Mari Bersepeda!

Dalam rangka Blog Action Day, yang temanya kali ini soal lingkungan hidup, saya pengen nulis soal keinginan saya untuk jeng-jeng pake sepeda.

Apa hubungannya? Jelas, dengan bersepeda, kita bisa mengurangi polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil dari kendaraan bermotor dan tentunya menyehatkan badan. :D

Saya memang ndak belum punya sepeda. Tapi dalam pikiran saya, saya pengen banget jeng-jeng, keluyuran, menjelajah Jogja nan eksotis ini pake sepeda.

Saya yakin, banyak eksotisme yang tak terungkap sebelumnya akan terkuak ketika kita melihat dari sisi yang beda, dari atas sadel sepeda!

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah ngeluyur pake sepeda sampe Situs Ratu Boko. Dari situlah keinginan untuk jeng-jeng menggunakan sepeda muncul.

Di Jogja sendiri, ada beberapa komunitas pecinta sepeda. Ada Komunitas Bike2Work, JOC alias Jogja Onthel Club, komunitas sepeda BMX, dan masih banyak lagi. Kegiatan klub-klub ini pun macem-macem, mulai dari nongkrong di suatu tempat, tracking, konvoi, hingga even sosial. Semuanya dilakukan pake sepeda dan kadang ketika bersepeda mereka menggunakan kostum yang unik.

Saya sebenernya pengen juga gabung, tapi saya belom punya sepeda. Pengen sih beli, tapi sepertinya kebutuhan primer lainnya masih banyak. Belum lagi demi memenuhi kebutuhan anak-istri. Maklum, berapa besar sih gaji seorang kuli? :-<

Sepengetahuan saya, sepeda sendiri ada beberapa macam. Ada yang bertipe klasik macam onthel, di mana makin tua dan bermerk, makin mahal. Sepeda onthel merk Gazelle atau Simplex setahu saya mencapai harga 3½ juta rupiah bahkan lebih.

Biasanya sepeda beginian ini merupakan sepeda antik. Sepeda-sepeda ini dibikin di Jerman, Belanda, Belgia, dan negara-negara eropa lain di era penjajahan dan sekarang udah ndak diproduksi lagi. Ndak heran, jaman dulu itu sinyo-sinyo dan nona-nona Belanda keliatan keren kalo bersepeda.

Sepeda Onthel

Sepeda onthel paling enak dipake kalo keluyuran menjelajah kota. Kaki mengayuh pedal dengan santai sambil menikmati pemandangan kota nan elok.

Saya pengen banget bisa ngeluyur menjelajah Kotagede pake sepeda onthel. Kota tua penuh pesona itu begitu merangsang untuk dijamah dijelajah. =p~

Salah satu tempat nan eksotis

Membayangkannya saja, memori saya langsung terbang ke masa lampau. Melewati lorong-lorong sempit di antara bangunan-bangunan tua di sana, membuat saya serasa berada di negeri indah antah berantah! 8->

Bersepeda santai semacam ini kadang memberikan nuansa tesendiri. Kita kadang ndak melihat suatu eksotisme ketika melintasi rute yang rutin kita lewati menggunakan kendaran bermotor. Bisa jadi karena kita terlalu cepat mengendara, sehingga ndak sempet clingak-clinguk liat sekeliling.

Dengan bersepeda santai, kita bisa leluasa menikmati pemandangan di kanan-kiri kita. Bahkan kita pun bisa menemukan hal-hal yang sering kita lewatkan ketika kita rutin melintas di kawasan itu.

Apalagi jika di belakang, menggelayut wanita kekasih pujaan hati membonceng dan memeluk pinggang dengan mesra. :wub

Oh.. Begitu romantisnya! =p~

Selain onthel, ada lagi tipe sepeda yang pengen saya punyai. Sebuah sepeda gunung atau MTB yang garang dan cadas. Berbahan karbon yang ringan dan kuat sehingga mantab dibawa nge-track di medan yang berat.

Harganya? Weh, hampir sama dengan harga sebuah sepeda antik. Rangkanya saja bisa mencapai harga 1½ jutaan. Itu cuma rangka, belom lain-lainnya. Kalo mo cari yang murahan, sepeda seharga 1½ juta sudah cukup mewah.

Sepeda Gunung

Tentu dengan sepeda macam ini, safety harus diperhatikan. Helm adalah piranti wajib yang dikenakan ketika bersepeda. Tak jarang pula, sepeda jenis ini dipake di dalam kota. Temen-temen Bike2Work sering saya lihat menggunakan sepeda macam ini.

Saya pengen banget menelusuri Selokan Mataram yang mempunyai sejarah tersendiri bagi warga Jogja ini. Konon, pemandangan yang ditawarkan ketika menyusuri saluran air yang menghubungkan Kali Progo dan Kalo Opak ini begitu mantab! =p~

Menuju ke timur untuk menyongsong mentari dan menuju ke barat ketika menjelang senja, merupakan eksotisme tersendiri yang ditawarkan Selokan Mataram.

Belum lagi nge-track, menjelajah situs-situs candi yang berada di daerah perbukitan. Wah, sebuah perjalanan yang menggiurkan!

Halah, dari tadi malah mbahas keinginan saya punya sepeda. :))

Tapi asli, bersepeda merupakan salah satu cara untuk mengantisipasi polusi udara, yang tentunya memberikan kontribusi terhadap dampak pemanasan global.

Bayangkan saja, cadangan minyak di dunia ini makin lama makin menipis. Jikalau minyak tersebut habis, mo pake apa kita?

Ah, saya memang bukan ahli lingkungan hidup. Saya juga masih sering pake motor dan menyumbang polusi di Jogja.

Saya cuma pengen memulai dari diri saya sendiri, dari yang kecil, namun belum bisa mulai dari sekarang. :D

Jikalau punya rejeki lebih, saya pengen banget punya sepeda. Bersepeda ke kantor sepertinya asyik. Tentu saja bukan berarti sepeda motor Kawasaki Kaze sahabat berpetualang saya tersebut saya tinggalkan, tapi akan saya gunakan seperlunya saja. ;))

Sepeda vs Motor

Ada yang mau menyumbangkan saya sepeda? ;))

Viewed 555 times by 274 viewers