membuat lokasi sekitar umbul menjadi teduh. Umbul ini ukurannya lebih kecil daripada Umbul Peteng.

Disebut Umbul Peteng karena lokasi umbul ini peteng (gelap). Di sekeliling umbul ditumbuhi pohon Ipik (mirip-mirip Beringin) sehingga karena saking teduhnya, umbul ini menjadi gelap. Umbul inilah yang paling sering dipakai mandi karena memang cukup luas dan asyik untuk berenang-renang atau sekedar berendam.
Ada cerita rakyat yang beredar di masyarakat mengenai asal muasal umbul ini. Konon dahulu ada sepasang pengantin baru. Pengantin ini diberi wejangan oleh orang tuanya, “kalo pengantin baru itu, dilarang keluar rumah bersama-sama menjelang senja (maghrib) sebelum 40 hari”.
Pasangan pengantin tersebut bertanya mengapa mereka dilarang keluar rumah menjelang senja sebelum 40 hari. Dijawab oleh orang tua tersebut, “kalian ndak perlu membantah. turuti saja dan kalian akan selamat”, dengan nada sedikit marah karena nasehatnya dibantah.
Pengantin tersebut suatu hari sebelum 40 hari keluar rumah bersama-sama. Saat itu menjelang senja. Sang suami berjalan mendahului istrinya. Setelah berjalan lama, sang suami menengok ke belakang dan menemukan istrinya lenyap. Begitu juga dengan sang istri, ketika dia mengejar sang suami ternyata suaminya lenyap. Nah, letak kedua umbul inilah disinyalir sebagai lokasi di mana kedua suami istri itu lenyap.
Namanya juga cerita rakyat. Boleh percaya boleh tidak. Tapi ada pelajaran yang bisa dipetik dari cerita tersebut. Ini lagi-lagi menurut analisis ala kadarnya saya lo, ya. ![]()
Pertama jangan membantah nasehat orang tua. Kedua, sepasang suami istri hendaknya selama masa-masa awal menikah (40 hari pertama) harus menata rumah tangganya dengan baik terlebih dulu. Dilarang keluar rumah bersama-sama dimaksudkan agar ada salah satu di antara mereka yang tetap berada di rumah untuk menjaga rumah tersebut. Ketiga, sepasang suami istri hendaknya selalu berjalan beriringan, baik dalam suka maupun duka.
Umbul Manten ini masih cukup asyik dikunjungi bagi kita yang ndak begitu suka dengan keramaian dan merindukan suasana natural. Datanglah pas hari kerja, niscaya umbul ini akan jadi milik anda. Dan karena itulah lokasi ini sering digunakan untuk pacaran para abege. ![]()
Awalnya saya ndak ngerti dengan tanaman-tanaman yang tumbuh di sekitar umbul. Terdapat pula papan peringatan untuk tidak menginjak tanaman. Saya penasaran dan bertanya pada penduduk sekitar tentang tanaman ini.
“Itu tanaman Cenil, mas. Biasanya digunakan sebagai sayur pecel. Diambil pada sore hari kalo ingin digunakan keesokan harinya”, ujar salah satu penduduk di situ.
Saya pun tertarik mendengar kata “Pecel Cenil”. Seperti slogan Jalansutra, “sekali jalan-jalan terus makan-makan”, membuat saya penasaran untuk mencoba makanan tersebut. ![]()
Alhamdulillah. Di lapak-lapak penjual makanan di sekitar lokasi, ada yang menjual pecel ini. Kalo pecel biasanya terdiri dari berbagai macam sayuran, Pecel Cenil ini hanya menggunakan tanaman Cenil yang sudah direbus.
Sebagai sumber energi, kita bisa mengunakan bakmi atau nasi. Dilengkapi kerupuk sambil bersantap di tepi sawah dan ditemani angin sejuk sepoi-sepoi pasti mak nyus!! ![]()

Tanaman Cenil merupakan tanaman air. Dia tumbuh sambung-menyambung satu sama lainnya. Macam Eceng Gondok gitu lah. Eh, tapi beda jauh ding, sama Eceng Gondok. ![]()
Tanaman Cenil harus mendapat suplai air yang cukup. Bila kekurangan air ia akan mati tapi bila terlalu banyak air ia akan busuk. Petak-petak tanaman cenil dibatasi oleh batu-batu yang disusun sedemikian rupa agar suplai air dari umbul dapat terdistribusi secara merata.

Sekian dulu Petualangan Si BOLANG. Nantikan petualangan berikutnya! ![]()
